Home » » PEDANG ULAR MAS 15

PEDANG ULAR MAS 15

Jilid 15

Dalam kagetnya, Ceng Ceng lompat mendekati. Ia lihat jidatnya Sin Cie mandi keringat! "Kau kenapa?" tanyanya. "Apakah perutmu sakit?"

Sin Cie tidak menyahuti, sedang dalam hatinya, ia berpikir: "Bersandiwara tidak boleh kepalang-tanggung...." Dan ia tahan ambekannya, hingga ketika si nona raba tangannya, tangannya itu dingin bagaikan es. "Kau kenapa, kenapa?" tanya pemudi ini, yang jadi sibuk bukan main. Si anak muda merintih, ia tidak menjawab.

Tanpa merasa, nona itu menangis, saking bingung dan berkuatir.

"Adik Ceng, sakitku ini tak dapat disembuhkan," kemudian kata Sin Cie dengan suara lemah. "Tidak usah kau perdulikan aku, pergilah kau berangkat...."

"Tapi kenapa, tidak keruan-keruan kau sakit?" tanya si nona.

"Sejak masih kecil aku ada punya serupa penyakit," sahut Sin Cie dengan susah, "ialah tak dapat aku dibikin mendongkol atau gusar, asal orang menerbitkannya, hatiku pepat, lantas penyakitku itu kumat, perutku sakit.... Aduh!..... Aduh!....Sakit amat!..."

Ceng Ceng jadi demikian sibuk hingga lupa dia pada adat sopan-santun, ia tubruk si anak muda untuk dirangkul, dipeluki, lalu ia urut-urut dada si anak muda. Sin Cie merasa likat sendirinya karena orang peluki ia. "Engko Sin Cie, dasar aku yang salah..." nona itu mengaku kemudian. "Sudah, Engko, aku minta kau jangan bergusar lagi..."

Sin Cie pikir: "Apabila aku tidak terus bersandiwara, dia bisa sangka aku ada satu pemuda ceriwis..." maka ia tunduk terus, ia merintih. "Aku bakal tidak hidup lebih lama pula," ia mengeluh," kalau nanti aku menutup mata, tolong kau kubur mayatku, habis itu tolong kau beri kabar pada Oey Toako..." Ia merintih pula, ia mengeluh, akan tetapi dalam hatinya, ia tertawa geli.

"Tak dapat kau mati," Ceng Ceng menangis. "Kau tidak tahu, aku bergusar secara main­main saja, aku gusar bohong, sengaja aku hendak gaduh padamu, sedang hatiku, sebenarnya, aku suka, aku sangat sukai kau.... Jikalau kau mesti mati, mari kita mati bersama...."

Heran Sin Cie, kaget dia.

"Ah, kiranya dia menyintai aku...." pikirnya. Hatinya lantas memukul. Ia girang. Ia pun likat, dalam bimbang, ia jadi berdiam saja. Ceng Ceng masih saja berkuatir, ia sangka si pemuda benar-benar bakal mati, maka ia merangkul dengan keras sekali. "Engko, Engko, tak dapat kau mati!...." katanya.

Mereka berada demikian dekat, Sin Cie membaui harum istimewa, hatinya goncang. Tapi mendadak ia seperti sadar. "Sakit hatiku belum terbalas, cara bagaimana aku sudah main cinta?" demikian ia pikir. "Satu laki-laki mesti berlaku terus-terang! Bagaimana aku dapat pedayakan satu anak dara?"

"Aku bergusar bohong, jangan kau anggap sebenar-benarnya," kembali si pemuda berikan pengakuannya.

Tiba-tiba saja Sin Cie tertawa. "Sakitku juga sakit bohong, jangan kau anggap sebenar-benarnya!..." kata dia, yang kembali tertawa berkakakan. Ceng Ceng terperanjat, hingga ia melengak. Dengan tiba-tiba ia lepaskan rangkulannya, dia lompat bangun, menyusul mana sebelah tangannya melayang ke kupingnya si anak muda, hingga Sin Cie rasai kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang. Ceng Ceng tutupi mukanya, terus dia lari. Sin Cie bingung sekali.

"Tadi dia bilang dia menyayangi aku, dia tak dapat hidup tanpa aku, kenapa sekarang dia gusar dan pukul aku?" pikirnya. Dalam bingungnya, Sin Cie lompat bangun, untuk susul si nona, akan mengikuti di belakangnya.

Ceng Ceng sudah umbar adatnya, habis itu hatinya lega, ketika ia menoleh, ia lihat tanda merah bergelang di pipi kiri si anak muda, bekas gaplokannya, lantas hatinya jadi lemah. Tapi ia masih likat. Tanpa kehendaknya, ia telah beberkan rahasia hatinya, ia malu sendirinya, ia jengah sekali.

Itu magrib mereka sampai di Gie-ouw, lantas mereka cari hotel.

Ceng Ceng lantas minta disediakan barang makanan, Sin Cie duduk di satu meja, untuk bersantap bersama-sama. Tiba-tiba si pemudi tertawa sendirinya. "Mau apa ikuti orang saja, sungguh menjemukan...." katanya.

Sin Cie raba pipinya, ia pun tertawa. "Perutku sakit, itulah sakit bohong," katanya. "Yang benar-benar sakit adalah ini...." Ia maksudkan pipinya sasaran gaplokan itu. Ceng Ceng tertawa pula. Itulah tertawa yang membuat mereka berdua akur pula, hingga mereka bisa bersantap dengan bernapsu, kemudian mereka pasang omong dengan asyik.

Malam itu mereka tidur dalam kamar masing-masing. Puas hatinya Ceng Ceng akan saksikan pemuda itu ada satu laki-laki terhormat. Besoknya pagi, Sin Cie kata pada si nona: "Adik Ceng, pekerjaan kita paling penting sekarang ini adalah antar abu ibumu ke gunung Hoa San untuk dikubur di sana."

"Benar," sahut si nona. "Sebenarnya, bagaimana duduknya maka kau dapat menemui kuburan ayahku?”

"Nanti kita bicara di tengah jalan saja," jawab pemuda itu. Si pemudi menuruti, dari itu, setelah sarapan, mereka melanjuti perjalanan, menuju ke utara. Adalah selagi berjalan, Sin Cie tuturkan kejadiannya bagaimana ia ketemukan tulang-tulangnya Kim Coa Long-kun di dalam gua, bagaimana ia dapati peti besi yang berisi kitab atau peta berharga. Ia tuturkan semua dengan jelas.

Ceng Ceng girang berbareng berduka.

Sin Cie lanjuti penuturannya tentang sepak-terjangnya Thio Cun Kiu dan si pendeta, yang datang dan bekerja bersama tapi akhirnya saling menjahati. Bergidik Ceng Ceng mendengar cerita itu. "Thio Cun Kiu itu ada muridnya Su-yaya," terangkan ia kemudian. "Dia ada seorang yang jahat sekali. Dan itu hweeshio, bukankah pada mukanya ada tanda bekas satu luka?"

"Benar, itu benar," Sin Cie mengasi kepastian.

"Dia ada Goh In, ia muridnya Jie-yaya," Ceng Ceng kasi keterangan lebih jauh. "Sejak ayah lenyap, yaya semua kirim belasan muridnya ke segala penjuru untuk mencari, telah ditetapkan setiap tiga tahun mereka mesti memberi kabar berhasil-tidaknya penyelidikan mereka. Dua binatang itu ada sangat jahat, pantas mereka terima kebinasaan mereka secara demikian rupa!"

Nona ini berhenti sebentar, lalu ia menambahkan: "Ayah telah menutup mata, setelah mati, dia masih bisa atur daya untuk binasakan musuh-musuhnya, sungguh luar biasa sekali!" ia jadi bangga sekali.

"Yayamu semua tahu ada hubungan di antara aku dan ayahmu itu, aku percaya mereka bakal berdaya lebih keras untuk mencari tahu hal harta besar itu dan kuburan ayahmu," Sin Cie utarakan kemudian.

"Tapi mereka tahu juga mereka tidak sanggup lawan kau, percuma saja mereka bikin dirinya tambah sibuk saja," kata si nona. "Coba ayah masih hidup dan ia tahu kau telah hajar mereka kucar-kacir begini rupa, entah betapa girangnya ayah!... Tapi ibu telah menyaksikannya sendiri kau labrak mereka, tentu ibu akan menyampaikannya kepada ayah.... Coba kau kasih lihat pula tulisannya ayah kepadaku."

Sin Cie perlihatkan apa yang diminta si nona.

"Ini ada barang ayahmu, harus ini dipulangi kepadamu," ia bilang.

Ceng Ceng tidak menjawab, dengan penuh perhatian ia awasi peta dan tulisan ayahnya itu, nampaknya ia berduka berbareng bersuka-ria juga.

Sejak itu, setiap ada kesempatan, selagi singgah di pemondokan, ia suka keluarkan peta itu, untuk diawasi, untuk dibuat main.

Pada suatu hari dua anak muda ini sampai di Siong-kang, tiba-tiba si pemudi kata: "Engko, begitu lekas kita sampai di Lam-khia, paling dulu kita cari itu mustika berharga!"

Sin Cie heran.

"Kau maksudkan apa?" tanyanya.

"Bukankah dalam peta ayah ada disebutkan hal mustika berharga?" si nona baliki. "Bukankah ayah telah menulis, siapa dapatkan mustika itu, ia mesti berikan itu sepuluh laksa tail emas? Maka teranglah sudah, mustika itu mesti berharga besar sekali."

Rupanya Sin Cie baru ingat.

"Kau benar, akan tetapi mengurus urusan kita ada lebih penting," ujarnya dengan perlahan.

Pemuda ini senantiasa ingat gurunya dan habis menemui gurunya, hendak ia menuntut balas untuk ayahnya.

"Kita telah punyakan petanya, aku pikir, dengan cari mustika itu, tidak nanti kita sia-siakan banyak tempo," si nona utarakan.

"Habis, buat apa kita punya harta besar itu?" Sin Cie tanya. "Adik Ceng, aku harap sukalah kau menjadi orang baik-baik, jangan kau terpancing oleh harta besar...."

Tapi Ceng Ceng menjebikan bibir, waktu dia masih juga dinasehati, dia jadi tidak puas hingga itu malam tak mau dia dahar....

Di hari kedua, perjalanan dilanjutkan.

"Engko," kata si nona, selagi berjalan, "aku cuma ambil emasnya Giam Ong dua ribu tail, mereka itu jadi sibuk luar biasa, sampai toasuhengmu turun tangan sendiri untuk merampas pulang emas itu. Kenapa sikapnya Giam Ong demikian cupat?"

"Keliru jikalau kau anggap Giam Ong cupat pikiran," Sin Cie kasi mengerti. "Aku pernah bertemu sendiri dengannya, dia ramah tamah dan budiman, ia tak sayang uangnya untuk menolong mereka yang membutuhkannya. Dia lagi berdaya untuk membebaskan rakyat jelata dari kesengsaraan, karenanya ia jadi sangat hemat. Dia adalah satu enghiong, satu hookiat terbesar! Emas dua ribu tail itu ia sangat butuhkan, pasti sekali tak bisa ia antapkan lenyap."

"Kalau demikian, itulah lain," Ceng Ceng bilang. "Sekarang umpamakan kita hadiahkan Giam Ong dengan dua-puluh laksa tail emas, sampai dua ratus laksa tail emas, bagaimana kau pikir, tidakkah itu bagus?"

Sin Cie sadar dengan tiba-tiba, hingga dia lupa akan dirinya. Dia sambar tangannya si nona dan cekal itu dengan keras.

"Adik Ceng, kenapa pikiranku jadi begini Bu-tek?" berseru dia. "Syukur kau memperingatinya!"

Ceng Ceng lepaskan tangannya.

"Tak perlu aku dengan pujianmu," katanya. "sudah cukup bagiku asal kemudian kau kurangi teguranmu."

Pemuda itu tertawa.

"Umpama berhasil kita mencari harta besar itu dan kita menghadiahkannya kepada Giam Ong, sungguh itu ada satu berkah besar untuk rakyat jelata!" katanya dengan girang.

Maka keduanya lantas numprah di tepi jalanan, mereka beber petanya Kim Coa Long-kun, untuk diperdatakan dengan seksama.

(Bersambung bab ke 10)


Bab 10

Di tengah-tengah peta itu ada satu bundaran kecil warna merah, di samping itu diberi tanda antaranya empat huruf halus, bunyinya: "Gui Kok Kong Hu", yang berarti "Istana Gui Kok-Kong". Gui Kok-Kong itu adalah "Pangeran (hertog) Gui".

Masih saja mereka menelitinya.

"Menurut bunyinya keterangan," berkata lagi Sin Cie kemudian, "harta besar itu disimpannya di dalam tanah dari sebuah kamar yang mencil di dalam pekarangan istana pangeran Gui itu. Jikalau di situ kita menggali kita akan dapati suatu lapis lembaran besi di bawah mana akan kedapatan sepuluh peti besi yang besar. Itulah dia harta besar itu."

"Maka kalau nanti kita sampai di Lamkhia, baik kita lantas cari istana Gui Kok-kong itu," sarankan si pemudi. "Asal kita berhasil mendapati istana itu, selanjutnya mesti kita punyakan daya lain!"

"Gui Kok-kong itu ada gelaran kebangsawanan dari Tay-ciangkun Cie Tat," Sin Cie terangkan pula. "Jendral itu ada salah satu menteri besar dari kerajaan Beng. Istananya mestinya luar biasa sekali, umpama kata kita dapat memasukinya, pasti sulit untuk menggali sana dan menggali sini untuk cari harta itu..."

"Sekarang ini tak ada gunanya kita pikirkan itu terlalu jauh," Ceng Ceng bilang. "Buat apa kita menduga-duga saja? Nanti setelah sampai di Lamkhia barulah kita berdaya pula."

Sin Cie anggap si nona benar, ia menurut.

Kembali mereka lakukan perjalanan mereka, sampai lewat pula beberapa hari, sampailah mereka di Lamkhia, kota yang dituju itu, yang dengan lain nama disebut Kim-leng, satu kota bertembok batu yang dipandang sebagai kota paling besar di "kolong langit", sedang di sana pun adanya Beng Hauw-leng, ialah makam raja-raja ahala Beng. Itulah ibukota pertama sejak dibangunnya kerajaan Beng oleh Beng Tha-Couw, kaisar Beng yang pertama. Walau kota itu pernah mengalami kekalutan besar, kotanya masih tetap indah dan ramai.

Sin Cie berdua Ceng Ceng ambil tempat di hotel dengan mengaku mereka datang ke Lamkhia untuk mencari sahabat , dari itu di hari kedua, si anak muda panggil jongos untuk dimintai keterangan di mana pernahnya istana Gui Kok-kong.

Jongos itu bingung. Ia bilang tak tahu ia perihal istana itu.

Ceng Ceng sangka orang mendusta, ia jadi gusar.

"Gui Kok-kong ada menteri nomor satu yang besar jasanya dari kerajaan kita, kenapa kau bilang tidak ada istana Gui Kok-kong di sini?" ia bentak.

"Jikalau memang benar ada istana itu silakan Siangkong cari sendiri," jawab si jongos. "Benar-benar aku tidak tahu."

Ceng Ceng anggap jongos itu kurang ajar, ia ayun tangannya untuk memberi bogem mentah, tetapi Sin Cie cegah dia, hingga kesudahannya si jongos ngeloyor pergi sambil menggerutu sendiri...

"Mari kita cari," mengajak Sin Cie pada kawannya.

Ceng Ceng menurut, berdua mereka keluar dari hotel itu. Itu hari mereka mengidar dengan sia-sia saja, tak dapat mereka peroleh keterangan perihal istana Pangeran Gui itu. Mereka ulangi mencari di hari kedua, hasilnya tetap sia-sia saja, demikian pun ketika mereka lanjuti penyelidikan sampai tujuh atau delapan hari.

Sin Cie berniat keras mencari balas, ia ingin tunda dulu menyelidiki tentang istana itu, akan tetapi kawannya penasaran.

"Mari kita cari terus," Ceng Ceng bilang.

Mereka kembali putar-putaran di dalam kota beberapa hari lamanya, tapi hasilnya tetap tidak ada kecuali capai-lelah.

Menurut keterangan yang mereka peroleh sampai sebegitu jauh, katanya turunan dari Tayciangkun Cie Tat atau Gui Kok-kong itu adalah raja muda dengan kekuasaan atas bala tentara di dalam kota Lamkhia, bahwa istananya baru beberapa tahun yang lalu dibangunkannya, sedang tentang istananya Gui Kok-kong, tak ada yang mengetahuinya.

Saking penasaran, Ceng Ceng usulkan untuk di waktu malam satroni onghu atau istananya raja muda she Cie itu.

Sin Cie tidak setuju, ia tentang usul itu dengan bilang, karena istana ada pendirian baru, tak mungkin harta karun didapatkan di sana, atau umpama kata benar harta tersimpan di sana, dengan berdua saja, apa mereka bisa buat? Sebaliknya apabila mereka gagal, rahasia jadi ketahuan oleh raja muda itu, yang pastinya akan cari sendiri harta itu. Istana pasti terjaga kuat sekali.

Puterinya Kim Coa Long-kun itu dapat dikasi mengerti.

Di lain harinya, di waktu sore dua orang ini pergi ke sungai Cin Hoay Hoo yang kesohor , untuk menyewa perahu pelesiran, buat mencoba menghibur diri setelah buat banyak hari mereka putar-kayun dengan sia-sia.

"Ayahmu ada satu enghiong, setelah mendapati peta, dia sendiri masih belum berhasil mencari tempatnya harta karun itu, inilah benar sulit," si pemuda nyatakan.

"Akan tetapi ayah menulis dengan jelas sekali, mustahil ia keliru," si pemudi bertahan. "Karena harta itu bukan cuma satu tail atau dua tail emas, pasti sekali tempat simpannya sulit untuk gampang-gampang dicari sembarang orang..."

"Kalau begitu, mari kita cari lagi satu hari, apabila tetap kita gagal, kita berangkat dari sini," Sin Cie bilang akhirnya.

"Kita mencari sampai lagi tiga hari!" kata Ceng-Ceng.

Di sungai itu, dari beberapa penjuru, terdengar suara seruling yang diiringi dengan nyanyian-nyanyian. Selain itu, terdengar juga suaranya penggayu-penggayu dari pelbagai perahu pelesiran lainnya, sedang cahaya api memain sebagai bayangan di permukaan air.

Ceng Ceng tenggak beberapa cawan arak, mukanya yang dadu jadi bersemu lebih merah, hingga di antara sinar api, ia nampaknya jadi bertambah-tambah cantik.

Sin Cie tertawa.

"Baik aku turut kau, kita mencari lagi tiga hari!" kata Sin Cie.

Nampaknya si nona puas.

Itu waktu dari perahu tetangga terdengar suara nyanyian bercampur tertawa dan omongan gembira, bukan main tertarik hatinya si nona. Pengaruh air kata-kata pun sudah mulai menarinya.

"Engko," kata Ceng Ceng sembari tertawa, "bagaimana jikalau kita panggil dua nona untuk mereka nyanyi, akan temani kita minum?"

Mukanya Sin Cie merah dengan tiba-tiba mendengar pertanyaan itu. Bukankah ia ada satu pemuda alim?

"Apakah kau sudah sinting?" tanyanya. "Kenapa kau ngaco?"

Anak-anak perahu paling girang kalau penumpangnya berpelesiran dengan nona-nona tukang nyanyi, dengan itu mereka mengharapi hadiah, maka itu, mendengar perkataan penumpang yang satunya itu, tanpa tunggu si penumpang lain sahuti kawannya, dia sudah nyelak.

"Semua siangkong yang pelesiran di Cin Hoay Hoo, tidak ada satu yang tidak undang nona-nona tukang nyanyi untuk menemaninya," katanya. "Jikalau Siangkong kenal salah satu tukang nyanyi, nanti aku panggil dia..."

"Jangan, jangan," Sin Cie goyangi tangan.

"Di sini ada berapa nona yang paling kesohor?" Ceng Ceng sebaliknya menanya.

"Ada, ada, Siangkong !" sahut tukang perahu itu. "Seperti Pian Giok Keng, Liu Jie Sie, Tang Siauw Wan dan Lie Hiang Kun. Mereka ini pandai juga ilmu surat dan bersyair, mereka adalah Siucay-Siucay wanita!"

"Nah, kau coba panggil Liu Jie Sie dan Tang Siauw Wan berdua!" Ceng Ceng menyuruh. Ia tidak perdulikan kawannya.

Tukang perahu itu celangap. "Rupa-rupanya Siangkong baru untuk pertama kali ini datang ke Lamkhia?" bilangnya.

"Habis kenapa?"

"Nona-nona yang kenamaan itu, pergaulannya cuma dengan pemuda-pemuda bangsawan atau sedikitnya Siucay," sahut tukang perahu itu. "Umpama orang dagang biasa saja, apabila dia hendak menemui nona-nona itu, kendati dia angkut semua hartanya, tidak nanti si nona sudi melayaninya. Jangan kata mengundang datang, melihat romannya saja tak dapat..."

"Cis, segala bunga raya saja demikian bertingkah!" kata Ceng Ceng. Dia dipanggil siangkong karena tetap dia dandan sebagai pria.

"Di sini ada nona-nona lainnya yang eilok, baik aku panggil dua saja di antaranya," kata tukang perahu kemudian.

"Sekarang kami hendak pulang, lain hari saja," Sin Cie bilang.

"Aku belum puas!" kata Ceng Ceng sambil tertawa. Ia memandang si tukang perahu dan lalu kata: "Pergi kau panggil mereka."

Selagi Sin Cie bungkam, tukang perahu itu, yang girang tak kepalang, sudah lantas buka suara nyaring beberapa kali, untuk memanggil dua nona yang ia kenal. Sebentar saja, sebuah perahu terhias datang menghampirkan, dari situ lantas muncul dua nona, yang terus naik ke perahunya Ceng Ceng. Mereka kasi hormat kepada kedua anak muda. Sin Cie berbangkit, untuk memberi hormat, mukanya merah padam bahna jengah. Ceng Ceng lihat perubahan air muka kawan itu dalam hatinya ia tertawa geli. Kedua nona tukang nyanyi itu tidak cantik tetapi mereka dibikin bersinar oleh yancie dan pupur. Segera yang satu meniup seruling dan yang lain bernyanyi. Ceng Ceng kerutkan alis mendengar suara seruling dan nyanyian itu, tak sedap dia mendengarnya. Sin Cie pun kerutkan alis. "Dasar kau!" katanya, menyesali kawannya. "Makin lama kau jadi makin angot!" Ceng Ceng tertawa. "Sudah, sudah!" katanya. "Apa belum cukup kau tegur aku? Nanti aku meniup seruling untuk kau dengar..." Ia ambil seruling dari tangannya si nona manis, ia celup saputangannya ke dalam arak, lalu saputangan itu dipakai menyusuti seruling itu, sampai sekian lama, barulah ia masuki ke dalam mulutnya sendiri, untuk dicoba pelahan-lahan. Atau di lain saat, ia telah mulai perdengarkan sebuah lagu. Segeralah terdengar sebuah lagu yang lain sekali dari lagunya si bunga raya barusan! Di Cio-liang, di atas bukit bunga mawar, Sin Cie pernah dengar lagu yang menarik hati ini, maka teringatlah ia dengan kejadian di atas bukit itu, sedang sekarang, suasana ada lain ­sungai ada indah, di hadapan mereka ada arak wangi, ada nona-nona manis...


Kedua nona manis itu duduk bengong apabila mereka dengar tiupan lagu itu. Sin Cie mendengari dengan asyik sekali, sampai ia tidak tahu sebuah perahu pelesiran yang besar yang mendekati perahunya sendiri, tahu-tahu ada suara tertawa nyaring disusul pujian: "Sungguh merdu! Sungguh merdu!"

Menyusul itu, tiga orang lelaki pun lantas naik ke perahunya pemuda dan pemudi ini tanpa mereka itu minta perkenan lagi. Ceng Ceng tidak suka atas kelakuan orang itu, yang ia pandang sebagai gangguan. Ia letaki serulingnya, ia lirik mereka itu dengan mata tajam.

Dari tiga tetamu yang tidak diundang itu, yang jalan di tengah ada seorang dengan kipas di tangan, bajunya tersulam, umurnya kira-kira tiga-puluh tahun, alisnya kasar, matanya kecil, mukanya pun kasar. Di belakang dia ini ada dua kee-teng atau hamba, yang membawa lentera atau tengloleng yang bertuliskan tiga huruf: "Cong Tok Hu" atau artinya "Gedung Cong Tok".

Sin Cie berbangkit, ia menyambut sambil memberi hormat. Kedua bunga raya itu memberi hormat sambil menjura. Cuma Ceng Ceng yang duduk tetap, tidak bergeming. Orang itu tertawa, ia bertindak masuk ke ruangan dalam perahu. "Maaf, maaf!" katanya dengan gembira, lalu ia jatuhkan diri atas sebuah kursi, untuk mana ia tidak nantikan undangan lagi. "Maaf Tuan, apa she dan namamu yang besar?" Sin Cie tanya. Pemuda ini sabar dan selalu berlaku manis-budi. Orang yang ditanya belum menyahuti, atau salah satu bunga raya dului ia dengan berkata: "Inilah Ma Kongcu dari Cong-tok-hu dari Hong-yang."

Kongcu ini tidak jawab Sin Cie, dia hanya mengawasi Ceng Ceng dengan kedua matanya yang sipit.

"Kau dari rombongan wayang mana?" ia tanya nona kita, yang ia sangka ada satu pemuda. "Merdu sekali tiupan serulingmu! Kenapa kau tidak hendak layani toa-ya-mu ini? Ha-ha-ha!"

Sepasang alisnya Ceng Ceng bangun. Ia gusar orang anggap dia ada satu anak wayang. Sebenarnya ia hendak tegur kongcu itu tetapi Sin Cie kedipi dia.

"Inilah saudaraku, kami datang ke Lamkhia untuk cari sahabat," anak muda kita menjawab.

"Kamu cari sahabat, siapa itu?" tanya Ma Kongcu. "Ini hari kamu telah bertemu denganku, mari kita bersahabat! Dengan bersahabat dengan aku, aku tanggung kamu nanti tidak kekurangan makan dan pakaian!"

Ia tertawa pula.

Sin Cie jadi mendongkol, akan tetapi ia masih dapat mengatasi dirinya. Ia tidak perlihatkan roman gusar.

"Tayjin Ma Su Eng itu pernah apa dengan tuan?" tanyanya.

"Ma Tayjin itu adalah pamanku!" sahut Ma Kongcu dengan roman sangat bangga.

Itu waktu dari perahu pelesirannya si kongcu ini muncul pula seorang lain, pakaiannya perlente tetapi kepalanya kecil dengan mata kecil juga, sedang kumisnya caplang. Ia lantas menjura kepada Ma Kongcu.

"Kongcu-ya," katanya sambil tertawa. "saudara ini pandai sekali meniup seruling."

Melihat dandanan orang, Sin Cie merasa pasti orang ini gundalnya pemuda itu.

"Keng Teng, pergi kau bicara dengan mereka," kata Ma Kongcu.

Itulah titah yang cuma dimengerti orang yang dipanggil Keng Teng itu, yang sebenarnya ada orang she Yo. Dia ini lantas hadapi Sin Cie dan Ceng Ceng untuk terus berkata:

"Ma Kongcu ini adalah keponakannya Ma Tayjin, Cong-tok dari Hong-yang, dan dia sangat gemar ikat persahabatan. Ma Tayjin sangat sayang keponakannya ini, hingga dia perlakukannya sebagai puteranya sendiri saja. Jie-wie, baiklah kamu pindah, untuk tinggal bersama-sama Ma Kongcu!"

Sin Cie tidak enak hati mendengar kata-kata itu, terutama ia kuatir Ceng-Ceng gusar, akan tetapi di luar sangkaanya, ia lihat nona itu tertawa dengan ramah-tamah.

"Itulah bagus sekali," katanya Ceng Ceng. "Mari kita berangkat sekarang!"

Ma Kongcu girang seperti ia mendapati mustika yang terjatuh dari langit, dia sambar tangannya Ceng Ceng untuk ditarik. Tapi Ceng Ceng mendahului tarik tangannya sendiri, untuk dipakai membetot satu bunga raya, tubuh siapa ditolak kepada Kongcu itu, hingga mereka itu jadi saling tabrak!

Sin Cie heran, ia diam saja. Ceng Ceng segera berbangkit. "Aku lagi memberi hadiah kepada dua nona ini dan tukang perahu," katanya. "seorangnya lima tail perak..."

"Jangan, nanti akulah yang menghadiahkannya!" berkata Ma Kongcu itu. "Besok kamu pergi kepada tukang uangku untuk terima hadiahmu ini!" Ia tambahkan kepada bunga raya itu dan tukang perahu.

"Apakah bukan lebih baik hadiahkan sekarang saja?" tanya Ceng Ceng dengan tertawa manis.

"Ya, ya , sekarang pun boleh!" kata Ma Kongcu hampir berseru, lantas ia ulapi tangannya kepada salah satu orangnya, maka satu kee-teng lantas keluarkan uang lima-belas tail, yang dia letaki di atas meja. Tukang perahu dan kedua nona bunga raya itu menghaturkan terima kasih, kemudian si tukang perahu kembali pada penggayunya.

Ma Kongcu terus menatap Ceng Ceng, sampai sebentar kemudian perahu sudah sampai di tepi.

"Nanti aku cari joli," Keng Teng bilang.

"Eh, tunggu dulu," tiba-tiba Ceng Ceng kata, romannya agak terperanjat. "Aku kelupaan serupa barang di tempatku, perlu aku pulang dulu untuk mengambilnya."

"Nanti aku titahkan orangku yang pergi ambil," Ma Kongcu bilang. "Tak usah kau yang pulang sendiri. Saudara yang baik, di mana kau tinggal?"

"Aku mondok di kuil Hoat Hoa Sie di luar pintu kota Kim-Coan-mui," sahut Ceng Ceng. "Tapi barangku itu tak dapat lain orang yang mengambilnya."

Yo Keng Teng sudah lantas bisiki Ma Kongcu. "Awasi dia, jangan kasi dia molos!"

"Benar, benar!" kata Kongcu itu dengan mata membelalak. Terus ia pandang "pemuda" itu dan kata: "Kalau begitu, Saudara yang baik, aku nanti temani kau pergi bersama!" Ma Kongcu ulur tangannya, untuk sengklek bahu orang.

Ceng Ceng tertawa geli, tapi ia menyingkir ke samping. "Tidak, aku tidak ingin kau turut!" ia menolak.

Semangatnya Ma Kongcu seperti meninggalkan pergi raganya melihat kelakuan yang menggiurkan itu. "Kau lihat, Keng Teng," katanya , "apabila Saudara yang baik ini dandan sebagai satu nona, pastilah di dalam kota Kimleng ini tidak ada satu gadis jua yang nempil dengannya!..."

"Engko, mari kita pergi," Ceng Ceng mengajak kawannya. Dan ia sambar tangannya Sin Cie, untuk dituntun pergi.

Ma Kongcu melirik kepada Keng Teng, ia lantas mengikutnya, maka gundalnya itu, bersama dua pengiringnya, turut mengikuti ia, hingga berempat mereka berjalan di belakang dua pemuda itu. Si Kongcu sendiri kemudian cepati langkahnya, untuk susul Ceng Ceng, supaya berdua mereka berada berdampingan, untuk bicara sambil tertawa­tawa. Ceng Ceng melayaninya seperti acuh tak acuh.

Sudah lebih dari sepuluh hari Ceng Ceng dan Sin Cie putar-kayun di kota Kimleng, luar dan dalam, maka itu, mereka ingat baik letaknya tempat. Sekarang Ceng Ceng, yang jalan di depan, menuju ke tempat yang makin lama makin sepi, Sin Cie segera bisa duga pikiran si nona.

"Ma Kongcu ini benar ceriwis tetapi kesalahannya tak demikian besar hingga ia harus menemukan kematiannya," pikir anak muda she Wan ini. "Suhu sering bilang padaku, siapa yakinkan ilmu silat, tak dapat ia membinasakan orang yang tak selayaknya binasa. Inilah pantangan untuk kita. Bagaimana aku dapat cegah si Ceng Ceng?" Dengan tiba-tiba, pemuda ini hentikan tindakannya. "Saudara Ceng, mari kita pulang!" ajak ia.

Ceng Ceng menyambutnya sambil tertawa manis. "Pergi kau pulang sendiri," sahutnya.

Ma Kongcu girang bukan buatan. "Benar, benar!" katanya nimbrung. "Pergi kau pulang sendiri!" Kongcu ini demikian tertarik hatinya, ia tak dapat artikan ajakan "pulang" dari si anak muda. Bukankah mereka sedang menuju ke pondokannya si anak muda (Ceng Ceng)? Kenapa sekarang anak muda lainnya mengajak pulang lagi? Sin Cie menggeleng kepala, ia pun menghela napas.

"Dia lagi menghadapi saat mampusnya, dia masih belum menyadarinya..." pikirnya. Selama itu mereka telah sampai di tempat di mana terdapat hanya kuburan. Ma Kongcu mulai berat tindakannya karena mereka sudah jalan jauh. Tidak biasanya keponakan Cong-tok itu jalan kaki demikian lama. Napasnya pun mulai sengal-sengal.

"Apa sudah dekat?" tanyanya.

"Sudah sampai!" sahut Ceng Ceng dengan suara nyaring, yang disusul sama tertawanya yang panjang. Ma Kongcu tercengang, dia melengak. "Sudah sampai? Ini toh kuburan?" pikirnya. Yo Keng Teng si gundal menjadi curiga, hatinya jadi tidak tenteram. Akan tetapi mereka berempat, dan dua pengiringnya itu - ia tahu - ada bertenaga, karenanya, dapat ia hiburkan diri juga.

"Apa yang mereka berdua, anak-anak sekolah, dapat perbuat?" pikirnya pula.

"Saudara, sudahlah!" katanya kemudian. "Sudah, tak usah kamu pulang lagi. Mari kita beramai pergi ke gedung kongcu kami, di sana bisa kita duduk minum..."

Ceng Ceng tertawa dingin. "Pergilah kamu pulang sendiri!"

Sin Cie bilang maksudnya baik. "Baik kau jangan turut kami!" Pemuda ini membuka jalan hidup. Tapi Ma Kongcu berempat adalah bangsa gentong kosong, otak mereka tak dapat tangkap nasihat yang diberikan secara samar-samar itu. Malah si kongcu bawa aksinya.

"Saudara, aku sudah letih sekali," katanya, dengan tingkah dibikin-bikin. "Tolong, kau pegangi aku..." Kongcu ini berada di damping Ceng Ceng, ia bisa ulur tangannya ke pundak nona kita, untuk menggelendotkan dirinya. Sekonyong-konyong saja, satu cahaya putih berkelebat. Sin Cie mengeluh dalam hatinya, ingin ia mencegah, akan tetapi kepalanya Ma Kongcu sudah mendahului jatuh ke tanah dan menggelinding, darah muncrat, membasahkan tubuhnya, yang lantas turut rubuh juga.

Keng Teng kaget hingga ia berdiri menjublak, demikian juga kedua pengikutnya. Ceng Ceng lompat kepada gundal itu dan dua kawannya, satu kali dengan satu kali, ia babat batang leher mereka, sebelum mereka sempat sadar dari tercengangnya, hingga roh mereka pergi susul rohnya kongcu mereka.

Sin Cie tidak mencegah lagi, karena ia pikir, si kongcu sudah binasa, perlu mereka singkirkan saksi-saksi, untuk mencegah ancaman bencana di belakang hari. Menghapus rumput mesti dicabut berikut akar-akarnya.

Ceng Ceng susuti pedangnya di bajunya Ma Kongcu, ia bersenyum saking puas hatinya.

"Orang-orang sebangsa mereka ini cukup diberi hajaran, perbuatan kau ini rada bengis," kata Sin Cie.

Tapi si nona mendelik. "Tak dapat aku terima keceriwisannya!" jawabnya. "Siapa tahu, kejahatan apa mereka sudah perbuat dan apa lagi yang akan terjadi di belakang hari?"

Sin Cie anggap si nona benar juga. Memang Ma Kongcu tentu siap sedia mencelakai orang apabila napsu-hatinya tak tercapai. Akan tetapi, ia toh kata: "Memang sesuatu telur busuk mesti dibunuh mati, tetapi aku ingin kau mengatasi diri sendiri. Bagaimana apabila keliru terbunuh satu orang baik-baik? Apakah itu tidak hebat? Bisa-bisa pergaulan kita putus..."

Ceng Ceng tertawa.

"Itulah tak nanti aku lakukan," katanya. "Mari bantui aku."

Dengan cara mendupak, Ceng Ceng singkirkan mayat Ma Kongcu ke dalam gombolan, perbuatan diturut oleh Sin Cie, hingga keempat mayat tak kelihatan lagi.

"Mari kita pulang," si nona mengajak.

Tiba-tiba Sin Cie tarik ujung baju kawannya.

"Sembunyi!" katanya.

Mereka lantas lompat, untuk sembunyi di belakang sebuah kuburan.

Suara tindakan dari banyak kaki terdengar, datangnya dari arah timur dan barat. Cuaca yang gelap pun lantas menjadi terang, karena orang-orang yang datang - jumlahnya belasan - membawa tengloleng.

Selagi rombonga itu mendatangi dekat satu pada lain, yang di timur perdengarkan tepukan tangan tiga kali, lantas datang sambutan dua kali dari rombongan barat, disusul dengan dua kali lagi. Setelah ini, mereka bergabung menjadi satu, tanpa sepatah kata juga, mereka lantas duduk di depan sebuah kuburan.

Jarak di antara mereka ini dengan Sin Cie berdua kira-kira sepuluh tumbak, tak dapat Ceng Ceng dengar suara bicara, karena ia ingin mengetahuinya, ia bertindak, untuk mendekatinya.

"Tunggu dulu..." Sin Cie mencegah seraya ia tarik ujung baju si nona.

"Tunggu apa lagi?" nona itu tanya.

Sin Cie ulapkan tangannya, untuk cegah kawan itu bicara.

Ceng Ceng menanti, dengan tidak sabaran. Di saat seperti itu, detik-detik waktu dirasakan lambat jalannya.

Tapi segera datang sambaran angin, yang cukup besar, hingga daun-daun pohon dan rumput perdengarkan suara berisik.

Berbareng dengan suara berisik itu, Sin Cie sambar lengan si nona, untuk diajak berlompat, hingga di lain saat, mereka sudah berada di belakang kuburan tanpa ada seorang juga dari antara rombongan itu yang dapat lihat mereka berdua. Di sini mereka lantas mendekam, untuk pasang kuping sambil pasang mata.

Ceng Ceng sementara itu kagumi kawannya itu, terutama kegesitannya dan tenaganya. Ia pun merasai sopannya ini anak muda, sebab tangannya segera dilepaskan dari cekalannya dia itu.

"Dia benar ada satu kuncu, cuma dia rada kering..." pikir nona ini, yang sendirinya sangat bergembira.

Segera mereka dengar satu suara sedikit serak: "Saudara-Saudara perlukan datang dari tempat yang jauh, untuk membantu kepadaku, aku sangat berterima kasih."

Satu suara lain jawab pengutaraan bersyukur itu: "Guruku sedang sakit, sudah kira-kira sebulan ia tak dapat bangkit dari pembaringan, dari itu dia telah minta Twie-hong-kiam Ban Hong Ban Susiok pimpin kami dua-belas muridnya datang kemari untuk disuruh-suruh oleh Bin Loosu."

"Gurumu itu, Liong Ya-cu, sudi bantu aku, aku sangat berterima kasih kepadanya." kata pula si suara rada serak.

"Pedang Twie-hong-kiam Ban Suheng telah menggetarkan wilayah selatan, sekarang Suheng telah datang sendiri ke Kimleng ini, mustahil kita nanti tak berhasil? Begitu lekas aku melihatmu, Ban Suheng, hatiku lantas saja lega tak terkira."

"Itulah pujian belaka!" terdengar suara orang yang ketiga. "Kami dari Tiam Chong Pay justru kuatirkan kami nanti tak dapat berbuat suatu apa untuk membantu Bin Loosu..."

Suara orang ini kecil tetapi terang.

Hatinya Sin Cie tergetar juga. Ia ingat, di waktu-waktu senggang gurunya suka rundingkan ilmu pedang dari pelbagai partai, atau kaum persilatan lainnya, di antaranya empat partai terbesar ialah Bu Tong Pay, Kun Lun Pay, Hoa San Pay dan Tiam Chong Pay, bahwa setiap partai punyakan ilmu-ilmu silatnya yang istimewa. Sekarang ini yang datang, si orang she Ban, ada dari Tiam Chong Pay. Jauh dari tempat ribuan lie, orang datang ke Kimleng ini, apakah maksud mereka itu?

Setelah kedua saling bicara secara sungkan itu, kembali terdengar tepukan tangan dari kejauhan, suara mana disambut oleh rombongan di muka kuburan ini. Atas sambutan itu, lalu muncul lagi tiga rombongan lain, yang datangnya saling susul. Mendengar dari pembicaraan mereka, Sin Cie ketahui dia ini ada dari kalangan mana.

Rombongan yang pertama adalah rombongan Siauw Lim Sie dari Pouw-thian, Hokkian, yang dipimpin oleh Sip Lek Taysu, kam-ih atau kepala dari ruang Tat Mo In dari kuil partai Siauw Lim Pay.

Rombongan yang kedua adalah kawanan bajak dari sepanjang pesisir Ciatkang dari Hokkian, yang dipimpin sendiri oleh Pek-hay Tiat-keng The Kie In si ikan lodan, yang jadi Cong-bengcu atau ketua dari bajak-bajak dari tujuh puluh dua pulau di sepanjang propinsi-propinsi tersebut.

Dan rombongan yang ketiga adalah partai Tiang Pek Pay dari gunung Tiang Pek San di Liauw-tong dengan dipimpin sendiri oleh ketiga ketuanya, yang dikenal dengan julukannya yaitu Tiang Pek Sam Eng atau tiga jago Tiang Pek ialah Su Peng Kong, Su Peng Bun dan Lie Kong.

Sin Cie jadi makin heran. Mereka itu, semuanya ada orang-orang Kang-ouw kenamaan. Apa perlunya mereka berkumpul di Lamkhia? Mereka hendak bantu si orang she Bin dalam urusan apa? Orang she Bin ini hampir tak hentinya menghaturkan terima kasihnya kepada mereka itu. Teranglah sudah, mereka itu sengaja diundang datang.

Ceng Ceng pun heran, ingin ia tanya Sin Cie, tapi untuk berhati-hati, ia coba atasi diri sendiri. Ia insyaf, di muka orang-orang liehay itu, sedikit saja ia berkelisik, mereka bakal dapat tahu, atau sedikitnya mereka bakal bercuriga.

Segera terdengar pula suaranya si orang she Bin: "Aku Bin Cu Hoa...."

"Inilah nama yang aku pernah dengar," berpikir Sin Cie. "Tidak salah, aku dengarnya dari suhu. Dia ini orang macam apa? Ah, kenapa aku bolehnya lupa?"

Si orang she Bin lanjuti omongannya: "Saudara-Saudara, aku sangat bersyukur yang Saudara-Saudara telah datang untuk membantu aku, karena itu, harap Saudara-Saudara suka terima hormatku..."

Sin Cie percaya orang she Bin itu berlutut untuk hunjuk terima kasihnya itu, karena ia dengar suara-suara yang merendah dan yang mempersilakan orang berbangkit.

"Jangan berbuat begini, Bin Jieko, tak sanggup siauwtee menerimanya," demikian terdengar juga.

Kemudian terdengar pula suaranya Bin Cu Hoa itu: "Selama beberapa hari ini, Thio Sim It suheng dari Kun Lun Pay, beberapa tootiang dari Ngo Bie Pay, dan beberapa suheng dari Hoa San Pay juga pasti bakal datang semuanya..."

"Oh, dari Hoa San Pay juga bakal ada yang datang?" tanya satu suara. "Inilah bagus sekali! Murid siapakah dia itu?"

Sin Cie heran, tapi ia kata dalam hatinya: "Bagus pertanyaan ini! Aku memang ingin menanyakannya..."

Segera terdengar jawabannya Bin Cu Hoa: "Mereka adalah beberapa suheng murid­muridnya Cio Poan San Long...."

"Kalu begitu, mereka adalah muridnya Jie-suheng," pikir Sin Cie.

"Apakah Bin Jieko bersahabat kekal dengan Kwie Sin Sie suami isteri?" ada suara yang menanya pula. "Inilah bagus! Dengan adanya mereka itu, tak usah kita kuatirkan lagi kepada kan-cat she Ciauw itu!"

"Mana dapat aku sendiri yang bersahabat dengan suami-isteri she Kwie itu?" ada jawabannya Bin Cu Hoa. "Adalah murid kepalanya, Bwee Kiam Hoo, yang bersahabat karib denganku."

"Bwee Kiam Hoo?" tanya satu suara lain. "Dia toh Bu Eng Cu si Bayangan Tak Ada yang dengan sebatang pedangnya telah taklukkan tujuh jago di jalanan propinsi Shoatang, bukankah?"

"Tidak salah, benarkah dia?" Bin Cu Hoa berikan kepastian.

Sin Cie masih heran akan tetapi sekarang hatinya lega.

"Di sini turut orang dari pihakku, rupanya mereka ini berada di pihak benar," pikir ia. "Baik aku jangan muncul di antara mereka, apabila ada ketikanya , aku nanti bantu mereka secara diam-diam saja."

Lalu kembali terdengar suaranya Bin Cu Hoa: "Ketika dulu hari kandaku terbinasa teraniaya secara hebat itu, untuk lebih daripada sepuluh tahun aku telah berkelana ke segala tempat untuk cari musuhku itu, tak juga aku berhasil mengetahui, siapa sebenarnya dia. Adalah baru-baru ini, aku memperoleh penghunjukkan dari persaudaraaan Su dan Tiang Pek San kandaku telah terbinasa di tangannya kan-cat she Ciauw itu! Aku sumpah, apabila tidak dapat aku balaskan sakit hati kandaku itu, tak sudi aku jadi manusia!"

Menyusul itu terdengarlah suatu suara keras. Rupanya dengan semacam senjata, Bin Cu Hoa perkuatkan sumpahnya dengan membacok atau memukul batu bongpay dari kuburan.

Lantas terdengar suara seorang lain: "Tiat-pwee Kim Go Ciauw Kong Lee si Buaya Emas Berbokong Besi adalah seorang Kang-ouw yang juga berkenamaan, aku tidak sangka dia bisa berbuat demikian macam. Entah dari mana kedua saudara Su itu ketahui rahasia pembunuhan itu?"

Mendengar lagu-suaranya, orang ini menyatakan kesangsian.

Bin Cu Hoa tidak tunggu Su Peng Kong dan Su Peng Bun menjawab sendiri, ia mendahuluinya: "Kedua saudara Su telah tuturkan jelas kepadaku duduknya penganiayaan terhadap kandaku itu di Shoa-tang, untuk itu ada buktinya, maka haraplah Taysu tidak usah sangsi lagi."

Orang yang menyatakan keragu-raguannya itu tidak menanya lebih jauh, lalu terdengar suaranya seorang lain lagi: "Ciauw Kong Lee itu telah berdiam untuk puluhan tahun di kota Kimleng ini, pengaruhnya telah mendalam dan kuat, sekarang kita hendak gempur dia, harus kita berhati-hati...."

"Memang kita harus berhati-hati," jawab Bin Cu Hoa. "Aku tahu, dengan seorang diri saja, tak dapat aku gempur dia, maka itu aku telah besarkan hati mengundang Saudara-Saudara sekalian. Besok pada jam yu-sie tepat aku undang Saudara-Saudara untuk menghadiri satu perjamuan sederhana di rumahku di gang Chia-lam di luar kota Selatan, aku harap sangat kedatangan Saudara-Saudara."

Suara jawaban ramai menerima undangan itu; ada yang mengucap terima kasih, ada yang minta orang she Bin itu tak sungkan-sungkan.

Kemudian Bin Cu Hoa berkata pula: "Kali ini jumlah sahabat-sahabatku ada banyak, tak usah disangsikan lagi yang pihak musuh tak mengetahuinya, maka kalau besok Saudara-Saudara datang, baik kita menggunai tanda, ialah sesuatu saudara angkat tangan terhadap orang-orangku yang menyambut di muka pintu, dengan tunjuki tiga jari tangan kanan ialah jeriji-jeriji tengah, manis dan kelingking, yang dikasi turun sambil dengan pelahan pun mengucapkan "Kang-ouw gie khie, poat too siang cie". Dengan cara ini dapat kita cegah seumpama musuh kirim mata-matanya."

"Itu benar!" menyatakan beberapa suara setuju. "Kita semua datang dari empat penjuru, banyak di antara kita yang belum kenal betul satu dengan lain, maka untuk selanjutnya, baik tetap kita gunai pertandaan ini."

Usul ini pun telah dapat persetujuan.

Kemudian, setelah ditetapkan juga, siapa mesti dikirim ke rumah keluarga Ciauw, untuk membuat penyelidikan, menyerep-nyerepi kabar, pertemuan rahasia itu ditutup, lalu mereka bubaran.

Setelah orang sudah pergi jauh, barulah Sin Cie berdua berani bergerak, untuk duduk beristirahat. Ceng Ceng merasa kakinya pada kaku.

"Toako, besok kita pergi menonton keramaian, bukan?" si nona tanya.

"Pergi menonton sih boleh, akan tetapi kau mesti dengar perkataanku," jawab Sin Cie. "Tak dapat kau timbulkan gara-gara."

"Memangnya siapa yang hendak membikin ribut?" Ceng Ceng menjawab.

Habis itu, mereka berlalu, untuk pulang.

Besoknya tengah-hari, seluruh kota Kimleng menjadi gempar karena perkara pembunuhan gelap atas dirinya Ma Kongcu serta gundal dan pengiring-pengiringnya. Sin Cie berdua dengar kabar itu, berdua Ceng Ceng, ia keram diri dalam kamar. Akan tetapi kapan sang magrib datang, setelah salin pakaian, mereka pergi keluar, ke gang Chia-lam di mana, dengan tindakan lambat, mereka perhatikan sebuah rumah besar yang muka pintunya diterangi tengloleng, banyak tetamu yang datang saling susul.

Dengan berani, tapi dengan sikap biasa, Sin Cie dan Ceng Ceng bertindak ke pintu, kepada penjaga pintu, mereka tunjuki tiga jari mereka seraya menyebut "Kang-ouw gie khie, poat too siang cie", dengan begitu, satu penyambut beri hormat pada mereka dan seorang lainnya lagi antar mereka ke dalam di mana mereka disuguhkan teh, lantas she dan nama mereka ditanyai. Dengan enak saja mereka ngaku she Thia dan Bun.

"Sudah lama kau dengar nama besar dari Jie-wie," kata penyambut itu dengan pujiannya, walaupun ia sebenarnya tak kenal kedua tetamu ini.

Ceng Ceng geli di dalam hatinya, ia berpikir: "Aku sendiri baru pertama kali denga she-ku ini, kau sebaliknya telah dengar sejak lama..."

Sementara itu, tetamu yang datang semakin banyak, maka untuk menyambut mereka, penyambut ini mohon diri, untuk layani mereka. Di dalam hatinya ia anggap, mereka ini berdua entah muridnya siapa.

Sin Cie berdua tidak usah menunggu lama, lantas orang semua diundang duduk berkumpul, karena rapat hendak dimulai. Mereka duduk di pinggiran dengan ditemani oleh murid kelima dari Bin Cu Hoa. Yang lainnya juga ada anak-anak muda. Hati mereka lega karena orang tidak perhatikan mereka.


Thanks for reading PEDANG ULAR MAS 15

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar