Home » » PEDANG ULAR MAS 41

PEDANG ULAR MAS 41

Jilid 41

Di saat itu Sin Cie juga lihat seorang lain di dalam gua, ia pun sedang rebah. Mulanya ia niat hampirkan orang itu, atau mendadak ia rasakan kepalanya pusing, matanya kabur, berdirinya pun limbung, hampir saja ia rubuh. Maka segera ia insyaf, asap itu mengandung racun. Tidak ayal lagi ia angkat tubuh Ceng Ceng, untuk dipondong keluar ia sambar dadung yang terus tarik-tarik.

A Pa terus tarik naik dadung itu, ia dibantu Seng Hay, hingga dalam tempo yang cepat, Sin Cie sudah bergelantungan dengan sebelah tangannya tetap memondong Ceng Ceng. Di sini di luar gua, baru Sin Cie berani bernapas, ia menahan sebisa-bisanya. Baru dua kali ia bernapas, ia merasa perutnya mual, tanpa tertahan lagi ia muntah-muntah.

Semua orang di atas jadi berkhawatir. Kalau anak muda ini tak dapat pertahankan diri asal cekalannya terlepas, celakalah dia berdua Ceng Ceng. Maka itu, walaupun mereka menarik dengan cepat, A Pa dan Seng Hay toh berhati-hati, supaya mereka tidak menarik dengan kaget!

Ciu San bersama Hie Bin dampingi dua orang itu, untuk berikan bantuan mereka kalau saja A Pa dan Seng Hay membutuhkan itu. Mereka juga siap untuk sambuti Sin Cie.

Selagi itu dua orang terangkat hampir sampai, mendadak terdengar suara nyaring dari arah gua, seperti gua itu meledak gempur, lantas kelihatan asap mengepul naik dan batu­batu terbang berhamburan. Semua orang terperanjat tidak terkecuali Seng Hay, hingga ia hampir lepaskan cekalannya, syukur A Pa si gagu yang pekak, tidak dengar apa-apa dan masih menarik dengan tenang.

Di akhirnya, untuk kelegaan semua orang, sampailah Sin Cie di atas. Akan tetapi setelah ia injak batu gunung, kakinya lemas, lantas saja ia rubuh, lupa akan dirinya.

Ketika itu Bhok Siang Tojin pun sudah berkumpul di antara mereka, maka guru ini segera tolong muridnya, juga Ceng Ceng untuk pijat dan uruti mereka.

Dari dalam gua, suara peledakan masih menyusul berulangkali.

Orang tidak tahu apa yang menyebabkan itu dan beberapa banyak tersimpannya bahan peledak di dalamnya. Orang saling memandang dengan merasa heran.

Tidak antara lama, Sin Cie sadar, lantas ia bernapas dengan beraturan ia merasa sangat lelah.

"Sungguh berbahaya..." ia mengeluh sebentar lagi, Ceng Ceng pun ingat akan dirinya akan tetapi begitu lekas ia buka mata dan lihat si anak muda, ia lepaskan tangisan.

Baru sekarang semua orang berhati lega, Untuk sementara, Bhok Siang antapkan muridnya itu beristirahat di situ, sedang suara perledakan sudah berhenti, tinggal asapnya yang masih sedikit mengepul.

"Nanti aku lihat!" kata Hie Bin dengan berani.

Ciu San setuju, ia ikat orang punya pinggang, akan kasih turun anak muda itu, yang dipesan mesti lantas membetot dadung andaikata ada ancaman bahaya di gua itu.

Kapan Hie Bin sampai di lubang gua, ia tidak lihat suatu apa, karena lubang itu telah tertutup rapat, hingga terpaksa ia mesti kembali dengan tangan kosong.

Sin Cie tuturkan bagaimana ia ketemukan Ceng Ceng, sedang Ceng Ceng ceritakan pengalamannya yang penuh bahaya di dalam gua itu menghadapi Ho Ang Yo yang sudah kalap.

Mendengar itu, Bhok Siang Tojin menghela napas.

"Ketika baru ini aku lihat panahnya Kim Coa Long-kun yang disembunyikan di dalam peti, aku sudah kagumi kepintarannya," berkata imam ini, "Siapa sangka sekarang terbukti kepintarannya begini luar biasa. Jauh sekali pandangannya...."

"Siapa juga tidak akan menyangka sekalipun di dalam tengkorak dia masih simpan bisa," nyatanya Oey Cin yang tidak kurang kagumnya.

"Suhu, inilah aneh!" seru Hie Bin si sembrono, "Bagaimana bisa itu bisa disimpan di dalam mulut tengkorak? Dia toh sudah mati dia tinggal rerongkongnya saja?"

Oey Cin tertawa, tetapi dia kata, "Nanti saja kau coba sendiri, sesudah kau mati!"

Guru ini sebal-sebal geli untuk ketololan muridnya ini.

Tentu saja semua orang tertawa ramai.

"Orang tidak tahu makanya dia menanya..." mendumal si pemuda she Cui itu.

"Hee Losu Kim Coa Long-kun ada seorang pintar luar biasa dan sangat teliti." Sin Cie kasih tahu, "Dia tahu bahwa semasa hidupnya dia mempunyai banyak musuh, dia mestinya telah menduga walaupun dia sudah mati, mesti ada musuh-musuhnya yang bakal terus cari padanya, untuk musnahkan tulang-tulangnya, dari itu karena dia sendiri ada ahli bisa, dia lantas buatkan persiapannya di saat dia hendak hembuskan napasnya yang terakhir. Secara demikian, sampai dia sudah tinggal rerongkongnya, dia masih bela dirinya...."

Mendengar ini Hie Bin tepok pahanya.

"Sekarang tahulah aku!" dia berseru. "Dengan persiapannya itu, kalau nanti ada orang bakar tulang-tulangnya, maka racun yang disembunyikan di dalam tutang-tulang itu nanti bekerja sendirinya..."

"Hanya...." kata dia pula bilang sesaat, "Kenapa gua itu bisa meledak? Apakah dia simpan juga bahan peledak di dalam tulang-tulangnya itu?"

Kembali orang bersenyum karena pertanyaan ini.

"Masa dia sembunyikan bahan peledak di dalam tulang-tulangnya?" kata Siauw Hui, "Pasti dia sembunyikan itu di dalam tanah!"

Sin Cie tidak perhatikan kata-kata orang itu, ia manggut-manggut, ia menghela napas pula.

"Adalah keinginannya ibunya Adik Ceng supaya ia dapat dikubur bersama suaminya, sekarang keinginannya itu telah tercapai," katanya.

Hie Bin sendiri masih saja terheran-heran, hingga ia ulur lidahnya.

"Kim Coa Long-kun benar-benar lihay!" katanya, "Dia sudah menutup mata belasan tahun lamanya, dia masih bisa layani musuh-musuhnya. Sudah selayaknya saja kalau wanita tua dan jahat dari Ngo Tok Kauw itu nerima kebinasaannya."

"Meskipun dia jahat, akan tetapi cintanya adalah sejati harus dihargai," Sin Cie bilang, "Dia bersengsara karena cinta...."

Siauw Hui sementara itu usap-usap kepalanya Tay Wie dan Siauw Koay.

"Kalau tidak getapnya mereka ini, asal lambat sedikit saja oh, bagaimana hebatnya kejadian ini." katanya.

"Ya, itu benar," kata beberapa orang.

Maka sekarang orang kagumi kedua binatang piaraan itu yang mempunyai perasaan luar biasa.

Sampai di situ orang berangkat ke dalam gua, An Toa Nio dan gadisnya memayang Ceng Ceng yang masih lemah sekali. Dia telah ditukari pakaiannya lantas direbahkan di atas pembaringan untuk dia beristirahat.

Bhok Siang Tojin berikan obat pulung, untuk punahkan racun, akan tetapi itu tidak lekas dapat menolong, karena racunnya Kim Coa Long-kun lihay sekali dan Ceng Ceng terkenanya cukup lama. Malah selang satu malam, mukanya si nona menjadi berobah hitam, keadaannya jadi bertambah berat, adakalanya dia jadi tak sadarkan diri, atau kalau dia mendusin, dia lantas menangis sendirinya, dia mengaco. Dalam tidurnya dia suka mengimpi, dia suka mengigau dengan katakan Sin Cie tidak punya budi rasa....

Sin Cie sendiri jadi sangat lesu dan putus asa, hingga melihat dia, orang merasa kasihan, malah orang berkhawatir untuk kesehatannya.

Kapan anak muda ini ditinggal berduaan saja sama Ceng Ceng, yang rebah tidak berdaya ia coba hiburkan nona itu, ia berikan janjinya bahwa ia tidak mencintai nona lain siapa juga.

Ceng Ceng tidak bilang suatu apa, masih saja dia suka keluarkan muntah cairan hitam, mukanya sendiri kadang-kadang bersemu merah dadu tetapi lebih banyak hitamnya.

Sin Cie lihay ilmu silatnya, sekarang ia habis daya. Maka ia lebih banyak bercokol atau rebah dengan air mata berlinang-linang, ia tidak punya obat untuk tolong kekasih ini, karena mustika kodok es sudah habis.

Di luar orang ramai bicarakan Kim Coa Long-kun. Biar bagaimana orang anggap jago Ular Emas ini telah membahayakan anak daranya sendiri....

Karena ini orang umumnya tidak gembira.

Di hari itu mendekati magrib, Tay Wie dan Siauw Koay perdengarkan suara mereka yang berisik. Nyata telah datang rombongannya Kwie Sin Sie suami istri serta murid-murid mereka ialah Bwee Kiam Hoo, Lauw Pwee Seng, Sun Tiong Kun dan lainnya, jumlah berenam. Kapan Kwie Jie Nio dengar Ceng Ceng terkena racun ia berikan sisa obat anaknya yaitu Hok-leng dan Ho-siu-auw.

Setelah makan obat ini, Ceng Ceng bisa tidur dengan tenang.

Ketika sang magrib datang, murid kepala dari Oey Cin datang bersama delapan suteenya serta dua putranya. Lebih dulu mereka kasih hormat pada Bhok Siang Tojin, baru guru mereka jie-susiok Kwie Sin Sie suami dan istri.

Murid kepala dari Oey Cin itu lihat Sin Cie, sang sam-susiok masih muda daripada anaknya yang pertama, maka untuk tekuk lutut di depan paman guru ketika ini, ia merasa sungkan. Maka itu ketika ia toh memanggil.

"Susiok," ia tetap ragu-ragu.

Sin Cie lihat ini sutit, keponakan murid, berumur empat puluh lebih, dadanya lebar, pinggangnya tegar, suatu tanda tubuhnya kuat, sedang tubuh itu ada terlebih tinggi daripada tubuhnya sendiri. Maka diam-diam ia memuji, ia anggap pantas toa-suhengnya punyakan murid yang beroman gagah ini. Dia ini beda sangat jauh dari Hie Bin si tolol.

"Tidak usah berlutut," ia mencegah, ketika ia tampak sembilan sutit itu hendak berlutut di depannya. "Jangan pakai banyak adat-peradatan!"

Segera Hie Bin perkenalkan saudara seperguruannya yang tertua itu.

"Toasuheng ini she Phang bernama Lan Tek," katanya, "Di dalam kalangan Kang-ouw dia digelarkan Pat-bin Wie-hong." (Gelaran itu mempunyai arti "Keangkeran Di Delapan Penjuru”).

"Pasti Saudara Phang telah mewariskan kepandaian Toasuheng," Sin Cie bilang.

Phang Lan Tek merendahkan diri.

Oey Cin tidak bilang suatu apa murid kepalanya itu tidak tekuk lutut terhadap sutee buncit itu, terutama sebab ia tahu, muridnya ini telah punyakan nama baik, ia sendiri juga memang paling sedernana.

Sesudah itu baru Lan Tek suruh dua putranya berlutut kepada semua orang yang lebih tua, mulai dari Bhok Siang Tojin sampai pada Kiam Hoo beramai.

Dua anak itu ada Phang Put Po yang lebih tua, usianya dua puluh satu tahun, dan Phang Put Cui yang kedua, yang baru berumur tujuh belas. Untuk di wilayah Kam Liang, karena mengandal pada nama ayahnya, mereka telah punya nama juga, sedang kepandaian mereka sendiri boleh dibilang sudah cukup berarti sekarang. Put Po lihat, paman gurunya yang termuda baru berumur kurang lebih dua puluh tahun, maka walaupun mereka berlutut, hati mereka tidak puas. Mustahil orang dengan usia demikian muda menjadi yang tertua lebih tinggi dua tingkat derajatnya? Mereka juga tidak melihat mata karena tampak susiok itu beroman lesu dan kucel air mukanya, bekas-bekas air matanya masih belum lenyap.

Dua saudara Phang itu bergaul rapat dengan murid-muridnya Kwie Sin Sie suami istri, malah mereka tahu, Sun Tiong Kun adalah yang paling jumawa dan kepala besar, ilmu silatnya pun sempurna, maka diam-diam mereka ini berdamai untuk sebentar ogok-ogok si Nona Sun, agar dia coba-coba kepandaiannya paman cilik itu, ingin mereka membuat paman guru cilik itu dapat malu di depan su-couw dan guru dan paman guru mereka. Mereka percaya, umpama ayah mereka ketahui perbuatannya tidak nanti mereka dipersalahi.

Begitulah besoknya, pagi-pagi sekali mereka sudah bangun, lantas mereka pergi keluar, akan cari Sun Tiong Kun. Kebetulan, mereka ketemu Cio Cun, susiok mereka yang kedelapan.

Cio Cun ini juga muda usianya dan gemar cari gara-gara, ilmu silatnya berimbang sama mereka berdua saudara. Sebab di pipi kanannya ada tahi lalat biru orang juluki dia Chee­bian-sin, Malaikat Muka Biru. Dia ingin menegor kapan dia saksikan roman luar biasa dari engko dan adik itu.

"Hai, katamu bikin apa?" demikian tegurannya.

"Kita lagi ajari Sun Su-kouw!" sahut Put Cui sambil tertawa, "Katakan selama di Shoatang, su-kouw sudah rubuhkan banyak orang Put Hay Pay, maka kita ingin dia beri penuturan kepada kita."

"Bagus!" Cio Cun nyatakan akur. "Tadi aku lihat dia lagi berlatih sama Bwee Suko, mari kita tengok padanya!"

Lantas tiga orang ini lari ke gunung belakang.

Di sepanjang jalan, dua saudara Phang ini pikirkan, kata-kata apa mesti dihaturkan kepada Sun Tiong Kun supaya su-kouw itu sang bibi guru jadi panas hatinya terhadap Sin Cie.

"Jikalau dia sedang berlatih pedang, baik bilang saja Wan Siauw-susiok-couw cela ilmu pedangnya itu," kata Put Cui.

"Akur!" sahut Put Po sambil terlawa.

Selagi mereka mendekati ke tempat di mana katanya Sun Tiong Kun dan Bwee Kiam Hoo lagi berlatih silat, tiga orang ini sudah lantas dengar suara nyaring dan bengis dari Sun Tiong Kun seperti sang bibi guru lagi damprat orang. Mereka heran, maka mereka lari untuk lekas menemui.

Kelihatan Sun Tiong Kun lagi kejar seorang lelaki umur tiga puluh tahun lebih, dia ini sambil lari sambil mengupat caci mengatakan Sun Tiong Kun sebagai "wanita bangsat” dan "wanita hina dina". Tidak selamanya dia lari terus. Karena dia pun mencekal golok, saban-saban ia berhenti, untuk lakukan perlawanan. Nyata dia kalah lihay, saban-saban ia lari pula, kalau kecandak, kembali dia bikin perlawanan. Dia mencaci terus selagi si nona damprat ia berulang-ulang.

"Mari kita pegat binatang itu, supaya dia tidak mampu lolos!" Put Cui mengajak.

Secara kalap terdengarlah suaranya orang yang dikejar-kejar Sun Tiong Kun itu, "Kau telah bunuh istriku serta anak-anakku, maka kenapa kau bunuh juga ibuku yang sudah berumur tujuh puluh tahun lebih?"

Air mukanya Sun Tiong Kun merah padam.

"Manusia tidak punya malu!" si nona mendamprat.

"Umpama kata di rumahmu ada terlebih banyak orang lagi, aku pun akan bunuh semua!"

Mereka itu berkelahi dengan sengit sekali, karena sama-sama sedang sangat mendongkol.

"Hai, kenapa Sun Su-kouw tidak pakai pedang?" seru Phang Put Po. "Dia menggunai sebatang gaetan, tak leluasa nampaknya gerakannya." Cio Cun dan Put Cui pun segera lihat, itu bibi guru lagi gunai senjata yang tidak cocok.

Maka orang she Cio ini lantas cabut pedangnya ia balik itu untuk pegang tajamnya, "Sun Suci, sambut pedang ini!" kata dia sambil lemparkan pedangnya itu. Berbareng sama terlemparnya pedang, dari samping, di mana ada pepohonan lebat, melesat satu bayangan, yang terus sambuti pedang itu, akan talangi Tiong Kun.

Ciu Cun bertiga terperanjat melihat kesebatan orang, kemudian mereka jadi kenali, bayangan itu adalah Bwee Kwie Hoo, murid kepala dari Kwie Sin Sie, Susiok Couw mereka, "Bwee Susiok!" Cio Cun memanggil.

"Ya," Bwee Kiam Hoo menyahuti, sambil manggil, setelah mana, dia lemparkan kembali pedang itu, seraya tambahkan, "Sun Su-kouw telah pahamkan lain alat, tidak lagi pedang."

Ciu Cun heran, hingga ia perdengarkan seruan tertahan. Ia memang tidak tahu, sebab Tiong Kun telengas, dia sudah dilarang memakai pedang.

Pertempuran masih berjalan terus. Lama-lama, orang lelaki itu repot juga, maka setelah terdesak hebat, tangannya kena ditendang si nona, goloknya terlepas, hingga di lain saat dadanya jadi terbuka untuk tusukan gaetan.

"Tahan!" mendadak Kiam Hoo berseru dengan cegahannya.

Sun Tiong Kun heran, hingga ia tunda serangannya, karena mana, lawannya itu dapat kesempatan untuk angkat kaki ke arah bawah gunung.

"Kasih ampun padanya!" kata Kiam Hoo sambil tertawa, "Biarlah Su-couw nanti beri pujian padamu!"

Sun Tiong Kun bersenyum. Orang itu lari beberapa puluh tindak jauhnya, ia berhenti, akan putar tubuhnya, buat kembali caci musuhnya, ia mengatakan pula, "Perempuan bangsat! Perempuan busuk dan hina!"

Kali ini bukan cuma Sun Tiong Kun, juga Kiam Hoo dan Cio Cun serta kedua saudara Phang turut jadi gusar. Put Cui sampai mencaci. "Makhluk apa itu berani datang mengacau di Hoa San?"

Dengan bawa ruyung besinya, ia lantas mengejar. Sun Tiong Kun dalam murkanya sesumbar, "Jikalau aku tidak bunuh binatang itu, aku sumpah tak mau jadi manusia! Aku tidak perduli biar su-couw kutungi lagi sebatang jerijiku!"

Dia pun mengejar seraya putar gaetannya,

Bwee Kiam Hoo paling sayangi sumoay ini, di pihak lain, ia khawatir sang sumoay nanti kembali bunuh orang, untuk cegah itu, ia ingin mendahului bekuk orang itu, untuk hajar adat padanya, supaya adik seperguruan ini puas hati, maka itu ia pun berlompat lari akan mendahului. Ilmu entengkan tubuhnya ada di atas semua kawannya itu sebentar saja ia sudah berada di sebelah depan mereka.

Musuhnya Tiong Kun itu tampak gelagat jelek, dia lari ke kiri di mana kebetulan ada jalan cagak.

Cio Cun bersama dua saudara Phang segera menyerang dengan senjata rahasianya masing-masing. Baru hui hongsek dari Put Po menuju ke arah bebokong orang itu. Dia ini gesit, dia bisa dengar sambaran angin, maka ia berkelit ke kanan. Tetapi "Sreet!" panah tangan dari Ciu Cun mengenai kempolannya, bahna sakit, ia terhuyung-huyung terus dia rubuh terguling.

Di saat itu, Bwee Kiam Hoo sudah sampai dia lompat untuk mencekuk.

Berbareng dengan itu dari samping terdengar desiran angin, menyambar ke tubuh orang itu, tubuh siapa di lain saat sudah lantas mencelat hampir menubruk orang she Bwee ini.

Kiam Hoo terkejut, dia berkelit ke samping, sekarang dia bisa lihat tubuh orang itu kena terkelit beberapa puluh lembar tambang dan telah terbetot.

Sun Tiong Kun dan yang lainnya memburu sampai di situ, mereka lihat kejadian itu, mereka terperanjat.

Nyata orang yang tolongi orang yang dikeroyok itu ada satu wanita yang cantik, bajunya putih bagaikan salju, rambutnya yang panjang terurai ke belakang. Tetapi nona ini tak bersepatu dan kedua kaki dan tangannya memakai gelang emas, dandanannya bukan dandanan orang Han, bukan orang suku bangsa Ie. Dan sehabis menolongi dia lantas berdiri diam sambil tertawa manis, juga di tangan kanannya, yang putih seperti salju, ada terpegang setabung tambang entah terbuat dari kawat entah dari benang.

Dan di belakang si cantik ini berdiri lagi satu wanita muda yang tubuhnya tertutup jubah putih dari kepala sampai ke kaki, hingga tertampak saja wajahnya. Dia beroman cantik tetapi kulitnya pias, tidak gembira.

Mereka ini adalah Ho Tek Siu dan A Kiu.

Di lain harinya setelah keberangkatan Sin Cie beramai meninggalkan kota raja, Ouw Kui Lam dapat kabarnya halnya Wan Peng tertampak empat jago tua Cio Liang Pay serta Ho Ang Yo berikut Ceng Ceng, maka sepulangnya ia terus beritahukan itu padanya, ia terus beritahukan itu pada kawan-kawannya.

Mendengar halnya ada binatang berbisa dipantek di pojok tembok, Ho Tek Siu tahu itulah tanda Ngo Tok Kauw untuk mengumpuli orang, ia jadi khawatir Ceng Ceng dapat celaka, ia jadi niat memberi pertolongan kepada si nona, untuk kebaikan Sin Cie. Untuk segera berangkat ia bersangsi. Ia sudah janjikan Sin Cie akan rawati A Kiu. Bukankah keadaan di kota raja masih kalut? Bukankah A Kiu ada putri raja yang menarik perhatian umum? Maka tidak dapat ia tinggalkan A Kiu seorang diri di kota yang berbahaya itu. Hebat kalau sampai putri ini menghadapi sesuatu. Sesudah lama bersangsi, akhirnya ia ambil putusan akan ajak tuan putri ini.

Ketika A Kiu diberitahukan bahwa ia hendak diajak pergi susul Ceng Ceng, dia menyatakan akur, maka itu, malam itu mereka menulis surat, dan setelah dengan diam-diam A Kiu bersembahyang di kuburan ayahnya, almarhum Kaisar Cong Ceng, ia ikut Tek Siu berangkat dari kota raja.

A Kiu belum sembuh betul dari lukanya, akan tetapi ia dapat pelayanan istimewa dari Tek Siu, seorang yang banyak pengalamannya yang pun anggap ia sebagai adik kandungnya, maka walaupun perjalanan dilakukan cepat, ia tidak terlalu menderita. Selama di tengah perjalanan, lukanya terus mendapat kemajuan, ia jadi sangat bersyukur kepada bekas kauwcu dari Ngo Tok Kauw itu hingga keduanya jadi rapat betul satu dengan lain. Ketika hari itu mereka mendaki Hoa San, kebetulan mereka saksikan Ang Seng Hay sedang dikepung Sun Tiong Kun beramai, maka Tek Siu dengan bandringan Joan-ang-cu-so, "benang kawa-kawa" sudah lantas tolongi orang she Ang itu.

Memang Seng Hay adalah orang yang hendak ditangkap Kiam Hoo itu.

Dua-dua Bwee Kiam Hoo dan Sun Tiong Kun tidak tahu yang Ang Seng Hay telah turut Sin Cie, mereka juga tidak tahu Ho Tek Siu dan A Kiu orang-orang macam apa, tentu saja mereka jadi gusar, sebab mereka dapat anggapan, orang-orang asing ini berlaku kurang ajar di atas gunung Hoa San, yang menjadi daerah pengaruh mereka.

"Siapa kamu?" Tiong Kun membentak. "Apakah kamu semua dari Pun Hay Pay?"

Ho Tek Siu tidak gusar karena teguran itu, ia malah tertawa terus.

"Enci apa shemu yang mulia dan namamu yang besar?" ia tanya dengan hormat.

"Entah di dalam hal ini telah bersalah terhadapmu. Apakah boleh siauwmoay membikin akur kamu berdua pihak?"

Ho Kauwcu sengaja membahasakan diri "siauwmoay" - adik yang kecil.

Tiong Kun dengar suara merdu orang tetapi suara itu mengandung sedikit kejumawaan, sedang dandanan orang luar biasa, ia tetap tidak senang.

"Kamu siluman dari mana?" tanya dia. "Apakah kamu tahu ini tempat apa?"

Tek Siu tidak jawab pertanyaan sombong itu, ia tertawa saja.

"Nona Ho, bangsat perempuan ini ada manusia paling jahat!" Seng Hay kasih tahu, "Dia yang dipanggil Hui Thian Mo-lie si Hantu Wanita, istri serta anak-anakku, juga ibuku yang sudah berumur tujuh puluh lebih, semua terbinasa di tangan dia!"

Seng Hay gusar sekali, hingga matanya bersinar mirip api.

Mendengar perkataan Seng Hay ini, Bwee Kiam Hoo lantas ambil sikap lain. Memang sejak di Kim-leng ia peroleh pengajaran dari Sin Cie, ia telah jadi kuncup banyak, ia juga mengerti, couwsunya bakal datang kalau tidak hari ini, tentu besok, maka ia anggap baik jangan timbulkan onar.

"Sudah pergi kamu turun gunung, jangan bikin rewel di sini!" katanya dengan maksud menyudahi urusan.

Phang Put Cui pun turut berkata, "Kamu dengar tidak perkataan susiok-ku ini? Lekas kamu pergi, lekas!"

Ia lompat mendekati A Kiu niatnya untuk mengusir.

Nona ini memegang tongkat bambu Ceng-tiok-thung di tangan kanannya, ia mengawasi dengan roman agung. Biar bagaimana, dia adalah putri raja, dia mempunyai keangkuhan dan keangkerannya sendiri. Maka melihat sikap itu Put Cui heran.

"Apakah kamu datang untuk antari jiwa?" akhirnya Put Cui menegur ia tidak takut, sebaliknya ia jadi gusar, ia lantas ulur tangannya akan sambar baju A Kiu, guna dorong putri ini.

Meski ia belum sembuh anteronya dari lukanya, kendati tangannya tinggal sebelah A Kiu tidak lupa ilmu silatnya warisan dari Thia Ceng Tiok, kematian siapa membuat ia sangat bersedih. Maka itu tidak senang, ia lantas perlakukan kasar dari pemuda itu. Tanpa bilang suatu apa, ia geraki tongkatnya.

Tiba-tiba saja Put Cui menjadi limbung, terus ia rubuh celentang. Tetapi ia tidak dilukai, begitu bebokongnya kena tanah ia bisa kerahkan tenaga untuk mencelat bangun, ia masih muda dan tabiatnya keras, dibikin rubuh secara demikian gampang, ia jadi murka, mukanya menjadi merah, ia lantas angkat ruyungnya untuk menyerang.

Tek Siu mengawasi, kembali ia tertawa.

“Tuan-tuan toh dari Hoa San Pay?" katanya, "Kita adalah orang-orang sendiri!"

"Siapa sudi jadi orang sendiri dengan kamu siluman?" bentak Put Po.

Bwee Kiam Hoo khawatir suasana jadi keruh, ia lantas kedipi dua saudara Phang itu. Sebagai seorang Kang-ouw ia pun telah cukup berpengalaman, ia percaya nona di depannya itu bukan orang tanpa asal-usul, ia juga telah saksikan kepandaiannya.

"Siapakah itu gurumu?" dia tanya,

"Guruku she Wan," Tek Siu jawab, "Namanya di atas Sin, di bawah Cie. Guruku itu ada dari Hoa San Pay."

Bwee Kiam Ho menoleh pada Sun Tiong Kun, selagi sumoay ini pun berpaling kepadanya sebab keduanya heran. Mereka sangsi.

Cio Cun tapinya tertawa, dia kata. "Wan Susiok sendiri masih satu bocah cilik, ilmu silat kaum kita ia baru dapat pelajarkan tiga bagian, maka cara bagaimana dia boleh menerima murid?"

Tek Siu tidak gusar, ia tetap tertawa, "Oh, begitu," tanyanya.

Sun Tiong Kun pernah dapat malu dari Sin Cie, malah dia telah ditegur su-couwnya dan jari tangannya dibabat kutung, maka biar bagaimana tidak puas hatinya. Sebagai orang perempuan, ia pun tetap kurang luas pandangannya. Kalau ia dengar orang sebut nama Sin Cie, ia jadi "gatal", kumat kebenciannya. Tapi susiok itu lihay, derajatnya tetap lebih tinggi, ia tidak bisa berbuat suatu apa. Lain dari itu, sekarang ini guru dan subonya hormati sekali paman guru cilik itu, yang pernah tolongi jiwa anak gurunya, dan saban menyebut nama Sin Cie, kedua guru itu nampaknya sangat berterima kasih hingga ia mesti telan saja kebenciannya. Tapi sekarang ia dengar nona asing ini ada muridnya itu paman guru cilik, tiba-tiba hatinya jadi panas pula.

"Apa benar kau ada murid Hoa San Pay?" dia tanya dengan bengis. "Kenapa kau justru bergaul sama ini manusia tidak tahu malu?"

Dia maksudkan Ang Seng Hay.

"Dia adalah pengiring guruku," Tek Siu jawab. “Turut penglihatanku, dia bukannya tidak tahu malu! Eh, Seng Hay, kenapa kau menyebabkan nona ini gusar kepadamu? Kau salah apa?"

Sementara itu ke situ telah datang Phang Lian Tek bersama Lwee Seng dan lainnya, sebab mereka telah lantas dapat dengar suara berisik dari perselisihan itu.

"Ayah," kata Put Po. "lni anak perempuan bilang dia ada seorang she Wan punya eh, muridnya siauw susiok-couw..."

"Hm! Apakah yang direwelkan?" Lian Tek tanya.

Put Cui lantas dului kandanya, untuk memberi penuturan.

Di dalam tingkat ketiga dari Hoa San Pay, Phang Lian Tek adalah yang usianya paling tinggi, dia pun masuk belajar paling dahulu, maka itu dalam kalangan Kang-ouw dia telah diperoleh nama, hingga dengan sendirinya, dia adalah kepala di dalam kalangannya itu. Ketika dia sudah dengar keterangan anaknya, dia lantas berpaling kepada Sun Tiong Kun.

"Sun Sumoay, bagaimana duduknya maka kau bermusuhan dengannya?” ia tanya, ia maksudkan Seng Hay.

Mukanya Tiong Kun menjadi bersemu merah.

Kiam Hoo segera menalangi sumoaynya itu.

"lni jahanam mempunyai satu kanda angkat," demikian katanya, "Dia tidak tahu selatan, dia berani melamar Sun Sumoay untuk dijadikan istrinya, karena itu, lamarannya ditolak, dia dimaki..."

"Dia mau terima baik atau menampik, ia marah, itu memang ada hak dia!" Seng Hay nyeletuk. "Akan tetapi kenapa dia tebas kutung kedua kuping saudara angkatku itu?"

"Siapa tanya kau?" memotong Lian Tek dengan mata mendelik.

Bwee Kiam Hoo melanjuti, "Jahanam ini lantas kumpul sejumlah kawannya mereka gunai ketika selagi Sun Sumoay berada sendirian, mereka tangkap sumoay dan dibawa lari! Syukur aku bersama suhu keburu dapat tahu dan susul mereka, dengan begitu sumoay dapat ditolong."

Kedua matanya Lian Tek berputar, sinarnya tajam sekali.

"Sungguh bernilai besar!" bentaknya kepada Seng Hay, "Jadi sekarang kau masih tidak puas mencari rewel?"

"Mereka menculik orang untuk dipaksa suka menikah, itu adalah salah mereka," kata Tek Siu yang belakan Seng Hay. "Untuk itu bukankah Sun Sumoay telah bunuh saudara angkatnya itu? Bukankah kau telah diperoleh kepuasan? Maka kenapa kau masih satroni rumah dia ini di mana kau binasakan lagi istrinya, anak-anaknya, dan ibunya yang sudah tua yang telah berumur tujuh puluh tahun lebih? Dalam hal ini aku ingin penjelasan!"

Lian Tek semua lantas merasa, adik seperguruan itu benar keterlaluan. "Pulang pergi, asalnya adalah kau yang jahat!" Put Po masih salahkan Seng Hay, "Sekarang orang sudah mati, habis kau hendak apakah?"

"Cukup!" Tek Siu memotong. "Sebentar aku nanti menemui guruku, untuk minta dia yang kasih pertimbangannya."

"Wan Susiok beramai sedang repot, mereka tidak ada tempo." kata Lauw pwee Seng.

"Mana suhu?" Kim Hoo tanya.

"Suhu bersama subo, supeh dan susiok lagi repot berdamai untuk menolongi orang," Pwee Seng jawab.

"Kalau begitu," Lian Tek bilang, "Baik ringkus dulu semua mereka ini! Sebentar kita minta putusannya suhu dan susiok semua...."

Put Po dan Put Cui menyahuti, lantas mereka maju untuk tangkap tiga orang itu. Put Cui tidak kapok.

Tek Siu menjadi tidak puas melihat orang begini galak. Dia sudah tukar haluan, dia telah coba mengubah adat, tetapi belum lenyap semua sifatnya sebagai kauwcu, kepala agama. Tadinya dialah yang biasa memerintah maka bagaimana sekarang ia yang hendak diringkus? Walaupun ia mendongkol ia masih bisa tertawa geli.

"Kamu hendak meringkus orang?" katanya, "Di sini aku ada sedia tambangnya!"

Dia lantas acungkan Joan-ang Cu-so.

Put Cui melotot.

"Siapa kesudian itu!" katanya. Dia lantas maju bersama saudaranya, untuk hampirkan Seng Hay.

Bekas jago dari Put Hay Pay itu tentu saja tidak suka mendekati dirinya diringkus. Kalau tadi dia diam saja, dia suka mengalah kepada Ho Tek Siu, yang ia tahu kelihayannya dalam sepak terjang dan dalam ilmu silat.

Di saat ketiga orang itu hampir bergebrak, mendadak mereka dengar suara tertawa di samping mereka, dengan tiba-tiba saja dua saudara Phang merasa kaki meraka terangkat, terangkat bersama-sama tubuh mereka, jumpalitan di atas tanah, seperti awan, hingga mereka kaget, semangat mereka seperti terbang. Sebelum mereka jatuh, mereka dengar pula suara tertawa tadi, disusul sama ajaran. "Lekas bergerak dengan ”Lee-hie hoan sin"! Itulah ilmu yang paling rendah, tentu ayahmu sudah mengajarinya...!"

Phang Put Po turut itu ajaran, dia putar terus tubuhnya dengan gerakan "Lee-hie-hoan-sin" itu ~ "lkan Tambra Lompat Berbalik", maka ketika kedua kakinya turun ke tanah, ia berdiri dengan tetap.

Tidak demikian dengan Put Cui, yang tabiatnya keras, dia justru mencoba menggunai gerakan "Hui-pauw-liu-coan" atau "Air Tumpah Mengalirkan Air", benar gerakannya bagus, tetapi dia terlambat, tubuhnya mendahului turun, hingga ia jatuh di tanah dengan duduk numprah, dia terbanting keras, hingga ia merasakan sangat sakit, sedang malunya bukan main, muka dan kupingnya menjadi merah.

Dua-dua mereka seperti tidak tahu kenapa tubuh mereka terangkat naik dan jadi jumpalitan di udara...

Phang Lian Tek jadi sangat murka karena anaknya dipermainkan.

"Hai, Siluman!" dia membentak. "Tapi kau bilang kau ada kaum Hoa San Pay, kami sangsi, tapi sekarang kau gunai kepandaianmu yang rendah ini, terang kau bukan orang golongan kami! Mari maju!"

Tidak sempat Pat-bin Wie-hong buka kancing bajunya satu demi satu, dengan tangan kirinya ia membetot sebelah bajunya, maka berbareng sama suara memberebet, pada putuslah kancing bajunya itu, sesudah mana, baru ia buka bajunya untuk dilemparkan, hingga sekarang terlihat pakaiannya yang berwarna biru dan sepan, sehingga ia nampaknya jadi sangat keren, berdirinya pun tegak bagaikan menara besi.

Masih saja Ho Tek Siu tertawa manis.

"Ai, Suheng, apakah kau hendak berlatih silat dengan siauwmoay?" tanyanya, “itulah bagus! Kita bertaruh secara apa?"

Lian Tek lihat kegesitan orang barusan, tetapi ia tidak jeri, ia percaya benar kepandaiannya, sedang ia ada sangat ternama di See-keng. Ia tidak lihat mata pada nona ini. Tapi, meski ia beroman bengis, dan adatnya keras juga, ia welas asih. Maka melihat si nona manis budi, hawa amarahnya menjadi kurangan dengan cepat.

Begitulah ia berkata, "Kami beramai adalah orang-orang yang masih dapat diajak bicara. Kalau sebentar Kwie Jie-nio yang keluar, hm... kau nanti tahu rasa. Dia paling benci kejahatan, kalau dia lihat orang semacam kau, tidak nanti dia mau melepaskannya! Sekarang hayo kamu lekas angkat kaki!"

"Kau bukan guruku, hak apa kau punya untuk usir aku?" tanya Tek Siu tetap dengan sabar.

Put Cui masih tidak puas, tidak perduli sudah dua kali ia peroleh hajaran. Rasa malunya membuat ia nekat. Maka ia kedipi engko.

"Mari kita maju, jangan tanggung-tanggung," katanya.

Hampir berbarengi dua saudara itu lompat maju.

Tek Siu lihat sikap dua pemuda itu, ia tertawa.

"Baik, aku akan berdiri diam, tidak bergerak. Kamu akur?" dia tanya akan tetapi sikapnya agak menantang, ia lantas lilit tambang Joan-ang Cu-so di pinggangnya, ia pun masuki kedua tangannya ke dalam saku.

Dua Saudara Phang maju menyerang, ruyung besi mereka turun menyambar ke arah kepala si nona. Dia ini benar-benar diam saja, tidak menangkis atau berkelit. Ketika kedua ruyung hampir mengenai kepala orang, dengan tiba-tiba Put Po dan Put Cui tahan turunnya lebih jauh. Mereka pernah terdidik, maka mereka tidak mau sembarang lukai orang.

"Keluarkan senjatamu!" Put Cui kata.

“Tidak usah," jawab Tek Siu sambil tertawa, "Kamu boleh serang aku, tidak nanti kakiku berkisar meski setengah dim, tidak nanti aku tarik keluar tanganku dari saku, asal aku berbuat demikian, anggap saja aku kalah. Kamu akur atau tidak?"

"Jikalau kami kesalahan turun tangan hingga kau jadi terluka, jangan kau penasaran," Put Po bilang. Masih Tek Siu tertawa.

"Jangan omong saja, bocah-bocah." katanya.

Mukanya Put Po menjadi merah, maka tiba-tiba saja ruyungnya melayang dengan gerakan "Keng-tek-gie-kah" atau "Ouw-tie Kiong Meloloskan Jubah Perang."

Tek Siu berkelit tanpa ia geser kakinya, maka serangan lewat di tempat kosong.

Di sebelah itu Put Cui yang jadi sengit, lantas hajar pundak orang, ia jadi panas hati mengingat dua kali ia kena dibikin malu. Tek Siu tetap tidak angkat kakinya, ia cuma berkelit saja, dan ketika dua saudara itu serbu dia saling ganti, tubuhnya kelihatan bergoyang-goyang, tinggi dan rendah, keempat penjuru. Malah ia masih bisa kasih dengar tertawanya. Orang banyak menjadi kagum, mereka saling mengawasi. Entah ilmu silat apa yang nona ini pertunjuki, sebab sekalipun ujung bajunya tidak dapat terbentur ruyung, itu bukanlah pelajaran dari Hoa San Pay.

Dua Saudara Phang jadi kewalahan, tapi mereka penasaran, maka akhirnya dengan satu tanda seruan, dua-duanya menyerang ke bawah. Mereka pikir biar bagaimana tangguh kuda-kuda si nona, dia toh mesti rubuh atau dia mesti angkat kedua kakinya.

"Hati-hati kamu!" seru Tek Siu sambil tertawa, tubuhnya lantas bergerak mendahului ke kiri dan ke kanan, kedua sikunya masing-masing membentur tubuh Put Po dan Put Cu, hingga mereka ini merasakan sakit, tanpa merasa, mereka lepaskan ruyungnya masing­masing, tubuh mereka terhuyung-huyung.

Dalam herannya Phang Lian Tek berseru, "Bwee Sutee, wanita ini aneh, biar aku mencoba-coba." Bwee Kiam Hoo manggut. Lian Tek lantas lompat maju, "Mari aku belajar kenal!" katanya.

Tek Siu lihat tindakan kaki yang antap itu, ia tahu dia ini berkepandaian tinggi, akan tetapi ia tetap masih tertawa, hingga kelihatan lesungnya yang manis. Hanya diam-diam saja ia waspada, "Jikalau aku tidak sanggup melayani, harap kau tidak tertawakan aku!" dia minta.

"Baik!" jawab Lian Tek. "Kau mulailah." Ia geraki kedua tangannya, lantas ia rangkap itu.

Tek Siu rangkap kedua tangannya, untuk membalas hormat. Gerakan Lian Tek ada "Phe-giok-kun" atau "Kepala Memecahkan Batu Kumala", selagi ia bergerak, anginnya menyambar, tetapi balasan Tek Siu telah menolak mundur anginnya itu, hingga ia jadi kagum.

"Bagus!" katanya di dalam hati.

Di saat Pat-bin Wie-hong hendak mulai dengan serangannya, tiba-tiba mereka dengar suara berisik di tengah gunung, terdengar teriakan-teriakan, rupanya dari orang yang sedang berkelahi atau saling kejar. Saking heran, ia merandek, matanya mengawasi si nona.

Tek Siu tertawa.

"Apa kau curigai aku membawa kawan?" kata si nona sambil tertawa, "Mari kita lihat dulu, sebentar baru kita mulai bertanding. Tidakkah baik begitu?"

Lian Tek tidak lantas menjawab, ia hanya berpaling ke arah dari mana suara itu datang. Suara itu terdengar semakin dekat. Malah di antaranya ada suara orang perempuan, yang gusar dan mencaci.

"Baik," katanya kemudian seraya manggut.

Semua orang lantas memburu, untuk bisa melihat dari dekat.

"Seorang wanita dengan pakaian serba merah, lagi berlari-lari mendaki, di belakangnya mengejar empat orang lelaki dengan tubuh mereka besar-besar, semuanya dengan mencekal senjata. Wanita itu dapat lihat ada orang di atas gunung, dia lari semakin keras. Malah segera ia lihat tubuh besar dari Phang Lian Tek.

"Pat-bin Wie-hong tolongi aku!" dia berteriak.

Phang Lian Tek terkejut, ia mengawasi.

"Ha, itu toh Ang Nio Cu!" serunya.

Sebentar saja, wanita yang dipanggil Ang Nio Cu itu sudah sampai di antara Phang Lian Tek. Nyata dia telah bermandikan darah dan letih bukan main. Barusan ia telah habiskan setakar tenaganya, maka begitu ia sampai terus saja ia rubuh, dengan pingsan juga.

Empat orang itu juga sudah lantas sampai, mereka tidak perdulikan orang banyak, mereka lari terus pada Ang Nio Cu itu, yang rupanya mereka hendak bekuk.

Phang Lian Tek lantas majukan tangannya yang kiri untuk cegah majunya orang yang paling terdepan.

Orang itu menjaga dengan tangan kanannya, ketika kedua tangan bentrok, terdengar suara beradunya yang keras sesudah mana keduanya mundur sendirinya tanpa merasa. Maka itu, mereka saling mengawasi dengan hati heran. Sebab mereka masing-masing merasakan ketangguhan orang.

Lantas orang ini kata, dengan suara membentak, "Kami datang kemari atas titah Song Kunsu dari markas Giam Ong, untuk tawan ini Ang Nio Cu, istri pengkhianat Lie Gam! Kenapa kau berani menghalangi kami?"

Begitu dengar orang sebut nama Lie Gam, ada saudara angkat gurunya, maka tanpa tunggu jawabannya Lian Tek, ia maju ke depan.

"Lie Gam itu ada satu enghiong, di kolong langit ini, siapakah tidak kenal dia?" katanya sembari tertawa. "Aku minta Tuan suka memandang kepada siauwmoay, harap dia tidak dibikin susah."

Orang itu bersikap sangat jumawa, rupanya ia andali sangat ilmu silatnya, sama sekali ia tidak pandang mata pada si Nona Ho. Ia titahkan tiga kawannya pergi ringkus si Ang Nio Cu, si Nona Baju Merah.

"Baik!" kata Tek Siu. "Nyata kamu sudah tidak inginkan jiwamu!"

Dengan tangan kanannya, ia meraba ke pinggangnya di mana ada tersimpan paku rahasia beracun, "Hum-see-shia-eng", atau "Menggenggam Pasir, Memanah Bayangan". Begitu ia menekan pesawatnya, senjata rahasia itu lantas menyerang.

Orang yang maju di muka segera terserang jitu, mukanya tertancap tujuh atau delapan batang paku berbisa, tanpa menjerit lagi, dia rubuh, jiwanya lantas melayang.

Tiga orang lainnya menjadi sangat kaget, hingga mereka melongo, wajah mereka berubah.

"Siapa kau?" tanya mereka berubah.

Sampai sebegitu jauh, Ho Tek Siu terus sembunyikan tangan kirinya, di dalam tangan bajunya yang panjang malah ketika tadi ia layani dua Saudara Phang, ia tidak pernah perlihatkan itu, tetapi sekarang atas teguran orang, dengan lantas ia kibaskan tangan bajunya, ia kasih lihat tangannya yang merasakan gaetan itu.

Bukan main kagetnya tiga orang itu, apa pula yang menjadi kepala.

"Kau... kau.., Ho Kauwcu dari Ngo Tok Kauw...?" katanya, menegasi.

Ho Tiat Chiu bersenyum, ia lantas mengibas dengan tangan kanan, hingga ia perlihatkan gaetan emasnya.

Melihat itu, tanpa bilang suatu apa lagi, tiga orang itu putar tubuh mereka, untuk segera lari turun gunung, sampai tak mau mereka memondong pergi mayat kawan mereka, itulah menyatakan semangat mereka seperti sudah terbang. Malah satu orang lagi dia terpeleset dan rubuh, tubuhnya bergelindingan.

Bwee Kiam Hoo semua heran kenapa tiga orang itu yang tadinya demikian garang, takut kepada si nona asing sampai sedemikian rupa. Cuma Phang Lian Tek dan Bwee Kiam Hoo yang pernah dengar nama besar kaum Ngo Tok Kauw.

Dua saudara ini lantas mencoba memimpin bangun Ang Nio Cu dengan niat minta keterangan kenapa dia dikepung empat orang itu. Tapi belum sampai mereka menanya mereka dapat dengar satu suara yang nyaring sekali.

"Hai, tiga manusia tidak punya guna! Pergi kamu semua!"

Suara nyaring itu seperti suara mendengungnya lonceng kuil, yang berkumandang di tengah lembah, dan orang yang mengeluarkannya ada satu imam jangkung sekali yang tubuhnya kurus dia perdengarkan suaranya itu sambil memandang kepada tiga orang yang kabur tadi.

Tiga orang itu dengar suara nyaring itu, mereka berhenti lari, apabila mereka lihat si imam, nampaknya mereka menjadi girang, maka bukannya mereka lari terus, sebaliknya mereka mendaki lagi, untuk menghampirkan. Semua orang serombongan Bwee Kiam Hoo mengawasi imam itu, jubah siapa mewah sekali, bukan terbuat dari sutera bukan juga dari cita biasa. Dan kopiahnya telah ditabur dengan sepotong batu pualam yang indah tanpa bandingannya, sinarnya menyorot ke empat penjuru.

Imam ini menggendol sebatang pedang panjang di bebokongnya. Dia mempunyai sepasang alis panjang yang hampir menyambung sama rambut di pelipisnya, romannya suci dan agung, usianya kira-kira lima puluh tahun.

Phang Lian Tek lantas maju untuk memberi hormat.

"Totiang," katanya, "Maukah Totiang perkenalkan gelaranmu yang mulia kepada kami? Adakah Totiang menjadi sahabat dari couwsu kami?"

Imam itu tidak menjawab, ia kibaskan tangannya yang kanan di mana ia cekal sebatang hudtim, kebutan suci, kemudian ia awasi semua orang. "Kamu berkumpul di sini, apa kamu sedang bikin?" dia tanya.

"Couwcu kami mengumpulkan semua murid untuk berapat," Lian Tek jawab.

"Ha apakah Bok Jin Ceng sudah datang?" tanya si imam.

Lian Tek dengar orang sebut langsung nama couw-sunya ia mau percaya benar dugaan bahwa imam jangkung kurus ini ada sahabat kekal dari couwsunya, karena itu, tidak berani dia berlaku ayal.

"Couwsu masih belum tiba," sahutnya dengan lebih hormat.

Imam itu tersenyum, terus ia berpaling sambil menunjuk Sun Tiong Kun, Tek Siu dan A Kiu bertiga.
Thanks for reading PEDANG ULAR MAS 41

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar