Jilid 23
Kemudian kawanan berandal itu berkerumun mengurung Tie Hong Liu, yang menjadi seperti saksi atau wasit.
Mulanya pihak Shoatang majukan jagonya, disusul sama jago pihak Hoopak; mereka ini bertubuh besar dan kasar, terang mereka bertenaga besar, maka itu, perkelahian mereka seru. Pihak Hoopak kurang waspada, satu kali kakinya kena direngkas, dia jatuh, rubuh terbanting. Dia hendak bangun, untuk berkelahi pula. Tapi Tie Hong Liu, sang wasit, goyangi tangan padanya dan tulisan huruf "Lou" (Shoatang) pada peti pertama yang bertanda huruf "Kak", itu berarti pihak Shoatang yang rebut kemenangan pertama.
Pertandingan ini disambut dengan tampik-surak.
Sebagai jagonya yang kedua, pihak Hoopak majukan seorang yang See Thian Kong kenal sebagai ahli tangan-pasir Tiat-see-ciang, maka itu, ia suruh ketua mudanya, Tam Ceecu, untuk layani musuh itu.
Kedua jago tak berbeda banyak kepandaiannya, tapi Tam Hu-ceecu lebih terlatih, selang beberapa puluh jurus, dia berhasil hajar lengan lawan hingga lengannya jago Hoopak itu tak dapat diangkat. Maka untuk kedua kalinya, pihak Shoatang yang menang.
Bukan main girangnya pihak Shoatang. Tapi di babak ketiga, keempat, kelima dan keenam, mereka kalah dengan beruntun, hati mereka juga goncang.
Kapan sampai waktunya babak ketujuh, kedua jago yang maju masing-masing bekal senjata.
Di pihak Shoatang maju ceecu dari Sat Pa Kong, bukit Sembelih Macan Tutul, yang bergegaman golok besar Poat-hong Kiu-hoan-too. Dia ini gagah, dia berhasil membacok sebelah bahu lawannya.
Melihat sampai di situ, Tie Hong Liu berpikir. Peti tinggal tiga buah, apabila ia tidak lantas turun tangan, dia bisa kehabisan, dia bakal dapat tangan kosong, maka ia ingin majukan orangnya sendiri guna layani pihak Ceng Tiok Pay. Dia anggap cukup asal ia dapatkan satu peti saja....
"See Lauwtee," kata dia pada See Thian Kong, sesudah dia berdehem-dehem, "pihak sana itu, makin lama jadi makin hebat, maka itu kali ini, biarlah aku yang sambut padanya."
See Thian Kong mengerti, wasit ini tak boleh pulang dengan tangan kosong, ia suka mengalah.
"Aku harap bantuan Tie Chungcu untuk lindungi nama baik kita," katanya.
Tapi kapan telah sampai waktunya pihak Ceng Tiok Pay majukan jagonya, chungcu dari Cian-liu-chung jadi melongo, ia berdiri tercengang. Karena yang maju itu adalah A Kiu, si nona muda, yang umurnya tidak lebih dari lima-belas atau enam-belas tahun! Dan tangannya pun tidak menyekal senjata tajam, melainkan dua batang bambu yang kecil.
"Aku adalah satu jago Rimba Persilatan, mana dapat aku perhina diri dengan layani satu nona cilik?" pikir dia. Dia sudah maju beberapa tindak, atau mendadakan dia merandek, lantas dia kembali.
"Lauwtee, kau majukan lain orang saja," katanya pada See Thian Kong. "Aku nanti maju di babak lainnya...."
See Ceecu tahu, chungcu itu tidak mau lawan satu nona, maka ia serukan orang-orangnya: "Saudara yang mana yang mempunyai kegembiraan hati akan temani nona kecil itu memain?"
Segera maju satu orang yang tubuhnya tinggi dan romannya gagah, mukanya putih, senjatanya sepasang poan-koan-pit, gegaman mirip pit peranti menotok jalan darah. Dialah Cin Tong, ceecu dari Oey Sek Po, dia gemar pelesiran, dari itu dia ketarik sama si nona Thia, yang romannya cantik manis dan menggiurkan. Dia maju sambil menyahuti seruannya See Thian Kong.
Melihat orang yang maju itu, See Ceecu bersenyum.
"Memang, di antara kita, Lauwtee adalah yang paling cocok!" katanya.
Cin Tong hendak banggakan kepandaiannya, dia berlompat ke depan si nona. Dia benar-benar bertubuh enteng, gesit sekali gerakannya. Dia pun telah pikir untuk bicara dengan nona itu, untuk membikin senang hati si nona. Tapi, baru saja ia menaruh kaki, atau tangannya A Kiu telah bergerak, bambu di tangan kanannya sudah sambut ia dengan satu tusukan, yang arah dadanya. Dia satu ahli menotok jalan darah, sudah wajarnya dia gesit, akan tetapi sekjarang, dipapaki secara demikian, dia terkejut sekali, tidak ayal lagi, dia menangkis dengan poan-koan-pit kiri. Tapi menyusul tangan kanannya itu, tangan kiri si nona menusuk secara cepat luar biasa sampai, saking sibuk, ceecu ini mesti tolong diri dengan jatuhkan tubuhnya untuk terus bergulingan di tanah, hingga kepalanya penuh debu, hingga dia keluarkan keringat dingin.
Semua berandal dari Shoatang terperanjat, mereka tak menyangka nona itu begitu muda tapi demikian liehay, malah Sin Cie dan Ceng Ceng turut merasa heran juga, hingga kedua pemuda dan pemudi ini saling melirik.
Cin Tong sudah berlompat bangun, akan layani pula A Kiu, dengan begitu, keduanya sudah mulai bertempur, hingga tertampak lebih jauh, nona Thia telah gunakan dua batang bambunya bagaikan tumbak, gegamannya itu lemas tetapi bisa dibikin kaku.
Dalam tempo yang pendek, Cin Tong telah kena dibikin berpikir keras, sebab kadangkadang ujung bambunya si nona juga mencari jalan darahnya. Dia pun pikirkan apabila dia tak sanggup rubuhkan si nona, bagaimana dengan nama besarnya di Shoatang sebagai seorang ceecu yang kesohor? Maka dalam sibuknya, dia bikin perlawanan dengan sungguh-sungguh.
A Kiu berkelahi secara luar biasa. Satu kali ia renggang dari lawan, dengan bambu kiri dia menekan tanah, lalu tubuhnya mencelat naik, berlompat ke arah musuh, bambu kanannya, dari atas, menyerang turun; kapan serangannya ini gagal, bambu kanan itu diteruskan dibikin mengenai tanah, hingga di lain saat, tubuhnya mencelat naik pula, hingga sekarang ia bisa menyerang pula dengan tangan kiri.
Tak tahu Cin Tong, bagaimana dia harus layani penyerangan macam ini, karena sibuk, dia terpaksa main menangkis saja sambil saban-saban mundur. Tetapi A Kiu terus desak dia, hingga dia jadi repot sekali dan berkuatir dia tak dapat ketika, untuk balas menyerang. Dalam repotnya, tahu-tahu ujung bambu telah mengenai bahu kirinya, di bagian jalan darah "kin-ceng-hiat", maka tak ampun lagi, lengan kirinya jadi kaku, poan-koan-pitnya terlepas dari cekalan dan jatuh ke tanah, berbareng dengan itu, mukanya jadi bersemu merah! Mau atau tidak, dia mesti mengaku kalah, dia mundur sambil tunduki kepala....
A Kiu antapkan lawan itu mundur, dia berniat undurkan diri, tapi segera ia tampak Tie Hong Liu bertindak menghampiri padanya sambil jago dari Cian-liu-chung itu terus berkata: "Nona, tunggu dulu! Nona sungguh liehay, benar-benar, di bawahannya satu jenderal perang ternama, tidak ada serdadu yang lemah! Umpama kata nona masih belum letih, aku suka main-main denganmu beberapa jurus. Bagaimana?"
A Kiu tertawa gembira.
"Sebenarnya aku belum memain!" sahutnya. "Jikalau Tie Pehhu hendak berikan pengajaran kepadaku, itulah baik sekali. Pehhu hendak gunai senjata apa?"
Tie Hong Liu tertawa.
"Orang tua layani anak kecil memain, mustahil aku mesti pakai gegaman?" katanya. "Aku akan bertangan kosong!"
Hong Liu telah saksikan orang bertempur, ia terperanjat akan dapatkan nona muda itu demikian liehay, hingga ia percaya, di sebelah si nona, di pihaknya nona ini, mesti ada lain-lain orang yang tak kurang liehaynya, maka itu, dari sungkan turun tangan, dia pikir baik ia mendahului maju, akan rintangi nona ini, asal dia telah dapati sebuah peti, urusan lainnya boleh lihat belakangan....
Di pihak Ceng Tiok Pay, tiga orang hendak majukan diri, karena mereka kuatir si nona menjadi terlalu lelah, akan tetapi A Kiu besar nyalinya, dia beri tanda kepada tiga kawan itu sambil berkata: "Aku telah beri kata-kataku kepada Tie Pehhu!" Maka itu, tiga orang itu terpaksa mundur pula.
Tie Hong Liu bertindak dengan perlahan menghampirkan si nona di tengah-tengah kalangan, sembari bertindak, dia telah kerahkan semangatnya, tenaga khie-kang, maka di lain saat, mukanya yang tadinya putih lantas saja berubah menjadi bersemu dadu.
Ceng Tiok saksikan perubahan muka itu, dia gapekan puterinya, atas mana, sambil berlompat, A Kiu hampiri sang ayah.
Segera Ceng Tiok bisiki gadisnya, siapa manggut-manggut, sesudah itu, si nona kembali ke dalam kalangan, di depan Hong Liu, dia membungkuk, untuk memberi hormat, habis itu, ia putar sepasang tumbak bambunya itu, untuk mengurung diri. Ia tidak segera menyerang.
Dengan tindakan ayal sekali, Hong Liu dekati si nona, lalu dengan sekonyong-konyong, ia menyerang.
A Kiu menangkis dengan pentang kedua tumbaknya, apabila ia sudah menarik pulang, lantas ia mulai dengan serangannya membalas, dimulai dengan tangan kanan, disusul sama tangan kiri, kemudian kedua batang bambu itu diteruskan, dipakai menyerang saling susul tak hentinya, ia mendesak bagaikan serangan badai.
Di pihak Ceng Tiok Pay orang bertampik-surak melihat cara berkelahinya pahlawan mereka.
Tie Hong Liu berlaku tenang walaupun ia telah dicecar secara demikian, di lain bagian, mukanya jadi semakin merah dan semakin merah, hingga sinar merah itu sampai kepada batang lehernya, Ia masih main maju saja, kedua tangannya bergerak-gerak menghalau sesuatu tusukan. Ia bertubuh besar dan tangguh, hatinya mantap, di sebelah ia ada satu nona muda, yang tubuhnya kecil-langsing, yang sedang hunjuk kegesitannya.
Sin Cie tonton pertempuran itu.
"Dia tua-bangka tetapi dia sudi layani satu nona-remaja," kemudian ia kata kepada Ceng Ceng, kawannya. "Kau lihat, dia berniat turunkan tangan jahat."
"Nanti aku tolong nona itu!" sahut Ceng Ceng.
Sin Cie tertawa.
"Dua-dua mereka hendak rampas harta kita, untuk apa tolongi dia?" ia tanya.
"Tapi nona itu manis, dia sangat simpatik!" kata Ceng Ceng. "Baik kita tolong dia, urusan di belakang, ada lain. Toako, pergi kau yang turun tangan!"
Sin Cie tertawa pula, ia manggut-manggut.
Pertempuran masih berjalan, mukanya Hong Liu tetap merah, tapi cahaya merah itu sudah melulahan ke seluruh lengannya.
"Kalau sebentar cahaya merah itu sampai di tangannya, celakalah si nona," kata Sin Cie pada kawannya. Dia berlaku tenang, dia telah pikir bagaimana harus bertindak.
A Kiu telah berhasil menotok atau menusuk Hong Liu, sampai beberapa kali, akan tetapi ia tidak peroleh hasil sebagaimana tadi ia lawan Cin Tong. Hong Liu tidak perdulikan serangan itu, ia tetap berlaku tenang, ia maju dengan perlahan, cuma setiap gerakannya jadi makin berat dan makin berat. Di samping dia, pada A Kiu pun terjadi perubahan karena ia ini sibuk sendirinya melihat serangan-serangannya yang tidak memberi hasil, walaupun ia bisa menusuk dengan tepat, hingga di lain saat, kegesitannya mulai berkurang, napasnya pun mulai memburu.
Thia Ceng Tiok pun telah perhatikan jalannya pertempuran.
"A Kiu, kembali!" ia teriaki gadisnya. "Tie Pehhu telah menang!"
Nona itu dengar kata, ia lantas putar tubuhnya, untuk mundur.
Tetapi Tie Hong Liu desak ia.
"Setelah kau tusuk aku berulang-ulang, kau masih berniat menyingkir?" dia membentak. Dia tetap bergerak ayal akan tetapi A Kiu toh seperti kena dikurung, ia tak dapat terus mundur.
Tangannya jago she Tie ini pun mulai merah sekarang.
Ceng Tiok ambil sebatang bamboo dari tangannya satu orangnya, dia serukan: "Semua berhenti!"
Justeru itu, See Thian Kong yang geraki kipasnya, maju, untuk serang ketua Ceng Tiok Pay ini, malah dia arah jalan darah, hingga mau atau tidak, Ceng Tiok mesti tangkis serangan mendadak ini. Malah ia mesti melayani terus, hingga ia tak bisa pecah tubuh, untuk tolongi puterinya. Ia tahu, orang she See ini liehay, ia mesti waspada.
Di pihak sana, A Kiu sudah mandi keringat, bertetes-tetes, air keringat jatuh dari kepalanya, sedang kedua tangannya sangat repot membela diri dari desakannya Hong Liu.
Sekonyong-konyong saja Sin Cie menjerit-jerit bagaikan orang edan-tolol: "Ayo! Tolong! Tolong!" Dan kudanya kabur ke tengah kalangan, ke arah Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong, hingga mereka ini, mau atau tidak, mesti pisahkan diri.
Sin Cie bercokol di atas kuda dengan tubuh limbung, kedua tangannya dipakai memeluki leher kuda, agaknya ia seperti mau jatuh, akan tetapi, sesudah miring dan merosot ke bawah perut kuda, ia berhasil perbaiki diri, duduk pula di atas bebokong kudanya. Kuda itu sendiri terus berlarian, seperti lagi kalap. Kemudian binatang itu lari ke arah A Kiu dan Hong Liu, hingga sekejab saja, dia telah pisahkan kedua orang yang lagi bertempur seru itu, malah sekarang, dia mau berhenti berlari-lari, berdiri di antara kedua musuh itu.
Sin Cie lekas-lekas merosot turun dari kudanya.
"Sungguh berbahaya! Sungguh berbahaya!" ia ngoceh sendirinya. "Inilah yang dibilang lolos dari kematian... Eh, binatang, apakah benar kau maui jiwanya majikanmu?"
Sementara itu, dengan jengah, A Kiu telah gunai kesempatan, untuk kembali ke dalam barisannya. Dalam keadaan seperti itu, Hong Liu tidak dapat kejar dia.
Tapi Thia Ceng Tiok sendiri tidak mau berhenti sampai di situ.
"See Ceecu, aku masih ingin belajar kenal dengan Im-yang Poo-sie!" ia tantang pula See Thian Kong.
"Ya, ini pun untuk pertandingan peti terakhir!" sahut orang she See itu.
Maka tak tempo lagi, keduanya bertempur pula. Tadi mereka bertempur sampai beberapa puluh jurus tanpa ada keputusannya, sekarang ini mereka cari keputusan itu. Maka keduanya bertarung dengan hebat sekali.
Sepasang toya bamboo dari Thia Ceng Tiok ada panjang, permainan silatnya pun liehay, ia membuat lawannya dengan senjata kipasnya tak mampu dekati padanya.
Tatkala itu matahari yang merah sudah mulai doyong ke barat, beberapa rombongan gaok, dengan suaranya yang berisik, mulai terbang pulang ke hutan.
Setelah berjalan lagi beberapa puluh jurus, See Thian Kong mulai keteter, gerak-gerakan kakinya telah menjadi kacau.
Tie Hong Liu lihat keadaan itu, ia lantas berseru: "Kedua pihak sama tangguhnya, keputusan menang dan kalah sukar diambil, maka itu peti ini baiklah dibagi dua saja dengan rata!"
Justeru itu, Thia Ceng Tiok telah perdengarkan suara tawa yang panjang membarengi sapuan senjatanya yang istimewa itu.
Atas serangan ke bawah itu, See Thian Kong apungi diri untuk berlompat menyingkir, akan tetapi Ceng Tiok berlaku sangat sebat, setelah gagal sapuan yang pertama, ia ulangi itu selagi lawannya belum sempat injak tanah, dari itu tak ampun lagi, sebelah kakinya lawan itu kena tersapu, tubuhnya menjadi limbung, lantas saja dia rubuh.
Sesudah sang lawan jatuh, Thia Ceng Tiok tidak menyerang lebih jauh, dia malah tarik pulang senjatanya. Tapi See Thian Kong telah kertak gigi saking malu dan mendongkol, sambil rebah ia tekan pesawat rahasia pada kipasnya itu, yang ia tujukan ke bebokongnya si orang she Thia, yang telah memutar tubuh, maka lima batang paku rahasia lantas menyerang ketua dari Ceng Tiok Pay itu tanpa dia ini ketahui atau sempat berkelit, hingga semua lima-limanya paku nancap di bebokongnya itu.
Ceng Tiok kaget, apapula kapan ia rasai bebokongnya lantas ngilu dan baal, insyaf pada bahaya, ia segera menahan napas, ia tak mau bicara, kemudian dengan satu lompatan, ia dekati lawannya itu yang curang, untuk totok dia dua kali dengan ujung galanya. Ia arah perut lawan, ia telah gunai sisa tenaganya, atas mana, See Thian Kong semaput seketika itu juga.
Sejumlah berandal dari Shoatang hunus senjata mereka, mereka maju untuk tolongi ketua mereka, akan tetapi belum sampai mereka datang dekat, Thian Ceng Tiok sudah tak kuat pertahankan diri, dia rubuh celentang. Hebat adalah kesudahan dari itu, sebab lima batang paku rahasia di bebokongnya mengenai tanah, hingga dia jadi tertumblas lebih dalam.
A Kiu lompat kepada ayahnya, untuk mengasih bangun.
Melihat tubuhnya ketua mereka, yang tak ketahuan masih hidup atau sudah terbinasa, orang-orang Ceng Tiok Pay jadi kalap, tidak ayal lagi, mereka maju menyerang rombongan berandal dari Shoatang itu, hingga mereka jadi bertempur secara hebat dan kalut.
"Lekas suruh saudara-saudara itu berhenti bertempur!" serukan Tie Hong Liu kepada hu-ceecu dari Ok Houw Kauw, yang lengannya ia sambar. Tam Hoo-ceecu menurut, ia perdengarkan terompetnya. Titah ini ditaati kawan-kawan, sekejab saja semua berandal dari Shoatang undurkan diri. Pihak Ceng Tiok Pay juga bunyikan pertandaan mereka, yang membikin anggauta-anggauta mereka mundur juga. Itulah A Kiu, yang berikan tandanya, karena itu waktu, ia dapatkan ayahnya sudah sadar, hingga ia anggap, satu pertarungan kacau balau tidak ada faedahnya, sedang juga pihak sana sudah bunyikan terompet. Tie Hong Liu lantas majukan diri, akan berdiri di tengah-tengah kedua pihak. "Baiklah kedua pihak jangan merusak perdamaian!" dia berseru. "Mari kita mulai membagi bagian! Tentang perselisihan, kita akan damaikan secara perlahan-lahan!"
Tam Hoo-ceecu segera perdengarkan suaranya: "Peti terakhir ini ada bagian kami!"
"Muka tebal!" berseru pihak Ceng Tiok Pay. "Sudah kalah bertempur, masih berlaku curang! Apakah ini namanya satu enghiong?"
Kedua pihak lantas saling damprat, lalu akhirnya mereka hunus pula senjata masingmasing. "Baiklah, peti itu dibuka, isinya dibagi rata!" lagi-lagi Tie Hong Liu berseru. Atas itu, orang-orang kedua pihak hendak maju berbareng.
"Tunggu dulu!" A Kiu berseru. "Peti yang kedelapan akulah yang menangkan akan tetapi aku tak inginkan itu, aku hendak hadiahkan kepada itu tuan tetamu! Aku larang siapa juga raba peti itu!"
"Eh, kenapa begitu?" tanya Tie Hong Liu.
"Apabila kudanya dia itu tidak binal, pasti aku telah rubuh di tangan kau, Tie Pehhu," sahut si nona. "Maka hendak aku menghadiahkannya kepadanya!"
Tie Hong Liu tertawa.
"Nyata kau kenal budi-kebaikan!" kata dia. "Baik, kau ambillah itu! Ingat, semua peti sudah ada tandanya, jangan salah ambil!" Selagi orang hendak angkut peti-peti, mendadak Sin Cie berseru: "Hai, Tuan-Tuan, kamu hendak perbuat apa?" demikian suaranya.
A Kiu tertawa cekikikan. "Eh, kau masih belum tahu?" katanya. "Kita hendak angkut peti-peti itu!"
"Oh, begitu?" kata Sin Cie. "Tak sanggup aku terima budi-kebaikan itu! Kamu lihat sendiri, aku telah sewa kereta yang besar untuk mengangkutnya!..."
"Tetapi kita bukannya hendak tolongi kau mengangkutnya!" kata A Kiu, yang tertawa pula. "Kita hendak mengangkut untuk kita sendiri!..."
"Hei, inilah aneh!" seru Sin Cie. "Peti ini toh kepunyaanku?"
Lalu terdengar ejekannya seorang Shoatang: "Ini anak muda bangsawan cuma kenal gegares, buat apa dia banyak omong?" Dan dia maju, untuk angkat peti yang menjadi bagiannya.
"Eh, tunggu dulu!" Sin Cie mencegah. "Tak dapat kau ambil ini!"
Ia terus loncat naik ke atas peti itu, ketika sebelah kakinya digeraki, orang itu, yang tubuhnya besar, terpelanting rubuh! Ia pun lantas menjerit-jerit: "Tolong! Tolong!" Tubuhnya sendiri limbung, seperti yang hendak terpelanting dari atas peti.
A Kiu sangka orang ini semberono, dia lompat maju untuk sambar tangan orang, guna ditarik, dan cegah dia itu jatuh, separuh mengomeli, dia kata: "Ah, kau sangat semberono!...."
Kawanan berandal menyangka pemuda ini benar-benar semberono, bahwa tendangannya tadi bukan disengaja, dari itu, mereka hendak maju pula, guna ambil peti bagian mereka masing-masing.
"Sabar, sabar!" Sin Cie berseru pula, seraya ia ulap-ulapkan kedua tangannya. "Tuan-Tuan hendak ambil semua petiku ini, hendak diangkut ke manakah?"
"Kami hendak bawa pulang masing-masing!" jawab A Kiu.
"Habis, bagaimana dengan aku?" tanya Sin Cie pula, dengan sikapnya tolol-tololan.
"Hai, mengapa kau begini bodoh?" kata si nona sambil tertawa. "Baiklah kau lekas berangkat pulang, jangan kau mencoba antari jiwamu di sini...."
"Kau benar juga," jawab Sin Cie seraya manggut. "Baiklah, aku nanti bawa pulang sepuluh petiku ini...."
Tapi sikapnya ini membuat gusar orang yang tadi ia kena tendang.
"Kau pergilah!" dia membentak seraya dia tolak pundaknya si pemuda.
Tapi, belum dia tutup mulutnya, atau tahu-tahu bebokongnya telah kena dijambak Sin Cie, dengan satu semparan saja, tubuhnya terlempar ke atas sebuah pohon, hingga dia mesti rangkul cabang-cabang pohon itu apabila ia tak ingin terjatuh. Saking ketakutan, dia lantas menjerit-jerit.
Baru sekarang semua penjahat melongo, karena nyatanya, pemuda tolol itu berkepandaian tinggi.
Ketika itu, Thia Ceng Tiok telah sadar benar-benar, ia insyaf lukanya hebat, maka ia sudah pikir untuk angkat kaki dengan bawa peti-peti bahagian pihaknya sendiri, akan tetapi kapan ia saksikan liehaynya si anak muda, ia terperanjat.
"Mari!" ia panggil A Kiu, gadisnya, kepada siapa ia terus berbisik. "Jangan pandang enteng pada dia itu, kau waspadalah."
A Kiu manggut. Ia pun memang merasa heran.
Segera setelah itu, terdengar suaranya si anak muda: "Kamu kedua pihak sudah berkelahi setengah harian! Kamu perebuti petiku, di atas itu kamu tuliskan tanda huruf-huruf, maka sekarang hendak aku hapuskan semua tanda itu!"
Sambil tertawa besar, pemuda ini sambar satu orang yang berdiri paling dekat dengan dia, dia tekan jalan darah orang hingga orang itu menjadi mati kutunya, dari itu dengan gampang ia angkat melintang tubuhnya, buat dibawa jalan mengitari semua petinya, buat pakai tubuh atau bajunya untuk menghilangkan semua coretan huruf-huruf di atas peti, kemudian dengan kedua tangannya, ia lemparkan tubuh itu ke atas pohon!
Kawanan dari Shoatang menjadi gusar, mereka maju, akan serang anak muda ini, akan tetapi si anak muda dengan sabar layani mereka, tidak peduli ia bertangan kosong, tujuh atau delapan penyerangnya dengan gampang kena dibikin terpelanting rubuh. Setelah ini, semua penyerang mundur sendirinya. Sebab dua-dua See Thian Kong dan Thia Ceng Tiok terluka parah, mereka lantas hadapi Tie Hong Liu.
"Kiranya Tuan satu ahli silat!" kata ketua dari Cian-liu-chung akhirnya. "Apakah Tuan sudi beritahukan aku she dan namamu dan kau murid siapa?"
"Aku she Wan dan guruku Ong Lie Su Ong Loo-suhu," sahut Sin Cie. "Guruku itu ahli urusan kitab-kitab dan ia paling faham kedua kitab Lee Kie dan Cu Ciu. Ada lagi satu guruku ialah Lie Loosuhu yang biasa ajarkan aku ilmu karang-mengarang...."
"Cukup!" memotong Tie Hong Liu. "Sekarang ini bukan waktunya bicara tentang pelbagai kitab dan ilmu mengarang! Sekarang sebutkan saja tentang gurumu, supaya kalau kita mempunyai hubungan satu sama lain, kita mesti hormati persahabatan...."
"Itulah bagus sekali!" kata Sin Cie dengan cepat. "Sekarang sudah tidak siang lagi, silakan, silakan! Kami hendak berangkat...."
Hauw Ceecu dari Sat Pa Kong tidak sabaran, mendengar ocehan si anak muda, ia ayun goloknya yang besar, dipakai menabas anak muda ini. Ia telah menyerang dengan "Hong-sauw-pay-yap" atau "Angin Menyapu Daun Rusak".
Sin Cie berkelit untuk serangan itu, golok lewat di sampingnya di mana Tie Hong Liu berdiri, hingga ketua dari Cian-liu-chung ini yang terbabat, akan tetapi orang she Tie ini liehay, dengan gunai dua jari tangannya, telunjuk dan tengah, dia jepit bebokong golok, dia menahan, lantas bacokan itu berhenti sendirinya.
Mukanya Hauw Ceecu menjadi merah, tetapi si orang she Tie ini cuma bersenyum, terus saja dia menoleh kepada Sin Cie dan kata: "Dengan kepandaianku ini, bukankah ada harganya untuk aku mendapati salah satu petimu?"
"Apakah namanya kepandaianmu ini?" tanya Sin Cie.
"Inilah ilmu silat Kepiting Menjepit," sahut Hong Liu. "Jikalau kau pun mengerti ilmu silat ini, baru aku takluk kepadamu...."
"Apa sih cepit kepiting, cepit kura-kura? Belum pernah aku lihat!" ujar si anak muda.
Tie Hong Liu jadi gusar.
"Bukankah aku telah jepit golok yang lagi menyambar?" tanyanya. "Apakah kau buta melek?"
"Oh, begitu?" jawab Sin Cie dengan tenang. "Tapi kamu berdua bersekongkol, apa anehnya? Adik Ceng, mari! Mari kita main-main sebentar!"
Ceng Ceng tertawa geli, ia jumput sebatang golok, yang terletak di tanah, lalu ia mengancam hendak membacok si anak muda, ketika golok dikasi turun, ia sengaja turunkan ayal-ayalan, hingga secara gampang saja, Sin Cie bisa tanggapi itu, atas mana kawan itu berpura-pura kerahkan tenaga, untuk berontak, buat loloskan golok dari jepitan, tapi walaupun sampai ia berjingkrakan, golok masih tak dapat diloloskan.
A Kiu tertawa melihat dua orang itu permainkan Tie Hong Liu, ia anggap pemandangan itu lucu. Malah kedua pihak berandal turut tertawa juga, suara mereka riuh-rendah!
Bukan kepalang mendongkolnya Tie Hong Liu yang dua anak muda berani permainkan ia secara demikian - ia juga dibuat bahan lelucon - maka dengan tiba-tiba ia sambar golok besar di tangannya Hauw Ceecu dari Sat Pa Kong, untuk angsurkan itu kepada si anak muda sambil terus menantang: "Nah, kau cobalah bacok aku, pasti kali ini aku tidak berkongkol!"
"Baik, aku nanti bacok kau!" Sin Cie jawab. "Tapi ingat, apabila aku bunuh orang sampai mati, tak usah aku ganti jiwa!"
"Baik! Hati-hatilah, golok datang!" berseru Sin Cie, yang terus saja putar tangannya untuk membabat dengan tiba-tiba.
Hong Liu bertambah gusar, ia lupa segala apa.
"Siapa juga yang terbinasa, dia tak usah diganti jiwanya," ia berikan perkataannya.
Tie Hong Liu kaget bukan main, ia tak mengira golok bisa dipakai menyerang secara demikian, walau ia sangat awas dan gesit dan bisa berkelit, tidak urung ia masih kalah sebat, hanya untung bagi ia, yang terbabat kutung adalah kopiahnya saja.
Oleh karena anggap pemandangan itu lucu, semua berandal tertawa berkakakan.
Sin Cie pun tertawa.
"Mana cepit kura-kuramu - eh, cingkong kepiting?..."
Pemuda ini tidak cuma tertawa, tapi juga menanya, hanya belum sampai dia menutup mulutnya atau dia telah menyerang pula, kali ini bacokannya dari atas turun ke bawah.
Hong Liu berkelit sambil berlompat, tapi ia masih kurang gesit, karena sesampainya di bawah, goloknya disimpangkan sedikit, hingga sebagai kesudahan, sol sepatunya kena terpapas kutung, hingga karenanya, ia kaget berbareng gusar.
"Aku mengerti sekarang!" berseru Sin Cie. "Terlalu tinggi salah, terlalu rendah salah juga, dan terlalu cepat pun kau gagal! Baiklah, aku akan menyerang di sama tengah, dengan perlahan...."
Dan benar-benar ia membacok pula, dengan perlahan, seperti Ceng Ceng tadi.
Hong Liu sodorkan tangannya yang kiri, untuk jepit golok itu, selagi berbuat demikian, dia memikir akan gunai tangan kanannya, untuk membarengi menyerang dengan cepat, supaya ia bisa ajar adat kepada anak muda ini. Akan tetapi dia berpikir demikian, orang lain juga berpikir lain. Di saat goloknya hampir dijepit, dengan mendadak saja Sin Cie balik goloknya bagian yang tajam lalu ia menarik, maka tidak ampun lagi, dua jari tangannya orang she Tie ini kena tergurat, darahnya lantas mengucur, coba dia tidak cepat menarik pulang, dua jarinya itu tentulah bakal sapat kutung!
"Bagus!" A Kiu berseru sambil tepuk tangan.
"Tikus!" membentak Hong Liu saking gusar. "Kau berani main-main denganku!"
Sin Cie tidak menjawab, hanya dia lemparkan golok di tangannya itu. Tapi dia melempar ke arah pohon di mana tadi dia lemparkan orang, orang itu lagi pegangi satu cabang, untuk meroyot turun, tepat sekali, golok itu mengenai cabang tersebut, hingga cabang itu kutung, hingga karenanya, orang itu jadi jatuh terguling!
Semua orang kaget dan kagum, suara mereka berisik.
Selagi begitu, Sin Cie hampirkan petinya, untuk dilemparkan, satu persatu dan disusun, maka di lain saat, semua peti telah merupakan satu tumpukan tinggi beberapa tumbak.
"Aku suka main-main denganmu tetapi hatiku tidak tenteram," katanya kepada Tie Hong Liu. "Kamu semua bangsa bangsat, aku hendak cegah kamu selagi aku berkelahi, nanti kamu rampas peti ini!" Lantas saja ia lompat naik ke atas susunan peti itu, dari mana sambil memandang ke bawah, ia menantang: "Mari naik, di sini kita main-main!"
(Bersambung bab ke 15)
Bab 15
Tie Hong Liu kaget disusun kaget. Mulanya ia lihat orang lempar-lemparkan peti-peti yang berat, ia heran untuk tenaga besar dari si anak muda. Habis itu ia saksikan cara berlompatnya Sin Cie, yang demikian enteng dan pesat, ia kagum tak terkira. Dia tidak tahu anak muda itu, yang lihat dirinya menghadapi terlalu banyak lawan, sengaja pertontonkan ilmu entengkan tubuhnya yang sempurna yang ia peroleh dari Bhok Siang Toojin. Itulah dia ilmu "Pek-pian-kwie-eng" atau "Bayangan Iblis Berubah Seratus Macam".
"Jikalau kau berani, kau turunlah!" Hong Liu tantang pemuda itu. Ia berbuat begini karena ia insyaf ia tak sanggup lawan ilmu entengkan tubuh orang yang sempurna itu.
"Jikalau kau berani, kau naiklah!" Sin Cie balas menantang.
Hong Liu bertindak menghampirkan peti-peti besi itu, ia lantas memeluk, untuk digoyang, dengan pengharapan peti-peti itu bergoyang-goyang, supaya si anak muda limbung dan jatuh karenanya.
Benar-benar tubuhnya anak muda itu menjadi limbung, lantas saja dia terjatuh, akan tetapi begitu lekas kakinya injak tanah, ia menyambar Hong Liu dengan gerakan "Chong-eng-kim-touw" atau "Garuda Terkam Kelinci". Ia gunai tangannya yang kiri.
Hong Liu tangkis serangan itu, dia pakai tangan kanan. Tapi justeru tangan kanannya diulur, Sin Cie sambar itu, dicekal di bagian nadinya, lalu sebelum dia tahu apa-apa, tubuhnya telah terangkat naik, dari mulut si anak muda pun terdengar seruan: "Bangun!" Dia sebenarnya bertubuh besar, tubuhnya itu berat sekali, akan tetapi dia jadi seperti dengar kata, tubuhnya terangkat naik, terlempar ke atas susunan peti-peti di atas mana lantas saja ia berdiri dengan limbung, sebab peti pun bergoyang-goyang....
Kawanan penjahat kaget berbareng merasa lucu, hingga akhirnya mereka pada tertawa, sedang si orang she Tie sendiri nampaknya sangat bingung dan kuatir, dengan susah payah dia mencoba akan mengatasi diri, supaya ia bisa berdiri tetap.
"Jikalau kau berani, kau turunlah!" Ceng Ceng menggoda.
A Kiu ingat, itu adalah kata-katanya Hong Liu tadi. Ia bersenyum.
Melihat semua itu, See Thian Kong lantas berseru: "Tam Hiantee, kurunglah itu bocah! lebih dahulu, singkirkan dia!"
Hu-ceecu itu kena disadarkan seruan orang she See ini, tidak lambat lagi, ia tiup terompetnya, maka semua berandal dari Shoatang hunus senjata mereka masing-masing, semua maju ke arah Sin Cie, untuk kepung anak muda ini.
Menampak ancaman itu, A Pa bersama-sama Ceng Ceng dan Ang Seng Hay dekati si anak muda, maka itu ketika kawanan berandal mulai menyerang, mereka bisa lantas menangkis. Seng Hay bersenjatakan golok, Ceng Ceng bergegaman pedang, tetapi A Pa, si empeh gagu, bertangan kosong, dan yang belakangan ini main cekuk sesuatu penyerangnya, untuk lempar-lemparkan tubuh mereka satu demi satu, hingga semua berandal jadi heran, hingga mereka jeri untuk mendekatinya. Mereka pun takut serang Sin Cie, yang berkelahi seperti si empeh gagu itu - dengan tangan kosong juga!
Sambil berkelahi, Sin Cie berlompat, hingga ia dapati See Thian Kong, siapa sedang rebah di tanah dengan dua orang jagai padanya. Dua orang ini lihat musuh datang, yang satu menyambut dengan goloknya, yang satu lagi segera gendong ketuanya, untuk diajak menyingkir.
Atas serangan golok, Sin Cie berkelit sambil mendak, kakinya bertindak terus, setelah molos dari serangan, ia sampai kepada penjahat yang satunya, yang gendong Thian Kong, begitu lekas ia jambret pundak orang, penjahat itu menjerit kesakitan, hingga lantas saja dia lepaskan ketuanya, maka dengan leluasa, pemuda kita tanggapi si orang she See, tubuh siapa ia kempit, untuk dibawa lari ke kereta besar, ke atas mana dia lompat bersama.
"Hai, kamu sayangi atau tidak jiwanya dia ini?" dia berseru pada semua berandal.
Semua berandal itu menjadi melongo, tidak ada satu juga yang berani bergerak.
Sin Cie memberi tanda kepada A Pa, lantas si empeh gagu menyerbu ke kalangan Ceng Tiok Pay.
Orang-orang Ceng Tiok Pay berdiam sedari tadi, menampak datangnya orang ini, mereka angkat senjata mereka, untuk merintangi, akan tetapi A Pa telah dapatkan pelajarannya Bok Jin Ceng, dia tak takuti alat-senjata orang banyak itu, dia maju terus hingga ia dapat dekati Thia Ceng Tiok.
Dari tempatnya yang tinggi, Sin Cie awasi A Pa, yang segera bakal berhasil, ia merasa girang, akan tetapi tiba-tiba, ia tampak A Kiu, yang peluki tubuh ayahnya, numprah di tanah sambil menangis menggerung-gerung, hingga ia berbalik menjadi kaget. Ia insyaf, apabila si ketua menutup mata, sulit untuk ia urus anggauta-anggauta Ceng Tiok Pay itu. Maka ia lantas berseru: "Seng Hay! Lekas panggil pulang saudara A Pa!"
Seng Hay menurut, segera ia tinggalkan musuh-musuhnya, akan hampirkan si empeh gagu, di depannya dia ini, dia pun buat main kedua tangannya, atas mana A Pa segera menoleh kepada si anak muda.
Sin Cie geraki tangannya dengan cepat.
Melihat tanda itu, A Pa lantas kembali, akan hampirkan si anak muda.
"Pegang dia ini!" kata Sin Cie, yang serahkan See Thian Kong yang keadaannya seperti setengah hidup dan setengah mati.
A Pa sambuti itu orang tawanan. Sin Cie terus lari kepada A Kiu.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Suhu mati!...." jawab si nona sambil menangis. Sin Cie periksa hidung orang, yang telah tidak bernapas, akan tetapi kapan ia pegang dadanya ia rasai jantung yang masih memukul perlahan-lahan.
"Jangan kuatir, aku nanti tolong dia!" ia bilang. Sin Cie baliki tubuhnya Thia Ceng Tiok, hingga ia bisa lihat lima batang paku yang nancap di bebokongnya, ialah sebab utama dari kecelakaannya jago itu tak perduli dia sebenarnya liehay dan tangguh. Untungnya darah sudah tidak keluar lagi. Tidak ayal lagi Sin Cie totok jalan darah thian-hu-hiat dan yong-coan-hiat orang, menyusul mana darahnya jago itu lantas mulai jalan pula, maka selang sedikit lama, ia mulai sadar, kedua matanya bisa dibuka.
Bukan kepalang girangnya A Kiu. "Suhu! Suhu!" ia memanggil, berulang-ulang.
Ceng Tiok dengar itu, ia ingat akan dirinya, ia manggut-manggut.
"Jadi dialah gurumu?" tanya Sin Cie. "Aku sangka dia adalah ayahmu."
Si nona manggut. "Terima kasih untuk pertolongan kau," ia mengucapkan. Sementara itu, A Pa dengan diikuti Ceng Ceng dan Ang Seng Hay dengan pondong tubuhnya See Thian Kong, sudah campuri diri dalam rombongan Ceng Tiok Pay. Kawanan berandal Shoatang yang lihat pemimpinnya kena ditawan, sudah lantas maju untuk menolongi, akan tetapi percobaan mereka dirintangi oleh pihak Ceng Tiok Pay, hingga karenanya, mereka kedua pihak jadi bertempur dengan hebat, hingga dalam tempo pendek telah ada korban-korban jiwa dan terluka.
"Jikalau pertempuran ini berlanjut lagi sekian lama, mesti rubuh lebih banyak korban," kata Ceng Ceng kepada Sin Cie.
Si anak muda tidak menyahuti, dia cuma bersenyum. Sedang asyiknya pertempuran berlangsung, Tie Hong Liu yang masih berada di atas susunan peti besi telah terdengar seruannya: "Celaka! Tentara negeri mendatangi! Ribuan jumlah mereka! Lekas mundur! Oh, puluhan ribu jumlah mereka! Mundur, lekas mundur! Lekas!"
Chungcu dari Cian-liu-chung ini berada di tempat tinggi, tidak heran apabila dialah yang dapat melihat paling dulu. Semua orang kaget, dengan sendirinya berhentilah mereka berkelahi, semua mengawasi dengan bengong ke arah dari mana katanya tentara negeri mendatangi.
Dari jurusan tersebut segera tertampak mendatangnya tiga penunggang kuda, kemudian ternyata, mereka ini terdiri dua dari pihak berandal Shoatang, yang satu dari Ceng Tiok Pay. Hampir berbareng, bertiga mereka perdengarkan seruan: "Tentara negeri mendatangi!"
Tie Hong Liu jadi nekat, dengan beranikan diri, dia lompat turun dari susunan peti besi, sesampainya ia di tanah, ia rubuh hingga ia bergulingan tiga kali, baru ia dapat bangkit berdiri, dengan merasai sakit sekali kepada kedua kakinya, tetapi tanpa perdulikan itu, ia sambar seekor kuda untuk dinaiki, untuk segera ajak kawan-kawannya angkat kaki dari situ.
Sin Cie sambar tubuhnya See Thian Kong, untuk dilemparkan kepada kawan-kawannya, maka kawanan berandal itu tolongi pemimpinnya, untuk dikasih naik di atas bebokong kuda, buat segera dibawa kabur ke dalam rimba.
Pihak Ceng Tiok Pay juga perdengarkan suitan berulang-ulang, habis itu mereka tolongi kawan-kawan mereka yang terluka, lalu tetap dalam empat barisan, mereka undurkan diri dengan lekas. Maka di lain saat, sunyi-senyaplah medan pertempuran itu di mana ketinggalan saja Sin Cie serta rombongannya.
Lantas si anak muda berlaku sebat. Ia lompat naik ke atas susunan peti, untuk lempar itu turun satu demi satu, di bawah, A Pa menyambutinya, untuk dimuatkan ke kereta mereka.
Ceng Ceng tertawa atas kesudahannya kekalutan itu.
"Banyak orang telah menjadi korban, tetapi uang kita, satu chie pun tidak lenyap!" katanya dengan gembira dan puas.
Tidak antara lama terdengarlah suara terompet disusul berisiknya banyak kuda, kemudian terlihat satu pasukan tentara lagi mendatangi.
"Di sana ada tentara negeri, kawanan berandal tentu tak berani muncul pula," kata Sin Cie. "Mari kita lanjuti perjalanan kita!"
Walaupun ia mengucapkan demikian, pemuda ini toh mesti periksa dulu rombongannya, yang tidak kurang suatu apa, dari itu sebelum mereka sempat berangkat, pasukan negeri mendahului sampai di antara mereka.
"Kamu bikin apa?" tanya satu perwira yang bersenjatakan golok panjang. Dia ini pimpin dua ratus serdadu, yang terpecah dalam dua barisan.
"Kami penduduk baik-baik yang sedang bikin perjalanan," sahut Sin Cie.
"Kenapa di sini ada tanda-tanda darah, dan pelbagai alat-senjata?" tanya pula perwira itu.
"Barusan ada penjahat pegat kita, lantaran datangnya tentara negeri, mereka kabur sendirinya," sahut Sin Cie pula.
Sementara itu, muncul satu pasukan tentara lain, yang lantas menyerbu ke dalam rimba, untuk kejar kawanan berandal.
Perwira tadi melirik ke dalam kereta di mana mereka lihat peti-peti besar.
"Barang-barang apakah itu?" tanyanya dengan tawar.
"Itulah barang-barang keperluan kami sehari-hari."
"Coba buka, aku hendak lihat!"
"Semuanya pakaian, tidak ada lainnya."
"Aku perintah buka, kau mesti buka! Perlu apa banyak mulut?"
"Kami tak bawa barang-barang haram, untuk apa dilihat?" Ceng Ceng campur bicara.
"Hei, bocah, kau kurang ajar!" bentak perwira itu. Dan cambuknya melayang.
Ceng Ceng berkelit untuk sabetan itu.
Perwira itu percaya, isinya peti mesti barang-barang berharga, dalam sedetik itu muncullah hatinya yang temaha.
"Hei, Bocah, kau berani melawan?" dia bentak pula, untuk gunai ketikanya. "Hayo, Saudara-Saudara, sita barang-barang itu!"
Untuk rampas milik rakyat jelata, tentara itu biasanya tidak berayal, maka itu begitu dengar titah "mensita", segera mereka meluruk ke arah kereta.
Si perwira tak berhenti sampai di situ, karena ia tahu, ada kemungkinan Sin Cie beramai nanti majukan pengaduan kepada pembesar terlebih atas, maka kembali dia berseru: "Kawanan berandal ini berani lawan tentara negeri, bunuh mereka semua!"
Lalu ia mendahului angkat goloknya, untuk dipakai menyerang.
Sin Cie jadi gusar.
"Coba kita bangsa lemah, apa kita tidak bercelaka?" dia pikir sambil kelit dari bacokan, setelah mana ia membarengi lompat untuk hajar bebokong orang.
Perwira itu hanya satu orang peperangan biasa saja, dalam kesebatan ia kalah jauh dari si anak muda, maka itu, dengan gampang ia kena dihajar, hingga tubuhnya lantas rubuh terjungkal dari atas kudanya, malah jiwanya pun melayang dalam sekejab!
Menampak itu, semua serdadu menjadi kaget, lantas mereka berteriak-teriak: "Penyamun merampas angkutan! Penyamun rampas angkutan!"
Sementara itu Ceng Ceng bersama A Pa dan Seng Hay telah labrak buyar barisan serdadu itu, yang lari serabutan ke empat penjuru, akan tetapi di belakang mereka itu ada lagi satu pasukan besar, maka Sin Cie, yang rampas goloknya si perwira, maju untuk mencoba menahan, sedang Ceng Ceng bertiga ia perintah lindungi kereta-kereta mereka untuk berlindung masuk ke dalam rimba.
Di dalam rimba sendiri, sementara itu, telah terjadi pertempuran di antara tentara negeri dan kawanan penyamun dari Shoatang yang bersatu dengan rombongan Ceng Tiok Pay, akan tetapi belum terlalu lama, pihak negeri bisa mendesak, hingga musuh-musuhnya terpaksa mundur.
Sambil bereskan kereta-keretanya Sin Cie saksikan pihaknya See Thian Kong dan Thia Ceng Tiok lagi terancam bahaya, terutama disebabkan kedua pemimpin itu sendiri tidak berdaya.
"Bagaimana?" tanya Ceng Ceng.
"Kita bantu berandal! Kita basmi tentara negeri!" Sin Cie menjawab dengan cepat.
"Benar!" berseru si nona dalam penyamaran.
"Tetapi kau berdiam di sini, untuk lindungi harta kita," Sin Cie bilang.
Ceng Ceng menjadi dengar kata.
"Baik!" ia manggut.
Maka bertiga bersama A Pa dan Ang Seng Hay, ia kitari kereta-kereta mereka, untuk dilindungi, tatkala tentara negeri datang menyerbu, mereka pukul mundur, hingga kesudahannya, tentara negeri itu jadi jeri, mereka tak berani merangsek pula.
Sin Cie panjat pohon, akan mengawasi ke arah kawanan berandal, dengan begitu ia bisa saksikan A Kiu serta beberapa tauwbak dari Ceng Tiok Pay sedang terkurung hebat oleh tentara negeri, maka untuk tolong mereka, ia loncat turun dari pohon, ia menyerbu ke dalam medan pergulatan, sampai ia berhasil mendekati si nona, malah ia datang di saat yang tepat, selagi dua batang tumbak menikam nona itu, dari itu dengan sebat ia menalangi menangkis.
"Lekas mundur ke bukit sebelah barat!" ia teriaki.
A Kiu melengak atas datangnya bantuan ini, hingga ia tak tahu satu perwira bacok ia secara hebat.
Kembali Sin Cie tolong si nona. Dia rampas golok musuh, untuk dipatahkan, si perwira sendiri ia tonjok dadanya hingga dia muntah darah, tubuhnya rubuh seketika.
A Kiu sadar, segera ia tiup suitannya, kemudian ia beri tanda untuk kawan-kawannya mundur ke arah barat, seperti ditunjuki Sin Cie. Si anak muda sendiri mondar-mandir dengan bengis, untuk tahan tentara negeri yang mencoba mendesak.
Kawanan penyamun dari Shoatang juga turut mundur ke barat, setiap kali ada di antaranya yang dirintangi tentara negeri, Sin Cie maju menolongi, dengan begitu, mereka bertempur sambil mundur, hingga mereka sanggup mendaki bukit.
Kemudian, dibantu oleh sejumlah berandal, Sin Cie pergi sambut Ceng Ceng bertiga serta kereta mereka, untuk menyingkir ke bukit barat itu, hingga mereka ketiga pihak, jadi bersatu. Tentara negeri cuma bisa kurung mereka dari bawah bukit, mengurung sambil berteriak-teriak saja.
Sin Cie mengatur terlebih jauh. Ia pasang barisan panah di sebelah depan. Kawanan berandal, dengan sendirinya, suka taati segala titahnya. Maka itu, ketika tentara negeri mencoba mendaki gunung, mereka dipukul mundur dengan hujan anak panah, hingga selanjutnya mereka tidak berani mencoba naik pula.
Dengan titahnya Sin Cie, Hu-ceecu Tam Bun Lie bersama-sama Tie Hong Liu dan A Kiu pergi bantui Seng Hay beramai membikin penjagaan. Semua berandal telah dipecah dalam dua rombongan, hingga ada sebagian yang dapat beristirahat, untuk sekalian tolongi mereka yang terluka.
Sin Cie lantas tolongi Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong, dengan bergantian, ia uruti mereka itu hingga mereka tertolong dari ancaman bahaya maut, darah mereka jalan pula seperti biasa begitupun napas mereka, yang tadinya sudah sesak. Karena ini, berdua mereka dapat rebahkan diri dan tidur dengan nyenyak.


0 komentar:
Posting Komentar