Home » » Pedang Ular Emas 8

Pedang Ular Emas 8

Jilid 8

"Aku harap Loocianpwee berkasihan terhadapku..." memohon dia.

"Kau baik sekali, sahabat Wan. Silakan!" sahut Eng Cay tapi sambil menantang.

Sin Cie tahu, apabila ia terus merendahkan diri, itu berarti penghinaan kepada si orang tua, dari itu, tanpa bilang suatu apa, ia segera kirim kepalannya yang pertama. Ia bersilat dengan ilmu pukulan "Ngo-heng-kun" atau "Kuntauw Panca Logam". Ia serang dada sebagai sasaran.

Eng Cay bertiga kawannya sangka si anak muda liehay sekali, maka itu, melihat orang datang-datang menyerang dengan Ngo-heng-kun, mereka lantas saja memandang enteng.

Oen Ceng sendiri kecele bukan main, mukanya sampai pucat.

Ketua Liong Yu Pang menjadi girang, lantas dia balas menyerang, dengan seru, hingga setiap pukulannya mengeluarkan sambaran angin menderu-deru. Ia percaya, sebagai jago Eng-jiauw-kong, dengan tiga jurus saja, ia akan dapat rubuhkan pemuda ini atau sedikitnya ia bakal dapat pukul pecah Ngo-heng-kun.

Di luar dugaan dengan sederhana, melainkan dengan andali keentengan tubuh, Sin Cie luputkan diri dari pelbagai serangan yang berbahaya, hingga karenanya, sekarang ia membuat terkejut dan heran kepada lawan yang tua itu. Ia merasa aneh, ilmu silat umum sebagai Ngo-heng-kun itu bisa diubah menjadi kegesitan tubuh demikian rupa. Biasanya Ngo-heng-kun dipakai secara keras, untuk menyerang hebat.

Lantas pertempuran berlanjut, sebagai kesudahan dari mana, ketua Liong Yu Pang itu jadi semakin heran. Tak dapat dia desak, untuk mendekati tubuh pemuda itu, hingga akhirnya, dia menjadi sibuk sendirinya.

"Teranglah orang ini mengalah terhadapku..." pikir dia. "Kalau terus berlangsung begini, tentu Oen Ceng bakal perhina kembali padaku..."

Inilah yang membuat ia sibuk dan kuatir. Maka kembali ia mencoba menyerang, ia berlaku sungguh-sungguh ketika ia keluarkan jurus Eng-jiauw-kong. Ia berlaku cepat, semua sasarannya ada tempat-tempat berbahaya.

"Eng-jiauw-kangnya ada begini rupa, inilah bukannya hasil dari satu hari satu malam," pikir dia. "Aku harus berikan muka padanya, jikalau aku tidak mengalah, Oen Ceng tentu bakal buka pula bacotnya..."

Oleh karena memikir begini satu kali Sin Cie sengaja berlaku ayal.

Eng Cay girang sebab ia bakal dapat lowongan, tetapi ia juga tidak berniat mencelakai pemuda itu, ia ingin robek saja baju orang, karena ini juga sudah berarti kemenangan. Demikian ia telah jambak pundak lawan. Ia telah mengenai sasarannya, akan tetapi segera ia menjadi heran luar biasa. Ia kena pegang sepotong daging yang menjadi keras dan licin dengan tiba-tiba, hingga ia mirip dengan nelayan yang menangkap ikan tapi lolos pula saking licinnya sang ikan. Hal ini membuat ia heran dan terkejut.

Sin Cie berkelit untuk segera lompat mundur dua tindak. "Aku menyerah," kata dia.

"Kau sengaja mengalah!" kata Eng Cay sambil memberi hormat.

Tapi Oen Ceng segera nyelah, katanya: "Dia benar-benar mengalah kepadamu, kau tahu tidak? Jikalau kau tahu, ya sudah!"

Padam wajahnya jago Liong Yu Pang itu. Ia merasa tersinggung. Di saat ia hendak buka mulut, mendadak ada terlihat cahaya obor terang-terang di darat, beberapa puluh orang nampak sedang mendatangi, di antaranya ada yang berteriak-teriak: "Eng Loo-ya-cu, apa bocah itu sudah kena dibekuk? Kami hendak iris-iris dia, untuk balaskan sakit hati See Loo Toa!"

Oen Ceng lihat orang datang dalam jumlah besar sekali, mau atau tidak, hatinya ciut juga.

"Saudara-saudara Lauw, kamu berdua kemari!" ada jawaban pangcu dari Liong Yu Pang.

Segera rombongan itu telah sampai di tepian, akan tetapi perahu berlabuh jauh dari mereka, maka dua di antaranya segera terjun ke air, akan selulup dan berenang menghampirkan perahu, cepatnya seperti ikan berenang. Begitu lekas mereka raba tepi kendaraan air, keduanya sudah loncat naik.

"Bungkusan berharga itu sudah dibuang bocah ini ke dalam sungai, pergi kamu engko dan adik selulup dan cari!" Eng Cay kasi keterangan. Ia menunjuk ke arah mana tadi Oen Ceng lemparkan bungkusannya.

Dua saudara Lauw itu lantas terjun pula ke sungai, dalam sejenak, mereka sudah lenyap dari permukaan air.

Oen Ceng masih ada di belakang Sin Cie, ia betot tangan baju orang.

"Tolong aku, mereka hendak bunuh padaku..." ia memohon sambil berbisik.

Pemuda kita menoleh, ia lihat roman yang berduka, hingga ia jadi merasa kasihan, tanpa berayal, ia manggut.

"Kau tarik jangkar," Oen Ceng minta pula.

Belum Sin Cie menyahuti atau ia telah merasai lemasnya tangan Oen Ceng, tangan yang halus dan lemah seperti tak ada tulang-tulangnya....

Eng Cay lihat anak muda itu berbisik kepada si orang she Wan, ia lantas memasang mata, akan tetapi, dia masih kalah sebat.

Dengan sekonyong-konyong Oen Ceng sambar meja, dengan itu ia menimpuk kepada ketiga musuhnya.

Si orang tubuh besar dan nyonya tidak menyangka, tak ampun lagi, keduanya rubuh kecebur ke air. Eng Cay masih sempat sambuti meja, ia telah menyambarnya sambil lompat berkelit. Ia menyekal meja demikian keras, hingga kaki meja itu perdengarkan suara patah berkerekekan. Ia luput dari bahaya tetapi ia bingung terhadap dua kawannya yang kecebur itu, karena ia tahu, mereka tak bisa berenang, sedang dua saudara Lauw ­itu waktu sudah berenang ke tengah untuk selulupi bungkusan emas. Ia lempar meja ke sungai, supaya dua kawannya pakai untuk pepegangan. Tapi ia gusar sekali, lantas saja ia serang si anak muda.

Oen Ceng masih cekali dua potong kaki meja, ia tangkis serangan dengan gunai sepasang kaki meja itu sebagai senjata. Ia terutama lindungi mukanya.

"Lekas!" ia teriaki Sin Cie.

Cepat luar biasa, pemuda kita sambar rantai jangkar, ia menarik dengan kaget dan keras, hingga di lain saat, jangkar itu terangkat dari gili-gili, melayang pulang ke perahu.

Melihat demikian, Eng Cay kaget, tapi segera ia lompat menyingkir.

Oen Ceng pun kaget dan turut menyingkir juga dari sambaran jangkar itu, dengan begini, ia jadi terpisah dari jago tua itu.

Akan tetapi Sin Cie sendiri berlaku tenang, ia sambuti jangkar, untuk diletaki perlahan­lahan di kepala perahu.

Justru karena jangkar diangkat, perahu itu segera saja hanyut dibawa air deras, dengan lekas orang-orang di darat ditinggalkan kendaraan air ini.

Selagi ia kagumi si pemuda, Eng Cay pun kaget melihat jalannya perahu, tanpa berani banyak omong pula, ia menjejak perahu, untuk loncat ke arah darat.

Sin Cie tahu maksudnya, ia tahu juga, tak nanti orang tua itu sampai di tepi, lekas-lekas ia angkat papan jembatan perahu, ia lempar itu ke air di sebelah depan si jago tua.

Eng Cay sedang bingung, dia merasa pasti yang dia bakal kecebur ke air, maka bagaimana lega hatinya, akan tampak selembar papan jatuh di depannya, ngambang di muka air, maka segera dia injak itu, untuk dipakai menjejak pula, akan berlompat terus, dengan begitu, bisalah ia sampai di pinggiran sungai, kakinya menginjak daratan. Berbareng berhati lega dan girang, ia pun jadi bersyukur kepada si pemuda, yang telah menunjukkan kebaikan hati kepadanya. Ia juga kagumi liehaynya pemuda ini.

"Ah!" Oen Ceng berseru, dengan lesu. "Kembali kau berbuat baik terhadap dia!.... Sebenarnya kau bantui aku atau dia itu? Apakah bukan lebih baik akan antap dia kecebur? Dia toh tidak bakal kelelap mampus..."

Sin Cie tahu orang beradat aneh, ia tidak mau melayani bicara, ia hanya bertindak ke dalam perahu, akan rebahkan diri, buat tidur.

Oen Ceng kecele, dengan masgul, ia pun masuk.

Perahunya sendiri hanyut terus... Di hari kedua, tengah hari, perahu sampai di Kie-Ciu. Sin Cie menghaturkan terima kasih pada Liong Tek Lin, ia kasih persen sepotong perak pada tukang perahu.

"Jangan, biar aku yang berikan sekalian," Tek Lin mencegah. Saudagar ini insyaf, si pemuda adalah yang hindarkan bahaya, karenanya, ia berterima kasih kepadanya.

Sin Cie tidak hendak memaksa, ia membilang terima kasih pula, lalu ia pamitan.

"Aku tahu, kau juga tak nanti ijinkan aku bayar uang sewa perahu tapi aku tak sudi kau yang bayarkan," berkata Oen Ceng, yang lantas rogoh buntalannya, akan keluarkan sepotong perak beratnya kira-kira sepuluh tail.

"Ini untuk kau!" katanya pada tukang perahu kepada siapa ia lempar uang perak itu.

Tukang perahu itu tercengang.

"Aku tak punya uang kecil...." katanya.

"Siapa ingin kau mengembalikannya?" jawab si anak muda. "Itu semua untukmu!"

Tukang perahu itu sangsi.

"Tak usah demikian banyak...." katanya.

"He, banyak bacot!" bentak Oen Ceng. "Berapa aku suka kasih, aku kasih, buat apa kau ngoceh saja! Nanti aku bolongi perahumu sehingga tenggelam, baru kau tahu!"

"Terima kasih, terima kasih, Tuan," kata tukang perahu itu kemudian. Ia tahu orang telengas, ia tak berani membantah pula. Ia jumput uang itu.

Oen Ceng lantas buka bungkusannya, sehingga berkilauan cahaya kuning-emas dari kira-kira tiga-ratus potong emas yang tiap potong terdiri dari kira-kira sepuluh tail.

Dengan tangan kanannya, si anak muda pecah uang itu jadi dua tumpukan, yang setumpuk diantap di atas meja, yang setumpuk lagi, ia bungkus pula, bungkusannya terus ia gendol di belakangnya. Dengan kedua tangan, ia tolak tumpukan yang satu itu ke depan Sin Cie. "Untuk kau!" katanya.

"Apa?" tanya Sin Cie. Ia tidak mengerti.

Oen Ceng tertawa dengan manis. "Apakah kau sangka benar-benar aku buang harta ini ke dalam kali?" tanyanya. "Itulah tolol! Biar mereka selulup timbul, untuk mencarinya, jikalau mereka berhasil, tentu mereka akan pungut sebungkusan batu saja!"

Lalu ia tertawa geli sekali. Sin Cie menghela napas. Anak muda ini lebih muda daripada ia, toh satu tua-bangka sebagai Eng Cay masih kena diperdayakan! "Aku tidak membutuhkan ini, kau ambil sendiri," ia menampik. "Aku bantui kau bukan karena uang."

"Tetapi inilah pemberianku kepadamu," si anak muda mendesak. "Uang ini bukannya kau yang ambil sendiri! Kenapa berpura-pura jadi kuncu palsu?"

Sin Cie menggeleng kepala. Tek Lin ada satu saudagar yang banyak hartanya, tetapi menghadapi dua orang itu, ia heran sekali. "Yang satu tak menghargai uang, yang lain tak memandangnya. Yang satu mendesak mengasih, yang lain keras menolak."

"Tidak peduli kau suka atau tidak, aku mesti berikan padamu!" kata si anak muda akhirnya, suaranya keras, tandanya ia gusar. Lalu dengan sekonyong-konyong ia lompat ke darat! Sin Cie tercengang, tapi segera ia mendusin, ia pun lompat, untuk menyusul.

Oen Ceng bisa lari keras, akan tetapi sejenak saja, ia dapat didahului.

"Tunggu!" Sin Cie kata sambil ia pentang kedua tangannya, untuk menghalangi. "Kau bawa emasmu itu!" Anak muda itu coba nerobos, ke kiri dan kanan, sia-sia saja, tak mampu ia lewati si pemuda, dalam sengitnya, mendadakan ia serang mukanya pemuda itu.

Sin Cie tangkis serangan itu, ia menolak dengan tangan kiri. Sebenarnya ia tidak gunai tenaga, akan tetapi si anak muda mundur tiga tindak. Menampak bahwa ia tak sanggup tobloskan cegatan, mendadak Oen Ceng jatuhkan diri, untuk duduk di tanah, dengan tiba-tiba juga ia menangis sesenggukan.

"Kau sakit?" tanya Sin Cie, yang heran dan kuatir. Ia sangka tangkisannya membuat anak muda itu merasai sakit pada lengannya.

"Fui!" berseru Oen Ceng, yang lompat bangun dengan tiba-tiba, terus ia loncat lagi, untuk menyingkir. Sin Cie melongo ia awasi Oen Ceng lenyap dari pandangan matanya.

(Bersambung bab ke 6)


Bab 6

"Benar-benar kukoay!" kata ia sambil ngeloyor balik ke perahu. Ia kagumi kepandaian anak muda itu, tetapi ia heran tabeat yang mendelukan tapi juga menggelikan. Terpaksa ia bungkus tumpukan uang itu, untuk dibawa pergi, dari Tek Lin, ia ambil selamat berpisah. Ia pergi ke kota, akan cari sebuah hotel.

"Tak lega hatiku jikalau uang ini aku tidak dapat kembalikan kepada si anak muda," ia berpikir selagi ia duduk terpekur dalam kamarnya. "Aku kasihan padanya, sebab itu aku bantu dia, maka jikalau aku terima pemberiannya itu, tidakkah namaku jadi jelek? Dia bilang dia ada orang Cio-liang, kenapa aku tidak susul dia di rumahnya? Jikalau dia tetap menolak, aku nanti letaki uang di rumahnya itu dan tinggal pergi!...."

Karena ini besokannya, setelah cari keterangan tentang jalanan ke Cio-liang, Sin Cie gendol bungkusannya, ia menuju ke tempat itu, yang terpisahnya dari kota Kie-Ciu cuma dua-puluh lie, hingga tak ada setengah jam, ia sudah sampai.

Cio-liang ada satu dusun kecil, yang berdampingan sama bukit Lan Ko San. Nama dusun itu, dan bukitnya juga, mempunyai cerita dongeng sebagai berikut: Di jaman purbakala ada satu tukang kayu yang pergi ke bukit itu mencari kayu bakar. Dia ketemu dua dewa asyik main catur. Dia menonton. Ketika satu babak berakhir dan ia menoleh pada kampaknya, kampak itu "bonyok" sendirinya. Dan ketika ia pulang, rumahnya, orangnya semua, sudah berubah, karena ternyata, dia telah pergi untuk lamanya beberapa puluh tahun. "Lan Ko" berarti "kampak bonyok", demikianlah, gunung itu ada dua puncak yang tersambung satu pada lain dengan satu batu besar dan panjang, yang merupakan penglari. Itu pasti bukan batu buatan manusia dan terpalangnya di situ bukan pekerjaan manusia juga, maka orang-orang tua anggap itu ada buah-kesaktian dewa. Maka itu, tempat itu dipanggil "Cio-liang" yang berarti "penglari".

Selagi berjalan untuk cari rumah orang she Oen, Sin Cie berpapasan dengan seorang tani perempuan.

"Enso, numpang tanya, di sini di mana tinggalnya keluarga Oen?" tanyanya.

Orang perempuan itu terkejut nampaknya.

"Tidak tahu!" sahutnya. Dan air mukanya berubah tak senang, dia pun lantas berjalan pergi dengan cepat.

Sin Cie heran, akan tetapi ia jalan terus. Ia sampai pada sebuah toko.

"Numpang tanya di sini di mana tinggalnya keluarga Oen?" ia tanya pemilik toko.

"Ada apa Saudara tanya keluarga Oen?" balik tanya si tuan toko dengan tawar.

"Aku hendak kembalikan serupa barang," Sin Cie terangkan.

"Kalau begitu, kau ada sahabatnya si orang she Oen! Habis, untuk apa kau menanyakannya kepadaku?" kata tuan toko itu.

Sin Cie heran berbareng jengah.

"Kenapa seorang dagang begini kasar kelakuannya?" tanya ia kepada diri sendiri.

Ia ngeloyor, lalu ia hampirkan dua bocah yang lagi memain di ujung jalanan. Ia keluarkan sepuluh uang tangchie, ia sesapkan itu dalam tangannya satu bocah.

"Saudara kecil, mari antar aku ke rumah keluarga Oen!" minta dia.

Bocah itu sudah genggam uang yang diberikan padanya, atau ia segera kembalikan.

"Rumah keluarga Oen? Itu dia yang besar!" jawabnya. "Aku tak sudi pergi ke rumah itu!"

Kembali Sin Cie menjadi heran, akan tetapi segera ia mengerti, rupanya keluarga Oen itu tak disukai sesama penduduk sehingga tak ada orang yang ingin bergaul dengannya. Ia hanya tidak tahu, apa yang menyebabkan kesungkanan itu. Ia segera bertindak ke arah rumah besar yang ditunjuk si bocah.

Dari jauh-jauh sudah terdengar suara riuh dari banyak orang, yang datang dari arah rumah keluarga Oen itu, di mana pun berkerumun puluhan orang tani yang pada bawa pacul dan garu. Selagi mendekati, Sin Cie dengar nyata teriakan mereka: "Kamu telah aniaya tiga orang, apa boleh dengan begitu saja? Orang she Oen, lekas keluar, ganti jiwa!"

Di antara mereka itu ada tujuh atau delapan orang perempuan dengan rambut riap-riapan yang sambil duduk di tanah, menangis menggerung-gerung, dan menjerit-jerit.

"Saudara, kau sedang bikin apa?" tanya Sin Cie pada satu orang.

"Siangkong ada orang asing, kau tentu tidak tahu kejadian ini," sahut orang yang ditanya itu. "Keluarga Oen ini ada cabang atas di sini, mereka menjagoi. Kemarin mereka pergi menagih sewa tanah ke kampung. Empeh Thia minta tempo, buat beberapa hari saja, tapi si empeh dijoroki, dia rubuh, kepalanya, kena batu, terus dia binasa. Anak dan keponakan empeh Thia gusar, mereka membelai, tetapi mereka kena dilabrak hingga luka-luka. Coba pikir, Siangkong, apa tuan tanah begitu tidak kejam?"

Selagi petani itu memberi keterangan kepada pemuda kita, suara riuh bertambah-tambah, ada orang tani yang gunai garunya menyerang pintu, ada yang jumput batu-batu untuk dipakai menimpuk ke dalam pekarangan.

Sekonyong-konyong pintu pekarangan terbuka lebar, satu bayangan melesat keluar, sebelum orang melihat tegas, sudah ada tujuh atau delapan petani yang terpelanting, rubuh jauhnya dua-tiga tumbak, sehingga kepala mereka mengeluarkan darah! "Dia gesit sekali," pikir Sin Cie. Ia lantas mengawasi.

Bayangan itu ada seorang dengan tubuh kurus dan jangkung, kulit mukanya semu kuning tetapi sepasang alisnya berdiri. Kelihatan nyata, dia mestinya pandai silat.

"Hai, kamu, mahluk-mahluk seperti anjing dan babi!" membentak orang itu. "Kenapa kamu datang mengacau kemari?"

Orang ini menanya demikian, akan tetapi, belum sempat orang jawab dia, dia sudah menyerang pula, hingga lagi beberapa orang terjatuh sungsang-sumbal.

Sin Cie lihat orang bertenaga besar, dia melempar-lempari orang seperti sedang melempar-lemparkan ikatan-ikatan jerami.

"Entah terkena apa dia dengan Oen Ceng?..." pikirnya. "Coba itu malam dia ada beserta Oen Ceng, tentu leluasalah mereka melayani Eng Cay, sehingga tak perlu aku berikan bantuanku..."

Itu waktu seorang tani dari usia pertengahan dan dua orang muda majukan diri.

"Kamu telah bunuh orang, apa itu dapat disudahi secara begini saja?" tanya mereka. "Memang benar kami ada orang-orang melarat akan tetapi sekalipun melarat, kami mempunyai jiwa!"

Si jangkung-kurus itu tertawa dingin.

"Hm! Hm! Jikalau belum aku mampusi lagi beberapa jiwa, tentu kamu belum tahu rasa!" berseru dia. Mendadak tubuhnya mencelat maju, lantas si orang usia pertengahan kena dicekuk pada bebokongnya, kapan tubuhnya telah diangkat, tubuh itu segera terlempar ke ujung tembok timur! Kedua petani muda menjadi sangat gusar, dengan berbareng mereka menyerang dengan pacul mereka.

Si kurus menangkis dengan tangannya yang kiri, sekejab saja kedua batang pacul kena tersampok lepas dan terpental, menyusul mana, tubuhnya dua petani itu disambar seorang dengan sebelah tangan, lantas diangkat untuk dilemparkan ke atas batu besar yang menjadi tunggul tiang bendera di muka pintu pekarangan.

Sebegitu jauh dia menyaksikan, hati Sin Cie panas, tetapi ia masih dapat berlaku sabar. Ia pikir tak boleh ia lancang mencampuri urusan yang ia belum tahu duduknya.

"Baik aku tunggu sebentar, nati aku minta bertemu dengan Oen Ceng, untuk kembalikan uangnya, lantas aku pergi pula," pikirnya. Siapa tahu setelah lihat nasibnya si orang usia pertengahan, ia pun tampak bencana yang mengancam kedua pemuda tani itu, dengan mendadak saja ia ubah pikirannya. Lupa ia segala apa. Mendadak ia berlompat, dengan sangat sebat ia sambuti tubuhnya kedua petani muda itu hingga tak usahlah mereka jatuh terbanting! Kemudian dengan pelahan-lahan, ia turunkan tubuh mereka itu.

Gerak sebat dan luar biasa itu ada "Gak Ong Sin Ciang", atau "Panah Gaib Dari Gak Hui", ialah salah satu pelajaran yang Sin Cie peroleh dari Bhok Siang Toojin. Sebenarnya dia tak pikir untuk pertontonkan kepandaian yang istimewa itu, tetapi untuk tolong kedua pemuda tani, ia tak dapat berbuat lain. Ia pun sudah pikir setelah ketahui rumah si orang she Oen, baik sebentar malam saja ia datang pula, untuk kembalikan emasnya Oen Ceng. Ia pun tahu, si jangkung-kurus akan jadi tidak senang, maka untuk singkirkan kerewelan, lantas ia memutar tubuh, akan bertindak pergi.

Kedua petani muda, yang ketolongan, berdiri bengong bahna kaget dan heran.

Si jangkung kurus tak terkecuali, ia heran dan kagumi kegesitan dan tenaga besar dari pemuda tak dikenal ini. Tapi kapan ia lihat orang hendak pergi, ia memburu.

"Sahabat, tunggu dulu!" menegur dia sambil tepuk pundaknya pemuda kita. Ia menepak bukan menepak belaka, berbareng ia telah gunai ilmu mengerahkan tenaga "Cian-kin-lat" "Tenaga Seribu Kati".

Sin Cie tidak berkelit, cuma dengan turunkan sedikit pundaknya, ia sudah bebas dari tepakan yang akan merupakan bandulan seribu kati itu. Ia pun tidak lakukan serangan membalas, ia cuma memutar tubuh.

Kembali si jangkung-kurus terkejut.

"Apakah Tuan ada undangan mereka itu untuk mempersulit aku?" tanya dia.

Ditanya begitu, Sin Cie lekas memberi hormat.

"Maafkan aku," ia mohon. "Aku kuatir nanti terbit perkara jiwa, yang bisa membuat banyak berabe, maka dengan lancang aku tolongi mereka. Lauwhia mempunyai kepandaian begini rupa, kenapa kau berpandangan sama seperti orang-orang dusun ini?"

Melihat sikap menghormat dan perkataan itu halus, sedang kepandaian orang pun ia puji, si jangkung-kurus ini surut separuh hawa-amarahnya.

"Kau she apa, Tuan? Ada urusan apa kau datang ke tempat kami ini?" ia tanya.
"Aku she Wan," Sin Cie sahuti. "Ada satu sahabatku yang she Oen, apa dia tinggal di sini?"

"Aku pun orang she Oen. Siapa itu yang Tuan cari?"

"Sahabat itu berumur delapan atau sembilan belas tahun, romannya cakap sekali, ia dandan sebagai mahasiswa," Sin Cie terangkan.

Si jangkung-kurus manggut-manggut. Lantas ia hadapi beberapa puluh orang tani itu, yang masih belum bubaran.

"Apakah kamu cari mampus? Buat apa kamu masih berdiam di sini?" ia tanya mereka, suaranya, sikapnya, bengis sekali.

Melihat orang asing itu bicara bagaikan sahabat dengan si orang she Oen itu, sedang keduanya mereka ini berilmu silat tinggi, orang banyak itu lantas saja ngeloyor pergi.

"Silakan masuk, Tuan. Mari minum teh!" si jangkung-kurus lantas undang tetamu asing itu.

Sin Cie terima baik undangan itu, ia turut masuk, maka ia dapati sebuah rumah yang besar, dengan thia yang lebar, di bagian tengah ia lihat pian dengan empat huruf besar: "Sie Tek Bian Tiang". Itu adalah pujian untuk kebijaksanaan kekal-abadi bagi keluarga itu. Perabotan lainnya menunjukkan bahwa keluarga Oen ada satu keluarga besar dan berharta.

Tuan rumah undang tetamunya duduk dan orangnya segera suguhi mereka air teh, kemudian ia tanya siapa gurunya tetamu ini, menanya secara berulang-ulang.

Sin Cie merasa, walau sikapnya ramah-tamah, tuan rumah itu masih kandung perasaan tak puas terhadapnya, dari itu, ia berlaku hati-hati.

"Tolong minta Oen Ceng Siangkong keluar, aku hendak serahkan serupa barang kepadanya," ia minta tanpa jawab pertanyaan orang.

"Oen Ceng itu ada adikku," sahut si jangkung-kurus. "Aku sendiri ada Oen Cheng. Adikku sedang pergi keluar, baik Saudara tunggu sebentar."

Sebenarnya tak ingin Sin Cie bergaul dengan tuan rumah ini, yang ia duga ada bangsa cabang atas yang galak dan jahat, tetapi karena Oen Ceng tidak ada, terpaksa ia menunggu juga.

Sampai tengah-hari, Oen Ceng masih belum kembali. Tak suka Sin Cie serahkan emas di tangan orang lain, terpaksa ia menunggu terus. Selama itu, Oen Cheng telah perintah siapkan barang hidangan yang lezat, terdiri dari masakan daging, ayam, ikan dan sayur, hingga mau atau tidak, tetamu ini mesti turut dahar.

Sampai mulai lohor, selagi matahari mulai doyong ke Barat, masih Oen Ceng belum pulang. Sampai itu waktu, habis sudah kesabaran Sin Cie. Ia lantas letaki bungkusannya di atas meja. Sekarang ia pikir, karena itu ada rumahnya Oen Ceng, tak perlu ia bersangsi pula.

"Inilah barang adikmu itu, tolong Saudara sampaikan kepadanya," ia bilang. "Ijinkan aku pamitan...."

Justru itu, dari luar rumah terdengar suara tertawa riuh, suaranya orang-orang perempuan. Sin Cie kenali, di antaranya ada suara tertawanya Oen Ceng. "Nah, itu adikku pulang!" berkata Oen Cheng, yang segera berbangkit, untuk pergi keluar. Sin Cie putar tubuhnya, untuk turut, tetapi tuan rumah mencegah.

"Harap Saudara Wan duduk saja dulu," ia minta. Sin Cie heran, akan tetapi ia batal ikut keluar. Aneh, ia menunggu sekian lama, tidak juga Oen Ceng muncul. Oen Cheng adalah yang kembali sendirian.

"Adikku hendak salin pakaian, sebentar ia keluar," kata tuan rumah ini.

Masih pemuda ini menantikan sekian lama, baru kelihatan Oen Ceng muncul, dengan wajah berseri-seri. "Saudara Wan, aku sangat bersyukur dengan kunjunganmu ini!" katanya.

"Kau lupai barang ini, Saudara Oen, aku bawakan," bilang Sin Cie. Ia tunjuk bungkusan emas di atas meja.

"Kau tak lihat mata padaku, bukan?" Oen Ceng tanya, tampangnya berubah.

"Tidak, itulah aku tak berani," sahut Sin Cie. "Aku hendak pergi sekarang." Ia memberi hormat kepada dua saudara itu.

Oen Ceng tidak membalas hormat, ia hanya cekal tangan baju orang. "Aku larang kau pergi!" katanya. Pemuda itu melengak. Oen Cheng nampaknya heran, wajahnya pun berubah. "Ada satu hal aku hendak tanyakan kepada kau, Wan Toako," Oen Ceng, menambahkan. "Maka aku harap hari ini kau berdiam sama kami di sini."

"Aku mempunyai urusan penting di kota Kie-Ciu, lain hari saja aku mampir pula kemari," Sin Cie menampik.

"Ah, tidak," Oen Ceng mencegah, dengan memaksa.

"Kalau Wan Toako mempunyai urusan penting, tak dapat kita halangi dia," Oen Cheng turut bicara. "Jangan kita menghambat dia."

"Baik!" kata Oen Ceng akhirnya. "Jikalau kau tetap hendak pergi, bawalah ini bungkusan bersamamu! Kau tak sudi berdiam di rumahku, terang kau tak pandang mata kepadaku!"

Sin Cie berdiam. "Kau baik sekali, Saudara Oen, baiklah," sahut ia akhir-akhirnya. Dengan tiba-tiba, Oen Ceng jadi sangat girang.

"Lekas siapkan kue!" ia menitah kepada bujang.

Oen Cheng nampaknya tak senang, tetapi ia tidak meninggalkan mereka, ia terus duduk menemani, hanya selama itu, ia bicara kadang-kadang saja.

Oen Ceng ajak tetamunya bicara tentang pelbagai kitab. Mengenai ilmu syair, Sin Cie merasa asing, tapi mengenai ilmu perang, itu adalah keyakinannya sejak masih kecil. Tuan rumah bisa imbangi kegemaran tetamunya, ia lantas omong banyak tentang peperangan.

"Heran," pikir Sin Cie. "Dia bertabeat aneh akan tetapi pembacaannya luas."

Di pihak lain, Oen Cheng beda dari adiknya itu. Dia mengerti ilmu silat dengan baik akan tetapi budek atau buta mengenai ilmu surat. Nampaknya ia sebal mendengari orang bicara hal sastera tetapi toh ia tidak hendak undurkan diri... Karena merasa tak enak hati sendirinya, Sin Cie ajak si jangkung-kurus itu bicara tentang ilmu silat, suka dia melayani, akan tetapi belum mereka bicara banyak, Oen Ceng sudah lantas menyelak dan geser pembicaraan ke lain soal.

Di mata Sin Cie, dua saudara itu beda satu dari lain. Dan juga, walaupun Oen Cheng ada sang kakak, nampaknya dia jeri terhadap adiknya, sama sekali dia sungkan bentrok. Malah kalau kena disenggapi, kakak ini tertawa....

Sementara itu juga kelihatan nyata, Oen Ceng bermaksud baik, kecuali sangat ramah­tamah, dia senantiasa berseri-seri, dia gembira sekali.

Kapan sang sore tiba, orang menghadapi pula barang hidangan, kali ini, semua-semua ada lebih hebat daripada yang disuguhkan tadi tengah hari.

"Aku merasa lelah, ingin aku tidur siang-siang," kata Sin Cie sehabis bersantap.

"Tempat kediamanku ini ada satu tempat kecil, maka adalah sukar untuk mendapat kunjungan tetamu sebagai kau ini, Saudara Wan," berkata Oen Ceng. "Sebenarnya aku ingin sekali kita menghadapi lampu untuk pasang omong tentang pelbagai soal, tetapi sebab kau lelah dan ngantuk, baiklah, besok saja kita bicara lebih jauh."

"Saudara Wan, mari tidur di kamarku," berkata Oen Cheng.

"Di kamarmu mana bisa ketempatan tetamu?" kata Oen Ceng. "Tentu saja kamarku!"

Wajah Oen Cheng, sang kanda, berubah.

"Apa?" tegasi dia.

"Ada apa sih jeleknya?" Oen Ceng tanya. "Aku sendiri akan tidur sama ibu!"

Bukan kepalang tak senangnya Oen Cheng, tetapi tanpa bilang suatu apa, malah tanpa permisi lagi dari Sin Cie, dia ngeloyor pergi.

"Hm, tak tahu aturan!" Oen Ceng , sang adik, ngoceh sendirian. "Dia tak kuatir orang nanti tertawai!"

Tak enak hatinya Sin Cie karena engko dan adik itu bentrok karena urusannya.

"Sudah biasa bagi aku akan tinggal di tempat sunyi, untukku tak usah saudara terlalu memusinginya," kata dia.

Oen Ceng lantas saja bersenyum.

"Baik, aku tak akan terlalu memusingi!" katanya. Tapi toh ia sembat ciaktay, ia bawa itu: "Mari turut aku!"

Sin Cie mengikuti. Mereka melewati dua pekarangan dalam, sampai di ruangan ketiga di mana dari arah timur mereka mendaki tangga lauwteng. Di muka kamar, tuan rumah menolak daun pintunya.

Sekelebatan, mata Sin Cie kesilauan. Hidungnya pun segera terserang serupa bau harum.

Kamar itu diterangi sebatang lilin besar, yang apinya terang. Kelambu terbuat dari kain mahal, sedang sprei tersulam burung hong warna kuning. Di tembok ada gambar seorang wanita lukisannya Tong In. Di depan pembaringan ada satu meja yang lengkap dengan bakhie, kertas dan lainnya perabot-tulis, malah pitnya sampai enam-tujuh batang. Di ujung meja sebelah barat ada satu pot bunga sui-sian, sedang di atas para-para ada seekor burung nuri putih.

Dia datang dari gunung, tak heran Sin Cie kagum dengan kamar ini, hingga ia tercengang.

"Inilah kamarku," Oen Ceng beritahu. Ia tertawa. "Baik Saudara beristirahat di sini satu malam ini."

Tanpa tunggu tetamunya menyahuti, Oen Ceng singkap muilie, akan berlalu pergi.

Sin Cie periksa seluruh ruangan, sampai ia tak dapatkan sesuatu apa yang mencurigai, Baru ia tutup pintu. Selagi ia hendak buka baju, untuk naik tidur, tiba-tiba ia dengar ketokan pada pintu, ketokan yang pelahan sekali.

"Siapa?" tanya ia.

Pertanyaan itu dijawab sama tertolaknya daun pintu dan muncullah satu bujang perempuan umur enam atau tujuh belas tahun, romannya cantik dan cerdik, di tangannya ada sebuah nampan.

"Wan Siauwya, silakan dahar tiat-sim," ia mengundang. Ia letaki nampan di atas meja.

Itu adalah semangkok yan-oh.

Pemuda ini ada puteranya satu kepala perang, akan tetapi sejak masih kecil sekali, ia telah tinggal di dalam desa, di atas gunung yang sunyi, maka itu, belum pernah ia tampak minuman istimewa itu, tidak heran, ia tak tahu apa itu yan-oh. Ia pun baru pernah kali ini bicara dengan orang perempuan remaja, ia likat sendirinya, wajahnya menjadi bersemu dadu.

"Namaku Goat Hoa, Wan Siauwya," kata si kacung sembari tertawa manis. "Siauwya yang tugaskan aku melayani kepadamu. Jika Siauwya perlu apa-apa, perintah saja aku, nanti aku kerjakan."

"Tidak apa-apa lagi," bilang Sin Cie dengan ringkas. Ia pun memang tak tahu apa lagi yang ia butuhkan.

Goat Hoa undurkan diri pelahan-lahan.

"Itulah buatan siauwya sendiri istimewa untuk Wan Siauwya!" kata dia.

Sin Cie melengak, tak tahu apa ia mesti bilang. Goat Hoa bertindak keluar sembari tertawa, dengan pelahan ia tarik rapat daun pintu. Sin Cie buka bajunya, ia singkap selimut dan naik ke atas pembaringan. Itu adalah satu pembaringan yang harum sekali sehingga bisa bikin orang tak sadar akan dirinya....

Tanpa curiga, Sin Cie jatuh pulas. Akan tetapi tengah malam, ia sadar karena ia dengar suara tertawa pelahan di arah jendela - tertawa cekikikan. Ia memang waspada dan getap. Tiba-tiba terdengar ketokan pelahan pada jendela, dua kali, yang segera disusul dengan suara tertawa empuk dan kata-kata: "Rembulan bercahaya, angin sejuk, malam indah.... Saudara Wan, tak kuatirkah kau akan mensia-siakan waktu yang begitu bagus?" Sin Cie kenali suaranya Oen Ceng. Ia menoleh ke arah jendela. Di antara kelambu, ia tampak sinar rembulan yang permai. Ia pun lihat bayangan orang bergelantungan di depan jendela, kaki di atas kepala di bawah. Orang itu sedang mengintai ke dalam kamar.

"Baik, aku nanti pakai baju dan keluar," pemuda ini menyahuti. Tertarik rasa heran Sin Cie, ia jadi sangat ingin tahu kelakuannya tuan rumah yang luar biasa itu. Hendak ia ketahui, sebenarnya tuan rumah itu ada orang macam apa. Setelah pakai baju, ia selipkan pisau belati di pinggangnya. Begitu pentang daun jendela, bau wangi menyerang hidungnya. Nyatalah kamar itu mempunyai jendela yang menghadap taman bunga. Oen Ceng sendiri sudah mendahului loncat turun dari payon rumah di mana ia barusan bergelantungan.

"Mari turut aku!" ia mengundang sambil terus bertindak lebih dahulu. Di tangannya, ia menenteng sebuah naya. Tanpa bilang suatu apa, Sin Cie mengikuti. Tuan rumah itu keluar dari dalam taman dengan jalan loncati tembok pekarangan, sesampainya di luar, ia berlari-lari dengan cepat menuju ke bukit dan lalu mendakinya. Sin Cie terus mengikuti sambil berlari-lari juga. Hampir sampai di puncak, Oen Ceng menikung, sampai dua kali, lantas mereka sampai di satu tempat di mana angin halus mendesir-desir, bau harum datang dari empat penjuru di mana terdapat pohon-pohon bunga. Sinar rembulan ada indah sekali, mirip dengan salju putih, hingga tertampak nyata bunga-bunga mawar putih dan kuning.

"Mirip dengan tempat pertapaan!" Sin Cie memuji saking kagum.

"Semua pohon bunga ini adalah hasil tanamanku sendiri," Oen Ceng kasi keterangan. "Kecuali ibu dan bujang-bujang perempuan, lain orang, siapapun dilarang datang kemari!" Dengan tenteng terus nayanya, Oen Ceng jalan di depan, pelahan-lahan. Sin Cie mengikuti terus, dengan perasaan seperti melayang-layang. Tanpa merasa, sekarang hilanglah sikap berhati-hatinya.

Mereka sampai di sebuah paseban kecil mungil. "Silakan duduk," Oen Ceng mempersilakan seraya ia turunkan nayanya, untuk buka itu, akan keluarkan satu poci arak berikut dua cangkirnya, cangkir-cangkir mana terus ia tuangi penuh arak dari poci tersebut. "Di sini orang dilarang dahar barang berjiwa," kata pemuda she Oen ini. Dan ia keluarkan beberapa rupa sayur. Sin Cie dapatkan semua itu adalah terbuat dari jamur, bokjie dan lainnya. Masih Oen Ceng keluarkan serupa barang dari dalam nayanya itu, ialah sebatang seruling kuningan. "Aku nanti tiup serupa lagu untuk kau dengar," kata dia. Sin Cie manggut. Segera anak muda itu tiup alat musiknya itu, suaranya pelahan.


Sin Cie asing dengan alat-alat tetabuhan akan tetapi waktu itu ia rasai dirinya bagaikan terapung-apung di awang-awang, ia seperti merasa berada di wilayah dewa-dewa, bukan lagi di dalam dunia... Oen Ceng meniup habis satu lagu, ia tertawa. "Kau gemar lagu apa?" tanyanya. "Nanti aku mainkan untukmu..."

"Ah, kau tahu banyak sekali?" kata Sin Cie. "Mengapa kau begini cerdas?" Pemuda itu angkat dahinya, ia tertawa.

"Apa benar?" katanya. Ia angkat pula serulingnya, ia tiup lagi sebuah lagu, yang tekukannya terlebih halus dan merdu.

Sejak dia dilahirkan, belum pernah Sin Cie mengalami suasana sebagai ini.

"Apakah lagu ini enak didengarnya?" tanya pula Oen Ceng sehabis meniup.

"Di dalam dunia ada lagu begini merdu, mimpi pun aku tak pernah," sahut pemuda she Wan ini. Kedua mata Oen Ceng memain, ia bersenyum. Mereka duduk dekat satu dengan lain, hidungnya Sin Cie dapat tangkap bau harum, kecuali harumnya bunga mawar juga sedikit wangi yancie dan pupur, hingga kembali ia merasa, anak muda di sampingnya ini benar-benar tak punyakan sifat keperwiraan...

"Kau suka dengar atau tidak aku meniup seruling?" Oen Ceng tanya selagi orang berpikir.

Sin Cie manggut. Kembali Oen Ceng bawa seruling ke pinggir mulutnya, akan mulai meniup pula. Kembali Sin Cie mendengari dengan pikiran turut melayang-layang pula.Sedangnya begitu, mendadak suara seruling berhenti, disusul sama suara patahnya alat musik tiup itu.

Pemuda kita terkejut. "Eh, eh, kenapa? Kenapa?" tanyanya. "Bukankah kau... kau meniupnya dengan baik-baik."

Oen Ceng tunduk. "Biasanya tak pernah aku tiup seruling untuk lain orang dengari..." sahutnya dengan pelahan. "Mereka semua cuma gemar geraki golok, mainkan pedang. Mereka tak suka dengar lagu..."

"Tapi aku tidak dustakan kau, sesungguhnya aku suka mendengari," Sin Cie bilang. "Toh besok kau bakal pergi! Begitu kau pergi, kau tidak bakal kembali. Untuk apa aku tiup pula serulingku?"

Dalam herannya, Sin Cie mengawasi. Oen Ceng berhenti sebentar, lalu ia menambahkan: "Aku insyaf tabeatku buruk, akan tetapi tak dapat aku atasi diriku... Aku tahu kau sebal terhadapku, di dalam hatimu, kau tak melihat mata padaku..." Heran dan bingung adalah si anak muda, hingga ia diam saja. "Itulah sebabnya mengapa kau selanjutnya tak bakal datang pula," kata lagi Oen Ceng.

"Ini adalah untuk pertama kali aku berkelana," berkata Sin Cie kemudian. "Tak bisa aku mendusta. Kau bilang, di dalam hatiku, aku tak memandang mata kepadamu, bahwa aku sebal terhadapmu. Bicara hal yang benar, tadinya benar aku beranggapan demikian, akan tetapi sekarang adalah lain."

"Apa?" tanya Oen Ceng, dengan pelahan.

"Ya. Aku lihat, tentu ada apa-apa yang mendukakanmu, maka juga tabeatmu jadi luar biasa begini. Apakah itu? Apa bisa kau tuturkan itu kepadaku?"

Sahabat itu berdiam, sampai sekian lama, sampai mendadak ia angkat kepalanya. "Suka aku memberitahukan kepadamu, namun aku kuatir kau nanti tak memandang mata kepadaku," kata dia.

"Itulah tak akan terjadi!" Sin Cie memastikannya.

Oen Ceng kertak giginya. "Baiklah!" katanya kemudian. "Aku nanti beri keterangan padamu!" Sin Cie mengawasi, ia mendengari. "Ketika dahulu ibuku masih muda remaja, ia telah kena diperhina oleh satu manusia busuk, karenanya, terlahirlah aku," demikian pemuda itu menerangkan. "Celakanya, engkong luarku, yang hendak labrak orang busuk itu, sudah tidak sanggup lakukan itu, karena ia tak dapat memenangkannya. Baru belakangan engkong dapat kumpul lebih dari sepuluh kawan yang liehay, bersama-sama mereka barulah manusia busuk itu dapat dibikin kabur. Begitulah maka aku tidak punyakan ayah...."

Bicara sampai di situ, Oen Ceng berhenti, air matanya lantas mengalir.

"Kalau begitu, tak dapat kau dipersalahkan, tak dapat juga ibumu disesalkan," kata Sin Cie, yang menghibur. "Yang salah adalah manusia busuk itu."

"Akan tetapi lain orang tak sependapat sebagai kau," kata Oen Ceng. "Di depan, mereka tak berani bilang suatu apa, di belakang, diam-diam mereka caci aku, mereka pun caci ibu..."

"Hm, siapa si manusianya yang demikian hina-dina?" seru Sin Cie. "Baik, aku janji padamu, aku nanti bantu kau menghajar manusia jahil mulut itu! Sekarang tak lagi aku jemu terhadapmu, umpama kau suka anggap aku sebagai sahabat, pasti aku akan datang pula kepadamu!"

Oen Ceng girang hingga ia loncat berjingkrak. Melihat tingkah orang itu, Sin Cie tertawa. "Aku janji untuk kembali, kau girang bukan?" tanyanya, tertawa.

"Kau toh bilang, kau bakal datang kembali."

"Memang tidak nanti aku memperdayakan kau."

Sekonyong-konyong ada suara berkeresek di belakang mereka. Sin Cie menduga ada orang, ia segera berbangkit sambil putar tubuh. Ia pun segera dengar suara yang dingin sekali. Katanya: "Tengah malam buta-rata kasak-kusuk di sini, kamu bikin apa, he?" Orang itu jangkung dan kurus. Dia adalah Oen Cheng. Wajahnya suram-guram karena hawa amarah yang meluap-luap. Dia berdiri tegak dengan kedua tangan di pinggang.

Oen Ceng pun kaget, akan tetapi kapan ia kenali Oen Cheng, sang kakak, ia gusar. "Perlu apa kau datang kemari?" dia menegur.

"Tanyalah dirimu sendiri!" Oen Cheng membalas.

"Aku sedang gadangi rembulan bersama saudara Wan ini! Siapa undang kau?" sang adik menegur pula. "Siapa juga dilarang datang kemari, kecuali ibuku! Samyaya bilang ini! Kau berani melanggarnya?"

Oen Cheng tunjuk Sin Cie. "Dia ini? Kenapa dia datang kemari?" ia balik tanya.

"Aku undang dia! Kau tak berhak mencampurinya!"

Tak enak hatinya Sin Cie karena engko dan adik itu bentrok karena dia. "Sudah cukup kita gadangi rembulan, mari kita pulang," katanya.

"Aku tidak sudi pulang!" kata Oen Ceng. "Kau duduk!" Sin Cie duduk pula. Oen Cheng berdiri diam, tapi hatinya terang tak tenteram.

"Semua bunga ini adalah tanaman tanganku sendiri, aku larang kau melihatnya!" kata Oen Ceng dengan gusar kepada kandanya itu.

"Aku telah lihat semuanya, sekarang aku hendak cium baunya," Oen Cheng jawab.

Benar-benar ia dekati beberapa tangkai bunga, untuk dicium berulang-ulang.

Meluap hawa-amarahnya Oen Ceng, dia berloncat bangun, dia sambar pohon bunga, dia cabuti itu dengan kedua tangannya, setiap kali ia mencabut, ia terus lemparkan. Ia berbuat itu sambil menangis.

"Baik, baik, kau menghina aku, kau menghina aku!" dia berteriak-teriak. "Sekarang aku cabut pohon-pohon mawar ini, siapa pun tak bisa melihatnya lagi! Sekarang tentu barulah kau puas!"

Lebih daripada dua-puluh pohon mawar telah menjadi korban.

Oen Cheng tetap sangat gusar, akan tetapi dia bungkam, ia putar tubuhnya dan bertindak dengan mengarungi penasaran. Baru beberapa tindak, ia toh menoleh dan berkata: "Aku berlaku baik terhadapmu, begini rupa kau perlakukan aku. Coba pikir sendiri olehmu, kau punyai liangsim atau tidak?"

Oen Ceng menangis.

"Siapa kesudian kau berlaku baik kepadaku?" kata dia. "Jikalau kau tidak suka lihat padaku, pergi kau minta semua yaya usir aku dari sini! Aku akan berdiam di sini bersama Saudara Wan ini! Pergi kau mengadu kepada yaya semua, aku tak takut!"

Oen Cheng menghela napas, lantas ia ngeloyor pergi. Ia tunduk, nampaknya ia berduka sekali.

Oen Ceng kembali ke dalam paseban dan duduk.

"Kenapa kau bersikap begini kepada kandamu?" tanya Sin Cie.

"Dia bukannya engko kandungku!" sahut Oen Ceng. "Ibuku ada dari keluarga Oen, dan di sini ada rumahnya engkong luarku. Dia adalah anaknya engko cintong ibu. Maka benarnya dia adalah kakak misanku. Coba aku punyakan ayah, pasti kami punyakan rumah sendiri, tak usah kami tinggal di rumah lain orang di mana kita jadi terima penghinaan."

Ia menangis pula.
Thanks for reading Pedang Ular Emas 8

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar