Jilid 4
Selagi Ciu San mendak, karena mana ia mesti berhenti lari, satu musuh lain serang ia dengan tiga batang kong-piauw, yang dilepasnya dengan beruntun. Ia lepaskan Sin Cie, ia gunai tangannya itu menanggapi dua buah piauw, di saat ia hendak balas menyerang dengan piauw itu, datanglah panah-tangan dan batu hui, hong cio saling susul, hingga ia jadi repot, batal menyerang dengan piauw, ia menangkis dengan kongcee.
"Mari!" ia teriaki Sin Cie, untuk ajak bocah itu lari lebih jauh.
Terpisahlah mereka ini dari tentara Beng adalah jauh, tidak demikian dari itu empat pengejar yang masih saja bayangi mereka.
"Sahabat baik, letaki senjatamu!" demikian salah satu pengejar berteriak, dengan lagu suaranya mengejek. "Marilah baik-baik turut kita pulang, nanti kita bikin kamu kurangan menderita...."
Ciu San paling sebal terhadap orang yang mulutnya enteng, dari itu, ia jadi mendongkol sekali. Sembari lari, ia geser kongcee ke tangan kiri dan piauw ke tangan kanan, ia tunggu sampai orang telah datang lebih dekat, mendadakan ia menyambit, ke atas dan ke bawah.
Tukang menjengeki itu menjerit, pahanya tertancap sebatang piauw, tidak tempo lagi, ia rubuh. Tetapi tiga kawannya tidak perdulikan ancaman, mereka mengejar terus.
Melihat orang datang semakin dekat, Ciu San kata pada Sin Cie: "Siangtoo dari orang itu ada bagus, nanti aku rampas untuk diberikan kepadamu!"
Habis mengucap, Ciu San tancap kongcee dit anah, lantas ia berlompat maju, akan hampirkan musuh yang bergegaman siangtoo, golok sepasang.
Dia ini sambut musuh, malah dengan pukulan beruntun "In-ling-sam-hian", atau "Naga Tiga Kali Perlihatkan Diri Dalam Awan", dia mendahului menyerang berulang-ulang, karena mana, Ciu San tidak lantas dapat mencapai maksudnya.
Di pihak lain, musuh yang kedua, yang bersenjatakan tiat-pian atau thie-phie, ruyung besi, telah berlompat kepada Wan Sin Cie.
Bocah ini bertangan kosong, segera ia menghadapi ancaman bahaya.
Ciu San mendongkol, karena tak dapat ia segera rampas siangtoo lawan, di lain pihak, ia lihat muridnya terancam, maka juga sambil putar tubuh, ia berlompat kepada musuh dengan tiat-pian di tangan itu, dengan ulur tangannya dengan "Kim-liong-tam-jiauw" atau "Naga Emas Mencengkeram" ia sambar bebokongnya.
Musuh ini sedang hendak babat pinggangnya Sin Cie, kapan ia dengar sambaran angin, ia lantas putar tubuhnya, berbalik, akan lihat si penyerang. Tapi sambarannya Ciu San sudah sampai, tidak sempat dia menangkis, terpaksa dia tolong diri dengan bertindak mundur. Justru itu Sin Cie di belakangnya telah ayun kakinya, maka kenalah ia terdupak kempolannya. Ia tidak rubuh, ia jadi gusar, ia menyabat ke belakang dengan tiat-pian. Tapi ia terlambat, Ciu San telah sambar ruyungnya itu, untuk dicekal keras, buat dirampas.
Dalam saat kedua pihak berguyengan, orang yang bersenjatakan siangtoo telah datang, untuk menyerang lebih jauh, bersama ia ada kawannya yang ketiga, yang bergegaman golok kwie-tauw-too, bersama-sama, mereka berdua menyerang dari belakang.
Juga orang yang pertama, yang tadi rubuh terkena piauw, bisa bangun pula, dia memegang tumbak, dia maju untuk tikam Sin Cie.
Itulah saat berbahaya untuk Ciu San dan muridnya. Walaupun demikian, orang she Cui ini tidak menjadi bingung atau putus asa. Sambil berseru, dengan pukulannya "Hang-liong-hok-houw" atau "Menakluki Naga Dan Menundukkan Harimau", dia hajar dadanya orang yang pegang ruyung, sampai dia ini rubuh terjengkang, malah dia kena tubruk kawannya yang bergegaman tumbak, yang hendak tikam si bocah, hingga dia ini turut terguling. Syukur untuk kawan ini dengan ruyung, dia tidak sampai tertikam tumbak teman.
Ciu San berlompat, akan rampas tiat-pian orang dengan itu ia tangkis serangan siangtoo dan kwietauwtoo, lalu ia tarik lengannya Sin Cie, buat diajak lari lebih jauh. Ia tidak punya ingatan akan layani terus empat musuh itu.
Baru sekarang empat lawan itu berhenti mengejar, mereka rupanya insyaf liehaynya satu musuh itu, sebagai gantinya, mereka keluarkan senjata rahasia masing-masing dengan apa mereka menyerang dari jauh.
Ciu San sibuk sekali ketika ia dengar sambaran angin saling susul, ia tarik Sin Cie kepada dadanya, untuk dipeluk, dengan ruyungnya, ia bikin penangkisan. Ia pun saban-saban lompat berkelit, akan menyingkir dari perbagai serangan saling susul itu. Karena adanya si bocah, gerakannya jadi terhambat.
Tiga biji pou-tee-cu datang menyambar, dua bisa dielakkan tapi yang satu mengenai paha kirinya Ciu San. Dia terkejut, sebab mulanya sakit sedikit, lukanya itu lantas jadi gatal. Ia insyaf, pou-tee-cu itu telah dikenai racun. Karena ini, dengan sekuat tenaganya, ia lari terus. Tetapi ini justru melekaskan bekerjanya racun, kaki kirinya lantas saja jadi kaku, hingga tidak saja ia tak mampu lari lebih jauh, ia malah rubuh terguling.
"Ciu Siokhu!" memanggil Sin Cie, yang kaget bukan main. Ia sendiri hampir turut terguling.
Empat penyerang, dengan samar-samar, lihat orang rubuh, kapan mereka dengar suaranya Sin Cie, mereka mengejar pula.
"Sin Cie! Sin Cie!" berseru sang guru. "Lekas lari! Aku nanti tahan mereka!"
Sin Cie masih bocah tapi ia cerdas, daripada lari, dia justru lompat ke sampingnya guru itu, ia hendak bersiap melawan musuh-musuhnya.
"Dengan kepandaianmu ini, mana sanggup kau belai aku?" kata Ciu San, yang terharu bukan main. Murid ini sangat berani dan bakti.
Empat musuh sudah lantas datang dekat, apapula yang bersenjatakan siangtoo dan kwietauwtoo. Yang pegang kwietauwtoo ini hendak menawan hidup-hidup, ia serang Sin Cie dengan belakang goloknya. Ia sengaja sambar bawah betisnya Sin Cie.
Sin Cie lihat serangan itu, ia berkelit sambil berlompat.
Ciu San lihat serangan itu, ia paksa bangkit, untuk berdeku dengan sebelah kaki. Dia masih pegang dia punya ruyung, dengan itu, ia timpuk orang yang pegang siangtoo. Dia ini kaget, sampai tak sempat dia berkelit, maka kepalanya kena tiat-pian, syukur tidak hebat. Sedangnya dia melengak, Ciu San enjot tubuh sekuat tenaga, akan tubruk musuh ini. Beruntung untuk dia, dia bisa sambar tenggorokan orang.
Musuh kaget, dia membacok, tapi bacokan ditangkis dengan lengan oleh Ciu San, siapa kerjakan tenaganya kepada semua jerijinya, maka di lain saat, musuhnya tecekek keras, tubuhnya rubuh, napasnya berhenti jalan tanpa berkaok lagi....
Inilah hebat, menampak itu, musuh dengan kwietauwtoo di tangan jadi jeri, lantas ia putar tubuh untuk lari. Melihat ini, dua kawannya, yang menyusul belakangan, yang memang telah terluka, turut dia dan lari juga.....
Ciu San sendiri mengeluarkan darah tak putusnya dari lukanya itu, kaki kanannya sudah lenyap rasa sakitnya, beku tanpa rasa apa juga. Tapi ia kertak gigi, ia kumpul tenaga, dengan bantuan golok, yang ditandalkan ke tanah, ia coba berbangkit. Ia insyaf, musuh lari tentu akan sebentar kembali bersama pasukan tentaranya, jadi ia tak punya tempo untuk disia-siakan.
"Mari!" ia ajak muridnya. Ia jalan dengan separuh merangkak, karena sebelah tangannya dipakai sebagai gantinya kaki. Ia separuh menyeret tubuh.
Sin Cie jalan di sebelah kanan gurunya itu, ia pasang pundaknya untuk gurunya cekal dengan tangan kanan, akan kasi dirinya digelendoti. Jadi, separuh dipepayang, Ciu San paksa jalan, setindak demi setindak.
Jalan sekian lama, keadaannya Ciu San tambah hebat. Mulai dari kaki, bekunya naik ke tangan, hingga pelahan dengan pelahan, habislah tenaga tangannya itu - tangan kiri. Sekarang ia mengandal pada tangan kanan saja.
Sin Cie merasai bandulan makin berat pada pundaknya, ia lawan itu, ia diam saja. Ia telah mandi keringat.
Mereka jalan terus, sampai si bocah pun lelah sekali.
"Cui Siokhu, di depan ada rumah orang, mari kita pergi ke sana," kata sang murid, apabila ia tampak sebuah rumah. "Kita beristirahat di sana sambil umpatkan diri...."
Ciu San manggut, ia paksa kumpul tenaganya. Adalah setelah sampai di depan pintu, tenaganya habis, terlepaslah cekalannya, hingga ia rubuh tanpa muridnya dapat mencegah.
"Cui Siokhu!" Sin Cie menjerit, sambil ia lekas membungkuk. "Cui Siokhu!"
Hampir itu waktu, daun pintu rumah terpentang, seorang perempuan usia pertengahan muncul di ambang pintu.
"Toa-nio," berkata Sin Cie, "kami bertemu tentara negeri, pamanku ini terluka, tolong kau ijinkan kami menumpang bermalam, satu malam saja...."
Perempuan tani itu murah hati, ia manggut, lalu ia teriaki satu anak tanggung, umur delapan atau sembilan-belas tahun, untuk bantui si bocah angkat tubuhnya Ciu San, buat diangkat ke dalam, direbahkan atas kong.
Karena ia ada tangguh dan kuat semangatnya, walaupun kaki dan tangannya beku sebelah, Ciu San tidak pingsan atau kalut pikirannya, sebaliknya, ia sadar benar-benar. Ia lantas suruh Sin Cie geser pelita, untuk ia periksa lukanya.
Kaget semua orang, akan tampak luka di kaki itu. Sebab kaki kiri itu bengkak besar, yang sepotong sudah matang-biru, dilihatnya mengerikan.
"Tolong bungkus luka di pundakku," Ciu San minta si tuan rumah muda. Kemudian, ia minta dibungkus keras juga pahanya, guna cegah racun naik dan menyerang ke jantungnya. Habis itu, ia cabut senjata yang melukai padanya. Segera keluar darah hitam.
Ciu San coba tunduk, ia niat isap darah dari lukanya, supaya racunnya tersedot, tapi bengkaknya demikian besar, mulutnya tak dapat sampaikan luka itu.
Melihat demikian, tanpa bersuara apa-apa, Sin Cie gantikan gurunya sedot darah itu, ia menyedot berulang-ulang, saban-saban ia muntahkan darah hitam itu. Setelah menyedot kira empat-puluh kali, baru ia kena hisap darah bersemu merah.
Akhir-akhirnya jago itu menghela napas.
"Syukur ini bukannya racun yang sangat berbahaya," kata ia. "Sin Cie, lekas kau kekumur!"
Nyonya rumah, yang mengawasi sedari tadi, lalu berdoa. Besoknya, lohor, tuan rumah muda, yang dimintai pertolongannya, pulang dengan laporan bahwa tentara negeri sudah mundur dari gunung Lauw Ya San. Di satu pihak, kabar itu melegakan hati. Akan tetapi, di lain pihak, keadaannya Cui Ciu San menguatirkan sekali. Bengkaknya mulai kempes, tapi di sebelah itu, tubuhnya menjadi panas, dia mulai mengaco-belo.
Sin Cie ada satu bocah, walaupun ia cerdik, ia toh bingung, ia tidak bisa berbuat suatu apa.
"Tuan kecil," berkata nyonya rumah, "aku lihat racun dalam kakinya pamanmu ini belum habis semua, perlu kau pergi ke kota kepada tabib guna periksai lukanya itu."
Sin Cie anggap usul itu baik. "Aku nanti pergi," kata ia. Nyonya rumah, yang baik hati, pergi pinjam gerobak kerbau dari tetangganya, dengan naik itu, Sin Cie pergi dengan diantar si anak tanggung. Ciu San direbahkan di atas gerobak.
Anak tanggung itu mengantari sampai di kota, sampai Sin Cie telah dapati sebuah rumah penginapan, lantas ia berangkat pulang. Sekarang, setelah berada di kota, Sin Cie kembali bingung. Mereka tidak punya uang. Ia bengong mengawasi saja gurunya, hingga ketika jongos tanya, ia hendak dahar apa, ia tidak dapat menyahuti. "Aku tidak lapar," kemudian ia kasi alasan. Tapi, seperginya si jongos, ia nangis seorang diri.
Selama itu, Ciu San rebah tak ingat dirinya, adalah sesudah lewat sekian lama, ia mendusin juga. "Bagaimana, Siokhu?" Sin Cie tanya. "Apa Siokhu merasa baikan?" Guru itu manggut.
"Apakah kau ada bawa barang berharga apa-apa?" tanya dia kemudian. Tiba-tiba Sin Cie ingat suatu apa, lantas dia menjadi girang.
"Ada ini!" kata ia, yang terus keluarkan sarungnya. Itu ada kalung emas tertabur delapan buah batu permata, dan di rantainya ada ukiran beberapa huruf, kapan Ciu San baca itu, bunyinya ada empat huruf "Hui Koan Hoan Ciang" yang berarti "Kejayaan Makmur". Di bawah itu ada lagi dua baris huruf-huruf kecil, yang berbunyi: "Selamat bahagia ulang bulan Wan Kongcu" dan "Selamat dari Couw Tay Siu".
Jadi itu ada tanda-mata dari Couw Tay Siu, panglima nomor satu dari Wan Cong Hoan, untuk peringatan usia sebulan dari Wan Sin Cie.
Couw Tay Siu ini, di waktu mudanya, ada gagah dan berandalan, kemudian ia kena ditawan Tok-bu Sun Sin Cong dari Kie-liauw, di waktu ia hendak dihukum mati, Wan Cong Hoan mintakan keampunan, dengan begitu, ia jadi sangat berterima kasih, keduanya jadi bersahabat bagaikan saudara, maka di kemudian hari, waktu Wan Cong Hoan binasa teraniaya, Couw Tay Siu jadi sangat gusar, dia bawa kabur tentaranya, dia tinggalkan kota raja tanpa pedulikan titah kaisar Beng. Di kota raja, semua orang berkuatir, kuatirkan panglima ini, yang berkuasa atas tentara, nanti berontak, sukur ibu dan isterinya Tay Siu ada orang-orang bijaksana, mereka bisa bujuk Tay Siu jangan berkhianat, hingga kesudahannya, Tay Siu ajak barisannya menentang desakan tentara Boan.
Pikirannya Ciu San sedang kusut, ia tidak perhatikan bunyinya kata-kata pada kalung itu.
"Pergi ajak jongos gadai kalung ini." Ia kata pada muridnya. "Di belakang hari, kita boleh datang pula kemari untuk menebusnya."
Sin Cie juga tidak pikirkan huruf-huruf ukiran itu.
"Baik," sahut ia, yang terus ajak satu jongos, untuk menggadai.
Pengurus pegadaian terkejut ketika ia periksa kalung yang hendak digadaikan itu.
"Sahabat cilik, tunggu sebentar , ya?" kata ia.
Pengurus ini masuk ke dalam, sampai lama, hingga Sin Cie dan si jongos tidak sabaran, baiknya kemudian, dia muncul juga.
"Sahabat cilik, kami terima gadai untuk dua-puluh tail." Kata ia.
Sin Cie tidak tahu apa-apa, ia mau terima, tapi jongos mintakan tambahan lagi lima tail, kalung itu jadi digadai buat dua-puluh lima tail.
Sambil bawa uang dan surat gadai, Sin Cie ajak jongos mampir sekalian pada tabib. Di luar tahu mereka, mereka sudah lantas dikuntit dua orang polisi, terus sampai di hotel.
Ciu San sedang tidur, kepalanya panas seperti api. Karena tabib, yang menyusul belakangan, belum juga sampai, Sin Cie menjadi kuatir pula, hingga ia pergi keluar, akan melihat, mengharap-harap kedatangan sang tabib.
Belum lama, mendadakan datanglah delapan orang polisi ke hotel, mereka itu bekal thiecio dan rantai belengguan.
"Ini dia si bocah," kata satu oppas seraya tunjuk Sin Cie.
"Eh, Anak, apa kau she Wan?" tanya oppas yang jadi kepala.
Sin Cie kaget, tak tahu ia mesti menjawab apa.
"Bukan," jawab ia akhirnya, dalam bingungnya.
Oppas itu tertawa, dari sakunya, ia keluarkan kalung emas tadi.
"Habis, kalung ini kau curi dari mana?" tanya dia.
"Itu bukan barang curian, itu ada barangku sendiri," sahut Sin Cie, yang dengan tidak langsung toh mengaku.
Kembali oppas itu tertawa.
"Wan Cong Hoan itu pernah apa denganmu?" tanya dia.
Sin Cie kaget, ia tidak berani menyahuti, hanya ia lari ke dalam, ke kamarnya, akan segera gebrak bangun pada Ciu San.
Di luar segera terdengar teriakannya kawanan oppas tadi: "Berandalan dari Lauw Ya San bersembunyi dalam hotel ini! Jangan kasi mereka lolos!"
Sementara itu, Ciu San mendusin dengan kaget, ia berbangkit, akan duduk, akan turunkan kakinya ke lantai, tapi ia tidak dapat bergerak dengan leluasa, begitu kakinya diturunkan, bukannya ia berdiri, ia justru rubuh terguling.
Di saat itu, rombongan oppas telah nerobos ke dalam hotel.
Dalam bingungnya, hingga ia tak keburu kasi bangun gurunya, Sin Cie lompat ke pintu, di sini ia berdiri untuk merintang.
Hotel sendiri lantas jadi berisik, tetamu-tetamu lainnya jadi berkumpul di pekarangan, akan saksikan hamba-hamba negeri melakukan penangkapan pada penjahat pemburon. Mereka jadi heran kapan mereka lihat, kawanan oppas itu justru menghadapi satu bocah cilik.
Satu orang polisi segera lemparkan rantai ke lehernya Sin Cie.
Bocah ini mundur, akan berkelit, tetapi ia masih berdiri di luar pintu, untuk cegah orang masuk.
Oppas itu jadi jengah, sebab ia, yang telah punyai pengalaman belasan tahun, tidak mampu bekuk seorang kacung, dari jengah, ia jadi gusar, maka ia ulur tangannya, akan sambar kuncirnya bocah itu.
Sin Cie takut melihat rombongan oppas-oppas itu, ia sudah mau menangis, tapi melihat orang demikian garang, dan sekali ini ia hendak dijambak rambutnya, ia jadi gusar, ia sambar tangan orang untuk dibetot dengan kaget. Ia gunai Hok-houw-ciang punya jurus "Heng-ho-tan-pian" atau "Tarik Melintang Satu Cambuk". Si oppas sempoyongan, ia jadi gusar, maka ia putar tubuhnya, akan tendang bocah itu. Ia pun mendamprat: "Anak haram, kau lihat tuanmu!"
Tubuhnya Sin Cie kecil dan kate, dengan mendak sedikit, ia kasi lewat tendangan itu, dengan kedua tangannya, ia tanggapi kaki dan kempolan orang, terus ia angkat dan mendorong dengan keras. Tidak tempo lagi, tubuh besar dari oppas itu terlempar, jatuh terbanting dengan keras! Sebenarnya Sin Cie tidak punya tenaga demikian besar, ia sanggup berbuat demikian sebab ia berbareng pinjam tenaga tendangan dari si oppas sendiri.
Banya orang bersorak. Mereka memang sebal melihat oppas-oppas itu, orang-orang dewasa dan tua, perhina satu bocah, tapi sekarang si bocah yang menang, mereka puas dan gembira, tanpa merasa lagi, mereka berikan pujian mereka! Oppas-oppas lainnya melengak, mereka heran hingga mereka hendak sangka bocah itu punya ilmu gaib. Tapi segera mereka saling melirik, lantas semuanya maju, dengan golok dan thiecio di tangan.
Menampak demikian, semua tetamu kaget dan takut, mereka pada mundur.
Biar bagaimana, Sin Cie masih terlalu muda, saking bingung, ia repot, tapi dalam saat yang berbahaya itu, sekonyong-konyong dari kamar samping lompat keluar satu orang, yang tubuhnya besar, mencelat ke depannya si bocah, terus ia geraki kaki-tangannya, entah bagaimana, dengan gampang ia dapat rampas senjatanya sekalian hamba wet itu, selagi oppas-oppas itu mundur dengan kekuatiran, ia mendesak, ia menyerang dengan kepalannya sampai orang babak belur. Habis itu, orang ini perdengarkan suara keras yang luar biasa.
"Siapa kau?" akhirnya satu oppas menegor. "Kami hendak tangkap orang jahat, lekas mundur!"
Seperti juga orang yang tidak dengar pertanyaan, tubuhnya orang itu melesat ke depan oppas ini, tahu-tahu tangannya sudah menjambret dada, apabila ia mengangkat, tubuh si oppas dilemparkan, hingga tubuh itu melayang, bagaikan layangan melewati tembok, ketika dia rubuh, dia terbanting keras, dia pingsan! Melihat demikian, semua oppas lainnya lari sipat-kuping keluar.
Orang kuat itu lalu hadapi Sin Cie, ia bicara, tangannya digerak-geraki, tapi suaranya "ah-ah uh-uh," maka sekarang ternyata dia adalah seorang gagu. Rupanya dia tanya si bocah, bagaimana duduknya hal.
Bingung Sin Cie, sebab ia tidak tahu bagaimana harus berikan keterangan. Selagi ia mengawasi dengan melongo, orang itu lantas saja angkat tangannya ke atas, lalu ke bawah, segera menyusul gerakan kakinya, maka tahu-tahu, dia sudah jalankan Hok-houw-ciang, sampai jurus kesepuluh, "Pek-pok-kie-hie" yaitu "Egos Serangan, Tubruk Kosong," ia lantas berhenti.
Baru sekarang Sin Cie mengerti. Sebagai jawaban, ia melanjuti jurus kesebelas. "Tek-touw-kwie," atau "Menendang Betis". Ia bersilat sampai empat jurus.
Si gagu menonton, lalu ia tertawa, ia manggut-manggut, kemudian ia ulur tangannya, akan tarik bocah itu, yang terus ia pondong.
Sin Cie ingat gurunya, walaupun ia girang, ia menunjuk ke dalam kamarnya. Ia mau tunjuki bahwa dalam kamar itu ada orang.
Si gagu manggut, ia bertindak masuk ke dalam kamar dengan masih empo bocah itu. Ketika ia lihat Ciu San numprah di tanah, mukanya pucat bagaikan mayat, ia kaget. Lekas-lekas ia turunkan Sin Cie, ia hampirkan orang she Cui itu.
Ciu San sadar, ia kenali si gagu ini, ia geraki kedua tangannya, ia tunjuk pahanya juga.
Si gagu itu mengerti, tidak tempo lagi, ia bekerja. Dengan tangan kiri, ia tarik Sin Cie, dengan tangan kanan, ia pondong Ciu San. Dengan tindakan lebar, ia lantas keluar dari kamar, dari hotel, akan lari sangat cepat, tidak peduli tubuhnya Ciu San ada seratus kati lebih beratnya.
Tuan rumah atau jongos tidak berani rintangi si gagu ini.
Si gagu ini berlalu bukan tanpa ada yang kuntit. Dua oppas, yang umpatkan diri di luar hotel, telah memasang mata, lalu mereka mengikuti dari jauh-jauh, pikir mereka akan cari tahu, di mana si gagu nanti taruh kaki, mereka akan cari bala bantuan untuk melakukan penangkapan terlebih jauh.
Ciu San masih tak sadar akan dirinya, ia tak tahu suatu apa bahwa si gagu bawa dia kabur. Si gagu sendiri tak tahu ada orang bayangi dia, ia tidak dengar suara apa-apa di arah belakangnya, karena kedua oppas terpisah jauh daripadanya. Akan tetapi Sin Cie, yang cerdik, lihat ada dua orang mengikuti saja, diam-diam ia tarik-tarik tangannya si gagu dan monyongi mulutnya, untuk mengasi tanda. Atas ini si gagu berpaling, ia lantas lihat kedua oppas itu, tapi ia tak bikin gerakan apa-apa, ia bertindak terus dengan cepat.
Mereka melalui tempat yang berupa tegalan yang sepi, makin lama makin sunyi, selang dua-tiga lie, tiba-tiba si gagu letaki tubuhnya Ciu San di tanah. Nampaknya dia ingin berhenti, untuk menghilangi lelah, tidak tahunya, dengan sekonyong-konyong ia membalik tubuh, untuk berlompat, begitu pesat, hingga dalam dua-tiga enjotan saja, ia sudah sampai di depan kedua oppas itu tanpa mereka ini menduga suatu apa.
Tentu saja kedua hamba wet itu menjadi kaget dan takut, tidak tempo lagi, mereka berhenti jalan, mereka putar tubuh, dengan niat mengangkat kaki. Tapi sudah kasep! Si gagu ada terlalu sebat untuk mereka, sebelum mereka bisa angkat kaki, dia ini sudah sampai, kedua tangannya diulur, hingga tak ampun lagi, mereka kena terjambak masing-masing! Si gagu tidak melainkan mencekuk kedua oppas itu, tanpa pikir pandang lagi, ia angkat kedua tangannya, ia ayun itu ke sampingnya, di mana ada jurang, apabila ia telah lepaskan jambakannya, kedua tubuh terlempar melayang ke dalam jurang.
"Aduh!...." adalah jeritan hebat, yang tertahan, lantas sunyi-senyap. Sebab kedua oppas telah terbanting hebat di dalam lembah, kepala mereka pecah, otak mereka hancur berantakan! Habis tamatkan lelakon hidupnya kedua oppas itu, si gagu kembali kepada Ciu San, tubuh siapa ia angkat pula, untuk dibawa pergi lagi, tetap dengan tindakannya yang lebar, cepatnya bagaikan terbang.
Sekali ini sibuk juga Sin Cie, ia coba berlari-lari keras, tak dapat dia mengikuti dengan saksama, ia paksakan kedua kakinya lari sekeras bisa, tetapi baru satu lie, sudah tak sanggup dia, napasnya lantas memburu sengal-sengal.....
Si gagu menoleh, dia lihat orang sudah kehabisan tenaga, ia bersenyum, lalu ia menyambar dengan tangannya yang sebelah lagi, akan kempit bocah itu, akan lari terus. Malah sekarang dia bisa lari dengan terlebih keras lagi, sebab tak usah ia menantikan pula.
Setelah berlari-lari sekian lama, si gagu, yang tidak kenal lelah, membiluk ke kiri, maka sekali ini, dia lari ke arah gunung. Ia mendaki. Ia sudah sampaikan dua undakan, masih ia berlari-lari terus, hingga di depannya terlihat satu rumah gubuk dengan tiga ruangan.
Selagi mendekati rumah itu, seorang yang berada di ambang pintu lantas lari keluar, untuk menghampirkan. Dia ini ada seorang perempuan umur dua-puluh lebih. Dia manggut terhadap si gagu, si gagu pun manggut terhadapnya, tetapi ia heran tampak si gagu mengempit dua orang. Segera ia mengajak masuk.
"Siauw Hui, lekas ambil tehkoan teh dan cangkirnya!" demikian si perempuan muda.
Dari kamar sebelah terdengar satu jawaban anak kecil, cepat sekali dia muncul, dengan membawa tempat air teh dan cangkirnya. Ia nampaknya heran, hingga setelah memandang si gagu, dia pun awasi Ciu San dan Sin Cie. Nyata dia ada punya sepasang mata yang celi.
Si perempuan muda, walaupun pakaiannya terdiri dari bahan cita kasar, ada punya kulit muka yang putih-bersih dan halus, sebagaimana si bocah sendiri nampaknya manis.
"Eh, anak, apa namamu?" tanya perempuan muda itu kepada Sin Cie, yang sudah diturunkan dari kempitan si gagu. "Bagaimana kau bisa bertemu sama dia ini?"
Sin Cie percaya orang perempuan ini ada sahabatnya si gagu, lalu ia berikan jawabannya dengan jelas. Perempuan muda itu lantas saja masuk ke dalam, untuk kembali dengan teromol obat-obatan, ia keluarkan dua rupa obat bubuk putih dan merah, ia ambil sedikit, untuk diaduk dengan air, setelah mana, Ciu San dicekoki. Habis itu, dia ambil satu pisau kecil dengan apa dia iris lukanya si Cui, sesudah mana, luka itu diborehkan obat bubuk kuning, lantas ditunggu sebentar, lalu dicuci dengan air, akan akhirnya diborehkan lagi. Tiga kali luka itu dirawat secara demikian. Selama itu, Ciu San buka mulutnya, akan perdengarkan suara tidak jelas. "Dia ketolongan!" kata si perempuan muda kepada Sin Cie, ia bicara sambil tersenyum.
Lantas ia gerak-geraki tangannya terhadap si gagu, maksudnya supaya si gagu ini pondong orang yang luka ke dalam, untuk antap dia beristirahat.
Selagi si gagu memondong ke dalam, perempuan itu benahkan teromol obatnya. "Aku ada orang she An, panggillah aku Encim An," kata dia pada Sin Cie. "Ini ada anakku, namanya Siauw Hui. Sekarang tinggallah kau sama kami di sini."
Sin Cie manggut. An Toa-nio lalu masuk ke belakang, untuk membuat mie, malah ia pun sembelih ayam, guna santapan kedua tetamunya. Sin Cie dahar lebih dahulu, habis itu, saking lelah dan ngantuk, dia tidur dengan kepala diletaki di atas meja. Dia tak ingin apa-apa lagi....
Besoknya pagi, baru saja orang bangun, Siauw Hui sudah tarik tangannya Sin Cie. "Mari cuci muka!" kata si nona cilik.
"Aku hendak lihat dulu Cui Siokhu, bagaimana lukanya..." kata si bocah.
"Empeh gagu telah bawa dia pergi sejak pagi," Siauw Hui kasih tahu.
Sin Cie terperanjat. "Dibawa pergi? Apa benar?" tanya dia, hatinya mencelos. Nona itu manggut. Lantas Sin Cie lari ke dalam kamar, yang kosong. Tidak ada Ciu San dan si gagu di situ.
Tiba-tiba saja ia menjerit, nangis. "Ibu, Ibu, lekas!" Siauw Hui teriaki ibunya berulang-ulang. An toa-nio datang dengan cepat. "Ibu, dia lihat Encek Cui semua pergi, dia menangis," si anak memberitahukan.
"Jangan sibuk, anak yang baik," nyonya An lantas menghibur. "Pamanmu terluka, lukanya parah, bukan?"
Sin Cie manggut.
"Aku cuma bisa berikan dia pertolongan pertama," nyonya itu terangkan. "Dia sudah terserang racunnya senjata rahasia, kalau dia tidak cepat dapat perobatan yang sempurna, sebelah kakinya itu bisa mati seterusnya, maka itu empeh gagu bawa dia pergi kepada satu orang lain, yang sanggup mengobatinya. Kau tunggu saja, kalau nanti dia sudah sembuh, pamanmu itu bakal datang pula kemari melihat kau..."
Sin Cie dapat dikasih mengerti, dengan pelahan, ia berhenti menangis.
"Pasti pamanmu akan sembuh," Toa-nio kata pula. "Sekarang pergi cuci muka, habis cuci muka, kita dahar."
Sin Cie menurut, maka sebentar kemudian, ia sudah duduk bersantap bersama itu ibu dan anak.
Setelah dahar, An Toa-nio tanya lebih jelas tentang bocah ini.
Sin Cie tuturkan segala apa, yang ia tahu mengenai dirinya.
Mendengar itu, nyonya rumah menghela napas.
"Sekarang tinggallah kau sama kami, jangan kuatir apa-apa," ia menghibur. "Kau tunggu saja, tak lama pamanmu sembuh dan akan kembali."
Sin Cie cuma bisa menurut.
Sejak masih kecil sekali, Sin Cie sudah berpisah dari ibunya, selama itu, ia berada dibawah asuhannya Eng Siong dan Cu An Kok beramai, walaupun mereka merawatnya dengan sungguh-sungguh, sekarang, dibanding sama perawatannya An Toa-nio, ia merasakan perbedaannya. Nyonya An merupakan sebagai ibu sejati, sedang di sebelah si nyonya, ada Siauw Hui yang manis, yang jelita, yang senantiasa menjadi kawannya. Baru beberapa hari, Sin Cie sudah betah.
An Toa-nio satu kali suruh Sin Cie jalankan semua ilmu silat yang pernah dipelajarkannya. Sin Cie menurut, setelah lihat itu, nyonya ini memuji, ia agaknya insaf sempurnanya pelajaran itu.
Berselang sepuluh hari, An Toa-nio anjurkan Sin Cie berlatih silat setiap hari, akan tetapi, di waktu melakukan itu benar atau salah, ia antap saja, tidak pernah ia bilang suatu apa, malah selagi si bocah berlatih, jarang sekali ia menyaksikannya.
Siauw Hui senantiasa temani Sin Cie, tapi di saat si bocah berlatih silat, ia dipanggil ibunya.
Pada suatu hari, An Toa-nio pergi ke pasar, untuk belanja. Ia pun niat beli cita, guna bikinkan baju dan celana untuk Sin Cie, pakaian siapa sudah korat-karit, pecah di sana-sini bekas dipakai buron dari Lauw Ya San.
"Kamu memain di dalam rumah saja, jangan keluar, nanti ada serigala," pesan si nyonya ketika ia hendak pergi.
Siauw Hui dan Sin Cie terima pesan itu, seperginya si nyonya mereka main masakmasakan. Siauw Hui keluarkan mangkok dan sumpit kecil.
"Kau potong ayam di sini, aku hendak beli daging," kata si nona cilik.
Yang dinamakan "ayam" adalah sepotong lobak, yang dipotong-potong, dan "daging" adalah semacam ubi hutan, yang ada di pekarangan depan, untuk mana, Siauw Hui pergi keluar. Tapi dia pergi sekian lama, hingga Sin Cie tidak sabaran.
"Siauw Hui! Siauw Hui!" bocah ini memanggil-manggil akhirnya.
Panggilan ini tidak dapat jawaban, hingga akhirnya si bocah ingat serigala, sebagaimana pesannya An Toa-nio. Ia lantas ambil korekan barah di dapur, dengan bawa itu, ia lari keluar.
Bukan main kagetnya Sin Cie begitu lekas ia muncul di ambang pintu, karena ia tampak Siauw Hui dikempit seorang lelaki bertubuh besar, yang sedang memutar tubuh untuk lari pergi.
"Hei, hei!" berteriak bocah ini sambil mengubar. "Ke mana kau hendak pergi?"
Tapi Sin Cie tidak mengubar saja, ia pun menyerang dengan korekan barah.
Culik itu tidak menyangka, ia kena ditikam Sin Cie. Sukur untuk dia, dia jangkung dan Sin Cie kate, lukanya tidak di belakang hanya di kempolan. Dia kaget, dia merasa sakit, karenanya dia jadi gusar.
"Kurang ajar!" dia berseru. Dia turunkan Siauw Hui, lalu dia hunus goloknya, untuk dipakai menyerang.
Sin Cie tidak takut, dia menangkis dengan korekan barahnya itu. Ia keluarkan pelajaran silat ajarannya Nie Hoo, ialah Gak Kee Sin-chio, ilmu silat tombak keluarga Gak (Gak Hui). Malah dengan ini, ia pun bisa balas menyerang.
Heran orang bertubuh besar itu, terpaksa ia melayani, hingga di situ terjadilah pertempuran kipa - seorang dewasa dan tubuh besar melayani satu bocah cilik. Dia ini pun mainkan Lo-han-too, ilmu golok dari Siauw Lim Pay. Dia ada bertenaga besar, goloknya sampai menderu-derukan angin keras.
Sin Cie berkelahi sambil hunjuk kegesitannya, ia menyingkir dari bentrokan senjata, ia main kelit saja, di lain saat, ia menikam berulang-ulang.
Selang belasan jurus, orang dewasa itu sibuk sendirinya. Ia heran, ia penasaran, kenapa ia tidak sanggup rubuhkan satu bocah cilik! Karena ini, ia jadi berkelahi dengan sengit, ia ubah cara penyerangannya. Sekarang ia lebih banyak membabat kaki.
Untuk menyerang kaki, penyerangan mesti dilakukan dengan "Tee-tong-too", ialah permainan golok sambil bergulingan di tanah, tapi si culik tidak bertindak sampai begitu jauh, ia main jongkok atau mendak saja.
Perubahannya lawan itu membuat Sin Cie sibuk, di lain saat, ia mesti main mundur. Ia terancam bahaya.
Siauw Hui, yang dilepaskan dari cekalan, tidak diam menonton, dia lari ke dalam rumah, dari mana ia kembali dengan pedang panjang di tangannya, dengan senjata ini ia serang culik itu, akan bantui kawannya. Ia menyerang dengan tusukan "Sian-jin-cie-lou" atau "Dewa Menunjuki Jalanan".
"Fui, perempuan cilik, kau pun hendak cari mati!" berseru culik itu. Ia berbalik, ia bacok si nona. Ia tidak gunai tenaga keras, ia tidak inginkan jiwa orang, ia cuma hendak sampok terlepas pedangnya nona itu.
Tapi si nona cerdik, gerakannya pun gesit. Dia berkelit dari serangan itu, dia menyingkir ke belakang, dari mana dia menyerang pula, dengan tikamannya "Sam-poo lian-tay" atau "Panggung Teratai Mestika".
Berbareng dengan itu, Sin Cie menyerang dengan "Tok-liong-cut-tong" atau "Naga Jahat Keluar Dari Kedung".

Repot culik itu diserang dari dua pihak, ia mesti berlaku sebat sekali.
Tadinya Sin Cie berkuatir menampak majunya si nona cilik, tapi setelah lihat penyerangan orang beberapa kali, ia jadi girang. Nona itu bersilat dengan "Tat Mo Kiam-hoat", ilmu silat dari guru besar Tat Mo. Untuk tidak kalah pengaruh, ia menyerang dengan lebih seru.
Mengetahui orang desak ia, culik itu menjadi girang. Ia tahu bocah-bocah tidak ulet, tidak perduli ilmu silat mereka ada cukup untuk menyelamatkan dirinya dari pelbagai serangan.
Benar dugaan culik ini, selang sedikit lama, dua-dua Sin Cie dan Siauw Hui mulai jadi lemah, maka sekarang adalah giliran dia untuk mendesak.
Siauw Hui menikam, culik itu menangkis, demikian sebat, si nona sampai tidak keburu menarik pulang senjatanya untuk hindarkan bentrokan, maka begitu kedua senjata beradu, pedangnya terlepas, terlempar.
Sin Cie lihat kawannya terancam, ia menikam, tapi culik itu, sembari menangkis, angkat sebelah kakinya, akan tendang si nona, hingga dia ini terguling karena dia tak sempat egos tubuh.
Dalam kaget dan kuatirnya, Sin Cie lupa segala apa, waktu ia menikam pula, ia berlaku sembrono sekali.
Melihat sikap orang itu, culik itu tertawa menyengir. Ia berkelit dari tikaman, lalu ia merangsang goloknya diayun. Sin Cie angkat korekan barahnya, untuk menangkis, tapi selagi kedua senjata hendak beradu, si culik sambar ujung korekan, untuk ditarik sambil diputar.
Sin Cie kesakitan pada tangannya, karena bentrokan kedua senjata, karena putaran itu, tak lagi ia bisa mencekal terus senjatanya itu, yang terlepas dengan segera.
Melihat orang telah tidak berdaya, culik itu lemparkan korekan barah, ia loncat pada Siauw Hui, tubuh siapa ia sambar, untuk dikempit, buat lantas dibawa lari! Walaupun dia sedang kesakitan, melihat Siauw Hui kena dibawa lari, Sin Cie lupai sakitnya itu. Ia jumput korekan barahnya, ia lari, akan mengejar.
"He, setan cilik, apakah kau tidak sayang dengan jiwamu?" membentak si culik , yang lihat bocah itu demikian bandel. Ia kempit Siauw Hui dengan tangan kiri, dengan tangan kanan cekal goloknya, ia balik tubuh, akan layani pula bocah itu.
Setelah bertempur lima-enam jurus, Sin Cie kena terbacok pada pundaknya, sia-sia ia berkelit, bajunya robek, pundaknya terkena sedikit, hingga darahnya mengucur keluar.
"Setan cilik, apa kau masih berani?" mengejek culik itu.
Sin Cie benar-benar besar nyalinya.
"Lepaskan Siauw Hui, aku tidak akan susul pula padamu!" ia jawab sambil ia menahan sakit. Ia jumput korekannya, kembali ia mengejar musuh, yang sudah lantas kabur pula.
Akhirnya culik itu habis sabar.
"Jikalau aku tidak bunuh dia, dia terang bakal ganggu aku," pikir dia. Maka ia berhenti lari, ia sambut serangannya Sin Cie.
Baru beberapa gebrak, korekan Sin Cie kena disampok, dia terus ditendang hingga rubuh berguling, sesudah mana, tidak berayal lagi, culik itu lompat maju seraya kirim bacokannya.
Siauw Hui dalam kempitan lihat bahaya mengancam Sin Cie, ia geraki kedua tangannya, akan jambret lengannya culik itu, terus ia gigit lengan itu.
Culik itu kaget, dia kesakitan, karena mana, bacokannya jadi salah.
Sin Cie sendiri berkelit dengan buang diri, akan bergulingan di tanah.
Dalam sengitnya, culik itu sentil kupingnya Siauw Hui, kemudian ia maju pula, lagi sekali, ia serang Sin Cie.
Bocah itu, yang belum sempat berbangkit, berguling lagi, tapi ujung golok mengenai jidatnya, hingga di jidat itu, di atasan alis sedikit, terluka dan mengeluarkan darah.
Percaya bahwa orang akan mati kutunya, culik itu hendak kabur pula bersama korbannya.
Sin Cie benar berani dan bandel, ia berlompat, akan tubruk orang punya kaki kiri, yang ia peluki dengan keras, lalu dengan tipu silat "To-tiu-kim-ciang" atau "Merubuhkan Lonceng Emas", ia tekuk kaki itu menurut sekuat tenaganya.
Sengit culik itu, walaupun ia tidak rubuh, ia toh merasakan sakit pada kaki kirinya itu, maka ia angkat kaki kanannya, untuk injak si bocah, atas mana, Sin Cie terpental terguling. Ia lantas maju pula seraya membacok.
Belum sampai golok turun, atau culik itu terkejut dan merasakan sakit pada kepalanya, karena batok kepalanya menerbitkan satu suara membeletuk, apabila ia menoleh, ia tampak An Toa-nio sedang ayun kedua tangannya. Ia jadi jeri, ia tinggalkan Sin Cie, lantas ia lari. Tapi Siauw Hui ia kempit terus.
An Toa-nio ayun tangan kanannya beruntun tiga kali, tiga butir telur menyambar culik itu, dia bisa kelit dua serangan tapi yang ketiga mengenai batang hidungnya, hingga di sebelah merasa sakit, mukanya mandi putih dan merah telur.
Masih Nyonya An menimpuk dengan sebutir telur yang lain, yang kali ini mengenai mata kiri si culik, hingga dia gelagapan. Walaupun hanya telur, toh timpukan ini ada cukup keras.
Dalam gusarnya, culik ini lepaskan Siauw Hui, dengan tangan kirinya, ia usap mukanya, kemudian ia maju, akan serang si nyonya.
An Toa-nio tidak bersenjata, ia melayani sambil senantiasa berkelit.
Sin Cie sudah bangun, ia telah pungut korekan barahnya, dengan tidak pedulikan lukanya, ia maju, akan serang culik itu, guna bantu nyonya penolongnya. Ia jadi tambah semangat, berulang-ulang ia menikam dengan ilmu tumbaknya Gak Hui.
Karena didesak Sin Cie, culik itu tak bisa desak An Toa-nio seperti bermula, hingga nyonya ini dapat sedikit waktu senggang, sebab mana, ia jadi ingat cita yang baru saja ia beli untuk Sin Cie. Segera ia keluarkan cita itu dari dalam rantangnya, terus ia lempar ke kali kecil didekatnya untuk dibasahkan. Ia pun gunai kesempatan menjumput tiga buah batu, yang dipakai menimpuk, hingga culik itu jadi repot juga, karena mana, Sin Cie tidak sampai kena terlalu terdesak.
Selagi si culik terpaksa mundur, An Toa-nio sudah angkat citanya, untuk dibuka hingga mirip dengan angkin atau sabuk, lalu ia maju lagi, akan dekati orang itu.
"Ouw Loo Sam!" berseru nyonya ini. "Selagi aku tidak ada di rumah, kau datang menyatroni, kau perhina segala bocah cilik! Adakah kau satu laki-laki?"
Teguran itu ditutup berbareng dengan serangan dengan sepotong cita itu, yang digunakan sebagai joan-pian atau cambuk lemas. Setelah basah, cita itu dapat digunakan bagaikan toya juga.
Culik itu, yang dipanggil Ouw Loo Sam, nampaknya sibuk. Ia tendang rubuh pada Sin Cie, lantas ia layani sungguh-sungguh pada si nyonya.
An Toa-nio sedang gusar, ia berkelahi dengan hebat, setelah mendesak, dua kali berhasil ia menyerang dengan toya atau cambuknya yang istimewa itu. Ouw Loo Sam tidak sampai terluka, tetapi ia merasakan sakit pada bebokongnya, yang kena terpukul. Karena ini, gerakannya jadi lambat sendirinya.
Masih An Toa-nio mendesak, akan akhirnya, ia dapat libat golok lawan, maka lantas saja ia menarik dengan kaget dan keras! Ouw Loo Sam terkejut, tak dapat ia mencekal keras, goloknya terlepas dan terbetot oleh si nyonya, tapi ia tertawa dingin. Ia telah lompat dua tindak, lalu ia kata sambil bersenyum iblis: "Aku adalah orang yang terima pesan dari suamimu! Selama alusku belum bOeyar, maka ada satu hari yang aku nanti cari pula padamu...!"
Alisnya si nyonya berdiri, ia sahuti ancaman itu dengan sabatan cambuk istimewanya.
Loo Sam telah bersedia agaknya, sebelum serangan sampai, ia sudah putar tubuh dan lari, lari turun gunung dengan lekas.
Melihat orang angkat kaki, An Toa-nio tidak mengejar, hanya ia balik, untuk lekas-lekas lihat Siauw Hui dan Sin Cie.
Siauw Hui tidak terluka, dia melainkan kaget, ia tubruk ibunya lantas ia menangis. Dasar bocah cilik! Sin Cie berlumuran darah, ia diajak pulang untuk lantas dipetali darahnya, sesudah bersih, lukanya diobati, dibungkus dengan rapi. Dia peroleh dua luka, syukur tidak berbahaya; benar ia keluarkan banyak darah tetapi itu tidak sampai membahayakan jiwanya. Ia dipondong, untuk direbahkan di pembaringan.
Sampai di situ, Siauw Hui cerita pada ibunya bagaimana, selagi keluar sebentar, ia ketemu Ouw Loo Sam, yang terus tawan ia, buat dibawa lari, bagaimana Sin Cie pergoki mereka, lantas bocah itu lawan Loo Sam, untuk tolongi padanya.
"Aku tidak sangka, begini muda usianya, dia berhati mulia, dia gagah sekali," berkata An Toa-nio. "Tak dapat kita berayal pula, aku mesti tolong ia supaya jadi seorang sempurna." Kemudian nyonya ini lanjuti pada puterinya. "Kau pun pergi tidur, sebentar malam kita berangkat."
Siauw Hui tidak heran atas kata-kata ibunya itu, ia lantas beristirahat.
An Toa-nio lantas berkemas, ia siapkan dua buntalan, kemudian ia tunggu datangnya sang sore. Habis bersantap, bertiga mereka duduk menghadapi pelita. Nyonya ini tidak kunci pintu, ia tidak jeri.
Benar kira-kira jam dua, di luar terdengar tindakan kaki, yang terus masuk ke dalam.
Itulah si gagu, yang telah kembali. Ia bertubuh besar dan keren tapi tindakannya enteng, suatu bukti bahwa kepandaian entengi tubuhnya telah sempurna.
An Toa-nio menyambut sambil berbangkit, ia bicara sama si gagu itu dengan mainkan kedua belah tangannya, dengan mainkan juga mulutnya. Si gagu rupanya mengerti, dia manggut-manggut.
"Mana Cui Siokhu?" Sin Cie tanya. "Apa dia baik?"
"Dia baik, kau jangan kuatir," An Toa-nio menghibur. "Mari, aku hendak omong sama kau."
Nyonya itu masuk ke dalam kamar di mana ia duduk atas pembaringan.
Sin Cie mengikuti, si nyonya lantas tarik tangannya.
"Sin Cie!" katanya dengan manis-budi, "begitu lihat kau, aku suka padamu, dari itu, aku pandang kau sebagai anak sendiri. Tadi kau telah berkorban untuk Siauw Hui, itulah budimu yang aku tidak nanti lupakan. Malam ini kami hendak pergi ke suatu tempat jauh, maka itu, pergilah kau ikut empeh gagu."
"Tidak, aku ingin ikut kau bersama," kata Sin Cie.
"Aku pun tidak tega berpisah dari kau," terangkan An Toa-nio. "Aku ingin empeh gagu bawa kau kepada satu orang, dia adalah guru baru namanya saja dari Cui Susiokmu. Baru beberapa bulan Cui Susiok belajar silat pada orang itu, ilmu silatnya sudah liehay sekali. Loocianpwee itu ada punya ilmu silat yang tidak ada tandingannya, dari itu aku ingin kau berguru kepadanya."
Mendengar itu Sin Cie berdiam, agaknya dia ketarik.
"Seumur hidupnya, loocianpwee itu cuma terima dua murid," An Toa-nio terangkan lebih jauh. "Itu adalah kejadian pada belasan tahun yang lampau. Meskipun demikian, masih belum tentu dia suka menerima murid pula. Tapi kau ada berbakat baik, hatimu pun mulia, aku percaya dia pasti akan suka padamu. Empeh gagu ada bujangnya loocianpwee itu, aku ingin dia ajak kau untuk minta loocianpwee terima padamu. Maka pergilah kau dengan baik-baik. Umpama kejadian loocianpwee tidak suka terima kau, empeh gagu nanti bawa kau kembali padaku."
Sampai di situ, Sin Cie telah ambil putusannya. Dia manggut.
"Bagus!" kata nyonya An. "Sekarang baik kau ketahui tabiatnya loocianpwee itu. Dia adalah seorang aneh. Umpama kau tidak suka dengar perkataannya, lantas dia tidak sukai padamu. Umpama kau terlalu dengar kata, dia juga akan cela kau terlalu tolol dan tidak punya semangat! Maka segala-galanya tinggal terserah kepada peruntunganmu sendiri!"
Dari lengannya, nyonya itu loloskan sepotong gelang emas, ia masuki itu ke lengannya bocah ini, apabila ia lengkuk sedikit, gelang itu menjadi kecil dan tidak akan lolos lagi.
"Jikalau nanti kau sudah rampungkan pelajaran ilmu silatmu, apabila kau telah menjadi satu bocah besar, jangan kau lupakan encim Anmu ini dan Siauw Hui!" kata nyonya yang baik budi itu sambil tertawa.
"Andaikata loocianpwee sudi terima aku," berkata Sin Cie, "apabila ada ketika senggang, aku minta Encim suka ajak Siauw Hui datang melongok aku!"
Matanya nyonya itu menjadi merah, saking hatinya terharu.
"Baik, aku akan senantiasa ingat kau," ia jawab.
Lantas An Toa-nio menulis sepucuk surat, yang ia serahkan pada si gagu.
"Sekarang kita berangkat," kata ia sambil ia bawa dua buntalannya.
Berempat mereka keluar dari rumah, sesampainya di luar, mereka berpisah dalam dua rombongan, masing-masing dengan tujuannya sendiri.


0 komentar:
Posting Komentar