Home » , » PEDANG ULAR MAS 1

PEDANG ULAR MAS 1

Kim Coa Kiam
PEDANG ULAR MAS
PEDANG ULAR MAS
Karya: Jin Yong
Disadur oleh: OKT


Jilid 1

Bab 1

Di saat matahari sedang turun dan rombongan gowak terbang pulang, di satu jalanan dari pegunungan Cin Nia di Siamsay, seorang anak muda lagi kasi kudanya jalan pelahan-lahan, karena ia sedang menikmati pemandangan alam mendekati magrib yang indah permai.

Mengikuti pemuda ini ada seorang kacung umur belasan tahun, kudanya pun kurus, di belakang kudanya itu, kecuali bungkusan pakaian pun ada sebuntal pelbagai kitab. Dia ini nampaknya sibuk, sebab mulai remang-remang, majikannya masih tidak percepat perjalanan mereka.

"Kongcu, jalanan di sini tidak aman," ia lalu mendesak. "Nanti kita tidak dapatkan rumah penginapan. Kalau kita ketemu begal di tengah jalan......"

Si mahasiswa tidak menyawab, dia cuma tertawa, lantas ia keprak lari kudanya.

Pemuda itu ada Hauw Tiauw Cong alias Hong Hek, asal Siang Kiu di propinsi Hoolam, turunan sasterawan. Ketika itu ada di jaman kerajaan Beng, tahun kelima dari Kaisar Cong Ceng. Dengan perkenan ayah-bundanya, dia pergi pesiar. Pada waktu itu, pengkhianat Gui Hian Tiong, thaykam yang berpengaruh, sudah dihukum mati karena pemberontakannya, akan tetapi negara belum seluruhnya aman-sentausa, malah di sana­sini muncul segala begal dan berandal. Sebenarnya orang-tua itu tidak mufakat puteranya pesiar tetapi si anak memaksa, katanya, satu laki-laki mesti "dapat baca berlaksa kitab, dapat merantau berlaksa lie". Dia pun ada satu anak pintar dan berani.

Tiauw Cong berangkat dengan cuma ajak seorang kacungnya itu, Hauw Kong namanya. Ia menuju ke arah Barat. Di sepanjang jalan, ia mengicipi kepermaian gunung-gunung, sungai dan kali. Kapan ia sampai dikaki gunung Ciong Lam San, yang ia ketemui adalah penduduk bermuka pucat-kuning yang kurus-kering, malah kadang-kadang mayat-mayat kelaparan, di antara siapa pada mulutnya masih termamah sisa rumput hijau, keadaannya sangat menyedihkan dan merisaukan hati. Mulanya, ia masih bisa menderma sejumlah uang, tapi lama-lama, ia kewalahan sendirinya. Terlalu banyak yang mesti ditolong, di lain pihak, uang bekalannya sangat terbatas. Tapi semua itu menginsafi ia bagaimana kemelaratan merajalela, kesengsaraan rakyat jelata hampir merata. Walaupun semua itu, apabila ia tampak panorama indah, hatinya lega juga.

Baru setelah ditegur kacungnya, Hauw Kongcu sibuk juga. Ia sudah larikan kudanya, ia belum ketemu pondokan, sedang cuaca berubah makin remang-remang, makin gelap.

Belasan lie sudah ia kaburkan kudanya, baru ia sampai di sebuah kampung. Menampak kampung ia dan kacungnya girang bukan main, tapi kemudian, hati mereka cemas. Kampung itu sangat sunyi.

"Mari kita cari rumah penginapan," kata si kongcu. Akhirnya Hauw Kong turun di depan sebuah pondokan, yang pakai merek Hotel Ciang Lam, terus saja ia kaoki tuan rumah, pemilik hotel. Ia tidak dapat jawaban, melainkan teriakannya berkumandang di belakang hotel, yang letaknya berdampingan sama gunung. Itulah sambutan dari dalam lembah..... Kembali kacung ini memanggil berulang-ulang, saban-saban ia disambuti kumandangnya.

Hotel tetap sunyi, tidak ada penyahutan, tidak ada yang keluar.

Tiba-tiba berkesiur angin yang dingin. Keduanya, majikan dan kacungnya, bergidik sendirinya. Tiauw Cong habis sabar, ia bertindak masuk ke dalam hotel. Untuk kagetnya, ia tampak dua tubuh mayat menggeletak dan darah hitam mengumpiang, bau amis engas menyambar-nyambar hidung, kawanan laler terbang pergi-datang. Itulah mayat-mayat sejak beberapa hari.

Hauw Kong, yang ikuti majikannya masuk, menjerit dan lari keluar.

Tiauw Cong melihat kesekitarnya. Peti-peti terbuka berhamburan, pintu dan jendela pecah-rusak. Teranglah sudah, hotel itu ada korbannya berandal. Hauw Kong lihat majikannya belum juga keluar, ia masuk pula, memanggil. "Mari kita lihat tempat lain," kata Tiauw Cong. Nyata di lain-lain tempat, hasilnya sama. Rumah-rumah kosong, ada juga mayat, malah ada mayat wanita dengan tubuh telanjang bulat, ialah korban perbuatan binatang. Jadi itu adalah kampung kosong, merupakan sebagai neraka..... Walaupun ia bernyali besar, akhirnya, Tiauw Cong lekas-lekas berlalu dari kampung itu. Tanpa bicara satu sama lain, majikan dan kacungnya kaburkan kuda mereka terus ke arah Barat, sampai lagi belasan lie. Mereka sibuk sekali. Sekarang mereka merasa lapar. Di mana mesti mondok? Ke mana mesti cari barang makanan? Akhir-akhirnya, si kacung berseru: "Kongcu, lihat!" Dan ia menunjuk.

Majikan itu memandang ke tempat yang ditunjuk, ia lihat satu sinar terang, di tempat jauh. "Mari kita mondok di sana!" kata majikan ini, yang kembali kaburkan kudanya. Hauw Kong, dengan kudanya seperti tulang melulu, susul majikannya itu. Jalanan itu, makin jauh, makin sukar. "Kalau itu ada sarang berandal, apa kita bukan cari mati sendiri?" akhirnya Tiauw Cong bersangsi. Sang kacung terkejut.

"Kalau begitu, jangan kita pergi kesana!" katanya.

Tiauw Cong dongak, ia tampak awan gelap di sekitarnya. Itulah mendung, tanda bakal turun hujan.

"Kita lihat dulu," kata ia, yang segera turun dari kudanya, yang ia tambat pada sebuah pohon. Kemudian, dengan tindakan pelahan, ia hampirkan cahaya terang itu. Hauw Kong ikuti majikan itu.

Segera setelah datang dekat, pemuda ini dapati sebuah rumah dengan dua pintu, ia punya hati menyadi tetap. Selagi ia mengintip di pintu pekarangan, seekor anjing besar lompat keluar, terus menggonggong, agaknya dia hendak menerjang.

Dengan bulang-balingkan cambuknya, Tiauw Cong bikin anjing itu mundur, tapi binatang ini masih terus perdengarkan suaranya yang berisik, hingga akhirnya daun pintu terbuka, seorang perempuan tua muncul, sebelah tangannya mencekal pelita.

"Siapa?" tanya nyonya itu.

"Kami, orang pelancongan," sahut Tiauw Cong. "Kami kemalaman, kami ingin minta numpang bermalam."

"Mari masuk!" mengundang nyonya itu.

Tiauw Cong masuk, akan dapati sebuah rumah buruk, kecuali kong, yaitu pembaringan tanah, tak ada perabot lainnya lagi. Satu penghuni lainnya ada seorang tua yang batuk­batuk saja.

Tiauw Cong suruh kacungnya ambil kuda mereka, tapi kacung ini takut - ia ingat mayat­mayat tadi di dalam hotel.

"Mari ikut aku," kata si empeh yang turun dari pembaringannya.

Dengan begitu kuda mereka dapat dibawa ke dalam pekarangan.

Si nyonya tua lantas suguhkan beberapa biji kue mo-mo dan masaki satu tehkoan air panas, tapi Tiauw Cong tidak pernah makan santapan itu, baru beberapa gigitan saja, ia sudah letaki pula. Ia lantas tanya, berandal siapa yang telah bunuh beberapa korban manusia di tempat yang ia lewati.

"Berandal? Mustahil berandal demikian kejam?" sahut si empeh, yang menghela napas. "Itulah perbuatan bagus dari tentara negeri!"

Tiauw Cong melengak.

"Tentara negeri? Tentara negeri demikian kejam?" ia tanya. "Apa pembesarnya antap mereka mengganas?"

Orang tua itu tertawa tawar.

"Rupanya Siangkong baru ini kali pernah merantau!" berkata dia. "Segala apa, Siangkong tak tahu! Pembesar tentara? Dia justeru ambil apa yang paling bagus! Si cantik-manis mesti lebih dahulu diperlihatkan!"

"Kenapa rakyat tak mengadu ke kantor negeri?" tanya Tiauw Cong.

"Apa gunanya? Itu artinya cari penyakit! Sekali kau mengadu, dalam sepuluh, delapan, atau sembilan bagian, jiwamu bakal hilang!..........."

"Eh, bagaimana bisa jadi demikian?"

Tiauw Cong benar-benar tidak mengerti.

"Bukankah hamba negeri itu saling melindungi? Siapa mengadu, pengaduannya ditolak, orangnya dirangket, lalu ditahan! Siapa tidak mempersembahkan uang, dia jangan harap keluar dari penjara!"

Pemuda itu menggeleng kepala.

"Tak nyana aku, pangrepraja di Siamsay ini demikian buruk," menyatakan ia. Ia lantas tanya pula: "Apa perlunya tentara negeri pergi ke pegunungan?"

"Maksudnya untuk menindas berandal! Tapi sebenarnya, kebanyakan berandal jadi berandal karena desakannya tentara juga! Kalau tentara tak berhasil membekuk berandal, dia orang bunuh sejumlah penduduk, kepala mereka ini dihaturkan kepada seatasan mereka, untuk minta jasa. Mereka serbu rakyat, mereka merampok dan membunuh, dan pulangnya, bisa naik pangkat juga!"

Orang tua itu bicara makin lama makin sengit, sampai si uwah ulapi tangan berulang­ulang, untuk cegah dia. Uwah ini kuatir Tiauw Cong ada hamba negeri, itulah berbahaya.

Tiauw Cong sendiri menghela napas, pikirannya pepat sekali. Engkongnya ada satu Thay­siang, ayahnya adalah Su-touw, semuanya berpangkat tinggi, ayahnya sudah letaki jabatan, tapi semua terkenal jujur, siapa sangka, sekarang ada pembesar-pembesar demikian jahat. Kabarnya tentara Boan-Ciu sering mengancam perbatasan, tentara negeri bukan tangkis musuh, akan bela negara, mereka justeru celakai rakyat! Akhirnya, saking lelah dan pusing memikirkan kejahatan tentara itu, Tiauw Cong rebahkan diri niat tidur, tapi baru dia layap-layap, dia terperanjat dengar suara berisik dari gonggongan anjing dan berbengernya kuda, disusul sama seruan-seruan dari kemurkaan, lantas gedoran hebat pada pintu! Si nyonya tua hendak buka pintu, si orang tua cegah ia.

"Siangkong, pergi ke belakang untuk umpatkan diri," kata orang tua itu.

Tiauw Cong menurut, bersama Hauw Kong, ia menyingkir ke belakang di mana mereka dapat cium baunya batang-batang kaoliang, lalu mereka dapati tumpukan rumput. Baru mereka sembunyi, atau mereka dengar suara pintu kena didobrak rubuh.

"Kenapa tidak lekas buka pintu?" demikian teguran bengis. Teguran ini disusul sama hajaran kepada kuping, suaranya nyata sekali.

"Oh, Looya, kita..... kita ada suami-isteri sudah tua, kuping kita tuli, kita tidak dapat dengar......" terdengar jawaban si nyonya tua.

Tapi kembali suaranya hajaran kepada kuping.

"Jikalau tidak kedengaran, kau mesti dihajar!" demikian teguran lagi. "Lekas sembelih ayam, lekas siapkan nasi untuk empat orang!"

"Kita sendiri bakal mati kelaparan, dari mana kita dapat ayam?" demikian suara ratapan.

Segera terdengar suara rubuh terbanting, rupanya si orang tua telah dijoroki hingga rubuh, menyusul mana terdengarlah tangisannya si perempuan tua.

"Sudahlah, Ong!" lalu terdengar satu suara lain. "Ini hari kita sudah idar-idaran satu harian, kita melainkan terima cukai dua-puluh tail lebih, memang sebenarnya kita orang tidak puas, tetapi percuma andai-kata kau hendak lampiaskan itu....."

"Tetapi orang ini, tanpa dipaksa, mana bisa jadi?" terdengar penyahutan, rupanya dari si orang she Ong itu. "Mengenai dua-puluh tail itu, jikalau aku tidak kemplang patah kakinya si tua-bangka, mana dia sudi keluarkan uangnya?"

"Penduduk di sini sebenarnya melarat," kata orang yang ketiga, "hanya kalau kita tidak paksa mereka, kita sendiri bakal dicaci maki oleh toa-looya......."

Selagi orang ini berkata-kata, kudanya Tiauw Cong berbenger, beberapa hamba wet itu heran, lantas mereka pergi keluar, untuk melihat, hingga mereka dapati dua ekor kudanya si kongcu dan kacungnya.

"Si penunggang kuda tentu menginap di sini, inilah berarti hasil....." demikian kawanan opas itu bicara satu sama lain, kemudian mereka semua kembali ke dalam, dengan kegirangan.

Tiauw Cong kaget, ia insaf ancaman bahaya, maka itu, ia tarik Hauw Kong, akan ajak kacung itu molos dari pintu belakang, akan menyingkir lebih jauh di jalanan ceglak-ceglok dan banyak batunya. Hati mereka lega melihat tak ada orang kejar mereka, sedang uang bekalan mereka berada di bebokongnya Hauw Kong. Mereka mendekam dalam pepohonan yang lebat, terus selama satu malam itu, besoknya terang tanah, mereka keluar, akan cari jalan besar, untuk lanjuti perjalanan.

Di tengah jalan, selagi melakoni perjalanan sepuluh lie lebih, majikan dan kacung itu rundingkan soal membeli lagi kuda, untuk perjalanan mereka itu. Sementara itu, Hauw Kong senantiasa mendumal, mencaci maki kawanan hamba-hamba negeri yang jahat dan kejam, yang sudah siksa dan peras rakyat, hingga kejadiannya, kuda mereka pun turut lenyap.

Mereka sedang jalan terus ketika tiba-tiba, dari jalan kecil, muncul empat orang polisi, yang bersenjatakan thie-cio, yang membekal borgolan, dan dua di antaranya sambil tuntun dua ekor kuda. Berdua mereka saling mengawasi, dengan melongo. Sebab itulah kuda mereka! Jadi empat oppas itu adalah hamba-hamba negeri yang semalam mengganas si empeh dan uwah rakyat jelata yang melarat.

Di pihak lain, empat oppas itu juga mengawasi majikan dan bujang itu, yang sudah tidak keburu menyingkir, terpaksa keduanya mencoba jalan terus sambil bawa sikap sewajarnya.

"Eh, Sahabat, kau orang kerja apa?" akhirnya satu oppas menegor.

Itulah, Tiauw Cong ingat, ada orang yang aniaya si empeh tadi malam.

"Bersama aku punya kongcu aku hendak pesiar ke Ciong Lam San," Hauw Kong wakilkan kongcunya menjawab. Ia pun maju ke depan majikannya itu.

Dengan tiba-tiba oppas, yang dipanggil si Ong itu, sambar Hauw Kong untuk dicekal, lalu dengan sebat, dia sambar bungkusan di belakang orang, yang mana dia segera buka, hingga kelihatanlah isinya uang emas dan perak. Dengan tiba-tiba juga dia jadi mata merah, romannya jadi bengis.

"Kongcu? Kongcu apa?" dia berseru. "Kamu orang tentunya bukan orang baik-baik. Dari mana harta ini? Tentu hasil pencurian! Bagus, kita dapat bekuk pencuri berikut barang buktinya! Hayo ikut kita menghadap toa-looya!"

Terang oppas ini menghina pemuda dan bocah itu, yang dia hendak gertak, supaya uangnya itu bisa dikantongi. Tapi Hauw Kong cerdik, ia tidak jeri. "Bagus!" ia bilang. "Kongcu ada puteranya Tayjin Hauw Su-touw, pergi kepada looyamu, itulah paling bagus!"

Si Ong melengak, hingga ia mundur. Mendadakan, ia tertawa. "Aku main-main saja!" kata ia, yang romannya jadi ramah-tamah. "Boleh toh kita main-tiba sedikit?"

Menampak orang jadi manis-budi, hatinya Hauw Kong jadi besar. "Mari pulangi kuda kita," kata ia. "Atau sebentar, menghadap kepada toalooyamu, nanti aku mintakan presen seorang seratus rotan kepada kamu semuanya." Semua orang terkejut. Semua oppas itu jadi terkejut, satu antaranya yang berusia pertengahan lantas kerutkan alis.

"Inilah bahaya," ia pikir kemudian. "Sudah terlanjur, baik aku binasakan dua pitik ini, uangnya kita rampas." Ia telah lantas ambil putusan, mendadakan ia cabut goloknya dan bacok si bocah. Hauw Kong kaget, ia berkelit tidak urung, pundaknya kena kebacok, darahnya lantas ngucur. "Kongcu, lekas lari," berseru kacung ini, yang kecil tetapi hatinya tabah dan setia. Tiauw Cong pun kaget, lantas saja ia lari. Oppas itu penasaran, ia membacok pula, tetapi sekali ini Hauw Kong bisa kelit, sesudah mana, ia putar tubuh, akan lari juga, akan susul kongcunya.

"Kejar mereka!" berseru oppas ganas itu, yang lalu bersama si Ong bertiga, kejar itu majikan dan kacung. Bukan main kuatirnya Hauw Tiauw Cong, ia pun tidak bisa lari keras sekali. Di saat ia hampir kecandak, tiba-tiba dari arah depannya datang satu penunggang kuda, yang kudanya dikasi lari dengan keras. Empat oppas itu lihat si penunggang kuda, yang satu segera berteriak: "Kurang ajar! Kurang ajar! Bangsat besar, kau berani lawan kita?"

"Bekuk dia! Bekuk dia!" satu oppas yang lain berteriak-teriak. "Bekuk itu penjahat!"

Kawanan oppas ini secara keji tuduh Hauw Kongcu berdua sebagai penjahat. Secara begini pun mereka mencari alasan untuk keganasan mereka. Si penunggang kuda di depan datang semakin dekat, tidak saja ia telah lihat dua orang lagi lari dan empat oppas lagi mengejar, ia pun dengar teriakan-teriakannya si oppas, maka ia larikan kudanya ke arah dua orang itu, setelah datang dekat, ia membungkukkan tubuh, ia ulur kedua tangannya, nampaknya gampang sekali, ia cekal Tiauw Cong dan Hauw Kong, untuk diangkat naik ke belakang kudanya.

Empat oppas itu, dengan napas sengal-sengal, sudah lantas sampai kepada si penunggang kuda, yang telah tahan kudanya, dan dia ini sudah lantas turunkan dua orang itu sambil berkata: "Inilah mereka, sudah ditangkap!" Habis itu, ia pun loncat turun.

Penunggang kuda ini bertubuh besar, suaranya nyaring, mukanya berewokan, umurnya kira-kira tiga puluh tahun.

"Terima kasih," kata keempat oppas, yang berlaku ramah-tamah. Mereka jerih terhadap orang beroman gagah. Kemudian mereka angkat bangun Tiauw Cong dan Hauw Kong, yang jatuh ke tanah.

Penunggang kuda itu awasi Hauw Kongcu, yang muda dan sebagai mahasiswa, serta kacungnya, yang melongo saja sebagai majikannya. Sama sekali mereka berdua tidak mirip-miripnya dengan orang jahat.

Sekonyong-konyong Hauw Kong buka mulutnya: "Enghiong, tolong! Mereka ini hendak merampas dan membunuh!"

"Kamu siapa?" tanya si penunggang kuda.

"Inilah kongcuku, Hauw Su-touw punya......"

Hauw Kong belum sempat bicara terus atau satu oppas telah bekap mulutnya.

"Saudara, kau baik ambil jalanmu sendiri, jangan kau campur urusan kami orang kantor negeri," oppas yang usia pertengahan mengasih nasihat.

Tapi si penunggang kuda bersikap lain.

"Lepaskan tanganmu itu, biarkan dia bicara!" ia kata pada oppas yang tekap si bocah.

"Aku yang rendah ada satu anak sekolah, aku tidak bertenaga besar, mana mungkin aku jadi penjahat....." berkata Tiauw Cong.

"Eh, kau berani banyak bacot?" satu oppas lain menegur. Dan ia ayun sebelah tangannya, akan gaplok mukanya si anak muda.

Penunggang kuda itu gusar, ia ayun cambuknya dengan apa ia lilit lengannya si oppas galak, hingga gaplokannya batal. Sebaliknya, kapan si penunggang kuda betot tangannya, dia terpelanting dan jatuh mencium bumi, hingga dua buah giginya gempur, mulutnya mengucurkan darah! "Bagaimana sebenarnya duduknya perkara?" tegaskan si penunggang kuda.

"Kongcuku sedang pesiar," Hauw Kong gantikan tuannya," lantas kami bertemu sama ini empat orang, mereka lihat uang kami, lantas mereka hendak binasakan dan rampas uang kami itu!" Ia lantas berlutut. "Enghiong, tolong kami....." ia memohon.

"Apakah ini benar?" si penunggang kuda tanya oppas di depannya.

Oppas itu belum menjawab atau si Ong, yang berada di belakangnya, membacok dengan goloknya! Penunggang kuda itu dengar sambaran angin, tanpa menoleh lagi, ia berkelit ke kiri, segera ia putarkan tubuhnya, sambil mendekam sedikit, ia kirimkan dupakannya kepada pahanya si Ong, hingga dia ini terpental dan rubuh.

"Inilah penyamun tulen!" berseru tiga oppas lainnya, sambil mereka maju menyerang.

Tiauw Cong berkuatir, ia lihat orang tak bersenjata, akan tetapi si penunggang kuda tak jeri dikerubuti, dengan kelit sini dan egos sana, ia hindarkan sabetan atau kemplangan thiecio dan sabetan rantai borgolan yang digunai tiga pengepungnya.

Si Ong berbangkit, ia maju pula, ia membacok.

"Kurang ajar!" berseru penunggang kuda itu, yang kelit bacokan tapi tangannya melayang, hingga dengan keluarkan jeritan kesakitan, hidungnya si Ong muncratkan darah, goloknya pun terlepas, sebab segera ia tutupi mukanya dengan kedua tangannya.

Penunggang kuda itu jumput golok orang, malah terus ia pakai menyerang, atas mana, satu oppas terluka pundaknya, kemudian menyusul terbacok kaki kirinya oppas yang menggunai rantai, hingga dia rubuh.

Melihat demikian, oppas yang satunya lantas saja lari, disusul oleh si Ong, yang pun turut angkat kaki, sama sekali mereka lupa dua kawan mereka.....

Penunggang kuda itu tertawa berkakakan, ia lempar golok di tangannya, ia hampirkan kudanya untuk dinaiki.

"Tunggu dulu, Inkong," mencegah Tiauw Cong pada tuan penulungnya itu, yang ia hampirkan. Ia mengucap terima kasih, ia tanya she dan namanya orang itu.

Orang itu awasi kedua oppas yang terluka, yang rebah di tanah sambil merintih kesakitan, dengan mata bersorot kegusaran, mereka mengawasi.

"Di sini bukan tempat bicara, mari kita pergi ke sana," kata si penunggang kuda. "Kita naik kuda."

Ia lompat naik atas kudanya, perbuatannya ditelad oleh Tiauw Cong dan Hauw Kong, yang pun naik atas kudanya masing-masing. Dengan berendeng, mereka pergi dari tempat kejadian itu, sembari jalan, Tiauw Cong perkenalkan diri.

"Kau jadinya ada Hauw Kongcu," kata penunggang kuda itu. "Aku ada Yo Peng Kie yang dalam kalangan Kang-ouw dikenal sebagai Mo-In Kim-cie, Sayap Emas Beterbangan, aku bekerja sebagai piauwsu kepala dari Bu Hwee Piauw-kiok."

Tiauw Cong mengucap terima kasih.

“Coba tidak ada piauwtauw yang tolongi kami berdua, hari ini tentulah kami terbinasa di tangan orang jahat." ia kata.

"Sekarang, baiklah Kongcu lekas pulang," Peng Kie anjurkan. "Kau mesti beritahukan kejadian ini kepada ayahmu, supaya ayahmu urus lebih jauh, kalau tidak, tentu kawanan oppas itu bakal putar duduknya perkara. Terang sudah mereka ada jahat dan licik. Mereka tidak kenal aku, tentu mereka bakal berati Kongcu seorang."

Mendengar nasihat itu, lenyap kegembiraannya kongcu ini.

"Kau benar, Saudara Yo," kata ia. "Terima kasih untuk keterangan kau ini. Mari kita lakukan perjalanan bersama-sama."

Peng Kie setuju.

"Mari," sahut ia.

Hatinya Tiauw Cong lega. Dengan dikawani itu piauwsu, ia tak kuatir lagi.

Dua-puluh lie mereka sudah lalui, tidak juga mereka dapat pondokan. Sukur Peng Kie ada bawa rangsum kering, ia keluarkan itu, untuk didahar bersama. Mereka singgah sebentar, Hauw Kong cari kwali pecah, untuk masak air, supaya mereka bisa minum. Ia kumpuli kayu kering, untuk nyalakan api.

"Si penjahat ada di sini!" tiba-tiba kacung ini dengar suara nyaring di belakangnya. Ia terkejut, hingga ia berjingkrak, karena mana, airnya tumpah, menyiram kayunya.

Peng Kie segera berpaling, hingga ia tampak, oppas tadi, yang kabur, telah balik bersama belasan serdadu, dia itu sendiri kaburkan kudanya paling depan.

"Lekas naik kuda!" piauwsu ini serukan kawan-kawannya. Kemudian ia kasi majikan dan bujang itu lari di depan, ia sendiri dengan hunus golok tantoo, larikan kudanya di sebelah belakang, untuk melindungi.

"Bekuk si penjahat!" beberapa serdadu berteriak-teriak.

Semua serdadu itu mengejar dengan keras.

Peng Kie telah lari jauh juga, tetapi ia dapat kenyataan, ia terpisah semakin dekat dengan rombongan pengejarnya itu.

"Ambil jalan kecil!" ia teriaki dua kawannya.

Tiauw Cong membiluk ke jalan kecil, di belakang ia, Hauw Kong menyusul bersama si piauwsu.

"Kejar terus! Siapa dapat membekuk, ia akan dapat upah besar!" si oppas berteriak-teriak, akan anjurkan belasan serdadu itu.

Melihat orang menyusul semakin dekat, terpaksa Peng Kie tahan kudanya, untuk diputar balik, guna tunggui barisan pengejar itu, kemudian ia maju memapaki, akan menyerang.

Si oppas kaget, ia lantas mundur, tetapi belasan serdadu maju menyerang. Mereka bersenjatakan tumbak, yang panjang, dengan lekas Peng Kie jadi repot, belum sempat ia membacok salah satu musuh, karena goloknya pendek, pahanya telah kena tertusuk, hingga ia merasakan sakit walaupun lukanya tidak parah. Karena ini, ia jadi kecil hati. Ia keprak kudanya, ia berlompat ke depan, satu serdadu yang berada paling dekat, ia bacok pundak kirinya.

Hal ini membikin serdadu-serdadu yang lain kaget, mereka merandek, justeru itu, si piauwsu kaburkan kudanya, untuk lari terus.

"Kejar!" berseru si oppas, yang maju pula, diikuti oleh kawan-kawannya.

Peng Kie sudah lantas dapat candak Tiauw Cong dan Hauw Kong.

Jalanan di depan mulai jadi sempit, tapi sukar, serdadu-serdadu itu jeri terhadap si piauwsu, mereka tak berani maju mendekati, mereka cuma mengejar saja.

Peng Kie dapat hati, ia ajak dua kawannya lari dengan keras. Mereka jalan di tempat banyak tikungan, ini menolong mereka, sebab tidak lama lagi, mereka lenyap dari pemandangan matanya sekalian pengejar, yang cuma suara teriak-teriakannya saja yang masih terdengar dengan nyata. Segera mereka menghadapi jalan cagak tiga. "Kita turun di sini!" Peng Kie kata. Ia mendahului loncat turun dari kudanya. Tiauw Cong dan kacungnya menuruti, mereka pun turun. "Mari!" mengajak piauwsu itu. Mereka tuntun kuda mereka, masuk ke dalam pepohonan yang lebat, untuk sembunyi. Tidak terlalu lama, muncullah rombongan tentara bersama si Ong. Mereka ini agak bersangsi melihat jalan cagak itu. Akhirnya, si Ong pilih satu di antaranya.

"Mereka tidak akan susul kita jauh-jauh, mereka bakal kembali," kata Peng Kie. "Mari lekas!" Ia robek ujung bajunya, buat dipakai membungkus lukanya, habis itu mereka keluar dari tempat sembunyi, naik atas kuda masing-masing, lantas mereka ambil jalan yang lain yang diambil pengejar mereka. Mereka sudah lari jauh juga ketika Peng Kie dengar suara berlari-larinya banyak kuda. Ia mengerti, orang tentu sedang susul mereka. Biar bagaimana, ia sibuk juga.

Tidak jauh dari mereka, mereka lihat tiga buah rumah gubuk, di depannya, ada penghuninya orang tani sedang bekerja. Peng Kie hampirkan orang tani itu, sembari menjura, ia kata: "Saudara, di belakang kami ada tentara sedang mengejar yang hendak celakai kami, tolong kau carikan tempat sembunyi....."

Orang tani itu tetap memacul, ia seperti tidak dengar permintaan itu. Tiauw Cong turun dari kudanya, ia hampirkan orang tani itu, akan ulangi permintaannya Peng Kie. Sekali ini, mendadakan orang tani itu mengawasi, dengan kedua matanya yang bersinar. Ia mengawasi dari atas ke bawah pada tiga orang itu. Berbareng dengan itu dari antara pepohonan lebat terdengar suara suling merayu-rayu, lantas tertampak satu bocah bercokol di belakang seekor kerbau. Dia berumur delapan atau sembilan tahun, kuncirnya kecil pendek nyungcung di batok kepalanya.

Dia beroman manis dan cakap, membuat orang segera sukai dia. Melihat bocah itu, si orang tani kata padanya," Sin Cie, bawa kuda ke dalam gunung, kasi makan rumput sepuasnya! Tunggu sampai sudah gelap, Baru kau bawa kembali."

Bocah itu pandang Tiauw Cong bertiga. "Baik!" ia menyahuti, terus ia hampirkan ketiga kuda orang-orang itu. Peng Kie tidak mengerti maksud orang, ia berikan kuda mereka.

Sementara itu, suara pengejar datang semakin dekat, Tiauw Cong sibuk.

"Mereka mendatangi...." kata ia. "Bagaimana?"

"Mari turut aku," mengajak si orang tani.

Tiauw Cong bertiga ikut diajak masuk ke dalam rumah, yang bersih keadaannya walaupun perabotan kebanyakan ada alat-alat pertanian. Mereka dibawa terus ke pedalaman, sampai di sebuah kamar tidur, ketika si orang tani singkap kelambu, di belakang itu ada tembok. Dia menekan dua kali kepada tembok atas mana tembok itu berbunyi dan terbukalah sebuah lobang, sehingga mereka terkejut.

"Masuklah!" kata si orang tani.

Peng Kie bertiga masuk. Mereka dapati sebuah gua yang cukup lebar.

Nyata gua itu ada gua gunung, yang sengaja dibuka. Tanpa menggempur rumah, tidak nanti diketahui, di belakang rumah ada lobang gua.

Orang tani itu tekan pula tembok, setelah mana, pintu gua tertutup pula. Ia terus pergi keluar, untuk bekerja pula dengan cangkulnya seperti tadi.

Belum terlalu lama, muncullah si Ong serta belasan serdadunya.

"Eh, apa tadi ada tiga penunggang kuda lewat di sini?" Ong tanya dengan kasar.

"Baru saja dia lewat, ke sana!" sahut si petani seraja menunjuk ke sebuah jalan kecil.

Ong beramai larikan kudanya ke tempat yang ditunjuk itu, di sini mereka melalui tujuh atau delapan lie tanpa ada hasilnya, lantas mereka kembali. Mereka hampirkan pula si petani, untuk ditanyakan, tapi dia ini menyahuti tidak jelas, dia mirip dengan seorang budek.

"Sudah, jangan layani si tolol!" kata beberapa serdadu. "Mari!"

Mereka larikan kuda mereka ke sebuah jalan kecil lainnya.

Tiauw Cong bertiga, dari tempatnya sembunyi, dengar suara kaburnya banyak kuda, suaranya nyata dan lenyap, nyata pula, lenyap lagi. Selama itu, mereka tetap sibuk, terutama sebab tuan rumah belum datang untuk membukai pintu. Peng Kie coba tolak pintu gua, tidak ada hasilnya, sebab ia tak tahu rahasianya. Daun pintu pun tak tergerak sedikit jua. Gua ada gelap. Terpaksa mereka duduk diam, kecuali Peng Kie, yang beberapa kali merintih karena lukanya, hingga ia kutuki pengejar-pengejarnya.

Entah berapa waktu telah lewat, mendadakan pintu gua terbuka sendirinya dengan menerbitkan suara, lebih dahulu muncul cahaya api kuning, lalu muncul si orang tani dengan tangannya menyekal ciaktay yang lilinnya menyala.

"Marilah kita dahar!" ia mengundang.

Peng Kie berlompat bangun, akan mendahului keluar, Tiauw Cong dan kacungnya susul dia. Mereka pergi ke thia di mana ada sebuah meja yang sudah siap dengan nasi dan temannya, yang masih mengepul-ngepul, kecuali tauwhu dan sayur, pun ada dua ekor ayam yang gemuk.

Di dalam ruangan itu, kecuali si orang tani dan si bocah angon, ada lagi tiga petani lainnya, yang menantikan tetamu-tetamunya sambil berdiri.

Tiauw Cong bertiga memberi hormat, mereka lantas perkenalkan diri.

Mendengar namanya Peng Kie sebagai piauwsu, nampaknya orang-orang itu tak memperdulikannya, akan tetapi mengetahui si anak muda ada puteranya Hauw Su-touw, semua saling memandang, lantas ada yang tanyakan halnya Hauw Su-touw selama yang belakangan ini.

Tiauw Cong berikan jawaban yang sebenarnya, sesudah mana, ia minta tanya namanya sekalian petani itu.

"Aku yang rendah she Eng," jawab seorang umur lima-puluh lebih. "Dia ini she Cu," dia perkenalkan petani yang pertama. "Dan dia ini she Nie." Dia tunjuk seorang bertubuh jangkung tetapi kurus. "Dan dia ini she Lo," ia tambahkan kepada seorang yang kate dampak.

"Aku kira tuan-tuan dari satu keluarga, tak tahunya semua berlainan she," kata Tiauw Cong.

"Kita semua ada sahabat-sahabat baik," terangkan si orang she Eng.

Segera Tiauw Cong dapat kenyataan, semua tuan rumah tak gemar bicara tapi gerak-gerik mereka tak mirip dengan petani sejati; si orang she Cu dan Nie nampaknya keren, si orang she Eng agung-agungan, seperti satu sasterawan. Dia coba bicara sama si orang she Eng itu, untuk cari kepastian, tapi ia ini tidak menjawab jelas, agaknya ia seperti mengerti dan tidak mengerti.

Habis berdahar, baru si orang she Eng tanyakan bagaimana halnya tetamu-tetamu itu dikejar polisi dan serdadu.

Tiauw Cong berikan keterangan dengan jelas, karena ia terpelajar, kata-katanya teratur sempurna dan menarik hati, apapula ketika ia menutur halnya rakyat jelata yang bersengsara dan mati terlantar, binasa teraniaya, hingga nyata sekali kekejamannya tentara negeri tukang rampok dan bunuh.

Semua pendengar membuka mata lebar-lebar, si orang she Nie sampai keprak meja, alis dan kumisnya seperti bangun berdiri, ia tentu telah membuka mulut dan mendamprat jikalau tidak si orang she Eng lirik dia, terus ia bungkam.

Tiauw Cong juga ceritakan halnya Yo Peng Kie tolongi ia, dengan itu ia hunjuk syukurnya dan pujian kepada itu piauwsu, mendengar mana, piauwsu ini nampaknya puas sekali.

"Itulah tidak berarti apa-apa," kata Peng Kie. "Yang berbahaya adalah dulu ketika di Shoasay, seorang diri aku bunuh Chin-pak Sam Hiong."

Lalu dengan bangga ia jelaskan bagaimana, dalam keteter, ia berbalik menang lawan Chin-pak Sam Hiong, tiga penjahat besar dari propinsi Shoasay sebelah utara, kemudian itu ditambah sama pelbagai pengalamannya selama sepuluh tahun, hingga katanya, banyak penjahat tidak berani pandang enteng kepadanya.

Sedangnya piauwsu ini menutur dengan gembira, hingga ia seperti lupa daratan, tiba-tiba si bocah angon tertawa cekikikan.

Peng Kie pandang itu bocah, yang terus berdiam, maka ia lanjuti penuturannya, sekarang perihal pelbagai kejadian di dalam kalangan Kang-ouw.

Tiauw Cong asing dengan kaum Kang-ouw, ia jadi ketarik hati. Hauw Kong pun belum tahu apa-apa, ia puji piauwsu itu. Peng Kie kemudian bicara tentang ilmu silat, ia sampai gerak-geraki tangan dan kakinya, nampaknya ia membuat gembira kepada si orang-orang tani, sampai akhirnya si orang she Lo menguap dan kata: "Sudah tak siang lagi, marilah kita semua masuk tidur!" Secara demikian, perjamuan ditutup, malah si bocah angon segera tutup pintu, sedang si orang she Cu angkat sepotong batu besar, yang ditaruh di tempat gelap, untuk dipakai mengganjal pintu.

Melihat batu besar itu, diam-diam Peng Kie ulur lidah.

"Ah, orang ini bertenaga besar sekali....," pikir ia. "Batu ini sedikitnya empat ratus kati beratnya...." Si orang she Eng rupanya lihat keheranannya si tetamu. "Di tanah pegunungan ada banyak harimau," kata dia. "Bisa kejadian di tengah malam, binatang buas itu datang dan menggempur pintu, maka pintu perlu diganjel..." Belum berhenti suaranya si Eng ini atau mendadakan terdengar sampokan angin dahsyat di luar gubuk, di antara pepohonan, sampai daun-daun dan cabangnya perdengarkan suara menderu-deru, daun pintu dan jendela bagaikan tergetar, kemudian itu disusul sama gerungan panjang dan hebat, akan akhirnya terdengar juga suaranya kuda dan kerbau. "Lihat, binatang itu datang pula untuk berkurang ajar!" kata si Eng. Si Nie berbangkit, dari belakang pintu, ia ambil sepotong kongcee, cagak seperti tumbak. "Sekali ini dia tak dapat dikasi lolos lagi!" kata ia bagaikan berseru. "Sin Cie, kau pun turut!"

Si bocah angon menyahuti, ia lari ke dalam kamar sebelah kanan, dari mana ia keluar pula dengan tangan mencekal sebatang tumbak pendek dan di pinggang tergendol kantong kulit. Si Cu sudah lantas geser batu besar, ia terus buka pintu, hingga berbareng dengan terpentangnya pintu itu, angin keras menghembus masuk, membawa juga daun-daun kering, hingga lilin lantas padam. Hauw Kong kaget hingga ia menjerit.

Si Nie loncat keluar, diturut oleh si bocah angon, yang bernama Sin Cie. "Aku turut!" kata Peng Kie seraya ia jumput goloknya. Tapi baru ia bertindak selangkah atau mendadakan lengannya ada yang cekal, ketika ia coba tarik tangannya, ia rasai cekalan keras sekali, lima jari si pencekal bagaikan jari-jari besi saja.

"Jangan keluar, binatang buas itu ganas sekali!" demikian satu cegahan dengan suara serak. Lagi sekali Peng Kie geraki tangannya, untuk loloskan cekalan, apamau, ia tidak berhasil, maka akhirnya, terpaksa ia duduk pula. Baru setelah itu, cekalan kendor sendirinya.

Di luar, segera terdengar seruannya si Nie beberapa kali, bercampur sama gerungannya sang harimau, di antara mana, ada pula suaranya kongcee, sedang angin masih menderu-deru. Juga ada terdengar seruan kecil tapi nyaring dari si bocah angon.

Itu semua menandakan bahwa pertempuran sedang berlangsung antara si raja hutan dan dua petani. Adalah kemudian, suara berisik mulai berkurang, terdengarnya semakin jauh, makin jauh, rupanya binatang liar itu kabur dan dikejar lawannya.

Si Lo segera nyalakan batu tekesan, untuk sulut lilin, hingga kelihatan, ruangan tersebarkan banyak daun kering.

Hauw Kong duduk diam, mukanya sangat pucat, sedang Tiauw Cong nampaknya jeri. Malah Peng Kie, si piauwsu yang tadi omong besar, sekarang nampak hatinya gentar, hingga ia diam saja.

Orang berada dalam kesunyian sekian lama, kemudian terdengar tindakan kaki cepat, yang segera disusul dengan masuknya si bocah angon, yang terus - sambil tertawa, wajahnya gembira - berkata separuh berseru: "Kita makan daging harimau! Kita makan daging harimau!"

Tiauw Cong lihat tumbak pendek orang berlepotan darah.

"Dia begini kecil, dia berani dan kosen," pikir Hauw Kongcu, "tapi aku, aku tidak punya tenaga untuk sembelih ayam saja.... Sungguh malu!...."

Selagi pemuda ini berpikir, si Nie bertindak masuk dengan tindakan lebar, sebelah tangan mencekal kongcee, sebelah yang lain menyeret harimau yang terus ia lemparkan ke tengah thia.

Tiauw Cong kaget sampai ia dapati binatang itu tidak bergerak, tanda sudah mati.

"Sin Cie, tadi kau menyerang secara keliru, kau tahu tidak?" tiba-tiba si Nie kata pada si bocah angon, yang ia awasi dengan tajam.

Bocah itu tunduk.

"Ya, tidak selayaknya aku menyerang dengan piauw depan-berdepan," ia akui.

Mendengar itu, wajahnya si Nie jadi sabar pula.

"Menyerang dari depan bukannya tak boleh," kata dia." Hanya jikalau kau hendak lepas sepasang piauw dengan berbareng, kau mesti arah dua-dua matanya, setelah piauw dilepaskan, kau sendiri mesti segera loncat ke samping, tetapi tadi kau gunai sebatang piauw saja, hingga saking kesakitan, harimau itu lompat menerjang padamu, coba aku tidak mencegah, apa jiwamu masih dapat ditolong?"

Bocah itu berdiam.

"Tapi piauwmu itu jitu sekali," kata si Nie kemudian, sebagai pujian, "apa yang kurang adalah tenagamu. Inilah tidak heran, kalau nanti kau telah jadi besar, tenagamu akan tambah sendirinya."

Ia angkat tubuhnya harimau, untuk dibalik, hingga kelihatan sebatang piauw lain nancap di lobang kotoran.

"Piauw ini," katanya," apabila digunakannya dengan tenaga besar, akan nembus sampai ke dalam perut dan akan menyebabkan kematian."

"Mulai besok aku nanti berlatih dengan sungguh-sungguh," kata Sin Cie.

Si Nie manggut, lantas ia seret bangkai harimau itu ke belakang.

Hatinya Peng Kie jadi tidak tenteram. Tadinya ia sangka mereka itu ada orang-orang tani biasa, tidak tahunya dua di antaranya, malah yang satu adalah satu bocah cilik, dalam sekejab saja bisa binasakan seekor harimau. Ia jadi curiga, mereka itu adalah penyamun­penyamun dalam penyamaran rakyat jelata.

"Jikalau mereka turun tangan, mana sanggup aku lawan mereka?" pikir ia.

Sebaliknya dari si piauwsu, Tiauw Cong tidak curiga apa-apa, ia malah puji si bocah, yang tangannya ia cekal dan usap-usap. Ia pun tanya she dan namanya.

Bocah itu melainkan tertawa, ia tak menjawab.

Malam itu, Tiauw Cong tidur bertiga bersama Peng Kie dan Hauw Kong. Si kacung pulas dengan cepat. Tiauw Cong sukar tidur, maka selang tak lama, ia dengar suara orang baca buku. Ia lantas kenali suaranya si bocah angon. Bocah itu membaca dalam dialek Kwietang, ia heran. Lebih-lebih ia heran akan dapati, buku yang dibaca adalah buku yang ia tidak kenal. Mungkin itu ada kitab ilmu perang. Maka akhirnya ia berbangkit, ia turun dari pembaringan akan bertindak ke thia.

Duduk menghadapi api lilin, si bocah terus baca bukunya, di sampingnya duduk si Eng, yang saban-saban mengajari padanya.

Si Eng manggut melihat Hauw Kongcu.

Tiauw Cong mendekati, ia lihat beberapa jilid buku di atas meja, kemudian ia jumput satu, yang berkalimat "Kie Kauw Sin Sie" ialah kitab ilmu perang karangannya Jenderal Cek Kee Kong.

"Saudara," kata ia kemudian, ”Saudara semua bukannya orang-orang biasa, kenapa Saudara beramai hidup menyendiri di sini? Maukah Saudara kasi keterangan padaku?"

"Kita adalah petani biasa saja," sahut si Eng. "Kita hidup bertani sambil memburu, kalau kita pun baca buku. Itu biasa saja, bukan? Kenapa Kongcu heran?"

Tiauw Cong tak enak sendirinya.

"Maafkan aku, aku telah mengganggu," kata ia, yang terus manggut, untuk kembali ke kamarnya.

Sekali ini, rebahkan diri, Tiauw Cong dapat tidur, tapi, sedang ia layap-layap, ia sadar pula, sebab Peng Kie goyang tubuhnya dengan piauwsu itu terus berbisik: "Mari kita pergi, inilah sarang penjahat!....."

Pemuda itu kaget.

"Bagaimana kau ketahui?" ia tanya "Mari lihat!" Peng Kie berbisik pula. Ia nyalakan api, akan suluhi sebuah peti kayu, yang ia buka tutupnya. "Lihat, Kongcu!"

Kembali Tiauw Cong kaget. Ia lihat peti itu muat banyak sekali emas dan perak dan barang permata. Ia sampai tergugu.

Peng Kie serahkan api pada si anak muda, ia sendiri angkat minggir peti itu, di bawah mana ada sebuah peti lain, yang dikunci, akan tetapi selagi ia berkutetan, Tiauw Cong mencegah.

"Sudahlah, jangan bongkar lebih jauh rahasia orang," kata pemuda ini. "Kita bisa terbitkan onar....."

"Tetapi di dalam sini ada bau luar biasa," Peng Kie bilang.

"Bau apakah itu?"

"Bau bacin amis!"

Tiauw Cong berdiam. Peng Kie patahkan rantai kunci, lalu ia pasang kuping, apabila ia tidak dengar suara apa-apa dari luar, ia buka tutup peti itu, ia sambuti api, untuk menyuluhi.

Kesudahannya ini, keduanya berdiri tercengang, mukanya Hauw Kongcu pucat. Di dalam peti itu ada dua kepala manusia, yang satu rupanya sudah sekian lama dikutungi batas lehernya, sebab darahnya sudah hitam, yang satunya pula, masih baru, tapi dua-duanya seperti telah dipakaikan obat, karena masih belum rusak. Peng Kie ada orang Kang-ouw, ia toh lemas kaki dan tangannya. "Mari kita pergi!" kata pula si piauwsu, sesudah ia dapat pulang ketabahannya dan kedua peti ia susun rapi seperti tadinya. Habis itu, ia pun kasi bangun pada Hauw Kong, untuk ajak si kacung singkirkan diri. Api telah dikasi padam, dengan raba sana-sini, bertiga mereka pergi ke thia, terus ke pintu. Di sini Peng Kie dapat raba batu besar, memegang mana, ia mengeluh di dalam hati. Ia coba gunai antero tenaganya, ia masih tak dapat geraki bergeming batu besar itu.

Sekonyong-konyong, menyalalah api di dalam thia itu! Dengan tiba-tiba, si Cu muncul dengan ciaktay di tangan, ciaktay yang lilinnya menyala. Dalam kagetnya, Peng Kie hunus goloknya. Ia niat bikin perlawanan meskipun hatinya keder.

Tapi si Cu bersikap tenang.

"Kau orang hendak berlalu?" tanya dia, yang lantas hampirkan batu besar, untuk diangkat ke samping, lalu ia buka pintu." Persilakan!" Dengan kepala tunduk, Peng Kie bertiga keluar dari pintu, mereka hampirkan kuda mereka, akan buka tambatannya, lalu dengan menunggang binatang tunggangan itu, malam-malam mereka kabur, ke arah timur. Tidak satu di antara mereka, yang buka mulut. Mereka laratkan kuda mereka, sampai belasan lie jauhnya, Baru mereka mulai merasa legaan.

Tiba-tiba terdengar berketoprakannya kaki kuda di sebelah belakang mereka, segera terdengar suara nyaring dari satu orang: "Hei, berhenti! Berhenti!" Mereka kaget, mereka jadi takut pula, mereka kabur terus, kuda mereka dikepraki. Sekonyong-konyong satu orang melesat di sampingnya tiga orang ini, untuk mendahului mereka.

Kudanya Peng Kie kaget, sampai binatang itu berjingkrak sendiri.

Peng Kie ayun goloknya, akan serang orang itu. Dia ini bertangan kosong, dia kelit, lantas dia membalas menyerang.

Mereka bertempur dengan seru.

Sebelah tangan si orang tak dikenal menyambar tempilingan kanan dari Peng Kie, dia ini angkat goloknya, akan dipakai membabat, tapi orang nyata menggertak saja, serangannya ditarik setengah jalan, dikembalikan, buat dipakai mencekal lengan yang bersenjatakan golok itu.

"Turun!" demikian orang itu berseru sambil ia menarik dengan keras.

Peng Kie sedang membacok, tak keburu dia menarik pulang tangannya atau kelitkan itu, ia tercekal, ia tertarik, tidak ampun lagi, dia rubuh dari atas kudanya, sedang goloknya, tahu-tahu sudah kena dirampas lawannya. Tapi si lawan tidak gunai senjata itu untuk balas membacok, dia lepaskan cekalannya kepada lengan si piauwsu, dia pakai tangannya itu pegang golok dengan kedua tangannya, atau di lain saat, golok itu kena dipatahkan dua! Di antara sinar guram dari bintang-bintang di langit, Peng Kie, yang dapat berdiri pula setelah ia rubuh dari kudanya, dapat kenali lawannya adalah si Cu, tuan rumahnya.

"Mari turut aku kembali!" kata si Cu dengan tenang. Lalu, tanpa perduli apa juga, ia kasih kudanya jalan kembali.

Peng Kie mati daya, ia naik atas kudanya, kemudian dengan satu tanda, ia ajak Tiauw Cong dan Hauw Kong balik. Dua kawan ini, yang telah tahan kuda mereka selagi orang bertempur, juga tidak berdaya lagi, mereka turut tanpa bilang suatu apa.

Kapan Tiauw Cong bertiga sampai di rumah si petani, ke mana mereka lantas masuk, mereka lihat ruangan tengah terang sekali dengan api lilin. Si bocah angon bercokol di tengah-tengah, di kiri dan kanan, duduk empat orang lainnya ialah si Lo, si Eng, si Cu dan si Nie. Semua mereka berdiam, roman mereka sungguh-sungguh, hingga nampaknya jadi keren.

Peng Kie percaya dia ada bakalan mati, maka ia jadi berani.
Thanks for reading PEDANG ULAR MAS 1

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar