Jilid 29
"Aneh," menyatakan mereka. Tak keruan-ruan menerima hadiah!
"Nama Wan Siangkong kesohor, ini tentu ada tanda mata dari salah satu orang yang mengaguminya," kata Seng Hay kemudian.
Dugaan ini dapat kesetujuan semua orang.
Pada tengah-hari, selagi orang hendak duduk berkumpul untuk bersantap, datang pula antaran barang-barang hidangan buatan rumah makan "Coan Cip Hin" yang paling kesohor di kota raja. Ketika koki, yang mengantari ditanya, hidangan itu kiriman siapa, dia cuma bilang seorang yang tidak dikenal yang memesannya yang menyuruh antarkan ke gedung ini.
Mau atau tidak, orang jadi curiga. Semua barang makanan itu dipisahkan, dikasih pada anjing, akan tetapi anjing yang memakannya selamat, tidak kurang suatu apa.
Lalu lohornya bergantianlah datang orang-orang dengan barang-barang hadiah lainnya, seperti kursi-meja, para-para bunga dan lainnya, yang surup untuk gedung mereka, tapi kapan ditanya, semua pengangkut barang itu tak bisa menyebutkan, siapa pengirimnya.
"Coba kalau ada sebuah lampu besar!" kata Ceng Ceng sambil memain. Memang orang heran tetapi berbareng pun lucu...
Belum selang setengah jam dari kepergiannya kuli-kuli, datang yang lain bersama sebuah lampu gantung yang besar dan indah, yang kemudian disusul sama antaran sutera, kain wol, sepatu, kopiah dan saputangan beraneka warna, sedang untuk nona Hee ada pupur dan yancie pilihan! Untuk Thie Lo Han Gie Seng seperangkat jubah suci kah-see!
Saking heran, hingga tak dapat ia mengatasi diri lagi, Thie Lo Han cekuk satu kuli.
"Kenapa kau tahu di sini ada satu tauwtoo?" tegurnya. "Kenapa kau kirimkan aku baju suci?"
Kuli itu, seorang pegawai toko, jadi kaget.
"Tak tahu aku," sahutnya. "Tadi pagi datang satu pembelanja ke toko kami, dia beli ini semua, dia minta semua dikerjakan lekas, untuk sekarang dibawa kemari...."
Semua orang tak habis heran, mereka pusing menduga-duga.
Ceng Ceng cerdik, lalu ia kata seorang diri: "Jikalau pengirim itu benar ketahui isi hatiku, dia tentu bakal kirimkan aku serenceng mutiara...."
Kemudian, selagi orang ngeloyor pergi, ia minta Seng Hay pergi menguntit, akan lihat orang pergi ke mana.
Setelah berselang sekian lama, kuli tadi balik kembali. Seng Hay sebaliknya kembali sesudah lewat kira-kira satu jam sedatangnya kuli ini. Boleh dibilang baru saja Seng Hay melangkah di pintu atau orangnya toko barang-barang permata telah datang bersama dua renceng mutiara yang besar-besar.
Ceng Ceng sambuti mutiara itu, terus ia masuk ke dalam. Sin Cie ikuti si nona demikian juga Seng Hay.
Sesampainya di dalam, pengikut she Ang ini berikan laporannya.
"Kuli tadi telah ketemui satu pengemis yang telah lanjut usianya, ia bicara sebentar, lantas dia kembali," demikian Seng Hay. "Aku sendiri lantas kuntit pengemis tua itu."
Sepasang alisnya Ceng Ceng bangun.
"Pengemis itu dan kuli ini bukan orang baik-baik!" katanya dengan gusar. "Sebentar aku nanti kasih rasa kepada mereka!"
"Nona menduga benar," Seng Hay bilang. "Orang tua itu jalan melalui beberapa jalan umum, lantas ia disambut oleh satu opas kuku garuda, sesudah berdua mereka bicara sebentar, pengemis itu lantas jalan kembali."
"Apakah kau kuntit itu kuku garuda?" Ceng Ceng tanya.
Seng Hay manggut.
"Kuku garuda itu tidak kembali ke kantor, dia hanya pergi ke sebuah gang di mana ada satu rumah besar," ia melanjuti. "Di luar gedung ini, keadaannya sunyi, sebab aku tidak bisa masuk dari pintu, aku naik ke genteng. Di dalam ada belasan opas serta seorang tua yang matanya picak sebelah. Orang panggil dia Sian Loosu, rupanya dia jadi kepala. Aku kuatir aku nanti kepergok, maka itu, aku lantas keluar pula dan pulang."
"Luar biasa! Bagaimana tajam mata mereka, bagaimana terang kuping mereka!" kata Ceng Ceng. "Baru kita datang ke Pakkhia ini, lantas mereka sudah dapat tahu! Aku kuatir sulit juga untuk nanti kita turun tangan...."
"Yang aneh adalah kiriman barang-barang mereka," Sin Cie bilang. Pemuda ini tetap tenang. "Bukankah itu ada perbuatan disengaja supaya kita dapat tahu bahwa kita telah dipergoki? Rombongan kuku garuda di kota raja mestinya cerdik semua, tidak nanti mereka lakukan tindakan gelo. Apa maksud mereka yang sebenarnya?"
Lantas pemuda ini perintah Seng Hay panggil Ceng Tiok, Thian Kong, Kui Lam dan yang lain-lain, untuk mereka berunding.
Sebentar saja, orang telah berkumpul dan berunding, Ceng Ceng lantas terangkan keterangannya si kuli dan laporan Seng Hay. Lalu orang berbicara. Akan tetapi, kesudahannya, tidak ada seorang jua yang dapat menduga pasti apa artinya semua barang antaran itu.
"Semua ini ada barang tidak halal, aku tak menginginkannya!" kata Ceng Ceng akhirnya.
Maka malam itu si nona, dengan dibantu A Pa, Thie Lo Han, Ouw Kui Lam dan Ang Seng Hay, angkut semua barang ke rumah itu yang ditunjuki Seng Hay. Rupanya penghuni rumah itu dengar suara berisik, mungkin mereka dapat menerka-nerka, akan tetapi mereka tidak nampakkan diri.
Paginya Ceng Ceng lepaskan si kuli, yang kemarinnya ia tahan, sama sekali ia tidak ganggu kuli ini. Si kuli sendiri terima uang upah dengan cara hormat, ia manggut beberapa kali, ketika ia berlalu, tidak kelihatan ia berkuatir atau tak senang hati.
Habis itu, Sin Cie beramai berlaku waspada, untuk saksikan apa akan terjadi lebih jauh sebagai akibat putusannya itu.
Hari itu tidak terjadi suatu apa, terus sampai malam.
Malam itu salju turun pula dengan lebat. Besoknya pagi Seng Hay beramai masuk menemui Ceng Ceng beramai, romannya terbenam dalam keheranan. Ia lantas kata: "Semalam turun salju, mestinya salju bertumpuk di pekarangan muka rumah kita, akan tetapi entah siapa yang menyapui, sekarang salju itu telah bersih semua. Tidakkah ini aneh?"
"Terang sudah, kawanan kuku garuda itu lagi ambil hati kita," nyatakan Sin Cie. "Sengaja rupanya mereka bekerja secara diam-diam."
Ceng Ceng tertawa.
"Aku tahu sekarang!" katanya.
"Apakah itu?" tanya beberapa suara.
Kembali si nona tertawa.
"Mereka itu kuatir kita nanti bekerja secara besar-besaran di kota raja ini, hal itu pasti membuat mereka celaka, maka itu sengaja mereka mendahului mengambil-ambil hati kita, untuk ikat persahabatan...."
"Dugaan ini cocok juga," Thian Kong bilang. Ia tertawa. "Tetapi, bukan sedikit tahun aku telah bekerja, belum pernah aku nampak kejadian serupa ini...."
"Ah, aku ingat sekarang!" tiba-tiba Ceng Tiok ikut bicara. "Itu kuku garuda yang matanya sebelah ada Tok-gan Sin-liong Siang Tiat Seng si Naga Sakti Mata Satu, cuma sebab sudah lama ia undurkan diri, aku sampai tak ingat padanya."
Sampai di situ pembicaraan mereka, mereka tetap tidak ambil tindakan apa kecuali berlaku waspada.
Beberapa hari telah lewat, terus tidak ada orang yang mengantar barang lagi, tidak ada kejadian apa juga, maka pelahan-lahan rombongannya Sin Cie ini mulai tak memperhatikannya pula.
Kemudian datanglah satu hari, sedangnya orang berkumpul di dalam rumah menghadapi arak. Ketika itu ada di musim dingin, arak adalah penghangat tubuh. Satu bujang masuk dengan selembar karcis nama yang lebar di mana tertulis kata-kata: "Hormatnya Boanseng Sian Tiat Seng". Bersama itu diberikuti delapan rupa barang antaran.
Semua orang antap orang tua itu pergi.
Itu hari, di waktu lohor, turun hujan salju yang halus sekali, maka Sin Cie ajaki Ceng Ceng menunggang kuda pesiar ke luar kota, ke telaga, untuk minum arak sambil "menggadangi" hujan salju itu yang meriangkan mata.
Sudah sekian lama tak pernah mereka pesiar berduaan saja, inilah ketikanya yang baik akan mengicipi lagi suasana yang riang-gembira.
Sekitarnya telaga penuh dengan pepohonan gelagah dan alang-alang.
Ceng Ceng bekal sebuah naya dengan isi arak dan sayuran, maka itu leluasalah mereka duduk dahar dan minum sambil pentang mata ke sekitar mereka, memandang panorama yang menarik hati mereka. Mereka minum dan dahar dengan pelahan-lahan, sambil seling itu dengan omongan.
Yang lebih memuaskan pasangan ini adalah, selagi salju turun semakin membesar, di telaga itu tidak ada lain orang lagi, sehingga mengecap lagi suasana yang riang-gembira.
Sin Cie lantas gunai ketikanya, akan tanya, bungkusan apa itu yang si nona kembalikan pada Sian Tiat Seng. Tadi pagi, bungkusan itu tak sempat dibuka, dibeber di muka orang banyak.
"Aku telah main-main dengan dia," kata Ceng Ceng, yang sembari tertawa tuturkan apa yang ia kerjakan tadi malam, sehingga tidaklah heran kalau kepala opas itu menjadi kelabakan.
Sin Cie tertawa.
"Sungguh kau cerdik!" ia memuji. "Sebenarnya baru saja aku puji kau sebab kau telah merobah tabiatmu, siapa tahu, kau masih tetap nakal!...."
"Eh, kapan kau puji aku?" Ceng Ceng tanya.
"Aku puji kau di dalam hatiku saja," jawab si anak muda. "Tentu saja, kau tak ketahui itu...."
Ceng Ceng tertawa, nyata sekali ia gembira.
"Habis siapa suruh dia tak mau perlihatkan diri, dia berlaku bagaikan iblis saja?" katanya. Ia maksudkan Sian Tiat Seng.
"Entah dalam urusan apa dia hendak mohon bantuan kita," kemudian Sin Cie ubah pembicaraannya. Lebih dahulu daripada itu, ia pun bersenyum.
"Orang semacam dia!" kata si pemudi. "Aku pikir, tidak perduli apa permintaannya, lebih baik kita jangan meladeninya!"
Sin Cie tidak bilang suatu apa.
Mereka minum terus, sampai mereka timbulkan kenang-kenangan sewaktu di Kie-Ciu, di Cio-liang, di mana mereka minum arak di waktu malam sambil menontoni bunga-bunga yang indah dan harum.
Ceng Ceng teringat kepada ibunya, tanpa merasa, ia menjadi berduka, hampir ia menangis.
"Sudahlah," kata Sin Cie, yang kembali ubah pembicaraan, maka di lain saat, dapat pula mereka kegembiraan mereka.
Kapan terlihat sang magrib sudah mendatangi, Ceng Ceng benahkan nayanya, bersamasama mereka meninggalkan tepian telaga, untuk berjalan pulang.
Selagi mereka lewati sebuah paseban di tepian telaga itu, di dalam paseban itu mereka lihat satu pengemis tua sedang rebah di atas selembar tikar, tubuhnya cuma terbungkus sepotong celana.
"Kasihan!" kata Ceng Ceng. Ia rogoh sepotong perak dari sakunya, ia hampirkan pengemis itu, akan letaki uangnya di atas tikar.
"Pergi kau beli pakaian, supaya kau tidak sampai kedinginan," katanya.
Sin Cie ikuti si nona masuk ke dalam paseban itu.
Ketika mereka baru melangkah keluar dari paseban, mereka dengar suara seperti gerutuan dari si pengemis, yang ngoceh seorang diri: "Untuk apa memberikan uang kepadaku? Biar hawa lebih dingin daripada ini, aku si tua tidak nanti mampus beku! Kau punya arak tetapi tidak ajaki orang turut minum, itulah tandanya bukan sahabat!"
Ceng Ceng jadi tidak senang, hendak ia menoleh, untuk mendamprat, akan tetapi Sin Cie segera tarik tangannya.
"Orang ini aneh, mari kita intai!" si pemuda berbisik.
Sin Cie heran melihat orang seperti telanjang bulat sedang hawa udara dingin, salju masih terus turun, maka gerutuan itu membuat ia lebih heran, hingga bercurigalah ia.
Kemudian ia menoleh, akan sahuti gerutuan itu: "Arak masih ada, cuma tinggal arak dan sayur sisa, yang sudah dingin. Aku anggap adalah tidak hormat akan undang kau minum dan dahar barang bekas, itu sebabnya kenapa kita tidak undang padamu...."
Orang itu geraki tubuhnya, untuk duduk numprah. "Aku adalah si pengemis bangkotan, untukku arak dingin ada paling tepat!"
Sin Cie lantas keluarkan poci arak dari dalam naya, ia serahkan itu. Pengemis itu menyambutinya, terus ia bawa mulut poci ke dalam mulutnya, hingga segeralah terdengar suara geruyukan di dalam tenggorokannya, karena dengan rakus dia tenggak sisa air kata-kata itu. Dua-dua Ceng Ceng dan Sin Cie lihat pengemis itu berumur kurang lebih empat-puluh tahun, mukanya berewokan, kedua lengannya seperti belang dengan cacat bekas luka-luka.
"Arak yang sedap!" memuji si pengemis, sesudah dia minum. "Ini ada arak Lie-jie Ang-tin-siauw simpanan dua-puluh tahun!..."
Ceng Ceng terkejut. "Kiranya pengemis ini kenal barang baik," pikirnya. Lantas dia kata: "Kau benar, sekali minum saja, kau tahu arak jempolan."
"Sayang araknya sedikit, tak cukup untukku...." kata si pengemis, yang tak gubris pujian orang.
"Besok aku nanti datang pula membawa arak untukmu," Sin Cie bilang. "Bagaimana jikalau aku undang Tuan minum sampai sinting?"
"Bagus!" seru si pengemis. "Siangkong, kau baik sekali! Satu mahasiswa mempunyai tabeat begini mulia, sungguh jarang didapati!" Sin Cie dan Ceng Ceng tertawa. Mereka anggap si pengemis bukannya sembarang pengemis. Lantas mereka keluar dari paseban dan berlalu.
Baru beberapa tindak, Ceng Ceng telah menoleh. Dengan tiba-tiba, ia merandak, karena ia saksikan satu pemandangan yang mengherankan padanya. Ia dapatkan si pengemis sedang membungkuk, mengawasi ke sebelah kirinya di mana entah ada barang apa.
"Lihat, dia sedang awasi apa?" kata dia pada kawannya, tangan siapa ia tarik.
Sin Cie pun berdiam dan menoleh. "Entah kutu apa," sahutnya.
Pengemis itu, yang diawasi terlebih jauh, mengunjuki sikap sangat tegang, ia agaknya hendak lompat menubruk. Karena ingin tahu, pemuda dan pemudi ini berbalik, untuk mendekati. Si pengemis lihat orang kembali, berulang-ulang ia menggoyangi tangan, parasnya pun bertambah-tambah tegang. Menampak demikian, dua anak muda ini merandak, tetapi mata mereka menjurus ke arah benda yang diawasi si pengemis. Maka sekarang mereka bisa lihat, benda itu adalah seekor ular kecil panjang cuma setengah kaki, tubuhnya berwarna kuning emas, di antara salju yang putih meletak, warna itu jadi mencorong bercahaya.
Dengan pelahan sekali, ular kecil itu jalan berlerot di atas salju, dan si pengemis, dengan pelahan juga, mengikuti dia.
Dengan tiba-tiba saja Ceng Ceng menunjuk ke satu arah belasan tumbak dari tempat ular itu.
"Lihat, itulah aneh!" katanya separuh berbisik kepada Sin Cie.
Anak muda ini berpaling, akan memandang ke arah yang ditunjuk itu. Di situ, di antara salju, ada lobang sebesar mulut jambangan kecil, lobang itu tidak ada saljunya walaupun di sekitarnya, salju bertumpuk seperti di seputar situ, dan kapan kembang salju jatuh di betulan lobang, segera salju itu lumer menjadi hawa yang naik ke udara, seperti juga di dalam lobang itu ada hawa panas dari api.
Ular kecil itu menggeleser terus ke arah lobang itu, setelah sampai, dia tidak masuk ke dalamnya, dia hanya jalan memutar sampai beberapa putaran.
Si pengemis, yang masih saja mengikuti ular itu, menggoyang-goyang tangan kepada Sin Cie dan Ceng Ceng, untuk mencegah orang datang dekat kepada lobang atau ular itu. Rupa tegang dari si pengemis masih belum juga lenyap.
Maka dua anak muda ini berdiri di samping dari mana mereka terus mengawasi, untuk mengetahui, bagaimana kesudahannya pemandangan yang luar biasa ini.
Sekarang ular kecil itu berhenti berputaran, dia menghadapi ke arah lobang, dia seperti menghembuskan napas.
Tiba-tiba terdengar satu suara pelahan dari lobang dalam salju itu, atas mana, ular kecil itu mundur dengan tiba-tiba, sebaliknya dari dalam lobang lantas muncul seekor ular besar.
Terkejut Ceng Ceng menampak ular itu, sampai ia keluarkan seruan tertahan.
Pengemis itu memandang dengan mata melotot, tandanya ia gusar, mungkin jika keadaannya sendiri tak sedang tegang atau bergelisah, tentu ia telah tegur nona kita.
Ular besar itu panjang setumbak lebih, tubuhnya besar bagaikan lengan, kulitnya berwarna lima macam, kepalanya berpesegi tiga, besarnya sedikit melebihkan kepalan tangan.
Sin Cie pernah dengar Bhok Siang Toojin omong, kalau imam itu sedang mencari bahan obat-obatan di gunung, sering dia menemui ular-ular berbisa, katanya ular dengan kepala segi tiga adalah yang paling liehay racunnya. Maka itu, ular ini pastilah ada ular berbisa, yang jarang ada. Pun biasanya, selama musim dingin, ular semacam ini lebih suka mengeram di dalam liangnya, sangat jarang keluarnya. Kali ini, rupanya, ular besar itu muncul karena terpengaruh si ular kecil itu.
Nyata sekali roman menakuti dari ular besar itu, sebab ketika dia pentang mulutnya, dari situ keluar lidah yang besar panjangnya setengah kaki, warnanya merah darah, lalu lidah itu dikeluar-masukkan berulang-ulang.
Ular kecil itu lantas lari, akan tetapi dia lari berputaran saja. Di belakang dia, mengikuti si ular besar, yang besarnya berlipat tiga puluh kali. Ular besar ini pun turut berputaran melulu, matanya terus mengawasi dengan tajam. Entah kenapa, dia agaknya jeri untuk segera menerkam si ular kecil, walaupun dia sudah angkat tinggi kepalanya. Dia mengikuti dengan tubuh melingkar.
Ular kecil itu lari semakin keras, si ular besar mengikuti semakin cepat.
Ceng Ceng mengawasi terus, sekarang ia tak jeri lagi seperti tadi. Sebaliknya, ia sangat ketarik hati, ia ingin ketahui bagaimana akhirnya.
Si pengemis, yang terus mengawasi kedua binatang merayap itu, sekarang nampaknya menjadi repot, sebagaimana dia selalu geraki kedua kaki dan kedua tangannya, tak hentinya ia keluarkan dari dalam kantongnya serupa barang berwarna kuning, dikeluarkannya sepotong dengan sepotong, tiap sepotongnya ia kasih masuk ke dalam mulutnya, untuk digayem, dimamah, dan setiap habis memamah, ia keluarkan itu, untuk dipulung menjadi seperti benang, terus diletaki di tanah, di atas salju, dengan dilingkari hingga menjadi lingkaran kuning.
"Eh, dia bikin apakah itu?" tanya Ceng Ceng pada kawannya.
"Mungkin pengemis ini hendak tangkap ular itu," sahut Sin Cie.
Itu waktu mendadak sang ular kecil berhenti berlari, untuk hadapi si ular besar, lalu dengan gesit dia berlompat, menubruk ke arah si ular besar itu.
Ular besar itu tidak lari atau berkelit, sambil tetap diam melingkar, dengan kepalanya tetap diangkat, dia semburkan uap merah ke arah penyerangnya, atas mana ular kecil itu jumpalitan, jatuh ke tanah, untuk terus merayap. Rupanya uap merah dari si ular besar itu, hebat bisanya, dan si ular kecil tak sanggup melawannya.
Dengan tiba-tiba saja Sin Cie ingat kitab "Kim Coa Pit Kipnya" warisan dari Kim Coa Long-kun, di situ antaranya ada satu ilmu silat seperti "Pat Kwa Yu-sin-ciang" atau "Tangan Pat-kwa" tetapi gerak-gerakannya lebih sulit. Ia telah yakinkan ilmu silat itu tetapi belum sempurna, karena kurang perhatiannya. Sekarang, ia saksikan pertempurannya kedua ular itu, mendadak ia ingat ilmu silat itu, yang mirip gerak-gerakannya.
"Apa mungkin Kim Coa Long-kun ciptakan ilmu silatnya itu dengan dia menelad gerakgeriknya ular-ular berkelahi?" pikir dia.
Karena ini, ia mengawasi dengan perhatian penuh. Ia dapat kenyataan, lukisan gerakan Kim Coa Long-kun masih kalah gesit dengan gerakan si ular kecil ini. Si ular besar sebaliknya tetap tenang, dia bersiaga saja, hingga daya pembelaannya menjadi tangguh sekali.
"Dia mirip sebagai bocah," pikir Sin Cie mengenai sikapnya si ular besar.
Si pengemis masih belum berhenti mengunyah benda kuning itu, saban-saban ia tambah kurungannya, yang jadi berlapis, jaraknya lapisan satu dengan lain sekira satu kaki. Adalah setelah merasa cukup membuat kurungan istimewa itu, baru ia bersenyum berseri-seri. Sekarang ia mengawasi kedua ular sambil ia membungkuk tubuhnya.
Beberapa kali ular kecil tubruk lawannya, setiap kalinya ia dipukul mundur teratur oleh semburannya uap merah dari si ular besar, ular mana sebegitu jauh tidak melakukan serangan membalas.
Sin Cie terus memasang mata, selalu ia dapatkan, cara menubruknya si ular kecil berbedaan, sedang semburan uap merah dari si ular besar, makin lama makin tipis.
"Jikalau terus mereka berkelahi sebagai ini, ular besar bakal kalah," pemuda ini pikir.
Adalah itu waktu, baru si ular besar lakukan penyerangan pembalasannya, hebat adalah sikapnya dan cara menerkam - mulutnya dibuka lebar-lebar, di situ kelihatan giginya yang kasar-kasar.
Setiap kali disantok, si ular kecil melejit, sambil berlompat atau berkelit, tak mau dia kasih dirinya kena disambar, beberapa kali dia mengalami saat-saat bahaya, ketika tubuhnya terpisah hanya sedikit jauh dari mulut lebar dari lawannya.
Sesudah menerkam beberapa kali tanpa hasil, si ular besar seperti telah menginsyafi siasat berkelahi lawannya, lantas ia pun menggunai siasat. Satu kali ia mengancam ke arah kiri, selagi si ular kecil berlompat, ia terus berlompat juga, akan sambar ekornya.
Liehay adalah si ular kecil, sambil egos ekornya itu, ia tekuk tubuhnya, kepalanya menyambar ke bawah, menubruk mata kiri si ular besar!
"Bagus!" berseru Sin Cie, bahna kagum. Itulah pemandangan yang ia belum pernah nampak.
Ular besar itu rupanya telah terluka, ia geraki tubuhnya dengan cepat, bukan untuk balas menyerang dengan sengit, hanya untuk menggeleser lari ke dalam liangnya, hingga sekejab saja, tubuhnya lenyap tak kelihatan lagi.
Si ular kecil memburu sampai di mulut lobang, di situ ia berhenti, agaknya tak sudi ia masuk ke dalamnya, hanya di mulut liang, ia menghembus napas dan menyedotnya berulang-ulang.
Mendadak Ceng Ceng rasai kepalanya pusing.
"Eh, eh!" serunya, lekas-lekas ia sambar lengannya Sin Cie, untuk pegangan.
Sin Cie terperanjat, tapi segera ia mengerti, si nona tentulah telah terkena uap ular berbisa itu, sebab tadi dia berdiri terlaku dekat. Ingat ia kepada Cu-ceng Peng-siam, kodok es pemberian Ouw Kui Lam, yang ia selalu bawa dalam sakunya, maka lekas-lekas ia keluarkan itu, untuk dekati itu ke mulut si nona.
"Sedot ini!" katanya.
Ceng Ceng menyedot napas berulang-ulang, setelah mana dengan lekas ia merasai hawa yang nyaman, terus sampai ke dalam dadanya, maka sebentar kemudian, lenyaplah rasa pusingnya.
Pengemis itu lihat kodok es, ia mengawasi dengan mendelong, wajahnya menjadi terang, nampaknya ia mengilar sekali.
Sin Cie sambuti mustikanya, untuk disimpan, kemudian ia tarik tangan si nona, untuk diajak mundur beberapa tindak. Ia lihat lagaknya si pengemis, di dalam hatinya, ia kata: "Aku tidak sangka kau, tukang tangkap ular, matamu tajam sekali, kau kenali mustika ini. Setiap hari kau berdekatan dengan binatang berbisa, memang mestika ini sangat berharga untuk lindungi dirimu dari bahaya."
Ketika itu dari dalam liang mengepul uap merah. Rupanya ular besar itu tak sanggup menangkis saja serangan uap musuhnya, mau dia keluar pula untuk bikin perlawanan lebih jauh. Tatkala satu kali semburkan uapnya yang tebal, mendadak ia nongol di mulut liang, terus dia menerjang. Tapi ia sekarang bermata satu, ia tak gesit seperti tadi.
Ular kecil membuat perlawanan seperti tadi, ia unjuk kegesitan dan kelincahannya, sampai ia kena hajar mata kanan si ular besar yang terus jadi buta seperti mata kiri tadi.
Mungkin karena kesakitan, ular besar lari kembali ke liangnya, mulutnya dipentang.
Ular kecil menjaga lobang, ia tidak mau menyingkir, sampai tiba-tiba disambar musuhnya, sampai dicaplok, terus ditelan!
Sin Cie dan Ceng Ceng kaget. Mereka sayangi, sesudah menang, sekarang si ular kecil kena dikalahkan, malah dia kena dicaplok!
Habis menelan, mendadak ular besar itu gelisah, ia bergulingan, agaknya ia kesakitan, satu kali dia banting diri dengan keras, berbareng dengan mana si ular kecil lompat keluar dari perutnya si ular besar, yang telah berlobang. Maka nyatalah, selagi ditelan, musuh cilik ini gigit perutnya, hingga musuh jadi kesakitan, dia menggigit terus, sampai perut itu tembus dan ia molos keluar dengan tak kurang suatu apa.
Sekarang ular kecil itu angkat tubuhnya, untuk berdiri sebatas buntutnya, lalu tak berhentinya ia menarik, menyedot napas, hingga ia sedot sisa uap merah yang berada di sekitarnya, kemudian dia menyerang si ular besar, akan akhirnya catok lidahnya musuh yang sudah jadi bangkai itu, untuk ditarik, dibawa masuk ke dalam lobang. Dia bertubuh sangat kecil tetapi dia kuat seret tubuh yang besar luar biasa itu, entah dari mana datangnya tenaga raksasa.
Berdua Sin Cie dan Ceng Ceng berdiri bengong saking heran dan kagum.
Sebentar kemudian, ular kecil itu merayap keluar dari lobang.
Menyusul ini, sikapnya si pengemis jadi tegang pula, ia terus pasang mata terhadap si merayap yang liehay itu.
Kapan ular kecil itu telah menggeleser sampai di dekat kurungan kuning, mendadak dia jumpalitan, lalu ia merayap balik ke tengah-tengah kalangan.
"Apakah adanya benda kuning itu?" tanya Ceng Ceng. Ia heran.
"Mungkin, obat itu ada sebangsa hiong-hong, obat-obatan untuk menaklukkan ular berbisa," sahut Sin Cie.
Ular kecil itu melingkar di tengah kalangan, lantas ia jalan berputaran, akan dengan sekonyong-konyong dia berlompat, ekornya menolak keras, hingga ia berhasil melompati lingkungan kuning yang pertama, hingga ia jadi berada dalam lingkungan yang kedua.
Nampaknya si pengemis kaget, ia menjadi gelisah.
Di dalam lingkaran yang kedua ini, ular kecil berwarna kuning emas itu berjalan pula dengan keras, mengitari kurungan, sesudah mana, kembali ia berlompat, hingga ia berada di dalam lingkaran yang ketiga.
Dalam gelisahnya, si pengemis lantas saja berkelemak-kelemik, agaknya ia membaca mantera, setelah mana, ia taruh kedua tangannya, dengan telapakannya, di tanah, lalu ia angkat naik tubuhnya, kedua kakinya di atas. Dan begitu lekas si ular kecil jalan mutari kurungan itu, ia pun berjalan dengan kedua tangannya itu sebagai kaki, untuk mengikuti. Dengan matanya, ia terus awasi binatang merayap itu.
Pemandangan itu sangat lucu hingga Ceng Ceng tertawa sendirinya.
Tidak lama setelah berjalan dengan tangan, si pengemis mulai mengucurkan keringat, yang turun mengetel ke atas salju, setetes dengan setetes. Melihat ini, tanpa ia merasa, si nona berhenti tertawa, ia menjadi tercengang.
"Kenapa si tua-bangka ini menelad saja si ular kecil?" demikian pikirnya.
"Pengemis ini mempunyai ilmu silat yang sempurna," Sin Cie berbisik di kuping kawannya. "Sedikitnya dia berimbang dengan See Thian Kong dan Thia Ceng Tiok."
"Aku lihat tidak ada yang luar biasa dalam gerak-gerakannya...." kata si nona.
"Kau lihat dadanya," Sin Cie kata. "Dada itu tidak bergerak sama sekali, napasnya seperti tidak berjalan, toh dia dapat bertahan begini lama...."
"Aku tahu kenapa dia berbuat demikian," Ceng Ceng bilang. "Dia jeri untuk bisa yang berbahaya dari si ular, maka sebisa-bisa ia menahan napas."
Ular dan orang merayap dan berjalan dengan semakin cepat, akhirnya dengan mendadak saja, ular itu mencelat, untuk melompati lingkaran yang mengurung dia. Justru itu, si pengemis meniup dengan keras ke arah binatang itu, menyusul mana, dengan menerbitkan suara, sang ular jatuh ke tanah, gagal dia lompat menyeberang.
Sesudah gagal dengan percobaannya yang pertama, ular kuning itu kembali jalan berputaran, dari pelahan menjadi cepat seperti bermula, akan selanjutnya melesat pula. Tapi untuk kedua kalinya, ia digagalkan si pengemis, yang meniup pula kepadanya.
Lalu, sampai tiga kali, masih ular ini gagal dengan percobaan-percobaannya, tiupan si pengemis terlalu liehay baginya.
Benar-benar ular itu cerdik, untuk mencoba terlebih jauh, ia jalan berputaran bergantian, sebentar ke kiri, sebentar ke kanan. Secara begini ia membuat si pengemis selalu ikuti ia, ia bikin orang jadi repot dan sibuk. Lalu di akhirnya, ia lompat pula! Dan kali ini, ia berhasil!
"Hebat!" seru Sin Cie dan Ceng Ceng. Pemuda itu kagum untuk kecerdikannya.
Sampai di situ, si pengemis turunkan kedua kakinya, ia angkat kedua tangannya, dengan begitu ia jadi berdiri seperti biasa, berdiri menghadapi binatang itu.
Sang ular pun bersikap aneh, sesudah lolos dari lingkaran, bukannya dia terus kabur, dia justru berdiam dia angkat kepalanya, dia berdiri menghadapi si pengemis. Nyata dia bersikap hendak melakukan penyerangan!
Si pengemis jadi sangat tegang, dia jadi bergelisah, nyata dia berkuatir. Agaknya, menyingkir ia tidak mau, menyerang ia tak ungkulan.
Sin Cie segera siapkan tiga butir biji caturnya, ia hendak menolongi di saat pengemis itu menghadapi bencana.
Segera juga penyerangan dimulai, ular cilik itu berlompat, mulutnya menyantok.
Pengemis itu, dalam gelisahnya, berkelit menyingkir.
Ular itu membalik diri, tak mau ia lari, kembali ia menyerang.
Lagi-lagi, pengemis itu geser kakinya, egos tubuhnya. Ia cukup gesit untuk halau diri dari sesuatu penyerangan.
Masih si ular ulangi serangannya, sampai beberapa kali, senantiasa ia gagal.
Sin Cie lantas siap, ia kuatir si pengemis lelah dan kena ditubruk dan digigit binatang jahat itu.
Justru itu, si pengemis pun dapat pikiran. Benar ketika ia diserang pula, ia tidak menyingkir, dia justru sodorkan jempolnya yang kiri hingga sekejab saja, jempol itu kena dicatok sang ular! Tapi berbareng dengan itu, ia geraki tangannya yang kanan, dengan dua jarinya, ia jepit batang leher ular itu yang lagi gigit jarinya itu, ketika ia menjepit dengan keras, binatang itu buka mulutnya, rupanya disebabkan kesakitan, maka terlepaslah catokannya.
Cepat luar biasa, pengemis itu keluarkan sebuah bumbung besi dari sakunya, ia masuki ular itu ke dalam bumbung, yang tutupnya ia segera tutup rapat, sesudah mana, ia lempar bumbung itu ke tanah, lantas ia hadapi pemuda kita.
"Lekas keluarkan kodok es itu, tolongi aku!" mintanya.
Ceng Ceng mendongkol untuk sikap kasar orang itu.
"Buat apa tolongi kau?" katanya.
Sin Cie berpandangan lain dari kawan wanitanya ini. Ia suka pada si pengemis, yang pasti mempunyai ilmu silat sempurna.
Ia pun merasa kasihan, karena jempol kirinya pengemis itu lantas saja menjadi matangbiru dan bengkak, suatu tanda racunnya sang ular sudah lantas bekerja. Pasti sekali, racun itu bakal lekas merajalela, ke bahu, ke tubuh seluruhnya. Maka tak ayal lagi, ia keluarkan mustikanya, akan diserahkan pada si pengemis.
Bukan main girangnya pengemis itu, dia sambar mustika itu, terus dia tempeli pada lukanya. Dalam sesaat saja, darah hitam lantas mengalir keluar dari luka itu, tetes demi tetes, jatuh ke salju yang putih, hingga salju menjadi hitam, kemudian bengkaknya mulai kempes. Lagi sesaat kemudian, habislah darah hitam, jempol itu jadi merah dadu seperti biasa lagi.
Si pengemis lantas tertawa berkakakan. Dia robek ujung celananya, akan pakai robekan itu untuk membalut lukanya, sedang mustika kodok es itu bukan ia kembalikan kepada pemiliknya, sebaliknya, dia masuki ke dalam kantongnya!
"Mari mustikaku!" Ceng Ceng minta sambil membentak.
Sepasang alisnya si pengemis berdiri dengan tiba-tiba, wajahnya menjadi bengis dengan tiba-tiba juga.
"Apa?" katanya. Dia pun membentak. Untuk sedetik, Ceng Ceng melengak, matanya mendelong ke depan. Lalu ia menunjuk ke belakang pengemis itu.
"Hai, ada lagi ular kecil!" dia berseru, romannya kaget.
Pengemis itu terperanjat, dia lantas menoleh ke belakang.
Membarengi itu, Ceng Ceng geraki tubuhnya, sambil membungkuk, dia sambar bumbung besi yang berisikan ular berbisa itu, dengan cepat dia menodong ke bebokongnya.
"Aku akan cabut sumpelnya bumbung ini!" katanya dengan nyaring.
Pengemis itu kaget, ia menjadi lesu. Ia tidak lihat ular di belakangnya, mengertilah ia bahwa ia telah kena diperdayakan. Ia insyaf, asal sumpel dibuka, bebokongnya bakal kena dipagut ular berbisa itu dan itu berarti, dia bakal mampus keracunan. Tubuhnya bagian atas pun sedang telanjang. Tapi ia bernyali besar, lantas ia tertawa berkakakan, terus ia rogoh keluar kodok es dari kantongnya, akan sodorkan itu kepada Sin Cie.
"Aku main-main saja dengan kamu!" katanya sambil tertawa pula, "Ini nona sangat cerdik!"
Ceng Ceng tunggu sampai Sin Cie sudah sambuti mustikanya, baru ia kembalikan bumbung orang.
Tadi Sin Cie sayangi si pengemis, keras niatnya untuk ikat tali persahabatan dengan dia itu, akan tetapi pengalamannya barusan membikin hatinya berubah. Nyata pengemis ini bermartabat rendah. Sudah ditolong, orang hendak mentung!
"Sampai ketemu pula!" katanya. Ia memberi hormat, lantas ia tarik Ceng Ceng, untuk diajak pergi.
Pengemis itu mengawasi, kedua matanya bersinar jahat.
"Hai, tunggu dulu!" dia membentak.
"Kau mau apa?" tanya Ceng Ceng, yang kembali jadi mendongkol.
"Tinggalkan kodok es itu di sini, baru aku kasih kamu pergi!" kata si pengemis, yang jadi garang luar biasa. "Apakah kamu sangka aku dapat dibuat permainan?"
Belum pernah Ceng Ceng menemui orang demikian tak berbudi dan kurang ajar. Ia mau menyahuti, tapi Sin Cie telah dului ia.
"Kau siapa, Tuan?" tanya ini anak muda, yang mempunyai kesabaran luar biasa.
Masih matanya si pengemis bersorot bengis, bukannya ia jawab pertanyaan yang halus itu, dia justru geraki kedua tangannya, agaknya ia hendak menerjang.
"Pengemis ini hendak cari penyakit sendiri," pikir pemuda kita.
Benar di saat pengemis ini hendak menyerang, atau tak jauh dari situ, kuping mereka dengar senjata beradu keras, disusul bentakan saling susul, kemudian di antara tanah yang bersalju kelihatan dua bocah berbaju merah semua sedang berlari-lari mendatangi, pundak mereka menggendol bungkusan, di belakang mereka mengejar lima opas, di antara siapa ada Tok-gan Sin-liong Sian Tiat Seng si Naga Sakti Mata Satu, yang tangannya menyekal tiecio, ruyung besi pendek yang gagangnya bercagak pelindung tangan. Sembari berlari-lari, mereka itu sembari bertempur. Sampai di situ, kedua bocah itu lari ke arah si pengemis.
"Cee Su-siok! Cee Su-siok!" kedua bocah itu berteriak-teriak.
Terang mereka memanggil si pengemis ini, yang mereka bahasakan su-siok (paman). Kemudian, setelah datang lebih dekat, bungkusan mereka masing-masing mereka lemparkan ke arah pengemis ini.
Sang pengemis tanggapi kedua bungkusan itu, lantas dia letaki di tanah.
Setelah bebas dari gendolan bungkusannya, kedua bocah serba merah itu jadi lincah pula gerak-gerakannya, hingga mereka sanggup layani Sian Tiat Seng dan sebawahannya itu. Sulitnya bagi itu kepala opas, kawan-kawannya tidak punya ilmu silat yang berarti.
Pengemis itu awasi orang-orang yang berkelahi cuma sebentaran saja, kembali ia menoleh kepada Sin Cie, terus ia lompat menubruk anak muda kita, pundak siapa ia sambar dengan kedua tangannya.

Sin Cie masih tetap sabar, dia pun tidak niat sembarang tonjolkan ilmu silatnya, ketika orang berlompat, ia pun berlompat mundur, terus ia lari ke sebelah belakang Sian Tiat Seng.
Tiat Seng telah lantas lihat Sin Cie dan Ceng Ceng berdiri bersama si pengemis, mulanya ia heran, akan tetapi setelah tampak si anak muda diserang pengemis itu dan anak muda itu lari, semangatnya bangkit, segera ia perhebat serangannya.
"Aduh!" tiba-tiba bocah yang satu menjerit, karena pundaknya kena ditotok thiecio kiri dari kepala opas itu. Dia rubuh.
Bocah yang lain terkejut mendengar jeritan itu. Justru itu, kakinya Tiat Seng terangkat, maka ia lantas saja terdupak rubuh terpental.
Si pengemis tidak kejar Sin Cie, dia hanya berdiri dengan tegak menghadapi Sian Tiat Seng.
"Aku sangka siapa, kiranya Sian Loosu!" kata dia dengan suaranya yang keras dan kaku.
"Tuan, apakah she dan namamu yang besar?" Sian Tiat Seng balik menanya, suaranya tenang. "Dengan besarkan nyali aku mohon sukalah kau berikan kami sesuap nasi kami!"
"Aku satu pengemis, mana aku punyakan she dan nama?" sahut pengemis itu. Dia lantas hampirkan bocah yang rubuh, yang kena ditotok jalan darahnya, untuk ditotok pula, hingga di lain saat, bocah itu dapat bergerak pula seperti biasa.
Itu waktu dua opas maju, untuk pungut kedua bungkusan.
Itu pengemis lihat perbuatan itu, ia perdengarkan suara suitan, menyusul mana kedua bocah serba merah lompat kepada kedua opas itu, dengan berbareng mereka menyerang, hingga itu dua opas rubuh terguling, sesudah mana, mereka ini sambar dua bungkusan itu masing-masing, untuk terus dibawa lari!
Sian Tiat Seng kaget, ia lompat menguber.
"Bandit-bandit cilik bernyali besar, lepaskan bungkusan itu!" dia membentak.
Kedua bocah itu tidak memperdulikannya, mereka kabur terus.
Sian Tiat Seng mengejar hampir kena, ia lantas serang bocah yang berada paling dekat dengannya. Berbareng dengan itu, ia rasakan sambaran angin di sampingnya. Nyatalah si pengemis telah susul ia dan ulur tangan untuk sambar thiecionya itu. Ia punyakan mata satu tetapi ia awas luar biasa, maka itu, ia batal serang si bocah, ia putar tubuhnya, dengan senjatanya, ia hajar lengan orang di betulan buku tangan.
Pengemis itu tarik pulang tangannya, untuk terus dipakai menyerang ke bebokong kepala opas itu, siapa pun terus berbalik, untuk menangkis. Sengaja ia gunai tenaganya, untuk ukur tenaga dengan si tukang minta-minta itu.
Dengan mendadak, dengan sebat, pengemis itu tarik pulang tangannya, setelah berbuat begitu, ia lompat jumpalitan untuk jauhkan diri, sampai setumbak lebih, kemudian ia susul kedua bocah baju merah itu, untuk angkat kaki....
Sian Tiat Seng heran untuk kegesitan luar biasa itu, ia tidak mengejar, karena berbareng ia insyaf, sendirian saja, ia tidak bakal mampu berbuat banyak. Orang-orangnya tak dapat bantu dia, sedang Sin Cie berdua juga diam saja. Maka ia lantas hampirkan Sin Cie dan Ceng Ceng, untuk memberi hormat sambil menjura dalam.
"Maafkan aku, maafkan aku," kata dia.
Dua anak muda itu membalas hormat, akan tetapi mereka heran atas sikapnya kepala opas itu.
"Jangan seejie, Sian Loosu," kata Sin Cie. "Pengemis itu ada dari kalangan apa?"
"Mari kita pergi ke paseban sana, Jie-wie, sambil duduk nanti aku berikan keteranganku," kata orang tua itu.
Sin Cie ingin tahu hal si pengemis, ia terima baik undangan itu, ia ajak kawannya kembali ke paseban.
Setelah kedua anak muda itu duduk, Sian Tiat Seng lantas mulai dengan keterangannya.
Sejak bulan yang lalu, gudang negara telah tiga kali kecurian, jumlahnya semua beberapa ribu tail perak. Untuk negara, jumlah itu tidak seberapa, tetapi yang penting itu adalah uang negara, hartanya Kaisar, dan itu kejahatan diperbuat di "kakinya Kaisar". Maka pencurian itu dengan sendirinya telah menggemparkan kota raja. Apa yang hebat, kuping Kaisar pun terang, baru lewat dua hari sejak pencurian pertama, junjungan itu telah mendapat tahu.

Hok Siangsie, menteri yang bertanggung jawab atas isi gudang ngeara, dan Ciu Ciangkun, Kiu-bun Teetok atau pembesar militer yang menjamin keamanan kota raja, tentu saja telah dapat teguran keras. Malah Kaisar bilang, apabila dalam tempo satu bulan, pencurian itu belum dapat dibikin terang, semua pembesar yang bertanggung jawab itu bakal dipecat dan perkaranya akan diperiksa.
Hebat ada nasib kawanan opas, yang tidak berdaya untuk tangkap si pencuri, lebih dahulu merekalah yang dimestikan bertanggung jawab, sampai anak-isteri mereka, semua anggauta keluarga ditangkap dan ditahan.
Dalam putus asa, semua hamba wet itu, mereka dapat satu pikiran, lalu dengan memohon kepada seatasannya, mereka berhasil mengundang Sian Tiat Seng, bekas kepala opas yang telah lama undurkan diri. Begitulah telah terjadi, Tok-gan Sin-liong Si Naga Sakti Mata Satu itu telah turun tangan pula.
Juga Sian Tiat Seng telah menghadapi kesulitan. Menurut penyelidikannya, pencuri bukannya pencuri biasa, mestinya itu ada perbuatan satu atau lebih orang dari kalangan Rimba Persilatan, hanya sampai sebegitu jauh, belum pernah ia berhasil memergoki si penjahat. Ia kenal baik keadaan di kota raja, tak ada orang yang ia dapat curigai, tapi juga ia tidak berani menuduh.
"Hm, jadi kamu sangka kami!" kata Ceng Ceng, yang hatinya panas. Ia potong keterangan orang.
"Maaf, memang demikianlah dugaanku semula," Tiat Seng akui. "Kemudian aku membuat penyelidikan lebih jauh, hingga aku dapat tahu Wan Siangkong selama di Kim-leng sudah menolongi Tiat-pwee Kim-go Ciauw Kong Lee dan di Shoatang telah bersahabat sama See Thian Kong dan Thia Ceng Tiok, sampai akhirnya Siangkong dipilih dan diangkat menjadi bengcu dari tujuh propinsi. Nyata Siangkong ada seorang gagah yang dipuja..."
Senang juga Ceng Ceng mendengar Sin Cie dipuji, wajahnya lantas berubah menjadi lebih sabar.
"Walaupun aku telah ketahui tentang Wan Siangkong, apa mau mataku seperti buta, aku tak dapat lantas sambut Siangkong," Sian Tiat Seng lanjuti keterangannya itu. "Sebenarnya aku tak tahu bagaimana harus berkenalan sama Siangkong...."
Ceng Ceng tertawa sendirinya. Ia awasi hamba wet tua itu, yang matanya tinggal sebelah, mata yang lebih banyak putihnya daripada hitamnya.
"Karena itu setiap hari aku perlukan datang mengunjuk hormat pada Siangkong," Tiat Seng tambahkan kemudian.
Ceng Ceng tertawa.
"Kau tidak menjelaskannya, siapa tahu isi hatimu?" katanya.
"Justru sulit untuk menerangkannya," kata Sian Tiat Seng. "Aku hanya harap Wan Siangkong tidak gusar, aku harap-harap Siangkong sudi kembalikan semua uang yang dicuri, untuk bisa tolong jiwanya semua opas dan keluarganya. Di luar dugaanku, Siangkong telah kembalikan semua barang antaran kita, malah Siangkong dapat tahu nama dan gelaranku, hingga kesudahannya Siangkong ganggu aku dengan sebarkan karcis namaku. Siangkong telah tegur aku, aku terima itu...."
Ceng Ceng berdiam, ia seperti tak dengar perkataan orang tua ini, parasnya pun tidak berubah.
"Dalam putus asa, tadi aku telah atur penjagaan," Sian Tiat Seng melanjuti. "Aku tak tahu mesti bersikap bagaimana, aku cuma pikir, biar aku lawan keras. Sama sekali di luar sangkaanku, yang muncul tadi adalah dua bocah serba merah barusan, mereka sangat licin, sia-sia saja kami kepung dia sampai di sini. Kembali di luar sangkaanku, di sini aku bertemu sama pengemis yang liehay itu. Aku pun tidak sangka, Siangkong, di sini aku bisa bertemu sama Siangkong berdua. Sekarang, Wan Siangkong, aku mohon dengan sangat, sukalah kau beri petunjuk kepadaku...."


0 komentar:
Posting Komentar