Home » » PEDANG ULAR MAS 30

PEDANG ULAR MAS 30


Jilid 30

Orang tua itu bicara dengan sungguh-sungguh, terus ia berlutut dan manggut-manggut.

Sin Cie repot, untuk memimpin bangun, sedang hatinya terus berpikir.

"Pengemis itu dan kedua bocah terang bukan orang baik-baik," demikian pikirnya. "Karena mereka itu seterukan pembesar negeri. Buat apa aku campur tahu urusan mereka ini? Tidak ada perlunya buat aku bantui segala opas kotor?..."

"Kami pun tidak kenal pengemis itu," Sin Cie lalu terangkan. Ia ceritakan sedang ia dan Ceng Ceng pesiar, di situ mereka bertemu sama si pengemis penangkap ular berbisa, bagaimana ia telah tolong si pengemis tapi mustikanya hendak dirampas.

"Walaupun demikian, Siangkong, aku mohon kau suka bantu aku," Sian Tiat Seng ulangi permintaannya.

Sin Cie tertawa.

"Sulit, Loosu," katanya. "Menawan penjahat adalah pekerjaan hamba-hamba wet. Aku tidak punya guna, aku pun tidak bisa lakukan pekerjaan polisi sebagai kamu!"

Mendengar lagu-bicara orang, Sian Tiat Seng tidak berani banyak omong pula, ia menjura, lantas ia ajak orang-orangnya ngeloyor pulang.

"Mari kita pulang," Sin Cie pun mengajak kawannya.

Sepanjang jalan, Ceng Ceng caci si pengemis tidak berbudi.

"Kalau lain kali dia bertemu pula denganku, aku nanti kasi rasa!" katanya dengan sengit.

Tidak jauh, mereka berpapasan sama sejumlah serdadu dari kantor Kim-ie-wie, mereka itu sedang giring serombongan orang tawanan, di antara siapa ada kakek-kakek yang ubanan rambut dan kumisnya, ada ibu-ibu yang sedang empo bayi, tapi yang kebanyakan adalah orang-orang tua dan perempuan lemah. Serdadu-serdadu itu berlaku bengis, saban-saban terdengar dampratannya.

"Kasihani kita cong-ya," begitu Ceng Ceng dengar satu nenek-nenek. "Biar bagaimana, kita toh sama-sama makan gaji negara dan bekerja untuk umum.... Kita sama sekali tidak bersalah-dosa, cuma karena di kota raja ini muncul penjahat besar, kita jadi terembet­rembet mengalami kecelakaan ini...."

Satu serdadu pegang si nenek.

"Tidak karena penjahat itu, mana kita berjodo bisa bertemu seperti sekarang ini?" katanya. Ia tertawa.

Panas hatinya Sin Cie dan Ceng Ceng akan dengar omongan itu, buat saksikan keceriwisan orang. Mereka tahu, orang-orang tawanan itu adalah keluarganya hamba­hamba wet. Opas-opas suka ganggu rakyat jelata, pantas kalau sekarang mereka merasai kesengsaraan sebab gangguan penjahat liehay itu, akan tetapi anak-istri mereka, orang tua mereka mesti menderita begini, dua anak muda ini toh tak tega juga.

Sembari jalan terus, serdadu-serdadu itu lantas berteriak-teriak:

"Penjahat-penjahat telah ditangkap! Penjahat-penjahat telah ditangkap!" demikian suara mereka, sambil mereka gusur orang-orang tawanan itu, yang mereka rantai dan gandeng.

Banyak penduduk menyaksikan di pinggiran, rata-rata mereka menggeleng kepala dan menghela napas. Mereka tahu kawanan serdadu itu mendusta, mereka tahu orang-orang tawanan itu ada penduduk biasa, yang ditangkap untuk menambal tugas mereka, yang tak dapat mereka jalankan, maka rakyat mesti jadi korban.

Menyaksikan itu semua, hati Sin Cie dan Ceng Ceng jadi panas.

Kapan di akhirnya kedua anak muda ini sampai di rumah mereka, mereka lihat Ang Seng Hay sedang langak-longok, romannya gelisah, kapan dia lihat mereka, lantas dia jadi sangat girang.

"Bagus, sudah pulang!" seru dia.

Sin Cie heran.

"Ada kejadian apakah?" ia tanya.

"Thia Loo-hucu telah kena orang lukai, Siangkong sedang diharap-harap untuk tolongi padanya!" sahut pengiring itu. Ia girang akan tetapi kegelisahannya tak lantas lenyap semua.

Sin Cie kaget. Ia tahu Thia Ceng Tiok liehay, maka cara bagaimana jago tua itu dapat orang bikin terluka? Lekas-lekas ia turut pengikutnya itu masuk ke dalam, Ceng Ceng ikuti dia.

Di dalam kamar, Ceng Tiok nampak sedang rebah di atas pembaringan, mukanya berdebu dan hitam. See Thian Kong bersama Ouw Kui Lam dan Thie Lo Han semua duduk mendampingi jago tua itu, roman mereka kucel, tandanya bersusah hati dan berkuatir. Tetapi setelah mereka tampak Sin Cie, wajah mereka bersinar sebentar, tandanya mereka peroleh pengharapan.

Sin Cie lihat Ceng Tiok rapati kedua mata, napasnya jalan dengan pelahan.

"Di mana lukanya Thia Loo-hucu?" tanyanya.

See Thian Kong angkat tubuh Ceng Tiok pelahan-lahan, ia singkap bajunya, untuk kasi lihat bagian yang luka.

Menampak luka itu, Sin Cie kaget bukan main. Luka itu, di pundak kanan, telah bengkak dan matang biru, warna hitamnya mulai merembet ke muka, sedang ke bawah, warna hitam itu sudah sampai di pinggang. Di tempat yang warnanya paling hitam di pundak, ada bertapak lima jari.

"Inilah luka bisa!" kata Sin Cie. "Bisa apakah?"

"Thia Loo-hucu pulang dengan sudah terluka, agaknya ia dapat pulang dengan paksakan diri," sahut Thian Kong. "Sesampainya ia di rumah, ia sudah tidak bisa bicara lagi, dari itu tak tahu kita luka itu disebabkan racun apa...."

"Syukur kita ada punya mustika kodok es," kata Sin Cie kemudian.

Lekas-lekas ia keluarkan mustikanya itu, untuk ditempel di tempat yang luka.

Mustika itu benar liehay, dia lantas mulai sedot warna hitam itu. Hanya kali ini, badannya yang putih meletak bagai salju lantas berubah menjadi abu-abu, menjadi hitam.

"Rendam dia di arak hangat, racunnya akan keluar," berkata Ouw Kui Lam.

Sin Cie lekas tuang arak ke dalam cawan, ia angkat mustika itu, untuk direndam.

Benar seperti katanya Ouw Kui Lam, racun dalam tubuh mustika itu lantas keluar, hingga arak pun menjadi berubah hitam, sepetelah tubuh mustika menjadi putih pula, kembali lantas ditempelkan di lukanya Ceng Tiok.

Pengobatan cara begini dilakukan sampai belasan kali, barulah darah hitam dari tubuhnya Ceng Tiok dapat disedot keluar semuanya, setelah itu barulah Sin Cie uruti tubuhnya jago tua itu, untuk bikin darahnya jalan pula seperti sediakala.

Pertolongan ini memberi hasil baik, muka Ceng Tiok lekas jadi bersemu dadu pula. Karena ini, hati semua orang menjadi lega.

Malam itu Ceng Tiok bisa tidur dengan nyenyak, kapan besoknya pagi-pagi Sin Cie tengok dia, dia telah bisa bangkit dari pembaringan dan duduk. Ia lantas mengucap terima kasih.

"Jangan bicara dulu," Sin Cie mencegah seraya ulapkan tangan. Ia menyuruh orang bernapas dengan beraturan, untuk perbaiki jalan darahnya. Kemudian ia perintah orang untuk pergi panggil tabib yang pandai, untuk berikan obat guna bersihkan sisa-sisa racun.

Maka itu, di hari keempat, Ceng Tiok sudah sembuh betul, hingga ia bisa menuturkan sebab-musababnya ia mendapati luka yang berbahaya itu.

"Magrib itu aku lewat di depan pintu kota Cie-kim-shia, tiba-tiba aku dengar suara berisik, seperti orang lagi berkelahi," demikian ketua Ceng Tiok Pay mulai dengan penuturannya. "Aku pergi mendekati, untuk melihat. Aku dapatkan kembang tauwhu berserakan di tanah dan seorang, yang tubuhnya besar, sedang jambak satu anak tanggung, siapa dipukuli berulang-ulang. Atas pertanyaanku pada seorang, yang turut menyaksikan, dapat aku ketahui, bocah itu adalah si tukang tauwhu. Di luar kehendaknya, dia kena bentur orang itu hingga bajunya orang itu menjadi kotor, maka ia dihajar. Kasihan aku melihat itu bocah, aku lantas mendekati, untuk memisahkan. Aku bicara dengan sabar, aku memberi alasan yang pantas tapi orang itu tidak mau mengerti, ia memaksa minta dikasih penggantian uang kerugian. Aku tanya, berapa ia minta ganti, ia sebutkan satu tail perak. Aku suka tolongi bocah itu, aku lantas rogoh sakuku, untuk ambil uang. Siapa tahu, karena aku iseng, aku telah kena diperdayakan, aku terjebak ke dalam tipu-daya orang jahat. Aku merogoh dengan tangan kanan, baru tanganku masuk ke dalam saku, mendadak dua orang itu, ialah si kacung dan orang yang aniaya dia menyamber lenganku, untuk ditarik ke kiri dan kanan..."

Mendengar sampai di situ, Ceng Ceng berseru dengan tak dapat ia mengatasi dirinya.

"Segera aku insyaf bahwa orang sedang permainkan aku," Ceng Tiok melanjuti. "Aku lantas geraki kedua tanganku, untuk loloskan diri. Masih aku hendak tanyakan sebabnya kenapa mereka perlakukan aku demikian rupa, tetapi sebelum aku sempat berontak, tahu-tahu aku merasakan sakit sekali di pundakku yang kanan, sakitnya sampai meresap ke tulang-tulang. Itulah serangan yang aku tak sangka-sangka. Masih dapat aku berontak, aku terus sambar lengannya orang yang bertubuh besar itu, aku mundur satu tindak. Ada aku pakai dia untuk hajar si bocah. Berbareng dengan itu, aku lompat ke depan, untuk segera menoleh ke belakang. Maka sekarang aku dapat lihat, orang yang membokong aku adalah pengemis wanita tua yang berbaju hitam. Belum pernah seumurku melihat wanita sejelek dia. Seluruh mukanya penuh dengan lobang-lobang dan daging munjul, tapak-tapak luka, sepasang matanya menjuling naik. Ia awasi aku sambil tertawa secara dingin, kemudian dia angkat kedua tangannya, yang jeriji-jerijinya berkuku tajam, untuk menerkam aku...."

Di waktu mengucap demikian, wajahnya Ceng Tiok sedikit berubah, nyata ia merasa ngerti atau gelisah, rupanya ia berbayang dengan pengalamannya yang hebat itu.

Ceng Ceng kembali perdengarkan seruan, seruan tertahan, tak terkecuali See Thian Kong, Ouw Kui Lam dan yang lainnya. Mereka ini seperti juga merasakan hebatnya bokongan dan serangan kuku-kuku tajam itu.

Thia Ceng Tiok teruskan keterangannya: "Ketika itu aku kaget berbareng gusar. Atas terjangan itu, aku terus angkat tubuhnya, adalah keinginanku, untuk balas menyerang. Apa mau, tangan kananku tak dapat digeraki, tangan itu seperti membantah kehendakku. Wanita tua itu tertawa aneh, terdengarnya seram, terus ia mendesak. Dalam keadaan seperti itu, aku dapat akal. Mendadak aku membungkuk, dengan tangan kiri aku sambar tahang kembang tauwhu, dengan itu aku menimpuk ke arah muka wanita itu, sampai dia kelabakan, dengan kedua tangannya, dia susuti mukanya. Aku gunai ketika itu akan keluarkan dua batang ceng-tiok-piauw, aku hajar dadanya. Dengan begitu, aku bikin dia dapat pengajaran. Tapi itu waktu, aku merasakan sakit tak terikira, rasanya aku tak sanggup bertahan lagi, maka aku lantas saja lari pulang sekeras mungkin, sesampainya di rumah, lantas aku tak tahu apa-apa lagi.

"Apakah kau mempunyai sangkutan dengan wanita tua itu?" See Thian Kong tanya.

"Belum pernah aku bertemu atau lihat dia," sahut Thia Ceng Tiok. "Kami dari pihak Ceng Tiok Pay tidak punya hubungan suatu apa dengan rombongan pengemis dari Kanglam dan Kangpak, kita ada seperti air sungai yang tidak saling ganggu dengan air sumur."

"Apa mungkin dia salah lihat?" Ceng Ceng pun tanya.

"Aku rasa inilah bukan kekeliruan," sahut Ceng Tiok pula. "Setelah dia bohongi aku, aku telah menoleh ke arah dia, waktu itu dia telah melihat tegas padaku, tetapi dia masih terus menyerang secara bengis."

"Entah racun apa yang ada pada kukunya itu maka akibatnya ada berbahaya sekali," nyatakan Ouw Kui Lam.

"Mestinya dia pakai sarung jari tangan," kata See Thian Kong. "Kalau dia rendam kukunya dengan bisa, tak nanti dia sendiri sanggup bertahan."

Tidak ada orang yang dapat duga duduknya hal, orang pun heran atas hebatnya bisa itu, dan orang juga tak tahu asal-usulnya pengemis wanita tua itu.

Thia Ceng Tiok masih mendongkol, sampai ia tak dapat atasi dirinya tanpa ia mencaci musuh curang dan gelap itu.

"Saudara Thia, kau sabari diri, baik kau beristirahat," kemudian kata See Thian Kong. "Nanti aku keluar, untuk mencoba melakukan penyelidikan. Aku harap aku nanti berhasil, agar di lain hari kau bisa lampiaskan kemendongkolanmu ini."

Ceng Tiok suka terima nasehat itu.

Maka itu, mulai hari itu, See Thian Kong bersama Ouw Kui Lam, Thie Lo Han dan Ang Seng Hay, pergi keluar, sambil pesiar mereka melakukan penyelidikan. Mereka telah putari empat penjuru kota Pakkhia. Akan tetapi, selama tiga hari beruntun, mereka tidak peroleh suatu apa, malah bayangan si pengemis nenek-nenek juga tak pernah mereka lihat.

Di lain harinya, pagi-pagi, Tok-gan Sin-liong Sian Tiat Seng datang berkunjung.

Sin Cie tak sudi menemui tetamu itu, maka itu, yang keluar untuk melayani bicara adalah See Thian Kong.

Kepala polisi ini memperlihatkan wajah bermuram-durja, dia sangat bersusah hati. Dia memberitahukan bahwa kas negara kembali kecurian tiga-ribu tail perak, hingga ia jadi tidak berdaya. Dia tanya, bagaimana baiknya dia bertindak...

Urusan itu bukan urusan yang mengenai pihaknya, dari itu See Thian Kong menyahuti dengan sembarangan saja, kemudian tuan rumah itu belokkan pembicaraan mengenai si wanita tua, pengemis yang jelek dan aneh itu.

Sian Tiat Seng tidak omong banyak tentang ini pengemis wanita, akan tetapi dia agaknya sangat memperhatikan. Begitulah di hari besoknya, kembali pagi-pagi, dia datang secara tersipu-sipu.

"Tuan See, tentang pengemis wanita titu, telah aku dapatkan endusannya," berkata dia pada Thian Kong, yang muncul untuk layani pula orang polisi ini. "Aku anggap baiklah Wan Siangkong diundang keluar agar kita bisa mendamaikannya bersama."

See Thian Kong setuju, ia masuk ke dalam.

"Hm, pasti dia hendak jual lagak, dia hendak baiki kita, supaya dia bisa menggencet kita!" kata Ceng Ceng, yang sudah lantas menduga jelek.

"Mungkin dua-duanya dugaan benar," bilang Sin Cie. "Tidak apa, aku nanti ketemui dia."

Karena ini, semua orang keluar berbareng, akan ketemui Tok-gan Sin-liong, si Naga Sakti Mata Satu.

"Karena aku dengar wanita tua itu terkena senjata rahasia Ceng-tiok-piauw dari Tuan See," berkata si tetamu, "lantas aku duga pasti dia membutuhkan bahan-bahan obat seperti tee-kut-pie, coan-ouw-gan, coa-chong-cu dan leng-hie-kah, untuk obati lukanya itu. Karena ini aku segera kirim orang-orangku ke pelbagai rumah obat, untuk melakukan penjagaan kepada setiap pembeli obat. Aku pesan, siapa saja yang beli obat-obatan semacam itu, dia mesti dikuntit. Nyata aku berhasil memperoleh endusan. Ya, urusan benar-benar aneh!"

"Aneh bagaimana?" tanya See Thian Kong.

"Tahu Saudara-Saudara, di mana bersembunyinya perempuan tua itu?" tanya Tok-gan Sin-liong. "Dia telah ambil tempat di balai istirahat Pangeran Seng Ong! Seng Ong adalah saudara Sri Baginda Raja. Kenapa dia boleh punyakan hubungan sama wanita Kang-ouw? Inilah yang mengherankan aku!..."

Itu hal benar aneh, maka benar-benar, semua orang merasa heran.

"Sekarang mari antar aku ke balai istirahat itu, untuk melihat-lihat!" kata Sin Cie, yang perhatiannya pun tertarik.

"Mari," Sian Tiat Seng mengajak.

Karena yang lain-lain juga ingin pergi melihatnya, mereka pergi dalam satu rombongan. Si kepala opas jalan di sebelah depan.

Balai istirahat dari Pangeran Seng Ong berada di luar kota jauhnya tujuh atau delapan lie, dari jauh-jauh sudah nampak nyata temboknya yang hitam, yang mengurung balai istirahat itu.

"Nah, itu dianya!" kata Sian Tiat Seng.

Sin Cie menjadi heran.

"Itu toh gedung ke mana kedua bocah serba merah telah pergi sehabis mereka curi uang negara?" kata pemuda ini dalam hatinya. "Apakah tidak bisa jadi Sian Tiat Seng sengaja ajak aku datang kemari supaya kita terpaksa bantu dia mencari pencuri-pencuri uang negara itu? Jikalau ini ada balai istirahat dari satu pangeran, kenapa dia buatnya satu gedung secara begini luar biasa?"

Pemuda ini tarik lengannya Thia Ceng Tiok, ia sengaja perlahankan tindakannya, hingga mereka berdua jadi ketinggalan di belakang beberapa tindak.

"Kalau sebentar kita bertemu sama si wanita tua, jangan kau bergusar," Sin Cie berbisik kepada ketua Ceng Tiok Pay itu. "Di dalam segala hal, kau mesti bertindak dengan melihat isyarat dari aku."

Nampak wajah Ceng Tiok tak tenang. Ia tidak bilang suatu apa atas pesan itu, hanya mendadak, dia kata: "Wan Siangkong, aku... aku... rasai tubuhku kurang sehat, aku ingin lantas pulang untuk beristirahat...."

Heran Sin Cie mendapati sikapnya kawan ini.

"Dia toh ketua dari Ceng Tiok Pay," pikirnya. "Dia toh orang Rimba Persilatan kenamaan untuk di utara? Kenapa sekarang dia jadi kecil hatinya? Kenapa dia jadi jeri?"

Walaupun dia menduga demikian, pemuda ini tidak bilang suatu apa.

"Baiklah," katanya, yang terus suruh Seng Hay mengantari pulang.

Sin Cie jadi berpikir untuk berhati-hati, sebab selama beberapa hari ini, beruntun ia saksikan kejadian-kejadian langka.

See Thian Kong juga lantas ingat keterangan Sin Cie perihal sebuah gedung besar di luar kota, gedung yang tak ada pintunya.

"Gedung ini tidak ada pintunya, habis bagaimana orang bisa masuk ke dalamnya?" dia tanya Sian Tiat Seng.

"Mesti ada pintu rahasianya," jawab orang polisi itu. "Oleh karena ini ada balai istirahat dari Pangeran Seng Ong, tidak ada orang yang berani menanyakannya."

Sin Cie telah ambil sikap untuk menunggu, dari itu, ia tidak campur bicara. Dia ingin saksikan tingkah-polahnya Sian Tiat Seng. Dia malah dongak, akan awasi mega putih di atas langit.

Belum lama mereka berdiam di situ, tiba-tiba terdengar suara ayam berkokok kelabakan, terdengar juga suara berisik dari sayapnya, yang dipakai terbang, habis itu tertampak dua ekor ayam jago terbang keluar dari gedung hitam yang luar biasa itu, di belakangnya menyusul berlompat keluar dua kacung dengan pakaian biru, gerakan mereka sangat gesit, cuma dengan beberapa kali tubrukan, mereka berhasil menangkap kedua ayam jago itu. Mereka ini pandang Sin Cie beramai, lalu mereka lompat pula, masuk ke dalam gedung.

"Jarang untuk menemui ayam-ayam jago sebesar itu," kata Ceng Ceng, yang kagumi kedua ayam itu. "Sedikitnya setiap ekor beratnya delapan atau sembilan kati...."

"Dan dua bocah itu, ilmu silatnya ada dasarnya," bilang See Thian Kong, yang perhatiannya tertarik ke lain jurusan. "Aku anggap gedung ini bukan gedung sembarangan...."

Thian Kong belum tutup mulutnya, atau mereka dengar satu suara menjeblak yang nyaring, lalu segera nampak di antara tembok gedung terbukanya suatu pintu rahasia mirip lobang gua, dari situ lantas muncul satu orang yang pakaiannya aneh...

Pakaian itu terbuat dari sutra biru yang mentereng, akan tetapi pada bajunya sengaja ditambalkan beberapa tambalan dari cita-cita yang berlainan warnanya, hingga mirip dengan pakaian pengemis di atas panggung sandiwara.

Ketika orang itu telah datang dekat kepada rombongan Sin Cie, Sin Cie bersama Ceng Ceng dan Sian Tiat Seng terperanjat sendirinya. Orang dengan dandanan aneh itu adalah si pengemis tak berbudi yang mereka ketemui baru-baru ini! Itu pengemis tukang tangkap ular berbisa!

Orang itu menjulang matanya, ia menghadapi pemuda kita.

"Itu hari Siangkong berikan aku arak jempolan," katanya, "sekarang kebetulan Siangkong berkunjung kemari, mari silakan masuk! Bagaimana jikalau aku jadi tuan rumah?"

"Bagus, bagus!" sahut Sin Cie. "Baiklah, asal kami tidak mengganggu pada kau!"

Hampir tanpa berpikir lagi, Sin Cie terima baik undangan itu.

"Silahkan!" kata si pengemis, yang mempersilahkan dengan tangan kirinya.

Sin Cie jalan di muka, untuk masuk ke dalam pintu istimewa itu.

Ia dapat kenyataan temboknya tebal sekali, batunya batu-batu hijau, sedang pintunya, yang terbuat dari besi, beberapa dim tebalnya. Tembok di dalam ditabur hitam seperti di luar, semua rata, pantas pintunya sampai sukar dikenali.

Setiap kali mereka melewati satu tembok, yang merupakan kurungan, di belakang mereka, daun pintu besi menggabruk dengan keras. Sebab semua pintu adalah serupa.

Sesudah orang memasuki pintu dari tembok merah, pengemis tukang tangkap ular itu undang semua tetamunya duduk di hoa-thia, ruang tetamu, habis itu dia menepuk tangan dengan pelahan, beberapa kali, lantas muncul bujang dengan barang makanan dan arak.

Orang semua lihat, barang-barang makanan agaknya istimewa, cuma mereka tidak dapat duga, dari daging apa itu terbuatnya, nampaknya seperti ada sebangsa ular dan kalajengking, warnanya merah dan hijau, tegas sekali.

Tidak ada orang yang berani geraki sumpitnya.

Tuan rumah itu lihat tingkah-laku para tetamunya, ia tertawa terbahak-bahak.

"Silahkan, silahkan!" mengundangnya. Lantas saja ia kerahkan sumpitnya, untuk jepit sepotong barang hidangan, kapan ia telah angkat itu, orang lihat itu adalah seekor binatang dengan kepala merah dan tubuh hitam. Itulah seekor kelabang!

(Bersambung bab ke 19)


Bab 19

Semua orang terperanjat, akan tetapi sedangnya begitu, pengemis itu bawa sumpitnya ke mulutnya, atau tahu-tahu kelabang itu telah tercaplok masuk ke dalam mulutnya, terus saja dikunyah, dimakan secara sangat bernapsu, hingga semua orang jadi celangap, melainkan Ceng Ceng yang merasa enek, hampir saja dia muntah! Dia melengos ke samping, tak sudi dia melihatnya.

Tentu saja, karena pemandangan itu, semakin tidak ada orang yang berani gunai sumpitnya.

Tuan rumah lihat orang jeri, nampaknya dia sangat puas. Lantas saja dia hadapi Sian Tiat Seng, yang ia awasi dengan tajam.

"Kau adalah kuku garuda dari kantor negeri!" berkata dia dengan tidak sungkan-sungkan lagi. "Rupanya kau datang kemari untuk mendapatkan uang kas negara! Hm! Kau tahu, siapa aku ini?"

Sian Tiat Seng berlaku sabar, ia merendah.

"Maaf, aku tak dapat kenali kau, Tuan," sahutnya. "Aku mohon tanya Tuan punya she yang mulia dan nama yang besar...."

Orang itu kembali tertawa, berkakakan. Ia tenggak araknya, ia jepit pula sepotong daging, entah binatang apa, yang ia caplok dan kunyah dengan bernapsu seperti tadi. Kemudian ia tertawa pula.

"Aku yang rendah adalah orang she Cee nama In Go," katanya kemudian.

"Aku adalah satu bu-beng siauw-cu, orang yang tidak ternama, maka juga, saudara, mana kau kenal aku!"

Tapi Sian Tiat Seng terkejut, lekas-lekas ia berbangkit.

"Oh, Tuan jadinya ada Kim-ie Tok Kya!" katanya. "Sudah lama aku yang rendah telah dengar nama besarmu itu...."

Sin Cie sendiri belum pernah dengar nama julukan Kim-ie Tok Kay itu, atau "Pengemis Berbisa Berbaju Sulam", akan tetapi melihat sikapnya Sian Tiat Seng, mungkin dia seorang kenamaan, hanya ketika kemarin ini ia saksikan orang tempur ular berbisa, ia tidak lihat si pengemis punyakan kepandaian luar biasa. Maka ia heran kenapa kepala opas ini nampaknya jeri sekali.

Kembali Sian Tiat Seng berkata: "Agama Tuan biasa disebarkan hanya di dua propinsi Kwiesay dan Kwietang serta juga Inlam dan Kwie-Ciu, itulah karenanya maka aku tak dapat ketika untuk mengunjunginya...."

"Memang!" jawabnya Cee In Go itu. "Kami datang ke kota raja ini pun baru beberapa bulan."

"Sebenarnya sudah lama aku tidak dahar lagi nasi negara," berkata pula Sian Tiat Seng, "karena itu aku jadi tidak dapat tahu, Cee Enghiong, tentang kunjungan rombonganmu ini, hingga karenanya, pihak kami sudah tak sempurna melakukan penyambutan terhadap kamu, hingga kami telah lakukan hal yang tidak selayaknya. Maka itu sekarang, Cee Enghiong, aku datang untuk haturkan maaf kita."

Kata ini disusul dengan pemberian hormat menjura yang dalam dan berulang-ulang.

Cee In Go terlalu repot dengan arak dan barang hidangannya yang "lezat" sekali itu, ia tidak balas pemberian hormat itu, tidak perduli itu adalah cara menghormat yang sangat hormat sekali.

Ceng Ceng saksikan kelakuan Sian Tiat Seng, di dalam hatinya, dia berkata: "Biasanya kalau orang-orang polisi berurusan dengan rakyat jelata, mereka bengis dan garang bagaikan srigala dan harimau, sebaliknya apabila mereka berhadapan sama pihak tangguh, mereka jadi lemah dan rendah sekali, sekarang aku dapatkan buktinya. Aku hendak lihat, bagaimana lanjutnya urusan ini...."

"Saudara-saudaraku semua tolol sekali," demikian Sian Tiat Seng berkata-kata pula, "tanpa merasa mereka sudah lakukan kesalahan terhadap Cee Enghiong beramai. Sekarang ini, Cee Enghiong, apa pun yang kau titahkan kami lakukan, asal itu ada dalam kesanggupan kami, kami bersedia untuk melakukannya."

Baru sekarang pengemis she Cee itu berhenti makan.

"Sampai pada batas hari ini," katanya dengan tetap secara tekebur, "sama sekali kita telah ambil uang negara sejumlah sembilan-ribu lima-ratus tail perak! Itu jumlah sangat kecil, sangat kecil. Aku pikir kalau nanti kita sudah ambil cukup!"

Nyata sekali Tiat Seng terperanjat akan dengar jumlah itu, akan tetapi tetap dia bawa sikap merendah. Katanya: "Jikalau Hok Tayjin dari Kas Negara serta Ciu Tayciangkun yang menjabat Kiu-bun Teetok ketahui tentang Cee Enghiong beramai, pasti sekali mereka bakal menghadap Pangeran Seng Ong untuk menghaturkan maaf, dari itu mengenai kami, yang menjadi orang sebawahan, kami cuma hendak mohon supaya Cee Enghiong sudilah memberi kita sesuap nasi..."

Kim-ie Tok Kay tidak bilang suatu apa atas pengutaraan kepala opas itu, hanya dengan mata terputar, dia kata dengan keras: "Kau sekarang telah ketahui, semua uang negara itu telah berada di dalam balai istirahat Pangeran Seng Ong ini, maka apakah kau masih memikir untuk keluar dari gedung ini dengan masih berjiwa?"

Sikap itu, suara itu, bengis sekali. Maka ruang perjamuan itu menjadi sangat tegang, dengan sendirinya rata-rata tetamu bergelisah.

Ceng Ceng tidak mengerti, ia pun panas hatinya, tetapi di saat ia hendak membuka mulut, mendadak terdengar satu suara tajam dan luar biasa, yang datang dari lain bagian gedung itu. Suara itu menggiriskan dan berulang kali, beruntun, hingga tanpa merasa, sesuatu orang menjadi bergidik sendirinya.

"Apakah itu?" tanya Ceng Ceng, yang pun terkejut, hingga ia cekal keras tangan Sin Cie.

Si anak muda berbalik memegang keras juga tangan si nona, ia tidak bilang suatu apa.

Cee In Go sendiri sudah lantas berbangkit.

"Kauw-cu mulai bersidang!" katanya dengan nyaring. "Kamu semua boleh pergi mendengarkan putusan! Tentang nasib kamu, lihat saja peruntungan kamu masing­masing!"

Sian Tiat Seng kaget tidak kepalang.

"Jadi Kauw-cu pun telah datang ke Pakkhia?" tanyanya.

"Kauw-cu" ada kepala atau raja agama.

Cee In Go tidak menjawab, dia cuma tertawa menyengir, sikapnya jumawa dan dingin. Lantas saja ia bertindak ke dalam.

"Suasana hebat sekali, mari lekas kita berlalu!" kata Sian Tiat Seng, yang ketakutan tak terhingga. "Jikalau benar raja agama dari Ngo Tok Kauw telah datang sendiri, jikalau kita mati, tulang-tulang kita pun tidak bakal ketinggalan sepotong jua!"

Ngo Tok Kauw adalah Agama Lima Racun.

Sin Cie ingin lihat perkembangan terlebih jauh, akan tetapi ia merasakan tangan Ceng Ceng gemetar, sedang suasana benar-benar tegang sekali, dari itu, ia urungkan niatnya.

"Baik, marilah kita keluar dahulu!" katanya. "Nanti di luar baru kita pikir pula...."

Baru orang banyak itu putar tubuh mereka, untuk berlalu, mendadak ruang kamar menjadi gelap-petang, sampai lima jari mereka tidak dapat mereka lihat. Suara menggabruk yang nyaring hebat pun segera terdengar di sebelah belakang mereka, entah itu suara jatuhnya lempengan besi atau batu besar.

Mau tidak mau, semua orang menjadi kaget, apapula kapan suara hebat itu disusul sama suara yang seram aneh seperti bermula tadi. Itulah suara yang mirip dengan riuhnya burung-burung hantu atau pekiknya pelbagai kutu berbisa.

Selagi orang berada dalam kekuatiran dan terbenam dalam kegelapan itu, sekonyong-konyong bekelebat cahaya terang sekali, yang menyilaukan mata, lalu di antara sinar terang itu nampak dua kacung yang mengenakan pakaian serba hitam. Mereka ini menghampirkan, lantas mereka menjura.

"Kauw-cu memanggil kamu untuk menghadap si singgasana!" katanya.

"Entah mahluk aneh macam apa adanya Kauwcu itu..." pikir Sin Cie. "Baik aku pergi ke istana, untuk tengok cecongornya...."

Maka ia tarik tangan Ceng Ceng, untuk diajak pergi ke singgasana. Semua kawannya ikuti ia. Maka mereka semua jadi mengintil di belakangnya dua kacung serba hitam itu.

Dari ruang makan itu, mereka melalui satu lorong yang panjang, lalu membelok, beberapa kali, akhirnya sampailah mereka di sebuah pendopo, yang si kacung sebutkan istana atau singgasana.

Di tengah-tengah ruangan itu ada sebuah kursi besar, yang dikerebongi sutra sulam warna merah, di kedua samping kursi itu berdiri masing-masing dua tongcu atau kacung.

Kedua kacung serba hitam itu ajak sekalian tetamunya sampai di singgasana ini, lantas mereka sendiri memisahkan diri ke kedua sisi di mana pada setiap sisinya, lima kacung dengan pakaiannya masing-masing serba merah, kuning, biru, putih dan hitam. Dan yang serba merah itu Sin Cie kenali adalah dua kacung pencuri uang negara yang kemarin ini dikepung-kepung Sian Tiat Seng. Hanya sekarang ini, mereka berdua berdiri dengan tegak dengan kepala dikasih tunduk, sama sekali mereka tidak perdulikan tetamu-tetamu yang dipimpin masuk dalam ruangan itu.

Segera juga terdengar suara lonceng berulang-ulang dari arah belakang singgasana itu, suara mana disusul sama munculnya sambil berlerot rapi sejumlah orang, lelaki dan perempuan, yang tubuhnya tinggi dan kate tidak ketentuan. Sesampai di dekat kursi kebesaran itu, mereka ini memecah diri dalam dua rombongan kiri dan kanan, di setiap sisinya, delapan orang, maka itu ketahuanlah mereka semua berjumlah enam-belas orang.

Kim-ie Tok Kay Cee In Go ada di dalam rombongan ini, dia berdiri di barisan kiri, sebagai yang nomor lima. Di barisan kanan, sebagai yang nomor dua, ada seorang perempuan dengan hidung bengkung dan mata celong, kulit mukanya pucat-pias bagaikan kulit mayat, daging pada mukanya itu tidak rata, ada yang muncul, ada yang ceglok. Melihat dandanannya, dia adalah satu pengemis wanita tua-bangkotan.

"Dia pasti ada si pengemis yang telah melukai Thia Loo-hucu," Sin Cie menduga setelah ia pandang pengemis wanita itu yang romannya jelek dan menyeramkan.

"Apa yang mereka lagi bikin?" Sin Cie kemudian berbisik pada Sian Tiat Seng.

Mukanya kepala opas ini sangat pucat.

"Mereka ini adalah rombongan Ngo Tok Kauw asal dari propinsi Inlam," ia menjawab, suaranya pelahan dan menggetar. "Kali ini matilah kita semua!...."

"Ngo Tok Kauw itu sebenarnya apa?" tanya Sin Cie.

"Oh, Wan Siangkong...." kata kepala opas itu, suaranya masih tak tenang. "Ngo Tok Kauw adalah semacam kumpulan agama yang sesat, yang tak jeri membunuh sesama manusia secara sangat telengas dan kejam. Yang menjadi kauwcu, kepala agamanya, ada Ho Tiat Chio. Apakah Siangkong tidak kenal mereka?"

Sin Cie goyang kepala.

"Justru kepala agamanya belum keluar, mari kita berdaya untuk menyingkir dari sini....." Sian Tiat Seng berbisik.

"Kita lihat dulu!" kata Sin Cie, yang tetap tenang.

Tapi nampaknya Tok-gan Sin-liong takut bukan kepalang, rupanya telah bulat tekadnya untuk angkat kaki.

"Kalau begitu, maafkan aku!" katanya.

Belum sempat dia tutup rapat mulutnya, tubuhnya sudah bergerak, dia lari ke arah tembok. Teranglah sudah, dia berniat melompati tembok itu, untuk menyingkirkan diri.

Menyusul bergeraknya kepala polisi ini, dari barisan kiri dari rombongan Ngo Tok Kauw itu, orang yang nomor dua telah lompat maju, gerakannya sangat gesit, sambil berlompat, dia sambar kaki kiri dari Sian Tiat Seng, yang tercengkeram sebatas mata kaki.

Sian Tiat Seng juga bukan sembarang orang, dia mengerti ilmu silat dengan baik, walaupun dia sedang ketakutan, pikirannya tidak kacau, maka itu selagi kakinya disambar, ia geraki tubuhnya, untuk membungkuk, berbareng dengan mana, ia ayun tangannya yang kanan, akan hajar kepalanya si penyerang.

Orang nomor dua itu, yang tubuhnya tinggi besar, gunai sebelah tangannya, akan tangkis serangan kepada batok kepalanya itu, hingga kedua tangan jadi bentrok, menyusul mana, berdua mereka jatuh ke tanah. Sebab selagi mereka saling serang, tubuh mereka sedang berlompat ke arah tembok.

Habis itu, orang nomor dua itu tidak bertindak lebih jauh, hanya sambil tertawa dingin, dia kembali ke dalam barisannya.

Keadaan ada lain lagi dengan Sian Tiat Seng. Si Naga Sakti Mata Satu ini telah terluka pada kaki kirinya, pada telapakan tangannya yang kanan, yang tadi dipakai menyerang musuh. Luka-luka itu seperti luka terkena senjata tajam, sakitnya bukan main, terasa sampai di hati. Ketika ia angkat tangannya, untuk diperiksa, ia tampak lima luka lobang kecil dari mana mengucur keluar darah hitam, yang masih terus mengucur saja, hingga ia kaget tidak terkira. Dan ketika ia periksa kakinya, kagetnya bertambah-tambah, sebab luka di kakinya itu pun berupa lima lobang kecil yang sama rupanya. Kepala opas ini demikian kaget dan takut, hingga lantas saja dia rubuh terguling di tanah.

Nyatalah orang nomor dua itu, pada sepuluh jari dari kedua tangannya, ada kuku-kuku yang memakai sarung yang lancip-tajam, yang semua ada bisanya, tidak heran kalau Sian Tiat Seng telah terluka dan luka itu lantas mengeluarkan darah hitam, sebab racun bekerja dengan segera. Pantas kalau si kepala opas jadi ketakutan bukan main, hingga ia jadi putus asa.

Sin Cie segera hampiri Tok-gan Sin-liong, untuk dipimpin bangun. Selagi ia berbuat begitu, sepuluh kacung keluarkan dari masing-masing kantongnya sebuah suitan yang luar biasa macamnya, yang mereka lantas tiup nyaring beberapa kali, menyusul mana, semua dua-puluh lebih orang Ngo Tok Kauw di dalam ruangan itu pada jatuhkan diri untuk mendekam!

Segera setelah itu, dari belakang singgasana bertindak keluar dua orang perempuan yang cantik.

Dalam anggapan Sin Cie dan rombongannya, karena orang-orang Ngo Tok Kauw itu semua beroman tidak keruan dan aneh, kauwcu mereka atau kepala agama pun mestinya lebih-lebih tak keruan lagi, maka itu, tercenganglah mereka kapan mereka saksikan dua wanita yang elok ini.

Setelah mendekati kursi, di samping mana mereka berdiri, dua nona ini lantas berseru dengan suaranya yang nyaring tapi halus: "Kauwcu naik di singgasana!"

Segeralah terhembus bau yang harum, yang keluar dari belakang singgasana itu, bau harum mana diiringi satu wanita dengan pakaiannya serba dadu dan mentereng. Dia ini mempunyai sepasang mata yang bagus, yang dikatakan "mata burung hong", yang sinarnya menakjubkan, sepasang alisnya panjang, wajahnya tersungging senyuman manis dan menggairahkan. Dia berumur kurang lebih tiga puluh tahun, dan parasnya cantik sekali. Tapi, walaupun cantik dan pakaiannya indah, dan dari tubuhnya tersiar bau harum, kedua kakinya telanjang, dia tidak memakai sepatu, dan pada setiap kakinya, dan kedua tangannya juga, ada terselubung masing-masing dua buah gelang emas, hingga berbareng sama tindakannya, gelang-gelang itu perdengarkan suara beradu berkontrangan.... Kulitnya pun putih dan halus, seperti kumala saja, sedang rambutnya yang bagus, terurai turun ke pundaknya, bongkotnya tergelung dengan satu gelang emas juga.


Nona manis ini menghampiri kursi kebesaran, untuk duduk di atasnya.

Di belakang nona ini mengikuti dua nona lain, yang masih muda sekali, yang membawa kipas dari bulu burung.

Nona ini tertawa sebelumnya dia buka mulutnya.

"Aha, ada begini banyak tetamu!" katanya. "Lekas siapkan kursi. Silahkan duduk!"

Beberapa kacung segera lari ke dalam, untuk balik lagi bersama beberapa buah kursi, yang mereka bawa kepada Sin Cie beramai, yang mereka undang duduk.

Sin Cie beramai telah terbenam dalam teka-teki, hingga mereka memikir tak sudahnya.

Apakah si cantik ini yang disebutkan Ho Tiat Chiu, kepala dari Ngo Tok Kauw, yang Sian Tiat Seng jerikan bagaikan serigala atau harimau? Apa mungkin kepala agama ini masih begini muda dan cantik sekali rupanya?

"Aku mohon tanya she dan nama besar dari sekalian tetamuku," kemudian berkata si juwita itu, dengan suaranya yang halus dan merdu, sedang matanya mengawasi dengan tajam.

"Aku adalah she Wan dan ini semua adalah sahabat-sahabatku," Sin Cie menjawab. "Apa aku boleh tanya she Nona yang mulia?"

"Aku she Ho," sahut si nona.

Bercekat hatinya pemuda kita.

"Benarlah dia kauwcu dari Ngo Tok Kauw," pikirnya.

Kemudian si nona menanya: "Apakah Tuan datang untuk urusan uang negara?"

"Untuk aku sendiri, bukan," jawab Sin Cie. Ia terus tunjuk Sian Tiat Seng, sambil menambahkan: "Ini sahabatku she Sian makan gaji negara, kami sebagai rakyat jelata, kami baru saja berkenalan dengannya. Mengenai urusan negara, kami tidak berani campur tahu...."

"Bagus!" kata si nona. "Tapi kamu telah datang kemari, apa kehendakmu?"

"Aku ada punya satu sahabat she Thia," sahut Sin Cie. "Aku tidak tahu, dalam hal apa dia telah berbuat salah kepada pihakmu, dia telah mendapat luka yang hebat. Karena itu aku datang kemari, untuk minta keterangan. Andaikata ini ada urusan salah mengerti dengan satu dua patah kata saja, urusan bisa dibikin habis."

"Oh, kiranya kamu ada sahabat-sahabatnya Loo-hucu Thia Ceng Tiok!" kata si nona. "Inilah lain. Tadinya aku menyangka Wan Siangkong termasuk dalam rombongan kuku­kuku garuda! Mana orang-orang. Suguhkan air teh!"

Beberapa kacung bergerak pula, untuk gotong meja kecil, buat menyediakan teh.

Sin Cie beramai lihat air teh bersemu hijau guram, entah teh apa itu, walaupun baunya wangi, mereka tidak berani lancang meminumnya.

"Menurut katanya Cee Suheng," si nona berkata pula. "Wan Siangkong ada seorang yang manis budi dan gemar bersahabat, dan Siangkong pun mempunyai mustika kodok es, maka dari bermula aku telah menduga, Siangkong pasti bukannya bangsa kuku garuda..."

Heran juga Sin Cie. Nona ini menjadi kauwcu, kenapa dia bahasakan suheng, kakak seperguruan kepada Cee In Go? Bukankah, melihat kenyataan, orang she Cee ini adalah anggota, orang sebawahan?

"Mustika kodok dari Wan Siangkong mukjizat sekali," kata pula si nona. "Apakah Siangkong sudi akan perlihatkan itu kepadaku agar mataku jadi terbuka?"

Tak sudi Sin Cie serahkan mustikanya itu kepada nona ini, ia kuatir orang tidak nanti mengembalikan, seperti perbuatannya Cee In Go, maka itu, ketika ia keluarkan itu, lantas saja ia tempelkan di lukanya Sian Tiat Seng, siapa memang membutuhkan pertolongannya.

Semua orang Ngo Tok Kauw itu segera saksikan bekerjanya mustika, darah beracun dari lukanya si kepala opas sudah lantas disedot keluar, maka itu, semua mereka nampaknya sangat ketarik hati.

"Sungguh dahsyat!" seru si nona. "Aku cuma kuatir, kalau bisa yang paling beracun, dia tak dapat memunahkannya..."

Sin Cie heran juga. Kenapa si nona masih sangsikan mustikanya itu? Tapi ia cerdik.

"Itulah mungkin," katanya. "Di kolong langit ini, benda atau mahluk yang berbisa ada sangat banyak macamnya. Mustika sekecil ini, mana dia dapat berbuat demikian banyak?"

Akan tetapi Ceng Ceng berpikir lain, ia tak puas. Maka ia campur bicara.

"Itulah tidak bisa jadi!" demikian katanya.

Si nona puas dan girang mendengar perkataannya Sin Cie, tetapi kapan ia dengar suaranya Ceng Ceng, ia perdengarkan suara di hidung: "Hm!" Lalu ia tambahkan: "Ambil Ngo-seng!"

"Ngo-seng" itu berarti "lima nabi".

Lima kacung segera keluar dari barisannya, untuk pergi ke dalam, kemudian mereka keluar pula dengan membawa lima peti besi, sedang lima kacung lainnya menggotong sebuah meja, yang mereka letaki di tengah-tengah singgasana. Habis itu, semua sepuluh kacung itu berdiri mengitari meja.

Menarik perhatian adalah kelima bocah itu, mereka masing-masing memegang peti besi yang warna catnya sama dengan warna pakaian mereka: merah-merah, kuning-kuning, demikian seterusnya.

"Nampaknya gerak-gerik mereka ini mirip dengan cara siluman," pikir Sin Cie, "tetapi mereka mengatur diri menurut ngo-heng, mereka tak bertindak sembarangan..."

Setelah itu muncullah satu orang dari barisan kiri, yang nomor dua, yang dandan sebagai suku bangsa Ie. Dia bertubuh kekar. Dia menghampiri meja, untuk berdiri di pinggiran, kemudian dari sakunya, dia keluarkan sehelai bendera hijau. Dengan pelahan, dia kibarkan itu. Atas ini, kelima bocah buka tutupnya masing-masing peti besi mereka.

Kapan Ceng Ceng telah lihat apa isinya semua itu, tanpa merasa, dia keluarkan seruan tertahan. Dari dalam sesuatu peti itu mencelat keluar masing-masing seekor binatang berbisa, ialah ular hijau, kelabang, kalajengking, kawa-kawa dan kodok dingdang.

Kembali si orang she Ie kibaskan benderanya. Menyusul ini, semua sepuluh kacung undurkan diri dari samping meja. Sebaliknya, sebagai gantinya, dari dalam kedua barisan, keluar empat orang, yang hampirkan meja, untuk berdiri di sekitarnya, untuk lantas beraksi sendiri-sendiri, ada yang membaca mantera, ada yang jalan dengan tangan sebagai kaki.

Sin Cie menyaksikan sambil pikirannya bekerja.

"Jikalau pertempuran sampai mesti terjadi, mungkin pihakku tidak bakal kalah, akan tetapi tindak-tanduk mereka ini luar biasa, maka tak dapat aku berlaku semberono. Tak dapat mereka dipandang enteng..."

Di atas meja, ular hijau panjangnya satu kaki lebih, tidak ada bagiannya yang istimewa, sedang empat binatang lainnya, semua biasa saja, cuma sedikit lebih panjang atau besar dari umumnya.

Lima macam binatang itu lantas bergerak-gerak, jalan memutari muka meja; lantas mereka perlihatkan sikap seperti hendak saling serang, untuk terkam, terutama hawa-hawa beracun itu, tak henti-hentinya dia muntahkan jaringnya, untuk ia membuat bentengan di satu pojokan.

Sang kala adalah yang paling tak tahan sabar, dialah yang paling dulu serang bentengnya sang kawa-kawa. Satu kali saja dia menerjang, dia telah putuskan beberapa tali jaring, lantas dia mundur pula. Sang kawa-kawa awasi sang kala, lalu ia muntahkan pula galagasinya, untuk perbaiki jaringnya yang dirusak itu. Kembali sang kalajengking menerjang, lalu itu diulangi sampai beberapa kali, karena itu, tubuhnya lantas ketempelan galagasi, hingga dengan sendirinya, gerakannya menjadi lebih lambat. Ada beberapa kakinya yang terlibat sampai tak dapat dibebaskan.

Adalah setelah itu, sang kawa-kawa mulai dengan serangan pembalasannya, saban kali dia menerjang, dia muntah, hingga kesudahannya, tubuh sang kala terlibat jaringnya itu. Baru setelah itu, sang kawa-kawa merayap ke depan musuhnya ini, untuk diawasi dengan tajam.

Satu kali sang kawa-kawa ulur sebuah kakinya kepada musuh, sang kala geraki ekornya, untuk mengantup, tetapi begitu dia menyambar, penyerangnya segera tarik pulang kakinya, sambil mundur pula. Sang kala gesit, sang kawa-kawa lebih gesit pula.

Serangan sang kawa-kawa itu, yang merupakan gangguan, diulang beberapa kali, hingga sang kala jadi sangat gusar, satu kali dia kerahkan antero tenaganya, dia lompat menerkam. Sang kawa-kawa berkelit, dia luput dari bahaya. Tapi sang kala, dia telah berlompat keras, tak dapat dia pertahankan diri lagi, dia terjatuh ke dalam jaring musuh di mana dia ngamuk kelabakan, untuk loloskan diri.

Sang kawa-kawa lihat jaringnya ada yang putus, lekas-lekas ia menambalnya, untuk memperbaiki, hingga sang musuh tetap masih terkurung.

Sesudah berontak-rontak sekian lama, sang kala jadi kendor dengan perlawanannya, rupanya mulai habislah tenaganya. Maka menggunai ketikanya yang baik, sang kawa-kawa menubruk, terus dia menggigit.

Sedang sang kawa-kawa hendak binasakan korbannya, mendadak sang kodok datang menerjang. Binatang ini semburkan bisanya, dia dobolkan jaring musuh, lantas dia ulur lidahnya, untuk sambar tubuh sang kala, untuk ditarik keluar dari jaring. Cuma dengan satu kali caplok, dia telah telan sang kala masuk ke dalam perutnya!

Thanks for reading PEDANG ULAR MAS 30

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar