Home » » PEDANG ULAR MAS 21

PEDANG ULAR MAS 21

Jilid 21

"Aku hendak coba pelajaran yang kau ajari aku, aku ingin saksikan mereka mampu atau tidak menyerang kepadaku," Sin Cie bilang.

"Jikalau begitu, lebih-lebih aku ingin menyaksikannya!" si nona mendesak. "Aku janji padamu aku tidak akan turut bicara."

"Bagaimana kalau kau berpura-pura gagu?" tanya Sin Cie sambil tertawa.

Nona itu manggut.

"Baik, aku akan berpura-pura gagu!" katanya.

Tak dapat Sin Cie tolak nona yang biasa dimanjakan ini, terpaksa ia mengajaknya. Waktu ia mau pergi, ia cari Bhok Siang Toojin di kamarnya, untuk pamitan, akan tetapi si imam masih saja tidur, beberapa kali dia dipanggil-panggil, tidak juga dia mendusi, hingga kedua anak muda ini terpaksa tinggalkan dia.

Ciu San juga entah telah pergi ke mana.

Dua-dua, Sin Cie dan Ceng Ceng sudah kenal baik kota Lamkhia, tak susah mereka cari panggung Ie Hoa Tay. Mereka pun pergi dengan menunggang kuda, dengan meminjam dua ekor kudanya keluarga Ciauw.

Pada kira-kira jam sebelas malam barulah dua pemuda ini sampai di Ie Hoa Tay, di situ mereka tidak lihat seorang pun, maka mereka duga, Kwie Sin Sie masih belum sampai. Mereka turun dari kuda, untuk duduk di tanah, akan menanti.

Selang kira-kira setengah jam, dari arah timur kelihatan berkelebatan dua bayangan manusia, yang lari mendatangi, lalu mereka itu menepuk tangan dua kali.

Dengan lantas Sin Cie tepuk tangannya, untuk menyambuti.

Satu bayangan, yang segera sampai, lantas menanya: "Apakah Wan Susiok sudah sampai?"

"Aku sudah menantikan jie-suko dan jie-suso," sahut Sin Cie, yang kenali Lauw Pwee Seng, muridnya sang kanda seperguruan yang kedua.

Nyata Pwee Seng datang bersama-sama Bwee Kiam Hoo, yang belakangan ini segera mendekati.

Lagi sesaat, dari kejauhan terdengar satu suara nyaring: "Dia sudah datang! Bagus!"

Baru suara itu berhenti atau dua orang mencelat muncul di depan Sin Cie berempat. Ceng Ceng terperanjat, karena ia kagumi ilmu entengkan tubuh yang sempurna itu.

Pwee Seng dan Kiam Hoo minggir, untuk buka jalan bagi kedua orang yang baru datang itu, ialah kedua guru mereka.

Masih kelihatan satu bayangan berlari-lari mendatangi, apabila dia sudah datang dekat dia ternyata adalah Sun Tiong Kun, yang tangannya mengempo satu anak kecil. Dia ketinggalan, terang itulah bedanya kepandaiannya lari keras dari kedua gurunya suami­isteri itu. Itu bocah adalah bocah kesayangan Kwie Sin Sie suami-isteri.

"Sungguh Tuan Wan harus dipercaya!" kata Kwie Jie-nio dengan dingin. "Kita berdua mempunyai lain urusan penting, supaya tidak buang-buang tempo percuma, silakan kau mulai menyerang."

Sin Cie bukannya lantas menyerang, ia hanya angkat kedua tangannya untuk memberi hormat.

"Kedatanganku ini kemari adalah untuk haturkan maaf kepada Suko dan Suso," kata ia dengan sabar. "Siauwtee telah bikin patah pedang Suso, itu telah dilakukan karena siauwtee tak mengetahuinya terlebih dahulu, untuk kelancanganku ini, dengan memandang kepada suhu, harap Suko dan Suso suka maafkan aku."

Masih Kwie Jie-nio bersikap keras.

"Kau benar sutee kita atau bukan, siapakah yang ketahui?" kata dia dengan dingin. "Baik kita bertanding dulu, baru kita bicara pula!"

Sin Cie tetap dengan sikapnya mengalah, ia tak mau turun tangan.

Kwie Jie-nio mengawasi, melihat orang mengalah terus, ia anggap orang jeri terhadapnya, ia menyambar dengan tangannya yang kiri, dari samping.

Sin Cie lenggakkan kepala, dengan begitu tangan sang suso lewat tepat di depan hidungnya. Ia bebas dari serangan akan tetapi ia terperanjat.

"Siapa sangka, meski dia hanya seorang perempuan, serangannya sebat sekali," pikir Sin Cie.

Kwie Jie-nio dapatkan tangan kirinya tak memberi hasil, segera ia menyusuli dengan tangan kanan. Ia gunai ilmu pukulan "Sin Kun" atau "Kepalan Malaikat" dari Hoa San Pay.

Sin Cie kenal baik ilmu pukulan ini, ia berkelit sambil kasi turun kedua tangannya, lurus sampai di paha, dikasi rapat dengan pahanya itu. Inilah tanda bahwa ia suka mengalah, tak ingin ia balas menyerang.

Kwie Jie-nio jadi sangat penasaran, maka ia ulangi serangannya, malah terus-menerus, sampai lebih dari sepuluh kali. Bisa dimengerti jikalau sesuatu gerakannya cepat sekali dan setiap pukulannya berat, hebat apabila mengenai sasarannya. Tapi semua itu Sin Cie dapat egoskan dengan gerakan tubuhnya yang pesat dan lincah. Tetap anak muda ini tak hendak menangkis atau balas menyerang.

Kwie Sin Sie saksikan pertempuran itu, hatinya bercekat, ia pun gegetun.

"Anak muda ini liehay sekali," pikir ia. Tapi yang membuat ia heran adalah gerakan si pemuda, sebagian mirip dengan ilmu silat Hoa San Pay, sebagian besar lagi berbeda. Hingga akhirnya ia mau menduga, entah siapa dia ini yang berpura-pura jadi murid gurunya, untuk bisa mencuri pelajaran saja. Karena ini, ia memasang mata dengan tajam, untuk memperhatikan terlebih jauh, ia kuatir isterinya nanti gagal karena isteri itu berkelahi dengan sangat bernapsu.

"Kau tidak mau balas menyerang, kau sangat pandang enteng kepadaku, aku nanti kasi kau kenal liehaynya Kwie Jie-nio!" kata si nyonya yang keras perangainya sesudah berulang-ulang ia gagal dengan pelbagai serangannya. Ia lantas menyerang, kali ini dengan kedua tangan yang saling susul, makin lama makin seru. Karena ini, ia sampai lupa bagian penjagaan diri.

Sin Cie mengeluh di dalam hatinya karena desakan hebat dari ini enso, yang di lain pihak ia pun kagumi, karena sang enso benar-benar liehay.

"Inilah berbahaya untukku, apabila terpaksa, aku mesti tangkis dia," akhirnya ia ambil putusan.

Sun Tiong Kun saksikan pertempuran guru perempuannya dengan hati panas dan mendongkol, karena sampai sebegitu jauh ia saksikan tetap saja Sin Cie main berkelit saja. Ia juga heran kenapa gurunya belum pernah berhasil menyerang jitu kepada anak muda itu. Selagi hatinya panas, ia tampak Ceng Ceng sedang menonton dengan wajah riang gembira, air mukanya ramai dengan senyuman berseri-seri. Mendadak dia menjadi naik darah. Tidak tempo lagi, ia serahkan anak kecil dalam empoannya kepada Bwee Kiam Hoo, lantas ia cabut pedangnya dengan apa ia berloncat kepada Ceng Ceng, yang ia serang dadanya tanpa bilang suatu apa!

Nona Oen kaget sekali, cepat-cepat ia berkelit. Ia bingung, karena ia datang - dengan penuhkan keinginannya Sin Cie - tanpa membawa senjata tajam. Sekarang ia diserang oleh seorang aseran dan ia segera diserang berulang-ulang, hingga, mulai dari terdesak, ia jadi repot. Ia memang bukan tandingan nona Sun itu, sekarang pun ia bertangan kosong, pasti sekali ia jadi sangat sibuk.

Sin Cie, yang lagi layani ensonya, lihat Ceng Ceng diserang Tiong Kun, ia jadi berkuatir, karena ia tahu, Ceng Ceng bukan tandingan Hui-Thian Mo Lie yang telengas. Ia ingin tolongi si nona akan tetapi ia sendiri lagi didesak Kwie Jie-nio.

"Jangan kau lukai orang!" Kwie Sin Sie peringati Tiong Kun.

"Dia puteranya Kim Coa Long-kun, dialah si biang keladi!" Tiong Kun bilang.

Kwie Sin Sie dengar Kim Coa Long-kun kejam, dia anggap orang bukan orang baik, maka ia lantas tutup mulut.

Sun Tiong Kun anggap gurunya itu terima baik alasannya itu, ia lantas melanjuti menyerang dengan pedangnya dengan terlebih-lebih hebat, hingga di antara berkilau­kilaunya pedang, jiwanya Ceng Ceng sangat terancam bahaya maut.

Dalam sibuknya Sin Cie mengerti itulah ancaman hebat bagi Ceng Ceng, lalu ia paksakan diri akan cari ketikanya akan menyingkir dari sang enso. Masih ia lonjorkan kedua tangannya, tapi sekarang ia coba tendang ensonya itu dengan kaki kiri dan kanan bergantian, begitu ada ketikanya yang baik. Beruntun ia menendang sampai enam kali, tapi setiap kali kakinya hampir mengenai sasaran, segera kaki itu ditarik pulang. Secara begini ia berhasil akan desak mundur nyonya yang berhati panas itu.

Sin Cie gunai ketikanya dengan baik sekali, dengan tiba-tiba ia berlompat ke arah Sun Tiong Kun, guna dengan tangan kirinya totok bebokongnya si nona, maksudnya adalah untuk merampas pedangnya.

Dalam saat itu Tiong Kun menghadapi bencana, tiba-tiba terdengar seruan keras dan panjang dari samping, tahu-tahu tubuhnya Kwie Sin Sie sudah mencelat ke arah suteenya pinggang siapa ia ancam dengan satu serangan hebat.

Sin Cie ketahui datangnya serangan itu, untuk tolong diri, ia batalkan serangannya kepada Nona Sun. Ia tidak berkelit, ia hanya gunai tangan kanannya, untuk menangkis, guna sekalian gaet tangannya sang suko. Ketika kedua tangan bentrok, tubuh Sin Cie tertolak ke belakang, hingga ia terperanjat. Sebab sejak turun gunung, belum pernah ia ketemui lawan setangguh suko ini.

"Aku tahu Jie-suko liehay, tetapi ia bertubuh begini kurus-kering, siapa tahu tenaganya begini besar?" ia berpikir. Karena ini, suko itu cocok sama julukannya, "Sin-kun Bu-tek," atau "Kepalan Dewa Tanpa Tandingan".

Habis itu, Sin Cie berdiri tegak, hingga untuk kedua kalinya datanglah sambaran tangan kiri dari kanda seperguruan yang kedua itu. Sementara itu, Kwie Jie-nio sendiri sudah berdiri di pinggiran.

Sekarang Sin Cie sudah siap, ia berkelit dengan pundak kiri diegoskan, hingga serangan kedua dari sang suko gagal pula. Ia telah coba satu jurus dari "Pek-pian-kwie-eng".

Kwie Sin Sie menyerang pundak, akan tetapi ia tidak berlaku sungguh-sungguh, ia niat lantas tarik pulang tangannya itu. Biar bagaimana, ia masih hormati gurunya, tidak mau ia lukai sutee itu. Di luar sangkaannya, serangannya yang hebat itu dapat dikelit Sin Cie, hingga tanpa menginsafi, ia berseru: "Kau gesit sekali!"

Seruan ini disusul dengan serangan yang ketiga, gerakannya sama dengan gerakan tangannya Kwie Jie-nio tadi, hanya serangan ini lebih cepat lagi, lebih berat pula.

"Tidak heran Jie-suko jadi sangat kesohor," pikir Sin Cie, yang kagum tak terkira. "Pantaslah murid-muridnya pun sangat dimalui, kiranya dia telah peroleh kesempurnaan pelajarannya suhu."

Terus Sin Cie gunai "Pek-pian-kwie-eng" untuk layani saudara seperguruan ini, tapi ia masih belum punyakan latihan yang cukup. Maka kadang-kadang ia campur itu dengan "Hok-houw-kun" -"Kepalan Takluki Harimau" dari Hoa San Pay, buat menangkis, hingga berdua mereka bisa bertempur dengan seru.

Sun Tiong Kun di lain pihak masih desak terus pada Ceng Ceng. Seperti juga ia telah peroleh perkenan dari gurunya, ia jadi bisa bertindak dengan merdeka. Ia girang melihat lawannya repot melayaninya.

"Sumoay, jangan lancang melukai orang!" Pwee Seng dan Kiam Hoo memperingati.

Baru nasihat itu diperdengarkan atau pedangnya Tiong Kun sudah sambar dadanya Ceng Ceng. Dia ini mati jalan, terpaksa ia buang diri dengan melenggak, dengan lompat jumpalitan, akan terus bergulingan di tanah. Masih saja Tiong Kun menyerang, selagi orang berguling, ia membabat. Ceng Ceng lolos, ikat kepalanya kena ditabas, karena mana, terlepaslah rambutnya yang panjang dan hitam sampai menutupi mukanya.

Menampak itu, Sun Tiong Kun tercengang. Tidak pernah ia sangka, si pemuda sebenarnya adalah satu pemudi. Tapi karena ia penasaran, ia maju pula, akan lanjuti serangannya.

Selagi Ceng Ceng terancam bahaya, dengan sekonyong-konyong terdengar seruan nyaring dan bengis yang datangnya dari atas pohon di samping mereka: "Oh, nona yang kejam!" Lantas seruan itu disusul dengan melayang turunnya satu tubuh, sebelum Tiong Kun tahu apa-apa, pedangnya sudah kena ditendang hingga terlepas, dan tentu saja ia jadi kaget sekali.

Orang asing itu adalah satu imam, alis dan kumis-jenggotnya telah putih semua, dia berdiri melintang di depan Ceng Ceng.

Sun Tiong Kun mengawasi dengan tecengang, bersama-sama dengan Pwee Seng dan Kiam Hoo, ia tidak kenal imam itu.

Akan tetapi Kwie Jie-nio kenali Bhok Siang Toojin, sahabat kekal dari gurunya, ia lekas­lekas menghampirkan, untuk memberi hormat.

"Jangan repot dengan cara-hormat saja, lihatlah itu suheng dan sutee sedang berlatih!" katanya sambil tertawa.

Kwie Jie-nio lantas berpaling kepada suaminya, siapa lagi tempur Sin Cie dengan tubuh mereka bergerak bagaikan dua bayangan berkelebatan, anginnya menderu-deru. Sin Sie pesat tapi Sin Cie gesit, kalau yang satu mewariskan satu guru, yang lain adalah ahli warisnya tiga guru yang liehay....

Makin lama pertempuran jadi makin seru, walau demikian, Sin Cie berada di pihak lebih lemah. Dia berkelahi dengan gunai ilmu silat Hoa San Pay, benar ia pandai menggunainya, akan tetapi dari Sin Sie, ia kalah latihan, kalah pengalaman. Di lain pihak, ia lebih banyak menangkis, tidak berani ia keluarkan seantero kepandaiannya.

Kwie Jie-nio girang melihat suaminya menang di atas angin, tetapi meski demikian, sekarang tidak lagi ia sangsikan Sin Cie sebagai suteenya, karena ia telah saksikan baik-baik, ilmu silat Sin Cie tulen dari Hoa San Pay.

Sin Cie terdesak terus, untuk menyingkirkan ancaman bahaya, tiba-tiba ia ubah caranya bersilat, maka selanjutnya, tubuhnya bergerak-gerak licin bagaikan ular air. Sebab sekarang terpaksa ia gunai ilmu silatnya Kim Coa Long-kun, ialah "Kim Coa Yu-sin­ciang" atau "Ular Emas main-main". Itulah ilmu entengkan tubuh yang dicangkok dari ular yang lagi berenang memain di muka iar. Untuk ini, Sin Cie boleh tak usah balas menyerang lagi. Dengan gunai "Pek-pian-kwie-eng" tubuhnya jadi bertambah licin....

Kwie Sin Sie boleh liehay sekali, akan tetapi sekarang ia putus asa untuk berikan serangan berarti terhadap sutee itu, hingga ia pun jadi kagum berbareng heran.

Pertempuran dilanjuti sampai beberapa puluh jurus lagi dengan hasilnya tetap masih tidak ada, sekonyong-konyong Sin-kun Bu-tek berlompat keluar dari kalangan sambil serukan: "Tahan!"

Sin Cie heran, akan tetapi ia berhenti bergerak, di dalam hatinya, ia kata: "Dia tak berhasil memukul aku, ini artinya kita seri, kedua pihak telah dapat lindungi muka mereka, pantaslah pertempuran habis sampai di sini..."

Setelah berdiri di pinggiran, Kwie Sin Sie dongak sambil terus menjura ke arah atas, ke arah satu pohon.

"Suhu, Suhu telah datang!" katanya.

Mendengar ini, Sin Cie terperanjat, ia heran. Ia mengawasi ke pohon, ke arah mana Sin Sie memberi hormat, dari situ ia tampak empat bayangan berlompat turun saling-susul, hingga di lain saat ia telah dapat lihat tegas empat orang itu, yang pertama ialah gurunya, Pat-chiu Sian-wan Bok Jin Ceng, hingga tak ayal lagi, ia lari mendekati, untuk memberi hormat sambil paykui. Kemudian barulah ia berbangkit, akan awasi tiga yang lain. Ialah Cui Ciu San, Toasuhengnya Tong-pit Thie-shuiphoa Oey Cin dan di paling belakang, A Pa, si empeh gagu, sahabat karibnya di dalam guha.

Dalam kegirangannya yang luar biasa itu, Sin Cie segera bicara sama A Pa, sudah tentu dengan main gerak-gerik tangan mereka.

"Dasar aku kurang pengalaman, aku layani suko tanpa aku perhatikan segala apa di sekelilingku," pikir pemuda ini. "Coba yang sembunyi di atas itu bukannya suhu, hanya orang lain, apa aku tidak bakal celaka karena bokongan?"

Karena ini, ia kagumi Kwie Sin Sie.

Bok Jin Ceng usap-usap kepala muridnya yang bungsu.

"Toasukomu telah tuturkan aku perihal perbuatanmu di Kie-Ciu, Ciatkang, perbuatanmu itu tak dapat dicela," berkata guru ini sambil tertawa. Setelah itu, mendadak tampangnya jadi sungguh-sungguh ketika ia kata dengan keras: "Kau, seorang anak muda, mengapa kau tidak hormati orang yang terlebih tua? Kenapa kau lawan sukomu?"

Sin Cie terkejut, lekas-lekas ia tunduk.

"Teecu bersalah, lain kali teecu tak berani pula," kata ia. Terus ia hampirkan Kwie Sin Sie dan Kwie Jie-nio, untuk menjura kepada mereka seraya berkata: "Siauwtee haturkan maaf kepada Suko dan Suso."

Meskipun Kwie Jie-nio aseran akan tetapi jujur.

"Suhu, jangan Suhu tegur sutee," ia bilang. "Adalah aku dan suamiku yang paksa ia melayani berkelahi. Yang aku sesalkan adalah Sutee sudah gunai ilmu silatnya lain kaum untuk menghina kepada beberapa muridku yang tidak berharga..."

Nyonya Kwie lantas tunjuk Pwee Seng tiga saudara seperguruan.

"Bicara tentang pelbagai kaum persilatan, hatiku tawar," berkata Bok Jin Ceng dengan sabar. Lalu terus ia menoleh pada Kiam Hoo. "Eh, Kiam Hoo, mari!" ia panggil cucu muridnya yang berangasan itu. "Aku hendak tanya kau. Dia ini sudah berani lawan suhengnya bertempur, dialah yang salah! Akan tetapi kamu bertiga, kenapa kamu berani lawan susiokmu? Di dalam kalangan kita mempunyai aturan yang tertua dan yang termuda, apakah kamu sudah tidak hormati tingkatan derajat itu?"

Kiam Hoo, begitu juga Pwee Seng, tidak berani mendusta terhadap su-couw itu, si kakek guru, maka mereka akui kesalahan mereka, untuk itu Kiam Hoo tuturkan asal mulanya, ketika mereka bantui Bin Cu Hoa yang memusuhkan Ciauw Kong Lee. Ia tuturkan semua dengan jelas, kecuali di bagian Sun Tiong Kun tabas tangannya Lo Lip Jie, ia lewatkan itu.

Ceng Ceng tidak puas dengan cerita tak lengkap itu.

"Dengan telengas dia telah tabas kutung sebelah tangan orang!" ia campur bicara, suaranya keras. "Wan Toako tidak puas dengan perbuatan kejam itu, karenanya ia campur tangan!"

Wajahnya Bok Jin Ceng jadi guram.

"Apakah itu benar?" ia tanya. Kwie Sin Sie dan isterinya masih belum tahu hal itu, maka keduanya awasi Sun Tiong Kun, si nona yang disebut sebagai si "dia" oleh nona Oen.

Kiam Hoo jawab gurunya, dengan pelahan:

"Sun Sumoay kira dia seorang jahat, maka ia turun tangan dengan tidak mengenal ampun lagi," katanya. "Sekarang sumoay telah jadi sangat menyesal. Harap Su-couw suka mengasi ampun..."

"Pantangan paling besar dari kaum kita Hoa San Pay adalah melukai atau membunuh tanpa sebab!" berseru dia. "Sin Sie, ketika kau mulai terima murid, apakah kau tidak jelaskan pantangan kita itu kepadanya?"

Belum pernah Sin Sie dapatkan gurunya gusar demikian rupa, lekas-lekas ia berlutut di depan guru itu.

"Teecu telah keliru mendidik, harap Suhu jangan gusar," ia mohon. "Nanti teecu tegur padanya."

Kwie Jie-nio pun lantas berlutut di depan guru itu, maka perbuatannya lantas diturut oleh Lauw Pwee Seng, Bwee Kiam Hoo dan Sun Tiong Kun. Ketiga murid ini berlutut di belakang Kwie Sin Sie.

Bok Jin Ceng masih gusar. Ia tegur Sin Cie:

"Kau telah saksikan kejadian itu, kenapa kau sudah saja dengan cuma patahkan pedang? Kenapa kau juga tidak tabas kutung sebelah lengannya? Kita tidak jaga baik nama kita, kita tidak taat kepada pantangan sendiri, apakah kita tak bakal ditertawai, dihinai sesama sahabat Kang-ouw?"

Sin Cie pun lekas-lekas berlutut, ia manggut-manggut.

"Teecu bersalah, Suhu," ia akui. Ia tak mau omong banyak.

Pat-chiu Sian Wan si Lutung Sakti Tangan Delapan tertawa dingin.

"Mari kau!" ia panggil Sun Tiong Kun.

Nona itu takut bukan main, tidak berani ia menghampirkan kakek guru itu, ia terus mendekam di tempatnya, ia manggut berulang-ulang.

"Apakah kau tidak mau menghampirkan?" tanya Bok Jin Ceng.

Kwie Jie-nio sangat takut, ia tahu maksud gurunya itu, ialah sang guru hendak bikin Sun Tiong Kun menjadi satu manusia bercacat. Tapi Tiong Kun ada murid kesayangannya, bagaimana ia tega. Maka ia lantas manggut-manggut pada guru itu.

"Suhu, harap Suhu jangan gusar," memohon dia. "Sepulangnya nanti teecu beri ajaran kepadanya."

"Kau juga kutungi sebelah tangannya, besok kau ajak dia pergi kepada keluarga Ciauw untuk menghaturkan maaf!" kata guru itu.

Dalam takut dan kekuatirannya yang sangat, Kwie Jie-nio bungkam.

Tapi Sin Cie segera berkata: "Mengenai urusan dengan keluarga Ciauw itu, teecu sudah menghaturkan maaf. Lalu dari itu teecu juga telah janjikan orang yang dikutungi sebelah tangannya itu pelajaran silat dengan sebelah tangan. Karena itu, pihak Ciauw sudah terima baik perdamaian, sekarang sudah tidak ada urusan apa-apa lagi."

"Hm!" berseru guru itu. "Sekarang bangunlah semua! Sukur Bhok Siang Toojin bukannya orang luar, apabila tidak, dia boleh tertawai kita hingga kita mati semua! Dasar Bhok Tooyu yang cerdik, setelah dapat pengalaman buruk dari muridnya, selanjutnya tak mau ia menerima murid pula, hingga tak usah ia mendapati hal-hal yang memalukan."

Kwie Sin Sie semua berbangkit.

Bok Jin Ceng melirik kepada Sun Tiong Kun, justeru itu cucu murid lagi memandang dia, cucu murid ini kaget, lekas-lekas ia berlutut pula, karena ia jeri untuk sinar mata berpengaruh dari si kakek guru.

"Mari pedangmu, serahkan padaku!" Bok Jin Ceng kata pada cucu-murid itu.

Sun Tiong Kun terima perintah dengan hati memukul keras, dengan kedua tangannya ia persembahkan pedang yang diminta, kedua tangannya diangkat sampai di atasan kepalanya.

Su-couw itu sambuti gagang golok, ketika ia menarik, Tiong Kun menjerit dengan tiba-tiba: "Aduh!" Lantas saja darah mengucur dari tangannya yang kiri, di mana jari kelingking telah tertabas kutung pedangnya sendiri, hingga ia merasakan sakit bukan main.

Bok Jin Ceng geraki pula tangannya yang memegang pedang itu, untuk mana tangan kanannya dibantu tangan kiri, atas mana, pedang itu terpatah dua dengan menerbitkan suara nyaring.

"Mulai hari ini sampai selanjutnya, aku larang kau gunai pedang!" berkata sang kakek guru dengan suaranya yang bengis.

"Teecu terima," sahut Tiong Kun dengan menahan sakit. Ia malu dan kaget, air matanya sampai mengucur keluar.

Kwie Jie-nio robek ujung bajunya, untuk pakai itu membungkus luka jeriji muridnya itu.

"Bagus, tak nanti kau dihukum pula," ia bisiki sang murid.

Tiong Kun berdiam, ia cuma bisa menangis.

Bwee Kiam Hoo saksikan caranya sang kakek guru patahkan pedang, sekarang barulah ia percaya habis kepandaian Sin Cie, ketika pemuda ini patahkan pedangnya Tiong Kun. Karena ini ia pun jadi insyaf, ilmu silat Hoa San Pay sangat liehay, bahwa ia baru dapat pelajarkan kulitnya saja, hingga tidak ada alasan untuk ia menantang di luar, untuk menjagoi. Ia menyesal, ia pun kuatir nanti dihukum kakek itu, diam-diam ia kucurkan keringat dingin di bebokongnya.

Bok Jin Ceng deliki cucu murid ini tapi ia diam saja.

"Kau telah janjikan orang itu pelajaran silat, kau mesti ajarkan dia baik-baik," Couwsu ini kata kepada Sin Cie, kepada siapa ia berpaling. "Kau hendak ajarkan apa padanya?"

Mukanya Sin Cie menjadi merah.

"Teecu belum dapat perkenan dari Suhu, tidak berani teecu sembarang turunkan pelajaran kita kepada lain orang," ia jawab. "Tadinya teecu memikir untuk ajari dia ilmu golok tunggal Tok-pie-too-hoat, ialah semacam pelajaran yang teecu ciptakan sendiri dari hasil campur-baur."

"Pelajaran campur-baurmu terlalu sedikit kelebihan!" berkata sang guru, yang tapinya tidak gusar. "Ketika kau barusan layani Jie-sukomu, kau seperti gunai ilmu silat istimewa Pek-pian-kwie-eng dari Bhok Siang Tooyu. Kau telah dapatkan satu sahabat-karib tukang main tio-kie, yang suka membantu kepadamu, maka itu pasti sekali Jie-sukomu tidak sanggup berbuat suatu apa atas dirimu!....."

Lalu jago tua ini tertawa terbahak-bahak.

Bhok Siang Toojin juga tertawa lebar.

"Eh, Sin Cie," katanya kepada si anak muda, "berani atau tidak kau mendusta di depan gurumu?"

"Teecu tidak berani, tootiang," Sin Cie jawab.

"Kau tidak berani, bagus!" imam itu kata. "Sekarang aku hendak tanya kau: Sejak kau meninggalkan Hoa San, pernah atau tidak aku mengajarkan pula ilmu silat kepadamu? Dengar biar tegas, aku maksudkan, benar atau tidak aku sendiri yang mengajarkan pula padamu?"

Sin Cie bercekat. Baru sekarang ia mengerti kenapa imam itu, untuk ajarkan ia "Pek-pian-kwie-eng" mesti pakai perantaraannya Ceng Ceng. Jadi inilah maksudnya, untuk cegah Jie-sukonya Kwie Sin Sie nanti mengiri dan menegur gurunya berat sebelah. Sungguh si imam sangat licik, hingga siang-siang ia sudah sedia tameng!

"Tootiang belum pernah ajarkan sendiri ilmu silat lainnya kepadaku," ia jawab imam itu. "Sejak pertemuan kita paling belakang, begitu bertemu kita berdua lantas main catur."

"Nah, itulah dia!" berseru Bhok Siang Toojin, yang tertawa pula. "Sekarang kau coba berlatih pula dengan suhengmu ini, aku larang kau gunai semua ilmu silat yang dahulu pernah aku ajarkan padamu."

"Jie-suko tersohor dengan julukannya Sin-kun Bu-tek, itulah pujianyang sebenar-benarnya," Sin Cie bilang, "tadi pun teecu sudah kewalahan, selagi teecu berniat minta pertandingan dihentikan saja, sukur Suhu keburu datang. Coba temponya terlambat, tentulah teecu habis daya...."

Bok Jin Ceng tertawa. Ia puas karena murid muda ini pandai sekali bawa dirinya.

"Sudah, sudah," kata dia. "Tootiang ingin kau berlatih pula, cobalah lagi sekali kau pertontonkan keburukanmu....."

Sin Cie terdesak, tak berani ia membantah pula. Maka setelah rapikan pakaiannya, ia hampirkan Kwie Sin Sie untuk menjura kepada jie-suheng itu.

"Jie-suko, aku mohon kau beri pimpinan padaku," ia minta. Kembali ia unjuki sifat halusnya, yang suka merendah.

"Jangan ucapkan itu," kata Kwie Sin Sie, yang terus berpaling kepada gurunya, untuk kata: "Jikalau ada yang salah, tolong Suhu unjuki."

Begitulah kedua suheng dan sutee ini berdiri berhadapan, untuk "berlatih" pula, dalam satu pertempuran yang beda daripada yang tadi. Sebab Kwie Sin Sie, di depan gurunya, di muka orang-orang lainnya, tak ingin mendapat malu. Ia menyerang dengan sebat dan keras, tapi ia juga membela diri dengan waspada dan teguh.

Di hadapan Sin-kun Bu-tek, Wan Sin Cie berkelahi dengan tenang tetapi cepat, akan imbangi sang suheng. Sekarang ia mau menyerang, tidak lagi main menangkis atau berkelit saja seperti tadi. Ia taat kepada pesannya Bhok Siang Toojin, ia terus gunai pelbagai tipu dari Hoa San Pay. Maka itu bisa dimengerti, bagaimana hebatnya latihan ini.

Dengan cepat, seratus jurus telah dilalui, selama itu, tidak pernah salah satu pihak berbuat keliru atau keteter, hingga Kwie Sin Sie heran dan penasaran yang ia tak mampu rubuhkan atau desak saja sang sutee yang usianya masih demikian muda. Baru sekarang ia insyaf benar-benar liehaynya sutee ini.

Bok Jin Ceng dan Bhok Siang Toojin tonton pertandingan itu, keduanya bersenyum sambil urut-urut jenggot mereka.

"Memang benar, guru terkenal menciptakan murid pandai!" Bhok Siang memuji. "Ini dia yang dibilang, di bawah pimpinan panglima perang pandai tidak ada tentara yang lemah. Melihat dua muridmu ini, aku bisa mengiri, menyesal kenapa dulu aku tidak mengajarkan beberapa muridku dengan sungguh-sungguh...."

Bok Jin Ceng cuma bersenyum atas pengutaraan sahabatnya itu.

Pertandingan berjalan lagi beberapa jurus, masih Sin Sie tak dapat menangkan suteenya itu, ia menjadi sibuk bukan main, hingga karenanya, ia lantas mengadakan perubahan.

Sin Cie menginsyafi desakannya suheng itu, ia berpikir sebaliknya.

"Setelah sampai di sini, aku mesti mengalah terhadap suheng," demikian pikirnya. "Tapi mengalah adalah sangat sulit, karena suheng liehay, apabila aku berayal sedikit saja, bisa aku nampak bahaya. Bagaimana sekarang?"

Sin Cie lantas asah otaknya.

"Dari ucapan suhu tadi, nampaknya ia kurang puas kepadaku karena pelajaranku terlampau campur aduk," demikian ia ingat. "Tadi aku gunai tiga macam kepandaian untuk layani Jie-suko, aku lantas menang di atas angin, sekarang aku gunai satu kepandaian saja kita berimbang. Apakah itu bukannya alasan untuk bilang, pelajaran lain kaum menangkan kaum kita? Baik aku gunai akal...."

Pikiran ini lantas diwujudkan, anak muda ini segera bersilat dengan "Kim-Coa-kim-hoo-kun," atau ilmu silat "Ular Emas Menawan Burung Hoo." Inilah pelajarannya Kim Coa Long-kun.

Kwie Sin Sie terperanjat begitu lekas ia kenali lawan gunai ilmu pukulan yang asing baginya, sebab di dalam Hoa San Pay tidak ada gerak-gerakan yang mirip dengan itu. Setelah empat jurus serangannya sang sutee, ia berlaku waspada, untuk lindungi diri.

Sin Cie lihat perubahan sikapnya sang suheng, ia bernapas lega, lalu sembari berkelahi terus, ia empos tenaganya ke bebokongnya. Gerakan ini pun memperlambat gerakannya, hingga Sin Sie lantas lihat satu lowongan di belakangnya sang sutee. Seperti biasanya satu ahli silat, tak suka ia mensia-siakan lowongan, malah tanpa sangsi lagi, ia lantas kirim serangannya.

Sin Cie sudah siap, ia antap bebokongnya kena dihajar, selagi terhuyung, hingga ia sempoyongan empat-lima tindak.

"Aku kalah," kata ia selagi ia membalik tubuh.

Kwie Sin Sie menyesal setelah ia serang jitu suteenya itu, ia kuatir sang sutee terluka parah, maka ia lompat maju, dengan niat mengasi bangun, akan tetapi bukan kepalang herannya apabila ia tampak sutee itu tidak kurang suatu apa! Benar-benar ia tidak mengerti. Ia tidak tahu, di samping mengatur tenaganya, untuk lawan serangan, Sin Cie juga andali baju kaos suci dari Bhok Siang Toojin.

Tatkala si anak muda memutar tubuh, untuk bertindak, baru ketahuan, bajunya di bagian bebokong telah hancur dan beterbangan sepotong demi sepotong!

Ceng Ceng berkuatir sekali, hingga ia lari menghampiri.

"Kau tidak apa-apa?" tanyanya.

"Jangan kuatir," sahut Sin Cie dengan tenang.

Bok Jin Ceng sendiri sudah lantas pandang muridnya yang kedua.

"Pelajaranmu telah peroleh kemajuan, akan tetapi barusan seranganmu terlalu keras, kau tahu?" tanya guru ini.

"Teecu mengerti, Suhu," sahut sang murid. "Pelajaran Wan Sutee adalah di atasanku, aku takluk padanya."

"Selama yang belakangan ini sering aku dengar tentang kamu berdua suami dan isteri," kata pula sang guru, "aku dengar kamu berdua telah terlalu umbar murid-muridmu, hingga mereka jadi petantang-petenteng, menarik perhatian umum. Aku pikir, isterimu mungkin seorang yang kurang sadar, akan tetapi kau bukan seperti dia. Sekarang aku lihat sikapmu terhadap suteemu begini rupa, hm!....."

Kwie Sin Sie tunduk.

"Aku menerima salah, Suhu," dia bilang.

"Sudahlah," Bhok Siang menyelak. "Di dalam piebu, siapa juga tak dapat berhati mulia. Sin Cie toh tidak terluka, kau orang tua buat apa kau omong banyak-banyak?"

Ditegur demikian rupa, Bok Jin Ceng berdiam.

Sementara itu, Kwie Sin Sie dan isterinya jadi tidak puas terhadap Sin Cie. Mereka sudah lama memperoleh nama, untuk di Kanglam, mereka seperti memimpin dengan diam-diam kaum Rimba Persilatan, sekarang mereka ditegur di muka umum oleh guru mereka, mereka jadi malu dan tak senang.

Kemudian Bok Jin Ceng ubah haluan.

"Giam Ong akan mulai bergerak di dalam musim rontok ini," demikian katanya, "maka lekas kamu pergi ikat perhubungan dengan saudara-saudara rimba persilatan di wilayah Kanglam, untuk sambut gerakan mulia itu."

Kwie Sin Sie dan isterinya, kepada siapa kata-kata itu diucapkan, menyahuti bahwa mereka bersedia akan jalankan titah itu.

Lantas Bok Jin Ceng kata pada Sin Cie dan Ceng Ceng:

"Pergilah kau ke Pakkhia bersama-sama sahabat mudamu ini, di sana kamu musti serep­serepi gerak-geriknya pemerintah, tetapi ingat, janganlah keprak rumput hingga kau membikin ular kaget, terutama jangan sembarang bunuh menteri-menteri di istana. Jikalau ada kabar yang penting, segera berangkat ke Siamsay untuk memberi laporan!"

"Baik, Suhu," Sin Cie jawab.

"Sekarang aku hendak pergi menemui Cit-cap-jie-to - tocu The Kie In serta Sip Lek Taysu dari Siauw Liem Sie," Bok Jin Ceng kata pula. "Bhok Siang Tooheng, kau hendak pergi ke mana?"

"Kami orang-orang gagah pencinta negara, yang senantiasa pikirkan negara dan rakyat, pantas kamu repot terus-terusan seluruh hari," tertawa Bhok Siang Toojin, "tidak demikian denganku, aku adalah seumpama si burung hoo liar yang pesiar di tengah udara. Aku pikir akan berdiam lagi beberapa hari di sini dengan muridmu ini, kau akur atau tidak?"

Bok Jin Ceng tertawa.

"Sin Cie telah janjikan orang untuk memberi pelajaran, di Lamkhia ini ia masih mesti berdiam untuk beberapa hari," ia jawab, "maka pergi kamu main catur selama beberapa hari ini! Kau sendiri masih punyakan banyak ilmu kepandaian, bolehlah sekalian saja kau wariskan semuanya kepadanya!"

Sambil tertawa berkakakan, Bok Jin Ceng putar tubuhnya untuk berlalu, atas mana Oey Cin dan Ciu San lantas mengikuti.

A Pa berdiri tegak di tempatnya, ia gerak-gerikkan kedua tangannya kepada ketua dari Hoa San Pay, melihat mana, Bok Jin Ceng tertawa.

"Baiklah," katanya. "Kau kangen dengan sahabat cilikmu, pergi kau berdiam sama dia!"

Ia juga beri tanda dengan gerakan tangannya.

A Pa sangat girang, ia lari pada Sin Cie tubuh siapa ia tubruk, untuk dipeluk dan diangkat!

Ceng Ceng kaget hingga ia mencelat, tapi kapan ia tampak wajah kegirangan orang, hatinya menjadi lega, ia menjadi tenang pula.

Sin Cie girang berbareng masgul. Baru ia bertemu gurunya, lantas mereka berpisah pula. Ia pun berat akan berpisah dari Ciu San dan Oey Cin, malah dengan sang toasuheng ia sampai tak sempat pasang omong lagi.

"Kau baik, tak kecewa banyak orang ajari kau," demikian terdengar suaranya Bok Jin Ceng, yang tubuhnya lantas lenyap di tempat gelap, lenyap bersama Oey Cin dan Ciu San, meninggalkan si murid yang bengong mengawasi ke arahnya.

Kwie Sin Sie dan isterinya juga, sambil memberi hormat, awasi guru dan suhengnya itu, kemudian mereka menjura pada Bhok Siang Toojin, akan lantas ajak tiga murid mereka berlalu.

"Mereka itu mendendam terhadap kau," Bhok Siang kata pada Sin Cie. "Mereka berkepandaian tinggi, di belakang hari apabila kau bertemu dengan mereka, waspadalah! - Sekarang, aku pun hendak pergi!"

Sin Cie manggut berbareng terperanjat. Ia terima nasehat itu tapi ia tak sangka guru ini mau berangkat demikian lekas. Ia pun menyesal sudah bentrok dengan suhengnya suami-istri. Lebih menyesal lagi, tak dapat ia tahan Bhok Siang Toojin, yang lantas saja berlalu. Maka ia pun ajak A Pa dan Ceng Ceng berlalu dan sepulangnya ke rumah Kong Lee, ia terus masuk tidur.

Besoknya pagi baru pemuda ini mendusi, atau Ceng Ceng sudah berlari-lari masuk ke dalam kamarnya sambil mulutnya berseru dengan berisik - berseru kegirangan - sebab tangannya menggenggam sebuah peti kayu yang kecil, semacam lopa-lopa.

"Terkalah, apa ini?" ia berseru dengan pertanyaannya.

"Apakah ada tetamu?" Sin Cie tanya.

Ceng Ceng tidak menjawab, ia hanya buka peti kecil itu. Ia berbuat demikian dengan air mukanya tersungging senyuman, umpama bunga sedang mekar. Dari dalam peti itu, ia jumput keluar selembar kertas merah, atau ang-tiap lebar, yang bertuliskan: "Hormat dari adikmu yang bodoh, Bin Cu Hoa."

Terus si nona beber lembaran kertas merah itu, yang di dalamnya memuat selembar surat rumah berikut sepotong catatan lengkap dari semua barang yang berada di dalam rumah yang dimaksudkan itu.

Sin Cie jadi kurang enak hati melihat Bin Cu Hoa buktikan janjinya dengan serahkan rumah yang dibuat pertaruhan itu berikut segala isinya. Maka lekas-lekas ia salin pakaian, ia lantas pergi ke rumah orang she Bin itu, dengan maksud menemui, untuk menghaturkan terima kasih. Akan tetapi kapan ia sampai di rumah itu, tuan rumah semua sudah pergi, di situ tinggal dua bujang yang asyik sapui kotoran. Atas pertanyaan anak muda ini, dua orang itu bilang bahwa Bin Cu Hoa serumah-tangga sudah pergi sejak tadi pagi-pagi, entah ke mana tujuannya.

Terpaksa Sin Cie terima rumah itu, yang segera ia tempatkan.

Ciauw Wan Jie telah lantas kirim beberapa orangnya berikut bujang perempuan, guna bantu mengatur lebih jauh rumah gedung itu. Kedua bujang perempuan bantui Ceng Ceng. Di antara beberapa orang lelaki itu juga termasuk koki, tukang kebun, pesuruh, kusir dan cinteng, untuk jaga malam.

Dengan sendirinya, Ang Seng Hay diangkat jadi congkoan, kuasa rumah.

"Nona Ciauw masih berusia sangat muda akan tetapi untuk urus rumah-tangga, ia ingat segala apa," Sin Cie puji Wan Jie.

Ceng Ceng tertawa.

"Maka jikalau dia bisa menjadi nyonya rumah ini, sungguh bagus!" katanya.

Sin Cie awasi nona itu, ia tidak kata suatu apa. Ceng Ceng baik segala-galanya, kecuali dalam hal hati-kecilnya, ia terpengaruh kejelusannya, cemburunya.

Pada malam pertama di gedungnya itu, tengah malam, Sin Cie dan Ceng Ceng berkumpul di dalam kamarnya, mereka keluarkan peta bumi dari Kim Coa Long-kun, untuk periksa peta itu, guna diakurkan dengan macamnya gedung itu. Di sana-sini sudah ada beberapa perubahan akan tetapi pokoknya tetap, cocok dengan lukisan peta, dari itu keduanya jadi sangat girang. Sekarang mereka fahamkan pengunjukan tanda-tanda, yang membawa mereka keluar taman, terus ke dalam taman, sampai di samping taman di mana ada sebuah gudang kayu. Mereka masuk ke dalam gudang ini.

Sin Cie ajak A Pa, si empeh gagu, untuk dia ini bantui singkirkan semua kayu dan rumput yang memenuhkan gudang itu, sesudah mana, mereka kerjakan pacul, untuk menggali tanah.

Ceng Ceng berdiri di luar pintu gudang, tangannya menyekal pedang, karena ia bertugas berjaga-jaga.

A Pa adalah yang menggali lobang, ia telah bekerja kira setengah jam, lantas paculnya membentur suatu barang keras hingga menerbitkan suara nyaring, rupanya ada batu di dalam lobang galian itu. A Pa tuli, ia tidak dengar suatu apa, maka Sin Cie lantas cegah ia, supaya penggalian dilakukan saja untuk gali keluar batu itu, yang merupakan sepotong batu besar bagaikan papan. Berdua mereka angkat batu itu, hingga kelihatan satu lobang di bawahnya.

Sin Cie berseru saking kegirangan, hingga Ceng Ceng dapat dengar suaranya, nona ini segera memburu ke dalam, hingga ia pun saksikan lobang itu.

"Di sini!" Sin Cie bilang. "Pergi kau menjaga pula di luar, sebentar baru masuk lagi."

Nona Oen menurut.

Sin Cie bikin dua batang obor, untuk itu di situ tersedia rumput keringnya, setelah ia sulut obor itu, ia lemparkan ke dalam lobang, untuk singkirkan hawa busuk, kemudian baru ia turun ke dalam lobang di mana antara cahaya api, tertampak undakan tangga batu. Berbaris rapi, di dalam ruangan dalam tanah itu kedapatan sepuluh peti besar yang diatur rapi, setiap petinya dirantai dengan rantai yang besar. Cuma di situ tidak kedapatan anak kunci.

A Pa bertenaga besar, ia coba dukung sebuah peti, untuk diangkat, ia dapatkan peti besi itu sangat berat.

Sin Cie keluarkan petanya, untuk periksa lebih jauh. Di pinggir tempat simpan harta itu, ialah di pojok kiri, ada lukisan seekor naga kecil. Menduga apa-apa, ia sambar pacul untuk dipakai memaculi tanah di tempat yang dilukiskan itu. Baru ia memacul beberapa kali, lantas ia dapatkan sebuah lopa-lopa besi, yang tidak dikunci, maka dengan gampang lopa-lopa itu dapat dibuka tutupnya. Tapi untuk buka itu, ia gunai tali, ia menariknya pelahan-lahan. Ia ingat panah rahasia dari Kim Coa Long-kun, dari itu ia bekerja dengan waspada.

Peti itu terbuka dengan tidak mengakibatkan suatu apa, lalu Sin Cie dekati obornya, untuk memandang ke dalam peti, yang isinya ada serenceng anak kunci berikut dua lembar kertas yang ada tulisannya.

Surat yang pertama berbunyi:

"Berhubung dengan pemberontakan pamanku, tidak ada menteri militer yang tidak menakluk kepadanya, tidak demikian dengan Gui-Kok-Kong Cie Hui Couw. Cie Hui Couw adalah menteri turunan, yang setia, yang harus dipuji. Barang-barang berharga dari istana, karena sangat kesusu, tak dapat dibawa pergi semua, dari itu Gui-Kok-Kong, tolong kau wakilkan tim menjaganya. Di belakang hari, apabila ada gerakan akan menghidupkan negara, pakailah harta ini.

Tahun Kian-bun ke-4, bulan enam"

"Jadi inilah harta peninggalannya Sri Baginda Kian Bun," kata Sin Cie dalam hatinya.

Ketika Pangeran Yan Ong berontak, dia rampas kerajaan, Cie Hui Couw tak sudi menakluk kepada raja pemberontak itu, sampai Yan Ong ketemui sendiri padanya dan menegurnya tetapi dia tak suka bicara, tak sepatah kata keluar dari mulutnya, kata-kata menyatakan suka menunjang raja pemberontak ini, hingga karenanya, ia telah dihadapkan kepada pengadilan, yang coba paksa padanya. Atas itu, Hui Couw tulis sepuluh huruf yang berarti: "Ayahku adalah menteri berjasa yang bantu mendirikan negara, anak-cucunya luput dari kematian."

Cie Hui Couw ini adalah putera Pangeran Tiong-san-ong Cie Tat dan Cie Tat ini adalah menteri nomor satu yang berjasa ketika permulaan dibangunkan kerajaan Beng. Ketika Cie Tat berperang ke Timur dan Barat, ia telah wakilkan Kaisar Beng Thay Couw meluaskan daerah, menetapkan negara, hingga jasanya dianggap paling besar. Tapi ia tahu Beng Thay Couw kejam, ia turut mengendalikan negara dengan hati-hati dengan hati kebat-kebit, sedikit juga ia tak mau menerbitkan kesalahan. Kaisar sebaliknya tak tenteram hatinya mengadapi menteri-menterinya yang berjasa, tiap hari ia mencari jalan untuk persalahkan Cie Tat. Sampai pada suatu hari Cie Tat dapat sakit tumbuhan di bebokongnya.

Kaisar Beng itu tahu, siapa dapat sakit tumbuhan, dia mesti pantang makan angsa tim, atau dia segera akan binasa. Maka ia lantas perintahkan kirimkan angsa tim pada Cie Tat. Melihat masakan itu, Cie Tat mengucurkan air mata, dengan berdiam tetap atas pembaringannya, ia dahar habis angsa tim itu. Maka pada malam itu juga ia mati keracunan. Atas kejadian ini, semua menteri jadi ketakutan sendirinya. Setelah Yan Ong naik atas tahta, puteranya Cie Tat, ialah Cie Hui Couw, tidak suka menakluk, hingga Yan Ong jadi gusar dan hendak binasakan padanya. Tapi Yan Ong cerdik, di waktu ia mulai bertahta ia ingin ambil hati orang, maka dengan alasan Cie Hui Couw adalah puteranya menteri berjasa dan juga pernah kok-kiu, ipar raja, ia batalkan niatnya, cuma dia itu dipecat, diperintah pulang ke gedungnya, dikurangi gajinya. Cie Hui Couw tetap setia kepada Baginda Kian Bun, dari itu selama-lamanya dia kandung harapan untuk membangun pula junjungannya itu.

Mengetahu hal ihwalnya Cie Hui Couw ini, Sin Cie menghela napas. Habis itu, ia baca surat yang kedua, yang memuat syair karangan Baginda Kian Bun sendiri, yang menguraikan kesannya yang menyedihkan, yang ditulis sepulangnya dia pesiar di propinsi-propinsi Hokkian, Kwietang, Sucoan dan Inlam, sekembalinya dia ke kotaraja, ibukota Kimleng (Lamkhia). Selama itu, raja ini telah berumur enam-puluh lebih, lenyap sudah harapannya untuk bisa naik kembali atas tahta, maka kemudian ia pergi tanpa tujuan. Entah bagaimana, peta dari hartanya itu telah terjatuh ke dalam tangan Kim Coa Long-kun.

Dengan gunai anak kunci, Sin Cie buka satu peti besi dan matanya lantas kesilauan, sebab peti itu penuh dengan pelbagai macam kumala dan permata lainnya, begitupun satu peti yang lainnya, hingga ia berdiri ternganga.

Sebentar saja, setelah sadar, Sin Cie pergi keluar.

"Pergi kau lihat di dalam," ia kata pada Ceng Ceng, yang tugasnya ia gantikan.

Ceng Ceng pun tercengang, sampai ia keluarkan seruan, kemudian ia keluar, tampangnya bercampur wajah keheranan dan kegirangan.


"Harta ini ada harta peresan dari rakyat, untuk apa kita ambil?" kata Sin Cie.

Ceng Ceng tahu sekarang kejantanan si anak muda, ia pun tak mau unjuk ketemahaannya seperti dulu, untuk cegah dirinya dipandang enteng, ia kata: "Harta ini diambil dari rakyat, harta ini mesti dikembalikan pada rakyat juga!"

Tak kepalang girangnya Sin Cie, hingga ia sambar tangannya si nona, untuk dicekal dengan keras.

"Adik Ceng, sungguh kau kenal aku!" katanya memuji.

Tentu saja, si nona pun puas, hatinya lega bahwa ia dapat memahami pemuda itu.
Thanks for reading PEDANG ULAR MAS 21

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar