Home » » PEDANG ULAR MAS 12

PEDANG ULAR MAS 12

Jilid 12

"Apa?" aku tanya.

"Kenapa kau racuni aku?" tanya dia.

Sin Cie dan Ceng Ceng bergidik sendirinya.

Sekejab saja, seluruh paseban dan sekitarnya jadi sangat sunyi. Akan tetapi sekejab saja juga, atau mendadak terdengarlah suara tertawa ramai dan menyeramkan yang datangnya dari luar paseban. Kapan Sin Cie menoleh, dia tampak lima bersaudara Oen sedang berdiri di luar paseban.

"A Gie, bagus!" Oen Beng San berseru. "Urusanmu yang busuk kau tuturkan kepada orang luar! Apakah kau masih punyakan muka?"

Mukanya nyonya yang bernasib buruk itu menjadi pucat dan merah bergantian. Ingin dia bicara tetapi tercegah sendirinya. Maka ia lantas menoleh kepada Sin Cie dan puterinya.

"Sudah sembilan belas tahun, belum pernah aku omong sepatah kata jua dengan ayah," berkata dia, "dan selanjutnya, aku pun tidak nanti bicara pula dengannya! Aku tidak takut terhadap mereka! Kau sendiri, kau takut atau tidak?"

"Engko Sin Cie tidak kenal takut!" Ceng Ceng jawab.

"Bagus! Kalau begitu, aku nanti bercerita terus!" kata nyonya yang tak beruntung ini, yang sekarang tiba-tiba nyalinya jadi besar, dia tak lemah lagi sebagaimana biasanya. Malah dia sengaja perbesar suaranya:

"Aku lantas saja menangis. Aku tidak tahu bagaimana harus bicara, aku tidak tahu juga mesti berbuat apa. Dengan sebenarnya aku tak tahu suatu apa tentang racun itu. Aku bersusah hati karena dia menyangka jelek terhadapku. Selagi begitu, pintu kamar ada yang tendang dan gembrak, lantas menyerbu masuk banyak orang dengan pelbagai alat­senjatanya."

"Orang-orang yang berbaris di muka pintu itu waktu adalah mereka ini semua!" melanjuti ia. "Di tangannya itu telah tergenggam masing-masing senjata rahasia."

Ayah masih juga punya liang-sim.

"A Gie, kau keluar." Dia panggil.

"Aku tahu mereka tunggu aku keluar, baru mereka hendak menyerang dengan senjata rahasia mereka. Kamar ada sempit, ke mana dia bisa singkirkan diri? Maka aku menjawab: "Aku tidak mau keluar! Kamu baik bunuh juga aku!"

"Ketika itu, dia duduk di atas kursi dengan alis mengkeret. Dia menyangka aku bersekongkol dengan ayah semua, dia jadi sangat bersusah hati, hingga dia tak niat untuk melakukan perlawanan. Akan tetapi kapan dia dengar penolakanku untuk keluar, bahwa aku rela binasa bersama dia, sekonyong-konyong dia berlompat bangun."

"Apakah kau tahu bubur teratai ini dicampuri racun?" dia tanya aku, suaranya tak lagi sebengis tadi.

"Aku jumput mangkok bubur itu, aku lihat masih ada sisanya, lantas saja aku minum satu ceglukan.

"Jikalau bubur ini ada racunnya, mari kita mati bersama!" kataku.

"Dia sampok mangkok bubur itu hingga terlempar hancur, akan tetapi aku telah meminumnya. Lantas saja dia tertawa.

"Bagus!" katanya. "Mari kita mati bersama!..." Segera dia berpaling kepada ayah semua, dia menegur: "Kamu gunakan cara rendah sekali, apa kamu tidak malu?"

Toapeh gusar sekali.

"Siapa racuni padamu?" katanya. "Jikalau kau andali ilmu silatmu yang liehay, mari keluar, kita bertempur!"

"Baik!" dia jawab tantangan itu. Dia tuntun tanganku untuk diajak keluar dari kamar.

"Di luar telah diatur panggung pelatok Bwee-hoa-chung, di atas itu dia ditantang akan layani ayah bersama mamak dan paman semua bertempur. Dia tidak perdulikan yang dia bakal dikepung.

"Dia benar tidak diracuni dengan racun, tetapi kemudian aku dapat tahu, bubur teratai itu telah dicampuri Cui-sian-bit yaitu madu tercampur obat pulas, yang kekuatannya kendor, yang membuat orang yang memakannya jadi berangsur-angsur kehilangan tenaganya, akan akhirnya orang nanti rubuh dan tidur seperti mayat, selang satu hari satu malam baru orang akan sadar sendirinya. Mereka itu tidak niat meracuni, mereka hendak merobohkan dengan pengaruh obat pulas itu, untuk selanjutnya mereka siksa padanya!"

Oen Gie bicara dengan sengit, menyatakan kemarahannya yang besar yang tertahan, yang baru sekarang dapat dilampiaskan.

Ketika itu Oen Beng San berseru, "Eh, orang she Wan, kau berani atau tidak melayani berbareng kita berlima bersaudara?"

Pada dua hari yang sudah, karena ingat mereka adalah orang-orang tertua dari Ceng Ceng , Sin Cie berlaku hormat terhadap mereka, akan tetapi sekarang, setelah mendengar penuturan Oen Gie dan mengetahui mereka ada orang-orang jahat, ia tidak sudi menghormati lagi, malah dia mendongkol dan gusar.

"Hm!" jawabnya. "Kamu boleh maju berbareng sepuluh saudara, aku masih tidak jeri!...."

Belum sampai Sin Cie tutup mulutnya, atau satu bayangan telah menerjang ke dalam paseban.

"Bocah tidak tahu adat, menggelindinglah kau keluar!" bayangan itu membentak.

Sin Cie lihat seorang dengan tubuh besar dan kekar, rambutnya yang riap-riapan dililit sepotong gelang tembaga yang berkilauan, sedang bajunya adalah jubahnya kasee, maka dia tahu, itu adalah satu pendeta tauwtoo. Pada dua malam yang sudah, belum pernah dia lihat orang beribadat ini.

Tauwtoo itu adalah Teng Seng, satu bandit besar dari Hoolam. Dia baru datang, dia kunjungi lima saudara Oen untuk beritahu dia niat "bekerja" sama-sama jago-jago dari Cio-liang itu. Kapan dia ketahui keluarga Oen, yang kenamaan di Selatan dan Utara Sungai Besar jeri terhadap satu bocah, dia jadi panas hati, maka dia lantas maju paling dulu. Ia ingin ajar adat pada bocah ini....

Sin Cie lihat gerakan orang, dengan sebat ia berkelit ke kanan, berbareng mana tangan kirinya menyambar, menjambak rambut panjang orang itu, setelah mana, ia menyempar, ia lepaskan cekalannya. Tidak ampun lagi, tubuh besar dari si pendeta terlempar ke pohon mawar, yang banyak durinya, hingga mukanya, bahunya, pahanya, kena tertusuk duri pohon bunga itu, sehingga keluar darah!

Itulah bantingan atau hajaran yang si tauwtoo tidak pernah sangka.

Melihat demikian, Oen Gie tertawa dingin. Dia berkata: "Pada malam itu, mereka berlima bersaudara mengepung dia satu orang. Sebenarnya dia sanggup melayani, apa celaka, dia sudah minum madu obat pulas, makin lama, dia berkelahi makin lelah. Di sebelah itu, lima saudara itu berkelahi secara mengepung yang dinamakan "Un-sie Ngo-heng-tin", maka dikepung secara demikian, sulit untuk dia meloloskan diri..."

"A Gie!" membentak Oen Beng San. "Apakah kau buka rahasia kepada orang luar?"

Oen Gie tidak perdulikan lagi ayahnya itu, kepada Sin Cie dia melanjuti penuturannya: "Kelihatan nyata dia ingin lekas-lekas pukul rubuh salah satu musuhnya, dengan begitu, dia akan dapat pecahkan barisan pengurung itu. Akan tetapi dia berkelahi dengan semakin lama semakin kendor, tubuhnya sempoyongan semakin hebat. Maka itu, aku teriaki dia: "Kau pergi lekas! Untuk selamanya, aku tidak akan tinggalkan padamu!"

Suaranya nyonya ini menyedihkan secara dahsyat, melebihkan dahsyatnya jeritannya kemarin ini.

Ceng Ceng kaget bukan main.

"Ibu!" dia memanggil.

Sin Cie lihat sinar mata si nyonya kabur dan napas memburu, ia tahu nyonya itu mendongkol dan berduka sangat. Terang sekali dia tak dapat bicara lebih jauh karenanya.

"Sudah, Pehbo, silakan kau kembali ke kamar untuk beristirahat," kata anak muda ini. "Sekarang aku hendak pasang omong dengan ayahmu beramai, besok aku nanti datang pula..."

"Tidak! Tidak!" kata Oen Gie seraya tarik ujung bajunya. Nyonya ini bisa pula bicara dengan lekas sekali. "Sudah sembilan-belas tahun aku menahan di dalam hatiku, tak dapat tidak, hari ini aku mesti keluarkan semua! Wan Siangkong, kau dengari aku...."

Suara itu tercampur tangisan. Sin Cie manggut.

"Aku akan mendengari," ia jawab.

Masih saja, nyonya ini pegangi ujung bajunya si anak muda.

"Mereka inginkan jiwanya!" berkata ia, meneruskan. "Dan yang terlebih penting daripada itu, mereka juga mengharap harta karun! Terus dia layani mereka bertempur, lalu lagi sejurus, dia terluka, tak dapat dia menahan diri, dia rubuh dari pelatok-pelatok itu. Mereka tahu dia punyakan peta dari tempat rahasia harta karun disembunyikan, mereka memaksa dia untuk serahkan peta itu. Tapi dia jawab: "Peta itu tidak ada padaku! Siapa berani, dia boleh ikut aku untuk mengambilnya!"

"Jawaban itu membuat mereka menghadapi kesulitan," melanjuti si nyonya. "Jikalau dia dimerdekakan, apabila sebentar dia sadar dari pengaruhnya obat pulas, lantas tidak ada orang yang sanggup kendalikan dia lagi! Jikalau dia dibinasakan saja, lantas peta itu untuk selama-lamanya bakal lenyap, harta karunnya tak akan ada orang yang akan dapatkan... Maka akhirnya ayahku adalah yang berikan pikirannya yang bagus! Ha, ha! Sungguh cerdik dia, bukankah?"

"Ketika itu dia mulai jatuh pulas, aku sendiri pingsan. Ketika ini digunai mereka untuk menggeledah tubuhnya. Inilah aku ketahui sebab aku sudah lantas ingat akan diriku. Mereka tidak dapatkan peta itu, yang tidak tersimpan di tubuhnya. Maka mereka jadi sengit, mereka melakukan penganiayaan hebat dan kejam, ialah urat-urat tangan dan kakinya telah dipotong putus! Dengan ini mereka hendak bikin percuma kepandaian ilmu silat liehay itu, supaya selanjutnya ilmu silat itu tak dapat digunakan pula! Habis itu barulah dia dilepaskan dari belengguan. Dia masih dipaksa untuk serahkan peta bumi yang diarah sangat itu. Tidakkah itu ada cara cerdik sekali?"

Sin Cie terkejut. Nyatalah pikirannya si nyonya menjadi was-was seketika.

"Pehbo, baiklah kembali saja, beristirahat," katanya.

"Tidak!" jawab Oen Gie. "Asal kau pergi, mereka bisa aniaya aku sampai binasa! Aku hendak tuturkan semua, baru aku puas! Kau tahu, mereka bawa dia pergi! Lima bersaudara itu tidak percaya satu kepada lain! Bersama mereka ada turut dua jago dari Ngo Bie Pay. Mereka semua ingin peroleh harta karun! Entah bagaimana, kemudian ternyata, dia bisa loloskan diri dan kabur! Mungkin dia telah berikan mereka peta itu, hingga, begitu lekas mereka kegirangan, penjagaannya jadi kendor. Mereka semua ada cerdik sekali, akan tetapi Kim Coa Long-kun bukannya seorang tolol! Bertujuh mereka telah dapatkan selembar peta, mereka saling berebut. Lima saudara itu bersekongkol, mereka curangi kedua jago Ngo Bie Pay sampai dua-duanya binasa!....."

Oen Beng Gie dari luar paseban berseru dengan ancamannya:

"A Gie! Jikalau kau tetap ngaco-belo, awas!"

"Untuk apa aku mesti awas?" Oen Gie balik menanya sambil tertawa. "Apa kamu sangka aku masih takut mampus?" Dia menoleh kepada si anak muda, akan berkata: "Peta yang mereka dapati adalah yang palsu! Lima saudara itu pergi ke Lamkhia, mereka gali sana dan gali sini, sampai setengah tahun lamanya, mereka hamburkan lebih dari selaksa tail perak, tapi sepotong kecil perak jua mereka tak dapatkan! Ha-ha! Sungguh tak ada yang lebih memuaskan daripada ini!"

Sia-sia saja lima saudara Oen itu kertak gigi mereka di luar paseban. Mereka jeri terhadap si anak muda, tidak berani mereka lancang menerjang ke dalam paseban itu.

Habis berkata-kata demikian, Oen Gie berdiam melongo, kemudian dengan pelahan-lahan, baru ia berkata pula. Suaranya pelahan:

"Setelah kepergiannya itu, selanjutnya aku tak peroleh lagi kabar dari atau tentang dia.... Urat-urat tangan dan kakinya telah diputuskan, dia mirip dengan satu manusia tapadaksa.... Dia beradat tinggi dan keras, karenanya, apabila dia tidak mati lantaran luka-lukanya itu, tentu mati karena mendongkol yang tak terlampias...."

Dari luar, Oen Beng Tat menantang:

"Orang she Wan!" katanya, "kau telah dengar perkataan dia tentang kami keluarga Oen mempunyai Ngo-heng-tin, jikalau kau benar satu laki-laki, mari keluar, kau coba terjang!"

"Kau pergilah!" Oen Gie dului si anak muda menjawab. Nyonya ini hendak mencegah. "Jangan kau layani mereka bertempur!"

Sin Cie tahu, apabila mereka bertempur satu sama satu, tidak ada seorang juga dari lima saudara itu yang nempil terhadapnya, akan tetapi apabila berlima mereka maju berbareng, sedang mereka pun punyai Ngo-heng-tin, barisan "Panca-logam", itulah lain.

Menurut Oen Gie, Ngo-heng-tin itu berdasarkan Kim, Bok, Sui, Hoh dan Touw, ialah emas, kayu, air, api dan tanah (ngo-heng), yang berhubungan satu dengan yang lain, yang saling ganti perubahannya. Maka itu, memang itu adalah "barisan" yang sulit untuk digempur. Dan lagi, ketika pertama kali mereka bertanding, mereka tidak mendendam satu dengan lain, masing-masing bisa berlaku sungkan, akan tetapi sekarang dia telah ketahui rahasia mereka, dan mereka menyangka ia punya hubungan dengan Kim Coa Long-kun, pasti sekali mereka akan pandang ia sebagai musuh besar. Mereka bangsa telengas, mereka siap-sedia akan gunai segala tipu-daya, mungkin dia dibikin celaka. Satu kali dia tak berhati-hati, dia bisa tak ketolongan. Karena ini, sangsilah dia.

"Apa? Kau tidak berani?" Oen Beng Gie tanya dengan ejekannya. "Kalau begitu hayo kau berlutut tiga kali dan manggut-manggut kepada kami, nanti kami ijinkan kau pergi!..."

Itulah ejekan yang hebat.

Oen Beng Sie, dengan suara seram, pun berkata: "Sekarang ini walaupun kau berlutut dan manggut-manggut, sudah kasip!"

Lantas saja Sin Cie berkata dengan nyaring:

"Katanya Ngo-heng-tin dari keluarga Oen ada liehay sekali tapi aku yang muda ingin mencoba-cobanya, untuk belajar kenal, namun saat ini aku letih sekali, maka kamu ijinkanlah aku beristirahat barang satu jam! Akur?" tanyanya.

"Satu jam ialah satu jam!" jawab Oen Beng Gie dengan mengejek. "Walaupun kau beristirahat sampai delapan atau sepuluh hari, toh tak nanti kau mampu lolos!"

"Jangan-jangan binatang ini hendak menggunai akal-muslihat," Beng San kata dengan pelahan. "Baik kita lantas kerjakan dia!"

"Jie-tee telah berikan perkataan padanya, biarlah dia hidup lebih lama satu jam," Beng Tat bilang. "Biarlah dia beristirahat, supaya dia tak usah sampai mati menyesal! Melainkan kita harus jaga jangan sampai dia kabur!"

"Kasi dia beristirahat di dalam thia," Oen Beng Go usulkan. "Di sana kita kurung padanya."

Oen Beng Tat akur, lalu dengan suara nyaring, dia kata: "Orang she Wan, pergi kau ke Lian-bu-thia untuk beristirahat. Dengan berdiam di sini, kami kuatir kau lolos...."

"Baik!" sahut Sin Cie tak bersangsi sedikit jua. Lantas dia berbangkit.

Oen Gie dan putrinya jadi bingung sekali, mereka tidak berdaya untuk mencegah. Maka terpaksa mereka ikuti anak muda itu.

Di dalam Lian-bu-thia , ruang latihan silat, Oen Beng Tat si Toa-yaya sudah lantas perintahkan orang-orangnya nyalakan puluhan batang lilin, dengan begitu, seluruh ruangan jadi terang sekali.

"Kapan nanti sebatang lilin ini telah menyala habis, bukankah telah cukup waktunya untukmu beristirahat?" tanya tertua Ngo Couw dari Cio Liang Pay.

Sin Cie tidak menjawab, dia melainkan manggut, habis itu dia lantas duduk atas sebuah kursi yang diletaki di tengah-tengah ruangan itu.

Lima saudara Oen angkat masing-masing sebuah kursi, untuk mereka duduk sendiri. Mereka mengurung di lima penjuru dengan sikapnya Ngo-heng. Mereka juga duduk diam dan meram, untuk sekalian beristirahat juga. Akan tetapi di belakang mereka berkumpul enam belas orang lain di antara siapa ada Oen Lam Yang dan Oen Cheng, semua orang angkatan terlebih muda, semuanya duduk atas masing-masing sebuah kursi kate.

Sin Cie lihat kedudukannya enam belas orang itu, ia dapati mereka ambil sikap delapan penjuru, atau Pat-kwa, maka itu lengkaplah Ngo-Couw punya barisan Ngo-heng Pat-kwa-tin itu, yang ringkasnya disebut Ngo-heng-tin.

"Benar-benar sulit untuk memecahkan barisan ini dan lolos," pikir si anak muda, sambil duduk diam, kedua tangannya dikasi turun. Ia merasa, di bawah kepungan dua puluh satu orang itu, paling bisa ia membela diri, untuk lolos, sukar sekali. Ia pun insaf, jikalau lama-lama ia dikurung, tenaganya bisa habis, hingga akhirnya, dia bakal dirubuhkan juga. Kim Coa Long-kun yang demikian liehay masih tidak sanggup pecahkan Ngo-heng-tin ini, maka pasti tin ini ada punyakan perubahan-perubahan luar biasa.

Selagi sibuk berpikir, tiba-tiba si anak muda ingat beberapa halaman terakhir dari Kim Coa Pit Kip. Itulah bagian-bagian yang pertama kali membingungkannya, karena ia tak dapat menginsyafi artinya, sampai perlu ia pergi pula ke dalam gua untuk meyakinkan gambar-gambar di tembok gua, untuk diakuri dengan bunyinya kitab pusaka itu, sesudah mana, barulah ia mengerti. Melainkan itu waktu ia masih belum insaf, apa perlunya ilmu silat yang nampaknya kusut sekali itu. Siapa bisa dengan satu gebrakan saja menyerang keempat atau kedelapan penjuru? Toh ilmu itu ada untuk melayani serangan berbareng dari pelbagai penjuru itu?

Terus Sin Cie memikir, hingga ia menduga, tentulah Kim Coa Long-kun, setelah lolos dari tangan musuh-musuhnya, telah sembunyikan diri untuk memikirkan jalan guna pecahkan ngo-heng-tin itu dan dia akhirnya berhasil menciptakan ilmu silat istimewa ini. Tentu sekali maksud Kim Coa Long-kun untuk kembali ke Cio-liang, guna menuntut balas, maka sayanglah urat-urat tangan dan kakinya telah terputus hingga dia tak dapat bersilat terlebih jauh. Maka, untuk dijadikan warisan, ilmu silat itu dicatat rapi dalam kitabnya, dalam gambar-gambar di tembok gua. Dan sengaja dia bikin kitab yang palsu, yang diperlengkapi dengan panah rahasia dan beracun, guna menjaga kalau-kalau pihak Cio Liang Pay mencurinya.

"Syukur aku telah dapati kitab itu dan dapat memahamkan juga semua isinya," pikir pemuda ini lebih jauh. "Dengan gunai ilmu silat itu, kecuali dapat lolos dari bahaya, aku juga dapat tolong lampiaskan dendaman Kim Coa Long-kun, maka di dunia baka, pastilah dia akan bersenyum puas, hingga tak sia-sialah capai lelahnya menciptakan ilmu silat itu...."

Sin Cie menjadi gembira hingga ketika ia buka kedua matanya, wajahnya ada terang-riang. Ia dapatkan lilin hampir habis terbakar, tinggal hanya satu dim saja.

Lima saudara Oen juga membuka mata, mereka heran apabila mereka tampak roman bergembira dari anak muda itu, tak dapat mereka menerka pikiran anak muda ini. Akan tetapi mereka percaya betul ketangguannya Ngo-heng-tin, mereka tidak terlalu perhatikan sikap orang itu, mereka cuma membuka mata lebar-lebar, untuk bersiaga kalau-kalau orang lompat melesat untuk kabur....

Kembali Sin Cie rapati kedua matanya. Ia mencoba ingat di luar kepala segala pengunjukan Kim Coa Long-kun. Kemudian ketika ia sampai di bahagian "Koay-too-chan-loan-ma" atau "Dengan Golok Cepat Memotong Guni Awut-Awutan", mendadak ia keluarkan keringat dingin, ia terkejut sendirinya.

"Celaka!" demikian ia menjerit dalam hati. "Habis ini, pertempuran membutuhkan golok atau pedang mustika, untuk bikin lawan tak berani datang dekat, senjata tajam itu perlu untuk membikin kalut kepungan, akan tetapi Kim Coa Kiam tidak ada padaku, bagaimana?"

Selama itu Ceng Ceng terus awasi si anak muda, hatinya lega melihat air muka terang dari pemuda itu, tapi sekarang ia pun terperanjat mendapati orang mandi keringat, romannya berkuatir.

"Belum sampai bertempur, hatinya sudah goncang, bagaimana nanti?" pikir dia. Maka ia menjadi turut bingung sendirinya.

Sin Cie awasi lilin, yang hampir padam, ia sendiri masih belum peroleh daya, bukan main sibuknya dia.

Itu waktu satu bujang perempuan bertindak ke dalam ruangan, tangannya menyekal secawan air teh, ia hampirkan si anak muda.

"Wan Siangkong, silakan minum teh," katanya.

Selagi kusut pikiran itu, Sin Cie sambuti cawan teh dengan tidak ragu-ragu, malah ia terus antar cawan ke mulutnya, akan tetapi di saat bibir dan cawan hampir nempel, mendadakan terdengar suara nyaring di depan mukanya sendiri dan tangannya tergetar, untuk kagetnya, ia dapatkan cawan sudah terpukul terlepas panah-tangan, jatuh hancur di lantai.

Masih anak muda ini sempat lihat Ceng Ceng menarik pulang tangannya, maka ia tahu, adalah si nona yang sudah serang cawan itu. Maka berbareng kaget, ia insaf.

"Sungguh berbahaya!" kata ia dalam hatinya. "Kenapa aku jadi begini goblok? Kenapa tak ingat aku yang mereka juga bisa kasi aku minum obat pulas?"

Justru itu waktu, bagaikan guntur, Oen Beng Go mendamprat: "Ada ibunya, ada gadisnya. Keluarga Oen telah tidak menumpuk jasa-jasa baik maka juga telah terlahirlah anak hina­dina ini yang bersekongkol dengan orang luar!"

Ceng Ceng tahu, dialah yang dicaci, dia tidak mau mengalah.

"Ya, leluhur keluarga Oen telah menumpuk banyak sekali jasa-jasa baik! Mereka telah perbaiki jembatan-jembatan, jalan-jalan besar, mengamal terhadap orang-orang melarat! Segala macam perbuatan baik, mereka lakukan!"

Itulah sindiran belaka terhadap Ngo Couw yang tidak ada kejahatan yang tidak dilakukan mereka.

Oen Beng Go jadi demikian murka sehingga dia lompat bangun sambil berjingkrak, dia hendak hajar cucu atau cucu-keponakan itu, akan tetapi Oen Beng Tat menghalangi dia.

"Sabar, Ngo-tee," kata engko ini. "Jaga itu bocah saja!"

Pada waktu itu, telah lenyap roman berkuatir dari Sin Cie, sebagai gantinya, anak muda ini kembali berwajah riang-gembira. Serangan Ceng Ceng dengan panah rahasia terhadap cawan seperti memberikan ia ilham.

"Kenapa aku tidak mau gunai senjata rahasia?" demikian pikirnya. "Dalam hal senjata rahasia, walaupun Kim Coa Long Kun masih tak dapat menandingi aku! Bukankah pada tubuhku juga ada baju kaos istimewa hadiah dari Bhok Siang Toojin? Kenapa aku tidak mau antap orang hajar beberapa kali bebokongku, supaya berbareng dengan itu aku bisa pecahkan Ngo-heng-tin ini?"

Sekejab saja, pemuda ini ambil putusannya. Tidak lagi dia tunggu habisnya sebatang lilin, segera ia berbangkit.

"Cukup!" katanya. "Silakan kamu beri pengajaran kepadaku!"

Oen Beng Tat lantas perintah orang-orangnya tukar semua lilin.

"Ini kali, kalau ada keputusan menang atau kalah, bagaimana?" Sin Cie tegaskan.

"Jikalau kau menang, pergi kau bawa emas itu!" jawab Oen Beng Tat. "Jikalau kau tidak berhasil, nah, tak usah omong banyak lagi!"

Sin Cie mengerti, jikalau dia yang kalah, jiwanya tidak bakal tertolong lagi, akan tetapi apabila dia yang menang, orang masih bisa menyangkal. Maka ia kata pula:

"Kalau begitu, keluarkanlah emas itu! Begitu aku menang, aku hendak segera bawa pergi!"

Lima saudara Oen itu kagum. Sudah terkepung, lagi menghadapi bahaya maut, anak muda ini masih berkeras kepala. Tentu sekali, mereka tidak kuatir. Mereka tahu, Kim Coa Long-kun yang liehay masih tak mampu dobrak ngo-heng-tin, apapula bocah ini.

Setelah asah pikiran belasan tahun, Ngo Couw berhasil menciptakan Ngo-heng-tin, setelah itu, mereka melatih diri dengan sempurna. Ngo-heng-tin ada pusaka bagi Cio Liang Pay. Buat layani tiga sampai empat-puluh musuh masih leluasa, apapula akan hadapi satu orang. Biasanya tak sembarangan Ngo Couw gunai barisannya ini, ia kuatir orang lihat dan menirunya, sekarang terpaksa mereka pakai karena Sin Cie terlalu tangguh untuk mereka, sehingga mereka tak kuatir nanti ditertawai orang banyak berkelahi di rumah sendiri secara mengeroyok.

"Kau keluarkan emas itu!" akhirnya Beng Tat titahkan Ceng Ceng.

Nona ini sangat menyesal. Jikalau ia tahu bakal jadi begini rupa, pasti dari siang-siang ia sudah kembalikan emas itu. Ia tidak berani bantah yaya itu, terpaksa ia pergi ambil bungkusan emas itu, diletaki di atas meja dalam ruang itu.

"Jangan letaki secara demikian," kata Oen Beng San. "Cheng, kau atur berdiri semua emas itu, bikin menjadi peta!"

Oen Cheng menyahuti, ia ambil bungkusan emas itu, akan sepotong demi sepotong dia letaki di lantai, diatur semacam gambar Thay-kek (dunia bundar), hingga di luar itu, seputarnya, merupakan pat-kwa.

"Mari!" berseru lima saudara Oen begitu lekas sepuluh potong emas itu selesai diatur, mereka lantas bergerak, senjata mereka pun lalu dihunus.

Sin Cie sambut tantangan itu, akan tetapi di saat ia hendak mulai lompat maju, sekonyong-konyong terdengar suara tertawa bergelak-gelak di atas rumah, disusul dengan kata: "Orang-orang tua dari keluarga Oen! Aku Eng Cay datang berkunjung untuk menanggung dosa!"

Lima saudara Oen terkejut.

"Silakan turun!" mereka mengundang.

Menyusul undangan itu, belasan orang lompat turun dengan saling susul dari atas genteng ruangan latihan silat itu, sesuatu orangnya tak rata tubuhnya, ada yang tinggi, ada yang kate, tetapi yang bertindak di muka adalah Eng Cay, pang-cu atau ketua dari partai Liong Yu Pang.

Justru itu Sin Cie berpaling kepada Ceng Ceng. Ia tampak, biarpun si nona mencoba menenangkan diri, pada wajahnya ada ketegangan.

Oen Beng Tat sudah lantas tanya tetamunya yang tak diundang itu.

"Lao Eng, sahabatku, tengah malam buta-rata kau berkunjung ke gubukku ini, apakah maksudmu? Lu Jie Sianseng dari Hong-gam juga turut datang bersama!"

Sembari mengucap, Toa-yaya ini rangkap kedua tangannya untuk memberi hormat kepada satu orang yang berada di belakang Eng Cay. Orang itu dandan sebagai seorang mahasiswa, usianya pertengahan.

Eng Cay tidak jawab pertanyaan, atau teguran itu, hanya dia kata: "Oen Loo-ya-cu, kau berbahagia sekali! Kau telah dapatkan seorang cucu perempuan yang ilmu silatnya sempurna, yang otaknya cerdas sekali, tidak saja See Loo-toa kami serta belasan saudara lainnya rubuh di tangannya, malah aku sendiri si tua-bangka turut mendapat malu juga!...."

Beng Tat heran. Memang dia dan saudara-saudaranya belum tahu hal bentrokan di antara Ceng Ceng dan rombongan dari Liong Yu Pang itu. Yang pasti adalah, di antara Cio Liang Pay dan Liong Yu Pang, ada pergaulan. Di mana sekarang mereka lagi menghadapi lawan tangguh, Ngo Couw tidak inginkan keruwetan baru.

"Lao Eng, apakah yang diperbuat cucu kami terhadapmu?" Beng Tat tanya dengan sabar. "Tidak nanti kami melindungi pihak yang bersalah. Siapa bunuh orang, dia berhutang jiwa, siapa berhutang uang, dia mesti membayar dengan uang juga! Tidakkah demikian?"

Ketua dari Liong Yu Pang itu melengak.

"Heran!" pikirnya. "Kenapa tua bangka ini yang biasa tekebur sekali hari ini jadi begini pandai omong? Mustahil dia jeri terhadap Lu Jie Sianseng sampai begini macam jerinya?"

Tapi segera juga ia tampak Sin Cie di antara rombongan tuan rumah itu, ia jadi bertambah-tambah heran. Maka ia kembali berpikir.

"Tua bangka ini mempunyai pembantu yang liehay sekali, mungkin Lu Jie Sianseng juga tak nanti sanggup lawan dia. Baiklah aku lihat selatan untuk menyimpan layar...."

Maka ia lantas menyahut dengan tenang: "Kami dari Liong Yu Pang belum pernah bentrok dengan pihakmu, maka itu dengan memandang kepada kamu lima saudara, sukalah aku bikin habis kematian See Loo Toa, anggap saja dia mesti sesalkan kepandaiannya sendiri yang cetek, melainkan mengenai emas itu...." Dia menyapu dengan matanya kepada sepuluh potong emas di lantai, lalu dia melanjuti: "Kami telah mengikuti jalanan jauhnya beberapa ratus lie, kami telah bercape-lelah dan bercape-hati, buang ongkos juga, malah ada orang kami yang sampai mengantari jiwanya, semua itu adalah usaha kami untuk hidup dalam dunia Kang-ouw...."

Eng Cay berhenti sampai di situ.

Oen Beng Tat heran, ia mengawasi. Segera hatinya menjadi lebih tenteram. Teranglah sudah, Eng Cay datang bukan untuk pembalasan hanya guna emas itu.

"Semua emas itu ada di sini, jikalau kau menginginkannya, pergilah ambil, tidak ada halangannya," berkata dia.

Eng Cay heran hingga ia menatap wajah tuan rumahnya. Kenapa ketua Cio Liang Pay itu jadi demikian baik budi? Ia tadinya mau menyangka orang hendak mengejek padanya, tetapi ia dapati air muka tenang dan biasa, tidak ada bayangan kepalsuan. Maka ia kata: "Oen Toaya, jikalau kau sudi memberikannya separuh saja dari jumlah itu, untuk kami pakai menunjang korban-korban yang terbinasa dan terluka, bukan main berterima kasihnya aku...."

"Silakan kau ambil sendiri," Beng Tat berikan persetujuannya.

Eng Cay angkat kedua tangannya untuk memberi hormat.

"Terima kasih!" ujarnya, terus ia memberi tanda kepada orangnya, maka dua orang segera maju ke arah emas, mereka ini membungkuk untuk jumput potongan-potongan emas itu. Akan tetapi, baru tangan mereka raba emas atau mereka telah rasai pundak mereka masing-masing ada yang tolak dengan pelahan, atas mana tubuh mereka jadi terdorong ke belakang, hingga mereka mesti mundur beberapa tindak, kalau tidak, tentu mereka rubuh. Lekas-lekas mereka angkat muka, akan memandang, maka tampaklah mereka Sin Cie berdiri di depan mereka.

Dengan tenang, pemuda ini segera berkata kepada ketua Liong Yu Pang:

"Eng Loo-ya-cu, emas ini adalah uang belanja tentaranya Giam Ong, maka jikalau kau ambil, pastilah itu kurang sempurna!"

Nama Giam Ong di utara ada menggetarkan, adalah di Selatan, kaum Kang-ouw tak terlalu memperdulikannya, maka itu, Eng Cay lantas menoleh pada Lu Jie Sianseng.

"Lihat, dia sebut-sebut nama Giam Ong untuk gertak kita!" katanya sambil tertawa.

Lu Jie Sianseng itu ada menyekal sebatang huncwee yang besar, dia menyedot satu kali, dia kebulkan asapnya, dia ulangi dan ulangi itu, gerak-geriknya ada tenang sekali. Sebelum jawab ketua Liong Yu Pang itu, ia melirik pada si anak muda, ia menatapnya.

Sin Cie dapat kenyataan, tenang dia ada, mahasiswa itu tapinya ada angkuh atau agung­agungan, dari itu tak puaslah hatinya. Kapan ia lihat sinar matanya, dan kulit mukanya yang bersemu dadu, ia percaya dia mestinya ada seorang Kang-ouw kenamaan, mungkin dia mempunyai kepandaian istimewa karenanya, tak berani ia memandang enteng. Malah ia lantas saja menjura.

"Apakah Cianpwee she Lu?" tanya ia. "Aku yang muda baru kali ini mulai berkelana, dari itu maafkanlah aku tidak kenal Cianpwee..."

Lu Jie Sianseng kepulkan pula asap huncweenya, sekali ini tepat ke arah muka si anak muda, kemudian kapan ia menyedot lagi, ia keluarkan asapnya di antara kedua lobang hidungnya. Maka bagaikan sepasang naga melilit, asap itu bergulung-gulung melayang....

Sin Cie tidak murka karena lagak orang itu, tidak demikian dengan Ceng Ceng, yang hatinya panas, hingga mau ia menegurnya. Tapi Oen Gie lihat sikap puterinya, dia tekan pundaknya.

Ceng Ceng menoleh dengan cepat, ia lihat ibunya menggeleng-geleng kepala dengan pelahan. Ia mengerti cegahannya sang ibu, ia terpaksa telan pula kemendongkolannya.

Lu Jie Sianseng ketruk-ketruki huncweenya, akan buang bersih sisa-sisa abu dan tembakau, lalu dengan pelahan-lahan, ia mengisi pula.

Juga Ngo Couw nampaknya tak sabaran mengawasi tingkah-laku dibuat-buat itu, akan tetapi mereka tahu, mahasiswa ini adalah seorang Kang-ouw kenamaan selama beberapa puluh tahun, sebisa-bisa mereka kendalikan diri. Mereka pernah dengar bagaimana dengan ilmu silatnya Hoo Kun, Kuntauw Burung Hoo, Lu Jie Sianseng tidak punyakan tandingan di Selatan dan Utara Sungai Besar, sedang huncwee itu adalah senjatanya yang istimewa, senjata mana selain bisa dipakai menotok jalan darah juga bisa dibuat menggaet senjata lawan. Namun mereka belum pernah saksikan sendiri kegagahannya. Maka mengharap-haraplah mereka yang jago itu nanti bentrok sama Sin Cie, sukur kalau si anak muda kena dipecundangi, dengan begitu, pekerjaan mereka akan jadi lebih ringan.

Lu Jie Sianseng keluarkan tekesan api dari sakunya, ia menekes-nekes, akan tetapi ia masih tidak hendak lantas sulut huncweenya itu.

Selagi jago Hoo Kun itu ayal-ayalan, tiba-tiba di atas genteng muncul seorang lain, malah dia ini segera berseru: "Kembalikan emasku!"

Menyusul itu seorang perempuan muda loncat turun. Tetapi dia tidak bersendirian, dia segera diikut oleh seorang muda yang sifatnya kasar, di belakang siapa ada lagi seorang usia pertengahan, umur lima puluh tahun lebih, yang dandan sebagai seorang dagang, tangan kirinya memegang shui-phoa, tangan kanannya menyekal sebatang pit, sedang romannya lucu....

Sin Cie kenali Siauw Hui, ia girang berbareng kaget, ia kuatir juga. Ia girang karena datangnya bala-bantuan, melainkan ia belum tahu, bagaimana dengan kepandaiannya dua kawan dari nona An itu. Di lain pihak, ia berkuatir untuk Oen Gie dan Ceng Ceng. Di pihak sana, ialah Cio Liang Pay, ada pula Liong Yu Pang, itu artinya ia menghadap dua lawan tangguh. Ia mesti bela diri, ia pun perlu lindungi ibu dan gadisnya. Atau kalau kawan-kawannya Siauw Hui lemah sebagai si nona sendiri, ia pun sibuki mereka itu....

Suasana sungguh-sungguh tidak menggembirakan pemuda ini.

Itu waktu dari pihak Cio Liang Pay sudah lantas ada yang maju untuk rintangi Siauw Hui, yang mereka tegur.

"Lekas kembalikan emasnya tuan-tuan besarmu!" kata si anak muda yang romannya kasar itu seraya terus saja membungkuk, akan jumput emas di lantai itu.

Sin Cie kerutkan alis mengawasi kesembronoannya.

"Dia begini sembrono, tentu dia tak dapat diharap," pikirnya.

Oen Lam Yang lihat orang hendak jumput uang, ia ayun kakinya untuk tendang tangannya si anak muda.

"Cui Suko, awas!" Siauw Hui berseru. Ia lihat gerakan si orang she Oen itu.

Walaupun ia sembrono, pemuda itu tapinya awas dan sebat. Ia berkelit ke samping, untuk elakkan tendangan, setelah itu sambil merangsak, ia balas menyerang, dengan dua tangan berbareng.

Oen Lam Yang tidak sudi mengalah, ia keluarkan dua-dua tangannya, untuk menangkis, hingga empat tangan bentrok, setelah mana, keduanya terdampar mundur sendirinya sampai beberapa tindak.

Si anak muda penasaran, ia maju pula.

"Hie Bin, tahan!" berseru kawannya yang mirip saudagar.

Sekarang Sin Cie ingat kepada kawannya Siauw Hui, dengan siapa si nona sama-sama mengantar emas itu. Bukankah Siauw Hui bilang, sebab ia berpisah dari sang kawan, emas jadi kena disambar Ceng Ceng? Anak muda sembrono itu jadinya ada Giok-bin Kim­kong Cui Hie Bin, keponakan Cui Ciu San. Karena itu, apa mungkin si orang dagang ada toasuhengnya sendiri, Tong-pit Thie-shuiphoa Oey Cin? Maka ia lantas awasi senjata di tangannya orang dagang itu. Itulah sebatang pit yang bergemirlapan, maka tak salah lagi, pit terbuat dari tembaga tulen. Karena ia tidak bersangsi pula, dengan gembira ia maju kepada si orang dagang itu, ia mendekati sambil berlompat, tanpa sia-siakan tempo lagi, ia tekuk lututnya sambil manggut.

"Toasuheng, terimalah hormatnya siauwtee Wan Sin Cie!" katanya.

Saudagar itu ulur kedua tangannya untuk mengangkat bangun, ia awasi anak muda ini, lantas saja ia jadi girang sangat. "Oh, Sutee!" katanya. "Kau masih begini muda? Sungguh tak disangka-sangka olehku kita dapat bertemu di sini!"

Siauw Hui maju selagi orang bicara. "Engko Sin Cie, itulah dia Cui Suko!" ia perkenalkan si anak muda sembrono. Sin Cie menoleh pada si anak muda, ia manggut. Siauw Hui lihat bebokongnya pemuda she Wan itu ketempelan rumput kering, ia ulurkan tangannya akan kepriki itu pelahan-lahan. Atas ini Sin Cie bersenyum, tanda terima kasihnya.

Hie Bin lihat kelakuan pemudi dan pemuda itu, ia tak puas.

"Eh, Hie Bin, kenapa kau tidak tahu aturan?" tiba-tiba Oey Cin tegur muridnya itu. "Lekas kau kasi hormat pada susiokmu ini!"

Kembali orang she Cui itu tak puas. Bukankah Sin Cie lebih muda daripadanya? Maka ia menghampirkan dengan tindakan pelahan, dengan ayal-ayalan juga ia hendak paykui.

"Jangan, jangan, tak usah!" Sin Cie lekas-lekas mencegah, ia menghalangi dengan kedua tangannya.

Hie Bin batal berlutut, ia menjura saja. "Siauw-susiok!" ia memanggil. Ia membahasakan "Siauw-susiok" atau paman kecil.

"Apa sih siauw-susiok toa-susiok?" Oey Cin menegur pula. "Biarpun kau terlebih tua, susiok tetap terlebih tua tingkatnya!"

Sin Cie tertawa pada su-tit itu, atau "murid keponakan". "Panggil saja aku siok-siok!" katanya dengan manis.

"Siok-siok baik.....?" kata Hie Bin. Lu Jie Sianseng mesti menonton saja orang menjalankan tata-hormat sutee dengan suheng dan su-tit dengan susiok, kalau tadi dia yang membuat orang tak sabaran, sekarang dialah yang habis sabarnya sendiri. Dia anggap orang seperti tak pandang mata sekali kepadanya. Maka juga kedua matanya lantas mencilak.

"Kamu semua orang-orang apa?" tegur ia dengan jumawa. Teguran ini membuat orang kaget. Bahwa sekarang ia buka mulut, kiranya ia mempunyai suara yang nyaring sekali, seperti suara burung hantu yang menciutkan nyali. Suara itu pun tajam sekali.

Akan tetapi Hie Bin tidak takut. Dia maju satu tindak.

"Emas ini ada emas kami!" kata dia. "Emas ini telah kena kamu curi! Guruku telah ajak aku kemari untuk mengambilnya kembali!" Lu Jie Sianseng tidak segera menjawab, sambil dongak ke wuwungan, ia kebul-kebulkan asap huncweenya. "Hm! Hm!" dia perdengarkan tertawa dingin. Hie Bin mendongkol atas lagak orang itu. "Sebenarnya emas ini hendak kau pulangkan atau tidak?" ia tegaskan. "Jikalau kau tidak dapat mengambil putusan, hayo titahkan maju orang yang berhaknya!"

Lu Jie Sianseng tertawa dua kali, suara tertawanya pun aneh. Kemudian ia menoleh pada Eng Cay, untuk kata dengan jumawa: "Kau beritahukan bocah ini, siapa adanya aku!"

Eng Cay turut titah itu. "Inilah Lu Jie Sianseng yang termashyur namanya!" katanya. "Kau jangan kaget! Kau masih muda sekali, jangan kau tidak tahu adat!"

Tentu sekali Hie Bin tidak kenal Lu Jie Sianseng ini. "Aku tidak perduli entah dia sianseng apa!" katanya dengan mendelu dan sikap memandang enteng. "Kami datang untuk ambil pulang emas kami!"

Tiba-tiba maju pula Oen Lam Yang, yang hatinya masih panas. "Ambil kembali emas? Tak demikian gampang!" ia mengejek. "Jikalau kau ada punya kepandaian, mari layani aku dahulu, baru kita bicara pula!"

Orang she Oen ini menantang, akan tetapi belum dia sampai dapat jawaban, tangannya sudah melayang. Itulah serangan tidak disangka-sangka, maka pundaknya Hie Bin terhajar bogem-mentah.

Dia jadi sangat gusar, dia segera menyerang, untuk membalas. Tangan kirinya menyambar cepat sekali. Serangan ini mengenai perut, hingga Lam Yang merasai sakit. Buat sedetik, kedua mundur, akan saling mengawasi dengan mata mendelik, habis itu, mereka sama-sama maju pula, akan mulai bertempur.

Segera juga terdengar suara dak-duk atau bak-buk beberapa kali. Itulah suara dari kepalan yang mampir di kepala atau tubuh masing-masing. Mereka berkelahi dengan sengit sekali, sampai mereka alpa dengan pembelaan diri, dari itu, kepalan masing-masing dapat mengenai sasarannya.

Sin Cie saksikan perkelahian itu, diam-diam ia menghela napas.

"Kenapa muridnya Toasuheng begini tak punya guna?" pikir dia. "Jikalau dia hadapi musuh tangguh, dengan satu dua tonjokan saja dia tentu sudah tak tahan... Apakah mungkin Cui Siokhu juga tidak pernah berikan dia suatu pengunjukan?"

Hie Bin itu jujur, cuma adatnya keras dan semberono, karena itu, biarnya dia belajar silat, perhatiannya kurang. Dua bagian saja dari kepandaiannya Oey Cin, belum ia dapatkan. Cuma karena bertubuh kuat yang membikin ia sanggup pertahankan diri dari beberapa tonjokan. Tetapi ia berkelahi dengan hebat.

Kemudian datanglah saatnya pertempuran berakhir. Dengan kepalan kanan, Hie Bin mengancam. Lam Yang berkelit ke kanan. Dengan cepat luar biasa, tangan kiri Hie Bin menyambar. Serangan ini tidak dapat dielakkan Lam Yang, dia kena dihajar keras, menyusul suara tonjokan, tubuhnya yang besar rubuh terbanting, hingga dia pingsan.

Kemenangan ini membikin Hie Bin girang sekali, dengan bangga ia menoleh ke arah gurunya, ia harap gurunya nanti puji padanya. Di luar harapan, ia dapati sang guru merah wajahnya karena murka, hingga ia jadi heran.

"Aku menang, kenapa suhu gusari aku?" pikir dia.

Siauw Hui hampirkan kakak seperguruan itu, muka siapa bengap dan kuping kanannya berdarah, dengan sapu tangannya, dia menyusuti.

"Kenapa kau tidak kelit sesuatu pukulannya?" nona ini kata dengan pelahan. "Kenapa kau melawan dengan keras saja?"

"Untuk apa berkelit?" Hie Bin jawab. "Dengan main berkelit, tidak nanti aku berhasil menghajar dia!"

Tiba-tiba terdengar suara hebat dari Lu Jie Sianseng.

"Jangan kau berjumawa karena kau dapat rubuhkan satu lawan!" kata orang dengan dandanan mahasiswa itu. "Kau inginkan emas?"

Sekonyong-konyong dia berlompat, kedua kakinya diletaki atas dua potong emas, sedang huncweenya ditekankan ke sepotong emas lainnya.

"Tidak perduli kau menjotos atau mendupak," katanya, "asal kau mampu geser emas ini dari kakiku, kau boleh ambil semua!"

Para hadirin melengak atas kata-kata ini, melengak karena Lu Jie Sianseng terlalu jumawa.

Hie Bin jadi mendongkol sekali.

"Jangan kau menyesal!" katanya dengan sengit.

Lu Jie Sianseng tertawa besar sambil melengak.

"Kau dengar, dia kuatir aku menyesal!" katanya kepada Eng Cay, tetap dia dengan sikapnya yang jumawa itu.

Eng Cay menjawab hanya dengan tertawa kering.

"Baik, aku nanti coba!" berseru Hie Bin.

Orang semberono ini lompat tiga tindak, hingga ia datang dekat pada si tekebur itu, lantas dia ayun kaki kanannya dan menyapu ke arah potongan emas yang ditekan huncwee.

Di matanya Sin Cie, tendangan itu ada tendangan berat dua-tiga ratus kati. Ia percaya, tidak perduli bagaimana kuatnya Lu Jie Sianseng, emas itu mesti kena tergeser, kecuali dia itu gunai ilmu gaib. Maka ingin ia menyaksikan kesudahan pertaruhan itu.

Di saat kakinya Hie Bin sampai, belum sampai potongan emas kena ditendang, tiba-tiba, dengan sebat sekali, Lu Jie Sianseng angkat huncweenya, dipakai memapaki kaki dengan ujung huncwee itu, tepat mengenai dengkul.

Dengan mendadakan Hie Bin rasai kakinya itu kaku dan tak bertenaga, tidak ampun lagi, dengkulnya tertekuk, hingga dia rubuh dengan berlutut!

Lu Jie Sianseng segera rangkap kedua tangannya, berulang-ulang ia tertawa besar sambil ia berkata: "Ah, jangan, tak sanggup aku terima!"

Dia memberi hormat untuk tampik kehormatan. Dia anggap Hie Bin berlutut untuk beri kehormatan padanya! Itulah sebenarnya suatu penghinaan.

Siauw Hui terperanjat, dia lari pada Hie Bin, untuk kasih bangun pemuda itu, buat dipepayang sampai di depannya Oey Cin.

"Oey Supeh, dia main gila, lekas supeh ajar adat padanya!" nona ini minta.

Dalam gusarnya, Hie Bin mendamprat: "Kau gunai akal busuk! Kau bukannya satu hoohan!"

Oey Cin menotok pada pinggang muridnya, lalu pada pahanya, sembari berbuat demikian, dia kata dengan pelahan: "Apa lain kali kau berani pula berlaku semberono begini?"

Murid itu berdiam, hatinya bersyukur.

Lu Jie Sianseng tercengang kapan ia saksikan korbannya dapat ditolong secara demikian cepat. Ia tidak mengerti kenapa di tempat begini sepi sebagai Cio-liang ada ahli ilmu totok yang demikian liehay.

Selagi orang berdiam, Oey Cin ketek shuiphoanya.

"Perhitungan ini telah dimasuki buku!" kata dia. Lalu dia geraki tangan kanannya, yang menyekal pit. Terang dia hendak maju, untuk cuci malu muridnya.

Sin Cie lihat sikap Toa-suheng itu, dia berpikir: "Dia adalah murid kepala dari Hoa San Pay, aku adalah suteenya maka sudah selayaknya aku mesti mendului maju!"

Maka ia lantas berseru: "Toa-suheng, biar siauwtee yang maju lebih dulu! Jikalau aku tidak berhasil, baru suheng yang menggantikan!"

"Sutee, baik aku saja yang maju," jawab Oey Cin dengan pelahan.

Suheng ini ragu-ragu untuk ijinkan adik seperguruan itu wakilkan dia. Sutee ini masih terlalu muda, meskipun gurunya telah berikan pelajaran sempurna, ia kuatir sang sutee kurang latihan, kurang pengalaman, hingga ia kuatir, sutee ini bukan tandingan Lu Jie Sianseng yang liehay itu. Dia pun percaya, dengan terima murid terakhir itu, yang masih "kecil", tentunya sang guru sangat sayangi murid bungsu itu, apabila karena pertempuran ini Sin Cie terluka, gurunya tentu berduka, dia bakal ditegur, dia bakal malu sendirinya. Kalau tadi dia antapkan Hie Bin maju, itulah sekalian untuk beri ajaran pada murid semberono ini agar ia selanjutnya bisa berhati-hati. Dia harap Hie Bin insyaf dan nanti belajar lebih jauh dengan sungguh-sungguh.

Akan tetapi Sin Cie tidak mau mengerti.

"Toasuheng," katanya dengan pelahan juga, "di pihak mereka ada banyak orang liehay, sedang lima orang tua itu mempunyai barisan Ngo-heng-tin yang berbahaya sekali, mungkin sebentar bakal terjadi pertempuran dahsyat. Suheng sebagai kepala perang, maka biar siauwtee yang maju lebih dulu."

Oey Cin kagum untuk sutee ini, yang tahu aturan, yang hendak menghormati kakak seperguruan. Ia juga lihat kesungguan hati sutee itu.
Thanks for reading PEDANG ULAR MAS 12

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar