Jilid 2
"Hari ini Yo Thayya terjatuh di tangan kamu, hayo jangan banyak omong lagi, hendak kamu bunuh, bunuh!" kata ia dengan gagah.
"Eng Toako, bagaimana?" tanya si Cu.
Orang yang ditanya itu diam saja, cuma romannya tetap keren.
"Merdekakan Hauw Kongcu dan kacungnya, bunuh orang she Yo ini!" si Nie gantikan menjawab.
"Orang she Yo ini menjadi piauwsu, dengan begitu ia jadi anjingnya segala hartawan," kata si Eng akhirnya, "pantas saja jikalau dia dibikin mampus. Tapi sekarang ini dia telah hunjuk perbuatan mulia dan gagah dengan membantu Hauw Kongcu, dia pun berani, baik kasi dia ampun. Saudara Lo, silakan kau bikin bercacat dua anggauta penggapeannya."
Si Lo lantas saja berbangkit.
Mukanya Peng Kie jadi pucat, saking kaget.
Tiauw Cong tidak mengerti bahasa rahasia orang Kang-ouw, ia tak tahu, dengan "anggauta penggape" diartikan sepasang mata, yang mesti dikorek buta. Ia cuma duga, orang hendak bikin celaka piauwsu penolongnya itu. Maka itu, ia ingin buka mulut, untuk mohonkan keampunan.
Tiba-tiba si bocah angon kata: "Encek Eng, kasihan aku melihat dia, kasi ampun saja padanya!"
Si Eng dan tiga kawannya saling memandang, semua berdiam, tapi akhirnya, dia kata pada Yo Peng Kie, si piauwsu: "Sekarang telah ada orang yang mohonkan keampunan bagimu, bisa atau tidak kau bersumpah akan tak bocorkan apa yang kau alami di sini malam ini?"
"Sebenarnya tak niat aku menyelidiki segala apa di sini, hanya kebetulan saja aku menemuinya," sahut Yo Peng Kie. "Aku harus sesalkan diriku, yang seperti tidak punya mata, hingga tak dapat aku kenali siapa adanya enghiong semua. Aku janji, sejak ini aku tidak nanti melangkah ke Siamsay ini sekalipun setengah tindak. Mengenai urusan saudara-saudara di sini, aku sumpah akan tutup mulut seperti rapatnya botol. Di belakang hari, apabila aku langgar sumpahku ini, Langit dan Bumi bakal binasakan aku!"
"Bagus!" berseru si Eng. "Aku percaya kau ada satu laki-laki sejati! Pergilah!"
Peng Kie angkat kedua tangannya, untuk memberi hormat, lalu ia memutar tubuh.
Mendadakan, si Nie berbangkit dari kursinya.
"Apakah kau hendak pergi secara begini saja?" dia menegur.
Peng Kie melengak, tapi segera ia mengerti maksud orang. Ia lantas tertawa meringis.
"Baiklah," kata ia. "Kasi aku pinjam golok!"
Si Cu keluarkan sebatang golok dari kolong meja, dengan dilintangi, dia lemparkan kepada piauwsu itu.
Peng Kie sambuti golok itu, ia maju mendekati meja, di atas mana, ia letaki tangan kanannya dengan semua jarinya dibeber, kemudian cepat luar biasa, ia membacok dengan tangan kiri, hingga sapatlah empat buah jarinya.
"Seorang yang berbuat, seorang yang tanggung jawab!" kata dia sambil tertawa. "Semua pekerjaanku tidak ada sangkutannya dengan si orang she Hauw!"
Semua orang kagum melihat ketangguhannya piauwsu ini.
"Bagus!" berseru si Nie, yang perlihatkan jempolnya. "Beginilah selesainya urusan malam ini!"
Terus ia bertindak ke dalam, akan keluar pula dengan cepat bersama obat luka dan kain putih untuk obati dan bungkus tangannya piauwsu she Yo itu.
Peng Kie tidak mau berdiam lama, setelah selesai pengobatan, ia kata pada Hauw Kongcu, "Mari kita berangkat!"
Tiauw Cong lihat muka orang pucat, ia mengerti penolongnya ini menahan sakit yang hebat, ia berniat mengajak menanti dahulu, tetapi ia tak bisa buka mulutnya untuk mengutarakan itu.
Si Eng lihat segala apa di depannya, ia kata: "Hauw Kongcu, kalau dibicarakan, kau dan kita sebenarnya ada hubungan satu sama lain. Sahabat she Yo ini pun ada satu laki-laki, maka baiklah, aku nanti berikan barang ini kepadamu!"
Dari sakunya, si Eng keluarkan serupa barang, yang dia terus serahkan pada si anak muda.
Kapan Tiauw Cong sudah sambuti, dia lihat itu adalah sepotong tek-pay atau surat bambu dengan huruf-bakaran "San Cong", sedang bagian belakangnya, pun dibakar hangus merupakan tali air. Ia tidak tahu, apa artinya tek-pay itu.
"Sekarang ini negara sedang kacau," berkata si Eng pula, "kau ada satu mahasiswa lemah, tak selayaknya kau berkelana, dari itu, aku kasi nasihat padamu, baik kau lekas pulang. Umpama kau hadapi bahaya di tengah jalan, kau keluarkan tek-pay ini, nanti ancaman bencana akan berubah menjadi keselamatan."
Tiauw Cong periksa tek-pay itu, masih ia tak dapatkan keanehan atau kemujizatannya, maka itu, ia mau percaya, itu adalah benda yang cuma membawa alamat baik.....
"Terima kasih," kata ia akhirnya seraya serahkan tekpay itu kepada Hauw Kong, untuk disimpan dalam buntalan.
Habis itu, tiga orang itu pamitan, mereka berlalu dengan naik kuda mereka. Sekarang mereka jalan malam-malam, dengan pelahan-lahan, terus sampai terang tanah di waktu mana mereka sampaikan sebuah kampung.
"Kita singgah di sini," mengajak Tiauw Cong.
Mereka cari pondokan, untuk beristirahat satu hari dan satu malam, akan besoknya pagi, mereka lanjuti perjalanan mereka. Kembali mereka lewati dusun di mana tentara negeri pernah rampok dan bunuh-bunuhi penduduk, tak tega melihat bekas-bekas kekejaman itu, Tiauw Cong ajak dua kawannya jalan ngidar. Di waktu tengah hari, mereka singgah di tengah jalan, lalu kemudian berangkat lebih jauh melalui dua-puluh lie lebih.
Adalah di itu waktu, dari arah depan, ada mendatangi satu penunggang kuda, yang lewati mereka di samping mereka, selagi berpapasan, dia itu mengawasi Tiauw Cong bertiga. Debu mengepul selagi dia lewat.
Tiauw Cong bertiga jalankan kuda mereka seperti biasa, tapi baru lima atau enam lie, mereka dengar pula tindakan kaki kuda di belakang mereka, makin lama datangnya makin dekat, akhirnya penunggang kuda itu lewati mereka, hingga mereka tampak orang ada bungkus kepala dengan cita hijau, romannya gagah.
"Ini orang aneh kelakuannya," kata Tiauw Cong. "kenapa dia balik pula?"
Memang, itulah ada penunggang kuda yang tadi papaki mereka.
Peng Kie tidak menjawab, hanya ia bilang: "Sebentar lagi, Hauw Kongcu, kau lari sendiri saja!"
Pemuda itu terperanjat.
"Apa? Kembali ada penyamun?" tanya dia.
"Kita jalan tak usah sampai lima lie, bakal terbit lelakon," kata Peng Kie. "Kita tak dapat mundur, dari itu, kita mesti menerjang dan lolos!"
Hatinya Tiauw Cong, juga kacungnya, jadi tidak tetap. Peng Kie sendiri tegang sendirinya. Tapi masih mereka jalankan kuda mereka dengan pelahan.
Mereka baru lewat kira-kira tiga lie, tiba-tiba terdengarlah mengaungnya anak panah, yang melayang di udara, kemudian menyusul itu, tiga penunggang kuda, yang melintang di tengah jalan.
Peng Kie maju di depan dua kawannya, ia rangkap kedua tangannya.
"Aku ada si orang she Yo dari Bu Hwee Piauw Kiok," ia perkenalkan diri," tetapi aku bukannya sedang antar piauw, kita sedang bikin perjalanan saja, itulah sebabnya kenapa aku tidak kirim karcis nama untuk mengunjungi ciongwie. Ini ada Hauw Siangkong, yang sedang pesiar, dia adalah satu anak sekolah. Aku harap kebaikan ciongwie supaya kami diberi jalan lewat."
Peng Kie berpengalaman, namanya cukup terkenal, tapi karena tangannya terluka, dan menyangka rombongan di depannya ada punya hubungan sama rombongannya si Cu beramai ia sengaja berlaku merendah.
Satu di antara tiga pemegat itu, yang tangannya tak bersenjata, tertawa sendirinya.
"Kami kekurangan uang, kami mau minta pinjam seratus tail," kata dia. Dia omong dengan lidah Amoy, Hokkian.
Peng Kie dan Tiauw Cong saling mengawasi dengan melengak, tak mengerti mereka akan kata-katanya orang itu.
"Kami hendak pinjam uang seratus tail, kamu mengerti atau tidak?" tegaskan si penunggang kuda dengan ikat kepala hijau, yang tadi mundar-mandir dengan kudanya.
Menampak orang ganas, Peng Kie jadi gusar.
"Sudah belasan tahun aku si orang she Yo berkelana, belum pernah aku menemui orang-orang begini kurang ajar!" ia berseru.
"Tapi hari ini aku akan bikin kau orang lihat!" kata orang yang pertama buka suara, yang lantas turunkan gandewa dan peluruh dari bebokongnya, lalu dengan beruntun, ia lepaskan tiga biji pelurunya ke udara, menjusul mana, ia memanah pula, terhadap tiga peluru yang pertama, hingga semuanya mengenai dengan jitu, hingga kesudahannya, enam peluru runtuh sendirinya.
Peng Kie melongo menyaksikan keliehayan orang itu, tapi justeru itu, mendadakan ia rasakan sakit pada lengannya kiri, hingga goloknya terlepas dan jatuh tanpa ia merasa. Nyata ia telah dipanah peluru dengan ia tidak diketahui! Orang yang ketiga segera maju dengan joan-pian di tangan, dengan "Kouw teng bek sie", atau "Rotan tua melilit pohon", segera saja ia sambar pinggangnya piauwsu dari Bu Hwee Piauw Kiok.
Peng Kie majukan kudanya, akan menyingkir dari serangan itu.
Penyerang itu menyabat ke tanah, untuk sambar dan lilit goloknya si piauwsu, untuk ia ambil, selagi berbuat demikian, sembari tertawa, ia majukan kudanya melewati Hauw Kong, terhadap siapa, ia membacok, maka sekejab saja, buntalan di belakangnya kacung itu terputus dan jatuh. Habis membacok, dia kasi kudanya kabur terus.
Sementara itu, si tukang panah larikan kudanya, akan susul dia punya kawan, ia berlaku begitu cepat hingga dia dapat tanggapi buntalan yang lagi jatuh hingga buntalan itu tak sampai jatuh ke tanah, cuma untuk itu, ia perlu cenderungkan tubuhnya.
"Terima kasih!" kata ia sembari tertawa, sebab ia rasakan buntalan itu antap. Orang yang ketiga menyusul pergi, maka di lain saat, ketiganya sudah menghilang. Peng Kie jadi sangat lesu, ia sangat berduka, karena mendongkol pun sia-sia saja, tak sanggup ia berbuat suatu apa menghadapi tiga orang liehay itu.
Hauw Kong bingung tidak kepalang. "Mana bisa kita pulang?" katanya. "Uang itu semua ada di dalam buntalan itu...."
"Mari kita jalan," mengajak Peng Kie, yang tetap lesu. "Masih untung yang jiwa kita tidak turut lenyap!"
Tiauw Cong tunduk, ia ikuti piauwsu itu. Ia lihat, memang mereka tak berdaya. Kira setengah jam mereka sudah berjalan, lantas mereka dengar tindakan kaki kuda di belakang mereka, berketoprakan sangat berisik, hingga mereka menoleh, dan mereka jadi sangat kaget. Mereka tampak, tiga penyamun tadi balik kembali, debu mengepul naik tinggi.
Peng Kie bergidik sendirinya. Entah apa maunya mereka itu. Tiga orang itu dapat menyandak dengan cepat, selagi tiga korban mereka mengawasi dengan bengong, ketiganya loncat turun dari kuda mereka, lalu menghadapi dia orang itu, mereka memberi hormat. "Nyata kita ada orang-orang sendiri!" kata satu di antaranya. "Maaf, maafkan kami. Kami tak kenali Jie-wie, kami telah berbuat keliru, harap Jie-wie tidak buat kecil hati."
Lantas seorang di antaranya sodorkan bungkusan yang dirampasnya pada Hauw Kong. Ia menyerahkan dengan kedua tangannya. Hauw Kong tidak berani lantas menyambuti, ia awasi dulu kongcunya. Tanpa bersangsi, Hauw Kongcu manggut, atas mana, kacungnya sambuti bungkusan itu. "Aku minta tanya she dan nama Jie-wie?" lalu menanya orang yang bersenjatakan joan-pian, ruyung lemas. Tiauw Cong sebutkan nama mereka, mendengar mana, orang itu mengawasi dua kawannya, sebab heran mereka dengar, dua orang itu ada satu piauwsu dan satu mahasiswa putera seorang berpangkat. "Aku sendiri she Thio dan ini dua saudara ada persaudaraan Lauw," kemudian ia perkenalkan diri. "Hauw Kongcu, coba setelah bertemu, kau perlihatkan tek-pay, tak nanti jadi terjadi salah mengerti ini. Beruntung kami tak sampai melukai kamu." Mendengar itu, baru Tiauw Cong mengerti khasiatnya tek-pay itu, karena mana, ia tertawa sendirinya. Ia tetap tidak bilang suatu apa.
"Tentunya Jie-wie hendak pergi ke gunung Lauw Ya San," kata pula si orang she Thio itu. "Mari kita berjalan bersama-sama. Dua saudara Lauw ini ada asal Hokkian, mereka tak bisa bicara dialek utara, tetapi mereka dapat mengerti omongan kita."
Dua saudara Lauw itu manggut, untuk benarkan si Thio.
Tiauw Cong dan Peng Kie percaya mereka ini ada penyamun-penyamun besar, tetap hati mereka tidak tenteram.
"Bersama Saudara Yo ini, aku hendak pulang ke Hoolam, kami tak pergi ke Lauw Ya San," akhirnya Hauw Kongcu bilang.
Mendengar jawaban ini, nampaknya si Thio gusar.
"Lagi tiga hari adalah Pee-gwee Cap-lak," kata dia. "Dari tempat ribuan lie kami sengaja datang ke Siamsay ini, maka kenapa kamu, yang sudah sampai, tidak mau naik gunung?"
Bingung juga Tiauw Cong dan kawannya. Mereka tak tahu, apa perlunya mesti panjat gunung Lauw Ya San. Mereka tak ketahui juga, apa bakal dilakukan Pee-gwee Cap-lak tanggal enambelas bulan delapan itu. Tapi mereka tak sudi akui bahwa mereka tak tahu itu semua.
"Di rumahku ada urusan sangat penting hingga aku mesti segera pulang," Tiauw Cong kata pula.
"Dengan panjat gunung, tempomu cuma terganggu dua hari!" kata pula si Thio, romannya tetap gusar. Dengan melewati gunung, kamu tidak hendak hunjuk hormatmu, apa dan artinya sahabat-sahabat dari San Cong?"
Kembali Hauw Kongcu bingung. Apakah itu "San Cong"? Benda apakah itu? Peng Kie berpengalaman, ia mengerti, tak dapat mereka tak pergi ke Lauw Ya San. Laginya, ia insaf, bencana lebih besar bagaimana juga, mereka mesti berani hadapi, sebab itu nampaknya mesti dihadapi. Di sebelah itu, nampaknya orang tidak bermaksud buruk.
"Kita orang baru saja bertemu, Samwie ada begini baik hati, baiklah, bersama-sama Hauw Kongcu, aku nanti turut Samwie," akhirnya dia kata.
Dengan segera si Thio perlihatkan roman girang, dia tertawa.
"Mestinya telah aku duga, tak mestinya Jie-wie tak hargai persaudaraan," kata ia.
Sampai di situ, berenam mereka jalan sama-sama. Selama itu, si Thio jadi seperti pemimpin. Di mana mereka sampai cuma dengan gerak-gerakan tangan, dengan kata-kata yang Tiauw Cong tak mengerti, mereka lewat tanpa rintangan, semua rumah penginapan, semua rumah makan, tak sudi terima pembayaran penginapan dan makanan, sebaliknya, pelayanan ada perlu dan manis sekali.
Selang dua hari, mereka ini sudah mendekati kaki gunung Lauw Ya San, gunung Gaok Tua. Di situ mereka lantas lihat banyak orang lain, yang berlerot seperti tak putusnya, dandanan mereka berlain-lainan, potongan orangnya pun berbeda, ada yang gemuk, ada yang kurus, yang jangkung dan kate, hanya yang sama, mereka semua seperti mengerti ilmu silat. Dan kebanyakan dari mereka itu kenal dengan si Thio dan dua saudara she Lauw itu, mereka saling tegur.
Peng Kie dan Tiauw Cong bersikap tak hendak cari tahu rahasia orang, maka itu, selagi orang bicara, mereka sengaja berdiri jauh-jauh, tapi mereka bisa dengar pembicaraan mereka, yang berlidah Selatan dan Utara, Timur dan Barat, tidak ketentuan. Mereka pun tahu pasti, dia orang datang dari tempat yang jauh.
Buat apa mereka datang kemari? Ini ada hal yang gelap untuk Tiauw Cong berdua.
Malam itu, Tiauw Cong berenam mondok di sebuah penginapan di kaki gunung, untuk siap akan besok pagi-pagi manjat gunung Lauw Ya San.
Benar sedangnya orang bersantap sore, mendadakan ada datang satu orang yang terus memberi kabar: "Couw Siangkong sampai!" Atas itu, delapan atau sembilan bagian orang segera berbangkit dan merubul keluar dari penginapan.
"Mari kita pun melihat," mengajak Yo Peng Kie kepada Tiauw Cong, ujung baju siapa ia tarik.
Tiauw Cong menurut, keduanya turut keluar.
Di luar hotel, semua orang berdiri dengan rapi dan tenang, mereka seperti lagi menantikan orang, entah siapa.
Tidak terlalu lama, terdengarlah tindakan kaki kuda di arah barat gunung, maka semua mata ditujukan ke sana.
Segera juga tertampak datangnya seorang anak muda umur dua-puluh tujuh atau delapan tahun, yang kudanya dikasi jalan pelahan-lahan, tapi setelah dia lihat banyak orang menyambut, dia larikan kudanya, untuk menghampirkan, setelah sampai, dia loncat turun cepat sekali.
Dari antara orang banyak segera maju seorang bertubuh besar, akan sambuti kudanya si anak muda, siapa sendirinya bertindak, akan manggut kepada semua penyambutnya. Ketika ia tampak seorang dengan dandanan sebagai mahasiswa, ia memberi hormat.
"Siapa Tuan ini?" tanya dia.
"Aku yang rendah she Hauw," sahut Tiauw Cong. "Bolehkah aku mengetahui she dan nama besar dari Tuan?"
"Aku ada Couw Tiong Siu," jawab si anak muda, dengan lakunya hormat.
Tiauw Cong memberi hormat sambil memuji.
Tiong Siu bersenyum, terus ia bertindak ke dalam rumah penginapan.
Peng Kie tarik sahabatnya ke pinggiran.
"Nampaknya mahasiswa she Couw ini ada berpengaruh," berbisik dia. "Pergi kau bicara dengannya, supaya dia ijinkan kita lanjuti perjalanan kita. Sama-sama orang sekolahan, tentu leluasa untuk kamu berbicara...."
Tiauw Cong anggap pikiran sahabat ini benar, ia lantas bertindak ke dalam, ke pintu kamar si anak muda, yang sudah lantas masuk ke dalam sebuah kamar. Ia sengaja batuk-batuk, sesudah mana, ia mengetok dengan pelahan. Ia pun dengar suaranya orang membaca buku di dalam kamar, yang segera berhenti setelah ia mengetok beberapa kali, segera disusul sama terbukanya daun pintu.
"Di dalam rumah penginapan ada sepi, Saudara Hauw datang untuk bicara, inilah bagus!" kata si orang she Couw, yang sambut tetamunya.
Tiauw Cong masuk, segera ia tampak sejilid buku di atas meja di mana ada tulisan, rupanya ada rencana kerajaan.
Kuatir orang curiga, Tiauw Cong tidak mengawasi lama-lama, terus saja ia duduk.
Mulai bicara, Couw Tiong Siu tanya asal-usul orang, atas mana Tiauw Cong tidak umpatkan dirinya.
"Oh!...." Tiong Siu keluarkan seruan tertahan, apabila ia ketahui, tetamunya ada puteranya Houw-pou Siang-sie Hauw Sun. "Ayahmu itu ada satu menteri yang putihbersih, kami semua ada hargai dia."
"Tak berani aku terima pujian ini," Tiauw Cong merendahkan diri. Kemudian ia ceritakan bagaimana, sedang pesiar, ia bertemu sama oppas dan serdadu-serdadu yang jahat, bagaimana Peng Kie tolongi dia, sampai ia ketemui orang-orang yang berikan mereka tekpay. Ia tidak tuturkan bahwa itu malam mereka pergoki banyak emas-perak dan kepala orang dalam peti kayu.
Couw Tiong Siu tertawa.
"Inilah jodoh yang kita bertemu di sini," kata dia. "Besok Saudara boleh ikut aku naik ke gunung, untuk belajar kenal dengan banyak orang gagah, pasti kau akan bergembira. Asal Saudara tidak uwarkan pengalamanmu di sini, aku tanggung kau tidak bakal hadapi ancaman malapetaka."
Lega juga hatinya Tiauw Cong mendengar kata-kata itu, karena itu, ia suka pasang omong, terutama mengenai ilmu sastera, tetapi justeru karena ini, ia dapat kenyataan, orang she Touw itu tidak terlalu terpelajar, sebaliknya di lain pihak, Couw Siangkong ini kagumi dia.
Pasang omong sampai jam dua, baru Tiauw Cong kembali ke kamarnya di mana Peng Kie sibuk menanti-nanti dia, piauwsu ini sampai jalan mundar-mandir saja, dia lega hatinya melihat si anak muda berwajah terang.
(Bersambung bab ke 2)
Bab 2
Besoknya ada Ting Ciu, harian tanggal lima-belas bulan delapan yang indah, Tiauw Cong bertiga turut Couw Tiong Siu panjat gunung Lauw Ya San. Mereka berangkat pagi-pagi, di waktu tengah hari, sampailah mereka di tengah gunung di mana sudah menantikan belasan orang dengan barang hidangan, untuk semua orang berhenti sebentar, akan bersantap dan minum, untuk sekalian beristirahat, kemudian baru mereka mendekati terlebih jauh. Adalah sejak ini, seterusnya, saban-saban ada orang-orang yang menjaga, yang menanya dan memeriksai sesuatu pengunjung. Ketika gilirannya Tiauw Cong bertiga dimintai keterangan, Tiong Siu cuma manggut pada si petugas, lantas mereka dikasi lewat tanpa pertanyaan apa jua.
"Sungguh berbahaya!" kata si kongcu dalam hatinya. Ia makin insaf pengaruhnya orang she Couw ini. Ia girang semalam ia telah pasang omong dengan orang ini yang berpengaruh. Ia hanya belum tahu, apa akan terjadi terlebih jauh.
Di waktu magrib sampailah semua orang di atas gunung di mana ada beberapa ratus orang yang berbaris rapih, untuk menyambut, mereka itu jangkung dan kate, kurus dan gemuk, tidak rata, semua beroman keren. Satu di antaranya, rupanya yang jadi kepala, maju untuk sambut Tiong Siu, sesudah mana, sambil bergandengan tangan, mereka sama-sama masuk ke dalam sebuah rumah yang besar.
Di atas gunung itu ada terdapat beberapa puluh rumah, yang letaknya berpencaran, yang paling besar adalah rumah tadi, yang mirip dengan sebuah kuil. Tidak ada panggung atau pagar-pagar seperti benteng, hingga keadaan itu tak mirip-miripnya dengan sarang berandal.
Peng Kie tidak sangka bahwa rumah-rumah itu ada demikian sederhana. Ini ada pengalaman baru bagi ia, yang sudah belasan tahun berkelana. Ia pun tidak mengerti mengenai wajahnya semua orang itu, yang datang dari pelbagai penjuru. Mereka ada sahabat kekal satu dengan lain, pertemuan mestinya menggirangkan mereka, tapi buktinya, orang rata-rata ada berduka dan tak puas.....
Tiauw Cong bertiga diantar ke sebuah kamar kecil, untuk mereka sendiri, sebentar kemudian, ada orang mengantari barang hidangan, ialah nasi serta empat macam sayur dan dua-puluh lebih bahpauw.
"Entah apa yang mereka bakal bicarakan...." begitu Tiauw Cong dan Peng Kie saling tanya malam itu. Mereka tidak tahu juga, mereka itu bakal lakukan apa.
Besoknya ada Pee-gwee Cap-lak - tanggal enam-belas bulan delapan, Tiauw Cong dan Peng Kie bangun pagi-pagi, setelah bersihkan diri dan sarapan, mereka keluar akan jalanjalan di tepi gunung. Ini kali mereka lihat juga orang-orang dengan kepala atau muka bercacat, kurang tangan atau kaki, suatu tanda dari medan pertempuran. Mereka tidak ingin terbitkan gara-gara, maka lekas-lekas mereka kembali ke kamar mereka, terus mereka tak keluar lagi.
Siang itu, sampai sore, barang makanan tetap sama seperti paginya, sayur melulu, hingga Peng Kie mendumel dalam hatinya: "Celaka, orang desak aku dengan ini macam hidangan yang tawar melulu!...."
Mendekati malam, seorang datang ke kamarnya Tiauw Cong.
"Couw Siangkong undang kamu ke pendopo untuk saksikan upacara," kata dia, yang menyampaikan undangan.
Tiauw Cong dan Peng Kie, yang sudah dandan, lantas ikut keluar.
Hauw Kong hendak turut majikannya, tapi si pengundang tolak dia.
"Saudara cilik, kau tidur saja siang-siang," katanya.
Tiauw Cong lewati beberapa rumah batu, baru mereka sampai di kuil, yang pakai nama Tiong Liat Su, tulisannya bagus dan keren.
"Entah kuil siapa ini," pikir Tiauw Cong, menduga-duga. Bersama Tiong Siu ia ikut masuk terus ke dalam. Di serambi, di kiri dan kanan, ada banyak para-para senjata dengan pelbagai macam senjatanya, delapan-belas rupa, yang semua terawat baik, bersinar bergemirlapan.
Di pendopo sudah berkerumun banyak sekali orang, barangkali dua atau tiga-ribu, yang memenuhi ruangan yang luas.
Tiauw Cong dan kawannya heran kenapa di gunung itu bisa berkumpul demikian banyak orang.
Di tengah ruangan, Tiauw Cong lihat satu patung yang beroman sebagai satu panglima perang, kopiahnya kopiah perang emas, jubahnya jubah perang berlapis baja, tangan kirinya mencekal pedang kebesaran, Siang-hong Poo-kiam, dan tangan kanannya memegang leng-kie, bendera titah.

Patung itu punyakan muka yang kecil dan bersih tapi keren romannya, kumis-jenggotnya tiga aliran, matanya memandang ke depan, sinarnya rada guram, seperti orang berduka. Di kedua sampingnya ada masing-masing sebaris sin-wie.
Karena ia berdiri jauh, Tiauw Cong tidak dapat baca tulisan namanya patung itu.
Di empat penjuru ruangan dikibarkan banyak bendera, di situ pun kedapatan banyak kopiah perang, pelbagai alat senjata dan pakaian kuda, dan benderanya beraneka-warna, ada yang bertuliskan huruf-huruf. Di sini pun semua roman ada berduka, hingga Hauw Kongcu jadi sangat bingung.
Akhir-akhirnya, berbangkitlah satu orang jangkung-kurus, yang duduk di samping patung, ia sulut lilin, ia pasang hio, lalu ia serukan: "Mulai sembahyang!"
Semua orang berlutut serentak, maka Tiauw Cong dan Peng Kie pun turut tekuk lutut.
Couw Tiong Siu maju ke muka, untuk angkat cee-bun, untuk dibacakan.
Peng Kie tidak mengerti bunyinya cee-bun itu, tidak demikian dengan Tiauw Cong, yang heran dan kaget, hingga ia keluarkan keringat dingin. Di situ pemerintah Boan dicaci habis, dan kaisar Cong Ceng pun tidak dikasi hati, kaisar ini dkatakan tolol dan tak dapat membedakan kansin dari tiongsin, antara dorna dan menteri setia, merusak negara, melulu menjadi orang berdosa antara cucu-cucunya Oey Tee. Lebih jauh, Beng Thay-houw sendiri turut dicela sebab sudah membunuh Cie Tat, Na Giok dan Lauw Kie, menteri-menteri berjasa. Yan Ong pun dimaki sebagai penyiksa rakyat dan Hie Cong sebagai pekakas orang kebiri, karena banyak menteri besar sebagai Him Teng Pek kena dihukum mati. Cong Ceng dikatakan sewenang-wenang, sudah celakai "jendral" mereka, jendral (Goanswee) yang gagah dan berjasa besar.
Sampai di situ mengertilah Tiauw Cong, patung itu ada patung sang jendral, ialah Tok-bu Wan Cong Hoan dari Liauwtong yang sudah berjasa berulang-ulang melabrak angkatan perang Boan, membinasakan Ceng Thay-Couw Nuerhacha, hingga bangsa Boan sangat takut terhadapnya.
Setelah mendengar cee-bun itu, Tiauw Cong awasi patung, lalu ia merasakan melihat patung itu bagaikan hidup bersemangat.
Akhirnya cee-bun, yang membuat Tiauw Cong kembali kaget, adalah sumpah para hadirin untuk membasmi musuh Boan, guna melenyapkan penasaran jendral mereka supaya rohnya si jendral puas di tanah baka.
"Hormatilah Goanswee kita serta panglima yang turut dia berkorban!" Couw Tiong Siu akhirkan pembacaannya.
Semua orang lantas menjura, atas mana satu bocah yang berpakaian berkabung, yang telah maju ke depan, akan balas hormatnya orang banyak itu.
Melihat itu anak kecil, buat kesekian kalinya, Tiauw Cong dan Peng Kie kaget, hatinya berdebaran. Mereka kenali, bocah itu adalah si kacung yang berani lawan harimau, yang dipanggil Sin Cie! Habis pemberian hormat, semua orang berbangkit, muka mereka berlinangkan air mata.
"Saudara Hauw," kata Tiong Siu kemudian pada Tiauw Cong, "Saudara terpelajar tinggi, bagaimana Saudara lihat cee-bun ini? Kalau ada yang tidak sempurna, tolong kau ubah!"
"Aku tak berani, Saudara Couw," jawab Hauw Kongcu.
Tapi Tiong Siu titahkan orang sediakan perabot tulis.
"Aku ajak Saudara mendaki gunung ini justeru untuk mohon kau menulis suatu apa untuk tambah kegemilangan dari Wan Tay-goanswee!" ketua ini.
Tiauw Cong jadi serba salah. Ia ketahui baik penasarannya Wan Cong Hoan, yang terbinasa sebagai korban dari tipu-muslihat merenggangkan dan mengadu-domba dari kaisar Boan, tapi karena goanswee itu dihukum mati kaisar, apabila dia dikatakan penasaran, itu berarti mencela kaisar, hukuman untuk ini perbuatan adalah leher kutung! Tapi Tiong Siu telah memohon, bagaimana itu dapat ditolak? Dasar ia pintar, ia cuma berpikir sebentar, lantas ia angkat pit dan menulis: "Naga kuning belum sempat dihajar, Bu Bok sudah mengandung penasaran.
Kerajaan Han sedang menantikan kebangunan, Atau bintangnya Cu-kat telah guram padam.
Bagaimana menyedihkan!"
Dengan "Naga Kuning", (Oey Liong) diartikan bangsa Tartar (Liauw), sedang Bu Bok ada gelaran suci untuk Gak Hui, dan dengan Cu-kat dimaksud Cu-kat Liang. Secara begini, Tiauw Cong bisa egos diri umpama cee-bun itu terjatuh ke dalam tangan kaisar.
Cong Siu senang sekali dengan tulisan itu, yang huruf-hurufnya bagus, sedang dengan begitu, Wan Cong Hoan dibandingkan dengan Gak Hui dan Cu-kat Liang. Ia lantas bacakan itu dan terangkan artinya pada semua hadirin, hingga mereka pun puas, semua menghaturkan terima kasih pada mahasiswa ini. Dengan begitu, Tiauw Cong dan Peng Kie tidak lagi dipandang sebagai orang luar.
"Surat dan pujian Saudara ini sempurna sekali," kata Tiong Siu kemudian. "Aku nanti perintah untuk ukir ini di atas batu di samping kuil ini."
Tiauw Cong menjura, untuk merendahkan diri.
Habis itu, semua orang duduk kembali, lalu seorang berdiri, untuk membacakan laporan, maka Tiauw Cong jadi ketahui, kebanyakan hadirin ada bekas sebawahan Wan Cong Hoan, setelah terbinasanya Goanswee ini, mereka bubar-mencar tapi gunung Lauw Ya San dijadikan tempat berkumpul, untuk hormati kepala perang itu.
Hal yang belum jelas bagi Hauw Kongcu adalah maksud terlebih dalam dari ini macam pertempuran, rupa-rupanya mereka masih kandung maksud apa-apa.
Setelah laporan itu, pembaca acara memanggil: "Hu Congpeng Cu Kok An dari Keetin!"
Satu orang lantas berbangkit, tetapi melihat orang itu, Tiauw Cong dan Peng Kie terkejut. Orang itu ada si petani she Cu, yang ajak ia masuk ke dalam rumah gubuknya, ke gua rahasia di dalam gunung.
"Kiranya dia ada satu panglima ternama yang menentang bangsa Liauw," pikir piauwsu itu. "Masih berharga bagiku yang aku kalah di tangannya...."
Cu Kok An berdiri buat terus berkata: "Ilmu silat pemimpin muda kita selama satu tahun ini telah peroleh kemajuan pesat dan surat pun ia mengenal tambah banyak. Ilmu silatku, ilmu silatnya saudara-saudara Nie dan Lo, semua telah diwariskan kepadanya, maka itu sekarang aku hendak minta Saudara-Saudara pujikan lain guru untuk didik ia terlebih jauh."
"Bagus!" jawab Couw Tiong Siu. "Tentang itu, sebentar kita damaikan pula. Bagaimana urusan menyingkirkan orang jahat?"
Si Nie, si pembunuh harimau, berbangkit, menggantikan si Cu, yang telah berduduk pula. Kata ia: "Si pengkhianat she Oen telah dibinasakan Lo Cham-ciang di propinsi Ciatkang dalam bulan yang lalu, dan pengkhianat Du akulah yang bunuh pada sepuluh hari yang lalu ketika aku susul dia di Tiang-an. Kepala mereka berdua ada di sini."
Habis berkata, si Nie jumput satu kantong yang diletaki di lantai, ia buka itu, untuk keluarkan dua kepala orang.
"Bagus, bagus!" banyak orang berseru, kemudian pun terdengar cacian dan kutukan terhadap dua pengkhianat itu.
Tiong Siu sambuti dua kepala orang itu, untuk diletaki di atas meja sembahyang, setelah mana, ia berlutut menjalankan kehormatan.
Tiauw Cong kenali dua kepala itu, ialah yang Peng Kie pergoki di dalam peti kayu. Baru sekarang ia mengerti, itulah dua musuhnya Wan Tok-bu.
Setelah itu beberapa orang lain, dengan bergiliran, keluarkan masing-masing satu kepala orang, yang juga diletaki di atas meja sembahyang, hingga di situ semua ada belasan kepala tanpa tubuh.
Satu dari orang-orang itu berikan laporannya seperti si Nie, dari situ jadi dapat diketahui, salah satu kepala adalah kepalanya satu giesu yang Tiauw Cong dengar dari ayahnya dulu pernah dakwa Wan Cong Hoan, yang dituduh bersekongkol hendak menjual negara, pantas sekarang dia dibinasakan.
"Sekarang tinggallah satu musuh besar kita terhadap siapa kita belum mencari balas!" kata Tiong Siu setelah pelbagai laporan itu. "Raja Tartar dan Kaisar Cong Ceng masih bercokol atas tahtanya! Bagaimana kita mesti menuntut balas? Coba Saudara-Saudara utarakan pikiranmu masing-masing."
Seorang kate berbangkit.
"Couw Siangkong!" berkata ia dengan suaranya yang nyaring luar biasa, hingga Tiauw Cong dan Peng Kie jadi heran, sebab itulah suara tak dinyana dari seorang kate sebagai dia.
"Tio Congpeng hendak bicara apa?" tanya Tiong Siu. "Silakan!"
"Menurut aku," berkata si kate itu. Tapi dia belum sempat meneruskannya ketika dari luar muncul satu orang, sikapnya tergesa-gesa, terus saja ia kata: "Ciangkun Lie Cu Seng ada kirim utusan!...."
Mendengar ini, banyak orang perdengarkan suara tak nyata.
"Tio Congpeng, mari kita sambut dulu utusannya Lie Ciangkun," Tiong Siu mengajak.
"Baik," jawab chamciang itu, malah dialah yang mendahului bertindak keluar.
Sekalian hadirin berbangkit, untuk pergi keluar.
Pintu besar sudah lantas dipentang, dua orang, dengan obor-obor besar di tangan, berdiri di kiri dan kanan, kemudian tertampak tiga orang bertindak masuk.
Selama ia berada di Siamsay, Peng Kie telah dengar nama besar dari Lie Cu Seng yang berani bunuh pembesar negeri dan berontak, maka sekarang ia ingin ketahui utusannya pemberontakan itu.
Dari tiga orang itu, yang jalan terdepan, ada seorang umur empat-puluh lebih, romannya bengis, tetapi dandanannya seperti rakyat jelata saja, sebab rambutnya kusut, kakinya bersepatu rumput saja, tanpa kaos, dan bajunya, yang kapas hitamnya molos keluar, tangan bajunya sudah pada pecah. Itulah roman umum dari petani di Siamsay.
Dari dua yang lain, yang satu berumur tiga-puluh lebih, kulitnya putih, romannya cakap, tak miripnya dia dengan petani, dan kawannya, yang berusia dua-puluh lebih, bertubuh besar-kekar, kulit mukanya rada hitam, tapi dia mirip dengan petani. Sampai di thia, orang yang pertama masih mengucap apa-apa, di muka meja, ia berhenti untuk berdiri diam. Adalah si muka putih, yang menggendol buntalan di belakangnya, keluarkan lilin dan hio, untuk disulut dan dipasang, sesudah mana, bertiga mereka menjalankan kehormatan sambil berlutut dan manggut-manggut, atas mana si bocah pengangon kerbau turut tekuk kaki, untuk membalas hormat itu.
Setelah upacara ini, si rambut kusut kata dengan nyaring: "Ciangkun kami Lie Cu Seng ketahui halnya Wan Tayciangkun telah labrak bangsa Tartar di Liauwtong, dia telah membuat jasa besar, ciangkun kami sangat kagum, maka sayang kemudian Wan Ciangkun telah dihukum mati oleh raja, hingga rakyat menjadi gusar dan berontak karenanya. Kami, untuk dapat makan, sudah rampas rangsum negara, kami bunuh pembesar negeri, untuk ini, kami mohon perlindungan roh suci Wan Ciangkun. Mari kita menerjang ke Pakkhia, buat bekuk raja dan menteri-menteri dorna, untuk bunuh mereka satu demi satu, supaya dengan demikian, bisa kita balas sakit hati Taygoanswee serta semua rakyat!"
Semua hadirin ketarik mengetahui Lie Cu Seng hargai jendral besar mereka (taygoanswee). Mereka pun dapat kenyataan, walaupun suaranya kaku, utusan ini bicara dengan sungguh-sungguh.
Tiong Siu menjura, untuk beri hormat pada utusan itu.
"Terima kasih, terima kasih," kata ia, yang terus tanya she dan nama si utusan.
"Aku ada Lauw It Houw," jawab si utusan. "Lie Ciangkun ketahui Saudara-Saudara hendak rayakan peringatannya Wan Taygoanswee, ia telah utus kami datang kemari."
Kembali Tiong Siu menghaturkan terima kasih, kemudian ia perkenalkan dirinya.
"Saudara jadinya ada saudara muda dari Ciangkun Couw Tay Siu," kata si utusan. "Kami ketahui nama besar dari Couw Ciangkun, kami semua kagumi dia...."
Selagi Tiong Siu hendak pasang omong sama tetamunya ini, yang bermuka hitam si tetamu, kawannya yang telah awasi para hadirin, mendadakan berlompat ke pintu besar di muka mana segera ia berhenti, berdiri dengan membalik tubuh.
Semua orang heran, semua awasi tetamu ini.
Dengan tiba-tiba utusannya Lie Cu Seng itu tunjuk dua orang usia pertengahan di antara para hadirin, terus ia tanya: "Kamu adalah orang-orang sebawahan Co Thaykam, apa kamu hendak perbuat di sini?"
Kata-kata ini membuat kaget semua orang.
Kaisar Cong Ceng sudah binasakan Gui Tiong Hian dan keluarga Keh dan singkirkan kambratnya mereka ini, tetapi ia tetap curigai semua menteri besar, ia terus pakai orang-orang kebiri sebagai orang-orang kepercayaannya, maka juga, ia andalkan Thaykam Co Hoa Sun siapa telah pimpin semua pahlawan rahasia dari kaisar, tugasnya melulu untuk selidiki berbagai menteri. Inilah sebabnya kenapa semua hadirin heran.
Dua orang yang dituding itu, yang satu berumur kira-kira empat-puluh tahun, mukanya berewokan kuning, dan yang kedua, rupanya putih tak berkumis, tubuhnya kate-dampak. Si kate-dampak ini terkejut tapi segera ia tenang pula.
"Kau maksudkan aku?" tanya dia sembari tertawa. "Ah, jangan main-main...."
"Hm, main-main?" sahut si muka hitam. "Aku tahu bagaimana kau kasak-kusuk di rumah penginapan, lalu kamu menyelusup masuk ke San-cong ini. Tentu, kemudian kamu akan beri laporan kepada Co Thaykam, hingga akhirnya, balatentara akan dikirim untuk menyerbu ke sini. Itulah buahnya kasak-kusuk kamu itu!"
Mendengar itu, si berewokan kuning hunus goloknya, dia hendak segera menyerang tapi si muka putih cegah dia. Si muka putih ini bersikap tenang.
"Lie Cu Seng hendak bereskan sahabat-sahabat dari San-cong, siapa pun ketahui ini!" kata dia. "kau berniat merenggangkan kami, itulah tak mungkin terjadi!"
Suara ini halus tetapi tajam, itulah terang suaranya seorang kebiri, tetapi walaupun demikian, suara ini memberi pengaruh, hingga banyak hadirin mengawasi si penuduh itu.
Lauw It Houw dandan sebagai petani, akan tetapi dia adalah seorang peperangan ulung, dia cerdik, dia lantas bisa lihat orang curigai pihaknya.
"Kau siapa, Tuan? Adakah sahabat dari San-cong?" ia tanya dengan tenang.
Ditanya demikian, orang muka putih itu tergugu, dia berdiam.
Tiong Siu lantas mendekati, untuk tanya: "Sahabat, adakah kau bekas sebawahan dari Wan Taygoanswee? Kenapa mataku yang lamur tak kenali kau? Kau sebenarnya ada sebawahan dari congpeng mana, dari kota mana?"
Si muka putih lihat tak dapat berpura-pura pilon lebih lama, ia lirik kawannya, ia kedipi mata, lantas ia loncat ke pintu. Perbuatannya ini segera disusul sahabatnya itu, malah dia ini segera membacok pada si muka hitam, penuduhnya.
Si muka putih mirip orang banci tetapi gerakannya pesat sekali, dengan cepat telah keluarkan senjatanya, sepasang poan-koan-pit, yang mirip alat tulis, dengan itu, ia pun serang si muka hitam, yang ia arah dadanya. Senjata ini pun bisa dipakai menotok jalan darah.
Utusannya Lie Cu Seng datang untuk hunjuk hormat, ia tidak siapkan senjata, menampak dia diserang, semua hadirin kaget dan berkuatir. Dua rupa senjata serang ia dengan berbareng. Maka itu, beberapa orang lantas bersiap, untuk bantu padanya. Akan tetapi segera ternyata, dia liehay.
Dengan kesebatan luar biasa, dengan tangan kirinya, utusan Lie Cu Seng ini mendahului sambar lengannya si berewokan kuning, tubuhnya cuma mendak sedikit, berbareng dengan itu, tangan kanannya, dengan dua jari, menyambar ke arah sepasang matanya si penyerang dengan poan-koan-pit. Karena ia telah mendak sambil mengegos sedikit, ia tidak kuatir senjata musuh mengenai sasarannya.
Utusan ini diserang terlebih dahulu, akan tetapi karena kegesitannya, kedua tangannya dapat melayani kedua musuh.
Dua-dua musuh lantas mundur sambil tarik pulang tangan mereka, si berewokan sambil lebih dahulu loloskan tangannya dari cekalan.
Semua hadirin berubah menjadi girang melihat utusan itu demikian liehay, mereka yang hendak membantu pun urungkan niatnya masing-masing. Semua lantas menonton saja.
Selagi pertempuran berjalan, dua mata-matanya Co Thaykam sibuk sendirinya. Mereka insyaf, walaupun mereka mengepung berdua, sebenarnya mereka sendiri berada di dalam sarang harimau, mereka dengan sendirinya terancam bahaya. Karena ini, mereka main mundur dengan pelahan-lahan, akan kemudian mendadakan merangsak, untuk mendesak.
Utusannya Lie Cu Seng berkelahi dengan hati-hati, tapi daripada membela diri, ia lebih banyak menyerang, tidak peduli ia bertangan kosong. Dengan begini, ia pun bisa merintangi kedua musuh, yang berniat menghampirkan pintu, untuk loncat keluar, untuk lari.....
Dalam sibuknya, si muka putih mainkan poan-koan-pit secara hebat, ia ingin bisa totok jalan darah lawan, untuk dibikin rubuh, sedang si berewokan kuning mendesak dengan ilmu goloknya Bu-Seng-Bun asal Shoasay, satu kali ia mendak dengan tiba-tiba tetapi goloknya membacok ke bawah. Ini kali pun desakan ada sangat berbahaya. Akan tetapi, orang semua lihat, utusan itu tetap tenang saja, benar ia mundur tapi dengan teratur.
Pertempuran berlanjut. Sebab pihak Co Thaykam ingin bisa angkat kaki, mereka coba merangsak terus. Tapi mendadakan, si berewokan kuning terdengar menjerit, menjerit kesakitan, goloknya terpental di antara hadirin.
Melihat demikian, Cu An Kok maju, akan tanggapi gegaman itu.
Berbareng sama terlemparnya golok, utusan Lie Cu Seng kirim tendangan terhadap lawannya yang berewokan kuning itu, tidak ampun lagi, lawan itu terjungkal rubuh. Tapi utusan itu tidak berhenti sampai di situ, baru kaki kiri turun atau kaki kanannya menggantikan melayang akan tendang juga lawannya yang kedua, si muka putih.
Lawan yang kedua ini liehay, ia bisa loloskan diri dari ancaman kaki itu, di lain pihak, ia terus maju, akan balas menyerang. Lagi-lagi ia menotok ke dada musuh, sepasang poankoan-pit sengaja dimajukan silih-ganti.
Utusannya Lie Cu Seng berlaku gesit, ketika poan-koan-pit yang pertama, tangan kiri, hampir mengenai dadanya, dengan tiba-tiba ia miringkan tubuh dan tangannya dipakai menyambar ujung senjata musuh itu, begitu ia dapat mencekal, begitu ia membetot dengan dikageti, hingga dalam sekejab saja, ia telah rampas senjata itu.
Poan-koan-pit tangan kanan, yang dipakai menyusul, telah menyusul dengan tak dapat dibatalkan lagi, segera senjata ini diketok lawannya, yang gunakan poan-koan-pit kirinya itu, maka kedua senjata beradu keras, nyaring suaranya, muncrat lelatu apinya.
Celaka untuk si muka putih, selagi tangannya sesemutan dan sakit karena bentrokan yang hebat itu, ia juga tak dapat cekal lebih jauh sisa senjatanya itu, yang terlepas dan terpental! Si muka hitam lantas saja tertawa pandang, sembari tertawa, tangan kanannya menyambar dada musuh, untuk segera diangkat, lalu menyusul tangan kirinya, menyambar celana musuh itu, sesudah mana, kedua tangannya, yang masing-masing masih mencekal, dipentang dengan keras, hingga belum orang tahu apa-apa, terdengarlah suara memberebet yang nyaring.
Ternyata celana si muka putih kena terbeset pecah dan tertarik hingga copot, hingga orangnya Co Thaykam itu menjadi telanjang sebatas pinggang ke bawah, hingga di lain pihak, semua hadirin mengawasi dengan melongo.
Si muka hitam bicara.
"Kau ada orang kebiri atau bukan, biarlah orang banyak persaksikan!" berkata dia.
Baru sekarang semua orang seperti tersadar. Memang benar, si muka putih adalah seorang kebiri, hingga - saking lucu - semua orang tertawa lebar, semua bertindak mendekati, mengurung thaykam itu, muka siapa pucat, bahna jengah.
Di lain pihak lagi, semua orang kagumi utusannya Lie Cu Seng itu untuk kegagahannya.
Sementara itu, dua-dua mata-matanya Co Thaykam telah ditelikung.
"Untuk apa Co Thaykam kirim kamu kemari?" Tiong Siu segera memeriksa. "kamu ada punya berapa kawan? Cara bagaimana kamu bisa nyelundup masuk ke sini?"
Dua orang itu bungkam.
Melihat orang membandel, Tiong Siu kedipi Lo Chamciang, siapa sudah lantas datang mendekati, dengan goloknya, ia bacok bergantian dua mata-mata itu, hingga kepala mereka kutung, sesudah mana, kedua kepala diletaki di atas meja sembahyang.
"Jikalau tidak ada Sam-wie, tentu sekali kami bakal alami bencana," kata Tiong Siu kemudian kepada utusannya Lie Cu Seng bertiga. Ia memberi hormat seraya terus mengucap terima kasih.
"Tapi ini pun terjadi karena kebetulan saja," berkata Lauw It Houw. "Selama di tengah jalan, kami lihat dua orang ini, yang sikapnya mencurigai, yang gerak-gerakannya gesit, karena itu, selagi mondok, kami intai mereka, kesudahannya kami ketahui siapa adanya mereka. Mereka rupanya tak sangka ada orang yang intai mereka, hingga mereka kasak-kusuk dengan leluasa."
Sampai di situ, Tiong Siu tanya dua kawannya orang she Lauw ini.
Orang yang beroman cakap itu mengaku she Thian, dan kawannya yang mukanya hitam, she Cui.


0 komentar:
Posting Komentar