Home » » PEDANG ULAR MAS 43 TAMAT

PEDANG ULAR MAS 43 TAMAT

Jilid 43

Segera setelah itu, Giok Cin Cun dan Sin Cie sudah mulai bergebrak, keduanya sangat bersungguh, keduanya unjuk kegesitan mereka. Kalau tadi ia nampaknya lesu, sekarang Sin Cie jadi bersemangat.

Giok-bin Ho-lie ada sutee, adik seperguruan dari Bhok Siang Tojin, maka tak mengherankan jikalau dia gesit luar biasa. Apapula setelah lihat musuh demikian gagah, segera ia bersilat dengan "Pek-pian-kwie-eng", itu ilmu silat entengkan tubuh "Bayangan Setan Seratus Kali Berubah". Maka berkelebatlah tubuhnya di sekitar tubuh Sin Cie dengan niatnya jika anak muda itu mulai kabur matanya, ingin ia menikam anggota tubuh musuh yang lowong.

Sin Cie sendiri ada ahli ilmu silat "Pek-pan-kwie-eng" itu, ia tidak kasih dirinya dibikin pusing atau kabur mata, ia melayani dengan sama cepatnya tetapi tenang, tak mau ia memberi ketika kepada si imam telengas itu, hingga Giok Cin Cu menjadi heran sesudah ia berputaran sekian lama, ia tidak tampak lawannya jadi lambat atau gelisah.

"Eh, mengapa dia pun seperti mengerti ilmuku ini?" pikirnya sesudah mana dia lompat mundur, akan pisahkan diri dari lawannya itu. Terus saja dia keluarkan lagi pedang besinya - Thie kiam - yang ia kibasi sambil berseru, "Kau adalah murid Thie Kiam Bun, maka melihat Thie kiam ini kau mesti berlutut.

Sin Cie mengawasi dengan tajam.

"Apakah itu Thie Kiam Bun?" tegasi dia. "Aku belum mendengarnya!"

Kembali si imam membentak.

"Jikalau kau bukan muridnya Bhok Siang Tojin, cara bagaimana kau bisa mengerti Pek­-pian-Kwie-eng? Karena kau ada muridnya, kenapa kau bukannya anggota? Thie Kiam ada di tanganku, maka lekas kau berlutut untuk terima hukuman dari aku!"

"Perduli apa aku dengan kau punya thie-kiam atau tong-kiam!" jawab Sin Cie, yang menyebut "pedang besi" dan "pedang tembaga".

Giok Cin Cu mendongkol dan penasaran. Dia lantas berpaling kepada Bhok Siang Tojin,

"Dia mengerti Pek-pian Kwie-eng bukankan telah turunkan itu kepadanya dengan tanganmu sendiri?" dia menegur dengan bengis.

Bhong Siang Tojin, sang suheng, menggeleng kepala. Heran bukan main si Rase Muka Kumala, ia percaya suheng itu yang tidak pernah omong dusta. Tapi ia cuma berpikir sebentar, atau lantas ia menyerang pula, hingga pertarungan jadi dilanjuti.

Sembari menangkis dan menyerang, Sin Cie pikirkan perkataan-perkataan imam itu sebagai seorang cerdas, segera ia ingat. "Ketika Bhok Siang Totiang ajarkan aku ilmu silat, dia mulanya janjikan itu sebagai hadiah adu catur, dia larang keras aku memanggil guru kepadanya, dan kemudian untuk ajarkan aku Pek-pian Kwie-eng ia pakai perantaraan Ceng Ceng. Kiranya dia telah berpikir jauh sekali untuk menjaga kejadian seperti hari ini, dia jadilah bukan lagi berguyon denganku...."

Dan sekarang barulah ia ketahui, Bhok Siang Tojin itu ada dari partai Thie Kiam Bun. pedang besi itu - Thie Kiam - ada pedang pusaka dari partai itu.

Karena ia ingat Ceng Ceng, ia gunai ketika akan melirik nona Hee itu, siapa ia lihat, lagi kemuh sepotong obat merah dan Ho Tek Siu sedang uruti dia, maka terbukalah hatinya.

"Dia terkena racun Ngo Tok Kauw, Tek Siu adalah kauwcu dari Ngo Tok Kauw itu, pasti ia bisa menolongnya," ia berpikir. "Pasti sekali Ceng Ceng bakal tertolong...!"

Saking girangnya, tanpa ia merasa, Sin Cie berlaku agak lambat, pundak kirinya bergerak perlahan dari biasanya, inilah ketika yang dinanti-nantikan Giok Cin Cu. Lantas saja imam ini menyerang dengan bengis.

Sin Cie berkelit, tapi dasarnya lambat, selagi pundaknya bebas, ujung pedang lawan mengenai iga kirinya.

Semua orang Hoa san Pay lihat itu, mereka terkejut, akan tetapi lebih kaget pula adalah Giok Cin Cu sendiri, si penyerang.

Sebabnya adalah ujung pedang tidak nancap di iga, tidak melukai daging atau kulit si anak muda, sebaliknya pedang itu mental balik.

Giok Cin Cu tidak tahu, Sin Cie telah pakai baju kaos mustika pemberian Bhok Siang Tojin, dia menyangka anak muda ini saking lihaynya, tubuhnya kedot, tidak mempan senjata tajam, maka ia jadi heran dan kaget, sampai ia keluarkan keringat dingin sendirinya.

Selama itu Ceng Ceng telah sadar, ia juga telah perhatikan jalannya pertempuran selagi ia kaget karena lihat Sin Cie kena diserang lawan, ia ingat ia ada bawa-bawa bumbung besi hitam, maka ia rogoh sakunya, ia keluarkan bumbung itu, begitu ia lekas buka tutupnya, ia timpuk si imam lihay.

Satu benda kuning emas, kecil dan pendek, melesat ke arah Giok Cin Cu. Itulah ular berbisa yang lihay, yang Kim-ie Tok Kay Cee In Go namakan "Kim-jie", si "Anak emas", Binatang ini benar-benar cerdik, sesampainya di atas kepalanya si imam, ia pertahankan diri, ia turun ke bawah untuk pagut imam itu!

Coba itu adalah lain orang yang disambar ular emas itu, tentu celakalah dia, tidak demikian dengan Giok Cin Cu, dengan satu kebutan dengan hud-tim, ia bisa bikin tubuh ular terlibat, ia tidak mengebut lebih jauh akan buang ular itu, ia tahu kalau ia berbuat demikian, lawannya bisa membarengi serang padanya. Maka itu, ia meneruskan saja ke bawah untuk lemparkan ular ke tanah, ia sendiri lantas loncat beberapa tindak.

Sin Cie sedang berpikir keras, dengan ilmu silat apa ia bisa pukul rubuh imam yang lihay itu, kapan ia lihat si ular emas, medadakan saja ia ingat gerakan si ular emas yang hendak ditangkap hidup-hidup oleh Cee In Go. Maka tidak ayal lagi, ia balas menyerang dengan turuti gerak-geriknya si Kim-jie itu. Pedangnya lantas bergerak-gerak tak putusnya.

Giok Cin Cu melayani sekian lama, segera "ia jadi kaget sekali, ia kena terdesak, tidak perduli ia sudah berdaya keras untuk menangkis, buat lindungi diri. Ia lihat gerakan orang tidak mirip dengan gerakan ilmu silat yang wajar, ia tertegun, lantas saja ia dapat dibingungkan, hingga berbareng gelisah, ia main mundur terus.

Sin Cie bermata awas, ia tampak orang mundur bukan sembarang mundur, mundur itu disebabkan kacaunya pikiran dan gerakan, maka sambil berseru, ia memperkeras desakannya. Datanglah saatnya ia menebas, ketika orang berkelit dengan mendak, ia menebas kembali. Lagi sekali Giok Cin Cu mendak, akan tetapi ia mendak kurang rendah atau memangnya pedang menyambar lebih rendah, sanggulnya kena terbabat kutung, menyusul mana kepalan kiri Sin Cie mampir di dadanya!

Itulah tonjokan Hoa San Pay yang lihay. Tidak ampun lagi, imam yang lihay ini rubuh terjengkang. Begitu lehernya menyentuh tanah, bertepatan dengan itu ia merasa sakit dan gatal pada lehernya, hingga ia kaget dan heran. Di waktu ia jatuh lehernya justru menindih Kim-jie dan si ular emas itu segera mencatoknya!

Tidak perduli serangan kepalan Sin Cie sangat keras, serangan itu cuma dapat merubuhkan tubuh tidak melukai bagian dalam, tidak demikian adalah pagutan si Kim-ji yang berbisa itu, tidak sempat Giok Cin Cu bangun, bisa ular sudah bekerja, lehernya terus berubah menjadi hitam, hitam juga mukanya, dan sejenak kemudian dia rebah tidak bergerak, napasnya berhenti....

Bila tiga orang yang hendak menangkap Ang Nio Cu dapatkan imam mereka rubuh binasa, tanpa pikir panjang lagi mereka putar tubuh untuk lari tunggang langgang turun gunung. Mereka bersyukur, karena tak ada seorang Hoa San Pay pun yang mengejar mereka.

Semua orang menjadi sangat lega hatinya, semua bergirang sekali. Tiada orang yang tak mengagumi si pemuda, malah Bok Jin Ceng pun amat bangga!

Bhong Siang Tojin menghela napas, setelah minta A Pa mengubur mayat suteenya, ia pegangi Thie-kiam, pedang pusaka partainya yang dipuja-puja. Sesudah itu, sekalian ia tuturkan tentang partai itu yang asing bagi kebanyakan orang, tidak terkecuali Sin Cie.

Kaum mereka dipanggil Thie Kiam Bun, partai Pedang Besi, dan Thie Kiam, pedang besi, adalah pusaka mereka. Bhok Siang Tojin dan Giok Cin Cu ini adalah dua murid terakhir, mereka belajar bersama-sama. Guru mereka menutup mata di See-chong, Tibet, tanpa mereka ketahui, dengan begitu pedang pusaka mereka pun turut lenyap tak berbekas.

Pada mulanya, Giok Cin Cu adalah jujur, akan tetapi setelah guru mereka menutup mata, hatinya berubah, ia jadi binal, ia terpisah dari Bhok Siang Tojin, maka dari itu, tidak ada lagi orang yang dapat mengendalikan padanya, ia menjadi imam semenjak masih kecil, ia tidak gemar main perempuan, tetapi sudah berubah sifat, ia jadi pengganggu orang-orang perempuan, perempuan hina dan orang-orang baik. Karena tangkasnya tak seorang pun dapat melawannya. Satu kali ia bentrok dengan Bhong Siang yang nasihatnya ia tak gubris, namun lantas saja ia putuskan perhubungan suheng dan sutee.

Giok Cin Cu juga tahu bahwa sang suheng itu lihay, tak dapat ia melawannya, oleh karena itu ia tidak mau berdiam lebih lama di Tiong-goan, dan segera merantau jauh ke See­chong, sembari melatih terus ilmu silatnya, ia coba mencari pedang pusaka kaumnya. Untung baginya, ia berhasil menemukan Thie Kiam, karena mana ia menjadi lebih berani terhadap suhengnya.

Menurut aturan Thie Kiam Bun, melihat Thie Kiam, orang mesti memandang seperti menghadap Su-couw mereka. Atau tegasnya, siapa pegang Thie Kiam, dengan sendirinya dia jadi ciang-bun-jin, ahli waris atau ketua, siapapun anggota Thie Kiam Bun mesti tunduk pada ciang-bun-jin ini. Demikian juga sudah terjadi dengan Bhok Siang Tojin yang jujur, ia tunduk pada Thie Kiam, ia menyerah atas hukuman yang dijatuhkan Giok Cin Cu, meski itu tidak adil.

Bok Jin Ceng menghela napas bila ia sudah dengar keterangan itu.

Kemudian, ketua Hoa San Pay itu pandang Ang Nio Cu. Berlutut di depan orang tua itu, ia menangis, "Aku mohon dengan sangat Bok Loyacu suka menolongi suamiku," ratapnya.

Dulu-dulunya Sin Cie belum pernah ketemu sama Ang Nio Cu, sekarang dengan perantaraan An Toa Nio, ia ketahui nyonya serba merah ini ada istri Lie Gam, jadi enso atau iparnya, ia tahu Ang Nio Cu gagah, ia kaget dengan permintaan tolong nyonya ini.

"Kenapa dengan kanda Lie Gam itu?" tanyanya.

"Gouw Sam Kui sudah bersekongkol dengan Tatcu dari Boan-chiu," berkata Ang Nio Cu, "Dengan bekerja sama mereka menyerang San-hay-kwan. Giam Ong gagal dalam perlawanannya, ia mundur dari Pakkhia. Ketika itu Song Kunsu sudah mengadu-biru, ia memfitnah Lie Ciangkun. Aku minggat, dengan niat cari bantuan, akan tetapi Song Kunsu mengetahui ini, ia segera kirim orang mengejar untuk menangkapku. Begitulah aku telah dikejar kejar sampai di sini."

Semua orang kaget mendengar orang Boan telah memasuki San-hay-kwan.

Sin Cie segera memimpin bangun ensonya itu.

"Mari kita lekas tolong toako, terlambat sedetik, bisa gagal," katanya.

Meski ia mengucap demikian, Sin Cie toh mengawasi gurunya. Dengan tiba-tiba ia ingat, gurunya hendak mengadakan rapat, entah urusan apa yang bakal dibicarakan ia menjadi sangat gelisah.

"Orang telah berkumpul, sekarang juga aku akan utarakan niatku," berkata Bok Jin Ceng, yang mengerti akan kegelisahan muridnya.

Ketua Hoa San Pay ini ajak orang berkumpul di dalam gua, ia mengeluarkan gambar couwsu, lantas ia pasang lilin dan hio, semua muridnya dititahkan berlutut.

Ho Tek Siu berlutut sendirian di pojok, diam-diam ia lirik Sin Cie.

Bok Jin Ceng lihat kauwcu itu, ia bersenyum dan berkata: "Kau berkeras juga hendak masuk Hoa San Pay, sedang sebenarnya dengan kepandaianmu kau sudah boleh malang melintang di kolong langit. Tadi aku tolak kau, kau cuma mundur empat tindak. Di dalam kalangan kita kecuali tiga muridku tidak ada orang keempat yang tangguh seperti kau! Baik, baik, baik, kau boleh turut berlutut di sini!"

Bukan main girangnya Tek Siu, itu artinya ia telah diterima menjadi orang Hoa San Pay, maka ia berlutut di belakang Sin Cie, ia turut paykui akan menghormati couwsu mereka.

Setelah semua sudah menjalankan kehormatan, Bok Jin Ceng berdiri di tengah kalangan.

"Sekarang ini negara sedang kalut, aku sendiri sudah berusia lanjut tak dapat aku bekerja lebih jauh," berkata guru ini, "Maka dari itu pimpinan Hoa San Pay, mulai hari ini aku serahkan kepada muridku yang pertama, Oey Cin."

Oey Cin terkejut.

"Kepandaianku kalah dari jietee dan shatee." katanya.

"Untuk menjadi ciang-bun-jin, yang dibutuhkan bukan hanya kepandaiannya saja," kata Bok Jin Ceng, "Di sebelah itu yang diutamakan adalah prilaku benar, jujur dan berhati mulia. Kau jangan menampik terimalah tugasmu!"

Oey Cin tidak berani membantah lagi ia lantas paykui pada Couwsu, lalu pada gurunya, sesudah itu ia terima hu-in, cap dan kekuatan Hoa San Pay dari gurunya itu. Dan yang terakhir semua sutee keponakan murid juga murid-muridnya sendiri segera memberi hormat dan selamat kepadanya.

Hati Sin Cie lega setelah rapat selesai, ia lantas pamitan dari gurunya dari Bhok Siang Tojin juga, begitupun dari semua suhengnya dan yang lain-lain, untuk ia turun gunung guna tolongi Lie Gam.

"Adik Ceng, kau rawat diri di sini, habis menolong Saudara Lie, aku akan segera balik kembali," pesannya pada Ceng Ceng.

Mata Nona Hee menjadi merah, air matanya lantas menetes butir demi butir. Hatinya panas karena melihat A Kiu berada di atas gunung. Akan tetapi sebelum ia dapat mengatakan sesuatu, A Kiu sudah bertindak ke hadapannya.

"Enci Ceng, kau toh sudah tidak membenci aku pula bukan?" katanya dengan sebat mengangkat tangannya yang tinggal sebelah dan membuka karpus kulit yang menutupi kepalanya, hingga segeralah terlihat satu kepala gundul, bersih dari rambutnya yang tadinya hitam dan bagus.

Tuan putri ini sangat berduka untuk nasib kerajaannya, untuk kemalangannya yang menimpa ayahnya, untuk peruntungannya yang buruk, di sebelah itu ia tahu cintanya Sin Cie kepada Ceng Ceng, maka dari itu tanpa ragu-ragu ia menjadi nikoh.

Hal ini mengherankan semua orang.

Melihat itu, Ceng Ceng malu sendirinya, sedang Sin Cie pikirannya jadi kusut, karena ia bersusah hati untuk putri raja yang tadinya cantik dan jelita itu.

Mereka diam semua, Bhok Siang Tojin turut bicara.

"Nona ini tadi telah bersedia mengorbankan dirinya untuk menolongi aku, aku mesti hargakan budinya," katanya, "Seumur hidupku, aku si imam tua belum pernah menerima murid, maka justru sekarang partaiku sudah bersih, apabila kau tidak buat celaan, Nona sukalah kau terima beberapa pelajaran dari aku?"

A Kiu girang bukan buatan untuk tawaran itu, hingga ia lantas berlutut di depan guru yang baru ini. Justru ini yang membuat ia di belakang hari menjadi satu pendekar wanita di permulaan kerajaan Ceng, karena Kam Hong Tie, Pek Tay Koan, In Su Nio dan lainnya adalah murid-muridnya yang gagah dan setia pada kerajaan Beng.

Sampai di situ Sin Cie turun gunung untuk tolongi Lie Gam. Kecuali Ang Nio Cu, Hok Tek Siu dan lainnya, juga Ceng Ceng turut padanya. Nona ini mengatakan bahwa ia sudah cukup kuat. Memang, setelah urusan A Kiu menjadi terang baginya, hatinya lega sekali, ia segera merasa segar bukan main, pertolongan Tek Siu adalah yang berarti sangat besar untuknya, ia percaya, selama di perjalanan kesehatannya bakal pulih.

Sin Cie tidak menghalangi si nona hendak turut serta. Nyata kemudian, rombongan penolong ini terlambat datangnya, Lie Gam rela dihukum mati oleh Giam Ong. Hingga Sin Cie mesti tangisi saudara angkat itu.

Tentang Ang Nio Cu, tidak usah diterangkan lagi bagaimana kagetnya, bagaimana hatinya terluka. Dia pun adalah istri yang sangat setia dan lagi pula mencintai suaminya.

Sin Cie lantas cari mayatnya Lie Gam untuk dikubur dengan baik. Pada hari itu, ketika anak muda kita ini serta rombongannya bersembahyang di kuburan Lie Gam, ia dapatkan satu orang dengan kopiah dan pakaian putih semua, menangis seorang diri sambil menghadap ke utara, ia jadi heran, ia dekati orang itu untuk tanya she dan namanya.

Segera ternyata orang itu adalah yang belasan tahun dulu ia pernah jumpakan di gunung Lauw Ya San. Sebab dia adalah Han Tiauw Cong! Hanya sekarang orang she Han itu telah tambah usianya dan wajahnya pun telah berubah banyak.

Di waktu kembali ke rumah penginapan Sin Cie ajak Tiauw Cong. Mereka bersantap dan minum arak bersama. Banyak mereka bicarakan. Han Cauw Tiong merasa sangat terharu, hingga ia menulis syair peringatan untuk Sin Cie, setelah mana ia pamitan dan pergi. Hatinya sudah jadi sangat tawar.

Sin Cie pun turut lenyap kegembiraannya, "Mari kita pulang," ia ajak kawan-kawannya. Mereka pulang ke Hoa San. Segera juga dengan tiba-tiba Sin Cie ingat peta yang ia terima dari Peter, si orang militer asing, ialah peta dari sebuah pulau, Hay Lam! "Kenapa aku tidak pergi ke sana untuk berikhtiar?" pikirnya.

Malam itu pemuda ini berada bersama dengan Ceng Ceng. Mereka duduk berendeng di atas sebuah batu besar. Tidak banyak yang mereka katakan, karena hati mereka sudah bersatu. Wajah merekalah yang lebih banyak mengutarakan sesuatu -- satu pada yang lain.

"Aku ingin berlayar ke Hay Lam, kau setuju bukan?" kemudian Sin Cie tanya si nona, "Suasana di sini sudah tidak cocok lagi untuk kita, di pulau itu kita dapat berikhtiar. Pasti sekali, kita akan pergi beramai-ramai, supaya dapat kita berkumpul terus."

Pemuda ini awasi kekasihnya, dan si pemudi pun membalas pandangannya, "Aku setuju," berkata si nona, hampir tanpa berpikir lagi.

"Bagus!" seru si anak muda. Selesai ini mereka terus bersama menikmati sang malam yang sunyi, sampai setelah lewat banyak waktu, mereka kembali untuk beristirahat. Besoknya Sin Cie utarakan cita-citanya kepada semua kawannya, ia tanyakan pendapat mereka.

Nyata Ho Tek Siu, Ang Nio Cu dan yang lainnya pun setuju. Maka putusan lantas diambil. Malah mereka lantas mulai bersiap sedia.

Sin Cie minta bantuan Ang Seng Hay untuk mengumpulkan Couw Cong Siu, Beng Pek Hui ayah dan anak, Ciauw Wan Jie dan suami, See Thian Kong, Ouw Kui Lam dan lain-lainnya orang gagah dari tujuh propinsi. Malah ia pun dapat persetujuan The Kie In, ketua dari Cit-cap-jie-to, tujuh puluh dua pulau, yang suka turut ia.

Maka pada suatu hari yang lelah ditetapkan, rombongan yang besar ini dengan terbagi dalam beberapa kelompok, mulai berangkat menuju Hay Lam, Laut Selatan itu di mana mereka berkat kekerasan hati mereka telah beruntung berhasil mendirikan semacam daerah berpengaruh, hingga Hay Lam dapat dibuka, dibangun menjadi satu dunia baru.


T A M A T  
Thanks for reading PEDANG ULAR MAS 43 TAMAT

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar