Home » » PEDANG ULAR MAS 7

PEDANG ULAR MAS 7

Jilid 7

Sampai di dalam gua, Sin Cie suluhi tembok, terus ia awasi, ia perhatikan sesuatu gerakan tangan dan kaki. Dasar ia berotak terang, lantas ia dapat kenyataan, itulah ada gambar penjelasan untuk bunyinya kitab bagian yang ia tidak mengerti. Maka bukan main girangnya ia.

Tak tempo lagi, pemuda ini berlatih di dalam kamar itu sambil ia ikuti sesuatu petunjuk dari setiap ukiran. Kesudahannya ia jadi sangat girang. Satu kali ia dapat menjalankannya, terus ia ulangi dan ulangi lagi, sampai ia ingat betul.

"Terima kasih!" kata ia kepada Kim Coa Long-kun, di muka kuburan siapa ia bersoja-kui dua kali.

Pemuda ini hendak berlalu ketika ia tampak pedang aneh dari Kim Coa Long-kun, yang masih menggeletak di pinggiran, yang tadinya ia tidak perhatikan. Pedang itu rada bengkung bagaikan ular melilit diri, ekornya adalah yang merupakan gagangnya, sedang ujungnya, yang tajam, bercagak dua seperti lidah ular. Cagak ini bisa dipakai menikam berbareng menggaet senjata lawan.


"Tentu A Pa pikiri aku," pikir Sin Cie, yang terus jumput pedang itu, untuk dibawa keluar, begitu juga sejumlah Kim Coa Cui, senjata rahasia yang merupakan sebagai bor istimewa.

Di muka terowongan masih ada melintang sepotong batu, yang agak menyulitkan untuk orang merayap keluar, iseng-iseng Sin Cie gunai pedangnya akan bacok batu itu. Untuk keheranannya, untuk kegirangannya, begitu ditabas, batu itu sapat! "Aha!" berseru pemuda ini. Itulah sebatang pedang mustika! Ketika ia coba menusuk, batu pun dapat ditikam bagaikan kayu saja! Bukan main girangnya pemuda ini, maka itu, ketika ia telah kembali ke rumah, tidak buang tempo lagi, ia terus berlatih pula di lapangan peranti dia belajar silat. Mulanya ia jalankan ilmu pedang Hoa San Pay ajaran gurunya, nyata pedang aneh itu cocok untuk dipakai, akan tetapi kapan ia telah mencoba Kim Coa Kiam-hoat, kegirangannya meluap.

Selanjutnya, untuk belasan hari, tak ada bosannya, Sin Cie yakinkan semua pengajaran dalam kitab dari Kim Coa Long-kun, pelajaran senjata rahasia Kim-Coa-cui pun tak dilupakan, yang tak kalah liehaynya dengan ajaran Bhok Siang Toojin.

"Mungkin Kim Coa Long-kun tersesat tapi ia harus dikagumi," pikir Sin Cie, yang jadi menaruh harga kepada jago yang telah marhum itu.

Mempelajari kitab terlebih jauh, tiga halaman yang terakhir membuat Sin Cie pusing kepala. Ia membaca, ia melatih, tidak juga ia ketemu jalan. Ia memahami, ia tidak berhasil. Toh ia merasa, ia tak salah mengertikannya. Begitu beda itu dengan pelajaran gurunya... Malamnya, selagi rebahkan diri di atas pembaringannya, Sin Cie pikirkan kitab rahasia itu. Ia lihat sinar rembulan yang indah masuk dari jendela. Ia menghitung-hitung. Duapuluh delapan hari telah lewat dengan lekas sejak pergi gurunya.

"Lagi dua hari, aku mesti susul suhu," ia pikir. Tiba-tiba ia ingat sikap Thio Cun Kiu yang telengas. "Kitab ini sangat luar biasa, apabila ini terjatuh dalam tangan orang jahat, bahayanya untuk umum besar sekali. Kenapa aku tidak bakar saja?"

Sin Cie tidak berpikir lama dan segera ia ambil putusan. Ia turun dari pembaringan, akan sulut lampu, lalu ia ambil Kim Coa Pit-kip, tidak sangsi lagi, ia bakar itu.

Sekian lama, api menyala, membakar kitab, akan tetapi aneh, selagi semua lembaran habis hangus menjadi abu, adalah halaman kulitnya utuh, cuma hitam saja.

"Aneh," pikir pemuda ini, apapula ketika ia coba beset, ia tak berhasil, sedang kedua tangannya kuat. Karena ini, ia perhatikan lebih jauh kulit buku itu, dipencet-pencet, disentil-sentil.

Segera ternyata, kulit buku itu terbuat dari tembaga campur emas dan dilapis entah dengan bulu apa dan juga lapis dua, mirip dengan baju kaos pelindung diri dari Bhok Siang Toojin, hanya ini ada terlebih tipis.

Dengan gunai pisau, Sin Cie coba korek akan buka kedua lapisan kulit buku itu. Untuk keheranannya, di dalam situ ia dapatkan dua lembar kertas, yang ia lantas tarik keluar. Di halaman depan, ia lihat tulisan bunyinya: "Gambar dari barang berharga." Di pinggiran itu ada peta-bumi serta banyak tanda-tanda. Di belakang peta itu terdapat tulisan yang sebagai berikut bunyinya: "Siapa dapatkan harta, diminta dia pergi ke Cio-liang di Kie-Ciu, Ciatkang, untuk cari Oen Gie, untuk dihadiahkan uang sepuluh ribu tail."

"Sungguh jumawa!" pikir Sin Cie, karena jumlah itu besar sekali.

Sekarang pemuda ini periksa kertas yang kedua, yang memuat gambar ilmu pukulan, apabila ia telah periksa dengan hati-hati, ia sadar. Ini adalah gambar penjelasan untuk bagian ilmu silat di dalam "Kim Coa Pit Kip", yang sampai sebegitu jauh masih kurang jelas untuknya, hingga tak dapat ia melatih diri dengan itu. Maka sekarang kegirangannya jadi meluap, hingga ia akhirnya menghela napas saking kagumi silat yang terahasia itu. Terang telah disengaja, penjelasan di dalam kitab dibikin kurang jelas dan itu barulah terang apabila ini penjelasan dalam lipatan kulit halaman sudah diketemukan. Bagaimana hebat! "Coba peta bumi ini tak didapatkan, atau didapatkannya oleh orang tolol, bukankah harta besar itu bakal terus tak kedapatan?" pikir Sin Cie.

Dua lembar kertas itu diselipkan pula ke dalam kulit kitab dan disimpan.

Masih Sin Cie rajin berlatih, sampai lewat lagi dua hari, sesudah mana, ia siapkan satu buntalan sederhana, untuk ia berangkat susul gurunya. Ia ambil selamat berpisah dari A Pa, siapa antar ia sampai di tengah gunung. Si empeh gagu ajak kedua orang-hutan.

Berat Sin Cie merasa akan, setelah sepuluh tahun, mesti berpisah dari A Pa, dari kedua binatang piaraannya juga. A Pa sendiri ada masgul. Tapi juga kedua orang-hutan itu mengerti, keduanya pegangi tangannya si anak muda, keduanya berpekik. Mereka ini menahan orang berangkat.

Sin Cie terharu.

"Aku mesti bawa mereka!" pikir dia, setelah mana, ia bicara dengan tangan pada A Pa.

A Pa merasa berat tetapi ia kasih kedua binatang itu dibawa, maka itu, ketika ia turun gunung, Sin Cie diiring oleh dua binatang liar itu.

Inilah untuk pertama kali Sin Cie turun gunung, tidak heran apabila ia merasa asing dan lihat segala apa seperti baru baginya. Ketika pada suatu hari ia sampai di Shoasay, ia lihat gerakan tentara di sana-sini dan di setiap tempat penting ada penjagaan tentara sukarela, yang melakukan pemeriksaan keras kepada orang-orang yang berlalu-lintas.

Di sebuah pos, apabila tentara yang menjaga dapat tahu, pemuda ini hendak menghadap Giam Ong, tak ayal lagi, satu serdadu diperintah mengantarnya ke markas besar dari Lie Cu Seng, sang jenderal.

Sebab Sin Cie sebut dia muridnya Bok Jin Ceng, Lie Cu Seng keluar sendiri untuk menyambut, walaupun ia sedang repot.

Sin Cie kagum akan lihat pemimpin tentara ini mengenakan pakaian sederhana tetapi romannya gagah. Ia pun puas akan penyambutan manis dari pemimpin ini. Rupanya Bok Jin Ceng telah pujikan muridnya ini kepada kepala perang itu, hingga dia ini tidak berani mengabaikannya.

"Sayang gurumu sedang pergi ke Kanglam," Giam Ong terangkan kapan tetamunya tanya tentang Bok Jin Ceng.

Sin Cie menyesal, lantas hilang kegembiraannya, apalagi sesudah ia tanyakan Cui Ciu San, sahabat atau gurunya yang pertama itu, ia diberi keterangan, Ciu San pun ikut Jin Ceng ke Kanglam, untuk kumpul rangsum tentara.

"Hendak aku susul suhu," Sin Cie nyatakan. "Nanti, setelah bertemu sama suhu, aku akan kembali kemari untuk membantu."

Lie Cu Seng lihat orang berniat tetap, ia tidak mencegah.

"Kau temani dia bersantap," kepala perang ini kata pada Lie Gam, sebawahannya yang berpangkat Tie-ciangkun. Ia pun bekalkan uang sepuluh tail, uang mana Sin Cie tak berdaya menampiknya maka ia haturkan terima kasih.

Lie Gam ada ramah-tamah, melihat orang bawa-bawa orang-hutan dan pedangnya pun luar biasa, pedang mana bisa menarik perhatian orang, sedang cara dandannya si anak muda pun tak seperti orang kebanyakan, ia kasih pedang itu dititipkan di dalam tangsi, sementara di lain pihak, ia lantas siapkan dua perangkat pakaian peranti mahasiswa.

Sin Cie anggap pikiran itu baik, ia suka menurut, maka demikian ia tukar dandanan dalam perjalanannya ke selatan.

Pada suatu hari sampailah pemuda kita di Giok San sebelah timur dari Kangsay, habis bersantap, ia pergi ke pelabuhan, akan sewa perahu untuk melanjutkan perjalanan ke arah timur. Ia dapati sebuah perahu besar, yang tukang perahunya doyan persenan, sedang penyewanya, saudagar Liong Tek Lin asal Siang-jiauw, Ciatkang, untuk beli barang, tak keberatan, karena dia lihat, pemuda itu ada satu Siucay.

Di saat tukang perahu hendak jalankan perahunya, di tepian berlari-lari seorang anak muda sambil dia berkaok-kaok minta dikasi menumpang untuk ke Kie-Ciu, katanya dia ada urusan sangat penting di kota itu.

Sin Cie ketarik mendengar suara nyaring orang tetapi halus. Ia pun heran akan tampak wajah orang itu.

"Apa benar ada satu pemuda begini ganteng romannya?" memikir dia.

Pemuda itu berumur delapan atau sembilan-belas tahun, kulitnya putih halus, mukanya bersemu dadu, buntalannya tergendol di belakangnya.

Liong Tek Lin merasa suka kepada anak muda itu, ia berikan perkenannya, maka tukang perahu lantas pasang papan tangga, untuk orang naik ke dalam perahunya.

Begitu lekas orang menaruh kedua kakinya di atas perahu, Sin Cie terkejut. Ia merasakan bagaimana perahu mendadakan seperti melesak ke dalam air. Ia heran sebab si pemuda itu kurus dan berat tubuhnya tak ada seratus kati. Kenapa dia ada begitu berat? Buntalannya juga tak besar.

Sesampainya di dalam perahu, pemuda itu beri hormat pada Tek Lin dan Sin Cie, ia menghaturkan terima kasih. Ia bilang she-nya Oen dan namanya Ceng, bahwa ibunya dikabarkan sakit, ia hendak lekas-lekas pulang untuk menyambanginya.

Nampaknya pemuda ini menaruh perhatian kepada Sin Cie.

"Mendengar suaramu, Saudara Wan, kau mestinya bukan penduduk sini?" tanyanya kemudian.

"Aku asal Kwietang, tetapi dibesarkan di Siamsay," sahuti pemuda kita. "Inilah untuk pertama kali aku pergi ke Kanglam."

"Ada urusan apa Saudara datang ke Ciatkang?" tanyanya pula.

"Untuk menyambangi sanak saja," terang Sin Cie.

Selama itu perahu mereka asyik berlayar. Tiba-tiba dua buah perahu kecil, yang dikayuh cepat, lewat melesat di kedua samping. Oen Ceng awasi kedua perahu itu, yang lenyap di sebelah depan di antara tikungan, lalu kealingan bukit.

Di saatnya bersantap tengah hari, saudagar Liong baik budi, ia undang kedua anak muda itu dahar bersama, Sin Cie makan tiga mangkok, Oen Ceng cuma satu. Selama itu, gerak­gerik pemuda she Oen ini ada halus.

Boleh dibilang baru mereka habis bersantap, terdengarlah suara air dikayuh, lalu terlihat dua buah perahu lewat di samping, dari sebuah di antaranya, seorang yang bertubuh besar, yang berdiri di kepala perahu, melirik beberapa kali.

Menampak sikapnya orang di perahu kecil itu, alisnya Oen Ceng berdiri dengan tiba-tiba, matanya bersinar, wajahnya berubah menjadi padam.

Heran Sin Cie akan lihat wajah orang itu.

"Dia begini muda dan cakap, mengapa romannya berubah sengit begini?" pikirnya.

Oen Ceng dapat lihat keheranannya ini kenalan baru, ia bersenyum, lantas wajahnya pulang asal, sikapnya tetap lemah-lembut.

Sebentar kemudian, tukang perahu datang menyuguhi air teh.

Oen Ceng minum secegluk, mungkin ia anggap teh itu kasar, ia kerutkan alis, lalu cawan teh diletakinya di atas meja.

Sin Cie keluar merantau untuk pertama kalinya, kecuali segala pengetahuan yang didengar dari penuturan kedua gurunya, serta nasehat-nasehatnya mereka ini, begitupun sedikit pengalaman di waktu belum berusia sepuluh tahun, ia belum punyakan pengalaman lainnya, akan tetapi di sebelah itu, ia cerdik, otaknya hidup. Maka itu, ia duga, mungkin ada hubungan apa-apa di antara pemuda itu serta keempat buah perahu kecil, entah urusan apa itu.

Kedua perahu kecil itu lewat terus.

Mendekati sore, perahu besar berlabuh di sebuah dusun. Sin Cie ingin mendarat, untuk pesiar. Tek Lin menolak, katanya tak dapat dia tinggalkan barang-barangnya.

"Di tempat tegalan sebagai ini, apa yang bisa dilihat?" nyatakan Oen Ceng seraya ia mainkan bibirnya secara memandang enteng, agaknya ia hendak menyindir.

Sin Cie jujur, ia anggap orang jumawa, ia tidak memperdulikannya, malah ia bersenyum, lalu ia mendarat seorang diri. Ia jalan-jalan sebentar, ia minum beberapa cawan arak, setelah beli sedikit bebuahan, ia pulang ke perahu, niatnya mengundang Tek Lin dan Oen Ceng, tapi dua orang itu sudah masuk tidur, maka ia pun lantas rebahkan diri.

Pada tengah malam, dari kejauhan terdengar suara suitan samar-samar. Sin Cie getap, ia lantas mendusin. Diam-diam ia rapikan pakaiannya.

Tidak lama dari arah hilir terdengar suara pengayuh mengenai air, terang ada perahu lagi mendatangi. Tiba-tiba Oen Ceng mendusin, ia berbangkit akan duduk dengan mendadak. Nyata ia tidur tanpa buka pakaian. Dari bawah selimut, dia hunus sebatang pedang yang panjang. Dengan membawa itu, ia memburu ke kepala perahu.

Sin Cie terkejut dan heran.

"Apa mungkin dia pengintai bajak?" menduga dia. "Mungkin orang hendak kerjakan saudagar she Liong ini? Aku tidak boleh peluk tangan saja...."

Sin Cie titip pedangnya kepada Lie Gam, dia cuma bekal pisau belati dan biji-biji caturnya, maka itu ia turun dari pembaringan dengan bawa pisaunya itu.

Segera ternyata, perahu yang mendatangi sudah datang dekat. Dari perahu itu lantas terdengar satu suara kasar: "Orang she Oen, apa benar kau tidak hargakan persahabatan Kang-ouw?"

"Kalau hargakan bagaimana? Kalau tidak, bagaimana?" tanya si anak muda.

"Dengan susah payah kami menguntitnya dari Bu-han, kau sendiri enak-enakan memegat di tengah jalan dan memakannya sendiri!" jawab orang itu.

Liong Tek Lin mendusin karena suara berisik itu, ia mengintip keluar, untuk kagetnya, sampai tubuhnya bergemetar, ia tampak empat buah perahu kecil, yang obornya dipasang terang-terang. Ia tampak orang-orang dengan pelbagai alat-senjata terhunus.

"Jangan takut, inilah bukan urusanmu," Sin Cie menghibur. Ia lantas menduga kepada duduknya perselisihan itu.

"Apa... apa mereka bukannya bajak?" tegasi Tek Lin. Ia tidak dapat jawaban hanya ia dengar suara nyaring dari Oen Ceng: "Harta di kolong langit ada kepunyaan umum! Mungkin emas ini kepunyaanmu sendiri?" demikian pemuda ini.

"Kau keluarkan itu dua ribu tail emas, kita bagi dua, perkara habis," bilang orang di dalam perahu kecil. "Kami suka berbuat baik kepadamu..."

"Fui!" Oen Ceng menghina. "Kau mengharap demikian? Hm!"

Dua orang lain, yang romannya pun gusar, berkata pada orang yang pertama bicara: "See Toako, buat apa adu mulut dengan anak biadab itu?" Lalu keduanya loncat naik ke perahu besar.

Tek Lin sedang ketakutan, melihat orang bersenjata naik ke perahunya, ia kaget tak terkira. "Wan... Wan Siangkong, mereka turun tangan!..." menjerit dia.

Sin Cie tarik mundur saudagar itu. "Jangan takut, ada aku," ia menghibur. Justru itu Oen Ceng telah bergerak untuk papaki kedua orang itu, kaki kirinya menendang seorang, sehingga dia itu terlempar kecebur ke dalam sungai, sedang pedangnya menyambar orang yang kedua. Dia ini menangkis dengan goloknya, tapi pedang ada tajam luar biasa, golok terbacok kutung, menyambar terus ke arah pundak, maka penyerang itu tak ampun lagi rubuh mandi darah di atas perahu.

"See Loo Toa, jangan pertontonkan ini segala gentong kosong!" Oen Ceng mengejek sambil tertawa dingin.

"Hm!" bersuara si orang she See. "Gotong Lauw Lie kemari!" Dari sebuah perahu kecil, dua orang naik ke perahu besar, akan gotong si orang yang dikatakan she Lie itu, yang luka hebat lengan kanannya.

Orang yang ditendang kecebur pun sudah berenang naik perahunya. Segera terdengar suara nyaring dari si orang she See: "Kami dari pihak Liong Yu Pang tak pernah bentrok dengan kamu dari Cio Liang Pay, pemimpin kami menghargai Ngo-Couwmu, tak ingin kami ganggu padamu, maka itu, jangan kau anggap kami dapat dibuat permainan!"

Sin Cie bercekat akan dengar disebutnya Cio Liang Pay. Ia ingat: "Itu Thio Cun Kiu yang datang mencuri kitab di puncak Hoa San bukankah menyebut dirinya dari Cio Liang Pay?" Sebagai jawaban, terdengarlah suaranya Oen Ceng: "Jangan kau baiki aku! Kamu tak menang, apa kamu hendak mengambil-ambil hati?"

See Loo Toa itu jadi gusar sekali. "Kau bilang, kau hargakan aturan Kang-ouw atau tidak?" dia tegaskan.

"Aku lakukan apa yang aku suka, aku tak memusingkan kamu!" ada jawaban si pemuda.

"Ingin aku omong jelas lebih dahulu," kata orang she See itu. "Kami gunai lebih dahulu adat sopan-santun, habis itu barulah senjata! Tak sudi aku nanti dikatai Ngo-Couwmu bahwa yang banyak menghina yang sedikit, yang tua mempermainkan yang muda!" Kata-kata ini menunjuki pihak Liong Yu Pang itu menghargai yang dikatakan Ngo-Couw, Lima Tertua, dari pihak Oen Ceng si anak muda bernyali besar itu.

Oen Ceng tertawa dingin.

"Dengan kepandaian macam kepunyaanmu ini kau anggap dapat menghina aku?" dia mengejek pula. Mendengar sampai di situ, Sin Cie percaya, senjatalah yang akan bicara terlebih jauh. Ia mengerti sekarang: Liong Yu Pang hendak membegal harta, Oen Ceng mendahului, Liong Yu Pang jadi tidak senang, dia menyusul, tapi masih minta sebagian saja. Tubuhnya Oen Ceng kecil tapi berat, harta itu pasti berada dalam buntalannya.

"Kelihatannya mereka berdua sama-sama bukan orang baik-baik, baiklah aku berpura-pura tak mengerti ilmu silat, aku tak bantu pihak mana saja..." pikir Sin Cie.

Selagi Sin Cie memikir demikian, pertempuran sudah lantas dimulai.

See Loo Toa berseru, lantas kira-kira sepuluh orangnya loncat naik ke perahu besar. Ia pun turut naik dengan tangannya menyekal sebatang golok besar, ia berdiri di depan mereka ini, terus ia angkat tangan, untuk memberi hormat.

"Saudara-saudaraku ini bukan tandingan kau," kata dia dengan merendah tapi sifatnya menantang," maka itu biarlah aku See Loo Toa yang menggantikan mereka menyambut pedangmu, pedang Ngo-hong-kiam dari Cio Liang Pay yang menjagoi di Kanglam!"

"Hm!" Oen Ceng bersuara. "Kau hendak maju sendiri atau berbareng beramai-ramai?"

See Loo Toa melengak, ia tertawa terbahak-bahak.

"Kau terlalu tak melihat mata!" katanya. "Masih ada sahabat siapa lagi dalam perahumu ini? Undang dia keluar, untuk minta dia menjadi saksi. Tak suka aku apabila kemudian kaum Kang-ouw yang mengatakan See Loo Toa tak punya muka!" Lantas ia menambahkan: "Sahabat dalam perahu, silakan kau keluar!"

Dua orang bertindak ke dalam perahu, akan kata pada Tek Lin dan Sin Cie: "Toako kami undang Jie-wie!"

Tek Lin bergemetaran, tak dapat ia menjawab.

"Mereka melainkan inginkan kita sebagai saksi, tidak apa, mari kita keluar," kata Sin Cie. Dan ia tarik tangannya saudagar itu.

Oen Ceng menjadi tak sabaran.

"Kau hendak pertontonkan kejelekanmu sendiri, jangan katai aku keterlaluan," kata dia. "Mari mulai!"

Lantas dia mulai menyerang, membabat ke iga kiri lawan.

See Loo Toa bertubuh besar tetapi gesit, dengan goloknya, dia menangkis, lalu dengan belakang golok, dia teruskan balas menyerang. Ini adalah serangan cepat sekali.

Oen Ceng tidak sudi terima kebaikan hati lawan, yang serang ia hanya dengan belakang golok.

"Jikalau kau mempunyai kepandaian, keluarkan semua itu!" dia berteriak. "Aku tak sudi terima kebaikan hatimu!"

Ucapan congkak dan menantang ini diikuti dengan serangan pula, demikian sebat sampai See Loo Toa, yang tidak menyangka dan karenanya jadi kurang waspada kaget tak terkira ketika ujung pedang merobek baju di pundaknya sebab hampir ia tak keburu berkelit. Dia tergetar hatinya mengingat ancaman bencana itu, tapi segera dia balas menyerang dengan sengit.

Si anak muda sangat gesit, pesat gerak-geriknya, sambil menyingkir dari sesuatu bacokan, berbareng ia seperti kurung lawannya dengan pedangnya senantiasa berkelebatan di sekitar tubuh lawan itu.

Setelah menyaksikan beberapa jurus, Sin Cie segera dapat kenyataan, ilmu silat Oen Ceng terlebih tinggi daripada ilmu See Loo Toa, tak perduli orang ini mencoba pertunjuki keulungannya, tanda dari banyak pengalaman, tak perduli goloknya berat dan pedang enteng, dia kewalahan melayani kegesitan si anak muda. Selang sekian lama, dia mulai bernapas mengorong dan keringatnya pun mulai membasahkan jidatnya, menyusul mana, gerakannya juga tak lagi sepesat mulanya. Di sebelah dia, si anak muda perhebat desakannya.

Sekonyong-konyong, berbareng dengan seruan Oen Ceng, See Loo Toa merasai pahanya tertusuk pedang, sehingga dengan muka pucat, dia lompat mundur, sembari lompat, sebelah tangannya diayun, hingga tiga buah senjata rahasia berupa paku Touw-kut-ciam menyambar ke arah lawan.

Si anak muda bulang-baling pedangnya dua kali, untuk sampok jatuh dua potong paku berbahaya itu, sedang paku yang ketiga ia halau dengan egos diri.

Dua potong paku yang disampok terbang ke jurusan Sin Cie, ke arah dadanya.

Melihat demikian, Oen Ceng menjerit.

"Celaka," pikir dia, yang menyangka dia akan celakai anak muda itu. Tadinya dia menyangka Sin Cie mengerti silat, akan tetapi ketika dua paku menyambar, pemuda itu tidak berkelit dan juga tidak menangkis. Ia kuatir sekali menampak paku menjuju dada. Dia baru berteriak, dia hendak loncat untuk menolongi, atau kedua paku itu, setelah mengenai dada si pemuda, runtuh sendirinya, jatuh tanpa menerbitkan bencana. Si pemuda sendiri berdiam saja, seperti ia tak lagi diancam marah-bahaya.

Orang-orangnya See Loo Toa memasang banyak obor terang-terang, mereka semua saksikan senjata rahasia menyambar ke arah si pemuda, akan tetapi, melihat kesudahannya, mereka melengak, saling mengawasi. Mereka anggap si pemuda liehay walaupun romannya mirip satu Siucay lemah tak berdaya... Tentu sekali orang tidak tahu yang di dadanya Sin Cie dipasang baju kaos pemberian Bhok Siang Toojin mustika Kim-sie Pwee-sim, yang tak mempan senjata tajam.

See Loo Toa heran melihat si pemuda tak rubuh karena pakunya itu, ia pun lihat si anak muda lawannya tercengang; menggunai waktu yang baik itu, ia menimpuk pula dengan lagi tiga batang pakunya.

Oen Ceng menjerit bahna kaget karena bokongan tiga batang paku itu, dengan hati terkesiap, ia mendak, untuk menyingkir dari paku yang arah kepalanya akan tetapi dua yang menyambar ke bawah, membuat ia bingung. Tak sempat dia berkelit, tak keburu dia menangkis. Justru itu terdengarlah suara nyaring dua kali, seperti barang keras bentrok barang keras, lalu kedua batang paku itu jatuh sendirinya ke lantai perahu sebelum mengenai sasarannya.

Anak muda ini bermata celi, ia dapat tahu, orang yang runtuhkan dua batang paku itu adalah si pemuda yang ia sangka satu anak sekolah belaka. Sebab Sin Cie tak puas See Loo Toa berlaku curang, dengan diam-diam tetapi dengan cepat sekali, dia telah jumput dua batang paku yang jatuh di depannya dan gunai itu untuk punahkan dua serangan yang terakhir dari orang tua itu.

Oen Ceng manggut, untuk haturkan terima kasihnya kepada pemuda ini, setelah mana, ia berlompat untuk menyerang lawannya. Ia menjadi sengit karena si orang tua bokong padanya.

Walaupun dia heran atas gagalnya serangannya, See Loo Toa toh tidak alpa, maka itu, begitu diserang, dia sudah siap, malah dengan satu bacokan yang hebat, ia mendahului.

Si anak muda jadi sangat mendelu karena melihat lawan demikian telengas, ia batal menyerang, ia berkelit, baru ia menyerang pula, dengan dahsyat sekali. Begitulah satu tikamannya mengenai iga kanan See Loo Toa, hingga, bahna sakitnya, orang tua ini tak dapat cekal lebih lama goloknya yang besar. Golok itu terlepas jatuh ke lantai perahu.

Masih Oen Ceng tidak puas dengan serangan yang kedua yang berhasil ini, justru senjata lawan jatuh, dia lompat mendesak, untuk membacok kaki kanan orang.

"Aduh!" menjerit See Loo Toa, yang segera rubuh dengan pingsan.

Orang-orangnya orang she See itu menjadi kaget berbareng gusar, mereka lompat maju untuk menolongi ketua itu, sekalian serang si anak muda.

Dalam sengitnya, anak muda itu tangkis semua penyerang, ia balas menikam dan membabat, hingga lagi tujuh atau delapan orang rubuh karenanya.

Sin Cie jadi tidak tega hati.

"Sudahlah, Oen Toako!" ia berseru. "Kasihlah mereka ampun."

Tapi Oen Ceng lagi sengit, ia masih melukai dua orang lagi, hingga sisanya yang lain-lain lompat ke perahu mereka masing-masing, untuk tolong diri. Tak sanggup mereka melayani si anak muda, yang seperti sudah kalap.

Oleh karena sudah tak ada musuh lagi, tiba-tiba Oen Ceng tabaskan pedangnya ke batang leher See Loo Toa, hingga kepala dan tubuh menjadi terpisah, menyusul mana kaki kirinya mendupak, membikin tubuhnya Loo Toa terpental ke dalam sungai! Kepala dia ini pun dilempar bersama ke air! Tak puas hati Sin Cie akan tampak ketelengasan itu. Dia anggap si anak muda keterlaluan, sebab setelah peroleh kemenangan, tak perlu ia ini berlaku menuruti panasnya hati.

Sementara itu, ketika ia menoleh kepada Liong Tek Lin, Sin Cie dapati saudagar besar ini sedang mendelepok di lantai perahu saking kaget dan takut. Itu ada pemandangan hebat dan mengerikan yang belum pernah ia tampak.

Sisa-sisa orang Liong Yu Pang, yang kabur ke perahu mereka, kabur terus bersama masing-masing kendaraannya dengan tinggalkan kawan-kawan mereka yang menjadi korban pedangnya si anak muda.

"Mereka hendak rampas uangmu, mereka gagal, sudah saja," kata Sin Cie kepada si anak muda. "Kenapa kau mesti kurbankan demikian banyak jiwa?"

Oen Ceng mendelik kepada pemuda kita.

"Apakah kau tidak lihat bagaimana hinanya sikap mereka barusan?" anak muda ini menjawab. "Mereka bokong aku, mereka mengepung, jikalau aku terjatuh dalam tangan mereka, entah kekejaman bagaimana yang berlebih-lebihan mereka bakal limpahkan atas diriku? Jangan kau anggap, karena kau telah tolongi aku, kau dapat sembarang memberi nasihat kepadaku!"

Sin Cie ketemu batunya, dia bungkam. Melainkan dalam hatinya, dia kata: "Ini anak tidak kenal cenglie dan budi..."

Oen Ceng sendiri lantas susut bersih pedangnya, untuk dimasuki dalam sarungnya, setelah mana ia menjura kepada si pemuda. Tiba-tiba dia tertawa manis sekali dan kata: "Wan Toako, kau telah tolong aku, aku berterima kasih kepadamu!"

Sin Cie jengah, toh dia balas hormat itu. Ia manggut dengan tak dapat buka mulutnya. Ia heran orang demikian muda dan lemah-lembut sikapnya tapi demikian telengas hatinya, bagaikan serigala atau harimau; tetapi sekarang dia jadi begini manis budi, sejenak saja lenyap kebengisannya itu.

Oen Ceng panggil tukang-tukang perahu, yang ia perintah cuci bersih lantai perahu, untuk singkirkan tanda-tanda darah. Semua tubuh musuh telah terjatuh ke dalam air, hanyut atau tenggelam.

"Tolong sediakan aku barang makanan," Oen Ceng menitah lebih jauh kepada anak-buah perahu, sesudah mana, dia undang Sin Cie dahar dan minum bersama di atas perahu itu sambil gadangi si Puteri Malam yang permai. Sembari bersantap, dia tidak omong tentang pertempuran barusan, dia tidak timbulkan juga soal ilmu silat.

Beberapa cawan air kata-kata telah turun lewat di tenggorokan mereka.

"Besok hari entah jam berapa saja, menghadapi arak menanyakan langit biru, aku kuatir langit biru tak akan memperdulikannya!" kata anak muda ini selagi minum.

Sin Cie heran mendengar orang mendadakan menggunakan kata-kata bentuk sajak, ia menyahuti tetapi dengan "ya, ya" saja dan manggut-manggut.

Di masa kecil, pemuda ini ikuti Eng Siong belajar surat beberapa tahun, lalu setelah terdidik lebih jauh oleh Bok Jin Ceng, walaupun ia masih gemar membaca, ia tak berkesempatan belajar lebih jauh dengan mendalam, dari itu, ada sangat terbatas pengetahuannya tentang ilmu surat.

"Saudara Wan," berkata pula si anak muda, "rembulan indah, angin sejuk, malam ada begini permai, apakah tak baik kita bersyair saling sambut?"

"Aku tidak mengerti ilmu sajak," sahut Sin Cie dengan cepat.

Oen Ceng bersenyum, dia berdiam.

"Mari minum!" demikian undangnya kemudian.

Kendaraan air jalan terus, kedua anak muda itu belum berhenti minum dan makan.

Tiba-tiba terlihat mendatangi sebuah perahu kecil, yang melawan air, akan tetapi pesat lajunya. Oen Ceng lihat perahu itu, tiba-tiba wajahnya berubah, lalu ia perdengarkan tertawa dingin beberapa kali, kemudian ia keringi pula cawannya.

Perahunya Liong Tek Lin besar dan memakai layar, jalannya menuruti aliran, lajunya sangat pesat, maka itu, selagi perahu kecil pun mendatangi cepat, sebentar kemudian, keduanya sudah saling mendekati.

Sekonyong-konyong Oen Ceng lemparkan cawan araknya, tubuhnya turut mencelat, hingga di lain saat, ia sudah sampai di belakang pada jurumudi. Tanpa kata apa-apa, ia rampas pengayuh kemudi, ia uwit itu, hingga kepala perahu lantas bergeser ke arah kiri, menghadapi tepat perahu kecil yang lagi mendatangi itu. Sia-sia saja anak buah perahu kecil egos diri, perahunya sudah ketabrak, hingga terdengarlah satu suara berisik, kepala perahu dongak ke atas.

"Celaka!" Sin Cie berseru, bahna kaget.

Tiga bayangan mencelat dari perahu kecil itu, naik ke perahu saudagar yang besar. Gerakan tubuh mereka menandakan mereka mengerti ilmu silat baik sekali.

Di dalam perahu kecil ada lima orang, kecuali ini tiga, yang berhasil tolong diri, masih ada si jurumudi dan satu anak buahnya, yang mengayuh perahu. Mereka ini tak dapat loncat seperti itu tiga orang, mereka kecebur air sambil menjerit: "Tolong!"

Air di bahagian sungai itu deras sekali, karena kecebur, dua tukang perahu itu lebih banyak menghadapi bencana daripada keselamatan.

"Anak muda ini kejam," pikir Sin Cie, yang terus bekerja. Ia masih sempat lihat kedua tukang perahu timbul pula, mendadak ia putuskan dadung layar, ia gigit ujungnya, lantas ia menjejak keras, tubuhnya melayang ke dalam sungai, tergantung oleh dadung layar itu. Ia gunai kedua tangannya, akan sambar masing-masing satu orang. Sang dadung bawa ia terayun kembali ke perahu, bersama dua tukang perahu itu.

"Bagus!" berseru empat orang dengan pujiannya. Mereka ini ada Oen Ceng si anak muda dan itu tiga orang yang baru loncat naik dari perahu kecil, yang menjadi sangat kagum.

Sin Cie letaki kedua orang di atas perahu, lantas ia hampirkan kursinya, akan duduk pula dengan tenang, hingga dengan demikian, ia dapat ketika akan awasi tiga orang asing itu. Yang pertama ada seorang tua di atas usia lima-puluh tahun, tubuhnya kurus kering, kumisnya jarang. Yang kedua, umur empat-puluh lebih, bertubuh besar dan kasar. Yang ketiga ada seorang perempuan umur kurang lebih tiga-puluh tahun.

Sambil tertawa suram, si orang tua kata pada pemuda kita: "Tuan, kau liehay sekali, bolehkah aku tanya she dan namamu yang mulia dan siapa gurumu?"

Sin Cie berbangkit, ia manggut dengan halus.

"Boanseng adalah she Wan," ia menyahut dengan manis. "Kedua Tuan ini terancam bahaya, tak tega aku melihatnya, maka itu boanseng telah angkat mereka dari permukaan air. Sama sekali tak berani boanseng sengaja banggakan kepandaian di hadapan Loocianpwee, maka mohon Loocianpwee maafkan."

Orang tua ini heran menampak pemuda ini demikian halus gerak-geriknya, lalu ia hadapi Oen Ceng dan tertawa dingin.

"Tak heran kau, Bocah cilik, makin menjadi-jadi nyali besarmu, kiranya kau punyakan pembantu yang begini liehay!" berkata dia, suaranya tajam. "Adakah dia ini sahabatmu yang baik?"

Wajahnya Oen Ceng menjadi merah.

"Aku pandang kau sebagai orang tertua yang dihormati, aku minta sukalah kau hargai sedikit dirimu!" ia menegur.

Hatinya Sin Cie tak enak.

"Nampaknya mereka bukan orang-orang baik-baik, tak dapat aku antap diriku terseret ke dalam arus mereka," ia berpikir. Karena ini, ia lantas kata pada si orang tua: "Aku dan saudara she Oen ini tak kenal satu dengan lain, secara kebetulan saja kami bertemu di sini, jadi tak ada bicara hal persahabatan di antara kami berdua. Ingin aku mengucapkan sepatah dua patah kata, jikalau ada urusan di antara kamu berdua pihak, baiklah itu didamaikan agar kerukunan tak sampai terusak..."

Belum sempat si orang tua menyahuti, atau Oen Ceng, dengan matanya mendelik, berkata pada pemuda kita: "Jikalau kau takut, pergilah kau naik ke darat!"

Sin Cie berdiam, tetapi di dalam hatinya, dia kata: "Belum pernah aku menemui orang kasar semacam dia ini!"

Si orang tua sementara itu dapat duga pemuda ini bukanlah kawannya si anak muda, karena mana, ia menjadi girang sendirinya.

"Sahabat Wan," berkata dia "kau tidak punyakan hubungan dengan si orang she Oen ini, itulah bagus! Harap kau tunggu sampai aku sudah beres berurusan dengannya ini, nanti kita pasang omong, bolehlah kita ikat tali persahabatan!"

Sin Cie tidak menjawab, dia cuma manggut, lantas ia mundur ke belakang Oen Ceng.

Lantas si orang tua hadapi Oen Ceng dan kata: "Kau masih berusia sangat muda, perbuatan kau telengas sekali. See Loo Toa bukan tandinganmu, itu pun sudah cukup, kenapa dan kau kehendaki jiwanya?"

"Tapi aku bersendirian saja, kamu ada orang-orang lelaki bertubuh besar dan berjumlah banyak, kamu maju dengan berbareng, tanpa aku berlaku bengis, apa mungkin terjadi?" balas si anak muda. "Kau masih menegur aku, apakah kau tak takut orang nanti katakan kamu si tua menghina si kecil, yang banyak kepung yang sedikit? Jikalau kamu punya kepandaian, pungutlah emas orang, kenapa mesti tunggu aku? Apakah kamu hendak serakahi yang sudah sedia saja? Apakah itu bukannya tak tahu malu?"

Sin Cie dengar suaranya terang dan halus, kata-kata yang tajam sehingga si orang tua bungkam karenanya.

Tiba-tiba si orang perempuan, yang alisnya berdiri dengan mendadakan, turut bicara: "Kacung cilik, orang tuamu manjai kau hingga kau makin tak tahu aturan!" dia membentak. "Sungguh ingin aku tanya yayamu, ibumu juga, siapa sudah ajar kau hingga di matamu ini tak lagi ada orang yang terlebih lanjut usianya!"

"Orang tua yang ingin dihormati juga mesti ada sertanya!" kata Oen Ceng. "Orang tua yang hendak menang sendiri, dia tak berharga untuk dihormati!"

Orang tua itu menjadi sangat mendongkol hingga dia keprak meja di kepala perahu dan meja itu menjadi melesak, apabila dia telah angkat tangannya, tangan itu menjumput potongan-potongan kayu meja, yang menjadi hancur bekas tercengkeram.

Nyata tangan orang tua ini kuat bagaikan besi.

"Eng Loo-ya-cu!" berkata Oen Ceng, "tentang kepandaianmu yang liehay, aku sudah tahu, maka tak usahlah kau jual lagak di depan yang mudaan! Jikalau kau hendak pertontonkan kepandaianmu itu, pergi kau pertontonkan kepada sekalian yayaku!"

Kembali orang tua itu gusar.

"Jangan kau coba gertak aku dengan sebut-sebut beberapa yayamu itu!" ia membentak.

"Siapa yayamu itu? Jikalau mereka punyakan kepandaian, tak nanti mereka antap anak­gadisnya diperkosa orang, sehingga tak nanti anak-gadisnya itu lahirkan bocah haram seperti kau ini!"

Meluap hawa amarahnya Oen Ceng, yang berbareng pun jadi sangat berduka, hingga wajahnya menjadi merah padam, gusar, malu dan bersedih. Sekelebatan, cahaya matanya menyala bagaikan api.

Si orang bertubuh besar dan si orang perempuan lihat itu, mereka tertawa berkakakan.

Sin Cie awasi si anak muda, kedua matanya dia ini mengalirkan air mata. Ia heran dan terharu dengan berbareng.

"Nampaknya dia jauh lebih berpengalaman daripadaku, mengapa sekarang dia menangis?" dia berpikir.

Biar bagaimana, anak muda ini kena diperhina - dia bersendirian, dia diperhina juga. Karena ini, semangatnya Sin Cie jadi terbangun, berniat ia membantu anak muda ini, apabila saatnya sudah sampai.

"Apakah faedahnya untuk menangis?" kata si orang tua, dengan tajam, lagu-suaranya mengejek. "Kau lekas keluarkan emas itu. Kami juga tidak serakahi, dari uang itu, kami nanti pisahkan sejumlah untuk tunjang jandanya See Loo Toa..."

Tubuhnya Oen Ceng bergemetar.

"Jikalau kau hendak bunuh, bunuhlah!" ia menantang, sambil menangis. "Aku tidak hendak menyerahkannya!"

"Hm!" berseru si orang tua, yang sementara itu lihat perahu besar itu laju terus dengan cepat, maka ia lantas jumput jangkar besar yang terikat rantai, ia lempar itu jauh ke tepian, hingga di lain saat, perahu berhenti dengan tiba-tiba.

Berat jangkar kira-kira dua ratus kati maka bisalah diduga besarnya tenaga orang tua ini, siapa lantas tegaskan Oen Ceng: "Kau hendak serahkan atau tidak?"

Anak muda itu angkat tangan kirinya, akan susuti air matanya.

"Baiklah, aku nanti serahkan!" katanya, yang segera lari ke dalam perahu, akan sedetik kemudian keluar pula, sambil kedua tangannya membawa satu bungkusan, yang mestinya berat.

Si orang tua ulur tangannya, untuk sambuti bungkusan itu.

"Fui! Begini gampang!" mendadak si anak muda berseru. Dengan sekonyong-konyong ia menimpuk dengan bungkusan itu, ke arah sungai, hingga di lain saat terdengarlah suara tercebur yang nyaring. Lantas dia menantang: "Jikalau kau berani, bunuhlah aku! Jikalau kau menghendaki emas, jangan harap!"

Tidak terkira kemurkaannya si orang tubuh besar, ia menjerit, ia angkat goloknya membacok anak muda yang licik itu, yang berbareng pun mempermainkan kepadanya.

Habis membuang bungkusan, Oen Ceng pun segera hunus pedangnya, maka itu, setelah diserang dan berkelit, dia balas menerjang, beruntun sampai dua kali.

"Tahan! Tahan!" berseru si orang tua.

Si orang bertubuh besar, kawannya orang tua ini, lompat mundur dua tindak. Si orang tua sendiri terus awasi anak muda itu.

"Benar-benar, naga melahirkan naga, burung hong menetaskan burung hong!" kata dia. "Ada orang semacam ayahnya, ada anaknya semacam dia ini! Kalau hari ini aku antap terus kau main gila di hadapanku si orang tua, bocah cilik, aku bukan si orang she Eng lagi!"

Hampir tak kelihatan lagi, orang tua ini tutup kata-katanya dengan tahu-tahu tubuhnya sudah berada di depannya si anak muda.

Oen Ceng rupanya telah siap, ia menyambut dengan satu tusukan hebat. Tapi si orang tua benar-benar liehay. Dia bertangan kosong, dia berkelit dari tikaman itu, lantas dia merangsak. Mau atau tidak, anak muda itu mundur. Malah ia mesti mundur terus, karena desakannya si orang tua, yang gerakannya membuat si anak muda tak sempat menyerang dia. Sia-sia saja Oen Ceng menyekal pedang panjang, tak mampu ia gunai itu.

Sedetik saja, Sin Cie telah dapat lihat bahwa Oen Ceng bukan tandingan orang tua itu, yang sangat gesit. Dengan ini pun telah dibuktikan dengan segera. Baru bisa luputkan diri dari sepuluh gebrak lebih, atau lengan kanan si anak muda sudah kena ditotok, atas mana dia rasai tangannya kesemutan dan kaku, hingga pedangnya lantas terlepas dari cekalan dan jatuh di lantai perahu.

Begitu pedang jatuh, si orang tua menyontek dengan kakinya yang kiri, hingga pedang terangkat mumbul, hingga gampang saja dia menanggapinya dengan tangannya yang kiri, lalu dengan menyekal ujungnya pedang itu, dengan tangan kanan dengan satu gerakan saja, dia bikin senjata itu patah dua! Oen Ceng kaget hingga mukanya pucat.

Si orang tua masih berkata: "Jikalau aku tidak tinggalkan suatu tanda dalam tubuhmu, aku kuatir kau nanti melupakan liehaynya aku si orang tua!" Dan lalu, dengan ujung pedang yang patah itu, dia menggurat ke mukanya si anak muda! Oen Ceng kaget dan ketakutan, mukanya pucat, cepat-cepat dia mundur, untuk menyingkir dari serangan itu, atas mana, si orang tua desak padanya, hingga di lain saat, ujung pedang, yang dipegang dengan tangan kiri, hampir mampir di muka orang.

"Celaka dia...." pikir Sin Cie, yang merasa sayang muka demikian cakap dan putih nanti meninggalkan cacat.

Oen Ceng sendiri, dalam takutnya, telah keluarkan jeritan.

Dengan sebat Sin Cie rogo sebutir biji caturnya dengan apa ia lantas menimpuk ke arah pedang si orang tua.

"Trang!" demikian satu suara nyaring.

Si orang tua terkejut, justru waktu itu ia sedang kegirangan karena segera ia bakal dapat coret muka orang yang cakap-ganteng, sedang tangannya pun tergetar, sesemutan sakit, hingga tak sanggup dia cekal lebih lama pedangnya itu, yang lantas terlepas dan jatuh.

Melihat demikian, dari ketakutan, Oen Ceng menjadi girang sekali, hatinya lega dengan tiba-tiba. Tidak buang tempo lagi, ia loncat ke arah Sin Cie, untuk berlindung di belakang dia ini, lengan siapa ia pegangi dengan keras, agaknya ia hendak memohon perlindungan.

Orang tua itu, orang she Eng seperti dia telah perkenalkan diri, bernama Cay. Dia adalah pangcu, atau ketua, dari Liong Yu Pang, satu kawanan di Ciat-kang Selatan di mana, kecuali Ngo-Couw dari Cio Liang Pay, dia adalah orang tertangguh satu-satunya. Adalah biasanya bagi dia, apabila dia bertempur dia tak suka gunai senjata. Inilah disebabkan dia telah yakin ilmu silat Eng-jiauw-kang, Kuku Garuda, sehingga tangannya jadi kuat melebihi golok atau pedang yang biasa. Maka itu, ia tak kepalang kagetnya apabila ia dapatkan, pedangnya dilepaskan orang hanya dengan timpukan sebutir biji catur. Ia kaget berbareng malu, hingga mukanya menjadi merah. Seumur hidupnya, ini adalah malu besar pertama yang ia pernah alami.

"Kenapa bocah ini besar sekali tenaganya?" pikir dia, yang masih tercengang.

Si orang tubuh besar dan wanita pun segera lihat liehaynya Sin Cie, mereka merasa bahwa dilanjutinya pertempuran tidak akan membawa bahagia untuk mereka, maka justru emas telah dibuang ke sungai, mereka anggap baiklah sudahi urusan sebelum perkara berlanjut hebat.

"Loo-ya-cu, marilah!" si nyonya segera mengajak. "Dengan memandang mata kepada sahabat she Wan ini, hari ini kita kasih ampun pada bocah ini..."

"Hm!" Oen Ceng menghina, selagi si orang tua belum sempat buka mulutnya. "Melihat orang liehay, lantas hendak angkat kaki! Jadi tukang menghina si lemah tapi jeri kepada si kuat - tak malu?"

Sin Cie kerutkan alis.

"Anak licik," memikir ia, "diri sendiri baru lolos dari bahaya besar, sekarang kembali sudah mengeluarkan kata-kata tajam, sedikit juga tidak mau memandang orang...."

Benar-benar wanita itu menjadi sangat mendelu karena perkataan si orang muda ini, tapi ia pun berdiam, karena ia insyaf, melayani salah, tidak melayani salah juga... Sampai di situ, si orang tua buka mulutnya. Dasar ia berpengalaman.

"Lauwtee, kau liehay," berkata dia kepada Sin Cie. "Rembulan permai, cuaca indah, angin pun sejuk, bagaimana jikalau kita berdua main-main sebentar?"

Pangcu dari Liong Yu Pang menantang. Dia ingin coba-coba Eng-jiauw-kangnya yang telah dia yakinkan lebih dari dua-puluh tahun lamanya. Dia mau percaya, melihat usia muda orang, jikalau bertanding, tidak nanti dia kalah dari si anak muda.

Sin Cie bersangsi. Ia telah pikir: "Jikalau aku layani dia, walaupun belum pasti aku kalah, tapi setelah bergebrak, itu artinya aku bantu Oen Ceng. Dia ini tua, nampaknya dia berpandangan cupat, dia pun licin, pertempuran tentu tidak ada faedahnya. Kenapa aku mesti tanam bibit permusuhan?"

Maka itu lekas-lekas ia memberi hormat.

"Aku yang muda baru pertama kali ini menginjak dunia Kang-ouw, belum tahu aku tingginya langit dan tebalnya bumi," berkata ia, "maka itu, dengan kebisaanku ini yang tidak berarti, cara bagaimana aku berani melayani Loocianpwee?"

Eng Cay bersenyum.

"Aku tidak sangka, dia begini muda tapi bisa sekali dia bawa diri," pikirnya. Ia gunai ketika ini, untuk undurkan diri. Maka ia kata saja: "Sahabat Wan, kau sungkan sekali..."

Tiba-tiba matanya mendelik, mendekati Oen Ceng. Dia kata: "Di belakang hari mesti ada satu waktu yang aku si orang tua kasih rasa liehaynya kepadamu, Bocah nakal!"

Terus ia menoleh kepada kawannya, yang bertubuh besar.

"Mari kita pergi!" ia mengajak.

"Berapa besar juga liehaymu, aku sudah tahu!" mendadak Oen Ceng buka mulut pula. "Kau lihat orang liehay, terang kau tidak berani melayaninya!"

Anak muda ini sengaja mengejek, untuk menghina, buat puaskan kemendongkolannya. Ia pun sangat ingin saksikan pertempuran di antara mereka berdua. Ia percaya si anak muda liehay dan si orang tua bukan tandingannya, toh ia hendak memaksakan.

Eng Cay jadi serba salah. Dan Sin Cie jadi tidak senang untuk sikap orang itu.

Dalam murkanya, ketua Liong Yu Pang kendalikan diri.
Thanks for reading PEDANG ULAR MAS 7

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar