Home » » PEDANG ULAR MAS 22

PEDANG ULAR MAS 22

Jilid 22

"Kita sekarang punyai harta besar ini, dapat kita bertingkah sebagai puteranya satu orang berpangkat besar," kata Sin Cie kemudian. "Mari kita pergi ke kota raja, untuk suatu usaha besar. Kita nanti bantu Giam Ong dengan harta ini, guna rubuhkan kerajaan Beng. Apakah namanya usaha ini?"

"Itu artinya, dengan tumbaknya sendiri, kita tusuk tamengnya!" jawab Ceng Ceng. "Atau dengan gayanya sendiri, kita tindih padanya!"

"Benar, benar!" Sin Cie tertawa. "Sekarang hayo kita berkemas-kemas!"

Dengan dibantui si empeh gagu, Sin Cie bertiga angkut harta itu ke dalam kamarnya, lobang harta sendiri diuruk pula. Mereka mandi keringat karena kerja terlalu keras tapi mereka puas. Sampai fajar barulah mereka selesai.

(Bersambung bab ke 14)


Bab 14

Besoknya lohor, Sin Cie titahkan Ang Seng Hay pergi ke rumah Ciauw Kong Lee untuk panggil Lo Lip Jie. Dia ini masih sangat menderita karena lenyapnya sebelah tangannya, tapi mendengar Sin Cie panggil ia, bukan main girangnya, segera ia minta orang pepayang padanya, untuk memenuhi panggilan itu.

"Kau duduk," perintah Sin Cie, yang terus ajarkan bagaimana harus bersilat dengan tangan sebelah - tangan kiri.

Lip Jie berotak terang, ia gampang ingat, apapula setelah si anak muda yang liehay petahkan latihannya.

Untuk ini Sin Cie pakai tempo sepuluh hari, setelah Lip Jie ingat semua, dia dipesan untuk berlatih nanti, setelah lukanya sembuh.

Pelajaran ini beda daripada yang umum, karena Sin Cie wariskan dari dalam kitab Kim Coa Pit Kip. Maka itu, walaupun ia tercelaka, Lip Jie girang tak kepalang, karena ia sangat bahagia memperoleh ilmu golok yang liehay itu.

Sin Cie sudah lantas siapkan belasan kereta sewaan, untuk angkut hartanya ke kota raja. Untuk keberangkatannya itu, Kong Lee adakan satu perjamuan meriah sekali yang dihadiri oleh gadisnya dan sekalian muridnya. Di pihak lain, Sin Cie minta tolong supaya gedung Kok-kong-hu itu dikembalikan kepada Bin Cu Hoa, sedang Tiang Pek Sam Eng diserahkan kepada pembesar negeri.

Selagi cuaca musim rontok menyenangi hati, Sin Cie berangkat bersama-sama Ceng Ceng, A Pa dan Ang Seng Hay, mengiringi belasan kereta harta karun itu, menuju ke Utara, Kong Lee dan gadisnya serta murid-muridnya mengantari sampai di seberang sungai Tiang Kang, sampai jauhnya tiga-puluh lie lebih.

Daerah sebelah utara sungai ada daerah pengaruh Kim Liong Pang, dari itu siang-siang Kong Lee telah atur warta berita kepada pelbagai pelabuhan atau pos partainya, supaya di setiap tempat, rombongan Sin Cie disambut dengan baik dan dilindungi di sepanjang jalan.

Selang lebih dari sepuluh hari, sampailah rombongan ini di batas propinsi Shoatang.

"Tuan Wan, sejak ini, daerah bukan daerah pengaruh Kim Liong Pang lagi," menerangkan Ang Seng Hay, "karenanya, mulai hari ini, harus kita berlaku sedikit lebih hati-hati."

"Apa? Apa ada orang berani main gila terhadap kita?" tanya Ceng Ceng.

"Itulah tak dapat dibilang, "sahut Seng Hay. "Sekarang ini jalanan tidak aman, terutama di Shoatang, orang jahat terlebih banyak daripada tempat lainnya. Di daerah ini ada dua partai yang liehay."

"Kau toh dari partai Put Hay Pay?" Ceng Ceng tegasi.

Seng Hay tertawa.

"Put Hay Pay berkuasa di lautan," kata dia, "maka juga kalau di darat, umpama emas dan permata kedapatan di tengah jalan, menjemputnya pun kami tidak lakukan!"

"Siapa itu dua partai di Shoatang?" Sin Cie tanya.

"Yang pertama ada rombongan Tie Hong Liu Tie Toaya di Chong-Ciu," jawab Seng Hay.

Sin Cie manggut.

"Ya, aku pernah dengar guruku omong tentang Tie Toaya itu," kata ia. "Dia kesohor untuk tangan pasir-besinya Tiat-seeciang dan ilmu silat toya Thay-Couw-kun."

"Itulah benar. Partai yang satu lagi adalah yang berkedudukan di Ok-houw-kauw," Seng Hay terangkan lebih jauh. "Partai ini mempunyai enam pemimpin yang semuanya liehay."

Sin Cie manggut pula. "Baiklah, kita harus berhati-hati," katanya. "Setiap malam baik kita bergiliran menjaga." Perjalanan dilanjuti. Selang dua hari, mereka berpapasan dengan dua penunggang kuda, yang kudanya dikaburan, sehingga suara kelenengannya terdengar dari jauh-jauh.

"Inilah dia!" kata Seng Hay setelah dua penunggang kuda itu lewat di samping mereka.

Sebagai orang Kang-ouw ulung, Seng Hay luas pengetahuannya. Ia tidak kuatir, karena ia tahu Sin Cie liehay dan ia sendiri pun tak dapat dipandang ringan. Selang satu jam, dua penunggang kuda tadi telah kembali dan lantas melewatkan pula. Ceng Ceng tertawa dingin.

"Tidak sampai se puluh lie, bakal ada yang pegat kita," Seng Hay kasih tahu. Akan tetapi sangkaan ini keliru. Lebih dari sepuluh lie dilewatkan, mereka tidak kurang suatu apa, hingga mereka singgah di Siang-cio-hu. "Heran! Mungkin mataku lamur?" kata Seng Hay. Besoknya pagi, jalan belum lima lie, di sebelah belakang mereka, empat penunggang kuda menguntit dari kejauhan.

"Aku mengerti," kata Seng Hay. "Kemarin mereka belum siap, hari ini tentu mereka akan bekerja." Tengah hari, sehabis singgah, lagi dua penunggang kuda menyusul rombongan ini. "Aneh!" kata Seng Hay. "Kenapa begini banyak orang?" Dan menambah keheranannya ini, beberapa jam kemudian, dua penunggang kuda lain lewatkan mereka.

Sin Cie masih hijau di kalangan Kang-ouw, ia tidak merasakan apa-apa, tapi juga Ceng Ceng, pengalamannya masih kurang, tidak demikian dengan Seng Hay. "Aku mengerti sekarang," kata dia. "Wan Siangkong, malam ini kita mesti singgah di tempat yang besar."

"Kenapa begitu?" Sin Cie tanya.

"Sebab yang kuntit kita bukannya orang-orang dari satu partai saja."

"Begitu? Berapa partai kiranya?" tanya Ceng Ceng.

"Jikalau setiap partai kirim dua orang, itu berarti, di depan dan belakang, sudah tujuh...."

Ceng Ceng tertawa. "Kalau begitu, bakal ramai!" katanya.

"Tetapi Siocia, satu orang tak dapat lawan orang yang banyak," Seng Hay peringati. "Kita sendiri boleh tak takut tetapi bagaimana kita dapat bela barang-barang kita? Ini sulit..."

"Kau benar juga," Sin Cie manggut. "Malam ini kita singgah di Cio-liauw-tin saja."

Benar-benar mereka singgah di Cio-liauw-tin di mana mereka pilih sebuah hotel besar, malah Sin Cie perintah turunkan semua peti, untuk ditumpuk di dalam kamarnya di mana ia hendak tidur berdua si empeh gagu.

Baru Sin Cie selesai mengangkut, dua orang dengan tubuh besar datang ke hotel itu. Lebih dulu mereka awasi anak muda kita, lantas mereka nyatakan pada kuasa hotel bahwa mereka berniat bermalam. Karena ini, satu jongos diperintah antar mereka masuk, untuk ambil kamar.

Sin Cie manggut-manggut dengan diam-diam, ia tahu apa yang harus diperbuat. Habis bersantap ia perintah semua orang masuk ke dalam kamar, untuk beristirahat.

Kira tengah malam, pemuda kita dengar suara berkelidik di atas genteng, bukan dia lantas bersiap, dia malah bangun untuk nyalakan lilin secara terang-terang, kemudian ia buka sebuah petinya, untuk keluarkan seraup mutiara dan batu permata lainnya, yang ia letaki di atas meja, antaranya ada yang ia pandangi pulang-pergi, hingga di antara sinar api, semua permata itu terang-gemilang berkilauan.

Di luar jendela, entah berapa banyak pasang mata yang kesilauan juga.

Seng Hay pun dengar apa-apa, hatinya jadi tidak tenang, maka ia keluar dari kamarnya akan menghampiri Sin Cie. Di luar, ia lihat belasan tubuh berebut umpetkan diri, maka ia bersenyum ewa. Ia ketok kamarnya si anak muda.

"Masuk!" terdengar suara Sin Cie.

Seng Hay tolak daun pintu yang menjeblak. Nyata pintu tak dikunci.

Begitu melangkah di pintu dan lihat barang-barang permata itu, orang she Ang ini melengak, saking heran, karena matanya silau. Belum pernah ia lihat barang permata demikian banyak, banyak rupanya dan bear-besar juga. Ia heran ia tak tahu dari mana si anak muda perolehnya. Kemudian lekas-lekas ia dekati anak muda itu.

"Wan Siangkong, apa boleh aku bantui kau simpan barang permata ini?" kata dia, suaranya sangat pelahan. "Di luar kamar banyak orang sedang intai kita...."

"Aku justeru hendak bikin mereka buka mata mereka," sahut si anak muda, dengan pelahan juga. Ia lantas angkat serenceng mutiara, lalu ia tanya: "Kalau kita bawa mutiara ini ke kota raja, berapa kau taksir harga penjualannya?"

"Aku tidak tahu," sahut pengiring itu.

"Sebutirnya tiga-ratus tail perak, tak kurang lagi," si anak muda bersenyum. Dan rencengan ini terdiri dari dua-puluh empat butir."

"Jadi harganya sepuluh ribu tail...." Seng Hay bilang.

"Eh, kenapa jadi sepuluh ribu?" tegasi Sin Cie heran.

"Sebab sukar akan cari mutiara sebesar ini, begitu bundar, begini jernih cahayanya, malah semuanya, sama besarnya!" kata pengikut ini.

Pembicaraan ini terdengar sampai keluar jendela, orang-orang jahat yang lagi mengintai jadi merah matanya, hati mereka jadi gatal, hampir mereka tak sanggup mengatasi diri sendiri. Tapi mereka ditugaskan untuk mengintai saja, buat lekas pulang dengan laporan, supaya ketua mereka bisa berdamai dulu, agar dia orang tak bentrok satu dengan lain. Begitulah, lekas-lekas mereka berlalu dengan berpencaran.

Kapan Sin Cie telah duga orang sudah pergi semua, ia goyang-goyang tangan kepada Seng Hay, untuk menitahkan orang itu tidur, ia sendiri tertawa, ia naik ke pembaringan tanpa benahkan lagi mutiara itu.

Besoknya pagi, perjalanan dilanjuti, terus sampai dua hari, mereka tidak tampak rintangan suatu apa. Ketika itu mereka sudah lewati batas wilayah kota Ceelam. Sementara itu Sin Cie dapat kenyataan, orang-orang jahat yang arah dia jadi semakin banyak, hingga Seng Hay, yang tadinya tenang, jadi tak tenteram juga hatinya. Ia ini pun bingung, kenapa orang masih belum mau turun tangan. Maka akhirnya, ia usulkan si anak muda akan tukar jalan darat dengan jalan air.

"Di air aku mempunyai banyak sahabat," ia mendesak. "Kita naik perahu sampai di Thian­cin, di sana kita mendarat, untuk melanjuti sampai di Pakkhia. Dengan begini benar kita ambil jalan mutar dan memakan tempo jauh lebih banyak akan tetapi keselamatan kita lebih terjamin."

Sin Cie tertawa atas usul itu.

"Aku justeru hendak serahkan harta ini kepada orang-orang gagah kita dan pencinta­pencinta negara!" katanya. "Umpama harta ini habis tersebar, masih tidak apa! Bukankah harta ada benda sampiran belaka? Untuk kita, kewajiban membela negara adalah yang utama!"

Mendengar itu, Ang Seng Hay lantas tidak banyak omong lagi.

Itu hari sampailah mereka di Ie-shia, di mana mereka cari hotel.

Ceng Ceng tidak betah berdiam saja, seorang diri ia pergi pesiar di sekeliling kota. Tidak demikian Sin Cie, yang insyaf entah berapa banyak mata yang incar harta-karunnya itu, dari itu bersama-sama A Pa, ia tak mau meninggalkan hotelnya.

Berselang kira-kira satu jam, Ceng Ceng pulang dengan wajah berseri-seri, tangannya menenteng dua bumbung bambu kecil dalam mana masing-masing terdapat seekor jangkrik, yang masing-masing sedang mengasi dengar suara ngeringnya tak sudahnya. Yang seekor ia terus serahkan pada Sin Cie seraya bilang: "Aku beli dua-puluh chie seekornya. Sebentar malam kau gantung di kelambumu, pasti suaranya enak didengarnya..."

Sin Cie tertawa, dia menyambutinya. Tapi segera ia tertawa pula.

"Eh, adik Ceng, tadi di tengah jalan kau ketemu siapa?" tanyanya.

Ceng Ceng agaknya tercengang.

"Tidak....." jawabnya.

"Bebokongmu orang telah berikan tanda," Sin Cie kasih tahu.

Tidak tempo lagi, Ceng Ceng lari ke dalam kamarnya, untuk buka bajunya, guna periksa tanda yang dihunjuki itu. Ia telah lihat satu bundaran kapur. Mungkin tanda itu diberikan selagi tadi ia membeli jangkrik, saking gembira, ia sampai tidak merasakannya. Maka itu, ia puji kelicinannya orang yang memberikan tanda itu tapi ia pun mendongkol.

"Tolong kau bantu aku cekuk orang itu, untuk hajar dia!" kata ia pada Sin Cie setelah ia ketemui pula si anak muda.

"Ke mana aku mesti cari dia?" tanya Sin Cie sambil tertawa.

Ceng Ceng berpikir, tapi segera ia dapat jalan.

"Pergilah kau pesiar sendirian, berlagaklah sebagai orang tolol," ia kata kemudian.

"Jadi aku mesti pesiar seperti kau tadi, supaya orang pun datang untuk beri tanda di bebokongku?" Sin Cie tegaskan sambil tertawa.

"Benar!" si nona pun tertawa. "Lekaslah pergi!"

Anak muda ini tak tega untuk menampik, maka ia pergi setelah pesan nona ini bersama Seng Hay untuk waspada menjaga harta mereka.

Ie-shia ada sebuah kota yang ramai, walaupun sudah mendekati malam, orang-orang banyak yang berdagang dan berbelanja, pelbagai kereta dan kuli-kuli masih saja berjuang untuk masing-masing kehidupannya atau pekerjaannya.

Sin Cie berjalan dengan sewajarnya sebagai seorang asing, akan tetapi dengan diam-diam, ia telah memasang mata, karenanya tak nanti orang curigai dia kendatipun ia sering celingukan. Demikian ia dapat tahu ada seorang menguntit ia sejak ia mulai keluar dari pekarangan hotel.

"Bagus, kau jadi makin kurang ajar!" kata ia dalam hatinya. "Tidak saja hartaku, diriku pun kau awasi! Kau beri tanda di belakangnya adik Ceng, apakah artinya itu! Tidakkah dengan begitu kau seperti keprak rumput hingga ular mabur, hingga aku jadi dapat ketika untuk berjaga-jaga?"

Tidak usah pemuda ini berpikir lama, untuk ambil kesimpulan.

"Rupanya ada rombongan yang ingin temahai sendiri hartaku ini," pikir ia. "Mereka telah beri tanda supaya lain orang melihatnya dan lain orang tak berani mengganggu."

Sin Cie jalan terus, dengan sikapnya seperti tak ada perhatian, tapi sekarang ia telah ambil putusan akan bertindak bagaimana. Ia tetap masih dibayangi, ia menuju ke sebuah bengkel besi akan tonton tukang-tukang sedang bikin golok. Ia berdiri diam bagaikan orang kesengsam, tapi ia tahu, si penguntit dekati padanya. Mendadakan saja ia berpaling seraya tangannya menyambar tangan orang itu di bagian nadi.

Orang itu kaget, apapula segera ia merasakan sebelah tangannya seperti mati, maka tempo pemuda kita tarik tangannya, untuk dituntun dengan perlahan-lahan, ia mengikuti tanpa buka suara, seperti ia sudah tak dapat kuasai diri sendiri. Ia dituntun sampai di sebuah gang kecil dan sepi.

"Kau orang siapa?" tanya Sin Cie.

Orang itu ketakutan dan kesakitan, sampai ia mandi keringat.

"Tolong lepaskan tanganku, Tuan, nanti tanganku patah," dia memohon.

"Jikalau kau tidak mau bicara, batang lehermu pun aku nanti potes!" Sin Cie bilang.

"Aku nanti bicara, aku nanti bicara, Tuan," sahut orang itu ketakutan. "Aku adalah orang sebawahan See Ceecu dari Ok Houw Kauw."

"Bukankah kau hendak memberi tanda bundaran di bebokongku? Apakah artinya itu?"

"See Ceecu titahkan aku berbuat demikian, apa maksudnya, aku tidak tahu."

"Di mana adanya sekarang See Ceecumu itu?"

Orang itu celingukan, agaknya ia jeri untuk mengasih tahu.

Sin Cie gunai tenaganya, hingga orang itu meringis, ia takut bukan main.

"See Ceecu pesan aku untuk malam ini pergi ke kuil Sam Kong Sie di luar kota untuk menemui dia," ia buka rahasia.

"Baik, hayo kau antar aku ke sana."

Benar-benar orang ini takut, ia mengantarinya, terus sampai di kuil.

Ketika itu, di rumah berhala masih sepi, belum ada seorang lain. Itulah sebuah kuil tua sekali dan sudah rusak, tidak ada penghuninya. Sin Cie periksa semua ruangan, juga depan dan belakang, akhirnya ia totok urat gagu dari bajingan itu tubuh siapa ia lantas lemparkan ke dalam kotak patung. Kemudian lagi ia tak usah menunggu terlalu lama, akan dengar suara banyak orang lagi mendatangi. Maka segera ia sembunyikan diri di antara patung sang Buddha yang besar.

Yang datang itu ada beberapa puluh orang, mereka duduk berkerumun di ruang pendopo. Segeralah terdengar suaranya seorang perempuan:

"Giam Loo-sie, Loo-ngo, pergi kamu berdua saudara membawa empat saudara, untuk menjaga di empat penjuru, di atas genteng juga!" demikian satu titah.

Dua orang yang dipanggil dua saudara she Giam yang keempat dan kelima sudah lantas bertindak keluar, untuk jalankan titah itu, maka di lain saat, Sin Cie pun dengar suara di atas genteng.

"Kamu boleh cerdik tapi sekarang aku sudah ada di sini!" ia tertawa dalam hatinya.

Sebentar lagi datang pula serombongan orang, suara mereka berisik ketika suara mereka saling menegur, saling berbahasa saudara satu dengan lain.

Turut apa yang Sin Cie dengar, mereka adalah dari delapan rombongan atau delapan gunung dari wilayah Shoatang, karenanya dia tak berani berlaku sembarangan.

"Tentang barang-barang yang diangkut telah didapatkan penjelasan," terdengar suara perempuan yang bermula tadi. "Barang-barang itu adalah permata-permata yang tak dapat ditaksir harganya, pengiringnya ada dua anak muda yang tak tahu apa-apa tetapi pembelanya adalah Ang Seng Hay, satu anggota dari Put Hay Pay. Dia ini tak ada kecelanya tapi sepasang tangan mana sanggup layani dua pasang? Hanya, memandang muka sesama kaum, jangan kita ganggu jiwanya."

"Untuk merampas harta itu, tak usah See Ceecu pusing memikirkannya," kata satu suara. "Apa yang penting adalah cara pembagiannya. Kita perlu mengatur terlebih dahulu, supaya kita tak usah merusak persahabatan."

"Aku adalah yang pertama mengetahui harta itu," kata satu suara keras dan kasar, "maka menurut aku, setelah barang itu berada di tangan kita, di dalam sepuluh, Ok Houw Kauw dapat dua bagian, Sat Pa Kong juga dapat dua bagian, lalu yang lainnya masing-masing satu bagian."

"Bagus benar!" pikir Sin Cie. "Kamu telah pandang barangku seperti milikmu sendiri dan sekarang asyik mengatur pembagiannya, untuk dipesta-pora!"

Lalu terdengar satu suara lagi: "Kenapa kau masing-masing menghendaki dua bagian? Menurut aku, baik kita bagi rata saja, seorang satu bagian."

Sampai di sini, suara jadi ramai, masing-masing memberi usulnya.

"Dibagi sepuluh bagian tidak adil, dibagi delapan tidak adil juga," kemudian kata satu suara tua tetapi keren. "Ok Houw Kauw terdiri dari beberapa ribu jiwa saudara, tapi Sat Pa Kong dan Loan Sek Cay cuma terdiri dari tiga-ratus orang. Apakah mereka mesti mendapat bagian rata? Maka usulku adalah Ok Houw Kauw ambil dua bagian, yang lain-lain masing-masing satu bagian. Aku minta See Ceecu yang atur cara bekerja kita."

Kebanyakan orang anggap usul ini pantas, mereka suka menerimanya, karena itu, sisa yang lainnya lantas menurut saja.

"Sekarang sudah ada kecocokan, maka baik ditetapkan, besok kita turun tangan," berkata orang yang dipanggil See Ceecu, ketua she Cee. "Aku memikir desa Thio-chung, dari itu baiklah masing-masing rombongan berkumpul di sana."

Usul ini dapat persetujuan, dari itu tak ayal lagi, mereka saling pamitan dan lantas bubaran, hingga sebentar kemudian, kuil tua itu jadi sunyi senyap pula.

Sin Cie muncul dari tempat sembunyinya, tanpa perdulikan pula bandit atau orangnya See Ceecu, ia langsung menuju hotelnya, kepada Ceng Ceng ia tuturkan hasil "pesiarnya" itu.

Ceng Ceng bengong berpikir.

"Jumlah mereka besar sekali, pasti mereka tak dapat dipukul rubuh semua, tak bisa dibunuh habis," katanya. "Bagaimana pikiranmu?"

"Jikalau nanti mereka pegat kita, kita bersikap tenang-tenang saja," Sin Cie bilang. "Kita mesti cari tahu, siapa kepalanya di antara mereka, lantas paling dulu kita cekuk padanya. Aku percaya rombongan mereka tidak berani turun tangan terus."

Ceng Ceng tepuk-tepuk tangan, ia tertawa.

"Inilah pikiran bagus!" ia memuji.

Besoknya pagi mereka berangkat pagi-pagi. Segera ternyata, mereka telah dikuntit dengan berani, seperti juga Sin Cie semua tidak ada lagi di mata mereka. Seng Hay lihat itu, dia sangat berduka.

"Kelihatannya, Wan Siangkong, hari ini tak dapat dilewatkan lagi," kata dia secara diam-diam kepada Sin Cie.

"Kau jangan kuatir," pesan si anak muda. "Tugasmu adalah jaga semua kereta, supaya keledai-keledai jangan kaget dan kabur. Untuk layani orang-orang jahat, serahkan itu kepada kita bertiga."

Seng Hay menurut, ia coba menenteramkan diri.

Sin Cie lantas bicara dengan si empeh gagu, dengan gerak-gerakan tangannya. Ia pesan, kalau ia sudah turun tangan, A Pa barulah bekerja, dan yang bakal dibekuk adalah kepalanya penjahat.

A Pa manggut, tandanya ia mengerti.

Di waktu lohor jam tiga atau empat, rombongan kereta keledai yang angkut harta karun sampai di desa Thio-chung. Di muka itu ada segumpal pepohonan lebat. Segera terdengar suara anak panah mengaung dan muncul beberapa ratus orang yang pada ikat kepala dengan pelangi hijau, pakaian mereka serba hitam, senjata mereka pelbagai macam, semuanya mengkilap tajam. Tapi mereka tidak menerbitkan suara berisik, mereka cuma menghadang di tengah jalan.


Tukang-tukang kereta lihat gelagat tidak baik, dengan lantas mereka hentikan kereta­kereta mereka, habis itu mereka berjongkok sambil tutupi kepala mereka. Inilah aturan mereka, sebab asal mereka tidak lari serabutan, orang jahat tidak bakal ganggu mereka.

Adalah setelah itu lalu terdengar suara suitan beruntun-runtun, menyusul mana beberapa puluh penunggang kuda muncul dari dalam rimba, menuju ke belakang rombongan kereta, untuk menjaga jalan mundur orang.

Selama di dalam kuil Sam Kong Sie, Sin Cie tidak lihat nyata roman orang, sekarang barulah ia melihat tegas tujuh orang yang berbaris di paling muka, orangnya tinggi dan kate, satu di antaranya, yang berumur tiga-puluh lebih, maju pula ke sebelah depan sekali. Dia ini tidak menyekal senjata, dia cuma menggoyang kipas dengan secara tenang.

"Wan Siangkong!" ia menegur, suaranya halus.

Sin Cie kenali suaranya See Ceecu dari Ok Houw Kauw, ia lihat orang itu sikapnya tenang, dan tindakan kakinya tetap, maka ia mengerti kepala berandal ini pasti seorang yang liehay. Ia pun tidak sangka, dalam kalangan Cauw-bong, Hutan Rumput, ada orang semacam ceecu ini. Ia lekas memberi hormat.

"See Ceecu!" katanya.

Kepala berandal itu heran, inilah ternyata dari romannya.

"Eh, mengapa dia kenal aku?" pikirnya.

"Wan Siangkong telah bikin perjalanan jauh, banyak cape, tentu," katanya kemudian.

Sin Cie awasi muka lawan, ia tahu ceecu itu heran bahwa ia ketahui namanya, maka itu ia memikir untuk bikin orang lebih heran.

"Perjalanan jauh tidak melelahkan aku," demikian jawabnya, "aku hanya sebal sebab barang-barang bawaanku ini terlalu banyak, terlalu berat....."

See Ceecu tertawa.

"Apakah Siangkong hendak pergi ke ke kota raja untuk turut dalam ujian ilmu surat?" tanyanya.

"Oh, bukan, Ceecu," sahut Sin Cie. "Ayahku titahkan aku pergi ke kota raja untuk menyerahkan uang, guna mendapatkan pangkat."

Kembali kepala berandal itu tertawa.

"Siangkong seorang jujur, tak miripnya kau dengan anak sekolahan yang kebanyakan," katanya.

Sin Cie pun tertawa. Kemudian ia kata:

"Tadi malam satu sahabatku datang memberitahu padaku, katanya hari ini satu See Ceecu bakal menantikan aku di tengah jalan. Ia pesan aku untuk waspada, maka itu, aku tidak berani berlaku alpa, kuatir aku nanti tak dapat bertemu sama See Ceecu. Sungguh, benar-benar di sini kita bertemu! Melihat dandanan Ceecu, apakah Ceecu juga hendak menuju ke kota raja? Bagaimana jikalau kita jalan sama?"

See Ceecu itu tertawa geli di dalam hatinya.

"Kiranya dia satu pitik yang tak tahu apa-apa!" pikirnya. Ia tertawa pula. Ia kata: "Apakah tidak baik Siangkong hidup senang di dalam rumah? Untuk apa Siangkong melakukan satu perjalanan begini jauh? Siangkong harus ketahui, di luaran banyak kejahatan...."

Dengan sikap wajar, Sin Cie menyahut: "Selama di rumah, pernah aku dengar orang-orang tua omong tentang penipu dan bunga raya, siapa tahu sesudah aku jalan seribu lie, aku tidak menemui apa juga, dari itu aku beranggapan, omongan itu kebanyakan hanya omongan untuk mendustai orang saja."

Ketujuh ceecu lainnya tak sabaran mendengar bicaranya si anak muda, mereka awasi See Ceecu, mereka kedip-kedipi mata, untuk menganjuri akan turun tangan dengan segera.

See Ceecu rupanya berpikir sama seperti sekalian rekannya itu, mendadakan lenyap wajah berseri-serinya, sebagai gantinya, dia berseru nyaring dan panjang, lantas ia kibaskan, buka kipasnya, hingga pada daun kipas itu tertampak lukisan putih dari sebuah tengkorak dengan mulutnya tengkorak lagi menggigit sebatang golok, hingga romannya jadi sangat menakuti, menggiriskan.

Ceng Ceng yang berandalan terkejut juga dalam hatinya, malah Sin Cie sendiri merasakan hebatnya gambaran tengkorak itu, akan tetapi pemuda ini tetap tenang.

Habis itu, See Ceecu perdengarkan lagi suara tertawa, yang aneh, baru suaranya berhenti, atau tangannya yang memegang kipas digeraki atas mana, beberapa ratus berandal lantas saja bergerak, untuk maju menyerang.

Sin Cie mengerti saatnya untuk bertindak, akan tetapi di saat ia hendak berlompat, guna bekuk See Ceecu, dengan tiba-tiba terdengar suara suitan yang nyaring dan tajam dari dalam rimba, hingga ceecu she Cee itu menjadi kaget, segera kibaskan pula kipasnya, melihat mana, semua berandal berhenti beraksi, semua lantas berdiri diam.

Segera muncul dua penunggang kuda dari dalam rimba itu. Penunggang kuda yang pertama adalah seorang tua dengan rambut, alis dan kumis-jenggotnya telah putih semua, sedang yang belakangan adalah satu nona dengan baju hijau, tangannya menyekal suitan.

Mereka ini majukan kuda mereka di antara See Ceecu dan Sin Cie, baru mereka berhenti.

"Inilah perbatasan Shoatang," kata See Ceecu.

"Memang. Siapa yang bilang bukan?" sahut orang tua itu.

"Apa yang telah diputuskan ketika dulu kita membuat pertemuan di gunung Tay San?" See Ceecu tanya pula.

"Itu waktu telah ditetapkan, kami dari pihak Ceng Tiok Pay tidak akan memasuki daerah Shoatang untuk bekerja, dan kamu tidak dapat bekerja di Hoopak," si orang tua menjawab pula.

"Bagus!" kata See Ceecu. "Habis angin apakah sudah tiup Thia Loo-ya-cu datang kemari?"

Orang tua itu menyahuti dengan tenang: "Aku dengar kabar suatu barang-barang bakal dibawa masuk ke Hoopak, katanya tak sedikit terdiri dari barang baik, karenanya kita datang dulu untuk melihat."

Wajahnya See Ceecu berubah.

"Jikalau ditunggu sampai barang sudah sampai di daerah Hoopak, baru dilihat, toh masih belum terlambat?" dia tanya.

Si orang tua tertawa berkakakan.

"Bagaimana tidak terlambat?" katanya. "Jikalau barang sudah terjatuh ke dalam tangan pihakmu, gilirannya untuk melihat saja sudah tidak ada!"

Sin Cie bertiga Ceng Ceng dan Ang Seng Hay saling memandang di dalam hati mereka, mereka berpendapat bagaimana cepatnya orang-orang Hoopak dengar kabar hal angkutan harta karun itu, hingga mereka sudah lantas datang untuk mendahulukan turun tangan, atau untuk mendapati sebagian saja. Mereka pun pikir, baik mereka "tonton" sepak-terjang lebih jauh dari mereka itu.

Di pihak Shoatang, orang lantas bicara dengan seru, umumnya mereka katakan si orang tua bersikap tak tahu aturan. Menurut suara mereka, orang tua ini rupanya bernama Thia Ceng Tiok.

"He, apa yang kamu bicarakan demikian berisik?" si orang tua tanya rombongan Shoatang itu. "Aku sudah tua, kupingku tak dengar nyata...."

See Ceecu kibas-kibaskan kipasnya, untuk cegah rombongannya.

"Kita telah membuat perjanjian, Thia Loo-ya-cu, mengapa kau tidak hendak menepati janji?" See Ceecu tanya pula. "Ia tak dapat dipercaya, apakah dia tak bakal ditertawai orang-orang gagah kaum Kang-ouw?"

Ditegur secara demikian, si orang tua tidak menjawab, ia hanya menoleh kepada si nona di sampingnya, akan tanya: "Eh, A Kiu, ketika masih di rumah, apakah kataku kepadamu?"

Si nona jawab: "Kau bilang, mari kita pergi ke Shoatang untuk lihat barang-barang berharga."

Ceng Ceng ada satu nona akan tetapi ia kagum mendengar suaranya nona ini. Itulah suara yang halus, jernih, sedap didengarnya. Maka ia menoleh kepada nona itu, yang ia awasi, hingga ia tampak lebih jelas wajah orang, muka yang bersemu dadu, segar dan manis. Dia adalah satu nona muda yang elok dan menarik.

"Apakah kita pernah omong bahwa kita hendak ulur tangan kita untuk ambil barang itu?" Thia Ceng Tiok tanya pula, sambil tertawa.

"Tidak," sahut si A Kiu itu. "Sekarang pun kita tidak bicara sebagai itu."

Baru sekarang si orang she Thia berpaling pada See Ceecu.

"Lauwtee, kau dengar atau tidak?" ia tanya. "Kapan aku pernah bilang hendak bekerja dalam daerah Shoatang?"

See Ceecu berubah wajahnya, ia bersenyum.

"Bagus, itu barulah namanya sahabat!" dia bilang. "Thia Loo-ya-cu datang dari tempat jauh, sebentar kau akan dapat satu bagian!"

Orang she Thia itu tak ambil mumet akan kata-katanya ceecu ini, ia hanya berpaling pula kepada si nona.

"Eh, A kiu, apa saja yang kita katakan pula di rumah?" tanya ia.

"Kau bilang, barang permata itu tak sedikit, jangan kita biarkan lain orang mengambilnya," sahut orang yang ditanya.

"Hm!" bersuara Thia Ceng Tiok. "Umpama orang hendak mengambilnya?"

"Kalau sampai terjadi demikian, kami harus turun tangan untuk melindunginya," sahut pula si nona.

Ceng Tiok tertawa.

"Bagus, ingatannya anak muda tak jelek!" serunya. "Ya, aku ingat telah mengucapkan demikian." Lalu ia menoleh kepada si See Ceecu, dan kata: "Apa kau sekarang telah mengerti, Lauwtee! Kami tak dapat bekerja di Shoatang, itu benar, akan tetapi kami hendak melindunginya! Tidakkah untuk ini tidak ada perjanjiannya?"

Mukanya ceecu she See ini menjadi pias-padam.

"Sekarang kau larang kita turun tangan!" katanya dengan sengit, "akan tetapi nanti, setelah barang sampai di dalam daerah Hoopak, di sana kaulah yang nanti lonjorkan tanganmu, bukan?"

"Benar," aku Thia Ceng Tiok. "Bukankah ini tidak merusak persahabatan? Bukankah ini tidak melanggar perjanjian kita di Tay San?"

Semua berandal itu menjadi sangat gusar. Itulah alasan yang dipaksakan, yang dicari-cari. Dari murka, mereka jadi niat menyerang ayah dan gadisnya itu. Bukankah mereka cuma berdua saja?

Selagi orang berdiam, A Kiu bawa dua lembar daun bambu ke dalam mulutnya, untuk tiup itu. Itulah suitan istimewa, yang memberikan pertandaan rahasia.

Menyusul bunyinya suitan, dari dalam rimba muncul beberapa ratus orang yang pakaiannya tak berseragam, kecuali di kopiah mereka, masing-masing mereka menyelipkan selembar daun bambu yang hijau.

See Ceecu terkejut dalam hati.

"Ah, kiranya dia telah bikin persiapan....." pikirnya. "Nyatalah saudara-saudara kita yang ditugaskan sebagai mata-mata, buta matanya! Kenapa mereka tidak ketahui orang datang dalam jumlah begini besar?"

Tidak ayal lagi, See Ceecu memberikan isyaratnya, maka lantas semua tujuh ceecu lainnya serta Tam Hu Ceecu, ketua muda dari Ok Houw Kauw, lantas atur barisan mereka masing-masing.

Tak gentar hatinya Thia Ceng Tiok menampak persiapan pihak delapan ceecu itu, inilah disebabkan ia percaya orang-orangnya sendiri, yang ia rasa telah ia atur dengan sempurna.

Sin Cie tarik tangannya Ceng Ceng, si nona berpaling kepadanya, keduanya lantas bersenyum.

"Barang masih belum didapatkan, mereka sudah berkeras di antara kawan sendiri, sungguh lucu!" kata si nona dengan perlahan. Ia pun tidak jeri.

"Biar saja!" kata Sin Cie. "Kita jadi si nelayan yang peroleh hasil! Tak jelek, bukan?"

Walaupun mereka bersiap untuk bertempur, kawanan begal Shoatang itu masih sempat pisahkan sejumlah kecil, ialah beberapa puluh orangnya, untuk jaga kereta-kereta barang, rupanya mereka kuatir, selagi mereka adu jiwa, kereta-kereta nanti kabur.

Sin Cie lambaikan Seng Hay.

"Ceng Tiok Pay itu golongan apa?" tanya ia pada pengikut itu.

"Di wilayah Hoopak, Ceng Tiok Pay berpengaruh sendiri," Seng Hay terangkan. "Orang tua itu, Thia Ceng Tiok, adalah ketuanya. Jangan kita lihat dia dari kurus tubuhnya dan tua usianya, ilmu silatnya liehay sekali!"

"Dan itu anak kecil?" Ceng Ceng tanya. "Dia cucunya atau gadisnya?"

"Turut apa yang aku dengar, tabeatnya Thia Ceng Tiok aneh sekali," sahut Seng Hay. "Seumur hidupnya, dia tidak pernah menikah, dari itu tak mungkin nona itu ada cucu atau anaknya. Mungkin dia kemenakan atau anak pungut...."

Ceng Ceng manggut-manggut.

Nona A Kiu itu bersikap tenang sekali, tak sedikit jua kentara ia berkuatir, maka Ceng Ceng sangka dia liehay bugeenya. Ia terus mengawasi kawanan begal itu.

Di pihak Ceng Tiok Pay, berulang-ulang terdengar suitan, lalu jumlah mereka yang terdiri dari beberapa ratus jiwa lantas pusatkan diri dalam empat pasukan, sesudah mana, Ceng Tiok dan A Kiu tempatkan diri di muka barisannya itu. Mereka masing-masing menunggang kuda. Mereka hendak bertempur akan tetapi mereka tidak menyekal senjata.

Di mana kedua pihak sudah siap, pertempuran akan meletus sembarang waktu, selagi begitu, di arah selatan, terdengar suara kelenengan nyaring, lalu tertampak tiga penunggang kuda mendatangi dengan cepat sekali, kemudian satu di antaranya, yang maju paling depan berseru: "Sama-sama sahabat sendiri, tolong kamu pandang mukaku!"

"Hei, heran!" pikir Sin Cie. "Mengapa muncul pula satu tukang mendamaikan?...." Ia lantas mengawasi.

Sebentar saja, ketiga penunggang kuda itu telah datang dekat. Orang yang pertama berumur lima-puluh lebih, roman mereka mirip dengan seorang hartawan bekas pembesar negeri, sebab ia pakai baju panjang tersulam dan tangannya menyekal sebatang huncwee besar. Dua yang lain, yang tubuhnya jangkung dan kate, sangat sederhana dandanannya.

Begitu lekas sudah tempatkan diri di antara kedua pihak rombongan yang hendak adu tenaga itu, orang itu angkat huncweenya, ia tertawa, lalu dengan nyaring, ia kata: "Kita ada di antara saudara-saudara sendiri, omongan apa yang tak dapat diucapkan? Kenapa kita mesti angkat senjata? Apakah kamu tak kuatir nanti ditertawai kaum Kang-ouw umumnya?"

"Thie Chungcu, bagus kau telah datang!" berkata See Ceecu. "Tolong kau berikan pemandanganmu, untuk ketahui siapa benar dan siapa keliru...."

Ceecu ini lantas bentangkan sikapnya Thia Ceng Tiok.

Orang she Thia itu tidak perdulikan apa yang orang bilang, ia cuma tertawa saja dengan dingin.

Selagi orang bicara, Ang Seng Hay kata pada Sin Cie: "Wan Siangkong, See Ceecu itu bernama See Thian Kong, gelarannya Im-yang-sie, si Kipas Im-yang. Bersama-sama Thie Chungcu itu, yang bernama Tie Hong Liu, mereka menjadi dua cabang atas di dalam propinsi Shoatang."

"Jadi mereka inilah yang dulu kau sebut-sebut?" kata Ceng Ceng.

"Dan kenapa dia dipanggil chungcu?" tanya Sin Cie.

Chungcu adalah hartawan atau pemilik sebuah kampung di mana dia berpengaruh seorang diri. ("Chung" dari chungcu baca mirip "ceng" dari "cengkeram").

"Bedanya ialah," menerangkan Ang Seng Hay, "kalau See Ceecu berkedudukan di atas gunung dengan pesanggrahannya, Tie Hong Liu hidup sebagai satu wan-gwee, hartawan yang berumah-tangga dalam sebuah kampung, sebab di depan dan belakang kampung itu ditanami ribuan pohon yangliu merah, kampungnya itu diberi nama Cian-liu-chung. Tapi sebenarnya dia adalah begal tunggal, dia bisa membegal atau merampas sendirian, kalau dia "bekerja", dia cuma ajak dua atau tiga pembantunya."

Dalam hatinya, Ceng Ceng bilang: "Dia jadinya mirip dengan cara hidupnya beberapa yayaku dari Cio Liang Pay..."

Segera terdengar suaranya Tie Hong Liu: "Thia Toako, di dalam hal ini, Toakolah yang kurang tepat. Ketika dahulu dibikin rapat besar di gunung Tay San, dengan kebaikannya semua saudara, yang masih memandang mata kepadaku, aku telah diundang hadir, itu waktu telah ditetapkan bahwa kita masing-masing tak dapat bekerja di luar batas wilayah pengaruh sendiri!"

"Itulah benar, Tie Chungcu," shaut Thia Ceng Tiok dengan tenang, "tapi sekarang aku bukannya hendak bekerja, aku hanya bermaksud baik, niat melindungi rombongan kereta barang-barang ini. Tie Lauwko, kupingmu terang sekali, di mana saja kau dengar ada 'air­minyak', lantas ke sana kau sodorkan huncweemu!...."

Orang she Tie itu tertawa terbahak-bahak, terus ia tunjuk dua orang yang iringi padanya: "Kedua tuan ini adalah Huy-im Siang Kiat, Gu Hoa Seng dan Thio Hin. Mereka yang sengaja bergegas-gegas datang ke kampungku akan memberitahukan bahwa mereka mempunyai satu bahagian harta kegirangan untuk dipersembahkan kepadaku. Tubuhku telah jadi begini gemuk, aku malas untuk bekerja pula, akan tetapi mereka dua saudara demikian sungguh-sungguh, terpaksa aku tak dapat tampik kecintaan mereka, terpaksa aku keluar, untuk melihat, aku tidak sangka di sini aku bertemu dengan saudara beramai. Sungguh, inilah ramai sekali!"

Sin Cie pandang Ceng Ceng, dalam hatinya, ia kata: "Bagus, sekarang tambah tiga ekor kucing!"

See Thian Kong sebaliknya pikir: "Orang she Tie ini liehay, baik aku rombak aturan pembagian, aku bagi dia satu bagian, supaya kita bisa bekerja sama-sama untuk hadapkan Ceng Tiok Pay." Karena ini, dia kata kepada chungcu itu: "Tie Chungcu adalah orang dari wilayah Shoatang, umpamanya Tie Chungcu kehendaki satu bahagian, kami tidak bisa bilang satu apa, tetapi jikalau orang dari lain wilayah masuk kemari, lalu kita mengalah, habis dari mana kita punyakan nasi untuk didahar?"

Tie Hong Liu tidak bilang suatu apa kepada orang she See itu, dia hanya pandang Thia Ceng Tiok untuk tanya: "Nah, Thia Toako, apa katamu?"

"Urusan hari ini terang tak dapat diselesaikan secara baik," sahut orang she Thia itu. "Baiklah, mari kita bicara secara terbuka, kita cari kemenangan atau kekalahan di ujung golok dan tumbak saja!"

Nyata ketua dari Ceng Tiok Pay ini bernyali sangat besar, tidak perduli dia lagi hadapi musuh demikian banyak.

"Dan kau, See Lauwtee, bagaimana dengan kau?" Tie Hong Liu menoleh pada See Thian Kong yang menjawab dengan lantas: "Kami orang laki-laki dari Shoatang, tak dapat kami mengalah untuk diperhina orang lain daerah yang datang cari rumah kita!"

Dengan jawabannya itu, terang See Thian Kong sudah tarik Tie Hong Liu kepada pihaknya.

Thia Ceng Tiok mengulet, ia pun menguap.

"Sekarang bagaimana, kita maju semua berbareng atau satu demi satu?" tanya dia dengan tantangannya. "Silahkan See Ceecu mengaturnya, pihakku yang rendah bersedia untuk turut segala titahmu."

See Thian Kong goyang-goyang kipas Im-yang-sienya, ia pun berulang-ulang perdengarkan suara menghina: "Hm! Hm!"

"Dan kau, Tie Toako, bagaimana pikiranmu?" dia tanya.

Ketika pertama kali Tie Hong Liu terima laporan Hoay-im Siang Kiat, sepasang jago dari Hoa-im, dia telah memikir untuk telan sendiri harta karun itu, maka ia sudah berangkat dengan cepat, ia tidak sangka, dia telah datang terlambat, dari itu, dia memikir boleh jugalah ia mendapat hanya satu bagian. Tapi ia juga insyaf di pihak Ceng Tiok Pay ada banyak orang liehay.Thia Pangcu sendiri telah kesohor untuk banyak tahun, dia itu bukan orang sembarangan, tak dapat dia cari gara-gara dengan orang she Thia itu. Maka setelah berpikir sebentar, ia utarakan pikirannya.

"Jikalau begini duduknya hal, sulit untuk mencari pemecahan, satu pertempuran tak dapat dielakkan lagi," katanya. "Kalau kita bertempur secara merabuh, mesti banyak orang terluka dan terbinasa. Kenapa kita mesti minta banyak korban, hingga persahabatan jadi terganggu hebat? Bagaimana jikalau aku majukan satu usul?"

"Silakan kau mengutarakannya, Tie Chungcu," kata Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong hampir berbareng.

Dengan huncweenya, Tie Hong Liu menunjuk kepada sepuluh buah kereta-kereta harta karun. Dia kata: "Di sana ada sepuluh peti besi, maka itu, kita baik majukan saja sepuluh orang masing-masing, dengan begitu, pertempuran pun berarti sepuluh kali juga, batasnya yaitu sampai saling towel saja, jangan kita meminta jiwa. Siapa menang satu kali, dia dapat satu peti. Tidakkah ini paling adil? Anggap saja kita sedang sempat, hitung-hitung kita berlatih di sini, untuk menambah pengetahuan, siapa dapati barang permata, dia dapat hadiah kepala. Siapa tidak peroleh pahala, jangan dia berkecil hati, karena toh asalnya bukan kepunyaan kita sendiri! Bagaimana Jie-wie pikir?"

Mendengar usul itu, Thia Ceng Tiok paling dulu nyatakan akur.

See Thian Kong juga nyatakan akur, karena ia pikir: "Biar aku antap setiap rombongan majukan orang-orangnya, umpama mereka masing-masing menang, itu pun memang hak mereka, tapi umpama mereka kalah, kekalahan mereka tidak ada ruginya untuk aku. Jikalau dari pihakku, aku sendiri yang keluar bersama Tam Loo-jie, pasti kita tidak akan kalah, tentu kita bakal dapat dua buah peti."

Sampai di situ, kedua pihak lantas balik ke dalam masing-masing barisannya, yang pun berbareng mereka tarik pulang, setelah mana, mereka mulai pilih orang-orang sendiri yang bakal dimajukan dalam pertandingan.

Tie Hong Liu sendiri lantas perintah orang beri tanda dengan coretan huruf-huruf kepada sepuluh peti itu, alat pencoretnya adalah tanah lempung kuning.

Sin Cie dan Ceng Ceng antap saja orang cumprang-compreng peti mereka.

Thia Ceng Tiok lihat dua anak muda itu tenang-tenang saja, sedikit juga tidak tertampak mereka berkuatir, ia heran, karenanya, beberapa kali ia melirik ke arah mereka itu.
Thanks for reading PEDANG ULAR MAS 22

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar