Jilid 26
Beng Pek Hui dan Beng Siu lompat, akan kasi bangun itu anak atau saudara.
Beng Ceng cepat sadar, walaupun dengan pelahan-lahan, akan tetapi begitu ia buka mulutnya, ia semburkan darah yang telah berwarna hitam, sebab ternyata ia telah terluka di dalam.
Kwie Sin Sie tak dapat sampok orang hingga terpelanting, ia mau percaya, pemuda ini benar-benar liehay, maka kapan ia menyerang pula, ia gunai tenaga penuh. Kali ini Beng Ceng tak dapat pertahankan diri, ia rubuh dengan segera. Melihat demikian, Sin Sie jadi menyesal, ia kuatir orang nanti mati karena lukanya itu.
Teng-kah-sin Teng Yu dan Beng Siu menjadi meluap hawa amarahnya, tanpa berdamai lagi, keduanya loncat maju, untuk menyerang. Beng Pek Hui sendiri lantas uruti puteranya, sambil menolongi, ia lihat tarikan napas pelahan sekali dari puteranya itu, tanpa merasa, air matanya berlinang dan turun mengucur. Tiba-tiba saja dia berbangkit untuk menyerang tetamunya yang dianggap pengacau pesta itu.
Itu waktu Kwie Sin Sie lihat Tang Kay San hendak menyingkir, maka tempo Teng Yu dan Beng Ceng serang dia, dia berkelit dengan nyelundup di bawah, berbareng dengan mana, ia berhasil dekati si piauwsu, iga siapa terus ia totok. Piauwsu itu tak berdaya, hingga dia lantas jadi berdiri diam, hanya lucunya, justeru dengan sikap sebelah kaki di depan, sebelah kaki di belakang seperti orang lagi berlari...
Beng Pek Hui sendiri sudah bertempur dengan Kwie Jie-nio sebab nyonya ini telah majukan diri, akan lindungi suaminya dari bokongan. Jago tua itu seperti kalap, di sebelah itu, Kwie Jie-nio sedang empo anaknya, maka ini nyonya lekas juga kena terdesak, beberapa kali dia terancam bahaya.
Sun Tiong Kun bersama Bwee Kiam Hoo dan Lauw Pwee Seng juga turun tangan, telah bentrok dengan beberapa murid-muridnya Beng Pek Hui, hingga medan pesta menjadi ramai dengan pelbagai rombongan pertempuran.
Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong menjadi sibuk sendirinya.
"Wan Siangkong, mari kita lekas memisahkan!" mereka mengajak. "Aku kuatir perkara bisa menjadi terlebih hebat!"
"Suko dan suso mendendam terhadapku, apabila aku turun tangan, perkara justeru bakal menjadi lebih hebat lagi," kata Sin Cie. "Coba kita lihat dulu sebentar..."
Ketika itu Kwie Sin Sie telah bantui isterinya, maka Kwie Jie-nio jadi bisa bernapas lega, sedang sebaliknya, Beng Pek Hui segera kena terdesak, sebab orang she Kwie ini terlalu liehay untuknya. Malah lagi sesaat, jago tua itu telah kena ditotok hingga dia tidak berdaya lagi. Habis itu, bagaikan kupu-kupu di antara bunga-bunga, Kwie Sin Sie nyerbu di antara murid-murid atau orang-orangnya Pek Hui, setiap ia lonjorkan tangannya, tentu ada orang-orang yang berhenti berkelahi dengan sikapnya masing-masing sendiri, ada yang lagi menjotos, ada yang lagi menendang, ada yang lagi berkelit atau berpaling, semua tubuh mereka tak bergeming, melainkan mata mereka yang bercilakan.
Di antara hadirin ada banyak orang-orang gagah akan tetapi menyaksikan liehaynya Kwie Sin Sie, tidak ada satu di antaranya yang berani majukan diri, untuk memisahkan, hingga karenanya, pertempuran berhenti sendirinya sesudah Sin Sie rubuhkan semua lawannya.
"Geledah si orang she Tang!" Kwie Jie-nio titahkan Kiam Hoo.
Murid itu buka bungkusan yang tergendol di bebokong Tang Kay San, akan tetapi di situ tidak kedapatan pel Hok-leng dan Ho-siu-ouw yang dicari. Kwie Sin Sie lantas totok piauwsu itu, untuk hidupkan jalan darahnya. "Mana itu obat pulung?" dia tanya.
"Hm, kau ingin dapatkan obat itu?" Kay San bilang. "Kenapa kau ikuti aku sampai di sini? Kecewa kau menjadi orang Kang-ouw yang ulung, sampai kau tidak menginsafi akal tonggeret meloloskan sarung-raganya!..."
Gusar Kwie Jie-nio mendengar jengekan itu.
"Apa?" tegaskan nyonya yang keras perangainya ini. "Obat itu sudah di kirim langsung ke kota raja dan mungkin sudah sampai sekian lama!" jawab Kay San.
"Apakah benar?" tegaskan nyonya Kwie. Dia kaget berbareng mendongkol sekali.
"Aku sangat hargakan Beng Loo-ya-cu sebagai sahabat baik, karenanya sengaja aku datang kemari untuk memberi selamat padanya," Tang Piauwsu terangkan. "Mustahil, karena tahu kamu inginkan obat itu, lantas aku bawa kemari hingga karenanya aku bisa rembet-rembet Looyacu?"
Mendengar keterangan itu, Ouw Kui Lam si Malaikat Copet, dekati Sin Cie untuk berbisik. "Wan Siangkong, piauwsu ini bermuka tebal, dia mendusta." katanya. Sin Cie heran.
"Kenapa begitu?" Sin Cie tegaskan.
"Sebab aku tahu di mana dia sembunyikan obat itu," jawab Kui Lam. Dan ia terus menunjuk ke arah Siu-toh, ialah kue yang merupakan buah toh, tanda dari panjang umur, yang terbuat dari tepung beras. Siu-toh itu terletak di bawah tiok huruf "Siu" yang besar.
"Mengapa kau bisa ketahui itu?" tanya ia pula.
"Akal biasa di kalangan kaum Kang-ouw ini tak bisa lolos dari mataku!" jawab Kui Lam sambil tertawa.
Ceng Ceng berada di samping mereka, ia dengar pembicaraan itu lantas saja ia tertawa. "Ouw Toaya toh ada satu ahli!" ia turut bicara.
"Orang she Tang ini sangat licin," kata Kui Lam, sambil tertawa. "Dia rupanya telah duga Kwie Jie-ya bakal susul padanya, dia umpetkan obat itu, supaya kalau sebentar Kwie Jieya pergi, dia bisa ambil pula."
Sin Cie manggut, lantas ia muncul ke tengah ruangan, akan hampirkan Beng Pek Hui. Dengan hanyak sekali tepak dan totok pada kedua jalan darah "soan-kie" dan "sin-teng", ia telah bikin sadar tuan rumah itu.
"Apa?" berseru Kwie Jie-nio, yang lihat perbuatannya sutee itu. "Apakah kembali kau usilan?"
Dalam panasnya hati, ia serahkan anaknya kepada Sun Tiong Kun, kemudian ia ulur tangannya terhadap Sin Cie. Ia tahu sutee ini liehay, untuk tidak membahayakan anaknya itu, untuk bikin ia leluasa bergerak, ia singkirkan anaknya lebih dahulu.
Sin Cie berkelit ke kiri.
"Suso, dengar dahulu aku!" kata dia.
Ketika itu Beng Pek Hui sudah gerak-geraki kedua tangannya, kedua kaki dan tubuhnya juga, dengan begitu dengan lekas ia dapat pulang kesegarannya. Rupanya ia penasaran, maka dengan berbareng ia serang Kwie Jie-nio dengan tangannya kiri dan kanan, masing-masing dengan tipu-silat "Seng siok hut sie" dan "Hui tim ceng tan," atau "Di musim panas mengebut kipas" dan "Mengebut debu untuk pasang omong." Inilah dua tipu-silat dari ilmu silat "Koay-wah Sam-sip-ciang" yang menjadi keahliannya.
Jago tua dari Utara ini sebanding dengan Kwie Jie-nio, maka itu, seperti bermula, mereka berkutat dalam keadaan berimbang, sampai belasan jurus, tidak ada yang menang atau kalah, hingga Kwie Sin Sie jadi hilang sabar.
"Kau mundur!" kata ia kepada isterinya.
Nyonya itu menurut, ia lantas mundur, sedang suaminya pegat Beng Pek Hui, untuk diserang, maka seperti tadi baru beberapa jurus, tuan rumah itu sudah kena tertotok pula hingga kembali ia berdiri diam saja.
Selama orang bertempur, terpaksa Sin Cie berdiam diri, ia serba salah.
Begitu lekas pertempuran berhenti, Kwie Jie-nio lantas perdengarkan suaranya yang keras dan keren. Dia sangat gelisah karena penyakit anaknya itu, yang hari demi hari jadi bertambah lemah, hingga ia kuatir, apabila terlambat lagi sekian hari, anak itu bakal tidak ketolongan lagi. Memangnya dia beradat aseran.
"Orang she Tang, apabila kau tidak keluarkan obatmu itu, aku nanti patahkan kedua lenganmu!" demikian suaranya, yang sangat mengancam.
Dengan tangan kiri ia jambret sebelah tangannya si piauwsu, tangan kanannya diangkat naik. Asal tangan itu dikasi turun, pasti bercacatlah piauwsu kepala dari Eng Seng Piauw Kiok.
Tang Kay San kertak giginya atas dan bawah, yang ia bikin rapat.
"Obat tidak ada di sini, sia-sia saja kau patahkan lenganku!" kata dia dengan nekat.
Di antara hadirin, ada dua orang yang tak bisa lihati saja kejadian hebat itu, mereka maju untuk memisahkan, akan tetapi mereka dipegat Kiam Hoo dan Pwee Seng, hingga dia orang jadi bentrok.
Sin Cie lihat onar jadi hebat sekali, maka ia anggap, perlu ia mesti turun tangan juga, kalau tidak, tidak ada orang yang dapat mencegah huru-hara di medan pesta ini. Dengan sekonyong-konyong saja dia mencelat kepada Sun Tiong Kun, dengan ulur kedua jari tangannya, dalam gerakan "Siang liong chio cu" atau "Sepasang naga perebuti mutiara", ia ancam kedua matanya murid perempuan dari sukonya itu.
Nona Sun menjadi kaget, ia angkat tangan kanannya, untuk menangkis. Tapi ia tidak bisa kenai jeriji tangannya susiok atau paman-cilik itu karena Sin Cie pun menggunai tipudaya. Selagi si nona sibuk, tahu-tahu tangan kanannya telah menolak dengan pelahan pundak si nona, sampai dia ini mesti mundur tiga tindak. Justru itu, sebat luar biasa, puteranya Kwie Jie-nio telah pindah ke dalam pelukannya pemuda ini, yang ancam Tiong Kun melulu untuk rampas bocah itu.
"Suhu! Sunio!" Sun Tiong Kun menjerit-jerit, bahna kaget dan takutnya. "Lekas! Lekas!...."
Selagi Sin Sie dan isterinya berpaling, Sin Cie sudah lompat naik atas sebuah meja.
"Adik Ceng, pedang!" berseru si anak muda.
Cepat sekali, Ceng Ceng lemparkan pedang kepada kawannya itu.
Sin Cie sambuti pedang dan terus saja berseru: "Kalian berhenti bertempur! Mari dengar aku dahulu."
Merah kedua matanya Kwie Jie-nio, sinarnya berapi.
"Anak gila, kau berani ganggu anakku?" dia mendamprat. "Nanti aku adu jiwaku dengan jiwamu!"
Nyonya ini menjejak lantai, dengan niat lompat maju.
"Sabar," Sin Sie membujuk seraya ia tarik tangan isterinya itu. "Ingat, anak kita ada di tangan dia...."
Jie-nio dapat dibujuk, dia diam, tapi terus dia awasi pemuda itu.
"Jie-suko, tolong kau merdekakan dulu jalan darahnya Beng Looyacu!" Sin Cie lantas minta kepada kandanya seperguruan.
"Hm...." bersuara Sin Sie, yang luluskan permintaan itu, maka di lain saat, Beng Looyacu sudah dapat pulang kemerdekaannya.
"Semua cianpwee, sekalian sahabat, sukalah kalian dengar aku sebentar," berkata Sin Cie seraya pandang semua hadirin. "Anaknya suko dan suso ini mendapat sakit berat, untuk tolong anaknya itu, mereka hendak pinjam obat pel yang menjadi barang upeti dari Cong-tok Ma Su Eng yang kemaruk dan merkis, obat mana diserahkan ke dalam tanggung-jawabnya ini Tang Piauwsu, Piauwsu ini telah kesudian menjual jiwanya kepada Cong-tok busuk itu, maka itu suko dan suso jadi cari dan saterukan dia! Sementara itu Beng Looyacu adalah sahabat yang baik, tidak seharusnya, di saat pesta hari ulang tahunnya ini, kita ganggu padanya."
Semua hadirin heran mendengar suaranya anak muda ini. Bukankah suheng dan sutee ini berada dalam kedudukan bermusuh? Kenapa sekarang sang sutee bicara untuk kebaikannya sang suheng?
Kwie Sin Sie sendiri dan isterinya turut merasa aneh juga.
Maka itu, semua orang mengawasi, menantikan.
Sin Cie tidak perdulikan sikap orang banyak itu, dia berpaling kepada tuan rumah.
"Beng Looyacu, tolong kau buka kue Siu-toh itu," katanya kemudian kepada jago dari utara itu. "Ada apa-apa yang luar biasa di dalam kue panjang umur itu."
Mendengar ini, mukanya Tang Kay San menjadi pucat.
Beng Pek Hui tidak mengerti, tetapi walaupun dia bingung, dia iringi kehendaknya si anak muda. Dia hampirkan Siu-toh, untuk buka belah kue itu, hingga di dalamnya, ia tampak beberapa biji lah-wan putih. Masih ia tidak mengerti, karenanya, ia jadi berdiri tercengang.
Sin Cie lihat lah-wan itu, lalu ia berkata pula: "Coba Tang Piauwsu ini mempunyai kepandaian berarti, tidak apa ia jual jiwanya kepada pemerintah, akan tetapi nyata dia berhati rendah dan busuk, dia telah mencoba untuk adu-dombakan kita, supaya kita kaum Kang-ouw bentrok satu dengan lain! Beng Looyacu, adakah Siu-toh itu dan lainnya antaran Tang Piauwsu ini?"
Beng Pek Hui manggut.
"Sengaja piauwsu she Tang ini umpetkan lah-wan itu di dalam Siu-toh," Sin Cie beber orang punya rahasia. "Dia ketahui dengan baik, Siu-toh tidak bakal dimakan, maka obat itu dia sembunyikan di dalamnya. Dia sudah pikir, kalau nanti pesta telah ditutup, dengan diam-diam dia bisa ambil pulang obat itu. Dalam hal ini, dia tidak perdulikan Kwie Suko nanti bentrok dengan Beng Looyacu! Dengan dia berhasil dengan tipunya yang keji ini, tidakkah ia bakal berjasa terhadap pemerintah?"
Sin Cie lantas turun dari meja, untuk hampirkan Siu-toh.
Ceng Ceng segera maju, untuk bantui kawannya itu. Maka sedetik saja, lah-wan itu telah dikasi keluar.
Baru sekarang Kwie Sin Sie dan Beng Pek Hui sadar bahwa mereka telah kena orang pedayakan.
Sin Cie belah sebiji lah-wan, lantas bau obat yang harum menyerang hidungnya. Di dalam lilin bundar itu ada sebutir obat pulung sebesar lengkeng, warnanya merah dadu.
"Coba tolong ambilkan air dingin," Sin Cie minta pada Ceng Ceng.
Nona ini menurut, malah obat pulung itu segera ia aduk rata dengan air itu, sesudah mana, itu obat lantas dicekoki ke dalam mulutnya si bocah, yang keadaannya sudah jadi lemah sekali, napasnya jalan dengan pelahan, dia tidak menangis. Dengan pelahan-lahan anak itu telan air obat.
Kwie Jie-nio mengawasi saja, air matanya berlinang-linang, saking terharu dan bersyukur. Berbareng ia pun malu sendirinya. Di dalam hatinya, dia kata: "Coba tidak ada sutee cilik ini, yang membuka rahasia, onar hari ini mestinya hebat tak terkira. Sudah anakku tidak bakal ketolongan, aku pun telah berdosa terhadap kaum Kang-ouw, sehingga juga kehormatan suamiku jadi ternoda..."
Setelah anak itu habis makan obat, dengan kedua tangannya, Sin Cie mengangsurkannya kepada Kwie Jie-nio, siapa menyambuti sambil kata dengan pelahan: "Wan Sutee, tak habisnya syukur kami suami-isteri...."
Sin Sie, yang tak pandai bicara, cuma kata: "Sutee, kau baik, kau baik...."
Ceng Ceng jumput semua obat, untuk serahkan itu pada si nyonya aseran.
Kwie Jie-nio sedang sangat girang dan bersyukur, dia sambuti obat itu tanpa bilang suatu apa.
Kwie Sin Sie sendiri segera totok sadar semua kurbannya.
Beng Pek Hui diam saja, di dalam hatinya, dia kata: "Anakmu telah ketolongan, adalah anakku telah dapatkan kebinasaannya.... Aku tak dapat membalas sakit hati... Biarlah, lain kali saja aku mohon bantuan orang pandai akan mencari balas...."
Sin Cie lihat orang gotong Beng Ceng, hendak dibawa ke dalam. Dia lihat orang terluka parah, hampir mati.
"Tunggu dulu!" ia segera memanggil.
"Kandaku tinggal matinya, apakah kau mau?" bentak Beng Siu. Pikirannya sedang gelap, dia menyangka jelek terhadap tetamunya yang muda itu.
"Sabar," Sin Cie bilang. Ia tidak gusar. "Sukoku hargai Beng Looyacu, untuk bersahabat dia masih belum dapat ketikanya, bagaimana dia bisa bikin celaka Beng Toako? Memang benar dia telah serang Beng Toako sedikit hebat akan tetapi itu tak akan membahayakan jiwa, kalian baik jangan berkuatir."
"Siapakah yang kamu hendak dustakan?" pikir mereka. Mereka juga sudah tidak mempunyai harapan untuk Beng Ceng.
Sin Cie bisa duga orang kurang percaya dia, maka dia berkata pula: "Tidak ada niat dari sukoku akan bikin celaka Beng Toako, maka asal Beng Toako dikasi obat dan dapat beristirahat, dia bakal tak kurang suatu apa."
Tidak tunggu apa nanti orang bilang, Sin Cie rogoh sakunya akan kasi keluar sebuah lopa-lopa, ialah tempat di mana kodok esnya disimpan. Dia jumput satu di antaranya, terus ia pencet hancur, untuk diaduk rata dengan arak, kemudian ia sendiri yang cekoki Beng Ceng.
Ruangan yang luas itu, di mana tadi keadaan ada sangat kacau, terbenam dalam kesunyian. Semua mata mengawasi tindak-tanduknya Sin Cie, semua pandang Beng Ceng, untuk ketahui bagaimana kesudahannya.
Belum berselang lama, mukanya Beng Ceng telah mulai berubah, dari pucat-pias menjadi bersemu dadu, sesudah mana, menyusul suara rintihan, teraduh-aduh yang pelahan.
Menampak itu, bukan kepalang girangnya Beng Pek Hui, hingga dia lantas menjura kepada bengcu dari tujuh propinsi itu.
"Wan Siangkong, Wan Bengcu, kau benar-benar ada penolong puteraku!" katanya selagi ia menjura dalam.
Sin Cie repot membalas hormat.
"Tidak apa," kata dia, yang merendahkan diri. Kemudian ia suruh Beng Siu gotong kakaknya ke dalam, untuk dirawat dengan baik.
Segera juga, Beng Pek Hui kerahkan orang-orangnya, untuk atur pula kursi-meja, guna sajikan barang hidangan baru, untuk mulai pula pesta yang terhalang itu, hingga di lain saat, suasana riang-gembira telah pulih.
"Beng Looyacu, kami sangat sembrono, harap kau memaafkannya," Kwie Jie-nio kata pada tuan rumah kepada siapa ia menjura. Ia pun tarik tangan suaminya dan ketiga muridnya, untuk mereka juga beri hormat pada jago tua itu.
Beng Pek Hui bisa tertawa sekarang, ia tertawa besar.
"Anakku menghadapi kematian, siapa tak gelisah?" katanya. "Tidak, aku tidak persalahkan kamu suami-isteri."
Jie-nio mengucapkan terima kasih, kemudian ia dan rombongannya turut duduk berpesta.
Beng Pek Hui masih berhati kurang tenang, satu kali ia ambil ketika akan masuk ke dalam akan tengok puteranya. Sesampainya di dalam, hatinya jadi bertambah lega. Beng Ceng sedang tidur nyenyak, napasnya berjalan dengan rapi, wajahnya nampak tenang dan wajar. Itulah tanda-tanda dari kesembuhan.
Sekeluarnya kembali, tuan rumah segera layani dengan ramah-tamah pada semua tetamunya. Ia telah minta dua cawan yang besar, ia isi penuh dua-duanya, kemudian ia bawa itu ke depan Sin Cie.
"Wan Bengcu," katanya, "ketika dalam rapat di Tay San orang pilih kau, bilang terusterang, aku kurang puas, akan tetapi sekarang, melihat sepak-terjangmu ini, aku bukan melainkan sangat berterima kasih, aku pun kagum dan takluk padamu. Mari, Bengcu, tolong kau keringi cawan ini, tanda hormat dari aku!"
Dia angkat cawan yang satunya, ia lantas cegluk itu hingga habis.
Sin Cie tak pandai minum arak, akan tetapi melihat kesungguhan hati orang, ia pun minum kering cawannya, atas mana, semua hadirin bertepuk tangan dan berseru: "Bagus!"
"Wan Bengcu," kata pula Beng Pek Hui kemudian, "sejak hari ini dan selanjutnya, apabila ada urusan sesuatu, aku bersedia untuk mengabdi kepada kau! Kau membutuhkan uang? Buat delapan atau sepuluh laksa tail perak, rasanya aku sanggup menyediakannya! Kau perlu orang? Kecuali kami ayah dan anak, yang tak nanti menampik untuk serbu api, sanggup aku mengumpulkan tiga atau empat ratus orang untuk membantu padamu! Aku rasa masih aku mempunyai muka terang akan mengumpulkan jumlah itu...."
Sin Cie bersenyum. Ia merasa sangat puas dengan kesudahannya urusan, terutama karena itu, ganjelan suko dan susonya itu terhadapnya, jadi dapat dibikin hilang.
Tapi malam itu, di waktunya orang bubaran setelah puas berpesta, Tang Piauwsu lenyap dari antara mereka, entah ke mana sembunyinya dia.
Di lain harinya, selagi tetamu-tetamu bergantian pamitan pulang, Beng Pek Hui tahan rombongannya Sin Cie. Beberapa kali si anak muda niat pergi, ia saban-saban mesti urungkan itu sampai di hari ketujuh, baru tuan rumah tak dapat menahan terlebih lama lagi. Pek Hui segera siapkan meja perjamuan, untuk memberi selamat jalan. Itu waktu, Sin Sie serta isteri dan murid-muridnya pun masih belum berangkat, mereka dijamu bersama.
"Beng Lauwko," berkata Thia Ceng Tiok, "si orang she Tang dari Eng Seng Piauw Kiok bukannya satu mahluk baik, dia kehilangan upeti berharga itu, tak nanti dia mau sudah saja, andaikata dia tak berhasil mencari Kwie Jie-ko, mesti dia bakal cari Lauwko, dari itu, baik kau waspada."
"Terima kasih, saudara Thia," mengucap Pek Hui. "Umpama kata benar-benar mahluk itu berani main gila terhadapku, aku tidak akan berlaku sungkan lagi terhadapnya!"
"Beng Lauwko, adalah kami yang menyebabkan onar ini," kata Kwie Jie-nio, "maka itu, apabila kau benar menghadapi kesulitan, kami minta segeralah kau memberi kabar kepada kami!"
"Baik, Jie-nio!" jawab tuan rumah. "Sebenarnya aku sendiri tak takut!"
"Kita harus jaga kalau-kalau dia bersekongkol sama pembesar negeri," See Thian Kong turut memberi ingat.
Beng Pek Hui tertawa besar.
"Apabila itu sampai terjadi," katanya, "Thia Lauwtee, aku nanti mencontoh teladanmu, aku akan duduki bukit untuk menjadi raja!"
Semua orang tertawa mendengar pengutaraan itu.
Sampai di situ, orang pada naik kuda, untuk berpisahan.
Jie-nio empo anaknya, dan bersama suaminya dan tiga orang muridnya, ia menuju pulang ke selatan, sedang rombongan Sin Cie berikut Thie Lo Han dan Ouw Kui Lam, melanjuti perjalanan mereka mengangkut harta besar menuju ke utara.
Pada suatu hari sampailah Sin Cie beramai di Kho-pay-tiam, karena hari sudah magrib dan barang bawaan mereka banyak dan berat, mereka singgah di hotel "Yan Tiauw Kie" di sebelah barat dusun itu. Habis bersantap, mereka lantas masuk tidur, untuk beristirahat. Tapi belum lagi mereka pulas, mereka telah terganggu suara berisik di luar hotel, antaranya riuh suara orang bicara. Cuma A Pa si empeh gagu, yang tak dengar suatu apa.
Suara bicara berisik terdengar semakin nyata apabila ternyata dia orang itu telah memasuki hotel, suara mereka pun tak dimengerti, karena bahasa mereka ada luar biasa. Sin Cie keluar dari kamarnya, maka itu ia bisa lihat beberapa puluh serdadu asing, yang duduk atau berdiri, masing-masing menyekal senapan. Merekalah yang menerbitkan suara berisik itu. Ia heran sebab belum pernah ia tampak orang-orang dengan mata kelabu dan hidung mancung-mancung itu, hingga ia mengawasi.
Segera terdengar suara seorang bicara dengan keras dengan kuasa hotel, dia minta segera disediakan beberapa kamar.
"Maaf, Tayjin, kamar di sini cuma ada beberapa buah dan semua sudah penuh," kata kuasa hotel, yang memohon dengan sangat.
Orang yang dipanggil tayjin itu rupanya gusar, sebab segera dia tampar si kuasa hotel, hingga banyak mata diarahkan kepada mereka.
"Kau.... kau...." kata kuasa hotel itu, yang menjadi gusar.
"Jikalau kau tidak sediakan kamar, aku nanti bakar hotelmu ini!" seru si tayjin itu.
Kuasa hotel itu menjadi ketakutan, terpaksa ia pergi pada Seng Hay, sambil menjura berulang-ulang ia mohon tetamu-tetamunya ini suka mengalah.
"Bagus betul!" seru See Thian Kong. "Orang toh ada yang datang terlebih dulu dan belakangan! Dia itu mahluk apa?"
Kuasa itu ketakutan, mukanya pucat.
"Aku minta, Tuan, supaya kau tidak berpandangan sebagai dia itu yang makan nasi asing," kata dia, yang maksudkan si tayjin. "Hebat kesudahannya kalau kita berbuat salah terhadapnya..."
"Dia gegares nasi asing apa?" tanya Thian Kong. "Apakah makan nasi asing lantas mesti bertingkah?"
Masih kuasa hotel itu ketakutan.
"Mereka ini, Tuan, adalah tentara asing yang datang ke kota raja untuk angkut meriam besar," menerangkan dia, dengan suara sangat pelahan. "Dan dia itu, yang bisa omong bahasa asing, dijadikan juru-bahasanya."
Baru sekarang Sin Cie beramai ketahui. Jadinya si tayjin itu adalah kacung asing yang banyak lagaknya.
"Nanti aku ajar adat pada bocah itu!" kata See Thian Kong, yang hatinya panas.
"Sabar," Sin Cie mencegah. Dan ia ajak semua kawannya masuk ke dalam kamar. "Ketika dulu marhum ayahku belai Liauw-tong, di waktu ia peroleh kemenangan besar dalam peperangan di Leng-wan, ia peroleh bantuan besar dari meriam-meriam buatan asing semacam ini. Begitulah Nuerhacha, leluhur kaisar Boan, telah terbinasa karena tembakan meriam. Sekarang ini bangsa Boan sedang garangnya, dan ini tentara asing lagi angkut meriamnya untuk membantu padanya, baiklah kita mengalah."
"Habis kita mesti antapkan binatang itu banyak tingkah?" tanya Thian Kong.
"Kenapa kita mesti bersatu pandangan dengan manusia rendah itu?" Sin Cie baliki.
Melihat bengcu ini bersikap demikian, orang lantas mengalah, maka kesudahannya mereka serahkan dua kamar.
Si jurubahasa itu, yang kemudian ketahuan bernama Cian Tong Su, masih mendumal saja, akan tetapi setelah ia dapat dua buah kamar, tidak lagi ia persulit lebih jauh kepada kuasa hotel. Dia pergi untuk sementara, kapan ia kembali lagi, ia ada bersama dua opsir asing. Satu opsir berumur empat-puluh lebih, yang lainnya baru dua-puluh lebih. Dua-dua mereka ini beroman cakap dan gagah. Yang tuaan itu pergi sebentar, baliknya ia ajak satu wanita asing yang cantik, yang umurnya kurang lebih dua-puluh tahun, rambutnya hitam, kulitnya putih, barang perhiasannya adalah mutiara-mutiara yang bergemerlapan di antara cahaya api, pakaiannya reboh.
Belum pernah Sin Cie melihat orang asing, makanya ia awasi nona itu.
Menampak sikapnya si anak muda, Ceng Ceng tidak puas.
"Engko, apakah orang itu manis dipandangnya?" dia tanya.
"Beginilah memang dandanannya orang asing," Sin Cie jawab.
"Hm!" bersuara Ceng Ceng, yang terus bungkam.
Besoknya pagi, orang dahar dan duduk berkumpul di ruang besar, kedua opsir asing itu duduk bersama si nona asing. Cian Tong Su melayani dengan telaten sekali, nyata sekali sikapnya menjilat-jilat, sebab kapan dia butuhkan apa-apa, terhadap kuasa hotel dan jongos, segera dia main sentak, tangannya pun enteng.
Sangat tak puas Thia Ceng Tiok menyaksikan orang punya lagak tengik itu.
"Saudara See, coba lihat siauwtee main sulap!" kata dia, ketika ia putar tubuhnya. Lalu tanpa memutar lagi, dia ayun sebelah tangannya ke belakang, hingga sepasang sumpitnya menyambar ke arah mulutnya Cian Tong Su, mengenai dua baris giginya atas dan bawah.
Juru bahasa itu berteriak kesakitan, dia gelagapan menutup mulutnya, masih dia berkaokkaok, teraduh-aduh!
Inilah kepandaian mainkan senjata rahasia dari Thia Ceng Tiok, kalau lain orang gunai piauw atau panah-tangan, dialah potongan-potongan bambu pendek dan halus bagaikan lidi, tapi kali ini, dia pakai sumpit saja. Dengan lidi itu dia bisa timpuk jalan darah. Dia masih taati pesan Sin Cie, maka ia tidak arah kedua mata orang itu.
Tak tahu Tong Su dari mana datangnya serangan, kedua opsir itu pun heran. Si nona manis, yang pun merasa aneh, sebaliknya tertawa, mungkin dia anggap kejadian itu lucu....
Kedua opsir itu melirik kepada rombongan Sin Cie, rupanya dia mau menyangka, Tong Su telah jadi korban mereka ini. Opsir yang lebih tua letaki dua buah pistol di atas meja, lalu ia lemparkan dua buah cangkir ke tinggi, habis itu dengan sebat dia menembak dengan kedua tangannya, hingga cangkir-cangkir itu kena tertembak dan hancur.
Heran dan kagum Sin Cie beramai untuk kepandaiannya orang itu, dan hebatnya senjata api itu.
Opsir yang lebih tua itu nampaknya puas dan bangga, ia lantas isikan pula pistolnya.
"Peter, kau hendak coba-coba?" kata dia kepada kawannya.
"Kepandaianku menembak mana bisa menangi tukang tembak nomor satu dari negara kami Portugal!" kata opsir yang muda itu.
Si manis tertawa.
"Ah, kalau begitu Raymond ada tukang tembak nomor satu?" katanya.
"Jikalau bukan nomor satu untuk dunia, sedikitnya untuk Eropa," kata si Peter ini.
"Nomor satu untuk Eropa apa bukan sama artinya dengan dunia?" tegaskan Raymond.
"Inilah tak berani aku bilang," sahut Peter. "Orang-orang timur ada bangsa aneh, di antara mereka ada yang punya kepandaian jauh lebih berbahaya daripada kita. Tidakkah demikian, Catherine?"
"Aku rasa kau benar," sahut si cantik sambil bersenyum.
Tak puas Raymond melihat Catherine nampaknya lebih manis kepada Peter.
"Orang-orang Timur aneh?" katanya. Dan tiba-tiba saja ia menembak pula, satu kali, segera disusul dengan yang kedua. Ketika pistol itu memperlihatkan sinar api, tahu-tahu Ceng Ceng terkejut bukan main. Di luar tahunya, kopiahnya kena ketembak hingga terjatuh ke atas meja hingga karenanya, kelihatanlah rambutnya yang hitam dan gompiok, rambutnya seorang perempuan.
Sin Cie dan yang lainnya turut kaget dan heran.
Raymond serta beberapa serdadu asing lainnya tertawa berkakakan, rupanya mereka anggap pemandangan itu lucu. Ceng Ceng murka, dia lompat bangun pedangnya segera dihunus.
"Jangan!" Sin Cie mencegah. Pemuda ini insyaf bahayanya kalau mereka layani orang-orang asing itu. Ia pun mengerti, pemerintah Beng bakal pakai tenaga asing itu untuk memerangi bangsa Boan. Maka ia anggap, lebih baik bersabar. "Sudah, adik Ceng," kata ia seraya ambil pedang orang. Ceng Ceng mendelik mengawasi tiga orang asing itu, ia dengar kata terhadap Sin Cie.
"Kiranya dia satu nona, pantas dia eilok," kata Catheirne sambil tertawa.
"Bagus, ya," kata Raymond, "kiranya kau perhatikan keeilokan orang...."
"Dia menyekal pedang, agaknya dia hendak menantang kita," kata Peter. "Kalau dia benar menantang, siapa yang sambuti, Peter?" tanya Raymond. "Di anatra kita berdua, siapa lebih tangguh?"
"Aku harap tak ada yang tahu untuk selamanya," Peter jawab.
"Eh, kenapa begitu?"
"Ah, sudah jangan ribut!" Catherine menyela. Ia bersenyum. "Orang Timur aneh, aku kuatir, dua-dua kamu tak nanti bisa lawan nona itu..."
"Tong Su, mari!" sekonyong-konyong Raymond panggil juru-bahasanya. Orang she Cian itu menghampirkan dengan cepat.
"Ada apa, Kolonel?" tanyanya.
"Coba tanya nona itu, apa dia mau adu pedang denganku. Lekas!"
"Baik, baik, Kolonel!" Raymond rogoh sakunya, akan kasih keluar belasan uang logam asing, yang ia lemparkan ke atas meja. Sambil tertawa, dia kata: "Jikalau dia benar hendak adu kepandaian, suruh dia kemari, asal dia menang, dia boleh ambil ini semua uang emas, tapi kalau dia kalah, aku mesti cium dia satu kali! Nah, lekas kasi tahu, lekas!"
Dengan tindakan berlenggang, Tong Su hampirkan Ceng Ceng, untuk sampaikan permintaan Raymond, si nona mau duel atau tidak, tapi di saat ia ulangi kata-kata "cium satu kali", mendadak tangan si nona melayang, mampir di pipi juru-bahasa ini hingga dia berkaok dan berjengit, pipi kanannya bertapak tangan berwarna merah. Celakanya, empat buah giginya copot, darahnya mengucur pula, hingga dia mesti tekapi mulutnya.
Raymond tertawa berkakakan.
"Nona itu benar kuat!" katanya. Ia lantas cabut pedangnya, ia bertindak ke tengah ruangan, pedangnya itu disabatkan ke atas hingga menerbitkan suara angin.
"Mari, mari, mari!" katanya.
Ceng Ceng tidak mengerti omongan orang, akan tetapi melihat dari sikapnya, dia tahu dia ditantang, maka ia pun hunus pula pedangnya, ia bertindak menghampiri.
"Ini orang kurang ajar, boleh juga dia diajar adat, asal jangan dilukai," pikir Sin Cie, yang lantas panggil kawannya: "Adik Ceng, mari!"
"Tidak!" sahut Ceng Ceng yang cuma berpaling. Ia menyangka sahabat itu hendak cegah padanya.
"Mari, aku hendak ajari kau bagaimana mengalahkan dia," kata Sin Cie.
Ceng Ceng menghampiri, ia girang. Ia memang belum tahu ilmu silat pedang bangsa asing.
"Kita belum tahu ilmu pedang orang asing, tapi melihat caranya barusan dia hunus pedangnya dan kibaskan itu, terang dia gesit sekali," bilang Sin Cie. "Kau mesti waspada untuk tikamannya, jangan kuatirkan tabasan!"
"Kalau begitu aku boleh berdaya akan gempur pedangnya itu?" tanya si nona.
"Benar!" sahut Sin Cie. "Tapi ingat, jangan lukai dia."
Raymond lihat orang bicara saja, dia tidak sabaran.
"Mari, mari lekas!" dia menantang pula.
Ceng Ceng sambut tantangan itu, kali ini dia tidak bertindak dengan pelahan sebagai tadi, hanya dengan mendadak dia berlompat, hingga tahu-tahu ia sudah berada dekat si orang asing. Terus saja ia membabat ke arah pundak.
Raymond kaget, inilah ia tidak sangka. Ia pun tidak nyana, si nona demikian gesit. Tapi ia masih sempat berkelit seraya jatuhkan diri dan pedangnya dipakai menangkis, hingga kedua senjata beradu keras dan nyaring, lelatu apinya muncrat. Ketika ia bangun pula, ia keluarkan keringat dingin.
"Bagus!" Catherine bertepuk tangan.
Segera setelah orang bangkit pula, Ceng Ceng menyerang lagi, maka sekarang mereka mulai bertempur. Keduanya bergerak sama gesitnya, bergantian mereka saling tikam dan tangkis.

Sin Cie memasang mata, ia mesti akui kesebatan orang asing itu.
Kapan Ceng Ceng merasa ia tak bisa lantas rebut kemenangan, ia ubah caranya berkelahi. Sekarang ia lebih banyak menggertak, habis mengancam, lekas-lekas ia tarik pulang pedangnya. Ia bersilat dengan ilmu pedang Cio Liang Pay "Lui Cin Kiam-hoat" atau "Gempuran Geledek", yang punyakan tiga-puluh enam gertakan.
Repot juga Ryamond melayani cara berkelahi itu, matanya lantas saja mulai kabur, sebab ia cuma lihat pelbagai ujung pedang hendak menikam padanya, tapi saban kali ia menangkis, ia tangkis angin. Dia tahu, ilmu pedangnya pun mengenal gertakan, tapi cuma beberapa kali, tidak banyak seperti ilmu si nona ini. Tadinya ia niat tegur si nona, atau mendadak nona itu sampok pedangnya, begitu keras, sampai ia rasakan tangannya menggetar dan sesemutan, tak dapat dicegah lagi, pedang itu terlepas dan terpental.
Menyusul itu, Ceng Ceng menyusuli dengan tudingannya ke arah dada lawan!
Di pihak lain, See Thian Kong berlompat akan sambar pedangnya opsir asing itu, lalu dengan dibantu tangan kiri, ia tekuk itu pedang hingga jadi patah dua! Dan kedua batang itu ia lempar ke tanah!
Ceng Ceng tertawa, dia tarik pulang pedangnya, untuk dia kembali ke kursinya.
Raymond malu bukan kepalang, mukanya merah-padam. Tidak ia sangka, sebagai ahli pedang di Eropa, sekarang di Tiongkok dia dipecundangi satu nona.
Catherine tertawa riang, dia jumput uang di atas meja, ia bawa itu kepada Ceng Ceng, untuk diserahkan.
Nona kita menampik, ia memang tak harapi uang taruhan itu, tapi nona asing itu mendesak, mulutnya mengatakan apa-apa yang tak dimengerti nona Hee. Akhirnya Ceng Ceng menyambut, ia kepal uang itu dengan kedua tangannya, lantas ia menggenggam dengan keras sekali, kemudian uang itu ia sodorkan pula pada si nona asing.
Catherine heran, ia menyanggapi, setelah mana, dia tercengang. Semua uang itu nempel menjadi satu, ia coba pisahkan, tetapi tidak berhasil, maka dengan mata dipentang lebar, ia awasi nona kita, mulutnya mengucap: "Benar-benar, orang Timur aneh!...."
Lekas-lekas ia kembali pada Raymond dan Peter, akan tunjuki uang itu.
"Dia punyakan ilmu sihir!" katanya.
"Jangan kita layani dia! Mari kita pergi!" mengajak Peter.
Dua opsir itu berbangkit, Catherine mengikuti. Peter lantas memberi titah.
Sebentar saja semua serdadu lari keluar, akan berkumpul sama kawan-kawannya, menyusul mana, lantas mereka berangkat bersama-sama meriam-meriam mereka. Raymond dan Peter berbareng bertindak keluar dari hotel. Ketika Catherine lewat di samping Ceng Ceng, dia mengawasi sambil tertawa, hingga angin wangi berkesiur daripadanya.
Sedetik saja, ruang hotel itu jadi sunyi.
"Bagaimana macamnya meriam asing itu, belum pernah aku lihat," kata Thie Lo Han.
"Mari kita lihat!" Ouw Kui Lam mengajak.
Tiba-tiba See Thian Kong tertawa.
"Saudara Ouw," katanya kepada malaikat copet itu, "andaikata kau bisa unjuk kepandaianmu, dengan curi sebuah meriam, aku bakal kagumi kau tak habisnya...."
"Sebenarnya belum pernah aku curi meriam besar, yang demikian berat," kata Kui Lam, yang pun tertawa. "Kita bertaruh atau tidak?"
"Meriam itu ada untuk menghajar bangsa Boan, jadi tak tepat untuk dicuri," Thian Kong bilang, "kalau tidak, aku suka bertaruh."
Sambil tertawa, mereka bertindak keluar, malah dengan jalan cepat, mereka bisa lewati lerotan meriam dan barisan serdadunya itu. Semua meriam ada sepuluh buah, saking beratnya, setiap meriam diseret delapan ekor kuda, sudah begitu, di belakangnya masih ada orang-orang yang bantu mendorongnya. Bekas-bekas roda-roda menggelinding meninggalkan lobang yang dalam bagaikan selokan.
"Jikalau ada ini sepuluh jendral perang menjaga San-hay-kwan, tak perduli bagaimana garangnya pula tentara Boan, pasti mereka tak dapat menerjang dengan berhasil," kata Sin Cie sambil tertawa.
Orang telah berjalan terus, sampai selang dua-puluh lie lebih, rombongan Sin Cie dengar berisiknya suara kelenengan di sebelah depan, lalu tertampak belasan penunggang kuda sedang mendatangi, kapan mereka itu sudah datang lebih dekat, kelihatan sesuatu penunggang kuda bekal senjata dan panah di bebokong, di atas kudanya tergendol kelinci dan lainnya binatang hutan, suatu tanda mereka adalah serombongan pemburu. Semua mereka mengenakan dandanan perlente, sepatunya pun tebruat dari kulit, sedang yang diiring adalah satu nona.
Kapan si nona telah datang dekat sekali pada rombongannya Sin Cie, lantas dia keprak kudanya untuk menghampirkan sambil berseru-seru: "Suhu! Suhu!"
Thia Ceng Tiok, orang yang dipanggil suhu (guru), lantas tertawa.
"Bagus, kau telah datang!" dia pun berseru dengan sambutannya.
Nona itu adalah sang murid, Nona A Kiu, hanya sekarang dia dandan dengan reboh, pada kedua kupingnya nempel mutiara sebesar jempol tangan, pada ujung bajunya tertabur batu permata merah.
Melihat Sin Cie, nona itu tertawa.
"Oh, kau ada bersama suhu!" dia menegor.
Sin Cie bersenyum, dia manggut.
A Kiu kemudian pandang See Thian Kong, kembali dia tertawa dan kata: "Tanpa bertempur, kita tak akan bersahabat!"
Ceng Tiok panggil muridnya itu, untuk diajar kenal terutama dengan Thie Lo Han dan Ouw Kui Lam.
"Kau hendak pergi ke mana?" kemudian sang guru tanya.
"Aku pergi berburu," jawab si nona.
"Kami lagi menuju ke Pakkhia, baik kau turut kami," Ceng Tiok kata.
"Baik, Suhu," jawab A Kiu, yang terus dampingi gurunya itu.
Sin Cie dan Ceng Ceng heran juga menampak Nona A Kiu, sebab meskipun begitu muda nona ini punyakan sikap yang beda daripada nona-nona sepantarannya.
Di waktu tengah hari, selagi singgah untuk beristirahat, orang duduk dahar menghadapi dua buah meja, dan A Kiu serta gurunya duduk bersama Sin Cie beramai.
Pada mulanya, Sin Cie duga nona itu ada cucu perempuan dari Thia Ceng Tiok, tidak tahunya dia itu adalah muridnya. Ia percaya si nona adalah gadisnya satu hartawan yang telah dimanja-manjai, jikalau tidak, dandanannya, gerak-geriknya, tidak sedemikian rupa, malah untuk berburu, si nona bawa demikian banyak pengiring. Ia tidak mengerti, bagaimana caranya maka si nona berguru kepada ketua Ceng Tiok Pay itu dan bisa bergaul di dalam golongan.
Habis bersantap, perjalanan dilanjuti, sorenya, mereka singgah di sebuah hotel di Im-macip.
Selama itu, Sin Cie dan Ceng Ceng senantiasa perhatikan dengan diam-diam kepada A Kiu dan sekalian pengiringnya itu itu. Mereka mau percaya, sekalian pengiring itu bukan cuma kacung atau bujang belaka, mungkin mereka ada pegawai-pegawai negeri, karenanya, mereka jadi semakin heran.
(Bersambung bab ke 17)
Bab 17
Sore itu, selagi duduk berkumpul dan pasang omong, Ceng Ceng tanya A Kiu: "Adik Kiu, ketika itu hari kami hajar tentara negeri, hingga kami merasa sangat puas, kemudian ternyata kau menghilang. Sebenarnya ke mana kau pergi?"
"Ah!...." bersuara si nona, yang mukanya menjadi merah dengan tiba-tiba. Kemudian, dengan menyimpang, dia bilang: "Encie Ceng, coba kau dandan, kau pasti baru ternyata elok benar!"
Ceng Ceng heran, kapan ia lihat nona muda ini suka tengok kiri dan kanan. Tadinya ia hendak menanyakan lebih jauh tapi ia batal kapan ia tampak Ceng Tiok, yang duduk di depannya, kedipi mata. Maka akhirnya, sambil tertawa, ia jawab nona itu: "Kita sedang bikin perjalanan, kepala dan muka kita biasa penuh debu, habis kita berdandan, kepada siapa hendak dikasi lihatnya?"
A Kiu bersenyum.
Tidak lama setelah itu, orang bubaran, untuk masuk tidur.
Selagi Sin Cie hendak naik ke pembaringannya, Thia Ceng Tiok datang padanya.
"Wan Siangkong, aku hendak bicara denganmu untuk satu urusan," kata ketua Ceng Tiok Pay, yang datangnya secara tiba-tiba.
Sin Cie menyambut dengan gembira.
"Baik!" sahutnya. "Silakan duduk."
"Lebih baik kita pergi keluar, ke tempat terbuka dan sepi," Ceng Tiok bilang hampir berbisik.
Sin Cie merasa pasti, urusan ada penting, maka ia pakai pula bajunya, lalu keduanya keluar, akan terus berlari-lari ke bukit malah mendaki puncak, akan duduk atas sebuah batu besar.
Ketua Ceng Tiok Pay melihat ke sekitarnya, yang sunyi.
"Wan Siangkong," kata dia kemudian, "aku hendak omong tentang A Kiu, muridku itu. Dia ada satu anak dengan asal-usul istimewa. Ketika dia mulai angkat aku sebagai guru, aku pernah berjanji untuk tidak buka rahasia tentang dirinya."


0 komentar:
Posting Komentar