Jilid 16
Pertemuan dibuka dengan keringkan arak tiga idaran, Bin Cu Hoa hampirkan sesuatu tetamunya, untuk memberi selamat datang kepada mereka dengan secawan arak. Kapan tuan rumah ini hampirkan meja mereka, Sin Cie dapat lihat tegas tuan rumah ini, seorang umur empat puluh delapan atau sembilan tahun, lengannya berurat kasar, romannya cerdik, tindakannya gagah, tanda ilmu silatnya tinggi, akan tetapi kedua matanya bengul dan merah, suatu tanda ia sedang bersedih untuk kandanya, rupanya selama beberapa hari ini, ia menangis saja.
"Dia sangat mencintai saudaranya, dia harus dihormati," pikir Sin Cie. "Dia bikin undangan kepada begini banyak sahabatnya, mestinya si orang she Ciauw itu, musuhnya, berpengaruh besar sekali."
Bin Cu Hoa menjura tiga kali kepada semua tetamunya, ia berulang-ulang menghaturkan terima kasih, ia undang pula sekalian tetamu keringkan cawan mereka.
Rombongannya Sin Cie membalas hormat, terutama karena mereka dari golongan muda.
Mendadak salah seorang muridnya Bin Cu Hoa muncul dengan kesusu, ia hampirkan gurunya, untuk berbisik, setelah mana, kelihatan tuan rumah itu jadi sangat girang, lekaslekas ia letaki cangkirnya di atas meja, lantas ia lari ke arah pintu, kapan sebentar kemudian ia kembali, ia berserta tiga orang yang ia perlakukan hormat sekali. Ia juga undang ketiga tetamu itu duduk di kepala meja.
"Pasti mereka ini adalah orang-orang kenamaan," pikir Sin Cie, yang awasi mereka.
Orang pertama, yang dandan sebagai satu pelajar, menggendol sebatang pedang panjang di belakangnya, kedua matanya bersinar dan sikap-dedeknya angkuh. Orang kedua berumur tiga-puluh lebih. Dan yang ketiga, umur dua puluh dua atau dua puluh tiga tahun, adalah sorang perempuan yang elok parasnya, tapi sikapnya adem.
"Bwee Toako datang tepat sekali, aku sangat bersukur." Terdengar suaranya Bin Cu Hoa.
Pelajar itu tertawa.
"Urusan Bin Jieko mana dapat kami tak campur tahu?" kata dia.
"Kalau begitu, dia pasti ada Bwee Kiam Hoo, muridnya Jie-suheng Kwie Sin Sie," pikir Sin Cie. "Kenapa dia begini jumawa?"
Bwee Kiam Hoo berkata pula:
"Dalam urusan sebagai ini, guruku tentu tak berkeinginan untuk mencampur tahu, tetapi aku sendiri adalah lain, maka itu, aku telah undang dua orang lain untuk bantu kau, Bin Jieko. Ini adalah sam-suteeku Lauw Pwee Seng dan ini ngo-sumoay Sun Tiong Kun."
"Sungguh aku beruntung," mengucap Bin Cu Hoa. "Memang sudah sejak lama aku dengar namanya Sin-kun Thaypo dan Sun Liehiap!"
Orang she Bin ini tidak berani sebut gelarannya Sun Tiong Kun, maka ia memanggil "liehiap" (wanita gagah). Kaum Kang-ouw juluki si nona "Hui Thian Mo-lie" atau "Hantu Perempuan Yang Terbang Ke Langit", atau ringkasnya, Hantu Perempuan. Sebab Sun Tiong Kun terlalu disayang gurunya, dan karena mengandali bugeenya yang liehay, ia jadi galak dan telengas juga, hingga umumnya orang jadi jeri terhadapnya.
Kemudian Bin Cu Hoa perkenalkan Sip Lek Taysu, Tiang Pek Sam Eng, Pek-hay Tiang Keng dan Twie-hong-kiam Ban Hong, juga yang lain-lain, kepada tiga tetamu yang terbelakang ini.
Perjamuan dilanjuti pula, sampai satu muridnya Bin Cu Hoa hampirkan gurunya untuk serahkan dua lembar ang-tiap lebar, membaca surat mana, mulanya orang she Bin itu berubah wajahnya, lalu kemudian ia tertawa kering.
"Ciauw Loojie benar-benar liehay!" berkata dia dengan nyaring. "Pihak kami belum sempat cari dia, dia sudah mendahului datang kepada kami. Bwee Toako, baru kamu sampai, dia sudah lantas dapat tahu?"
Ia serahkan ang-tiap itu kepada orang she Bwee ini.
Surat yang satu bertuliskan kata-kata: "Hormatnya adik yang muda, Ciauw Kong Lee," sedang yang kedua memuat nama-namanya Bin Cu Hoa, Sip Lek Taysu, Tiang Pek Sam Eng dan yang lain-lain, tak terkecuali nama Bwee Kiam Hoo bertiga. Mereka semua diundang untuk besok sore berkunjung ke rumahnya orang she Ciauw itu, untuk hadirkan perjamuan.
"Sebagai tee-tauw-Coa, Ciauw Loo-jie benar-benar liehay," kata orang she Bwee ini. "kita orang tak dapat menjadi kiang-liong akan tetapi boleh juga kita mencoba-coba melawannya!"
"Tee-tauw-Coa" berarti "ular setempat", yang dimaksudkan sebagai tuan rumah, dan "kiang-liong" adalah "naga yang tangguh", yang sebagai tetamu endonan. Tegasnya, walaupun kosen, tak dapat layani ular setempat....
Kemudian Bin Cu Hoa kata pada muridnya: Pergi kau undang masuk pada pembawa surat undangan ini!"
Murid yang diperintah itu lantas pergi keluar.
Semua orang menunda cawan arak mereka, semua mata diarahkan ke pintu, dari mana si murid tadi kembali dengan diikuti seorang laki-laki, berumur kurang lebih tiga puluh tahun, bajunya baju panjang, tindakannya sabar, romannya tenang, sesampai di depan Bin Cu Hoa, ia itu memberi hormat sambil menjura, terus ia berkata: "Guruku dengar kabar para Cianpwee telah datang ke Kimleng ini, ia undang para Cianpwee untuk besuk datang, beromong-omong dengannya, maka teecu ini dikirim untuk mengundangnya."
Bwee Kiam Hoo tertawa dingin.
"Ciauw Loo-jie mengadakan pesta Hong-bun!" katanya. Lalu ia menoleh pada pembawa surat undangan itu dan kata: "Eh, apa namamu?"
Meski juga ia diperlakukan tak dengan hormat, utusan itu tetap berlaku sopan santun.
"Teecu bernama Lo Lip Jie," sahutnya.
Bwee Kiam Hoo membentak dengan pertanyaannya pula: "Ciauw Loojie undang kita, dia mengatur tipu daya keji macam apa? Apakah kau ketahui itu?"
Tetap dengan hormat, Lip Jie menyahuti: "Guruku dengar para Cianpwee telah datang di kota Lamkhia, ia sangat kagum dan menghargainya, ingin dia bertemu dengan Cianpwee semua, dari itu ia tidak kandung maksud lainnya."
"Hm, bagus benar kata-katamu!" kata pula Kiam Hoo. "Aku tanya kau: Ketika dulu Ciauw Kong Lee aniaya kandanya saudara Bin Cu Hoa ini, kau turut saksikan sendiri kejadian itu atau tidak?"
"Itulah urusan sangat panjang, maka guruku undang para Cianpwee," sahut Lip Jie. "Adalah maksud guruku, kesatu untuk memberi penjelasan kepada para Cianpwee, dan kedua, ingin dia menghaturkan maaf kepada Bin Jie-ya."
"Bagus betul!" berseru Kiam Hoo. "Orang telah dibunuh mati, apa itu dapat dihabiskan dengan penghaturan maaf saja?"
"Pada waktu itu, guruku telah didesak sampai ia habis daya, karenanya ia kesalahan turun tangan," kata pula Lip Jie. "Sejak itu hari, sampai sekarang ini guruku masih tetap menyesal...."
"Kalau begitu, pada waktu kejadian kau menghadapinya sendiri!" berteriak Hui Thian Molie Sun Tiong Kun.
"Aku tidak saksikan itu sendiri," jawab Lip Jie, "akan tetapi guruku ada seorang baik, tidak nanti dia membunuh secara sembarangan..."
"Celaka, kau masih membantah!" berseru pula si Hantu Wanita, yang tubuhnya mendadakan mencelat dari kursinya, ke arah pembawa surat itu, selagi dia berlompat, pedangnya berkelebat, lalu dengan tangan kirinya, dia tekan dadanya utusan ini.
Lo Lip Jie terkejut, dengan tangan kanan, ia tolak tangan kiri si nona. Ia gunai tipu gerakan "Tiat-bun-su" atau "Palang Pintu Besi."
"Celaka, tangan kanannya itu bakal kutung!" kata Sin Cie kepada Ceng Ceng. Ia terkejut melihat sikapnya Sun Tiong Kun dan daya pembelaan si utusan.
"Apa kau bilang?" tanya Ceng Ceng.
Belum sempat Sin Cie menyahuti si nona, atau Lo Lip Jie sudah perdengarkan seruan hebat, bahu kanannya telah terbacok sapat.
Semua hadirin jadi kaget, semua berbangkit. Lo Lip Jie berdiri dengan muka pucat, akan tetapi ia tidak rubuh, dengan tangan kiri ia beset ujung bajunya, untuk dipakai membalut lukanya, kemudian ia membungkuk, akan jumput lengannya yang kutung itu, buat dibawa pergi dengan tindakannya yang lebar.
Para hadirin tercengang melihat orang sedemikian tangguh, hingga mereka berdiam seraya saling mengawasi saja. Sun Tiong Kun susuti darah pada pedangnya, dengan tenang ia kembali ke kursinya, untuk duduk dengan anteng, akan minum araknya seperti biasa saja.
"Orang ini bandel dan bertingkah, gurunya tentu galak dan jahat melebihkan dia," berkata Kiam Hoo. "Bagaimana besok, kita hadirkan pesta perjamuannya atau tidak?"
"Pasti kita mesti pergi!" kata Ban Hong. "Jikalau kita tidak pergi, tentu dia akan pandang sebelah mata pada kita!"
"Baiklah malam ini kita kirim orang untuk membuat penyelidikan," usulkan Pek-hay Tiang Keng The Kie In si Ikan Lodan. "Kita cari tahu secara rahasia, dia sebenarnya undang siapa-siapa untuk bantui pihak dan besok dia telah atur tipu-daya atau tidak..."
"The Tocu benar!" Bin Cu Hoa puji tetamunya itu, ketua umum kawanan bajak. "Turut dugaaanku, tentunya Ciauw Kong Lee telah mengatur persiapan kuat. Maka dari pihak kita, saudara-saudara siapa yang sudi bercape-lelah akan intai musuh kita itu?"
"Siauwtee suka pergi!" mengatakan Twie-hong-kiam Ban Hong si Pedang Angin. Bin Cu Hoa berbangkit, ia isikan satu cawan arak, yang ia bawa kepada tetamunya itu. "Silakan minum, Toako!" ia memberi selamat. Ban Hong menyambuti dan meminumnya kering sekali cegluk. Sampai di situ, pembicaraan telah selesai, maka setelah perjamuan dilanjuti lagi sekian lama, orang semua bubaran.
Sin Cie kasi tanda gerakan tangan kepada Ceng Ceng, terus ia ikuti Ban Hong dengan si nona mengiringi ia. Perbuatan mereka tak diketahui oleh orang Tiam Chong Pay itu. Itu waktu sudah kira-kira jam dua. Ban Hong pulang ke hotelnya untuk salin pakaian, lantas ia keluar pula, menuju ke timur. Sin Cie berdua terus menguntit hingga mereka dapati orang she Ban itu menikung dan menembusi tujuh atau delapan pengkolan jalan besar, kemudian, setelah mengitari sebuah rumah besar, dia lompat naik untuk memasuki pekarangan.
Sin Cie saksikan gerakan pesat orang itu. "Tidak kecewa dia dijuluki Twie-hong-kiam," pikirnya. Mereka juga berlompat, untuk menguntit terus.
Dari sebuah kamar tampak sinar terang. Kamar itu dilewati oleh Ban Hong. Tapi Sin Cie ingin tahu, berdua Ceng Ceng, ia hampirkan jendela, dari sela-sela, ia mengintip ke dalam.
Di dalam kamar itu kedapatan tiga orang yang sedang duduk, yang duduk madap keluar ada seorang usia lima-puluh lebih, sepasang alisnya mengkerut, wajahnya berduka.
"Lip Jie bagaimana?" tanya dia setelah menghela napas.
"Lo Suko telah pingsan beberapa kali, tapi sekarang darahnya sudah berhenti keluar," sahut orang yang duduk di bawahannya.
Sin Cie lantas menduga, orang tua itu tentulah Ciauw Kong Lee bersama dua muridnya. Mereka pun lagi omong hal lukanya Lo Lip Jie, si utusan pembawa surat.
Terdengar orang yang ketiga berkata: "Suhu, baik kita minta beberapa saudara untuk mengadakan perondaan di sekitar rumah kita ini, aku kuatir musuh nanti kirim orang untuk intai kita..."
Orang tua itu menghela napas pula.
"Dirondai atau tidak, sama saja," jawabnya. "Sekarang ini aku sudah beserah kepada takdir. Besok pagi kamu antar subo, sumoay serta suteemu yang kecil ke rumah keluarga Gouw di Ouw-Ciu."
"Suhu, harap kau tidak putus asa!" berkata murid itu tanpa ia mengiakan titah gurunya itu. "Kita di dalam kota Lamkhia ini toh mempunyai lebih daripada dua ribu saudara, jikalau kita lakukan perlawanan, apa musuh bisa berbuat terhadap kita?"
Masih orang tua itu menghela napas.
"Lawan kita telah undang orang-orang Kang-ouw yang sangat kenamaan," katanya. "Percuma-cuma saja , kita akan buang jiwa jikalau kita lawan keras kepada mereka itu. Maka, kalau nanti aku terbinasa, aku minta sukalah kamu rawat baik-baik pada subo, sumoay dan suteemu itu. Mereka semua mengandal atas tunjangan kamu beramai..."
Lantas orang tua itu mengucurkan air mata.
"Suhu, jangan Suhu mengucapkan begitu," kata murid yang lainnya. "Ilmu silat Suhu tinggi, hingga Suhu bisa menjagoi di Kanglam, umpama kata Suhu tak dapat memenangkan mereka, toh tidak nanti Suhu bakal kena dikalahkan. Kita terdiri dari dua puluh lima suheng-tee, kecuali Lo Suko, masih ada dua puluh empat, mustahil kita tidak sanggup lawan mereka itu? Kenapa Suhu tidak mau undang sahabat-sahabat Suhu di pelbagai tempat, supaya mereka datang membantu?"
"Dulu di masa muda, aku pun berdarah panas sebagai kamu," kata guru itu. "kesudahannya, seperti kau lihat, onar menjadi begini rupa. Sekarang ini aku terserah, aku hendak kasi diriku dibunuh mereka, untuk membayar hutang jiwa, dengan begitu urusan menjadi beres...."
Terharu Sin Cie dan Ceng Ceng dengar pembicaraan guru dan murid-muridnya itu.
"Kelihatannya Ciauw Kong Lee ini bukan seorang jahat," memikir pemuda kita. "Mungkin dulu dia telah berbuat salah tetapi sekarang ia sudah insaf dan menyesal...."
"Suhu!" tiba-tiba seru seorang murid. "Oleh karena Suhu berkeputusan tidak hendak lawan mereka," berkata murid ini dengan jawabannya, "marilah malam ini juga kita berangkat untuk menyingkirkan diri, sedikitnya untuk sementara waktu..."
"Mana dapat tindakan itu diambil?" berseru seorang murid yang lainnya. "Suhu kenamaan, apa mungkin kita jeri terhadap musuh?"
"Apa sih kenamaan atau tidak kenamaan?" kata Ciauw Kong Lee, orang tua itu. "Sekarang ini aku tidak pikiri soal kenamaan lagi. Menyingkir juga tak dapat kita menyingkir untuk selama-lamanya. Maka besok pagi, kamu semua berangkat, aku akan berdiam sendirian di sini, untuk layani mereka!"
Kedua murid itu menjadi sibuk.
"Aku suka temani Suhu!" berseru mereka.
"Apa?" berseru juga sang guru. "Selagi ancaman malapetaka mendatangi, kau tak suka dengar perkataanku?"
Dua murid itu tunduk, mereka bungkam.
"Pergilah, kamu bantui subo berkemas-kemas," Ciauw Kong Lee menitah. "Juga lihat, kereta sudah siap atau belum."
"Baik Suhu," sahut kedua murid, akan tetapi kaki mereka tidak bergerak. Mereka seperti terpaku di situ.
Ciauw Kong Lee awasi mereka itu, ia menghela napas pula.
"Baik, kamu suruh semua berkumpul di sini!" akhirnya guru ini.
Baru setelah titah ini, kedua murid itu bertindak keluar.
Sin Cie ajak Ceng Ceng segera menyingkir ke pojok yang gelap. Tapi justeru karena menyingkir ke situ , selagi pasang mata, mereka lihat dua tubuh sedang mendekam di pojok tembok sebelah barat. Sin Cie mengawasi, hingga samar-samar ia kenali tubuh seperti tubuhnya Ban Hong, sedang yang satunya lagi adalah satu tubuh langsing dengan baju merah, hingga ia pun kenali Hui Thian Mo-lie Sun Tiong Kun.
Jadi rupanya, setelah tadi menuju ke belakang, orang she Ban itu pergi sambut kawan perempuan itu.
Gemas Sin Cie apabila ia ingat ketelengasan si Hantu Wanita tadi, yang secara getas membabat kutung sebelah lengannya Lo Lip Jie. Orang Hoa San Pay tak selayaknya berbuat demikian bengis dan kejam. Maka mau ia memberi ajaran.
"Kau berdiam di sini, aku larang kau bergerak!" pemuda ini pesan Ceng Ceng, di kuping siapa ia berbisik.
Nona itu geraki tubuhnya, ia bersenyum.
"Aku justru ingin bergerak..." katanya.
Sin Cie tidak menegur, ia malah bersenyum juga. Lantas ia menyelinap di tempat gelap itu, ia jalan mutar, hingga ia berada di sebelah belakangnya Ban Hong dan Sun Tiong Kun.
Dua pengintai itu sedang memasang mata ke dalam kamar, perhatian mereka dipusatkan, hingga mereka tidak tahu orang membayangi mereka. Rupanya mereka tak curiga sedikit juga.
Sin Cie hunjukkan kegesitannya. Setelah datang dekat, dia lompat melesat ke belakang nona Sun itu, selagi lewat, tangannya diulur, akan menyambar pedang, sehingga pedang itu sekejab saja berpindah tangan tanpa si nona engah!
Ceng Ceng lihat kawannya kembali kepadanya, tapi kapan ia tampak kawan ini curi pedangnya Sun Tiong Kun, ia tidak puas.
"Kau simpan ini!" kata Sin Cie dengan pelahan seraya sodorkan pedang curian itu.
Melihat ini, barulah Ceng Ceng girang. Ia lantas sambuti pedang itu. Kemudian berdua mereka mengintai pula di jendela.
Selama itu, hampir beruntun, datang dua-puluh orang lebih. Karena mereka terlihat tegas, kenyataan yang paling tua berusia kira-kira empat puluh dan yang termuda baru belasan tahun. Tidak salah lagi, mereka adalah murid-muridnya Ciauw Kong Lee ini.
Sesampainya di dalam kamar, semua murid itu beri hormat pada guru mereka, lantas mereka berdiam diri, tidak ada yang buka suara.
Ciauw Kong Lee awasi mereka semua, ia perlihatkan air muka guram.
"Di masa mudaku, aku hidup dalam dunia Rimba Hijau," kata guru ini. "Sekarang ini tak perlu aku umpatkan apa jua terhadap kamu semua. "
Sin Cie pandang semua murid itu, mereka angkat kepala, tapi masih mereka berdiam saja. Terang sudah, semua murid itu benar-benar tidak ketahui hal-ikhwal guru mereka itu.
"Sekarang musuh telah datang, ingin aku jelaskan kamu semua duduknya permusuhan," kata pula guru itu.
(Bersambung bab ke 11)
Bab 11
Lagi-lagi Ciauw Kong Lee menghela napas.
"Sebagai orang Rimba Hijau, aku ambil kedudukan di atas bukit Siang Liong Kong," demikian ia mulai. "Pada tahun itu, pada suatu hari aku terima laporan dari beberapa saudara pengawas tentang bakal lewatnya serombongan "minyak air" di bawah gunungku. Itulah rombongannya bekas tootay dari Souw-Ciu dan Siongkang, yang bersama keluarganya dalam perjalanan pulang ke kampung halaman mereka. Adalah kebiasaan kita kaum Rimba Hijau, kita hidup dari pembegalan atau perampasan, apapula hartanya pembesar-pembesar jahat, yang makin tak dapat dikasi hati. Laginya, dengan membegal satu lepasan pembesar, hasilnya berlipat seratus kali daripada kita ganggu rombongan saudagar, sedang harta mereka biasanya harta tidak halal dan pantaslah bila kita merampasnya. Maka bulatlah tekadku untuk merampasnya. Turut keterangan lebih jelas, bekas tootay itu ada orang she Khu dan rombongannya bakal lewat di waktu lohor. Apa yang menyulitkan kita, terkabar bekas tootay itu pakai pelindung yang bukan orang sembarangan, sebab dia adalah Bin Cu Yap, pemimpin Hwee Yu Piauw Kiok dari Ceelam, Shoatang. Bin Cu Yap itu adalah kandanya Bin Cu Hoa ini."
Baru mendengar sampai di situ, Sin Cie dan Ceng Ceng lantas saja mengerti duduknya hal.
"Beginilah kiranya," pikir pemuda kita. "Ciauw Kong Lee hendak merampas, Bin Cu Yap hendak membelainya. Sebagai piauwsu, itulah kewajibannya Bin Cu Yap. Rupanya mereka telah bertempur, Bin Cu Yap kalah, dia mati terbunuh...."
Sembari pasang kuping, Sin Cie juga tidak lepas mata terhadap Ban Hong dan Sun Tiong Kun, maka itu ia dapat melihat ketika nona Sun satu kali meraba bebokongnya, dia terperanjat karena pedangnya tak ada di tempatnya, hingga dia kaget dan berjingkrak karenanya, segera dia memberi tanda pada Ban Hong, lantas keduanya angkat kaki dari rumahnya si orang she Ciauw itu.
Diam-diam Sin Cie tertawa dalam hatinya. Ia terus mendengari:
"Bin Cu Yap itu, dalam kalangan Kang-ouw, ada kenamaan," Ciauw Kong Lee melanjuti. "Dia ada satu ahli silat dari Bu Tong Pay...."
"Oh, persaudaraaan Bin itu ada dari Bu Tong Pay," Sin Cie pikir. "Menurut suhu, Bu Tong Pay adalah pusat utama dari pelajaran ilmu silat pedang di seluruh negara dan ketuanya ada punya pergaulan luas dengan lain-lain kaum persilatan. Pantas sekarang Bin Cu Hoa bisa undang demikian banyak orang kosen."
"Mulanya tak berani aku segera turun tangan," Ciauw Kong Lee bercerita pula, "malah aku segera turun gunung untuk membikin penyelidikan sendiri. Malam itu aku mengintai di rumah penginapan. Apa yang aku saksikan membuat perutku hendak meledak saking gusar dan mendongkol. Di luar dugaan, Bin Cu Yap ada seorang yang kemaruk paras eilok, dan dia telah incar puteri kedua dari Khu-Tootay. Untuk ini, dia telah bersekongkol sama Thio Ceecu, pemimpin Hui Houw Cee. Rencana mereka adalah Thio Ceecu akan turun tangan di dekat Hui Houw Cee, selagi perampasan dilakukan, Bin Cu Yap nanti berpura-pura melakukan perlawanan, tapi dia akan berpura-pura kalah, supaya Thio Ceecu dapat binasakan Khu Tootay sekeluarga kecuali gadisnya yang kedua itu, yang mesti dirampas bersama semua hartanya. Setelah itu, Bin Cu Yap akan berpura-pura berlaku nekat, untuk tolong nona Khu itu. Apabila si nona sudah dapat ditolong, kata Bin Cu Yap, dia pasti jadi sebatang kara, tidak ada pelindungnya lagi, hingga ia percaya, nona itu akan berhutang budi padanya dan nanti suka serahkan diri untuk menjadi isterinya. Thio Ceecu bersedia melakukan rencana itu, karena ia pun temahai hartanya tootay itu. Aku dengar semua itu, aku gusar, lantas aku pulang, untuk ajak sekalian saudara bersiap di dekat Hui Houw Cee, guna rintangi rencana itu. Benarlah, pada jam yang disebutkan, rombongan Khu Tootay sampai di jalanan gunung bagian kiri dari Hui Houw Cee, sarangnya Thio Ceecu itu."
"Ah, inilah lain," pikir Sin Cie. Tadinya ia menduga, begal dan piauwsu perebuti harta saja. Ia mendengari terus:
"Waktu itu tak dapat aku sabarkan diri," kata Ciauw Kong Lee yang melanjuti. "Aku junjung pantang kita kaum Rimba Hijau mengenai soal paras eilok. Kita boleh buntu jalan, kita boleh menjadi begal, tapi kita tetap mesti jadi satu laki-laki, tidak demikian ada Bin Cu Yap. Kenapa dia jadi begitu hina, sedang dia ada satu piauwsu? Sebagai piauwsu, dia menyalahi tugas, dia bikin turun derajatnya, dan sebagai orang gagah, dia perhina martabat sendiri! Segera setelah munculnya rombongan Khu Tootay, Thio Ceecu dan laskarnya pun keluar, dengan banyak berisik, mereka mengancam hendak membegal. Bin Cu Yap maju ke muka, dengan tingkahnya yang tengik, ia berlagak hendak melindungi keluarga Khu itu. Aku habis sabar, tidak tunggu sampai mereka lanjuti sandiwara mereka, aku keluar dari tempat tersembunyi. Adalah maksudku untuk cegah kejadian busuk itu, akan tetapi kita kedua pihak tak mendapat kecocokan, hingga kita jadi bentrok. Dengan pedangnya, Bin Cu Yap benar-benar liehay, untungnya bagiku, dia sedang gusar dan kalap, dia seperti tak dapat kendalikan diri, maka kebetulan aku dapat ketika, aku telah kena bacok dia sehingga dia binasa...."
"Suhu, manusia keji semacam dia pantas dibinasakan!" berseru satu murid, yang potong omongan gurunya. "Kenapa kita mesti jeri? Kalau besok mereka datang, kita bongkar rahasianya Bin Cu Yap ini, umpama dia norek hendak menuntut balas juga, mustahil di antara rombongannya tidak ada orang-orang yang jujur?"
"Kau benar," Sin Cie kata dalam hatinya, mendengar kata-katanya murid itu. "Umpama benar keterangannya orang she Ciauw ini, dia pantas dihargai. Aku kuatir masih ada lain urusan lagi di antara mereka itu...."
Ciauw Kong Lee menghela napas pula sebelum ia menutur lebih jauh.
"Setelah membinasakan Bin Cu Yap, aku menginsyafi bahaya yang bakal ancam aku," demikian guru itu. "Gurunya Bin Cu Yap ada Oey Bok Toojin, bersama guru ini ada banyak saudara-saudaranya seperguruan, dia orang itu tentunya tidak mau mengerti dan bakal menuntut balas. Bagaimana aku sanggup lawan mereka semua? Beruntung untuk aku, saudara-saudaraku dapat pengaruhi Thio Ceecu, lantas aku paksa dia untuk menulis surat keterangan yang menuturkan persekutuan mereka, bahwa maksud Bin Cu Yap ada untuk ganggu nona Khu itu. Thio Ceecu telah tulis surat pengakuannya itu."
"Khu Tootay merasa sangat bersyukur yang aku telah tolongi dia, dia sampai menulis sehelai kertas dalam mana ia juga tuturkan dengan jelas duduknya perkara itu, untuk mana dia paksa dua piauwsu dari Hwee Yu Piauw Kok bubuhkan tanda-tangannya, untuk menguatkan surat keterangan itu. Kedua piauwsu itu tidak tahu maksudnya Bin Cu Yap, mereka tidak mendendam sakit hati padaku, sebaliknya, mereka bersyukur, karena kalau tidak, tentu nama mereka akan turut bercacat. Karenanya, kita menjadi sahabat-sahabat. Karena kejadian itu, tak dapat aku terus menduduki Siang Liong Kong, terpaksa aku membubarkan diri, kemudian dengan bawa itu dua surat bukti, aku pergi ke Bu Tong San, untuk menemui Oey Bok Toojin, guna jelaskan duduknya hal."
"Di luar dugaanku, pihak Bu Tong Pay telah terlebih siang mendengar kabar perihal kebinasaannya Bin Cu Yap, mereka telah berpapasan denganku selagi aku baru di tengah perjalanan. Mereka berniat ganggu aku, baiknya aku dapat pertolongan seorang Kang-ouw yang luar biasa, siapa terus antar aku naik ke Bu Tong San hingga aku dapat menemui Oey Bok Toojin. Dibantu oleh penolong itu, aku ceritakan duduknya kejadian. Oey Bok Toojin ada seorang jujur, ia suka percaya keteranganku, maka ia larang murid-muridnya musuhkan aku. Akan tetapi, untuk nama baiknya Bu Tong Pay, ia kehendaki aku jangan uwarkan hal itu kepada umum. Aku berikan janjiku. Maka setelah turun gunung, terus aku tutup mulut. Inilah sebabnya kenapa hampir tidak ada orang Kang-ouw yang ketahui rahasia itu. Pada waktu itu, Bin Cu Hoa masih kecil. Aku percaya, dia pun tidak tahu hal-ihwalnya engko itu."
"Apakah kedua surat keterangan itu masih ada, Suhu?" tanya satu murid.
"Justru kedua surat itu yang membuat sulit padaku," sahut sang guru. "Duduknya begini: Pertama-tama aku mesti sesalkan mataku, yang seperti buta, hingga aku tak dapat kenali wajah manusia. Baru pada musim rontok tahun yang lalu, satu sahabat menyampaikan berita kepadaku bahwa adiknya Bin Cu Yap sudah rampungkan pelajaran silatnya, bahwa adik ini, mengetahu kandanya binasa di tangan aku, dia hendak cari aku untuk menuntut balas. Tentu saja, aku lantas berdaya untuk selamatkan diriku. Turut penyelidikanku, Tiang Pek Sam Eng bersahabat rapat dengan Bin Cu Hoa itu. Tiga jago dari Tiang Pek San itu ada kenalanku untuk banyak tahun, kami bersahabat rapat, cuma sudah belasan tahun, kami tak bertemu satu sama lain. Aku masih ingat bagaimana di waktu muda kami bekerja dan hidup bersama dalam dunia Rimba Hijau, maka itu, ingin aku minta perantaraannya. Demikian, aku telah berangkat mencari Tiang Pek Sam Eng...."
Salah satu murid menyelak: "Jadi ketika tahun lalu Suhu pergi ke Liauwtong, hingga seantero tahun Suhu tidak berada di rumah, sebenarnya Suhu lagi urus perkara ini?"
"Benar," Ciauw Kong Lee manggut. "Aku telah pergi ke Liauwtong untuk cari Tiang Pek Sam Eng di rumahnya. Ketika itu adalah akhir tahun, hawa udara sangat dingin, aku duga dua saudara Su mesti berada di rumahnya. Tidak kebetulan untuk aku, aku tidak lantas dapat menemui kedua saudara itu. Turut keterangan orang di rumahnya, mereka kebetulan dipanggil oleh Kiu Ong-ya di Kian-Ciu-wie. Tapi sudah telanjur, terpaksa aku menantikan. Selang beberapa hari Su Peng Kong dan Su Peng Bun barulah pulang. Bukan main girangku bertemu sama sahabat-sahabat lama, demikian juga dua saudara itu."
"Tidak ayal lagi, aku tuturkan maksud kedatanganku. Untuk itu, perlu aku jelaskan duduknya permusuhanku dengan keluarga Bin itu. Su Peng Kong berjanji suka menolong aku, malah ia bertepuk dada memastikan urusan bakal beres. Karenanya, aku serahkan dia dua surat keterangan itu. Peng Kong bilang, kedua surat itu perlu diperlihatkan kepada Bin Cu Hoa. Ia malah kata, pabila Cu Hoa sudah lihat surat-surat itu, tidak nanti dia punya muka untuk menuntut balas lebih jauh, mungkin dia akan minta orang perantaraan untuk menghaturkan maaf padaku, serta untuk mohon agar aku tidak siarkan cerita kebusukan kakaknya itu. Alasannya Peng Kong itu masuk di akal, aku percaya padanya."
"Dua saudara itu layani aku dengan telaten dan gembira sekali, hingga aku suka berdiam lamaan di rumahnya. Aku pun sedang punyakan tempo terluang. Setiap hari kami pergi berburu atau pergi menonton wayang. Kemudian pada suatu hari, Peng Kong omong kepadaku bahwa bintangnya kerajaan Beng sudah guram, selagi kami mempunyai kepandaian silat, kenapa kami tidak mau mencari junjungan baru, katanya. Dia hunjuk, kami bakal peroleh pangkat besar, anak-isteri hidup mewah dan agung. Tidakkah kami bakal jadi menteri pendiri kerajaan? Aku tercengang mendengar ajakan itu. Aku tanya apa kami bakal pergi menghamba kepada Giam Ong? Peng Kong tertawakan aku, dia bilang Giam Ong adalah berandal rumput dan tidak bakal peroleh kemajuan. Dia lalu menyebutkan kerajaan Boan, yang katanya angkatan perangnya kuat, rangsumnya banyak, bahwa bangsa asing itu bakal segera datang menyerbu. Dia kata, kalau aku suka terima ajakannya, dia dua saudara bakal pujikan aku kepada Kiu Ong-ya, supaya aku diterima bekerja. Mendengar itu, tiba-tiba saja aku jadi gusar, hingga aku tegur mereka, mereka sebenarnya bangsa apa, kenapa sebagai cucu Oey Tee, mereka suka menjadi kacung bangsa asing! Aku katakan, apa dengan begitu kami tidak akan jadi cucu yang berdosa besar dan setelah mati, mana kami ada muka untuk bertemu dengan leluhur kita?"
Mendengar ini, Sin Cie manggut-manggut sendirinya.
"Dia seorang cerdas, dia dapat bedakan yang benar dan tidak benar," pikirnya. Maka ia kagumi orang she Ciauw ini.
"Untuk sementara itu, kami bentrok," Ciauw Kong Lee melanjutkan penuturannya itu. "Di hari kedua, kami baik pula seperti biasa dan mereka berdua kembali berlaku ramah-tamah dan perlu. Peng Kong akui kemarin ia sinting, tak tahu dia, dia sudah ngoceh apa, dia minta aku tidak buat pikiran. Kami adalah sahabat-sahabat dari belasan tahun, tentu saja urusan demikian dapat kami bikin habis. Lagi belasan hari aku berdiam di Liauwtong, baru aku pulang."
"Benar-benar aku tidak sangka, dua saudara Su itu adalah dua ekor srigala atau anjing! Teranglah, bukan mereka pergi pada Bin Cu Hoa untuk akuri kita, mereka justru ciptakan gelombang, mereka sengaja ogok orang she Bin itu, hingga Bin Cu Hoa bersiap sedia untuk satroni aku. Selama setengah tahun, aku masih belum ketahui rahasianya dua saudara Su itu, sampai sekarang ini, mereka muncul dengan mendadakan di kota Lamkhia ini, malah Bin Cu Hoa telah undang orang-orang liehay untuk bantu dia. Aku percaya, dua surat keterangan itu tentu masih berada pada dua saudara Su itu. Sudah berselang banyak tahun sejak kejadian itu, maka sekarang ini, mereka yang menjadi saksi, yang ketahui perkara, tentu sudah menutup mata atau entah di mana tinggalnya mereka sekarang apabila mereka masih hidup. Tanpa bukti dan saksi, bagaimana aku bisa bela diri? Tentu sekali, Bin Cu Hoa tidak nanti percaya aku. Malah mungkin, dia bakal jadi semakin gusar dan akan tuduh aku mengarang cerita untuk fitnah kandanya itu. Aku heran sikapnya dua saudara Su itu. Kami toh bersahabat kekal, umpama mereka ingat bentrokan, tapi kami sudah baik pula. Kenapa sekarang mereka datang bersama Bin Cu Hoa? Aku duga mereka semua ingin tumpas pihakku."
Mendengar keterangan itu, dua puluh empat muridnya Ciauw Kong Lee jadi sangat gusar, gusar terutama terhadap dua saudara Su, sehingga ingin dia orang tempur mereka itu.
"Sabar," Ciauw Kong Lee bilang. "Sekarang pergi kamu undurkan diri. Ingat, apa yang aku terangkan kepada kamu ini, jangan kamu bikin bocor. Saking terpaksa saja, aku telah buka rahasia ini kepada kamu semua. Aku sudah berjanji sama Oey Bok Toojin, untuk tutup rahasianya Bin Cu Yap, aku hendak menetapkan janji. Lebih suka aku merekalah yang tak berkepantasan daripada aku yang menyalahi janji!" ia menghela napas. "Pergi kamu panggil sumoay dan suteemu!"
Dengan wajah masih gusar, murid-murid itu pergi keluar. Tapi menyusul keluarnya mereka, moielie lantas tersingkap pula dan sekarang datangnya satu nona umur enam atau tujuh belas tahun serta satu bocah usia delapan atau sembilan tahun.
Si nona bercucuran air mata, ia berseru memanggil "Ayah!" lantas ia tubruk Ciauw Kong Lee.
Ayah itu usap-usap rambut gadisnya, untuk sekian lama, ia tak dapat bicara. Si anak sendiri telah menangis sesenggukan.
Si bocah mengawasi dengan pentang mata lebar-lebar, tak tahu ia kenapa encienya itu menangis.
"Apakah ibumu telah siapkan segala apa?" Kong Lee tanya kemudian.
Nona itu tidak menjawab, ia cuma manggut.
"Jikalau nanti adikmu tambah usianya, kau baik-baik ajari dia bersekolah dan meluku," kata ayah itu pula. "Tetapi ingat, jangan perkenankan dia turut dalam ujian untuk memperoleh pangkat. Juga jangan kau ajarkan pula dia ilmu silat."
"Adik justeru perlu belajar ilmu silat, supaya di belakang hari dia dapat menuntut balas," kata si nona.
"Ngaco!" Kong Lee membentak. "Apakah kau hendak gaduh aku hingga aku mati gusar!" Tapi cuma sedetik saja, dia melanjuti dengan sabar: "Di dalam Rimba Persilatan, saling mendendam dan saling membalas, entah sampai kapan habisnya! Maka itu tak ada lebih baik daripada menjadi rakyat jelata yang lurus dan damai selama hidup kita. Dasarnya adikmu tidak sempurna, jikalau dia belajar silat, tidak nanti dia mendapat kepandaian yang berarti, tidak separuh dari semua kepandaianku. Lihat contohnya aku sendiri, aku telah terdesak begini rupa, sehingga aku tidak bakal akhirkan usiaku secara damai. ....Ah, tak dapat aku tunggu kau hingga kau berumah-tangga, ini adalah ganjalan untuk hatiku.... Pergi kau beritahukan mereka semua, setelah aku mati nanti, urusan Kim Liong Pang kita baik semuanya diserahkan kepada Kho Siokhumu yang menjadi Hu-pangcu, biar mereka semua dengar titahnya...."
Sin Cie heran.
"Aku dengar Kim Liong Pang adalah satu partai besar di wilayah Kanglam ini, siapa tahu, Ciauw Kong Lee adalah yang menjadi pangcu, ketua. Mereka beranggauta banyak dan besar pengaruhnya, kenapa sekarang Ciauw Kong lee bersikap begini lemah? Benar-benar aneh!"
"Sekarang aku pergi cari Kho Siokhu," berkata si nona.
"He, kenapa kau masih tidak ketahui sikapku?" sang ayah menegur. "Pamanmu itu bertabeat keras, jikalau dia datang dan ketahui urusanku ini, apa kau anggap dia mau sudah saja orang perhina aku begini rupa? Satu kali dia datang, perang bakal segera terbit, entah berapa banyak jiwa akan melayang! Diumpamakan aku ketolongan, luput dari bahaya kematian, akan tetapi karena itu, mungkin beberapa ratus saudara kita bakal terbinasa, apabila sampai terjadi demikian, mana bisa hatiku tenang? Tidak, aku tidak tega! Hayolah kau lekas pergi!"
Nona itu menangis, tapi ia paykui kepada ayahnya dua kali, sesudah mana, ia tuntun tangan adiknya, untuk diajak pergi. Ketika ia sampai di pintu, tiba-tiba ia berhenti dan menoleh.
"Ayah!" katanya. "Apa mungkin, kecuali dari mati, tidak ada jalan yang kedua untuk menghindarinya?"
"Tentang itu aku telah pikirkan selama beberapa hari dan malam," sahut sang ayah. "Apakah aku tidak bakal bergirang andaikata bisa aku terluput daripada kematian? Di dalam dunia ini, cuma ada satu orang yang bisa tolong aku, akan tetapi orang itu kebanyakan sudah tidak berada lagi di dalam dunia..."
Kong Lee menghela napas pula.
Wajahnya si nona bercahaya dengan tiba-tiba, ia hampirkan ayahnya dua tindak.
"Ayah, siapakah orang itu?" tanyanya." Siapa tahu kalau-kalau dia belum meninggal dunia...."
"Dia orang she Hee," sahut ayah itu. "gelarannya ialah Kim Coa Long-kun."
Selagi gadisnya masih berdiam, Ciauw Kong Lee menambahkan: "Dialah orang yang aku maksudkan si orang Kang-ouw yang luar biasa. Dialah juga yang ketahui jelas perkaraku dengan Bin Cu Yap. Ketika dulu dua-belas murid kepala dari Bu Tong Pay hendak ganggu aku, dialah yang sendirian saja mundurkan jago Bu Tong San, untuk tuturkan duduknya hal, hingga perkara jadi dapat dibikin habis. Sekarang ini Oey Bok Toojin sudah meninggal dunia dan Kim Coa Long-kun sendiri katanya pada belasan tahun telah orang aniaya hingga sekarang dia pun tak berada dalam dunia lagi. Coba dia masih hidup.... Ah, sudahlah, pergilah kamu....."
Dengan sangat berduka, si nona berlalu.
Sin Cie beri tanda pada Ceng Ceng, mereka tinggalkan jendela, untuk kuntit nona Ciauw itu, kapan mereka telah sampai di taman bunga, di mana tidak ada lain orang, mendadakan pemuda kita berlompat, akan lombai nona itu, untuk berdiri di depannya.
"Nona Ciauw, mau atau tidak kau tolongi ayahmu?" tanya ia secara mendadakan.
Nona itu terkejut, hingga ia melengak, atau segera ia hunus pedangnya.
"Siapa kau?" ia membentak.
"Jikalau kau hendak aku tolong ayahmu, mari ikut aku!" kata Sin Cie, yang tidak jawab teguran orang. Lantas dengan satu loncatan tinggi dan jauh, dengan "It Hoo Ciong Thian" ia mencelat untuk lewati tembok pekarangan.
Ceng Ceng, yang berdiam saja, telad contoh kawannya itu.
Nona Ciauw kembali melengak, terutama ia tidak sangka orang itu demikian liehay ilmu entengkan tubuh, maka kemudian, tanpa ayal lagi, ia pergi susul mereka. Ia telah mengubar sejurus tempo ia lihat orang masih terus lari keras, hingga ia bersangsi dan hentikan tindakannya, lantas ia memutar tubuh, untuk pulang. Tapi baru ia berbalik, mendadak ia rasakan sampokan angin di pinggangnya, tali pedang di pinggangnya kendor dan terlepas, menyusul mana, ia pun rasakan sebelah tangannya sesemutan, cekalannya lepas sendirinya, hingga di lain saat pedangnya sudah terampas orang yang ia tak kenal itu.
Sin Cie pun sudah lantas berdiri di depan nona ini.
Bukan main kaget dan herannya nona Ciauw.
"Jangan takut, Nona," Sin Cie berkata. "Jikalau ada niatku mencelakai kau, aku dapat lakukan itu secara gampang sekali. Aku ada sahabat dari keluargamu, maka kau mesti dengar perkataanku apa yang aku bilang!"
Nona itu manggut, tapi Sin Cie lihat orang masih ragu-ragu.
"Ayahmu sedang terancam bahaya maut, kau berani tidak menempuh bahaya untuk tolong dia?" Sin Cie tanya. Ia tidak perduli orang bersangsi atau curiga.
"Asal ayah dapat tertolong, walaupun tubuhku hancur-lebur, aku membelainya," kata si nona kemudian.
"Ayahmu itu seorang baik," Sin Cie bilang. "Dia lebih suka korbankan diri sendiri daripada mesti lakukan pertempuran besar yang bakal meminta banyak korban. Orang semacam dia, langka, dari itu aku suka bantu dia. Aku pastikan ini!"
Melihat sikap orang dan mendengar perkataannya, nona Ciauw tidak bersangsi lagi, malah ia lantas tekuk lututnya, untuk paykui.
"Jangan Nona!" Sin Cie mencegah. "Perlu aku jelaskan padamu, walau begini, aku tidak merasa pasti kita bakal berhasil atau tidak."
Nona Ciauw itu tidak dapat tekuk lutut, lengannya dicekal si anak muda, ia merasai satu tenaga yang besar, hingga tubuhnya seperti terangkat naik. Karena ini, semakin kuatlah kepercayaannya.
"Sekarang mari ajak kami ke kamar tulis," Sin Cie minta. "Di sana aku hendak menulis sepucuk surat untuk ayahmu."
"Sebenarnya siapa Jie-wie berdua?" tanya nona Ciauw. "Apa tidak lebih baik Jie-wie bicara langsung sama ayah?"
"Kita pasti bekerja cepat," Sin Cie bilang. "Kapan sebentar ayahmu baca suratku, tidak nanti dia berputus asa terus, tidak nanti dia hendak cari kematiannya pula! Kita tak boleh ayal-ayalan, inilah tindakan yang pertama."
Entah bagaimana, Nona Ciauw lantas saja mempercayai habis. "Kalau begitu Jie-wie, marilah!" ia mengundang.
"Inilah rahasia," Sin Cie peringati. "Kecuali kau sendiri, lain orang tak boleh lihat kita!"
Nona itu manggut. Bertiga mereka loncati tembok pekarangan, untuk masuk ke dalam. Nona rumah ajak kedua tetamunya ke dalam sebuah kamar yang kecil di mana ia keluarkan kertas dan pit, ia gosoki juga baknya. Kemudian ia mundur, akan duduk di sedikit jauh.
Sin Cie sudah lantas menulis. Ceng Ceng berada di dampingnya kawan ini, melihat "surat" yang ditulis Sin Cie ia terperanjat.
Sin Cie lipat surat itu, untuk dimasuki ke dalam sampul, yang ia tutup rapat.
"Besok pagi tepat jam sin-sie," ia pesan si nona, "kau pergi ke hotel Hin Liong kamar no.3 huruf Oey, di sana aku nanti tunggui kau." Nona Ciauw manggut. Sekarang Sin Cie serahkan suratnya. "Sampaikan surat ini segera pada ayahmu," ia kasi tahu. "Tapi kau mesti janji satu hal kepadaku."
"Aku nanti turut pesanmu," sahut si nona.
"Tidak perduli apa yang ayahmu tanyakan, terutama jangan kau beritahu dia tentang roman dan usiaku!" pesan pemuda kita.
Nona Ciauw heran sekali. "Kenapa begitu?" tanyanya.
"Asal kau beritahu, tak dapat aku bantu kau!" ada jawaban si anak muda.
Nona itu melengak tapi ia lantas manggut. "Baik, aku turut kau," jawabnya.
Sin Cie tarik tangannya Ceng Ceng. "Sudah cukup, mari kita pergi!"
Nona Ciauw lihat orang berlompat keluar pekarangan, gesitnya bagaikan burung terbang, hingga kembali ia jadi kagum. Tapi ia beragu-ragu ketika ia berlari-lari ke kamar ayahnya, yang pintunya sudah ditutup. Ia coba menolaknya dengan sekuat tenaga, tidak ada hasilnya. Ia jadi heran dan kuatir. Ia lari ke jendela, dengan satu toyoran, ia bikin daun jendela menjeblak terbuka, terus saja ia berloncat masuk, justru ayahnya lagi bawa satu cawan ke bibirnya.
"Ayah!" berseru gadis ini, yang kaget tak terkira. Ia bisa duga perbuatannya ayah itu. "Ayah, lihat ini dulu!"
Ciauw Kong Lee menunda cawannya, ia mengawasi dengan mendelong. Nona itu buka sampul surat, ia sodorkan suratnya kepada ayahnya itu.
"Baca ini, Ayah!" kata dia. Kong Lee tidak lihat surat hanya lukisan serupa pedang. Dengan mendadakan saja, cawannya terlepas dari cekalannya, sehingga cawan itu jatuh ke lantai dan hancur bergomprangan!
Si nona kaget sehingga ia berjingkrak. Tapi segera ia tampak perubahan air mukanya ayahnya itu, yang dari duka dan suram mendadakan jadi bercahaya kegirangan. "Dari mana datangnya surat ini?" ayah itu tanya, kedua tangannya bergemetar. "Siapa berikan ini padaku? Apakah dia sendiri yang datang? Ah, apakah benar-benar dia telah datang?"
Nona itu tidak lantas jawab ayahnya, ia hanya mendekati, untuk turut lihat bunyinya surat. Ia pun tidak lihat lain daripada gambarnya sebatang pedang yang panjang, yang romannya luar biasa, pedang berkepala ular-ularan, lidahnya bercabang dua bagaikan cagak. Ia tidak mengerti, pedang itu ada punya khasiat apa hingga ayahnya mendadakan jadi demikian girang.
"Ayah, apakah ini?" akhirnya dia balik tanya ayah itu.
"Asal dia datang, jiwa tua dari ayahmu akan ketolongan!" berkata ayah itu. "Apakah kau telah bertemu dengannya?"
Masih si anak dara heran. "Dia siapa, ayah?" tegasinya.
"Dia yang melukiskan gambar pedang ini?" sahut ayah itu.
Baru sekarang gadis itu manggut. "Dia pesan aku akan besok pergi cari dia di tempatnya," ia terangkan.
"Apakah dia tidak bilang bahwa aku pun perlu turut bersama?"
"Dia tidak bilang itu."
"Orang gagah luar biasa itu memang aneh perangainya," Kong Lee bilang. "Siapa juga mesti dengar perkataannya. Maka pergilah besok kau seorang diri!.... Ah sedetik saja kau terlambat datang ayah akan sudah tidak dapat lihat pula padamu..."
Nona Ciauw terkejut. Sekarang ia ingat cawan yang ayahnya bawa ke mulutnya. Jadi itulah cawan berisikan racun. Lantas saja ia ambil sesapu, akan sapui pecahan cawan, akan keringkan racunnya.
"Sekarang baik Ayah tidur," kata ia, yang terus layani orang tua itu. Sebentar kemudian nyonya Ciauw dan semua muridnya Kong Lee dengar kabar yang melegakan hati itu, semuanya bergirang, walau mereka masih belum pasti, "tuan penolong" itu akan berhasil atau tidak menolong mereka. Tapi mengingat ketua Kim Liong Pang itu berlega hati, mereka mau percaya ancaman bahaya sudah dapat diredakan.
Karena ini batallah orang menyingkir pergi dan bubaran.... Ketika itu, Sin Cie dan Ceng Ceng sudah berlalu dari rumahnya Ciauw Kong Lee. "Kau melukis pedang, apakah artinya itu?" Ceng Ceng tanya.
"Apakah kau telah tidak dengar sendiri?" Sin Cie baliki. "Dia sendiri bilang, di dalam dunia ini, asal ayahmu datang, jiwanya bakal ketolongan. Gambar pedang itu adalah gambarnya Kim Coa Kiam kepunyaan ayahmu." Ceng Ceng manggut, tetapi ia berdiam.
"Kenapa kau hendak tolongi dia?" sesaat kemudian ia tanya.
"Aku lihat Ciauw Kong Lee itu seorang baik," jawab Sin Cie. "Dia telah dibikin celaka oleh sahabatnya yang busuk. Apa mungkin kita melihat kematian dan tak menolongnya? Apalagi dia adalah sahabatnya ayahmu."
"Ah, aku menyangka kau melihat gadisnya cantik, jadi kau hendak menolong dia...." kata si nona.
"Adik Ceng, kau pandang aku orang macam apa?" Sin Cie gusar.
"Oh, oh, jangan gusar!" Ceng Ceng tertawa. "Kenapa dan kau suruh gadis orang datang ke hotel kita untuk cari padamu?"
Mau atau tidak, si anak muda turut tertawa. "Matamu picik, tak tahu aku bagaimana harus mengobatinya," katanya. "Hayo sudah, mari turut aku!"
"Hm!" si nona bersuara tetapi kembali dia tertawa. Ia lari keras ke arah barat, untuk menyusul.
Sin Cie tahu tenaganya nona itu, ia sengaja lari sedang-sedang saja, untuk bikin mereka lari berendeng. Mereka berlari-lari tidak seberapa lama, sampailah mereka di rumah Bin Cu Hoa. Sin Cie tarik tangan si nona, untuk ajak dia lompati tembok pekarangan, buat masuk ke sebelah dalam. Di pojok tembok, mereka umpetkan diri.
"Di dalam rumah ini banyak sekali orang-orang liehay, asal mereka dapat pergoki kita, gagallah usaha kita," Sin Cie bisiki kawannya.
"Jikalau kau hendak bantui nona cantik itu, aku tidak ijinkan!" kata Ceng Ceng tapi sambil tertawa. "Sebaliknya, aku nanti mengacau, aku nanti berteriak-teriak, berkaok-kaok!" Sin Cie tertawa, dia tak memperdulikannya. Keduanya mendekam sekian lama, apabila mereka dapati suasana tetap sunyi, mereka bertindak maju dengan pelahan-lahan. Kebetulan sekali untuk mereka, satu bujang lelaki melintas sendirian, dengan tiba-tiba saja dia itu dibekuk seraya diancam untuk tutup mulut.
"Di mana kamarnya tetamu-tetamu she Su?" Sin Cie tanya.
Bujang itu ketakutan, ia berikan keterangannya.
"Baik, kau tunggu di sini," Sin Cie bilang. Ia totok urat gagu orang itu habis dia melemparkannya ke tempat pepohonan yang lebat.
Dengan hati-hati, mereka cari kamarnya dua saudara Su. Langsung mereka menuju ke jendela. Dengan pakai tenaganya tetapi pun dengan hati-hati, Sin Cie bongkar daun jendela. Ia bisa bekerja tanpa menerbitkan suara, setelah mana, ia loncat masuk.
Ceng Ceng pun turut masuk.
Peng Kong dan Peng Bun liehay, mereka sedang tidur tapi mereka segera mendusi. Celakanya untuk mereka, mereka kalah sebat, baru mereka hendak menegur, jari tangannya Sin Cie sudah menotok jalan darah mereka sehingga mereka jadi mati daya. Begitulah mereka cuma bisa lihat, api dinyalakan, orang merogo ke bawah bantal mereka.
Sin Cie rasai tangannya membentur benda dingin, ia tahu, itulah senjata tajam, maka itu, berdua mereka lantas geledah laci dan lemari. Mereka dapati beberapa potong pakaian dan uang, juga senjata rahasia. Masih mereka mencari terus tatkala mereka dengar tindakan kaki di luar kamar. Maka lekas-lekas Sin Cie tiup padam apinya.


0 komentar:
Posting Komentar