Home » » PEDANG ULAR MAS 25

PEDANG ULAR MAS 25

Jilid 25

Jongos sedang melayani rombongan Sin Cie, ia jadi tak sempat.

"Kurang ajar!" menjerit tauwtoo itu, sambil keprak meja dengan keras, sampai poci arak dan mangkoknya berlompatan. Karena meja bergerak keras, cawan arak dari lain tetamu, yang duduk di ujung dari meja itu, telah terbalik, hingga araknya tumpah dan mengalir di atas meja.

"Aya!" berseru si tetamu sambil berjingkrak.

Dia ini adalah seorang dengan tubuh kecil dan kurus, kumisnya dua baris, apa yang dinamakan kumis tikus saking jarangnya akan tetapi sepasang matanya bersinar tajam dan berpengaruh. "Suhu," katanya, "kau ingin minum arak, orang lain juga!"

Tauwtoo itu sedang gusar, teguran itu menambah kegusarannya. Ia gebrak meja. "Aku panggil jongos, apa sangkutannya denganmu?" dia balik menegur.

"Belum pernah aku menemui orang suci sekasar kau!" kata orang kurus itu.

"Dan hari ini aku bikin kau menemuinya!" sahut si imam.

Ceng Ceng pun tidak puas. "Nanti aku ajar adat padanya!" katanya pada Sin Cie.

"Ah, kau nonton saja," jawab si anak muda. "Jangan pandang ringan orang kecil dan kate itu, dia tak dapat dibuat permainan."

Ceng Ceng dengar kata, tapi keras keinginannya untuk saksikan pertempuran. Tapi si orang kurus seperti jeri terhadap si imam. "Baik, baik, aku mengaku salah. Tak apa, bukan?" katanya.

Melihat orang ngaku salah, justru waktu itu jongos datang dengan arak, si imam tidak menarik panjang, ia minum pula sendirian saja. Si kurus berlalu, tapi tak lama ia sudah kembali. Sin Cie dan kawan-kawannya, yang tidak jadi saksikan "keramaian", minum pula sendirinya.

Tiba-tiba saja ada angin menyambar, membawa bau keras yang menyampok hidung, hingga Ceng Ceng lekas sembat keluar saputangannya, untuk tekapi hidungnya. Sin Cie menoleh, atau segera ia tampak di mejanya si imam, di depannya, ada satu pispot, hingga Sin Cie tertawa dengan tak tertahan. Dia menoleh pada Ceng Ceng, akan bersenyum, lalu melirik ke arah si imam. Ceng Ceng pun lihat pispot itu, tapi si imam seperti tak melihatnya, maka nona ini tertawa sendirinya.

Juga lain-lain tetamu tidak lihat pot tempat kotoran itu.

"Bau! Bau!" kata beberapa orang kemudian.

"Wangi! Wangi!" sebaliknya si kurus kering, dengan suaranya yang nyaring.

"Itu pasti perbuatannya si kurus ini," Ceng Ceng bilang sambil bersenyum. "Dia sungguh sangat sebat! Kenapa aku tak lihat perbuatannya itu?" Baru sekarang hidung si imam mencium bau busuk, tapi tanpa melihat lagi, ia ulur tangannya, akan jumput poci arak, akan tetapi kapan ia melihatnya, ia terperanjat. Ia bukan angkat poci arak hanya pispot di mana bertumpuk najis. Dengan tiba-tiba saja ia menjadi gusar, tangannya menyampok ke samping.

"Aduh!" menjerit si jongos, yang tubuhnya terpelanting rubuh, jauhnya setumbak lebih.

"Arak yang bagus, arak yang bagus! Wangi! Wangi!" kembali si kurus perdengarkan suaranya yang nyaring.

Sekarang si imam duga siapa yang main gila terhadapnya, dengan satu kali ayun saja, pispot itu menyambar ke arah si kurus. Tapi dia ini agaknya telah siap, dia berkelit dengan lincah, dengan nyelusup ke kolong meja, ketika ia muncul pula, tahu-tahu ia sudah berada di belakang si imam.

Pispot mengenai meja dan hancur, kotorannya muncrat berhamburan, baunya berkesiur keras ke empat penjuru, hingga lain-lainnya tetamu lantas saja lekas-lekas menyingkir!

(Bersambung bab ke 16)


Bab 16

Murkanya si imam bukan kepalang, terutama kapan ia ketahui si kurus berada di belakangnya, sambil putar tubuh, ia menyambar dengan sebelah tangannya. Si kurus awas dan licin, dia berkelit sambil nyelusup pula ke kolong meja.

Dalam murkanya, imam itu dupak meja hingga terbalik.

Sedetik saja, ruang makan itu jadi kacau. Semua tetamu lainnya pada berdiri di kedua pinggiran.

Lincah luar biasa ada si kurus, ketika si imam serang pula padanya, dia berkelit, lalu dia loncat sana dan lompat sini, hingga tidak ada kepalan atau dupakan yang mengenai tubuhnya.

Meja-meja lainnya, berikut kursinya, turut terbalik-balik, karena disempar dan dibentur, poci arak, cawan dan sumpit, jatuh berhamburan. Si kurus membalas menyerang, tetapi dengan poci arak dan lainnya, yang ia jumput dari lantai. Si imam menjerit-jerit, ia berkelit, ia menanggapi, untuk balas menimpuk. Dengan begitu terlihatlah kepandaian mereka berdua.

Karena meja dan kursi pun disempar pergi datang, ruang itu lantas menjadi ruang kosong, hingga si kurus tak dapat jalan untuk main berkelit atau berlari lagi, maka ia terpaksa mesti layani si imam yang serang ia tak hentinya. Ia melayani sambil perlihatkan kesebatannya, kegesitan tubuhnya.

Si imam bertenaga besar. Segera kelihatan dia bersilat dengan ilmu silat "Tay Ang Kun" berasal dari Chong-Ciu, atau Chong Ciu Pay. Sesuatu serangannya menerbitkan sambaran angin yang keras.

Si kurus sendiri bersilat tetap sebagai bermulanya, tubuhnya gesit, gerakannya sebat. Dia lebih banyak berkelit, dengan buang diri atau berlompat, atau kadang-kadang ia terhuyung-huyung, nampaknya lucu, hingga Ceng Ceng, yang menyaksikan dengan penuh perhatian, tak tahan untuk tidak tertawa geli.

"Inilah tak enak dilihat!" katanya. "Macam apa ilmu silat ini?"

Sin Cie juga tidak kenal ilmu silat itu, yang ia belum pernah lihat, ia melainkan saksikan kelincahan dan gerak-gerakan yang aneh. Rupanya itu ada ilmu kepandaian suatu golongan tersendiri.

"Inilah Ap Heng Kun," kata Thia Ceng Tiok, yang luas pengetahuannya. "Dalam kalangan kaum Kang-ouw, tidak banyak orang yang mengerti ilmu silat ini."

Ceng Ceng tertawa pula. Nama ilmu silat itu, yang berarti "Kuntauw Bebek", sungguh luar biasa. Tapi sekarang ia bisa lihat tegas, gerakan kaki dan tangan benar-benar seperti gerak-geriknya bebek gemuk....

Si imam, yang tak bisa rubuhkan si kurus, lalu menjadi sibuk sendirinya. Sia-sia saja pelbagai toyoran dan tendangannya. Maka akhir-akhirnya, tubuhnya jadi terhuyung­huyung, sempoyongan, bagaikan orang bertubuh limbung dan tak kuat berdiri. Tapi ini adalah ilmu silat "Lou Tie Cim Cui Pa San-bun" atau "Lou Tie Cim sedang mabuk arak pukul pintu kuil". Tubuhnya terumbang-ambing tidak keruan, kaki tangannya sambar sana-sini, adakalanya dia rubuh terbanting sendirinya, lalu bergulingan, tapi serangannya ada hebat, terutama sehabis jatuh, apabila musuh hampirkan dia, dia bisa berlompat bangun dengan cepat sekali. Kali ini, baru dia jalankan separuh dari ilmu silatnya itu, atau si kurus-kecil sudah repot sendirinya.

Oleh karena itu, ia sering jatuh dan bergulingan, tubuh si imam telah berlepotan nasi dan kuah sayuran, malah juga kotoran dari pispot, tapi ia tak perdulikan itu, untuk bisa kalahkan musuhnya, ia masih suka bergulingan.

Rupa-rupanya imam ini lihat ketikanya yang baik sudah datang, dengan sekonyong-konyong dia lompat mendesak, selagi kakinya sebelah maju, tangan kirinya menggertak, tangan kanannya menyerang dada, dengan tipu-pukulannya "Pay san to hay", atau "menggempur gunung untuk menguruk lautan".

Ini adalah satu serangan liehay. Si kurus juga insyaf itu, maka dia lekas-lekas empos semangatnya, kedua tangannya ditaruh di depan dada, selagi serangan datang, ia berseru keras: "Bagus!"

Tidak tempo lagi, kedua tangan serta satu kepalan bentrok satu dengan lain. Kepalannya si imam besar dan antap, kedua tangannya si kurus kecil dan kurus, tapi kedua tangan itu tepat menyambuti, sesudah mana, keduanya saling dorong.

Si imam menyerang dengan kepalan kanan, karena itu, kepalan kirinya merdeka, akan tetapi karena dia kumpul tenaga di tangan kanan, tangan kiri itu tak dapat dipakai membantu. Dia bertenaga besar, dia kerahkan semua tenaganya, tapi tak dapat ia tolak tubuh musuh, yang pertahankan diri dengan kokoh-teguh, hingga keduanya jadi berkutetan, tak ada yang dapat maju, tak ada yang bisa mundur. Sebab siapa berani mundur, celakalah dia.

Keduanya, si imam dan si kurus, menjadi menyesal sendirinya. Mereka tidak bermusuhan satu dengan lain, tidak keruan, mereka bertarung secara hebat itu, mereka seperti adu jiwa.

Tidak lama kemudian, mereka masing-masing menjadi mandi keringat, air keringat sebesar kacang kedele mengetel dari jidat mereka...

"Thia Lauw-hia," kata See Thian Kong, setelah mereka menyaksikan sampai sebegitu jauh, "coba kau pakai tongkatnya si pengemis untuk pisahkan mereka, kalau tidak, lagi sedikit lama, mereka dua-dua bakal celaka..."

"Aku sendirian tidak sanggup, mari kita berdua," mengajak Ceng Tiok.

"Baik, marilah," jawab Thian Kong. "Jikalau kita tolak mereka mungkin mereka sama-sama terluka di dalam, cumalah tak sampai membahayakan jiwa..."

Belum sampai dua orang itu maju, Sin Cie sudah campur bicara.

"Mari aku yang mencoba!" katanya sambil berbangkit. Lalu, dengan tindakan pelahan, ia hampirkan dua jago itu, yang sudah mandi keringat. Ia berdiri di tengah, di samping mereka, lantas pentang kedua tangannya, akan buka kedua orang itu terpisah masing­masing tangannya, hanya karena mereka dipisahkan secara tiba-tiba, tubuh mereka maju ngusruk, tangan mereka maju ke depan tepat mengenai dada Sin Cie.

"Celaka!" berseru Ceng Tiok dan Thian Kong, sambil mereka lompat, dengan niat tolongi si anak muda. Tapi kapan mereka sudah datang dekat, mereka dapati si anak muda tidak terluka, romannya tenang seperti biasa. Mereka tahu, Sin Cie sudah bersiap mengerahkan tenaga di dalam tubuhnya, untuk sambuti serangan yang tidak disengaja itu, hingga ia jadi tak kurang suatu apa.

Tidak demikian adalah si kurus dan si tauwtoo. Mereka telah kehabisan tenaga, setelah mereka dapat dipisahkan, saking lemasnya, dua-dua rubuh, mendeprok di lantai di tengah-tengah ruang itu.

Dengan seorang menolongi satu, Ceng Tiok dan Thian Kong pimpin bangun kedua jago itu, sedang jongos lantas diperintah untuk segera bebenah.

Sin Cie rogoh sakunya, akan serahkan dua-puluh tail perak pada kuasa hotel.

"Ini ada untuk ganti semua kerusakan," katanya. "Semua tetamu itu belum dahar cukup, silakan sajikan makanan untuk mereka, pembayarannya dimasuki atas namaku."

Tuan rumah menjadi girang, ia terima uang seraya mengucap terima kasih, kemudian ia perintah sekalian jongos bersihkan segala apa dan bebenah, untuk lekas sajikan barang hidangan baru untuk semua tetamunya.

Belum terlalu lama, dua-dua si imam dan si kurus telah dapat pulang tenaga mereka, maka keduanya hampirkan Sin Cie, untuk menghaturkan terima kasih, sebab si anak muda telah tolongi mereka.

Sin Cie tertawa.

"Tak usah, Jie-wie," katanya. "Aku mohon tanya she dan nama Jie-wie. Dengan kepandaian yang liehay, Jie-wie mesti ada orang-orang ternama."

"Aku adalah Gie Seng tetapi orang umumnya panggil aku Thie Lo Han," sahut si tauwtoo.

"Aku ada Ouw Kui Lam," jawab si kurus. "Aku mohon tanya she dan nama kau Tuan, begitupun nama Jie-wie." Ia maksudkan Thian Kong dan Ceng Tiok.

Belum keburu Sin Cie perkenalkan diri, atau See Thian Kong dului ia.

"Kiranya Tuan ada Seng-chiu Sin-touw Ouw Toako!" katanya. Ia tahu julukan orang itu dan menyebutkannya. Seng-chiu Sin-touw berarti "Malaikat Copet".

Nampaknya Ouw Kui Lam puas orang kenal dia, tapi ia lekas-lekas merendahkan diri. Lantas ia ulangi tanya nama See Thian Kong.

Thia Ceng Tiok jemput kipasnya orang she See itu dan sambil dibuka ia tunjuki kepada Kui Lam, hingga dia ini lihat lukisan tengkorak yang menyeramkan.

"Oh, kiranya Im-yang-sie See Ceecu!" kata Kui Lam. "Memang sudah lama aku dengar nama Ceecu. Girang aku dengan pertemuan ini."

Sementara itu dengan matanya yang membelalak Kui Lam telah lihat juga ceng-tiok atau tongkat bambu orang yang disenderkan di samping meja, sebagai orang yang luas pengalamannya, ia tahu artinya senjata itu, malah ia kenal baik ruas atau bukunya tongkat itu, yang ada tiga-belas, tanda kedudukan paling tinggi. Maka lekas-lekas ia menjura kepada Ceng Tiok.

"Maafkan aku untuk mataku yang kurang terang," katanya. "Tuan toh Thia Loo-pangcu?"

Thia Ceng Tiok tertawa.

"Benar-benar liehay matanya Seng-chiu Sin-touw!" katanya. "Jie-wie tidak kenal satu sama lain apabila Jie-wie tidak bentrok, maka sekarang, mari kita minum bersama-sama!"

Semua orang lantas duduk.

Gie Seng dan Kui Lam lantas saling memberi selamat dengan arak, satu sama lain mereka akui kesemberonoan mereka.

Gie Seng kemudian tertawa ketika ia kata: "Sungguh aneh, entah dari mana dia curinya pispot itu!"

Mendengar ini, semua orang tertawa.

Kui Lam berlaku sopan-santun, tidak saja ia tahu ia berhadapan sama dua jago dari Hoopak dan Shoatang, di situ pun Sin Cie yang agaknya dipandang tinggi kedua jago itu, hingga ia menduga, pemuda ini bukan orang sembarangan. Ia pun telah saksikan keliehayannya selagi si anak muda pisahkan mereka.

"Untuk maksud apa Jie-wie sampai di sini?" Ceng Tiok tanya kemudian. "Kau sendiri, Ouw Lauwtee, apakah kau lihat dan penujui salah satu hartawan di sini hingga kau berniat perlihatkan ilmu kepandaianmu?"

"Di dalam wilayah Thia Loocianpwee mana berani aku main gila?" sahut Kui Lam sambil tertawa. "Aku hendak pergi memberi selamat kepada Loo-ya-cu Beng Pek Hui."

"Hei, mengapa kau tak menyebutkannya maksudmu itu siang-siang?" menegur Gie Seng sambil tepuk meja. "Aku juga berniat pergi memberi selamat! Coba aku ketahui maksudmu, mana kita bentrok..."

"Tapi inilah bagus!" tertawa Ceng Tiok. "Kita sama-sama hendak memberi selamat pada Beng Loo-yacu, mari besok kita berangkat bersama-sama. Rupanya Jie-wie kenal baik Beng Looyacu itu?"

"Beng Toako itu adalah sahabatku sejak dua-puluh tahun yang lampau!" jawab Thie Lo Han. "Selama yang belakangan ini aku lebih banyak berdiam di Kwietang Hokkian, jarang aku pergi ke utara. Sudah kira-kira delapan atau sembilan tahun kami tak pernah bertemu satu dengan lain."

"Kalau demikian Lo Han Toako, tolong kau perkenalkan aku dengannya," kata Ouw Kui Lam.

Tauwtoo itu menjadi heran.

"Apa?" katanya. "Apakah kau tak kenal Beng Toako? Habis kenapa kau hendak pergi kasih selamat padanya?"

"Aku adalah seorang yang sejak lama kagumi Beng Toako, sayang belum ada jodonya aku bertemu dengannya," Kui Lam akui. "Belum lama ini aku telah dapatkan serupa barang berharga, aku pikir, untuk berkenalan sama orang Kang-ouw kenamaan ini, aku boleh berikan bendaku itu."

"Begitu!" kata si tauwtoo. "Mengenai Beng Toako, jangan kata orang yang membekal barang antaran, sekalipun yang tidak, dia bakal sambut dengan manis-budi. Beng Toako sangat ramah-tamah. Kalau tidak, mengapa orang bandingi dia dengan Beng Siang Kun?"

Mendengar orang menyebut dapat benda berharga, hatinya Thia Ceng Tiok tertarik.

"Ouw Lauwtee, benda apa itu yang kau dapatkan?" tanyanya. “Apa boleh kau bantu membukakan pandanganku dengan kau perlihatkan benda itu?"

"Seng-chiu Sin-touw telah curi banyak barang yang tidak berharga mana dia pandang mata?" kata See Thian Kong sambil tertawa. "Pasti itu adalah barang yang harganya sama besarnya dengan sebuah kota...."

Nampaknya Ouw Kui Lam girang sekali.

"Barang itu sekarang berada padaku," ia beritahukan. Ia lantas merogo ke dalam sakunya, akan keluarkan sebuah lopa-lopa terbuat dari emas yang indah dan tertabur batu pualam dan mutiara.

"Di sini ada banyak mata, mari kita pergi ke dalam kamar," kata dia kemudian.

Semua orang ingin lihat isinya lopa-lopa indah itu, semua lantas bertindak ke dalam kamar.

Begitu lekas ia telah rapatkan pintu, Ouw Kui Lam buka lopa-lopanya di dalam mana terdapat dua ekor kodok pek-ciam-sie yang sudah menjadi bangkai, tubuhnya putih bagaikan salju seluruhnya, biji matanya merah bagaikan darah hidup. Memang, nampaknya dua ekor kodok itu menarik hati untuk dipandang, akan tetapi semua orang tidak lihat faedahnya.

Ceng Tiok dan Thian Kong sendiri, yang berpengalaman luas, masih tak mengerti juga.

Ouw Kui Lam awasi Gie Seng, ia tertawa.

"Tadi berdua kita adu tenaga," katanya, "umpama kata kita terbinasa karenanya, itu dia yang dinamakan takdir, tidak ada pertolongan lagi, akan tetapi andaikata kita cuma terluka parah, aku mempunyai daya-upaya untuk tolong mengobatinya hingga kita terbebas dari ancaman malapetaka." Dia lantas tunjuk sepasang kodok putih itu: "Inilah kodok Cu­ceng peng-ciam yang hidupnya di Soat San, Gunung Salju di See-hek, perbatasan barat. Tidak perduli luka bagaimana hebat, di luar, atau terkena racun, asal orang tidak mati seketika, dia dapat ditolong setelah dia makan kodok ini, kodok es. Kemujarabannya obat ini tidak ada tandingannya."

"Dari mana kau dapatkannya ini?" Ceng Tiok tanya.

"Dari satu imam tua," sahut Kui Lam. "Pada bulan yang lalu aku berada di Hoolam, selagi singgah di hotel aku bertemu sama imam itu yang sedang sakit berat sampai hampir mati. Aku kasihan terhadapnya, aku berikan ia uang sepuluh tail, untuk ia panggil tabib dan berobat, aku sendiri layani dia selama sakitnya itu. Dasar umurnya sudah sampai, obat dan rawatanku tidak menolong, akhirnya tak dapat ia hidup lebih lama pula. Imam itu ingat budi, di saat hendak menghembuskan napasnya yang terakhir, dia kasikan kodoknya ini kepadaku, untuk membalas kebaikanku."

"Mengapa lopa-lopanya demikian indah?" Thie Lo Han tanya.

"Pada mulanya, si imam tempatkan ini dalam sebuah lopa-lopa kaleng," menerangkan Kui Lam. "Sekarang aku hendak haturkan kodok es ini kepada Beng Looyacu, maka aku tukar tempatnya, supaya setimpal dilihatnya."

See Thian Kong tertawa.

"Maka lantas kau, dengan tangan kosong, kunjungi suatu hartawan, untuk dapatkan lopa-lopa emas dan indah ini?" katanya.

"See Ceecu pandai menerka," tertawa Kui Lam. "Lopa-lopa emas ini kepunyaan nona besar dari satu hartawan she Lauw di kota Kay-hong..."

Semua orang tertawa.

Kui Lam tak malu ditertawai, ia pun tertawa juga.

"Tadi," katanya, melanjuti, "jikalau tidak tuan ini menolongi, kita berdua mesti rubuh dengan luka-luka parah, andaikata aku terluput dari kematian, pasti aku akan makan satu kodok es ini dan berikan dia yang lainnya. Kita berdua tidak bermusuhan, mustahil aku mesti bikin dia celaka?"

"Dengan begitu aku jadi bakal terima budimu!" tertawa Thie Lo Han.

Maka lagi-lagi semua orang tertawa.

"Dan sekarang, kedua kodok ini tetap bukanlah kepunyaanku," kata pula Kui Lam. Lalu dengan kedua tangannya, dia angsurkan kodok itu kepada Sin Cie. "Tak berani aku menyebut membalas budi tetapi ini melainkan ada tanda hati dari aku."

Sin Cie heran hingga ia melengak.

"Mana dapat!" katanya kemudian. "Kodok ini kau toh kau hendak berikan kepada Beng Loo-yacu..."

"Jikalau Siangkong tidak berkorban untuk tolongi kami, pasti aku sudah mati," kata Kui Lam, "maka itu, nyata sepasang kodok es ini bukan jodonya Beng Loo-yacu. Untuk hadiah, bukannya aku tekebur, sembarang waktu aku bisa dapatkan gantinya, maka tak usah Siangkong buat pikiran."

Masih Sin Cie menampik, karena mana, Kui Lam agaknya kurang puas.

"Siangkong tidak mau perkenalkan she dan nama, sekarang Siangkong juga tidak sudi terima barangku, apa mungkin Siangkong sangka kodok es ini aku dapatinya dari mencuri?" katanya. "Apa mungkin Siangkong anggap ini barang kotor?"

"Maaf, saudara Ouw," kata Sin Cie dengan cepat. "Tak sempat tadi aku perkenalkan diriku. Aku ada Wan Sin Cie."

"Aha!" berseru Thie Lo Han dan Kui Lam juga. "Jadinya Siangkong ada Wan Toaya yang menjadi bengcu dari tujuh propinsi! Pantas Toaya liehay sekali."

Keduanya lantas unjuk sikap sangat menghormati.

"Ouw Toako memaksa hendak memberikannya, jelek untuk aku menampik, baik aku terima," kata Sin Cie kemudian. "Banyak-banyak terima kasih!"

Ia sambuti kodok es itu, untuk disimpan dalam sakunya.

Bukan main girangnya Kui Lam, wajahnya berseri-seri.

Sin Cie pergi ke kamarnya akan kembali bersama sepohon batu bunga-karang merah-dadu yang terang bercahaya, indah dan tak ada cacatnya, tak ada sebutir jua pasir tercampur di dalamnya, kapan ia letaki itu di atas meja, ruangan jadi tambah terang luar biasa. Jadi itu adalah mustika bunga-karang.

Kui Lam tercengang, walaupun ia pernah lihat banyak barang permata.

"Belum pernah aku lihat mustika ini," katanya. "Mungkin dalam istana kaisar baru kedapatan ini macam mustika. Apakah ini pusaka turunan, Wan Toaya? Dengan ini mataku telah terbuka."

Sin Cie tertawa.

"Ini melainkan suatu benda permainan," bilangnya. "Meskipun barang ini indah, kefaedahannya masih kalah dengan kodok es itu, yang bisa menolongi jiwa orang. Secara kebetulan saja aku peroleh ini. Aku harap saudara Ouw suka menerimanya, untuk ganti barang antaranmu."

"Tapi ini terlalu berharga," Kui Lam kata.

"Tidak apa, saudara Ouw. Kau terimalah."

Karena terdesak, Kui Lam terima juga. Ia mengucap terima kasih.

Ceng Tiok semua kagum untuk sifat Sin Cie ini.

Sampai di situ, mereka beristirahat, untuk besoknya pagi, mereka melanjuti perjalanan, maka sorenya, sampailah mereka di Po-teng. Mereka singgah dulu di hotel, lalu besokannya pagi-pagi, mereka sudah bikin kunjungan kepada Beng Pek Hui, jago Utara itu.

Kapan tuan rumah lihat tiga nama - Wan Sin Cie, Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong - ia sendiri yang keluar menyambut, akan tetapi kapan ia telah saksikan Sin Cie hanya seorang muda, ia menjadi sedikit melengak. Inilah ia tak sangka, dengan sendirinya ia menjadi tak puas.

"Kenapa orang-orang gagah dari tujuh propinsi jadi begini angot," pikirnya, "Kenapa mereka pilih bocah semacam ini menjadi bengcu?"

Sebagai seorang yang gemar bergaul, biar bagaimana, Beng Pek Hui layani juga tetamu­tetamunya itu; ia dibantu oleh kedua anaknya, Beng Ceng dan Beng Siu. Ia menghaturkan terima kasih, ia utarakan penghargaannya kepada semua tetamu itu, lantas ia undang mereka masuk, untuk duduk.

Sin Cie lihat tuan rumah bertubuh kekar, rambut dan kumis-jenggotnya telah putih semua, tindakannya masih tetap, suatu tanda bahwa dia mengerti baik ilmu silat, sementara kedua puteranya sedang mudanya dan romannya gagah.

Kapan kemudian kedua pihak telah bicara lama juga, segera ternyata Beng Pek Hui kurang setuju dengan rapat besar di Tay San, selagi Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong omongkan itu, dia seperti tak memperhatikan, dia tidak campur bicara atau menanyakannya.

Selang tidak lama, datang lain tetamu, dengan memohon maaf, Pek Hui tinggalkan rombongan Sin Cie, untuk sambut tetamu baru itu.

"Dia dijuluki Kay Beng Siang, mengapa dia layani tetamunya begini adem?" pikir Ceng Ceng. "Mestinya dia kesohor namanya saja...."

Habis minum teh, Beng Siu temani rombongan Sin Cie ini pergi ke ruang belakang, untuk saksikan pelbagai barang antaran atau tanda mata dari sekalian tetamu. Di sana mengitari sebuah meja berada Pek Hui bersama sejumlah tetamu lainnya. Rata-rata tetamu itu memberikan pujiannya.

Melihat pada Sin Cie beramai, Pek Hui lekas-lekas menghampirkan.

"Saudara Wan, tak sanggup aku terima budi kebaikanmu ini!" katanya. "Sumbangan saudara berharga sangat besar..."

"Untuk hari ulang tahun Loocianpwee, barang itu tidak berharga," sahut Sin Cie.

Thian Kong beramai dekati meja, hingga mereka bisa lihat banyaknya barang tanda mata, yang indah-indah, sedang tanda mata dari Sin Cie ada dua-puluh empat butir mutiara serta kuda-kudaan kumala, dan sumbangan Ceng Ceng ada semangka-semangkaan dari batu huicui. Mencolok adalah tanda mata dari Ouw Kui Lam, itu batu bunga-karang.

Beng Pek Hui tidak puas Sin Cie yang muda diangkat sebagai bengcu, tapi sekarang menyaksikan sikap sopan santun dan manis budi pemuda itu, dia dipanggil dengan sebutan loocianpwee serta barang sumbangannya demikian indah dan mahal, berubahlah perasaannya, dia mulai menjadi suka. Dia pun heran untuk kelakuan hormat dan halus dari anak muda ini.

Kapan kemudian telah selesai orang memberi selamat kepada tuan rumah, pada malamnya tuan rumah undang semua tetamu untuk dijamu. Itulah suatu pesta besar sekali. Telah hadir lebih daripada tiga-ribu tetamu, sebab Pek Hui adalah orang paling kenamaan di Po-teng, dia kaya raya dan sangat gemar bergaul. Di dalam pesta, tuan rumah ini berlaku sangat ramah-tamah, ia saban-saban menghaturkan terima kasih.

Di thia telah diatur kira-kira delapan-puluh meja, untuk semua tetamu yang ternama, dan untuk tetamu lainnya, mereka berpesta di ruang belakang.

Sin Cie bertiga Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong diundang duduk di meja pertama, Beng Pek Hui sendiri yang menemani. Di sini ada duduk juga - malah di kursi pertama ­Wan-yho-tan Thio Jiak Kok, seorang umur tujuh-puluh-delapan tahun, yang tersohor gagah. Pek Hui perkenalkan dia ini pada Sin Cie bertiga.

Thio Jiak Kok juga heran mengapa rapat di Tay San pilih satu bengcu seorang muda dan tak beroman luar biasa sebagai pemuda ini, dari heran, ia merasa lucu, tetapi ia tidak bilang suatu apa.

Duduk bersama di meja pertama itu ada satu orang she Phang bekas cong-peng, yang masih dipanggil Phang Cong-peng, begitupun Tang Kay San, piauwsu kepala dari Eng Seng Piauw Kiok, serta beberapa orang kenamaan lain.

Habis beri selamat pula dengan secawan arak pada tuan rumah, sekalian tetamu ini lantas dahar dan minum dengan gembira, dengan main bade-badean tangan juga.

Selagi pesta berjalan, satu chungteng datang masuk dengan tangannya membawa satu barang hadiah, dia dekati Beng Ceng, untuk bicara di kupingnya majikan muda ini dengan pelahan, atas mana dia ini berbangkit, akan hampirkan ayahnya.

"Ayah, sungguh terang muka Ayah," katanya. "Sin-kun Bu-tek Kwie Sin Sie suami-isteri serta murid-muridnya telah datang untuk memberi selamat!"

Tapi Pek Hui heran, hingga ia melengak.

"Sebenarnya aku tak punya hubungan dengan mereka," katanya.

Kapan dos barang antaran dibuka, di situ kedapatan selembar kertas merah yang memuat huruf-huruf besar menyebutkan nama Kwie Sin Sie suami isteri serta murid-muridnya, yang memberi selamat, serta di bawahan itu, dengan huruf kecil, ada tambahan mohon suka diterima sumbangan uang emas sepuluh tail, uang emas mana, dalam rupa sepotong goanpo kecil, terletak di dalam dos itu.

"Lekas menyambut!" kata tuan rumah, yang lantas bilang pada Thio Jiak Kok beramai, "Maaf." Bersama dua anaknya, segera ia pergi keluar. Tapi lekas juga ia telah kembali, dengan air muka riang-gembira, bersama dia ada Kwie Sin Sie suami-isteri bersama Bwee Kiam Hoo, Lauw Pwee Seng dan Sun Tiong Kun.

Sin Cie sudah lantas berbangkit untuk berdiri di pinggiran, terus ia menjura seraya berkata: "Jie suko, Jie-suso, baik?"

Kwie Sin Sie manggut.

"Oh, kau pun ada di sini...." sahut suko yang kedua itu.

"Ehm," terdengar Kwie Jie-nio, yang tak perdulikan sutee itu.

"Silakan duduk di atas, Suko," kata Sin Cie pula. "Aku nanti duduk bersama Kiam Hoo beramai."

Mendengar bahwa mereka adalah suheng dan sutee, Beng Pek Hui tertawa.

"Bagus, bagus!" katanya. "Ada suko yang begini terkenal yang menjadi tulang punggung, jangan kata baru menjadi bengcu dari tujuh propinsi, walaupun dari empat­belas propinsi masih tepat!"

Dengan kata-katanya itu, Pek Hui beranggapan Sin Cie menjadi bengcu karena andalan suhengnya itu.

Sin Cie dengar itu, ia melainkan bersenyum, ia tak bilang suatu apa.

"Kau omong tentang bengcu, apa itu?" tanya Sin Sie dengan heran.

"Ah, aku bicara seenaknya saja, harap Kwie Jieko tak buat pikiran," sahut tuan rumah, yang terus silakan tetamunya ini duduk bersama Thio Jiak Kok beramai, karena mana, Sin Cie pindah akan duduk bersama Kiam Hoo.

Di dalam pesta ini, wanita dan pria duduk bersama, tidak ada pemisahan.

Kwie Sin Sie dan nyonya bersama tuan rumah lantas saling memberi selamat, yang satu untuk selamat panjang umur, yang lain untuk kedatangannya tetamu, kepada siapa pun dihaturkan terima kasih buat antaran barang tanda matanya.

Habis minum tiga edaran, Tang Kay San berbangkit, untuk mohon undurkan diri, katanya tak kuat ia minum banyak, ingin ia beristirahat.

Beng Pek Hui tidak mencegah, malah ia suruh satu chungteng untuk antar tetamu ini ke balai istirahat.

Tiba-tiba Kwie Sin Sie kata dengan tawar: "Kami telah pergi ke mana-mana untuk cari Tang Piauwsu, kami tidak berhasil, maka kami sangka, piauwtauw mesti ada di sini, buktinya sekarang benar dugaan kami itu!"

Tang Kay San berubah wajahnya, dia likat agaknya.

"Aku dengan Kwie Jie-ya tidak punya dendaman atau permusuhan, dahulu tidak, sekarang pun tidak," katanya. "Maka kenapa Kwie Jie-ya begitu mendesak mencari aku?"

Orang banyak heran, hingga mereka menunda cawan arak mereka. Semua orang mengawasi kedua tetamu ini.

Beng Pek Hui tertawa.

"Di antara Jie-wie ada sangkutan apa?" tanyanya. "Aku minta Jie-wie suka memandang aku, biarlah aku dapat mendamaikannya."

"Sudah lama aku kagumi nama Kwie Jie-ya," berkata Tang Kay San. "Dengan dia aku belum pernah berkenalan, maka aku pun tidak mengerti kenapa Kwie Jie-ya cari aku ke mana-mana...."
Mendengar ini, Pek Hui lantas saja mengerti. Di dalam hatinya, ia kata: "Bagus benar! Kamu berdua jadi bukan dengan setulus-tulusnya hati datang untuk memberi selamat kepada aku! Yang satu adalah untuk menyingkirkan diri, yang lain untuk menyusul! Si orang she Tang ini menghargai aku, dia telah memasuki rumahku, biar bagaimana, tak dapat aku ijinkan dia mendapat susah." Karena memikir begini, ia terus kata kepada tetamunya yang baru: "Kwie Jie-ya, apabila kau ada punya urusan, baik kita bicarakan itu selewatnya hari ini. Kita semua ada sahabat-sahabat baik, urusan apa juga dapat didamaikan."

Kwie Sin Sie tak pandai bicara, maka isterinya yang wakilkan dia.

"Ini adalah anak tunggal dari Jie-ya," berkata nyonya ini sambil ia tunjuk puteranya, yang senantiasa berada dalam empoannya. "Anak ini telah mendapat sakit berat, dia tinggal matinya saja, karena itu kami hendak mohon Tang Piauwtauw berbuat kebaikan kepada kami dengan berikan beberapa butir obat pulungnya kepada kami, untuk tolongi jiwanya anak kami ini. Tentu saja itu ada satu budi yang besar sekali."

"Itu adalah hal yang selayaknya," kata Beng Pek Hui, yang terus berpaling kepada piauwsu she Tang itu, akan kata: "Tuan Tang, menolongi satu jiwa manusia ada lebih berjasa daripada mendirikan sebuah menara tujuh tingkat, maka itu, tolong kau berikan obat kepada anak ini. Inilah permintaan dari Kwie Jie-ya, satu enghiong yang kenamaan."

"Coba Hok-leng dan Ho-siu-ouw itu ada kepunyaanku sendiri, tidak usah Kwie Jie-ya capaikan hati akan cari aku, pasti siang-siang aku sudah menghaturkannya dengan kedua tanganku," sahut Tang Kay San. "Akan tetapi obat itu ada kepunyaan Ma Tayjin, Cong-tok dari Hong-yang - itu ada upeti untuk kotaraja, maka itu, bagaimana dapat aku menyerahkannya? Barang telah diserahkan dalam pertanggungan-jawab dari Eng Seng Piauw Kiok, apabila aku membuat gagal, di belakang hari, cara bagaimana kami dapat hidup di dalam kalangan Kang-ouw ini?"

Tang Piauwsu telah memberikan alasan kuat, orang menjadi serba salah.

Phang Cong-peng dengar halnya barang upeti, lantas saja dia campur bicara.

"Barang upeti berarti barangnya Sri Baginda, siapa bernyali besar berani ganggu itu?" katanya dengan nyaring.

"Hm!" Kwie Jie-nio menyambuti. "Walaupun itu ada barangnya Giok Hong Tay Tee, mesti aku mengambilnya!"

Phang Cong-peng jadi gusar, hingga dia keluarkan lagak pembesarnya.

"Bagus!" serunya. "Orang perempuan, kau hendak berontak?"

Kwie Jie-nio jadi tambah murka. Dengan sumpitnya dia jemput sepotong bakso, selagi si cong-peng belum sempat tutup rapat mulutnya, dia menimpuk, tepat masuk ke dalam mulut, sedangkan si cong-peng lagi kaget, lain-lain potongan bakso beruntun menyambar mulutnya jadi penuh, hingga dia jadi kelabakan.

Jago tua Thio Jiak Kok menjadi tidak senang.

"Ini hari ada hari ulang tahun Beng Toaya, mengapa kau mengacau?" pikirnya.

Lantas dia jumput para-para sumpit mirip goanpo, ia menepuk dengan keras, hingga para-para itu nancap di atas meja.

"Kau pertontonkan tenaga lweekang, siapa jeri padamu?" kata Sin Sie dalam hatinya. Lantas dia letaki tangannya di atas menja, diam-diam ia kerahkan tenaganya, di mata orang kebanyakan, dia tidak berbuat suatu apa, akan tetapi tahu-tahu para-para sumpit itu meletik sendirinya, seperti tercabut dengan ilmu dewa.

Mukanya Thio Jiak Kok menjadi merah, dia jengah sendirinya. Lagi dia keprak meja, lantas dia menoleh kepada tuan rumah, akan kata: "Beng Lauwtee, saudaramu telah mendapat malu di rumahmu ini...." Lantas dia bertindak keluar, tindakannya lebar.

"Jangan kesusu, Thio Looyacu," kata dua pelayan, sambil menyusul. "Silakan Looyacu minum teh di ruang belakang...."

Jiak Kok tidak perdulikan cegahan itu, malah dengan buka kedua tangannya, ia bikin kedua pelayan sempoyongan dan jatuh terpental. Ia jalan terus.

Beng Pek Hui menjadi tidak senang. Ia anggap pestanya yang berjalan dengan gembira itu telah dikacau oleh Kwie Sin Sie suami-isteri. Tapi, belum sampai dia bicara, Phang Cong-peng sudah berteriak kelabakan. Dia ini bisa keluarkan semua bakso dari mulutnya, kecuali sepotong yang pertama, yang nyerobot terus lewat tenggorokannya, masuk ke dalam perutnya!

"Berontak! Berontak!" Demikian suaranya yang nyaring. "Apakah masih ada undang­undang raja? Mari!"

Dia memanggil orangnya. Lantas dua pengikutnya muncul. Mereka ini menantikan di luar, mereka tidak tahu apa-apa, mereka masuk sambil berlari-lari.

"Lekas gotong Tay-Kwan-too-ku!" kata Phang Cong-peng itu, yang bersenjatakan Tay­kwan-too itu - golok Kwan Kong.

Ketika ia peroleh pangkat, Phang Cong-peng dapati itu karena andalkan pengaruh isterinya, bugeenya masih rendah, akan tetapi dia aksi, dia perintah tukang besi bikin golok Kwan Kong yang besar tapi di dalamnya, besinya dikosongkan. Kalau dia tunggang kuda, dia cekal goloknya itu, sengaja dia perlihatkan sebagai dia lagi pegang senjata berat, hingga orang kagumi dia karena tenaganya yang besar. Goloknya itu pun mesti selalu digotong dua pengiringnya. Sekarang dia gusar dengan mendadak, kumat penyakit tekeburnya, sampai dia lupa dirinya lagi berada di tempat apa, dia beraksi. Tentu saja dua pengiringnya jadi melengak. Mereka datang ke pesta, mereka tak bawa-bawa gegaman berat itu. Karena itu, satu pengiring loloskan saja golok di pinggangnya, dan angsurkan itu kepada majikannya.

Beng Pek Hui kenal bekas cong-peng ini, menampak aksinya dia geli berbareng mendelu.

"Jangan!" tuan rumah ini segera menyela.

Tapi Phang cong-peng biasa anggap jiwa manusia bagaikan rumput saja, goloknya telah menyambar ke arah Kwie Jie-nio!

Nyonya Kwie Sin Sie empo anaknya, dengan tangan kanan, maka itu, atas serangan, dia ulur tangannya yang kiri; dengan dua jari telunjuk dan tengahnya, ia sambuti, menjapit golok yang dipakai membacok dia.

"Toa-looya, kau hendak apa?" dia menegur.

Cong-peng pensiunan itu tarik goloknya, ia tidak berhasil. Bagaikan dijepit dengan sepit besi, demikian golok itu diam di antara jepitan kedua jarinya si nyonya, tak sanggup ia untuk membuat bergeming saja, hingga ia jadi penasaran. Lantas ia cekal gagang golok dengan kedua tangannya, ia menarik dengan sekuat tenaganya!

Dengan tiba-tiba saja Kwie Jie-nio lepaskan jepitannya, maka tidak ampun lagi, bekas cong-peng itu rubuh terjengkang ke belakang tanpa dia bisa pertahankan tubuhnya, dia rubuh terbanting, belakang golok jatuh menimpa jidatnya, hingga bengkak-benjutlah jidat itu sebesar telur ayam!

Kedua pengiring lekas menghampirkan majikannya, untuk dibangunkan.

Malu bekas cong-peng ini, tanpa bilang suatu apa lagi, bersama dua pengiringnya itu dia ngeloyor pergi, meninggalkan ruang pesta, selagi lewati pintu, dia damprat dua pengiring itu, yang dikatakan sudah tak gotong golok besarnya....

Dalam waktu kalut itu, Tang Kay San memikir untuk menyingkir, tapi Kwie Sin Sie bisa terka maksudnya.

"Tang Piauwsu, tinggalkan obatmu!" kata jago ini. "Aku tidak akan bikin susah padamu...."

Kay San jadi sangat terdesak, maka ia berdiri diam di tengah ruangan.

"Aku tahu aku Tang Kay San bukan tandingan kau, Sin-kun Bu-tek," kata dia. "Jiwaku ada di sini, jikalau kau hendak ambil, nah, ambillah!"

"Siapa inginkan jiwamu?" kata Kwie Jie-nio. "Kau keluarkan obatmu!" Beng Ceng, putera sulung dari Beng Pek Hui, menjadi habis sabar. Ia maju ke depan Tang Piauwsu.

"Orang she Kwie," berkata dia, "hari ini ada hari ulang tahun ayahku, jikalau ada urusan di antara kamu, silakan urus itu di luar!"

"Baik!" sahut Kwie Sin Sie. "Tang Piauwtauw, mari kita pergi keluar!" Tapi piauwsu itu tak sudi ikuti orang. Kwie Sin Sie menjadi habis sabar, ia ulur sebelah tangannya, untuk menjambak.

Tang Kay San mundur setindak untuk tidak mengenai tangan itu. Sin Sie telah ulur tangannya, tak pernah itu ditarik pulang dengan tangan kosong. Tang Kay San ada piauwsu kepala dari satu piauw-kiok kesohor. Bugeenya pun bukan bugee sembarangan, akan tetapi tangan Sin Sie cepat luar biasa, tak perduli dia undurkan diri, bajunya kena juga terjambak hingga robek!

Kembali Beng Ceng menghalangi diri.

"Tang Piauwsu ada tetamu, yang sengaja datang untuk memberi selamat kepada ayahku, kami tidak dapat ijinkan dia diperhina orang di tempat kami," katanya.

"Habis apa kau kehendaki?" tanya Kwie Jie-nio. "Kau dengan sendiri bukankah suamiku telah perintah dia pergi keluar?"

"Kamu mempunyai urusan penting dengan Tang Piauwsu, apakah tak dapat kamu pergi cari dia di Eng Seng Piauwkiok?" tanya Beng Ceng. "Kenapa kamu justeru datang mengacau di sini?" Dalam sengitnya, anak muda ini jadi tak sungkan-sungkan lagi bicaranya.

"Kami mengacau, habis bagaimana?" berseru Kwie Jie-nio.

Mukanya Beng Pek Hui jadi guram-suram. Dia lantas berbangkit. "Baiklah!" katanya. "Jikalau Kwie Jie-ya memandang aku, aku si orang tua suka terima pengajaran daripadamu." Saking habis sabar, jago tua ini terpaksa menantang.

"Ayah, hari ini ada hari ulang tahunmu, biarkan anakmu saja," Beng Ceng bilang. Tuan rumah yang muda ini lantas panggil orang-orangnya untuk mereka singkirkan kursi­meja, untuk memberi satu ruangan terbuka, hingga karenanya, pesta jadi terganggu. "Jikalau benar kau hendak mengacau, mari maju!" kemudian Beng Ceng menantang.

"Jikalau benar kau hendak turun tangan terhadap suamiku, baik kau belajar silat lagi dua puluh tahun!" peringati Kwie Jie-nio dengan tekebur. "Sekalipun begitu, aku sangsikan kau bakal berhasil!..."

Beng Ceng telah dapat warisan banyak dari ilmu silat ayahnya, dia pun sedang muda dan gagahnya, sampai sebegitu jauh, belum pernah ia menemui tandingan, maka meskipun ia pernah dengar nama kesohor dari Kwie Sin Sie suami-isteri, dalam kejadian seperti ini, tak dapat ia menahan sabar lebih jauh.

"Kwie Loo-jie, kau mahluk apa maka kau berani mengacau di sini?" ia berseru. "Jikalau Beng Siauwya kalah daripadamu, nanti aku antap apa kau suka perbuat terhadap Tang Piauwtauw, selanjutnya kami keluarga Beng tak akan campur tahu pula. Umpama kata aku yang menang, bagaimana denganmu?"

Kwie Sin Sie tak suka omong banyak, maka dengan pelahan, dia jawab: "Asal kau sanggup sambut tiga jurus dari aku, aku nanti menjura terhadapmu!"

Orang banyak tidak dapat dengar suara itu, mereka saling tanya satu pada lain.

Beng Ceng tertawa besar.

"Tuan-Tuan dengar, dia jumawa atau tidak?" kata dia kepada sekalian tetamunya.

"Dia bilang, asal aku sanggup sambut tiga jurus serangannya, dia bakal menjura kepadaku! Benarkah begitu, Kwie Loo-jie?"

"Tidak salah!" sahut Kwie Sin Sie. "Kau sambutlah!"

Dengan sekonyong-konyong saja kepalan kanan jago ini menyambar, dengan gerakannya "Tay San-ap-teng" atau "Gunung Tay San Menindih Batok Kepala".

"Lihat, sukomu telah menelad contohmu!" kata Ceng Ceng pada Sin Cie.

"Kau maksudkan apa?" Sin Cie tegasi.

"Ketika kau layani murid sukomu itu, bukankah kau pun menyebutkan seranganmu berapa jurus?" si nona balik tanya.

"Orang she Beng ini tidak tahu selatan, dia mana tahu liehaynya suko," kata Sin Cie, yang tidak jawab si nona.

Beng Ceng lihat serangan datang, ia hendak lawan keras dengan keras, ia menangkis dengan tangan kanan, tangan kirinya dibarengi dipakai menyerang. Maka kedua lengannya bergerak dengan berbareng.

"Dia jumawa, dia rupanya punya kepandaian yang berarti," pikir Sin Sie, yang lihat sikap pemuda itu dan merasakan juga bentroknya kedua tangan. Tapi ia tidak mau memberi hati. Justeru ia diserang dengan tangan kiri, tangan kirinya mendahului, menyambar lengan atas orang, diteruskan disampok.

Beng Ceng telah wariskan ilmu "Koay wah Sam-sip-ciang" dari ayahnya, ilmu silat itu sangat utamakan beh-sie, atau kuda-kuda maka kedudukannya jadi kuat sekali, dia tak kena disempar lawannya.

"Celaka!" kata Sin Cie dengan pelahan. "Pukulan pertama ini tak membuat dia bergeming..."

Kwie Sin Sie sudah lantas ulangi serangannya.

Beng Ceng dapat ketika, karena ia tahu lawannya tangguh, ia menyambut dengan dua-dua tangannya, tapi tanpa ia menduga suatu apa, tahu-tahu ia rasakan dorongan keras sekali, otaknya menjadi butek, pusing sekejab saja dia rubuh terjengkang, dengan tak sadar akan dirinya.

Semua orang menjadi kaget.
Thanks for reading PEDANG ULAR MAS 25

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar