Home » » PEDANG ULAR MAS 17

PEDANG ULAR MAS 17

Jilid 17

Di dalam gelap mereka mencari terus, malah Sin Cie geledah saku bajunya orang itu. Untuk kegirangannya, ia dapati segumpal kertas. Ia ambil semua itu, yang ia masukkan ke dalam sakunya.

"Sudah dapat!" ia bisiki Ceng Ceng.

"Mari kita pergi," mengajak si nona. "Rupanya di luar ada orang."

"Tunggu sebentar," sahut Sin Cie, yang lantas meraba ke meja dengan jeriji tangannya yang kanan.

Nyatalah, dengan jeriji tangan, ia menulis enam huruf besar yang berarti: "Hormat dari adikmu Ciauw Kong Lee". Ia menekan keras, enam huruf itu melesak seperti pahatan pada batu!

Dengan loncati pula jendela, dua kawan ini berlalu dari dalam kamarnya dua saudara Su itu. Cuaca di luar ada gelap seperti tadinya.

Sekonyong-konyong ada angin berkesiur, lalu sebatang pedang menyambar ke arah si pemuda. Sin Cie tidak lompat, tanpa kelit ia ulur tangan kirinya, untuk memapaki, cekal lengannya si penyerang. Tapi penyerang itu sebat sekali, ujung pedangnya mendahului mengenai ulu hati. Sin Cie tidak takut, karena ia pakai baju kaos mustika Bhok Siang Toojin, ia tidak terluka sedikit juga.

Penyerang itu terperanjat apabila ia rasai ujung pedangnya mengenai barang yang empuk, ia pun kaget akan rasai lengannya tercengkeram lima jari tangan yang kuat bagaikan sepit besi, sedang di lain pihak, satu tamparan menyambar ke arah mukanya. Dia lekas berontak sambil berkelit, tapi pedangnya sudah kena terampas. Dalam kagetnya, dia loncat mundur, terus dia kabur.

Penyerang gelap ini ada Twie-hong-kiam Ban Hong. Dia telah dapat tugas dari Bin Cu Hoa, untuk intai Ciauw Kong Lee, ia pergi seorang diri. Tapi Hui Thian Mo-lie Sun Tiong Kun juga pergi dengan diam-diam, untuk turut mengintai, maka itu, mereka jadi bekerja sama-sama. Mereka sedang memasang mata ketika tanpa ketahuan lagi, pedangnya nona Sun disambar Sin Cie. Mereka kaget, meski mereka tahu, pihak pencuri itu tidak bermaksud jahat. Coba mereka dibokong, tentu celakalah mereka. Karena ini, keduanya lantas kabur pulang.

Ban Hong mendongkol bukan main, ia malu sekali, sebab baru saja keluar, baru melakukan pengintaian, orang telah rubuhkan dia. Dan Sun Tiong Kun lebih-lebih mendongkolnya, nona ini gusar sekali, sebab pedangnya hilang.

Twie-hong-kiam tidak dapat tidur, maka itu, ia pergi keluar kamarnya, untuk mencari angin, guna legakan pikiran. Tiba-tiba ia lihat api berkelebat di dalam kamarnya dua saudara Su. Ia kenali, api apa adanya itu. Ia lantas menghampirkan, ia sembunyi di luar jendela, untuk serang dengan mendadakan pada orang di dalam itu sebentar selagi dia keluar. Ia percaya, dengan satu gebrak saja, ia bakal berhasil. Tapi ia gagal, malah ia dapat malu, karena pedangnya pun kena dirampas.

Di dalam partai Tiam Chong Pay, Ban Hong adalah yang paling liehay untuk ilmu pedangnya Twie-hong-kiam yang semuanya terdiri dari enam puluh empat jurus, hingga di Selatan, ia sangat dimalui. Di dalam ilmu silat, malah dia melebihi toasuhengnya Liong Tit yang menjadi ciang-bun-jin, ahliwaris partainya. Sekarang ia menghadapi orang yang tidak mempan senjata, ia sampai mau menduga apa ia sedang layani hantu.

Tidak ayal lagi, ia bertepuk tangan keras-keras untuk memberi tanda kepada kawan-kawannya.

Sin Cie dan Ceng Ceng tinggalkan si penyerang yang kabur setelah anak muda itu berhasil selamatkan diri dari penyerangan gelap, mereka loncati tembok untuk menyingkir, tapi mereka segera dengar tepukan tangan riuh di empat penjuru, tandanya orang-orang kaumnya Bin Cu Hoa sudah bergerak.

"Mari kita sembunyi," Sin Cie ajak kawannya. Ia tidak mau berlaku semberono di tempat di mana ada berkumpul banyak orang liehay itu. Mereka lantas mendekam di kaki tembok.

Di atas genteng segeralah terdengar suara kaki dari orang-orang yang mundar-mandir.

"Eh, apakah ini?" kata Ceng Ceng kepada kawannya. "Coba kau raba!"

Ia pegang tangannya Sin Cie, untuk dibawa ke tempat yang ia suruhnya meraba.

Sin Cie raba kaki tembok, yang sudah penuh lumut. Ia kena pegang batu yang berlobang di sana-sini, seperti ukiran. Ia mengusut-usut dengan ikuti jalannya ukiran itu.

"Inilah huruf Tee," pikirnya. Ia meraba lebih jauh, ia mengusut-usut pula. Ia menemui huruf "Su". Maka ia meraba terus. Sebagai huruf ketiga, ia dapati huruf "Kong", lalu huruf keempat huruf "Kok". Masih ia meraba terus, hingga ia menemui huruf terakhir, yaitu huruf "Gui".

Ceng Ceng juga turut meraba-raba terus.

Sebagai kesudahan, bukan main girangnya Sin Cie. Untuk banyak hari, mereka sudah mencari istana Gui Kok-kong, hasilnya sia-sia belaka, siapa tahu sekarang, di luar sangkaan, dengan tiba-tiba mereka menemuinya. Inilah yang dibilang: "Orang mencari sampai sepatu besi yang dipakainya rusak, tak nampak, sekalinya ketemu, begini sedetik saja." Sebab apabila digabung, kelima huruf itu berbunyi "Gui Kok Kong Su Tee", artinya "Istana Gui Kok-Kong Hadiah Kaisar".

Rupa-rupanya, setelah turun menurun banyak tahun, Gui Kok-kong pindah rumah, rumah yang lama telah dijualnya kepada orang lain, kemudian orang tak ingat lagi istana lama itu.

Selagi Sin Cie berdiam dengan kegirangan, ia rasai gatal atau geli pada pundaknya, hingga ia egos lehernya itu.

Itulah Ceng Ceng, yang saking girang, sampai lupa segala apa, dia bernapas dari hidungnya di pundak si pemuda sekali.

"Hus, jangan nakal!" Sin Cie bentak, tapi dengan pelahan. “Lihat, musuh datang!"

Benarlah, tiga bayangan lompat lewati tembok, masuk ke dalam rumahnya si orang she Bin itu.

"Mari!" pemuda ini mengajak. “Lekas!"

Menggunai kesempatan tidak ada orang datang ke arah mereka, mereka keluar dari tempat sembunyi, mereka lari dengan keras, hingga di lain saat sampailah mereka di hotel mereka dengan tidak kurang suatu apa.

Tatkala itu sudah jam empat, semua penumpang hotel lainnya sudah pada tidur, seluruh hotel jadi sunyi-tenteram.

Ceng Ceng lantas nyalakan lilin, dan Sin Cie rogo keluar surat-surat yang ia rampas dari sakunya dua saudara Su. Paling dulu ia jumput dua sampul, yang sudah kuning menandakan tuanya, suratnya dikeluarkan satu persatu. Untuk kegirangan mereka, benarlah itu ada surat-surat keterangannya Thio Ceecu dan Khu Tootay, ialah surat-surat yang membuat Ciauw Kong Lee jadi putus asa dan nekat.

Ceng Ceng tertawa.

"Sekali ini kau berhasil menolong jiwa ayahnya," katanya," entah dengan apa dia nanti balas budimu ini...."

"Dia! Dia siapa?" tanya Sin Cie heran.

Masih Ceng Ceng tertawa, malah tertawa geli.

"Siapa lagi, tentunya nona puterinya Ciauw Kong Lee!" sahutnya. Tak mau Sin Cie meladeni orang yang bersifat kekanak-kanakan itu. Ia gunai ketikanya untuk membaca dua surat keterangan itu.

"Apa yang Ciauw Kong Lee katakan, benar semuanya." kata dia habis membaca. "Coba dia mendusta sedikit saja, tidak nanti aku sudi bantu dia, supaya aku tidak usah bentrok dengan banyak orang Kang-ouw apapula dari angkatan tertua, apalagi di antara mereka termasuk murid-muridnya Jie suheng."

Ceng Ceng tertawa pula.

"Dan itu yang dipanggil Hu Thian Mo-lie sungguh cantik!" menggoda ia.

"Dia itu telengas," Sin Cie bilang. "Dia berbuat tak berkepantasan! Kenapa tidak keru­keruan dia tabas kutung lengan orang?" dia berdiam sebentar. "Apabila aku tidak kuatir Jie-suheng berkecil hati, pasti aku sudah ajar adat padanya." Kembali ia berdiam, lalu ia menambahkan: "Sebabnya aku minta nona Ciauw datang kemari adalah untuk sembunyikan sepak-terjang kita ini. Apabila di antara kita saudara-saudara seperguruan terbit sengketa, itu sungguh tidak bagus terhadap suhu yang telah rawat dan didik aku."

Sekarang Sin Cie periksa surat-surat yang lainnya, tiba-tiba saja ia jadi sangat gusar, air mukanya suram.

"Kau lihat!" katanya kepada si nona.

Belum pernah Ceng Ceng lihat pemuda ini demikian gusar, malah waktu menghadapi lawan tangguh, dia ada tenang sekali. Sekarang muka orang merah-padam, urat-uratnya seperti melingkar keluar. Hingga mau atau tidak, ia heran dan kaget sekali. Buru-buru ia menyambuti surat yang diangsurkan dan baca itu.

Itulah suratnya Kiu-Ong-ya To Jie Kun, pangeran Boan yang disebut-sebut persaudaraan Su. Itulah surat rahasia untuk dua saudara Su itu. Mereka ini diberi perintah, sesudah memfitnah Ciauw Kong Lee hingga Kong Lee tumpas, mereka mesti gunai ketika untuk merampas kekuasaan dalam Kim Liong Pang, supaya anggauta-anggauta perkumpulan rahasia ini bisa dijadikan pekakas, penyambut dari dalam, bagi penyerbuan bangsa Boan kepada Tionggoan. Peng Kong dan Peng Bun dianjurkan akan tancap kekuasaan di Kanglam, supaya sambil selidiki rahasia negara, mereka cari kawan-kawan orang-orang Kang-ouw, untuk bekerja bersama. Mereka mesti sambut serbuan angkatan perang Boan agar serbuan itu pasti berhasil.

Ceng Ceng begitu murka hingga tak dapat ia mengucapkan kata-kata. Ia muda dan besar kepala, tapi ia mencintai negerinya. Dalam murkanya, setelah sadar, ia hendak robek surat rahasia itu.

Sin Cie sambar surat penting itu.

"Hei, adik Ceng, kenapa kau begini semberono?" menegur dia.

Ceng Ceng sadar dengan cepat.

"Kau benar," katanya. "Inilah surat bukti!"

"Apakah kau tahu, kenapa dua saudara Su tidak hapuskan surat ini?" Sin Cie tanya.

"Aku tahu," jawab si pemudi. "Dia hendak pakai ini untuk pengaruhi Bin Cu Hoa!"

"Begitulah pasti," Sin Cie membenarkan, "Aku telah pikir, habis menolongi Ciauw Kong Lee, aku hendak lepas tangan, untuk tidak campur lebih jauh urusan mengenai mereka, siapa tahu di sini menyelip urusan amat besar ini. Jangan kata baru bentrok dengan Jie-suko, biar ada rintangan lain yang terlebih besar, aku tidak takut."

Bukan main kagumnya Ceng Ceng terhadap pemuda ini.

"Memang kita harus campur tangan," ia pun kata. "Umpama kata jie-suheng itu mengadu kepada gurumu, aku percaya gurumu bakal benarkan pihakmu. Toako, aku bersalah...."

"Apa?"

Pemudi ini tunduk.

"Aku telah goda padamu...." katanya.

Mendengar itu, Sin Cie tertawa. "Sudah, pergilah kau tidur!" kata dia. "Sekarang aku hendak memikirkan daya upaya dengan cara bagaimana kita bisa hadapi kawanan pengkhianat itu." Ceng Ceng menjadi jinak, ia menurut.

Besoknya pagi, kapan ia mendusi dari tidurnya, Sin Cie terus bercokol di atas pembaringan, untuk bersamedhi, akan pelihara napasnya, akan bikin jalan darahnya sempurna. Diam-diam ia merasa sangat gembira karena semakin lama ia rasai kemajuannya terus bertambah. Kapan kemudian ia turun dari pembaringan, ia lihat di atas meja sudah disajikan dua mangkok lektauw serta sepiring yutiauw. Ia tahu itu ada sajiannya Ceng Ceng hanya ia tidak tahu, kapan itu disiapkannya.

Tiba-tiba saja si nona muncul sambil terus tertawa. "Hweeshio tua, apa kau sudah selesai sembahyang?" tanyanya.

"Ah, kau bangun pagi-pagi sekali!" kata Sin Cie sambil tertawa juga.

"Kau lihat ini!" kata si nona, yang tidak sahuti pemuda itu. Dari belakangnya, ia tunjuki satu bungkusan besar, yang ia letaki di meja, untuk terus dibuka. Itulah dua perangkat pakaian baru. Ia tambahkan: "Kita telah bunuh Ma Kongcu, perlu kita tukar pakaian."

"Kau memikir sempurna," Sin Cie puji.

Berdua mereka lantas duduk, untuk bersantap. Belum lama habis dahar, satu jongos datang bersama satu orang, jongos itu lantas kata: "Apakah kau cari kedua tetamu ini? Aku tanyakan she dan namanya orang, kau tak dapat menyebutnya...."

Sin Cie dan Ceng Ceng lihat nona Ciauw. Nona itu tunggu sampai jongos sudah berlalu, ia lantas berlutut di depan pemuda kita. Sin Cie membalas hormat, sedang Ceng Ceng mengangkat bangun. Nona itu likat bukan main menampak satu "pemuda" cekal lengannya, untuk kasi ia bangun, mukanya merah, akan tetapi karena ingat, mereka adalah penolong ayahnya, ia tidak berontak. "Nona Ciauw, apakah namamu?" Ceng Ceng tanya.

"Namaku Wan Jie," sahut nona itu. "Jie-wie sendiri?"

Ceng Ceng tunjuk kawannya, dia tertawa ketika ia menyahuti: "Kau tanya dia saja! Dia sangat galak, dia larang aku bicara!"

Mengetahui orang bergurau, Wan Jie bersenyum. "Jie-wie telah tolong ayahku, budi ini yang sangat besar, walau tubuhku hancur-lebur, masih tak dapat dibalas," katanya.

"Ayahmu ada satu cianpwee," Sin Cie bilang, "sudah seharusnya kami dari angkatan muda melakukan sesuatu apa untuknya. Tak usah kau pikirkan itu. Tolong sampaikan kepada ayahmu untuk sebentar sore ia melanjuti mengadakan perjamuannya yang sudah ditetapkan itu. Di sini ada dua bungkusan, tolong kau bawa pulang untuk diserahkan pada ayahmu itu, bilang apabila sudah sampai saatnya yang genting, baru dia buka untuk umumkan kepada orang banyak, tentu akan ada buah-hasilnya yang istimewa. Karena dua rupa barang ini sangat penting, jagalah supaya tidak ada orang yang pegat dan rampas di tengah jalan!"

Ciauw Wan Jie lihat kepadanya diserahkan dua bungkusan, yang satu panjang dan romannya berat, mirip dengan alat senjata, yang lainnya kecil dan enteng sekali. Ia menyambutinya dengan kedua tangan dengan sikap menghormat sekali, lalu ia memberi hormat seraya menghaturkan terima kasih. Habis itu barulah ia pamitan dan bertindak keluar.

"Mari kita kuntit dia, untuk melindunginya secara diam-diam," Sin Cie kata pada kawannya. "Kita mesti jaga supaya kawanan telur busuk itu tak dapat merampasnya kembali."

Ceng Ceng manggut.

Mereka lantas siap, setelah menutup pintu, mereka bertindak keluar. Mendekati thia, mereka lantas umpatkan diri. Di situ masih ada si nona Ciauw, entah kenapa, dia tidak segera pulang.

"Suruh kuasa hotel datang!" terdengar kata nona itu. "Naga emas ulur kukunya, mega hitam memenuhi langit!"

"He, apakah dia bilang?" tanya Sin Cie pada Ceng Ceng.

Muda ia ada, nona Hee luas pengetahuannya mengenai dunia Kang-ouw.

"Mungkin itu kata-kata rahasia kaumnya," ia menyahut.

Wan Jie bicara sama jongos yang tadi, yang romannya rada katak, tapi sekarang dia berubah sikap dan menyahuti berulang-ulang," Ya, ya!" Terus saja ia undurkan diri.

Tidak lama muncul kuasa hotel, dia menjura dalam kepada si nona.

"Nona hendak menitah apa?" tanyanya. "Aku akan segera melakukannya."

"Aku adalah Ciauw Toa-kohnio" nona itu perkenalkan diri. "Pergi kau ke rumahku, bilang aku ada punya urusan penting di sini, kau minta semua suko-ku datang kemari!"

Kaget kuasa itu mengetahui ia berhadapan sama Ciauw Toa-kohnio, nona besar she Ciauw, segera saja ia lari keluar, untuk loncat naik atas kudanya, yang ia kasi lari pergi. Ia sendiri yang jalankan titah itu.

Selang lama juga, kuasa hotel itu sudah balik lagi bersama dua puluh lebih orang yang dandan seperti guru silat, yang semuanya bekal senjata. Mereka lantas hampirkan nona Ciauw.

"Aku tidak sangka begini besar pengaruhnya Kim Liong Pang di sini," kata Sin Cie. "Sekarang tak usah kita turut mengantari. Sebentar saja kita hadirkan perjamuan di rumah orang she Ciauw itu."

Berdua mereka masuk pula ke dalam, sedang Ciauw Wan Jie dan rombongannya berangkat pulang. Sesudah siang barulah Sin Cie ajak kawannya pergi ke rumah Kong Lee di mana ternyata sudah mulai banyak orang datang berkumpul. Mereka ikut sekalian tetamu itu masuk ke dalam thia.

Ciauw Kong Lee sambut tetamunya di muka pintu, ia manggut kepada dua anak muda ini, yang ia sangka ada murid-muridnya musuh, ia tidak memperhatikannya.

Begitu lekas semua tetamu sudah datang lengkap, tuan rumah undang mereka ambil tempat duduk, ia lantas membuka pertemuan. Caranya ini beda dengan cara pertemuannya Bin Cu Hoa kemarin ini. Tuan rumah pun ada ketua Kim Liong Pang. Barang santapan sangat istimewa, kokinya pun koki yang kesohor dari kota Kimleng, sedang araknya ada arak Lie-ceng Tin-siauw simpanan dua puluh tahun.

Bin Cu Hoa bersama Sip Lek Taysu, Tiang Pek Sam Eng, Bu-eng-cu Bwee Kiam Hoo, Hui-thian Mo-lie Sun Tiong Kun dan sejumlah yang lain lagi, duduk di meja pertama. Ciauw Kong Lee sendiri yang layani sesuatu tetamu itu, sikapnya ramah-tamah.

"Silakan minum!" kata dia.

Bin Cu Hoa angkat cawannya, dengan tiba-tiba saja ia banting itu ke lantai, hingga arak berhamburan, cawannya pecah hancur sambil menerbitkan suara berisik!

"Orang she Ciauw!" dia berkata dengan bengis. "Di sini telah hadir sahabat-sahabat karib dari Rimba persilatan, mereka semua telah memberi mukanya, maka di depan mereka, ingin aku tanya, bagaimana hendak diatur mengenai sakit hatinya saudaraku yang kau telah bunuh? Bilanglah!"

Pertanyaan dimajukan secara sangat terkonyong-konyong, dan caranya pun garang sekali, hal ini membuat sukar kepada Ciauw Kong Lee. Justru itu berbangkitlah Gouw Peng, murid kepala ketua Kim Liong Pang ini.

"Orang she Bin," berkata Gouw Peng, yang hendak wakilkan gurunya, "Baik kau mengerti duduknya hal. Kandamu itu kemaruk paras eilok, dia bermaksud jahat, karenanya dia telah merusak undang-undang dari kita kaum Rimba Persilatan. Guruku..."

Belum habis Gouw Peng berkata-kata, mendadak ada sambaran angin ke arah mukanya, maka lekas ia berkelit sambil tunduk, menyusul mana, dengan memberikan suara keras, sebatang paku tiga persegi panjangnya lima dim nancap di meja!

Gouw Peng segera hunus goloknya.

"Bagus betul!" muridnya Kong Lee berseru. "Kau telah bokong Lo Sutee kami, yang kau telah babat kutung sebelah lengannya, sekarang kau kembali membokong aku, oh, perempuan bangsat!"

Dia lantas bertindak maju, untuk tempur penyerangnya, ialah Hui-thian Mo-lie Sun Tiong Kun, si Hantu Wanita.

"Jangan!" Ciauw Kong Lee cegah muridnya. Kemudian sambil tertawa, ia menoleh kepada nona Sun itu seraya bilang: "Nona Sun ada ahli dari Hoa San Pay, mengapa kau berpadu pandangan dengan muridku?...."

Bin Cu Hoa pun gusar, biji matanya menjadi merah, selagi tuan rumah berkata-kata, dia jumput sepasang sumpitnya, dengan itu ia timpuk sepasang mata tuan rumah.

"Bangsat tua, hari ini aku akan adu jiwa denganmu!" dia mendamprat.

Ciauw Kong Lee lihat serangan itu, ia lantas sambar sumpitnya sendiri, dengan itu ia sambut serangan sumpit sambil sumpit lawan itu dijepit, untuk terus diletaki di atas meja. Sikapnya tuan rumah tenang dan sabar sekali.

"Saudara Bin, mengapa kau begini murka?" tanyanya. "Di sini masih ada ketika untuk kita orang omong dengan baik-baik. Mana orang? Lekas ambilkan Bin Jie-ya sepasang sumpit baru!"

Bin Cu Hoa terperanjat dalam hatinya apabila ia saksikan musuh itu demikian liehay.

"Pantas kandaku terbinasa di tangannya...." pikir dia.
Bwee Kiam Hoo lihat Bin Cu Hoa keok dalam satu jurus, di mana dia berada dekat dengan tuan rumah, dengan tiba-tiba ia ulur tangan kanannya, akan sambar lengannya tuan rumah itu, sembari berbuat demikian, dia bilang: "Ciauw Toaya, sungguh kau liehay! Mari kita ikat persahabatan...."

Ciauw Kong Lee lihat tangan orang diulur, cepat luar biasa ia egos tubuhnya, sambil berkelit, ia pun lompat minggir.

Tangannya tetamu itu tidak ditarik pulang, atau dia tak dapat lakukan itu, tangan itu kena sambar belakang kursi, hingga di antara suara berkeresek yang nyaring, patahlah belakang kursi itu!

Sibuk juga Ciauw Kong Lee menampak pihak musuh demikian galak, di antaranya ada yang sudah pale kepalannya dan cabut senjatanya, sedang di pihaknya sendiri, semua murid dan beberapa sahabatnya sudah lantas siap sedia. Ia sibuk karena kuatir pertempuran akan segera mengambil tempat sementara Kim Coa Long-kun, yang ia harap-harap, masih juga belum muncul, untuk datang sama tengah. Ia kuatir banyak jiwa bakal dikorban dalam pesta perjamuan ini. Karenanya ia melirik kepada gadisnya, yang duduk di samping.

Ciauw Wan Jie sedang pegangi dua bungkusan pemberiannya dua pemuda yang dia baru kenal, ia pun tidak kurang sibuknya, kapan ia lihat tanda dari ayahnya, ia segera buka bungkusan yang panjang itu, yang ternyata ada dua batang pedang. Tidak ayal lagi, ia bawa itu ke hadapan ayahnya, untuk diletaki di atas meja.

Ciauw Kong Lee lihat kedua pedang itu, ia bingung, karena ia tidak tahu apa artinya itu. Bukan main ia ragu-ragu.

Di pihak lawan, Twie-hong-kiam Ban Hong kenali pedangnya, dan pedangnya Sun Tiong Kun, bukan main malunya ia. Ia jumput kedua pedang itu, satu di antaranya ia lantas serahkan pada Hui-thian Mo-lie.

Sun Tiong Kun sambuti pedangnya sambil terus menantang: "Siapa mempunyai kepandaian, mari kita bertempur secara terus-terang! Mencuri pedang orang, apakah itu perbuatan satu hoohan?"

Ciauw Kong Lee diam saja, ia mengawasi si nona. Benar-benar ia tidak tahu duduknya hal.

Nona Sun garang sekali, ia maju dua tindak, dengan ujung pedangnya yang tajam, ia tusuk dadanya tuan rumah.

Ciauw Kong Lee mundur dua tindak, menyusul itu murid yang kedua telah serahkan padanya goloknya, yang ia terus sambuti, akan tetapi ia tidak gunai itu untuk balas menyerang.

Sun Tiong Kun penasaran yang serangannya kena dikelit, ia maju pula, sambil ia tusuk pundak kiri orang.

Ketua Kim Liong Pang jadi putus asa, dengan terpaksa ia geraki goloknya untuk membacok pedangnya si penyerang. Kalau si nona menusuk dengan terusan tipu-silat "Heng-in-liu-sui", atau "Mega Berjalan Bagaikan Air Mengalir", adalah dia gunai tipu bacokan "Tiang-khong-lok-goan", atau "Dari Udara Jatuhlah Seekor Burung Belibis".

Jikalau bacokan ini mengenai sasarannya, tak dapat tidak, pedangnya Sun Tiong Kun mesti terlepas dari tangannya dan terlempar jatuh, akan tetapi dia liehay, dia turunkan pedangnya ke bawah dan luputlah dia dari ancaman bencana mendapat malu. Akan tetapi ini bukan tindakan berkelit melulu, karena pedangnya turun, ia pun mendak pedang itu lantas diteruskan, untuk dipakai menikam perutnya tuan rumah. Ini ada semacam tipu silat yang liehay sekali.

Tidak perduli Ciauw Kong Lee telah punyakan latihan beberapa puluh tahun, tak menyangka ia untuk serangan yang berbahaya itu, hingga tak sempat ia menangkisnya, maka tidak ada jalan lain, ia enjot kakinya akan berlompat tinggi, mencelat melewati kepalanya si nona. Ia berhasil meluputkan perutnya dari tikaman, akan tetapi celana di sebelah pahanya kena terobek ujung pedang!

"Sungguh berbahaya...." kata dia dalam hatinya, selagi ia putar tubuh dengan cepat, kuatir lawan nanti lanjuti serangan susulannya.

Akan tetapi Sun Tiong Kun tidak dapat desak dia, sebab dua muridnya sudah maju, akan menahan si nona. Di lain pihak, ia girang sekali kapan gadisnya telah buka dan beber bungkusan yang kedua, karena ia kenali kedua surat penting yang "lenyap" di tangannya dua saudara Su!

Sun Tiong Kun telah tempur dua musuh, yang menbenci sangat padanya, hingga mereka ini berkelahi dengan sangat sengit. Mereka sangat ingin membalas sakit hatinya Lo Lip Jie, suheng mereka.

Si nona bertempur dengan tabah, tidak perduli dia dikepung berdua. Dia masih bisa bersenyum ewa. Dia melayani dengan sebelah tangan - tangan kiri - dipakai menolak pinggang. Sebab dialah yang dapat mendesak dua musuhnya itu.

Ciauw Kong Lee sambuti dua lembar surat dari tangan gadisnya.

"Tahan! Tahan!" ia berseru berulang-ulang. "Aku hendak bicara!"

Mendengar perkataan gurunya, kedua muridnya, yang sedang terdesak, mendengar kata, akan tetapi satu di antaranya, lambat mundurnya.

"Duk!" demikian satu suara, dia kena didupak dadanya oleh Sun Tiong Kun, yang menyerang tak perduli pertempuran sudah ditunda. Segera dia muntahkan darah hidup, mukanya menjadi pucat sekali.

Sun Tiong Kun gusar sekali yang orang telah sambar pedangnya, ia anggap itu ada satu hinaan besar bagi dirinya, maka ia jadi sengit luar biasa. Maka sekarang ia berlaku bengis sekali.

Ciauw Kong Lee atasi diri sebisa-bisanya.

"Sahabat-Sahabat, tolong dengar dahulu padaku!" ia berseru.

Suasana sudah tegang sekali, akan tetapi orang toh mulai jadi sabar pula.

Ciauw Kong Lee lihat keadaan reda, dia bicara pula: "Sahabat she Bin ini sesalkan aku yang aku telah bunuh kandanya, penyesalannya itu tepat. Memang kandanya itu, Bin Cu Yap, telah terbinasa di tanganku!...."

Ruangan yang sunyi senyap jadi terganggu pula dengan tangisannya Bin Cu Hoa, yang menangis dengan tiba-tiba.

"Hutang uang bayar uang, hutang jiwa bayar jiwa!" berteriak ia sambil sesenggukan.

"Benar, hutang jiwa bayar jiwa!" beberapa sahabatnya tetamu ini berseru, suara mereka nyaring, hingga ruangan jadi berisik pula.

"Sahabat-Sahabat, sabar!" Ciauw Kong Lee serukan. "Di sini dua pucuk surat, aku minta sukalah beberapa Loocianpwee yang terhormat membacanya, habis itu, umpama mereka anggap aku benar-benar mesti mengganti jiwa, aku segera akan bunuh diriku sendiri, jikalau aku kerutkan alisku, aku bukan satu hoohan lagi!"

Kata-kata ini membuat orang heran, hingga ingin sesuatunya melihat surat-surat itu, hingga untuk sesaat, suara mereka jadi bergemuruh pula.

"Sabar, Sahabat-Sahabat!" Ciauw Kong Lee bilang. "Aku silakan Bin Jie-ya pilih tiga loocianpwee, untuk mereka baca surat ini!"

Bin Cu Hoa tidak tahu surat itu apa bunyinya, tanpa bersangsi lagi, ia terima baik sarannya tuan rumah.

"Baik!" menyambut dia. "Aku mohon Sip Lek Taysu, Tocu The Kie In dan Bu-eng-cu Bwee Toako bertiga yang membacanya!"

Sip Lek Taysu bertiga terima baik tugas itu, mereka sambuti kedua surat, lalu berdiri di samping meja, mereka sama-sama membaca, dengan pelahan.

Tiang Pek Sam Eng kasak-kusuk bertiga, muka mereka pias.

Sip Lek Taysu adalah yang pertama membaca habis, lantas saja dia berkata: "Menurut pendapat pinceng, Bin Jie-ya, baiklah permusuhan ini dibikin habis sampai di sini, kamu kedua musuh harus menjadi sahabat satu dengan lain!"

Pendeta ini ada Kam-ih dari ruang Tat Mo Ih dari Siauw Lim Sie, kepandaiannya dalam ilmu silat Gwa-kee, bagian luar, sudah sempurna sekali, ia pun kenamaan, maka itu, mendengar perkataannya itu, semua orang tercengang.

Bin Cu Hoa heran dan penasaran dengan berbareng, maka ia majukan dirinya, untuk dapat baca juga kedua surat itu. Membaca surat pengakuan Thio Ceecu, masih tidak seberapa, akan tetapi setelah baca habis surat Khu Tootay, ia jadi melengak. Ia malu bercampur bingung, ia pun bersusah hati, hingga karenanya, ia jadi berdiam menjublek, mulutnya bungkam.

Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari Bwee Kiam Hoo: "Inilah surat-surat palsu! Siapakah yang hendak dipedayakannya!"

Menyusul itu, dengan mendadak, ia robek kedua surat!

Bukan kepalang kagetnya Ciauw Kong Lee. Ia tidak sangka, di hadapan demikian banyak orang, Bwee Kiam Hoo berani berbuat demikian rupa. Bukankah itu bagaikan surat jimat untuknya? Ia juga jadi sangat gusar, hingga tak dapat ia bersabar pula. Sambil angkat goloknya, dia berseru: "Orang she Bwee, apa benar kau begini tidak tahu malu?"

"Entah siapalah yang tidak tahu malu!" Bwee Kiam Hoo jawab dengan dingin. "Kau telah bunuh kanda orang, sekarang kau ciptakan ini surat-surat palsu untuk membikin orang sangat penasaran! Surat-surat semacam ini, apabila aku keram diri di dalam rumah, dalam satu hari aku bisa tulis banyaknya seratus pucuk!"

Sip Lek Taysu, juga The Kie In, percaya kesalahan ada di pihaknya Bin Cu Hoa, akan tetapi mendengar kata-katanya Bwee Kiam Hoo, mereka jadi bimbang. Apakah tak mungkin kedua surat itu palsu adanya?

Untuk sesaat, ruangan jadi sunyi senyap.

Gouw Peng Kong murid kepalanya Ciauw Kong Lee jadi meluap darahnya karena gurunya diperhina demikiam macam, merah mukanya, kedua matanya hampir loncat melejit, dia berlompat, dengan goloknya, dia bacok orang she Bwee itu.

Bu-eng-cu si Bayangan Tak Ada egos sedikit tubuhnya, berbareng dengan itu, pedangnya telah tercekal dengan terhunus di tangannya, selagi sinar pedang berkelebat, Gouw Peng menjerit. Goloknya kena ditangkis keras hingga terlepas dan terlempar, menyusul mana, ujung pedang mengancam tenggorokannya.

Itulah menyatakan liehaynya murid Hoa San Pay ini.

"Kau tekuk lutut!" Kiam Hoo berseru dengan titahnya yang bengis. "Dengan berlutut, Bwee Toaya akan beri ampun kepada sepotong jiwamu!""

Murid-murid lain dari Ciauw Kong Lee tidak senang toako mereka diperhina secara demikian, mereka hunus senjata dan maju ke tengah ruangan.

Di pihak Bin Cu Hoa, sejumlah guru silat dan sahabat-sahabat undangannya juga maju, maka tak dapat dicegah lagi, kedua pihak lantas bertempur. Berisik suara beradunya pelbagai alat-senjata.

Gouw Peng mundur sampai tiga tindak, tapi ujung pedang senantiasa iringi dia. Musuh itu pun mengancam: "Jikalau kau tidak tekuk lutut, aku akan tikam padamu!"

"Kau tikamlah!" Gouw Peng menantang. "Tikamlah! Buat apa bersikap sebagai orang perempuan!"

Ciauw Kong Lee mencelat ke atas kursi.

"Semua tahan!" ia berseru dengan suara nyaring. "Lihat aku!"

Ia geraki tangannya, yang memegang golok, maka golok itu lantas mengancam batang lehernya sendiri.

"Hutang jiwa mesti dibayar dengan jiwa!" ia berteriak pula. "Maka aku nanti bayar jiwanya Bin Cu Yap! Murid-muridku, kamu semua mundur!"

Semua murid itu taat kepada guru mereka, dengan menyesal mereka mundur, dengan roman sedih, mereka awasi guru mereka itu.

Karena pertempuran telah berhenti, ruangan jadi tenang pula.

Ciauw Kong Lee telah menjadi putus asa, benar-benar dia hendak habisi jiwa sendiri. Tapi mendadakan, ia dengar suara gadisnya:

"Ayah!" berseru Ciauw Wan Jie. "Ayah, mana itu surat lainnya? Dia bilang dia bakal datang untuk tolong kau!"

Kong Lee merogo keluar selembar kertas tanpa tulisan, dia beber itu, untuk ditunjuki kepada semua hadirin di pihak musuhnya, ia ulapkan itu beberapa kali, hingga semua orang dapat lihat, di situ ada terlukis gambar sebatang pedang yang luar biasa. Mereka itu tidak mengerti, mereka mengawasi seperti tercengang.

Ciauw Kong Lee lihat orang berdiam, dia berseru: "Kim Coa Tayhiap, kau datang terlambat!" Menyusul itu, dia ayun goloknya ke arah tenggorokannya!

Dalam saat yang sangat genting ini, mendadakan terdengar satu suara berkontrang, seperti suatu benda membentur golok, lantas goloknya ketua Kim Liong Pang itu terlepas dari cekalan, jatuh ke lantai hingga bersuara nyaring!

Dan tahu-tahu, di sampingnya Ciauw Kong Lee berdiri seorang anak muda yang romannya cakap-ganteng, usianya kira-kira duapuluh tahun lebih. Semua orang pihak tetamu tidak lihat tegas munculnya pemuda ini, yang Sin Cie adanya.

Bersama-sama Ceng Ceng, pemuda ini diam menyaksikan jalannya pertempuran itu, yang diseling dengan pelbagai pertempuran. Ia mulanya percaya, dengan diperlihatkannya kedua surat keterangan itu, urusan bakal dapat dibereskan, persengketaan akan dapat didamaikan, hingga tak usah ia tonjolkan diri di depan orang banyak itu, terutama untuk cegah perselisihan atau bentrokan dengan muridnya jie-suhengnya. Maka adalah di luar dugaannya, justru Bwee Kiam Hoo yang telah mengacau. Tidak ada jalan lain, terpaksa ia mesti muncul juga.

Jiwanya Ciauw Kong Lee terancam, untuk cegah ketua Kim Liong Pang itu dari kematian, ia timpuk golok dengan sebutir biji caturnya.

Selagi orang keheran-heranan, Sin Cie berkata dengan nyaring:

"Kim Coa Long Kun sedang berhalangan, tak dapat dia datang sendiri kemari, dari itu dia melainkan utus puteranya serta saudaranya dia ini, untuk mendamaikan kamu kedua pihak!"

Semua orang yang tertua dari pihaknya Bin Cu Hoa melengak sejak tadi. Mereka semua tahu, siapa adanya Kim Coa Long-kun yang kenamaan, yang sepak-terjangnya tak ketahuan, tapi yang katanya sudah lama menutup mata, hingga mereka heran, kenapa mendadak dia muncul di sini, walau cuma wakilnya.

Wan Jie sementara itu telah hampirkan ayahnya.

"Ayah, inilah dia!" dia bisiki orang tua itu.

Ciauw Kong Lee juga tergugu, kapan ia telah pandang itu anak muda, ia mendelong, pikirannya bekerja keras. Ia juga ragu-ragu.

"Siapa kau?" berteriak Sun Tiong Kun dengan tegurannya. "Siapa yang perintah kau datang kemari untuk mengadu-biru?"

Di dalam hatinya, Sin Cie kata: "Benar aku berusia lebih muda daripadamu, akan tetapi derajatku lebih tinggi satu tingkat! Tunggu sebentar, apabila aku telah perkenalkan diri, aku mau lihat, apa kau tetap ada begini kurang ajar....."

Tapi ia menjawab dengan tenang.

"Aku ada orang she Wan," sahutnya dengan sabar. "Kim Coa Long-kun Hee Toa-hiap utus aku menemui suhu Ciauw Kong Lee ini. Aku punyakan sedikit urusan di tengah jalan, lantaran itu aku tertangguh beberapa hari, sehingga aku terlambat sampainya di sini. Aku menyesal sekali."

Sun Tiong Kun baru berumur dua puluh lebih, tak tahu ia tentang nama besar dari Kim Coa Long Kun Hee Soat Gie, ia pun bertabeat aseran, maka ia sudah lantas berteriak:

"Apakah itu Kim Coa, Tiat Coa, si ular emas, si ular besi? Lekas kau turun, jangan kau menggerecok hingga menjadi perintang!"

Ceng Ceng perdengarkan suara di hidung, dia ulur lidahnya.

Sun Tiong Kun lihat dia dihinakan, dia jadi mendongkol. Dengan tiba-tiba saja ia lompat mencelat, dengan pedangnya ia tikam perutnya nona itu. Hebat sekali serangannya ini, karena itu adalah tipu silat pedang Hoa San Pay "In-lie-tiauw-toh" atau "Di Dalam Mega Menyolok Buah Toh". Inilah ilmu pedang ciptaan Pat-chiu Sian Wan Bok Jin Ceng, ketua dari Hoa San Pay.

Mana sanggup Ceng Ceng kelit tikaman itu?

Sin Cie kenal baik tipu tikaman itu, ia gusar bukan main terhadap Sun Tiong Kun. Kenapa nona ini demikian kejam, menyerang secara demikian telengas kepada orang bukannya musuh? Itulah serangan yang akan membawa kebinasaan.

"Kau terlalu!" kata ia di dalam hatinya, seraya ia berlompat ke depan Ceng Ceng, kaki kanannya terus terangkat, untuk dipakai menjejak, hingga pedang Hui Thian Mo-lie jadi terinjak ujungnya, terinjak terus di lantai!

Sin Cie gunai ilmu jejakan dari Kim Coa Long-kun, yang ia dapat cangkok dari kitab Kim Coa Pit Kip, hingga tak seorang juga di dalam ruangan itu yang mengenalnya. Banyak orang menjadi heran, tanpa merasa ada yang berseru kagum, ada juga yang saling mengawasi satu pada lain.

Sun Tiong Kun kerahkan tenaganya, untuk tarik pulang pedangnya itu, akan tetapi maksud hatinya tak kesampaian. Injakan anak muda yang ia tidak kenal itu seperti nancap di lantai. Justru begitu, tangan kiri si anak muda menyambar ke arah mukanya, tak dapat ia luputkan diri dengan cuma pelengoskan muka, terpaksa ia lepaskan cekalannya, ia lompat mundur.

Sin Cie masih mendongkol, ia jumput pedang di kakinya itu, dengan satu gerakan dari kedua tangannya, ia bikin patah senjata itu, terus ia lemparkan ke lantai!

Bu-eng-cu Bwee Kiam Hoo dan Sin-kun Thaypo Lauw Pwee Seng adalah dua suheng Sun Tiong Kun, mereka ini saksikan sang sumoay dipecundangi, mereka murka. Pwee Seng hendak lantas turun tangan, akan tetapi Kiam Hoo yang licik tarik dia.

"Tunggu sebentar, tunggu apa yang dia hendak bilang!" kata suheng ini.

Benar-benar Sin Cie lantas bicara.

"Kandanya Bin-ya Cu Hoa dahulu, kelakuannya tak dapat dibenarkan, karena itu dia kena dibinasakan oleh Ciauw suhu, yang tak bisa antap saja perbuatan busuk. Kejadian itu diketahui jelas sekali oleh Kim Coa Long-kun, siapa juga bilang, untuk ketahui duduknya perkara, dua pucuk surat telah ditulis untuk membuktikannya. Kim Coa Long-kun juga telah ajak Ciauw Suhu pergi ke Bu Tong San untuk menghadap sendiri kepada Oey Bok Toojin, ketua dari Bu Tong Pay, untuk menjelaskan duduknya perkara. Itulah pun menjadi sebab kenapa Oey Bok Toojin telah sudahi perkara itu. Dua surat yang dimaksudkan itu mestinya inilah adanya....." Dia menunjuk kepada robekan kertas di lantai. "Barusan tuan ini telah robek surat-surat berharga itu, entah apa maksudnya?" Dia tambahkan seraya tunjuk juga Bwee Kiam Hoo.

Puas Ciauw Kong Lee mendengar perkataan-perkataan itu, hingga ia mau percaya, pemuda ini benarlah diutus Kim Coa Long-kun. Ia cekal tangan gadisnya, hatinya sendiri memukul keras.

Bwee Kiam Hoo tapinya tertawa dingin.

"Itulah dua pucuk surat palsu!" berkata dia. "Si orang she Ciauw telah berpikir yang bukan-bukan untuk mengelabui orang! Buat apa kalau dua pucuk surat itu tidak dirobek?"

Sin Cie masih berlaku sabar.

"Ketika kami berdua hendak berangkat kemari, Kim Coa Long-kun telah beritahukan kami tentang bunyinya dua surat itu," kata ia. "Dua surat yang dirobek itu, bukankah ini Taysu dan Loosu itu telah membacanya sendiri?" tambahkan ia, seraya ia memberi hormat pada Sip Lek Taysu dan The Kie In. "Mari kita bicarakan isinya surat itu, itu benar dusta atau tidak, nanti akan dapat diketahui."

"Baik, bicaralah!" berkata Sip Lek Taysu dan The Kie In.

Sin Cie berpaling kepada Bin Cu Hoa.

"Bin-ya," katanya, "jikalau aku bicara, kesudahannya sungguh tidak akan membikin bercahaya muka kandamu, dari itu, apa aku mesti bicara terus atau jangan?"

Urat-urat di kepalanya Cu Hoa pada bangun.

"Kandaku bukan orang semacam yang kau hendak sebutkan!" dia berseru bahna gusar. "Pasti sekali inilah surat palsu!"

Sin Cie tidak hendak berbantah pula. Ia menoleh pada kawannya.

"Adik Ceng, silakan kau bacakan bunyinya kedua surat itu!" ia minta.

Ceng Ceng terima perintah itu tanpa bilang suatu apa, mulanya ia mendehem beberapa kali, lantas ia mulai membacakan, di luar kepala. Ia berotak sangat terang, satu kali saja ia baca kedua surat itu selama di hotel, segera ia ingat semuanya. Ia baca lebih dahulu surat pengakuannya Thio Ceecu, lalu surat tanda terima kasih dari Khu Tootay. Ia membaca dengan tenang, suaranya halus tetapi terang.

Orang-orang dalam rombongan Bin Cu Hoa sudah lantas kasak-kusuk apabila "pemuda" ini telah membacakan beberapa puluh huruf , terang mereka itu mulai rundingkan isi surat, dan ketika baru saja pembacaan dilakukan separuh, Bin Cu Hoa sudah menjerit.

"Berhenti!" teriak dia. "Bocah, siapakah kau?"

Ceng Ceng belum sempat menjawab, Bwee Kiam Hoo sudah nyelah.

"Bocah ini kebanyakan ada orangnya si orang she Ciauw!" kata Bu-eng-cu si Bayangan Tak Ada. "Atau dia adalah orang yang diundang untuk membantu pihaknya. Siapa berani pastikan jikalau tidak lebih dahulu mereka bersekongkol?"

Bin Cu Hoa seperti sadar mendengar kata-kata itu.

"Kau bilang kau adalah orang suruhannya Kim Coa Long-kun!" dia berseru. "Siapa bisa buktikan kau bukannya orang palsu yang datang kemari untuk ngaco-belo saja?"

"Habis apa kau inginkan untuk bikin kau percaya betul?" Sin Cie tanya.

Bin Cu Hoa balingkan pedangnya yang panjang.

"Banyak orang Kang-ouw bilang Kim Coa Long-kun liehay bugeenya," berkata dia, "itu melainkan kata-kata saja dan belum pernah ada orang yang menyaksikannya, apabila kau benar ada turunan dari Kim Coa Long-kun itu, pasti kau telah mewarisi kepandaiannya itu. asal kau dapat menangkis pedangku ini, baru aku mau percaya!"

Orang she Bin ini memandang enteng Sin Cie yang masih berusia demikian muda. Umpama kata benar si pemuda ada anaknya Kim Coa Long-kun, pasti dia belum dapat wariskan semua kepandaiannya orang Kang-ouw luar biasa itu. Berapa liehaynya orang muda ini? Ia percaya, dalam beberapa gebrak saja, ia akan dapat merubuhkannya, hingga orang akan percaya surat-surat itu adalah surat-surat palsu belaka.

Sin Cie jatuhkan diri di atas kursi, untuk berduduk. Ia cegluk araknya, ia jumput sumpit untuk jepit sepotong daging, buat dikasi masuk ke dalam mulutnya, untuk dikunyah.

"Untuk menangkan pedang di tanganmu itu, buat apa sampai mesti dapatkan warisan kepandaiannya Kim Coa Long-kun...." katanya sambil tertawa. "Orang telah permainkan padamu, kau masih tidak insyaf, sayang, sungguh sayang....."

Bin Cu Hoa jadi bertambah-tambah mendongkol.

"Kapan orang permainkan aku?" dia berteriak. "Eh, Bocah, apakah kau berani piebu denganku? Jikalau kau takut, pergilah kau menggelinding dari sini!"

Kembali Sin Cie cegluk araknya, sikapnya sangat tenang.

"Sudah lama aku dengar ilmu pedang Bu Tong Pay adalah yang tunggal di dalam dunia Kang-ouw, maka hari ini marilah aku belajar kenal dengannya," kata ia dengan tetap sabar. "Akan tetapi, sebelumnya main-main, perlu kita bicara dahulu. Jikalau aku dapat menangkan kau, perselisihanmu ini dengan pihak Ciauw Loosu mesti dibikin habis, tidak dapat diungkat-ungkat pula, umpama kata kau tetap memusuhinya, maka semua Cianpwee yang hadir di sini harus perdengarkan suaranya yang adil!"

"Itulah pasti!" berseru Bin Cu Hoa dengan bernapsu. "Di sini ada Sip Lek Taysu, The Ceecu dan yang lain-lain, yang menjadi saksi! Tapi jikalau kau tak dapat menangkan aku?"

"Aku nanti menjura kepadamu untuk menghaturkan maaf," jawab si anak muda dengan lantas. "Selanjutnya aku tidak akan campur tahu pula urusan ini."

"Baik!" berseru Bin Cu Hoa. "Nah, kau majulah!"

Cu Hoa segera putar pedangnya, hingga anginnya berbunyi "swing, swing!" Teranglah ia ada sangat sengit hingga ia sengaja pertontonkan tenaganya. Di dalam hatinya, ia pun pikir: "Jikalau aku tidak berikan tanda mata kepadamu, di tubuhmu, pasti kau tidak insyaf liehaynya Bu Tong Pay!"

Sin Cie masih tetap tenang seperti tadinya.

"Kim Coa Tayhiap telah bilang padaku," ia berkata pula, "di dalam Bu Tong Pay, ilmu pedangnya yang paling liehay adalah Liang Gie Kiam-hoat. Ia pesan padaku, katanya, dengan kepergianmu ini, apabila si orang she Bin tidak sudi mengerti, hingga pertempuran mesti terjadi, kau mesti perhatikan ilmu pedangnya itu. Yang lain-lainnya tak usah diperdulikan. Sekarang mari aku ajarkan kau beberapa tipu pukulannya untuk memecahkannya."

Pemuda ini belum bicara habis atau dari antara rombongan tetamu, seorang usia pertengahan lompat maju ke arahnya sambil berseru: "Baik! Aku ingin saksikan bagaimana Kim Coa Long-kun ajari kau memecahkan Liang Gie Kiam-hoat!"

Seruan itu disusul sama tusukan pedang ke muka Sin Cie.

Anak muda ini egos mukanya ke kiri, terus ia loncat ke tengah-tengah ruangan. Sementara itu, tangan kirinya masih cekali cawan araknya, tangan kanannya, dengan sumpit, sedang menjepit sepotong paha ayam.

"Aku mohon tanya gelaranmu, Tootiang?" katanya.

Penyerang itu memang ada satu toojin, satu imam.

"Pintoo ada Tong Hian Toojin," jawab imam itu. "Pintoo adalah murid Bu Tong Pay angkatan kedua puluh tiga. Bin Cu Hoa ini adalah suteeku!"

"Bagus, Tootiang," kata pula Sin Cie. "Dulu Kim Coa Tayhiap dan Oey Bok Tootiang telah merundingkan tentang ilmu silat pedang di atas gunung Bu Tong San, itu waktu Oey Bok Tootiang telah unjuk bahwa Liang Gie Kiam-hoat ciptaannya itu tidak ada tandingannya di dalam dunia ini, atas itu Kim Coa Tayhiap cuma tertawa saja, ia tidak membantahnya. Maka beruntunglah hari ini kita bertemu di sini, hingga kita dari angkatan muda bisa dapat ketika untuk merundingkannya dan mencoba-coba."
Thanks for reading PEDANG ULAR MAS 17

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar