Jilid 18
Tong Hian Toojin tidak bilang apa-apa lagi, ia beri tanda pada Bin Cu Hoa, lantas keduanya menyerang dengan berbareng. Sebab "Liang Gie Kiam-hoat" seperti namanya menunjuki "liang-gie", adalah ilmu berkelahi yang selamanya mesti dilakukan oleh dua orang melawan satu atau lebih musuh.
Gesit luar biasa, Sin Cie melejit dari dua tikaman itu yang hebat sekali, atas mana, ia dirangsek pula.
"Tahan, tahan!" Ceng Ceng berseru. "Dengar dulu!"
Bin Cu Hoa dan Tong Hian hentikan serangan mereka, lantas mereka berdiri berendeng dengan masing-masing pedangnya di depan dada. Ini dia yang dinamakan sikap "lianggie". Mereka awasi pemuda ini.
"Wan Toako menerima baik untuk bertempur dengan Bin-ya satu orang, kenapa sekarang ditambah satu tooya lagi?" tanya Ceng Ceng.
Matanya Tong Hian Toojin mencilak.
"Engko kecil, teranglah kau ada merek palsu!" berkata imam ini dengan ejekannya. Ceng Ceng tetap dandan sebagai satu pemuda. "Siapa sih yang tidak ketahui Liang Gie kiamhoat mesti dilakukan berbareng oleh dua orang? Kau tidak tahu suatu apa, apa mungkin Kim Coa Long-kun yang kenamaan juga tak tahu ini?"
Disengapi secara demikian, merah muka nona kita.
Sin Cie segera datang sama tengah dengan kata-katanya: "Liang Gie kiam-hoatmu ini memang didasarkan atas Im dan Yang, yang saling menghidupkan dan saling menaklukkan. Siapa yang latihannya masih jauh daripada kesempurnaan, memang digunainya itu harus dengan berdua, akan tetapi untuk ahli sejati, pasti cukup dengan satu orang saja!"
Ceng Ceng tidak kenal Liang Gie kiam-hoat, karenanya ia telah menanyakannya. Tentu saja ia tidak senang yang Sin Cie mesti dikerubuti dua orang. Tapi ia tidak tahu, karena pertanyaannya ini yang tolol, ia jadi sudah membuka rahasia sendiri. Karena ini juga, Sin Cie lekas-lekas tolongi kawannya ini.
Tong Hian dan Bin Cu Hoa saling mengawasi, dalam hatinya mereka pikir: "Tidak pernah suhu omong bahwa ilmu pedang ini bisa dipakai berkelahi dengan satu orang saja, maka apa mungkin bocah ini cuma ngoceh tak keruan?"
Ceng Ceng sendiri telah lantas dapat pulang ketenangan dirinya. Ia lantas tertawa gembira sekali terhadap kedua jago Bu Tong Pay itu. Ia kata: "Oleh karena Jie-wie maju berdua dengan berbareng, aku anggap syarat taruhannya perlu ditambah berlipat!"
"Kau hendak bertaruh apa?" tanya Bin Cu Hoa.
"Aku inginkan," sahut Ceng Ceng, "umpama kata pihakmu yang kalah maka kecuali dibulatkan janji kau tidak akan musuhkan pula kepada Ciauw Loosu ini, kau juga mesti serahkan pada Wan Toako gedung besarmu di luar pintu Kim Coan-mu. Apa kau akur?"
Bin Cu Hoa pikir: "Sekarang ini, apa juga baiklah aku terima baik! Umpama bocah ini tidak terbinasa di ujung pedangku, sedikitnya dia bakal terluka parah." Dia merasa pasti sekali. Maka dia lantas berikan jawabannya: "Baik, aku terima pertaruhan ini! Umpamanya kau juga hendak turut maju, hingga kita jadi dua pasang kami akur, supaya tidak usah kamu nanti katakan kita yang tua menghina yang muda dan yang banyak curangi yang sedikit!"
"Bagaimana kau bisa bilang yang banyak curangi yang sedikit?" tanya Ceng Ceng. "Sungguh kau tidak tahu tingginya langit dan dalamnya bumi!"
Naik darahnya Bin Cu Hoa karena hinaan ini.
"Orang she Wan!" ia berseru kepada Sin Cie. "Bagaimana jikalau kau kena kami lukakan?"
Tidak lantas pemuda kita berikan jawabannya, karena usul keluar dari Ceng Ceng tetapi dialah yang ditanya. Tapi Ciauw Kong Lee sudah lantas menalangi dia.
"Bin Jieko, gedungmu itu berapa harganya?" tanya ketua Kim Liong Pang ini.
"Baru pada bulan yang lalu aku beli gedung itu," sahut Bin Cu Hoa. "Aku beli itu dengan harga delapan ribu tiga ratus tail."
"Kalau begitu, aku suka wakilkan Wan Toako." bilang Kong Lee. "Kau tunggu sebentar."
Tuan rumah ini lantas bicara pelahan sekali pada gadisnya.
Ciauw Wan Jie segera lari ke dalam, untuk keluar pula dengan cepat dengan membawa selembar kertas berharga dari bank.
Ciauw Kong Lee lantas berkata pula: "Wan Toako ini hendak keluarkan tenaganya untuk aku, aku sangat bersyukur kepadanya. Di sini ada itu jumlah delapan ribu tiga ratus tail. Umpama Wan Toako dengan sepasang tangannya tidak sanggup layani empat tangan dari kamu, maka Bin Jie-ko boleh ambil cek ini. Dan kalau ada urusannya lain lagi, lain kali Bin Jieko boleh cari aku. Siapa berhutang, dia mesti membayar!"
Ketua Kim Liong Pang ini pikir, umpama Sin Cie tidak sanggup menangi lawan, tidak apa, asal dia jangan jadi korban untuknya.
The Kie In, cong-bengcu atau ketua pusat dari kawanan bajak dari tujuh puluh dua pulau gembira dengan macam pertaruhan itu, dia lantas turut campur bicara.
"Bagus!" serunya. "Inilah pertaruhan yang maha adil, adil sekali! Bin-jieko, aku juga hendak turut ambil bagian!" Dia lantas rogoh sakunya, akan keluarkan sepotong uang goanpo emas, yang ia terus lemparkan ke atas meja, sambil ia tambahkan: "Mari kita bertaruh tiga lawan satu! Goanpo itu berharga tiga ribu tail! Hayo, siapa berani lawan dengan seribu tail saja?"
Tantangan itu tidak ada yang jawab, walau kembali pemimpin bajak itu ulangi sampai beberapa kali. Sin Cie masih demikian muda, mana dia sanggup lawan dua jago Bu Tong pay? Tidak ada orang yang niat korbankan uang secara cuma-cuma.
Tapi Ciauw Wan Jie muncul dengan tiba-tiba.
"The Toapeh, suka aku terima pertaruhanmu ini!" katanya. Malah lantas dia loloskan gelang emas yang sedang dipakai, ia letaki itu di atas meja.
Itulah gelang emas yang tertabur permata, sinarnya sampai memain berkeredepan.
The Kie In angkat gelang itu untuk diperiksa, kemudian ia kata: "Gelangmu ini berharga tiga ribu tail, maka itu tidak sudi aku akan akali satu bocah. Aku akan tambah uangku lagi enam ribu tail!"
Memang ia janjikan tiga lawan satu.
Pemimpin bajak ini lantas teriaki orangnya untuk letaki lagi dua potong goanpo emas di atas meja.
"Aku pujikan supaya kaulah yang menang!" kata pula cong-bengcu ini sambil tertawa. Ia berkata-kata seraya hadapi nona Ciauw. "Ini uang bisa dijadikan pesalinmu!"
Sun Tiong Kun panas hati menyaksikan semua itu.
"Aku pertaruhkan pedangku ini!" ia berseru. Ia lemparkan pedangnya yang tinggal sepotong ke atas meja.
(Bersambung bab ke 12)
Bab 12
"Siapa kesudian pedang patah itu!" Ceng Ceng bilang. Semua orang pun heran. "Aku bukan pertaruhkan pedangnya saja!" Sun Tiong Kun berteriak memberi
keterangan. "Aku juga bertaruh tiga lawan satu! Begini: Umpama kata ini bocah yang beruntung memperoleh kemenangan, kau boleh tusuk aku tiga kali, akan tetapi sebaliknya apabila dia yang kalah, dengan pedang buntung ini, aku nanti tikam kau satu kali saja! Kau mengerti sekarang?"
Kembali semua orang merasa heran, apapula di pihak tuan rumah. Itu adalah pertaruhan yang mereka belum pernah mengalami, walaupun banyak di antara mereka adalah jagojago ulung. Antaranya ada yang sudah meleletkan lidah terlebih dahulu.
Ceng Ceng tertawa dengan manis sekali, sikapnya wajar.
"Kau begini cantik-molek, mana tega aku untuk tikam padamu?" berkata dia. Tentu saja itu hanya ejekan belaka.
Lauw Pwee Seng jadi sengit. "Bocah kurang ajar, jangan ngaco-belo!" dia membentak. Ceng Ceng tidak gusar, dia tertawa terus.
Sun Tiong Kun awasi Ciauw Kong Lee serta semua orangnya. "Tadinya aku percaya Kim Liong Pang sedikitnya mempunyai beberapa orang liehay, siapa tahu buktinya sekarang semuanya terdiri dari segala perempuan, segala bantong!"
Ciauw Wan Jie tidak dapat antap orang pentang bacot lebar. "Kalau perempuan, bagaimana?" tanya dia. "Aku terima tantanganmu!"
Empat atau lima muridnya Ciauw Kong Lee lantas berbangkit. "Sumoay, kita juga turut bertaruh!" kata mereka.
"Tidak usah, cukup aku sendiri!" Wan Jie menolak.
Sun Tiong Kun tertawa mengejek. "Baik!" berseru dia. "The Tocu, sukalah kau menjadi saksi!"
The Kie In adalah kepala bajak yang tak segan membunuh orang, akan tetapi menghadapi ini macam pertaruhan, hatinya toh giris.
"Nona, Nona," katanya, untuk mencegah, "jikalau kamu hendak bertaruh, baiklah kamu gunai segala yancie atau pupur, buat apa kamu pakai cara ini?" Wan Jie mendahului menjawab: "Dia telah babat kutung sebelah tangannya Lo Sukoku, maka sebentar aku hendak bikin picak kedua matanya!" Mendengar begitu, The Kie In lantas tutup mulut.
Bwee Kiam Hoo, dengan dingin turut bicara. "Nona Ciauw, kau baik sekali terhadap muridnya Kim Coa Long Kun," ia menyindir, "sehingga kau sudi menggantikan jiwanya...."
Merah mukanya nona Ciauw itu tapi ia dapat menahan sabar. "Kau sendiri hendak bertaruh atau tidak?" ia tanya. Ia menantang.
Ceng Ceng pun gusar terhadap orang Hoa San Pay itu. Maka ia menyelah. "Kasihlah aku yang bertaruh dengan Bu-eng-cu!" katanya.
"Kau hendak bertaruh apa?" tanya Kiam Hoo.
"Aku juga hendak bertaruh tiga lawan satu!" jawab nona ini.
"Ya, bertaruh apa?" Kiam Hoo tegasi. "Jikalau dia kalah, di sini juga di muka umum aku nanti panggil engkong tiga kali padamu," jawab Ceng Ceng. "Jikalau dia yang menang, untukmu cukup memanggil aku satu kali saja!"
Mendengar ini, semua orang, kawan dan lawan, pada tertawa. Semua orang anggap "pemuda" ini benar-benar nakal.
"Siapa mau bergurau denganmu?" kata Kiam Hoo. "Mari kita nantikan saja, apabila dia yang menang, aku nanti minta pengajaran dari kau!"
Masih Ceng Ceng menggoda.
"Dengan begitu, sebatangmu itu menjadi terlebih liehay daripada Liang Gie Kiam-hoat dari Bu Tong Pay!....." katanya.
"Aku dari Hoa San Pay," Kiam Hoo kasi keterangan. "Mereka itu benar dari Bu Tong Pay. Sesuatu kaum mempunyai ilmu kepandaiannya sendiri, jangan kau mencoba mengadu dan merenggangkan kami!"
Tong Hian jadi jemu mendengari orang adu mulut saja. "Sudah, cukup!" ia berseru. "Eh, bocah, kau lihat!"
Ia bicara kepada Sin Cie, yang ia segera serang pula. Perbuatan ini diturut oleh Bin Cu Hoa, yang terus menikam dengan kakinya maju menginjak apa yang dinamai pintu "hong-bun".
Mereka berdua menggunai masing-masing tangan kiri dan kanan, untuk bergerak menuruti garis-garis patkwa delapan kali delapan menjadi enam puluh empat, gerakannya saling menghidupkan, saling mematikan juga, sambaran anginnya bersiur-siur.
Ketika dahulu Kim Coa Long-kun rundingkan ilmu pedang dengan Oey Bok Toojin dari Bu Tong Pay itu, dia telah hunjuk bahwa Liang Gie Kiam-hoat masih ada bagian-bagiannya yang lemah, akan tetapi imam itu percaya benar ilmu pedang ciptaannya itu, ia bersikap kukuh, sehingga ia kata: "Taruh kata benar masih ada kelemahannya pada ilmu pedangku ini akan tetapi di kolong langit ini tidak ada orang yang sanggup memecahkannya." Atas pengutaraan itu, Kim Coa Long-kun tidak bilang apa-apa.
Kemudian, ketika Ngo-Couw dari Cio Liang Pay seterukan Kim Coa Long-kun, di antara orang-orang liehay yang mereka undang untuk membantu pihak mereka, ada juga ahli-ahli pedang dari Bu Tong Pay, di waktu menghadapi mereka ini, Kim Coa Long-kun tahu pasti bagaimana mesti melayani dia orang itu. Benar saja, dalam beberapa gebrak saja, ia telah berhasil pecahkan Liang Gie Kiam-hoat. Di dalam Kim Coa Pit Kip, tentang Liang Gie Kiam-hoat itu ditulis jelas, kelemahannya, cara menyerangnya, maka itu sekarang Sin Cie tidak berkuatir sama sekali. Demikian, atas serangan, dia berkelit, terus dia main berkelit saja, dia gunai kegesitannya, kelicinannya.
Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa merangsek terus, satu tikaman demi satu tikaman, akan tetapi sampai beberapa jurus, tidak juga mereka berhasil dapat menikam lawan yang muda belia itu, sehingga selain mereka sendiri, para penonton pun menjadi heran, rata-rata orang mengagumi si anak muda.
"Ilmu entengkan tubuh dari anak muda ini benar-benar sempurna, boleh jadi sekali benarlah dia ada murid Kim Coa Long-kun," menyatakan Cit-cap-jie-to Tocu The Kie In kepada Sip Lek Taysu, pendeta dari Siauw Lim Sie.
Pendeta itu manggut-manggut.
"Dalam angkatan muda ada orang liehay sebagai dia, sungguh jarang didapat," ia menyatakan akur.
Pertempuran berjalan semakin seru, karena Bin Cu Hoa telah jadi semakin sengit. Satu kali ia injak garis tiong-kiong, ia tikam dada lawannya. Tong Hian Toojin di lain pihak menusuk ke kiri, untuk disusul sama tikaman ke arah kanan.
Sin Cie kena terjepit, tak ada lowongan lagi untuk ia egos tubuhnya. Akan tetapi ia tidak gugup, ia tidak kehabisan daya. Dengan tiba-tiba saja ia mendak, sebelah kakinya dimajukan. Ia mendak demikian rendah, kepalanya pun dikasi tunduk, maka tahu-tahu kepalanya itu sudah seruduk perutnya Cu Hoa. Ia masih tidak gunai tenaga penuh tetapi jago Bu Tong Pay itu terpelanting mundur, terhuyung-huyung, hampir dia rubuh terjengkang.
Tong Hian Toojin terperanjat, untuk cegah kawannya nanti diserbu, dia merangsek, dia menyerang beruntun-runtun hingga tiga kali, selama mana, Sin Cie kembali main mundur atau berkelit.
Bin Cu Hoa pertahankan diri, ia gusar tak kepalang.
"Binatang," ia mendamprat.
Sin Cie berkelahi dengan sikap damai, ia masih mengharap untuk redakan ketegangan, supaya terciptalah perdamaian, akan tetapi Cu Hoa damprat ia secara demikian, tiba-tiba saja hawa-amarahnya naik.
"Jikalau aku tidak perlihatkan kepandaianku, akan tindih mereka ini, urusan sukar dibereskan," pikir dia. "Aku pun mesti cari ketika untuk hadapi Tiang Pek Sam Eng, jikalau tidak, pasti orang tidak akan tunduk kepadaku....."
Maka ia lantas mencelat ke samping meja, akan sambar cawannya sendiri, untuk segera cegluk isinya, sesudah mana, ia berseru berulang-ulang: "Lekas, lekas serang aku, aku masih belum dahar kenyang!"
Kemurkaan Bin Cu Hoa bertambah-tambah, terang sekali orang telah sangat menghina dia. Dalam murkanya itu, ia perhebat serangannya sehingga pedangnya perdengarkan angin menderu-deru.
"Bin Sutee, sabar!" Tong Hian peringati. "Dia sedang pancing hawa-amarahmu!"
Cu Hoa insyaf, maka ia jadi sabar pula. Tapi berdua, mereka terus menyerang dengan keras, mereka tetap merangsek, cahaya pedang mereka berkelebatan seperti mengurung tubuh lawan.
Lagi beberapa jurus telah dikasi lewat. Dengan mendadak, dengan kelicinannya, Sin Cie dapat loncat keluar kepungan, untuk letaki cangkirnya di atas meja.
"Adik Ceng, tambahkan arakku!" ia teriaki kawannya.
"Baik!" jawab Ceng Ceng.
Sin Cie sambar sebuah kursi, ia sendiri berdiri di tepi meja, dengan kursi itu, ia rintangi pelbagai tusukan pedang, sampai si nona sudah isikan cawannya, baru ia sambar cawan itu, lalu melepaskan kursinya, ia lompat pula ke tengah ruangan. Di sini ia makan ayamnya.
"Memang pada dasarnya Liang Gie Kiam-hoatmu ini ada bagiannya yang lemah," berkata dia, "sudah begitu, tidak sempurna kamu menjalankannya, maka bagaimana dapat kamu melukai aku?" Ia hirup araknya. "Ketika kau masih kecil, guruku suruh aku membuat karangan. Sekarang aku sedang bergembira, mau juga aku membuat karangan pula!"
"Bocah, lihat pedang!" Tong Hian berseru. Tapi ia tidak menyerang.
"Utusan Kim Coa Long-kun sambil tertawa melayani berkelahi dua si tolol," Sin Cie terusi godaannya, untuk membangkitkan hawa-amarah mereka.
Ceng Ceng tertawa.
"Toako, apakah katamu?" tanyanya.
"Itulah kalimat karanganku," sahut Sin Cie.
"Baik!" kata si nona. "Hayo kau membacakannya, aku akan mengingatinya, sebentar aku nanti buat catatannya."
Nona ini tahu maksud kawannya itu, ia pun melayaninya.
"Pedang mustika itu adalah senjata untuk membunuh manusia," Sin Cie lantas menyebutkan karangannya. "Dan tolol adalah lain gelarannya si dungu. Satu ketololan membuat berubah orang empunya wajah muka, dua ketololan bisa membikin orang tertawa terpingkal-pingkal sambil menekan perut, akan tetapi dua si tolol yang memainkan pedangnya dengan niatan membunuh orang, dia membuat aku menyemburkan arak hingga air mataku keluar hingga aku berseru panjang!"
"Semburkan arak, keluarkan air mata, bagian itu perlu ditandai koma dan titik," Ceng Ceng bilang.
Sementara itu Sin Cie telah berkelit dari tiga tusukan berbareng dari kedua lawannya, tidak pernah ia balas menyerang, ia main egos tubuh atau melejit saja.
"Aku adalah utusan Kim Coa Long-kun," ia lanjutkan, "aku suka tempatkan diriku sebagai si pendamai Lou Tiong Lian, akan tetapi Tuan berkukuh, tak mau sadar, terus-terusan mengacau saja, hingga karenanya di empat penjuru, semua tuan-tuan telah menunda cawannya, untuk menonton pertempuran. Sementara itu tiga pengkhianat bimbang dan berduka hatinya, mereka memikirkan cara bagaimana mereka bisa meluputkan diri dari ancaman bencana! Mereka itu justru harus dihajar rubuh!....."
Dengan tiba-tiba saja, Sin Cie menimpuk Bin Cu Hoa dengan paha ayam yang tadi ia jepit dengan sumpitnya, sumpitnya itu segera dipakai menyambut-menjepit pedangnya Tong Hian yang dipakai menikam dia. Dia menjepit dengan keras, lantas ia menyempar dengan keras juga.
"Lepaskan pedangmu!" dia pun berseru.
Berbareng dengan seruan itu, pedangnya Tong Hian kena tertarik hingga terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai, si imam sendiri sampai jatuh terjerunuk karena ia mencoba menahannya. Karena ini, berbareng kaget dan malu, ia menyerang dengan tangan kanannya, ia menyapu dengan kaki kirinya. Ia pikir akan gunai saat itu untuk rebut kemenangan!
Sin Cie menjejak dengan kedua kakinya, tubuhnya mencelat, akan menyingkir dari ancaman bahaya itu, berbareng dengan itu, cangkir araknya terbang melayang, karena dengan itu ia menimpuk kepada Bin Cu Hoa, mengenai tepat jalan darah kiok-cie-hiat tangan kiri dari orang she Bin itu, hingga segera dia ini merasakan tangannya itu baal, hingga pedangnya terlepas dari cekalan dan terlepas seketika. Menyusul itu dengan satu sambaran "Han-yap-ok-cui" atau "Gowak Menyambar Air", ia jumput kedua pedangnya lawan, untuk ia cekal dengan kedua tangannya, sembari pentang itu, ia berseru: "Kamu belum pernah lihat satu orang mainkan Liang Gie Kiam-hoat bukan? Nah, sekarang saksikanlah dengan perdata!"
Pemuda ini segera juga bersilat seorang diri di tengah-tengah ruangan itu, ia menyerang ke kiri, ia menyerang ke kanan, ia membela di kiri, sesuatu jurusnya benar-benar cocok sama ilmu pedang Liang Gie kiam-hoat yang disebutkan itu, gerakan kedua pedangnya itu nampak kusut sekali, akan tetapi toh, sesuatunya sangat membahayakan pihak lawan.
Tidaklah aneh jikalau angkatan muda yang hadir di situ menjadi terheran-heran, tetapi juga Sip Lek Taysu, Twie-hong-kiam Ban Hong, The Kie In, Tiang Pek Sam Eng, Thio Sim It dari Kun Lun Pay dan rombongan Bwee Kiam Hoo dari Hoa San Pay, turut mendelong juga. Inilah pemandangan yang tak pernah mereka sangka-sangka.
Kedua pedang berseliweran, cahayanya yang mengkilap berkredepan, anginnya menyambar-nyambar tidak berhentinya. Dan ketika enam puluh empat jurus telah habis dijalankan, terdengar seruannya si anak muda, kedua pedang itu melesat ke atas, nancap di penglari wuwungan rumah, nancap dalam sekali!
Itulah ilmu timpukan pedang Hoa San Pay warisan istimewa Pat-chiu Sian Wan, yang Sin Cie dapat pelajarkan dengan sempurna.
Sampai di situ, barulah pemuda ini undurkan diri.
Ruang pesta atau pertempuran itu jadi bergemuruh dengan sorakan dan tepukan tangan riuh, karena kawan maupun lawan, semua memujinya.
Kapan gemuruh mulai reda, terdengarlah seruan gembira dari Ceng Ceng seorang, suaranya nyaring dan terang: "Ha-ha! Bakal ada orang memanggil engkong padaku!"
Bwee Kiam Hoo, yang berdiri dengan pegangi pedangnya, bermuka merah-biru, saking mendongkol dan malu.
The Kie In lantas saja tertawa.
"Nona Ciauw, kau telah menang, kau terimalah ini!" berkata dia, yang dorong emas goanpo di atas meja kepada Ciauw Wan Jie.
Nona itu memberi hormat.
"The Pehhu, aku akan wakilkan kau memberi persen," katanya. Lantas dia kata dengan suaranya yang nyaring: "Di sini ada uang banyaknya sembilan ribu tail! Inilah uangnya The Tocu yang dibuat bertaruh secara main-main denganku! Tuan-tuan telah datang dari tempat yang jauh sekali, menyesal tak dapat kami dari Kim Liong Pang melayaninya dengan sempurna, kami malu sekali, maka itu, dengan jalan ini kami hendak 'pinjam bunga untuk menghormati Sang Buddha'. Kamu semua pengiring dari pelbagai cianpwee, mamak dan paman, kanda dan kakak, kamu masing-masing, seorangnya, aku akan hadiahkan banyaknya seratus tail! Hadiah ini besok hari aku akan perintah orangku mengantarkannya ke hotel kamu masing-masing!"
Di pihak tetamu, orang puas dengan cara penyelesaiannya pihak Kim Liong Pang ini, akan tetapi Bin Cu Hoa dan Tong Hian Toojin, yang kena dipecundangi, tampangnya lenyap cahaya terangnya. Mereka malu dan mendongkol bukan main.
Habis puterinya bicara, Ciauw Kong Lee hadapi para tetamunya.
"Dahulu hari itu, karena perangaiku keras dan perbuatanku semberono, aku telah kesalahan tangan hingga mencelakai kandanya Bin Jie-ko," berkata dia. "Kejadian itu sesungguhnya membuat aku malu dan menyesal, maka itu sekarang di hadapan semua enghiong yang hadir di sini, aku hendak menghaturkan maaf kepada Bin Jieko. Wan Jie, kau beri hormat pada Bin Siokhu."
Sembari membilang demikian, Kong Lee sendiri menjura pada Bin Cu Hoa, yang sejak tadi berdiri diam saja.
Wan Jie turut titah ayahnya, malah sebagai yang termuda, ia memberi hormat sambil paykui.
Bin Cu Hoa balas kehormatan itu. Mereka telah membuat janji, ia kalah, ia mesti menetapi janji itu. Pun, dari bunyinya kedua surat wasiat, sudah terang kesalahan ada di pihak kandanya. Di mana untuk melanjuti permusuhan adalah sulit untuk pihaknya, ia anggap ini adalah ketika untuk penyelesaian yang terhormat itu. Tapi ia ingat kandanya telah binasa, air matanya turun mengucur.
"Bin Jieko, aku sangat bersyukur kepadamu," berkata pula Ciauw Kong Lee, yang manis budi itu. "Mengenai pertaruhan rumah, mungkin ini tuan muda main-main saja, aku pikir baik itu tak usah ditimbulkan lagi. Besok dengan lantas aku nanti perintah siapkan lain rumah untuk tuan berdua."
"Itu tak dapat dilakukan," berkata Ceng Ceng. "Kita ada bangsa kuncu, satu kali perkataan kita telah dikeluarkan, empat ekor kuda tak dapat mengejarnya. Kata-kata telah diucapkan, mengapa mesti dibuat menyesal dan hendak ditarik pulang?"
Orang semua melengak, mereka heran. Ciauw Kong Lee telah janjikan sebuah rumah yang baru, pasti itu akan terlebih indah daripada rumah Bin Cu Hoa, maka heran, kenapa pemuda itu menampik, kenapa dia masih hendak membuat malu kepada Bin Cu Hoa?
Ciauw Kong Lee menjura pada "si anak muda".
"Loo-teetay, budimu berdua tak nanti aku lupakan," berkata dia dengan sangat, "tapi sekarang aku minta sukalah kamu bantu lagi sedikit kepadaku. Di pintu kota Selatan, aku mempunyai satu pekarangan yang luas, aku minta sukalah kamu terima itu sebagai gantinya. Aku percaya kamu akan puas dengan pekarangan itu."
Ceng Ceng bersikap sabar, tapi ia jawab: "Barusan Bin Jieya hendak binasakan kau untuk membalas sakit hati, umpama kata kau bilang padanya supaya dia jangan bunuh padamu, kau mengatakan mana kau tanggung dia akan peroleh kepuasan, coba kau pikir, dapatkah dia terima itu atau tidak?"
Bungkam ketua Kim Liong Pang ini dijawab secara demikian, ia likat sendirinya. Alasan si anak muda memang kuat sekali. Maka akhirnya, ia berpaling kepada gadisnya.
"Tuan ini penujui rumah Bin Jieya itu," katanya, "maka itu sebentar pergi kau perintah antar itu uang delapan ribu tiga ratus tail ke rumahnya Bin Siokhu."
"Sudah, sudah," mencegah Bin Cu Hoa. "Buat apa aku uang itu? Satu laki-laki telah keluarkan kata-katanya, empat ekor kuda tak dapat candak itu! Ciauw-ya, permusuhanku denganmu, sampai di sini aku bikin habis. Besok aku hendak pulang ke kampung halamanku, aku tidak punya muka untuk lebih lama pula di dalam kalangan Kang-ouw. Biarlah rumahku dipunyai oleh kedua tuan ini." Ia lantas menjura kepada semua hadirin dan berkata: "Semua Sahabatku, jauh dari tempat ribuan lie kamu telah datang kemari untuk mebantu aku, siapa tahu aku justru tidak punya guna, tak dapat aku membalas sakit hati kandaku, hingga karenanya, aku membuat kamu semua datang dengan sia-sia saja. Sahabat-Sahabatku, biar lain kali saja aku balas budimu ini."
Melihat orang bisa ubah sikapnya itu, Sin Cie lantas kata kepada jago Bu Tong Pay itu: "Bin Jieya, walaupun kau kalah dari aku, sebenarnya kepandaianku masih kalah jauh dengan kepandaianmu, apapula kalau dipadu dengan kepandaian Tong Hian Tootiang. Aku harap Jie-wie tidak berkecil hati. Jie-wie, terimalah hormatku yang muda."
Orang semua melengak. Toh dia yang menang, dan menangnya secara cemerlang sekali. Siapa bisa bertanding sambil minum arak dan membuat karangan sebagai dia? Siapa dapat gampang-gampang dengan tangan kosong mengalahkan dua musuh tangguh yang bersenjatakan pedang? Toh sekarang ini anak muda suka mengalah, suka dia memberi hormat kepada pecundang-pecundangnya!
"Jie-wie bukannya kalah di tanganku," Sin Cie melanjuti. "Sebenarnya Jie-wie kalah di tangan Kim Coa Tayhiap. Dia telah menduga siang-siang untuk caranya Jie-wie bertempur, maka itu Tayhiap telah pesan aku untuk aku bersikap berandalan, guna pancing meluapnya hawa-amarah Jie-wie, setelah itu, dengan satu akal, aku mesti rebut kemenangan. Kim Coa Tayhiap adalah orang pandai nomor satu dalam dunia Rimba Persilatan jaman ini, kepandaiannya itu tidak dapat dijejaki. Aku sendiri bukan muridnya, secara kebetulan saja aku bertemu dengannya, lantas dia ajari aku ilmu silat ini, untuk dipakai menyelesaikan persengketaan ini. Jie-wie kalah di tangan Tayhiap, tak usah Jie-wie merasa malu. Ingin aku mengatakan sesuatu yang tak sedap untuk kuping, tapi harap Jie-wie tak buat kecil hati. Jangan kata baru Jie-wie, juga pada waktu itu, Oey Bok Toojin sendiri bukan tandingan Kim Coa Tayhiap....."
Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa sangsikan kata-kata terakhir ini, akan tetapi, sementara itu mereka telah dapat dibikin tenang.
Tong Hian membalas hormat sambil menjura.
"Sie-cu telah membikin terang muka kami, pinto haturkan banyak-banyak terima kasih," kata dia. "Maukah Sie-cu beritahukan she dan nama besar Sie-cu kepadaku?"
Sin Cie segera tunjuk Ceng Ceng. "Inilah turunan langsung dari Kim Coa Tayhiap," jawab dia. "Dia she Hee. Dan aku yang muda, she Wan."
Banyak orang belum tahu shenya Kim Coa Long-kun, baru sekarang mereka ketahui jago itu she Hee.
Bin Cu Hoa menjura pada Ciauw Kong Lee.
"Aku telah gerecoki Ciauw-ya," katanya. "Selamat tinggal!"
Ciauw Kong Lee balas hormat itu.
"Besok aku akan kunjungi Bin Jie-ko untuk haturkan maaf," katanya.
"Tak sanggup aku terima itu," Cu Hoa menampik.
Selagi orang hendak angkat kaki, terdengar suaranya Ceng Ceng.
"Eh, bagaimana dengan pertaruhan pedang buntung?" katanya.
Wan Jie lihat ayahnya baru terlolos dari mara-bahaya besar, maka ia tak sudi menghadapi lagi lain ancaman malapetaka. Maka lekas ia perdengarkan suaranya.
"Tuan Hee, mari masuk ke dalam, aku akan menyuguhkan teh," katanya. "Aku harap urusan kecil itu tidak disebut-sebut pula."
"Dia masih satu bocah, dia belum panggil aku engkong!" kata lagi Ceng Ceng. "Ini tak dapat disudahi saja!"
Bwee Kiam Hoo dan Sun Tiong Kun tak dapat menahan sabar lagi, keduanya lompat maju ke tengah kalangan. Tapi Kiam Hoo bukan hampirkan nona kita, yang ia sangka ada satu pemuda, ia hanya tuding Sin Cie. "Kau sebenarnya siapa?" ia menegur. "Kau timpuki pedang ke atas penglari, itulah ilmu kepandaian menimpuk dari Hoa San Pay! Dari mana kau curi pelajaran itu?"
Lauw Pwee Seng menyusul di belakang suhengnya, dia pun turut bicara. "Kau juga barusan gunakan Hok-houw-ciang dari kaum kita!" dia turut menegur. "Dari mana kau curi itu? Lekas bilang!"
Sin Cie tidak sangka bakal muncul ekor ini, tapi ia tertawa. "Mencuri?" tanyanya.
"Buat apa aku mencuri?"
"Cis, bangsat cilik!" Sun Tiong Kun mendamprat sambil meludah. "Sudah mencuri, kau masih menyangkal!"
Bwee Kiam Hoo tertawa secara dingin sekali. "Habis, dari mana kau pelajarinya itu?" tanya dia.
Sin Cie menjawab dengan langsung:
"Aku adalah murid Hoa San Pay," sahutnya.
Murid-murid Hoa San Pay itu tercengang tetapi Sun Tiong Kun maju setindak. Dia menuding secara sengit sekali.
"Hei, bocah, kau gila!" katanya. "Sudah kau temberang sambil panggul-panggul mereknya Kim Coa Long-kun, sekarang kau sebut-sebut Hoa San Pay! Apakah kau tahu, nonamu ini dari golongan mana? Hm! Ini dia yang dibilang, Lie Kui tetiron menemui Lie Kui sejati! Baik kau ketahui, kita bertiga ada dari Hoa San Pay!"
Sin Cie tidak gusar, dia tetap sabar.
"Seperti aku sudah bilang, dengan Kim Coa Long-kun itu aku tidak punya sangkutan apa-apa," ia kasi keterangan. "Aku melainkan bersahabat dengan puteranya Tayhiap itu. Tentang kamu, Sam-wie, dari siang-siang memang aku sudah ketahui kamu ada orang-orang Hoa San Pay. Kita sebetulnya dari satu golongan."
Lauw Pwee Seng bisa sabarkan diri.
"Semua muridnya Tong-pit Thie-shuiphoa Oey Supeh aku kenal, akan tetapi di antaranya tidak ada kau, Lauwko," kata dia. "Sun Sumoay, adakah kau dengar kalau-kalau paling belakang ini Oey Supeh terima murid baru?"
"Matanya Oey Supeh bagaimana tinggi, mustahil dia sudi terima murid sebagai tukang tipu ini?" jawab Sun Tiong Kun dengan ketus. Dia masih sangat panas karena pedangnya telah dipatahkan. Dia memang aseran dan pikirannya cupat sekali.
Sin Cie tetap sabar saja.
"Memang Oey Cin Suheng bermata tinggi sekali, tidak nanti dia sembarang menerima murid," dia bilang.
Semua orang heran mendengar pemuda ini panggil suheng kepada Oey Cin.
Bwee Kiam Hoo bertiga tercengang.
"Sebenarnya dari mana kau dapatkan kepandaian Hoa San Pay ini?" Lauw Pwee Seng tegasi, suaranya keras. Ia tetap sangsi. "Lekas kau bilang!"
Dengan sama sabarnya seperti tadi, Sin Cie menjawab.
"Guruku she Bok, namanya di atas, Jin, di bawah Ceng," demikian penyahutannya dengan tenang. "Guruku itu adalah yang dunia kang-ouw gelarkan 'Pat-chiu Sian-wan' si Lutung Sakti Tangan Delapan...."
Bwee Kiam Hoo saksikan bugee orang yang liehay, mendengar orang aku diri murid Hoa San Pay, ia sangsi, hingga maulah ia menduga, mungkin Oey Cin, sang supeh, telah memungut satu murid baru, tetapi sekarang dia dengar pemuda ini mengaku ia adalah murid su-couwnya, keragu-raguannya jadi lenyap. Benar-benar ia tidak percaya su-couw itu, yang tidak ketentuan tempat mengembaranya, masih mau menerima murid lagi. Ia sendiri cuma pernah dua kali menemui su-couw itu. Gurunya sendiri, Sin-kun Bu Tek Kwie Sin Sie suami-isteri sudah berusia lima-puluh tahun, tapi pemuda ini sangat muda usianya, mana mungkin dia jadi murid su-couwnya itu? Sekarang orang aku diri sebagai paman-guru mereka, dia anggap: pemuda ini benar-benar tidak tahu hidup atau mati!
"Menurut keterangan ini, jadinya, kaulah susiok kita?" akhirnya dia tanya. (Susiok ialah paman guru).
"Aku juga tidak berani aku kamu bertiga, enghiong-enghiong besar, hookiat-hookiat besar, sebagai sutitku," sahut Sin Cie dengan sama tenangnya. (Enghiong dan hookiat ada orang-orang gagah. Sutit ialah keponakan murid).
Di kuping Bwee Kiam Hoo, jawaban itu berbau ejekan. "Apakah mungkin kami telah membuat malu Hoa San Pay?" ia tegaskan. "Susiok Tayjin, tolong kau memberi nasihat kepada kami tiga sutit kecil yang harus dikasihani.... Ha-haha!" Bwee Kiam Hoo sudah berusia tiga puluh tujuh atau tiga puluh delapan tahun.
Perkataannya ini membuat tertawa berkakakan semua orang-orang undangan Bin Cu Hoa.
Baru sekarang Sin Cie perlihatkan roman sungguh-sungguh. "Jikalau Jie-suheng Kwie Sin Sie ada di sini, pasti dia akan beri nasihatnya sendiri kepadamu!" kata dia, suaranya keren.
Tapi Bwee Kiam Hoo jadi sangat gusar, sekali sambar saja, pedangnya sudah lantas terhunus hingga menerbitkan suara "Sret!"
"Anak tolol, apakah di sini kau ngaco-belo?" ia membentak, mendamprat.
Ciauw Kong Lee menjadi sibuk, karena urusan jadi ada ekornya. Lekas-lekas ia menyelah di antara mereka.
"Tuan Wan ini main-main saja, Tuan Bwee, harap kau jangan gusar," ia mohon. "Mari, mari ramai-ramai kita keringkan cawan!" Dengan kata-katanya ini Kong Lee juga tidak percaya Sin Cie benar ada paman guru dari Bwee Kiam Hoo bertiga. Usia mereka kedua pihak tak memungkinkan itu.
Tapi Kiam Hoo masih panas hatinya.
"Anak tolol, walaupun kau paykui di depanku dan manggut-manggut dan memanggil aku susiok tiga kali, masih aku Bu-eng-cu tak sudi aku padamu!" katanya.
Ceng Ceng jadi panas hati, ia pun campur bicara. "Eh, Bu Eng Cu, kau mesti panggil engkong dulu padaku!" kata dia.
Sin Cie berpaling kepada kawannnya itu. "Adik Ceng, jangan bergurau," ia bilang. Ia terus menoleh pada Bwee Kiam Hoo, akan kata: "Sebetulnya aku belum pernah bertemu sama Kwie Jie-suheng. Kamu sendiri, Sam-wie, kamu ada terlebih tua daripadaku, turut pantas, tak tepat aku menjadi paman gurumu. Akan tetapi, perbuatan kamu bertiga, sesungguhnya tidak selayaknya."
Alisnya Bwee Kiam Hoo bangun berdiri, ia tertawa berkakakan. Ia gusar bukan kepalang.
"Ah, bocah, kau jadinya hendak beri nasihat kepadaku?" katanya dengan nyaring. "Mohon aku tanya, di manakah kesalahannya kami bertiga? Sahabatku ada urusan, mustahil kami tak dapat bantu padanya?"
Sin Cie tidak lantas menjawab langsung.
"Couwsu kami dari Hoa San Pay telah meninggalkan dua belas macam pantangan," katanya, dengan sabar, tapi dengan sungguh-sungguh. "Kau tahu, apa bunyinya pantangan yang ketiga, kelima, keenam, dan kesebelas?"
Ditanya begitu, Bwee Kiam Hoo melengak.
Sun Tiong Kun tidak tunggu saudara itu menjawab, dia timpuk muka Sin Cie dengan pedang buntungnya.
"Aku hendak coba kepandaian Hoa San Paymu!" serunya.
Sin Cie tunggu sampainya pedang itu, ia angkat tangan kirinya, ia balikkan telapakannya ke atas, lalu ia menepok, menakup dengan telapakan tangan kanan yang dibalik ke bawah, maka pedang buntung itu lantas kena dibekap dengan kedua telapakan tangannya itu. Ini ada tipu silat "Heng Pay Koan Im" atau "Memuja Dewi Koan Im Dengan Tangan Miring".
"Ini Heng Pay Koan Im, cocok atau tidak?" ia tanya.
Bwee Kiam Hoo kembali melengak, juga Lauw Pwee Seng. Dalam hatinya, mereka kata: "Memang ini ada ilmu silat Hoa San Pay, melainkan dia gunainya secara sangat sempurna, suhu sendiri belum tentu sanggup berbuat begini...."
Sun Tiong Kun juga tercengang, hingga ia diam saja.
Lauw Pwee Seng mendekati pemuda kita.
"Benar, barusan kau telah gunai tipu-silat kaum kita," katanya. "Sekarang aku yang ingin mohon pelajaran lebih dahulu daripadamu...."
"Lauw Toako," sahut Sin Cie dengan sabar. "Kau bergelar Sin-kun Thay-po, dengan begitu pastinya kau paham benar ilmu silat kita Hok-houw-ciang serta ilmu membelah batu dan menghancurkan kumala...."
Sekarang ini Lauw Pwee Seng tidak berani memandang enteng lagi seperti mulanya.
"Aku baru meyakinkan kulit dan bulunya saja, tak berani aku membilang sudah mempelajarinya dengan sempurna," ia jawab.
"Tidak usah terlalu merendah, Lauw Toako," Sin Cie bilang. "Umpama kau sedang berlatih tangan dengan Kwie Jie-suheng, umpama dia benar-benar gunai kepandaiannya, seandainya dia serang kau dengan Pauw-goan-keng atau Kun-goan-kang, apakah bisa Toako menyambutnya?"
"Sepuluh jurus yang pertama, masih bisa aku melayaninya, lantas sepuluh jurus yang bawah, sukar sekali," Pwee Seng jawab.
"Aha," kata Sin Cie. "Aku dengar gelaran Kwie Jie-suheng ada Sin-kun Bu-tek, kepandaiannya menggunai kepalan pastilah sangat sempurna sekali, maka dengan Lauw Toako sanggup melayani dia sampai sepuluh jurus, itulah sudah bagus sekali. Lauw Toako, tidaklah kecewa kau dengan gelaranmu Sin-kun Thay-po itu."
"Itulah gelaran yang orang berikan aku secara main-main, yang benar adalah kepandaianku masih beda jauh dari suhu," Pwee Seng bilang. Ia pun jadi bisa merendahkan diri sekarang.
Sun Tiong Kun tidak puas terhadap sikapnya saudara seperguruan ini. Dari suaranya ini saudara, nyatalah Pwee Seng telah jadi semakin lunak, agaknya dia suka aku Sin Cie sebagai paman gurunya.
"Eh, Lauw Suko, bagaimana?" dia menegur. "Apakah kau kena digertak dengan ocehan belaka?"
"Habis kau mau bagaimana baru kau hendak percaya aku ada paman gurumu?" Sin Cie tanya.
"Aku ingin kau dan aku berlatih sebentar," Pwee Seng bilang. "Umpama kata kepandaian ilmu silatmu Hoa San Pay ada terlebih sempurna....."
"Itulah gampang," bilang Sin Cie. "Asal kau sanggup layani aku lima jurus, kau boleh bilang aku palsu. Kau setuju?"
Mendengar itu, Bwee Kiam Hoo heran berbareng lega hatinya. Dia pikir: "Tentulah dia cuma ngoceh! Mustahil dia sanggup rubuhkan Lauw Sutee dalam lima jurus saja?" Maka ia lantas bilang: "Baiklah! Nanti aku yang menghitung!"
Lauw Pwee Seng memberi hormat sambil menjura. Agaknya ia kenal aturan sekarang. Katanya: "Di mana ada kelemahanku, tolong kau menaruh belas kasihan....."
Sin Cie lantas menghampirkan dengan tindakannya pelahan. Ia bersiap.
"Jurusku yang pertama ada 'Cio-po-thian-keng'," katanya, "kau sambutlah."
"Baik," sahut Pwee Seng, yang di dalam hatinya sendiri lantas berkata: "Siapa sih yang hendak bertempur memberitahu lebih dahulu kepada musuh tipu-pukulannya yang hendak dipakai menyerang? Tentu dia menggunai akal, dia ingin aku bersiap menjaga di atas, tahu-tahu dia serang aku di bawah." Maka ia siapkan tangan kanannya di depan mukanya, tangan kiri di betulan perut, asal orang mulai menyerang, ia hendak membarengi menyerang juga.
Segera terdengar suaranya Sin Cie: "Awas serangan yang pertama!" Dan serangannya dilakukan. Dengan tangan kiri dia mengancam, dengan tangan kanan ia menyerang dengan benar-benar. Dan benar-benar ia menyerang dengan tipu-silat Hoa San Pay yang ia sebutkan, jaitu 'Cio-po-thian-keng' atau "Batu Meledak, Langit Gempar."
Lauw Pwee Seng geraki tangan kanannya, untuk menangkis.
Pukulannya Sin Cie belum lagi sampai, atau ia sudah cegah itu.
"Hei, kenapa kau tidak percaya aku?" tanya dia. "Sebuah tangan saja tak cukup untuk menjaga, mesti dua tangan dengan berbareng."
Pwee Seng terperanjat. Ia pun insyaf, ia bakalan tak sanggup menangkis, atau sedikitnya hidungnya bakal muncratkan darah. Maka melihat orang menunda penyerangan, ia segera geraki juga tangan kirinya, dengan kedua tangan ia geraki "Pay-bun-twie-san", atau "Mengatur Pintu, Menolak Gunung". Ia menolak seraya perdengarkan seruan.
Sin Cie lanjuti serangannya, hingga tangannya jadi bentrok dengan dua tangannya lawan, setelah mana, ia menarik pulang lagi.
"Aku hendak menyerang pula, sekali ini dengan tiga jurus dibarengi," kata dia, menerangkan. "Itulah Lek-pek-sam-koan, Pauw-Coan-in-giok dan Kim-kong-cie-bwee. Bagaimana kau akan melawannya?"
Tanpa berpikir lagi, Pwee Seng jawab: "Aku akan gunai Hong-pie-chiu, Pek-in-cut-Siu dan Pang-hoa-hut-liu."
"Dua yang pertama benar, yang ketiga tidak tepat," Sin Cie bilang. "Kau harus ketahui, Pang-hoa-hut-liu adalah penjagaan di tengah berbareng menyerang. Jikalau kau adu tenaga dengan lawan, itulah baik, akan tetapi kau perlu membalik tangan, buat balas menyerang, dengan begitu, tenaga pembelaanmu jadi berkurang separuh, dengan begitu, kau akan tak sanggup menahan aku punya Kim-kong-cie-bwee."
"Kalau begitu, aku akan gunai Cian-kin-cwie-tee," Lauw Pwee Seng membetuli.
"Itu benar. Kau sambutlah!"
Sambil mengucap demikian, Sin Cie geraki tangan kanannya.
Pwee Seng pun bersiap, untuk menangkis.
Akan tetapi tangan kanan Sin Cie cuma terangkat ke atas, yang menerjang adalah tangan kirinya, ke bawah. Sembari berbuat demikian, dia kata: "Dalam ilmu silat, tak boleh orang berkukuh. Gurumu ajarkan kau Lek-pek-sam-koan dengan tangan kanan tetapi kita bisa melihat gelagat, memakai tangan kiri pun boleh." Sembari berkata, ia menyerang terus, tanpa tunggu orang menutup diri, untuk menangkis, ia mendahului menyambar lengan orang, untuk ditarik.
Lauw Pwee Seng menggunai 'Pek-in-cut-Siu' atau 'Awan Putih Keluar Dari Sela Gunung', ia melonjorkan tangannya untuk mengikuti, diam-diam ia gunai tenaganya, apapula lawan tidak siap-sedia, dadanya bisa kena ditotok celaka. Tapi ia pun tidak berani balas menyerang, begitu lekas tangannya dilepaskan dari cekalan lawan, ia menahan diri, dengan perkuatkan bahagian bawah, ia tancap kedua kakinya.
Sin Cie tidak berdiam saja begitu lekas ia lepaskan cekalannya terhadap lengan lawan, gesit luar biasa, ia mencelat ke samping, terus ke belakang musuh dari mana, tangan kirinya segera mendorong bebokong lawan itu, sebelum Pwee Seng sempat memutar tubuh atau berkelit, kuda-kudanya sudah gempur, hingga ia terjerunuk dua tindak ke depan, dengan susah-payah barulah dia bisa berbalik.
"Bagus!" berkata Sin Cie. "Sekarang ini pukulanku yang kelima. Ini ada Kie-chiu-sie dari Po-giok-kun."
Pwee Seng merasa heran, hingga ia berdiam saja.
"Apakah kau sangka Kie-chiu-sie hanya untuk upacara saja, buat memberi hormat?" tanya Sin Cie. "Apa kau kira kie-chiu-sie tak ada faedahnya dipakai menghadapi musuh? Kau mesti insyaf maksud Couwsu menciptakan tipu-silatnya ini. Tidak ada satu jua dari jurus-jurusnya Couwsu yang tidak disiapkan untuk melumpuhkan musuh, guna merebut kemenangan. Kau lihat saja!"
Lantas Sin Cie mendak sedikit, tubuhnya rada melengkung bagaikan biang panah, kepalan tangannya ditekap dengan tangan kiri, menyusul mana ia membuat gerakan sebagai lagi menjura, lantas saja tubuhnya itu bergerak maju, kedua tangannya pun menyerang dengan berbareng. Selagi Pwee Seng sibuk hendak menangkis, karena serangan itu sangat di luar dugaan, paha kirinya sudah kena dijotos, hingga tubuhnya itu menjadi limbung, terus saja ia rubuh!
Justru orang rubuh, Sin Cie berlompat menghampirkan, untuk sambar tubuh lawan dengan dua tangannya, buat dikasi bangun, buat direbahkan dengan hati-hati.
Lauw Pwee Seng segera geraki tubuhnya, untuk berbangkit dan berlutut, buat lantas memberi hormat sambil paykui.
"Aku yang muda tidak kenal Susiok, barusan aku telah berlaku kurang ajar," kata ia, "maka dengan memandang kepada guruku, aku minta Susiok sudi mengasi maaf padaku."


0 komentar:
Posting Komentar