Jilid 24
Kedua pihak berandal jadi bersyukur kepada anak muda ini, yang tolongi pemimpinpemimpin mereka.
"Jumlah tentara negeri terlalu besar untuk kita, tak dapat mereka dilayani dengan tenaga, mesti dengan daya-upaya," kemudian Sin Cie bilang kepada Ceng Ceng.
"Benar!" sahut si nona. "Habis kau hendak gunai daya apa?"
Sin Cie tidak menyahuti, dia hanya berpikir, akan akhirnya dia panggil satu penyamun yang kenal baik keletakan tempat mereka ini; sembari tanya ini dan itu, ia pun senantiasa mengawasi ke arah tentara negeri. Maka kesudahannya ia dapat lihat, di arah belakang dari tentara negeri itu, ada sejumlah besar kereta-kereta yang rupanya bermuatan berat. Tiba-tiba saja ia ingat suatu apa, lantas ia lompat kepada Ceng Ceng.
"Bukankah tadi tentara negeri itu sebut-sebut angkutan?" ia tanya.
Sebelum si nona menjawab, Tie Hong Liu sudah mendahului. Dia ini baru saja datang untuk beristirahat.
"Itulah artinya angkutan uang untuk ke Pakkhia," demikian jawabannya. "Sungguh tidak beruntung bagi kita, di sini kita bertemu mereka itu..."
"Mengapa angkutan uang negara memerlukan tentara pengiring demikian besar?" tanya Sin Cie.
Sekarang ini keamanan sedang sangat terganggu, di pelbagai gunung ada saja penyamunnya, maka itu, untuk angkutan yang selamat, iring-iringannya mesti besar," Hong Liu terangkan lebih jauh. "Sekarang pemerintah sangat memerlukan uang dan rangsum dari Kanglam, terutama sebab Kaisar Cong Ceng mesti hadapi musuh bangsa Boan di Liauw-tong dan pemberontakannya Giam Ong dan lainnya. Maka juga angkutan uang ini adalah jiwanya...."
"Jikalau begini, barisan serdadu iring-iringan ini terlalu usil," Sin Cie bilang. "Tugas mereka berat, mengapa mereka masih ambil kesempatan untuk ganggu kita?...."
"Mestinya mereka anggap kita gampang dikalahkan," Hong Liu bilang. "Jikalau mereka bisa labrak kita atau menawan beberapa di antara kita, bukankah itu artinya jasa besar?"
Sin Cie manggut-manggut.
"Di barat-utara sana ada satu mulut selat," kata ia kemudian, "mari kita nerobos keluar dari sana."
Tie Hong Liu bersedia untuk turut usul itu.
"Silahkan Wan Siangkong menitahkannya," katanya.
Sin Cie mencorat-coret di tanah, ia berpikir, habis itu, ia lantas berikan titah-titahnya buat bersiap untuk sebentar malam.
Tepat pada jam yang telah ditetapkan, dibarengi teriakan mereka riuh-rendah, kawanan berandal bergerak untuk turun bukit, buat menerjang turun. Sebagai pembuka jalan adalah Sin Cie berdua A Pa, si empeh gagu.
Tentara negeri sudah lelah, kapan mereka lihat serbuan, mereka coba merintangi, tetapi sebentar saja, barisan mereka sudah dapat ditobloskan, dengan begitu, rombongannya Sin Cie semua bisa molos. Masih mereka mencoba mengejar, atau segera mereka dilawan oleh barisan belakang penyamun. Nyata ini adalah siasat saja, untuk mencegah tentara negeri itu, sebab apabila semua rombongan sudah memasuki selat, sejumlah penyamun itu lari kabur, akan susul rombongan mereka.
Tentara negeri menguber sampai di mulut selat, lantas mereka tidak berani mengejar terus akan masuk terlebih dalam, sebab orang yang menjadi pemimpinnya dapatkan, kedua belah selat tinggi dan berbahaya, hingga mereka jadi kuatirkan tentara sembunyi musuh.
Selagi tentara negeri berkumpul dan mengawasi ke dalam selat, tiba-tiba sebuah peti besar jatuh dari sisi lamping bukit, jatuhnya dengan terbuka tutupnya, maka isinya lantas saja terlempar berantakan. Yang membuat kaget dan herannya tentara negeri adalah isi itu yang banyak sekali barang permata, yang berkilauan di antara cahaya obor.
Pemimpin tentara negeri itu adalah satu cong-peng atau brigade-jenderal, dia pun kaget tetapi kaget berbareng girang.
"Lekas maju!" ia titahkan. "Rampas semua peti itu!"
Perwira ini timbul keserakahannya hingga ia lupakan bahaya.
Tentara negeri itu lantas maju, bukan untuk mengejar, hanya untuk berebutan memunguti pelbagai barang permata dan uang, hingga barisan mereka menjadi kalut tanpa pemimpinnya dapat kendalikan pula mereka.
Sin Cie sendiri, yang ambil jalan di atas lamping, telah menuju ke arah belakang pasukan negara, hingga ia bisa datang dekat kepada rombongan kereta-kereta angkutan yang berlerot. Semua kereta dikerudungi tutup kain kuning tebal, samar-samar kelihatan tulisan huruf-huruf yang menandakan itu adalah angkutan barang pemerintah dari Kanglam.
Mengawasi lerotan kereta itu, Sin Cie girang berbareng ragu-ragu. Ia girang sebab jumlah yang besar itu, yang pasti akan berguna besar untuk pergerakan Giam Ong. Ia ragu-ragu kapan ia ingat jumlah besar dari tentara negeri yang menjadi barisan pengiring angkutan itu.
Dengan hati-hati pemuda ini maju lebih jauh. Karena ia sembunyikan diri di antara pepohonan, tidak satu serdadu juga yang dapat pergoki padanya. Ia datang begitu dekat hingga kecuali bisa melihat tegas, ia juga bisa dengar pembicaraan mereka. Kemudian ia dengar suara lebih jelas dari kereta-kereta terbelakang, maka ia percaya, muatan keretakereta itu bukannya uang seperti kereta-kereta terdepan. Kapan ia telah perhatikan lebih jauh, ia dapat kenyataan itulah kereta orang-orang tawanan, dan si orang-orang tawanan sendiri, dengan kedua tangan mereka masing-masing tertelikung ke belakang, lagi duduk di dalam kereta kerangkeng mereka. Di atas setiap kereta nampak selembar bendera putih yang muat tulisan yang menyebutkan nama-nama si orang perantaian, yang telah dapat hukuman mati. Pun di belakang setiap nama dijelaskan perantaian itu penyamun atau pemberontak atau pengkhianat.
"Mereka harus ditolongi...." pikir Sin Cie. "Bagaimana aku dapat menolonginya?"
Selagi ia berpikir, ia lihat sebuah kereta kerangkeng di mana pada benderanya ada tulisan yang memuat nama Couw Tiong Siu, hingga Sin Cie jadi kaget tidak terkira. Ia pun lantas lihat orang yang bernama Couw Tiong Siu itu ialah seorang umur lima-puluh lebih, dandanannya sebagai sasterawan, rambutnya telah ubanan. Dia itu adalah bekas ponggawa ayahnya almarhum, yang telah bergerak dan berkedudukan di Lauw Ya San. Di belakang dia ini, di dalam beberapa kereta lainnya, ia tampak Nie Ho, Cu An Kok dan Lo Tay Kan bertiga. Eng Siong tidak ada di antara mereka itu.
Selagi Sin Cie mengawasi, kereta-kereta pesakitan itu sudah lewati dia, maka sebagai orang baru sadar dengan tiba-tiba, dia lari mengejar, hingga sekarang ia terlihat oleh serdadu-serdadu pengiring. Di antara sedadu-serdadu itu sudah lantas ada yang memanah.
Dengan kesebatannya, Sin Cie selamatkan diri dari pelbagai anak panah itu, ia maju terus, sampai ia dekati satu perwira yang bersenjatakan golok, yang berjalan paling belakang.
"Baik aku bekuk perwira ini untuk bikin kacau barisannya," pikir anak muda kita. "Dengan menawan dia aku akan bisa tolongi Couw Siokhu beramai..."
Belum sempat Sin Cie bertindak, atau ia lihat debu mengepul di sebelah belakangnya dan kupingnya dengar suara berisik dari berlari-larinya beberapa ekor kuda, karena mana, ia lantas mengawasi, hingga ia tampak lima penunggang kuda sedang mendatangi.
"Kiranya barisan ini ada barisan penolongnya...." pikir ia.
Dari lima penunggang kuda itu, yang kabur di muka adalah seorang perempuan. Karena mereka datang dengan cepat, selagi dia itu lewat di sampingnya, Sin Cie kenali Hui-thianmo-lie Sun Tiong Kun serta Kwie Sin Sie suami-isteri bersama Bwee Kiam Hoo dan Lauw Pwee Seng. Ia jadi girang.
"Jie-suko!" ia memanggil sambil lompat ke depan kudanya suami-isteri itu.
Kwie jie-nio lihat si anak muda, ia tertawa dingin.
"Oh, kau?" katanya. "Kau bikin apa di sini?"
Sun Tiong Kun dengar subonya bicara, ia tahan kudanya dan menoleh ke belakang.
"Ada urusan penting untuk mana aku hendak mohon bantuan Suko dan Suso," sahut Sin Cie tanpa perhatikan sikap mengejek dari si ipar perempuan itu.
"Kami juga mempunyai urusan sangat penting, kami tak sempat!" kata nyonya Kwie seraya terus keprak kudanya, untuk dikasih lari pula, melewati si anak muda.
"Susiok!" memanggil Bwee Kiam Hoo sambil beri hormat kepada paman-guru yang muda itu, lantas ia ikuti itu guru lelaki dan perempuan.
Beda dari Kiam Hoo, Pwee Seng loncat turun dari kudanya.
"Suhu dan subo lagi hadapi urusan sangat penting," ia memberi tahu. "Susiok ada urusan apa? Baik tunggu sampai suhu dan subo sudah selesai, nanti aku bantui Susiok..."
"Kalau begitu, tidak apa," jawab Sin Cie. "Aku ingin pinjam saja kudamu, Lauw Toako."
"Silakan, Susiok," menyahut Pwee Seng dengan hormat, sambil tarik kudanya. Ia terus berdiri di pinggiran.
"Kita naik berdua, untuk susul tentara negeri itu," Sin Cie bilang seraya terus lompat naik ke punggung kuda, diturut oleh Pwee Seng. Maka sebentar saja, mereka sudah kabur ke depan.
"Ada urusan apa Susiok kejar tentara negeri?" Pwee Seng tanya.
"Untuk tolong orang!" Sin Cie jawab.
"Bagus! Kami juga hendak hajar tentara itu!" berkata Pwee Seng.
Sin Cie kaburkan kudanya sampai ia dapat candak dan lombai Sun Tiong Kun dan lihat tentara negeri yang iringi kereta-kereta kerangkeng, masih ia jepit perut kudanya, untuk menyusul tentara itu.
Perwira yang pimpin barisannya dengar tindakan kaki kuda di arah belakang, dia lantas menoleh. Akan tetapi dia menoleh sesudah terlambat, karena tahu-tahu satu bayangan menyambar ke arahnya. Dalam gugupnya, dia membabat dengan goloknya yang besar, harapannya adalah bisa menabas kutung tubuh orang, siapa tahu Sin Cie telah ulur tangan kanannya, akan sambut gagang golok bagian ujung, tubuhnya sendiri mencelat naik di bebokong kudanya si opsir, siapa ia totok dengan tangan kirinya sambil ia pun membentak: "Kau sayangi jiwamu atau tidak?"
Opsir itu rasai ia kehabisan tenaga dalam sekejab, hingga tak dapat ia membikin perlawanan lebih jauh.
"Kau mau hidup atau mati?" Sin Cie ulangi bentakannya.
"Ampun, Tay-ong...." Memohon si opsir.
"Kalau begitu, lekas titahkan supaya semua kereta pesakitan itu berhenti!" Sin Cie titahkan.
Opsir itu menurut, selagi ia berikan titahnya, rombongannya Kwie Sin Sie pun sampai, malah mereka ini berlima sudah lantas serang tentara negeri, hingga barisannya menjadi kalut. Kejadian ini membuat Sin Cie menyesal, sebab tadinya ia tidak niat gunai kekerasan terhadap pasukan tentara itu. Sekarang terpaksa ia rampas dua buah kampak besar, dengan bawa itu, ia memburu ke kereta kerangkeng dari Couw Tiong Siu, untuk kampaki pintunya hingga menjeblak.
"Couw Siokhu, aku Sin Cie!" pemuda ini perkenalkan diri.
Tiong Siu seperti sedang bermimpi, hingga ia berdiam diri.
Sin Cie lantas tolongi juga Cu An Kok dan Nie Hoo, hingga mereka ini dapat tolongi yang lain-lain, dan yang lain-lain lagi berebut tolongi semua perantaian lainnya, yang berjumlah seratus orang lebih, di antara siapa lebih dari tiga-puluh orang ada anggauta-anggauta golongan San Cong, bekas orang-orang sebawahannya almarhum Wan Cong Hoan. Mereka ini girang bukan main kapan mereka dapat tahu orang yang tolongi mereka adalah putera pemimpin mereka, maka dengan sengit mereka labrak tentara negeri, yang tadinya iringi mereka. Maka kesudahannya, tentara negeri itu kena dipukul buyar.
Di sebelah depan, jalanan telah dirintangi dengan batu-batu besar, sukar untuk tentara negeri lolos dari sana. Sin Cie ketahui ini. Ia juga tahu, biar bagaimana, jumlah tentara negeri lebih besar daripada jumlah rombongan mereka sendiri, seandai-kata tentara itu nekat, dia orang bisa berkelahi mati-matian dan ini berarti ancaman hebat bagi mereka sendiri, dari itu ia lantas pikir jalan pemecahan.
Sin Cie lemparkan kampaknya, ia loncat ke atas lerotan kereta, ia berlari-lari di atasnya, untuk maju ke depan. Ia telah lari sekira satu lie ketika ia lihat satu ponggawa, ialah cong-peng yang tadi, di atas kudanya sedang pimpin perlawanan. Ia cepat maju ke arah pembesar militer itu. Dua serdadu rintangi ia tapi ia cekuk mereka, yang ia terus lemparkan ke jurang. Kemudian, dengan kegesitannya, ia loncat ke bokong kudanya cong-peng itu.
Ponggawa itu tampak orang menyerbu, ia membacok, tapi sambil berkelit, anak muda kita coba rampas goloknya.
Cong-peng ini liehay, ia jatuhkan dirinya ke tanah, dengan begitu, goloknya tidak kena dirampas.
"Aku tidak sangka dia liehay," kata Sin Cie dalam hati. Tapi untuk tidak perlambat tempo, ia segera menyerang dengan tiga butir biji caturnya.
Cong-peng itu benar-benar liehay, dengan goloknya ia berhasil menyampok jatuh tiga biji catur itu, hingga ia terlolos dari ancaman bahaya.
"Kau benar liehay! Mari coba lagi!" pikir Sin Cie. Dan sekali ini ia menyerang pula, dengan dua tangannya saling-susul. Kedua tangannya menggenggam tiga kali sembilan biji, hingga cong-peng itu diserang terus-terusan dengan dua-puluh tujuh biji. Pasti sekali ia menjadi sibuk, mulanya ia masih bisa menangkis, lantas goloknya terlepas, segera pahanya, pinggangnya, bebokongnya, sambungan kakinya, kena tertimpuk, hingga kesudahannya, ia rubuh dengan lutut tertekuk!
"Tak usah pakai banyak adat-peradatan!" Sin Cie menggoda sambil tertawa. Ia maju, untuk sambar bahu kiri orang, tapi dengan kepalan kanannya, cong-peng itu menyerang ke arah dada.
"Biarlah kau hajar aku satu kali, untuk puasi hatimu!" tertawa si anak muda. Dan ia antapkan dadanya ditoyor.
Serangan itu tepat, akan tetapi cong-peng itu merasakan ia lagi toyor kapas, dan ketika Sin Cie empos semangatnya, tenaga berbaliknya membikin tubuhnya terpental sendirinya, terapung tinggi!
Banyak serdadu menjerit melihat keadaannya pembesar itu.
Sang cong-peng sendiri anggap dia bakal terbinasa sendirinya, ia sudah lantas tutup rapat kedua matanya, akan tetapi segera ia merasa ada orang cekal kedua belah bahunya, apabila ia buka matanya, ia lihat lawannya adalah satu mahasiswa muda. Ia lantas insyaf bahwa ia telah rubuh di tangannya seorang liehay. Ia jadi putus asa.
"Kau perintahkan semua serdadu letaki senjata, kau akan dikasih ampun!" kata Sin Cie.
Cong-peng ini tahu, dengan angkutannya lenyap, hukuman mati ada bagiannya, karena ini, ia jadi nekat. Ia berseru: "Jikalau kau hendak bunuh, bunuhlah aku, tak usah kau banyak omong!"
Sin Cie tertawa, ia kerahkan pula tenaganya. Lagi satu kali, tubuhnya cong-peng itu terpental tinggi, di waktu jatuh, si anak muda tanggapi seperti tadi. Dan ia ulangi sampai tiga kali melempar tubuh opsir itu, hingga kesudahannya, opsir ini pusing kepalanya, berkunang-kunang matanya, sampai tak tahu ia, dirinya berada di mana....
"Jikalau kau tidak berikan titahmu, kau bakal mampus!" Sin Cie beri ingat. "Dengan begitu, tentaramu juga tidak bakal turut hidup! Maka baiklah kau menakluk kepada kami!" Dalam keadaan sulit seperti itu, cong-peng ini menyerah. Ia manggut. "Ini dia yang dibilang orang yang kenal selatan!" bilang Sin Cie.
Cong-peng itu lantas teriaki tiga sebawahannya, untuk beritahukan mereka niatnya untuk menakluk.
Tiga sebawahan itu kaget, muka mereka pucat. "Kau makan gaji negara, kau put-tiong, put-hauw!" satu di antaranya berseru saking gusar.
Tapi ia tak sempat bicara banyak, Sin Cie sambar lengannya, terus dia dibanting hingga dia rebah dengan pingsan! Melihat demikian, dua sebawahan itu menyatakan suka menurut. "Nah, perintahkanlah hentikan pertempuran!" si cong-peng memerintahkan.
Sin Cie juga lantas kasih tanda supaya kawanan penyamun berhenti berkelahi. "Titahkan mereka letaki senjata mereka!" kemudian Sin Cie perintah si cong-peng.
Dengan terpaksa, cong-peng itu menurut, maka itu, selainnya pertempuran berakhir, semua serdadu juga letaki senjata mereka. Menyusul itu, lima orang menerjang kalang-kabutan, mereka serbu pelbagai peti, untuk dibuka dengan paksa, apabila mereka dapati isinya uang belaka, mereka lemparkan itu ke samping, mereka menggeratak terus. Tidak ada satu serdadu juga yang berani rintangi mereka. Lima orang itu adalah Kwie Sin Sie suami-isteri serta tiga muridnya.
"Jie-suheng, kau cari apa?" Sin Cie tanya selagi orang dekati dia. "Nanti aku perintah
mereka kasi keluar!"
Kwie Sin Sie angkat kepalanya, ia lantas tampak tiga opsir berdiri di antara Sin Cie, ia lompat ke arah mereka, dengan tiga loncatan, ia sudah datang dekat, lalu dengan tiba-tiba, ia jambak si cong-peng. Pembesar militer ini kaget, apapula kapan ternyata, tak sanggup ia lepaskan diri dari jambakan itu, hingga ia mengerti, kembali ia hadapi seorang liehay.
"Di mana adanya upeti Hok-leng dan Hoo-siu-ouw dari Ma Tok-bu?" tanya Kwie Sin Sie dengan bengis.
"Karena anggap jalan kita ayal, Ma Tok-bu telah perintah lain orang bawa itu terlebih dahulu ke kota raja," sahut cong-peng itu.
"Apakah kau tidak mendusta?" tanya Kwie Sin Sie.
"Jiwaku ada di tangan kau, untuk apa aku mendusta?" sang cong-peng menjawab. Sin Sie percaya orang omong benar, tapi toh ia masih banting cong-peng itu.
"Jikalau kemudian ternyata kau main gila, aku nanti kembali untuk ambil jiwamu!" dia mengancam. Kemudian ia berpaling kepada isterinya: "Mari lekas kita susul!"
Habis mengucapkan demikian, Sin Sie segera berlari pergi.
Nyonya Kwie empo anaknya, dia susul suaminya, selagi berlari, dia hajar beberapa serdadu yang melintang di depannya.
Sun Tiong Kun bertiga pun segera susul gurunya itu.
Sin Cie tahu orang sedang berpikiran kalut, ia antapkan saja suko itu beramai berlalu. Kemudian baru ia tanya si cong-peng tentang obat yang dicari suhengnya yang kedua itu.
"Itulah Hok-leng dan Hoo-siu-ouw," sahut perwira itu. "Hok-leng itu besar sekali dan didapatinya belum lama ini di dalam sebuah gunung di propinsi An-hui diduga usianya telah dua-ribu tahun. Dan Hoo-siu-ouw itu, yang telah berpeta manusia, yang umurnya pun tua sekali, dapat digali di suatu tempat di Ciatkang timur. Maka itu adalah dua macam obat yang dipandang sebagai mustika. Ketika Cong-tok Ma Su Eng dari Hong-yang dengar hal kedua obat itu, dia perintah wakilnya pergi beli secara separuh paksa, kemudian ia perintahkan satu ahli obat bikin itu menjadi dua-puluh butir obat pulung, katanya campuran obat lainnya adalah jinsom, mutiara dan lainnya obat mahal, hingga ongkos pembuatannya sama sekali tiga-puluh ribu tail perak. Tentang obat ini sudah menggemparkan seluruh wilayah Kanglam, hingga banyak orang yang mengetahuinya.
"Untuk penyakit apa obat itu?" Sin Cie tanya pula.
"Aku sendiri tidak ketahui jelas, melainkan orang bilang mustajab sekali hingga bisa hidupkan kembali orang yang sudah mati. Juga dikatakan, siapa bertubuh lemah, asal makan sebutir saja dari obat itu, tubuhnya akan lantas jadi sehat dan kuat."
"Inilah dia!" pikir Sin Cie. "Anaknya Jie-suko sakit sudah lama dan belum dapat obat yang manjur, pantaslah dia ingin dapatkan obat ini....." Lalu ia tanya pula: "Jadi obat itu hendak dijadikan upeti oleh Ma Cong-tok?"
"Benar. Mulanya akulah yang ditugaskan bawa itu, tetapi kemudian karena aku jalan lambat dan aku mesti antar banyak pesakitan, dia titahkan lain orang ialah Tang Piauwsu dari Eng Seng Piauw Kiok dari Kimleng. Itulah upeti untuk Sri Baginda."
Mendengar itu, Sin Cie harap-harap sukonya berhasil mendapati obat itu untuk obati puteranya yang sakitan itu.
"Sudah berapa hari sejak berangkatnya piauwsu itu?"
"Kita berangkat bersamaan, tapi rombongan mereka cuma belasan, mereka bisa jalan jauh terlebih cepat. Mungkin mereka telah dului kita delapan atau sembilan hari."
Itu waktu Couw Tiong Siu bersama Cu An Kok, Nie Hoo dan Lo Tay Kan serta orang-orang mereka telah datang berkumpul, girang mereka bukan kepalang, apapula akan saksikan ahli warisnya Wan Cong Hoan demikian cakap dan gagah.
Sin Cie lantas tanyakan mereka itu tentang tertawannya mereka.
Menurut Tiong Siu, ketika mereka dibokong di Lauw Ya San, sudah banyak orang mereka yang bubaran, mereka sendiri bisa lolos, kecuali Eng Siong, yang mendapat kebinasaan. Kemudian mereka berkumpul pula, untuk lanjuti usaha mereka. Tapi rahasia bocor dan Ma Su Eng liehay sekali, selagi berapat, mereka disergap hingga mereka kena ditawan. Mereka hendak dikirim ke Pakkhia di mana mereka bakal jalankan hukuman mati. Maka beruntung sekali, di sini mereka bertemu dengan Sin Cie dan dapat ditolongi.
Setelah itu Sin Cie tuturkan hal perkenalannya dengan Giam Ong.
"Ini bagus, Wan Kongcu," berkata Tiong Siu. "Di sini ada kawanan penyamun dan sejumlah tentara taklukan, maka baik kau tunda dulu perjalananmu ke Pakkhia, untuk pernahkan mereka ini.
Sin Cie nyatakan setuju, malah ia sarankan untuk cari tempat untuk satu pertemuan besar.
"Tay San bagaimana?" Tiong Siu usulkan.
"Tay San ada yang utama di antara lima gunung, kita pilih Tay San, tepat!" Sin Cie nyatakan akur.
Pemuda ini lantas perintah kumpulkan isinya peti yang ia titahkan "obral", sedang dari uang angkatan negara, ia pisahkan sejumlah dua-puluh laksa tail perak, yang ia bagi rata di antara rombongan Ceng Tiok Pay dan kawanan berandal dari Shoatang itu. Untuk Tie Hong Liu, ia pisahkan lagi lima-ribu tail. Dan untuk tentara negeri yang menakluk itu, ia kasikan dua-puluh laksa tail. Maka selat itu bergemuruh dengan tampik-surak pelbagai rombongan yang merasa sangat girang dengan tindakannya si anak muda.
Habis itu Sin Cie titahkan sejumlah orang dari kaum San Cong, Ceng Tiok Pay dan berandal Shoatang, untuk mereka pergi ke berbagai tempat, guna menyampaikan undangan supaya nanti orang berkumpul di atas gunung Tay San untuk berapat, tanggalbulannya ialah peh-gwee Tiong Ciu.
Untuk pernahkan Couw Tiong Siu beramai bersama tentara negeri taklukan itu, Sin Cie minta orang she Couw itu pergi cari suatu gunung, untuk dirikan pesanggrahan, buat mereka tempatkan diri sampai datang saatnya untuk bergerak menyambut Giam Ong.
Tentang lenyapnya uang negara itu, yang berjumlah lebih dari dua juta tail perak, dan menakluknya tentara pengiringnya, telah menggemparkan wilayah Shoatang dan kota raja, dan kapan kemudian Cong-tok Ma Su Eng datang bersama satu pasukan perang besar, untuk mencari dan membasmi, di selat itu mereka tidak dapatkan satu penyamun juga, hingga mereka mesti pulang kembali dengan tangan kosong.
Sementara itu, sang hari lewat dengan cepat, selagi mendekati harian tanggal lima-belas bulan delapan, ke gunung Tay San telah datang orang-orang, dengan bersendirian dan berombongan, hingga mereka telah memenuhi pelbagai kelenteng di atas gunung yang suci itu, sebab jumlah mereka adalah beberapa ratus orang.
Pada malaman tanggal lima-belas, cuaca terang, rembulan indah-permai, dan pada paginya tanggal yang dipilih itu, hawa pagi sangat nyaman. Semua orang berkumpul di lembah Sek Keng Kok di mana ada sebuah tegalan yang luas beberapa bauw, yang terdiri dari batu yang bersih dan mengkilap, katanya itu dahulu adalah tempat peranti berkotbah dari suatu pendeta yang berilmu tinggi, sedang di atas gunungnya ada ukiran sebagian kitab Kim Kong Keng dengan huruf-hurufnya sebesar gantang dan bagus.
Pada waktu itu di antara hadirin, kecuali Wan Sin Cie bersama Oen Ceng Ceng, si empeh gagu A Pa dan Ang Seng Hay, pun terdapat rombongan dari Couw Tiong Siu seperti Cu An Kok, Nie Hoo dan Lo Tay Kan. Dari pihaknya Kim Liong Pay di Kangsouw datang Ciauw Kong Lee bersama gadisnya, Ciauw Wan Jie, Lo Lip Jie dan lainnya. Dari Ceng Tiok Pay datang Thia Ceng Tiok beramai. Dari kawanan berandal Shoatang hadir See Thian Kong bersama Tam Bun Lie dan rombongannya. Dari Liong Yu Pang di Ciatkang, Eng Cay telah ajak semua kawan-kawannya. Dari pihak Siauw Lim Sie dari Hokkian, Sip Lek Taysu, perlukan datang sendiri. The Kie In dari Cit-cap-jie- Too, tujuh-puluh dua pulau-pula pun datang bersama kawan-kawannya. Dari antara pesakitan, yang Sin Cie tolong merdekakan, ada Ceecu Liap Thian Kong dari lembah Hui Houw Kok dari Hoay-lam dan Pangcu Nio Gin Liong dari Po Yang Pang dari Kangsee utara. Begitupun sejumlah orang Kang-ouw lainnya. Dari pihak tentara negeri yang menakluk hadir Cong-peng Sui Cee Bu serta perwira-perwira sebawahannya. Maka itu, jumlah mereka sangat besar, ramailah selat gunung Tay San itu.
Di waktu fajar, orang telah berkumpul untuk menghadap ke timur, untuk saksikan munculnya Tay Yang Seng-kun atau Batara Surya, di waktu mana, cuaca indah luar biasa, langit di arah timur itu merupakan aneka-warna yang permai, hingga orang menyambutnya dengan tampik-surak ramai.
Selagi orang ramai duduk, Im-yang-sie See Thian Kong, yang lukanya telah sembuh, berbangkit untuk beri hormat kepada semua hadirin, guna angkat bicara. Ia memberitahu bahwa penyambutannya tidak sempurna, maka itu, ia mohon diberi maaf. Lalu sekali lagi, ia menjura kepada semua tetamu.
Dengan hampir berbareng, semua hadirin mengucapkan terima kasih.
"Aku adalah seorang kasar, aku tak tahu apa-apa, maka sekarang aku persilahkan cianpwee dari Ceng Tiok Pay yang bicara lebih jauh," kemudian kata pula orang she See ini.
Thia Ceng Tiok merendahkan diri, dia menampik, hingga keduanya saling tolak. Demikian mereka ramah-tamah, beda daripada waktu mereka adu jiwa secara mati-matian untuk perebuti hartanya Sin Cie. Hal ini membuat girang dan kagum semua hadirin lainnya, karena, dari musuh, mereka kini jadi sahabat kekal.
Akhir-akhirnya Thia Ceng Tiok, dengan sebatang bamboo di tangannya, berbangkit sambil tertawa.
"Kita kaum rimba persilatan, sebenarnya dahulu pun pernah satu kali berkumpul di atas gunung Tay San ini," berkata dia, memulai. "Cuma itu waktu, jumlah kita tak ada sebanyak kali ini. Dan itu waktu, aku tidak malu akan mengatakannya, apakah maksud rapat kita itu? Tak lain tak lebih, melulu untuk membagi daerah bekerja, guna memecah uang rampasan...."
Mendengar itu, semua orang tertawa.
"Sekarang ini telah hadir banyak enghiong, maka tak dapat kita berlaku lagi tak tahu malu seperti dulu itu!" melanjuti ketua Ceng Tiok Pay itu. "Sekarang ini dunia sedang kacau, sekarang adalah saatnya untuk orang-orang yang bersemangat mendirikan usaha yang berarti, untuk angkat nama! Kaisar sedang gelap pikiran, kusut segala aturannya! Di dalam pemerintahan hanya terdapat segala pembesar rakus dan busuk! Dan di luar tapal batas, kacung-kacung Boan di Kwan-gwa sering-sering menyerbu perbatasan kita, hingga karenanya, rakyat bercelaka, mereka mengeluh sampai suaranya terdengar di langit. Kita sendiri, siapakah di antara kita yang tidak pernah terdesak sampai kita berada di pojokan seperti sekarang ini? Maka sekarang haruslah kita berembuk, untuk membangun suatu usaha besar!"
Kembali orang bersurak-riuh, semua menyatakan setuju.
"Yang hadir hari ini semuanya sahabat-sahabat karib," menambahkan Thia Ceng Tiok, "maka dari kita bersumpah dengan darah kita, untuk di mana ada kesusahan saling membantu, guna bekerja sama-sama. Dan andaikata, ada yang rakus, yang silau dengan harta dan kemuliaan hingga dia jual sahabatnya, atau dia takut mati saking kouw-ka-tie, mari kita ramai-ramai habiskan dia!"
"Bagus! Akur!" demikian kembali sambutan orang banyak.
"Di dalam satu pertemuan besar sebagai ini, tak dapat tidak ada bengcu, ketuanya, maka itu, mari kita angkat satu pemimpin, satu saudara enghiong yang disegani semua orang," berkata pula See Thian Kong. "Terdapat bengcu itu, kita semua mesti mendengar kata! Bagiku, tak perduli saudara mana yang diangkat, aku nanti selalu ikuti dia!"
Sampai di situ, Sip Lek Taysu berbangkit.
"Memangnya, kawanan naga tidak ada kepalanya, tak nanti mereka bisa bangunkan usaha besar," kata pendeta ini. "Loo-lap setuju untuk kita pilih satu bengcu, asal bengcu itu mesti pintar dan gagah berbareng, welas-asih dan budiman, supaya ia bisa menakluki semua orang."
"Itu benar!" The Kie In menyambut. "Menurut aku, Tay-su setimpal untuk jadi pemimpin kita."
Sip Lek Taysu tertawa.
"Jangan main-main, Toocu! Loolap adalah sebagai lilin di antara angin, loolap sedang tungkuli sisa umurku.... Mana loolap sanggup terima tugas penting itu?"
Orang ramai lantas kasak-kusuk, berbisik satu dengan lain, untuk damaikan siapa harus dipilih dan diangkat menjadi bengcu mereka. Pemilihan ini perlu, untuk persatukan golongan mereka, yang terpencar di pelbagai tempat, agar mereka semua ada yang pimpin dan bersatu. Hal ini perlu, untuk cegah bentrokan di dalam kalangan sendiri, guna bikin jeri pembesar negeri.
Thia Ceng Tiok tunggu orang saling berdamai sekian lama, lalu ia tepuk tangannya beberapa kali, setelah semua orang sirap, dia tanya apa mereka itu sudah dapat pikir orang yang cocok, yang bakal dipilih.
Seorang, yang tubuhnya besar dan tingginya tujuh kaki, berbangkit. Suaranya pun nyaring ketika ia buka mulutnya. Ia kata: "Loo-ya-cu Beng Pek Hui adalah orang yang dihormati oleh kaum Rimba Persilatan, benar dia hari ini tidak turut hadir, akan tetapi kedudukan bengcu ini harus diberikan kepadanya. Maka itu aku anggap baik kita jangan pilih lain orang lagi."
Usul ini segera dapat kesetujuannya beberapa orang.
"Siapakah itu Beng Pek Hui?" tanya Sin Cie pada Seng Hay, yang duduk di sebelahnya.
Orang yang ditanya agaknya heran.
"Apakah Wan Siangkong tidak kenal orang she Beng itu? Dia balik tanya.
"Ada sedikit sekali sahabatku dalam rimba persilatan," sahut si anak muda.
"Beng Loo-ya-cu itu ada orang juluki Kay Beng Siang, jadi dia dibandingi dengan Beng Siang Kun," terangkan Seng Hay. "Dia adalah seorang yang mulia hatinya, giat menderma, gemar bergaul. Dalam kalangan ilmu silat, dia telah ciptakan ilmu silat 'Sin Kun'. Banyak orang gagah yang menjadi muridnya. Untuk di utara, tidak ada yang tidak kenal nama Kay Beng Siang. Orang yang bicara barusan adalah Teng-kah-sin Teng Yu, si Malaikat Teng Kah, yang jadi murid kepalanya."
"Begitu," kata Sin Cie kemudian. "Kalau begitu, baik juga dia dipilih jadi bengcu...."
Itu waktu, Cit-cap-jie-too Toocu The Kie In berkata pula: "Namanya Loo-ya-cu Beng Pek Hui terkenal hingga di tempat jauh, sampai aku yang tinggal jauh dari daratan, telah pernah mendengarnya, aku turut kagumi dia. Dia bijaksana, kepandaiannya pun sempurna, memang pantas dia dipilih. Tapi aku memikir satu hal, boleh atau tidak apabila aku utarakan itu?"
"Tidak ada halangannya, The Toocu," bilang Teng Yu.
"Beng Loo-ya-cu telah tinggal di Po-teng untuk banyak tahun," menyatakan toocu ini, "harta-benda dan kedudukannya, besar bukan main. Kita sebaliknya, apakah yang kita kerjakan? Kita berkumpul, untuk melakukan usaha pemberontakan! Apabila Beng Loo-yacu menjadi pemimpin kita, kemudian dia kena terembet-rembet, apakah bisa senang hati kita?"
Kata-kata ini beralasan, maka itu semua orang berdiam.
"Aku hendak pujikan satu orang lain," berkata Ciauw Kong Lee, ketua dari Kim Liong Pay dari Kim-leng. "Dia ini satu enghiong, dia tidak saja pandai ilmu silat, sifatnya pun welasasih dan budiman. Melainkan dia masih berusia sangat muda dan banyak sahabat-sahabat Rimba Persilatan yang belum mengenalnya. Walaupun demikian, aku suka pujikan dia. Dan asal dia suka menerima keangkatan, dia pasti bakal pegang pimpinan dengan adil, dia pasti bakal angkat nama kita hingga pihak pembesar negeri niscaya tak nanti pandang ringan kepada kita."
Sebelum orang banyak tegaskan Kong Lee, siapa pilihannya itu, See Thian Kong sudah turut berkata pula. Dia punyakan suara kecil akan tetapi dia coba keluarkan dengan keras, hingga terdengarnya menyolok di kuping.
"Di dalam hatiku, aku juga memikir satu orang, satu enghiong yang usianya masih sangat muda," katanya. "Aku percaya dia tidak bakal beda jauh dengan enghiong yang dipujikan Ciauw Pangcu."
"Aku tidak berani menyebutkan usiaku yang tinggi," berkata pula Ciauw Kong Lee, seperti ia menyambung See Thian Kong, "akan tetapi usiaku sekarang ini sudah lebih dari limapuluh tahun, dan tak berani aku membilang, pengetahuan dan pengalamanku telah luas, akan tetapi pernah aku menemui tak sedikit orang-orang gagah, walaupun itu semua, sahabat muda yang aku sebutkan itu telah membuat aku takluk setakluk-takluknya, seumurku, belum pernah aku menemui orang yang melebihkan dia."
Sampai di situ, Thia Ceng Tiok turut bicara. Tapi ia bicara dengan tawar.
"Aku kenal tabeatnya Ceecu See Thian Kong," demikian katanya, "dan kipas Im-yang-sienya yang bisa dipakai menotok jalan darah, walaupun bukan tak ada keduanya, sudah sempurna sekali, maka seorang yang membuat dia kagum, pastilah bukan orang sembarang. Maka itu aku dari Ceng Tiok Pay, aku setuju dengannya."
Mendengar ini, mukanya Ciauw Kong Lee menjadi merah.
"Habis bagaimana caranya bengcu hendak dipilih?" tegaskan ketua Kim Liong Pang ini. "Orang-orang Kim Liong Pang memang tak punya guna, akan tetapi jumlah kami terlebih banyak daripada jumlah orang-orang Ceng Tiok Pay...." Suasana lantas saja menjadi hangat. Menampak demikian, Sip Lek Taysu lantas mendahului. "Sabar, Ciauw Pangcu," berkata dia. "Siapa itu sahabat yang pangcu hendak pujikan?
Menurut aku, dalam sembilan bagian, dugaanku tidak bakal meleset. Aku pun minta supaya See Ceecu menyebutkannya orang yang dia hendak pujikan itu, supaya semua hadirin bisa berikan pertimbangannya yang sama tengah. Ada kemungkinan yang orang banyak tak menyetujui mereka itu...."
See Thian Kong lantas saja tunjuk Wan Sin Cie. "Orang yang aku maksudkan adalah Wan Siangkong!" sahutnya. "Jangan Saudara-Saudara lihat saja usianya yang masih sangat muda, sebenarnya kepandaiannya terlebih tinggi daripada orang yang kebanyakan. Baik aku jelaskan, dengan Wan Siangkong ini aku baru saja berkenalan, dengannya aku bukan pernah saudara seperguruan, bukan juga sahabat karib, bahwa aku pujikan dia, itulah disebabkan melulu karena aku kagumi kepandaiannya."
Baru saja See Ceecu tutup mulutnya atau rombongan berandal dari Shoatang serta orang-orang Ceng Tiok Pay bertampik-surak semua hingga suara mereka jadi bergemuruh. Hal ini di luar dugaan Sin Cie, maka lekas-lekas ia berbangkit, ia lantas ulap-ulapkan kedua tangannya.
"Jangan! Jangan!" katanya gugup.
Orang-orangnya Ciauw Kong Lee tunggu sampai tampik-surak sudah reda, lalu mereka semua tertawa berkakakan, bergelak-gelak, kepala mereka ditegaki, kembali terdengar suara bergemuruh riuh.
See Thian Kong menjadi tidak senang. "Ciauw Pangcu, tolong kamu jelaskan, adakah kamu tertawai aku?" tanya dia.
Kong Lee rangkap kedua tangannya, akan beri hormat kepada ceecu ini. "Mana berani aku tertawai kau, See Ceecu?" katanya. "Ketahuikah Ceecu, siapa orang yang aku hendak pujikan?"
Thian Kong menggeleng kepala. "Aku tidak tahu," jawabnya.
Kong Lee bersenyum, "Lain daripada Wan Siangkong ini, siapa lagi?" katanya. Tanpa merasa, orang semua tertawa besar. Sebab sekian lama orang adu urat syaraf, tidak tahunya, jago yang mereka pujikan adalah satu orang! Sin Cie menjadi sangat sibuk, kembali ia bangkit berdiri.
"Aku masih terlalu muda, pengetahuanku pun sangat cetek," katanya. "Sebenarnya dengan dapat turut hadir di sini saja aku sudah bukan main bersyukurnya. Di sini aku mengharap semua Loocianpwee nanti sudi pimpin aku, supaya aku bisa membantu sedikit, maka itu mana aku sanggup terima pujian kamu! Tak sanggup aku terima tugas berat ini, maka aku harap Loocianpwee beramai pilih lain orang saja."
Tapi Couw Tiong Siu turut bicara.
"Wan Kongcu adalah putera Wan Tayswee," katanya, "oleh karena kami kaum San Cong tidak memilih kasih, dengan kongcu yang terpilih, inilah paling tepat!"
"Siapa dimaksudkan dengan Wan Tayswee itu?" tanya The Kie In.
"Ialah Tayswee Wan Cong Hoan, panglima gagah yang di Liauwtong telah lawan angkatan perang Boan, yang belakangan tanpa sebab tanpa dosa telah dibikin celaka hingga dia menemui kebinasaannya," Tiong Siu terangkan.
Semua orang tahu Wan Cong Hoan gagah dan setia, bagaimana sebagai pahlawan dia bela negaranya, tapi dia terbinasa teraniaya, hingga orang rata-rata penasaran, maka sekarang, setelah dengar keterangannya Couw Tiong Siu, tidak saja The Kie In, pemimpin dari tujuh-puluh-dua pulau, juga yang lain-lain jadi tergerak hatinya, berbareng berduka mereka atas nasibnya Wan Tayswee itu, mereka girang menemui puteranya. Maka seperti satu suara, semua orang menyatakan setuju atas pilihan itu.
Sin Cie masih mencoba menampik, ia tidak berhasil.
Malah Sui Cong-peng, perwira taklukan itu, dan Nio Gin Liong dan Liap Thian Hong serta lainnya yang ditolongi dari kerangkeng perantaian, turut berikan suara menunjang, hingga tak dapat tidak, pemilihan lantas ditetapkan.
Ketua dari Liong Yu Pang, Eng Cay, sebenarnya mempunyai sangkutan dengan Sin Cie, disebabkan kejadian di perahu waktu dia bentrok dengan Oen Ceng Ceng, akan tetapi dia ingat pertolongannya pemuda ini, yang berikan dia papan yang membuat dia tak sampai tercebur ke sungai, maka dia pun berikan tunjangannya. Sambil berbangkit, dia berkata: "Wan Siangkong mempunyai bugee yang liehay, pasti banyak Saudara hadirin di sini mengetahuinya. Aku sendiri, pernah rubuh di tangannya...."
Mendengar ini, sejumlah orang menjadi tercengang.
"Walaupun aku telah dirubuhkan, aku toh ditolongi," Eng Cay menyambungi, "karena itu sekarang aku setuju dia dipilih menjadi bengcu, aku tunjang pemilihannya ini."
Orang bersorak untuk sikap laki-laki dari ketua Liong Yu Pang itu.
Teng-kah-sin Teng Yu dekati Sin Cie, untuk diawasi, hingga ia tampak tegas romannya Sin Cie yang cakap, sikap halus, tak ada tanda-tandanya dari seorang dengan dengan bugee yang liehay, karenanya, ia menjadi heran. Ia tidak puas karena namanya orang ini melewati nama gurunya.
"Kionghie, Wan Siangkong," kata dia, memberi hormat, tapi berbareng ia ulur tangannya, untuk jabat pemuda ini.
"Dengan sebenarnya, tak sanggup aku terima tugas berat ini," berkata Sin Cie.
Belum lagi anak muda ini tutup mulutnya, atau ia rasai cekalan yang keras sekali.
Tetapi, dengan diam-diam, Teng Yu sudah kerahkan tenaga "Pa Ong Kong Teng" atau "Couw Pa Ong Angkat Perapian Kaki Tiga," semacam ilmu tenaga besar warisan dari gurunya. Dengan jalan ini, ia niat angkat tubuhnya Sin Cie, untuk lalu dilepaskan, supaya pemuda ini rubuh setengah binasa, agar bengcu ini mendapat malu.
Sin Cie segera insyaf bahwa orang lagi mencoba dia, dia diam saja, tapi dengan diam-diam, dia kerahkan tenaga "Cian-kin-cui", atau "Rubuhnya Seribu Kati", hingga dia bisa tancap kaki dengan tubuhnya dibikin berat, karena mana, sampai tiga kali Teng Yu kumpul tenaganya, untuk angkat ia masih tidak berhasil, tubuhnya seperti nancap di tanah. Dia pun lantas berkata: "Mana aku sanggup terima tugas begini berat? Gurumu terkenal di kolong langit, Saudara Teng, gurumu itu jauh terlebih cocok daripada aku untuk dipilih!"
Masih Teng Yu kerahkan tenaganya, tetap ia tidak memperoleh hasil, malah pada lengan kanannya itu terdengar suara urat-uratnya, maka akhirnya terpaksa ia lepaskan cekalannya, karena ia tahu, ia telah gunai tenaga melebihi batas.
Masih Sin Cie berpura-pura seperti tak ada kejadian suatu apa, begitu orang lepaskan cekalannya, ia lantas tarik pulang tangannya.
Teng Yu sembrono tetapi ia jujur dan polos, ia tahu orang telah berbuat baik terhadapnya, karena apabila si anak muda melakukan pembalasan, lengannya bisa patah atau tangannya remuk. Karena ini, ia jadi berterima kasih.
"Baik, kau pantas menjadi bengcu!" dia lantas serukan. Lalu ia memberi hormat sambil menjura.
Sin Cie lekas-lekas membalas hormat, hatinya girang karena orang berhati polos. Ia jadi sangat suka pada orang sembrono ini.
Ketika itu orang lantas siapkan lilin dan hio, untuk menjalankan kehormatan kepada langit dan bumi, yang menyaksikan pemilihan dan keangkatan bengcu itu.
"Kita telah adakan perserikatan, kita sudah mempunyai bengcu, karenanya tak boleh kita tidak punyakan undang-undang," berkata Thia Ceng Tiok. "Maka sekarang aku mohon bengcu maklumkan undang-undang itu, untuk kita rundingkan dan tetapkan."
Sebenarnya Sin Cie masih hendak menolak, tapi Tiong Siu bisiki dia, katanya: "Kongcu, jangan kau tampik lagi. Apabila kedudukan bengcu ini terjatuh kepada satu manusia licik, besar sekali bencananya di belakang hari. Umpama kau bisa pegang kendali, besar faedahnya untuk melampiaskan sakit hatinya Tayswee!"
Tertarik hatinya Sin Cie mendengar nasehat ini. Lantas ia berbangkit, akan menjura kepada orang banyak.
"Karena Saudara-Saudara demikian menyinta aku, baiklah, terpaksa aku turut titah kalian," katanya. "Karena pengetahuanku cetek, aku mohon supaya semua cianpwee dan kanda sudi bantui aku, aku senantiasa bersedia untuk terima pelbagai pengajaran."
Tampik surak riuh-rendah menyambut pengutaraan itu.
"Untuk undang-undang, aku minta Couw Siokhu saja yang mengarangnya," kemudian Sin Cie minta Tiong Siu.
Couw Tiong Siu tidak menolak, ia malah lantas kembali ke kuil, untuk tugasnya itu. Ia tahu semua orang sederhana, ia pun mengatur rencana secara ringkas. Maka belum terlalu lama, ia sudah siap dengan undang-undangnya, yang ia terus serahkan pada Sin Cie, untuk diumumkan kepada orang banyak itu, habis mana mereka mengadakan sumpah, minum arak tercampur darah, untuk janji bekerja sama-sama tidak ada yang boleh undurkan diri atau melanggar sumpah.
Secara demikian selesailah pertemuan besar di Tay San itu.
Belum berselang setengah tahun sejak Sin Cie muncul karena ilmu silatnya yang liehay, sebabnya ramah tamah dan kepintaran, ia telah membuat kemajuan ini, hingga ia sekarang menjadi bengcu dari Titlee, Shoatang, Kang-ouw, Ciatkang, Hokkian, Kangsee dan Anhui, dari orang-orang gagah dari tujuh propinsi itu.
Tiga hari lamanya orang berkumpul di Tay San, berunding dan berpesta, lalu dengan bergantian mereka turun gunung, akan pulang ke masing-masing wilayahnya. Selama itu, kecuali sebagai pemimpin, Sin Cie juga telah ikat persahabatan kekal dengan orang-orang yang tadinya ia tak kenal. Di waktu orang berpisahan, ia bekali mereka uang, yang ia ambil dari harta karunnya itu, tak sayang ia memberikan masing-masing sejumlah besar. Secara begini, ia pun menambah menarik simpati orang banyak itu.
Setelah semua sudah bubar, Sin Cie bersama Ceng Ceng, A Pa dan Seng Hay melanjuti mengangkut harta mereka menuju ke Pakkhia. Adalah Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong, yang tidak lantas pisahkan diri, karena mereka ini ingin mengantar sampai di kota raja, katanya untuk sekalian pesiar. Sin Cie terima baik kehendak dua sahabat ini, terutama karena ia tahu, dua sahabat itu mempunyai ilmu silat yang sempurna.
Sementara itu Ang Seng Hay terbukti berlaku jujur dan setia, dia rajin dan waspada dalam mengantar harta itu, hingga Sin Cie percaya dia tak nanti berontak atau berkhianat terhadapnya, maka ia lantas sembuhkan luka dalam tubuhnya. Pertolongan ini justru membikin orang she Ang itu menjadi bersyukur sekali, hatinya lega sebab ia tak usah dukai lagi lukanya itu.
Melakoni perjalanan di tanah dataran Shoatang, rombongan ini merasa aman sekali. Shoatang adalah daerah pengaruhnya See Thian Kong, orang-orangnya pemimpin ini telah atur segala apa untuk memudahkan mereka. Dan kapan mereka memasuki daerah Hoopak, di sana pun mereka mendapat pelayanan tak kurang sempurnanya dari orang-orangnya Thia Ceng Tiok.
Oen Ceng Ceng puas sekali melihat amannya perjalanan itu, mendapati segala apa leluasa bagi mereka, maka akhirnya ia kagumi si anak muda, orang yang ia puja itu. Karena ini, kalau tadinya ia gemar "ngadat", dengan sendirinya ia bisa bawa diri, hingga ia pun menjadi jinak....
Pada suatu hari sampailah rombongan ini di Hoo-kan, di sana ketua setempat dari Ceng Tiok Pay menyambut dengan mengadakan satu perjamuan, di antara hadirin ada orang-orang rimba persilatan yang kenamaan dari kota itu, kecuali menemani, mereka ini memberi selamat kepada bengcu mereka. Selagi bersantap dan minum, orang pun pasang omong mengenai kaum Kang-ouw.
"Thia Pangcu," berkata satu orang selagi perjamuan berjalan, "lagi sebelas hari adalah hari ulang tahun keenam-puluh dari Loo-ya-cu Beng Pek Hui, pasti kau tak dapat pergi untuk menghadiri pestanya itu, bukan?"
"Aku mesti turut bengcu ke kota raja, pasti aku tak dapat pergi," sahut Thia Ceng Tiok, "walaupun demikian, sumbangan tak dapat aku lupakan, aku telah perintah orang untuk menyampaikannya."
"Aku juga sudah kirimkan barang antaranku," See Thian Kong turut bicara. "Beng Loo-yacu ada satu sahabat baik, melihat kita tidak datang, tentu ia ketahui kita punyakan urusan penting, pasti ia tidak bakal jadi tidak senang. "
Sin Cie dengar pembicaraan itu, hatinya tergerak.
"Kay Beng Siang tersohor di lima propinsi Utara, selagi sekarang dia hendak rayakan hari ulang tahunnya, kenapa aku tidak mau ikat persahabatan dengannya?" dia berpikir. Maka ia turut bicara. Ia kata: "Aku pun telah dengar namanya Beng Loo-ya-cu, kebetulan sekarang dia hendak rayakan shejitnya yang ke enam-puluh, aku ingin pergi memberi selamat padanya. Bagaimana pikiran Saudara-Saudara?"
Mendengar ini, semua orang akur, sampai mereka tepuk-tepuk tangan.
"Bengcu niat berikan dia muka terang, pasti dia bakal jadi sangat girang!" berkata orang banyak itu.
Sin Cie lantas pastikan untuk kunjungi Beng Pek Hui. Sembari bicara, ia menanyakan terlebih jauh tentang jago tua dari Utara itu. Ia dapat kenyataan, Kay Beng Siang itu seorang budiman dan gemar bergaul.
"Dengan jalan mutar sedikit ke Poo-teng, aku anggap kita tidak sampai mensia-siakan banyak tempo untuk sampai di Pakkhia," kata Sin Cie kemudian. "Kita cuma akan terlambat beberapa hari saja."
Banyak hadirin menyatakan, memang mereka tak terlalu mensia-siakan tempo.
Karena ini urusan baru, ketika besoknya perjalanan dilanjuti, tujuan diubah ke Barat. Kapan mereka telah sampai di Kho-yang, dari mana untuk sampai ke Poo-teng tinggal perjalanan satu hari lagi, Seng Hay lantas ambil tempat di hotel Hoat Lay.
Sesudah taruh rapi peti-peti besi dan buntalan mereka, mereka pergi duduk berkumpul di ruang besar, untuk bersantap.
Ketika itu di satu meja sebelah timur berduduk satu tauwtoo atau imam yang tubuhnya besar dan gemuk, kepalanya, atau rambutnya, dilibat dengan sebuah gelang kepala yang terbuat dari tembaga. Dia beroman keren. Di atas meja di depannya sudah menggeletak tujuh atau delapan poci arak yang kosong. Ketika satu jongos menambahi air kata-kata, ia mencegluknya dari satu mangkok besar. Dia pun dahar daging dengan main cabak dengan kedua tangannya. Dan dia dahar dengan cepat, hingga piringnya jadi kosong, mangkoknya jadi kering.
"Tambah lagi arak dan daging! Lekasan!" demikian ia perdengarkan suaranya yang nyaring, sampai berulang-ulang.


0 komentar:
Posting Komentar