Jilid 3
Cu An Kok kagumi utusan yang gagah itu, sampai ia jabat orang punya tangan dan puji padanya.
Kemudian Lauw It Houw bersama-sama Couw Tiong Siu dan beberapa orang lagi, pergi ke belakang, ke kamar rahasia, untuk bicara. Utusan ini sampaikan amanatnya Lie Cu Seng, yang suka bekerja sama-sama untuk gulingkan pemerintah.
Atas usul perserikatan itu, pihak Couw Tiong Siu ragu-ragu, maka kemudian, Tiong Siu bilang: "Menurut aku, baiklah kita orang bekerja sama-sama. Co Thaykam sudah ketahui gerakan kita, kita harus perbesar jumlah kita. Di mana tujuannya Lie Ciangkun ada sama dengan cita-cita kami, kita bisa bekerja sama-sama untuk lawan pemerintah, dengan berbareng kita sendiri bisa balaskan sakit hatinya Wan Thaygoanswee. Apa yang aku buat kuatir adalah Co Thaykam nanti mendahului menyerang kita."
Pikiran ini dapat kesetujuan, maka putusan segera diambil.
Selagi di dalam orang rundingkan cara-cara untuk bekerja sama-sama, di luar, Cu An Kok, bersama si Nie, yang bernama Hoo, tarik tangannya si anak muda muka hitam she Cui, yang bernama Ciu San, untuk diajak ke tempat yang sepi.
"Cui Toako," kata An Kok, "Walaupun kita baru pernah bertemu hari ini, hari pertama, aku percaya kita sudah seperti sahabat kekal, maka itu harap kau tidak pandang kita sebagai orang luar."
"Jie-wie toako, dulu kamu telah hajar bangsa Tartar, kamu telah lindungi rakyat negeri," berkata Ciu San, "perbuatan itu ada perbuatan yang membikin aku kagum, sekarang aku bisa bertemu sama sahabat-sahabat dari San-cong, aku girang bukan main!"
"Aku ingin berlaku lancang aku ingin ketahui, guru Toako itu siapa adanya?" tanya Nie Hoo.
Ditanya tentang gurunya, matanya Ciu San mendadakan menjadi merah.
"Guruku itu ada It-seng-lui Thio Pek Ya, sudah banyak tahun ia menutup mata," ia jawab.
Cu An Kok dan Nie Hoo saling mengawasi, terang mereka heran.
Nie Hoo ada polos, ia segera berkata pula: "Aku tahu It-seng-lui Thio Cianpwee, namanya yang besar kita kagumi, akan tetapi, Cui Toako, harap kau tidak gusar, sekalipun Thio Cianpwee berkepandaian tinggi, ia nampaknya masih beda jauh dengan kau."
Cui Ciu San berdiam, ia tidak menyahuti.
"Memang benar, hijau asalnya dari biru," An Kok turut bicara, "memang sering terjadi, murid suka melebihkan gurunya, akan tetapi barusan, melihat caranya Toako kalahkan kedua mata-matanya Co Thaykam, pasti Toako ada punya kepandaian lain...."
Ciu San bersangsi, tapi kemudian ia menyahuti juga.
"Jie-wie ada kedua sahabat baik, tidak selayaknya aku sembunyikan apa-apa terhadapmu," demikian katanya. "Memang, setelah suhu menutup mata, aku telah ketemu jodoh lain, seorang aneh. Dia ini merasa kasihan melihat aku, dia ajarkan aku beberapa rupa ilmu pukulan yang menjadi kebiasaannya, tetapi ia telah suruh aku bersumpah untuk tidak sebutkan nama atau gelarannya. Maka itu, Jie-wie toako, harap kau maafkan aku."
Kedua orang she Cu dan Nie itu lihat orang bicara sungguh-sungguh.
"Jangan omong tentang maaf, Toako," berkata An Kok. "Kalau aku sampai menanyakan jelas kepadamu, itu disebabkan ada satu urusan yang penting."
"Apakah itu, Jie-wie?" Ciu San tanya. "Segala apa yang aku sanggup kerjakan, aku tentu suka lakukan untuk kamu. Di antara orang sendiri harap Jie-wie toako tidak sungkan-sungkan."
An Kok manggut.
"Harap tunggu sebentar, Cui Toako, kita hendak cari dua orang untuk bicara sebentar," kata ia.
Ciu San lihat orang berlaku sesungguhnya, ia manggut.
An Kok lantas pergi, bersama-sama si Nie.
Mereka cari si Eng dan si Lo, yang diajak ke samping.
"Ada apa?" si Eng tanya.
"Aku mau bicara perihal utusan she Cui itu," jawab An Kok. "Tak satu dari kita sanggup lawan bugeenya, sedang menurut caranya ia bicara, dia ada seorang jujur...."
"Melainkan mengenai gurunya, dia ragu-ragu bicara terus terang," Nie Hoo timpalkan.
Cu An Kok lantas tuturkan hal pembicaraan mereka sama si Cui itu. Ia pun kasi tahu ia dan maksudnya si Nie.
Si Eng, ketika pembuatan tembok kota di Leng-wan, itu adalah buah rencananya, pada itu, dia keluarkan tenaga tidak sedikit. Sedang si Lo, yang bernama Tay Kan, ada satu tukang tembak meriam jempolan, selama peperangan di Leng-wan, dialah yang sulut meriam besar Ang-ie Toa Pauw, hingga bukan sedikit tentara Boan yang terbinasa. Karena jasanya, ia telah diangkat jadi Cham-ciang, letnan kolonel.
"Tak ada halangannya kita omong terus-terang dengannya." kata Eng Siong kemudian. "Setelah kita minta, kita lihat bagaimana sikapnya."
"Aku pikir baik kita tanya dulu pikirannya Couw Siangkong," Cu An Kok mengusulkan.
Usul ini dapat persetujuan, maka mereka lantas pergi ke belakang di mana Couw Tiong Siu sedang bicara dengan asik sekali sama Lauw It Hauw. Ketua itu dipanggil sebentar, untuk diajak berdamai.
"Eng Suya," berkata si siangkong," urusan ini mengenai kepentingan seumur hidup dari tuan muda kita, sebelum kita ambil putusan, baiklah kau tanyakan dulu pikiran si orang she Cui itu."
Eng Siong setuju, maka ia lantas ajak Cu An Kok, Nie Hoo, dan Lo Tay Kan pergi pada Ciu San.
"Cui toako, kami ada punya satu urusan untuk mana kami harap benar bantuanmu," berkata Eng Siong. "Maka itu....."
Cui San lihat orang ragu-ragu, ia jadi tidak sabar.
"Aku ada seorang kasar, jikalau ada apa-apa, titahkanlah aku," kata ia. "Asal apa yang aku bisa, tidak nanti aku tidak menurut."
"Saudara Cui jujur, baiklah, kita juga hendak bicara terus terang," kata Eng Siong. "Ketika Wan Taygoanswee teraniaya, ia ada meninggalkan satu putera, waktu itu, sang putera baru berumur tujuh tahun. Untuk tolongi putera itu, kita telah lakukan perampasan, karena mana, tiga kali kami lakukan pertempuran, hingga dua saudara kami terbinasa. Syukur untuk kami, kami berhasil menolongi putera itu."
Ciu San tidak bilang suatu apa, ia cuma perdengarkan suara tak nyata.
"Putera itu, yang menjadi tuan muda kita, bernama Wan Sin Cie," kata Eng Siong terangkan lebih jauh. "Kami berempat adalah yang didik ia dalam ilmu surat dan ilmu silat. Dia ada berotak sangat terang, bahannya baik sekali, apa yang diajari dia lantas bisa, baru dua tahun, hampir habis semua kebisaan kami diturunkan kepadanya. Dia masih sangat muda, ada beberapa rupa pelajaran yang ia masih belum menginsafinya, maka itu kami pikir, apabila ia tetap berada di bawah pimpinan kami, sukar untuk dia peroleh kemajuan terlebih jauh."
Mendengar sampai di situ Ciu San segera mengerti maksud orang.
"Jadi Saudara ingin aku yang teruskan mendidik dia?" ia tegasi.
Cu An Kok manggut.
"Tadi kami saksikan Toako layani itu dua mata-mata dorna, kami dapat kenyataan Toako ada sepuluh kali lebih pandai daripada kami," berkata dia, "maka jikalau Toako sudi terima dia sebagai murid, untuk didik padanya, kami percaya rohnya Wan Thayswee di dunia baka pasti akan sangat berterima kasih kepadamu...."
Lantas saja empat saudara itu menjura kepada sahabat baru ini.
Dengan cepat-cepat, Cui Ciu San membalas hormat. Segera ia berdiam.
"Saudara-Saudara sangat menghargai aku, turut pantas, tak dapat aku menampiknya," kata ia kemudian. "Hanya sayang sekarang ini aku mesti berdiam di dalam tangsinya Lie Ciangkun, siang dan malam, tidak ada ketentuannya waktu, saban-saban aku mesti keluar untuk lakukan tugas, malah satu waktu, kami mesti bertempur dengan tentara negeri, hingga tak dapat dipastikan, berapa hari lagi ada umurku. Maka itu, jikalau Wan Kongcu mesti tinggal bersamaku di dalam tangsi, aku sangat kuatir kegagalannya. Tidak ada tempo senggang untuk aku mendidik dia, di lain pihak, keselamatannya berada dalam ancaman bencana."
Alasan itu ada beralasan, mendengar itu, Eng Siong berempat jadi putus asa.
Ciu San lihat orang berputus asa.
"Ada satu orang bugee siapa dapat menangkan aku berlipat-lipat," kata dia kemudian, "jikalau dia suka terima Wan Kongcu, sungguh itu ada keberuntungan besar bagi kongcu itu..." Tapi mendadakan ia goyang-goyang kepala, lalu ia ngoceh seorang diri: "Tidak, tidak, inilah tak bisa menjadi...."
Eng Siong beramai heran.
"Siapa orang itu?" tanya dia begitupun Cu An Kok.
"Itulah si orang aneh yang aku sebutkan tadi," jawab Ciu San. "Kepandaiannya tidak ada batasnya. Dia ajari aku baru enam bulan, aku telah punyakan kebisaanku seperti sekarang ini, toh itu baru kulitnya saja....."
"Siapa sebenarnya orang aneh itu?" tegaskan An Kok, yang girang tak kepalang.
"Dia ada seorang yang tabiatnya aneh," terangkan Ciu San. "Dia telah ajarkan ilmu silat padaku tetapi dia larang aku panggil guru kepadanya dan dia pun larang aku beritahukan namanya kepada lain orang, maka itu, aku kuatir taklah bisa berhasil apabila Wan Kongcu disuruh pergi belajar padanya."
"Di mana tinggalnya orang aneh itu?" Nie Hoo tanya.
"Dia juga tidak punya tempat kediaman yang pasti. Dia biasa pergi ke segala tempat, setiap kali dia pergi, dia tidak mau beritahukan ke mana perginya."
Eng Siong berempat kewalahan, tapi si Eng ini terus panggil Wan Sin Cie untuk bocah ini diperkenalkan kepada utusannya Lie Cu Seng itu. Cui Ciu San senang melihat ini anak, yang romannya cakap, yang tubuhnya sehat sekali, kapan ia tanyakan pelajarannya Sin Cie, Sin Cie menyahuti dengan rapi.
"Eh, Encek Cui," tiba-tiba bocah ini tanya," ketika tadi Encek rubuhkan kedua mata-mata, ilmu pukulan apakah yang Encek gunai?"
Ciu San tertawa. "Itu ada pukulan Hok-houw-ciang, Harimau Mendekam, salah satu pecahan dari Shacaplak Lou Kim-na-hoat."
"Demikian cepat gerakan Encek, sampai aku tak melihat tegas!" bocah itu kata.
"Apakah kau ingin pelajarkan itu?" tanya Ciu San.
Sin Cie sangat cerdik. "Ya, Encek Cui, ajarkanlah aku!" ia lantas minta. Ciu San menoleh pada Eng Siong. "Pada Lie Ciangkun aku telah bicara akan berdiam di sini beberapa hari, biar aku gunai ketikaku akan ajarkan ini anak," ia bilang. Tentu sekali, Eng Siong girang, sedang Sin Cie sudah lantas menghaturkan terima kasih.
Pada waktu itu, Lauw It Hauw dan Couw Tiong Siu telah mencapai permufakatan untuk perserikatan, maka juga di hari kedua, di hadapan patung Wan Cong Hoan, kedua pihak resmikan itu dengan angkat sumpah, untuk mati dan hidup bersama. Pun pagi-pagi, Tiong Siu telah kasi selamat jalan pada Tiauw Cong dan Peng Kie bertiga, selagi berpisahan, ia bilang pada mereka berdua: "Kita telah bertemu secara kebetulan, inilah jodoh. Tentang kami di sini, asal ada yang bocor, kesudahannya dua saudara harus ketahui sendiri, tak dapat aku jelaskan lagi!"
"Itulah pasti, kami sudah mengerti," sahut Tiauw Cong berdua.
Tiong Siu bekali lima puluh tail perak dan perintah dua orang antar mereka ini turun gunung. Sejak itu, sesampainya mereka di rumah masing-masing, selagi Tiauw Cong rajin belajar surat dengan tak suka pesiar lagi, hingga kemudian ia jadi terpelajar tinggi. Yo Peng Kie tutup piauwkioknya, akan hidup menyendiri, sebab ia insyaf, kepandaian tak ada ujung-pangkalnya, orang pandai ada yang lebih pandai, maka ia anggap lebih baik ia bertani, bercocok-tanam saja.
Lauw It Houw pulang berdua saja sama kawannya, si orang she Thian.
Dengan pertemuan telah sampai di akhirnya, kaum San-cong pun bubaran, akan masingmasing pulang, tetapi di antaranya, ada yang kemudian pergi hubungi diri pada Lie Cu Seng.
Couw Tiong Siu bersama Cu An Kok, Nie Hoo dan Eng Siong beramai masih terus berdiam di atas gunung. Mereka masih mesti urus Wan Sin Cie. Sebaliknya, Sin Cie sendiri seperti tak perdulikan hal-ikhwalnya sendiri saking kegirangan lantaran janjinya Cui Ciu San akan ajarkan dia ilmu silat Hok-houw-ciang.
Malam itu Sin Cie tak dapat tidur nyenyak, sedang di hari besoknya, dia sibuk sendiri, karena belum sempat orang perhatikan dia. Habis rapat, orang semua sibuk menyelesaikan ini dan itu, akan antar mereka yang berangkat pulang. Mereka ini pun pada pamitan dari pemimpin muda ini.
Adalah setelah sore, baru Tiong Siu perintah siapkan sebuah meja serta satu kursinya, begitupun lilin dan hio. Cui Ciu San diminta duduk di kursi itu, untuk terima hormatnya Sin Cie. Di situ hendak diadakan upacara sederhana pengangkatan guru atau penerimaan murid.
"Saudara Wan kecil ini, sekali aku lihat, aku lantas suka padanya," kata Ciu San. "Dia suka Hok-houw-ciang, aku nanti pakai tempoku beberapa hari untuk ajarkan dia sekedarnya. Tentu saja, tempo hanya beberapa hari, tidak cukup, hingga harus disangsikan ia bisa gunakan itu atau tidak apabila ia sudah bisa melatihnya sendiri. Semua-semua ada bergantung dengan bakat, kerajinan, dan keuletannya. Biarlah kita menjadi sahabat-sahabat saja bukannya guru dan murid, suatu hal yang tak dapat dibicarakan."
"Asal dia diajari, walaupun cuma satu-dua gebrak, dia sudah berarti murid dan Saudara adalah guru," Eng Siong bilang. "Harap Cui Toako tidak terlalu merendah."
Tapi putusannya Ciu San tak dapat diubah, hingga akhirnya orang mengalah.
Sama-sama ahli silat, Eng Siong semua ketahui baik aturan orang memberi pelajaran, apapula mengenai Ciu San dan Sin Cie, guru dan murid istimewa. Tentu sekali, orang luar tak dapat tonton mereka. Maka itu, semua lantas undurkan diri.
Ciu San tunggu sampai semua orang sudah pergi, ia duduk di kursi yang disediakan tadi, untuk bicara sama ahli warisnya mendiang Wan Cong Hoan.
"Sin Cie," katanya dengan sungguh-sungguh. "Ini ilmu silat Hok-houw-ciang aku peroleh dari seorang berilmu yang telah berusia lanjut, aku sendiri masih belum meyakinkannya sampai sempurna, akan tetapi, apabila dipakai melayani lawan yang umum, sudah cukup. Ketika aku diwariskan ilmu pukulan ini, orang berilmu itu wajibkan aku angkat sumpah, ialah tak boleh aku gunakan untuk menghina orang baik-baik atau mencelakai tanpa alasan...."
Sin Cie ada sangat cerdik, segera ia mengerti maksud gurunya ini, lantas ia bertekuk lutut seraya katanya: "Murid Wan Sin Cie, apabila telah berhasil mempelajari Hok-houw-ciang, tak akan gunakan itu untuk menghina orang baik-baik dan mencelakai tanpa alasan, baru ia meneruskan: ".....biarlah Suhu nanti pukul mati padaku!"
Mendengar sumpah itu, Ciu San tertawa.
"Bagus!" berkata dia, yang tubuhnya mencelat dengan mendadakan.
Sin Cie angkat kepala dengan heran, karena sang guru lenyap dari hadapannya, kapan ia menoleh, guru itu kembali telah berada di belakangnya dan pundaknya lantas ditepuk.
"Kau tangkap aku!" menganjurkan guru ini.
Sin Cie telah peroleh ajaran dari Cu An Kok dan Nie Hoo, kecuali dasarnya baik, dia pun cerdik, maka atas anjuran gurunya ini, ia tidak lantas memutar diri, hanya ia mendak dulu, sembari berbuat demikian, tangan kirinya digeraki, tangan kanannya menyusul - ia pun sembari dengari anginnya gerakan tubuh sang guru - lalu dengan tiba-tiba, ia menyambar ke arah kaki.
"Inilah cara yang tidak bercela!" terdengar sang guru, kaki siapa tapinya tidak kena disambar. Di lain pihak, pundaknya si murid kembali kena ditepuk. Murid ini memutar tubuh dengan sia-sia, ia tak lihat gurunya itu.
Kembali Sin Cie perlihatkan kecerdikannya, ia ingat baik-baik, ajarannya Nie Hoo.
Ia tidak membalik tubuh, ia tidak menyambar lagi, hanya ia jalan setindak demi setindak ke arah tembok, begitu lekas sudah sampai, mendadakan ia putar tubuhnya seraya berseru: "Encek Cui, aku dapat lihat padamu!"
Dengan sebenarnya, diakui cara demikian, Ciu San tak lagi bisa singkirkan diri.
"Bagus, bagus!" kata Ciu San sambil tertawa. "Kau cerdik, kau ada punya bakat, kau pasti bakal bisa yakinkan Hok-houw-ciang!"
Lantas saja guru istimewa ini mulai berikan pelajarannya, sejurus dengan sejurus, sampai di akhirnya, yang semua terdiri dari seratus delapan gerakan, dan saban gerakan mempunyai lagi tiga perubahan, untuk mengelakkan diri dan menyerang saling ganti, hingga semuanya jadi jumlah tiga-ratus dua-puluh empat jurus.
Sin Cie gunakan otaknya, ketika ia baru diajari tiga kali, ia sudah lantas ingat semua, dengan pelahan-lahan, ia bisa jalankan Hok-houw-ciang itu, maka di lain saat, sang guru mulai pecahkan artinya, keperluannya sesuatu jurus.
Sin Cie ingat dengan baik semuanya itu, ia terus berlatih dengan sungguh-sungguh. Ia ketarik hati, gurunya pun suka terhadapnya, yang demikian rajin dan ulet, guru ini tungkuli terus padanya, hingga malam pertama itu mereka berlatih terus sampai jauh malam, baru berhenti.
Besoknya pagi-pagi, Ciu San pergi keluar, untuk cari hawa fajar yang segar.
Betapa keheranannya, ia dapatkan Sin Cie asyik berlatih seorang diri di tanah lapangan, dan untuk kekagumannya, murid itu bisa jalankan semua jurus dengan baik. Ia jadi sangat girang. Dengan diam-diam, ia mendekati murid itu, akan akhirnya lompat melesat, untuk dupak bebokong orang.
Sin Cie sedang madap ke lain jurusan, ia tidak lihat gurunya, akan tetapi ia dengar angin menyambar, segera ia egos tubuh ke samping, sembari berbalik, ia ulur tangan kanannya, untuk sambar kaki yang menendang ia, tapi kapan ia kenali gurunya, ia tarik pulang tangannya.
"Encek Cui!" ia berseru.
Ciu San tertawa.
"Jangan berhenti, hayo menyerang terus!" kata guru ini sambil dia menyerang muka orang.
Sin Cie kelitkan kepalanya, kakinya dimajukan satu tindak, sedikit ke samping, dari situ ia kirim kepalannya yang kecil kepada pinggangnya sang guru. Inilah pukulan ke-89 dari Hok-houw-ciang, yang dinamakan "Cim-jip-houw-hiat", atau "Masuk Jauh Dalam Guha Harimau".
"Bagus, begini memang maunya!" Ciu San memuji sambil ia berkelit. Kemudian, kembali ia serang murid itu.
Sin Cie layani guru itu, sampai sekian lama. Beberapa kali ia berbuat keliru, sang guru lantas ajarkan, untuk dibenarkan, hingga ia jadi sangat gembira. Terus-terusan ia layani gurunya, hingga habislah semua tiga-ratus dua-puluh empat jurus. Malah itu diulangi dan diulangi.
Bocah ini girang bagaikan ia peroleh azimat atau mustika, ia dapat kenyataan, Hok-houw-ciang menggenggam banyak rupa rahasia pukulan.
"Mari beristirahat," Kata Ciu San, sesudah lihat muridnya mandi keringat. Tapi sambil berduduk, ia pun berikan pelbagai penjelasan. Kemudian, habis mengaso, latihan diulangi.
Guru dan murid ini berhenti untuk bersantap pagi, sekian lama habis itu, mereka berlatih pula. Hingga itu hari, dari pagi sampai jauh malam, mereka cuma berhenti untuk berdahar dan beristirahat saja.
Sin Cie lanjuti cara belajarnya ini terus menerus sampai tujuh hari, selama itu, sang guru juga terus layani dia, kemudian di malam kedelapan, baru Ciu San kata pada muridnya: "Aku telah ajarkan semua kepada kau, bagaimana nanti jadinya, segala itu terserah kepada peryakinanmu sendiri. Di waktu menghadapi lawan, orang mengandal tujuh bagian pada latihannya, tiga bagian pada kecerdasannya, apabila orang andalkan melulu latihan, kemenangan sukar didapat."
Sin Cie terima baik pesanan berarti ini.
"Besok aku hendak kembali kepada Lie Ciangkun," Ciu San terangkan kemudian. "Maka itu di belakang hari, kau mesti berlatih sendiri saja."
Merah matanya Sin Cie mendengar perkataan guru itu, air matanya berlinang. Benar mereka berkumpul baru beberapa hari tapi ia telah sangat sukai guru itu, yang manis-budi, yang mengajar ia dengan sungguh-sungguh.
Ciu San ada seorang peperangan ulung, tapi melihat sikapnya murid ini, ia terharu, maka ia lantas usap-usap kepala orang.
"Jarang aku menemui orang berbakat dan cerdik sebagai kau," kata guru ini, "maka sayang sekali kita berdua tidak berjodoh untuk berkumpul lama-lama..."
"Bagaimana kalau aku ikut pergi pada Lie Ciangkun, Encek Cui?" Sin Cie tanya.
"Kau masih begini kecil, mana bisa?" sahut sang guru.
Sin Cie hendak jawab guru itu atau mendadakan mereka dengar suara binatang buas di luar rumah.
"Binatang apa itu?" tanya si bocah. "Itu bukan suaranya harimau atau serigala...."
"Itulah suara harimau tutul," Ciu San terangkan. Mendadakan, ia tambahkan: "Mari kita tangkap binatang liar itu. Ada perlunya...."
"Perlu apa itu, Suhu?" tanya Sin Cie, yang merasa heran.
Ciu San tidak menjawab, dia melainkan tertawa, segera ia bertindak keluar.
Murid ini terpaksa lantas menyusul.
"Encek Cui, senjata apa kau pakai untuk lawan macan tutul itu?" ia tanya kapan ia ingat gurunya tidak bekal senjata.
Ciu San tidak menyahuti, dia cuma bersenyum. Ia juga tidak ambil pintu depan hanya bertindak ke samping, di luar kamarnya Couw Tiong Siu, ia memanggil: "Cu Toako! Nie Toako!"
Dua orang yang dipanggil itu berada di dalam kamar, mereka lantas buka pintu.
"Tolong Toako bantu aku," kata Ciu San sambil tertawa, "di luar ada seekor macan tutul, harap Toako beramai usir dia masuk ke dalam rumah, aku membutuhkan dia."
"Baik, baik," jawab Nie Hoo, si tukang memburu harimau. Malah dia segera sambar cagaknya, untuk mendahului keluar.
"Nie Toako, jangan lukai binatang itu!" Ciu San pesan.
Nie Hoo tidak menyahuti, ia keluar terus.
Ciu San menyusul bersama-sama Cu An Kok dan Lo Tay Kan. Sin Cie bekal tumbak pendek, ia hendak turut.
"Sin Cie, jangan kau ikut, tunggu di sini saja," gurunya mencegah.
Bocah ini terpaksa menurut, maka itu, ia berdiam bersama Tiong Siu dan Eng Siong. Mereka mengawasi dari jendela.
Ciu San bertiga membawa obor, masing-masing berdiam di tiga penjuru. Nie Hoo sendirian saja, di tepi gunung, lagi tempur sang binatang liar, tapi ia taat kepada pesannya si Cui, ia tidak mau lukai binatang itu, ia cuma menyerang mengancam sambil bela diri.
Begitu lekas lihat api obor, macan tutul itu kaget, berniat melarikan diri, tetapi ketika dia mundur untuk lari, Cu An Kok bertiga pegat dia di tiga jurusan, hingga dia jadi makin bingung. Di antara tiga orang itu, Ciu San tidak pegang senjata, dia lantas terjang gurunya Sin Cie ini.
Ciu San tidak takut, ia tidak kaget mendengar gerungan, ketika ia ditubruk, ia egos tubuh sambil menyerang kepalanya binatang itu, atas mana si macan tutul rubuh bergulingan, saking kerasnya pukulan. Tapi dia lekas bangun pula, untuk terus lari, ke arah selatan, yang tak ada yang jaga. Ini ada jalanan untuk masuk ke dalam rumah, itulah pintu muka. Dia cerdik, dia urung memasuki pintu itu. Tapi ia telah dikurung dari segala penjuru, cahaya api bikin dia bingung.
Ciu San maju dengan berani, selagi berada di belakangnya si macan tutul, ia lompat untuk menendang, hingga saking kaget dan kesakitan, binatang itu loncat ke depan. Maka sekali ini, mau atau tidak, ia masuk juga ke dalam rumah.
Eng Siong di dalam rumah sudah siap, ia telah tutup semua pintu kecuali pintu barat, maka ke situ, macan itu lari. Binatang ini menyingkir tanpa pilih jalanan lagi. Begitulah dia memasuki pendopo barat, sesudah mana, Lo Tay Kan kuncikan dia pintu.
Setelah berkumpul, semua orang, yang bergembira, awasi Ciu San. Mereka masih belum tahu maksud utusan dari Lie Cu Seng itu.
Ciu San tertawa, ia kata pada muridnya: "Sin Cie, pergi masuk ke dalam, kau hajar macan tutul itu!" ia menitah.
Semua orang tercengang.
"Aku kuatir ini tak sempurna...." kata Tiong Siu, yang berkuatir.
"Aku nanti mengawasi dari samping, tidak ada bahayanya," Ciu San bilang, sikapnya tenang.
"Baik!" jawab Sin Cie, yang terus bertindak ke pintu, sambil bawa tumbaknya.
Bocah itu tercengang, tapi segera ia mengerti, gurunya rupanya ingin dia gunai Hok-houw-ciang. Tentu saja ia bersangsi.
"Kau takut?" sang guru tanya.
Sin Cie tidak menjawab, hanya ia cabut palangan pintu, terus ia buka daun pintu, akan nyeplos ke dalam.
Segera juga terdengar suara menggeram, lalu satu bayangan berlompat nubruk.
Sin Cie berkelit ke samping, sebelah tangannya dipakai menyerang, mengenai kuping si macan tutul, tetapi ia bertenaga kecil, binatang itu seperti tidak merasai sakit, tapi dia membalik tubuh, untuk menerjang pula.
Dengan gesit Sin Cie lompat, ke belakang macan itu, akan betot ekornya.
Sementara itu, Cui Ciu San juga sudah njeplos masuk, ia terus berdiri di pinggiran seraya pasang mata.
Sin Cie tendang macan itu, atas mana, binatang ini tarik ekornya, hingga si bocah mesti lepaskan cekalannya. Setelah memutar tubuh, harimau itu menubruk pula.
Dengan berkelit sambil mendekam, Sin Cie selamatkan diri, karena ia berada di samping, kembali ia kirim kepalannya, hanya seperti tadi, binatang buas itu tidak bergeming karenanya.
Itu waktu Couw Tiong Siu beramai turut menonton, biar bagaimana, mereka kuatirkan itu pemimpin cilik, yang masih terlalu muda usianya. Mereka bantu menjaga, di antaranya ada yang terus pegangi obor, sedang An Kok dan Nie Hoo siapkan senjata rahasia mereka. Segera juga mereka menyaksikan dengan kekaguman, melihat bagaimana bocah she Wan itu bergerak gesit sekali.
Mulanya tertampak Sin Cie masih ragu-ragu atau sedikit jeri, tetapi setelah pertarungan ganjil ini berjalan sekian lama, hatinya jadi mantap. Nyata ia bisa gunai dengan sempurna Hok-houw-ciang, itu ilmu pukulan "Menakluki Harimau". Ia pun insaf, percuma ia main kelit, sia-sia saja ia mengajar dengan kepalannya, macan itu ada terlalu tangkas untuk dia, maka di akhirnya, ia pakai akal. Ialah saban-saban ia loncat ke belakang macan tutul itu, ia membetot, habis itu, ia jambak bulunya, untuk dibetot copot.
Dicabuti bulunya, yang mana sering kejadiannya, lama-lama macan tutul itu berasa juga sakit, , maka saban-saban dia menderum, berbareng dia pun jadi semakin gusar, tubrukan-tubrukannya jadi semakin sengit dan hebat. Tapi tetap saja, tidak pernah dia mampu terkam itu bocah, yang tubuhnya sangat gesit dan licin. Maka di akhirnya, dari kewalahan, dia mulai jeri juga, hingga dia lalu tukar siasat, dari saban-saban menerkam, dia main mundur, dia pentang mulutnya akan mengancam dengan giginya yang besar dan tajam.
Sin Cie cerdik, ia ganggu macan itu, sampai dia saban-saban diterkam pula, saban diterkam, dia loncat ke samping, atau ke belakang, selalu dia cabut bulunya! Couw Tiong Siu beramai, dari berkuatir, jadi tertawa melihat lagak-lagunya bocah ini, kelincahan siapa mereka sangat kagumi.
Biar bagaimana, macan tutul itu tidak dapat dirubuhkan cuma karena bulunya dicabuti, pun sia-sia saja pukulan kepalan dan tendangannya Sin Cie, dari itu, juga ini bocah lalu menukar siasat.
Sekonyong-konyong Sin Cie mendekam, ia loncat ke depan macan tutul itu. Gerakan ini membuat heran itu binatang buas, yang jadi melengak, tapi meski demikian, dia lantas ingat untuk lompat menerkam. Gerakannya ada sangat gesit, sedang itu waktu, Sin Cie sampai di depan binatang itu, hingga ia jadi berada di bawah perutnya si raja hutan.
Nie Hoo terkejut, tidak ayal lagi, ia menyerang dengan sepasang piauw.
Macan itu tidak kena terserang senjata rahasia itu, kaki depannya dapat menyampoknya hingga jatuh.
Berbareng itu, Sin Cie lenyap dari kolong harimau, sebaliknya tubuhnya nempel sama perutnya binatang itu. Entah bagaimana, kedua kakinya telah menyangkul keras ke bebokong macan tutul, kepalanya sendiri menyundul janggutnya, hingga ia tidak bisa digigit binatang itu. Kedua tangannya juga turut memeluk.
Macan tutul itu jadi kewalahan, untuk bikin orang terpelas, dia jatuhkan diri, bergulingan di lantai.
Sin Cie tetap menjepit dan merangkul dengan keras, ia tidak kasih tubuhnya terpisah dari tubuh lawannya yang luar biasa itu. Tapi ia insaf, lama-lama ia bisa habis tenaga, apabila ia pisahkan diri, ia bisa celaka diterkam binatang itu.
"Encek Cui, mari lekas," akhirnya ia memanggil.
"Matanya!" adalah jawaban Cui Ciu San.
Ini pemberian ingat menyadarkan bocah itu, tidak ayal lagi, ia ulur tangan kanannya, beberapa jarinya mencari sebelah matanya yang terus ia korek dan betot keluar! Binatang itu kaget dan kesakitan, dia berjingkrakan sambil menderum-derum, darah mengucur keluar dari matanya itu.
Menampak demikian, Ciu San lompat maju, ia dekati macan tutul itu tanpa si binatang buas dapat lihat padanya, segera ia menyerang dengan keras dengan kedua tangannya ke arah kepala, atas mana, macan itu jadi pusing, segera dia rubuh terguling.
Selagi si raja hutan rubuh, Ciu San sambar Sin Cie, untuk diangkat.
"Bagus, bagus!" ia puji murid itu.
Kapan si Cui menoleh pada kawan-kawannya, Tiong Siu semua berkuatir hingga mereka mandi keringat! Ciu San pentang pintu, ia dekati macan itu pada belakangnya, lalu ia mendupak.
"Pergilah, aku merdekakan padamu!" kata ia.
Tendangan itu keras, sang harimau, yang mulai merangkak bangun, terjerunuk ke depan, sesudah mana, dia terus loncat, untuk kabur. Menyusul itu, di luar terdengar riuh jeritan kaget dari banyak orang.
Menyangka bahwa macan tutul itu menerbitkan kecelakaan, Tiong Siu semua berlari keluar, untuk melihat, tapi begitu lekas mereka berada di luar, mereka juga kaget tidak terkira.
Seluruh gunung terang dengan api, yang mendatangi dari arah bawah, di antara itu, tertampak pelbagai senjata yang berkilatan.
Itulah tentara kerajaan Beng, yang mengurung Lauw Ya San dengan tiba-tiba! Orang-orang Lauw Ya San baru saja bubar, yang masih ada tinggal sedikit, ini menyulitkan mereka. Mereka pun tidak dapat kabar lebih siang, karena mereka disergap dan penjaga-penjaga di saban pos telah terbunuh mati, sampai mereka ini tidak bisa memberi tanda bahaya.
Couw Tiong Siu ada seorang peperangan ulung, walaupun ia kaget, hatinya tidak gentar. Tadinya, dia pun adalah orang yang pangkatnya paling tinggi.
"Lo Ciangkun," ia segera beri titah pada Lo Tay Kan, "pergi kau pimpin saudara-saudara tukang masak, tukang sapu dan penjaga-penjaga kuil, lepaslah api di gunung sebelah timur seraya berteriak-teriak, untuk menyesatkan musuh!"
Lo Tay Kan terima titah, ia berlalu dengan cepat.
"Cu Ciangkun, Nie Ciangkun!" Couw Tiong Siu panggil Nie Hoo dan Cu An Kok. "Pergilah ke depan, masing-masing memanah belasan kali, untuk cegah tentara musuh terlalu mendesak, habis itu, lekas kembali!"
Dua punggawa itu berlalu dengan titah tersebut.
"Cui Toako, ada satu tugas penting aku mohon kau yang pegang!" kata Tiong Siu pada Ciu San.
"Kau ingin aku yang lindungi Sin Cie?" Ciu San tegaskan.
"Benar," jawab pemimpin itu. Lalu bersama-sama Eng Siong, dia menjura terhadap utusan Lie Cu Seng ini.
Ciu San kaget, dengan tersipu-sipu, ia membalas hormat.
"Bicaralah, Jie-wie, tapi jangan berbuat begini!" ia mencegah.
Suara gemuruh di luar bertambah besar, malah terdengar juga suara tambur dan gembreng tentara yang riuh, tapi itu datangnya dari atas gunung, maka Tiong Siu menduga kepada perbuatannya Lo Tay Kan, ialah siasat akan mengelabui musuh.
"Inilah satu-satunya darah daging dari Wan Tayswee, tolong Cui Toako antar dia turun gunung!" Tiong Siu minta kepada Ciu San.
"Aku nanti lakukan itu!" Ciu San berikan janjinya.
Itu waktu, Cu An Kok dan Nie Hoo kembali habis melepas panah. "Aku akan ambil jalan bersama Cu Ciangkun," Tiong Siu mengatur diri, "kami nanti gabungkan diri sama Lo Ciangkun, akan menerjang turun di sebelah timur. Eng Sinshe bersama Nie Ciangkun boleh menerjang dari barat. Kita akan menerjang lebih dulu, buat tarik perhatiannya tentara musuh, supaya mereka tercegah, setelah itu, Cui Toako bersama Sin Cie boleh nerobos turun dari gunung belakang. Biarlah kita orang berkumpul di tempat Lie Ciangkun!"
Semua orang kagum, di saat segenting itu, Couw Tiong Siu masih bisa mengatur diri demikian sebat dan tepat, coba mereka punyakan tentara, tentu keadaan mereka ada lain sifatnya.
Sin Cie sedih bukan main, sebab telah begitu lama ikuti Eng Siong semua, yang pun telah didik dia, sekarang mereka mesti berpisahan secara demikian mendadakan dan dalam ancaman malapetaka hebat juga. Ia paykui berulang-ulang terhadap mereka.
"Couw Siokhu, Eng Siokhu, Cu Siokhu, Nie Siokhu," kata ia, "aku, aku...." Ia tak dapat bicara lebih jauh, tenggorokannya seperti terkancing.
"Kau ikuti Cui Siokhu, kau dengar perkataannya," kata Tiong Siu. Masih Sin Cie tak dapat bicara, ia cuma bisa manggut.
Suara berisik makin hebat, itulah tandanya tentara negeri sudah mulai mendaki tinggi. "Marilah!" mengajak Eng Siong. "Cui Toako, kau berangkat sebentar lagi sedikit..." Lantas mereka itu bertindak keluar.
Nie Hoo lihat Cu Cio San tidak punya senjata, ia lemparkan kongcee kepadanya. "Cui Toako, sambut ini!" ia kata.
"Aku tak butuhkan itu," sahut Ciu San, yang menyambuti tapi terus hendak kembalikan, hanya Nie Hoo sudah lari jauh, ia jadi batalkan niatnya.
"Mari!" katanya, yang terus tarik tangannya Sin Cie, sedang tangannya yang lain tetap pegangi tumbak cagak itu. Berdua mereka pergi ke belakang di mana pun ada terang cahaya api, hingga kelihatan berlapis-lapis tentara, entah berapa jumlahnya. Anak panah pun dipanahkan naik bagaikan hujan. Maka terpaksa Ciu San lari balik ke kuil, ke dapur, akan cari dua buah kwali, yang satu besar, yang lain kecil, yang kecil ia serahkan pada muridnya.
"Inilah tameng!" kata ia. "Mari!" Dengan berlompatan secara enteng, mereka lari ke arah tempat gelap.
"Kejar, kejar!" begitu tentara kerajaan Beng berteriak-teriak, ketika mereka lihat dua orang berlari-lari. Dan mereka segera mengejar seraya terus memanah juga.
Ciu San lari di belakang Sin Cie, dengan kongcee, dan tameng kwali, ia tangkis pelbagai gandewa, hingga kwalinya menerbitkan suara berisik berulang-ulang.
Di sebelah depan mereka, ada beberapa serdadu, yang merayap naik, yang memegat, tapi berdua, guru dan murid itu, serang mereka, hingga belasan serdadu rubuh.
Sin Cie bersenjatakan tumbak pendek, di waktu demikian, senjata itu tidak leluasa dipakainya, karena itu, ia lebih banyak lindungi diri.
Tidak lama, mereka telah sampai di tengah gunung, baru mereka bernapas lega sedikit, lantas terdengar suara riuh, disusul sama munculnya sebarisan serdadu Beng Tiauw dengan yang maju di muka ada satu Cian-bu atau kapten, yang bersenjatakan sebatang golok besar, malah terus saja dia bacok Ciu San.
Cu Ciu San tangkis bacokan itu, ia merasakan tenaga musuh yang besar, maka dengan sebat, ia balas menyerang.
Kapten itu menangkis seraya ia serukan barisannya: "Saudara-Saudara, maju!"
Ciu San tidak mau melayani lama-lama, dengan tamengnya, ia ancam kapten itu, dengan cagaknya, ia membarengi menikam, berbareng dengan mana, ia pun membentak.
Celaka adalah kapten itu, iganya kena tertusuk.
Selagi Ciu San cabut senjatanya, ia menoleh, ia tidak lihat Sin Cie, bukan main terkejutnya ia. Di sebelah kiri ada suara berisik, ia lihat serdadu-serdadu berkerumun, ia lari ke sana. Beberapa serdadu mundur sendirinya melihat ia merangsak.
Nyata di situ Sin Cie sedang dikepung tiga serdadu, tumbak pendeknya sudah terlepas jatuh, maka dia melawan dengan gunai Hok-houw-ciang, dengan tangan kosong. Kelihatan nyata ia sedang terdesak.
Tanpa bersuara lagi, Ciu San berlompat kepada musuh, terus ia menyerang. Satu serdadu rubuh, menyusul yang lain, dengan begitu, Sin Cie dapat ditolong.
"Mari!" mengajak sang guru.
"Kejar!" berseru serdadu yang ketiga.
Tidak jauh dari situ masih ada kawan mereka, dua di antaranya lantas maju.
Dengan satu loh-bee, gerakan berbalik, Ciu San rubuhkan dua serdadu, kemudian ia terjang yang ketiga, yang coba merangsak. Serdadu yang ketiga itu kena dilemparkan hingga dia rubuh terbanting sambil perdengarkan jeritan hebat.
Menampak demikian, serdadu-serdadu yang lainnya merandek, tak berani mereka mendesak.
Ciu San sambar Sin Cie, untuk dipondong, buat dibawa kabur dengan gunai ilmunya entengi tubuh. Ia tunggu sampai ia sudah terpisah jauh dari tentara negeri, baru ia lepas turun muridnya itu.
"Apakah kau terluka?" dia tanya.
Sin Cie usap mukanya, ia kena raba barang bergenjik, waktu ia lihat tangannya antara cahaya rembulan, ia lihat barang cair merah, ialah darah. Ia terkejut. Ia pun kaget, akan lihat muka gurunya berlepotan darah juga.
"Encek Cui, darah, darah....." ia berseru.
"Tidak apa, inilah darahnya lain orang," sahut Ciu San. "Kau terluka atau tidak?"
"Tidak," jawab sang murid.
"Bagus! Mari kita pergi!" guru itu mengajak.
Mereka lantas nyelusup antara pepohonan, akan pergi dari tempat berbahaya itu. Mereka sudah jalan kira-kira setengah jam, sampai tidak ada pepohonan lagi, ketika Tiong Siu melongok ke bawah, ia tampak cahaya terang, ada beberapa ratus serdadu menjaga di situ.
"Kita tak dapat turun, mari mundur...." Ia bilang.
Mereka jalan beberapa ratus tindak, sampai mereka lihat sebuah gua cetek yang tertutup pepohonan. Keduanya masuk, untuk umpatkan diri.
Sin Cie merasa sangat lelah, dasar anak kecil, ketika ia rebahkan diri, cepat sekali, ia jatuh pulas.
Ciu San angkat tubuh orang, buat dipeluki, supaya murid itu tidur di pangkuannya, sembari berbuat begitu, ia pasang kuping, hingga ia dengar, suara riuh masih belum berhenti. Kemudian ia dengar suara merotok keras, disusul sama naik tingginya cahaya api.
Teranglah sudah, kuilnya Wan Cong Hoan telah dibakar tentara Beng.
Masih berselang sekian lama, baru terdengar suara terompet tentara, tandanya mereka dititahkan berkumpul, untuk turun gunung, buat angkat kaki.
Ciu San terus pasang kuping ketika kemudian ia mengeluh sendirinya. Ia dengar tindakan kaki yang ramai, yang makin lama makin nyata. Rupanya barisan serdadu mendatangi ke arah guha yang mesti dilalui mereka.
Jikalau dia dipergoki.....
(Bersambung bab ke 3)
Bab 3
Tiba-tiba terdengar suara orang duduk di luar gua, yang teraling pepohonan balabergombolan. Dengan tangan kanan cekal senjatanya, dengan tangan kiri Ciu San tekap mulutnya Sin Cie. Ia kuatir bocah ini mendusin dan menjadi kaget karenanya, dengan begitu dia bisa berteriak.
Untuk sesaat kesunyian berkuasa di tempat sunyi itu. Lalu tiba-tiba: "Pemberontak she Wan itu ada tinggalkan satu anak, ke mana perginya bocah itu?" demikian satu suara yang keras.
Benar-benar Sin Cie tersadar karena suara itu, tapi Ciu San telah siap, ia bisa cegah bocah ini buka mulutnya.
"Diam...." Dia kisiki.
"Kau mau omong atau tidak?" kembali terdengar suara keras tadi. Itulah satu pertanyaan bengis. "Jikalau tetap kau tutup mulut, lebih dahulu aku akan bacok kutung sebelah kakimu!"
"Jikalau kau hendak bacok, bacoklah!" terdengar satu suara lain, ialah suaranya orang yang diancam itu. "Selama di perbatasan, dengan tumbak dan golok, aku biasa hajar bangsa Tartar, mustahil aku jeri terhadapmu, dorna!"
Itulah suaranya Eng Siong.
Sin Cie terkejut.
"Eng Siokhu..."kata ia, tapi suaranya pelahan.
"Eh, apa benar kau tidak mau bicara?" teguran diulangi.
"Cis!" terdengar suaranya Eng Siong, yang ludahi orang yang ancam dia. "Aduh!..."
Jeritan itu menyusuli suatu suara keras, rupanya benar-benar kakinya Eng Siong dibacok kutung! Tak bisa Sin Cie bersabar lagi, ia berontak dari cekalannya Ciu San.
"Eng Siokhu!" ia menjerit sambil ia loncat keluar gua. Maka ia bisa lihat, antara cahaya api, seorang yang bersenjatakan golok, lagi ayunkan senjatanya ke arah tanah di mana ada seorang menggeletak. Ia berlompat, ia menyerang dengan ilmu pukulan "Co-kie-yo-kim", atau "Kiri Menyerang, Kanan Menangkap," salah satu jurus dari Hok-houw-ciang.
Orang dengan golok di tangan itu, yang kejam, menjerit bahna kesakitan, sebab tahu-tahu matanya kena toyoran, sedang selagi ia menjerit dan kesakitan itu, lengannya pun dirasai sakit, lantas goloknya kena dirampas! Sin Cie tidak bekerja sampai di situ saja, menyusuli dengan sebat, ia bacok pundak orang, benar tenaganya tidak cukup besar, pundak itu tidak sampai terbacok kutung, toh orang telah jadi pusing kepala dan matanya kabur saking sakitnya.
Di situ ada sejumlah serdadu lain, mereka kaget tapi mereka tidak berdaya untuk mencegah, setelah mereka dapati, penyerang gelap ini ada bocah, mereka lantas maju untuk menyerang.
Dalam saat Sin Cie terancam bahaya, dari dalam gua loncat keluar satu orang lain dengan kongcee di tangan, dia cuma berkelebat, lantas senjatanya itu menangkis berbagai senjata yang mengancam si bocah cilik, hingga sekalian penyerang itu terperanjat, tangannya kesakitan, ada antaranya, yang senjatanya terpental dan terlepas.
Selagi serdadu-serdadu itu kaget, Ciu San sambar Sin Cie untuk terus dibawa lari turun gunung, ketika kemudian mereka dihujani anak-panah, mereka keburu lari jauh.
Di antara serdadu-serdadu itu, yang atas titahnya Thaykam Co Hoa Sun, ada empat yang pandai silat, kapan mereka ini tampak Ciu San mereka segera lompat mengejar, satu antaranya malah keluarkan tiga batang panah-tangan, sebab terdapat kenyataan, walaupun sedang kempit orang, Ciu San bisa berlari-lari dan berlompatan dengan keras.
Ciu San masih dengar sambaran angin, lekas-lekas ia mendak, dengan begitu, tiga batang anak panah lewat di atasan kepalanya.


0 komentar:
Posting Komentar