Home » » PEDANG ULAR MAS 40

PEDANG ULAR MAS 40

Jilid 40

"Fui, kau menjual orang!" Ngo yaya itu bentak pula, "Mana ada mustika! Ayahmu yang sudah mampus menjadi setan telah perdayakan kami, sekarang kau kembali hendak main gila pula!"

Ceng Ceng tidak menyahuti, hanya sambil tunduk, ia keluarkan dari sakunya sepasang kumala yang disulamkan kepada sepotong ikat pinggang sutera, itulah kumala model kupu-kupu yang dapat dari satu di antara sepuluh peti harta karun. Karena kupu-kupu itu indah ukirannya dan mungil, ia sengaja ambil untuk disimpan.

Setelah keluarkan kupu-kupu kumala itu, hingga dapat dilihat keempat yaya itu, mendadak ia berbangkit untuk berdiri tegak untuk kata juga secara menantang, "Terserah kepada kamu, suratku ini hendak kamu sampaikan kepada alamatnya atau tidak! Sekarang kamu bunuhlah aku."

Di antaranya suaranya itu, kumalanya itu jatuh ke tanah sambil menerbitkan suara, ia lantas membungkuk untuk memungutnya, akan tetapi Oen Beng Go telah dahulu ia menyambar.

Merah matanya keempat yaya itu sesudah mereka lihat tegas itu kumala kupu-kupu. Mereka ada penjahat-penjahat dari puluhan tahun, cara bagaimana mereka tidak kenal mustika berharga. Maka itu goncanglah hati mereka semua.

"Dari mana kau peroleh ini?" akhirnya mereka tanya.

Ceng Ceng tetap membisu.

"Kau kasih tahu pada kami, mungkin kami akan selamatkan jiwamu." Beng San lantas membujuk.

"ltulah satu di antara barang-barang mustika yang aku maksudkan," sahut Ceng Ceng dengan roman terpaksa, "Bersama-sama Wan Toako itu, setelah kami pahamkan pengunjukan petanya, aku telah berhasil mendapat tempat mustika disimpan dan membongkarnya. Sama sekali ada sepuluh peti, yang memuat pelbagai batu permata dan uang. Adalah sukar untuk bawa itu semua, maka aku ambil ini sepasang kupu-kupu. Sekarang kita hendak pergi pula untuk ambil semua peti itu...."

Kembali ia menangis.

Keempat yaya itu jauhkan diri mereka untuk berdamai. Mereka tidak takut si nona nanti kabur, sebab di tempat sepi seperti itu dengan gampang mereka dapat mengejarnya.

"Nyatalah sekarang benar halnya mustika simpanan itu," kata Oen Beng San.

"Baik, kita paksa dia antar kita, untuk kita yang ambil," Beng Gie usulkan.

Tiga saudara itu manggut.

"Lebih dahulu kita dustakan dia bahwa kita akan memberi keampunan," Beng San utarakan tipu dayanya, "Kalau nanti mustika sudah ada di dalam tangan kita, baru kita hukum dia!"

Tiga saudara itu setuju.

"Aku ada punya satu cara gampang," kata Beng Gie. "Lebih dahulu kita ambil mustikanya, setelah itu kacung hina dina ini kita belesaki ke dalam lubang bongkaran itu, untuk diuruk pula, maka kalau nanti si binatang she Wan itu datang menggali, dia bakal gali hanya mustika hidupnya ini! Tidakkah itu bagus?"

Tiga saudara itu tertawa berkakakkan.

"Bagus pikiran Ngo-tee!" kata mereka, yang puji adik bungsu itu.

Mereka itu girang karena sudah dapatkan Ceng Ceng di luar dugaan, mereka juga bakal dapat harta karun. Mereka hampirkan Ceng Ceng, untuk didesak akan antar mereka ke tempat simpanan mustika dengan si nona dijanjikan jiwanya akan dikasih tinggal hidup....

Ceng Ceng sedang bersandiwara, ia menampik akan antari semua yaya itu, adalah setelah dibujuk pulang pergi dan diancam juga, baru ia mau sebutkan, tempat simpan harta karun itu adalah di puncak gunung Hoa San. Ia telah pikir, selagi empat yaya itu repot bongkar tanah ia mau cari ketika akan cari kuburan ayahnya, supaya bisa dikubur bersama dengan abu ibunya. Sesudah itu seperti rencananya, ia hendak bunuh diri.

Karena ia telah unjuk bukti dan alasan yang masuk di akal, empat tertua dari Cio Liang Pay itu percaya omongan nona ini.

Ketika dahulu Ngo Couw dapat bekuk Kim Coa Long kun, yang dibawanya ke Hoa San, mereka memang sudah dengar halnya harta karun itu dipendam di gunung tersebut, hanya itu waktu, kecuali Kim Coa Long kun bisa mengingat, mereka juga tidak peroleh suatu apa. Belakangan pun terjadi lelakonnya Thio Cun Kiu dan si pendeta yang dapat sergap Sin Cie dengan kesudahan mereka mati semua.

Perjalanan dilanjutkan dengan segera, dengan cepat luar biasa, malah hari itu, mereka tidak singgah lagi. Sebabnya dari perjalanan cepat luar biasa ini karena kekhawatirannya keempat yaya itu nanti Sin Cie dapat susul mereka, karena mereka mengerti, asal mereka kesusul si anak muda, usaha mereka bisa gagal, jiwa mereka sendiri bisa hilang. Maka bukan main lelahnya mereka berempat ketika itu sore mereka sampai di tapal batas propinsi Shoasay. Lantas saja mereka cari hotel di mana paling dahulu mereka minta disajikan barang hidangan.

Beng Gie ada orang yang paling sembrono di antara keempat saudaranya itu pun paling kuat daharnya maka dialah yang berteriak-teriak minta arak, sayur, dan mie.

Jongos telah bekerja sebat untuk layani tetamu-tetamunya ini.

Seperti biasanya, begitu lekas barang makanan sudah diatur di atas meja, Beng Gie lantas mendahului saudara-saudaranya, daharnya sangat bernapsu.

Ceng Ceng diperkenankan duduk dahar bersama, di saat nona ini dan Beng Tat bertiga angkat sumpit serupa benda, melihat mana, dia kaget tidak terkira, sampai tubuhnya berdiri tegak bagaikan patung, lantas rubuh.

Beng Tat bersama dua saudaranya, juga Ceng Ceng kaget bukan main. Benda yang dijepit sumpitnya Beng Gie itu adalah seekor kawa-kawa yang hitam dan besar. Tiga saudara itu juga heran ketika mereka dapati Beng Gie masih saja berdiam, maka Beng Tat lantas mendekati untuk raba tubuhnya.

Engko ini kaget sekali, apabila ia telah kena raba tubuh yang lantas mulai jadi dingin, sedang napas di hidungnya adik itu pun sudah berhenti berjalan. Dia kaget berbareng gusar sekali.

Dalam murkanya Beng San hampirkan kuasa restoran untuk dijambak, rubuh kuasa ini demikian keras, hingga tulang betisnya orang ini patah, hingga si kuasa pingsan.

Beng San tunggu sampai orang sadar sendirinya, ia jambak dada orang, di lain pihak dia jepit bangkai kawa-kawa dengan sumpitnya untuk di antar ke depan muka kuasa itu.

"Kau bernyali sangat besar! Kau berani racuni kita! Apakah ini?" dia tanya dengan bengis.

Kuasa itu kaget dan takut bukan main.

"Rumah makan kami sudah dibuka selama tujuh puluh tahun..." katanya dengan tubuh bergemetar dan suara tidak lancar, "Kita juga selalu jaga kebersihan dapur kita.... Heran entah darimana datangnya ini binatang...."

Beng San samber pipi orang, sekali ia memencet, terpentanglah mulut si kuasa restoran itu, menyusul mana, bangkai kawa-kawa dimasuki ke dalam mulutnya, dijejali, hingga bangkai itu kena tertelan.

Boleh dibilang dalam sekejap saja, kuasa restoran itu rubuh binasa, kulit di seluruh tubuhnya berubah menjadi hitam.

Karena ini, kacaulah keadaan di rumah makan itu.

Beng Tat takut Ceng Ceng lari, ia sambar nona ini, untuk diseret keluar, begitu lekas dia kempit tubuhnya Beng Gie.

Beng San dan Beng Go jadi seperti kalap, mereka keluarkan senjata mereka dengan apa mereka menyerang kalang kabutan, akan obrak-abrik rumah makan itu, di mana ada beberapa jongos dan tetamu lainnya hingga sama sekali rubuh tujuh atau delapan korban. Kemudian sesudah melepas api akan bakar rumah penginapan berikut rumah makan itu, baru mereka angkat kaki.

Tidak ada orang lainnya yang berani maju mencegah.

Beng Tat pergi jauh juga, baru ia turunkan mayat adiknya buat bersama dua saudaranya menggali lubang, akan kubur secara sembarangan pada saudara itu. Kemudian mereka singgah di sebuah kuil tua.

Tiga saudara itu gusar dan berduka dengan berbareng. Mereka menduga pada kejahatan kaum Ngo Tok Kauw, karena tidak bisa jadi orang hotel berbuat demikian jahat.

Ceng Ceng tahu lihaynya pihak Ngo Tok Kauw, ia juga menduga pada kaum agama yang memuja bisa itu.

"Pasti ini ada perbuatan Ho Ang Yo, si pengemis tua," terkanya, "Rupanya dia telah bayangi kita...." Karena kejadian hebat itu, ketika di lain harinya mereka mampir di rumah makan, untuk bersantap, Beng Tat suruh jongos cobai dulu semua barang makanan yang disajikan, sesudah didapat kenyataan, barang hidangan itu tidak ada racunnya, baru mereka dahar.

Beberapa hari selanjutnya, perjalanan dilanjuti tanpa kejadian sesuatu, hingga hatinya tiga saudara Oen itu menjadi sedikit lega, mereka melainkan tetap waspada.

Pada suatu malam di rumah penginapan, mendadak terdengar suara berisik di istal, jongos berteriak-teriak ada pencuri kuda.

Beng Go kaget, ia pun gusar, sebab itulah kudanya yang diganggu, ia lantas pergi ke belakang, untuk memeriksa. Baru saja ia sampai di depan istal, mendadak ia dengar suara siur-siur dari tempat gelap di sampingnya. Dengan sebal ia berkelit. Tapi itulah semprotan barang cair, karenanya tidak dapat ia hindarkan diri, terutama mukanya yang kena tersemprot. Dengan lantas ia dapat cium bau amis, ia lantas menduga jelek. Karena ia lihay, sebab ia tidak rubuh seketika, ia masih sempat cabut ruyungnya, ia menyerang ke arah si pencuri kuda. Ia bisa mendengar tegas hingga ia tahu ke mana ia mesti arahkan senjatanya, ia pun merasa bagaimana ia telah menyerang dengan jitu dan dengar suara senjatanya mengenai tubuh musuh, yang bebokongnya kena terhajar hingga tulangnya patah.

"Ha, tua bangka kau masih galak!" demikian satu bentakan yang dibarengi dengan satu bacokan.

Masih sempat Beng Go menyerang pula. Lebih dahulu ia menangkis, hingga ia dapat lilit kampaknya si penyerang, sesudah mana, ia membetot dengan keras. Musuh tidak dapat pertahankan diri, dia terbetot keras, sampai tubuhnya terlempar, tepat mengenai tembok, hingga kepalanya pecah dengan kepala hancur, tubuhnya terus rubuh binasa!

Beng Tat dan Beng San menduga pada orang-orang jahat tidak berarti, mereka percaya, Beng Go seorang cukup untuk hajar si pencuri kuda, baru mereka kaget ketika mereka dengar saudara itu berkaok-kaok, hingga mereka lompat memburu.

Beng Go kedapatan sedang menggaruk-garuk mukanya, masih saja ia perdengarkan suaranya, sampai Beng Tat lompat untuk peluk tubuhnya.

"Kau kenapa?" tanya ini kanda sulung.

Beng San sendiri segera lompat keluar, untuk cari musuh, akan tetapi sia-sia saja, ia tak dapatkan siapa juga. Maka ia lantas kembali ia kaget kapan ia dapat si kandanya peluki adiknya sambil kanda itu menangis menggerung-gerung.

Nyatalah, dalam waktu yang pendek sekali, setelah dia berhenti menggaruki mukanya, Beng Go telah berhenti bernapas, mukanya telah jadi tidak karuan, terutama bekas digaruk pulang pergi tak hentinya. Karena ia telah terkena semprotan bisa, yang pertama membuat ia merasa gatal, hingga ia tak tahan akan tak menggaruki mukanya, sedang matanya terus tidak dapat dibuka lagi.

"Ketika duapuluh tahun dahulu Kim Coa Long-kun minggat dari tangan kita," katanya Beng Tat sambil menangis, "Dia sudah terputuskan urat-uratnya, dia telah jadi satu manusia bercacad, maka itu waktu, aku menyangka dia telah ditolongi orang-orang Ngo Tok Kauw...."

"Kau benar," Beng San bilang, "Teranglah sudah, Ngo Tok Kauw telah memusuhkan kami, secara diam-diam. Kita telah diundang Co Hoa Sun untuk bekerja sama-sama, walaupun usaha kita bermusuh satu pada lain, maka itu kenapa Ngo Tok Kauw seterukan kami. Nyata Ngo Tok Kauw ada di pihak Kim Coa Lon kun.

Oen Beng Tat berpikir sebentar, lantas berjingkrak.

"ltulah mungkin," katanya. "Kim Coa Long-kun punya bisa yang lihay, pasti dia punyakan perhubungan dengan Ngo Tok Kauw."

Dua saudara ini jadi ingat benar ketika dulu Kim Coa Long-kun datang mengacau di Cio-liang untuk menuntut balas. Karena ini diam-diam hati mereka gentar.

Tanpa banyak omong lagi, mereka rawat mayat Oen Beng Go untuk dikubur, sesudah mana mereka ambil putusan untuk berangkat terus ke Hoa San, guna cari dan bongkar harta karun, sesudah itu mereka hendak berdaya mencari balas. Tetap mereka khawatir nanti diakali, maka itu baik di waktu beristirahat, terutama di waktu dahar, mereka berlaku sangat hati-hati. Di waktu malam, mereka sampai takut untuk mondok di hotel.

Pada suatu hari, Beng Tat dan Beng San ajak Ceng Ceng berhenti di sebuah kuil tua di tengah perjalanan. Beng Tat, meskipun sudah tua, tenaganya tetap besar, maka dengan gampang ia angkat dua potong batu penggilingan yang berat, untuk dipakai menggalang pintu depan dan pintu belakang, supaya tidak ada orang yang bisa dobrak pintu itu di luar tahu mereka. Secara demikian baru mereka dapat tidur dengan hati tentram.

Tepat tengah malam, ada terdengar suara berkelisik. Sebagai ahli-ahli ilmu silat, atau orang-orang Kang-ouw ulung, terang kupingnya dua saudara Oen ini. Mereka mendusin dengan lantas.

Mulanya terdengar suara seperti suara tikus, mereka tidak perhatikan maka mereka tidur pula.

Oen Beng San sudah tidur pula sayup-sayup tatkala ia dapat cium bau harum, hingga ia merasakan hatinya, dirinya lega benar, hingga ia merasa sangat gembira, lantas seperti lagi melayang-layang, bagaikan ia berada di atas sorga. Tidak lama dari itu, hatinya goncang dengan tiba-tiba hingga ia mendusin sambil terus lompat bangun dengan berjingkrak.

Oen Beng Tat juga lantas bangun, tapi ia berotak sangat cerdas, masih ia ingat Ceng Cehg, tangan kiri siapa ia tarik. Maka di lain saat, keduanya sudah berada di samping meja. Dari sini di antara sedikit sinar terang, mereka lihat Oen Beng San sedang bersilat dengan tongkatnya yang lihay, sampai dia kena hajar patung Buddha sampai patung itu patah dan rubuh, suara hajaran dan rubuhnya keras sekali. Serubuhnya patung itu, dari belakang patung muncul dua bocah yang mengenakan pakaian serba kuning. Bocah yang satu yang bersenjatakan golok dengan berani terjang Beng San. Bocah yang lain memegang sebatang pipa sumpitan, dia bersedia akan sumpit atau semprot jago she Oen itu.

Menampak demikian, Toa-yaya tidak ayal lagi dengan panah di tangannya, maka kapan senjata rahasia itu sudah melesat, kedua bocah baju kuning itu rubuh saling susul jiwa mereka terbang melayang.

Meski sudah tidak ada musuh, Oen Beng San masih terus berkelahi.

"Sam-tee, musuh sudah tidak ada," Beng Tat teriaki adik itu.

Beng San seperti tidak gubris pemberitahuan itu, ia terus saja bersilat, malah gerak­gerakannya makin hebat. Rupanya ia telah terkena pengaruh hebat dari bau harum tadi. "Celaka!" pikir Beng Tat yang dari heran menjadi kaget, hingga ia bercuriga, ia lantas lompat maju, dengan niat rampas tongkat adik itu, akan tetapi Sam-yaya putar tongkatnya sangat cepat dan rapat, hingga ia tidak sanggup merapatinya.

Selagi bersilat terus, mendadak yang ketiga dari Ngo Couw berteriak keras sendirinya, tanpa sebabnya habis mana, ujung tongkatnya diarahkan kepada dadanya sendiri, hingga ia terserang sangat hebat, berbareng sama memuntahkan darah hidup, ia rubuh terguling, terus saja tubuhnya menjadi kaku.

BengTat kaget tidak kepalang, tidak terkecuali Ceng Ceng, ia telah saksikan ketiga yayanya binasa secara hebat, terbinasa oleh pihak Ngo Tok Kauw. Tidak lagi ia mempunyai rasa simpati kepada semua yayanya itu, toh sekarang ia merasa terharu juga, tanpa merasa ia berlinangkan air mata.

Beng Tat sampai tidak sanggup berkata-kata lagi, dengan tenang ia pondong tubuh adiknya untuk dibawa keluar, akan digalikan lubang, buat dipendam secara demikian saja. Dia ada seorang yang hatinya paling keras, bagaikan baja, maka itu meski ia beri hormat penghabisan kepada adiknya itu, tidak ia menangis.

"Mari kita berangkat!" kata dia pada Ceng Ceng.

Kendati juga yayanya tinggal seorang, Ceng Ceng masih jeri, dengan terpaksa ia mengikut, akan lakukan perjalanan di malam yang gelap petang itu, sebelum mereka kenyang tidur.

Kali ini Oen Beng Tat berlaku luar biasa waspada.

Pada suatu hari semasuknya dalam wilayah Siamsay, Oen Beng Tat lihat satu bocah dengan pakaian serba merah menghampirkan dia sampai dekat sekali. Mungkin dia ingat bocah-bocah serba kuning, ia jadi curiga, malah tanpa bilang suatu apa, dengan mendadak saja ia menyerang.

Tidak ampun lagi, bocah itu pecah batok kepalanya, tubuhnya rubuh binasa dalam sekejap.

Ceng Ceng kaget, ia ngeri tetapi terus ia bungkam, ia jeri akan saksikan roman bermuram durja dari yaya itu yang wajahnya menjadi gelap dan bengis.

Sementara itu orang sekarang mulai menuju ke kaki bukit Hoa San, sebagaimana gunungnya sudah tertampak dari kejauhan. Mereka sudah jalan setengah harian, maka keduanya merasa sangat berdahaga, Karena ini, mereka singgah di sebuah paseban, untuk minum air, sedang kuda mereka dilepas untuk beristirahat. Sebentar kemudian, Oen Beng Tat dihampirkan oleh seorang tani yang berlidah Siamsay, sebagaimana terdengarnya itu ketika dia menanya, "Apakah aku bicara sama Oen Loya­cu?"

Beng Tat berbangkit, "Apa kau mau?" tanyanya dengan bengis.

"Tadi ada orang upahkan aku dua rencengan uang, aku diminta sampaikan surat untukmu," sahut petani itu.

"Mana dia orang itu?"

"Dia sudah pergi lama, dia menunggang kuda."

"Coba sambuti suratnya!" Beng Tat perintah Ceng Ceng, ia ada sangat licin, hingga ia tidak mau terima sendiri surat itu, Ceng Ceng sambuti surat itu yang tertutup dalam sampul, rupanya seperti surat biasa, tidak ada yang mencurigakan.

Baru setelah itu, jago tua ini berani menerima itu dari tangan si nona. Sama sekali surat itu ada tiga. Yang pertama memuat tulisan: "Oen Loo-toa, saat kematianmu sudah sampai." Panas hatinya Beng Tat, hingga ia jadi sangat gusar ia mau lihat surat yang kedua, tapi surat ini terlepit, sukar dibuka lepitannya, akan tetapi ia telah jadi tidak sabaran, maka ia tempel jari tangannya ke mulut, ia basahkan surat dengan air ludahnya. Baru sekarang surat itu dapat dibuka. Bunyinya:

"Jikalau kau tidak percaya bacalah surat yang ketiga." Meluap hawa amarahnya jago tua ini. Surat yang ketiga juga tertutup rapat, untuk dapat membukanya Beng Tat mesti bawa pula jari tangannya ke dalam mulutnya, untuk basahi itu dengan air ludah di lidahnya, maka setelah kena dibasahkan, barulah surat ketiga itu dapat dibuka, untuk dibaca. Akan tetapi kali ini, surat itu tidak ada huruf-hurufnya. Apa yang terlihat lukisan gambarnya seekor kelabang besar serta gambarnya satu tengkorak manusia.

Dalam murkanya, karena sangat mendongkol Beng Tat lemparkan surat itu ke tanah. Boleh dibilang hampir berbareng dengan itu ketua dari Cio Liang Pay rasai sedikit sakit atau perih pada jari telunjuk dari tangannya yang kanan dan ujung lidahnya. Segera ia ingat suatu apa, mendadak saja ia rasakan tubuhnya panas dingin. "Aku telah terpedaya!" pikirnya, kagetnya bukan kepalang, ia merasa pasti sudah jadi korban kelihayan musuh.

Surat-surat itu rupanya sengaja ditempel, supaya jadi sukar untuk buka lepitannya, supaya kalau toh mesti dibuka, ada diperlukan air untuk membasahkannya. Air untuk membuka surat, yang paling gampang ialah air ludah. Lebih dahulu daripada itu, mestinya racun telah dikenakan kepada surat bagian yang ditempel lekat itu, supaya dengan menggunai ludah, orang akan keracunan tanpa merasa.

Ini adalah satu di antara tiga puluh enam tipu daya dari kaum Ngo Tok Kauw. Dahulu Kim Coa Long-kun dapat pelajari ini dari Ho Ang Yo maka ia bisa kenakan racun itu pada "Kim Co Pit Kip-nya" yang palsu, hingga Thio Cun Kiu rubuh sebagai korban, Beng Tat teliti dan waspada, tetapi ia tidak ingat sampai begitu jauh. Maka sekarang ia telah menjadi korban.

Begitu ia insyaf, ketua dari Cio Liang Pay lantas ingat si petani. Kapan ia angkat kepalanya, ia tampak orang sudah jalan pergi beberapa puluh tindak. Dalam gusarnya, ia lompat untuk mengejar. Baru ia sampai di luar paseban, ia rasai kepalanya sangat pusing, matanya berkunang-kunang, ia kuatkan hati tidak perduli kepalanya lantas terasakan sangat sakit, ia kerahkan tenaganya, ia menimpuk dengan panah tangannya.

Petani itu memang ada orang Ngo Tok Kauw yang sedang menyamar, ia sudah serahkan suratnya, ia percaya ia sudah berhasil, maka ia berlalu dengan tenang, ia menjerit dengan keras ketika tahu-tahu ia merasa bebokongnya tertancap panah tangan, terus tubuhnya rubuh, jiwanya melayang pergi.

Oen Beng Tat tertawa seram beberapa kali habis itu tubuhnya rubuh terjengkang, tidak sanggup dia pertahankan diri lagi.

"Toa-yaya, kau kenapa?" tanya Ceng Ceng dengan kaget.

Nona ini masih belum tahu, suatu apa, ia tidak menyangka jelek. Malah ia hampiri yaya itu sambil membungkuk ia hendak melihat muka orang.

Mendadak Beng Tat geraki tangan kirinya, menyusul itu, tombaknya melesat nyambar.

Ceng Ceng kaget bukan main. Mana dapat ia berkelit lagi? Jarak mereka berdua ada terlalu dekat. Ia cuma lihat berkelebatnya satu cahaya putih perak, menuju ke arah dadanya.

Di saat nona ini tutup kedua matanya, untuk terima binasa, mendadak ia dengar suara barang keras beradu, menyusul rasa sakit pada belakang kakinya. Kapan ia buka kedua matanya, ia dapatkan tombak pendek terletak di dekat kakinya. Adalah tombak itu yang membuat ia merasa sakit, sekarang ia ingin tahu siapa-siapa sudah tolongi padanya, pada waktu ia berbalik mendadak ia rasakan bebokongnya terpegang keras, sampai ia tak dapat berbalik. Selagi ia heran dan bingung, tahu-tahu kedua tangannya telah ditelikung ke belakang, diikat dengan keras. Adalah sesudah ia tidak berdaya baru bisa menoleh. Tapi kapan ia kenali siapa yang tawan padanya ia kaget melebihi waktu ia ditangkap keempat yayanya.

Orang itu adalah Ho Ang Yo dari Ngo Tok Kauw, si uwa beroman jelek dan bengis yang menyeramkan.

Ceng Ceng merasa, di tangan perempuan tua ini, ia bakalan tinggal dunia dalam cara lebih hebat lagi....

Ho Ang Yo tapinya tertawa pada nona ini, tertawa dingin sekali, "Kau inginkan kematian cara apa?" si uwa tanya, "Kau pilih mati dengan satu kali bacok? Atau kau inginkan dipaguti seribu ekor ular selama tujuh kali tujuh menjadi empat puluh sembilan hari, sesudah mana baru kau mati...?"

Ceng Ceng bergidik, ia meramkan mata, ia tidak menyahut.

"Kau antar aku mencari ayahmu yang tidak berbudi itu!" kata pula si uwa. "Dengan antari aku, aku akan bikin kau tidak sampai tersiksa...."

Ceng Ceng segera berpikir.

"Memangnya aku hendak cari tulang-tulang ayah. Baik aku antar padanya. Sampai di sana, aku mau lihat, apa dia bisa bikin...."

Maka ia menyahut dengan gagah.

"Aku juga hendak tengok ayahku, mari kita pergi bersama!"

Ho Ang Yo curiga orang terima tawarannya demikian gampang. Tapi Kim Coa Long-kun telah jadi seorang bercacat, tidak perduli ilmu silatnya bagaimana lihay, ia toh tidak usah takut, begitu ia piker.

"Baik, mari kau antar aku," katanya sambil tertawa.

"Kau merdekakan dulu aku, supaya aku bisa kubur mayat toa-yaya," Ceng Ceng minta.

"Merdekakan kau? Hm."

Dia jemput tombak pendek dari Oen Beng Tat, seorang diri terus dia menggali lubang di tepi jalanan, sesudah dia buatkan satu lubang cukup besar, dia gusur tubuhnya Beng Tat, juga tubuh orangnya sendiri untuk dilempar ke dalam lubang itu, yang dia lantas uruki sekedarnya.

Sembari nguruk, uwa itu ngoceh seorang diri. "Meski juga ayahmu ada satu telur busuk, tidak nanti aku antapkan dia diperhina orang lain. Empat tua bangka ini adalah yang membikin ayahmu mati tidak, hidup pun tidak. Sudah sekian lama aku hendak mencari balas kepada mereka. Mengapa kau panggil dia yaya?"

Ceng Ceng tidak mau menjawab, ia hanya jalan, mendaki gunung.

Selama hari itu, dua orang ini cuma bisa jalan kira lima puluh lie, jalanan terus menanjak. Mereka berhenti di tengah gunung. Untuk dapat beristirahat supaya si nona tidak berdaya dan tidak dapat kabur, kecuali kedua tangannya ditelikung terus, Ho Ang Yo juga belenggu kedua kakinya. Untuk itu ia telah sediakan tali kulit.

Besoknya pagi, baru terang tanah, orang sudah berjalan pula. Makin tinggi, jalanan makin sukar hingga dari bertindak saja, orang perlu bantuan kedua tangan, untuk pegangan Ho Ang Yo sudah kehilangan tangan kirinya, tidak dapat ia bantu tarik Ceng Ceng sebab tangan kanannya dipakai jambret batu atau oyot, maka itu, terpaksa ia buka ikatan tangan si nona, ia suruh si nona jalan di depan ia sendiri di belakang, untuk sambil mengawasi.

Ceng Ceng belum pernah sampai di gunung Hoa San, maka itu si uwa yang berbalik mesti menunjuki ia jalanan.

Malam itu mereka tidur di cabang pohon di tepi jurang tapi Ceng Ceng tak dapat tidur dengan tenang, ia berpikir banyak, terutama pikiri nasibnya di tangan orang jahat ini. Saban-saban ia juga dengar pekik orang hutan.

Besoknya perjalanan dilanjuti. Adalah di hari ketiga baru sampailah mereka di puncak Hoa San, gunung kesohor di arah Barat.

Dari Sin Cie, Ceng Ceng pernah dengar penuturan perihal keadaan di tempat di mana ayahnya dikubur, sekarang ia perhatikan daerah gunung di sekitarnya ia merasa tepat sekali lukisannya si anak muda. Maka itu mulailah hatinya goncang, hingga sendirinya, ia jadi berduka, tidak dapat ia cegah mengalir keluar air matanya.

"Di mana dia sembunyi?" tanya Ho Ang Yo dengan bengis, ia tidak perdulikan orang sedang berduka sangat.

"Di sana," Ceng Ceng menunjuk kepada jurang, "Di sana ada sebuah gua, ayah di dalamnya...."

"Baik! Mari kita pergi bersama!" si uwa mengajak

Ceng Ceng bergidik waktu ia tampak wajah uwa itu. Roman dia ini nampaknya jadi lebih bengis dan menakuti.

Mereka mesti jalan mutar untuk sampai di jurang.

Mereka baru jalan beberapa puluh tindak ketika keduanya dengar suara tertawa yang datangnya dari arah suatu tikungan.

Ho Ang Yo tarik tangannya Ceng Ceng untuk diajak mendekam di antara rumput yang tinggi dan lebat, di sini lima jari tangannya yang berkuku lihay ditaruh dekat lehernya si nona.

"Jangan bersuara!" ia mengancam.

Tentu saja Ceng Ceng takut, sebab satu kali ia bersuara, tenggorokannya bakal kena tercengkeram sebelum ia sempat berdaya.

Segera kelihatan dua orang mendatangi. Yang satu ada imam tua, yang lain ada seorang tani dari usia pertengahan.

Ceng Ceng segera kenali Kwie-eng-cu, Bhok Siang Tojin serta Tong-pit Thie-shuipoa Oey Cin, masing-masing guru dan saudara seperguruan yang tertua dari Sin Cie, ia tahu mereka itu lihay tapi ia tidak berani menjerit untuk minta tolong, ia jeri untuk lima kuku beracun dari Ho Ang Yo.

"Suhu bakal sampai lagi beberapa hari!" terdengar suara Oey Cin yang berbicara sambil tertawa.

"Juga suteenya yang kecil bakal datang dalam lagi beberapa hari ini, maka itu waktu, Lotiang tidak usah khawatir nanti tidak ada lawanmu main catur."

Bhok Siang tertawa dengan nyaring.

"Jikalau bukannya karena ingin main catur, untuk apa aku datang kemari justru kamu kaum Hoa San Pay hendak berapat?" kata imam itu. "Apa untuk bantu meramaikan saja? Tidak!"

Mereka bicara sambil jalan terus, hingga mereka tinggalkan Ceng Ceng dan Ho Ang Yo.

Uwa itu tidak berani berkutik, ia insyaf lihaynya kaum Hoa San Pay, tidak mau ia nanti kepergok! Sesudah orang lewat jauh baru ia muncul pula. Untuk pergi ke gua, ia keluarkan dadungnya yang ujungnya ia ikat kepada sebuah pohon besar.

"Mari kita turun!" Dia ajak Ceng Ceng. Tubuh si nona bersama tubuhnya sendiri ia ikat bersama untuk bisa turun ke gua.

"Di sini!" kata Ceng Ceng, setelah ia lihat lubang gua.

Hatinya Ho Ang Yo goncang keras. Setelah dua-puluh tahun memikiri saja, tak sedetik juga ia melupakannya, maka sekarang ia dapat cari tempat sembunyinya orang yang ia cintai, yang kemudian ia anggap sudah sia-siakan padanya. Segera ia bakal bertemu sama orang yang dibuat pikiran itu. Ia berpikir keras, apa ia mesti siksa lelaki itu, untuk kemudian baru bikin dia binasa? Atau apa baik ia memberi ampun?

Kecuali berdebar hatinya, Ho Ang Yo pun bergemetar, tangannya dirasakan dingin. Dengan tangan kanan, ia mulai singkirkan batu-batu di mulut gua, setelah itu, ia suruh Ceng Ceng merayap di depan.

Tadinya mulut gua sempit, setelah Sin Cie babati dengan pedang mustika, jalanan itu jadi cukup lebar, leluasa untuk orang keluar masuk.

Ho Ang Yo mengikuti dengan hati-hati, ia siap sedia kalau-kalau Kim Coa Long-kun nanti terjaga ia secara diam-diam. Masih ia khawatirkan Jago Ular Emas itu.

Ceng Ceng memasuki gua dengan air matanya berlinang-linang, kemudian ia menangis sesenggukan.

Ketika mereka sampai di bagian yang gelap, Ho Ang Yo nyalakan api. Sebagai sumbu atau obor, ia sulut ujung dadungnya, ia suruh si nona pegangi itu untuk maju lebih jauh.

Ceng Ceng berkhawatir.

"Kalau dadung itu terbakar habis, cara bagaimana kita bisa keluar dari sini?" demikian pikirnya.

"Tidak heran kalau aku tidak kembali sebab di sini telah kumpul ayah dan ibuku. Tapi dia ini, apa dia juga tidak mau keluar pula?"

Nona ini tidak tahu, Ho Ang Yo juga sudah nekat, tidak mau ia keluar pula dengan masih hidup dari gua itu.

Jalan lagi sedikit jauh uwa ini mulai bercuriga, ia lihat tempat bukan seperti ditempati manusia. Mendadak ia jambak pundak si nona, "Hai, kau hendak main gila sama nyonyamu?" tegurnya. "Awas, aku nanti bikin kau mampus secara kecewa!"

Ceng Ceng cuma bisa berserah.

Jalan lagi sedikit, tiba-tiba ada angin dingin menyambar. Lalu di depan mereka berdiri sebuah kamar batu.

Ho Ang Yo angkat obor untuk awasi di sekitarnya, pada empat penjuru tembok ia tampak gambar-gambar peta dari ilmu silat ia pun segera dapat baca pemberian tahu yang Sin Cie pernah ketemukan, yaitu: "Mustika berharga, ilmu rahasia, diberikan kepada yang berjodoh. Siapa yang masuk dalam pintuku, menemui bencana jangan penasaran."

Ho Ang Yo kenali huruf tulisan Kim Coa Long-kun. Melihat surat itu lenyap kesangsiannya. Tapi hatinya terus memukul pula, suratnya ada, orangnya belum nampak.

"Soat Gie, kau keluar," ia memanggil. Suara itu nyaring halus, kamar ada kecil, maka terdengarnya nyata sekali. Akan tetapi, jawabannya tidak ada. Maka Ho Ang Yo lantas berdiam akan tenangkan diri.

Kamar batu itu kosong dari manusia.

"Di mana dia?" tiba-tiba ia bentak Ceng Ceng, sesudah sia-sia saja ia memanggil lagi beberapa kali.

"Di sini!" sahut si nona sambil menangis, dengan tangannya menunjuk ke tanah.

Dengan tiba-tiba saja Ho Ang Yo merasa matanya gelap, kepalanya pusing, hingga ia sambar lengan si nona, untuk ia pegangan, kalau tidak, ia bisa rubuh terguling, "Apa?" tanyanya kemudian dengan suara serak.

"Ayah dikubur di sini," sahut Ceng Ceng, yang menangis terus.

Ho Ang Yo menjerit dengan tertahan, "Oh... oh, kiranya dia sudah mati...." Tak kuat lagi dia menahan tubuhnya, ia rubuh mendelepok di atas batu di mana Kim Coa Long-kun biasa berduduk.

Sekejap saja, hilang penasarannya sejak puluhan tahun, sekarang teringatlah ia akan cintanya kepada orang yang dicintainya itu. "Nah, pergilah kau, aku beri ampun padamu..." akhirnya ia kata pada Ceng Ceng, suaranya lemah.

Melihat orang demikian berduka, tanpa merasa, Ceng Ceng jadi berbalik merasa kasihan, ia ingat biar bagaimana, ayahnya toh telah sia-siakan uwa ini yang tadinya ada satu nona cantik dan mencinta keras. Memang ada sebab kenapa ayahnya belum ingin ketemui kekasih ini, sampai mereka jadi terpisah untuk selama-lamanya. Karena rasa kasihannya ini, dengan tidak merasa Ceng Ceng peluk uwa itu, yang ia tadinya takuti bagaikan melihat iblis, ia menangis dengan keras.

"Pergi kau, lekasan," kata pula Ho Ang Yo. "Kalau sebentar dadung telah terbakar habis, kau tidak bakalan bisa keluar lagi...."

"Kau sendiri?" tanya si nona.

"Aku hendak berdiam di sini untuk temani ayahmu."

"Aku juga tidak mau keluar lagi," kata Ceng Ceng. Ho Ang Yo sudah terbenam dalam kedukaan, ia tidak perdulikan lagi nona itu.

Ceng Ceng menangis terus.

Tiba-tiba saja Ho Ang Yo berbangkit untuk dengan tangannya lantas mengkeruki tanah untuk digali, ia bekerja bagaikan kalap.

"Kau hendak bikin apa?" tanya Ceng Ceng kaget.

"Aku telah pikir dia untuk dua puluh tahun," sahut si uwa dengan sedih, "Selama itu, tidak pernah aku ketemui orangnya, maka melihat saja tulang-tulangnya pun boleh juga...."

Ceng Ceng kaget dan berkhawatir. Ia tampak orang punya roman dan sikap yang berubah, Ho Ang Yo terus menggali, tangannya bekerja seperti pacul saja, setelah berselang lama juga, muncullah tulang-tulang manusia, itulah tulangnya Kim Coa Long kun, yang Sin Cie kubur dengan baik. Sesudah sekian lama semua tulang itu masih tinggal utuh, Ceng Ceng menangis, ia tubruk tulang-tulang ayahnya itu, Ho Ang Yo masih menggali, sampai ia dapat angkat sebuah tengkorak, ia rangkul itu, ia menangis ia ciumi.

"Hee-long, Hee-long, aku datang melongok pada-mu..." katanya dengan sedih, ia memanggil suami kepada tengkorak itu, ia menangis lalu ia nyanyi dengan perlahan sekali..."

Ceng Ceng dengar itu nyanyian, sepatah kata juga ia tidak mengerti. Habis menyanyi, Ho Ang Yo ciumi tengkorak itu dengan bernafsu ia jadi seperti kalap, baru ia berhenti ketika ia menjerit dengan tiba-tiba. Sebab ada apa yang tajam yang menusuk mukanya hingga ia merasa sakit dan kaget. Lantas ia bawa tengkorak itu ke depan api untuk diawasi dengan seksama.

(Bersambung ke Bab 25)


Bab 25

Nyata di mulutnya tengkorak, terjepit di antara gigi, terdapat sepotong tusuk konde, yang pendek sekali, yang tidak nampak apabila tidak diperhatikan.

Ho Ang Yo cabut tusuk konde itu dengan tangannya, dia tidak berhasil. Jeriji-jeriji tangannya tidak dapat menjemput dengan seksama. Rupanya Kim Coa Long-kun gigit tusuk konde di waktu hidupnya sampai ia mati maka perhiasan rambut itu jadi terjepit keras, itu adalah sebuah tusuk konde emas.

Ho Ang Yo penasaran, ia mencoba lagi sekali. Kali ini gigi-gigi tengkorak pada copot, maka tusuk konde itu jatuh sendirinya. Lantas ia pungut untuk disusuti debunya.

Sekonyong-konyong saja uwa ini terperanjat hingga wajahnya turut berubah, ia menjerit ketika ia tanya, "Apakah ibumu bernama Gie?" tanyanya.

"Huruf "Gie" dari ibunya Ceng Ceng beda dari huruf "Gie" dari "Soat Gie" namanya ayah si nona. Ceng Ceng manggut dengan perlahan Ho Ang Yo berduka berbareng panas hatinya, hingga ia kertak gigi.

"Baik, baik!" katanya dengan sengit. "Meskipun di saat kematianmu kau masih ingat saja si perempuan hina dina! Sampai kau gigit tusuk kondenya!"

Mengawasi dua huruf "Oen Gie" yang terukir di gagang tusuk konde, sinar matanya uwa ini bagaikan api hendak menyambar, dalam sengitnya, ia masuki tusuk konde itu ke dalam mulutnya, terus ia gigit dan ganyam hingga mulutnya itu mengeluarkan darah.

Ceng Ceng lihat kelakuan itu, ia percaya, pikiran sehat dari Ho Ang Yo sudah menjadi kabur. Ia pun insyaf, saat yang paling berbahaya bakal sampai, maka lantas saja ia keluarkan guci kecil yang memuat abu ibunya, ia buka tutup guci, akan tabur isinya ke dalam lubang, supaya bercampuran sama tulang-tulang rerongkong ayahnya.

Ho Ang Yo bengong mengawasi kelakuan si nona ini.

"He, kau lagi bikin apa?" tegurnya kemudian.

Ceng Ceng tidak berikan jawaban hanya setelah menuang habis, ia keruki tanah untuk dipakai menutupi lubang kubur itu, di dalam hatinya, ia memuji. "Ayah dan Ibu, harap ketahui, anakmu sudah kubur Ayah dan Ibu bersama-sama...."

Ho Ang Yo sambar guci kosong, ia pandang sebentar, segera ia sadar.

"Ha! Ini jadinya abu ibumu!" serunya.

Ceng Ceng manggut dengan perlahan.

Cepat luar biasa tangannya si uwa menyambar, Ceng Ceng lihat itu, ia berkelit, tidak urung pundaknya terkena juga, hingga ia terpelanting hampir ia rubuh.

Ho Ang Yo lantas menjerit-jerit, "Aku larang kau kubur mereka bersama-sama.”

Ia jadi seperti kalap, dia garuki lagi tanah untuk dibongkar pula.

Akan tetapi abu sudah bercampuran sama tulang-tulang dan tanah tidak dapat diangkat untuk dipisahkan lagi. Tapi dalam sengitnya, uwa ini tarik keluar semua tulang.

"Aku nanti bakar kamu menjadi abu!" teriaknya, "Aku nanti sebar abumu di kaki gunung Hoa San ini supaya terbang berhamburan ke empat penjuru, buyar ke segala jurusan, hingga kau tidak dapat berkumpul sama si kacung hina dina!"

Ceng Ceng menjadi gusar berbareng sibuk, ia tubruk si uwa untuk mencegah, ia menyerang, akan tetapi ia kalah kosen, baru beberapa jurus saja ia telah kena dirubuhkan. Untung untuknya, uwa ini tidak serang ia dengan kuku-kukunya yang lihay.

Ho Ang Yo buka baju luarnya, untuk pakai itu sebagai umpan api setelah tulang ditumpuk di atas bajunya itu, ia mulai sulut itu. Kemudian ia kipasi api menjadi berkobar.

Di lain saat tulang-tulang telah mulai terbakar nyala, hingga asap lantas mengulak di dalam kamar baru itu.

Memandang tulang-tulang terbakar Ho Ang Yo tertawa berkakakan, tandanya ia sangat puas. Tiba-tiba saja ia melengak tatkala merasakan bau asap yang luar biasa, segera ia berteriak, "Hee-long, oh, bagaimana kau kejam!"

Ceng Ceng juga lantas merasakan bau asap yang luar biasa itu, selagi ia merasa heran, ia pun segera merasakan kepalanya pusing, matanya kabur, hingga ia jadi kaget. Tapi ia masih bisa lihat si uwa bengis menghadapi api unggun yang luar biasa itu berulang-ulang dia menyedot dan mengeluarkan napas, akan akhirnya dia berseru berulang-ulang.

"Baik, baik! Memangnya ingin aku mati bersama-sama kau."

Mendadak saja ia angkat kepala, akan berpaling kepada Ceng Ceng.

Nona ini menjerit sekuat-kuatnya kapan ia tampak wajah bengis orang yang menakutkan, ia balik tubuhnya, akan lari ke arah mulut gua, akan tetapi baru ia lari beberapa tombak, tak tahan ia dengan rasa pusingnya, begitu kakinya dirasakan lemas, ia terus saja rubuh.

Sin Cie sementara itu kaburkan kudanya bersama-sama kawannya, ia bisa menduga dua binatang berbisa dari Ho Ang Yo di rumah makan adalah si uwa sedang memanggil kumpul-kumpul anggota-anggota Ngo Tok Kauw untuk ikuti jejaknya, ia mengerti ancaman apa menghadapi Ceng Ceng. Tidak perduli di tangan siapa kaum Cio Liang Pay atau Ngo Tok Kauw, Ceng Ceng mesti bercelaka juga. Maka itu, ia gelisah bukan main.

Di sepanjang jalan sambil tanya sana-sini, Sin Cie dengar hal-hal kebinasaannya tiga di antara empat jago Cio Liang Pay. Ia dapat menduga kepada mereka itu, karena di situ tidak ada lain orang yang berombongan sebagai tertua-tua dari Cio Liang Pang itu, ia jadi sangat berkhawatir, hingga ia jadi tidak nafsu dahar, tidak tenang tidur. Apa yang juga rada melegakan hatinya adalah jurusan yang diambil oleh orang-orang Cio Liang Pay itu ada jurusan Hoa San. Dengan begitu, tidak usahlah ia menjadi nyasar di waktu mengikuti jejak mereka itu, dan tidak usah ia gagal menghadapi rapat kaumnya. Begitulah mereka telah mendekati kaki gunung.

Ang Seng Hay bermata jeli, selagi singgah sebentar di paseban, ia tampak gundukan tanah yang mencurigai, lantas saja ia bongkar gundukan tanah itu, hingga untuk kegirangannya, ia dapati mayatnya Oen Beng Tat.

"Dengan matinya dia ini, pasti Ceng Ceng telah jatuh ke dalam tangan Ngo Tok Kauw," Sin Cie beri kepastian, "Mari kita lekas susul ke atas gunung!"

An Toa Nio menghiburi, dia kata, "Sekarang ini saat rapatnya Hoa San Pay, umpama kata Bok Locianpwe sendiri masih belum datang tetapi Oey Cin Suheng atau salah satu di antaranya tentu sudah sampai lebih dahulu. Maka itu apabila kaum Ngo Tok Kauw naik ke gunung, pihakmu pasti akan beri pertolongannya kepada Nona Hee itu."

"Jikalau Ngo Tok Kauw berani mendaki Hoa San, pasti mereka sudah siap sedia dari siang-siang!" Sin Cie bilang, "Maka itu kita mesti jaga supaya jangan ada orang kita yang rubuh di tangan orang-orangnya berbisa itu...." Inilah kekhawatiran yang bertambah-tambah dari si anak muda.

"Kalau Couwsu juga telah datang apa yang kita mesti jerikan?" kata Cui Hie Bin. "Mari lekas kita mendaki gunung!"

Oleh karena kuda tak dapat mendaki gunung, semua kuda lantas dititipkan pada seorang desa, dengan jalan kaki dengan berlari-lari, orang mulai mendaki gunung.

Selagi mendaki puncak, Sin Cie dengar suara-suara mengaung di udara, tanda dari senjata-senjata rahasia, segera ia jadi girang sekali.

"ltulah Bhok Siang Tojin di atas! Dia lagi memanggil kita!" katanya dengan kegirangan ia keluarkan tiga biji caturnya ia pun menimpuk ke udara sampai sekejap saja, tiga biji senjata rahasia itu lenyap sendirinya, akan lagi sebentar tiga-tiganya tampak pula sedang turun ke arah mereka.

"Sungguh hebat, Siauw Susiok!" Hie Bin memuji, Sin Cie niat tanggapi ketiga biji caturnya, ketika tahu-tahu muncul beberapa senjata rahasia lain dari arah samping, yang menimpa ketiga biji catur itu hingga tiga-tiganya jatuh.

Menyusul itu muncullah satu orang dengan sebelah tangannya mencekal shuipoa, alat penghitung, yang digoyang pergi datang, sembari dia itu tertawa gembira.

"Suhu," seru Hie Bin, apabila ia tampak orang itu. "Suhu sudah datang lebih dahulu."

Orang itu memang Tong-pit Thie-shuiphoa Oey Cin.

Lantas Hie Bin lari kepada gurunya itu, tanpa perdulikan tempat itu tempat apa, ia jatuhkan diri untuk berlutut, untuk paykui tiga kali, maka waktu ia sudah berbangkit kelihatan jidatnya benjut! Sebab ia manggut-manggut sampai membentur batu gunung,...

Melihat kelakuan tunangannya itu Siauw Hui mendongkol berbareng merasa kasihan, ia mendongkol melihat ketololan orang tapi berkasihan dan terharu melihat kejujurannya. Ketika Hie Bin kembali padanya ia lantas sesali, Tapi Hie Bin tidak memperdulikannya, dia hanya tertawa saja.

Sin Cie hampirkan suheng itu, untuk beri hormat akan tanyakan ini dan itu sejak mereka berpisah, sebagaimana sang suheng juga menanyakan dia. Kemudian, selagi ia hendak tanya suheng itu kalau-kalau dia lihat Ceng Ceng atau orang Ngo Tok Kauw, sekonyong-konyong Tay Wie dan Siauw Koay berpekik berulang-ulang, terus saja keduanya lari ke arah jurang.

"Celaka, mereka minggat!" teriak Hie Bin. Ia mau mengejar untuk melawan.

"lni ada tempat asal mereka, mau pergi biarkan saja," Sin Cie bilang.

Meski ia mengucap demikian pemuda ini heran juga sebab melihat dua binatang piaraan itu pergi tanpa sikap ragu-ragu, hingga ia mengawasi saja sampai keduanya pergi jauh. Selagi Sin Cie mengawasi, tiba-tiba ia lihat asap mengepul dari arah guanya Kim Coa Long-kun, ia menjadi kaget. Adalah ke sana Tay Wie dan Siauw Koay lari, lalu di sana kedua binatang itu goyang pulang pergi tangannya seperti menunjuk ke tempat asap, seperti memanggil mereka.

Siauw Hui juga lihat sikapnya kedua binatang itu.

Toako dua binatang itu bukannya buron," katanya. "Lihat mereka lagi memanggil-manggil kau!"

"Benar!" jawab Sin Cie, yang terus menerjang A Pa, untuk memberi tanda dengan tangannya.

Melihat demikian, A Pa segera lari ke gua mereka sendiri, untuk ambil dadung dan obor, lantas dengan diikuti kawan-kawannya ia lari ke arah jurang.

"Nanti aku yang masuki gua itu!" kata Sin Cie yang bilang, cuma ia sendiri ketahui baik keadaannya gua itu. Ia terus robek ujung bajunya, guna dipakai menyumpal hidungnya.

Dengan sebelah tangan memegang obor, pemuda ini turun di dadung, yang sudah dipasang A Pa.

Tay Wie dan Siauw Koay masih berpekik saja, kaki dan tangannya tidak berhentinya digerak-geraki, nampaknya mereka sangat gelisah.

Sebentar saja, Sin Cie sudah sampai di dalam gua. Segera ia diserang asap, hingga ia merasakan sukar bernapas. Untung baginya, hidungnya telah disumpal siang-siang, ia maju terus sambil berlari di jalan gua itu, sampai ia tampak satu tubuh manusia rebah di tengah terowongan, ia kaget kapan ia telah lantas kenali Ceng Ceng. Ia segera membungkuk, ia taruh tangannya di depan hidung si nona, ia tidak rasai hembusan napas, akan tetapi waktu ia meraba dadanya, ia dapatkan dada itu turun naik dengan perlahan sekali.

Thanks for reading PEDANG ULAR MAS 40

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar