Jilid 11
Lantas saja ia berpaling kepada Oen Gie dan Ceng Ceng bergantian, akan lirik itu ibu dan anak.
"Aku lantas kasih hormat pada pemuda itu seraya menghaturkan terima kasih." Lam Yang cerita lebih jauh setelah ia mengejek ibu dan anak itu dengan lirikannya. "Dia sangat jumawa, dia tak balas hormatku itu. Dia kata: "aku seorang she Hee, apa kau ada orang she Oen dari Cio Liang Pay?" Aku manggut. Sementara itu aku lihat dia masih cekal senjata tajamnya yang tadi dipakai menabas kutung rantai borgolanku. Itu adalah pedang warna hitam, anehnya adalah ujung pedang terpecah dua sebagai cagak."
Di dalam hatinya, Sin Cie kata: "Itulah dia pedang Kim Coa Kiam yang aku dapatkan." Ia diam saja, ia mendengari terus.
"Habis itu aku tanya namanya," Oen Lam Yang bercerita terus. "Tak usah kau ketahui namaku!" jawabnya. "Biar bagaimana, di belakang hari, tidak nanti kau berterima kasih kepadaku!" Aku jadi sangat heran. Pikirku, dia telah tolongi jiwaku, tentu saja aku mesti senantiasa ingat budinya itu, ingat seumur hidupku. "Aku tolong kau untuk kepentingan pamanmu yang keenam," ia menambahkan. "Mari turut aku!"
"Dengan keheran-heranan, aku ikuti dia. Kita pergi ke tepi sungai Oen Hoo, kita naik atas sebuah perahu dan masuk ke dalamnya. Dengan ringkas dia suruh tukang perahu berangkat, ke selatan. Sesudah menyingkir dari Yang-Ciu lebih dari sepuluh lie, baru hatiku mulai lega. Itu artinya, pembesar negeri tidak akan mampu susul pula padaku."
"Dari sakunya, anak muda itu keluarkan sepasang ngo-bie-cie, ialah semacam senjata mirip dengan tempuling. Aku kenali itu sebagai gegaman Liok-siokhu. Biasanya tidak pernah Liok-siokhu terpisah dari gegamannya itu, maka aku heran, kenapa ngo-bie-cie itu berada di tangannya penolongku yang tidak dikenal itu.
"Liok-siokhumu itu adalah sahabat karibku!" kata dia sambil tertawa. Ia tertawa beberapa kali, lalu dengan tiba-tiba mukanya jadi berperongos bengis. Tanpa merasa, aku menggigil saking heran, kaget dan jeri.
"Di sini ada sebuah peti," katanya kemudian. "Aku ingin kau bawa pulang itu ke rumah. Dan ini surat kau serahkan pada ayahmu, pada mamak dan pamanmu semua!" Dia menunjuk pada sebuah peti di dalam perahu itu. Itulah peti yang besar sekali yang ditutup dan dipaku keras, lalu dilibat dengan dadung.
"Kau mesti pulang dengan lekas, jangan kau singgah di tengah jalan," dia pesan. "Peti ini mesti dibuka dengan tangan sendiri oleh mamakmu yang pertama!"
Aku terima baik pesan itu.
"Dalam satu bulan ini, aku akan datang berkunjung ke rumahmu," dia berkata pula. "Kasih tahu pada semua tertua di rumahmu supaya mereka sambut aku secara baik-baik!"
"Itulah kata-kata tidak keruan juntrungannya, akan tetapi aku toh terima juga. Setelah memesan dan aku menerimanya, sekonyong-konyong dia sambar jangkar rantai dari atas perahu, hingga rantainya berbunyi berisik. Segera ia lemparkan itu, malah beruntun semua empat-empatnya jangkar."
"Bagus!" berseru Ceng Ceng tanpa ia merasa.
"Cis!" meludah Lam Yang, hingga ludahnya itu menodai lantai paseban, yang sangat bersih.
Sekitar paseban ditanami pohon kembang mawar, Ceng Ceng tanam itu dengan tangannya sendiri. Paseban itu, terutama lantainya, sangat bersih karena si nona sangat resik. Sekarang ia lihat paseban diludahi, ia jadi berduka.
Sin Cie tampak roman menyesal sahabatnya, ia ulur sebelah kakinya, akan gusak-gusak ludah itu.
Melihat kelakuan itu, si nona menoleh pada pemuda ini, agaknya ia sangat berterima kasih.
Oen Gie lihat kelakuan dua anak muda itu, ia manggut dengan pelahan. Nyata ia puas dengan tingkah-laku pemuda itu.
"Terang dia telah perlihatkan tenaga besarnya padaku, tetapi aku tidak dapat terka apa artinya itu," Oen Lam Yang melanjutkan untuk kesekian kalinya. "Dengan kekuatannya itu, dia telah bikin putus rantai-rantai jangkar. Kemudian baru dia kata padaku: "Jikalau kau tidak lakukan pesanku ini, contohnya adalah ini jangkar!"
"Setelah itu, dia rogo sakunya, akan keluarkan sepotong goan-po ke lantai perahu sambil berkata: "Inilah ongkos jalanmu!" Tanpa tunggu jawabanku, dia sambar dua potong gala, sepotong di tiap tangan. Ketika dengan tangan kiri ia tancapkan gala ke dalam sungai, tubuhnya segera turut terangkat naik dan melayang ke tengah air. Menyusul itu ia tancapkan gala yang kanan, tubuhnya turut melayang juga, sedang gala kiri, ia cabut, ia angkat, untuk ditancapkan pula ke arah depan. Secara demikian, dalam beberapa gerakan saja, ia sudah sampai di tepian di mana ia letaki kaki seraya memutar tubuh. "Kau sambut ini!" ia berseru, menyusul mana dua batang gala ditimpuki ke arah perahu. Aku tidak berani sambuti kedua gala itu, yang jadi nancap di gubuk perahu. Selagi aku kaget dan kagum, dari tepian aku dengar seruannya yang panjang, lantas tubuhnya lenyap di tempat gelap."
"Sungguh gagah Kim Coa Long-kun," pikir Sin Cie.
Pemuda ini cuma memikir di dalam hati, tidak demikian dengan si pemudi.
"Dia ada satu enghiong, satu hoo-kiat!" Ceng Ceng berseru dengan pujiannya. Enghiong atau hookiat adalah satu pahlawan atau orang gagah.
"Satu Enghiong? Cis!" Oen Lam Yang mengejek. Ketika itu aku pandang dia sebagai tuan penolong. Melihat sinar matanya, yang tajam dan bengis, dia rupanya sangat benci aku, akan tetapi aku mau percaya itulah tabeatnya yang kukoay, maka aku tidak memperdulikannya lebih jauh. Setelah itu aku lanjuti perjalanan pulang. Semua kuli, yang aku suruh gotong peti bilang, peti itu berat sekali. Aku duga, tentunya Liok-siokhu peroleh untung besar, bahwa peti itu terisi emas dan perak dan mustika lainnya. Aku pun percaya, setelah dengan susah payah aku bawa pulang itu, semua paman dan mamak akan hadiahkan aku sedikitnya satu bagian dari harta itu. Maka juga, aku sangat bergembira. Ketika akhirnya aku sampai di rumah, yah, mamak dan paman, semua puji aku, mereka katakan, baru pertama kali aku pergi bekerja, aku telah peroleh hasil yang tidak dapat dicela..."
"Memang tidak dapat dicela!" Ceng Ceng menyelak dengan ejekannya. "Sudah kau bunuh satu nona remaja, kau juga pulang dengan gondola sebuah peti besar!"
"Ceng Ceng, diam!" Oen Gie melarang. "Kau dengarkan cerita pehhu."
Oen Lam Yang tidak ladeni keponakannya itu.
"Malam itu kami berkumpul," demikian lanjutan penuturannya. "Lilin dinyalakan terangterang di seluruh thia. Empat bujang gotong peti besar. Ayah beserta keempat mamak duduk di tengah ruangan. Aku sendiri adalah yang loloskan semua dadung, kemudian aku cabut setiap pakunya.
Aku masih ingat benar ketika toapehhu sambil tertawa berkata: "Entah lauwliok kepincuk oleh si cantik siapa, ia sampai lupa daratan dan tak mau pulang, dia cuma suruh ini bocah bawa pulang petinya ini! Mari! Mari kita lihat mustika apa yang dia antar pulang!" Aku lantas buka tutup peti, di atas mana ada sepotong sampul surat yang ada tulisannya, yang berbunyi: 'Lima saudara Oen harus buka bersama' Itulah huruf-huruf yang indah, yang bukan buah-kalam liok-siokhu. Aku serahkan surat itu pada toa pehhu.
"Toa pehhu sambuti surat tetapi ia tidak lantas buka untuk dibaca. "Coba lihat dulu, apa isinya bungkusan!" kata dia. Peti besar itu memang berisikan sebuah bungkusan besar sekali, yang atasnya diampar kertas. Bungkusan itu dijahit rapat.
"Liok-teehu, coba ambil gunting, guntingi benang itu," toa pehhu kata pada encim yang keenam. "Aku heran, liok-tee boleh menjadi begini teliti..."
"Encim lantas ambil gunting, akan putuskan semua benang, sesudah mana, ia buka bungkusan itu. Dengan tiba-tiba dari dalam bungkusan menyambar tujuh atau delapan batang anak panah beracun..."
Ceng Ceng menjerit sendiri saking kaget.
"Itulah kepandaian yang umum dari Kim Coa Long-kun," kata Sin Cie dalam hatinya. Ia tidak jadi heran dan kagum seperti si nona.
"Mengingat kejadian itu, aku bersukur kepada Thian," Oen Lam Yang kata dengan pujiannya. "Coba aku keburu napsu, aku yang buka bungkusan itu, mana jiwaku masih dapat hidup sampai sekarang ini? Semua gandewa itu mengenai dengan telak kepada tubuh encim keenam. Semua ada gandewa beracun yang liehay sekali, yang mengenai darah lantas menutup tenggorokan. Hampir tidak berseru lagi, encim keenam rubuh, anggauta tubuhnya semua berubah menjadi hitam. Dan ia mati tak berampun lagi!..."
Berkata demikian, Lam Yang menoleh pada Ceng Ceng.
"Itulah perbuatan bagus dari ayahmu!" kata dia dengan ejekannya. "Karena kejadian itu, seluruh thia menjadi gempar. Ngo-siok lantas menyangka jelek padaku, dia suruh aku yang buka bungkusan besar itu. Dengan terpaksa, aku menurut. Aku berdiri jauh-jauh, aku buka bungkusan dengan pakai gala untuk menggaet dan menggower. Sukur tidak ada gandewa lainnya yang menyambar. Kau tahu, apa isinya bungkusan itu?" ia tanya si nona.
"Apakah itu?" Ceng Ceng balik tanya.
Oen Lam Yang kasi dengar suara nyaring ketika ia menjawab: "Itulah mayat encek keenam!"
Ceng Ceng kaget hingga parasnya menjadi pucat.
Oen Gie rangkul puterinya itu, untuk dipeluki, untuk tetapkan hatinya.
Untuk sesaat, keempat orang berdiam semua.
"Coba bilang, dia kejam atau tidak?" kemudian Oen Lam Yang mulai lagi, dengan pertanyaannya. "Sebenarnya sudah cukup dia bunuh liok-siokhu, maka apa perlunya dia bungkus mayatnya dan dikirim pulang secara demikian?"
"Kau tidak hendak sebutkan sebabnya kenapa dia berbuat demikian!" Oen Gie sahuti kakak itu.
"Hm, kau tentunya anggap harus demikian," Lam Yang balas.
Oen Gie memandang ke langit yang luas akan lihat bintang-bintang, agaknya ia tersemsem. Kemudian, sembari memandang puterinya, ia kata dengan pelahan: "Ketika itu, Ceng Ceng, aku berusia lebih tua satu tahun daripadamu sekarang ini. Akan tetapi aku masih bersifat seperti kanak-kanak, apa juga aku tak mengerti. Di rumah ini, semua mamak dan paman, tidak ada kejahatan yang mereka tidak lakukan. Aku tidak sukai mereka itu. Melihat mayat liok-siokhu, aku tidak berduka. Inilah aku bicara terus-terang. Aku melainkan heran, dia yang ilmu silatnya liehay, cara bagaimana dia kena dibinasakan! Aku umpatkan diri di belakang ibu, aku tidak berani mengucap apa-apa. Kemudian adalah toapehhu yang membuka surat, untuk dibacakan dengan nyaring. Dua-puluh tahun sudah lewat tetapi aku masih dapat bayangi kejadian malam itu, toapehhu gusar hingga mukanya pucat, hingga suaranya menggetar. Aku ingat, beginilah dia membaca: "Kepada yang terhormat, tujuh saudara Oen dari Cio Liang Pay! Aku kirimkan bersama ini satu mayat lengkap, harap kamu suka terima dengan gembira.
Orang ini sudah perkosa encie kandungku, habis itu dia bunuh encieku itu, kemudian lagi, dia juga binasakan ayah, ibu dan dua saudara tuaku, hingga semua lima anggauta dari keluargaku mati terbunuh di tangannya! Melainkan aku sebatang kara yang bisa kabur meloloskan diri dari ancaman malapetaka hebat itu, untuk terus berkelana. Baru sekarang aku pulang, untuk menuntut balas! Hutang darah itu mesti ditebus sepuluh lipat, dengan cara demikian barulah aku bisa puaskan hatiku. Aku mesti bisa bunuh lima-puluh jiwa anggauta keluargamu yang lelaki dan perkosa sepuluh anggauta perempuan! Jikalau jumlah ini tak dapat aku penuhkan, aku sumpah tak mau aku menjadi manusia! Hormatnya Kim Coa Long-kun Hee Soat Gie."
Habis membaca, Oen Gie menghela napas lega.
"Engko Lam Yang, benar atau tidak liok-siokhu, telah bunuh semua anggauta keluarganya?" dia tanya Lam Yang.
Orang yang ditanya manggut.
"Kami ada bangsa laki-laki, kami sudah masuk Jalan Hitam," jawabnya dengan bangga, "maka untuk kami, merampas harta-benda, membunuh orang dan membakar rumah adalah pekerjaan biasa! Liok-siokhu lihat wanita cantik, dengan jalan perkosa dia masih tak dapatkan maksudnya, kalau karenanya dia cabut golok dan membunuhnya, itu mungkin terjadi."
Oen Gie menarik napas panjang.
"Kamu orang-orang lagi, di luaran kamu sudah lakukan kedosaan besar, kita orang-orang perempuan di dalam rumah, mana kita dapat tahu?...."
"Sesudah baca surat itu, toapehhu tertawa berkakakan," demikian Oen Lam Yang mulai pula dengan ceritanya. "Dia kata: "Dia hendak datang kemari, itulah bagus! Kalau tidak, kita mesti pergi cari dia! Kalau dia umpatkan diri, ke mana kita mencarinya?"
"Walaupun toapehhu bilang demikian, ia tapinya berlaku teliti. Sejak malam itu, penjagaan diperkeras. Malah dua orang segera diutus ke Kim-hoa dan Giam-Ciu untuk panggil pulang cit-siokhu dan pat-siokhu."
Sin Cie heran.
"He, kenapa mereka bersaudara sedemikian banyak?" pikirnya.
"Ibu," Ceng Ceng juga tanya," kiranya kami masih punyakan Cit-yaya dan Pat-yaya? Kenapa aku tidak tahu?..."
"Mereka adalah saudara cintong dari yayamu," terangkan Oen Gie. "Memang, mereka itu tidak tinggal di sini."
"Cit-siokhu tinggal di Kim-hoa, pat-siokhu di Giam-Ciu," kata Lam Yang. "Mereka ada keluarga kita tetapi orang luar jarang yang ketahui. Akan tetapi Kim Coa Long-kun benar liehay. Begitu lekas cit-siokhu dan pat-siokhu berangkat menuju kemari, di tengah jalan mereka dipegat dan dibinasakan oleh dia. Dia sungguh seperti malaikat muncul dan hantu selam, entah kapan terjadinya, pada suatu malam dia telah masuk ke dalam rumah kita, dia telah curi lima-puluh batang ciam yang kita biasa pakai di waktu pungut panen. Setiap kali dia bunuh satu orang kita, di tubuh korbannya itu dia tancap sebatang ciam. Rupanya dia hendak wujudkan sumpahnya, sebelum dia binasakan lima-puluh orang kita, dia tidak mau berhenti...."
"Di rumah kita ini sama sekali ada seratus orang lebih, cara bagaimana tak mampu kita melawan dia?" tanya Ceng Ceng. "Dia berjumlah berapa banyak orang?"
"Dia bersendirian saja," sahut Oen Lam Yang. "Kan-cat itu belum pernah berani perlihatkan diri, kita juga tidak tahu di mana dia sembunyikan diri. Terang dia menantikan, asal ada orang kita yang mencil sendirian, lantas dia bunuh mati. Ayah jadi gusar berbareng sibuk, sampai ayah undang belasan orang Kang-ouw datang ke Cio-liang ini, untuk setiap hari atau malam berpesta besar di sini, guna tunggui kan-cat itu. Di luaran juga kita sudah tempelkan surat-surat pengumuman, akan tantang dia secara berterang, untuk satu pertempuran yang memutuskan. Akan tetapi tak mau dia terima tantangan kita itu. Melihat kita berjumlah banyak, dia tidak pernah datang-datang pula. Maka itu, selang setengah tahun, sahabat-sahabat Kang-ouw itu pada pamitan pulang satu demi satu. Tapi, begitu lekas rumah kita sepi, engkoh yang ketiga dari kamar kedua dan adik lelaki kesembilan dari kamar kelima telah kedapatan mati tenggelam di dalam empang, pada tubuh mereka tertancap masing-masing sebatang ciam. Nyata sekali, kan-cat itu pandai sekali mengatasi diri, ia bisa menanti dengan sabar sampai berbulan-bulan, akan datang pula di saat pilihannya. Sejak itu beruntun selama sepuluh hari, setiap harinya ada saja orang kita yang binasa sebagai korbannya, sampai di Cio-liang ini, tukang-tukang peti-mati kehabisan peti untuk merawat korban-korban itu, hingga kita mesti pergi beli peti di kota Kie-Ciu. Tentu saja, terhadap orang luar, kita siarkan berita bahwa kita terganggu iblis jahat dan penyakit hebat. Adik Gie, kau tentunya masih ingat baik-baik itu hari-hari yang menggiriskan?"
"Ketika itu, seluruh desa pun gempar saking ketal," Oen Gie jawab. "Rumah kita telah dijaga dan dirondai setiap siang dan malam, malah ayah bersama semua yaya meronda juga dengan bergiliran, sedang semua orang perempuan dan anak-anak pada sembunyikan diri di dalam rumah, tidak ada yang berani keluar dari pintu hek sekalipun satu tindak."
"Walaupun demikian," menyambung Lam Yang dengan gigi bercatrukan, “kedua enso dari kamar keempat, pada suatu malam lenyap dua-duanya, diculik di luar tahu kita. Kita sudah menduga, mereka itu tentu bakal terbinasa di tangan si kan-cat, siapa tahu selang satu bulan lebih, kedua enso itu telah berkirim surat dari Yang-Ciu dalam mana mereka memberitahu bahwa oleh si kan-cat mereka sudah dijual di rumah hina di mana mereka dipaksa mesti melayani tetamu-tetamu lelaki selama satu bulan. Su-yaya menjadi demikian mendongkol, sehingga ia rubuh pingsan. Tidak bisa lain, terpaksa kita kirim orang dan uang ke Yang-Ciu untuk tebus kedua enso itu..."
Sin Cie bergidik sendirinya.
"Hebat pembalasannya Kim Coa Long-kun," pikir ia. "Memang ia harus balaskan sakit hati ayah, ibu, encie dan kedua engkohnya, akan tetapi setelah musuh besarnya sudah terbinasa, sikap selanjutnya ini rada keterlaluan..."
Pemuda ini goyang-goyang kepala.
"Yang paling hebat," menyambung pula Oen Lam Yang, "setiap perayaan Toan-ngo, Tiong Ciu dan penutup tahun, dia tentu-tentu kirimkan kami sepucuk surat berikut sepotong surat perhitungan dalam mana dia peringati bahwa kami masih berhutang beberapa jiwa lelaki dan beberapa orang perempuan. Cio Liang Pay telah malang-melintang di Kanglam beberapa puluh tahun lamanya, sekarang mereka dipermainkan secara begini rupa oleh dia satu orang, bagaimana kami tidak berduka dan lelah? Mau kita menuntut balas, akan tetapi musuh sangat licin dan gagah. Ayah dan beberapa paman pernah tempur dia secara perseorangan, semuanya bukan tandingan dia itu. Maka juga pihak kami jadi putus asa, kita cuma bisa ambil putusan akan bela diri secara beramai-ramai. Asal kita menjaga dengan keras, dia tidak pernah muncul, sampai bulanan pun tidak. Kalau kita alpa, lantas dia muncul dan bekerja. Demikian selama dua tahun, besar dan kecil, sama sekali dia telah binasakan tigapuluh delapan jiwa. Ceng Ceng, hayo bilang, pantas atau tidak kita benci dia?"
"Kemudian bagaimana?" tanya si nona, yang tidak jawab pertanyaan mamak itu.
"Baik ibumu saja yang melanjuti," sahut sang mamak dengan lesu.
Sampai di situ, Oen Gie awasi Sin Cie, wajahnya berduka.
"Wan Siangkong," katanya dengan pelahan, "kau telah rawat jenasah dia, maka sekarang, apa jua boleh aku tak usah sembunyikan kepadamu. Hanya aku minta sebentar, tolong kau tuturkan aku perihal meninggalnya dia itu, supaya kita ibu dan anak mendapat tahu, dengan begitu...."
Nyonya ini tidak bisa bicara terus, ia menangis sesenggukan, sehingga ia mesti menunda beberapa detik untuk legakan hati.
"Ketika itu aku tidak tahu kenapa dia demikian kejam, malah aku tidak ingin mengetahuinya," kemudian nyonya Hee ini mulai dengan keterangannya. "Ayah larang aku keluar dari pekarangan rumah walaupun setindak juga, aku jadi sangat masgul. Maka itu setiap hari aku cuma bisa memain di dalam taman. Malah ayah bilang, tanpa ada beberapa engko yang temani, siang pun orang perempuan dilarang berkeliaran di dalam pekarangan."
"Dalam bulan ketiga, selagi bunga-bunga mekar indah dan harum baunya, ingin aku pergi ke bukit untuk tengok pohon-pohon bungaku, apa mau disebabkan sepak terjangnya Kim Coa Long-kun itu, tak dapat aku puasi hatiku, aku mesti dikeram di dalam rumah. Pernah aku memikir untuk membolos sendirian akan tetapi aku tidak berani karena bengisnya ayah."
"Pada suatu hari aku pergi memain di dalam taman, bersama encie ketiga dari kamar kedua serta enso dari kamar kelima. Bersama kita ada engko Lam Yang serta kau punya engko Liam Cu. Jadi kita ada berlima. Dengan gembira kita main ayunan, yang diayun makin lama makin tinggi, hingga kita bisa melihat keluar tembok pekarangan di mana tertampak pohon-pohon yang-liu yang hijau-segar serta bunga-bunga toh yang gompiok-indah."
"Di saat kita sedang bergembira, sekonyong-konyong engko Liam Cu menjerit sekali, Begitu lekas kita memeriksa, nyata dadanya engko Liam Cu itu telah tertikam sebatang bor Kim-coa-cui, hingga ia habis nyawanya seketika juga. Engko Lam Yang! Aku ingat betul, kau sudah lantas lari masuk ke dalam rumah, kau tinggalkan kita bertiga berada di dalam taman!"
Mukanya Lam Yang menjadi merah.
"Seorang diri aku tidak dapat lawan dia, apa itu bukan berarti aku akan antari jiwa secara kecewa?" katanya, untuk bela diri: "Aku lari ke dalam untuk minta bantuan..."
Oen Gie tidak gubris bantahan saudara itu, ia lanjuti ceritanya: "Selagi aku bingung karena belum tahu duduknya perkara, tiba-tiba seorang berkelebat di atas tembok, dia lompat turun ke bawah, tepat kepadaku, yang masih berdiri di atas ayunan. Dengan sekuat tenaga, ia ayun ayunan itu, lalu ia peluk pinggangku. Aku rasakan seperti aku terbang melayang di tengah udara, aku percaya kita berdua bakal jatuh mati. Kakiku tidak injak lagi papan ayunan."

"Orang itu cekal aku dengan tangan kiri, ketika ia turun di luar tembok, tangan kanannya sambar secabang pohon yang-liu, habis mana, dengan turuti cabang yang meroyot turun, ia turun ke tanah, dengan begitu, aku terhindar dari bahaya. Dalam bingung, aku pukuli dia pada mukanya. Ketika ia tekan pundakku, lantas seluruh tubuhku jadi lemas, akan kemudian lenyaplah tenagaku. Tapi aku dengar suara berisik di belakangku. Itulah orang-orang yang susul aku.
"Tidak antara lama, siraplah suaranya sekalian pengejar itu. Terang mereka telah ketinggalan jauh. Masih aku dibawa lari terus, sampai akhirnya kita berhenti di sebuah gua di lamping jurang yang nampaknya seperti jurang tergantung. Sampai di situ, dia totok pula padaku, hingga aku jadi dapat pulang tenagaku. Ia awasi aku sambil bersenyum menyengir."
"Tiba-tiba aku ingat kedua enso yang bernasib malang. Maka aku pikir, daripada terhina, lebih baik aku binasa. Begitulah aku loncat, akan benturkan kepalaku ke batu gunung. Dia lihat sikapku itu, dia kaget, dia lantas jambret bebokongku. Cegahan ini membikin gagal kenekatanku itu. Tapi aku telah kena bentur juga batu, tidak keras, karena mana, aku jadi dapat ini tanda...."
Oen Gie tunjuki jidatnya, di bagian ujung, yang ketutupan rambut, di mana ada satu cacat, melihat mana, waktu itu lukanya itu tentu bukan enteng. Ia menghela napas.
"Coba itu waktu dia tidak jambret aku, coba dia antap aku benturkan diri, hingga aku terbinasa, urusan tidak bakal jadi berlarut-larut. Untuk dia sendiri, mungkin itu ada banyak baiknya. Tapi karena dia berhasil mencegah aku, dia justru jadi terancam. Karena lukaku itu, aku pingsan, ketika kemudian aku sadar, aku dapati aku sedang rebah di atas sepotong permadani di dalam gua itu. Aku kaget hingga hampir aku pingsan pula, baru hatiku lega apabila aku dapati kenyataan, pakaiannya rapi seperti tadinya. Mungkin karena melihat aku nekat, jangkitlah yang jernih, dia tidak ganggu aku," kata nyonya ini.
(Bersambung bab ke 8)
Bab 8
"Rupa-rupanya dia kuatir aku nanti berlaku nekat pula, selama dua hari terus-terusan dia jaga aku," Oen Gie bercerita lebih jauh. "Dia matangi sendiri bahan makanan, untuk aku dahar. Aku melainkan menangis, tidak sudi aku layani dia. Hari ketiga lewat, datang hari keempat. Dalam empat hari saja, aku telah jadi kurus bukan main. Ia masaki aku daging kuah, dengan sabar ia bujuki aku untuk dahar daging kuah itu. Tetap aku tidak perdulikan padanya. Tiba-tiba dia jambak aku, untuk bikin kepalaku melenggak, hidungku terus ditutup, sesudah mana, selagi mulutku terpentang, dia paksa cekoki kuah daging itu. Secara demikian, mau atau tidak, aku kena tenggak separuh dari isinya mangkok. Baru setelah itu, ia tidak jambak pula padaku. Dengan sengaja aku sembur mukanya, aku ingin bikin dia gusar, supaya dia bunuh aku, sebab tak ingin aku nanti diperkosa dia, tak sudi aku diperlakukan sebagai kedua enso, yang dijual pada rumah hina. Sedikitpun ia tidak gusar, ia tertawa saja. Dengan sabar ia susuti mukanya, ia awasi aku dengan diam saja, baru kemudian dia menghela napas."
"Malam itu dia rebahkan diri di mulut gua.
"Aku hendak nyanyikan satu lagu, apa kau suka dengar?" dia kata padaku.
"Aku tidak suka dengar," aku jawab dia.
Dengan tiba-tiba dia kegirangan hingga dia lompat berjingkrakan.
"Aku sangka kau gagu, kiranya kau bisa bicara!" katanya gembira.
"Di luar keinginannku, aku tertawa. Aku anggap lucu yang dia sangka aku tidak bisa bicara. Kemudian secara mendamprat, aku kata padanya: "Siapa yang gagu? Bertemu sama orang jahat, aku memang tidak sudi bicara!"
"Dia tidak layani aku bicara, sebaliknya dengan suara muluk, dia nyanyikan satu lagu pegunungan. Dia nyanyi terus, sampai lanjut malam, hingga sang rembulan muncul dengan keindahannya. Masih saja dia bernyanyi. Seumurku, aku hidup terkurung di dalam rumah, mana pernah aku dengar nyanyian semacam itu? Itulah nyanyian percintaan di antara orang-orang lelaki dan perempuan...."
"Kau tidak sudi dengarkan tapi toh kau dengari, bukan?" mendadakan Oen Lam Yang campur bicara. "Siapa mempunyai kesabaran akan dengarkan cerita burukmu ini?"
Lantas dia bertindak keluar paseban, tindakannya lebar.
"Tentu dia pergi untuk mengadu pada yaya semua," kata Ceng Ceng.
"Biar saja, aku tidak takut!" sahut Oen Gie.
"Kalau begitu, Ibu, hayo lanjuti ceritamu," sang puteri minta.
"Kemudian lagi, dengan lapat-lapat aku ketiduran sendiri," Oen Gie melanjuti. "Besoknya pagi aku mendusin, aku tidak lihat dia. Aku lantas memikir untuk minggat. Tapi setelah aku melongok ke mulut gua, aku putus asa. Gua itu berada di puncak bukit, di sebuah lamping, di empat penjurunya, tidak ada jalanan untuk turun. Cuma orang-orang sebagai dia, yang sempurna ilmu silatnya dan bisa ilmu mengentengkan tubuh, bisa naik dan turun dengan merdeka.
"Kira-kira tengah-hari, dia pulang. Dia bawakan aku banyak barang perhiasan, yancie dan pupur. Aku tidak inginkan itu, aku jumput, aku lemparkan ke dalam jurang. Dia tidak gusar, malah dia gembira sekali."
"Kapan sang malam sampai, kembali dia bernyanyi untukku."
"Di lain harinya, dia pergi untuk kembali dengan bawakan aku banyak barang mainan, antaranya anak ayam yang berciap-ciap dan anak kucing yang mengeong-ngeong, juga anak burung dan anak kura-kura yang merayap pergi-datang. Tentu saja tak tega aku akan lemparkan semua binatang itu ke dalam jurang. Dia rupanya ketahui perasaanku itu. Maka hari itu, terus seantero hari, dia temani aku memain dengan keempat binatang itu, yang kita pun kasih makan. Malamnya, kembali dia nyanyi untuk aku dengari."
Melihat yang dia tidak niat ganggu aku, aku menjadi sedikit lega, hingga aku jadi suka juga dahar. Hanya sampai lebih dari satu bulan, tetap aku tidak suka bicara dengannya. Meskipun demikian rupa sikapku terhadapnya, tidak pernah dia hunjuk kegusarannya, terus-menerus dia bersikap lemah-lembut terhadapku. Sekalipun ayah dan ibuku belum pernah berlaku baik sebagai dia terhadap aku."
"Adalah pada suatu hari ketika dengan sekonyong-konyong datang perubahan atas dirinya. Dengan tiba-tiba saja dia awasi aku dengan rupa bengis dan sikap mengancam, hingga aku jadi ketakutan, hingga aku menangis."
"Dia awasi aku sekian lama, lantas ia menghela napas sendirinya. "Sudah, jangan nangis," dia bujuk aku akhirnya.
"Pada malam itu aku pergoki dia menangis seorang diri, suaranya pelahan sekali, akan tetapi aku tahu, dia menangis dengan sangat sedih. Dia menangis di luar gua. Apa mau, malam itu turun hujan.
Dia tidak mau masuk kendati juga hujan turun dengan lebat. Aku jadi tidak tega.
"Mari masuk," aku kata padanya.
Dia tidak perdulikan ajakanku itu.
"Kenapa kau menangis?" aku tanya pula.
"Secara mendadak saja dia menyahuti, dengan bengis: "Besok adalah hari ulang setahun dari matinya ayah, ibu, encie dan kedua kandaku! Dalam itu satu hari saja, seluruh keluargaku musnah terbinasa dalam tangannya seorang dari keluargamu! Maka besok aku mesti bunuh lagi orang keluargamu, sedikitnya mesti satu jiwa! Sekarang ini rumahmu dijaga sangat keras dan kuat! Keluargamu sudah minta bantuannya Lie Cwee Toojin dari Ngo Bie Pay dan Ceng Beng Siansu dari Siauw Lim Pay! Tapi aku tidak takut!"
"Habis mengucap demikian, dia lantas pergi. Dia pergi sampai magrib di hari yang kedua, masih dia belum kembali. Tanpa merasa aku jadi senantiasa ingat dia. Diam-diam aku mengharap-harap pulangnya dia."
Diam-diam Ceng Ceng lirik Sin Cie, akan lihat orang memandang hina atau tidak kepada ibunya itu, akan tetapi ia dapati pemuda itu duduk dengan tetap tenang dan perhatiannya sangat tertarik. Menampak demikian, diam-diam ia merasa girang.
Oen Gie melanjuti:
"Selagi cuaca mulai menjadi gelap, dia masih belum kembali juga. Dua-tiga kali aku telah melongok ke mulut gua. Ketika untuk keempat kalinya aku melongok pula, aku tampak tubuh empat orang di atas puncak, kelihatannya bagaikan bayangan saja. Mereka itu sedang saling kejar."
"Aku coba mengawasi dengan teliti, maka akhirnya, dengan samar-samar, bisa juga aku mengenalinya. Orang yang terdepan adalah dia, lalu satu imam, disusul sama satu pendeta yang menyekal sebatang sian-thung, tongkat yang panjang sebagai toya. Orang yang keempat ada ayah dengan senjatanya yang istimewa, tongkat berkepala naganagaan. Dia sendiri cekal pedang Kim Coa Kiam. Sendirian saja dia layani tiga lawan, nampaknya dia terancam bahaya. Sebab sesampainya di puncak itu, mereka lantas bertempur."
"Sekarang aku dapat melihat terlebih tegas. Pendeta yang bersenjatakan tongkat itu liehay sekali, ia dapat mendesak, akan akhirnya mengemplang dengan tongkatnya itu. Aku kaget hingga aku menjerit, sebab aku lihat dia telah sangat terdesak, aku kuatir dia tak dapat menghalau bahaya. Tapi dengan pedangnya, dia bisa menangkis, malah tangkisan itu membuat sapat ujungnya tongkat."
"Ayah dapat dengar jeritanku, ia menoleh ke arah aku, lantas ia tidak berkelahi lebih lama, ia berlari-lari menuju aku."
"Menampak sikap ayah, dia jadi sibuk sekali. Dia desak kedua lawannya, itu imam dan pendeta, lantas dia tinggalkan, untuk dia susul ayah. Karena ini, dia pun dikejar kedua orang beribadat itu."
"Tidak lama sampailah mereka di lembah di mana dia telah dapat mencandak ayah, untuk cegah ayah mendekati aku, dia serang ayah, hingga kembali mereka berdua jadi bertempur. Baru beberapa jurus, si imam dan si pendeta pun sudah datang, dia orang lalu mengepung pula padanya."
"Ayah lantas gunai ketika untuk menyingkir dari pertempuran itu, untuk ia berlari-lari pula ke arah aku. Selama itu, mereka telah mendatangi aku semakin dekat. Aku girang sekali.
"Ayah, lekas!" aku teriaki ayahku.
"Sebagai orang kalap, dia desak kedua lawannya, lalu dia lari akan susul ayah. Dia berhasil, dia serang ayah dengan hebat, hingga ayah terdesak mundur. Sebentar saja, ayah jadi terancam bahaya.
"Selagi aku berpikir untuk lari kepada ayah, untuk tolongi dia, si imam dan si pendeta sudah menyusul pula, maka kembali mereka bertempur pula."
"Eh, Gie, bagaimana dengan kau?" ayah teriaki aku.
"Aku tidak kurang suatu apa, Ayah, jangan kuatir," aku jawab.
"Baik!" ayah bilang. "Nanti aku bereskan dahulu ini kan-cat!"
Bertiga mereka kepung pula dia.
"Kim Coa Long Kun," terdengar suaranya si imam dari Ngo Bie Pay," aku hendak bicara denganmu supaya kau mengerti. Kami dari Ngo Bie Pay tidak bermusuh denganmu, kita tidak punya sangkutan apa juga, tapi sekarang aku telah campur tahu urusanmu, ini melulu disebabkan perbuatanmu keterlaluan. Aku janji akan tidak bantu siapa juga asal kau suka hentikan permusuhan, supaya selanjutnya kau tidak satroni pula keluarga Oen. Aku ingin supaya urusan diselesaikan mulai hari ini."
"Sambil kertak gigi, aku dengar dia menjawab:
"Habis, apa aku tidak boleh balas sakit hatinya ayah dan ibuku, encie dan kandakandaku?" demikian tanyanya.
"Kau sudah binasakan banyak jiwa, aku anggap pantaslah kau merasa puas," kata si imam. "Aku minta, dengan memandang mukaku, sukalah kamu kedua pihak habiskan persengketaan ini."
"Tapi dia tidak menjawab, malah dengan tiba-tiba dia serang si pendeta. Karena ini, lagilagi mereka jadi bertempur."
"Senjatanya si imam ada liehay, imamnya sendiri berilmu silat tinggi. Di samping dia, tongkatnya si pendeta perdengarkan suara angin menderu-deru. Tongkat itu masih bisa digunai dengan sempurna walaupun ujungnya sudah terkutung."
"Aku lihat dia terancam. Dia mandi keringat. Dia terdesak. Tiba-tiba aku tampak dia sempoyongan, hampir-hampir dia rubuh terguling. Justru itu, tongkatnya si pendeta menyambar. Masih dia bisa luputkan diri dari bahaya dengan berkelit miring."
"Justru karena dia berkelit, dia dapat lihat mukaku. Menurut keterangannya belakangan, hari itu dia sudah sangat letih, urat-uratnya lemas semua. Akan tetapi kapan dia dapat lihat aku, dan dia dapat perasaan aku sangat memperhatikan padanya, tiba-tiba bangkitlah semangatnya, tenaganya jadi kumpul pula. Maka ketika dia bikin perlawanan lebih jauh, Kim-coa-kiam jadi sangat berbahaya."
"Nona Oen, jangan takut!" dia serukan aku. "Kau lihat!"
"Entah bagaimana dia telah gunai senjatanya, mendadak terdengar si pendeta keluarkan jeritan yang menyeramkan, tubuhnya rubuh, lalu bergelundungan ke bawah. Kemudian ternyata, batok kepalanya yang gundul telah tertancap bor Kim-coa-cui."
"Ayah dan si imam jadi kaget."
"Segera datang saatnya dia serang ayah. Gunai ketika yang baik, si imam membokong dari belakang. Tapi dia tidak kena ditikam bebokongnya. Dalam ancaman bahaya itu, ia mendahulukan memutar tubuh, sambil berkelit, tangan kirinya diulur, dua jarinya menusuk kedua matanya si penyerang. Sambil berbuat demikian, dia berseru keras."
"Imam itu terkejut, lekas-lekas ia tunduk, untuk selamatkan diri dari totokan itu ke arah mata. Selagi ia tunduk, lengan kanannya telah menyambar. Itulah lengan yang menyekal pedang. Tidak ampun lagi, tubuh si imam terbabat pedang, sehingga dengan satu jeritan mengerikan, dia rubuh binasa."
Ceng Ceng berseru mendengar cerita ibunya itu. Ia kagum.
"Habis itu, dia kembali serang ayah."
"Ketika itu muka ayah telah jadi pucat hingga seperti tak ada darahnya, terang ia kaget dan jeri karena dapatkan dua kawannya yang liehay telah dibinasakan dengan cepat. Ayah menangkis secara sembarangan. Tidak lagi ayah bisa mainkan tongkatnya dengan sempurna.
"Aku lantas lari keluar gua."
"Tahan! Tahan!" aku berseru berulang-ulang.
"Mendengar teriakan aku, dia berhenti menyerang."
"Inilah ayahku," aku perkenalkan dia kepada ayah.
Dia pandang ayah dengan mata bengis. "Kau pergi, aku kasi ampun padamu!" ia kata pada ayah.
"Ayah tercengang, lalu ia putar tubuhnya, untuk pergi."
"Itu hari, seantero hari aku belum dahar, tubuhku lemas, ditambah dengan kaget karena menyaksikan pertempuran hebat itu, dan berbareng aku girang sekali karena ayah dikasih ampun, mendadak aku rubuh sendiri."
"Dia lihat aku rubuh, segera ia lompat untuk kasih bangun padaku. Aku tidak pingsan, selagi ia membungkuk, aku lihat ayah mengawasi dengan mata bersinar bengis. Tiba-tiba ayah ayun tongkatnya dipakai mengemplang bebokongnya. Tentu sekali dia tidak menyangka, karena perhatiannya ada padaku, yang dia hendak tolongi. Aku kaget, aku berseru:" Awas!"
"Dia pun kaget, segera dia putar tubuh. Akan tetapi tongkat sudah sampai, bebokongnya kena terhajar. Syukur untuk dia, dia telah berkelit, serangan itu tidak parah. Sambil putar tubuh, tangannya menyambar menyekal tongkat, yang dia dapat rampas, setelah mana, tongkat itu dilempar ke lembah. Dia tidak berhenti sampai di situ, sambil merangsak, dia serang ayah, dengan kedua tangannya."
"Ayah gugup. Rupanya ia menyesal karena serangannya gagal dan ia kaget tongkatnya kena dirampas. Ketika serangan datang, ia putus asa, bukannya ia berkelit atau menangkis, ia justru berdiam seraya tutup kedua matanya.
"Dengan mendadak saja, dia tarik pulang serangannya. Dia menoleh kepadaku, lantas dia menghela napas. Kemudian dia pandang ayah dan kata: "Lekas kau pergi, jangan tunggu sampai pikiranku berubah, nanti kau tak dapat ampun lagi!"
"Sampai di situ, tanpa bilang apa juga, ayah putar tubuhnya, akan angkat kaki sambil berlari-lari."
"Dia awasi ayah pergi, lantas dia menoleh kepadaku. Tiba-tiba ia muntahkan darah, darahnya menyemprot ke bajuku..."
Ceng Ceng terkejut, hingga ia keluarkan seruan tertahan. Kemudian: "Sam-yaya tak tahu malu!" katanya. "Depan berdepan dia tidak berani lawan musuh, dia membokong dengan tangannya yang jahat!"
Oen Gie menghela napas.
"Sebenarnya dia adalah musuh kita," katanya, melanjuti. "Dia pun telah binasakan beberapa puluh orang dari keluarga kita. Akan tetapi melihat dia dibokong, tak dapat aku diam saja, makanya aku sudah berseru. Mungkin ini yang dinamakan takdir celaka. Habis itu dengan sempoyongan, dia bertindak ke dalam gua, lantas dia ambil obatnya untuk terus dimakan. Masih beberapa kali ia muntahkan darah. Aku kaget dan berkuatir, sehingga aku menangis sendiri."
"Dia terluka akan tetapi dia gembira."
"Kenapa kau menangis?" dia tanya aku.
"Sebab kau terluka parah," jawabku.
Dia tertawa.
"Jadi kau menangis untukku?" tanyanya pula.
"Aku berdiam aku tidak menjawab. Tetap aku berduka."
"Sebentar kemudian, dia kata padaku: "Sejak semua anggauta keluargaku dibunuh oleh pamanmu yang keenam, sejak itu sudah tidak ada lagi orang yang menaruh perhatian atas diriku, yang menyayangi aku. Hari ini aku telah bunuh lagi satu kandamu cintong, maka itu sama sekali sudah berjumlah empat-puluh orang yang aku binasakan. Sebenarnya masih ada sepuluh orang lagi, yang mesti jadi korban pembalasanku, akan tetapi sekarang, memandang kepada airmatamu, aku janji aku akan hentikan pembunuhan terlebih jauh. Nyata masih ada kau seorang yang memperhatikan aku."
"Aku menangis saja, aku tidak jawab dia."
"Juga orang-orang perempuan keluargamu, sejak hari ini aku tidak akan ganggu pula," demikian dia kata lagi. "Kau tunggu sampai lukaku ini sudah sembuh, aku nanti antar kau pulang..."
"Masih aku berdiam, tak tahu aku apa perasaanku saat itu. Aku cuma merasa lega yang dia telah berjanji untuk hentikan pembunuhan-pembunuhan terlebih jauh."
"Sejak itu selanjutnya, beberapa hari, akulah yang masak nasi dan masak air, dengan sungguh-sungguh aku rawati dia," Oen Gie cerita lebih jauh. "Pada suatu hari, dia pingsan, terus selama satu hari, dia tak sadar akan dirinya. Aku jadi berkuatir, aku kuatir dia bakal tak ketolongan. Aku lantas menangis, menangis saja, sampai kedua mataku pada merah dan bengul. Selagi aku menangis, sekonyong-konyong dia buka matanya, dia tertawa."
"Tidak apa, tak nanti aku mati," katanya.
"Selang lagi dua hari, benar-benar kesehatannya mulai pulih. Dia bisa bangun dan jalanjalan. Itu malam dia beritahukan aku, sebetulnya luka bekas bokongan ayah ada hebat sekali, akan tetapi ia tertolong obat dan kuat hatinya. Dia bilang, asal dia mati, aku pun bakal mati kelaparan. Seorang diri, pasti aku tidak bisa berlalu dari gua itu, di lain pihak, tidak ada orang dari rumahku yang berani datang menyatroni, kalau tidak, selama itu tentulah sudah ada datang orang, entah siapa. Aku anggap dia omong dari hal yang benar."
"Ibu," Ceng Ceng kata, "dia berlaku baik sekali kepadamu, dia ada orang baik."
Setelah mengucap demikian, nona ini menoleh pada Sin Cie.
Anak muda ini merasakan mukanya panas, ia melengos ke lain arah.
"Dengan pelahan-lahan kesehatannya maju terus," Oen Gie mulai pula. "Selama itu, suka sekali dia bicara dengan aku tentang masanya kanak-kanak. Dia bilang bagaimana ayahnya, ibunya, sangat sayang dia, bagaimana kedua engkonya, encienya, sangat menyinta dia. Katanya pernah satu kali dia jatuh sakit sampai ibunya tidak tidur tiga hari tiga malam. Akan tetapi pada suatu malam, liok-siokhu telah bunuh ibunya itu, ayahnya, saudara-saudaranya!"
"Di luar aku lihat dia kejam dan telengas, akan tetapi bicara tentang kekeluargaannya, nyata ia ada berbatin baik, halus martabatnya. Begitulah ia perlihatkan aku sepotong oto merah yang tersulam indah. Dia kata, itulah oto sulaman ibunya sendiri ketika dia masuk umur satu tahun..."
Selagi mengucap demikian, Oen Gie rogo sakunya dari mana ia keluarkan oto yang ia omongi itu, yang ia letaki di atas meja.
Sin Cie lihat oto itu tersulam satu bayi montok tanpa pakaian, wajahnya manis dan sangat menyenangi. Sulamannya sendiri benar-benar indah. Tiba-tiba ia terharu sendirinya. Ia jadi ingat, sejak masih sangat kecil, ia sudah tidak punya ayah dan ibu....
"Sering-sering dia nyanyikan lagu pegunungan untuk aku dengari," kembali Oen Gie melanjuti. "Di waktu senggangnya, dia ambil kayu untuk dibikin menjadi barang-barang permainan untukku. Dia kata aku adalah satu bocah yang tak mengerti apa-apa..."
"Akhir-akhirnya dia sembuh seluruhnya. Akan tetapi, walaupun sudah sembuh, aku lihat dia tidak punya kegembiraan. Aku jadi heran. Pada suatu hari, aku tanyakan sebabnya. Jawabannya mengherankan aku. Dia bilang dia merasa tidak tega meninggalkan aku."
"Kalau begitu baiklah aku berdiam terus di sini menemani kau!" kataku tanpa berpikir lagi.
"Mendengar perkataanku itu, dia jadi girang bukan main. Dia pergi ke puncak, dia loncat naik turun di sebuah pohon kayu besar, dia berjingkrakan, dia jumpalitan bagaikan kera. Kemudian dia beritahukan aku, dia telah dapatkan selembar peta dari suatu tempat di mana ada disimpan banyak emas dan barang permata. Katanya ketika dulu Pangeran Yan Ong rampas tahta-kerajaan, dari Pakkhia ia menerjang ke Lamkhia, Baginda Kian Bun kabur dari kota raja, sebelum kabur, raja itu telah pendam harta besarnya di suatu tempat rahasia. Setelah naik tahta, Yan Ong coba cari harta itu di seluruh kota Lamkhia, tidak ada hasilnya. Kemudian Yan Ong utus Sam Po Thaykam beberapa kali berlayar mengarungi samudera, ke Selatan, katanya untuk membuat penyelidikan di mana Kaisar Kian Bun bersembunyi, tapi sebenarnya guna cari harta itu."
Diam-diam Sin Cie manggut-manggut sendirinya.
"Jadi itulah peta yang aku dapatkan dalam kitab Kim Coa Pit Kip," pikirnya. "Itu jadi ada peta yang melukiskan tempat rahasia itu..."
"Dia ceritakan padaku bahwa seumur hidupnya Kaisar Beng Seng Couw tetap tak dapat cari peta itu - adalah setelah berselang beberapa ratus tahun, secara kebetulan saja, dialah yang mendapatinya. Setelah sekarang dia sudah puas menuntut balas, dia hendak mulai cari harta karun itu. Dia janji, begitu lekas dia berhasil mendapati harta besar itu, dia bakal kembali untuk sambut aku. Maka itu, katanya, sekarang dia hendak antarkan aku pulang."
Nyonya ini berhenti sebnetar, ketika sesaat kemudian ia melanjuti, ia ada sengit sekali. Dia kata: "Ketika aku sampai di rumah, semua orang pandang hina kepadaku. Aku jadi mendongkol dan gusar sekali. Aku sebal terhadap mereka. Mereka tidak punya kemampuan untuk melindungi satu gadis keluarganya, setelah aku pulang dengan tubuh putih-bersih, mereka perhina aku. Maka itu selanjutnya aku tidak perdulikan mereka, tak suka aku bicara dengan mereka itu!"
"Ibu, kau berbuat benar!" kata Ceng Ceng.
"Setelah tiga bulan aku berada di rumah, selama mana aku harap-harap dia," bercerita pula Oen Gie. "Pada suatu malam aku dengar suara nyanyian lagu pegunungan di luar jendela kamarku. Aku kenali baik sekali suara nyanyian itu. Dia datang! Lekas-lekas aku buka jendela, aku kasih dia masuk. Pertemuan ini ada sangat menggirangkan aku, dan malam itu, kami berdua lantas hidup sebagai suami-isteri, hingga kemudian, anak, terlahirlah kau.... Perangkapan jodoh itu telah terjadi karena keinginanku sendiri, sampai sekarang aku tidak menyesal karenanya. Orang bilang dia perkosa aku, itulah tidak benar! Ceng Ceng, selama sekian lama itu ayahmu tetap perlakukan baik padaku, kami berdua sangat saling menyinta. Selama itu dia selalu hormati aku, belum pernah dia paksa aku."
Diam-diam Sin Cie puji keberaniannya nyonya ini. Ia pun terharu untuk dengar riwayat percintaan yang demikian sulit.
"Rupa-rupanya, dengan kedatangannya ini, Hee Loocianpwee telah dapatkan tempat rahasia dari harta besar itu," kata Sin Cie.
Nyonya itu manggut.
"Dia bilang dia masih belum dapat cari," sahutnya. "Akan tetapi dia kata dia sudah dapatkan endusan hingga dia merasa, segera dia akan dapat mencarinya. Maka itu kami telah berdamai untuk di hari kedua, pagi-pagi, pergi minggat. Di luar tahu kami, pembicaraan kami itu ada yang curi dengar. Besoknya fajar sebelum terang tanah, aku sudah lantas siapkan pakaianku. Aku pun telah tinggalkan sepotong surat untuk ayah. Di saat kami hendak berangkat, tiba-tiba ada orang ketok pintu kamarku. Pasti sekali aku kaget dan takut.
"Jangan kuatir," dia kata padaku, "biar dalam kepungan satu pasukan perang, kita kaan dapat noblos keluar!"
Lantas saja dia buka pintu.
"Yang ketok pintu itu ada ayah bersama toapeh dan jipeh bertiga. Mereka tidak bawa senjata, malah pakaiannya pun thungsha, baju panjang yang dilapis makwa, baju luar yang pendek. Kami heran memandang dandanan mereka itu.
"Urusan kamu berdua aku sudah tahu," berkata ayah. "Inilah takdir celaka yang telah ditetapkan sebelum kamu terlahir. Biarlah selanjutnya kita orang menjadi satu dengan lain, supaya tak usah lagi kita main angkat senjata."
"Dia menyangka ayah semua kuatir dia nanti melakukan pembunuhan pula, dia bilang: "Kau jangan takut, aku telah berjanji dengannya untuk tidak bunuh lagi anggota-anggota keluargamu!"
"Walaupun demikian, tak dapat kamu berlalu dengan diam-diam," ayah bilang. "Adalah pantas apabila kau melamar dengan terang dan menikah dengan upacara."
"Dia girang sekali mendengar kata-kata ayah. Tidak tahunya dia kena terjebak ayah."
"Jadi ayahmu dustakan dia, bukankah?" Sin Cie tanya.
Oen Gie manggut.
"Ayah lantas berikan dia tempat di kamar samping," nyonya ini melanjuti. "Segala apa segera diatur untuk perayaan pernikahan. Dia ada cerdik sekali. Semua arak, barang makanan dan air, yang ayah perintah suguhkan, lebih dahulu dia kasi anjing yang cobakan, tapi meski anjing makan itu tanpa akibat, dia masih tidak minum dan dahar itu, tidak dia cobai. Dia tunggu sampai malam, semua itu dia buang keluar. Untuk tangsel perutnya sendiri, dia pergi ke pasar Cio-liang di mana dia beli barang makanan dan dahar."
"Pada suatu malam ibu datang dengan semangkok bubur biji teratai. "Suguhkan ini pada baba mantu," ibu kata padaku."
"Aku benar-benar tidak menduga suatu apa, aku sangka ibu menyayangi dia, dengan gembira aku bawa bubur teratai itu ke dalam kamarnya. Dia pun girang sekali melihat aku datang dengan barang makanan, dia sambuti itu, tanpa curiga, dia makan bubur itu. Dia baru mengirup beberapa kali, selagi dia bicara denganku, mendadakan air mukanya berubah menjadi pucat. Segera ia berbangkit.
"Oh, A Gie, hatimu telengas!" dia tegur aku.
Aku kaget tidak terkira.


0 komentar:
Posting Komentar