Jilid 9
Sin Cie tetap heran, terutama atas perangainya yang aneh ini.
"Aku lihat dia bersikap baik terhadapmu, adalah kau, kau yang berlaku galak terhadapnya..." katanya.
Oen Ceng angkat kepalanya, tiba-tiba ia tertawa.
"Jikalau aku tidak galaki dia, dia bakal lakukan segala apa yang bukan-bukan!" jawabnya.
Walaupun ia merasa aneh atas kelakuan lucu tapi aneh ini, sebentar nangis, sebentar tertawa, kapan Sin Cie ingat dirinya, yang juga sebatang kara, ia jadi bersimpati terhadap pemuda ini.
"Juga ayahku orang telah aniaya hingga binasa," katanya. "Ketika itu aku baru berumur tujuh tahun. Ibuku pun meninggal dalam tahun itu..."
"Apakah kau telah menuntut balas?" tanya Oen Ceng.
"Malu aku menerangkan, aku tak beruntung..."
"Jikalau kau hendak menuntut balas, aku nanti bantu padamu!" menyatakan Oen Ceng. "Tidak perduli musuhmu itu bagaimana liehay, aku pasti bantu kau!"
Sin Cie sangat bersyukur, hingga ia cekal keras tangan orang. "Terima kasih," kata dia.
Oen Ceng tarik tangannya akan tetapi toh kena dicekal juga. Ia antapkan. "Dalam hal bugee kau terlebih pandai sepuluh lipat daripadaku," kata pemuda she Oen. "Akan tetapi mengenai penghidupan dalam kalangan sungai telaga, kau rupanya masih asing sekali, maka itu di belakang hari, aku nanti bantu kau dengan pikiran."
"Kau baik sekali. Aku tak punya kawan yang usianya berimbang, baru sekarang aku menemui kau..."
"Melainkan adatku jelek," mengakui Oen Ceng sambil tunduk. "Aku kuatir nanti datang suatu hari yang aku berbuat salah terhadapmu..."
"Aku pandang kau sebagai sahabat, aku tahu tabeatmu ini, umpama kau kejadian berbuat salah, aku tak akan buat perhatian," Sin Cie bilang.
Oen Ceng jadi sangat girang, ia menghela napas lega. "Adalah di dalam hal ini yang hatiku tak tenang," ia bilang. Sin Cie lihat perubahan sikap orang. Sekarang Oen Ceng jadi sangat lemah-lembut, lenyap ketelengasannya waktu di tengah sungai. "Aku hendak bicara sama kau, Saudara Wan, entah kau suka dengar atau tidak..." katanya. "Di dalam dunia ini, cuma tiga orang yang aku dengar perkataannya," sahut anak muda itu. "Yang pertama adalah yayaku, yang kedua ibuku, dan yang ketiga...kau!"
Hatinya Sin Cie tergerak. "Nyata kau hargai aku," katanya. "Sebenarnya, perkataan siapa juga, asal yang pantas, harus kita dengar."
"Hm, tak mau aku sembarang dengar! Siapa perlakukan baik padaku, asal aku... aku suka padanya, tidak perduli kata-katanya pantas atau tidak, aku suka dengar dia. Jikalau manusia yang aku jemu, biar dia omong pantas, tidak nanti aku dengar!"
Sin Cie tertawa. "Kau bertabeat bocah! Berapa usiamu sekarang?"
"Delapan belas tahun. Kau?"
"Aku lebih tua dua tahun."
Oen Ceng tunduk, mendadak wajahnya berubah merah. "Aku tidak punya engko, apa tidak baik jikalau kita angkat saudara?" ia bicara dengan pelahan, masih ia tunduk.
Sin Cie ada terlalu teliti untuk segera terima baik tawaran itu. Ia masih belum ketahui jelas pemuda ini sekalipun orang sendirinya telah mempercayainya. Oen Ceng tidak dapat jawaban, ia bangun berdiri, mendadak ia lari. Sin Cie terkejut, ia memburu. Ia lihat orang lari ke atas puncak. "Ia beradat keras sekali. Tak dapat dia disinggung, tak boleh dia tak terkabul keinginannya..." Ia jadi kuatir pemuda itu nampak bencana, maka ia memburu dengan cepat, kali ini ia gunai ilmu entengi tubuh, atau ilmu lari keras, ajaran Bhok Siang Toojin. Maka dalam beberapa rintasan saja, sudah dapat ia menyandak, malah ia segera mendahului, akan menghalang di sebelah depan. "Adik Un, kau gusar kepadaku?" tanyanya.
Mendengar ia dipanggil "adik", Oen Ceng girang dengan tiba-tiba. Ia berhenti lari, lantas ia duduk. "Kau tidak lihat mata padaku, kenapa kau panggil aku adik?" tanya dia.
"Kapan aku tak lihat mata padamu?" balas tanya Sin Cie. "Mari, mari, mari, di sini saja kita angkat saudara!"
Benar-benar keduanya berdiri berendeng, lalu mereka paykui dengan berbareng, menghadap si Puteri Malam, akan angkat sumpah sebagai saudara, untuk hidup senang dan susah bersama-sama. Kemudian mereka berbangkit. Lantas kepada Sin Cie, Oen Ceng memberi hormat sambil menjura seraya memanggil: "Toako!" Suaranya pelahan. Sin Cie balas hormat itu. "Baik aku panggil kau jie-tee," ia bilang. Jie-tee adalah adik. "Sekarang sudah jauh malam, mari kita pulang dan tidur."
Oen Ceng menurut lantas mereka balik ke paseban, untuk benahkan naya, lalu dengan bergandengan tangan, mereka lari pulang. "Jangan kau banguni ibu, kita tidur di sini saja," kata Sin Cie sesampainya mereka di dalam kamar.
Mukanya Oen Ceng merah mendadak, tangannya menolak. "Kau.... kau...." katanya yang terus tertawa. "Sampai besok..." Dia lari keluar kamar, hingga anak muda kita menjadi melengak. "Aneh!" pikirnya.
Besoknya pagi-pagi, Sin Cie sudah bangun seperti biasa, terus ia bercokol di atas pembaringan, untuk bersamedi, tapi ketika Goat Hoa muncul dengan tiamsim dan air, ia loncat turun.
"Terima kasih," kata ia kepada kacung itu.
Kemudian, selagi anak muda ini dahar tiamsim, Oen Ceng muncul di dalam kamarnya.
"Toako, di luar ada datang satu nona, "katanya sambil tertawa. "Katanya dia datang untuk menagih emas. Mari kita lihat."
"Baik," sahut Sin Cie.
Maka keduanya lantas pergi keluar, ke thia besar. Di sini mereka saksikan satu pertempuran dahsyat: Oen Cheng sedang layani satu nona. Di kedua pinggiran dua orang tua asyik menonton sambil duduk. Orang tua yang satu menyekal sebatang tongkat, yang lain bertangan kosong.
Oen Ceng hampirkan orang tua yang memegang tongkat di kuping siapa ia terus berbisik, atas mana orang tua itu menoleh kepada Sin Cie, untuk dipandang dengan perhatian, sesudah mana, dia manggut-manggut.
Sin Cie lihat wanita yang lagi bertanding itu, yang ia taksir umurnya delapan atau sembilan-belas tahun, kedua belah pipinya bersemu merah, parasnya cantik sekali. Ia menduga-duga, siapa nona itu.
Pertempuran itu berlangsung sepuluh jurus lebih, dua-dua tetap tangguh nampaknya.
Sekonyong-konyong hati Sin Cie tergerak, ia bersangsi.
Nona itu tiba-tiba merangsek, ujung pedangnya menyambar ke arah pundak Oen Cheng. Mereka memang berkelahi dengan gunai senjata tajam. Gegaman Oen Cheng adalah tantoo, golok sebatang. Tusukan itu hebat sekali, tapi yang ditusuk segera menangkis. Jikalau pedang kena tertangkis, mestinya terpental. Tapi si nona gesit dan liehay, tak tunggu pedangnya disampok, dia telah putar itu, untuk dikelitkan akan diteruskan menusuk leher! Oen Cheng kaget, ia mencelat mundur tiga tindak.
Masih si nona tak mau berhenti, dia juga loncat akan menyusul, akan menusuk pula, buat menabas beberapa kali ketika tusukannya lolos dan beberapa tabasannya tidak memberi hasil. Desakannya itu ada sangat membahayakan.
Sekarang Sin Cie sudah lihat nyata gerak-gerakan tubuh orang, kaki dan tangan. Nona itu bukan murid dari Hoa San Pay akan tetapi sedikitnya dia mesti pernah terima didikan dari salah satu murid Hoa San Pay itu, kalau tidak, tidak nanti dia sanggup layani terus pada Oen Cheng. Tidak perduli dia garang, pedangnya liehay, akan tetapi di dalam hal latihan dan ketenangan, dia bukan tandingannya pemuda she Oen ini, yang hatinya mantap.
Oen Ceng pun lihat si nona bukan lawannya itu kakak misan, maka sambil bersenyum tawar, dia kata seorang diri: "Hm, dengan kepandaian seperti ini berani datang untuk menagih emas!..."
Memang, setelah gagalnya desakannya itu, si nona mulai kendor gerakannya, tetapi di depan ia, Oen Cheng tetap seperti biasa, malah sekarang, pemuda ini mulai mendesak, satu bacokan demi satu bacokan yang mengancam sekali.
Sin Cie lihat keadaan telah sampai di saat paling genting, mendadakan ia lompat maju ke dalam kalangan, menyelak di antara kedua orang yang lagi bertempur itu. Ia menempuh bahaya, karena justru itu, pedang dan golok lagi saling sambar, hingga dia mesti menjadi talenan.
Oen Ceng kaget hingga ia menjerit.
Kedua orang tua juga loncat bangun dari kursi mereka, akan tetapi mereka masih tak sempat memburu untuk mencegah perbuatan berbahaya itu.
Akan tetapi Sin Cie tak tampak bencana walaupun golok dan pedang sambar ia. Dengan tangan kanan, dengan pelahan, ia tolak lengannya Oen Cheng. Dengan tangan kiri, dengan pelahan juga, ia sambuti lengannya si nona. Ia bebas dari serangan sebab segera ia mendak di antara mereka, cuma kedua tangannya membujur ke atas.
Dengan tangkisan semacam ini, tidak ampun lagi, kedua tangan dari dua-dua penyerang kena tertolak mundur, dengan begitu, dengan sendirinya juga, pedang dan golok mereka tak dapat meminta korban.
Coba ia inginkan itu, dengan leluasa Sin Cie bisa teruskan merampas pedang dan golok orang itu, tapi ia sudah tidak berbuat demikian, ia kuatir Oen Cheng mendapat malu dan menjadi tak senang. Juga dengan cara ini, ia telah membuat kaget dua orang yang adu jiwa itu, sebab tidak saja tangan mereka tertolak, tubuh mereka juga mesti mundur beberapa tindak, supaya mereka tak usah rubuh terbalik. Tanpa merasa, tangkisan Sin Cie telah menggempur juga kuda-kuda mereka itu. Maka mereka menjadi kaget dan heran, mereka menjadi gusar juga.
Oen Cheng gusar berhubung dengan kejadian semalam di puncak di mana ia tak dapat muka dari adik misannya ia malu sendirinya terhadap pemuda tetamunya itu.
Si nona tak dikenal menjadi gusar karena ia menyangka Sin Cie, yang keluar dari dalam, adalah konconya lawan itu. Akan tetapi ia insyaf kegagahan orang itu, ia tahu ia tak bakal berhasil, dari itu bukannya ia menegur atau menyerang, ia hanya loncat pula, mundur, untuk angkat kaki.
"Nona, tunggu dulu!" Sin Cie mencegah apabila ia lihat sikap orang. "Aku hendak bicara!"
"Tak dapat aku lawan kamu!" berseru nona itu dalam murkanya. "Bakal ada lain orang yang terlebih pandai dariku, yang akan datang pula akan menagih emas! Kau ingin apa?"
Sin Cie menjura kepada nona itu.
"Jangan gusar, Nona," berkata dia. "Aku ingin ketahui she dan namamu yang terhormat..."
"Fui!" si nona berludah. "Siapa sudi ngobrol denganmu!"
Dengan satu loncatan, nona ini mencelat keluar pintu.
Sin Cie menjejak dengan kaki kirinya, tubuhnya mencelat hingga ia dapat lewati nona itu, di depan siapa ia menghalang.
"Jangan pergi dulu!" kata dia. "Aku bantu padamu!"
Nona itu melengak, ia mengawasi.
"Kau siapa?" tanya dia.
"Aku orang she Wan," jawab Sin Cie. Nona itu berdiam, ia mengawasi dengan matanya mencilak.
"Apakah kau kenal An Toa-nio?" tanya si nona. Sin Cie rasai tubuhnya seperti menggigil, telapakan tangannya panas.
"Aku Sin Cie!" ia memperkenalkan diri. "Kau toh Siauw Hui?"
Mendadak si nona kegirangan hingga ia lupa akan dirinya. Ia sambar tangannya si anak muda dan tarik itu. "Benar, benar!" serunya. "Kau benar-benar Wan Toako!" Tapi segera si nona lepas pula cekalannya, mukanya menjadi merah. Ia jengah.
Oen Ceng saksikan itu semua, ia menjadi tak leluasa sendirinya. Oen Cheng sebaliknya lantas berseru: "Aku kira kau siapa, Saudara Wan, kau kiranya ada mata-matanya Lie Cu Seng yang dikirim kepada kami di sini!"
Sin Cie tercengang. Ia benar-benar tak mengerti. "Aku kenal Giam Ong, itulah benar," kata dia. "Tapi itu tak dapat diartikan aku adalah mata-mata dia. Nona ini ada sahabat lamaku, sudah lebih dari sepuluh tahun kami berpisah dan tak pernah bertemu satu dengan lain. Kenapa kamu berdua bentrok? Bagaimana jikalau aku beranikan diri untuk damaikan kamu kedua pihak."
"Jikalau dia keluarkan emas yang aku minta, baru urusan dapat diselesaikan," kata Siauw Hui.
"Apakah demikian gampang?" kata Oen Cheng dengan mengejek.
"Saudara, mari aku ajar kenal," berkata Sin Cie. "Nona ini ada nona An Siauw Hui. Ketika kami masih kecil, kami tinggal bersama. Sampai sekarang ini, sudah sepuluh tahun kami tak pernah saling bertemu."
Dengan dingin Oen Cheng awasi si nona, ia tidak memberi hormat, ia pun diam saja. Tak enak hatinya Sin Cie karena sikap orang itu. "Bagaimana kau kenali aku?" pemuda ini lalu tanya si nona An.
"Itulah tanda di atas jidatmu!" jawab Siauw Hui. "Bagaimana aku bisa lupakan itu? Ketika kita masih kecil, ada datang orang hendak culik aku, dengan mati-matian kau tolong padaku dan kau kena dilukai. Apakah kau telah lupa?"
Memang di jidatnya Sin Cie ada sedikit tanda luka. Anak muda ini tertawa, dia kata: "Pada hari itu kita sedang main masak-masakan dengan pakai mangkok dan kwali kecil!"
Wajahnya Oen Ceng menjadi berubah.
"Pergilah kamu pasang omong, aku hendak masuk ke dalam..." kata dia. Terang dia tidak puas.
"Tunggu sebentar!" Sin Cie mencegah. Ia kaget untuk sikapnya pemuda itu. "Siauw Hui, bagaimana duduknya maka kau jadi bentrok dengan Oen Toako ini?"
"Aku bersama... bersama Cui Suheng..." kata Siauw Hui. Tapi segera ia dipegat.
"Cui Suheng?" demikian Sin Cie. "Apa bukannya Siokhu Cui Ciu San?"
"Dia ada cucu keponakannya Siokhu Cui Ciu San," Siauw Hui terangkan. "Kami mengantari sejumlah uangnya Giam Ong untuk propinsi Ciatkang. Dia ini orang busuk, di tengah jalan dia merampasnya!..." Dia tuding Oen Ceng.
Baru sekarang Sin Cie ketahui, emasnya Oen Ceng itu ada hartanya Giam Ong. Jangan kata Giam Ong pernah sambut ia secara terhormat, dan gurunya - Cui Ciu San - sedang bantui Giam Ong itu, walaupun hanya karena Cui Cio San, An Toa-nio dan Siauw Hui bertiga saja, pasti dia bantui pihaknya Siauw Hui ini. Lain dari itu, emas itu Giam Ong kirim jauh dari Siamsay ke Ciatkang, mestinya itu ada penting sekali. Bukankah Giam Ong lagi bergerak untuk tolong rakyat? Bagaimana ia bisa tak berikan bantuannya? Maka lantas ia ambil putusannya, ia kata kepada Oen Ceng: "Saudara, tolong kau lihat aku, baik kau kembalikan emasnya itu."
"Hm!" Oen Ceng jawab. "Kau ketemui dulu kedua yayaku ini, baru kita bicara."
Mendengar kedua orang tua itu adalah yayanya Oen Ceng (engkong), Sin Cie pikir, harus ia beri hormatnya, sebab ia toh telah angkat saudara dengan cucu mereka itu. Tidak ayal lagi, ia hampirkan mereka di depan siapa ia paykui.
Si orang tua, yang memegang tongkat, berseru: "Ah, mana aku sanggup terima kehormatan ini? Saudara Wan, silakan bangun!"
Di mulut orang tua ini mengucap demikian, akan tetapi dengan kedua tangannya - setelah ia senderkan tongkatnya di pinggiran kursi - ia pegang kedua ujung bahu si anak muda, untuk dikasih bangun, untuk mana ia telah kerahkan tenaga khie-kangnya.
Sin cie terkejut kapan ia rasai cekalan yang keras, yang membikin tubuhnya seperti hendak terangkat, apabila ia diam saja, tentu tubuhnya bakal terapung tinggi. Maka untuk mencegah, ia lekas-lekas kerahkan juga tenaganya. Secara begini, tanpa terganggu, ia bisa manggut terus sampai empat kali.
Orang tua itu kaget dalam hatinya.
"Liehay khiekangnya anak ini," berpikir ia. "Dengan latihanku dari puluhan tahun masih aku tidak sanggup angkat tubuhnya..." Maka ia lantas saja tertawa berkakakan dan terus kata: "Ceng-jie bilang Saudara Wan mempunyai bugee liehay, itulah benar!" Artinya Ceng-jie adalah "anak Ceng" atau "si Ceng".
"Inilah sam-yaya, "Oen Ceng terangkan. Kemudian ia menunjuk kepada orang tua yang bertangan kosong. "Ini adalah Ngo-yaya," ia tambahkan.
"Rupanya mereka ini adalah dua di antara Ngo-Couw dari Cio Liang Pay," pikir Sin Cie. "Couw" berarti ketua atau leluhur kaum. Maka itu, ia pun memanggil: "Yaya".
Sam-yaya itu, "engkong" ketiga, ada Oen Beng San, dan Ngo-yaya, ada Oen Beng Go. Mereka tidak senang dipanggil "yaya", maka itu mereka diam saja.
Sin Cie heran atas kelakuan itu, ia pun jadi tak senang.
"Ayahku ialah panglima pahlawan penentang musuh, jenderal di Liauwtong, dengan aku angkat saudara dengan cucu kamu, itu toh tak merendahkan derajatmu?" kata dia dalam hatinya. Tapi segera ia menoleh kepada Oen Ceng: "Aku minta saudaraku, kau kembalikanlah emasnya nona ini."
"Kau senantiasa menyebut nona, nona saja, tetapi lain orang, tak kau perhatikan!" membalas Oen Ceng.
"Saudara, kita yang meyakinkan ilmu silat, kita harus hargakan kehormatan," berkata pula Sin Cie. "Emas itu ada kepunyaan Giam Ong, waktu kau rampas, kau tidak ketahui, karenanya, itu tak menjadi soal. Sekarang kita telah mengetahuinya, apabila kita tidak mengembalikannya, itu artinya kita tak memandang-mandang."
Oen Beng San dan Oen Beng Go juga tidak tahu suatu apa mengenai emas itu, mereka sangka itu ada satu kepunyaan suatu saudagar besar, baru sekarang mereka ketahui dari keterangan Siauw Hui dan Sin Cie, dengan sendirinya mereka pun merasa tak enak. Memang mereka tahu pengaruhnya Giam Ong, yang ditunjang oleh banyak sekali orang-orang Kang-ouw kenamaan. Mereka mengerti, apabila mereka tetap tidak mengembalikannya, di belakang hari mesti tak henti-hentinya datang orang-orang yang akan menagihnya. Dan inilah berbahaya untuk keselamatan mereka.
Oen Beng San lantas tertawa. Dia berkata kepada Sin Cie: "Dengan memandang kepada Saudara Wan, pulangilah!"
Kata-kata ini ditujukan kepada Oen Ceng.
"Tidak, Sam-yaya, itu tak bisa jadi!" kata cucu ini.
"Kau telah berikan separuh kepadaku, yang separuh itu aku akan kembalikan lebih dahulu, "kata Sin Cie pada adik angkat ini.
"Jikalau kau sendiri yang inginkan itu, aku punya yang separuh lagi pun aku akan serahkan padamu," jawab Oen Ceng. "Siapa sih yang sudi berpandangan cupat? Siapa sudi anggap emas beberapa ribu tail itu sebagai mustika? Tapi kalau dia yang inginkan, tak suka aku menyerahkannya!" Dan dia tunjuk Siauw Hui.
Nona An maju setindak. Ia jadi sangat gusar.
"Habis kau ingin bagaimana untuk kembalikan itu?" tanya dia dengan bengis. "Kau sebutkan saja!"
Oen Ceng tidak jawab nona itu, ia hanya pandang Sin Cie.
"Sebenarnya, kau hendak bantu dia atau aku?" dia tegaskan toako itu.
Sin Cie bersangsi tapi ia menjawab: "Aku tidak bantu siapa juga, aku cuma hendak turut perkataan guruku..."
"Gurumu? Siapa itu gurumu?" Oen Ceng tanya.
"Guruku ada orang penting dalam angkatan perangnya Giam Ong."
"Hm!" Oen Ceng perdengarkan ejekannya. "Pulang pergi, kau toh bantui dia! Baik emas itu ada di sini! Dengan akal aku telah curi itu, maka juga, kau pun mesti gunai akal untuk mencuri kembali! Aku kasi tempo tiga hari! Jikalau kau mempunyai kepandaian, kau ambillah! Jikalau lewat tiga hari, aku tak akan sungkan-sungkan lagi!"
Sin Cie segera tarik tangan baju Oen Ceng.
"Adikku, mari!" berkata dia, yang terus mengajak orang ke satu pojok. "Tadi malam kau bilang kau dengar perkataanku, kenapa sekarang, belum selang setengah harian, kau sudah berubah?"
"Jikalau kau perlakukan aku baik, aku pasti dengar kata-katamu," sahut Oen Ceng.
"Kenapa aku tak perlakukan baik padamu?" tanya Sin Cie. "Apa benar tak dapat aku ambil emas itu?"
Kedua matanya pemuda Oen itu menjadi merah.
"Kau bertemu sama sahabat lama, lantas kau tidak pandang orang lagi," dia kata." Bisa apa jikalau aku kangkangi harta Giam Ong? Paling juga orang bunuh aku! Ya, memang dalam hidupku ini, tak ada orang mengasihani aku..."
Hampir airmatanya pemuda ini keluar meleleh.
Sin Cie berkasihan tapi ia tidak puas.
"Kau adalah saudara angkatku, dia adalah anaknya sahabatku," kata dia dengan penjelasannya. "Dua-dua aku pandang sama, tidak ada yang aku bedakan lebih tebal atau lebih tipis, kenapa kau jadi begini rupa?"
"Sudahlah, jangan banyak omong, dalam tempo tiga hari, kau datanglah curi emas itu!" Oen Ceng pegat.
Masih Sin Cie hendak tarik tangan orang akan tetapi kali ini Oen Ceng halau tangannya dan lantas lari ke dalam.
Oleh karena perdamaian gagal, terpaksa Sin Cie ajak Siauw Hui berlalu dari rumah keluarga Oen itu, bersama-sama mereka pergi ke rumahnya seorang tani untuk menumpang nginap. Di sini Sin Cie tanya duduknya emas itu. Siauw Hui ceritakan dia antar bertiga, entah bagaimana, di tengah jalan mereka terpisah, hingga akhirnya emas didapati Oen Ceng.
Siauw Hui cerita tidak terlalu jelas, agaknya dia ragu-ragu maka Sin Cie tidak tanya melitmelit.
Pada malam hari itu, kira-kira jam dua, Sin Cie ajak nona An pergi ke rumah keluarga Oen. Begitu ia lompat naik ke atas genteng, ia dapatkan api dipasang terang-terang di seluruh thia yang lebar. Oen Beng San dan Oen Beng Go, dua saudara, duduk makan-minum bersama, Oen Cheng dan Oen Ceng dampingi mereka. Ia tidak tahu emas disimpan di mana, ia mencoba pasang kuping, supaya ia bisa peroleh sedikit penghunjukkan.
Tiba-tiba Oen Ceng, dengan tertawa dingin, kata seorang diri: "Emas ada di sini! Siapa punyakan kepandaian, dia boleh ambil!"
Siauw Hui betot Sin Cie yang berada di sebelah depannya.
"Rupanya dia tahu kita sudah berada di sini," ia berbisik.
Sin Cie manggut akan tetapi matanya terus mengawasi ke arah thia. Maka ia bisa lihat Oen Ceng keluarkan dua bungkusan, untuk diletaki di atas meja, buat segera dibuka, dibeber, hingga di antara sinar api bergemirlapanlah cahaya emas berkilau-kilau. Sesudah beber emas itu, Oen Ceng duduk, dituruti oleh Oen Cheng, kakaknya. Mereka juga letaki golok dan pedang mereka, untuk gantikan itu dengan cawan arak, buat mereka turut minum dan makan.
"Begini rupa mereka bikin penjagaan, tanpa kekerasan, cara bagaimana emas itu bisa dapat dirampas?" pikir Sin Cie.
Siauw Hui pun terdiam.
Lebih dari setengah jam mereka sudah menantikan, orang-orang di bawah itu masih tidak hendak berlalu, maka akhirnya Sin Cie tarik tangannya Siauw Hui , untuk diajak pulang ke rumah penginapan mereka. Ia tahu, malam itu mereka tidak berdaya... Di hari kedua, paginya, Siauw Hui pasang omong dengan Sin Cie. Ia beritahukan bahwa ibunya ada sehat walafiat dan ibu itu sering ingat si anak muda.
Sin Cie rogoh sakunya, akan keluarkan sepotong gelang emas yang kecil.
"Inilah pemberian ibumu kepadaku," kata dia. "Kau lihat, dulu lenganku ada sebesar gelang ini tetapi sekarang?...."
Siauw Hui tertawa. Ia awasi lengan orang.
"Engko Sin Cie, selama ini kau kerjakan apa saja?" tanya dia.
"Setiap hari aku belajar silat, lain kerjaan tak ada," Sin Cie sahuti.
"Pantas ilmu silatmu liehay sekali!" si nona memuji. "Ketika kemarin kau tolak aku, kudakudaku turut gempur..."
"Tapi, kenapa kau pun gunai ilmu pedang Hoa San Pay?" Sin Cie tanya. "Siapa ajarkan itu padamu?"
Matanya si nona merah dengan tiba-tiba, ia berpaling ke lain arah.
"Cui Suko yang ajari..."sahut ia selang sesaat. "Dia ada dari Hoa San Pay."
"Apakah dia mendapat luka?" Sin Cie tanya. "Mengapa kau berduka?"
"Mana dia mendapat luka?" balik si nona. "Dia tidak perdulikan orang, dia pisahkan diri di tengah jalan..."
Malamnya, kedua anak muda ini berangkat pula ke rumah keluarga Oen. Di thia besar tetap ada menanti empat orang, melainkan si orang-orang tua telah bertukar orang-orangnya. Mestinya mereka ini berdua ada yang lain-lainnya dari Ngo-Couw, kelima tetuanya keluarga itu. Dan tentunya, tiga yang lain lagi sembunyi.
"Ada orang-orang liehay bersembunyi di sini, kita mesti waspada," Sin Cie kisiki Siauw Hui.
Si nona manggut, alisnya mengkerut. Tiba-tiba ia dapat pikir sesuatu, lantas saja ia loncat turun.
Sin Cie berkuatir untuk nona ini, ia segera menyusul, mengikuti.
Siauw Hui pergi ke belakang dapur. Di sini ia nyalakan api, lantas ia sulut setumpuk kayu bakar, maka tak berselang lama, api itu lantas berkobar-kobar, menjilat-jilat ke atas.
Sekejab saja keluarga Oen menjadi kacau. Sejumlah chungteng, dengan membawa air dan gala, lari ke arah dapur, untuk padamkan api.
Siauw Hui lari balik ke depan, Sin Cie bersama dia. Pemuda ini ketahui akalnya si pemudi.
Di dalam thia, api lilin terus menyala terang, tetapi empat penjaganya telah tidak ada.
Siauw Hui girang tak kepalang.
"Mereka pergi padamkan api!" berseru dia.
Dengan bergelantungan di payon, nona ini loncat turun ke bawah, dari antara jendela, ia loncat masuk ke dalam thia.
Sin Cie telad contohnya nona ini.
Sebentar saja mereka berdua sudah sampai di pinggir meja. Siauw Hui maju lagi setindak, tangannya berbareng diulur, untuk jumput emas.
Sin Cie kaget ketika ia menaruh kakinya, ia rasai menginjak tempat yang tak berdasar kuat. Segera ia insyaf kepada lobang jebakan. Ia menyambar dengan tangan kanannya, untuk tolong Siauw Hui, sembari menyambar, ia pun berloncat. Tapi ia sudah terlambat, sambarannya gagal. Ia sendiri telah sampai di tiang tengah, dengan tangan kiri, ia sambar tiang itu, kaki kirinya diletaki di dasarnya tiang.
Sedetik saja, papan jebakan telah membalik diri, dengan Siauw Hui telah kejeblos ke dalam, lenyap dari muka lantai.
Kaget dan berkuatir, Sin Cie loncat ke jendela. Adalah niatan dia untuk cari pesawat rahasianya jebakan itu, untuk tolongi Siauw Hui. Ia baru sampai di luar jendela atau ada angin sambar ia. Ia mengerti, ada orang bokong padanya. Dengan sebat ia menangkis dengan tangan kanan, hingga tangannya itu bentrok dengan tangan si penyerang, yang belum dikenal siapa. Penyerang itu agaknya mencoba membetot tapi, penyerangnya itu, yang tersempar, rubuh tubuhnya, hanya saking gesit, dia ini bisa berlompat bangun dengan cepat, malah dia segera lompat naik ke genteng juga, untuk menyusul.
Begitu lekas ia ada di atas genteng dan memandang ke sekitarnya, Sin Cie bergidik tanpa kedinginan. Nyata ia telah dikurung oleh sejumlah orang, yang tubuhnya kate dan jangkung tidak merata. Ia pun lihat, orang yang barusan ia kena sempar rubuh Oen Cheng adanya. Ia insyaf bahwa ia sedang terancam melainkan ia belum tahu, bagaimana sikap keluarga Oen itu. Maka dengan berdiam diri, ia awasi mereka itu - ia berlaku tenang dan waspada.
Dari lima tertua pemuda kita sudah kenal dua, ialah Sam-Couw Oen Beng San dan Ngo-Couw Oen Beng Go. Dari tiga yang lian, ia lihat satu yang bertubuh kekar luar biasa, siapa sekarang berdiri di tengah-tengah. Dia ini jauh lebih tinggi-besar dari empat lainnya. Ketika dia tertawa dengan mendadak, suaranya pun nyaring sekali.
"Kami berlima saudara tinggal di dusun yang sepi tetapi sekarang ada orang sebawahan yang liehay dari Giam Ong berkunjung kepada kami, inilah ada satu kehormatan yang besar sekali!" demikian suaranya, yang tak kalah nyaringnya, bagaikan suara lonceng saja.
Segera Sin Cie maju setindak, untuk beri hormat sambil menjura kepada orang tua itu.
"Aku yang muda menghadap Cianpwee," kata dia. Ia tidak mau berlutut, karena ia kuatir nanti ada yang bokong. Ia memberi hormat supaya orang tidak katakan dia tidak kenal adat sopan-santun.
Oen Ceng berada di antara pihak pengurung, ia majukan diri.
"Ini Toa-yaya!" kata dia, dengan suaranya yang cempreng. "Ini Jie-yaya. Dan ini Su-yaya."
Sin Cie menjura kepada sesuatu yaya yang disebutkan.
Yang tertua dari Ngo Couw dari Cio Liang Pay ialah Oen Beng Tat, yang kedua Oen Beng Gie, dan yang keempat Oen Beng Sie. Mereka ini, bersama Sam-yaya dan Ngo-yaya balas hormat itu. Walaupun begitu, mereka mengawasi dengan tajam.
Di antara kelima Ngo-Couw, Oen Beng Gie yang kedua, adalah yang paling keras perangainya. Begitulah dia ini menegur: "Kau masih muda sekali tapi nyalimu nyata tak kecil, kau berani melepas api membakar rumahku!"
"Itulah perbuatan sembrono dari kawanku," mengaku Sin Cie dengan sikapnya yang menghormat. "Aku merasa sangat menyesal. Syukur api tak membahayakan hebat. Biarlah besok aku yang muda datang pula kemari untuk minta maaf." Dengan sebenarnya, api telah lantas dapat dibikin padam, tak menjalar lebih jauh.
Oen Beng Sie, tertua yang keempat, bertubuh jangkung dan kurus, dia adalah engkongnya Oen Cheng, potongan tubuhnya romannya, mirip benar dengan cucunya itu. Dia ini menyambungi saudaranya bicara.
"Kami tinggal di sini sudah beberapa puluh tahun," demikian katanya. "Selama sekian lama itu, cuma ada orang-orang yang datang kemari untuk menghunjuk hormat, belum pernah ada satu bocah yang berani berlaku kurang ajar! Siapa itu gurumu? Kenapa kau begini tak tahu aturan?"
"Guruku sekarang berada dalam pasukan perangnya Giam Ong," Sin Cie jawab, tetap dengan hormat, tak perduli orang tegur ia secara bengis. "Aku mohon Cianpwee beramai sudi kembalikan emasnya Giam Ong itu. Aku janji lain hari akan minta guruku menulis surat kepada Cianpwee untuk haturkan terima kasihnya."
Pemuda ini tidak hendak sebutkan nama gurunya.
"Siapa itu gurumu?" tanya Oen Beng Tat, tertua yang pertama.
"Guruku itu jarang sekali berkelana dalam dunia Kang-ouw, karena itu tak berani aku yang muda menyebutkan namanya," Sin Cie jawab dengan hormatnya tak pernah ketinggalan.
"Hm!" berseru Oen Beng Gie, tertua yang kedua. "Dengan kau tidak sudi menyebutkannya, mustahil kami tak mendapat tahu? Lam Yang, coba kau main-main dengan bocah ini!"
Dari antara rombongan itu keluar satu orang umur empat-puluh lebih, mukanya berewokan. Dia adalah putera kedua dari Jie-yaya Oen Beng Gie ini. Dalam angkatan kedua dari Cio Liang Pay, dia ternama. Dia sudah lantas lompat ke depan Sin Cie, untuk terus kirim tonjokannya ke arah muka.
Sin Cie berkelit, atas mana menyusullah kepalan kiri orang she Oen itu.
Pemuda kita lantas berpikir: "Mereka berjumlah banyak, jikalau mereka maju satu persatu, aku bisa celaka karena lelah. Jikalau aku tidak berlaku cepat, sulit untuk aku loloskan diri."
Maka itu, ketika kepalan kiri lawan sampai, mendadak Sin Cie angkat tangan kanannya, untuk menangkis sambil teruskan menyekal kepalan itu, setelah mana, ia menyempar ke belakang sambil tubuhnya sendiri menyamping.
Lam Yang tidak sempat lepaskan kepalannya itu, belum sampai ia menancap kaki, tubuhnya sudah terbetot ke depan, nyelonong, ketika kakinya injak genteng, genteng itu pecah dan ia terjeblos dan rubuh. Sukur untuk dia, Beng Go, sang paman yang kelima, masih keburu lompat untuk menarik dia, kalau tidak, tidak ampun lagi, dia pasti ngusruk ke bawah genteng. Mukanya menjadi merah bahna malu dan gusar, tidak ayal lagi, ia maju menyerang pula. Ia menjadi sangat penasaran.
Sin Cie sudah bersiap. Tak bergeming dia ketika lawan mengancam. Hanya ketika serangan datang, ia putar tubuhnya, ia melengak, sambil berbuat mana, kakinya yang kiri berbareng terangkat! Segera, Oen Lam Yang rubuh tengkurap! Menyusul sontekan kaki kirinya itu, Sin Cie pun ulur tangan kanannya, selagi kaki kirinya ditarik pulang, tangan kanannya sudah sambar baju di belakang penyerangnya itu, ia menjambak, ia mengangkat. Maka tak sampailah mukanya Lam Yang beradu dengan genteng, malah dia terangkat hingga dia dapat berdiri pula.
Bukan main mendongkolnya orang she Oen ini, tetapi tak dapat ia berkelahi lebih jauh, maka setelah awasi si anak muda dengan mata melotot, ia mundur sendirinya.
"Ha, bocah ini benar-benar liehay!" berseru Beng Gie dalam gusarnya. "Biarlah loohu mencoba-coba main-main dengan muridnya seorang liehay!"
Jie-yaya ini segera juga geraki kedua tangannya, untuk mulai maju.
Dengan tiba-tiba, Oen Ceng lompat ke samping orang tua itu, untuk berbisik: "Jie-yaya, dia telah angkat saudara denganku, jangan kau lukai dia...."
"Setan cilik!" orang tua itu kata dengan sengit.
Masih Oen Ceng cekal tangannya Beng Gie.
"Kau toh mengabulkan, Jie-yaya?" katanya.
"Kau lihat saja!" kata si orang tua dengan keras seraya tangannya menyempar, atas mana pemuda itu terpelanting beberapa tindak, hampir saja dia rubuh terguling.
Oen Beng Gie maju dua tindak ke arah pemuda kita.
"Kau maju!" ia membentak.
"Aku tak berani," sahut Sin Cie seraya ia rangkap kedua tangannya.
"Kau tak hendak menyebutkan nama gurumu, maka kau seranglah aku tiga jurus," Beng Gie kata. "Nanti aku lihat, bisa atau tidak aku kenali siapa gurumu itu."
Panas juga hatinya Sin Cie melihat kejumawaan orang tua ini.
"Jikalau begitu, biarlah aku berlaku kurang ajar," kata dia akhirnya. "Apa yang aku bisa ada sangat berbatas, karena itu, aku minta Cianpwee menaruh belas kasihan terhadapku..."
"Lekas mulai!" membentak pula Oen Beng Gie. "Siapa kesudian ngobrol denganmu!"
Sin Cie segera menjura hingga dalam, sampai tangan bajunya mengenai genteng, kemudian setelah ia mulai berbangkit, dengan tiba-tiba tangan bajunya itu menyambar ke arah si orang tua agung-agungan itu. Serangan itu mendatangkan siuran angin keras.
Beng Gie terperanjat. Inilah ia tidak sangka. Segera ia ulur tangannya, akan sambar tangan baju itu.
Sin Cie menyambar dengan tangan kiri, ketika ia disambar, ia berjingkrak, tangan kirinya itu ditarik pulang, akan tetapi sebagai gantinya, tangan bajunya yang kanan menyambar pula dengan tak kalah sebatnya, mengarah ke muka! Kembali Beng Gie terperanjat. Kembali satu serangan sebat di luar dugaan. Tak sempat dia menangkis. Sedang dia mempunyai latihan dari beberapa puluh tahun, selama separuh umurnya, ia hidup di antara "gunung golok dan rimba tumbak," pengalamannya ada banyak sekali. Terpaksa ia ngelengak ke belakang untuk luputkan diri dari sambaran itu.
Sin Cie tidak mau kasih ketika untuk orang balas serang dia, segera dia memutar tubuh.
Oen Beng Gie sudah berdiri pula dengan tetap, ia lihat gerakan orang ia duga anak muda ini hendak angkat langkah panjang, maka ia memikir untuk menghajar supaya pemuda itu tak dapat lolos. Belum sampai tangan kanannya dikeluarkan, mendadak ia rasai pula sambaran angin, kali ini ia tampak, kedua tangan Sin Cie bergerak dengan berbareng, mirip dengan sambaran ular, kedua tangan itu nyelusup ke arah dua iganya! "Itulah tangan baju belaka, apa artinya umpama kena terserang?" pikir jago tua ini. Maka ia ulur kedua tangannya, dengan niat sambar tangan baju orang itu, untuk digentak.
Cepat luar biasa, kedua ujung tangan baju dari Sin Cie sudah sampai pada sasarannya, mengenai dengan jitu kepada atasan pinggang Jie-yaya dari Oen Ceng. Dua kali telah terdengar suara nyaring karena sambaran jitu itu.
Berbareng dengan kaget, Oen Beng Gie rasai ia sesemutan. Di lain pihak, lawannya sudah loncat mundur. Setelah putar tubuhnya, anak muda ini mengawasi sambil berdiri tegak.
Oen Ceng telah saksikan gerakan tubuh yang sangat gesit dan luar biasa itu, ia heran hingga hampir ia berseru.
Oen Beng Gie malu dan mendongkol sekali. Tidak perduli ia adalah seorang dengan banyak pengalaman, ia masih tidak bisa kenali, ilmu silat apa itu yang digunai si anak muda, yang main ujung baju... Sebenarnya, pada pertama kali, Sin Cie sudah gunai ilmu silat Hok-houw-ciang dari Bok Jin Ceng, yang kedua kali, itulah ilmu mengentengkan tubuh pengajaran Bhok Siang Toojin, dan yang ketiga kali adalah buah-hasil peryakinan dari "Kim Coa Pit Kip" peninggalan Kim Coa Long-kun. Ini ada ilmu pukulan "Siang-Coa-Coan-ek" atau "Sepasang Ular Nyelusup Ke Ketiak", sedang kedua tangannya sengaja diumpati di dalam ujung tangan baju. Tentu sekali Oen Beng Gie bingung karenanya, sedang pertempuran mereka ada seperti sejurus demi sejurus dan tak ambil tempo lama.
Juga Oen Beng Tat dan tiga saudara lainnya berdiri bengong, mereka saling mengawasi, hati mereka penuh dengan keheranan.
Dalam murkanya, Oen Beng Gie menyerang pula secara sangat mendadak. Wajah masih merah-padam, alis dan kumisnya bagaikan bangun berdiri. Tangannya menyambar seraya perdengarkan angin berkesiur.
Di bawah sinar si Puteri Malam, Sin Cie lihat kepala musuh seperti mengebulkan uap, suatu tanda jago tua itu dikrumuni hawa-amarah meluap-luap, dan gerakan kakinya ayal akan tetapi mantap, menunjuki lweekang yang telah mencapai puncak kesempurnaan. Melihat demikian, tak berani ia untuk permainkan pula orang tua itu.
Atas serangan hebat itu, pemuda ini berkelit sambil mendak kate. Dua kali ia bebaskan diri secara demikian ketika serangan lain menyusul dengan tangan yang sebelahnya. Ia pun secara diam-diam sudah lantas gulung tangan bajunya. Selanjutnya ia melayani dengan Hok-houw-ciang, ilmu pukulan "Menakluki Harimau".
Setelah penyerangannya yang pertama dan kedua itu, serangan-serangan Oen Beng Gie tak lagi sesebat sebagai semula, akan tetapi setiap pukulannya hebat, berat, saban-saban ada angin yang mengikutinya atau mendahului.
Sin Cie terperanjat apabila satu kali ia tampak tegas telapakan tangannya. Tangan itu bersinarkan cahaya merah bagaikan darah.
"Ha, kiranya dia ahli tangan jahat!..." katanya dalam hati. Itulah "Cu-see-ciang" (Tangan Cu-see) atau "Ang-see chiu" (Tangan Pasir Merah). Ia ingat keterangan gurunya perihal liehaynya ilmu pukulan itu, yang tak boleh mengenai sasaran atau orang akan bercelaka. Karena ini, lantas ia ubah sikapnya. Ia berkelahi dengan kedua tangannya digeraki pergi dan pulang dengan pesat sekali, dengan tak ada putusnya, untuk cegah desakan berulang-ulang lawannya.
Selagi pertempuran berjalan sangat seru, mendadak Oen Beng Gie rasai sakit pada lengan kanannya, tidak tempo lagi ia mencelat jauh, akan pisahkan diri, setelah mana, ia lihat bagian tangannya yang sakit itu. Lengan itu merah dan bengkak! Ia mengerti bahwa ia telah kena dibentur, tapi ia pun segera mengerti, orang telah berlaku baik kepadanya, kalau tidak, tangan itu bisa bercelaka. Walaupun begini, ia mendongkol, cuma sekarang tak lagi ia hendak lanjuti pertempuran itu.
Selagi pertempuran tertunda itu, Oen Beng San, Sam-yaya, maju hampirkan anak muda kita.
"Wan Lian-hia," katanya dengan tenang, "begini muda usia kau, bugeemu liehay sekali. Marilah, loohu ingin sekali belajar kenal dengan menggunai alat-senjata!"
Lekas-lekas Sin Cie berikan jawabannya.
"Tak berani aku yang muda datang ke sini dengan membekal senjata," ia menampik.
Sam-yaya itu tertawa besar.
"Kau kenal baik adat istiadat," katanya. "Tentang kau bisalah dibilang, karena bugee liehay, nyalimu jadi besar. Tidak apa. Mari kita pergi ke lian-bu-thia!"
Lain-bu-thia itu adalah thia atau ruangan untuk belajar silat.
Sembari mengundang, Oen Beng San loncat turun ke bawah genteng. Tindakan ini diturut oleh semua rombongannya.
Sin Cie loncat turun , ia ikut masuk ke dalam rumah.
Selagi mereka itu berjalan, Oen Ceng dekati si anak muda, akan kisiki dia: "Di dalam tongkat ada senjata rahasianya!"
Bercekat hatinya Sin Cie.
Tidak lama sampailah mereka di lian-bu-thia. Sin Cie tampak tiga thia yang besar di tengah-tengah mana ada satu pekarangan yang lebar. Ke situ pun lantas berkumpul lainlain anggauta dari keluarga Oen yang besar itu, karena keluarga ini punyakan anggotaanggota, lelaki dan perempuan, yang semua gemar ilmu silat. Semua mereka hendak nonton pertandingan. Malah di antara mereka kedapatan bocah-bocah umur tujuh atau delapan tahun.
Orang-orang yang muncul paling belakang ada satu nyonya umur kurang-lebih empatpuluh tahun, dia didampingi Goat Hoa, itu kacung perempuan yang ditugaskan melayani si tetamu anak muda.
"Ibu!" Oen Ceng memanggil seraya maju menghampirkan apabila ia lihat nyonya itu.
Nyonya itu mempunyai wajah yang elok tetapi ia nampaknya berduka, ia tidak sahuti Oen Ceng, ia cuma melirik, kelihatannya ia tidak gembira.
"Kau hendak gunai senjata apa, kau boleh pilih sendiri!" berkata Oen Beng San setelah mereka sudah berkumpul. Ia menunjuk ke sekitarnya di mana ada terdapat para-para serta pelbagai gegaman.
Sin Cie mengerti, urusan ada sangat sulit untuk diselesaikan, tetapi di sebelah itu, tak ingin ia melukai orang. Ini adalah pengalamannya yang pertama, baru mulai berkelana sudah menghadapi kesulitan. Ia berpikir bagaimana ia harus ambil putusan.
Oen Ceng lihat kesangsian Sin Cie, ia kata: "Sam-yayaku ini paling suka anak-anak muda, tidak nanti dia lukai padamu..."
Tapi dia disenggapi ibunya: "Ceng Ceng, jangan banyak mulut!"
Kelihatan ibu itu gusar.
Oen Beng San menoleh kepada Oen Ceng, dia kata: "Kita lihat saja masing-masing punya untung!" Lalu ia tambahan pada Sin Cie: "Saudara Wan, kau gunai pedang atau golok?"
Sin Cie terdesak, ia mesti berikan jawabannya. Ia melihat ke sekitarnya. Tiba-tiba ia tampak satu bocah lelaki umur enam atau tujuh tahun, yang sedang dituntun oleh Goat Hoa. Mestinya bocah itu ada anggauta keluarga yang termuda. Anak itu lagi pegangi sebatang pedang kayu yang dicat beraneka warna. Pasti itu ada pedang yang menjadi alat permainan bocah itu. Lantas saja ia hampirkan bocah itu.
"Saudara cilik, mari kasi aku pinjam pakai pedangmu, sebentar saja," ia minta.
Bocah itu berani, ia tertawa, ia serahkan pedang-pedangannya itu. Setelah sambuti itu pedang kayu, Sin Cie hampirkan Oen Beng San.
"Tidak berani aku yang muda menghadapi Loocianpwee dengan golok atau tumbak tulen, dari itu aku pinjam pakai ini pedang kayu, untuk kita berlatih beberapa jurus saja." Berkata dia.
Pemuda ini bicara merendah dan halus, tetapi ia nampaknya sabar dan tenang.
(Bersambung bab ke 7)
Bab 7
Oen Beng San murka sampai hampir dia tak sanggup kendalikan diri lagi, maka sebagai pelabi, dia tertawa terbahak-bahak.
"Sudah beberapa puluh tahun loohu berkelana di dunia Kang-ouw, belum pernah loohu ketemui siapa juga yang berani memandang enteng tongkatku Liong-tauw Koay-thung!" kata dia. "Baiklah! Apabila kau benar punyakan kepandaian, hayo dengan pedang kau, kau tabas kutung tongkatku ini!"
Liong-tauw Koay-thung ada tongkat berkepala naga-nagaan. Berbareng dengan berhentinya kata-kata jumawa itu, tongkat tersebut dipakai membabat ke pinggang Sin Cie. Sambaran itu diiringi dengan sambarannya angin juga, yang bersuara nyaring.
Oen Ceng menjerit ketika ia lihat serangan yaya-nya itu. Ia tampak tubuh Sin Cie seperti terbawa tongkat yang liehay itu. Akan tetapi belum sampai tubuhnya anak muda ini terlempar, atau tahu-tahu pedang kayunya sudah menyambar lempang ke muka si penyerang.
Oen Beng San mundur seraya tarik pulang tongkatnya, tetapi ia tidak cuma menarik saja, sebaliknya, ia segera dapat juga maju pula, untuk totok ulu-hati orang! "Ha, kiranya tongkat ini dapat juga dipakai sebagai alat penotok jalan darah!" pikir Sin Cie sambil ia berkelit. "Aku mesti waspada!"


0 komentar:
Posting Komentar