Home » » PEDANG ULAR MAS 20

PEDANG ULAR MAS 20

Jilid 20

Dalam sengitnya, The Kie In hajar pulang pergi kedua kuping orang, hingga jago Tiang Pek San ini merah dan bengap juga kedua belah pipinya.

Sin Cie gunai ketikanya itu akan tuturkan bagaimana ia dapatkan surat rahasia itu.

Lie Kong tahu dia tidak bisa diam lebih lama, tapi dia berkukuh kepada cita-citanya, maka juga dengan berani, dengan nyaring, ia kata: "Tidak lama lagi angkatan perang Boan-Ciu bakal datang menyerbu, maka juga wilayah Tionggoan ini bakal segera menjadi negaranya bangsa Boan! Jikalau kamu semua menakluk dari sekarang, kamu bakal menjadi menteri-menteri berjasa yang membangunkan negara! Jikalau......"

Kata-kata ini tidak habis diucapkan, karena kepalannya The Kie In sudah mampir di dadanya Lie Kong, hingga dia rubuh dengan tak sadar akan dirinya.

Dua saudara Su dengar perkataan Lie Kong, mereka saksikan kejadian itu, akan tetapi mereka sedang dalam totokan, tak dapat mereka membuka mulut atau bergerak. Mereka insyaf bahaya yang mengancam diri mereka, hingga mereka jadi putus asa.

"Tootiang," berkata The Kie In, "Kejahatan pengkhianat-pengkhianat ini sudah terang, buat apa kasih mereka hidup lebih lama pula? Baik bikin habis saja pada mereka!"

"Biar mereka tinggal hidup, pinto masih membutuhkannya," sahut Bhok Siang sambil tertawa. "Sekarang sudah tidak siang lagi, lain hari saja pinto nanti undang Tuan-Tuan untuk kita berunding. Haruslah diketahui, pengkhianat ini mestinya mempunyai konco!"

Perkataan imam ini dianggap benar, maka orang suka mendengarnya.

Sampai di situ, orang lantas bubaran.

Bin Cu Hoa menyesal bukan main, karena sekarang mengertilah ia duduknya perkara semua. Ia menghaturkan maaf dengan sungguh-sungguh kepada Ciauw Kong Lee, ia juga menghaturkan terima kasih kepada Sin Cie. Ia insyaf bencananya apabila ia kerembet­rembet Tiang Pek Sam Eng itu.

"Coba tidak Wan Siangkong yang datang mendamaikan, pastilah dosaku ada dosa tak berampun," ia mengaku.

Sin Cie hiburkan orang she Bin ini.

Begitu lekas orang sudah bubaran, Bhok Siang Toojin kasih turun papan hitam di belakangnya, ia juga keluarkan biji-biji caturnya.

"Selama beberapa tahun ini senantiasa aku ingat kau," katanya pada Sin Cie, "tidak lain kehendakku adalah supaya kau bisa temani aku main catur!"

Sin Cie bersenyum. Ia lihat gurunya itu demikian gembira, tidak mau ia menampik, maka begitu lekas guru itu telah ambil tempat duduk, ia duduk di depannya.

Bhok Siang Toojin kata pada semua orang lainnya: "Silahkan kamu semua beristirahat!"

Ciauw Kong Lee lantas ajak Cui Ciu San masuk ke dalam, untuk diantar ke kamar yang disiapkan. Ceng Ceng tidak mau undurkan diri, ia mau nonton orang main catur, maka ia tempatkan diri di damping guru dan murid itu. Wan Jie sendiri lantas repot menyuguhkan arak dan sayurannya serta bebuahan juga. Kong Lee pun pergi tidur.

(Bersambung bab ke 13)


Bab 13

Ceng Ceng tidak bisa main tio-kie, setelah menonton sekian lama, ia jadi kehilangan kegembiraannya, sedang waktu itu, ia masih menderita dari lukanya, dari lesu, ia jadi ngantuk, akhirnya ia taruh kepalanya di atas meja dan pulas sendirinya.

"Nona Ciauw, pergi kau pepayang ia untuk ia tidur di kamarmu," kata Bhok Siang Toojin pada Ciauw Wan Jie. Mukanya Nona Ciauw menjadi merah dengan tiba-tiba, ia berpura-pura tak dengar imam itu. Di dalam hatinya, dia kata: "Kenapa tootiang ini jadi seperti orang tidak keruan omongannya?"

Bhok Siang lihat sikap orang, ia tertawa berkakakan. "Dia pun satu nona, kau malu apa?" kata dia pula.

"Bagaimana, Wan Siangkong?" akhirnya Wan Jie tanya si anak muda.

Sin Cie pun tertawa, tapi ia lekas menyahuti: "Benar, dia pun satu nona. Tidak leluasa untuk ia berkelana, dari itu ia menyamar."

Wan Jie percaya anak muda itu, ia tertawa, lantas ia pegangi Ceng Ceng, untuk diangkat bangun, buat dipepayang ke dalam kamarnya. Nona Hee mendusin. "Aku tidak ngantuk, aku masih hendak menonton," katanya. Tapi ia tidak buka matanya, ia meram terus, tandanya ia masih ngantuk. Wan Jie terlebih muda, akan tetapi ia biasa ikuti ayahnya, ia sudah berpengalaman. "Baik Encie beristirahat dulu, sebentar nonton lagi," ia membujuk. Ia pepayang terus tetamu itu, sampai di dalam kamarnya, ia buka kopiahnya Ceng Ceng, maka ia lihat rambut yang panjang dan hitam mengkilap, di tengahnya ditancapi dua potong tusuk konde. Sin Cie layani gurunya dengan sungguh-sungguh, akan tetapi dua kali dia jalan keliru. Ia ingat tantangannya Kwie Jie-so untuk besok malam, pikirannya jadi tidak tenteram. Bagaimana ia harus layani enso yang aseran itu? Ia mencoba akan tenangkan diri. Tiba-tiba ia ingat suatu apa.

"Tootiang, cara bagaimana kau ketahui dia seorang wanita?" tanya dia akhirnya. Bhok Siang Toojin tertawa.

"Bersama-sama dengan Siokhumu itu, pada lima hari yang sudah telah aku bertemu denganmu," menyahut guru ini. "Aku ingin ketahui kemajuan bugeemu dan tingkah­lakumu juga, dari itu sengaja aku tidak mau lantas perlihatkan diri. - Kau hati-hati, aku hendak makan bijimu ini....." Ia lantas jalankan sebuah bijinya. Lalu ia menambahkan: "Kepandaianmu telah jadi apa yang dibilang, hijau itu asalnya dari biru, akan tetapi mungkin kau belum bisa lombai gurumu, hanya aku si imam tua, aku bukanlah tandinganmu."

Sin Cie lekas berbangkit dengan sikapnya yang sangat menghormat.

"Tapi semua itu berkat pengajaran suhu dan Tootiang," kata ia. "Selama beberapa hari ini, umpama Tootiang mempunyai waktu yang luang, teecu harap Tootiang sudi ajari pula aku beberapa rupa ilmu pukulan lainnya."

Imam itu tertawa.

"Sampai sebegitu jauh, selama kau temani aku main tio-kie, belum pernah tempo itu dilewatkan dengan cuma-cuma," kata dia. "Habis apa lagi aku mesti ajari kau? Kepandaianmu sudah menyusuli kebisaanku. Justeru kaulah yang mesti ajarkan beberapa jurus kepadaku! - Ha-ha bentengmu kena aku serbu!"

Imam ini girang sekali.

"Kepandaian yang tinggi memang sukar didapatkannya," berkata ia pula. "Akan tetapi dalam halnya kau, sifatmu baik sekali, itulah terlebih sukar untuk didapatinya. Kau masih muda sekali akan tetapi hatimu lurus, terhadap kawan wanita, kau berlaku tepat dan hormat, atas itu aku dan Cu Siokhumu sangat kagumi kepadamu!"

Sin Cie jengah sendirinya, mukanya menjadi bersemu merah, ia rasakan panas. Apakah tak mungkin, imam ini telah lihat bagaimana ia bergaul rapat sekali dengan Ceng Ceng? Ia malu sendirinya, kenapa imam itu bisa intip ia tanpa ia dapat ketahui. Itu menyatakan ilmu entengkan tubuh dari ini guru tak resmi sangat tinggi.

Ketika itu keduanya berhenti bicara, ruangan jadi sangat sunyi. Tiba-tiba terdengar suara perlahan di luar ruangan. Sin Cie tahu sedikitnya datang tiga orang entah siapa, akan tetapi karena Bhok Siang Toojin diam saja, ia pun tidak ambil sesuatu tindakan, ia melanjuti jalankan biji-biji caturnya seperti si imam sendiri.

"Sepak-terjangnya Jie-susomu barusan aku telah dapat lihat," berkata Bhok Siang kemudian. "Kau jangan kuatir, besok aku nanti bantu kau untuk menghadapi dia."

"Justeru tak ingin teecu turun tangan terhadapnya," Sin Cie kata. "Paling baik apabila Tootiang bisa damaikan kita."

"Kau takut apa?" Bhok Siang bilang. "Kau lawan, kau hajar padanya! Umpama gurumu tegur padamu, katakan saja, aku yang anjurkan kau hajar padanya!"

Menyusul kata-katanya si imam, dari atas genteng loncat turun empat orang pula yang dibarengi dengan empat buah piauw menyambar ke arah Bhok Siang Toojin dan Sin Cie berdua.

Imam itu geraki kedua tangannya ke belakang, dengan gapah ia tanggapi empat batang senjata rahasia itu, lalu dengan tidak dilihat lagi, ia letaki itu di atas meja.

Tujuh orang di luar itu menjadi gusar, dengan berbareng mereka singkap sero untuk lompat masuk ke dalam ruangan. Mereka semua menyekal senjata, agaknya mereka berniat menyerang.

"Bisa apa tidak kau makan ini tujuh biji semuanya?" si imam tanya kawan main catur itu.

"Teecu akan coba-coba," sahut Sin Cie yang mengerti masuk perkataan itu.

Sementara itu, dua dari tujuh orang tidak dikenal itu hampirkan Tiang Pek Sam Eng, untuk kasi bangun pada mereka itu, dan lima yang lain maju terus kepada dua orang yang asik main catur itu, untuk serang mereka ini dengan golok dan pedang.

Sebat luar biasa, Sin Cie raup biji catur, terus ia menyambit ke belakang, hingga sambaran anginnya terdengar nyata, menyusul mana tujuh orang itu mendadakan rubuh terjungkal, senjata mereka terlepas dan jatuh ke lantai dengan terbitkan suara nyaring dan berisik.

Wan Jie baru selesai urus Ceng Ceng, ia dengar suara berisik itu, ia kaget, ia lari keluar, maka ia saksikan Bhok Siang Toojin dan Sin Cie sedang asik lanjutkan permainannya, akan tetapi di dalam thia itu, tujuh orang lain lagi meringkuk. Ia segera mengerti duduknya hal, tapi ia tidak mau ganggu dua orang itu, maka ia tepuk kedua tangannya tiga kali, atas mana muncullah enam orangnya. Dengan suara perlahan, ia suruh mereka ambil tambang, akan ringkus tujuh orang itu berikut Tiang Pek Sam Eng juga.

Selang setengah jam kemudian, barulah dua orang itu akhirkan pertempuran mereka di atas papan catur, kesudahannya Sin Cie kalah tiga kali.

Bukan main girangnya si imam. "Dalam beberapa tahun ini, ilmu silat caturmu mundur, tak ada kemajuannya!" katanya.

"Dasar tipu-tipu Tootiang yang liehay dan teecu tidak sanggup melawannya," Sin Cie aku.

Bhok Siang lantas menoleh kepada Wan Jie.

"Nona, coba tolong geledah mereka!" ia minta.

Wan Jie menurut, akan tetapi ia tidak turun tangan sendiri, ia suruh orang-orangnya yang bekerja.

Sebagai kesudahan dari penggeledahan itu, kecuali senjata-senjata rahasia, diketemukan beberapa lembar surat serta beberapa buku kecil yang memuat pelbagai tanda rahasia. Salah satu surat itu adalah suratnya si pangeran Boan, Kiu-ong-ya To Jie Kun, untuk Sulee Thaykam Co Hoa Sun di kota raja. Kepada thaykam ini, thaykam, telah diberitahukan, oleh karena penjagaan di Sanhaykwan keras sekali, utusannya ini sampai mesti jalan mutar, dengan jalan laut. Kiu-ong-ya pesan, segala urusan besar, boleh didamaikan dengan pembawa suratnya itu, bernama Ang Seng Hay.

Bhok Siang gusar apabila ia ketahui siapa mereka itu.

"Semakin lama kawanan dorna ini jadi makin bernyali besar!" katanya dengan sengit. "Hm! Di hadapanku mereka berani mencoba merampas orang!"

Masih imam ini sengit, hingga ia dupak kepalanya satu orang tangkapan, hingga tidak ampun lagi, kepala itu pecah, polonya berantakan.

Masih Bhok Siang hendak menendang pula tapi Sin Cie mencegah.

"Sabar, Tootiang. Mungkin mereka itu ada faedahnya untuk kita. Nanti teecu periksa mereka."

Bhok Siang demikian mendongkol, hingga ia hendak robek-robek surat itu.

"Jangan, tootiang," Sin Cie mencegah pula.

"Baik aku suka dengar kau," kata si imam kemudian. "Tapi ingat, besok kau mesti layani aku main lagi sampai tiga babakan!"

"Asal Tootiang mempunyai kegembiraan, sampai sepuluh babak pun boleh," jawab Sin Cie. Ia sukai imam ini tak perduli tabeatnya aneh. Sampai di situ, Wan Jie undang imam itu pergi beristirahat, untuk mana, satu bujang layani dia. Sin Cie perhatikan surat-surat dan buku itu, mendadakan ia dapat pikiran. "Sakit hatinya ayahku belum terbalas, surat-surat ini seumpama hadiah Thian kepadaku," demikian ia pikir. "Baik aku nelusup masuk ke dalam istana raja, untuk wujudkan pembalasanku." Tidak ayal lagi, ia totok sadar satu orang.

"Katakan padaku, yang mana di antara kamu yang bernama Ang Seng Hay?" tanya dia. Orang itu menunjuk salah satu kawannya, yang berumur tiga-puluh lebih, yang romannya cakap.

Sin Cie lantas totok sadar orang she Ang itu. "Kau beri keterangan padaku," ia kata. Ang Seng Hay berkepala batu, ia tidak suka bicara. Anggap orang tak suka bicara karena mereka bicara di depan satu kawannya, Sin Cie perintah orang angkat Seng Hay untuk dibawa ke kamar tulis. "Kau adalah utusan Kiu-ong-ya, kau mestinya satu laki-laki sejati," kata dia. "Aku hendak minta keterangan dari kau, maka aku tanya satu, kau mesti jawab satu. Jikalau kau tetap tidak hendak bicara, aku nanti tahan terus padamu sampai beberapa hari, supaya kau nanti mati secara perlahan-lahan!"

Ang Seng Hay murka. "Imammu itu gunai ilmu siluman, walaupun binasa, aku tidak puas!" kata dia.

"Rupanya kau anggap bugeemu liehay," Sin Cie bilang. "Kau dengar aku! Kau orang Han, kau kesudian menjadi kacung Boan, itu artinya dosa untuk mana pantas kau mendapat hukuman, bagianmu adalah kematian. Kau tidak puas, baik, mari, aku nanti layani kau piebu! Tapi ingat, satu kali kau kalah, kau mesti jawab aku dengan sebenar-benarnya, jangan ada yang kau sembunyikan! Akur?"

Sin Cie hendak uji kepandaiannya, ia harap nanti ia bisa pakai tenaganya orang ini.

Ang Seng Hay girang dengan tawaran itu. Di dalam hatinya, ia pun berkata: "Entah kenapa tadi, tahu-tahu aku merasai jalan darahku tertotok, lantas aku rubuh. Mungkin itu karena si imam telah gunai ilmu gaibnya. Sekarang si imam tidak ada, anak muda ini mana dapat menjadi tandinganku? Baik aku terima tantangannya!"

Lantas saja ia menjawab: "Baik! Asal kau sanggup kalahkan aku, apa juga yang kau tanyakan, aku nanti jawab!"

Tanpa sangsi lagi, Sin Cie hampirkan orang tawanannya itu, untuk bukakan tambang belengguannya. Ia membuka dengan jalan putuskan tambang itu, agaknya ia cuma pakai tenaga sedikit sekali.

Seng Hay heran, hingga ia terperanjat. Ketika tadi ia baru diikat, ia telah mencoba kerahkan tenaganya, untuk berontak, buat loloskan diri dari belengguan dengan jalan amuk putus tambang itu, tetapi ia tidak berhasil, bukan saja tambang tidak putus malah ia merasa, ikatannya jadi semakin keras, siapa tahu sekarang, secara sembarangan saja, anak muda ini dapat bikin putus tambang itu. Tanpa merasa, ia jadi jeri sendirinya.

"Kau hendak piebu cara apa?" bertanya dia. "Mari kita pergi keluar. Kau hendak gunai senjata tajam atau kepalan saja?"

Sin Cie tertawa.

"Aku timpuk kau dengan biji catur, kau sangka si imam gunai ilmu gaib!" katanya. "Melihat caranya kau lompat masuk ke dalam thia tadi, kau mungkin satu ahli lweekee."

Kembali Seng Hay heran. Ia ingat, ketika tadi ia menerjang masuk ke thia, dua-dua pemuda ini dan imam tidak menoleh untuk awasi dia, maka kenapa orang justeru bisa lihat dia dan segera kenali cara bergeraknya itu. Tapi ia manggut, untuk benarkan pernyataan itu.

"Karena itu," berkata Sin Cie, "mari di sini saja kita main saling tolak."

"Baik," sahut Seng Hay tanpa ragu-ragu. "Apakah aku boleh dapat ketahui she dan nama besar tuan?"

Sin Cie tertawa.

"Kau tunggu saja sampai kau nanti sudah dapat menangkan aku, nanti aku sendiri yang memberitahukan," jawabnya.

Seng Hay manggut.

"Silakan!" kata dia, yang terus pasang kuda-kudanya dengan kedua tangan dibawa ke depan dada. Tubuhnya sedikit doyong ke depan.

Sin Cie tidak lantas terima tantangan itu. Ia hanya gosok bak, ia siapkan selembar kertas.

"Aku nanti menulis di sini," katanya. "Kau tahu, apa yang aku akan tulis? Itulah syairnya Touw Kong-pou, syair "Peng Kie Hang"."

Seng Hay heran. Orang ajak dia piebu, habis orang hendak tulis surat dulu. Maka ia lantas saja ambil tempat duduk, niatnya untuk menantikan.

"Eh, kau jangan duduk!" Sin Cie mencegah. Ia ulur tangan kirinya. "Sekarang aku hendak menulis, selagi aku menulis, kau dorong tanganku ini. Umpama kata tangan kananku tergerak dan tulisannya jadi mengok atau tak keruan macam, aku anggap kau yang menang, segera kau boleh angkat kaki dari sini. Tapi umpama kata aku berhasil menulis selesai syair yang panjang itu tetapi kau tetap tidak mampu tolak aku, kaulah yang kalah, maka itu, apa juga yang aku tanyakan, aku larang kau umpetkan walau sepatah kata juga!"

Ang Seng Hay tertawa berkakakan.

"Bocah ini masih hijau, dia baru pernah muncul dia tak tahu langit itu tinggi dan bumi tebal, hingga dia terlalu sombongkan bugee sendiri, lalu dia pandang sebelah mata kepadaku! Oh, mungkin ini disebabkan karena ia lihat aku beroman cakap dan bertubuh tidak kekar, hingga dia anggap aku tidak punya guna. Baik, aku nanti coba padanya." Maka ia terus jawab: "Aku lihat piebu seperti ini sangat tidak adil...."

Sin Cie tertawa.

"Tapi inilah buah-hasilnya usulku sendiri!" ia bilang. "Sekarang aku hendak mulai menulis, kau boleh maju!"

Lantas saja ia duduk menulis, mulanya tiga huruf "Kie-lin-lin".

Ang Seng Hay tidak bilang apa-apa lagi, ia terima baik piebu semacam itu. Ia pasang kuda-kudanya dengan tegak, lalu ia kumpulkan tenaganya pada kedua bahu tangannya. Habis itu, dengan gerakan "Pay-san-to-hay" atau "Menolak Gunung Untuk Menguruk Lautan", ia menolak dengan keras dengan dua tangannya kepada tangan kirinya si anak muda yang diulur ke belakang, ke arahnya. Sebab untuk menulis di meja, pemuda ini berdiri menghadapi meja, karena ia menulis dengan tangan kanan, tangan kirinya jadi dikeluarkan ke sebelah belakang. Hingga sama sekali ia membelakangi lawannya itu.

Begitu lekas Seng Hay menolak dengan sekuat tenaga, Sin Cie egoskan tangan kirinya, maka lenyaplah tenaga mendorong orang she Ang ini. Ia jadi penasaran, untuk mendorong satu kali lagi, kedua tangannya dipasang di atas dan bawah, sebagai menjepit. Dengan gerakan ini, mungkin juga tangan kiri si anak muda kena tertekuk hingga patah.

Tangan kanannya Sin Cie menulis pula, dari mulutnya keluar kata-kata: "Seranganmu ini adalah 'Seng-thian-jip-tee' -'Naik Ke Langit, Masuk Ke Bumi'. Itulah, turut pendengaranku, adalah tipu silat Put Hay Pay dari Shoatang. Maka, Tuan Ang, kau mestinya dari partai Put Hay Pay itu."

Ia menulis terus, tangan kirinya digeraki bagaikan bergeraknya ekor ikan, maka kedua tangannya Seng Hay bentrok sendirinya satu pada lain sambil menerbitkan tepokan tangan yang nyaring.

Mengalami ini, Seng Hay jadi panas. Maka ia menyerang pula dengan sengit, dengan keluarkan kepandaiannya.

Sin Cie tetap menulis terus, disebelah itu, tangan kirinya digerak-geraki terus juga, untuk membebaskan diri dari sesuatu serangan, hingga ia tak dapat ditolak atau didorong. Sebaliknya tangan kiri itu seperti mempunyai tenaga menolak, membal balik.

Dengan sengitnya Seng Hay menyerang dengan tipu silatnya "Can-kauw-kun" atau "Pukulan Menyembelih Naga". Baru saja ia habis menyerang, dengan kegagalan, Sin Cie telah berkata padanya: "Can-kauw-kunmu ini masih mempunyai sembilan jurus lainnya, sedang tulisan syairku 'Peng Kie Hang' bakal lekas sampai di akhirnya. Maka sekarang aku atur begini: Aku tunggui kau, setiap kali kau menyerang, setiap kali juga aku menulis satu huruf saja."

Kembali Seng Hay menjadi heran. Kenapa orang kenali ilmu silatnya itu? Apa mungkin pemuda ini adalah orang satu kaum dengannya? Toh ia tidak kenal pemuda ini dan gerak­gerik tangan dan tubuhnya beda dengan Put Hay Pay. Dengan penasaran berbareng ragu-ragu itu, ia lanjuti penyerangannya, dengan terlebih hebat dan liehay. Ia tidak harap lagi bisa berkisar saja, pasti tulisannya akan kacau.

Sin Cie menulis terus, ia membacakan: "Thian im ie sip seng Ciu Ciu". Huruf Ciu yang terakhir masih belum tertulis habis, serangannya Seng Hay masih ada dua jurus lagi, ialah dua jurus terakhir dari Can Kauw Kun. Karena berulang-ulang dia gagal. Seng Hay ubah pula cara menyerangnya, ialah ia mendak dan kedua tangannya dikasi melengkung, ia menubruk dengan pakai tubuh juga, agaknya ia hendak peluk tubuh anak muda itu.

Ang Seng Hay sangat bernapsu, sampai ia lupai pantangan ahli silat untuk bisa kendalikan diri. Ia telah bergerak dengan ceroboh sekali. Dengan bersikap merangkul secara demikian, ia seperti lupai tangan Sin Cie. Maka baru ia maju atau si anak muda sudah mengenai dadanya, sehingga bukannya Sin Cie atau kursinya yang berkisar, adalah ia sendiri yang kena tertolak mundur, demikian keras, sehingga ia jumpalitan tiga kali, percuma ia pertahankan diri, ia rubuh juga, jatuh duduk di lantai bagaikan patung. Sehingga ia membutuhkan sekian saat untuk bisa lompat bangun. Ia pun berlompat bangun selagi ia baru sadar bahwa ia sudah kena dirubuhkan!

Adalah di saat itu, Ciauw Wan Jie bertindak masuk ke dalam kamar tulis dengan membawa tehkoan buatan Gie-hin, yang warnanya merah tua.

"Wan Siangkong, inilah teh Liong-ceng yang kesohor," katanya sambil menawarkan. "Silakan minum!"

Ia pun segera tuang air teh itu ke dalam sebuah cangkir, sehingga Sin Cie lantas mencium bau wangi dari teh itu. Ia tidak sungkan-sungkan lagi, ia sambuti teh itu dan terus diminum.

"Benar-benar teh bagus!" ia memuji. Ia angkat tulisannya, "Peng Kie Hang", akan tunjuki si nona seraya kata: "Nona Ciauw, tolong lihat ini, apakah tulisan ini ada yang kacau dan kotor?"

Wan Jie periksa syair itu, lalu ia tertawa.

"Siangkong benar-benar bun bu coan cay!" memuji dia. "Tulisan ini baik diberikan kepadaku saja!" (Bun bu coan cay berarti mengerti berbareng dua-dua ilmu surat dan ilmu silat).

"Tapi tulisanku jelek," si pemuda bilang. "Barusan aku telah bertaruh sama sahabat baik ini, maka tulisan ini baru saja ditulis rampung. Jikalau Nona inginkan ini, baik, tapi jangan Nona perlihatkan kepada orang lain, agar orang tidak tertawai aku!"

Wan Jie bersenyum, ia gulung tulisan itu, lantas ia ngeloyor pergi.

Setelah si nona keluar, Sin Cie tanya Ang Seng Hay: "Kiu-ong-ya utus kau kepada Co Hoa Sun, untuk urusan apakah itu?"

Seng Hay ragu-ragu, sehingga berulang-ulang ia tidak bisa menyahuti, sehingga ia cuma kemak-kemik saja.

"Bukankah barusan kita telah bertaruh?" Sin Cie tegasi. "Bukankah kau tidak sanggup tolak aku sehingga berkisar?"

Ang Seng Hay jengah, ia tunduk.

"Bugee Wan Siangkong sangat mengagumkan, inilah ilmu kepandaian yang belum pernah aku dengar, yang belum pernah aku saksikan," katanya dengan perlahan.

"Sekarang coba kau raba tubuhmu, di bawah tetek kiri," Sin Cie kata. "Coba periksa tulang rahang yang kedua. Apakah yang kau rasai?......"

Ang Seng Hay menurut, ia raba tempat yang ditunjuki itu. Tiba-tiba ia terkejut. Bagian tubuh itu menjadi baal, ia tak rasakan apa-apa!

"Sekarang kau raba pula, tengah-tengah pinggang bagian kanan," Sin Cie menyuruh pula.

Ang Seng Hay meraba, ia menekan, lantas ia menjerit: "Aduh!" Ia pun kaget sekali, herannya bukan buatan. Tapi segera ia kata: "Jikalau tidak diraba, aku tidak rasakan apa juga, begitu kebentur tangan, sakitnya bukan main...."

Sin Cie bersenyum.

"Itulah dia!" ia bilang. Ia isikan cangkir tehnya, ia hirup air teh itu, kemudian ia membalik­balik lembarannya satu buku di atas meja, tidak lagi ia perhatikan orang di dekatnya itu.

Seng Hay berdiri diam dengan serba salah. Ia berniat angkat kaki akan tetapi tak berani ia pergi. Dengan begitu, ia pun terus berdiam saja.

Tidak lama, anak muda kita berpaling.

"Eh, kau masih belum pergi?" tanyanya.

Seng Hay terperanjat, tetapi ia girang sekali.

"Kau perkenankan aku pergi?" tegasi ia.

"Kau sendiri datang kemari, aku tidak undang kau," berkata si anak muda, "maka jikalau kau hendak pergi, tak dapat aku tahan padamu."

Bukan kepalang girangnya Seng Hay, ia segera berbangkit, untuk memberi hormat sambil menjura.

"Tidak nanti aku berani lupakan budimu, Siangkong," kata ia.

Sin Cie manggut, kembali ia baca bukunya.

Seng Hay bertindak ke pintu, ketika ia merandek di depan itu. Dengan tiba-tiba ia berkuatir orang nanti rintangi ia. Lantas ia hampirkan jendela, ia tolak kedua daunnya, tubuhnya menyusul loncat keluar. Sebelum ia angkat kaki terus, ia menoleh ke belakang, ia dapatkan si anak muda masih saja baca buku, jadi orang tidak susul ia, hatinya menjadi lega. Sekarang barulah ia loncat naik ke atas genteng, untuk angkat kaki.

Sementara itu, walaupun sang malam sudah larut, Ciauw Wan Jie masih belum tidur. Ia tak dapat lupakan Sin Cie, tetamunya, penolongnya itu, budi siapa ia ingat betul. Sampai mendekati fajar, anak muda itu masih berdiam di dalam kamarnya, membaca kitab, beberapa kali ia telah mondar-mandir, akan melihat, tetap anak muda itu bercokol di kursinya. Akhirnya ia panggil bujang perempuannya, akan titahkan membuat beberapa rupa tiamsim, barang makanan, yang ia sendiri lantas bawa ke kamarnya pemuda itu. Mulanya ia mengetok pintu dengan perlahan, sampai beberapa kali, barulah ia tolak daunnya untuk masuk ke dalam.

Sin Cie lagi membaca kita "Han Sie", cerita atau riwayat kerajaan Han, agaknya dia sedang sangat tertarik hatinya, sampai ia diam saja atas datangnya nona rumah.

"Wan Siangkong kau masih belum masuk tidur?" Nona Ciauw tanya. "Baik Siangkong coba dulu tiamsim ini, habis kau masuk untuk beristirahat....."

Baru sekarang anak muda kita berbangkit, untuk haturkan terima kasih.

"Baik Nona tidur, tidak usah kau perhatikan aku," katanya. "Aku masih menantikan satu orang....."

Baru pemuda ini mengucap demikian atau mendadak daun jendela menjeblak sehingga menerbitkan suara, menyusul itu, satu tubuh lompat masuk.

Wan Jie kaget hingga ia lompat berjingkrak, akan tetapi segera ia tampak Ang Seng Hay.

Orang she Ang ini manggut kepada si nona, lantas ia hampirkan Sin Cie di depan siapa ia tekuk lutut.

"Wan Siangkong, siauwjin tahu diriku bersalah," katanya. Ia membahasakan diri "siauw­jin" atau orang rendah. "Tolong Siangkong, jiwaku....."

Sin Cie ulur kedua tangannya, untuk memimpin bangun, akan tetapi Seng Hay tidak mau berbangkit.

"Mulai hari ini dan selanjutnya, siauwjin nanti ubah kelakuanku," berkata ia pula. "Aku minta dengan sangat supaya Siangkong tolongi aku."

Ciauw Wan Jie mengawasi dengan kedua mata dipentang lebar, ia tak mengerti atas apa yang ia pandang itu.

Sin Cie ulur pula kedua tangannya, ketika ia kerahkan tenaganya, tahu-tahu tubuhnya Seng Hay terangkat terus jumpalitan, sehingga di lain saat, pahlawan atau utusannya Kiu­ong-ya itu telah rubuh duduk di jubin, tapi ketika ia raba ketiaknya, wajahnya menjadi terang, satu tanda bahwa hatinya lega, ia girang. Tapi waktu ia usut dadanya, ia kerutkan alis hingga kedua alisnya hampir menyambung satu pada lain.

"Mengertikah kau sekarang?" tanya Sin Cie.

Seng Hay adalah seorang sangat cerdik dan tangkas, kalau tidak, tidak nanti Kiu-Ong-Ya To Jie Kun kirim ia selaku mata-mata, maka atas pertanyaan si anak muda, segera ia insaf.

"Siangkong, apakah kau hendak tanya aku?" katanya. "Silakan, siauwjin nanti menjawab dengan sebenar-benarnya."

Wan Jie duga orang hendak omong rahasia, ia lantas undurkan diri, keluar dari kamar tulis itu.

Ketika tadi ia lari pulang ke hotelnya, Seng Hay telah buka bajunya, untuk periksa tubuhnya. Di dadanya ada sebuah bentol merah sebesar uang tangchie, ketika ia raba itu, ia tidak rasakan apa-apa. Di bawah ketiaknya, ia dapatkan, ada tiga titik hitam seperti kacang, apabila ia kena langgar itu, ia merasakan sangat sakit. Ia mengerti, itulah luka yang ia dapatkan tadi selagi ia bertolak tenaga kekuatan berbalik dari Sin Cie. Maka lekas­lekas ia duduk bersila di atas pembaringannya, untuk menyedot dan mengeluarkan napas dengan peraturan, untuk perbaiki jalan napasnya, ia merasakan sakit. Maka ia lekas rebahkan diri, rasa sakit itu lantas lenyap sendirinya. Tiga kali ia mencoba perbaiki jalan napasnya, selalu ia gagal.

Mata-mata Kiu-ong-ya ini tidak berpikir lama akan ingat ilmu silat yang dinamakan "Kun­thian-kang", ialah tenaga yang memukul berbalik siapa terluka karena serangan itu, apabila tidak dapat obat yang tepat dalam seratus hari dia bakal mati meroyan. Ingat ini, ia jadi takut sendirinya. Di situ tidak ada orang lain yang bisa tolongi ia, kecuali Sin Cie, si anak muda.

"Ah, aku mesti pergi padanya...."

Lantas dia pakai bajunya, ia keluar dari hotel, akan berlari-lari ke rumahnya Ciauw Kong Lee, akan lompat masuk ke dalam kamarnya si anak muda dengan jeblaki jendela.

Sin Cie lantas berkata pada orang she Ang ini: "Kau telah dapat dua luka di tubuhmu, yang satu tadi aku telah sembuhkan, tinggal yang satu lagi. Sekarang ini, luka itu tidak memberi rasa apa-apa, akan tetapi berselang tiga bulan, baal itu bakal bertambah luas, bisa menjalar sampai di dada, di ulu hati, maka itulah artinya sampailah batas umurmu!"

Kembali Seng Hay kaget. Jadi benarlah dugaannya tentang lukanya itu. Maka ia jatuhkan diri, ia berlutut sambil manggut berulang-ulang. Karena ia minta dengan sangat untuk ditolong.

"Kau telah menjadi harimau yang mengganas, kau akui dorna sebagai ayahmu!" Sin Cie bilang, dengan roman yang keren. "Itulah dosamu yang tak berampun! Sekarang aku tanya kau, kau mau atau tidak untuk gunai jasamu menebus dosa?"

Seng Hay takut benar-benar, hingga ia menangis, air matanya meleleh.

"Memang siauwjin tahu, perbuatanku ini sesat," kata ia dengan pengakuannya. "Ada kalanya di waktu malam siauwjin pikirkan itu dan insaf sendiri, hingga siauwjin mengerti, perbuatan itu hina dan sangat memalukan leluhurku. Inilah gara-garanya satu kejadian pada tahun yang lampau, yang membuat siauwjin buntu jalan hingga terpaksa siauwjin berlaku begini hina."

Sin Cie awasi wajah orang, ia mau percaya bahwa orang omong dengan sejujurnya. Ia menduga pada satu kejadian penting. Ia hendak menanya akan tetapi ia tidak lantas lakukan itu. Ia mengerti, orang ini sangat membutuhkan pertolongannya. Orang pun masih tetap paykui.

"Mari bangun dan duduk," ia kata kemudian. "Mari kita bicara dengan perlahan-lahan. Siapa sudah paksa kau berbuat begini macam, sampai kau buntu jalan?"

"Aku telah didesak oleh Hui thian Mo Lie Sun Tiong Kun dan Kwie Jie Nio-cu, keduanya dari Hoa San Pay," sahut Seng Hay.

Inilah jawaban di luar sangkaan Sin Cie, sampai hatinya bercekat.

"Apa? Mereka yang desak kau?" ia tegasi.

Wajahnya Seng Hay pun berubah, nampaknya ia berkuatir.

"Apakah Siangkong kenal mereka?" ia balik tanya.

"Baru tadi aku bertempur dengan mereka," sahut Sin Cie.

Mendengar itu, Seng Hay girang berbareng masgul. Ia masgul karena kekuatirannya, sebab kedua musuhnya itu berada di Lamkhia ini, di satu tempat dengan ia, Seng Hay takut nanti ketemu mereka itu di tengah jalan, itu berarti bencana untuknya. Ia girang sebab nyata anak muda ini telah bertempur dengan mereka itu, ia duga pemuda yang kosen ini adalah musuh mereka.

"Dua orang itu," katanya melanjuti, "walau kepandaian mereka tinggi, mereka bukannya tandingan Siangkong. Cuma mereka berdua telengas sekali, apa juga mereka berani lakukan, dari itu Siangkong harus waspada."

Sin Cie perdengarkan suara yang memandang enteng.

"Kenapa mereka desak kau?" ia tanya.

Seng Hay berdiam sebentar, lalu ia menyahut.

"Tidak berani aku dustakan kau, Siangkong," katanya. "Tadinya siauwjin berdiam di laut di Shoatang melakukan pekerjaan tidak memakai modal. Pada suatu hari, satu saudara angkat lihat Sun Tiong Kun, ia ketarik, ia lantas majukan lamaran kepada nona itu. Sun Tiong Kun tampik lamaran itu. Sebenarnya dengan penampikan saja sudah cukup, akan tetapi ia tidak berhenti sampai di situ, tanpa mengucap sepatah kata, dia hunus pedangnya, dan babat kedua kupingnya saudara angkat itu. Tentu sekali aku tidak puas dengan perbuatan galak itu, yang keterlaluan dan kejam itu, lantas aku ajak belasan kawan, untuk satroni dia. Maksudku adalah untuk culik dia, supaya dia menikah dengan saudara angkat itu. Tegasnya kita hendak paksa padanya.

Celakanya untuk kita, gurunya Sun Tiong Kun, yaitu Kwie Jie Nio, sudah susul kita, dia tolongi muridnya itu. Dengan satu tabasan, dia bunuh saudara angkatku itu dengan pedangnya. Beberapa kawanku telah kena dibikin bubar, antaranya ada yang terluka. Untung bagiku, aku bisa loloskan diri, hingga jiwaku ketolongan...."

"Dalam hal itu, kaulah yang bersalah," Sin Cie bilang.

"Siauwjin pun insyaf yang siauwjin sudah sembrono, hingga satu bahaya besar diciptakan," Seng Hay akui, "karenanya siauwjin tidak berani munculkan diri di muka umum. Benar-benar Sun Tiong Kun tidak mau sudah, entah bagaimana jalannya, dia dapat tahu kampung halamanku, mereka susul aku. Oleh karena tak dapat ketemui aku, mereka binasakan ibuku yang sudah tua, yang telah berumur tujuhpuluh tahun, juga isteriku serta tiga anakku, lelaki dan perempuan, tidak ada satu yang dikasih tinggal hidup...."

Seng Hay mengucurkan air mata, hingga kata-katanya jadi tergetar, karenanya Sin Cie anggap orang bicara dengan sebenarnya. Ia manggut-manggut walaupun hatinya bercekat untuk ketelengasan Sun Tiong Kun dan gurunya itu.

"Tak dapat siauwjin lawan mereka itu," Seng Hay tambahkan kemudian, "akan tetapi tanpa sakit hati terbalas lampias, tak puas hatiku.... Oleh karena putus daya, pikiranku jadi sesat, siauwjin lantas kabur ke Liauwtong di mana siauwjin menghamba kepada Kiu­ong-ya....."

Seng Hay bersedih berbareng gusar.

"Mereka binasakan ibumu dan anak-isterimu juga, perbuatan itu memang keterlaluan," nyatakan si anak muda kemudian. "Semuanya adalah karena salahmu sendiri. Semua itu toh ada urusan pribadi, kenapa kau menghamba kepada bangsa asing? Kenapa kau kesudian menjadi pengkhianat bangsa?"

"Itulah kesalahanku, Siangkong," Seng Hay akui. "Asal Siangkong bisa balaskan sakit hatiku itu, apa juga Siangkong titahkan aku, aku akan lakukan...."

"Mencari balas?" Sin Cie tegaskan. "Itulah kau jangan pikir. Kwie Jie-nio itu sangat liehay, aku bukanlah tandingannya. Yang benar adalah kau ubah kelakuanmu, supaya kau selanjutnya menjadi orang baik-baik. Aku tanya kau, Kiu-ong-ya kirim kau kepada Co Thaykam, untuk apa?"

Seng Hay tidak berani mendusta, ia menjawab dengan membuka rahasia. Ia kata Kiu-ong-ya janjikan Co Hoa Sun untuk menjadi penyambut sebelah dalam kalau nanti bangsa Boan kerahkan angkatan perangnya untuk gempur kota Pakkhia, supaya thaykam itu  pentang pintu kota. Pun telah diatur tanda-tanda rahasia supaya orang-orangnya Kiu-ong-ya nyelundup masuk ke dalam kota, ke dalam istana, untuk bantu turun tangan.

Diam-diam Sin Cie girang sekali, tapi ia tak utarakan itu pada wajahnya.

"Sebenarnya mau atau tidak kau ubah kelakuanmu, untuk selanjutnya kau jadi orang baik-baik?" ia tegaskan. "Atau apakah kau lebih suka menderita siksaan hingga nanti, selang tiga bulan, kau mati tanpa ampun lagi?"

"Siangkong boleh tunjuki aku satu jalan hidup, selanjutnya aku nanti pandang kau sebagai ayah dan ibuku yang telah hidup pula!" sahut Ang Seng Hay.

"Baik!" kata Sin Cie. "Bersediakah kau untuk jadi pengikutku?"

Seng Hay girang bukan kepalang, lantas saja ia berlutut pula, akan paykui tiga kali kepada tuannya yang baru ini. Ia girang karena ia berhati lega, karena selanjutnya tak usah ia berjeri lagi terhadap Kwie Jie Nio dan Sun Tiong Kun. Ia pun percaya, kalau nanti selang tiga bulan lukanya kumat, pasti majikan ini akan tolong obati dia.

Perubahan cara hidup ini membuat Seng Hay tenang melebihkan tenangnya di waktu ia ikuti Kiu-ong-ya pangeran Boan itu.

Habis itu, setelah "repot" satu malaman, barulah Sin Cie beristirahat. Seng Hay tidur dalam satu kamar bersama ia. Pengikut ini tidak pernah pikir untuk menuntut balas, sebaliknya dia berterima kasih karena si anak muda percaya dia. Sin Cie tidak kuatir, sebab ia tahu benar, untuk hidupnya Seng Hay membutuhkan pertolongannya. Maka juga ia dapat tidur nyenyak, sampai besoknya pagi, setelah matahari naik tinggi, baru ia mendusi.

Segera juga muncul Nona Wan Jie dengan bin-tang (baskom) terisi air dan handuk untuk pemuda ini cuci muka, begitupun beberapa rupa barang makanan untuk sarapan pagi.

"Terima kasih," Sin Cie mengucapkan.

Tidak lama sehabisnya pemuda ini selesai cuci muka dan rapikan pakaiannya, Bhok Siang Toojin muncul bersama papan caturnya. Ceng Ceng adalah yang bawa biji-biji catur. Berdua mereka masuk berbareng.

"Ha, begini hari baru bangun!" kata si pemudi sambil tertawa riang. "Tootiang sudah menunggui lama sekali, sampai ia tak sabaran! Hayo lekas mulai, lekas mulai!"

Sin Cie pandang si nona, akan tatap wajahnya, tiba-tiba ia tertawa. Ceng Ceng pun tertawa.

"Kenapa kau tertawa?" tanya nona ini sambil balik mengawasi.

Masih saja si pemuda tertawa.

"Tootiang janjikan apa kepadamu hingga kau sekarang jadi begini rajin?" ia tanya. "Begini perlu kau carikan Tootiang lawan main catur!"

Ceng Ceng tertawa pula.

"Tootiang hunjuki aku semacam ilmu silat," ia aku. "Itulah semacam ilmu silat entengkan tubuh yang sangat luar biasa. Umpama orang toyor padamu dan dupak, kau boleh layani ia dengan main berkelit saja sebagai orang lagi main petak, mengegos ke timur, ngeles ke barat, jangan harap dia bakal kena menyerang padamu!"

Mendengar itu, pemuda ini tergerak hatinya, diam-diam ia lirik guru sampiran itu, siapa sebaliknya dengan tenang lagi taruh dua biji putih dan dua biji hitam di keempat pojok papan caturnya, lalu sebiji putih dipegang di tangannya, dipakai mengetok-ngetok papan caturnya sehingga papan itu menerbitkan suara nyaring. Berbareng dengan itu, imam ini pun bersenyum.

Menampak sikap yang luar biasa dari Bhok Siang Toojin, Sin Cie ingat suatu apa.

"Tootiang ajarkan ilmu silat entengkan tubuh kepada Ceng Ceng, itu mesti ada maksudnya," ia lantas berpikir. "Sebentar adalah malaman janjiku dengan Jie-suko dan Jie-Suso, akan bertanding di panggung Ie Hoa Tay, tak dapat aku tidak pergi menetapkan janji itu. Inilah sulit, sebab dilihat dari romannya, Jie-suso tak puas sebelum ia layani aku. Mana dapat aku layani mereka dengan sungguh-sungguh? Jie-suko pun sangat kesohor, melayani dia saja, belum tentu aku sanggup peroleh kemenangan, maka jikalau aku melayani dengan main-main, ada kemungkinan aku bakal terluka di tangannya, atau mungkin juga, karena alpa, aku bakal terbinasa.... Apa ini sebabnya kenapa Tootiang ajarkan ilmu entengkan tubuh itu kepada Ceng Ceng?"

Karena memikir begini, pemuda ini lantas kata kepada si nona:

"Kau inginkan aku main tio-kie dengan Tootiang, baiklah, akan tetapi kau mesti ajarkan ilmu silat itu kepadaku!"

"Baik!" Ceng Ceng jawab sambil tertawa. "Ini dia yang dibilang, barang siapa dapat melihat, dia mesti menerima bagian!"

Ia tertawa pula, begitupun si anak muda.

Setelah itu, Sin Cie temani gurunya itu main tio-kie.

Sampai waktunya bersantap, tengah-hari, barulah orang berhenti adu otak, di waktu itu, Sin Cie ambil kesempatan akan pasang omong dengan Cui Ciu San, sang paman atau guru. Pembicaraan mereka ialah mengenai persiapannya Giam Ong, yang tentunya tak lama lagi akan mulai turun tangan menggempur musuh negara, katanya, pergerakan kemerdekaan itu memperoleh dukungan dari segenap rakyat. Di pihak lain, Ciu San puji anak muda ini, yang pelajaran silatnya maju dengan pesat sekali.

Kedua pihak bicara secara gembira dan asik sekali, sebab dua-dua sangat bergembira.

Selama itu beberapa kali Ceng Ceng mengasi tanda dengan tangan kepada si anak muda, untuk anjuri dia keluar, Ciu San lihat itu, ia tertawa.

"Sahabat cilikmu itu memanggil, pergilah lekas!" kata dia.

Tampangnya si anak muda merah sendirinya, ia jengah, tapi ia tidak segera berbangkit, ia malu hati.

"Kau pergilah!" kata pula Ciu San, yang terus berbangkit, untuk mendahului pergi keluar.

Ceng Ceng lari ke dalam begitu lekas orang she Ciu itu sudah tidak ada.

"Lekas, lekas!" katanya. "Aku nanti beritahukan kau tentang ilmu silat yang tootiang ajari aku, karena di waktu tootiang mengajarinya, ada bagian-bagian yang aku tidak mengerti. Tootiang melainkan kata padaku: "Kau ingat-ingat saja, nanti juga kau mengerti." Tentu saja, kalau ditinggal lama-lama, aku nanti lupa semua."

Sin Cie iringi kehendak si nona maka di lain saat, mereka sudah berlatih, atau lebih benar, Ceng Ceng menyebutkan ilmu silat itu, Sin Cie yang mendengari, habis itu, si anak muda coba menjalaninya. Itulah ilmu pukulan yang dinamakan "Pek-pian-kwie-eng" atau "Bayangan Setan Yang Berubah Seratus Kali".

Kepandaian entengkan tubuh Bhok Siang Toojin dan senjata rahasianya menjagoi di kolong langit, lebih-lebih ini "Pek-pian-kwie-eng". Selama masih di puncak Hoa San, Bhok Siang tidak ajari Sin Cie, sebab anak muda ini masih dalam permulaan, sulit untuk dia punyakan ilmu itu, tapi sekarang, setelah terlatih baik dan peroleh pengalaman, itulah waktunya untuk si anak muda diajarkan. Akan tetapi Bhok Siang mempunyai maksudnya sendiri, ia mengajari dengan perantaraan mulutnya Ceng Ceng. Nona ini tidak terlalu tinggi ilmu silatnya, akan tetapi otaknya sangat terang, kuat ingatannya, ia sangat cerdas. Maka hal yang sebenarnya adalah, tidak benar Bhok Siang mengajari Ceng Ceng, yang benar adalah ia mengajari Sin Cie.

Ceng Ceng memberi penuturan jelas sekali, dari gerakan tubuh dan kaki, hal itu membuat si anak muda jadi sangat girang, karena ia pun berotak terang dan segera ingat dengan baik.

Benar kalau Ceng Ceng kata ada bagian-bagian yang ia tidak mengerti, maka atas desakan Sin Cie, beberapa kali ia lari bulak-balik pada si imam, untuk minta penjelasan, hingga di lain saat, Sin Cie telah ingat semua, hingga ketika ia mencoba menjalaninya, lantas saja ia bisa jalani dengan baik. Maka itu, ia lantas meyakinkan terus-terusan.

Mengenai ilmu silatnya jie-suko dan jie-suso, Sin Cie ingat baik-baik kata-katanya sang guru dahulu: "Toasukomu jenaka, satu waktu ia tak terluput dari kealpaan. Jie-sukomu pendiam, dia belajar dengan sungguh-sungguh." Itu berarti, kepandaiannya Jie-suko sangat berada di atasan kepandaiannya sang toa-suko, saudara tertua itu.

"Sekarang aku peroleh ini Pek-pian-kwie-eng, apa mungkin aku tak dapat layani Jie-suko?" pikir dia, yang untuk sesaat bersangsi.

Tapi anak muda ini berpikir terus.

"Suhu pernah ajarkan aku Sip-toan-kim, ketika itu suhu jalankan ilmu entengkan tubuh itu, aku serang ia dengan seantero kebisaanku, tak dapat aku serang dia walaupun ujung bajunya saja," demikian ia berpikir. "Sekarang Bhok Siang Toojin ajarkan ilmu ini, apa tidak baik aku gabung ini dengan Sip-toan-kim? Tidakkah ini berarti, kepandaiannya dua kaum aku persatukan?"

Sin Cie lantas ambil keputusan, dari itu terus ia bersamedhi di kamar tulis itu, bukan untuk mengaso, hanya tubuhnya yang beristirahat, otaknya tetap bekerja, akan pikirkan jalan untuk gabung kedua ilmu entengkan tubuh itu.

Ceng Ceng semua ketahui pemuda ini sedang beristirahat, maka tidak ada yang berani ganggu.

Sin Cie bersamedhi sampai jam Sin-sie, pukul tiga atau empat lohor, ia berhasil, tetapi untuk memperoleh kepastian, ia hendak coba dulu. Maka ia ajak Wan Jie pergi ke lapangan peranti belajar silat, ia minta disediakan sepuluh saudara seperguruan si nona, dengan persiapan seorangnya setahang air, mereka itu diminta berkumpul di empat penjuru, untuk nanti seblok atau siram ia dengan air selagi ia bersilat.

Latihan telah dimulai dengan segera, dari pelbagai jurusan, saudara-saudara seperguruan Nona Ciauw Wan Jie lantas siram si anak muda dengan air, selama itu, Sin Cie mencelat, melesat ke sana-sini, gerakannya gesit dan cepat. Ketika kemudian sepuluh tahang air telah habis, Sin Cie cuma basah ujung tangan bajunya yang kanan dan kakinya yang kiri.

Sebagai kesudahan, semua orang puji pemuda ini.

Di lapangan itu orang bergembira, suaranya bergemuruh, akan tetapi Bhok Siang Toojin sendiri lagi rebah menggeros di dalam kamarnya, ia seperti tak tahu menahu....

Sorenya, habis bersantap, Sin Cie lantas bersiap-siap untuk pergi ke panggung Ie Hoa Tay yang kesohor. Ciauw Kong Lee dan Ciauw Wan Jie menyatakan suka turut, katanya untuk sebisa-bisanya mengakurkan itu kedua saudara seperguruan. Ceng Ceng juga ingin turut, dengan maksud membantui sahabat ini.

Sin Cie tampik semua kebaikan itu. Kong Lee dan puterinya dapat dikasi mengerti, tidak demikian dengan Ceng Ceng, yang lantas saja menjebi dan merengut.

"Mereka itu adalah jie-suko dan jie-susoku," Sin Cie kasi mengerti, "aku telah ambil putusan, lebih suka aku kena dihajar tapi tidak nanti aku akan balas menyerang, maka itu, apabila kau saksikan itu, pasti kau tak senang dan gusar, satu kali kau gusar, apakah kau tidak jadi bikin kacau urusanku?"

"Kau boleh mengalah sampai tiga serangan, mengapa kau tidak hendak membalasnya?" tanya Ceng Ceng, yang penasaran.
Thanks for reading PEDANG ULAR MAS 20

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar