Jilid 19
Sin Cie lekas-lekas membalas hormatnya.
"Lauw Toako ada terlebih tua daripada aku, baik kita berbasa engko dan adik saja," kata ia.
"Tak berani aku berbuat begitu, Susiok," Pwee Seng menampik. "Ilmu silat Susiok benar-benar luar biasa. Lima jurus barusan memang ada ilmu pukulan kita kaum Hoa San Pay, dengan itu Susiok beri pengajaran padaku, aku merasa sangat berterima kasih, kelak kemudian pasti aku akan yakinkan itu dengan sungguh-sungguh."
Sin Cie tidak menjawab, ia melainkan bersenyum.
Pwee Seng buktikan janjinya ini, karena di belakang hari, ia yakinkan sungguh-sungguh hingga ia peroleh kemajuan yang berarti. Karena mana ia hormati betul paman guru cilik ini.
Sampai di situ, Bwee Kiam Hoo dan Sun Tiong Kun tidak bisa beragu-ragu lebih jauh, akan tetapi orang she Bwee ini percaya betul ketangguhan ilmu pedangnya, maka ia telah berpikir: "Dalam ilmu silat tangan kosong, kau liehay, dalam ilmu pedang, belum tentu kau nanti dapat menangi aku."
Selagi ia berpikir demikian, ia dengar seruannya Tiong Kun:
"Bwee Suko, hayo coba ilmu pedangnya!"
"Baik!" jawab suheng ini, yang terus pandang Sin Cie dan kata: "Aku niat di ujung pedang Tuan mencoba menerima pelajaran beberapa jurus."
Dia omong dengan sabar dan halus, akan tetapi air mukanya tetap membayangi kejumawaannya. Ia pun memanggil tuan.
Sin Cie berpikir: "Rupanya dia ini telah dapatkan ilmu pelajaran sempurna dalam ilmu pedang Hoa San Pay, pasti selama berkelana belum pernah dia menemui tandingan, hingga karena pujian muluk di sana-sini, ia jadi berkepala besar, tekeburnya bukan buatan, sehingga sepak terjangnya jadi berlebih-lebihan. Dia beda daripada Lauw Pwee Seng, perlu aku ajar adat padanya, supaya di belakang hari dia tidak membuat malu kepada Hoa San Pay. Ajaran pun akan membuat kebaikan untuk dirinya sendiri."
Maka lantas ia menyahuti: "Untuk mengadu pedang, tidak ada halangannya, akan tetapi kapan sebentar telah ada keputusan menang dan kalah, kau mesti dengar sedikit nasihatku yang tentunya tidak sedap untuk kupingmu."
"Sekarang masih belum ada keputusannya menang atau kalah, kalau kau hendak bicara, itulah masih terlalu pagi!" kata Kiam Hoo dengan kejumawaannya tidak berkurang. Malah dia segera lintangi pedangnya di depan dada, dia ambil tempat di sebelah kiri, di atas.
"Bwee Suko, baik kau berdiri di sebelah bawah!" Lauw Pwee Seng teriaki suheng itu.
Kiam Hoo tidak gubris itu nasihat, ia seperti tidak mendengarnya.
Adalah aturan dari Hoa San Pay, apabila angkatan muda berlatih pedang dengan angkatan tua, yang muda mesti ambil tempat di sebelah bawah. Itu ada tanda bahwa bukan si muda berani terhadap si tua, itu adalah si muda mohon pengajaran. Tapi Bwee Kiam Hoo, dengan berdiri di kiri, jadi anggap dirinya sepantaran dengan orang yang terlebih tua derajatnya, tingkatannya, terang ia tidak sudi akui Sin Cie sebagai paman guru. Dengan tangan kiri, dia genggam gagang pedang, sembari rangkap kedua tangan, dia menantang: "Tuan, silakan!"
Sin Cie tidak puas terhadap sikap lawan ini, akan tetapi ia punyakan kesabaran luar biasa. Ia tidak lantas terima tantangan itu, hanya lebih dahulu ia menoleh kepada Ciauw Kong Lee.
"Ciauw Loopeh, tolong kau minta orangmu bawa kemari sepuluh bilah pedang," ia minta.
"Ah, Wan Siangkong, jangan panggil loopeh padaku, tak berani aku menerimanya," berkata tuan rumah itu.
Selagi orang-tuanya bicara, Ciauw Wan Jie memberi tanda kepada pihaknya, maka lantas ada beberapa muridnya Kong Lee yang membawa datang sepuluh bilah pedang yang diminta. Malah mengingat orang telah menolong guru mereka, mereka sengaja pilih pedang yang bagus, yang semua diletaki di atas meja.
Semua mata ditujukan kepada Sin Cie, ingin orang ketahui, pedang yang mana satu yang bakal ia pilih. Akan tetapi, selagi sepuluh pedang sudah siap, dia justru jumput pedang buntung dari Sun Tiong Kun.
"Aku pakai ini pedang buntung saja!" katanya sambil tertawa.
Semua orang melongo. Bagaimana pedang buntung dapat dipakai mengadu silat?
Sin Cie jepit pedang buntung itu di antara jempol dan telunjuknya.
"Sekarang kau boleh menyerang!" kemudian ia kata kepada Kiam Hoo.
Orang she Bwee itu menjadi sangat gusar.
"Kau sangat memandang enteng kepadaku, jikalau sebentar kau mampus, jangan kau sesalkan aku!" kata dia dalam hatinya. Ia lantas putar pedangnya, hingga cahayanya berkilauan dan suaranya mengaung.
"Awas!" dia berseru. Segera dia tikam bahu kanan Sin Cie. Dia pikir: "Kau cekal pedangmu secara begini, tentulah tangan kananmu tak leluasa bergerak! Aku serang bagianmu yang lemah, aku mau lihat, bagaimana kau layani aku...."
Di dalam ruangan itu hadir dua ratus orang lebih tapi semuanya bungkam, cuma mata mereka mengawasi ke arah medan perang pedang, dari itu, suasana tenang sekali.
Serangan Kiam Hoo cepat dan hebat, tatkala ujung pedang hampir sampai pada sasaran dengan tiba-tiba saja Sin Cie menangkis dengan pedangnya yang buntung.
Kedua pedangnya beradu keras: "Tak! Trang!"
Suara nyaring yang belakangan adalah suaranya pedang jatuh ke lantai, sebab pedangnya Kiam Hoo patah dengan mendadak, hingga ia cekal hanya gagangnya pedang!
Semua orang tercengang, tak ada yang tahu, ilmu tangkisan apa itu yang membuat pedang lawan patah secara demikian.
Selagi orang terheran-heran Sin Cie menunjuk ke meja.
"Aku telah minta disiapkan sepuluh bilah pedang, maka pergilah kau lantas menukar pedangmu!" kata ia kepada lawan itu, tenang.
Baru sekarang semua hadirin mengerti apa keperluannya persiapan sepuluh bilah pedang itu.
Kiam Hoo kaget berbareng gusar sekali. Ia lompat ke meja, untuk sambar sebilah pedang, setelah mana, ia menerjang dengan tiba-tiba. Dengan pedang yang baru, ia membabat ke bawah.
Sin Cie menduga orang cuma gertak ia, ia tidak menangkis atau berkelit sambil melompat. Benar saja, Kiam Hoo tidak terus babat kakinya, hanya setelah ditarik pulang, ujung pedang dipakai menikam perutnya!
Dari samping, pemuda ini tangkis serangan hebat itu.
"Trang!" kembali suara nyaring.
Untuk kedua kalinya, pedang Kiam Hoo kena dibikin kutung.
Dalam penasarannya, orang she Bwee ini sambar pedang yang kedua, dengan sama sengitnya, ia ulangi serangannya yang dahsyat. Akan tetapi untuk ketiga kalinya, tetap cuma dengan satu kali tangkisan, lagi-lagi pedangnya kena dibikin sapat, sehingga ia jadi berdiri tak dapat dia membuka mulut.
"Kau bilang ilmu pedang, kenapa kau gunai ilmu siluman?" Sun Tiong Kun menegur. Ia pun tercengang tapi ia lekas ingat pula akan dirinya. "Apakah ini namanya adu silat?"
Sin Cie lempar pedang buntungnya, ia bertindak ke meja, untuk ambil dua batang, satu di antaranya ia sodorkan pada Kiam Hoo. Ia bersenyum. Ia terus berpaling kepada nona garang itu.
"Kecewa kau namakan dirimu kaum Hoa San Pay!" katanya. "Kenapa kau tidak kenal Kun-thian-kang? Kenapa kau sebut-sebut ilmu siluman?"
Sedangnya orang berpaling, dengan kecepatan bagai kilat, Bwee Kiam Hoo bokong itu anak muda, justru setelah ujung pedang hampir mengenai bebokong, baru dia berseru: "Lihat pedang!"
Sin Cie mengegos ke samping.
"Lihat pedang!" dia pun berseru.
Kiam Hoo menyerang dengan tipu tikaman "Chong-eng-kim-touw" atau "Garuda Menyambar Kelinci", tapi juga Sin Cie gunai serupa gerakan, maka itu, lekas-lekas ia egos tubuh seperti si anak muda, ia memikir akan kasi lewat pedang lawan seperti tadi pedangnya dikelit.
Akan tetapi pedangnya Sin Cie itu, setelah ditusukkan, segera diteruskan, diputar, dan selagi Kiam Hoo berkelit, dia ini merasakan bebokongnya kelanggar suatu apa, sehingga ia kaget sekali, sampai ia keluarkan keringat dingin, buru-buru ia buang tubuhnya ke depan, setelah menubruk tanah, ia lantas mencelat bangun. Di luar sangkaannya, ujung pedang Sin Cie masih membayangi bebokongnya, sehingga dalam sibuknya, tak sempat ia menangkis. Ia berkelit, ia berkelit pula, tidak urung ujung pedang terus ancam dia, ujung pedang itu seperti tidak mau berpisah darinya! Ujung pedang cuma nempel dengan baju, maka coba tikaman dilanjuti, habislah selembar jiwanya orang jumawa ini.
Kiam Hoo yang dijuluki "Bu Eng Cu" si Bayangan Tak Ada, artinya, ia tidak punyakan bayangan, itu menandakan liehaynya ilmu entengkan tubuh, kegesitannya, akan tetapi sekarang, pedang Sin Cie justru menjadi bayangannya, tidak heran kalau ia terbenam dalam kaget dan takut. Tujuh atau delapan kali ia berkelit, ia tetap masih belum bisa loloskan diri dari ancaman ujung pedang lawannya itu.
Sin Cie tampak muka orang pucat dan kepala bermandikan keringat, ia ingat lawan itu adalah sutitnya, keponakan murid, ia anggap tak boleh ia berlaku keterlaluan. Maka ia berhenti membayangi, ia tarik pulang pedangnya.
"Inilah ilmu silat pedang Hoa San Pay, apakah kau belum pernah mempelajarinya?" tanyanya.
Setelah tidak dibayangi lebih jauh, Bwee Kiam Hoo bisa tenangi diri. Ia tunduk.
"Inilah yang dibilang Hu-kut-cie-cie," jawab ia.
Sin Cie tertawa pula.
"Kau benar," ia bilang. "Nama ilmu pedang ini tak sedap didengarnya akan tetapi kefaedahannya besar sekali!"
"Hu-kut-cie-ie" berarti "Lalat Ikuti Tulang".
Dari antara hadirin segera terdengar suara nyaring dari Ceng Ceng:
"Kau digelarkan Bu Eng Cu, hei, kenapa bebokongmu selalu diiringi pedang orang?" demikian suara nona jail itu. "Aku sendiri, aku lebih suka bayangan sendiri yang mengikuti belakangku!"
Kiam Hoo mencoba mengatasi diri, ia tidak layani nona itu. Tapi ia tetap masih belum puas. Ia sudah yakinkan pedangnya belasan tahun, ia heran kenapa ia tak dapat gunai itu seperti biasanya.
"Marilah kita adu pedang menurut cara biasa," kata ia pula kemudian. "Kepandaianmu terlalu campur-aduk, aku tidak sanggup melayaninya....."
"Ini adalah pelajaran aseli dari Hoa San Pay, mengapa kau menyebutnya campur aduk?" Sin Cie tanya. "Baiklah! Kau lihat!"
Ia lantas menyerang, lempang di dada.
Kiam Hoo angkat pedangnya, untuk menangkis, habis mana, niat ia melakukan pembalasan, akan tetapi anak muda itu menekan, ketika ia hendak menarik pulang, ia tidak bisa lakukan itu, sebab entah kenapa, pedangnya bagaikan nempel sama pedang lawannya itu.
Sesudah menekan, Sin Cie lalu memutar pedangnya, sampai dua kali, sama sekali ia tidak kasi ketika untuk orang menarik pulang pedangnya itu, malah tangannya Kiam Hoo terpaksa turut berputar, setelah mana, cuma terasa satu tarikan kaget, pedangnya Bu Eng Cu terlepas dari cekalannya dan terlempar!
"Apakah kau masih hendak mencoba pula?" Sin Cie tanya.
Kiam Hoo menjadi nekat, tanpa menjawab, ia sambar sebatang pedang lain dari atas meja, begitu lekas ia berpaling, ia terus menyerang, ke arah pundak kiri si anak muda. Ia berlaku cerdik sekarang, ketika Sin Cie menangkis, dengan cepat ia tarik pulang pedangnya itu. Tak sudi ia membikin pedangnya terlilit pula dan terpental.
Sin Cie juga tidak putar pedangnya seperti tadi, setelah tangkisannya kosong, ia teruskan pedangnya untuk menikam dada si orang bandel itu!
Inilah serangan hebat, tak dapat tidak, serangan ini mesti ditangkis, sebab untuk berkelit, ia tidak punyakan ketika lagi. Begitulah ia menangkis.
Begitu lekas kedua pedang bentrok, dengan menerbitkan suara nyaring, Kiam Hoo rasai lengannya menggetar dan terputar, menyusul itu, cekalannya terlepas, pedangnya mental ke udara. Ia terkejut, tapi ia masih ingat akan dirinya, masih saja ia penasaran, maka hendak ia berlompat pula ke meja, untuk sambar sebatang pedang lain.

"Apakah kau masih tidak hendak menyerah?" membentak Sin Cie, yang bisa duga maksud orang, karena mana, ia balingkan pedangnya dua kali ke arah ponakan murid ini, untuk tidak mengasi ketika.
Mau atau tidak, Kiam Hoo mesti batalkan maksudnya. Untuk luputkan diri dari ancaman pedang, ia berkelit, tubuhnya dikasi mundur dengan berlenggak. Justru ia lindungi tubuhnya, kakinya kena disambar kaki si anak muda, pelahan saja, tetapi itu cukup buat menyebabkan dia rubuh terjengkang!
Masih Sin Cie belum mau berhenti. Sambil maju, ia mengancam dengan ujung pedangnya pada tenggorokannya.
"Apa benar kau tak hendak menyerah?" tegaskan dia.
Seumurnya, Kiam Hoo belum pernah menampak hinaan semacam ini, bisa dimengerti hebatnya kemendongkolan dan gusarnya, sebab ia tidak sanggup lampiaskan itu, mendadak saja ia pingsan.
Sun Tiong Kun saksikan itu kejadian, kapan ia lihat suhengnya rebah celentang tak berkutik, matanya mendelik dan lantas dirapatkan, dia jadi lupa daratan, karena ia menyangka, suheng itu binasa di tangan pemuda ini. Sambil berlompat ia menyerang dengan tangan kosong, mulutnya berteriak: "Kau bunuh juga aku!"
Sin Cie juga terkejut melihat orang pingsan.
"Jikalau dia binasa, bagaimana aku bisa menemui suhu dan jie-suheng?" pikir dia. Lantas ia membungkuk, akan raba dada Kiam Hoo, sehingga ia merasai memukulnya jantung, karena mana, legalah hatinya. Ia lantas tepuk orang punya batang leher dan jalan darah, buat bikin darahnya jalan benar.
Ketika itu Sun Tiong Kun sudah sampai dengan lompatannya, ia lantas saja hajar bebokongnya Sin Cie dengan kepalannya, berulang-ulang, sebab ia sudah kalap.
Sin Cie tidak perdulikan serangan itu, ia antap saja.
Ceng Ceng dan Lauw Pwee Seng lompat maju, yang pertama berseru, untuk cegah nona Sun turun tangan lebih jauh, yang belakangan untuk tarik saudara seperguruannya.
Sun Tiong Kun jatuhkan dirinya, mendelepok di lantai, ia menangis menggerung-gerung.
Tidak antara lama, Kiam Hoo sadar akan dirinya.
"Kau bunuh saja aku!" ia berseru tetapi suaranya lemah.
"Suheng," Pwee Seng kata pada saudara itu, "kita mesti dengar nasihat Susiok, jangan kau turuti adatmu....."
Ceng Ceng awasi Tiong Kun.
"Dia tidak mati, kenapa kau nangis?" katanya sambil tertawa.
Gusar Tiong Kun, ia lompat bangun, kepalannya menyambar pada nona Hee. Ia ada satu wanita jago dari Hoa San Pay, ia pun sedang murka, tidak heran kalau serangannya itu ada luar biasa cepat.
Ceng Ceng tidak menyangka, sia-sia ia berkelit, pundak kirinya kena terjotos, sehingga ia merasai sakit, karena mana, ia jadi gusar, hendak ia melakukan pembalasan. Tapi baru ia hendak ayunkan tangannya, tiba-tiba Tiong Kun menjerit: "Aduh! Aduh!" lalu tubuhnya nona itu terbungkuk-bungkuk. Ia heran sehingga ia melengak.
"Kau yang serang aku, kenapa kau yang kesakitan?" ia tegur. Ia hendak menegur terus tetapi Sin Cie kedipi matanya, hingga walaupun ia heran, ia urungi niatnya itu.
Sun Tiong Kun masih menangis, ia usut-usut kedua kepalannya yang merah dan bengkak. Itulah yang membuat ia menjerit dan menangis, sebab tangan itu sakit bukan main. Dalam kalapnya, barusan ia serang Sin Cie kalang-kabutan, setiap kali ia memukul, kepalannya membal balik. Ia tidak perdulikan itu, ia masih tidak merasakan sakit, adalah setelah ia jotos Ceng Ceng, baru ia merasakan sakit, sakit sekali, seperti ditusuk-tusuk jarum. Sekarang pun ia lihat, kedua kepalannya bengkak dan merah, saking menahan sakit, air matanya meleleh terus.
Sengaja Sin Cie mengajar adat, sebab ia gemas sekali terhadap murid dari jie-suhengnya, karena nona ini sangat garang dan telengas, tanpa sebab ia sudah tabas kutung lengan Lip Jie, dan saban-saban ia perlihatkan kegagahannya.
Orang banyak tidak tahu duduknya perkara, maka rata-rata mereka menyangka Ceng Ceng adalah yang liehay sekali. Bukankah pemuda ini diajar kenal sebagai puteranya Kim Coa Long-kun Hee Soat Gie? Apa heran bila orang menyangka dia terlebih liehay daripada Sin Cie, hingga Sun Tiong Kun yang menyerang, Sun Tiong Kun sendiri yang kesakitan.....
Cuma Sip Lek Taysu, The Kie In dan Ban Hong yang ketahui, nona Sun sudah jadi korban dari tenaga membal, bahwa untuk tolong si nona, obatnya gampang, ialah kepalannya mesti diuruti dan jalan darahnya ditotok, nanti sakitnya lenyap, bengkaknya kempes. Tapi mereka tidak berani turun tangan, untuk tolongi si nona, mereka jeri terhadap Sin Cie, bugee siapa sekarang mereka malui.
Akhir-akhirnya Bwe Kiam Hoo berbangkit, ia hadapi Sin Cie untuk menjura tiga kali.
"Wan Susiok, menyesal aku tidak kenal padamu hingga aku berlaku kurang ajar," katanya. "Aku minta sukalah Susiok tolong Sun Sumoay."
Sin Cie tidak lantas menyahut, ia mengawasi dengan keren.
"Kau insyaf kesalahanmu atau tidak?" tanya dia.
Kiam Hoo tidak berani berkeras kepala lagi, ia tunduk.
"Tidak selayaknya aku yang muda robek surat-suratnya Ciauw Toaya," ia akui, "juga tidak seharusnya aku memaksa akan membelai Bin Jieko."
"Aku harap selanjutnya Bwee Toako suka berlaku hati-hati," kata Sin Cie kemudian, setelah orang mengaku salah.
"Aku nanti dengar nasihat Susiok," Kiam Hoo bilang.
"Bin Jieya tidak ketahui duduknya yang benar perihal kandanya, dia hendak menuntut balas, tindakannya itu bukan tidak selayaknya," kata pula Sin Cie. "Bahwa orang banyak datang untuk membantu dia, itu juga adalah perbuatan yang harus dipuji. Itulah sikap sewajarnya dari orang-orang Kang-ouw sejati. Sekarang duduknya perkara telah jadi terang sekali, aku harap supaya semua pihak suka membikin habis salah faham ini, biarlah lawan menjadi kawan. Kau hendak bantu Bin Jieko, aku tidak persalahkan padamu, tetapi kau pun sudah lakukan satu perbuatan yang sangat tidak selayaknya. Aku kuatir, Bwee Toako, kau masih belum menginsyafinya."
Kiam Hoo heran hingga ia tercengang.
"Apakah itu, Susiok?" tanyanya, menegasi.
"Kita kaum Hoa San Pay mempunyai dua belas pantangan," berkata Sin Cie. "Apakah bunyinya pantangan yang kelima?"
"Tadi pun Susiok telah tanyakan yang keempat dan ketiga," kata Kiam Hoo. "Yang ketiga itu adalah 'lancang membunuh tanpa sebab-musabab'. Sun sumoay telah langgar pantangan itu, maka baiklah, sebentar dia harus menghaturkan maaf kepada Lo Toako, kemudian kita nanti membayar kerugian....."
"Siapa kesudian uang busukmu?" berseru satu muridnya Ciauw Kong Lee. "Tangan orang telah ditabas kutung, apakah itu bisa diganti dengan tambalan uang?"
Kiam Hoo tahu pihaknya bersalah, terpaksa ia tutup mulut.
Sin Cie menoleh ke arah murid-murid tuan rumah, kepada murid yang barusan bicara, ia kata: "Memang perbuatan sutitku ini sangat semberono, aku menyesal sekali. Tunggulah sampai lukanya Lo Suko sudah sembuh, nanti aku dayakan terhadapnya supaya ia bisa gunai sebelah tangannya dengan sempurna. Itulah ilmu silat bukan kepunyaan Hoa San Pay, dari itu dapat aku menurunkannya tanpa tunggu aku peroleh perkenan lagi dari guruku."
Orang tahu anak muda ini liehay sekali, walaupun dia membilang hendak 'mendayakan', itu berarti memberi pelajaran, maka itu, janji itu diterima dengan girang. Orang pun puas yang anak muda ini suka menanggung dosanya Sun Tiong Kun.
"Pantang yang keenam adalah 'Tidak menghormati yang tua'," kata pula Kiam Hoo. "Mengenai ini, teecu ketahui kesalahanku. Yang kesebelas yaitu, 'Tidak selidiki duduknya perkara', dalam hal ini, teecu pun mengaku bersalah. Pantangan yang kelima berbunyi 'Bergaul dengan orang jahat', dalam hal ini teecu lihat Bin Jieko adalah satu laki-laki...."
Umumnya di situ orang tidak tahu hal dua belas pantangan dari Hoa San Pay, baru sekarang, mendengar keterangan Bwee Kiam Hoo, orang dengar itu. Bin Cu Hoa terkejut, ia berjingkrak.
"Apa? Apakah aku orang jahat?" serunya.
"Jangan salah mengerti, Bin Jieya, kami bukan maksudkannya," Sin Cie terangkan.
"Habis, kau maksudkan siapakah?" Cu Hoa tegasi.
Sin Cie hendak berikan jawabannya ketika dua muridnya Ciauw Kong Lee muncul di antara mereka sambil pepayang Lo Lip Jie, yang tangannya hilang sebelah, yang lukanya masih belum sembuh.
Mereka berdua sengaja lari ke dalam, untuk kabarkan suheng itu yang tetamu pemuda itu hendak tolong padanya. Lip Jie lantas saja menjura kepada Sin Cie, untuk haturkan terima kasih.
Sin Cie lekas-lekas balas hormat itu. Ia lihat Lip Jie bermuka pias, akan tetapi sikapnya tetap gagah.
Dengan suara jelas, Lip Jie bilang: "Wan Toa-hiap sudah tolong guruku, Toa-hiap juga hendak berikan pelajaran silat padaku, aku sangat berterima kasih."
"Jangan kau ucapkan itu," Sin Cie merendah.
The Kie In menyaksikan itu sambil tertawa, ia kata: "Loa Ciauw, muridmu ini cerdik sekali! Dia kuatir orang nanti menyesal dan menarik pulang kata-katanya, dia lantas saja mendahului menghaturkan terima kasih!"
Ciauw Kong Lee tertawa.
"Bisa saja, Toocu, kau bisa saja!" katanya.
Habis menghaturkan terima kasih, Lip Jie undurkan diri pula.
Itu waktu Sun Tiong Kun masih terus mengucurkan keringat, ia masih merasakan sakit, sehingga bibirnya pada matang biru saking ia menahan sakit. Sin Cie hampirkan dia, karena pemuda ini merasa, orang telah cukup menderita.
"Jangan raba aku!" Tiong Kun berseru. Nyata ia masih gusar, ia belum mau menyerah. "Biar aku mati, tak suka aku ditolong olehmu!"
Mukanya Sin Cie merah, ia jengah. Ia memikir untuk minta Ceng Ceng yang menolongi, untuk itu ia hendak ajarkan caranya kepada kawan ini, akan tetapi si nona dandan sebagai satu pemuda. Tentu saja ini pun sulit. Maka itu, ia menoleh kepada Wan Jie.
"Nona Ciauw!" ia memanggil.
Pada saat itu, dua kali terdengar suara pintu digedor, kemudian menyusul suara menjeblak. Nyata kedua daun pintu telah terbuka dengan paksa akibat tendangan.
Semua orang terkejut, semua berpaling keluar.
Di mulut pintu bertindak masuk dua orang. Orang yang jalan di depan berumur lima puluh lebih, dandannya sebagai orang tani saja. Orang yang kedua seorang perempuan berumur empat puluh lebih, ia dandan sebagai orang tani juga. Dia ini mengempo satu anak kecil.
Sun Tiong Kun lantas saja berseru: "Suhu! Suhu!" Lantas ia lari ke arah dua orang tani itu.
Mendengar suaranya Tiong Kun, semua orang lantas ketahui, itulah suami-isteri Cio-Poan-San-Long Kwie Sin Sie, si suami-isteri orang tani dari Cio Poan San.
Kwie Jie-nio lantas serahkan anak yang diemponya kepada suaminya, dengan muka merah-padam, ia lantas uruti jalan darahnya Sun Tiong Kun.
Bwee Kiam Hoo dan Lauw Pwee Seng hampirkan guru mereka suami-isteri itu, untuk menjalankan kehormatan.
Sin Cie lihat Kwie Sin Sie beroman sederhana sekali, Kwie Jie-nio, si jie-soso, atau ensonya yang kedua itu, wajahnya keren. Ia mengikuti Kiam Hoo dan Pwee Seng, habis mereka berdua, ia pun memberi hormat sambil paykui.
Kwie Sin Sie kasi bangun pada anak muda ini, ia cuma mengucap, "Tak usah", lantas ia bungkam.
Kwie Jie-so terus uruti muridnya, sembari berbuat demikian, ia berpaling, akan awasi Sin Cie, sikapnya sangat tawar.
Setelah ditolong gurunya, Tiong Kun merasakan tak terlalu sakit lagi, bengkak di tangannya pun mulai kempes.
"Su-bo," katanya, "dia itu mengaku menjadi susiok, dia telah bikin tanganku jadi begini rupa, malah pedang yang Su-bo kasikan padaku, dia telah bikin patah!"
Terkejut Sin Cie apabila dengar pengaduan itu.
"Inilah hebat!" pikirnya. "Coba aku tahu pedangnya itu adalah pedang pemberian jie-suso, biar bagaimana juga, tidak nanti aku bikin patah." Maka lekas-lekas ia memberi hormat pada enso itu dan kata: "Siauwtee tidak mengetahui itu, untuk kelancanganku harap Suheng dan Suso maafkan aku....."
Kwie Jie-so tidak sahuti anak muda ini, ia hanya berpaling kepada suaminya.
"Eh, Jieko, katanya suhu telah terima satu murid yang masih muda sekali, apakah ini dianya?" tanya dia. "Kenapa dia begini tidak tahu aturan?"
"Aku belum pernah ketemu dengannya," sahut sang suami, yang berbareng pun menjadi jie-suheng isterinya itu, kanda seperguruan yang kedua.
"Orang mesti ketahui, ilmu pelajaran tiada batas habisnya," berkata Kwie Jie-so, seperti pada dirinya sendiri. "Orang pun mesti ingat, di luar langit ada langit lainnya, di atas orang, ada orang lagi! Baru dapat pelajarkan sedikit ilmu, sudah lantas dengan sembarang saja menghina orang lain! Hm! Taruh kata muridku salah, toh ada aku yang nanti menegurnya, tidak usah ada susioknya yang menggantikan aku mengajar adat!"
Sin Cie tahu, kata-kata itu ditujukan kepadanya.
"Ya, ya, siauwtee insaf kesemberonoanku," ia akui.
"Kau telah patahkan pedangku, apakah di matamu masih ada orang yang lebih tinggi derajatnya?" tegur Kwie Jie-so. "Taruh kata suhu sangat sayang padamu, mustahil terhadap suheng sendiri kau dapat berbuat kurang ajar seperti ini?"
Para hadirin jadi merasa tidak enak. Nyonya petani ini makin lama jadi makin sengit. Itulah perbuatan yang keterlaluan, sebab dia belum tahu duduknya hal.
Tapi Sin Cie lain, ia terus bersikap sabar, ia mengalah saja.
Di pihaknya Ciauw Kong Lee, orang tidak puas dengan sikapnya Kwie Jie-so, adalah Bin Cu Hoa, Tong Hian, dan Ban Hong merasa puas sekali.
"Suhu, Subo," kata pula Sun Tiong Kun, "dia ini bilang ada satu Kim Coa Long-kun yang menjadi tulang punggungnya, begitulah Bwee Suheng dan Lauw Suheng dia telah rubuhkan!....."
Mendengar perkataan muridnya ini, tak kepalang gusarnya Kwie Jie-so.
Kwie Sin Sie dan isterinya ini sedang dalam perjalanan untuk mencari obat guna tolong anak meraka. Anak itu adalah anak satu-satunya, namanya Cin Tiong, sakitnya berat, maka juga, sebagai ayah dan ibu, mereka berkelana, untuk cari tabib yang pandai, yang sanggup mengobatinya. Menurut beberapa tabib terkenal, yang telah periksa penyakitnya anak itu, sebabnya penyakit adalah luka sejak di dalam kandungan, yaitu selagi hamil, Kwie Jie-so telah bertempur dan hamilannya dapat goncangan hebat, yang berakibat menganggu kesehatannya bayi dalam kandungan. Untuk bisa tolong anak itu, obat yang dibutuhkan adalah campuran dari Tay-hok-leng dan Ho-Siu-ouw yang sudah seribu tahun tuanya, kalau tidak, lagi satu atau dua tahun, anak ini bakal jadi demikian kurus-kering dan akhirnya akan mati meroyan. Tentu sekali, karenanya, ayah dan ibu itu menjadi sangat sibuk dan kuatir. Maka mereka coba cari kedua macam obat itu, sampai mereka mohon bantuan sahabat-sahabat dan kenalan dari rimba persilatan. Tay-hok-leng saja sudah susah dicari, apalagi Ho-Siu-ouw. Ke mana kedua obat mesti dicari? Mereka sudah berkelana lebih daripada satu tahun, masih sia-sia saja usaha mereka. Di sebelah itu, mereka dapati anak mereka semakin kurus, semakin kurus, maka bisalah dimengerti kekuatiran mereka. Suami-isteri itu sangat berduka. Kwie Sin Sie sendiri masih dapat tenangkan diri, tapi isterinya sering-sering melepas air mata. Begitulah, dalam usaha mencari obat, mereka menuju ke Lam-khia. Kota ini kota tua dan kota raja, mereka harap di dalam kota ini nanti menemui kedua rupa obat yang dibutuhkan itu. Kebetulan sekali, mereka dengar kabar tiga murid mereka ada di Lam-khia juga, mereka memang tahu ketiga murid itu cerdik, ingin mereka minta bantuan tiga murid itu. Maka itu, langsung mereka menuju ke rumah Ciauw Kong Lee. Apa mau, di sini mereka ketemukan Sun Tiong Kun dalam keadaan hebat itu. Kwie Jie-su memang aseran tabiatnya, ia pun lagi bersusah hati karena anaknya itu, tidak heran kalau ia jadi mendongkol dan gusar, hingga ia umbar hawa-amarahnya. Ia pun tidak puas murid-murid itu 'diperhina' suteenya. Begitulah, ia cuma dengar saja satu pihak. Ia jadi bertambah gusar mendengar Sun Tiong Kun sebut Sin Cie ada punya 'tulang punggung'.
"Apakah benar Kim Coa si mahluk aneh itu masih hidup?" ia tanya suaminya seraya ia berpaling pada suami itu.
"Kabarnya dia sudah menutup mata, akan tetapi siapa pun tidak dapat memastikannya," Kwie Sin Sie jawab. Suami ini masih tetap tenang, ia ada lebih berduka daripada bergusar.
Ceng Ceng sudah tidak puas melihat Sin Cie ditegur pulang-pergi dan diperlakukan sekasar itu, sekarang ia dengar ayahnya dikatakan 'mahluk aneh', tak dapat ia menahan sabar lagi.
"Perempuan jahat, perempuan jahat!" ia berseru. "Kenapa kau sembarang mendamprat orang?"
Tapi juga Kwie Jieso gusar.
"Kau siapa?" dia bentak.
"Dialah anaknya si Kim Coa mahluk aneh itu!" Sun Tiong Kun kasih tahu guru perempuannya.
Sebelah tangannya Kwie Jie-so tiba-tiba berkelebat, lalu satu sinar menyambar, ke arah nona Hee.
Sin Cie terperanjat, hendak dia mencegah, tapi serangannya enso itu hebat sekali, tak keburu dia berbuat apa-apa. Ceng Ceng menjerit, karena pundak kirinya kena terserang, walau ia mencoba untuk berkelit. Dalam kagetnya, Sin Cie lompat pada kawannya untuk cekal bahu tangannya. Ia lihat sebatang paku shong-bun-teng nancap di pundak.
Ceng Ceng kesakitan akan tetapi ia gusar, tak perduli mukanya pias.
"Jangan bergerak!" Sin Cie peringati.
Dengan dua jari tangan telunjuk dan tengah, anak muda ini pegang ujung paku, ia mencabut dengan pelahan tetapi tetap, setelah kira tiga-empat bagian dan dapatkan paku itu tidak bercagak, dengan mendadak ia kerahkan tenaganya, untuk mencabut terus dengan tiba-tiba, maka di lain saat, paku itu telah tercabut dan jatuh ke lantai dengan berbunyi nyaring.
Wan Jie telah menghampirkan mereka, segera ia berikan bantuannya. Ia telah lantas siapkan dua potong saputangan yang bersih dengan apa Sin Cie susuti lukanya Ceng Ceng, yang ia terus balut.
"Dengar aku, adik Ceng," Sin Ci berbisik. "Jangan layani dia."
"Kenapa?" tanya si nona dengan murka.
"Kita mesti hormati suhengku, tak dapat aku turun tangan," Sin Cie kasi mengerti, sikapnya sungguh-sungguh.
Ceng Ceng manggut dengan lesu, karena ia mesti tindas penasarannya.
Lega hati Sin Cie, sebab ia tahu, kawan itu aseran dan kukuh, tapi sekarang, walaupun dia dilukai dan dibikin marah, masih dia suka dengar nasihatnya. Ia girang sang kawan jadi lunak, ia bersenyum.
Kwie Jie-nio tunggu sampai Sin Cie sudah membalut selesai, sambil tertawa dingin, ia kata: "Namanya Kim Coa Long-kun nama kosong belaka! Jikalau dia benar liehay, kenapa puteranya tak dapat kelit pakuku yang aku sengaja gunai untuk mencobanya?"
Sin Cie berdiam, di dalam hatinya ia kata: "Jie-suso terbenam dalam salah faham hebat, apabila aku bantah dia, itu melulu akan menambah kemurkaannya."
Melihat orang berdiam, nyonya Sin Sie kata pula: "Di sini ada terlalu banyak orang, tak dapat kami omong banyak tentang Hoa San Pay kita, maka itu besok malam, jam tiga, kami suami-isteri berdua suka menantikan kau di samping panggung Ie Hoa Tay di bukit Cie Kim San. Kami undang kau, tuan Wan, untuk kita orang mencoba-coba, untuk buktikan kau benar atau bukan suteeku."
Biarnya nyonya ini mengucapkan demikian, semua hadirin tahu itulah tantangan belaka, maka juga Ciauw Kong Lee jadi sibuk sekali, ia berkuatir.
"Kwie-sie suami-isteri telah kenamaan sekali di Kanglam, terutama nama besar dari Sinkun Bu-tek telah membuat aku sangat kagum," berkata dia, "maka itu, Jie-wie, bukan main girangku atas kedatangan Jie-wie kemari. Sebenarnya, mengundang pun tak dapat aku lakukannya."
"Hm!" Kwie Jie-so perdengarkan suara di hidung.
Kwie Sin Sie berdiam, ia masih empo anaknya, ia merasa tak enak sendirinya.
"Saudara Wan ini," berkata pula Ciauw Kong Lee, "dia ketahui aku menghadapi kesulitan, dengan kebaikan hatinya, dia datang untuk mendamaikan. Mengenai ini, Bwee Toako, Lauw Toako dan Sun Toa-cia bertiga telah mengetahuinya dengan jelas. Biarlah besok malam, sebagai tuan rumah, aku undang Kwie-sie berdua hadirkan perjamuanku, sekalian aku hendak memberi selamat yang Sam-wie tiga saudara telah bertemu satu dengan lain....."
Kwie Jie-so tidak tunggu tuan rumah bicara habis, dia berpaling kepada Sin Cie dan tanya dengan getas: "Bagaimana? Kau pergi atau tidak?"
"Suheng dan Suso tinggal di mana?" tanya Sin Cie tanpa perdulikan tantangan orang. "Besok pagi aku nanti datang kepada Suheng dan Suso untuk menerima nasihat, bagaimana juga Suheng dan Suso menegur aku, tidak nanti aku berani untuk egoskan diri......"
"Hm!" terdengar pula sang enso kedua. "Siapa ketahui kau tulen atau palsu? Jangan kau panggil suheng atau suso dulu kepada kami! Tunggu sampai besok, setelah kita mencoba-coba, baru kita bicara pula! Tiong Kun, mari kita pergi!"
Guru perempuan ini tarik tangan muridnya, untuk diajak berlalu.
Selama itu Tiang-pek-Sam-Eng, yaitu Tiga Jago Dari Tiang Pek San - Su Peng Kong, Su Peng Bun dan Lie Kong - goncang hatinya. Di luar dugaan mereka, Sin Cie muncul untuk menyulitkan mereka. Mereka insyaf bahwa rahasia mereka sudah bocor, sehingga mereka jadi berkuatir sekali. Sekarang mereka bisa duga pasti, Sin Cie adalah orang yang tadi malam satroni mereka dan rampas surat-surat mereka, hingga mereka kuatir Sin Cie nanti buka rahasia mereka di muka umum itu. Maka itu mereka girang dengan munculnya Kwie Sin Sie suami-isteri, karena rewelnya nyonya yang aseran ini membuat Sin Cie jadi "jinak". Mereka harap-harap nyonya itu membuat onar, supaya bisa datang ketikanya yang baik untuk mereka mencari keuntungan karenanya. Tapi mereka kecele apabila mereka dengar, nyonya Kwie cuma tantang Sin Cie akan bertanding di Cie Kim San besok malam. Itulah berarti, mereka terancam bahaya pula, dari itu, setelah satu sama lain kedipi mata, ketiganya bertindak, untuk ngeloyor pergi dengan diam-diam dengan dului nyonya Kwie, selagi dia ini baru memutar tubuh.
"Hei, tunggu dulu!" berseru Sin Cie, yang lihat gerakan orang itu. Sebab walaupun ia sibuk menghadapi si enso kedua, ia tidak pernah alpa memasang mata kepada tiga jago Tiang Pek San itu. Pun, sambil berseru, dia berlompat maju, akan halangi mereka bertiga.
Kwie Jie-nio menjadi gusar, ia menyangka sutee ini hendak rintangi dia.
"Anak kurang ajar! Kau berani pegat aku?" Dia membentak seraya sebelah tangannya dikasih melayang, untuk hajar kepala pemuda kita.
Sin Cie berkelit, hingga tangannya enso itu lewat di atasan pundaknya, hingga ia kena keserempet sedikit, hingga ia merasakan pedas sekali. Karena ini, ia jadi insyaf liehaynya enso ini.
Memang Kwie Jie-nio belum pernah kasih lewat ketika yang senggang untuk tidak berlatih, untuk itu, ia bisa senantiasa berlatih dengan suaminya, hingga kepandaian mereka berdua tidak pernah mundur hanya malah maju terus. Akan tetapi sekarang, melihat si anak muda luput dari serangan, enso yang kedua ini jadi naik darah. Sudah belasan tahun, belum pernah ia menemui orang yang bisa lolos dari serangannya ini. Maka tidak tempo lagi, ia ulangi serangannya dengan babat pinggang si anak muda dengan telapakan tangannya yang dikasih miring.
Sin Cie mengerti selatan, ia mendahului lompat, melewati meja, dengan begitu, tak bisa si enso itu susul ia. Sedang si enso sendiri, entah bagaimana, kembali tarik tangannya Sun Tiong Kun, untuk diajak pergi, dengan begitu suaminya, berikut Bwee Kiam Hoo dan Lauw Pwee Seng, lantas ikut mereka berlalu dari rumah Ciauw Kong Lee.
Tiang Pek Sam Eng lihat ketikanya, kembali mereka pergi keluar, sekali ini bukan dengan bertindak saja hanya sambil berlari.
"Hei, tahan!" Sin Cie berteriak pula dengan cegahannya, terus ia berlompat, mencelat bagaikan burung terbang, hingga ia dapat jambak Lie Kong, yang kabur paling belakang. Tidak ampun lagi, ia totok jago Tiang Pek San ini, tubuh siapa terus ia lemparkan ke lantai.
Dua saudara Su berlaku licik, mereka kabur terus, hingga mereka lenyap di tempat gelap. Karena itu malam, cuaca gelap sekali. Sin Cie juga tidak mengubar terus. Ia pikir, ia sudah bekuk satu orang, orang ini pun bisa diminta keterangannya. Selagi ia memutar tubuh, untuk kembali ke dalam, tiba-tiba ia dengar suara nyaring di belakangnya, suaranya orang tua: "Hai Sahabat kecil, baru sepuluh tahun lebih kita tidak bertemu, kepandaianmu telah maju begini bagus!"
Sin Cie goncang hatinya apabila ia dengar suara itu, yang ia kenali, sehingga dengan cepat sekali, ia berpaling, untuk melihat. Itu waktu, ia sudah berjalan melewati pintu.
Bertindak di pintu ada dua orang, sebelah tangannya masing-masing mengempit Su Peng Kong dan Su Peng Bun, kedua jago Tiang Pek San yang baru saja lolos. Melihat tegas romannya orang yang jalan di muka, bukan buatan girangnya anak muda ini. Sebab orang itu adalah seorang tua dengan alis dan kumis-jenggot sudah ubanan dan di belakangnya menggemblok selembar papan pesegi warna hitam! Sebab orang itu adalah yang pernah berikan ia pelajaran entengkan tubuh dan senjata rahasia, ialah Bhok Siang Toojin. Benar dia bukannya gurunya yang resmi, toh Sin Cie ingat budinya yang besar, hingga ia pandang orang tua ini bagaikan guru sejati. Dengan kegirangan ia lompat menghampirkan orang tua itu di depan siapa segera ia jatuhkan diri untuk berlutut, untuk manggut-manggut.
Bhok Siang Toojin tertawa bergelak-gelak.
"Bangun, bangun!" katanya dengan ramah-tamah. "Kau lihat, siapa dia ini!"
Dan ia berpaling, akan tunjuk orang yang kedua, yang datang bersama ia, siapa sekarang sudah berada di sampingnya.
Sin Cie awasi seorang usia pertengahan, yang rambutnya sudah mulai bersemu, yang wajahnya menyatakan dia kenyang berkelana. Kembali ia jadi sangat girang, karena ia kenali gurunya di masa ia masih kecil sekali, orang yang pernah secara mati-matian tolong jiwanya, ialah Cui Ciu San.
Bhok Siang Toojin sudah lanjut usianya, selama belasan tahun tampangnya tidak berubah, tidak demikian dengan Cui Ciu San, yang di dalam tangsi tentera Giam Ong sudah keluarkan banyak tenaga.
Dalam girangnya, Sin Cie tubruk guru ini, yang ia rangkul lehernya.
"Cui Siokhu, kiranya kau!" ia berseru berulang-ulang. Kemudian tanpa merasa, air matanya mengalir turun.
Dengan mata berlinangan, Ciu San pun sangat terharu dengan pertemuannya dengan bocah itu.
Mungkin guru dan murid masih sibuk sendirinya kalau tidak mendadak terdengar suara Bin Cu Hoa, siapa sejak tadi tercengang karena sepak-terjangnya Sin Cie.
"Hai!" serunya. "Kedua Su Toako dan Lie Toako ini ada orang-orang undanganku, kenapa kamu tawan mereka? Kenapa?"
Sin Cie tidak lantas jawab teguran itu, dia hanya menunjuk pada gurunya tak resmi, 'sahabatnya' main catur, dia kata: "Inilah Bhok Siang Toojin, salah satu guruku!" Kemudian ia menoleh, akan tunjuk Ciu San, akan perkenalkan pula: "Dan ini aku punya Cui Siokhu yang kesohor untuk ilmu silat Hok-houw-ciangnya! Ini ada guruku ketika untuk pertama kali aku belajar silat!"
Tidak tanggung-tanggung pemuda ini perkenalkan gurunya itu.
Di antara para hadirin yang tertua tidak ada yang tidak pernah dengar nama Bhok Siang Toojin, cuma imam ini tak ketentuan tempat berkelananya, gerak-geriknya bagaikan iblis saja, karena mana, orang juluki dia "Kwie Eng Cu", si Bayangan Iblis. Kira-kira delapan bagian dari hadirin yang tertua itu pernah lihat atau bertemu sama imam itu. Begitulah Sip Lek Taysu serta Thio Sim It dari Kun Lun Pay kenal ini imam, malah mereka masih terhitung pihak angkatan muda, maka keduanya lantas saja menghampirkan untuk memberi hormat.
Semua hadirin lainnya tercengang melihat pendeta dari Siauw Lim Sie itu dan jago dari Kun Lun Pay menghormati itu imam, maka dengan sendirinya, mereka juga tidak berani memandang enteng, semua turut memberi hormat.
Bhok Siang Toojin angkat tangan kepada semua orang.
"Gawenya pinto ini," katanya, "kecuali gegares nasi adalah main tio-kie melulu, lainnya urusan, apapula yang menyulitkan, tak pernah pinto pusingi. Tapi sekali ini, hal adalah lain. Baru pada bulan yang lalu, pinto dengar selentingan halnya orang bangsa kita, yang sudah bersekongkol sama bangsa asing, dan orang itu katanya sudah datang ke kota Lamkhia ini untuk beraksi, melakukan usaha besar untuk menjual negara! Pasti sekali, mengenai urusan ini, pinto tak dapat menonton saja dari samping. Maka itu, lantas pinto menyusul kemari....."
"Siapakah pengkhianat itu?" tanya Bin Cu Hoa. "Mustahil mereka ada Tiang Pek Sam Eng?"
"Tidak salah!" jawab Bhok Siang Toojin. "Benar ini tiga enghiong dan hookiat yang namanya sangat kenamaan!"
"Ketiga tuan ini ada sahabat kekalku, kenapa mereka bisa lakukan perbuatan tidak tahu malu itu?" tanya pula Bin Cu Hoa. "Janganlah kau semprot orang dengan darah!"
Bhok Siang bersikap tenang ketika ia menjawab pula:
"Pinto adalah orang yang biasa berbuat murah hati, karena dengan mereka ini belum pernah pinto bertemu, di antara kita tidak ada dendaman atau permusuhan maka kenapa pinto mesti fitnah mereka? Tapi selagi pinto berada di Kwan Gwa, dengan mataku sendiri pinto lihat mereka kasak-kusuk dengan orang Boan-Ciu, dari itu, di sepanjang jalan terus pinto ikuti mereka."
"Bukti apakah kau ada punya?" tanya pula Bin Cu Hoa. Ia malu apabila sampai orang fitnah tiga sahabatnya itu.
Bhok Siang Toojin tertawa berkakakan.
"Bukti?" tanyanya. "Buat apakah masih belum cukup?"
"Siapa yang dapat percaya itu?" baliki Bin Cu Hoa. Dia tetap masih penasaran.
Tidak senang Bhok Siang Toojin terhadap sikap kasar itu, ia gusar.
"Walaupun Oey Bok Toojin, gurumu, dia tidak berani mengucap sepatah kata di depanku!" dia menegur. "Kau bocah, kau punya nyali besar berani tidak mempercayai pinto?"
"Mendengar ini, sebagian orang kurang puas, karena mereka anggap, mentang-mentang orang tua dan kesohor, imam ini hendak berlaku demikian getas. Itulah, mereka pikir, ada sikap sewenang-wenang.
Bhok Siang mendongkol, hingga ia urut-urut kumisnya.
Sin Cie tidak mau lihat gurunya itu menjadi kalap, lekas-lekas ia keluarkan dua lembar surat dari sakunya, ia lantas tunjuki itu pada Bin Cu Hoa.
"Bin Jie-ya, tolong kau bacakan ini untuk semua hadirin mendengarnya!" kata dia.
Bin Cu Hoa sambuti dua lembar surat itu, baru ia baca beberapa baris, sudah ia lompat berjingkrak bahna kaget, tapi ia teruskan membaca dengan suara nyaring.
Itulah suratnya Kiu-ong-ya To Jie Kun dari Manchuria yang ditulis untuk Tiang Pek Sam Eng, buat suruh dan anjurkan tiga jago dari Tiang Pek Sam Eng itu rampas dan kangkangi partai-partai di Kanglam, buat mengadu-dombakan pelbagai jago Rimba Persilatan, supaya dia orang ini saling bunuh, supaya berbareng mereka memelihara tenaga, guna nanti menyambut penyerbuannya tentara Boan terhadap Tionggoan. Surat itu dibubuhi capnya pangeran Boan itu serta tanda tangan huruf Boan juga.
Bin Cu Hoa belum habis membaca, para hadirin sudah gempar saking murkanya mereka.
Cit-cap-jie-to Toocu The Kie In lompat kepada Lie Kong, untuk totok sadar orang tawanannya Sin Cie.
"Kau mempunyai kejahatan apa lagi? Lekas aku!" ia bentak.
Lie Kong melongo, tak dapat ia buka mulutnya.


0 komentar:
Posting Komentar