Home » » PEDANG ULAR MAS 10

PEDANG ULAR MAS 10

Jilid 10

Sambil berkelit, pemuda ini lantas membabat dengan pedang-pedangannya itu.

Kalau itu ada pedang benar dan mengenai dengan tepat, tangan lawan yang menyekal tongkat mesti sapat semua jarinya. Akan tetapi Oen Beng San bukannya lawan lemah. Dia tahu baik sekali, sekalipun hanya pedang-pedangan, kalau ia terbacok, ia bakal terluka juga. Maka segera ia lepaskan tangannya yang kanan, hingga ujung tongkat jatuh ke tanah dan tinggal pangkalnya yang lain yang tercekal di tangan kiri, lalu dengan dibantu lagi tangan kanan, ia ulangi serangan susulannya yang tidak kalah berbahayanya.

Di tangan orang liehay, tongkat itu jadi seperti bertambah-tambah beratnya, maka siapa lacur kena terserang, celakalah dia.

Sin Cie kagum melihat kegesitan dan keliehayan lawan itu, karenanya, ia jadi bertanding dengan terlebih hati-hati.

Setiap serangan Oen Beng San menerbitkan sambaran angin keras, malah kalau kebetulan ia mengemplang tempat kosong, batu lantai hancur terlabrak dan muncrat meletik berhamburan. Coba itu mengenai tubuh manusia, bagaimana hebatnya.

Sin Cie tidak perdulikan liehaynya tongkat, dia melayani dengan tubuhnya yang enteng, dengan gerakannya yang cepat dan pesat, sehingga ia bagaikan kupu-kupu yang terbang molos sana molos sini. Di sebelah itu, pedangnya pun saban-saban mencari bagian-bagian yang lowong dari anggauta-anggauta lawannya, untuk membalas.

Tanpa merasa, saking cepatnya, pertempuran telah melalui banyak jurus, sesudah mana, Oen Beng San menjadi kelabakan sendirinya. Ia sudah buka mulut besar tetapi buktinya, belum dapat ia rubuhkan lawan ini. Ia jadi ingat bagaimana tongkatnya ini yang dia buat andalan, sudah angkat namanya di Kanglam, belum pernah dia menemui tandingan, tetapi sekarang, ia seperti dilece-lece bocah cilik. Apakah nama baiknya tak akan runtuh karenanya? Oleh karena memikir begini, dalam penasarannya, Beng San ubah caranya berkelahi. Ia jadi berlaku sangat gesit, hingga ia seperti libat lawannya ini dengan tongkatnya itu.

Semua penonton mundur sedikit, mereka merasai sambaran angin tak hentinya. Ada di antaranya yang nyender pada tembok thia, supaya tidak sampai kena kelanggar....

Setelah perubahan sikapnya jago tua itu, Sin Cie merasa inilah musuh pertama yang paling tangguh yang ia pernah ketemukan. Tak dapat ia dekati lawan, sedang dengan pedang kayunya, tak bisa ia tabas tongkat itu.

"Tidak bisa lain, mesti aku gunai ajaran suhu," pikir dia akhirnya. Dan lantas ia mulai dengan perubahannya, hingga sekarang ia tampaknya bergerak lambat atau ayal.

Sebagai ahli, Oen Beng San bisa lihat kelambatan bergerak dari lawannya yang muda ini. Ia jadi sangat girang. Ia tidak hendak mensia-siakan ketika lagi. Begitu terbuka ketikanya, ia menyapu dengan hebat.

Nampaknya Sin Cie sudah lelah, ayal segala gerak-geriknya, akan tetapi ketika pinggangnya disapu, mendadak ia sambar ujung tongkat. Ia menggunai tangan kiri, ia menyekal dengan keras, ia menarik dengan kaget sambil menekan, berbareng dengan mana tangannya yang kanan, yang menyekal pedang-pedangan, menyambar langsung ke depan.

"Bret!" demikian satu suara nyaring, dari pecahnya cita.

Dan bajunya Oen Beng San, tertua ketiga dari Cio Liang Pay, robek karenanya! Masih Sin Cie berlaku murah hati, jikalau tidak, ujung pedang pasti sudah menyambar terus ke dada! Oen Beng San kaget berbareng ia rasai telapakan tangannya sakit disebabkan gentakan Sin Cie, karena ia berbelit, ia terpaksa lepaskan tongkatnya yang tercekal keras lawannya itu.

Sin Cie ada berhati mulia, tak mau ia bikin malu jago tua itu, selagi menarik pulang pedangnya, ia sodorkan tangan kirinya, berikut tongkat di tangannya, akan kembalikan tongkat itu. Kejadian ini dilakukan dengan cepat luar biasa, kecuali ahli silat, jarang ada yang bisa lihat pertukaran tongkat itu.

Sam-yaya itu mendongkol sangat, begitu ia sambuti tongkatnya, begitu ia menyerang pula! Sin Cie terkejut, ia heran. Orang sudah kalah, kenapa orang masih berlaku begini tidak berkepantasan? Tetapi tidak sempat ia berpikir. Dengan sebat ia egos tubuh ke belakang, dengan lompat mundur sedikit untuk bebaskan diri dari serangan seumpama bokongan itu.

Masih jago tua itu tidak mau mengerti, ia tarik tongkatnya untuk lagi sekali dipakai menyerang pula. Tapi sekarang berbareng terdengar suara "Ser!" tiga kali, dari mulut naga-nagaan dari tongkat itu melesatlah tiga batang paku baja, menyerang ke arah tiga penjuru: atas, tengah dan bawah! Jarak di antara kedua orang itu ada dekat, karena serangan senjata rahasia itu membarengi totokan tongkat.

Oen Ceng kaget, sampai ia berseru di luar keinginannya, hampir ia berlompat kalau tidak ibunya tarik tangannya.

Sin Cie terkejut, inilah ia tidak sangka. Tapi ia tidak menjadi gugup.

Ia lantas menyampok, beruntun tiga kali. Ia telah menggunai tipu silat "Kong-ciak-kay-peng" atau "Burung Merak Buka Sayap". Dengan tangkisannya ini semua tiga paku jatuh ke tanah. Inilah salah satu kepandaian istimewa dari Hoa San Pay. Setelah itu, ia tidak diam saja, sambil maju setindak, ia tekan ujung tongkat dengan pedang-pedangannya.

Dengan tiba-tiba Oen Beng San merasai tenaga menekan yang berat sekali, sedang itu waktu, ia belum sempat tarik pulang tongkatnya. Rupanya tadi ia percaya ia pasti akan berhasil dengan serangan senjata rahasia itu. Ia mundur, akan tancap kaki, untuk pasang kuda-kuda, guna pertahankan diri.

Sin Cie menekan terus, sampai ujung tongkat mengenai tanah, sesudah mana, mendadak ia angkat sebelah kakinya yang kiri, akan injak ujung tongkat.

Jago tua itu kerahkan tenaganya, untuk tarik pulang tongkatnya.

Sin Cie tidak menginjak lama, dengan sekonyong-konyong ia angkat kakinya, sambil terus mencelat mundur, maka itu, dengan gampang sekarang Beng San bisa angkat dan tarik tongkatnya itu. Akan tetapi pada lantai, yang terbuat dari batu hijau, ada lobang bekas kepala tongkat itu! Semua hadirin terperanjat; mereka saling mengawasi dengan tercengang.

Oen Beng San kena dipecundangi, ia mendongkol bukan buatan. Dengan kedua tangannya, ia lemparkan tongkatnya ke atas wuwungan dari thia itu, hingga di lain saat terdengarlah satu suara nyaring yang dahsyat, sebab tongkat itu membuat satu lobang dan nembus keluar wuwungan! "Alat ini kena dikalahkan pedang kayumu, buat apa dipakai lagi!" kata jago tua itu.

Sin Cie tampak orang murka besar, di dalam hatinya dia berkata: "Sebenarnya kau yang kalah dari aku, bukannya tongkatmu yang kalah dari pedang-pedanganku!"

Memang tak ada faedahnya akan jago tua itu ngambul secara demikian.

Di antara Ngo Couw dari Cio Liang Pay, yang paling liehay dengan senjata rahasianya adalah Su-yaya Oen Beng Sie. Jago tua yang keempat ini mempunyai dua puluh empat batang hui-too, golok terbang, dalam hal menggunai senjata mana, tak pernah ia gagal. "Seratus kali lepas, seratus kali kena." Demikian istilahnya.

Setiap hui-too itu beratnya setengah kati saja, semuanya disimpan dalam satu kantong kulit yang digendol di belakang. Lain orang gunai senjata rahasia secara menggelap atau diam-diam, tetapi hui-too dari Su-yaya ini menyambar sambil bersuara mengaung, mirip dengan rayuan seruling. Jadi suara itu seperti merupakan pemberian ingat terdahulu untuk lawan, sedang sebenarnya, suara itu justru untuk membikin lawan menjadi bingung dan gugup.

Oen Beng Sie lihat kakaknya itu gagal, tanpa bicara lagi, ia lompat ke dalam kalangan.

"Saudara Wan, permainan senjatamu untuk memunahkan senjata rahasia bagus sekali," berkata dia. "Bagaimana kalau sekarang kau sambut juga golok terbangku?"

Habis mengucap demikian, jago tua ini lolosi kantong kulitnya, yang dicantel di pinggangnya, untuk dipindahkan ke bebokongnya.

Sin Cie mengerti bahwa akan percuma saja ia mengalah, dari itu, ia manggut.

"Harap saja Loocianpwee berlaku murah hati," jawabnya. Lantas ia hampirkan bocah tadi, untuk kembalikan pedang kayu, setelah mana, ia kembali ke tengah lian-bu-thia.

Semua penonton undurkan diri, antaranya ada yang menyingkir ke pintu. Suasana ada tegang. Orang menginsafi liehaynya golok dari Su-yaya itu, yang tak pernah gagal. Umpama kata Sin Cie sanggup menanggapinya, soal ada lain, akan tetapi apabila dia mencoba berkelit selalu, dia mesti terancam malapetaka... "Lihat golok!" mendadak terdengar seruan Oen Beng Sie.

Karena dua pihak sudah lantas siap, jago tua ini tak sia-siakan ketika lagi.

Golok menyambar sambil berkelebatan dan bersuara juga: "Swing!"

Selama itu Sin Cie sudah pikir, golok terbang dari jago tua itu mestinya istimewa.

"Jikalau aku tanggapi, tak akan terlihat kepandaianku," demikian ia pikir. "Dengan jalan itu, tak bisa aku takluki dia. Dia mesti dibikin menyerah dengan begitu rupa barulah dia nanti suka lepaskan Siauw Hui dan kembalikan emas itu."

Karena ini, diam-diam ia telah keluarkan dua butir biji caturnya. Ketika golok menyambar, ia kagumi ketangkasannya si jago tua. Ia tak berayal, untuk gunai biji caturnya. Tangan kirinya lantas menimpuk, disusul dengan tangan kanan.

Segera sebutir biji catur tangan kiri itu mengenai golok dengan terbitkan suara pelahan, berhentilah suara mengaung nyaring tadi dari golok tersebut. Sebab biji ini tepat nancap di lobang kecil di ujung golok. Segera setelah itu, terdengar suara nyaring lain. Ini kali ada suara dihajarnya golok dengan biji catur dari tangan kanan, menyusul mana, hui-too itu terhalang menyambarnya dan terus jatuh ke lantai.

Golok terbang berat setengah kati dan biji catur kecil dan enteng sekali, toh golok itu kalah tenaga, maka ini telah menyatakan, bentrokan di antara dua senjata itu berbareng juga membuktikan tenaga dari kedua orang yang lagi adu kepandaian itu. Tenaga Sin Cie ternyata berlipat lebih besar daripada tenaga Oen Beng Sie.

Wajah Su-yaya dari Oen Ceng ini berubah dengan sekejab, tetapi berbareng dengan ini, dua batang goloknya sudah melayang pula, dengan berbareng.

Sin Cie sudah siap pula dengan biji-biji caturnya, karena ia telah duga sikap lawan, maka ketika ia diserang lagi, dengan dua golok, dengan cepat ia menimpuk dengan empat biji catur, dengan berturut-turut. Maka dengan saling-susul, kedua golok pun jatuh seperti yang pertama.

"Hm!" berseru Beng Sie. "Liehay! Liehay!"

Di mulut Su-yaya itu perdengarkan pujiannya, tangannya sebaliknya dikerjakan terus, malah kali ini enam batang golok dikasih menyambar. Dia pun sengaja sebar golok-golok terbangnya itu ke segala penjuru. Ia insyaf, di satu arah saja, akan sia-sia penyerangannya itu. Selagi menyerang, di dalam hatinya, ia kata: "Apa mungkin kau sanggup pukul jatuh pula sesuatu dari golokku ini?"

Oleh karena enam batang hui-too yang terbang berhamburan, suara swingnya pun ramai sekali. Akan tetapi suara itu berhenti dalam sekejab. Karena dua belas biji catur dari Sin Cie sudah bekerja pula, untuk memukul rubuh.

"Bagus!" Oen Beng Sie berseru pula, tapi dengan hati mendongkol sangat, dengan penasaran. Dan kedua tangannya digeraki dengan hampir berbareng, menyambarkan enam batang golok pula masing-masing. Maka itu, baru enam hui-too serang si anak muda, atau enam yang lain sudah menyusul dengan segera. Serangan ini juga dilakukan dengan tenaga penuh dan semangat bernyala-nyala.

Oen Beng Tat ada seorang yang berpengalaman, ia segera dapat kenyataan, anak muda di depan mereka itu mesti ada muridnya seorang yang liehay sekali, maka itu ia kaget tak terkira apabila ia saksikan saudaranya yang keempat menyerang secara demikian.

"Sutee, jangan celakai dia!" dia berseru, untuk mencegah.

Tapi cegahan ini sia-sia saja, karena hui-too sudah saling susul menyerang si anak muda.

Sin Cie tidak menjadi bingung karena serangan hui-too yang seperti berantai itu, ia berlompat sambil kerahkan kedua tangannya secara sangat cepat, ia bukannya menangkis dan berkelit, ia hanya tanggapi setiap golok. Maka di lain saat, dua-belas batang golok terbang itu telah bersarang di antara kedua tangannya kiri dan kanan, enam buah di setiap tangan! Akan tetapi anak muda ini tidak cuma tangkap semua golok yang menyerang dia, dia tidak pegang itu lama-lama, dengan lantas dia melempar-lemparkannya, dengan kedua tangannya, hingga dalam beberapa kali saja, kedua tangannya sudah kosong pula. Di lain pihak, semua hadirin menjerit bahna heran dan lalu melengak karenanya. Sebab keduabelas golok itu menyambar ke arah para-para senjata dan di sana sejumlah tumbak-tumbak biasa dan tumbak cagak - pada terputus ujungnya terkena sambaran hui-too-hui-too itu! Menyusul ini, semua lima Ngo Couw matanya bernyala-nyala, saking mendongkolnya.

"Apakah kau di kirim oleh si Kim Coa Kan-cat?" berseru mereka dengan suara yang sangat bengis.

"Kim Coa Kan-cat" berarti "Kim Coa si bangsat". Lima jago itu menegur secara demikian karena mereka saksikan caranya Sin Cie menanggapi golok-golok terbang itu.

Dengan sebenarnya, Sin Cie sudah lakukan perlawanan dengan keluarkan ilmu silat yang ia peroleh dari Kim Coa Pit Kip, kitab warisan Kim Coa Long-kun.

Tatkala dulu Kim Coa Long-kun Hee Soat Gie layani jago-jago Cio Liang Pay itu, selagi Oen Beng Sie serang dia dengan dua belas hui-too, dia telah menyambuti semua golok dengan tangan kosong, gerakannya mirip dengan gerakan Sin Cie ini. Maka itu, mereka ini jadi ingat kepada Kim Coa Long-kun itu, si Ular Emas.

Sin Cie masih belum tahu, ada sangkutan apa di antara Kim Coa Long-kun dan jago-jago Cio Liang Pay ini, dari itu, ia tidak lantas keluarkan kepandaiannya menurut ajaran si Ular Emas, adalah barusan, karena terancam bahaya, ia gunai itu di luar keinginannya. Itu adalah ilmu silat yang dinamai "Cian Chiu Koan Im Siu-Ban po", atau "Koan Im Tangan Seribu Menyambut Selaksa Mustika".

Sebenarnya, atas pertanyaan itu, pemuda ini hendak berikan jawaban, akan tetapi sebelum ia buka mulut, ia lihat dari luar paseban bertindak masuk tiga orang, di antara siapa ada Siauw Hui, yang ternyata telah ditelikung oleh dua orangnya Cio Liang Pay. Teranglah si nona baru saja dikeluarkan dari lobang jebakan, untuk dihadapi kepada ketua mereka.

Melihat nona itu, tidak ayal lagi, Sin Cie lompat jauh, akan pergi keluar paseban, guna papaki nona itu. Ia berlompat dengan gerakan "It-hong-ciong-thian", atau "Burung Hoo Terjang Langit".

Menampak demikian, dengan masing-masing hunus senjatanya, Oen Beng Tat dan Oen Beng Gie lari mengejar.

Sin Cie tidak perdulikan orang susul ia, ia memburu terus ke arah Siauw Hui, baru ia datang dekat, ia sudah lantas disambut oleh dua orang yang iringi si nona, mereka ini masing-masing gunai golok dan pedangnya.

Segeralah terdengar suara nyaring dua kali beruntun, golok dan pedangnya dua penyerang itu terlepas dari cekalan mereka, terpental keras, sehingga mereka jadi tercengang dan kaget. Sebab senjata mereka sudah bentrok dengan senjata Toa-looya dan Jie-looya mereka! "Tolol!" kedua ketua itu mendamprat.

Sin Cie sudah berlaku cerdik, ketika ia dipapaki serangan, ia bukan tangkis serangan itu, ia hanya nelusup ke bawah, justru itu Beng Tat dan Beng Gie sampai, mereka ini sudah lantas serang si anak muda, hingga tak dapat dicegah lagi, senjata mereka berempat bentrok satu dengan lain.

Lolos dari serangan, Sin Cie sudah lantas sambar Siauw Hui, akan bikin putus tambang belenggu nona ini.

"Engko Sin Cie!" Nona An berseru saking girang.

"Sambut ini!" kata Sin Cie, yang lemparkan pedang si nona yang pun terikat tambang, yang ia sudah lantas loloskan.

Siauw Hui ulur tangannya, akan sambuti senjata itu.

Baru si nona pegang senjatanya, atau dua tumbak pendek dari Oen Beng Tat telah sambar dia, hingga ia jadi kaget.

"Aduh! Aduh!...." demikian dua teriakan menyusul, teriakan dari kehebatan.

Dalam ancaman bahaya itu, mendadak di depannya Siauw Hui menghalang dua tubuh manusia, hingga tidak ampun lagi, mereka ini kena disapu Beng Gie, hingga keduanya rubuh dengan berteriak kesakitan.

Mereka nyata ada dua orang yang barusan iringi Siauw Hui, mereka melintang karena dijoroki Sin Cie. Beruntung mereka, ketuanya keburu urungi serangan tumbaknya dan cuma dupak mereka.

Dua-dua Siauw Hui dan Sin Cie mundur, akan tetapi Beng Tat tidak mau sudah. Toa-looya ini melanjuti menyerang lebih jauh dengan tumbaknya. Tiba-tiba tumbaknya kena terlibat tambang, hingga ia terkejut. Untuk melepaskan diri, terutama untuk cegah orang tarik dia, ia barengi maju, akan menikam terus! Sin Cie masih belum lepaskan tambang bekas membelenggu Siauw Hui ketika si nona terancam bahaya, ia gunai itu untuk sambar dan lilit senjata Toa-yaya. Sebenarnya ia niat membetot tapi ia telah didahului Beng Tat, maka menggunai ketikanya itu, ia kendorkan cekalannya hingga tambang jadi terlepas dari tangannya, karena mana, Beng Tat ngusruk sendirinya, sukur setelah dua tindak, jago tua ini bisa pertahankan diri.

Selagi orang terjerunuk, Sin Cie tarik tangan Siauw Hui, untuk ajak si nona lari ke dalam paseban di mana, bukannya ia menyerang atau menyingkir lebih jauh, ia hanya berdiri diam.

Oen Beng Tat telah jadi sangat gusar, karena ia merasa sudah dipermainkan orang, ia memburu ke dalam paseban dengan diturut saudaranya.

Semua orang keluarga Oen juga telah berkumpul jadi satu. Mereka berdiri di belakang Ngo Couw mereka. Beng Tat dan Beng Gie persatukan diri kepada tiga saudara mereka apabila mereka lihat si anak muda tidak lari menyingkir.

"Di mana adanya Kim Coa Kan-cat?" Beng Tat tanya sambil menuding dengan tangan kanan, karena tangan kirinya dipakai memegang tumbak pendeknya. "Lekas bilang!"

"Jikalau ada bicara, Loocianpwee, mari kita omong secara baik, tak usah kau bergusar." sahut Sin Cie dengan sabar.

"Pernah apa kau dengan Kim Coa Long-kun Hee Soat Gie?" tanya Beng Gie, dengan suara menyatakan kemurkaannya. "Dia ada di mana sekarang? Apakah dia yang perintah kau datang kemari?"

"Seumurku, belum pernah aku lihat mukanya Kim Coa Long-kun," jawab Sin Cie, dengan tetap tenang, "maka cara bagaimana dia bisa perintah-perintah aku?"

"Apakah katamu ini?" Beng San, sam-yaya , tegaskan.

"Apa gunanya aku dustakan kamu?" sahut anak muda itu. "Secara kebetulan saja aku bertemu sama ini Saudara Oen Ceng di atas sebuah perahu, berterima kasih atas kebaikannya, kita berdua lantas ikat tali persahabatan. Ada hubungan apa kamu dengan Kim Coa Long-kun?"

Ngo Couw nampaknya jadi lebih tenang, akan tetapi kecurigaannya masih belum lenyap.

"Apabila kau tidak sebutkan tempat sembunyinya Kim Coa Long-kun, hari ini jangan kau harap bisa keluar dari Cio-liang!" Beng Tat mengancam. Ia tidak jawab pertanyaan orang.

"Dengan andali kepandaian kamu ini kamu hendak menahan aku?" si anak muda tegasi. "Aku kuatir kau tak nanti mampu berbuat demikian..." Masih Sin Cie berlaku sabar sekali, sikapnya menghormat. Lalu ia menambahkan: "Dengan Kim Coa Long-kun itu, aku tidak bersanak tidak berkadang, sama sekali kita berdua belum pernah bertemu muka. Cuma, untuk bicara terus-terang, di mana adanya dia sekarang, aku tahu, melainkan aku kuatir di sini tak ada seorang pun yang berani pergi menemukan dia...?"

Dengan mendadak, kumat pula kemurkaan Ngo Couw dari Cio Liang Pay itu.

"Siapa bilang kami tidak berani?" seru Beng Tat, si Toa-yaya. "Selama sepuluh tahun ini, tidak ada satu hari yang kami tidak cari dia! Kami berlima saudara, satu persatu jiwa kami, suka kami antarkan ke tangannya dia itu! Biar dia ada di ujung langit, pasti kami akan cari padanya! Di mana dia ada?"

Sin Cie tertawa dengan tawar.

"Apa benar-benar kamu hendak pergi ketemui dia?" ia tanya.

Beng Tat maju setindak.

"Tidak salah!" jawabnya.

"Ada apa faedahnya akan bertemu dengannya?" tanyanya.

"He, Sahabat kecil, siapa hendak main-main denganmu?" Beng Tat menegur. "Lekas kau omong!"

Anak muda itu berseru.

"Loocianpwee semua ada bertubuh sehat wal'afiat," katanya, "masih mesti ditunggu lagi banyak tahun untuk Loocianpwee menemui dia itu. Dia telah menutup mata!"

Mendengar jawaban ini, semua orang tercengang, hingga mereka pada berdiri menjublak, hanya adalah Oen Ceng yang terdengar menjerit dan terus memanggil-manggil: "Ibu! Ibu! Ibu, bangun!"

Sin Cie heran, ia segan menoleh, maka terlihatlah olehnya, si nyonya usia pertengahan sudah rubuh pingsan, tubuhnya berada dalam pangkuan si anak muda Oen Ceng. Nyonya itu tutup rapat mulutnya, mukanya pucat sekali. Ngo Couw pun terkejut.

"Dosa!" kata Oen Beng San berulang-ulang.

Beng Gie segera kata pada Oen Ceng: "Ceng Ceng, lekas pondong ibumu ke dalam! Jangan kau mendatangkan malu, hingga orang nanti menertawainya!"

Oen Ceng menangis dengan tiba-tiba, tapi ia menjawab dengan sengit. "Malu apa? Ibu dengar ayah menutup mata, tentu saja ia kaget dan jadi bersusah hati karenanya!..."

"Nyonya elok itu jadi ada isterinya Kim Coa Long-kun?" tanyanya dalam hatinya. "Dan Oen Ceng ini puteranya..."

Beng Gie gusar bukan main mendengar perkataan Oen Ceng hingga ia kertak giginya berulang-ulang. "Toako, jikalau masih kau sayangi bocah ini, nanti aku yang ajar padanya!" kata ia dengan keras pada Beng Tat, sang kanda.

"Siapa itu ayahmu?" Beng Tat bentak sang cucu. "Kau tidak mau lekas masuk?"

Oen Ceng lantas pepayang si nyonya eilok, untuk diajak masuk ke dalam. Nyonya itu sudah sadar tapi ia masih sangat lemah.

"Kau minta Wan Siangkong menemui aku besok malam," ibu ini kata dengan pelahan. "Aku hendak tanyakan dia."

Oen Ceng manggut, terus ia menoleh pada Sin Cie. "Masih ada satu hari!" katanya. "Besok malam kau boleh datang pula untuk curi emas, aku ingin lihat kau mampu atau tidak!"

Dengan roman sengit, ia lirik Siauw Hui, habis itu ia pepayang ibunya dan bertindak masuk.

"Mari kita pergi!" Sin Cie ajak Siauw Hui. Lantas keduanya bertindak keluar.

"Pelahan dulu!" tiba-tiba Ngo-yaya Oen Beng Go mencegah sambil kedua tangannya dipakai menghalangi. "Aku masih ingin tanya kau."

Sin Cie rangkap kedua tangannya, untuk memberi hormat. "Sekarang sudah jauh malam, lain hari saja aku kunjungi Loocianpwee," katanya.

"Kim Coa Kan-cat itu di mana matinya?" Beng Go tanya. "Ketika dia mati, siapa yang lihat padanya?"

Ditanya begitu, berpetalah di matanya Sin Cie kejadian itu malam di dalam gua di atas puncak gunung Hoa San ketika Thio Cun Kiu serang si pendeta. "Terang sudah, kamu sedang cari warisan Kim Coa Long-kun," pikir dia. "Tidak, aku tidak bisa kasi keterangan!"

Maka ia jawab: "Aku ketahui itu dari pendengaran satu sahabat. Jikalau tidak keliru, Kim Coa Long-kun meninggal dunia di sebuah pulau di luar propinsi Kwietang."

Ngo Couw saling mengawasi, nampaknya mereka heran.

"Maka itu pergilah kamu ke pulau itu di laut Kwietang!" Sin Cie kata. Terus ia memberi hormat pula,dan tambahkan: "Aku yang muda tak dapat menemani lebih lama pula...."

"Jangan kesusu!" Oen Beng Go mencegah pula. Dia masih mau menanya melit-melit, kembali dia lintangi kedua tangannya.

Sin Cie keluarkan tangannya, untuk tolak lengan orang, tapi Beng Go segera tekuk lengannya itu, untuk dipakai menggaet. Ia gunai tipu "Kim-na-hoat" akan cekal tangan si anak muda.

Sin Cie tidak niat bertempur pula, selagi kedua tangan mereka beradu, ia tarik Siauw Hui dengan tangan kiri, ia ajak si nona loncat akan lewati jago tua ini yang kelima.

Si nona adalah yang loncat lebih dahulu, akan lewat di samping jago tua itu, baju siapa pun tidak sampai terlanggar.

Oen Beng jadi panas, hingga selagi tarik pulang tangan kanannya, ia bawa itu ke pinggangnya, maka di lain saat ia sudah tarik keluar sepotong cambuk lemas terbuat dari kulit kerbau, senjatanya yang istimewa. Dengan itu, ia lantas serang bebokong si anak muda dengan tipu pukulannya "Cun-Ma-toat-kiang" atau "Kuda Jempol Meloloskan Pelana".

Jikalau lain orang bergegaman cambuk dari baja atau lain logam, Beng Go gunai bahan kulit, yang lemas tapi ulet, yang ia biasa gunai sama hebatnya seperti logam.

Sin Cie dengar suara angin di belakangnya, sambil masih tarik tangan si nona An, ia mendak seraya terus berlompat, dengan begitu, serangan cambuk jadi mengenai sasaran kosong. Habis itu ia berlompat ke arah tembok.

Oen Beng Go jadi sangat penasaran. Ia punyakan latihan dari beberapa puluh tahun dengan cambuknya itu, siapa tahu, dengan gampang saja si anak muda lolos dari serangannya. Maka tak mau ia berhenti dengan begitu saja. Meneruskan gerakan tangannya, yang ia tarik pulang, ia rabih kaki Siauw Hui.

Jago tua ini tahu, kepandaian si nona masih sangat berbatas, ia percaya ia akan berhasil merubuhkan nona itu. Ia tidak pikir bahwa si anak muda ada bersama si nona.

Sin Cie dengar suara anginnya cambuk lemas itu, sambil menoleh ia ulur tangan kirinya, untuk menanggapi, guna lindungi Nona An. Ia berhasil dengan dayanya ini. Justru ia sudah injak tembok, ia segera kerahkan tenaganya, akan tarik cambuk itu.

Beng Go menyerang sambil berlompat maju, tentang gerakannya si anak muda, ia tidak pernah sangka, maka itu, ia kaget tidak terkira ketika cambuknya kena ditangkap dan terus ditarik, percuma ia mencoba akan pertahankan diri, tubuhnya kena tertarik hingga terangkat, hingga kedua kakinya tak menginjak tanah. Maka dengan tergantung sedemikian rupa, tak mampu lagi ia kerahkan tenaganya.

Ngo-yaya ini ingin bikin terang mukanya, ia pasti akan berhasil jika ia sanggup bikin Siauw Hui rubuh, siapa nyana, ia justru jadi bertambah malu karena si anak muda pecundangi padanya. Malah dengan tergelantung demikian rupa, ia sekarang terancam bahaya.

Oen Beng Sie kuatirkan saudaranya itu, ia ayun tangannya akan terbangkan dua buah goloknya, hingga dengan perdengarkan suara "Swing! Swing!" kedua hui-too menyambar ke arah bebokongnya si anak muda. Sie-yaya ini hendak tolongi adiknya, tidak niat ia mencelakai orang.

Melihat ada serangan golok, Sin Cie lepaskan cekalannya kepada cambuk lemas, ia tarik Siauw Hui, buat diajak terus lompat turun keluar tembok. Akan tetapi sebuah golok sudah mendekati kakinya, dengan gesit ia jejak itu, hingga golok jadi berbalik, membentur golok yang kedua, hingga dua-duanya lantas jatuh ke bawah.

Sementara itu Beng Go ada di kaki tembok, ke mana ia jatuh tanpa bahaya ketika Sin Cie lepaskan cekalan cambuk. Kapan ia lihat turunnya golok, ia sambar dengan cambuknya, dengan niat dililit. Apa mau, selagi ia menyabet, cambuknya itu putus sendirinya, hingga ia jadi kaget. Maka untuk luputkan diri dari sambaran golok, ia rubuhkan diri untuk bergulingan dengan gerakannya "Lay-louw-ta-kun" atau "Keledai Malas Bergulingan". Ia sudah berlaku cepat sekali tetapi tidak urung ujung golok mengenai ujung bajunya hingga baju itu robek. Maka itu, waktu ia bangkit bangun, ia keluarkan keringat dingin, mulutnya ternganga.

Tidak pernah ia sangka, dalam keadaaan seperti itu Sin Cie telah bisa bikin cambuknya tertekuk patah hingga jadi hilang kekuatannya.

Oen Beng Tat saksikan itu semua, ia menggeleng-geleng kepala. Lain-lain saudaranya pun heran dan kagum.

"Bocah itu baru berumur kurang-lebih dua-puluh tahun, umpama kata ia belajar silat sejak dalam kandungan, temponya toh tak lebih dari dua-puluh tahun, maka heran sekali, kenapa dia ada begini liehay?" kata Oen Beng Gie si Jie-yaya.

Akan tetapi Oen Beng San sangat penasaran.

"Si bangsat Kim Coa ada sangat liehay, dia toh rubuh di tangan kita!" katanya. "Besok malam bocah itu bakal datang pula, besok nanti kita layani dia pula!"

Sampai di situ, keluarga Oen itu bubaran, sedang Sin Cie dan Siauw Hui dengan tidak kurang suatu apa sudah kembali ke pondok mereka di rumahnya si orang tani.

Nona An sangat kagumi ini sahabat sejak kecil, ia memuji tidak putusnya.

"Cui Suko biasa puji tinggi gurunya," katanya "tapi aku percaya gurunya itu tak nanti sanggup tandingi kau!"

"Apa sih namanya Cui Sukomu itu?" Sin Cie tanya. "Dan siapakah gurunya?"

"Gurunya itu adalah murid dari Bok Loo-Couwsu dari Hoa San Pay, katanya gelarannya ada Tong-pit-Thie-shui-phoa. Mendengar gelaran itu, yang berarti pit kuningan dan shuiphoa besi, pada mula kalinya aku tertawa tak hentinya. Tak ingat aku akan tanyakan suko tentang nama gurunya itu."

Sin Cie manggut, di dalam hatinya, ia kata: "Kiranya Cui Suko itu ada muridnya Toa­suheng, maka dia mesti panggil susiok padaku..."

Ia tidak beritahukan Siauw Hui tentang hubungannya ini dengan Hie Bin atau Tong-pit­Thie-shui-phoa.

Kemudian keduanya masuk tidur.

Di malam kedua, Sin Cie minta Siauw Hui menanti saja di pondokan.

Siauw Hui insaf, kepandaiannya masih belum berarti, malah tadi malam, ia seperti bantu merintangi kawan ini, maka ia menurut akan berdiam di rumah meski sebenarnya sangat ingin ia turut.

Sin Cie tunggu sampai sudah tengah malam, baru ia berangkat. Ia ambil jalan seperti kemarinnya untuk pergi ke rumah keluarga Oen itu. Ketika ia sampai di luar tembok, ia lihat di mana-mana gelap, tidak ada cahaya api seperti kemarinnya. Tadinya ia mau terus masuk ketika dengan tiba-tiba ia dengar seruling merayu tiga kali, berhenti sedetik setiap rintasan.

"Itulah Oen Ceng memanggil aku," pikir anak muda ini yang otaknya tajam. "Ngo Couw ada licin tapi Oen Ceng masih ingat persahabatan."

Maka ia, urung lompat naik ke atas tembok, anak muda ini memutar tubuh, akan bertindak ke arah dari mana suara seruling datang. Ialah dari Bwee Kui San, bukit yang bertaman bunga mawar. Selagi ia mendaki, dari jauh-jauh ia sudah tampak dua orang sedang duduk di dalam paseban, ketika ia mendekati, ia lihat mereka itu adalah orang-orang perempuan. Di antara sinarnya si Puteri Malam, kelihatan juga, satu di antaranya lagi tempeli seruling kepada bibirnya, hingga segera terdengar irama merayu-rayu.

"Itu toh suara serulingnya Oen Ceng?..." pikir pemuda ini, yang menjadi heran dan curiga. Karena ini, selagi mendekati, ia bertindak dengan pelahan-lahan.

Orang perempuan yang meniup seruling itu bertindak keluar paseban, untuk papaki si anak muda.

"Toako!..." katanya dengan pelahan.

Sin Cie terkejut, hingga ia berdiri melongo. Nona itu Oen Ceng adanya, anak muda yang ia anggap sebagai sahabatnya! Ia masih berdiam sekian lama, baru ia tanya: "Kau.... kau...." katanya tak lancar.

Oen Ceng tertawa geli, suaranya pelahan.

"Sebenarnya aku adalah seorang perempuan," ia kasi keterangan. "Sampai sebegitu jauh aku telah abui kau, Toako, harap kau jangan buat kecil hati."

Lantas ia memberi hormat sambil menjura.

Sin Cie balas hormat itu. Sekarang barulah lenyap kecurigaannya sekian lama mengenai perangainya Oen Ceng, tentang sifat-sifat kewanitaannya.

"Namaku adalah Oen Ceng," berkata pula si nona. Ia rupanya dapat mengerti keheranan si anak muda. "Sebegitu jauh aku perkenalkan diri Ceng, sebenarnya masih kurang satu huruf Ceng lagi..."

Dan ia tertawa dengan manis.

Dengan dandan sebagai satu nona, Oen Ceng Ceng benar elok dan manis sekali, alisnya bagus, matanya jernih, pipinya dadu, bibirnya seperti buah engtoh.

"Dasar aku yang tolol, orang perempuan tak aku kenali..." pikir Sin Cie.

"Di sana ibu; ibu ingin bicara denganmu," kemudian berkata pula si nona. "Mari!"

Sin Cie bertindak ke dalam paseban, terus ia memberi hormat.

"Pehbo," ia memanggil sambil ia perkenalkan diri.

Nyonya itu berbangkit untuk membalas hormat.

"Jangan pakai adat-peradatan," katanya.

Sin Cie lihat kedua matanya nyonya itu merah dan bengul, romannya sangat lesu, tanda dari kedukaan hati yang hebat.

"Menurut Ceng Ceng, ibunya ini telah diganggu orang jahat hingga terlahirlah dia," pikir anak muda kita. "Orang jahat itu tentu Kim Coa Long-kun adanya. Kelihatan nyata sekali, lima ketua dari keluarga Oen sangat benci pada Kim Coa Long-kun, sebab ketika Ceng Ceng sebut dia itu sebagai ayah, ia ditegur oleh Jie-yaya. Sebaliknya ibunya mendengar hal kematiannya Kim Coa Long-kun, telah pingsan karenanya, tanda kedukaan yang hebat. Bukankah di sini mesti ada terselip suatu rahasia? Apakah adanya itu? Baik aku hiburkan dia..."

Nyonya itu berdiam sekian lama, baru ia bicara pula.

"Dia..... apakah benar dia telah menutup mata?" tanyanya. "Wan Siangkong, apakah kau lihat sendiri dia meninggal?"

Anak muda itu manggut.

"Wan Siangkong baik terhadap Ceng Ceng, inilah aku tahu," kata pula si nyonya yang elok tetapi layu itu. "Maka itu pasti aku tidak akan berlaku sebagai sekalian yayanya itu, yang anggap kau sebagai musuh. Aku minta sukalah kau tuturkan aku tentang meninggalnya dia..."

Mengenai sifatnya Kim Coa Long-kun, Sin Cie masih gelap dan ragu-ragu. Gurunya sendiri, yang bicara dengan Bhok Siang Toojin, mengatakan si Ular Emas ada seorang berperangai luar biasa, cara hidupnya ada di antara sesat dan tak sesat. Akan tetapi, sejak ia dapatkan "Kim Coa Pit Kip" dan peroleh ilmu silat dari kitab pusaka itu, diam-diam ia kagumi orang luar biasa itu, yang otaknya sangat cerdas, dan diam-diam juga ia pandang si orang aneh sebagai gurunya. Biar tidak langsung dia toh dap\pat pelajaran berharga dari Kim Coa Long-kun. Maka itu, mendengar Ngo Couw mendamprat Kim Coa Long-kun sebagai "kan-cat", bangsat yang hina dan licik, ia jadi gusar sekali, cuma karena ia belum tahu duduknya hal, tak bisa ia bilang suatu apa. Sekarang ia dengar suaranya ibu dari Ceng Ceng, ia kembali dapat pemandangan lain.

"Belum pernah aku bertemu dengan Kim Coa Long-kun," ia jawab pertanyaan si nyonya, "akan tetapi walaupun demikian, dia dan aku ada sebagai guru dan murid, karena sebagian dari ilmu silatku aku dapat pelajarkan dari beliau. Aku pikir tidak leluasa untuk tuturkan jelas hal Kim Coa Long-kun setelah ia menutup mata, aku kuatir orang jahat nanti pergi menyatroni dan merusak kuburannya itu...."

Baru si nyonya mendengar kata terakhir dari si anak muda, ia lantas saja tergeletak rubuh, sehingga Ceng Ceng mesti sambar tubuhnya, untuk ditolongi.

"Ibu, Ibu!" memanggil si nona. "Keraskan hatimu, Ibu...."

Tidak lama pingsannya nyonya ini, lalu ia sadar pula. Ia lantas menangis.

"Delapan-belas tahun lamanya aku nantikan dia, aku harap dengan sangat dia datang untuk sambut kami ibu dan anak, supaya kami bisa berlalu dari sini, siapa sangka justru dialah sendiri yang sudah pergi lebih dahulu..." mengeluh nyonya Kim Coa Long-kun ini. "Dan Ceng Ceng sama sekali belum pernah lihat muka ayahnya..."

"Jangan berduka, Pehbo," Sin Cie menghibur. "Sekarang ini Hee Loocianpwee sedang tidur dengan senang di alam baka. Tulang-tulangnya semua akulah yang kubur dengan baik-baik."

"Oh, kau yang menguburnya, Wan Siangkong?" kata si nyonya. "Budimu ini ada sangat besar, aku tidak tahu bagaimana nanti aku membalasnya."

Ia segera berbangkit, untuk memberi hormat.

Sin Cie sibuk, untuk mencegah.

"Ceng Ceng, hayo kau paykui kepada Wan Toako!" nyonya ini titahkan gadisnya.

Tanpa bilang suatu apa, Ceng Ceng lantas jatuhkan diri berlutut di depan si anak muda, sehingga dia ini repot berlutut juga untuk membalas hormat, buat sekalian mengasih bangun kepada nona itu.

"Apakah dia meninggalkan surat untuk kami?" kemudian nyonya itu tanya pula.

Ditanya begitu, Sin Cie ingat pesan dari Kim Coa Long-kun bahwa siapa "dapatkan warisannya, dia mesti pergi ke Cio-liang di Kie-Ciu, Ciatkang untuk cari Oen Gie, untuk serahkan emas banyaknya sepuluh laksa tail." Pesan itu membikin ia bingung, lalu ia tak perhatikan lebih jauh. Ia sendiri pun tidak tergiur hatinya oleh itu harta besar, malah ia bayangi, jangan-jangan Kim Coa Long-kun bercelaka karena harta besar itu. Ia juga ingat baik-baik kata-kata gurunya bahwa harta besar bisa mendatangkan malapetaka. Karena ini, ia rada jemu dengan petanya Kim Coa Long-kun itu. Sampai sekarang nyonya ini menanyakannya.

"Maaf, pehbo," katanya, "aku memberanikan diri untuk tanya apa Pehbo bernama Gie?"

Ibunya Ceng Ceng nampaknya terperanjat.

"Benar," jawabnya. "Bagaimana kau ketahui itu?" Belum sampai si anak muda sahuti ia, ia sudah tambahkan: "Tentu kau ketahui itu dari surat peninggalannya! Apakah Wan Siangkong bawa suratnya itu sekarang?"

Tegang sekali sikapnya si nyonya selagi ia menanyakan demikian.

Di saat Sin Cie hendak jawab nyonya itu, mendadak ia menjejak dengan kaki kanannya, segera tubuhnya lompat mencelat melewati lankan, menyambar ke suatu gerombolan pohon mawar.

Oen Gie danCeng Ceng, ibu dan anak, kaget dan heran, keduanya segera mengawasi anak muda itu.

Tiba-tiba terdengar satu jeritan "Aduh!" kemudian tertampak Sin Cie gusur keluar satu orang, tubuh siapa diam saja, karena rupanya dia telah ditotok jalan darahnya. Dengan jambak bebokongnya, pemuda ini bawa orang itu ke dalam paseban di mana dia itu digabruki ke lantai.

"Eh, inilah Cit-pehhu!" Ceng Ceng bersuara tertahan.

Oen Gie pun mengenalinya, ia lantas menghela napas panjang.

"Wan Siangkong, tolong kau merdekakan dia," mintanya. "Di dalam rumah keluarga Oen ini, kecuali kita berdua ibu dan anak, tidak ada orang lain lagi yang pandang kami sebagai orang dalam..."

Sin Cie lihat sikap lesu nyonya itu, ia dengar suara yang lemah bersedih. Lantas saja ia tepuk jalan darahnya orang tawanannya itu, atas mana dia ini keluarkan jeritan perlahan, lalu mendusin.

Nyatalah orang ini ada Oen Lam Yang dengan siapa Sin Cie pernah bertempur. Dia adalah anak Oen Beng Gie dan turut runtunan, dia ada anak ketujuh dalam keluarga Oen itu.

"Cit-pehhu!" Oen Ceng tegur mamaknya itu, "kami sedang bicara di sini, mengapa kau mencuri mendengari? Sama sekali kau tidak hargai derajatmu sebagai orang yang terlebih tua!"

Kedua matanya Oen Lam Yang bersinar, rupanya ia mendongkol, tapi sebentar saja, lantas ia ngeloyor pergi dengan tak bilang suatu apa. Rupanya ia jeri atas keliehayan si anak muda, yang barusan cekuk ia dengan gampang, sedang kemarinnya, ia pun gagal layani anak muda itu. Akan tetapi, setelah beberapa tindak di luar paseban, dia menoleh dan kata dengan sengit: "Perempuan tidak tahu malu pasti bisa melahirkan satu anak perempuan tidak tahu malu juga! Sudah sendiri mencuri lelaki, sekarang pun anak sendiri diajari curi lelaki juga!"

Tapi Ceng Ceng tidak bisa antap hinaan itu, sambil hunus pedangnya ia loncat keluar paseban, untuk menyusul.

"Eh, Cit-pehhu, mulutmu kotor sekali!" ia berseru. "Apa kau bilang?"

Oen Lam Yang putar tubuhnya lalu ia berdiri tegak.

"Eh, Kacung hina, kau hendak berontak?" tanyanya. "Yaya semua yang perintah aku datang kemari! Habis kau mau apa?"

"Jikalau kau hendak bicara dengan kita, kau boleh bicara terus-terang!" Ceng Ceng tegur. "Kenapa kau curi dengar pembicaraan kita?"

"Kita? Hm!" Oen Lam Yang menghina, sambil tertawa dingin. "Entah orang hutan dari mana datang kemari yang lantas dimasuki dalam lingkungan kita! Muka terang delapan­belas turunan dari keluarga Oen telah kau bikin malu!"

Mukanya Ceng Ceng menjadi merah saking malu. Ia menoleh pada ibunya.

"Ibu, dengarlah kata-katanya itu!" katanya.

"Cit-ko, mari, aku hendak bicara denganmu," kata Oen Gie dengan pelahan.

Oen Lam Yang kasih dengar suara:" Hm!" lantas ia bertindak menghampiri, sikapnya jumawa sekali.

"Kita ibu dan anak hidup menderita," berkata si nyonya kemudian. "Kita berterima kasih kepada lima yaya dan semua saudara, yang masih mengijinkan kita tinggal belasan tahun dalam rumah keluarga Oen ini. Tentang urusan si orang she Hee, belum pernah aku omong suatu apa terhadap Ceng Ceng, tetapi sekarang setelah dia menutup mata, selagi Cit-ko ketahui semua dengan baik, tolong kau tuturkan itu kepada Wan Siangkong dan Ceng Ceng...."

"Kenapa aku yang mesti menuturkan?" tanya Oen Lam Yang dengan mendongkol. "Inilah urusan kamu, kamu sendiri yang harus menceritakan asal jangan kamu tahu malu!"

Nyonya itu menghela napas.

"Baiklah," sahut dia. "Aku tahu, dia pernah tolongi jiwamu, aku percaya, sedikitnya kau masih bersukur terhadapnya, siapa tahu kau sama saja dengan semua anggauta keluarga Oen ini, semuanya bong-in-pwee-gie - semua tidak kenal budi-kebaikan!"

Oen Lam Yang jadi sangat gusar.

"Dia pernah tolong jiwaku, itu benar!" katanya dengan sengit.

"Tapi kenapa dia tolongi aku? Baiklah, aku nanti tuturkan semua, supaya kalau kau yang menceritakannya, tak bisa kau menambahi bumbu hingga aku akan jadi orang macam apa tahu!"

Ini mamak yang ketujuh lantas duduk.

"Orang she Wan, Ceng Ceng," katanya, mulai, "nanti aku tuturkan bagaimana duduknya hingga kami kenal Kim Coa Kan-cat, aku nanti jelaskan semua dengan terang supaya kamu ketahui bagaimana jahatnya kan-cat itu!"

"Jikalau kau omong jelek tentang dia, tak suka aku mendengari!" memotong Ceng Ceng. Dan ia tutupi kupingnya.

"Ceng Ceng, kau dengarilah!" berkata sang ibu. "Ayahmu yang telah meninggal dunia ini, walaupun dia tak dapat dikatakan orang baik seluruhnya, akan tetapi apabila dia dipadu dengan keluarga Oen, dia masih terlebih baik beratus lipat!"

"Hm, kau lupa bahwa kau pun she Oen!" mengejek Oen Lam Yang sambil tertawa dingin.

Oen Gie tidak perdulikan ejekan kakak itu.

Maka Oen Lam Yang segera mulai dengan penuturannya: "Itu adalah kejadian pada dua­puluh tahun yang telah lampau. Ketika itu aku baru berumur dua puluh satu tahun. Ayah telah utus aku ke Yang-Ciu untuk bantui Liok-siokhu..."

"Kiranya," pikir Sin Cie," Ngo Couw dari Cio Liang Pay bukan cuma berlima saudara hanya berenam..."

Liok-siokhu adalah paman yang keenam.

"Ketika aku sampai di Yang-Ciu, aku tak dapat menemui Liok-siokhu," Lam Yang melanjuti. "Pada suatu malam aku pergi keluar, untuk bekerja, apa celaka, karena kurang waspada, aku gagal..."

"Kau tidak jelaskan, kerjaan apa itu yang kau lakukan," kata Oen Gie dengan dingin. Lam Yang mendongkol, ia gusar.

"Aku toh satu laki-laki, aku berani berbuat, mustahil aku takut menyebutkannya?" katanya dengan sengit. "Aku telah dapat lihat satu nona yang cantik sekali, aku lompat masuk ke dalam pekarangannya, untuk memetik bunga. Nona itu tolak aku, maka aku lantas bunuh dia. Nona itu masih dapat ketika untuk menjerit dan jeritannya itu terdengar orang. Ada beberapa guru silat yang menjadi cinteng rumah itu, mereka itu keluar mengepung aku. Aku tidak sanggup layani begitu banyak orang, akhirnya aku kena ditangkap...."

Sin Cie bergidik sendirinya mendengar orang cerita tentang kekejian dan kekejamannya sendiri tanpa merasa jengah atau malu. Istilah "petik bunga" itu adalah perkosaan terhadap orang perempuan. Ia pikir, kenapa Oen Lam Yang sedemikian jahat.

"Orang lantas kirim aku ke penjara," mamaknya Oen Ceng Ceng itu melanjuti. "Aku tidak takut. Aku ingat, Liok-siokhu toh ada di kota Yang-Ciu. Untuk seluruh Kanglam, bugeenya paman itu tidak ada tandingannya. Aku percaya, asal paman ketahui kegagalanku, pasti dia bakal datang menolongi aku. Akan tetapi sepuluh hari sudah aku menanti-nanti, tidak juga paman muncul. Sementara itu surat keputusan telah datang dari pembesar lebih atas, aku telah diputuskan hukuman mati, yang mesti dijalankan di dalam kota Yang-Ciu juga. Satu pegawai penjara beritahukan aku keputusan itu. Sampai itu waktu barulah aku ketakutan..."

"Hm! Aku menyangka kau tak kenal takut!..." Ceng Ceng mengejek.

Lam Yang tidak gubris keponakannya ini.

"Selang tiga hari, sipir bui datang dengan arak secawan besar dan sepiring daging," demikian ia meneruskan ceritanya. "Aku tahu artinya makan besar ini, ialah besok aku bakal jalankan hukumanku. Aku pikir, semua orang memang satu kali mesti mati, hanya aku, aku merasa sayang atas diriku sendiri. Aku masih muda dan belum cukup merasai kesenangan.... Tapi aku keraskan hati, aku dahar, aku minum, aku habiskan daging dan arak itu, sesudah mana, aku pergi tidur. Tepat pada tengah malam, aku tersedar karena ada orang tepuk-tepuk pundakku dengan pelahan. Aku segera geraki tubuh, untuk bangun. Lantas aku dengar kisikan di kupingku: "Jangan bersuara! Aku akan tolong padamu!" Orang itu lantas gunai senjatanya, akan tabas kutung pesawat borgolan di tangan dan kakiku. Itulah senjata yang tajam luar biasa, karena borgolan besi terpapas dengan beberapa bacokan saja. Habis itu dia tarik tanganku, dia ajak aku menyingkir dari penjara. Kita kabur sampai di luar kota, di sebuah kuil tua. Selama diajak lari, aku turut saja. Memang aku tak dapat berbuat lain. Dia itu larinya pesat sekali, tenaganya pun besar luar biasa, tak bisa aku lepaskan diri dari cekalannya. Karena separuh ditarik, aku jadi tidak terlalu cape. Setelah dia nyalakan lilin di atas meja suci, baru aku dapat lihat tegas romannya, ialah satu pemuda yang cakap- ganteng, usianya lebih muda beberapa tahun daripadaku, mukanya putih-bersih. Hm!"
Thanks for reading PEDANG ULAR MAS 10

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar