Jilid 14
Ngo Couw yang kelima ini ada sangat kenamaan, dengan cambuk kulit itu, di waktu bertempur di atas luitay di Un-Ciu, dengan beruntun dia telah rubuhkan dua-belas orang kosen dari Ciatkang, sehingga untuk beberapa puluh tahun, orang malui ia. Apa lacur, sekali ini ia jatuh merek di tangannya seorang anak muda sehingga selain ia sendiri malu, para penonton pun heran dan kaget sekali.
Oey Cin tidak menjadi kecuali, dia heran melihat liehaynya sutee ini. Itulah gerakan tangan yang ia belum pernah lihat. Ia merasa, sekalipun di saat mudanya guru mereka, masih guru itu tak bisa bersilat seperti anak muda ini. Ilmu silat apakah itu? Dari mana sutee ini dapat pelajarinya?
Hie Bin ada begitu girang sehingga ia bersorak sendirinya.
Siauw Hui, yang pun bergirang, cuma bersenyum.
Oen Gie dan Ceng Ceng bergirang dalam hati saja. Sudah terlalu lama mereka dikekang sehingga tak berani mereka sembarangan perlihatkan wajah kegirangan.
Untuk Sin Cie, inilah pertempuran pertama melayani orang-orang kenamaan, ia empos semangatnya, ia berlaku sungguh-sungguh. Ia pun tidak main pandang-pandang lagi. Maka itu dengan tangan kiri ia mainkan tipu-tipu daya dari Hok-houw-ciang, Tangan Menakluki Harimau dari Hoa San Pay, dengan tangan kanan ia bersilat dengan gerakgerakan "Kim-coa-ciam", "Jarum ular emas", dari Kim Coa Pit Kip. Yang pertama adalah pelajaran Pat-chiu Sian-wan Bok Jin Ceng si Lutung Sakti Tangan Delapan, yang belakangan adalah dari Kim Coa Long Kun Hee Soat Gie, hingga umpama kata kedua orang liehay itu hadir bersama, mereka juga cuma mengenali separuh saja. Maka tidaklah heran apabila Ngo Couw dari Cio Liang Pay kena dibikin terbenam dalam keheranan.
Sehabis merubuhkan Oen Beng Go, Sin Cie lantas terjang Oen Beng Gie. Ia gunai siasatnya yang tadi, akan tetap serang satu lawan, akan bulang-balingkan tusukan rambut di matanya lawan itu, yang saban-saban ia tusuk, sehingga Ngo Couw yang kedua lantas saja jadi repot seperti adiknya tadi.
Oen Beng Tat saksikan ancaman bahaya itu, mendadak ia berseru nyaring, lantas ia tolak terpelanting satu muridnya yang ada di depannya, sehingga si murid keluar dari kalangan, sedang Oen Beng San, yang mengerti maksud kanda tua itu, gunai kakinya akan dupak dan sempar sesuatu orangnya yang bergeletakan di lantai. Dengan tindakan ini, mereka bikin lantai bersih dari segala perintang, secara begitu, hendak mereka lanjutkan kepungannya menurut gerak-gerakan Ngo-heng-tin, tidak perduli jumlah mereka sudah kurang dua.
Sin Cie lanjuti desakannya terhadap Oen Beng Gie, tidak pernah ia hendak memberi kelonggaran, secara begini tetap tidak berjalan lancarlah Ngo-heng-tin itu. Selagi Beng Tat dan dua saudaranya bingung, Beng Gie sudah kena dihajar pundak kirinya.
Oen Beng San hendak tolong kakaknya itu, dengan tongkatnya, dengan serangan "Lie-Kong-shia-cio" atau "Lie Kong Memanah Batu", ia menghajar ke arah bebokong. Berbareng dengan dia, Oen Beng Tat dengan sepasang siang-kek, tumbak cagaknya, menyerang ke kiri dan kanan lawan. Beng Gie sendiri, dengan menahan sakit mencoba melayani terus, tak ingin dia bikin kacau gaya tinnya.
Sin Cie berkelit dari bokongan kedua lawan di belakang dan sampingnya itu, ia masih mendesak Beng Gie, tapi karena musuh-musuh geraki Ngo-heng-tin, ia kembali tunjuki kegesitannya, kelincahannya. Ia senantiasa mengegos tubuh, berkelebatan sana dan sini, sampai mendadak ia apungi tubuhnya itu, mencelat tinggi, tusukan rambutnya diselipkan di kepalanya, sebelah tangannya dipakai menjambret penglari di mana ia bergelantungan.
Tiga jago dari Cio Liang Pay lagi mengepung dengan seru apabila mereka dapati lawan hilang dalam sekejab, hingga mereka jadi sangat heran. Sama sekali mereka tak tampak tubuh lawan itu mencelat ke tinggi. Justru itu, sekonyong-konyong ada angin menyambar di atas kepala mereka, sehingga mereka terperanjat, sebab mereka duga, itulah bukan angin sembarangan. Mereka lantas geraki tubuh, untuk berkelit, tapi sudah kasep, dua-dua Beng San dan Beng Gie telah terkena timpukan, keduanya rubuh rebah di lantai tanpa berkutik.
Beng Tat loncat kepada ketiga saudaranya, terus ia membungkuk. Ia niat tolong mereka itu, yang terserang jalan darahnya. Selagi ia membungkuk serangan datang pula. Ia ada dari Cio Liang Pay, ia liehay sekali, maka dengan putar sepasang tumbak cagaknya di atasan kepalanya, ia cegah biji-biji catur mengenai tubuhnya. Begitulah belasan biji catur kena disampok jatuh, hingga menerbitkan suara tingtong-tingtong. Ia putar terus siangkeknya, sebab ia kuatir lawannya melanjuti menyerang ia dengan senjata rahasia yang istimewa itu.
Selagi ketua Ngo Couw ini geraki siangkeknya itu, mendadak ia dengar seruan kaget pada pihaknya, lalu ia rasai tangannya tergetar, sepasang tumbaknya seperti tertahan atau tersangkut entah barang apa. Ia pun menjadi kaget, dengan segera ia kerahkan tenaganya, untuk menarik dengan keras. Justru ia berbuat demikian, justru siangkek itu terlepas dari cekalannya. Maka berbareng kaget, ia lompat ke samping hingga tiga tindak, kedua tangannya dipakai melindungi mukanya.
Ternyata siangkek bukannya terlepas terlempar hanya pindah ke dalam tangannya Sin Cie, yang telah lompat turun dari penglari selagi jago tua itu repot membela diri. Dengan ayun kedua siangkek dengan kedua tangannya, anak muda itu berseru: "Lihat!"
Sekejab saja, kedua tumbak cagak melesat, ke arah kedua tiang yang besar di dalam lian-bu-thia itu, nancap melesak hampir separuhnya, hingga kedua tiang tergentar, sampai genteng-genteng di atasnya bersuara berkresekan, hingga beberapa orang yang berdiri di pintu lari keluar, mereka kuatir ruang itu rubuh ambruk...
Ketika dahulu Bok Jin Ceng ajarkan Sin Cie ilmu pedang, dia pernah menimpuk dengan pedang sampai pedangnya masuk nancap ke dalam batang pohon. Itulah ilmu pedang yang Bhok Siang Toojin puji tak ada tandingannya. Dan sekarang ini, Sin Cie perlihatkan kepandaiannya itu, melainkan ia tak gunai pedang hanya tumbak cagak.
Oey Cin kenal baik ilmu pedang itu, dia begitu kagum hingga dia serukan: "Wan Sutee, sungguh sempurna timpukanmu "Sin Liong Hoan Bwee!" (Naga Sakti Perlihatkan Ekor)."
Sin Cie menoleh, sambil tertawa.
Beng Tat sendiri berdiri tercengang, karena di hadapannya, empat saudaranya sudah rebah tidak berdaya.
Sin Cie bertindak menghampirkan suhengnya, ia cabut tusukan rambut dari kepalanya, untuk dikembalikan kepada Siauw Hui, siapa menyambutinya dengan girang sekali.
Oen Beng Tat tidak berdiam lama-lama. Cio Liang Pay yang demikian kesohor, sekarang runtuh di tangannya satu bocah. Sekejab saja, ia niat berlaku nekat, dengan benturkan kepala ke tiang rumah, akan tetapi sekejab kemudian ia berpikir lain.
"Aku sudah berusia lanjut, tak dapat aku membalas sakit hati ini," pikirnya, "akan tetapi selama masih ada secarik napasku, pastilah aku tak mau sudah saja!...."
Maka itu, ia lantas hadapi Oey Cin.
"Semua emas di sana, kamu boleh ambil dan bawa pergi!" katanya.
Mendengar perkataannya orang tua itu, tanpa tunggu ulangan lagi, Hie Bin maju akan jumputi semua potongan emas, untuk dimasuki ke dalam kantong kulitnya, perbuatannya itu diawasi oleh beberapa puluh orang-orang Cio Liang Pay, tak satu di antaranya berani maju mencegah. Karena Sin Cie telah bikin mereka tunduk, semangat mereka gempur.
Oen Beng Tat hampirkan Beng Gie, dia ini rebah tanpa bisa bergerak sedikit juga, kecuali matanya yang masih bisa berjelilatan. Sebagai ahli tiam-hiat, tukang totok jalan darah, ia segera totok jalan darah "in-thay-hiat" dari adik itu, lalu ia mengurut-urut. Akan tetapi tak dapat ia sadarkan saudaranya itu, walau ia sudah ulangi percobaannya menolongi lagi. Ia jadi heran sekali.
Kemudian Beng Go, Beng San dan Beng Sie pun didekati, untuk ditolong, akan tetapi totokannya, urutannya terhadap tiga saudara itu, tidak memberikan hasil seperti terhadap Beng Gie. Maka sekarang insyaflah ia, totokannya Sin Cie adalah dari lain golongan, yang beda daripada kebisaannya sendiri. Ia pikir untuk minta tolong Sin Cie tetapi ia segan membuka mulut, dari itu dengan terpaksa, ia menoleh pada Ceng Ceng, ia memberi tanda dengan gerakan bibir.
Ceng Ceng bisa duga, toa-yaya itu mohon ia mintakan pertolongannya Sin Cie, tetapi ia berpura-pura tidak mengerti.
"Toa-yaya memanggil aku?" ia tanya, ia menegasi.
"Setan alas, kacung licin!" Beng Tat mendamprat dalam hati, ia mendongkol bukan kepalang. "Sampai di saat ini, kau masih main gila terhadapku! Kau lihat, habis ini, aku nanti hukum kamu ibu dan anak!" Sambil kertak gigi, ia terpaksa kata: "Kau harus minta dia sadarkan keempat yayamu..."
Ceng Ceng lantas hampirkan Sin Cie, ia memberi hormat, lalu dengan suara nyaring , ia kata pada anak muda itu: "Toayayaku mohon kau suka sadarkan empat yayaku itu!"
"Baiklah," jawab Sin Cie tanpa berpikir pula. Dan lantas ia bertindak maju. Benar sedangnya ia hendak membungkuk, kupingnya dengar ketikan shuiphoa dari toasuhengnya yang terus kata padanya:
"Wan Sutee, benar-benar kau tidak mengerti barang sedikit juga kitab ilmu dagang! Saat ini ada saatnya harga barang bisa dikasi naik, kenapa kau tidak hendak gunai ketika menaikinya? Coba kau menghitung.... Jangan kuatir kau menyebutkan harga berapa juga, orang toh bakal memakannya!"
Sin Cie tahu, toasuheng itu sangat jemu terhadap Cio Liang Pay dan sekarang saudara ini hendak lampiaskan hatinya, walaupun ia kurang setuju, akan tetapi di mana toasuheng itu ada beserta, ia mesti beri kemerdekaan kepada toasuheng itu.
"Baiklah Toasuheng, aku turut kau," ia bilang. Ia batal menotok sadar empat korbannya itu.
"Keluarga Oen ini, di tempat kediamannya ini, telah menganggu sangat pada sesama penduduknya," Oey Cin lantas berkata, "mereka melepas hutang dengan bunga berat, mereka memeras juga. Di empat dusun dari Kie-Ciu ini, suara penasaran memenuhi jalanan! Selama dua hari ini aku telah bikin penyelidikan dengan jelas sekali. Maka itu Wan Sutee, jikalau kau hendak obati orang, kau mesti minta ang-tiap berisi. Tentu sekali, jumlah uang itu kita sendiri tidak inginkan, aku hanya hendak gunai itu untuk tolong penduduk sini yang pernah dan sedang menderita karena keluarga Oen ini!"
Sin Cie percaya perkataannya sang toasuheng mengenai kejahatannya keluarga Oen, ia sendiri telah membuktikannya di saat pertama kali ia sampai di Cio-liang. Tidak ada orang yang sudi berikan ia keterangan waktu ia tanyakan alamatnya keluarga itu, agaknya semua orang sangat jemu dan jeri. Ia juga telah saksikan bagaimana Oen Cheng labrak orang-orang yang minta keadilan dari pihak mereka.
"Benar, Toasuheng!" sahutnya, yang hatinya tergerak. "Memang penduduk sini telah menderita sangat. Bagaimana Suheng hendak berbuat?"
Oey Cin mengetik atas biji-biji shuiphoanya, yang dikasi turun dan naik, mulutnya pun mengoceh: "Liok siang it kie ngo cin it, sam it sam sip it, jie it tiam cok ngo," demikian seterusnya.
Siauw Hui rupanya telah biasa dengan lagak lagunya supeh itu, ia melainkan bersenyum, tidak demikian dengan Sin Cie yang baru pertama kali ia bertemu suhengnya, walau ia merasa lucu, ia diam saja. Adalah pihak Cio Liang Pay, yang jadi sangat mendongkol, kemendongkolan mana tak dapat mereka lampiaskan.
Ceng Ceng adalah satu kecuali, meski juga ia ada anggauta asli dari keluarga Oen, ia sampai tertawa cekikikan.
Oey Cin telah habis mengitung, ia goyang kepalanya.
"Wan Sutee, aku telah hitung uang pengobatanmu," katanya. "Menolong satu jiwa, ongkosnya empat-ratus pikul beras putih."
"Empat ratus pikul?" Sin Cie tegasi.
"Tidak salah! Empat ratus pikul beras putih nomor satu yang mulus, tidak boleh kecampuran kendati juga sebutir pasir dan sepotong pesak hancur, dan dacinnya, gantangnya, batoknya, tidak boleh ada yang dipalsukan!" suheng itu beri kepastian. Ia bicara tanpa perdulikan Beng Tat setuju atau tidak, senang atau tidak.
"Di sini ada empat orang, maka jumlah semua jadi seribu enam ratus pikul?" Sin Cie tegaskan pula.
Oey Cin tertawa.
"Wan Sutee, kau pandai menghitung di dalam hati!" kata dia. "Kau menghitung tanpa pakai shuiphoa, kau bisa lantas menjumlahkan, seorang empat ratus pikul, empat orang jadi seribu enam ratus pikul."
Mendengar kata guru itu, Hie Bin kata dalam hatinya: "Apanya yang aneh? Aku juga bisa menjumlahkan itu tanpa pakai pesawat hitung lagi!"
Si semberono ini tidak tahu gurunya lagi bergurau.
Kemudian Oey Cin awasi Beng Tat dan kata pada jago tua itu: "Besok pagi kau sediakan itu beras seribu enam ratus pikul, aku ingin bagi-bagikan itu kepada penduduk sekitar sini, satu orangnya satu gantang. Begitu lekas kau telah sediakan cukup seribu enam ratus pikul maka suteeku ini bakal bikin sadar empat adikmu itu!"
Di sini tidak ada perdamaian lagi dan Beng Tat cuma tahu menurut.
"Dalam tempo begini pendek bagaimana bisa dikumpulkan beras demikian banyak?" berkata ketua Cio Liang Pay itu. "Semua persediaan di dalam rumahku juga tak lebih dari tujuh atau delapan puluh pikul."
"Ongkos pemeriksaan penyakit sudah ditetapkan, pemotongan harga tidak dapat diberikan," Oey Cin bilang. "Akan tetapi aku suka memandang kepadamu, aku suka beri keringanan ialah pembayaran dengan angsuran. Begini, asal kau selesai membagi empat ratus pikul, kami tolong satu orang, kau membagi sampai delapan ratus pikul, kami tolongi orang yang kedua, demikian seterusnya. Umpama kau tidak sanggup membuat persediaan, kami suka memberi tempo sampai sepuluh hari atau setengah bulan, atau setengah tahun sampai satu tahun. Suteeku ini, asal dia diundang, tentu dia bakal datang untuk menolong, tidak nanti dia main beri alasan ini dan itu."
"Empat saudaraku ini, bergerak pun tidak mampu, cara bagaimana mereka dapat menanti sampai setengah bulan?" pikir Beng Tat. "Tidak bisa lain, aku mesti turuti kehendaknya." Maka ia lantas berikan jawabannya: "Baik, besok aku akan mulai membagi beras itu!"
Oey Cin tertawa.
"Tuan, kau sungguh seorang dagang yang baik sekali!" ia memuji. "Sedikitpun kau tidak meminta pengurangan. Maka jikalau lain kali ada barang baik, aku minta sukalah sembarang waktu kau berhubungan denganku!"
Beng Tat berdiam saja walaupun orang terus menerus permainkan ia, tapi karena pembicaraan sudah beres, ia lantas saja ngeloyor ke dalam meninggalkan tetamu-tetamu tak diingini itu.
Sin Cie lantas kasi hormat pada Oen Gie dan Ceng Ceng.
"Sampai besok!" katanya.
Pemuda ini tahu, Beng Tat membutuhkan pertolongannya, hatinya tenteram akan antapkan ibu dan anak itu berdiam terus di rumahnya itu.
Kemudian empat orang itu, dengan gembira, dengan bawa emas, meninggalkan rumahnya Beng Tat, akan kembali ke pondokan mereka di rumah si orang tani.
Tatkala itu sudah fajar,mereka tidak lantas masuk tidur, hanya Siauw Hui terus pergi ke dapur, untuk siapkan barang hidangan, kemudian sambil bersantap, mereka duduk pasang omong tentang kemenangan mereka, semuanya gembira sekali.
"Wan Sutee," berkata Oey Cin sambil angkat mangkok mie-nya, "baru-baru ini aku dengan suhu omong bahwa suhu telah terima satu murid baru, yang usianya masih sangat muda, berhubung dengan itu, aku telah bicara main-main dengan jie-suhengmu Poan Sek San-long Kwie Sin Sie suami-isteri, bahwa murid-murid kami, umpama murid kepala, sudah berusia tiga-puluh lebih, sekarang dengan tiba-tiba suhu berikan mereka satu siauw-susiok, paman kecil, tidakkah mereka nanti pada merasa likat dan itu akan mengakibatkan kesulitan? Aku tak sangka sutee, kau begini liehay, jangan kata aku, toasuhengmu, telah ketinggalan jauh, juga jie-suhengmu, yang di delapan belas propinsi belum pernah ada tandingannya, turut penglihatanku, masih tak dapat tandingkan kau. Maka di belakang hari, kemajuannya Hoa San Pay kita, kebesarannya akan mengandal kepada kau seorang. Di sini tidak ada arak, baik aku berikan selamat dengan kuah mie ini saja!"
Benar-benar toasuheng yang jenaka ini bawa mangkok mie ke mulutnya, akan hirup kuahnya!
Sin Cie berbangkit dengan tergesa-gesa, dia pun segera minum kuah mie-nya.
"Dengan kebetulan saja hari ini aku beruntung peroleh kemenangan," berkata ia, "maka toasuheng, tidak berani aku terima pujianmu ini. Malah aku hendak minta agar selanjutnya sukalah kau berikan aku pelbagai pengunjukan."
"Sikapmu yang merendah dan berhati-hati ini, untuk dalam Rimba Persilatan, sukar didapat," berkata dia. "Lekas duduk, mari kita dahar!"
Oey Cin gunai sumpitnya beberapa kali, lalu ia berpaling kepada Hie Bin.
"Asal kau peroleh satu bagian saja dari kepandaiannya pamanmu," katanya, "kau akan dapat gunai itu untuk seumur hidupmu!"
Hie Bin telah saksikan liehaynya Sin Cie, sejak itu ia telah kagumi sangat pamannya ini, benar ia semberono, akan tetapi mendengar kata-kata gurunya, mendadakan ia dapat satu ingatan baru, lalu dengan tiba-tiba ia berlutut di depan paman cilik itu, akan manggut beberapa kali.
"Aku mohon siauw-susiok berikan pengajaran kepadaku," ia memohon.
Dengan tergesa-gesa, Sin Cie berlutut juga, untuk membalas hormat.
"Jangan, jangan, tak berani aku terima hormatmu ini!" kata ia. Ia pun lantas angkat bangun sutit itu. (Di belakang hari, karena ingat budinya Cui Ciu San, yang telah ajarkan ia silat dan tolong jiwanya, Sin Cie ajarkan juga Hie Bin beberapa rupa ilmu kepandaian, setelah mana, orang semberono ini selanjutnya telah jadi berubah bagaikan seorang lain).
Habis bersantap, empat orang ini masuk juga untuk tidur, tapi mereka tak dapat beristirahat lama, sang pagi sudah lantas datang, baru saja mereka bangun, di luar sudah ada suara orang mengetok pintu, kemudian masuklah satu orang yang membawa karcis namanya Oen Beng Tat. Dia ini undang Oey Cin berempat.
"Kamu pandai sekali membikin penyelidikan," kata Tong-pit Thie-shuiphoa sambil tertawa. "Dengan lekas sekali kamu telah dapat ketahui tempat mondok kami!"
Lantas mereka dandan dan ikut utusan Beng Tat itu. Ketika sebentar kemudian mereka tiba di rumah keluarga Oen, di sana sudah berkumpul banyak sekali penduduk kampung, sedang di lain pihak, dengan saling-susul, datang tukang-tukang pikul dari dalam kota yang angkut beras. Beng Tat sudah kirim orang-orangnya ke dalam kota Kie-Ciu, untuk beli beras itu.
Kota Kie-Ciu ada sebuah kota besar di Ciatkang timur, kotanya pun makmur, akan tetapi untuk beli beras mendadak demikian banyak, sulit juga. Beras ada tapi segera orang menaiki harga, hingga Beng Tat mesti membayar lebih mahal beberapa ratus tail perak.
Lebih dahulu Toayaya ini minta Oey Cin periksa jumlah berasnya, habis itu, ia mulai membagi-bagikannya kepada sekalian penduduk kampung. Mereka ini belum tahu duduknya hal, mereka semua heran kenapa tidak hujan tidak angin, jago-jago yang jahat dan kejam itu mendadak-sontak menjadi dermawan dan mengamal beras demikian banyak.
Oey Cin saksikan Beng Tat membagi beras dengan rapi, walaupun itu dilakukan dengan sangat terpaksa, karena ini, tidak lagi ia menggoda jago tua itu, ia tidak mau mengejek.
Begitu lekas empat ratus pikul beras telah terbagi habis, tanpa ayal lagi, Sin Cie totok Beng Gie dan urut-urut padanya, hingga jago she Oen yang kedua ini lantas saja sadar, cuma sebab ia telah ditotok sejak tadi malam dan diantapkan telalu lama, ia masih lemah, hingga ia cuma dapat menungkuli saja kemendongkolannya.
Pembagian beras dilakukan terus, sampai magrib, sampai habis semuanya seribu enam ratus pikul, selama mana, setiap empat ratus pikul, dengan menetapi janji, Sin Cie totok sadar tiap jago she Oen itu hingga akhirnya, sadarlah semuanya empat jago. Di akhirnya anak muda ini menjura kepada Ngo Couw dari Cio Liang Pay itu.
"Harap dimaafkan, aku yang muda telah berbuat banyak kesalahan," katanya.
Oey Cin tertawa, dia kata kepada kelima tuan rumahnya: "Walaupun kamu telah hamburkan seribu enam ratus pikul beras, hal mana tentunya membikin sedikit sakit hatimu, akan tetapi karena itu namamu telah dapat diperbaiki tidak sedikit. Inilah satu perbuatan amal yang untuk kamu ada banyak kebaikannya. Maka janganlah kamu tidak menginsyafinya!"
Habis itu, Oey Cin hendak ajak kawan-kawannya berlalu dari rumah keluarga Oen itu tetapi justru waktu itu, dari dalam bertindak keluar sambil berlari-lari dua orang perempuan, yang di depan Oen Gie, yang di belakang gadisnya, Ceng Ceng.
"Wan Siangkong, apa kau hendak pergi sekarang?" Oen Gie tanya.
Anak muda itu manggut.
"Benar Pehbo, siauwtit hendak berangkat sekarang," jawabnya seraya terus minta pamit.
Tubuhnya Oen Gie gemetar dengan tiba-tiba.
"Di mana sebenarnya kuburan dia?" nyonya ini tanya. "Wan Siangkong, tolong kau ajak aku pergi melihat kuburannya itu..."
Sin Cie belum sempat menjawab atau ia dengar suara angin menyambar, hingga ia terperanjat. Segera ia menoleh dan berlompat, dan di lain saat dengan beruntun ia dapat sanggapi empat potong hui-too, golok terbang. Akan tetapi menyusul itu, Oen Gie menjerit keras, lalu tubuhnya terhuyung rubuh. Di belakangnya kelihatan tertancap sebatang golok terbang, nancapnya dalam sekali, karena hampir gagang golok turut terpendam!
Nyonya yang naas itu rubuh tanpa berkutik pula.
Ceng Ceng menjerit, ia tubruk ibunya itu, tangannya diulur, untuk cabut golok itu.
"Jangan cabut!" Oey Cin mencegah. "Jika dicabut, dia akan menutup mata!"
Sin Cie segera ketahui, siapa yang sudah lakukan pembokongan itu, maka tanpa bilang suatu apa, ia menimpuk dengan empat hui-too di tangannya terhadap Oen Beng Sie.
Su-yaya itu telah umbar napsu amarahnya, ia mendongkol yang Sin Cie tidak rubuh karena bokongannya tetapi ia puas dengan rubuhnya Oen Gie. Habis menyerang, ia berdiri mengawasi dengan senyuman iblisnya, maka itu, ia bisa lihat si anak muda serang ia. Untuk luputkan diri dari hui-too, yang bisa makan tuan, ia berkelit sambil gulingkan tubuhnya. Ia berhasil. Habis diserang, dia lompat bangun. Akan tetapi berbareng dengan itu, ia rasai bebokongnya, juga paha kanannya, menjadi baal dengan tiba-tiba, menyusul mana ia rubuh sendirinya.
Sin Cie tahu, jago Cio Liang Pay ini ahli golok terbang, sudah sewajarnya saja dia akan pandai menyelamatkan diri dari golok-goloknya yang liehay itu, maka itu, ia sudah lantas bertindak. Begitu lekas ia menimpuk dengan empat ia susul serangannya dengan dua butir biji caturnya. Malah karena ia gusar untuk ketelengasannya jago tua itu, ia menimpuk secara hebat. Beng Sie tidak dapat tolong dirinya, ia rubuh seketika, napasnya berhenti....
Kapan si anak muda memandang Ceng Ceng, ia tampak si nona numprah di tanah sambil peluki tubuh ibunya, saking sedih, nona ini menangis tanpa mengeluarkan suara. Ia lantas menghampirkannya, hingga ia lihat tegas sipatnya golok terbang itu, yang masih nancap di belakang si nyonya. Ia insyaf nyonya itu sukar dapat ditolong pula. Maka tidak ayal lagi, ia menotok dua kali, setiap kalinya di dekat iga, untuk menutup jalan darah, secara demikian, nyonya yang malang nasibnya itu jadi tak usah menderita lebih lama lagi.
Karena totokan itu, Oen Gie bisa buka kedua matanya. Ia lagi menanggung sakit, ia meringis karena mencoba melawan itu, akan tetapi ia bisa pandang gadisnya sambil bersenyum.
"Jangan bersusah hati, Ceng," katanya kepada anak daranya itu. "Sekarang aku dapat susul ayahmu, untuk menemuinya, dengan berada di damping ayahmu itu, tidak akan ada lagi orang yang berani menghina aku...."
Ceng Ceng menangis tersedu-sedu, ia manggut tetapi tak dapat ia mengucapkan kata-kata.
Oen Gie memandang Sin Cie, ia berkata pula: "Wan Siangkong, ada satu hal tentang mana mesti kau beritahu aku dengan sebenar-benarnya, tak dapat kau menyembunyikannya sedikit juga..."
"Apakah itu, Pehbo?" tanya si anak muda. Ia ini mengucurkan air mata saking terharu.
"Dia meninggalkan surat wasiat atau tidak?" Oen Gie tanya. "Dia pernah menyebut-nyebut aku atau tidak?"
"Hee Loocianpwee telah meninggalkan seperangkat peta ilmu silat," Sin Cie jawab. "Ketika kemarin aku pecahkan Ngo-heng-tin, aku telah gunakan ilmu silat yang didapatinya dari peta itu. Dengan begitu bisalah dianggap aku telah balaskan dia punya sakit hati, hingga dendamannya terlampias sudah."
"Apakah dia tidak meninggalkan surat untukku?" Oen Gie tanya pula.
Sin Cie menggelengkan kepala.
"Tidak," sahutnya dengan pelahan.
Nyonya itu nampaknya putus asa.
"Setelah dia minum itu racun, habislah tenaganya," berkata nyonya ini dengan lemah.
"Di atas langit, rohnya loocianpwee tentu ketahui itu," Sin Cie menghibur, "tentu ia tidak akan sesalkan Pehbo."
"Tentu dia telah menutup mata karena sakit dan berduka," Oen Gie kata pula. "Pada mulanya, tentu sekali dia menyangka akulah yang racuni dia. Maka sekarang, walau duduknya perkara sudah jadi terang, toh sudah kasep..."
Sin Cie sangat berduka, apapula kapan ia lihat kedua tangannya si nyonya telah dilonjorkan dan wajahnya berubah. Tiba-tiba ia ingat pesannya Kim Coa Long-kun yang termuat di dalam peta dalam Kim Coa Pit Kip. Di dalam kitab itu toh ada disebut namanya Oen Gie. Maka lekas-lekas ia rogoh sakunya.
"Pehbo, lihat ini!" berkata ia seraya perlihatkan tulisannya Kim Coa Long-kun.
Oen Gie sudah mulai rapatkan kedua matanya ketika ia lantas membukanya pula. Sesaat itu, mendadak saja ia jadi segar pula. "Ya, inilah tulisan dia, tulisan dia!" katanya separuh berseru. "Aku kenali tulisan dia!" Bukan main terharunya Sin Cie akan tampak kegirangan si nyonya mirip dengan kegirangan satu bocah. Oen Gie baca tulisan di pinggir peta itu: "Siapa dapati mestika, dia mesti pergi ke Cio-liang di Kie-Ciu, Ciatkang, untuk cari Oen Gie. Kepadanya harus diserahkan uang emas sejumlah sepuluh laksa tail...."
"Itulah dimaksudkan aku!" berseru pula si nyonya. Tiba-tiba saja ia tertawa, air mukanya jadi terang dan ramai. Ia sambar tangannya si anak muda, untuk dicekal dengan keras. "Nyata dia tidak sesalkan aku!.... Aku tak mau menerima uangnya itu.... Asal aku ketahui dia masih ingat aku, dia masih pikiri aku.... Sekarang aku hendak pergi, aku hendak pergi menemui dia..."
Sin Cie tahu tenaga si nyonya sudah hampir habis, maka ia ingin menghiburi Ceng Ceng. Oen Gie sudah tutup kedua matanya, atau tiba-tiba ia buka pula. "Wan Siangkong, lagi dua hal aku hendak minta dari kau," katanya. "Dan aku ingin kau menerimanya dengan baik."
"Silahkan sebutkan itu, Pehbo," Sin Cie lantas berikan jawabannya. "Segala apa yang aku sanggup, pasti aku akan menyanggupinya."
"Yang pertama-tama aku ingin kau nanti kubur aku di dampingnya," berkata nyonya yang bernasib buruk itu. "Dan kedua.... kedua...." Sekonyong-konyong ia berhenti.
"Yang kedua..... apakah itu, Pehbo?" Sin Cie tegaskan. "Silahkan Pehbo menyebutkannya...."
"Yang kedua itu.... Kamu.... kamu...." ia lantas tunjuk Ceng Ceng. Tak dapat ia meneruskannya, lantas kedua matanya ditutup rapat, kepalanya teklok, dan ia tidak berkutik lagi. Sin Cie segera raba dada orang, napasnya si nyonya sudah berhenti jalan.
Ceng Ceng mendekam di tubuh ibunya, ia menangis menggerung-gerung. Tapi ia tak menangis lama, segera ia pingsan. Sin Cie terkejut. "Adik Ceng, adik Ceng!" ia memanggil, berulang-ulang.
"Tidak apa-apa," Oey Cin bilang. "Itulah disebabkan kedukaannya yang sangat...." Suheng ini nyalakan api tekesan, ia sulut sepotong sumbu, dengan itu ia asapkan hidungnya si nona, maka tidak lama, setelah berbangkis, Ceng Ceng ingat akan dirinya. Ia buka kedua matanya dengan pelahan-lahan, nampaknya ia seperti hilang ingatannya.
"Bagaimana rasamu, adik Ceng?" Sin Cie tanya, dengan pelahan. Nona itu tidak menjawab. Oey Cin dan Siauw Hui merasa aneh. Mereka tidak tahu hubungan di antara Sin Cie dan Oen Gie dan gadisnya nyonya ini. Di mata mereka, ibu dan anak itu mesti ada anggauta keluarga Oen akan tetapi kenapa mereka justeru dicelakakan Ngo Couw dari Cio Liang Pay?
"Adik Ceng, mari kau turut kami," kata Sin Cie dengan air mata bercucuran. "Tak dapat kau tinggal di sini lebih lama pula..."
Ceng Ceng masih bungkam tetapi ia dapat manggut. Tanpa bilang suatu apa, tanpa likat juga, Sin Cie pondong tubuhnya Oen Gie, untuk terus dibawa bertindak keluar. Di waktu begitu, ia tidak ambil mumet lagi kepada keluarga Oen.
Ceng Ceng berbangkit, ia ikuti anak muda itu.
Oey Cin, bersama-sama Siauw Hui dan Hie Bin, pun segera bertindak akan tinggalkan tuan rumah. Beng Tat dan tiga saudaranya dan yang lainnya pula, berdiri melongo, hati mereka panas.
Bukankah mereka telah dianggap sebagai bukan manusia lagi? Tidak satu di antara rombongannya si anak muda gubris mereka dan mereka mesti antapkan saja orang bawa pergi dua anggauta keluarganya itu - anak perempuan, keponakan dan cucu!
Mereka menginsyafi liehaynya si anak muda dan suhengnya dia ini, mereka jeri, hingga tak berani mereka maju untuk menghalangi.
Sekeluarnya dari pekarangan, Oey Cin berikan seratus tail perak pada Hie Bin, muridnya. "Kau bawa uang ini kepada petani yang rumahnya kita tumpangi," kata dia. "Kau berikan uang ini kepada mereka, lalu kau minta mereka pindah malam ini juga!"
Hie Bin sambuti uang itu tetapi ia awasi gurunya, agaknya ia heran. "Kenapa dia mesti pindah sekarang juga?" tanyanya. "Pihak Cio Liang Pay tidak dapat berbuat apa jua terhadap kita, pasti sekali mereka akan tumpleki kemendongkolannya terhadap lain orang," sang guru menerangkan. "Petani itu beri tempat menumpang kepada kita, pasti sekali dia orang bakal disatroni keluarga Oen itu."
Baru sekarang sang murid mengerti.
"Suhu benar," ia memuji. Dan ia lantas lari ke rumahnya si orang tani, untuk serahkan uang itu, buat minta mereka pindah lantas. Sin Cie tunggu sampai orang she Cui itu kembali, baru mereka melanjuti perjalanan, akan tinggalkan desa Cio Liang itu. Mereka lakoni perjalanan terus selama tigapuluh lie lebih, baru mereka singgah di sebuah kuil tua dan rusak di atas satu bukit. Tiga huruf "Leng Koan Bio" yang sudah hampir hapus adalah namanya kuil yang tak terawat itu.
"Di sini kita beristirahat," Oey Cin bilang. Mereka memasuki ruangan rusak dan kotor di sana-sini, dengan gala-gasinya juga. Mereka duduk di ruang tengah di mana tubuhnya Oen Gie diletaki di damping mereka. "Bagaimana hendak kita urus jenazah nyonya ini?" tanya Oey Cin. Itu adalah soal paling penting. "Apakah kita kubur di sini saja atau kita pergi ke kota untuk merawatnya dahulu dengan baik?"
Sin Cie tidak menjawab, ia kerutkan alisnya. "Umpama kita pergi ke kota untuk merawatnya dahulu," menyatakan Oey Cin, "Aku kuatir kita tidak merdeka. Pembesar negeri tentu akan menanyakannya dengan melit. Kita boleh tidak usah kuatir tapi pasti sudah kita bakal ngalami kesulitan dan berabeh."
Dengan pikirannya ini, Oey Cin menginginkan nyonya itu dikubur di situ saja.
"Tidak, itu tak dapat dilakukan!" Ceng Ceng nyatakan tak setuju. "Ibu telah menyatakan ia ingin dikubur bersama-sama ayah..."
"Di manakah dikuburnya ayahmu itu?" tanya Oey Cin. Ceng Ceng diam. Tak dapat ia menjawabnya. Ia tidak tahu di mana letaknya kuburan ayahnya itu. Maka ia awasi Sin Cie.
"Di gunung Hoa San kita!" kata Sin Cie tanpa tunggu ditanya lagi. Oey Cin heran, tak terkecuali Ceng Ceng sendiri. "Ayahnya itu adalah Kim Coa Long-kun Hee Loocianpwee, itu orang Kang-ouw gagah dan aneh," Sin Cie terangkan pula.
Usianya Oey Cin tak berjauhan dengan usianya Kim Coa Long-kun, ketika ia mulai dapat perkenan akan berkelana, namanya Kim Coa Long-kun sudah menggetarkan dunia Rimba Persilatan, maka itu, berbareng heran ia pun menjadi kagum, hingga dengan sendirinya, ia tambah menghormati nyonya yang rebah di damping mereka. "Aku mempunyai satu usul," kata ia kemudian setelah ia berpikir sekian lama. "Aku harap Nona tidak buat kecil hati..."
Ceng Ceng lihat Oey Cin sudah berusia lanjut. "Silakan utarakan itu, Loopeh," kata dia.
Oey Cin tunjuk Sin Cie. "Dia ini ada suteeku, dari itu tak dapat aku terima kau panggil loopeh padaku," kata ia. "Kau memanggil toako saja."
Hie Bin segera melirik pada Ceng Ceng. "Begini gayanya, apa aku bukan mesti panggil koh padamu?" pikir dia. "Kau toh cuma satu bocah perempuan..."
Ceng Ceng menoleh pada Sin Cie, baru ia menjawab. "Apa yang Toako bilang pasti aku akan dengar," sahut ia, yang lantas ubah panggilannya.
"Ah, benar-benar celaka!" pikir pula Hie Bin, hatinya gentar, ia tergugu. "Dengan tidak malu-malu lagi dia panggil toako pada suhu!"
Si tolol ini sibuk memikirkannya, sudah punya paman cilik, sekarang ia bakal punyai lagi satu bibi demikian muda-belia...
Tentu sekali Oey Cin tidak pernah sangka apa yang dipikirkan muridnya itu yang berdiri dengan melongo.
"Ibumu ingin dikubur bersama ayahmu, pasti mesti kita wujudkan keinginannya itu," berkata pula Oey Cin pada si nona, yang dalam sedetik saja menjadi adik perempuannya. "Tapi pelaksanaannya itu sulit sekali. Jangan kita sebut-sebut dahulu halnya perjalanan dari sini ke Hoa San yang ribuan lie jauhnya, hingga untuk angkut layon saja sudah sukar. Umpamakan saja kita bisa sampaikan gunung Hoa San. Adik tentu tidak ketahui berapa tingginya gunung itu. Dari kaki gunung saja layon tak dapat dibawa naik ke puncak..."
Ceng Ceng mengawasi dengan tercengang.
"Begitu?" tanyanya. "Habis bagaimana?"
"Masih ada satu jalan lain," sahut Oey Cin. "Kita sambut tulang-tulang mendiang ayahmu itu, untuk dibawa kemari, untuk dikubur bersama jenazah ibumu. Jalan ini aku rasa ada kurang tepat. Sekarang ini ayahmu sudah berdiam dengan tenang, adalah kurang sempurna untuk ganggu ia dengan kepindahan tempat kuburannya."
Ceng Ceng bingung, hingga ia menangis pula.
"Habis?" tanya dia.
"Oleh karena semua kesulitan itu," ujar pula Oey Cin, "aku pikir baiklah jenazah ibumu dibakar, lantas tulang dan abunya kita antar ke Hoa San untuk dikubur bersama ayahmu..."
Ceng Ceng tercengang. Kurang setuju ia dengan usul itu. Akan tetapi, apa daya? Maka di akhirnya, selang beberapa saat, ia manggut, tapi air matanya mengucur dengan deras.
Oey Cin lantas ajak Sin Cie dan Hie Bin pergi keluar, untuk kumpuli rumput dan kayu bakar sedapat-dapatnya, untuk mengumpulkan itu, mereka ambil tempo sekian lama, setelah itu, tubuhnya Oen Gie dibawa keluar, akan di lain saat, pembakaran telah dimulai.
Sakit hatinya Ceng Ceng, ia mendekam di tanah dan menangis mengulun. Sejak dilahirkan, ia seperti hidup menyendiri di sebuah rumah-tangga yang istimewa, kecuali ibunya, tidak ada seorang lain juga yang menyayangi dia, sebaliknya, senantiasa orang tertawakan dia, sindir padanya, atau paling ringan, orang lirik ia secara dingin. Suasana keluarga yang luar biasa itu membuat ia mempunyai tabeat yang luar biasa itu, ia jadi aneh dan bandel. Sekarang, setelah ibunya meninggalkan ia sebatang-kara, ia pun mesti lihat tubuh ibunya di antara api yang berkobar-kobar besar.
Oey Cin semua tahu orang sangat berduka, dan percuma saja untuk hiburkan atau nasihati padanya, dari itu semua berdiam, mengantapkan dia umbar kedukaannya itu.
Banyak waktu dilewatkan untuk tunggu pembakaran mayat selesai. Sin Cie telah cari sebuah guci, maka setelah api padam, ia kumpuli abu dan sisa tulang-tulang, untuk dimasuki ke dalam guci itu, buat ditutup rapat. Ia menjura dua kali kepada abu itu dan kata dalam hatinya: "Pehbo, aku harap kau tenangkan hatimu, pasti sekali aku nanti antar Pehbo ke Hoa San untuk dikubur bersama dengan baik-baik, tidak nanti aku sia-siakan pesan Pehbo...."
Oey Cin lihat segala apa telah selesai, lalu ia kata pada Sin Cie.
"Kita hendak antar emas ini ke Kiu-kang, Kangsee. Selama ini Giam Ong sudah kirim sejumlah saudara ke Kang-souw, Ciatkang, seluruh Kangsee dan An-hui untuk mencari hubungan di sana, untuk persiapan mereka di selatan nanti menyambut begitu lekas kita di Tionggoan sudah mulai angkat senjata. Kau berhasil merampas pulang emas ini, Sutee, tak kecil jasamu ini."
"Tadinya aku tak tahu bahwa emas ini demikian berharga," kata Ceng Ceng. "Coba tidak Jie-wie toako datang sendiri, pastilah aku telah membikin gagal usaha besar dari Giam Ong."
"Asal kau ketahui itu, itulah bagus," Hie Bin campur bicara.
Tidak biasanya Ceng Ceng nyerah kalah bicara, ia tahu pemuda itu maksudkan dia, maka wajahnya jadi berubah. Lantas dia kata pula: "Jikalau bukan Oey Toako sendiri yang antar emas ini, aku kuatir di tengah jalan nanti terbit onar pula!"
Inilah sindiran hebat untuk Hie Bin, yang dianggapnya tidak berguna, sudah tidak mampu lindungi emas itu.
Masih Hie Bin hendak melawan bicara akan tetapi Oey Cin deliki ia, untuk cegah ia banyak mulut.
"Jikalau Wan Sutee dan Oen Kohnio tidak punya urusan penting, bagaimana andainya kita pergi bersama ke Kiu-kang?" tanya Oey Cin kemudian.
"Siauwtee memikir untuk pergi dulu ke Lamkhia untuk menemui suhu sekalian mohon pengunjukannya," sahut Sin Cie. "Di Lamkhia juga aku hendak menemui Cui Siokhu."
"Suhu bersama saudara Ciu San sudah kembali ke Siamsay," Oey Cin menerangkan. "Sekarang ini suasana sudah genting sekali, mungkin pergerakannya Giam Ong tinggal menunggu waktunya saja."
Hatinya Sin Cie tergerak.
"Dengan begitu telah sampailah saatnya sakit hati ayah dibalaskan!" pikir dia, yang kedua matanya lantas menjadi merah. Segera ia kata: "Jikalau begitu, siauwtee hendak lantas pergi ke Siamsay untuk menemui suhu, tidak jadi siauwtee pergi ke Kiu-kang. Bagaimana pikiran Toako?"
Sutee ini hargakan toakonya itu maka ia menanya demikian.
"Giam Ong hendak bergerak, dia sedang membutuhkan banyak pembantu," sahut Oey Cin. "Sutee mempunyai kepandaian begini sempurna, dengan Sutee pergi ke Siamsay, untuk bantu dia, itulah bagus sekali. Aku percaya, Sutee, di belakang hari kau akan berbuat banyak untuk rakyat."
"Dalam hal itu aku mengharap pimpinan Suheng," kata sutee ini, yang halus sekali budi pekertinya. Oey Cin tertawa menampak sikap yang halus itu. "Tak dapat aku telad kau," katanya. "Di sini saja kita berpisah!" Suheng ini berbangkit, ia angkat kedua tangannya, lantas ia memutar tubuh, untuk bertindak pergi.
Hie Bin kasi hormat pada paman ciliknya, untuk pamitan.
"Engko Sin Cie, rawat dirimu baik-baik," Siauw Hui pesan ketika ia pun pamitan dari itu kawan semasa kecil.
Si anak muda manggut. "Tolong sampaikan hormatku kepada encim," ia pesan. "Tolong sampaikan pada encim bahwa aku senantiasa ingat dia."
"Ibu juga sering sebut kau, Engko," bilang si nona. "Apabila ibu tahu kau sudah jadi begini besar, pasti ia akan jadi sangat girang. Nah, aku pergi!" Nona ini memberi hormat, segera ia susul Oey Cin. Mereka menuju ke selatan. Beberapa kali ini nona masih menoleh, untuk lambai-lambaikan tangannya, sehingga Sin Cie saban-saban membalasnya, sampai tiga orang itu sudah lenyap dari pandangan matanya.
"Hm!" tiba-tiba terdengar suaranya Ceng Ceng. "Kenapa kau tidak susul dia untuk lambaikan tangan pula?"
Sin Cie melengak. Inilah ia tidak sangka. Ia pun tidak tahu hatinya nona ini.
"Kenapa kau tidak turut dia pergi bersama?" Ceng Ceng kata. "Dengan susul dia, bukankah kau tak akan merasa berat sebagai ini....?"
Baru sekarang Sin Cie insyaf sebab-musabab marahnya nona ini. Ia tidak jadi gusar, sebaliknya, ia tertawa. "Kau belum tahu," katanya. "Ketika aku masih kecil, aku hadapi ancaman bahaya besar, itu waktu adalah ibunya nona itu yang tolong aku. Sejak masih kecil itu kami biasa bermain berdua saja."
Ceng Ceng jadi semakin mendongkol, ia jumput sepotong batu dan timpuki itu secara sembarangan kepada tangga batu, sehingga muncratlah lelatu api. "Itulah persahabatan rapat sekali!" katanya kemudian, dengan dingin. Sin Cie tahu adat kukoay si nona, ia antapkan saja. Tapi ini justru membuat nona itu makin panas hatinya.
"Dengan dia kau bicara dengan gembira, sambil tertawa-tawa, tapi melihat aku, kau masgul!" katanya.
"Kapannya aku masgul, tak gembira bicara denganmu?" Sin Cie tanya.
"Ya, itu orang manis-budi, selagi kau kecil, kau sangat disayangi, akan tetapi aku, aku tidak punya ibu...."
Lantas ia menangis.
"Ah, jangan kau turuti saja adatmu," kata Sin Cie dengan masgul. "Sekarang harus kita berdamai, bagaimana kita mesti berbuat selanjutnya."
Mendengar begitu, mukanya Ceng Ceng berubah menjadi merah-dadu.
"Apakah yang hendak didamaikan lagi?" katanya. "Pergi kau susul adikmu Siauw Hui itu! Aku ada satu anak sengsara, biarkan aku terumbang-ambing di ujung langit dan pojok laut..."
Bingung Sin Cie untuk menjawab. Ia pun mesti pikirkan, bagaimana hendak diatur mengenai nona ini. Ia merasa sulit hingga ia diam saja.
Ceng Ceng lihat orang bungkam dan bengong saja, ia jumput guci abu dan tulang ibunya, ia lantas bertindak pergi.
"Kau hendak pergi ke mana?" tanya si anak muda.
"Perlu apa kau perdulikan aku?" balik tanya si nona. Ia bertindak terus ke arah utara.
Dengan terpaksa Sin Cie mengikuti. Nona itu tetap diam saja, Sin Cie coba mengajaknya bicara, dia itu tidak memperdulikannya.
Akhirnya sampailah mereka di kota Kim-hoa.
Setelah ambil pondokan, Ceng Ceng pergi akan beli seperangkat pakaian orang lelaki, berikut sepatu dan ikat kepalanya, untuk ia menyamar sebagai satu pemuda.
Sin Cie tahu, karena berlalunya dengan kesusu, nona itu tidak bekal banyak uang, maka selagi si nona keluar, ia selipkan dua potong emas dalam saku bajunya. Tapi kapan Ceng Ceng kembali dan dapati uang itu, ia bawa ke kamarnya si anak muda, untuk dikembalikan. Dan malam itu ia keluar seorang diri, untuk "bekerja" di rumahnya satu penduduk hartawan, hingga ia jadi mempunyai lima-ratus tail perak.
Besok paginya, kota jadi gempar karena kecuriannya si hartawan itu.
Segera Sin Cie ketahui itu tentu ada perbuatan kawan wanitanya, ia jadi kerutkan alis. Ia cerdik dan gagah tapi ia seperti habis daya akan layani ini nona luar biasa. Untuk memohon, ia tak mau, ia sungkan, akan tetapi untuk tinggal pergi nona itu, ia tidak tega, itulah tak dapat dilakukan. Ia ada satu gadis remaja dan sekarang yatim-piatu, sebatang kara. Apa bisa ia antapkan dia berkelana seorang diri? Ia jadi sangat bingung!
Di hari besoknya itu, dua anak muda ini meninggalkan Kim-hoa, akan menuju ke Gie-ouw. Si nona masih mendongkol, ia jalan di depan, hingga si pemuda mesti ikuti dia.
Mereka sudah lalui tiga puluh lie lebih tatkala cuaca menjadi buruk dengan tiba-tiba, awan mendatangi secara cepat, udara jadi mendung tandanya sang hujan bakal segera turun membasahi bumi. Keduanya lantas cepatkan tindakan mereka, akan tetapi belum sampai lima lie, air langit itu sudah turun juga, malah lantas dengan lebat.
Sin Cie sedia payung, ia tidak kuatirkan air hujan, tapi Ceng Ceng tidak, dari itu, ia lantas saja lari keras, untuk cari tempat meneduh. Apa lacur, di situ tidak ada rumah orang, tidak ada kuil atau paseban umum di mana orang bisa berlindung dari serangan air langit itu.
Sin Cie bisa lari lebih pesat, dengan cepat ia dapat menyusulnya, ia sengaja melewati, untuk dari sebelah depan, ia serahkan payungnya. "Pakai ini," katanya.
Tanpa menjawab, Ceng Ceng tolak payung itu.
"Adik Ceng," berkata si anak muda, "kita berdua sudah angkat saudara, kita telah bersumpah untuk hidup dan mati bersama, untuk senang dan susah dipikul bersama juga, kenapa sekarang kau gusari kokomu?"
Mendengar demikian, nona ini menjadi lebih sabar. "Jikalau kau tidak ingin bikin aku gusar, kau mesti turut aku dalam satu hal," kata dia.
"Sebutkan itu," bilang Sin Cie. "Jangan kata baru satu, sepuluh juga dapat aku menerimanya!"
"Baik, kau dengar," kata nona itu. "Sejak hari ini kau jangan ketemui pula nona An dan ibunya! Jikalau kau terima baik permintaanku ini, aku segera akan hatur maaf terhadapmu...." Kata-kata ini ditutup dengan tertawa yang manis. Sin Cie menjadi sulit sekali. Ia berhutang budi pada An Toa-nio, ia mesti balas budi itu, maka kenapa sekarang, tak ada sebab tak ada lantaran, tak dapat ia menemui nyonya yang budiman itu? Sebagai seorang jujur dan kenal budi, tak dapat ia sembarang mengiakan si nona.
Selagi orang terbenam dalam keragu-raguan, Ceng Ceng kata: "Memang aku sudah duga tak nanti kau tega meninggalkan itu adik Siauw Hui...." Ia lantas putar tubuhnya dan lari dengan pesat.
"Adik Ceng! Adik Ceng!" Sin Cie terperanjat dan memanggil-manggil. Si nona tidak meperdulikannya, dia lari terus. Sukur untuk mereka, sesudah beberapa pengkolan, mereka dapati sebuah paseban. Si nona lantas singgah di paseban itu, si anak muda susul dia. Pakaian Ceng Ceng kuyup basah semua. Itu waktu musim panas, dia memakai pakaian yang tipis, tapi setelah sekarang pakaiannya lepek, maka berpeta tegaslah potongan tubuhnya. Ia merasa tidak enak sendirinya apabila ia tampak si anak muda turut masuk bersama, sedang anak muda itu pun likat. Lantas saja ia menangis. "Kau menghina aku, kau menghina aku...." katanya sambil menangis terus.
"Inilah aneh! Kapannya aku hinakan kau?" pikir si anak muda. Ia tidak bilang apa-apa, ia buka baju luarnya, untuk kerebongi itu pada tubuh si nona. Ia pakai payung, bajunya itu tidak basah. Ceng Ceng ingat kebinasaan ibunya, dengan tiba-tiba saja ia menangis, ia menangis menggerung-gerung.
Sin Cie sibuk sendirinya, tak tahu apa ia mesti buat untuk mendiamkan nona ini, terpaksa ia berdiam saja.
Untung berselang tidak lama, hujan mulai redah dan akhirnya berhenti. Ceng Ceng masih saja menangis, akan tetapi sambil menangis itu, satu kali ia melirik si anak muda. Justru itu, Sin Cie sedang mengawasinya, hingga dengan sendirinya, sinar mata mereka bentrok satu dengan lain. Ia lekas berpaling, kembali ia menangis keras.
Sin Cie jadi habis sabar.
"Aku hendak lihat, berapa banyaknya sih air matamu!" pikir dia. Dan dia mengantapkannya. Ketegangan itu berjalan terus sampai sekian lama, sampai mendadak terdengar tindakan kaki, yang datangnya dari arah utara, apabila keduanya menoleh, mereka tampak satu petani muda sedang tuntun satu nyonya muda memasuki paseban itu. Si nyonya rupanya sedang sakit, ia merintih saja.
Rupanya si petani ada suaminya nyonya itu, nampaknya ia sangat merasa kasihan, berulang-ulang ia menghiburkannya. Oleh karena di situ ada orang asing, Ceng Ceng berhenti menangis. "Baik, aku nanti mencoba," pikir Sin Cie, yang dengan tiba-tiba dapat satu pikiran.
Tidak lama, pasangan suami-isteri muda itu meninggalkan paseban. Ceng Ceng lihat hujan sudah berhenti betul, ia berniat melanjutkan perjalanannya, akan tetapi di saat ia berbangkit, untuk bertindak keluar, sekonyong-konyong Sin Cie menjerit: "Aduh! Aduh!...." Ia kaget sekali, segera ia menoleh, hingga ia tampak si anak muda, dengan terbungkuk-bungkuk sedang pegangi perutnya, anak muda itu lantas mendeplok di lantai. Masih saja ia teraduh-aduh dan pegangi perutnya, mukanya meringis menahan sakit.


0 komentar:
Posting Komentar