Home » » PEDANG ULAR MAS 27

PEDANG ULAR MAS 27


Jilid 27

"Aku pun lihat dia bukannya orang sembarangan," Sin Cie bilang. "Karena kau telah beri janjimu, tak usah kau menerangkannya kepadaku."

"Sekalian pengiringnya ada orang-orang negeri, maka itu, tentang maksud bekerja kita ini, mereka tak boleh mendapat tahu," kata pula Ceng Tiok.

Mau atau tidak, Sin Cie toh tercengang.

"Jadi benar mereka ada hamba-hamba negeri?" tegaskannya.

Ceng Tiok manggut-manggut.

"Aku mau percaya, muridku ini tidak bakal jual kita," kata ia kemudian, "akan tetapi dia masih berusia sangat muda, tak dapat diduga yang pikirannya bisa tidak berubah."

"Kalau begitu, di depan A Kiu baik kita waspada," Sin Cie bilang.

Ceng Tiok manggut.

Sampai di situ, urusan telah selesai, maka keduanya segera berangkat pulang. Sesampainya di muka hotel, Sin Cie lihat seorang lewat di jalan besar, datangnya dari arah timur, dia itu menenteng sebuah lentera, dalam sekelebatan saja, dia itu terus masuk ke dalam hotel. Dengan matanya yang tajam, Sin Cie rasa kenali orang itu, melainkan tak segera ia ingat di mana mereka pernah bertemu. Maka selagi rebah di atas pembaringannya, pemuda kita terus mengingat-ingat hingga ia mengingat mundur sampai rapat di gunung Tay San, pelbagai kejadian di Lamkhia dan Cio-liang. Juga di dalam barisan Giam Ong, tak ingat dia pernah bertemu sama orang itu. Tetapi ia tak bisa lupa romannya orang itu.

"Di mana aku pernah lihat atau bertemu dengannya?" tanya ia berulang-ulang di dalam hatinya.

Tiba-tiba ia dengar ketokan perlahan pada pintu kamarnya. Segera ia pakai bajunya dan turun dari pembaringan, akan nyalakan api.

"Apakah kau tidak niat dahar sesuatu?" begitu pertanyaan dari luar, disusul dengan suara tertawa dari Ceng Ceng, si juita nakal.

Dengan lekas pemuda kita membukakan pintu.

Ceng Ceng membawa sebuah nenampan di atas mana ada dua mangkok, dalam setiap mangkoknya ada tiga butir telur ayam. Rupanya baru saja dia habis dari dapur di mana dia matangi telur itu.

"Terima kasih," kata Sin Cie. "Kenapa kau masih belum tidur?"

"Aku pikirkan si A Kiu, dia aneh, dia membuat aku tak dapat tidur," sahut si nona. "Aku kira kau pun sedang memikirkan dia itu hingga kau pun belum tidur...."

Ia bicara dengan pelahan sekali.

"Aku pikirkan dia? Untuk apa?" Sin Cie tanya.

"Memikirkan dia karena dia sangat cantik! Coba bilang, bukankah dia cantik sekali?"

Kembali si nona tertawa.

Sin Cie tahu baik perangai nona Hee ini. Apabila ia menjawab A Kiu cantik, Ceng Ceng tentu tak puas; kalau ia menyangkal, itulah jawaban yang tak tepat dengan bukti­kenyataannya. Maka ia jumput sendoknya, akan sendok sebutir telur, untuk dimasuki ke dalam mulutnya. Baru ia menggigit sekali atau dengan sekonyong-konyong ia lemparkan sendoknya.

"Ya dia! Ya dia!" ia pun berseru tertahan.

Ceng Ceng terperanjat.

"Apa dia-dia?" tanyanya kemudian. "Apakah telur itu busuk?"

Sin Cie tertawa.

"Kita jangan dahar dulu! Mari kau turut aku!" kata si anak muda.

Tak puas Ceng Ceng melihat orang tak dahar telurnya. Tidakkah ia telah sengaja rebus itu untuk kawan ini?

"Kita pergi ke mana?" ia tanya.

Masih Sin Cie tidak menjawab, sebaliknya, dari dampingnya Ang Seng Hay, ia jumput pedangnya orang itu.

"Kau pegang ini!" katanya.

Ceng Ceng menyambuti. Baru sekarang ia mengerti, orang hendak menghadapi musuh rupanya.

Selagi Sin Cie menggigit telur, dengan tiba-tiba saja ia ingat suatu kejadian di mana ia masih kecil, ketika ia menumpang di rumah An Toa-nio, di waktu ada orang jahat mencoba culik Siauw Hui, hingga dengan nekat ia bela nona itu, sukur tepatlah datangnya An Toa-nio, yang menolongi terlebih jauh. Dengan tiga butir telur, nyonya An itu sudah serang Ouw Loo Sam, si culik, hingga Loo Sam kabur. Dan tadi, orang yang ia lihat, yang ia rasa kenali tapi tak ingat benar, adalah si Ouw Loo Sam itu! Dia coba ingat, apakah yang dikehendaki dan dikerjakan oleh Ouw Loo Sam. Sekarang, setelah ingat, pemuda ini hendak mencari tahu. Maka dia ajak Ceng Ceng pergi bersama.

Dengan berindap-indap, dengan hati-hati, keduanya pergi keluar, akan hampirkan sesuatu kamar, di setiap jendela, mereka mendekam, untuk pasang kuping, akan dengari suara orang bicara, guna cari Ouw Loo Sam. Lalu di sebuah kamar yang besar, mereka dengar pembicaraan dari tujuh atau delapan orang, yang bicara dengan lagu-suaranya orang Kang-ouw.

"Bagaimana dapat kita berlalu dari sini?" kata satu orang. "Apabila ada terjadi onar, apakah kita masih punyakan jiwa kita?"

"Di pihaknya An Tayjin, inilah urusan penting sekali," kata satu suara lain. "Orang yang dikirim dari kota raja itu, mana dia keburu sampai? Di depan kita telah menantikan satu jasa istimewa, apabila kita lewatkan itu, tidakkah sangat sayang?"

Orang itu berdiam sekian lama. "Begini saja!" terdengar satu suara yang berat. "Kita pecah dua rombongan kita ini, ialah yang separuh berdiam di sini, yang separuh lagi pergi pada An Tayjin, untuk terima titahnya. Jikalau nanti kita berhasil jasanya kita cicipi bersama-sama!" Orang yang pertama rupanya telah tepuk pahanya, karena telah terdengar satu suara nyaring, disusul sama suaranya yang keras. "Bagus! Memang, suka dan duka, kita mesti terima bersama! Umpama terjadi onar, kita sama-sama menanggungnya!"

"Marilah kita mengadakan undian!" seorang usulkan. "Undianlah yang menetapkan, siapa pergi dan siapa berdiam, supaya jangan ada yang mengiri."

"Akur!" menyatakan banyak suara. "Urusan besar apakah itu yang menyebabkan mereka tak dapat pergi dari sini?" Sin Cie tanya dirinya sendiri. "Apa soalnya An Tayjin itu dan itu jasa istimewa? Aneh juga...."

Selagi mendengari lebih jauh, dari dalam terdengar golok dan pedang saling beradu, suatu tanda bahwa orang telah selesai mengadakan undian, dan mereka telah bersiap untuk keluar.

Segera si anak muda bisiki Ceng Ceng: "Pergi bisiki See Thian Kong beramai untuk siap­sedia untuk sesuatu, aku sendiri hendak kuntit mereka, untuk lihat apa yang mereka hendak lakukan."

Si nona manggut. "Tapi kau harus waspada," ia pesan. Itu waktu terdengar suara pintu dibuka, cahaya api lilin lantas menyorot keluar. Sin Cie dan Ceng Ceng sudah mendahului umpetkan diri di tempat yang gelap. Orang yang pertama muncul adalah Ouw Loo Sam, di belakang ia turut delapan orang lainnya dengan gegaman mereka masing-masing di tangan. Karena terangnya api lilin, mereka itu ternyata ada orang-orang atau pengiring-pengiringnya A Kiu. Setelah mereka keluar dan sudah meloncati tembok pekarangan, pintu kamar ditutup pula.

"Itulah orang-orangnya!" kata Ceng Ceng, dengan pelahan. "Memang aku sangsikan nona itu bukannya orang sembarangan...."

Sin Cie pun merasa heran sekali. Sampai di situ, pemuda dan pemudi ini berpisahan, si pemuda segera susul sembilan orang itu, untuk dikuntit.

Sin Cie dapat kemerdekaan untuk membayangi itu sembilan orang karena ilmu entengi tubuh warisan gurunya telah sempurna, sedang ajaran Bhok Siang Toojin ialah "Pek-pian-kwie-eng" atau "Seratus kali berubah bayangan iblis" dia telah yakinkan tujuh atau delapan bahagian sempurna. Ia mengintil terus hingga keluar dari dusun, masih mereka itu berjalan satu lie jauhnya, akan akhirnya menuju ke sebuah rumah besar.

Ouw Loo Sam adalah yang mengetok daun pintu yang dicat hitam, apabila daun pintu telah dipentang, kesembilan orang itu diijinkan masuk. Sin Cie lekas-lekas jalan mutar ke belakang, untuk meloncati tembok, untuk bisa masuk ke dalam, sesampainya di dalam, ia cari tempat di mana ada cahaya api, ialah dari sebuah jendela, sesudah itu, ia lompat naik ke atas genteng. Di sini ia mendekam, dengan hati-hati ia buka selembar genteng, untuk melongok ke bawah, ke dalam kamar.

Di tengah-tengah kamar kelihatan duduk seorang umur hampir lima-puluh tahun, yang tubuhnya kekar sekali. Ouw Loo Sam serta delapan pengiringnya A Kiu masuk ke dalam kamar ini, mereka semua memberi hormat, agaknya orang ini ada pembesar mereka.

"Tadi di dalam dusun hamba dapat lihat Ong Hu-ciehui," berkata Ouw Loo Sam.

"Hamba dapat kenyataan mereka sedang singgah, maka itu hamba segera ajak ini sejumlah kawan pembantu."

"Bagus, bagus!" kata orang itu. "Apakah katanya Ong Hu-ciehui?"

"Ong Hu-ciehui bilang, apabila An Tayjin ada urusan, dia bersedia membantu," jawab Loo Sam.

"Terang pangkatnya dia ini tidak kecil," pikir Sin Cie. "Apakah dia hendak perbuat di waktu malam buta-rata ini?"

"Jikalau kita berhasil, jasa kita bukan main besarnya!" terdengar pula suara si An Tayjin itu, terus dia tertawa: "Ha-ha-ha-ha-ha!"

"Kami semua mengandalkan atas bantuan Tayjin!" kata Loo Sam beramai.

"Kita beramai bakal terpecah menjadi lwee-teng sie-wie dan kim-ie-wie," kata An Tayjin itu. "Kita semua akan keluarkan tenaga untuk Sri Baginda!"

"Benar, Tayjin!" menyambut sembilan orang itu. "Kami bersedia akan dengar sesuatu titah dari Tayjin!"

"Bagus! Sekarang berangkatlah!"

Kaget Sin Cie akan ketahui rombongan itu ada pahlawan-pahlawan dari istana kaisar, apapula mengenai rombongan pahlawan kim-ie-wie, yang ia dengar biasa pergi ke mana­mana untuk celakai orang, siapa kena ditawan katanya bisa kejadian "kakinya dikutungi, kulitnya dikeset", kejamnya bukan main.

"Entah mereka hendak pergi ke mana untuk siksa orang lagi?" pikir pemuda ini. "Dia bertemu denganku, tak dapat tidak aku harus campur-tahu!"

Sebentar kemudian An Tayjin itu keluar bersama orang-orangnya, Sin Cie hitung jumlahnya ada enam-belas dan di antara mereka ada enam orangnya si tayjin sendiri. Ia tunggu sampai orang sudah jalan jauh juga, lantas ia kuntit mereka itu.

Jalanan yang diambil adalah tempat tegalan, yang makin lama makin sunyi, sekira tujuh atau delapan lie, mereka itu lantas bicara kasak-kusuk, setelah mana, mereka pencarkan diri, akan tetapi tujuan mereka adalah sebuah rumah yang mencil sendirian di tempat itu.

Mereka ambil sikap mengurung, di depan dan belakang, di kiri dan kanan. Mereka maju dengan hati-hati, sambil berindap-indap, tanpa menerbitkan suara apa juga. Sin Cie menelad contoh, akan terus bayangi mereka itu, hingga ia pun turut datang dekat kepada rumah yang lagi diarah itu. Mungkin ada orang lihat padanya sebagai bayangan tetapi mungkin juga ia dianggap kawan, hingga ia tidak dicurigai.

Tayjin itu lantas dapat kenyataan, pengurungannya sudah selesai, dengan satu tanda ulapan tangan, ia titahkan semua orangnya mendekam, sesudah itu, ia hampirkan pintu, untuk mengetok.

"Siapa?" demikian pertanyaan dari dalam, dari suaranya seorang perempuan.

An Tayjin tidak segera menjawab, ia diam sebentar. "Kau siapa?" ia balik tanya.

"Oh, kau! Tengah malam buta." Demikian suaranya si orang perempuan pula.

An Tayjin tertawa berkakakan. "Ini dia yang dibilang, bukannya musuh akan berkumpul pula!" sahutnya. "Kiranya kau ada di sini. Lekas kau buka pintu!"

"Aku sudah bilang, tak sudi aku menemui pula padamu!" kata wanita itu. "Kenapa kau datang pula?"

An Tayjin kembali tertawa. "Kau tidak sudi menemui aku, aku justeru kangen dengan nyonyaku!" jawabnya.

"Siapakah nyonyamu?" bentak si wanita, agaknya dia murka. "Satu bacokan golok toh telah membelah kami menjadi dua? Jikalau kau tak bisa lepaskan aku, pergi kau lepas api bakar rumahku ini! Aku lebih suka terbinasa daripada melihat pula kau, orang yang kalap karena sakit jiwa! Kau temahai harta dan pangkat hingga ludas rasa pri-kemanusiaanmu!"

Perhatian Sin Cie luar biasa tertarik mendengar suaranya wanita itu, hingga akhirnya ia terperanjat sendirinya. "Itu toh An Toa-nio!" katanya di dalam hati. "Jadi An Tayjin ini ada suaminya - ayah Siauw Hui?"

An Tayjin cekikikan.

"Bagaimana sengsara aku mencari kau..." katanya. "Bagaimana aku tega membakarmu? Marilah kita hidupkan pula kasih kita yang lama!..." Walaupun dia mengucap demikian, tapi dengan kakinya An Tayjin mendupak pintu, sampai dua kali. Dari suara dupakan itu, Sin Cie bisa duga-duga liehaynya ini tayjin. Karena dupakan yang keras, daun pintu terbuka terpentang, menyusul mana An Toa-nio lompat keluar dengan pedangnya berkelebat menyambar! An Tayjin lompat mundur.

"Bagus, kau hendak bunuh suamimu!" ia berseru. Dia kuatir di dalam rumah masih ada orang lain, tak mau ia menerjang masuk, hanya di situ, dengan tangan kosong, ia melayani si nyonya.

Sin Cie merayap maju, untuk bisa menyaksikan dari dekat.

An Tayjin itu benar liehay, dengan tangan kosong, ia bisa berkelahi dengan tenang, malah sambil kadang-kadang tertawa. Senantiasa ia berkelit dari sesuatu bacokan atau tikaman, tubuhnya gesit dan lincah, hingga dia membuat An Toa-nio, dalam murkanya, jadi bertambah sengit, hingga sambil menyerang terus berulang-ulang, nyonya ini pun mencaci, mendamprat.

An Tayjin tetap tidak perdulikan kemurkaan orang yang ia sebut isterinya itu.

"Setan alas!" menjerit si nyonya, yang membarengi membacok dengan hebat.

An Tayjin berkelit sambil majukan sebelah kakinya, dengan begitu, ia jadi dekati si nyonya, tangan siapa dia lantas sambar, untuk dicekal dan ditekuk, maka di lain saat pedangnya nyonya itu terlepas jatuh, kedua tangannya kena ditelikung, sedang kedua kakinya pun dijepit oleh kedua kakinya si tayjin ini. Secara demikian, matilah kutunya si nyonya.

"Kelihatannya tidak nanti orang she An ini lantas celakai An Toa-nio," Sin Cie berpikir. "Baik aku melihat terlebih jauh sebelumnya aku turun tangan akan menolongi!..."

An Tayjin tertawa bergelak-gelak karena kemenangannya itu, sampai ia meleng beberapa kali, sedang An Toa-nio, dalam murkanya, memaki kalang-kabutan. Justru itu, sebat luar biasa, Sin Cie menyusup ke pojok pintu, dengan tempel tubuh kepada tembok, terus saja ia gunai gerakannya "Pek-houw-yu-chong," atau "Cecak Memain Di Tembok", akan melesat naik ke atas, hingga ia bisa sampaikan penglari di mana ia tempatkan dirinya.

"Ouw Loo Sam, nyalakan api!" teriak An Tayjin.

Rupanya lilin di dalam kamar padam sendirinya selagi si nyonya berkutatan.

Ouw Loo Sam dengar titah itu, dengan api di tangan, ia hampirkan pintu, selagi melongok ke dalam, ia letaki goloknya di depannya, untuk lindungi diri, kemudian ia jumput sepotong batu, untuk menimpuk ke dalam, habis itu ia diam, ia pasang kuping, akan dengar gerak-gerik dari dalam.

Sekian lama, kamar menjadi sunyi saja. Maka sekarang orang she Ouw ini berani bertindak masuk. Paling dulu ia nyalakan lilin di atas meja.

An Tayjin monyongi mulutnya ke arah Loo Sam, atas mana dia ini keluarkan tambang, yang terus dipakai membelenggu tangan dan kaki An Toa-nio.

Kembali An Tayjin tertawa.

"Kau bilang tak sudi kau menemui aku pula!" katanya. "Kau lihat, apakah sekarang aku tidak bertemu pula denganmu? Kau lihat, dengan berapa lembar uban rambutku bertambah!"

An Toa-nio tutup rapat kedua matanya, ia tutup juga mulutnya.

Dari atas penglari, Sin Cie mengawasi An Tayjin itu, hingga ia dapati seorang dengan usia pertengahan tetapi wajahnya tetap cakap dan keren. Rupanya di waktu muda dia cakap sekali sembabat dengan An Toa-nio yang eilok.

An Tayjin usap-usap mukanya An Toa-nio. "Bagus!" katanya sambil tertawa. "Sudah sepuluh tahun kita tidak bertemu, mukamu masih putih bagaikan salju dan halus...."

Tiba-tiba pembesar ini berpaling kepada Ouw Loo Sam. "Pergi kau!" dia mengusir. Loo Sam tertawa, ia ulurkan lidahnya, lantas ia berlalu, dengan rapati pintu di belakangnya. Tayjin itu berdiam sekian lama, lalu ia menghela napas. "Mana Siauw Hui?" katanya. "Selama tahun-tahun yang belakangan ini, setiap hari aku pikirkan saja padanya...." Tetap An Toa-nio tidak perdulikan orang ini. "Dahulu kita masih sama-sama muda, kita menikah dan suka berselisih saja menuruti perangai masing-masing," kata An Tayjin kemudian, "sekarang sesudah ada umur, setelah berpisahan banyak tahun, selayaknya kita ubah adat kita dan hidup pula dengan rukun seperti sediakala...."

Dengan tiba-tiba An Toa-nio membentak: "Kau tahu bagaimana binasanya ayah dan kandaku!"

Tayjin itu menghela napas. "Ayah dan kandamu dibinasakan oleh kim-ie-wie, itulah benar," saaut dia, "akan tetapi tak dapat dengan sebatang gala kejen kau sapu habis orang-orang dalam satu perahu. Di dalam kim-ie-wie juga ada orang-orang yang baik dan busuk. Aku berkerja untuk Sri Baginda Raja, untuk kemuliaan leluhur kita..."

"Fui! Fui! Fui!" An Toa-nio meludah berulang-ulang sebelum orang sempat tutup mulutnya.

An Tayjin berdiam, sampai sekian lama, baru ia bicara pula. "Aku selalu ingat Siauw Hui," katanya. "Aku telah kirim orang untuk sambut dia, mengapa kau menyingkir sana dan menyingkir sini, terus kau tidak ijinkan dia bertemu denganku?"

An Toa-nio sangat jemu tapi ia menjawab juga. "Aku telah beritahukan kepadanya bahwa ayahnya sudah lama menutup mata," jawabnya. "Aku bilang bahwa ayahnya ada gagah sekali dan bersemangat tetapi sayang dia pendek umurnya, mati muda-muda!"

"Ah, mengapa kau dustakan dia?" tanya An Tayjin, suaranya duka. "Mengapa kau sumpahi aku?"

"Ayahnya dahulu adalah satu pemuda yang bersemangat dan baik," kata An Toa-nio.
"Keluargaku larang aku menikah dengannya, akan tetapi atas mauku sendiri, dengan diam-diam aku ikuti padanya, siapa tahu...."

Nyonya ini tak dapat bicara terus, ia menangis sesenggukan.

An Tayjin keluarkan sapu tangannya, akan susuti air mata isterinya, sembari menghiburi, ia dekati mukanya kepada muka si nyonya, atau mendadak dia menjerit seraya berjingkrak, mukanya mengucurkan darah, sebab An Toa-nio telah gigit padanya!

Sin Cie menyaksikan, diam-diam ia tertawa dalam hatinya.

An Tayjin susut mukanya, ia menjadi gusar.

"Kenapa kau gigit aku?" dia menegur.

"Kau telah binasakan suamiku yang baik, kenapa aku tidak boleh gigit padamu?" jawab si nyonya, yang masih sengit. "Aku menyesal aku tak dapat bunuh padamu!"

"Ah, heran!...." kata An Tayjin. "Akulah suamimu, cara bagaimana aku bisa bikin celaka suamimu itu?"

"Suamiku adalah satu laki-laki yang bersemangat!" kata An Toa-nio tetap sengit. "Entah kenapa kemudian dia kena kepincuk oleh harta-dunia dan kebesaran, dia tak kehendaki pula isterinya, dia tak perdulikan pula puterinya, dia cuma ingin pegang pangkat besar, ingin punya harta bertumpuk!... Suamiku dulu itu, yang baik hatinya, sudah mati, sudah mati, tak dapat aku lihat pula kepadanya...."

Sin Cie jadi sangat terharu. Beginilah kiranya lelakon hidup dari nyonya janda yang baik hati itu. Ia pun mau percaya, hati An Tayjin ini tentu tergerak.

An Toa-nio melanjuti kata-katanya. "Suamiku itu bernama An Kiam Ceng. Bukankah ia telah dibinasakan oleh kau, An Tayjin? Suamiku itu mempunyai guru silat yang berbudi, ialah Lookunsu Ciok Toa Too, akan tetapi ia kena dibinasakan oleh An Tayjin yang telah terpincuk pangkat dan harta. Dan isteri dan anak perempuan Ciok Lookunsu itu juga mati karena dipaksa oleh An Tayjin..."

"Berhenti!" An Tayjin membentak. "Aku larang kau sebut-sebut itu pula!"

"…tapi manusia berhati serigala, berpeparu anjing, kau pikir saja sendiri!" An Toa-nio pun membentak.

"Pembesar negeri panggil Ciok Toa Too untuk ditanyai keterangannya," berkata An Tayjin ini, "belum pasti dia bakal dibikin celaka, maka kenapa ia gunai goloknya hendak membinasakan aku? Kalau isteri dan anak daranya bunuh diri sendiri, siapa yang mesti dipersalahkan?"

"Memang, memang Ciok Toa Too matanya buta!" seru An Toa-nio. "Kenapa dia didik satu murid yang demikian jempol? Murid itu telah kedinginan, ia kelaparan, ia tinggal mampusnya saja, akan tetapi Ciok Toa Too dengan sungguh-sungguh telah ajarkan ia ilmu silat, telah rawat ia hingga umur dewasa, malah kemudian ia telah dinikahkan..."

An Toa-nio jadi semakin sengit, hingga An Tayjin keprak meja.

"Hari ini kita suami-isteri bisa bertemu pula, mengapa kau timbulkan soal-soal lama?" tegurnya.

"Jikalau kau hendak bunuh aku, bunuhlah!" An Toa-nio menantang. "Aku hendak sebut­sebut pula semua kejadian dulu itu, habis apa kau mau?"

Sin Cie berpikir. Menurut An Toa-nio ini, jadinya An Kiam Ceng telah ditolong gurunya dari bahaya kedinginan dan kelaparan, lalu dididik, tapi setelah ia dapat berdiri sendiri, ia kemaruk harta dunia dan gila pangkat, hingga untuk itu, dia sampai binasakan gurunya sendiri, sampai keluarganya sang guru turut binasa semua karenanya. Maka itu, pantas An Toa-nio jadi gusar dan putuskan perhubungan suami-isteri dengannya. Dahulu An Toa-nio tinggal menyendiri, sampai Ouw Loo Sam mencoba culik Siauw Hui, lantas dia menyingkir sana dan menyingkir sini, rupanya dia mau menyingkir dari suaminya ini, satu manusia buruk.

"Dia ini harus menjadi bagian mati..." pikir Sin Cie terlebih jauh. "Ketika dahulu dia celakai gurunya sekeluarga, keadaan pasti sangat menyedihkan. Sayang tak dapat aku segera hajar dia mampus sekarang juga. Entah bagaimana pikiran yang sebenarnya dari An Toa-nio, maka tak dapat aku berlaku semberono...."

Karena ini, ia berdiam terus di atas penglari, akan pasang mata dan kupingnya lebih jauh.

Untuk sementara, suami-isteri itu berdiam masing-masing.

Selagi kamar ada sunyi, tiba-tiba samar-samar terdengar suara tindakan kaki kuda, atas itu An Kiam Ceng geser ciaktay ke jendela, terus dia cabut goloknya, kemudian dengan pelahan dia mengancam: "Kalau sebentar orang datang, kau berani bersuara memberi tanda, untuk minta pertolongan, aku bakal tak perdulikan lagi perhubungan kita sebagai suami-isteri!"

An Toa-nio tidak jawab suaminya itu.

An Tayjin ketahui baik tabeat isterinya ini, maka ia potong sejuir kelambu, dengan itu ia sumpel mulut orang. Ketika suara tindakan kuda datang semakin dekat, Kiam Ceng angkat tubuh isterinya, untuk dipindahkan ke pembaringan, habis itu, kelambunya dia turunkan. Ia sendiri lantas saja sembunyikan diri di belakang pembaringan.

Sin Cie saksikan semua kejadian di depan matanya itu. Ia tahu, An Kiam Ceng bersedia untuk bokong orang yang bakal datang ke dalam rumahnya An Toa-nio ini. Belum tahu siapa orang itu, tetapi pemuda kita menduga, dia mesti ada penolong si nyonya. Maka ia pun siap sedia akan tolongi An Toa-nio serta penolongnya nyonya ini.

Anak muda kita lantas kumpuli debu di penglari, lalu ia ludahi itu dan aduk-aduk hingga rata, hingga debu itu merupakan sepotong tanah lempung, kemudian tanpa bersangsi lagi, ia menimpuk ke arah lilin, hingga apinya padam seketika, hingga kamar jadi gelap-petang.

Di dalam hatinya, An Tayjin mengutuk.

Dalam gelap-gulita itu, Sin Cie loncat turun dari atas penglari. Tak mau ia tunggu sampai si tayjin menyulut api pula. Ia bertindak ke pintu, untuk pergi ke luar, tanpa ada orang yang lihat padanya. Dengan mutar sedikit, ia sampai di ujung rumah di mana ada satu pahlawan kim-ie-wie sedang mendekam dengan golok di tangan, matanya terus-menerus diarahkan ke pintu rumah.

Dengan hati-hati, Sin Cie merayap mendekati.

"Ada orang!" kata ia dengan pelahan.

"Oh!..." pahlawan itu gugup. "Mendekam!" ia peringati kawan-kawannya.

Sementara itu, Sin Cie telah ulur tangannya, untuk menotok, maka di lain saat, pahlawan itu tak mampu bergerak lagi. Dengan cepat pemuda ini buka baju seragamnya orang itu, untuk ia pakai. Guna menutupi mukanya, ia robek bajunya orang itu. Ia menutup muka dengan kedua mata dibikin bisa melihat. Kemudian, dengan pondong tubuh si pahlawan, ia merayap ke samping pintu.

Di dalam gelap-gulita, suara derapnya kuda terdengar semakin nyata. Sebentar kemudian, lima ekor kuda telah sampai di depan rumah, lalu tujuh orang berlompat turun.

Segera terdengar tepukan tangan tiga kali, suaranya pelahan, datangnya dari luar rumah. Dari dalam, An Tayjin menyambut dengan tiga kali tepukan tangan juga. Habis itu, dia nyalakan lilin, ia sendiri segera sembunyi di belakang pintu.

Dibarengi dengan suara menjeblak daun pintu lantas terpentang sedikit, menyusul mana, satu kepala orang melongok ke dalam rumah.

Dengan sebat An Tayjin membacok, kepala orang itu kutung, darahnya menyembur dari lehernya, tapi kapan di antara cahaya api si tayjin mengawasi, ia terkejut bukan main. Ternyata orang yang ia bunuh ada orangnya sendiri, satu pahlawan kim-ie-wie. Karena ini, ia hendak menjerit, akan kaoki sekalian kawannya.

Tiba-tiba, sebelum An Tayjin keburu buka mulut, satu orang berlompat masuk. Dia tutup mukanya dengan topeng. Cepat luar biasa, dia ulur tangannya ke tubuh si tayjin, hingga tayjin ini kena tertotok tanpa berdaya. Menyusul itu, dengan satu sampokan dengan tangannya yang lain, Sin Cie totok jalan darah "tay-twie-hiat" hingga An Tayjin berdiri tanpa bergeming. Lalu, bekerja lebih jauh dengan tidak kurang sebatnya, pemuda ini sambuti golok orang itu, untuk diletaki di lantai.

An Kiam Ceng pandai bugee, ia terima pendidikan untuk belasan tahun dari Ciok Toa Too, guru silat yang kesohor, kemudian setelah pangku jabatan, belum pernah ia alpa akan terus melatih diri, karena ia memikir untuk naik pangkat dan naik pangkat, ambekannya besar. Tapi, menghadapi Sin Cie, justru ia lagi kaget, ia tak dapat berdaya sama sekali, maka dengan gampang ia rubuh sebagai korban.

Setelah itu, Sin Cie lompat ke pembaringan, untuk kasi bangun pada An Toa-nio. Dengan keluarkan sedikit tenaga, pemuda ini putuskan tambang belengguan di kaki dan tangan.

"Encim An, aku datang menolongi kau!" ia kata dengan pelahan kepada si nyonya, supaya nyonya itu ketahui dan tak kaget atau curiga.

An Toa-nio kaget berbareng girang. Ia kenali suaranya anak muda itu. Hanya ia terkejut akan saksikan orang punya seragam kim-ie-wie, sedang mukanya ditutupi topeng.

"Kau siapa, Tuan?" tanyanya, ragu-ragu.

Baru nyonya itu menanya demikian, mendadakan ada dua bayangan yang melompat menerjang masuk ke dalam, bayangan itu masing-masing mempunyai dua tangan yang berbulu, sedang mulutnya perdengarkan pekik. Terus saja mereka tubruk Sin Cie.

Anak muda ini terkejut, ia berbalik, untuk menangkis, akan tetapi kapan ia tampak kedua bayangan itu adalah orang-orang hutan, ia menjejak dengan kedua kakinya, akan mencelat naik ke penglari.

Di belakang kedua orang hutan itu menyusul lima orang, satu di antaranya, yang masuk paling dulu, sudah panggil An Toa-nio. Si nyonya menyahuti. Tapi orang itu lantas juga berdiri tercengang.

Sin Cie sendiri segera kenali, kedua binatang liar itu adalah dua orang hutannya yang ia pelihara di atas gunung Hoa San, hingga ia jadi sangat girang.

"Tay Wie! Siauw Koay!" ia segera memanggil.

Kedua binatang itu telah dapat cium bau majikannya, maka itu keduanya mendahului menerjang masuk ke dalam, mereka tubruk si anak muda, bukan untuk diserang, tapi majikannya lompat naik ke penglari, atas panggilan itu, mereka pun turut menyusul ke atas penglari, keduanya peluki majikan itu.

Orang-orang yang menyerbu masuk itu heran melihat ada mayat pahlawan di dalam rumah itu, mereka juga tak mengerti sikapnya kedua orang hutan itu, maka juga, mereka tercengang.

Di luar, kawanan pahlawan kim-ie-wie lihat orang datang, mereka kuatirkan keselamatan An Tayjin, yang berada sendirian di dalam, maka itu, dua di antaranya lari ke pintu, untuk menerjang masuk.

"Hajar!" berseru Sin Cie.

Ini ada seruan yang biasa si anak muda perdengarkan di waktu dia latih dua binatang piaraannya itu. Sudah lama kedua orang hutan itu tidak pernah dengar suara majikannya ini, toh mereka masih ingat dengan baik, maka keduanya lantas loncat turun, tepat di atasannya dua pahlawan, kedua kakinya merangkul, kedua tangannya menyambar ke lehernya masing-masing pahlawan itu. Maka itu, kapan terdengar suara meretek, patahlah leher hamba-hamba istana itu, tubuhnya dilepaskan dan jatuh.

Menyusul kedua pahlawan itu, menerobos masuk kawan-kawan mereka.

Sekarang Sin Cie sudah lompat turun, dia sambar sesuatu orang untuk dilemparkan kembali ke luar. Ada beberapa pahlawan, yang bisa melawan beberapa jurus, mereka pun akhirnya kena dilemparkan, ada yang kena ditoyor, ada yang kena ditendang. Maka di lain saat, semua pahlawan itu menjadi pusing kepala dan mata kabur, terpaksa mereka berbangkit bangun, untuk kabur.

Selama kejadian itu, lima orang yang tadi nerobos masuk diam saja menyaksikan juga kedua orang hutan.

Sin Cie robek bajunya satu pahlawan, ia pakai itu untuk belenggu An Kiam Ceng, untuk tutup mata dan kupingnya, agar dia tak melihat suatu apa, tak dengar apa juga, kemudian baru ia singkirkan topengnya dan baju seragam, akan hadapi lima orang itu sambil bersenyum.

"Lie Ciangkun, banyak baik?" menegur dia sambil tertawa kepada salah satu orang. "Apakah Giam Ong pun ada banyak baik?"

Orang yang ditanya itu tercengang, ia mengawasi, akhirnya dia tertawa berkakakan, tangannya menyambar tangan si anak muda, untuk digoyang-goyang.

Lie Ciangkun itu ada Lie Gam, orang sebawahannya Giam Ong.

Maka pertemuan itu sangat menggirangkan mereka semua.

"Encim An, apakah encim masih kenali aku?" tanya Sin Cie kemudian sambil berbalik, akan pandang nyonya An.

Sebelas tahun telah berselang sejak Sin Cie menumpang pada An Toa-nio, maka sekarang, setelah ia jadi satu pemuda yang cakap dan gagah, Toa-nio tidak bisa lantas kenali dia, hingga ia mesti asah otaknya.

Sin Cie rogoh sakunya, akan keluarkan gelang emas pemberian nyonya itu, sambil tunjuki itu kepada si nyonya, ia kata: "Setiap hari aku bawa-bawa ini di tubuhku, maka untuk selama-lamanya tak aku lupakan Encim!"

Baru sekarang nyonya itu ingat betul, ia tarik tangan orang itu akan bawa muka si anak muda ke dekat lilin, hingga ia tampak samar-samar luka bekas golok di ujung alis sebelah kiri dari si anak muda.

"Ah, Anak!" seru dia, kaget dan girang. "Kau telah jadi begini besar, ilmu silatmu liehay sekali?..."

"Aku pernah ketemu adik Siauw!" Sin Cie bilang.

"Ya, tanpa merasa, anak-anak telah jadi besar," kata si nyonya, seperti pada dirinya sendiri. "Sungguh cepat lewatnya sang waktu!...."

Kemudian nyonya ini pandang suaminya, yang rebah di lantai, ia menghela napas.

"Tidak kusangka, Anak, kaulah yang tolongi aku," kata dia pula.

Lie Gam tak tahu hubungan di antara si nyonya dan si anak muda, mendengar nyonya itu berulang-ulang menyebut "anak, anak", dia sangka mereka ada sanak dekat satu dengan lain.

"Kejadian ini sungguh berbahaya!" kata dia kemudian sambil tertawa. Lalu dia tambahkan pada Sin Cie: "Atas titahnya Giam Ong, aku datang ke Hoopak untuk bikin pertemuan dengan beberapa kawan. Entah bagaimana, liehay kupingnya kawanan kim-ie-wie, mereka dengar tentang kami, lantas mereka siap-sedia di sini untuk bokong kami."

"Apakah sahabat-sahabat itu telah pada datang?" Sin Cie tanya.

Itu waktu, sebelum Lie Gam menjawab, terdengar suara berlari-larinya beberapa ekor kuda.

"Nah, itulah mereka!" kata jendral ini.

Beberapa pengiring Lie Ciangkun pergi keluar, tidak lama mereka bersama tiga orang, yang masing-masing ada orang she Lee, Hoan dan Hauw, semua jago dari Hoopak, dan dengan mereka itu, Sin Cie pernah bertemu di rumah Beng Pek Hui. Sesudah beri hormat pada Lie Gam, ketiga orang itu hampirkan Sin Cie, secara menghormat sekali, mereka menjalankan kehormatan kepada pemuda ini.

"Bengcu! Adakah Bengcu banyak baik?" kata mereka.

Heran Lie Gam menyaksikan itu.

"Kamu telah kenal satu pada lain?" tanya dia.

"Wan Bengcu adalah ketua pusat dari tujuh propinsi, kami semua mendengar titah­titahnya," sahut si orang she Hauw.

"Oh, begitu?" kata jendral itu. "Untuk membantu Giam Ong, aku senantiasa sangat repot di Shoasay, sampai segala kabaran dari Timur seperti terputus bagiku. Aku tidak sangka telah terjadi musyawarah besar itu. Inilah menggirangkan, kamu harus diberi selamat!"

"Itu adalah kejadian baru satu bulan yang lampau," terangkan Sin Cie. "Sekalian sahabat baik telah memandang mata padaku, mereka telah berikan aku itu macam panggilan. Sebenarnya aku masih terlalu muda, tak sanggup aku menerimanya...."

"Ilmu silat Wan Bengcu liehay dan ia cerdik dan cerdas juga," berkata si orang she Hoan. "Umpama kita tidak menyebutkannya tiga sifat itu, kemurahan hati dan pribudi tinggi Bengcu siapakah di dalam dunia Rimba Persilatan yang tidak menghargainya?"

"Itulah bagus, bagus!" kata Lie Gam dengan girang. Kemudian dia utarakan titahnya Giam Ong.

Nyata Giam Ong telah melihat suasana, ia percaya bahwa telah datang saatnya untuk maju ke kota raja, maka ia merencanakan tanggal-bulannya untuk menyerang Tongkwan, dari itu, ia utus Lie Gam memasuki Hoopak secara rahasia, untuk menghubungi pelbagai kawan seperjuangan, supaya mereka itu nanti membarengi menyambut di waktu ia mulai angkat senjata.

"Nah, bagaimana Bengcu niat bertindak?" tanya si orang she Lee.

"Gerakan Giam Ong ada gerakan mulia, orang-orang gagah di seluruh negeri harus menyambutnya," sahut Sin Cie. "Aku akan segera menyampaikan pelbagai berita ke segala penjuru. Ini adalah saatnya untuk semua enghiong di tujuh propinsi mendirikan jasa!"

Mereka menjadi girang sekali, begitupun Lie Gam, maka itu, mereka lantas pasang omong lebih jauh dengan gembira.

"Tentara Beng telah jadi buruk sekali," menyatakan Lie Gam. "Aku percaya begitu lekas tentara kemerdekaan sampai, mereka bakal jadi seperti rumput-rumput kering yang dicabuti, usaha kita akan sama gampangnya seperti membelah bambu. Cuma sekarang muncul satu soal baru, yang sulit...."

"Apakah itu, Ciangkun?" tanya Sin Cie.

"Baru saja aku terima laporan penting," jawab Lie Gam, "Aku dengar bahwa sepuluh buah meriam besar buatan asing hendak diangkat ke Tong-kwan, untuk diberikan kepada Sun Toan Teng. Orang she Sun itu memang pandai mengatur bala tentara, tapi dia masih kalah terhadap Giam Ong, yang berbahaya adalah itu sepuluh buah meriam yang hebat sekali..."

Terkejut Sin Cie mendengar keterangan itu.

"Siauwtee sendiri pernah lihat itu sepuluh buah meriam besar di tengah perjalanan," berkata dia. "Memang, dilihat dari macamnya, meriam-meriam itu mesti liehay sekali. Jadi itu bukan untuk dikirim ke Sanhay-kwan buat hajar bangsa Boan?"

Dari tempat jauh ribuan lie, meriam-meriam itu diangkut kemari, memang tujuan asalnya adalah Sanhay-kwan," sahut Lie Gam. "Akan tetapi tentang pergerakan Giam Ong, Kaisar Cong Ceng telah mendengar kabar, bahwa mereka rupanya telah ubah haluan. Menurut warta yang aku baru terima, semua meriam itu hendak dibawa ke Tongkwan."

Sin Cie kerutkan alis.

"Memang adalah kebiasaan raja-raja Beng, mereka menjaga gerakan rakyatnya lebih hebat daripada mereka menjaga serangan-serangan bangsa asing," ia kata. "Kalau tidak demikian, tidak nanti ayahku terbinasa karenanya. Lie Ciangkun, bagaimana sekarang kau hendak bertindak?"

"Jikalau kita tunggu sampai meriam-meriam itu telah diangkut sampai di Tongkwan," mengutarakan Lie Gam, "penyerangan kita di sana adalah sama dengan darah-daging dipakai menggempur besi-baja, meski umpama kata kita tidak bakal kalah, sudah terang pengorbanan mesti besar sekali...."

"Kalau begitu, perlu kita mendahului, untuk merebutnya di tengah jalan!" Sin Cie bilang.

Lie Gam tepuk tangan saking girang.

"Saudara Wan," katanya, "dalam hal ini aku mengandal kepadamu untuk kau dirikan jasa istimewa!"

Tapi Sin Cie berdiam, ia berpikir keras.

"Senjata api dari bangsa asing itu sangat liehay, untuk rampas meriam-meriam besar itu, perlu kita menggunakan tipu-daya," katanya. "Sulit juga untuk ditetapkan dari sekarang apa ikhtiar kita bakal berhasil atau tidak.... Tapi ini adalah urusan sangat penting, aku nanti mencoba sebisa-bisanya. Semoga dengan mengandali rejeki Giam Ong, aku akan berhasil. Itu pun ada untuk kebahagiaan rakyat!"

Sampai di situ, mereka lalu bicara tentang gerakan tentara mereka, akan kemudian Lie Gam suruh salah satu pengiringnya keluarkan sebilah pedang dari dalam pauwhok mereka. Itulah Kim-coa-kiam. Dengan kedua tangannya sendiri, Lie Gam serahkan pedang itu kepada Sin Cie.

"Saudara Wan," berkata dia, "sejak pertemuan kita di Siamsay, walaupun kita tak berkesempatan untuk bicara banyak, aku toh telah ketahui, kau adalah satu pemuda yang berarti, maka ketika kau titipkan pedangmu ini kepadaku, tidak pernah aku pisahkan diri dari senjata ini. Sebenarnya ketika itu aku rada-rada sangsi, aku berkuatir untuk usiamu yang masih muda sekali, sebab kau kurang pengalaman. Jikalau kau berkelana dengan bawa-bawa pedang yang luar biasa ini serta dua binatang piaraanmu, aku kuatir kau menjadi terlalu menyolok mata, kau bisa diperdayakan atau dicelakai orang. Akan tetapi sekarang buktinya lain. Kau masih muda sekali tapi toh kau telah berhasil secara luar biasa! Maka sekarang pedang ini dan kedua orang-hutan aku kembalikan kepada tuannya!"

Dengan hormat, Sin Cie sambuti pedangnya itu, ia pun mengucap terima kasih.

"Isteriku telah dengar tentang kau, saudara Wan, ia menyesal tak dapat menemui kau," Lie Gam kata pula kemudian. "Ketika itu isteriku tidak berada di Siamsay, akulah yang memberitahukan dia."

"Satu kali pasti aku akan membuat kunjungan," Sin Cie bilang.

"Isteri dari Lie Ciangkun adalah orang gagah dalam kalangan wanita," An Toa-nio campur bicara. "Orang Kang-ouw beri ia julukan Ang Nio Cu. Dia tidak melainkan cantik, ilmu silatnya pun sempurna. Eh, Anak, sudahkan ada orang yang menjadi cita-cita kawan hidupmu?"

Tiba-tiba saja Sin Cie ingat Ceng Ceng, wajahnya menjadi berubah merah. Ia tidak menjawab, ia cuma bersenyum.

"Entah nona siapa yang mempunyai rejeki untuk mendampingimu, Anak," kata pula si nyonya sambil menghela napas. "Kau begini cakap dan gagah. Ah...."

Toa-nio lantas ingat gadisnya, hingga ia berpikir: "Siauw Hui dan dia hidup sama-sama semasa kecil, berdua mereka pun telah sama-sama mengalami ancaman bencana, coba dia menjadi baba-mantuku, pasti hidupnya Siauw Hui telah ada jaminannya. Sayang Siauw Hui, dia justru mencintai Cui Hie Bin yang tolol-tololan! Dasar peruntungan masing-masing....."

Melihat orang bicara urusan pribadi, Hoan, Lee dan Hauw tak ingin campur omong, maka mereka lantas berbangkit, untuk pamitan. "Wan Bengcu," kata si Hoan, "besok pagi kami bertiga akan siapkan saudara-saudara kami untuk menantikan segala titahmu."

"Baik, Sam-wie!" sahut Sin Cie. Seberlalunya tiga orang itu, Sin Cie melanjuti pasang omong dengan Lie Gam, mengenai usaha mereka, mengenai sesama orang gagah, hingga persahabatan mereka jadi tambah kekal, hingga agaknya mereka menyesal tak bertemu terlebih siang daripada itu. Mereka bicara dengan asyik, sampai sang fajar datang, hingga ayam-ayam jago telah berkokok saling-sahutan. Satu kali kedua orang ini menoleh kepada An Toa-nio, kelihatan nyonya itu, sambil bertopang dagu, lagi mengawasi dengan bengong kepada suaminya....

"An Toa-nio!" Lie Gam lalu memanggil, dengan pelahan. Nyonya itu angkat kepalanya. "Bagaimana hendak diperbuat terhadap orang ini?" Lie Gam tanya. Nyonya itu masih kacau pikirannya, ia menggeleng kepala, tak dapat ia menjawab. Lie Gam tahu orang sedang bingung, ia tidak mendesak menanya. "Saudara Wan, sudah waktunya kita berpisah," kata ia kepada Sin Cie.

"Aku nanti antarkan Ciangkun," Sin Cie bilang. Mereka manggut kepada An Toa-nio, lalu dengan bergandengan tangan, sambil berendeng, mereka bertindak keluar. Pengiring-pengiringnya Lie Gam, serta kedua orang hutan, lantas mengikuti. Di sepanjang jalan, masih saja kedua orang ini pasang omong, hingga mereka telah melalui tujuh atau delapan lie.

"Mengantar sampai seribu lie juga, akhirnya orang toh mesti berpisah," kata Lie Gam, "maka, Saudara, silakan kau kembali." Wan Sin Cie bersangsi, agak berat rasanya untuk ia pisahkan diri.

Mendadak, Lie Gam berkata: "Kita ada sahabat-sahabat baru tetapi mirip dengan sahabat­sahabat kekal, maka jikalau kau tidak menampik, sukakah kau untuk kita angkat saudara?"

Sin Cie setuju, ia malah girang sekali.

"Akur!" ia menyatakan.

Di situ juga, di tepi jalan, mereka berdua lantas menjalankan upacara angkat saudara, sebagai gantinya hio, mereka memakai tanah lempung. Sin Cie panggil koko atau kanda kepada jendral itu.

Habis itu, masih mereka bicara seketika lama sebelum mereka berpisahan, keduanya sangat terharu hingga mata mereka mengembeng air mata...

Sin Cie awasi saudara itu dan pengiring-pengiringnya naik kuda, dan pergi, baru ia ajak Tau Wie dan Siauw Koay berjalan pulang ke hotel, begitu ia sampai, di sana Hoan, Lee dan Hauw telah menantikan dia, bersama mereka bertiga ada beberapa puluh kawannya yang semua kelihatannya bersemangat. Karena itu, ruang besar dan perkarang hotel jadi seperti penuh dengan mereka itu. Sebaliknya Ceng Ceng, A Pa, Ang Seng Hay dan lainnya, tak tertampak di dalam hotel itu.

Berbareng dengan itu Sin Cie dapat kenyataan semua pengiringnya A Kiu berkumpul di dalam kamar mereka, mereka tidak kasi kentara apa-apa, tidak pernah ada yang keluar dari kamar. Rupanya mereka ambil sikap ini karena mereka tampak demikian banyak orang.

Sin Cie tahu, orang-orangnya si nona adalah pelbagai sie-wie atau pahlawan istana, ia pun tak perdulikan mereka.

"Hoan Toako," kemudian ia kata kepada si orang she Hoan, yang bernama Hui Bun, "tolong kau ajak beberapa saudara pergi ke selatan akan cari tahu, orang-orang asing itu serta semua meriamnya menuju ke utara atau ke selatan. Harap kau lekas pergi dan lekas kembali!"

Thanks for reading PEDANG ULAR MAS 27

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar