Home » » PEDANG ULAR MAS 28

PEDANG ULAR MAS 28

Kim Coa Kiam - Jilid 27

Jilid 28

Hoan Hui Bun terima tugas itu, ia lantas pilih tiga kawan, yang ia ajak pergi keluar, lalu dengan menunggang kuda, mereka pergi menjalankan tugasnya.

Baru Hui Bun pergi, atau See Thian Kong muncul bersama Thia Ceng Tiok. Girang mereka lihat si anak muda, yang tak kurang suatu apa.

"Oh, Wan Siangkong, kau telah kembali!" kata mereka.

Belum lagi Sin Cie sempat menyahuti, atau di situ muncul Ceng Ceng bersama A Pa, rambutnya si nona kusut bekas tertiup angin, mukanya bersemu merah. Nona itu tampaknya girang, akan tetapi lekas juga, dia kerutkan alisnya.

"Kenapa kau baru kembali?" tanya dia, agaknya menyesali.

Sekarang Sin Cie tahu ke mana perginya kawan-kawan itu, nyata mereka kuatiri ia dan pergi mencari. Ia terharu untuk Ceng Ceng, yang romannya kusut. Maka ia lantas ajak nona itu ke kamarnya di mana ia tuturkan pengalamannya tadi malam.

Ceng Ceng tunduk, tak sepatah kata ia ucapkan.

Si anak muda lihat sikap orang itu.

"Aku telah membuat kau berkuatir," katanya dengan pelahan.

Masih Ceng Ceng diam, dia malah melengos. Sin Cie tahu orang marah tapi ia tak tahu sebabnya. "Baru saja aku angkat saudara sama satu enghiong besar," katanya kemudian. "Adik Ceng, kau dapat tambah satu koko...."

Karena kebiasaan, masih Sin Cie memanggil "adik" - adik lelaki - kepada si nona Hee.

Panggilan ini agaknya menyukai Ceng Ceng. "Satu koko sudah tidak punya liangsim, buat apa tambah koko lagi...." katanya.

"Aku bikin kau berkuatir, Adik Ceng, baiklah, aku janji, lain kali aku tidak akan membuatnya pula," Sin Cie bilang.

"Lain kali adalah lain orang yang akan kuatirkan dirimu!" kata si nona. "Kenapa aku mesti kuatirkan kau?...."

"Eh, siapakah dia itu?" Sin Cie tanya. Ceng Ceng tidak menyahut.

"Itu wanita asing!" sahut Ceng Ceng dan bangkit untuk banting kakinya, terus ia pergi ke kamarnya sendiri. Sampai tengah-hari, dia tidak keluar lagi, malah dia tidak dahar juga. Sin Cie perintah jongos bawakan barang makanan. Ia menduga-duga, kenapa nona itu agaknya gusar, ia mau menemui pula, untuk minta maaf kalau perlu. Ia percaya, si nona bermaksud baik sudah berkuatir atas dirinya. Tapi jongos kembali dengan barang makanan masih utuh.

"Si nona tidak ada di dalam kamarnya," kata jongos itu.

Sin Cie terkejut. "Inilah hebat," pikirnya. Maka ia letaki sumpitnya, ia lair ke kamar Ceng Ceng. Benar-benar ia dapati sebuah kamar kosong, kosong juga dari pauwhok dan senjatanya si nona. "Ha, ke mana dia pergi?" Dalam bingungnya, anak muda ini berpikir keras. "Dia ngambek. Ke mana dia pergi? Dia pandai silat, tetapi dia gampang menghadapi bahaya.... Aku lagi bertugas, bagaimana aku bisa susul dia?"

Akhirnya terpaksa pemuda ini keluar, akan minta tolong Ang Seng Hay pergi mencari. Dia pesan pengikut ini untuk baru kembali setelah mengetahui jelas di mana adanya si nona. Seng Hay terima tugasnya, dia lantas berlalu.

Mendekati magrib, Hoan Hui Bun pulang. Begitu memasuki pintu, dia kata dengan kesusu: "Benar-benar barisan meriam asing itu memutar ke selatan! Mari kita susul mereka!"

Sin Cie lompat bangun. "Mari!" katanya. Ia cuma tinggalkan A Pa dan kedua orang-hutan, akan menunggui kamar, lantas ia ajak semua kawannya pergi menyusul. Thia Ceng Tiok, See Thian Kong, Ouw Kui Lam dan Thie Lo Han turut bersama. Mereka kaburkan kuda mereka di malam yang gelap, terus-terusan. Mereka percaya, karena lerotan meriam jalannya ayal, mereka bakal dapat menyandak. Kemudian seterusnya di waktu malam, mereka singgah, untuk bersantap dan tidur, atau pagi-pagi sekali, mereka sudah berangkat pula.

Di hari ketiga, pagi-pagi, setelah lewati sebuah dusun kecil, Sin Cie beramai lihat sepuluh buah meriam besar sedang ditunda di depannya satu rumah makan, setiap meriamnya dijaga oleh enam serdadu dengan senapan di tangan.

"Sudah lapar, aku sudah lapar!" kata Thie Lo Han berulang-ulang.

"Baiklah, sebentar saja kita ketemukan dua opsir asing itu," jawab Sin Cie.

Berdelapan mereka hampirkan rumah makan, untuk terus naik ke loteng. Thie Lo Han adalah yang jalan di muka, tetapi begitu lekas dia muncul di atas loteng itu, dia keluarkan seruan tertahan.

Ceng Ceng berada di situ, beberapa serdadu asing sedang ancam dia dengan senapan mereka, jeriji tangan mereka mengenakan pelatuk, yang tinggal ditarik saja. Duduk di kursi ada Peter dan Raymond serta si juwita asing, Catherine.

Menampak datangnya beberapa orang itu, Raymond mengucapkan kata-kata yang tak dimengerti Sin Cie beramai, atas mana beberapa serdadu lain yang tujukan senapan mereka kepada orang-orang yang baru datang ini.

"Angkat tangan!" demikian kira-kira titah serdadu-serdadu itu, yang berseru.

Sin Cie sudah lantas bertindak, ia sambar sebuah meja, dengan apa ia terjang serdadu­serdadu itu, lalu ia menyusuli dengan meja yang kedua, setelah mana, ia lompat kepada Ceng Ceng, sambil tekan kepala si nona, ia mendek jongkok. Perbuatannya ini diturut si nona demikianjuga kawan lainnya.

Tembakan segera terdengar dar-der-dor, tetapi peluru semua lewat di atasan kepala, asapnya mengepul, antaranya ada juga yang mengenai meja.

"Turun!" teriak Sin Cie, sambil ia sendiri tarik Ceng Ceng, untuk diajak lompat ke tangga, untuk segera loncat turun, perbuatan mana diturut kawan-kawannya, yang pada loncat keluar dari jendela.

Raymond gusar, dia keluarkan pistolnya dengan apa dia menembak.

"Aduh!" teriak Thie Lo Han, yang tertembak kempolannya. Saking sakit, dia rubuh. Tapi See Thian Kong sambar ini kawan, untuk dibawa lari terus keluar, akan di lain saat mereka sudah kabur bersama kuda mereka.

Pada masa itu, senapan masih senapan model kuno, setelah dipakai menembak satu kali, tak bisa diulangi dengan cepat, selama serdadu-serdadu itu mengisi pula orang telah lari jauh, benar mereka bisa menembak pula tetapi tidak ada hasilnya.

Sin Cie duduk di atas seekor kuda bersama Ceng Ceng.

"Kenapa kau bentrok dengan mereka itu?" tanya pemuda ini.

"Siapa tahu....?" sahut si pemudi, yang romannya jengah.

Sin Cie bisa duga orang malu, dia bersenyum, dia tidak menanya lagi, hanya dia larikan kudanya keras-keras, diikuti oleh semua kawan-kawannya. Sesudah lari jauhnya dua-puluh lie lebih, semua orang tahan kuda mereka, untuk berhenti, akan beristirahat. Ouw Kui Lam segera gunai pisau kecil, untuk tolong Thie Lo Han keluarkan peluru yang masuk ke dalam daging kempolannya, hingga dia ini berkaok-kaok dan mengumpat-caci kalang-kabutan, saking menahan sakit.

Terharu Ceng Ceng menampak "tersiksanya" kawan itu. Sebab ialah yang menjadikan gara-gara. Ia tarik Sin Cie ke samping, untuk kata dengan pelahan sekali kepada anak muda ini: "Siapa suruh dia dandan bagaikan siluman, bahunya dipertontonkan sekalian! Tak tahu malu...."

Sin Cie heran, tak mengerti dia. "Kau maksudkan siapa?" tanyanya.

"Itu wanita asing!" sahut Ceng Ceng.

"Oh!" si anak muda heran. "Apakah halangannya dia denganmu?"

"Tak sedap aku pandang dia! Maka dengan dua potong uang, aku hajar rusak anting­antingnya!" jawab si nona.

Sin Cie tertawa geli. "Ah, kau benar-benar jail!" katanya.

"Habis?" Ceng Ceng tertawa. "Opsir asing pecundangku itu segera kenali aku, dia lantas titahkan serdadu-serdadunya ancam aku dengan senapan mereka. Tak mengerti aku apa katanya opsir itu, aku menyangka dia hendak tantang aku untuk adu pedang pula. Tentu saja, aku bersedia untuk sambut tantangan itu. Adalah waktu itu, kamu semua muncul!"

"Apa sebabnya kau keluar sendirian?" Sin Cie tanya.

Wajah nona Hee bersenyum, atau sedetik kemudian, wajah itu berubah menjadi keren. "Hm, kau masih tanya aku?" baliki dia. "Apakah kau tak insyaf perbuatanmu sendiri?"

Tentu saja pemuda ini tak mengerti. "Aku tidak mengerti," katanya. "Apakah yang aku telah perbuat?"

Ceng Ceng melengos, ia tak menjawab. Sin Cie kenal tabeat orang, percuma ia menanya terus, tidak nanti nona ini ladeni dia. Ia anggap baiklah ia bersikap tak memperdulikannya terlebih jauh. Ia percaya, lama-lama si nona bakal timbulkan itu sendirinya. Maka ia menukar lain soal. "Adik Ceng, senjata api asing itu demikian liehay, coba kau pikir, cara apa kita harus gunai untuk rampas meriam-meriam besar mereka itu?"

"Siapa bicara tentang ini?" tanya si nona, agaknya mendongkol.

"Baiklah, kalau begitu, aku nanti bicara sama See Thian Kong beramai saja," kata Sin Cie, yang terus putar tubuhnya.

Ceng Ceng tarik ujung baju orang. "Aku larang kau pergi!" katanya. "Kita belum bicara habis...."

Sin Cie tertawa, ia duduk. Ceng Ceng berdiam sekian lama, baru ia buka mulutnya.

"Bagaimana dengan adik Siauw Huimu?" tanya dia.

"Sejak itu hari kita berpisah, aku tak bertemu lagi dengannya," jawab Sin Cie. "Siapa tahu dia berada di mana sekarang?"

"Kau berdiam bersama ibunya, satu malam kamu bicara asyik sekali, seperti tak hendak berpisahan, tentu kamu bicarakan tentang dia...." kata nona dengan tabeat kukoay ini.

Mendengar ini, baru sekarang Sin Cie sadar. Jadi nona Hee ini curigai dia. "Ah, Adik Ceng," katanya dengan sungguh-sungguh. "Apa mungkin kau masih belum mengerti sikapku kepadamu?"

Mukanya si nona bersemu merah, ia melengos pula.

"Sejak sekarang dan selanjutnya, tak nanti aku berpisah dari kau! Apakah sekarang hatimu tenang?" kata si pemuda.

"Habis, kenapa sih kau baik sekali dengan Siauw Hui itu?" si pemudi tegasi, dengan pelahan sekali.

"Kenapa tidak?" jawab si pemuda. "Di waktu kecil, kita tinggal bersama. Selama itu, ibunya perlakukan aku baik sekali, ia pandang aku bagaikan puteranya sendiri. Tentu sekali, aku berterima kasih sangat kepada itu ibu dan anaknya. Lain dari itu, tidakkah kau lihat bagaimana rapatnya perhubungan di antara Siauw Hui dengan murid-keponakanku?"

"Pemuda itu?" kata Ceng Ceng, yang memainkan bibirnya. "Orang demikian tolol dan tak ada kepandaiannya! Kenapa sih dia sukai ia itu?...."

Sin Cie tertawa. "Tidakkah kwacay dan lobak disukai sesuatu orang?" kata dia. "Aku sendiri begini tolol dan tak punya guna, mengapa kau suka sekali kepadaku?"

Dengan tiba-tiba Ceng Ceng tertawa geli. "Fui! Cis!" katanya. "Tak tahu malu! Siapa sih sukai kau?"

Sin Cie tidak menjawab, dia hanya bersenyum. Habis itu, siraplah gelombang kecil, lalu keduanya jadi akur pula. Malah kali ini, makin rapatlah perasaan mereka satu pada lain. Sin Cie kemudian tarik tangannya Ceng Ceng.

"Mari kita dahar!" ia mengajak.

"Tunggu dulu," Ceng Ceng menahan. "Masih ada satu pertanyaan. Coba bilang, Nona A Kiu itu, cantik atau tidak?"

"Eh, apa sih hubungannya dia dengan aku?" si pemuda baliki. "Di mataku, dia ada seorang dengan kelakuan aneh. Aku pikir baiklah kita berhati-hati terhadapnya."

Ceng Ceng agaknya puas dengan jawaban ini, ia manggut-manggut.

Segera mereka kembali ke hotel, untuk berdamai sama See Thian Kong dan Thia Ceng Tiok beramai soal merampas meriam asing.

"Biar sebentar malam aku pergi membuat penyelidikan," Ouw Kui Lam mengusulkan. "Kalau ada ketikanya, aku nanti curi beberapa buah senapannya. Atau dengan pelahan-lahan, aku nanti mencurinya semuanya, supaya selanjutnya tak usah kami jeri lagi terhadap mereka."

"Usul ini baik," Sin Cie menyatakan akur. "Sebentar malam aku nanti temani kau."

"Buat apa kau keluar sendiri, Bengcu?" kata See Thian Kong. "Baik siauwtee saja yang temani saudara Kui Lam."

"Aku berniat menyelidiki cara digunainya alat-alat asing itu," Sin Cie bilang. "Ini ada baiknya untuk kita, supaya setelah kita curi semua senapan mereka, kita lantas dapat menggunakannya. Tidakkah dengan demikian kita jadi bisa balik pakai senjata itu terhadap mereka sendiri?"

Semua orang setuju dengan pikirannya ketua ini.

Ceng Ceng tertawa, ketika ia kata: "Dia hendak lihat pula itu wanita asing yang cantik!"

Mendengar itu, semua orang tertawa.

Sin Cie bersenyum, dia antapkan orang goda padanya.

Lohor itu, Sin Cie berdua Ouw Kui Lam naik kuda mereka, untuk kuntit barisan meriam asing itu dari kejauhan, sampai mereka itu singgah di sebuah hotel.

Lalu malamnya, kira-kira jam tiga, mereka datangi hotel, untuk segera loncat naik ke atas genteng.

Ouw Kui Lam kalah dari Sin Cie dalam hal ilmu entengkan tubuh akan tetapi ia pun punyakan tubuh enteng bagaikan burung walet, tubuhnya lincah, gerakannya sebat.

Segera juga mereka dengar suara bentroknya senjata tajam, yang keluar dari sebuah kamar. Maka segera mereka hampirkan jendelanya kamar itu, untuk mengintai ke dalamnya. Hingga mereka dapat saksikan kedua opsir asing, Peter dan Raymond, sedang bertempur dengan hebat sekali.

Sin Cie heran akan dapatkan dua kawan itu bertempur satu pada lain. Ia pun berbareng perhatikan jalannya pertempuran. Raymond hebat, desakannya keras sekali. Di sebelah dia, Peter sangat tenang, benar dia ini lebih banyak mundur, akan tetapi satu kali dia balas menyerang, tusukannya berbahaya sekali. Maka dengan lantas pemuda kita bisa duga, lagi sedikit waktu, Raymond bakal kena dikalahkan.

Pertarungan berjalan terus, sampai di saat sangat serunya, mendadak ujung pedang Peter menusuk ke kiri, selagi Raymond berkelit, pedang diteruskan ke arah tengah. Sibuk Raymond, sambil menarik pulang pedangnya, ia egos tubuhnya sambil miring. Tapi Peter gunai ketika ini, akan menyampok pedang lawan sampai pedang itu terlepas dari cekalan dan jatuh ke lantai, untuk dia injak dengan kakinya, sedang ujung pedangnya sendiri diancamkan ke dada lawan. Dia pun lantas ucapkan beberapa kata-kata, yang tak dimengerti Sin Cie dan Kui Lam.

Tubuhnya Raymond menggetar, terang dia sangat panas hati hingga dia keluarkan kutukan.

Karena orang diam saja, Peter jumput pedang lawannya, untuk diletaki di atas meja, lalu ia memutar tubuh, akan membuka pintu, buat pergi keluar.

Raymond masih sangat mendongkol, ketika ia sambar pedangnya, ia bulang-balingkan itu di dalam kamarnya. Tapi tidak lama, mendadak ia berhenti bermurang-maring. Rupanya dengan tiba-tiba saja ia dapat akal. Ia segera pergi keluar, akan kembali bersama sebatang sekop dengan apa ia lantas menggali satu lobang di lantai.

Sin Cie dan Ouw Kui Lam berniat undurkan diri ketika mereka saksikan perbuatan aneh itu, hingga mereka lantas berdiam terus, untuk mengawasi terlebih jauh. Mereka menduga-duga, barang apa yang di simpan di dalam tanah itu.

Raymond menggali terus, tanah galian dikumpulkan di kolong pembaringan. Dia membuat lobang dua kaki persegi, dalamnya kira-kira dua kaki juga. Kemudian dia ampar selimut tebal di atas lobang, untuk tutup lobang itu, di atas selimut, dia menguruki dengan tanah tipis-tipis, untuk selimutkan lobang rahasia itu. Di akhirnya, setelah tertawa mengejek beberapa kali, dia buka pintu, akan pergi keluar.

Sin Cie dan Kui Lam heran, tak dapat mereka lantas menduga maksud orang.

Tidak lama, Raymond telah kembali, di belakang ia, Peter mengikuti.

Segera Raymond mengucapkan kata-kata nyaring, atas mana, Peter main menggeleng kepala.

Sekonyong-konyong sebelah tangan Raymond melayang, menyambar ke samping muka Peter hingga menerbitkan suara keras. Barulah karena ini penghinaan, Peter menjadi gusar, hingga ia cabut pedangnya.

Tidak tempo lagi, keduanya kembali bertarung.

Beda daripada tadi, kali ini Raymond tidak berlaku ganas, sebaliknya, dia main mundur­mundur ke arah lobang yang ia gali.

Baru sekarang Sin Cie insyaf kelicikan orang, untuk berlaku curang. Jadinya Peter hendak dijebak. Sebenarnya ia tidak benci dua opsir asing itu, akan tetapi kelicinan Raymond membangkitkan sifat kejantanannya, maka ia lantas bersiap-sedia.

Selama itu, beberapa kali Raymond mencoba mendesak, tapi habis mendesak, ia lekas mundur, adakalanya sampai dua tindak. Tak pernah ia berhasil dengan tikamannya. Peter selalu bisa menangkis, habis menangkis, segera ia membalas.

Tidak pernah Peter menduga atas kecurangan lawan, ia maju setiap kali orang mundur, sampai mendadak, kaki depannya kena injak lobang jebakan, hingga tak dapat dicegah lagi, dia kejeblos, tubuhnya ngusruk ke depan. Dan membarengi itu, Raymond, yang lompat ke samping, segera tikam bebokongnya! Berbareng dengan itu juga Sin Cie telah berlompat masuk sambil menolak jendela, ujung pedang Kim Coa Kiam dipakai menggaet pedang Raymond, untuk terus ditarik, hingga opsir ini gagal dengan bokongannya itu, tubuhnya turut tertarik juga sedikit!

Peter lolos dari bahaya, dia lantas berlompat.

Oleh karena usahanya dibikin gagal, Raymond jadi sangat gusar, tanpa bilang suatu apa, ia tusuk Sin Cie.

"Hm!" pemuda kita kasih dengar suaranya, seraya menangkis, hingga ujung pedang opsir itu kena dipapas kutung, apabila ia melakukan pembalasan, dengan menyabet bolak-balik, hingga Raymond sibuk menangkis, saban-saban ujung pedangnya opsir ini kena dibikin putus pula, hingga akhirnya, pedangnya yang panjang telah menjadi pendek!

Baru sekarang Raymond berhenti beraksi, dia berdiri bengong. Sin Cie tidak berhenti sampai di situ, selagi orang tercengang, ia maju sambar sebelah lengannya opsir curang itu, untuk angkat tubuhnya, buat dilemparkannya ke dalam lobang buatannya sendiri, kepalanya di bawah, kakinya di atas, menyusul mana, dia lompat keluar jendela, untuk angkat kaki.

Ouw Kui Lam sambut kawannya itu, ia tertawa. Ia terus mengikuti. "Wan Siangkong, kau lihat!" kata dia. Sin Cie dapatkan sang kawan menyekal tiga buah pistol.

"Dari mana kau peroleh ini?" tanyanya. Si malaikat pencuri menunjuk ke arah jendela. Nyatalah tadi, selagi si anak muda lompat masuk, dia mengikuti, dengan sebat dia sambar senjata-senjata api itu.

"Tidak kecewa julukan Seng-chiu Sin-tauw!" Sin Cie memuji. Tidak ayal lagi, mereka lari pulang. Di rumah penginapan, See Thian Kong semua asyik menunggui, mereka girang melihat pulangnya dua orang ini, kemudian semua orang bergirang mendengar keterangan mereka berdua. Ceng Ceng sambuti sebuah pistol, nampaknya ia sangat ketarik, ia lihat itu sambil dibulak-balik, sampai di luar tahunya, dia kena tarik pelatuknya.

"Dar!" demikian satu suara nyaring, disusul sama mengepulnya asap.

See Thian Kong duduk di depan nona ini, dia terkejut, cepat-cepat dia berkelit, tetapi tidak urung, ikat kepalanya kena juga kesambar peluru hingga berlobang dan hangus. Ceng Ceng kaget tak terkira. "Maaf!" ia memohon. See Thian Kong ulur lidahnya.

"Sungguh liehay!" katanya.

Karena ini, orang periksa dua batang pistol lainnya, yang masih terisi patronnya.

"Obat pasang adalah bangsa kita yang mendapatkannya," berkata Sin Cie. "Kita pakai itu untuk membuat petasan atau memburu binatang liar, akan tetapi bangsa asing gunai untuk membunuh sesamanya! Barisan asing itu terdiri dari seratus serdadu, itu artinya seratus buah senapan mereka tidak boleh dipandang enteng."

Karena ini, semua orang lantas berpikir.

"Wan Siangkong, aku mempunyai satu pikiran, entah dapat dipakai atau tidak," berkata Ouw Kui Lam. "Inilah ada semacam akal iblis...."

"Memang kau tak dapat pikirkan hal yang wajar!" tertawa Thie Lo Han.

"Coba utarakan itu, Ouw Toako, nanti kita pikir bersama," kata Sin Cie.

Ouw Kui Lam tidak berayal untuk beber tipunya, mendengar mana Ceng Ceng adalah yang paling dulu bertepuk tangan dan memujinya. "Benar-benar bagus!" puji Thian Kong dan yang lainnya juga.

Sin Cie pikirkan daya yang diusulkan itu, akhirnya ia nyatakan setuju. Akal itu berbahaya tetapi ada harganya. Maka itu, ia lantas mengatur orang, untuk mewujudkannya.

Ketika itu di hotel di mana tentara asing singgah, permusuhan di antara Raymond dan Peter telah dihentikan. Gara-gara adalah disebabkan kedua opsir itu perebuti Catherine. Sebenarnya Peter dan Catherine menyinta satu pada lain, lalu Raymond menyelak. Karena Raymond ada sepnya, Peter mengalah, selanjutnya dia jaga diri baik-baik saja.

Besoknya pagi, perjalanan dilanjuti, sampai di dusun Ban-kong-cun di mana penduduknya terdiri dari dua sampai tiga-ratus rumah. Mereka mondok di rumah abu keluarga Ban. Karena mereka singgah sesudah magrib, tidak lama kemudian, semua lantas masuk tidur.

Tepat pada tengah malam, mendadak terdengar suara berisik, lalu serdadu jaga melaporkan bahwa ada bencana api di dalam kampung.

Peter dan Raymond segera bangun, mereka lantas lihat, api berkobar, mendatangi dekat ke arah pondok mereka.

"Lekas!" kedua opsir itu menitah, untuk serdadu-serdadunya angkut mesiu keluar rumah abu, buat dikumpulkan di tanah kosong.

Banyak orang kampung datang bersama tahang air dan lainnya, untuk padamkan api, sedang beberapa puluh di antaranya lantas membanjuri rumah abu itu.

Raymond membentak, untuk mencegah. Dia tanya, kenapa orang sirami rumah abu itu.

Beberapa puluh orang itu memberi keterangan kepada Cia Thong Su, si juru bahasa, atas mana, dia ini kata kepada opsir itu: "Rumah ini ada rumah abu keluarga mereka, katanya perlu rumah ini dibanjur guna mencegah api nanti merembet kemari."

Alasan itu pantas. Raymond tidak melarang lebih jauh.

Akan tetapi orang kampung yang menyiram itu tidak teratur, mereka siram sana dan siram sini, mereka siram juga mesiu.

"Jangan!" berseru beberapa serdadu asing, yang mencegah, malah sampai mereka gunai gagang senapan, untuk kemplang orang-orang kampung itu, akan tetapi, pergi yang satu, datang yang lain, saban-saban mesiu disiram, malah ada serdadu asing juga yang disiram sehingga keadaan jadi kalut sekali.

Tidak antara lama, tidak melainkan mesiu, juga semua senapan dan meriam kebasahan anteronya, sebab cara menolong itu, dan api pun dapat dibikin padam.

Sampai terang tanah, setelah kekacauan itu, Raymond dan Peter jadi tidak tenteram hatinya. Mereka merasa, tempat itu tak aman untuk mereka, sehingga mereka memikir lebih baik mereka lekas berlalu dari situ. Di saat mereka hendak memberi titah, datanglah laporan oleh satu opsir sebawahan bahwa binatang penarik kereta, entah kenapa, telah kabur semuanya, mungkin kaburnya sejak tadi malam.

"Celaka!" menjerit Raymond, yang dalam murkanya, telah cambuki orang sebawahannya itu, yang pun ia caci.

"Coba cari dan kumpuli," kemudian Raymond titahkan Cian Thong Su, si jurubahasa.

Thong Su ajak beberapa serdadu asing masuk ke kampung, untuk mencari, maksudnya ini sia-sia belaka, bukan saja binatang mereka sendiri, kuda dan keledai orang kampung pun tak ada barang seekor jua. Rupanya binatang piaraan orang kampung itu telah diumpetkan.

Dalam mendongkol dan habis akal, Raymond titahkan Peter bersama Thong Su dan empat serdadu pergi ke kota, untuk beli binatang penarik meriam itu. Peter pergi dengan ajak Catherine, sehingga ia membuat sepnya itu tambah mendongkol.

Seberlalunya Peter, Raymond perintah serdadu-serdadunya bekerja, untuk keluarkan semua mesiu, untuk dijemur di tegalan, dengan diampar di atas tikar.

Matahari hari itu bagus, setelah sore, semua mesiu sudah kering. Semua meriam dan senapan pun telah disusuti habis airnya. Maka itu, datang saatnya untuk simpan rapi pula semua mesiu itu.

Benar di saat semua serdadu hendak bekerja, mendadak datang menyambar beberapa puluh batang panah api, yang datangnya dari rumah-rumah penduduk yang berdekatan. Kalau mesiu bertemu api, gampang diramalkan apa kesudahannya.

Sekejab saja, nyalalah mesiu itu, sehingga di antara suara berisik, asap pun mengepul­ngepul, sehingga semua serdadu jadi kaget. Tapi di bawah pimpinan keras dari Raymond, mereka mencoba menolong sebisa-bisanya. Raymond juga perintahkan menembak ke arah rumah-rumah penduduk itu, dari mana lantas kabur beberapa puluh orang, yang menghilang di antara pepohonan lebat.

Kapan kemudian Raymond bikin pemeriksaan, delapan bahagian mesiunya telah musnah terbakar, sehingga ia jadi sangat mendongkol dan bersusah hati. Karena ini, ia atur penjagaan kuat.

Selang tiga hari, Peter dan Cian Thong Su balik bersama beberapa puluh ekor keledai dan kuda, yang mereka dapati di kota, lantas dengan itu, Raymond lanjuti perjalanannya. Kepada Peter sep ini tuturkan serbuan panah api oleh orang-orang yang tidak dikenal, sehingga mereka nampak kerugian besar.

Perjalanan dilakukan terus menerus untuk empat atau lima hari, sampai mereka mesti melalui satu jalanan sukar, jalanan pegunungan yang sempit dan sangat tak rata. Jalanan pun menurun.

Raymond dan Peter mesti bekerja keras. Setiap meriam diikat keras, sepuluh serdadu diperintah pegangi ujung dadung, untuk dipakai menahan, supaya meriam-meriam menggelinding turun dengan pelahan-lahan. Kalau tidak, semua meriam bakal langsir ke bawah dan ringsek.

Selagi semua serdadu asing itu bekerja keras, tiba-tiba datanglah serbuan anak panah, yang datangnya dari kiri dan kanan, dari tempat-tempat sembunyi. Sebentar saja, beberapa serdadu rubuh sebagai korban. Yang hebat adalah waktu anak-anak panah mengenai keledai dan kuda, saking kesakitan, semua binatang itu kabur, mereka menarik dengan kaget semua meriam, tanpa serdadu-serdadu yang menahan dapat mencegahnya. Maka di lain saat, semua meriam jatuh ke lembah, bertumpuk dan rusak, bercampur sama bangkai sejumlah keledai dan kuda, berikut mayatnya sejumlah serdadu juga.

Maka dalam sekejab, habislah semua sepuluh buah meriam besar itu. Raymond dan Peter kaget bukan kepalang. Saking kaget dan takut, Catherine jatuh pingsan. Tapi masih kedua opsir ini bisa memberi perintah untuk sisa serdadunya bikin perlawanan. Musuh tidak dikenal itu sembunyi rapi, tidak ada peluru yang bisa mengenai mereka, tidak demikian semua serdadu, yang cuma pada mendekam atau tengkurap, sehingga mereka merupakan sasaran dari anak-anak panah musuh. Selama dua jam, masih tak dapat tentara asing itu melepaskan diri dari kepungan.

"Mesiu kita tinggal sedikit, kita mesti menerjang!" akhirnya Raymond kata.

"Baik, suruh Cian Thong Su tanyakan, apa maunya orang-orang jahat itu," Peter usulkan.

"Bikin pembicaraan sama bandit?" Raymond membentak. "Apakah artinya itu? Jikalau kau tidak berani, nanti aku yang maju!"

"Bandit menggunai panah, buat apa unjuk kegagahan tak ada perlunya?" kata Peter.

Raymond mendelu bukan main. Ia menoleh pada Catherine, lalu ia berludah. "Cis! Pengecut, pengecut!" katanya.

Mukanya Peter menjadi pucat-pias. "Baik, sekarang aku tak sudi layani kau," katanya dengan pelahan. "Kalau nanti bandit-bandit sudah dipukul mundur, kau lihat apa adanya pembayaranku untuk hinaan ini!...."

Raymond lantas lompat maju. "Siapa yang berani, hayo turut aku!" ia berseru.

"Hai, kolonel, apakah kau cari mampusmu?" Peter berseru. Ia kaget, ia ingin mencegah. Tidak ada satu serdadu juga, yang hendak telad pemimpin itu, yang telah jadi nekat. Raymond maju sambil cekal pistolnya, ia jalan baru beberapa tindak, lantas ia rubuh, jiwanya putus, karena sebatang anak panah tepat mengenai dadanya, nancap dalam.

Peter dan tentaranya melakukan perlawanan sambil umpetkan diri, mereka bisa cegah pihak penyerang datang dekat kepada mereka. Sudah satu hari dan satu malam mereka bertempur, dari pihak negeri, tidak ada datang bala-bantuan.

Di waktu itu memang ada sangat sukar untuk minta bantuan dari pemerintah Beng, yang sudah buruk keadaannya. Untuk surat-menyurat saja, dibutuhkan tempo berhari-hari.

Maka di hari kedua, magrib, setelah semua serdadu kelaparan, kepala mereka pusing, mata mereka berkunang-kunang, dengan terpaksa mereka kerek naik bendera putih, untuk menyerah.

"Kami menyerah! Menyerah!" Thong Su berteriak berulang-ulang.

"Letaki senjata api semua!" ada syaratnya penyerbu.

"Kami tak dapat lakukan itu!" sahut Peter.

Pihak penyerang lantas berdiam, mereka juga tidak menyerang lagi.

Setelah sirap sekian lama, di waktu angin mendesir, angin itu ada membawa bau makanan wangi dan lezat menyerang hidungnya semua serdadu asing itu, selagi mereka ini sangat lelah, ngantuk dan lapar. Tanpa perkenan dari Peter lagi, semua serdadu lemparkan senapan mereka, semua lari keluar dari tempat sembunyi.

Peter jadi habis daya, terpaksa ia keluarkan perintah penyerahan.

Semua serdadu tumpuk senapan mereka, habis itu mereka berteriak-teriak minta makanan.

Menyusul itu terdengar suara terompet nyaring dari pihak penyerbu, dari kedua lamping bukit muncul beberapa ratus orang yang romannya keren, dengan panah siap untuk dilepaskan, semua panah diarahkan kepada tentara asing itu. Delapan atau sembilan pemimpin mereka ini, dengan pelahan, bertindak ke arah musuh.

Peter lihat orang yang pertama maju adalah seorang dengan baju panjang, siapa ia kenali adalah orang yang di dalam hotel tolongi ia dari bokongannya Raymond. Di samping pemuda ini ada satu pemuda lain, ialah si nona yang menyamar sebagai seorang pria, yang kopiahnya pernah ditembak Raymond.

"Hai, itu kawanan tukang sulap!" Catherine berseru.

Peter lantas cabut pedangnya, ia maju beberapa tindak, dengan kedua tangannya, ia lintangi pedangnya itu. Itu adalah tanda menyerah. Dan tak malu ia akan menyerah terhadap seorang sebagai Sin Cie - demikian si anak muda.

Mulanya Sin Cie tercengang, tapi segera ia insyaf tanda menyerah orang. Lantas ia goyangi tangan, ia kata pada Cian Thong Su: "Bilang padanya, jikalau pihak asing datang dengan meriam-meriam untuk bantu Tiongkok membela tanah-daerah, untuk lawan penyerangan pihak asing, kami akan bersyukur, kami akan pandang mereka sebagai sahabat.”

Thong Su salin pengutaraan itu kepada Peter. Opsir asing ini angguk-angguk kepala, kemudian ia ulur tangannya, untuk jabat tangannya Sin Cie.

"Tetapi jikalau kamu pergi ke Tong-kwan, untuk bantu Kaisar membunuh rakyat, pasti aku tidak mengijinkannya!" Sin Cie kata pula.

Thong Su salin pula kata-kata ini. "Apakah kami hendak dipakai untuk serang rakyat Tiongkok? Inilah aku tidak ketahui," Peter bilang.

Sin Cie lihat orang beroman sungguh-sungguh, maka ia percaya keterangan itu dan ia menambahkan: "Sekarang ini rakyat Tiongkok bersengsara sampai mereka tidak punya nasi untuk didahar, mereka mengharap-harap ada orang yang pimpin mereka, untuk merubuhkan Raja, untuk menyingkir dari kesengsaraan ini. Raja ketahui ini, dia ketakutan, dari itu, dia telah perintah kamu gunai meriam-meriammu untuk labrak rakyat."

Kelihatannya Peter tertarik simpatinya.

"Aku juga asal orang melarat, aku tahu apa artinya kemiskinan," ia bilang. "Sekarang aku telah mengerti duduknya hal, aku akan segera berangkat pulang ke negeriku."

"Bagus! Sekarang pergi bawa tentaramu!" Sin Cie bilang. Peter lantas keluarkan perintah, akan kumpul tentaranya. Sin Cie pun titahkan pihaknya menghidangkan barang makanan dan arak untuk tentara asing itu, sampai mereka telah dahar puas.

Peter angkat tangannya, untuk kasih hormat pada Sin Cie, habis itu, ia beri titah untuk tentaranya mulai berangkat.

"Kenapa kamu tidak bawa senjatamu?" Sin Cie tanya.

Thong Su salin kata-kata itu. Peter menjawab: "Itulah hasil kemenanganmu. Kamu telah merdekakan kami, untuk itu kamu tidak minta uang tebusan, itu saja telah membuat kami bersyukur untuk kebaikan hatimu."

Sin Cie tertawa. "Kamu telah kehilangan meriam, apabila kamu pulang tanpa senapan, mungkin kamu ditegur seatasanmu," katanya. "Pergilah kamu bawa!"

"Apakah kamu tidak takut kami nanti pakai senapan itu untuk tembak kamu?" Peter tanya.

Sin Cie tertawa berkakakan. "Kalau satu laki-laki telah mengucapkan suatu kata-kata itu tidak dapat dicandak empat ekor kuda!" ia bilang. "Kami putera-putera Tiongkok ada bangsa laki-laki, maka setelah kami percaya kamu, mustahil kami balik mencurigai?"

Peter jadi kagum dan terharu. "Baiklah," kata ia, yang terus perintah barisannya ambil senapan mereka, sesudah mana, ia ajak mereka berlalu.

Di sepanjang jalan mendaki, Peter terus kagumi anak muda kita. Jalan belum jauh, tiba­tiba ia perintah barisannya berhenti, ia sendiri ajak Thong Su kembali pada Sin Cie. Ia keluarkan satu bungkusan dari sakunya.

"Kau ada baik sekali, aku mempunyai serupa barang untuk dihaturkan kepadamu!" kata dia, untuk mana, dia minta Thong Su salin kata-katanya.

Sin Cie sambuti bungkusan itu, untuk dibuka. Itu adalah selembar kertas tebal. Ia buka itu, untuk dibeber, hingga ia tampak peta bumi, peta dari sebuah pulau. Karena di sana-sini ada tanda-tanda dalam huruf asing, ia tak mengerti.

"Inilah satu pulau besar di laut selatan," Peter bilang, "terpisahnya seribu lie lebih dari darat. Hawa udara di atas pulau hangat, polowijonya subur. Aku sendiri pernah pergi ke sana."

"Apakah maksudmu memberikan peta ini kepadaku?" Sin Cie tanya.

"Daripada kamu berperang di sini dengan bersusah-payah, lebih baik kau ajak rakyat yang bersengsara, yang tak punya makanan, pergi ke pulau itu," Peter jawab.

Mendengar ini, Sin Cie tertawa dalam hatinya.

"Sebagai orang asing, hatimu baik," pikir dia, "tetapi kau tidak tahu, negara kita berapa luasnya, rakyat kita berapa juta banyaknya, maka tidak perduli berapa besarnya pulau itu, tidaklah itu cukup besar untuk tampung kami semua!" Tapi ia tanya: "Apakah pulau itu tidak ada penduduknya?"

"Ada waktunya bajak-bajak bangsa Spanyol berdiam di sana, ada waktunya kosong sama sekali, "Peter terangkan. "Aku percaya kamu tidak akan jeri terhadap bajak-bajak Spanyol itu."

Melihat orang benar bermaksud baik, Sin Cie haturkan terima kasihnya. Ia terima peta itu, untuk disimpan. Kemudian dia ambil selamat berpisah dari Peter.

Cian Thong Su hendak ikut opsir asing itu, selagi ia putar tubuhnya, Ceng Ceng sambar kuping orang itu; nona ini kata: "Jikalau lain kali aku ketemukan kau banyak tingkah dan berani menghina pula sesama bangsa kita, hati-hatilah jiwa anjingmu!"

Thong Su menahan sakit.

"Lain kali aku tidak berani pula...." jawabnya.

Sin Cie lantas ajak kawannya pergi turun ke lembah, untuk periksa meriam-meriam besar itu, yang rusak tak keruan, maka sekalian ia suruh pendam itu.

Kemenangan ini menggirangkan Sin Cie semua, maka itu hari bersama Hoan Hui Bun beramai, ia mengadakan pesta besar, kemudian, besoknya, baru ia berkumpul bersama A Pa, Ang Seng Hay, untuk lanjuti perjalanan mereka ke Utara, ke Pakkhia.

Kali ini Ouw Kui Lam adalah yang berjasa, karena semua itu ada atas buah pikirannya, hingga orang puji dia dan tak lagi ada yang pandang enteng kepadanya, yang asal pencuri...

(Bersambung bab ke 18)


Bab 18

Selama dalam perjalanan orang tidak nampak rintangan sesuatu, apabila rombongan Sin Cie pada suatu hari sampai di kota raja, waktu itu sudah di akhir musim rontok dan musim dingin telah datang menggantikannya. Segera Sin Cie bekali sejumlah uang kepada Ang Seng Hay, akan minta pengikut ini pergi beli rumah besar di gang Ceng-tiauw-cu yang berada dekat dengan Cie Kim Shia, Kota Terlarang. Rumah-tangga yang besar dan mewah dibutuhkan untuk bisa bergaul sama orang-orang ternama atau berpangkat besar di kota raja itu. Adalah harapan mereka agar dapat dipakai oleh Giam Ong.

Ceng Ceng repot bukan main ketika itu hari ia kepalai orang membersihkan dan mengatur gedung mereka, supaya bisa terkapur bersih dan terhias menyenangkan mata. Sin Cie sendiri gunai tempo akan pesiar di dalam kota, di jalan-jalan utama, untuk saksikan keadaan dan suasana. Demikian ia tampak penjagaan yang keras, terutama barisan dari Hu-pouw, kementerian keuangan dan penduduk. Kemudian ia dengar orang omong, penjagaan itu berhubungan dengan kedatangannya angkutan uang negara dari Selatan. Karena ini, ia menaruh perhatian lebih jauh, ia berdiri di tempat kejauhan, untuk memasang mata.

Sekonyong-konyong terlihat dua bayangan loncat dari genteng Gudang Negara, cepat sekali gerakannya, keduanya berlari-lari ke ujung timur-utara gedung itu, lalu lenyap.

Pemuda ini heran mengapa di siang hari bolong orang berani manjat Gedung Negara. Segera ia menerka kepada orang jahat. Ia lantas ingin ketahui, siapa adanya dua bayangan itu. Ia menduga kepada orang-orang kosen. Tapi ketika ia menyusul ke ujung timur-utara itu, ia tidak lihat siapa juga kecuali sebuah jalanan dan jalanan ini sepi. Ia lantas lari, untuk coba menyusul. Malah ia lari keras menggunai ilmu entengkan tubuh pengajarannya Bhok Siang Toojin.

Berlari-lari belum lama, Sin Cie lihat dua orang berlari-lari di sebelah depan. Karena ini, ia entengi tindakannya, supaya orang tidak dapat dengar dan nanti menoleh, untuk curigai dia.

Selagi datang mendekati, Sin Cie dapatkan dua orang itu bertubuh kecil dan kate, pakaiannya serba merah, kepala mereka masing-masing berkuncir. Dilihat dari belakang, mestinya mereka ada bocah-bocah umur tiga-atau empat belas tahun. Pundak mereka itu masing-masing menggendol sebuah bungkusan yang nampaknya berat, sebab tindakan kaki mereka yang antap.

"Mesti mereka telah curi uang negara," menyangka Sin Cie. Ia kagumi keberanian dan kegesitan luar biasa dua anak-anak itu. Di pihak lain, ia tertawa untuk ketololannya beberapa serdadu penjaga pintu kota itu.

Tujuh atau delapan lie dari pintu kota, adalah sawah dan tegalan belaka. Di sini kedua bayangan itu menghampirkan sebuah rumah besar, begitu sampai, mereka melompati tembok dan lenyap di sebelah dalam gedung.

Sin Cie mendekati, untuk lihat tembok pekarangan yang hitam gelap, tingginya kira-kira dua tumbak, tidak ada pintunya. Ia coba jalan mutar tapi masih ia tidak lihat pintu, untuk masuk atau keluar. Aneh! Gedung apa itu?

Didorong perasaanya ingin tahu, Sin Cie loncat naik ke tembok. Tidak sembarang orang bisa lompat naik atas tembok itu. Di dalam pekarangan ada lagi selapis tembok, yang temboknya putih terang. Tapi kembali, tembok ini tidak mempunyai pintu.

Oleh karena penasaran, Sin Cie lompat, untuk lintasi tembok putih ini. Tembok ini ada lebih tinggi kira-kira tiga kaki. Tak sembarang orang dapat melompatinya.

Sesampainya di dalam, keheranan Sin Cie bertambah. Nyata di hadapannya ada sebuah tembok lagi, yang terlebih tinggi pula, yang warnanya biru. Kemudian keheranannya memuncak apabila lagi-lagi ia dapatkan dua lapis tembok, masing-masing kuning dan merah, setiap kalinya, tembok ada lebih tinggi tiga kaki. Maka sama sekali, lima lapis tembok itu sudah jadi tiga tumbak lima kaki tingginya.

Maka, untuk bisa panjat tembok yang kelima ini, Sin Cie mesti gunai ilmunya "Pek-houw yu-chong-kong" atau "Cicak Merayap Di Tembok", tubuhnya nempel di tembok, kedua kaki dan tangannya bekerja.

"Pasti kedua bocah itu tidak punyakan kepandaian melompati tembok ini apapula dengan bawa buntalan berat," pikir pemuda ini. "Mesti ada pintu rahasia di sini. Aku tidak kenal tuan rumah, tidak leluasa untuk aku masuk terus. Baik aku cari saja pintu rahasia itu...."

Maka itu, ia bercokol di atas tembok, akan memasang mata.

Di dalam pekarangan terdalam itu ada sebuah rumah besar dengan tingkat tiga, yang depan terbagi dalam lima ruang. Walau rumah ada besar, kesunyian berkuasa di situ.

Setelah berdiam sekian lama, Sin Cie perdengarkan suaranya: "Aku yang muda telah lancang masuk kemari, niatku adalah untuk berkunjung kepada tuan rumah yang bijaksana. Sukakah aku ditemuinya?"

Tidak ada jawaban kecuali kumandang.

Sin Cie tunggu sampai sekian lama, ia lantas berkata-kata pula. Kali ini dijawab oleh gonggongan riuh dari belasan ekor anjing yang tinggi dan besar, yang berlari-lari keluar dari rumah tingkat ketiga, agaknya galak sekali semua anjing itu, yang meronjang-ronjang ke tembok, mulutnya dipentang lebar, kukunya diulur semua.

Melihat kawanan anjing itu, Sin Cie percaya orang tak sudi menemui ia, atau tuan rumah membenci tetamu, maka ia tak buang tempo lagi akan berlompatan keluar dari gedung berlapis-lapis tembok itu, untuk terus pulang ke rumahnya yang baru.

Masih saja Ceng Ceng repot mengatur dan menghias rumahnya, antaranya ia tukar lantai papan, ia beli kembang segar, melihat mana, girang Sin Cie, sebab dia telah dapatkan satu "pembantu dalam" yang pandai...

Dulu di atas perahu di Ciatkang, Ceng Ceng merupakan satu "pemuda" yang ganas, tapi sekarang, belum cukup setengah tahun, ia telah ubah diri menjadi satu pemudi yang lain sekali sifatnya.

Oleh karena rumah besar dan banyak kamarnya, setiap orang mendapati sebuah kamar sendiri-sendiri, malah Tay Wie dan Siauw Koay juga peroleh kamar di dalam taman.

Habis bersantap malam, Sin Cie duduk berkumpul bersama semua kawannya, ia lantas tuturkan mereka tentang sesuatu yang ia tampak, terutama mengenai itu dua bocah serba merah serta gedung besarnya yang luar biasa.

"Benar-benar heran!" menyatakan beberapa suara. Mereka semua tak sanggup menerka, gedung apa adanya itu.

Setelah pasang omong, semua orang pergi beristirahat. Sin Cie tidak lantas tidur, ia pikirkan rencana untuk bekerja di kota raja ini. Tugasnya yang pertama adalah bantu Giam Ong membikin terjungkal kerajaan Beng, untuk bebaskan rakyat dari penderitaan, supaya mereka merdeka. Tugas yang kedua adalah membunuh Kaisar Cong Ceng sendiri, untuk mewujudkan pembalasan sakit hati ayahnya. Ia percaya, dengan kepandaian yang ia punyakan, tidak terlalu sulit untuk menyerbu ke istana, ke dalam keraton. Tapi ia ingat kata-kata gurunya, bahwa satu kali raja terbinasa, kawanan dorna bakal menggantikan menguasai pemerintahan, bahwa bangsa asing bakal gunai ketika baik itu untuk datang menyerbu. Maka itu ia perlu bersabar sampai Giam Ong dan angkatan perangnya sudah datang ke kota raja, baru ia turun tangan. Maka ia anggap usahanya yang utama adalah lihat bahagian dalam dari pemerintah, untuk membuka jalan guna serbuannya Giam Ong nanti.

Setelah dapat ketetapan, baru Sin Cie bisa tidur. Malah untuk sesaat itu, ia bisa lupai itu dua bocah serba merah pencuri harta negara serta gedungnya yang bertembok berlapis­lapis yang aneh.

Di hari kedua, orang bangun pagi-pagi, lantas mereka berkumpul di ruang hoa-thia, untuk bersantap.

Di paseban, di latar, salju melulahan tebal. Tadi tengah malam, salju itu turun secara lebat sekali. Sebaliknya dua pohon bunga bwee telah menyiarkan baunya yang harum-halus.

Selagi orang berkumpul, satu kee-teng, atau bukang pelayan, datang masuk dari luar dengan tindakan cepat.

"Siocia, ada orang datang mengantar barang!" katanya kepada Ceng Ceng.

Satu kee-teng lagi membawa barang antaran ialah sebuah tok-pan, pot bunga, dari porselen, dan sebuah pin-hong atau sekosol mungil dengan lukisan gambar oleh Sim Sek Thian.

"Inilah barang kuno," kata Sin Cie. "Siapakah yang mengantarnya?"

Pada sumbangan itu tidak berikuti karcis nama si pengirim.

Ceng Ceng bungkusi tiga tail perak.

"Ini presen untuk si pembawa barang," kata ia pada bujangnya. "Kau tanya tegas, siapa yang kirim sumbangan ini."

Kee-teng itu berlalu akan sebentar kemudian balik lagi.

"Orang itu sudah pergi, aku susul tidak kesusul," katanya.

Semua orang tertawa.

Kim Coa Kiam - Jilid 29
Suka ·  · 
Thanks for reading PEDANG ULAR MAS 28

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar