Home » » PEDANG ULAR MAS 13

PEDANG ULAR MAS 13

Jilid 13

"Baik, Sutee," kata ia akhirnya. "Harap kau hati-hati."

Sin Cie manggut pada suheng itu, lalu ia memutar tubuh, untuk hampirkan Lu Jie Sianseng.

"Aku juga hendak menendang emas ini, apa boleh?" dia tanya ahli silat Hoo Kun itu. Ia bersikap tenang sekali.

Lu Jie Sianseng dan kawan-kawannya dari Liong Yu Pang heran. Barusan si anak muda bertubuh kekar dan semberono telah dapat ajaran getir, kenapa sekarang ada pemuda lain yang tidak tahu mampus?

Melihat orang jauh terlebih muda daripada Hie Bin, Lu Jie Sianseng makin memandang rendah.

"Baik," sahut dia. "Ingin aku jelaskan dahulu, jikalau nanti kau jalankan kehormatan besar kepadaku, tak berani aku terima itu!"

Kata-kata yang terakhir ini mengandung ejekan.

Habis itu, jago Hoo Kun itu tekan emas dengan huncweenya.

Sin Cie ambil sikap sama seperti Hie Bin, dia maju tiga tindak, lantas dia angkat kakinya yang kanan, untuk menyapu.

Hie Bin menonton, dia kaget, dia menjerit:

"Siauw-susiok, jangan! Dia nanti totok kakimu!"

Ngo Couw dari Cio Liang Pay sebaliknya tak mengerti. Dia tahu pemuda ini liehay, akan tetapi cara sapuannya itu semberono. Maka mereka menduga, apa mungkin pemuda ini mengerti ilmu menghentikan jalan darahnya hingga dia tak jeri untuk ditotok?

(Bersambung bab ke 9)


Bab 9

Semua mata ditujukan kepada Sin Cie, ke arah kakinya. Malah Oey Cin sudah bersiap, andaikata Lu Jie Sianseng kembali totok dengkul orang, dia hendak turun tangan guna bantu sutee itu, sesudah mana, mau dia terus serang musuh jumawa itu.

Selagi kakinya Sin Cie bergerak maju, cepat luar biasa, Lu Jie Sianseng pun geraki huncweenya untuk dipakai menyerang, seperti tadi dia totok dengkulnya Hie Bin. Akan tetapi si anak muda ini cuma menggertak, selagi tangannya si mahasiswa bergerak, dia pun segera tarik pulang kakinya itu, dengan begitu totokan Lu Jie Sianseng mengenai sasaran kosong. Justru di saat itu pemuda kita menyapu pula dengan kaki kirinya itu, yang tadi ia tekuk balik, maka sekejab saja, emas potongan itu kena tersempar.

Sampai di situ, Sin Cie tidak lantas berhenti. Sebaliknya, dia bergerak terus. Kembali kaki kanannya menyambar.

Lu Jie Sianseng menjadi mendongkol sekali, dia totok bebokong orang.

Sin Cie egos tubuh ke kanan, sambil membungkuk, sembari berbuat demikian, tangan kirinya menyambar. Ia berhasil menyampok ke kanan kepada emas itu di saat kakinya Lu Jie Sianseng diangkat, karena untuk totok si anak muda, ia mesti bergerak.

Bergerak terlebih jauh, Sin Cie kerjakan kaki kirinya. Ia mendahului, akan gunai ketika selagi tubuh lawan itu digeser, kakinya diangkat. Ini kali pun ia berhasil karena emas tersempar, disambut oleh tangan kanannya.

Dalam tempo yang pendek, tiga potong emas tersimpan dalam tangan baju yang kanan dari anak muda ini, sesudah mana ia berdiri dengan tenang.

"Aku hendak ambil semua emas ini," berkata dia. "Lu Loocianpwee toh menetapkan janji?"

Kata-kata ini ditutup dengan satu gerakan yang sebat, selagi orang tunggui jawabannya sianseng itu, sedangnya si sianseng sendiri belum sempat menjawabnya.

Semua orang kagum, karena tahu-tahu Sin Cie sudah kantongi semuanya sepuluh potong emas itu, malah orang-orang Liong Yu Pang dan Cio Liang Pay serukan pujian mereka tanpa merasa.

Mukanya Lu Jie Sianseng jadi merah-padam, tanpa bilang suatu apa tangan kirinya lantas melayang, menyambar si anak muda, menyusul mana, kaki kanannya menjejak ugal­ugalan kaki Sin Cie.

Inilah serangan istimewa menurut ilmu silat Hoo Kun.

Sin Cie berkelit dari dua-dua serangan itu, kapan ia lantas didesak, ia cepat mundur. Ia lihat lawan itu geraki kedua tangannya, kedua kakinya, tubuhnya dipasang mendak, dibangunkan berdiri. Itulah gerakannya burung hoo menyambar-nyambar.

Menghadapi ilmu silat lawan yang luar biasa itu, Sin Cie tidak berani rapatkan diri, ia main berputaran, untuk setiap kali menyingkir. Secara begini, diam-diam ia bisa perhatikan sesuatu serangan atau gerakan lawan itu. Makin hebat ia diserang, makin cepat ia luputkan diri.

Lu Jie Sianseng lihat orang selalu menyingkir, tak berani lawan dekati dia, dia percaya, bocah itu cuma gesit tubuhnya, kepandaian silatnya tidak seberapa, dengan sendirinya, dia jadi memandang enteng, hingga sembari berkelahi, dia tertawa terbahak-bahak. Lupa dia bagaimana tadi emasnya telah disambar dengan kecepatan istimewa. Begitulah dia gunai kesempatan untuk sedot huncweenya, akan kepulkan asapnya.

Selama berputar-putar, Sin Cie mulai mengerti ilmu silat lawan itu, dari itu ia girang sekali menonton kejumawaan lawan, bertempur sambil sedot huncwee dan kepulkan asap. Secara mendadak dia merangsak mendekati, tangan kirinya diulur ke batang hidung lawan kepala besar itu, untuk disampok.

Lu Jie Sianseng terperanjat. Inilah serangan yang ia tidak sangka-sangka. Tapi ia tidak mau berlaku ayal-ayalan, sambil kelit hidungnya, ia pun menangkis dengan huncweenya, yang ia lekas-lekas geraki dari bawah ke atas.

Sin Cie tidak singkirkan kepalannya dari serangan huncwee itu, ia buka kepalannya, ia sambuti senjata lawan itu dengan satu sambaran, untuk menyekal. Oleh karena Lu Jie Sianseng sedang menyerang, tak sempat ia tarik pulang huncweenya itu. Ia kaget, segera ia menarik dengan keras.

Inilah apa yang Sin Cie duga. Selagi si sianseng menarik dengan keras, untuk mana dia pakai kedua tangannya, dia bikin iga kanannya kosong. Ketika yang baik ini tidak disia-siakan lagi oleh si anak muda. Sebat luar biasa, ia menotok ke jalan darah thian-hu-hiat.

Lu Jie Sianseng terkejut sesudah kasip, tahu-tahu dia rasai tubuhnya sebelah kanan gemetar dan habis tenaganya, hingga huncweenya terlepas di luar keinginannya.

Selagi begitu, Sin Cie lihat Ceng Ceng tertawa hihi-hihi. Ia senang lihat si nona bergirang, lantas saja ia sodorkan huncwee ke arah mulutnya lawan itu. Tapi yang ia sodorkan bukan ujung huncwee piranti menyedot, hanya ujung tempat tembakau, yang apinya sedang menyala, sebab baru saja tadi disedot pemiliknya.

Lu Jie Sianseng sedang tercengang, ia kaget ketika api membakar kumisnya, sampai mengeluarkan asap.

"Sutee, jangan bersenda-gurau!" Oey Cin teriaki adik seperguruan itu. Diam-diam ia kagumi keliehayan sutee itu.

Sin Cie tarik pulang ujung huncwee, untuk ditiup apinya, tapi justru karena ini, sebab ia meniup dengan keras, api meletik berhamburan, abu tembakau turut terbang juga, hingga antaranya ada api yang menyambar muka Lu Jie Sianseng.

Menampak demikian, Oey Cin lompat ke arah orang she Lu itu. Tak dapat ia tak tertawa memandang kejadian lucu itu, akan tetapi lekas-lekas ia totok jalan darahnya si lawan, yang sudah tidak berdaya disebabkan totokannya Sin Cie. Di sebelah itu, ia sambar huncwee dari tangan Sin Cie, untuk dikembalikan pada pemiliknya, ia jejalkan di tangannya dia itu.

Lu Jie Sianseng masih tercengang ketika ia lihat semua orang memandang dia sambil tertawa, tidak tempo lagi, dia lemparkan huncweenya, lantas dia memutar tubuh, untuk lari pergi.

Eng Cay memburu kawan itu, yang ia sambar tangan bajunya, untuk ditarik, buat dicegah kepergiannya, akan tetapi Lu Jie Sianseng tolak dia hingga dia terpelanting terhuyung­huyung. Tak hentikan tindakannya, kawan itu lari terus sehingga di lain saat dia sudah menghilang.

Pihak Cio Liang Pay saksikan liehaynya Sin Cie, mereka kagum tetapi tidak kaget, memang mereka tahu pemuda ini tak dapat dibuat permainan, tidak demikian pandangannya pihak Liong Yu Pang. Mereka ini pandang jagonya - Lu Jie Sianseng ­bagaikan malaikat, tidak tahunya sekarang, satu bocah permainkan dia mirip sebagai anak kecil.

Oey Cin sendiri kagumi sutee itu, akan tetapi dia bukan melainkan kagum saja, berbareng ia heran. Sutee itu menotok jalan darah. Ia tahu itu. Itulah totokan "It-cie-sian" atau "Satu Jeriji" dari Hoa San Pay. Yang aneh adalah caranya Sin Cie berkelit, berputar-putar, demikian juga caranya dia kower emas untuk dilemparkan masuk ke dalam saku baju. Itulah pelajaran yang ia tidak pernah dapatkan dari gurunya.

"Tidak mungkin suhu sayangi ini murid bungsu dan karenanya dia diajarkan ilmu yang berbeda-beda," pikir ia. Itu adalah gerakan yang berlainan sekali dengan semua gerakan ilmu silat Hoa San Pay.

Hie Bin adalah yang merasa paling aneh, karena ia tidak sempat lihat bergeraknya tangan si anak muda, si paman cilik itu.

Dan Ceng Ceng dan Siauw Hui, mereka tertawa haha-hihi hingga mereka merasai perut mereka mulas tanpa sakit, saking lucunya pemandangan barusan itu.

Oey Cin ketek pula shuiphoa, terus dia kata: "Tadi telah dijanjikan, kalau tiga potong emas yang diinjak dan ditindih dapat digeser, semua emas itu akan dikembalikan kepada kami, maka itu di sini aku haturkan banyak-banyak terima kasih!" Ia terus saja beri hormat, lalu ia titahkan Hie Bin: "Punguti semua emas itu!"

Memang, selagi Sin Cie hendak layani Lu Jie Sianseng, semua potongan emas telah dikeluarkan dari dalam tangan bajunya.

Eng Cay saksikan Hie Bin hendak pungut uang, kedua matanya bersinar di antara berkilauannya emas itu. Mana ia rela membiarkan harta itu terjatuh ke dalam tangan lain orang? Maka ia maju untuk terus tolak tubuhnya Hie Bin, hingga dia ini mundur dengan sempoyongan.

"Eh, apa kau mau?" tanya Hie Bin, dengan gusar. "Apa kau juga hendak coba-coba?"

Menampak demikian, Oey Cin maju.

"Hie Bin, mundur!" ia serukan. Terus ia kasi hormat pada Eng Cay, pada siapa, sambil tertawa, ia bilang: "Selamat berbahagia! Tuan, tokomu itu apa mereknya? Tuan biasanya berdagang apa? Pasti sekali kau peroleh kemajuan hingga meluas keempat penjuru lautan dan hartamu berjumlah besar sampai memenuhi tiga sungai!"

Oey Cin ini memang asal saudagar, dia adalah seorang jenaka, maka itu sekalipun sedang menghadapi pertempuran, dia masih sempat ngoceh tidak keruan.

"Siapa bergurau denganmu?" Eng Cay membentak dengan murka. "Aku adalah Eng Cay, ketua dari Liong Yu Pang. Aku masih belum belajar kenal dengan she dan namamu, Tuan?"

"Sheku yang rendah ada Oey dan namaku melainkan satu huruf Cin," sahut toasuheng dari Sin Cie. "Itulah huruf Cin yang berarti 'tulen', tulen yang tidak ada keduanya. Harga barang-barangku adalah harga tetap tulen, hingga barang seharga satu tail tidak nanti aku jual dengan satu tail satu bun, sedang pembeli anak kecil dan tua, tidak nanti aku perdayakan! Tuan berdagang apa, sukakah kau membantu dengan berhubungan denganku?"

Eng Cay sebal dengan ocehan itu, ia jadi semakin mendongkol dan gusar.

"Ambil senjataku!" dia berseru kepada rombongannya.

Lantas salah satu orangnya bawakan tumbaknya yang besar, ia sambuti itu, untuk segera ditarik ke belakang, lalu diteruskan menikam orang di depannya.

Oey Cin lompat berkelit ke kiri.

"Ayo!" dia berseru. "Kami orang dagang, emas itu tak suka kami tidak mendapatkannya!"

Dia lantas simpan pesawat hitungnya, dia membungkuk akan punguti emas di lantai.

Ngo Couw insaf orang ini liehay dan Eng Cay bukan tandingannya, tetapi juga mereka tidak sudi kehilangan emas itu, maka Beng Gie dan Beng Go segera lompat maju ke dalam kalangan.

"Untuk punyakan uang tak demikian gampang!" mereka berseru.

Oey Cin lihat rangsekan hebat, sambil mendak, ia menggeser ke kanan, dari sini tangan kirinya dipakai menyerang dengan pukulannya "keng-tek-kwa-pian" atau "Ut-tie Kiong Menggantung Ruyung". Ini adalah serangan dari samping.

Serangannya Beng Gie dan Beng Go adalah turut runtunan Ngo-heng-tin. Mereka tampak bahaya, tidak ayal lagi, mereka mundur sendirinya. Tapi justru mereka mundur, Beng Tat dan Beng San menggantikan maju. Dengan tangan kanan, Beng San tangkis serangannya Oey Cin tadi, sedang Beng Tat hajar bebokong lawan.

Sejak Oey Cin keluar dari perguruan dan berkelana, belum pernah ia menemui tandingan yang liehay, dan walaupun ia suka bergurau, ia teliti dan hati-hati. Inilah sifatnya yang membikin ia belum pernah gagal. Barulah sekarang, menyerbu Ngo-heng-tin, ia menghadapi lawan-lawan yang tidak boleh dipandang ringan. Ia bisa egos tubuh dari serangan Beng Tat, atau kedua lawan itu mundur, lalu Beng Sie menyusul serang ia. Begitu selanjutnya, lima saudara itu maju dan mundur saling ganti, sebentar berdua, sebentar sendiri, hingga kendatipun mereka cuma berlima, gerakan mereka mirip dengan gerakan beberapa puluh orang.

Mau atau tidak, Tong-pit Thie-shuiphoa menjadi terkejut. Ia tidak mengerti, ilmu berkelahi cara apa itu yang lawan-lawannya gunai. Benar-benar serangan mereka, atau lebih benar pengurungan mereka, merupakan sebagai tin, barisan istimewa. Kalut serangan itu tapi rapi maju dan mundurnya.

Sesudah melayani sekian lama, tanpa ia bisa serang secara berarti kepada musuh­musuhnya, atau satu di antaranya, Oey Cin lantas ubah sikap. Ialah ia berlaku tenang, ia tempatkan diri di tengah. Ia sambut sesuatu serangan, tidak mau ia balas merangsak. Tentu saja, dengan begini, ia jadi kena dikurung.

Eng Cay girang sekali mendapati orang kena dikepung, cuma bisa beladiri, tidak bisa membalas. Ia anggap ini adalah ketikanya untuk ia turun tangan terlebih jauh. Maka ia tunggu saatnya, lalu ia menusuk dengan hebat dengan serbuan "Leng-coa-pok-kie", atau "Ular Menubruk", salah satu ilmu silat tumbak Yoo-kee-chio, ilmu tumbak keluarga Yo. Ia menikam bebokong.

"Oey supeh, awas!" berseru Siauw Hui, memperingati. Nona ini kaget atas bokongan itu.

Oey Cin adalah murid kepala dari Bok Jin Ceng, dia telah wariskan ilmu silat Hoa San Pay, coba lima saudara Oen tidak gunai Ngo-heng-tin, walaupun mereka mengepung berlima, tidak nanti mereka berhasil. Demikian pun bokongan Eng Cay, tak perduli dia menjadi ketua Liong Yu Pang.

Begitu lekas serangan sampai, mendadak Oey Cin putar tubuhnya, berbareng dengan itu, tangannya pun bergerak. Tepat sekali, tumbak kena ditangkis sambil terus dicekal. Itu adalah gerakan ilmu silat tangan kosong melawan senjata, yang sukar diyakinkannya, tapi Oey Cin telah berlatih beberapa puluh tahun. Maka begitu lekas dapat menyekal, dia terusi membetot tumbak itu. Berbareng membetot lawan, dia pun menoleh ke samping sambil dengan tangan kirinya menangkis serangan Beng San, sedang kaki kanannya digeser setengah tindak, guna menghindari jejakan Beng Gie, yang datang dari belakang.

Menyusul betotannya Oey Cin, Eng Cay terdengar menjerit keras. Dia tak mau lepaskan tumbaknya, maka itu tubuhnya kena terangkat naik, terlempar melewati kepala orang, terus jatuh terbanting di lantai. Akan tetapi jeritannya bukan disebabkan terbantingnya itu. Hanya selagi dia terbetot, ketika tubuhnya mendekati Oey Cin, lawannya ini lepaskan tumbak yang dicekal, pundaknya kiri dipakai menggempur iga kanan lawan hingga ketua Liong Yu Pang itu merasakan sakit hebat sampai ke sumsumnya.

Segera beberapa orang Liong Yu Pang maju untuk tolongi ketua itu.

Dalam rombongan Liong Yu Pang itu ada ketua mudanya, Bu-pangcu Khu Kak Lian, murid kepala Eng Cay yang bernama Bun Hoa dan murid kedua bernama Chio Thong Couw. Mereka ini jadi sangat gusar, hingga tanpa bilang suatu apa, mereka lompat menyerang.

Oey Cin layani tiga musuh baru itu, baru beberapa jurus, ia telah berhasil membanting mereka satu demi satu, malah Bun Hoa patah lengan kanannya, hingga dia terluka parah.

Setelah itu, tidak ada lagi orang Liong Yu Pang yang berani maju. Maka selanjutnya, Oey Cin terus melayani Ngo Couw dari Cio Liang Pay.

Pertempuran seru sekali, hingga keenam orang tertampak bagaikan bayangan saja yang saling sambar. Adakalanya Oey Cin dapat lolos dari kepungan atau segera ia terkurung pula, saking gesitnya kelima lawan, yang cara pengepungannya tak pernah menjadi rancu.

"Benar hebat," memikir Oey Cin akhirnya, sesudah lama juga ia berkelahi dengan tidak ada hasilnya. Tidak pernah ada satu di antara musuh yang dapat ia serang. Mau atau tidak, ia sibuk sendirinya.

Juga lima saudara Oen menjadi heran dan kagum. Tidak mereka sangka lawan ini, yang mirip dengan satu pedagang atau orang biasa saja, demikian liehay. Sudah dikepung hebat, pembelaannya tetap rapat dan rapi.

Selagi pertempuran berlangsung makin seru, Oey Cin lihat tegas cara penyerangan lawan­lawannya. Adakalanya seorang hendak menendang, atau mendadakan dia berkelit ke samping dari mana menyeranglah lain kawannya. Ada waktunya seorang mementang kedua tangan untuk rangkul dia, hingga dia mesti mundur, atau dari belakangnya, satu kaki mendupak dia!

Selagi penyerangan lawan jadi semakin hebat, macamnya serangan pun bertambah beraneka-warna, hal ini membuat ia jadi repot, maka untuk tidak menempuh bencana sia-sia, mendadakan ia keluarkan seruan panjang, kedua tangannya lantas keluarkan pit dan shuiphoa - Tong-pit Thie-shuiphoa. Di dalam hatinya dia pikir: "Kamu berlima, aku sendirian, tidak ada halangannya akan aku gunai senjata." Maka itu sekarang selagi menyerang, saban-saban ia cari jalan darah lawan-lawannya.

Belum terlalu lama, lima saudara Oen telah menjadi repot, maka mereka tidak sudi mensia-siakan tempo, dengan mendadak Oen Beng Tat berseru dengan suitannya.

Oen Cheng dan Oen Lam Yang mengerti tanda dari ketua itu, dengan bergantian mereka lempar-lemparkan gegamannya masing-masing ketua itu, yang menyambuti dengan baik, hingga selanjutnya mereka juga bersenjata semua. Hingga karena itu, golok kongtoo, ruyung joanpian, tongkat besi dan lainnya, saling sambar.

Pertempuran kali ini berlanjut tidak saja lebih seru malah terlebih berbahaya, sebab semuanya menyekal senjatanya masing-masing. Dari itu, para hadirin menjadi tercengang, mereka gembira tapi hati mereka berkedutan.

Cui Hie Bin sibuk bukan main melihat gurunya terancam bahaya kepungan yang sangat kuat itu, ia tahu ia tidak punya guna akan tetapi ia sayang sekali gurunya, maka dengan melupakan segala apa, ia berseru dengan putar goloknya, ia lompat, untuk menyerbu ke dalam Ngo-heng-tin. Ia baru loncat tiga tindak atau di depannya ada berkelebat satu bayangan, yang tangannya segera menekan pundaknya. Ia kaget, ia ayun goloknya, untuk membacok, tapi apa mau, tekanan orang itu begitu berat sehingga ia tak sanggup geraki pundaknya.

"Cui Toako, tak dapat kau pergi, sia-sia kau antarkan jiwamu!" demikian satu suara cegahan.

Kapan pemuda she Cui ini mengawasi, ia kenali Sin Cie sebagai penghalang itu. Tadi ia telah saksikan pemuda itu pecundangi Lu Jie Sianseng, masih ia kurang percaya akan kegagahan orang, tetapi sekarang barulah ia menginsafi tenaganya yang besar luar biasa. Tak dapat ia tak dengar kata lagi.

Sin Cie tarik pulang tangannya seraya terus berkata: "Jangan kau sibuk! Gurumu masih sanggup layani mereka!"

Lantas anak muda ini awasi pula pertempuran, sedang Hie Bin terpaksa berdiri melongo, untuk turut menonton terus.

Sin Cie perhatikan jalannya pertempuran tapi kadang-kadang ia dongak ke atas genteng, di waktu begitu agaknya dia berada dalam kesulitan pikiran.

Segera Siauw Hui datang mendekati.

"Engko Sin Cie, pergi tolongi Oey Supeh," kata nona ini. "Berlima mereka kepung satu orang, sungguh mereka tak tahu malu!"

Sin Cie tidak menjawab, dengan satu gerakan tangan, ia suruh nona itu mundur.

Siauw Hui tidak dapat muka, ia mundur dengan lesu.

Ceng Ceng saksikan lagaknya nona An itu, diam-diam ia bergirang.

Selama pertempuran berjalan dengan seru itu, Oey Cin tidak pernah berhasil dengan pitnya, dengan shuiphoanya, untuk menotok atau sambar senjatanya lawan. Malah senjata mereka tidak pernah bentrok satu dengan lain. Lima saudara itu singkirkan bentrokan, sebagaimana Oey Cin pun tak inginkan itu.

Lagi sesaat, sekonyong-konyong Sin Cie lompat menghampiri Siauw Hui.

"Adik Siauw Hui, maafkan perbuatan tadi," kata dia. "Tadi aku sedang memikirkan sesuatu. Sekarang aku berhasil memecahkan pikiranku itu."

"Di saat sebagai ini apa masih ada soal maaf?" jawab si nona. "Lekas kau pergi bantui Oey Supeh!"

Sin Cie tertawa. "Aku telah berhasil memecahkan pikiranku, aku tidak kuatir lagi!" katanya.

"Kau benar aneh! Kenapa kau tidak bedakan urusan enteng dan berat, penting dan tidak penting? Kalau ada kesukaran, apa kau tidak bisa tunggu sampai pertempuran sudah selesai baru kau memikirkannya pula?" tanya Siauw Hui.

Kembali Sin Cie tertawa. "Yang aku pikirkan justru ada soal pertempuran ini!" sahutnya. "Aku pikirkan bagaimana aku bisa pecahkan barisan Ngo-heng-tin ini. Apakah kau tidak dapat ingat atau lihat bagaimana senjata mereka tidak pernah bentrok satu pada lain?"

"Ya, aku pun herani itu," jawab Siauw Hui.

"Pokoknya tin mereka ada kecepatan," Sin Cie menjawab. "Sesuatu bentrok senjata berarti mensia-siakan tempo. Maka itu, untuk melawannya, guna memecahkan, kecepatan juga yang dibutuhkan. Kita mesti menangkan kecepatan mereka itu, baru kita akan berhasil."

"Mereka telah terlatih sempurna, mereka sangat gesit, bagaimana dapat kita lombainya?" tanyanya.

Sin Cie bersenyum. "Lihat saja, aku akan coba-coba!" sahutnya. Ia menoleh pada Siauw Hui dan berkata: "Coba pinjamkan aku tusukan rambutmu!" Siauw Hui loloskan tusukan rambutnya yang terbuat dari batu pualam dan serahkan itu. Sin Cie menyambuti, ia dapatkan satu tusuk konde yang bagus sekali. "Aku akan gunai tusuk konde ini untuk layani mereka," katanya.

Hie Bin dan Siauw Hui tertawa. Mereka anggap orang lagi main-main. Tidakkah tusukan batu kumala itu regas sekali, gampang patah? Bagaimana itu dapat dipakai sebagai alat-senjata? Sin Cie tidak ambil mumet dua orang itu terheran-heran, ia hanya awasi pertempuran, lalu ia teriaki Toa-suhengnya itu: "Toasuheng, sut-touw menciptakan it-bok, maka injaklah kian-kiong dan jalan di kam-wie!"

Itulah istilah-istilah dari Pat-kwa.

Oey Cin dengar itu, ia melengak sendirinya, tak dapat ia lantas mengerti itu. Tidak demikian dengan Un-sie Ngo Loo, lima ketua keluarga Oen itu, mereka ini terperanjat. "He, kenapa bocah itu bisa ketahui rahasia Ngo-heng-tin?" pikir mereka. Mereka anggap temponya terlalu singkat untuk menginsafi itu. Sin Cie tidak perdulikan kakak seperguruan itu mengerti atau tidak, kembali ia perdengarkan suaranya: "Toasuheng, phia-hoh menakluki khe-kim, maka jalanlah di Cin­kiong, keluar dari lie-wie!"

Selama pertempuran yang telah berjalan lama itu, Oey Cin pun gunai pikirannya, sebab ia dapat kenyataan, secara keras, secara halus, masih ia tak dapat pecahkan Ngo-heng-tin. Ia ingat lawan-lawannya kurung ia menuruti garis-garis Pat-kwa, akan tetapi beberapa kali ia sudah coba mendobrak, saban-saban ia gagal. Tapi setelah dengar suara suteenya yang kedua kali, ia pikir pula.

"Baik aku mencoba," ia ambil putusan. Ia lantas menunggu.

Sebentar kemudian, datanglah saat yang baik. Dengan tiba-tiba ia ambil jalan cin-kiong, untuk keluar dari lie-wie. Dan ia berhasil! Ia dapatkan satu lowongan! Segera ia hendak nyeplos. Mendadakan Sin Cie serukan pula: "Jalan ke kian-wie! Jalan ke kian-wie!"

Di kedudukan kian-wie itu ada menjaga dua saudara Oen, Beng San dan Beng Sie. Tapi Oey Cin percaya suteenya itu, ia tidak mau sia-siakan waktu, tanpa berpikir lagi, ia menerjang ke arah kian-wie itu.

Beng San dan Beng Sie baru menjaga, lantas mereka mesti pecah diri, untuk lowongan mereka diisi oleh Beng Tat dan Beng Go. Itu adalah menurut cara-cara kepungan mereka. Justru mereka hendak memecah diri, di saat itulah Oey Cin menerjang ke arah mereka. Maka itu, selagi lowongan sedang terbuka, Oey Cin geraki pitnya dan alat penghitungnya ke kiri dan kanan, untuk cegah dua saudara itu merintangi dia. Dia berlompat dengan luar biasa pesat, hingga tahu-tahu dia sudah lolos dari kurungan dan segera berdiri di damping Sin Cie!

Lima saudara Oen tercengang, lekas-lekas mereka undurkan diri, akan berdiri berbaris. Nampaknya mereka menyesal. Tapi Oen Beng Tat segera bicara.

"Kau bisa lolos dari Ngo-heng-tin, kepandaianmu bukan kepandaian sembarang," kata ketua Ngo-Couw dari Cio Liang Pay. "Apakah Tuan ada dari Hoa San Pay? Bagaimana Tuan membahasakannya terhadap Loocianpwee Bok Jin Ceng?"

Begitu lekas ia sudah merdeka, kumat pula kejenakaannya Oey Cin. Begitulah ia tertawa geli seorang diri.

"Bok Loocianpwee itu adalah guruku yang bijaksana," ia menyahut. "Kenapa? Apakah aku sebagai murid telah membuat malu kepada guruku itu?"

Beng Tat tidak gubris orang menggoda dia.

"Pantas, pantas!" katanya. "Memang aku telah lihat, ilmu silatmu ada dari Hoa San Pay."

Oey Cin tidak hiraukan pengutaraan itu. Dia kata: "Kita sudah bertempur! Kamu berlima telah kepung aku satu orang, aku tidak sanggup pukul rubuh kepadamu, kamu sendiri tidak mampu jambak kepadaku! Inilah dia yang dibilang cara berdagang yang maha adil, atau setengah kati itu ialah delapan tail! Sekarang bagaimana hendak diaturnya dengan emas ini?" Ia tidak tunggu jawabannya Ngo Couw, ia menoleh kepada Eng Cay ketua Liong Yu Pang dan kata: "Tuan saudagar, perhubungan dagang kita berdua sudah putus pembicaraannya, mengenai emas ini, bagianmu sudah tidak ada lagi!"

Eng Cay malu sekali, ia insaf tak dapat ia lawan dia itu, akan tetapi ia toh menyahuti: "Orang she Oey, jangan kau tekebur! Nanti datang satu hari yang kau toh bakal terjatuh dalam tanganku!"

Oey Cin tertawa, dia kata: "Jikalau di toko Tuan ada lain barang lagi, silakan berhubungan dengan tokoku, perkara rugi tidak menjadikan soal! Kita toh ada langganan-langganan lama! Perkara harganya barang, kita nanti boleh damaikan pula secara istimewa...."

Bukan kepalang mendongkolnya ketua Liong Yu Pang. Berkelahi dia kalah, adu mulut pun ia tak ungkulan, maka dengan terpaksa, ia ajak rombongannya ngeloyor pergi.

Rombongannya Beng Tat juga tidak perdulikan berlalunya orang-orang Liong Yu Pang itu, Beng Tat sendiri lantas kata kepada lawannya yang tangguh itu: "Melihat kepandaian kau, kau adalah seorang gagah dari jaman ini, maka mengenai emas ini, dengan memandang kepadamu aku hendak atur begini: Kami suka menyerahkannya separuh..."

Jago Cio Liang Pay ini takut juga terhadap Hoa San Pay, ia jadi tak ingin menambah musuh. Ia anggap pertimbangannya itu pantas.

Oey Cin tertawa.

"Coba uang ini ada kepunyaanku sendiri," jawabnya. "walaupun sekarang ada masa tidak aman dan mencari uang bukannya gampang, asal sahabat membutuhkannya, tak halangannya untuk diambil semua sekalipun. Akan tetapi aku harap Saudara mengetahuinya. Uang ini ada uang belanja tentaranya Giam Ong! Muridku yang tolol ini diberi tugas mengantarnya, emas itu kena diambil oleh orangmu, Saudara, maka kalau sekarang aku pulang dengan tidak bersama emas yang utuh, bagaimana aku dapat memberi tanggung-jawabnya?"

Belum lagi Beng Tat beri penyahutan, Beng Gie sudah tak dapat kendalikan diri.

"Untuk kembalikan emas kepadamu, itu pun boleh!" serunya dengan murka. "Tapi mesti dengan dua syarat!"

"Jikalau barang ada harganya, shuiphoa boleh dikeluarkan untuk menghitungnya," kata Oey Cin dengan tenang. "Bukankah segala apa dapat didamaikan? Bukankah tak ada halangannya untuk kita saling tawar dengan pelahan-lahan? Karena aku hendak membayar kontan, tolong kau sebutkan harganya, nanti kami timbang pula...."

"Tidak ada tawar-menawar lagi!" kata Beng Gie dengan sengit. "Syarat yang pertama, untuk mendapati emas ini, kamu mesti mengantar barang kepada kami. Tentang barang antarannya, banyak atau sedikit tidak menjadi soal. Inilah aturan kami, satu kali kami telah dapatkan suatu barang tak dapat itu dikembalikan secara gampang-gampang!"

Oey Cin bersenyum. Ia tahu inilah soal muka, soal kehormatan. Cio Liang Pay suka mengembalikan emas, itu artinya segala apa sudah beres. Maka tidak lagi ia hendak bersenda-gurau, sebaliknya, dengan sungguh-sungguh dia menyahuti: "Kalau Tuan-Tuan bilang demikian, dengan segala senang hati aku suka menerimanya. Besok pagi aku nanti pergi ke kota Kie-Ciu untuk membeli, mempersiapkan barang-barang persembahan itu, nanti aku sendiri yang mengantarkannya. Aku pun masih hendak sajikan beberapa meja hidangan untuk undang Tuan-Tuan serta beberapa saudara penduduk sini untuk menemaninya."

Mendengar itu, Beng Gie nampaknya puas.

"Baik!" berkata dia. "Sekarang syarat kedua. Bocah she Wan ini mesti ditinggalkan di sini!"

Oey Cin terkejut.

"Kamu sudi pulangi emas, aku berikan kamu muka terang," pikirnya. "Kenapa kamu hendak timbulkan urusan lain lagi?"

Toasuheng ini masih belum tahu jelas duduknya hubungan di antara keluarga Oen dan suteenya itu, perihal Kim Coa Long-kun dan Oen Gie. Sin Cie tahu rahasia orang, cara bagaimana dia bisa dilepaskan secara begitu saja? Adalah keinginannya Ngo Couw untuk binasakan pemuda ini, guna lampiaskan hati mereka. Terutama adalah keinginan Ngo Couw mendapati peta harta karunnya Kim Coa Long-kun, yang mereka sangka disimpan si anak muda. Dan mereka masih percaya, tidak perduli Sin Cie gagah, Ngo-heng-tin tentu bakal dapat rubuhkan padanya.

Itulah syarat yang hebat, tapi mendengar itu, Oey Cin tertawa.

"Suteeku ini ada seorang yang gembul sekali gegaresnya," berkata dia. "dengan kamu suka beri tempat dia di sini, itulah bagus sekali, hanya saja, nasi untuk satu tahun, dia bakal gegares habis dalam tempo enam bulan, aku kuatir Tuan-Tuan nanti rugi!...."

Hie Bin kenal baik tabiat gurunya, mendengar perkataan gurunya yang belakangan ini, ia percaya pertempuran bakal diulangi lagi, maka itu ia cekal keras-keras senjatanya. Dengan mata tajam ia pandang musuh.

Beng Tat tak perdulikan godaan itu, ia gusar.

"Saudara mudamu tadi ajarkan kau bagaimana harus loloskan diri dari Ngo-heng-tin," katanya sambil tertawa dingin. "Kelihatannya dia ketahui baik tentang tin kami ini, maka itu, baik kami undang dia untuk mencoba-coba kepandaiannya itu!"

Ketua Cio Liang Pay ini andali betul Ngo-heng-tin. Sebenarnya tin itu terdiri dari lima rintasan, tapi menghadapi Oey Cin, baru digunai sampai yang kedua, jadi masih ada tiga rintasan lainnya.

Oey Cin telah rasai hebatnya tin, maka ia pikir, "Aku dengan pengalamanku beberapa puluh tahun, tak dapat aku menoblos keluar, bagaimana lagi dengan suteeku ini? Benar dia dapat tunjuki jalan padaku tetapi dia hanya sebagai orang di luar kalangan, pikirannya tentu sehat, dia dapat melihat jalan. Kalau dia disuruh maju, aku kuatir dia gagal...."

Karena ini, ia jawab: "Ngo-heng-tin ada sangat liehay, barusan aku telah mengalaminya sendiri. Suteeku ini berumur tak setua cucumu, Tuan-Tuan, kenapa kamu hendak mempersulit dia? Umpama Tuan-Tuan tak puas terhadapnya, baik majukan siapa saja untuk ajar adat kepadanya!"

Oey Cin bicara mengalah tapi maksudnya justru berkeras. Ia percaya, jikalau satu lawan satu, Sin Cie tak akan dapat dikalahkan mereka berlima.

Oen Beng San tertawa dingin.

"Hoa San Pay sangat kenamaan, siapa tahu baru lihat Ngo-heng-tin yang tidak berarti, orangnya sudah ketakutan hingga dia umpatkan kepala dan sembunyikan ekor!" katanya. "Kalau begitu, sejak hari ini, apa Hoa San Pay masih bisa angkat namanya dalam dunia Kang-ouw?"

Hie Bin jadi sangat gusar, ia muncul tanpa perkenan.

"Siapa bilang Hoa San Pay jeri terhadapmu?" dia berteriak.

"Kalau demikian, kau saja yang maju!" Beng San mengejek sambil tertawa.

Hie Bin benar tidak tahu takut, dia hendak maju lebih jauh.

Sin Cie tarik keponakan-murid itu.

"Cui Toako, kasi aku yang maju lebih dahulu," paman cilik ini kata dengan pelahan, "apabila aku gagal, baru kau membantui..."

Hie Bin manggut. "Baik," jawabnya. "Begitu lekas kau membutuhkan bantuan, panggillah aku dengan namaku, aku akan lantas maju, tidak usah kau sebut-sebut Cui Toako atau Cui Jieko!"

Sin Cie bersenyum, ia manggut. Siauw Hui merasa lucu, dia tertawa geli.

"Eh, kau tertawakan apa?" Hie Bin menegur sambil melotot.

"Tidak apa-apa, aku merasa lucu sendiri," sahut si nona. Masih Hie Bin hendak menegasi, tapi Sin Cie sudah lompat ke depan, sebelah tangannya memegangi tusukan rambutnya Siauw Hui.

"Ngo-heng-tin dari Cio Liang Pay begini liehay tapi seumur hidupku belum pernah aku melihatnya!" kata dia.

"Pupukmu masih belum kering, kau tahu apa?" berseru Beng Gie. "Bagaimana kau bisa kenali Ngo-heng-tin kita?"

Sin Cie berlaku tenang. "Loo-ya-cu semua hendak menahan aku, inilah soal yang minta pun aku tak berani," katanya pula. "Baiklah, mari kita gunai ketika baik ini supaya aku bisa belajar kenal dengan keliehayan Ngo-heng-tin!"

"Hati-hati, Siauw-Susiok!" Hie Bin berteriak, memperingati. "Mana mereka kandung maksud baik!"

Sin Cie menoleh pada si semberono, ia tertawa. "Mereka orang-orang tua, tidak nanti mereka perdayakan kita anak-anak dengan usia muda!" katanya. "Jangan kuatir, Cui Toako!" ia terus menoleh kepada Ngo Couw, akan lanjuti: "Aku hendak maju sekarang, harap Looyacu semua menaruh belas kasihan..."

Orang-orang Cio Liang Pay heran. Dari kata-katanya, terang anak muda itu jeri, akan tetapi sikapnya sangat tenang, tindakannya pelahan dan tetap, tak tertampak roman kuatir atau bingung. Mereka jadi tak dapat menerka hati orang. Ngo Couw tahu orang liehay, mereka tidak berani memandang enteng. Dengan satu tanda gerakan tangan, mereka mulai bersiap. Beng Gie dan Beng San mencelat ke kanan, ketiga saudaranya turut, akan ambil kedudukannya masing-masing, maka sebentar saja, si anak muda sudah dikurung.

Sin Cie bawa sikap seperti ia tidak engah, dia malah memberi hormat ketika dia tanya:
"Apakah kita orang main-main di lantai datar?"

"Ya, tak usah di panggung Bwee-hoa-chung lagi!" sahut Beng Tat. "Kau keluarkan senjatamu!"

Sin Cie perlihatkan tusuk kondenya.

"Tuan-Tuan ada dari angkatan tua, aku yang muda mana berani berbuat tidak hormat dengan menggunai senjata tajam?" katanya. "Dengan kumala ini saja aku mohon pengajaran dari kamu semua!"

Kata-kata ini membuat semua orang, sahabat dan lawan, menjadi heran. Ada yang anggap anak muda ini sangat tekebur. Apa artinya sebatang tusuk konde? Kebentur sedikit saja tentu bakal patah! Bagaimana itu bisa diadu dengan senjata Ngo Couw?

Oey Cin berdiam sedari tadi. Ia tahu, percuma saja ia turut bicara. Diam-diam ia siapkan kedua rupa senjatanya, untuk menolong di saat sutee itu terancam bahaya. Pada Hie Bin dan Siauw Hui ia beri kisikan: "Musuh kita terlalu kuat, jumlah kita juga terlalu sedikit, apabila sebentar aku beri tanda, kamu mesti loncat naik ke atas genteng untuk menyingkir, aku dan Wan Sutee akan memegat di belakang. Tidak perduli kami berdua menghadapi ancaman hebat, jangan kamu bantu kami!"

Dua orang yang dipesan itu berikan janji mereka.

Oey Cin memesan demikian untuk lindungi dua anak muda itu, supaya mereka pun tidak merintangi ia dan suteenya itu. Ia percaya, ia dan sang sutee pasti dapat loloskan diri andaikata mereka menghadapi bahaya. Dia juga memikir, andaikata dia gagal mendapat pulang emas itu, di lain hari dia akan kembali bersama lebih banyak pembantu, ialah jie­suteenya, Poan-sek-san-long Kwie Sin Sie suami-isteri, sahabatnya, Pouw Sian Taysu dari kuil Hoa Giam Sie di Hoopak, dan gurunya, Bok Jin Ceng, atau Bhok Siang Toojin. Asal seorang tandingi satu orang, lima saudara Oen itu tentu mati daya, Ngo-heng-tin akan pecah. Nampaknya Oey Cin lucu, sebenarnya dia bisa berpikir jauh. Dia tak pilih Sin Cie sebab dia kuatir sutee ini kurang latihan.

Walaupun semua sudah siap sedia, Sin Cie masih kata pada lima jago keluarga Oen itu: "Looyacu semua sudi beri pengajaran padaku, kenapa masih ada yang ditahan, sehingga aku merasa tin ini belum lengkap?"

Beng Tat heran.

"Apakah yang kurang lengkap?" tanya dia.

"Di sebelah Ngo-heng-tin, masih ada barisan pembantu sebelah luar yaitu Pat-kwa-tin." sahut Sin Cie. "Kenapa Pat-kwa-tin juga tidak diatur sekalian, supaya aku bisa menambah puas pemandangan mataku?"

Beng Gie lantas saja membentak: "Inilah kau yang mengatakannya, maka kalau sebentar kau mati jangan kau menyesal!" Terus dia berpaling pada Oen Lam Yang: "Lam Yang, mari maju semua!"

Oen Lam Yang ada ketua dari angkatan kedua dari Cio Liang Pay, dengan suatu tanda, muncullah lima-belas kawannya yang tadi disiapkan untuk kepung Sin Cie.

Oey Cin lihat rombongan itu terdiri dari lelaki dan perempuan, di antaranya ada dua pendeta. Mereka semua mengatur diri di sebelah belakang Ngo Couw, mereka bergerak­gerak, berputar-putar, gerakan mereka semua beres dan rapi, sehingga Oey Cin yang luas pengalamannya jadi heran dan kagum. Orang berlari-lari tetapi tidak terdengar suara tindakan mereka.

"Wan Sutee tidak tahu urusan," pikir toasuheng ini. "Dengan dia layani Ngo Couw saja, umpama ia terancam, aku bisa nyerbu untuk menolongi, sekarang barisan ditambah dengan lapis yang kedua, dengan jumlah sampai enam-belas orang, mana ada lowongan lagi untuk menerjang masuk? Jangan-jangan seekor lalat juga sukar molos...."

Suheng ini terus berdiam, ia terbenam dalam keragu-raguan.

Sin Cie di dalam kurungan tetap berlaku tenang. Ia jepit tusuk konde kumala dengan jempol dan jeriji tengah kanan, tangan kirinya diangsurkan ke depan, ia pasang kuda-kuda dengan kaki kiri di depan, setelah itu, ia geraki tubuhnya lebih jauh, akan lari berputaran, setelah empat atau lima balik, ia teruskan.

Ngo Couw juga lantas bersiap, semua mata mereka dipakai mengawasi anak muda dalam kurungan itu.

Sin Cie berputaran saja, ia tidak lantas menyerang.

Ketika dahulu Kim Coa Long-kun lolos dari tangannya Ngo Couw dari Cio Liang Pay ia keram diri di dalam guanya, setiap saat, setiap waktu, ia asah otak memikiri jalan untuk pecahkan Pat-kwa Ngo-heng-tin. Ia tidak mengerti, kenapa kurungan Ngo-heng-tin tidak dapat digempur, dan asal yang satu bergerak, empat yang lainnya lantas menyusul, menyusul tak hentinya, sampai lawan sudah kena dirubuhkan. Beberapa tahun telah dilewati, hasilnya tetap tidak ada, jalan tidak didapati.

Pada suatu pagi Kim Coa Long-kun mencari hawa di puncak Hoa San, tiba-tiba ia lihat seekor ular merayap berliku-liku, kapan binatang itu dengar tindakan orang, dia berhenti berjalan, dia melingkar, kepalanya diangkat. Itulah kebiasaan ular, untuk bersiap melawan atau menyerang musuh, tanpa diserang lebih dahulu, ia tidak akan mendahului.

Tiba-tiba saja, Kim Coa Long-kun sadar. Inilah caranya untuk pecahkan Ngo-heng-tin! Sehingga bukan main girangnya dia. Itulah gerakan: "Bergerak belakangan, menindas lawan". Ia lantas pulang, kembali ia asah otak. Ia gunai tempo satu bulan, baru ia insyaf kelemahan Ngo-heng-tin, dan bagaimana caranya harus menerjang pecah. Semua ini lantas dicatat dalam Kim Coa Pit Kip, sebab walaupun ia telah dapatkan rahasia itu, ia sendiri tak dapat menuntut balas. Dengan urat-uratnya telah dibikin putus, ia tidak bisa bersilat lagi seperti dulu. Ia sukar percaya akan ada orang yang nanti dapatkan kitabnya ini atau umpama kata itu diketemukan seratus tahun atau seribu tahun kemudian, pasti Ngo Couw sudah lama mati dan tulang-tulangnya telah lebur menjadi tanah. Biar bagaimana, ia pun masih mengharap-harap. Jikalau Ngo-heng-tin tidak terpecahkan, pasti Ngo Couw akan menjagoi untuk selama-lamanya, sedang mereka ada orang-orang jahat.

Sekarang Sin Cie hendak gunai daya "bergerak belakangan, menindas lawan" itu, maka itu, ia melanjuti berputaran terus, tidak henti-hentinya, sehingga semua lawannya turuti ia berputar-putar juga akan awasi dia.

Dari bergerak pelahan pada mulanya, anak muda ini bergerak pesat, setelah sekian lama, ia mulai jadi pelahan pula, jadi kendor, selama itu tetap tidak terlihat sikapnya hendak mulai menerjang. Sebaliknya, dia lantas berhenti berputaran, dia duduk, kedua tangannya dikasih turun ke dengkul, tubuhnya diam, cuma tampangnya berseri-seri.

Semua orang menjadi heran. Pihak Oen tidak tahu, inilah tipu-daya, guna mengabaikan penjagaan lawan, untuk bikin lawan habis sabar.

Benar saja, Oen Beng Gie tidak puas, sehingga ia geraki kedua tangannya untuk menyerang. Ia berada di belakang Sin Cie, ia bisa membokong si anak muda.

"Jieko, jangan bikin kacau tin!" Beng Go cegah kandanya itu.

Beng Gie dapat dicegah, maka itu, berlima mereka masih berputaran, selalu siap-sedia untuk menerjang begitu lekas lawan bergerak.

Belum lama dia duduk diam, Sin Cie menguap, terus ia rebahkan diri, tidur celentang, kedua tangannya ditekuk, dipakai sebagai bantal, untuk mengalaskan kepalanya.

Ngo Couw masih terus berputaran, meskipun mereka merasa aneh. Mereka jadi bertambah waspada. Mereka mau menyangka, anak muda itu bakal gunai entah akal apa.

Di sebelah belakang, enam belas orang di bawah pimpinannya Oen Lam Yang turut bergerak-gerak terus juga, akan tetapi mereka tak seulet lima ketua mereka, sesudah lewat banyak tempo beberapa di antara mereka jadi letih, keringat mereka mengucur keluar, napas mereka mengorong.

"Aku hendak lihat, Tua-Bangka, sampai kapan kamu dapat bersabar," kata Sin Cie dalam hatinya, mendapati tidak ada orang yang hendak serang ia. Selagi rebah, ia curi lihat gerakan lawan.

Mendadak anak muda ini membalik tubuh, sehingga ia jadi rebah tengkurap, kedua tangannya ketindihan tubuhnya. Kemudian lagi, terdengarlah suara menggerosnya, sebagai tanda bahwa ia ketiduran, tidur pulas.

Inilah kejadian aneh dalam medan pertempuran. Ini pun lucu. Hie Bin, Siauw Hui, Ceng Ceng, dan Oen Gie juga, hampir tertawa, tapi juga hati mereka kebat-kebit, saking kuatir. Umpamanya Ngo Couw menyerang, celakalah anak muda itu, yang memasang bebokong.

Cuma Oey Cin yang mengerti sutee itu sedang uji kesabarannya lawan, untuk pancing lawan itu, meski begitu, ia juga berkuatir untuk nyali besar dari sutee itu. Itulah keberanian melewati batas. Apabila serangan datang, bagaimana itu dapat dielakkan?

Benar-benar Beng Tat tidak bersabar lagi, ia hendak gunai ketikanya yang baik ini. Begitu lekas ia memberi tanda, dengan tangan kiri dikibaskan ke kanan, menyambarlah empat batang hui-too dari Beng Sie, adiknya yang ketiga. Empat hui-too itu terbang menyambar ke bebokong Sin Cie.

Semua orang pihak si anak muda terperanjat, malah ketika empat hui-too mengenai sasarannya, Oen Gie tutupi muka, hatinya mencelos.

Di pihak Oen, semua orang bergirang, ada yang bersorak, sehingga dari enam-belas anggauta Pat-kwa-tin, tujuh atau delapan antaranya berhenti berputaran.

Justru di saat itu, dengan sekonyong-konyong tubuhnya Sin Cie mencelat bangun, empat golok terbang di belakangnya meluruk jatuh ke lantai, kemudian terlihat tubuhnya melesat, melewati sela-sela lima saudara Oen, selagi mereka ini mengawasi dengan heran kepada bekerjanya hui-too yang memberi akibat luar biasa itu. Tahu-tahu Sin Cie telah sampai di belakang Oen Lam Yang, bebokong siapa ia tepuk keras sehingga menerbitkan suara nyaring, atas mana orang she Oen itu berteriak-teriak segera dia muntahkan darah hidup, belum sempat dia tahu apa-apa, tubuhnya disambar si anak muda, diangkat, dilempar ke dalam Ngo-heng-tin!


Setelah ini, Sin Cie tidak hentikan gerakannya. Selagi lima-belas orang Pat-kwa-tin bingung, ia serang mereka satu demi satu, dengan kepalan, dengan tendangan, dengan totokan juga, dan setiap korbannya, tubuhnya ia sambar, ia balingkan ke dalam tin.

Oen Cheng dan beberapa orang lagi mempunyai bugee cukup baik tapi baru dua-tiga gebrak, mereka pun kena dirubuhkan dan dilemparkan, sehingga di dalam tin, bukan musuh yang terkurung, tetapi orang sendiri yang rebah malang-melintang. Secara begitu, Pat-kwa-tin telah terpukul pecah, tidak terkecuali Ngo-heng-tin sendiri.

Selama keadaan kacau itu, lima saudara Oen pun repot, akan tanggapi orang-orangnya, yang dilempar-lemparkan ke arah mereka. Waktu yang baik itu digunai Sin Cie untuk lompat maju akan totok Oen Beng Sie, siapa kecuali sedang repot juga masih terheran­heran karena golok terbangnya tidak membinasakan lawan, sehingga hatinya ciut sendirinya. Tapi sekarang ia diserang, dengan sebat ia memapaki lawan dengan empat buah goloknya yang liehay, yang menjurus ke arah dada.

Sin Cie tidak perdulikan datangnya empat hui-too, ia tidak berkelit, malah ia antapkan dadanya terbuka, tangannya lurus ke depan, tiga jarinya menjuju tenggorokannya penyerang dengan hui-too itu, benar selagi golok-golok terbang mengenai sasaran dan jatuh sendirinya, jerijinya mengenai jalan darah soan-kie-hiat sehingga lawannya rubuh.

Oen Beng San lihat saudaranya terancam bahaya, ia hendak menolongi, ia menyerang dengan tongkatnya ke arah kempolan kanan.

Sin Cie lihat tongkat menyambar, ia tertawa dan berkata: "Tongkat ini sudah dibuang tetapi sekarang diambil pula!" Selagi mulut bersuara, tangannya tidak diam saja, ia maju akan sambar tubuhnya satu kawannya Lam Yang, akan pakai tubuhnya dia ini akan papaki tongkat!

Beng San anggap lawannya tidak bisa menyingkir lagi, maka itu ia terperanjat melihat ia ditangkis dengan orangnya sendiri, syukur ia masih keburu menarik pulang tongkatnya itu, serta buang dengan kaget ke samping, di mana ada Beng Tat.

"Toako, awas!" ia berseru.

Beng Tat lihat sambaran tongkat adiknya, ia menangkis dengan sepasang tumbak pendeknya, sehingga kedua senjata bentrok keras dan menerbitkan lelatu api!

Selagi dua saudara itu repot sendirinya, Sin Cie menerjang Beng Go, mulanya tangannya yang kiri menyambar, lalu menyusul tangan kanannya, dengan tusuk konde kumala, ia arah kedua matanya musuh itu.

Beng Go mundur, dengan cambuk kulitnya, ia lindungi diri; ia sudah mesti lantas menangkis berulang-ulang, sebab serangannya si anak muda saling susul, karena ia lantas didesak keras. Ia sibuk melihat cahaya kumala berkeredepan, baru sekarang ia mengerti liehaynya senjata istimewa itu, yang seperti tak hendak berpisah dari kedua matanya.

Dua kali ujung tusuk konde sudah mengenai kulit mata, untung karena sebatnya dia berkelit, Oen Beng Go masih bisa hindarkan bahaya, akan tetapi karenanya, semangatnya hampir terbang pergi. Dalam ancaman bahaya itu, ia tidak sempat menyingkir, ia terlalu repot dengan dayanya melindungi matanya itu. Maka akhir-akhirnya, tusukan mengenai juga matanya, tidak perduli ia coba egoskan kepala itu. Ia lepaskan cambuk kulitnya, ia tutup matanya dengan kedua tangannya. Baru sekarang ia jatuhkan diri, untuk menyingkir sambil bergulingan, akan tetapi jari tangannya si anak muda toh telah keburu mampir di belakangnya, sehingga ia lantas rubuh tak berkutik lagi.
Thanks for reading PEDANG ULAR MAS 13

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar