Jilid 31
Sang kawa-kawa menjadi gusar, dia terjang musuh baru ini.
Sang kodok bersiap-sedia, begitu serangan datang, dia ulur lidahnya, akan sambar kawakawa itu, untuk dibetot masuk ke dalam perutnya. Tapi sang kawa-kawa pentang mulutnya, dia sambar dan gigit lidah musuh. Sang kodok pun liehay, cepat-cepat dia tarik pulang lidahnya.
Setelah itu, sang kawa-kawa merayap ke kirinya sang kodok, tidak perduli sang kodok ini waspada, dia muntahkan benangnya, terus dia berlompat ke atas bebokong sang kodok, untuk melewatinya, benangnya diulur sekalian, sembari lompat lewat, dia gigit bebokong musuh. "Binatang ini cerdik," kata Ceng Ceng, yang menjadi kagum.
Ketika sang kodok egos tubuhnya, sang kawa-kawa sudah lompat lewati dia, di lain pihak, bisanya sang kawa-kawa sudah lantas bekerja, maka di lain saat, tergulinglah sang kodok ini, dia rebah celentang, terus dia mati!
Di pihak lain, sang ular hijau sedang dikejar oleh sang kelabang, agaknya dia ketakutan sekali, hingga dia lari di samping tubuh sang kodok, sembari lewat, mendadak dia pentang mulutnya, dia sambar sang kawa-kawa, untuk dicaplok masuk ke dalam perutnya! Kemudian dengan satu caplokan lain, dia sambar juga tubuh sang kodok.
Melihat demikian, sang kelabang lalu sambar bangkai kodok itu, hingga sekarang mereka jadi berkutatan, saling tarik. Rupanya sang kelabang tahu, apabila berhasil sang ular makan tiga kurbannya, musuh ini bakal jadi terlalu tangguh untuknya, sebab tiga macam racun, empat dengan kepunyaannya sendiri, sang ular pasti sukar untuk dikalahkan.
Dalam pertempuran tenaga itu, sang ular kalah ulet, dengan pelahan, dia kena terbetot sang kelabang, dan sang kelabang sudah mulai gigit tubuhnya sang kodok.
Bingung sang ular, ingin dia lepaskan tubuh sang kodok, untuk pergi lari, agaknya dia sangsi. Pun sulit untuk dia muntahkan tubuh sang kodok itu, karena biasanya dia punya gigi, bagaikan gaetan, menyantel barang, dan biasanya dia cuma menelan, tak bisa melepehkan.
Benar saja, sebentar kemudian sang ular telah jadi kurbannya sang kelabang.
Setelah menjadi juara, dengan perut pun kenyang, kelabang itu jalan putari meja, dia angkat kepalanya, agaknya dia sangat puas dan bangga.
Sin Cie lihat kelabang itu, dengan perutnya gendut, tidak kendor gerak-geriknya, ia menjadi heran.
"Binatang ini kuat makannya," kata dia pada Ceng Ceng.
"Dia telah makan empat macam bisa, dia sekarang menjadi Tay-seng, nabi terbesar," Ho Tiat Chiu, kepala dari Ngo Tok Kauw, nyeletuk terhadap Sin Cie. "Dia sekarang jadi bertambah tangguh, hingga dia sanggup telan lagi beberapa ekor lainnya!"
Sin Cie agaknya tidak percaya keterangan itu, melihat demikian, kauwcu dari Ngo Tok Kauw perintah kacungnya: "Pergi ambil Ceng-jie!"
Seorang kacung pergi ke dalam, untuk muncul bersama tujuh ekor ular hijau, ialah yang si kepala agama namakan "Ceng-jie", si "hijau". Semua ular itu dilepas di atas meja, yang kelung itu.
Melihat ada musuh baru, sang kelabang lantas lompat maju, untuk menerkam.
Tujuh ekor ular itu kumpulkan diri menjadi satu lingkaran, masing-masing keluarkan kepalanya, untuk tangkis serbuan. Dengan begitu, pertempuran sudah lantas berlangsung.
Beberapa kali sang kelabang menerjang, akhirnya dia dapat gigit lehernya seekor musuh, yang terus dia betot keluar dari dalam rombongannya.
Setelah berhasil, sang kelabang tidak lantas makan daging musuh, ia hanya letaki itu di belakang, ia sendiri mulai lagi dengan penyerangannya terlebih jauh kepada musuhmusuhnya, hingga pertarungan jadi berlangsung pula.
Dalam saat itu, mendadak Kim-ie Tok Kay keluar dari dalam barisannya, dia hampirkan Ho Tiat Chiu di depan siapa ia berlutut dengan kaki sebelah.
"Kauw-cu, Kim-jie bergerak tak hentinya," katanya. "Kelihatannya tak dapat tidak, dia mesti dikasih keluar..."
Wanita cantik itu kerutkan alisnya. "Ah, dia usil!" katanya. "Baiklah!" Cee In Go rogoh sakunya, untuk keluarkan satu bumbung atau pipa besi, terus ia buka sumpelnya, untuk keluarkan isinya, ialah itu ular kecil warna kuning emas yang ia tangkap beberapa hari yang lalu sehabisnya si ular kecil tempur si ular besar. Begitu keluar dari lobang bumbung, ular kuning itu lantas saja unjuk kegagahannya. Dia berlompat ke atas meja, dia segera maju ke depan enam ekor ular hijau, untuk menghalang.
Melihat ular kuning ini, sang kelabang mundur dengan segera.
Enam ular hijau berkumpul jadi satu, mereka ringkaskan tubuh mereka. Mereka berlaku begini begitu lekas tampak ular kuning emas itu, yang dipanggil si "Kim-jie", si "emas". Ular kuning itu, tak perduli tubuhnya kecil sekali, sudah lantas serang sang kelabang. Sin Cie dan Ceng Ceng sudah saksikan kegagahannya, mereka tahu pasti, sang kelabang tidak punya pengharapan. Benar saja, belum lama, sang kelabang kena digigit hingga dia mati seketika. Lantas keenam ular hijau rubungi ular kuning emas itu, ada yang menjilat-jilat dengan lidahnya, rupanya untuk hunjuki rasa syukur.
"Tidak disangka, dalam kalangan ular pun ada pendekarnya!" kata Sin Cie sambil tertawa.
Dengan tiba-tiba saja timbul keinginannya si Nona Hee, rupanya dia ingat suatu apa. "Aku inginkan ular kuning emas itu!" katanya. Ia berbisik di kuping pemuda kita.
"Omongan bocah cilik!" Sin Cie bilang. "Mana orang sudi memberikannya?"
"Kau ingat tidak?" Ceng Ceng berbisik pula. "Apakah julukannya ayahku?"
Sin Cie tergetar hatinya. "Apa mungkin Kim Coa Long-kun ada hubungannya sama ular kuning emas ini?" katanya. Ular kuning emas adalah "Kim-coa".
Sementara itu si uwah awasi Ceng Ceng tak hentinya, rupanya dia dengar perkataannya Sin Cie, mendadak dia berlompat dari dalam rombongannya, dia berlompat kepada si Nona Hee seraya ulur kedua tangannya ke arah pundak nona itu. "Kau pernah apa dengan Kim Coa Long-kun?" tanya dia. Aneh luar biasa! Begitu jelek romannya uwah ini, suaranya nyaring-halus bagaikan suara burung kenari, sedap didengarnya.
Ceng Ceng kaget, dia lompat mundur. "Apa kau mau?" dia menegur.
Hampir berbareng dengan itu, dua orang yang mendampingi kiri dan kanannya Ho Kauw-cu telah berlompat ke kedua sampingnya si uwah. Dengan berbareng mereka pun menegur: "Di mana adanya sekarang si orang she Hee itu?"
Sin Cie telah saksikan cara berlompat musuh yang gesit sekali, dia mengerti kedua orang itu bukannya orang-orang sembarangan, maka ia mengawasi dengan waspada. Ia tampak mereka bertubuh tinggi kurus dan sedang, dan yang tubuhnya sedang itu bermuka hitam, romannya sebagai petani. Rata-rata mereka berumur kurang-lebih lima-puluh tahun.
Dulu Ceng Ceng belum tahu asal-usul dirinya, dia merasa malu sendirinya, akan tetapi setelah dia dengar keterangan ibunya, dia jadi berubah sikap, dia malah sangat bangga terhadap ayahnya, kebanggaan itu tak pernah kunjung padam. Maka itu, atas teguran kedua orang ini, dia angkat kepalanya.
"Kim Coa Long-kun itu ayahku," dia jawab. "Apa perlunya kau tanya tentang ayahku itu?"
Si wanita tua tertawa dengan sekonyong-konyong, suara tertawanya panjang, lagunya membuat orang jadi gentar hati.
"Jadinya dia belum mampus dan dia telah tinggalkan kau sebagai turunan celaka!" bentaknya.
"Ada di mana dia sekarang?" si jangkung-kurus menegur.
Ceng Ceng angkat kepalanya.
"Perlu apa aku jawab kamu?" katanya secara menantang.
Sepasang alisnya si uwah terbangun, kedua tangannya menyambar muka Ceng Ceng.
Inilah hebat untuk nona Hee, yang tak keburu berkelit, sedang sepuluh jarinya wanita tua itu berkuku tajam semua. Coba kuku beracun itu mengenai muka yang putih-bersih dan halus itu?
Sin Cie ada di dekat Ceng Ceng, segera ia ayun tangan kanannya, yang ujung bajunya panjang, ia sampok kedua lengannya si penyerang, ia teruskan putar naik tangannya, untuk libat kedua lengan orang, setelah mana, dia mendorong.
Tidak ampun lagi, uwah itu terpelanting, dia jumpalitan, maka ketika tubuhnya mengenai tanah, dia jadi duduk numprah.
Kejadian itu membuat kaget semua anggauta Ngo Tok Kauw, sebab si wanita tua itu, Ho Ang Yo namanya, si Bunga Merah, adalah salah satu jago mereka, malah derajatnya lebih tinggi setingkat daripada kauwcu mereka. Apa tidak aneh sekarang, jago itu rubuh di tangannya seorang anak muda yang tidak dikenal? Dan jatuhnya pun secara demikian gampang?
Segera si jangkung-kurus, yang bernama Phoa Siu Tat, dan si orang tani, yang bernama Thia Kie Su, yang dalam rombongannya berkedudukan sebagai Co-yu Hu-hoat, atau pelindung kiri dan kanan dari ketua Ngo Tok Kauw, saling berpaling dan manggut, kemudian Siu Tat kata secara menantang: "Biarkan aku yang terima pengajaran!" Dan ia terus maju.
"Wan Siangkong, biar aku yang sambut dia," kata See Thian Kong pada Sin Cie.
Anak muda kita percaya, orang she See ini tentu bukan tandingan musuh itu, akan tetapi tidak leluasa untuk ia mencegah, maka ia pesan: "Saudara See, gunai kipasmu! Jeriji tangan bersarung lancip, itulah senjata dia!"
See Thian Kong menurut, ia lantas keluarkan kipasnya, kipas Im-yang-sie, maka di lain saat, ia sudah bertempur sama musuh itu.
Di sebelah ini, seperti yang berjanji, Thia Kie Su majukan diri dan disambut A Pa, si empeh gagah, malah berdua mereka lantas saja bertempur dengan seru sekali.
Pertempuran kalut menyusul dua rombongan yang pertama ini. Orang-orang Ngo Tok Kauw mulai lebih dahulu, maka itu Ouw Kui Lam bersama Thie Lo Han dan Ceng Ceng terpaksa hunus senjata, untuk layani mereka, jikalau tidak, pasti See Thian Kong dan A Pa akan kena dikeroyok.
Adalah si uwah jelek, Ho Ang Yo, yang sebagai orang kalap lompat ke arah Ceng Ceng, agaknya dia sangat musuhkan si Nona Hee.
Sin Cie percaya pengemis wanita tua itu mengandung kebencian hebat terhadap Ceng Ceng, entah ada dendaman apa, ia cuma duga, mestinya itu ada hubungannya dengan Kim Coa Long-kun, jikalau tidak, tidak nanti karena dengar disebutnya nama jago she Hee itu, uwah ini segera unjuk kemurkaan luar biasa. Ia pun insyaf, tidak dapat uwah itu diijinkan turun tangan jahat terhadap Ceng Ceng, yang pasti bukan tandingannya. Maka itu, begitu lekas orang telah datang dekat, selagi si uwah hendak serang Nona Hee, dengan sebat dia lompat ke sampingnya, akan jambak bebokong orang itu, akan terus diangkat tubuhnya dan dilemparkan!
Ho Thiat Chiu saksikan kejadian itu, air mukanya lantas berubah menjadi padam, segera ia bawa telunjuk kanannya ke mulutnya, untuk perdengarkan suitan, beberapa kali beruntun.
Kalau tadi orang-orang Ngo Tok Kauw maju dengan cepat sekali, untuk terjang musuh, maka sekarang, atas bunyinya suitan itu, mereka mundur dengan tak kurang sebatnya, semua lantas berkumpul di sebelah belakang kauwcu mereka, berdiri rapi dalam dua barisan.
Setelah itu, ratu agama itu perlihatkan senyumannya.
"Wan Siangkong," katanya dengan sabar dan manis, "nampaknya kau begini lemahlembut, tidak disangka-sangka, ilmu kepandaianmu liehay sekali. Wan Siangkong, biarlah aku yang main-main barang beberapa jurus denganmu..."
Sin Cie tidak lantas terima tantangan itu.
"Satu hal membuat aku tidak mengerti," katanya. "Sahabat-sahabatku ini semua tidak kenal-mengenal dengan rombonganmu, tak tahu kami, di bahagian mana kami telah bersalah terhadap kamu. Walaupun demikian, aku yang rendah bersedia untuk menghaturkan maaf."
Wajahnya Ho Tiat Chiu merah karena pertanyaan itu yang berupa teguran.
"Sebenarnya, kami cuma berurusan dengan pihak pembesar negeri," kata dia dengan pelahan, suaranya halus. "Pasti sekali Wan Siangkong tidak mengerti duduknya hal. Tapi ini biarlah. Barusan ada disebut-sebut nama Kim Coa Long-kun, hal menjadi lain. Sekarang siauw-moay mohon tanya, Kim Coa Long-kun itu ada di mana?"
Sin Cie berlaku hormat dan merendah, ratu agama itu pun bersikap manis, hingga ia membahasakan diri siauw-moay, adik yang kecil.
Ceng Ceng tarik tangannya Sin Cie.
"Jangan beri tahu," dia kisiki itu pemuda.
"Apakah Kauw-cu memang kenal Kim Coa Long-kun?" Sin Cie balik menanya.
"Dengan kaumku, dia punya hubungan yang sangat erat," sahut kepala agama dari Ngo Tok Kauw itu. "Ayahku telah meninggal dunia karena dia. Karenanya, dari dua puluh ribu anggauta Ngo Tok Kauw kami, tidak ada satu anggauta yang tidak berniat mencari padanya!"
Diam-diam Sin Cie terperanjat, juga Ceng Ceng. Itulah hebat! Apakah urusan itu? Sayang mereka belum pernah ketemu sama Kim Coa Long-kun, hingga mereka tidak dapat tanyakan sebabnya urusan itu. Mereka heran, kenapa Kim Coa Long-kun telah tanam permusuhan dengan rombongan agama yang memuja bisa ini? Terang sekali kebencian sangat dari pihak Ngo Tok Kauw itu.
"Kim Coa Long-kun berada di satu tempat yang terpisah laksaan lie dari sini," sahut Sin Cie. "Aku kuatir Tuan-Tuan tak akan dapat cari dia sekalipun untuk selama-lamanya...."
"Jikalau begitu, tinggalkanlah puteranya ini di sini, untuk kami pakai dia sebagai kurban sembahyang roh ayahku!" kata Ho Tiat Chiu.
Kauw-cu ini percaya Nona Hee ada satu putera, sebab Ceng Ceng dandan sebagai satu pemuda. Ia pun mempunyai gerak-gerik yang luar biasa sekali. Ia gampang bersenyum, lagaknya mirip dengan nona-nona remaja yang kebanyakan, suaranya pun lembut, akan tetapi satu waktu, dia bisa unjuk keangkaran dan suaranya jadi keren. Demikian kali ini.
Sin Cie tetap berlaku tenang dan sabar.
"Adalah pembilangan sejak jaman purbakala, siapa melakukan sesuatu, dia sendiri yang harus bertanggung-jawab," katanya. "Kamu mempunyai sangkutan dengan Kim Coa Long-kun, baiklah kamu pergi cari dia itu sendiri."
Ho Tiat Chiu pun menjadi sabar pula ketika ia berkata lagi.
"Ketika dahulu ayahku almarhum menutup mata, siauw-moay baru berusia tiga tahun," katanya. "Sudah dua-puluh tahun kami cari loocianpwee she Hee itu, tidak juga siauwmoay berhasil. Itulah sebabnya kenapa siauw-moay ingin tahan puteranya ini. Kalau loocianpwee itu ketahui puteranya berada di sini, pasti dia bakal datang mencari. Asal dia datang kemari maka urusan kita yang telah tertangguh lama itu segera akan menajdi beres."
Ceng Ceng jadi sangat gusar. Dia hendak ditahan, untuk dijadikan "manusia tanggungan". Itulah hebat. Maka tak dapat dia kendalikan diri lagi.
"Hm, bagus pikiranmu!" dia menjengeki. "Aku nanti beritahu ayahku tentang tingkah tengik kamu ini, supaya dia bunuh mampus kamu semua!"
Ho Tiat Chiu tidak ladeni nona ini. Dia menoleh pada Ho Ang Yo.
"Adakah dia ini mirip dengan ayahnya?" tanya dia.
"Romannya mirip benar satu dengan lain, dan tabeatnya pun hampir sama!" jawab si uwah.
Kauwcu itu segera hadapi Sin Cie.
"Wan Siangkong, aku persilakan kamu semua pergi pulang," kata dia. "Kami cuma hendak menahan ini satu Hee Kongcu."
Dan ia geraki tangannya, sebagai tanda untuk mempersilahkan tetamu-tetamunya berangkat pergi.
Sin Cie berpikir dengan cepat.
"Dia cuma inginkan Ceng Ceng satu orang, karena keadaan di sini berbahaya, baik aku dului antar dia keluar. Yang lain-lain umpama kata mereka tidak dapat lolos, mereka tentu tidak terancam bahaya hebat..."
Maka lantas saja dia menjura kepada kepala agama itu.
"Nah, sampai ketemu pula!" katanya.
Berbareng dengan ucapannya itu, Sin Cie sambar pinggang Ceng Ceng dengan tangan kiri, sambil pondong si nona, ia lompat ke arah tembok yang tinggi, tetapi ia tidak perdulikan itu. Lagi sekali dia lompat, untuk enjot kedua kaki, pondongannya diangkat ke tinggi, untuk dilemparkan ke atas, untuk mana, tangan kanannya membantu menolak dengan keras.
"Hati-hati, Adik Ceng!" dia pesan.
Orang-orang Ngo Tok Kauw saksikan kejadian itu, mereka jadi sangat murka, untuk merintangi, beberapa di antaranya segera menyerang dengan senjata rahasianya masingmasing.
Sin Cie kibaskan pulang-pergi tangannya, yang bertangan baju panjang, dengan itu ia halau sesuatu senjata rahasia musuh itu, yang pada jatuh ke tanah.
Ceng Ceng telah membarengi berlompat ketika ia diapungi Sin Cie, ia jambret tembok, untuk naik ke atasnya.
Justru itu, Ho Tiat Chiu lompat dari kursinya, dia serang Sin Cie dengan tangan kirinya.
Anak muda ini terkesiap karena penyerangan kauw-cu itu. Tangan yang menyerang belum sampai, anginnya sudah menyambar hidungnya. Sejak dia turun gunung, belum pernah dia ketemu musuh yang liehay sekali, kecuali dia punya Jie-suko Kwie Sin Sie. Makanya, di sebelah terkejut, dia pun kagumi kepala agama Ngo Tok Kauw ini.
"Bagus!" dia berseru seraya egos tubuhnya, sambil berbuat mana, matanya segera tampak, tangan yang dipakai menyerang dia merupakan gaetan lancip dan tajam, warnanya hitam, hingga kembali ia jadi kaget.
Selagi menyerang Sin Cie, tangan kanannya Ho Tiat Chiu terayun tinggi, ke arah Ceng Ceng, menyusul mana sebelah gelang emasnya melesat naik ke tembok.
"Kau turun!" dia berseru, suaranya nyaring tapi tetap halus.
Ceng Ceng merasakan sangat sakit pada kaki kirinya, tak dapat ia pertahankan itu, kedua tangannya pada tembok terlepas, ia rubuh ke kaki tembok.
Ho Ang Yo perdengarkan suara tertawanya yang panjang dan menyeramkan, dia berlompat kepada puterinya Kim Coa Long-kun, sepuluh jarinya yang tajam dan liehay, yang beracun, diarahkan kepada nona dalam penyamaran itu.
Sementara itu, Sin Cie telah mesti layani Ho Tiat Chiu, yang habis serang Ceng Ceng dengan senjata rahasianya terus terjang pula anak muda ini. Tadi tidak sangka nona ini bisa membarengi menyerang Ceng Ceng, kalau tidak, tentu ia sudah menghalanginya. Sekarang ia mesti layani serangan sangat hebat dari ini kepala agama. Meski begitu, ia masih sempat perhatikan Ceng Ceng, maka tempo ia tampak serangan berbahaya dari Ho Ang Yo, dengan sebat ia serang uwah itu dengan beberapa butir biji caturnya, hingga semua sepuluh sarung kukunya si wanita tua jadi copot dari jeriji-jerijinya dan jatuh ke tanah, hingga Ceng Ceng jadi lolos dari ancaman malapetaka.
"Bagus!" Ho Tiat Chiu puji lawannya, yang ia kagumkan kepandaiannya menggunai senjata rahasia itu, berbareng dengan mana, tangan kirinya tetap mendesak dua kali beruntun, karena tak pernah ia hambat serangannya.
Sin Cie pun heran akan saksikan kedua tangannya lawan wanita ini, kedua tangan yang ia telah lihat dengan tegas. Tangan kanan si nona putih dan halus, bagaikan es atau salju, lima jarinya lurus dan lentik, kelima kukunya dipakaikan cat kuku terbuat dari sarinya bunga hongsian, kapan tangan kanan itu dipakai menyerang, berbareng sama keliehayannya, pun ada menyiarkan bau harum. Akan tetapi tangan kirinya, entah kenapa, seperti telah dikutungi sebatas telapakan tangan, sebagai gantinya dipasangi gaetan terbuat dari besi yang tajam sekali, gaetan mana bisa dikasi bekerja sama liehaynya dengan tangan biasa.
"Saudara See, lekas kamu cari jalan keluar!" seru Sin Cie sambil terus layani si nona.
See Thian Kong beramai sebaliknya sudah dikurung rapat oleh orang-orang Ngo Tok Kauw itu, mereka berjumlah jauh lebih kecil, sulit untuk mereka menoblos kurungan.
Dalam melayani musuh, Sin Cie pergunakan "Hok-houw-ciang", ilmu silat "Menaklukkan Harimau". Ia sebenarnya harus berlaku telengas, akan tetapi ia dapati lawannya desak ia dengan hebat tapi tanpa serangan-serangan yang membahayakan, orang seperti memandang-mandang kepadanya, ia pun jadi berlaku tenang. Rupanya, kalau bisa, si nona hendak dapat rabah tubuh si anak muda, untuk ditangkap tanpa berdaya...
Selama pertempuran berlangsung itu, Ceng Ceng numprah saja di tanah, tak dapat ia bangun berdiri. Sin Cie lihat keadaan kawannya itu, ia niat menolong, maka ia lantas desak Ho Tiat Chiu, lalu selagi si nona mundur, mendadak dia lompat pada Nona Hee, untuk dikasi bangun.
Hampir berbareng dengan itu, Sin Cie dengar suara beradu keras. Itulah Thie Lo Han, yang bentrok hebat dengan Thia Kie Su. Atas bentrokan itu, tauwtoo ini berseru, lalu ia menyerang lagi, dengan hebat, hanya kali ini, baru beberapa jurus, ia telah rasai tangannya sakit dan berat. Sebab tangan itu menjadi bengkak dengan lekas sekali, hingga berbareng sangat mendongkol, dia pun sibuk.
"Tangan musuh ada racunnya semua, awas!" dia teriaki kawan-kawannya, untuk diberi peringatan.
Mendengar seruan dari kawan itu, mendadak Sin Cie ingat, semua musuh dari Ngo Tok Kauw itu telah pahamkan Tok-see-ciang, ilmu "Tangan Pasir Beracun" yang liehay, asal orang kena terserang, mesti dia jadi kurbannya racun. Karena ini ia anggap, benar-benar pihaknya sedang terancam bahaya hebat, bila tidak lekas-lekas mereka loloskan diri, mereka akan hadapi malapetaka, semua bakal terkubur di sarang penjahat itu.
Ho Tiat Chiu berlaku gesit, menampak lawannya tolongi puterinya Kim Coa Long-kun, dia mendesak pula.
"Ho Kauw-cu!" Sin Cie berkata, "kita berdua tidak kenal satu dengan lain, kita tidak pernah bermusuhan, kenapa kau desak kami begini rupa? Jikalau kau tidak ijinkan kami berlalu dari sini, jangan nanti kau sesalkan aku keterlaluan!"
Nona she Ho itu, kepala dari Ngo Tok Kauw, tertawa manis, hingga kelihatanlah sepasang sujennya.
"Kami cuma menghendaki supaya Hee Kongcu ditinggal di sini," katanya. "Untuk yang lain-lain, silahkan pergi!"
Tentu saja tak sudi Sin Cie tinggal Ceng Ceng. Maka ia sambut jawaban itu dengan sapuan kaki kiri sambil berbareng tangan kanannya menyambar ke muka si nona.
Ho Tiat Chiu tolong diri sambil berlompat seraya tangannya yang sebelah dipakai menangkis, untuk papaki tangan kanan lawannya itu. Akan tetapi sebelum kedua tangan bentrok, cepat-cepat dia egos tangannya itu, ia baliki untuk pakai jarinya menotok lawan punya jalan darah kiok-tie-hiat. Sebat luar biasa perubahan gerakan tangannya ini.
"Bagus!" Sin Cie memuji dengan suaranya pelahan seraya ia elakkan tangannya itu dari totokan, sedang dengan tangan kirinya, ia membabat batang leher lawan itu. Ia telah dapat kenyataan, walaupun si nona bertangan beracun, dia toh jeri untuk seranganserangannya. Habis ini, ia mengubah serangan dengan "Poh-giok-kun", ilmu silat "Memecahkan Batu Kumala", ilmu pukulan mana Lauw Pwee Seng tidak sanggup melayaninya selama lima jurus meskipun Pwee Seng dijuluki "Sin-kun Thay-Po", "Pahlawan Kepala".
Ho Tiat Chiu liehay, akan tetapi didesak dengan ini ilmu pukulan yang baru, dia repot juga, tidak berani dia sembarang menangkis, kalau tadinya ia sering bersenyum, sekarang romannya jadi sungguh-sungguh, tandanya ia tidak berani memandang enteng lagi. Ia segera perlihatkan keentengan tubuhnya, kelincahannya, untuk bisa melayani terus. Tapi, selagi ia berlaku cepat, gerakannya Sin Cie lebih gesit pula. Kemudian, sedangnya si nona mundur karena terdesak, hingga mereka datang dekat kepada Kim-ie Tok Kay Cee In Go, dengan mendadak pemuda kita serang si pengemis tak berbudi itu - dengan kepalan tangan.
"Bagus!" berseru Cee In Go, yang lihat serangan itu sambil menangkis dengan tangannya yang kiri, untuk bentur tangan lawan.
Sin Cie mendak, tangan kanannya ditarik pulang, sebaliknya, tangan kirinya dipakai menyambar ujung baju lawannya itu, untuk dipegang, berbareng dengan mana, kaki kanannya dimajukan, untuk dipakai menggaet kedua kaki lawan itu, sedang kaki kirinya, sebat sekali, ia pakai menjejak dengkul kanan lawan tepat bahagian batok dengkul itu.
Cee In Go tidak berdaya untuk pelbagai serangan berbareng itu, tak sempat ia singkirkan kakinya itu, malah tak bisa ia berbuat demikian, karena kaki kanan musuhnya sudah mendahului melibat. Dengan hebat ia kena terjejak, sampai batok dengkulnya seperti mau copot, hingga ia merasakan sakit bukan kepalang. Tidak ampun lagi, ia rubuh mendeprok!
Ouw Kui Lam adalah yang lawan Kim-ie Tok Kay, melihat sang lawan rubuh, dia lantas meninggalkannya, untuk pergi hampirkan tiga musuh yang sedang kerubuti See Thian Kong.
"Mundur ke tembok!" teriak Sin Cie. "Aku nanti yang menolongi!"
Mendengar itu, Kui Lam batal membantui Thian Kong, sebaliknya ia dekati Ceng Ceng, untuk bawa dia ini ke tepi tembok, kemudian ia pun kumpuli Thie Lo Han dan Sian Tiat Seng yang pada terluka.
Sin Cie sendiri segera perhatikan lain-lain kawannya. Ia lihat bagaimana See Thian Kong dan A Pa masing-masing melayani tiga musuh yang sedang kepung mereka itu. Tidak tempo lagi, ia bergerak untuk berikan pertolongannya. Untuk ini, ia tendang bergantian dua orang Ngo Tok Kauw, yang menerjang kepadanya, setelah mereka ini rubuh, ia lompat ke arah See Thian Kong.
Tiga penyerangnya orang she See itu pun telah mendapatkan luka-luka tak berarti, masih mereka mengepung terus. Sin Cie lantas serang mereka itu, tapi ia tidak ingin mencelakai terlalu banyak orang, ia pun segera bentur tangan-tangan Tok-see-ciang, maka ia berkelahi dengan ilmu silatnya "Hun-kin Co-kut-chiu", saban-saban ia bikin orang rubuh pingsan atau tak mampu bergerak lagi.
Sebentar saja, See Thian Kong telah dapat dibebaskan dari kepungan, maka itu, pemuda ini lantas hampirkan A Pa, si empeh gagu. Dia ini dikepung bertiga, tidak bisa dia kalahkan musuh-musuhnya tetapi ia sendiri masih cukup gagah, leluasa ia melayaninya, sebab ia telah wariskan cukup baik ilmu silat Hoa San Pay.
Ho Tiat Chiu tampak keadaan merugikan pihaknya, ia perdengarkan pula suitannya, maka sekarang orang-orang Ngo Tok Kauw meluruk pada Sin Cie dan si empeh gagu. Melihat demikian, Sin Cie unjuk kegesitannya, dengan cepat ia rubuhkan satu lawan dan lukai lengannya yang lain, sedang A Pa dapat kesempatan toyor musuhnya yang ketiga selagi dia ini terkesiap mendapatkan dua kawannya kena dikalahkan.
A Pa telah jadi sangat sengit, ingin ia susuli musuhnya yang telah mengeluarkan kecap dari hidungnya, akan tetapi Sin Cie tarik ia ke kaki tembok di mana kawan-kawan mereka sudah berkumpul menjadi satu, sedang di lain pihak, orang-orang Ngo Tok Kauw pun sudah berkumpul, untuk taati titah kepala agamanya, akan serbu musuh.
Rombongan Ngo Tok Kauw ini menjagoi di wilayah Inlam, sesuatu orang Kang-ouw, atau Sungai Telaga, mendengar nama mereka saja sudah kerutkan alis dan menggeleng kepala, semua jeri, karena tidak saja mereka liehay ilmu silatnya, yang sangat dimalui adalah kuku-kuku mereka yang berbisa, siapa terkena kuku itu, asal lecet saja, tentu bakal terbinasa. Akan tetapi, siapa nyana, di Utara ini, baru mereka datang, mereka telah menghadapi musuh yang liehay, maka di sebelahnya kaget dan heran, mereka pun mendongkol dan gusar sekali. Begitu Ho Tiat Chiu, dengan suitannya, ia telah beri tanda untuk orang-orangnya meluruk kepada musuh mereka.
"Kamu semua lekas menyingkir, aku nanti pegat mereka!" seru Sin Cie pada kawannya.
Ouw Kui Lam, yang kepandaiannya entengi tubuh cukup liehay, taati seruannya pemuda itu, yang berbareng jadi bengcu, ketua ikatan, dari tujuh propinsi. Dengan kepandaiannya "Pek-houw-yu-chong-kong," atau "Cecak Memain Di Tembok," dia merayap di tembok, untuk naik ke atasnya, lalu dengan dibantu A Pa dan Thian Kong, ia sambut kawannya yang terluka. Si empeh gagu dan Thian Kong adalah yang naik paling belakang.
Sin Cie sementara itu sudah tangkis serbuan musuh-musuhnya, dengan cepat ia telah rubuhkan belasan orang, sesudah mana, dengan angkat kedua tangannya, ia beri hormat pada kauwcu dari Ngo Tok Kauw.
"Nona Kauw-cu, sampai ketemu pula, sampai ketemu pula!" katanya, kemudian dengan bebokongnya ditempel pada tembok, hingga di lain saat, ia sudah nyerosot naik di tembok itu. Sebentar saja, ia pasti akan sudah sampai di atas.
Ho Ang Yo si wanita tua menjerit melihat orang hendak kabur, ia enjot kedua kakinya, untuk apungi diri, akan sambar musuh itu, sedang lima jari tangannya mendahului, menyerang ke jurusan tubuh sang lawan. Ia percaya, selagi nyerosot naik, musuh itu tidak bakal sanggup menangkis atau mengelakkan serangannya itu.
Sin Cie memang berada dalam keadaan keponggok, tak bisa ia berkelit, akan tetapi kedua tangannya ada merdeka, begitu diserang, ia kibaskan tangan kirinya, yang ujung bajunya panjang, hingga tangannya si uwah jelek jadi kena tersampok, sampai tangan dengan kuku-kuku yang liehay itu berbalik menyerang ke arah dirinya sendiri.
Kaget sekali wanita tua-bangkotan ini.
"Apakah kau ada muridnya Kim Coa Long-kun?" tegur dia.
Heran Sin Cie mendengar ini. "Mesti ada hubungannya di antara dia dan Kim Coa Long-kun," pikirnya. Karena uwah ini kenali dia punya ilmu pukulan menghalau serangan kuku yang berbahaya itu.
Walaupun ia heran, Sin Cie toh tidak berhentikan gerakan tubuhnya, malah belum sempat dia menjawab, dia sudah sampai di atas tembok, akan terus lompat ke sebelah luar, untuk susul kawan-kawannya.
A Pa beramai telah lindungi Ceng Ceng sampai di tembok yang keempat, justru itu, mereka dengar satu suara berkeresek yang nyaring menyusul mana pada tembok terbukalah satu lowongan beberapa kaki lebarnya.
Sin Cie tahu, itulah pintu rahasia, maka untuk lindungi A Pa semua, ia lompat melesat ke arah pintu rahasia itu, tanpa berayal lagi ia menyerang dengan kedua tangannya dengan tipu-silatnya "Pay-san-to-hay" atau "Mendorong Gunung Untuk Menguruk Lautan."
Berbareng sama terpentangnya pintu rahasia, serombongan orang Ngo Tok Kauw tertampak meluruk datang, untuk keluar dari situ, tetapi dua yang maju paling depan telah jadi kurban serangannya anak muda kita, tanpa ampun mereka rubuh jumpalitan beberapa kali, kembali ke sebelah dalam, karena mana kawan-kawannya jadi merandak, tak berani mereka lancang maju.
Phoa Siu Tat licik, dia lantas berikan tanda titahnya, atas mana empat anggauta Ngo Tok Kauw segera angkat bumbung mereka, yang merupakan sumpitan, untuk menyemburkan barang cair ke arah Sin Cie. Itu adalah air racun mereka.
Sin Cie kaget sekali, belum ia sampai kena tersemprot, hawa busuk telah bikin kepalanya rada pusing, syukur ia dapat berlompat mundur dengan cepat, ia jadi lolos dari bahaya. Dengan menyingkir jauh-jauh, semprotan air racun tidak sampai kepadanya, air racun itu jadi menyiram melulahan di sebelah depan dia. Air racun itu bersemu hitam dan baunya keras.
Tembok di belakang Sin Cie ada tembok kuning, yang jauh lebih kate daripada tembok-tembok lainnya di sebelah dalam, maka itu di sini ia tidak gunai ilmu merayapnya "Cecak Main Di Tembok," ia hanya enjot tubuhnya, untuk berlompat, hingga di lain saat, ia sudah sampai ke bahagian atas tembok. Dari sini ia lompat keluar dengan tidak memutar tubuh lagi, hanya sambil lompat jumpalitan, secara begini ia jadi tidak mensia-siakan tempo.
Ho Tiat Chiu dapat lihat cara berlompat itu.
"Bagus!" serunya tanpa dia merasa.
Sin Cie susul kawannya terus sampai di tembok terakhir, yang warnanya hitam. Ia tidak lihat orang mengejar akan tetapi tak mau ia membuang-buang tempo. Malah untuk bisa lari lebih cepat lagi, ia sambar Ceng Ceng, untuk dipanggul di belakangnya, bersama semua kawannya itu, ia kabur terus.
Benar di saat mereka mendatangi dekat rumah mereka, Sin Cie merasakan gatal-gatal pada pundaknya, ada hawa panas yang menghembusnya, apabila ia menoleh ke belakang, Ceng Ceng tertawai ia, si nona cekikikan pelahan. Maka legalah hatinya, sebab itu ada suatu tanda kawan ini tidak terluka parah.
Segera setelah sampai di dalam rumah, Sin Cie lantas keluarkan mustikanya, untuk tolongi Thie Lo Han dan Sian Tiat Seng, kemudian baru ia periksa lukanya Ceng Ceng, yang menjadi kurban senjata rahasia yang berupa gelang dari kepala agama Ngo Tok Kauw.
Kakinya si nona, yang terkena gelang, yang tadinya putih-bersih, sekarang telah menjadi berwarna hitam dan bengkak juga, suatu tanda liehaynya serangan dari Ho Tiat Chiu. Sin Cie lantas mengobatinya.
Adalah kemudian, selagi semua orang beristirahat, Sin Cie minta keterangan pada Sian Tiat Seng tentang Ngo Tok Kauw, itu pengemis yang memuja ular berbisa.
"Ngo Tok Kauw itu biasanya tidak pernah melintas keluar dari wilayah mereka, keempat propinsi Inlam, Kwiecioo, Kwiesay dan Kwietang, sama sekali belum pernah mereka datang ke Utara," sahut Tok-gan Sin-Liong dengan keterangannya, "meskipun demikian, umum ketahui baik keliehayan mereka. Sekalipun dalam kalangan Rimba Persilatan, asal orang omong tentang Ngo Tok Kauw, wajah muka orang pasti berubah karena gelisah sendirinya. Sebegitu jauh yang aku ketahui, tak pernah ada orang yang berani main gila terhadap rombongan pengemis itu."
Thia Ceng Tiok diam saja sedari tadi, ia telah kerutkan alis ketika ia dengar hal pertempuran di gedung Pangeran Seng Ong itu, akan tetapi, seperti orang yang ingat suatu apa, sehabis katanya Sian Tiat Seng, ia campur bicara.
"Wan Siangkong," katanya, "orang bilang Oey Bok Toojin dari Bu Tong Pay telah terbinasa di tangannya kawanan Ngo Tok Kauw itu..."
"Bagaimana cara kematiannya itu? Siapakah yang telah menyaksikannja?" Sin Cie tanya.
"Jikalau ada yang telah menyaksikan, mestinya saksi itu sendiri tidak akan luput dari tangannya orang-orang Ngo Tok Kauw," sahut Ceng Tiok. "Menurut kalangan orang Kang-ouw, kebinasaannya Oey Bok Toojin itu ada dalam cara sangat hebat dan menyedihkan. Pernah orang-orang Bu Tong Pay meluruk ke Inlam, untuk mencari balas, akan tetapi tidak ada hasilnya. Ngo Tok Kauw itu adalah satu rahasia untuk umum..."
Tiba-tiba See Thian Kong perdengarkan suara tak nyata, kemudian dia tegasi Ceng Tiok: "Saudara Thia, apa benar-benar kau tidak kenal pengemis wanita tua itu?"
Ditanya begitu, Thia Ceng Tiok perlihatkan roman duka.
"Aku percaya Saudara-Saudara merasa heran, sebenarnya aku mempunyai kesulitan, yang sukar untuk aku menjelaskannya," kata dia kemudian.
See Thian Kong tertawa.
"Aku pernah tempur kau, aku tahu, makin tua kau makin gagah!" katanya. "Siapa juga tidak nanti bilang bahwa kau takut mati!"_ "Aku telah terima pesan orang, untuk itu aku telah beri kata-kataku dengan sumpah berat," kata pula Thia Ceng Tiok, "maka itu, tak dapat aku bicara. Itu juga sebabnya kenapa aku tak ingin datang ke balai istirahat dari Pangeran Seng Ong itu."
Orang tahu, sebagai ketua dari Ceng Tiok Pay, Ceng Tiok tidak nanti bicara dusta, karenanya, orang tidak desak dia untuk menjelaskan kesulitannya itu. Tapi karena itu, untuk sesaat, semua orang berdiam, mereka pada tunduk kepala, hingga gedung menjadi sunyi-senyap.
Dalam suasana terbenam itu, mendadak satu bujang datang masuk. "Ada satu Nona Ciauw mohon ketemu sama Wan Siangkong!" katanya.
Ceng Ceng kerutkan alis dengan tiba-tiba. "Dia datang, apakah dia mau?" katanya.
"Undang dia masuk !" Sin Cie perintah bujangnja. Bujang itu menyahuti, lantas ia keluar. Tidak lama ia sudah kembali bersama Ciauw Wan Jie.
Begitu lekas ia berhadapan sama Sin Cie, Nona Ciauw segera berlutut, ia memberi hormat sambil menangis menggerung-serung. Sin Cie lihat orang pakai pakaian berkabung, hatinya sudah bercekat, tetapi karena si nona berlutut, ia lekas-lekas berlutut juga untuk membalas hormat.
"Silahkan bangun, Nona Ciauw," katanya kemudian, mempersilahkan. "Apakah ayahmu baik?"
Masih nona itu menangis. "Ayah, ayah telah dibunuh si orang she Bin..." katanya dengan tak lancar.
Sin Cie terperanjat, sampai ia berjingkrak. "Bagaimanakah duduknya hal?" tanya dia dengan bernapsu.
Wan Jie sudah berbangkit, ia lolosi satu bungkusannya, untuk diletaki di atas meja, terus ia buka. Isinya itu sebatang pisau belati yang tajam mengkilap di mana antaranya ada sisa tanda-tanda darah terotolan. Sin Cie jumput senjata itu, untuk diperiksa. Maka melihatlah ia ukiran huruf-huruf pada gagangnya, yang dikelam dengan emas, bunyinya "Bin Cu Hoa, murid Bu Tong Pay golongan huruf Cu".
Itu adalah senjata warisan atau tanda mata kepada setiap murid Bu Tong Pay, yang biasa diberikan kepada setiap murid yang telah rampungkan pelajarannja dan diijinkan turun gunung, keluar dari rumah perguruan.
"Ketika itu hari ayah pulang habis menghadirkan rapat besar di gunung Tay San," Ciauw Wan Jie segera menerangkan, "kami telah mampir di Cie-Ciu untuk bermalam di dalam sebuah rumah penginapan. Di hari besoknya, sampai siang ayah masih belum keluar dari kamar, maka aku pergi ke kamarnya, untuk mengasi bangun. Akan tetapi ayah kedapatan sedang rebah dengan sudah tidak bernapas, di dadanya tertancap sebatang pisau belati ini... Wan Siangkong, aku mohon sukalah kau pikirkan jalan untuk aku..."
Kembali Wan Jie menangis menggerung-gerung.
Mulanya Ceng Ceng heran atas kedatangan Nona Ciauw itu, timbullah kecurigaannya, akan tetapi sekarang, melihat kesulitan orang itu dan menyaksikan keadaannya yang menyedihkan, timbullah rasa simpati dan kasihannya, lantas saja ia menghampirinya, untuk pegang tangannya Nona Ciauw, akan susuti air matanya nona yang bernasib malang itu.
"Toako," kata Ceng Ceng di lain pihak kepada Sin Cie, "orang she Bin itu sudah berjanji untuk bikin habis persengketaan, kenapa sekarang dia lakukan perbuatan hina-dina ini, membunuh secara menggelap? Tak dapat kita sudahi perkaranya ini!"
Sin Cie tidak lantas menyahuti, hanya dia berdiam. Dia berpikir.
"Nona Ciauw," tanyanja kemudian, "apakah setelah itu kau pernah bertemu sama orang she Bin ini?"
"Dua kali aku pernah bertemu padanya," sahut Wan Jie dengan masih menangis sesenggukan, "maka kami telah susul dia. Baru kemarin kami sampai di sini..."
"Bagus!" seru Ceng Ceng. "Dia ada di Pakkhia, mari kita cari padanya! Adikku, kau sabar, kau tenangkan diri, pasti aku nanti membalas dendam untukmu!"
Thia Ceng Tiok, See Thian Kong dan yang lain-lain berdiam saja. Ceng Ceng tahu, itulah tentu disebabkan mereka tak ketahui duduknya hal. Maka nona Hee lantas ceritakan pengalamannya Sin Cie di Kim-leng di mana pemuda itu telah pecahkan ilmu silat "Liang Gie Kiam-hoat" untuk mengakurkan perselisihan di antara Ciauw Kong Lee dan Bin Cu Hoa.
Mendengar ini, Ceng Tiok semua menjadi tidak puas. Teranglah Bin Cu Hoa sudah langgar kehormatan kaum Kang-ouw, perbuatannya itu ada sangat busuk.
"Mahluk apa Bin Cu Hoa itu?" tanya See Thian Kong dalam sengitnya. "Ingin aku si tuabangka she See mencoba menempur dia!"
Ciauw Wan Jie lantas menjura kepada Thian Kong beramai.
"Aku mohon semua Paman untuk membelakan pri-keadilan," minta dia.
Thia Ceng Tiok pun sengit sekali, hingga dia keprak meja.
"Di mana adanya Bin Cu Hoa sekarang?" dia tanya. "Tidak perduli Bu Tong Pay banyak anggautanya dan berpengaruh, aku si orang she Thia tak gentar terhadap mereka!"
"Setelah kebinasaan ayah," kemudian Ciauw Wan Jie menerangkan lebih jauh, "bersama beberapa suko aku rawat jenasahnya, tetapi sekarang ini jenasah itu masih dititipkan di rumahnja In Piauwsu dari Kong Bu Piauw Kiok di Cie-Ciu. Segera setelah itu, aku mencoba mengundang sejumlah sesama orang Kang-ouw, untuk mereka tolong cari tahu di mana beradanya Bin Cu Hoa. Aku bersyukur kepada roh ayahku, selang beberapa hari telah datang kabar dari sahabat-sahabat di Hoolam, ada di antara mereka yang dapat lihat orang she Bin itu sedang dalam perjalanan dari Hoolam ke Pakkhia. Atas warta itu, pihak kami sudah lantas bekerja. Pelbagai hiocu dalam dan luar dari Kim Liong Pang bersama semua tocu dari semua pelabuhan darat dan air telah berpencar diri, untuk mencari dan memegat, dua kali telah dilakukan pertempuran, saban-saban dia bisa loloskan dirinya. Tidak beruntung adalah aku, karena aku tidak punya guna, pernah satu kali, aku kena dilukai dia..."
Sin Cie lihat, pundak kiri dari si nona masih dibalut. Ia merasa kasihan berbareng kagum. Pasti nona ini, meskipun kalah tangguh dari Bin Cu Hoa, untuk membalas sakit hati ayahnya, sudah berlaku nekat, dia tempur mati-matian musuh besarnya itu. Tentu sekali dia ini bukannya tandingan Bin Cu Hoa.
"Sampai kemarin kami terus kuntit orang she Bin itu," Wan Jie melanjuti keterangannya. "Sekarang kami telah ketahui di mana dia telah pernahkan diri."
"Di mana?" tanya Ceng Ceng dengan bernapsu. "Mari lekas kita satroni dia, supaya dia jangan keburu mabur lagi!"
"Dia bertempat di gang Hu Kee Hootong di dalam sebuah rumah," sahut Wan Jie. "Seratus lebih orangku sudah memasang mata di sekitar rumah itu."
Diam-diam Sin Cie manggut-manggut.
"Meskipun nona ini masih muda tapi ia cerdik dan pandai bekerja," memuji ia dalam hatinya. "Kaum Kim Liong Pang telah keluar dalam rombongan seluruhnya, pasti sekali sebelum mereka dapat binasakan Bin Cu Hoa, belum mereka mau sudah..."
"Barusan saja di tengah jalan aku telah bertemu sama satu sahabat yang juga baru kembali dari rapat di Tay San," menambahkan Nona Ciauw itu, "dari dia itu aku dapat tahu bahwa kau justru berada di sini, Wan Siangkong..."
See Thian Kong tunjuki jempolnja, dia bersenyum puas.
"Nona Ciauw, sempurna sekali tindakan kau ini!" dia memuji. "Menurut kau, sudah terang Bin Cu Hoa itu telah berada di dalam genggamanmu, tetapi kau toh masih datang kemari untuk minta keadilan dari bengcu kita, supaya kaum Kang-ouw nanti mengutuk Bin Cu Hoa yang harus dibikin binasa itu! Bagus, bagus!"
"Kapan kamu hendak turun tangan?" kemudian Sin Cie tanya.
"Sebentar malam jam dua," jawab Wan Jie, yang terus bungkus rapi pula pisau belati yang meminta jiwa ayahnja itu.
"Ya, simpan senjata ini, Adik," kata Ceng Ceng. "Sebentar kau gunakan ini untuk tikam mampus musuhmu itu!"
Nona Hee pun sengit seperti yang lain-lainnya, hingga lenyap kecurigaan atau cemburuannya.....
Wan Jie manggut terhadap nona ini.
Diam-diam Sin Cie menghela napas. Ia berkasihan terhadap Ciauw Kong Lee, ia sayangi ketua Kim Liong Pang itu. Ia tahu jago ini berbudi, siapa sangka dia mesti binasa di tangan jahat. Di sebelah itu, ia menyesal sekali, ia pun berkuatir. Permusuhan ini akan menghebat dendaman di antara Bu Tong Pay dan Kim Liong Pang. Apabila orang saling dendam tak putusnya, sampai kapan itu dihabiskannya? Untuk selanjutnja, pasti bahaya akan saling menimpa satu pada lain...
Pemuda kita lantas tahan Wan Jie bersama, untuk si nona beristirahat, untuk diajak bersantap sama-sama kapan sang sore telah sampai, sesudah mana, ia bersiap. Ceng Ceng dan Thie Lo Han tak dapat turut karena mereka sedang terluka. Juga Sian Tiat Seng tidak ikut, karena kepala opas itu telah diantar pulang ke rumahnya. Maka itu cuma Thia Ceng Tiok, See Thian Kong, A Pa, Ouw Kui Lam dan Ang Seng Hay yang bisa memberikan bantuannya.
Begitu sang malam sampai, berenam mereka berangkat dengan Ciauw Wan Jie jalan di muka untuk jadi petunjuk jalan ke gang Hu Kee Hootong.
Ceng Ceng menyesal yang ia tidak dapat turut, saking masgul dan mendongkol, ia lantas kutuki Ho Tiat Chiu yang telah lukai padanya.
Kapan Sin Cie beramai sampai di dekat gang, beberapa muridnya Kong Lee, yang sedang memasang mata, papak mereka. Lantas saja mereka kisiki bahwa Bin Cu Hoa masih ada di dalam rumah bersama Tong Hian Toojin, suhengnya dia itu. Mereka pun girang sekali menampak Sin Cie telah dapat diundang. Semua orang telah ketahui baik keliehayannya anak muda ini.
"Wan Siangkong, apa boleh kita turun tangan sekarang juga?" Wan Jie tanya pemuda kita.
Nona ini cerdik dan bisa memikir panjang, tak mau ia mendahului bengcu itu.
"Sabar dulu," Sin Cie bilang. "Sekarang minta semua orang berjaga-jaga seperti biasa, mari kita sendiri pergi mengintai dulu."
"Baik," jawab nona itu, yang terus kisiki kawan-kawannya. Maka mereka itu lantas undurkan diri.
Sin Cie ajak semua kawannya mendekati rumah, lantas mereka saling susul lompati tembok, untuk masuk ke dalam.
Seng Hay masih belum sempurna ilmunya entengkan tubuh, di waktu ia lompat turun ke tanah, ia menerbitkan suara, benar suaranya enteng sekali, akan tetapi di dalam rumah, di dalam kamar, api padam seketika.
Sampai waktu itu Ciauw Wan Jie tak dapat kendalikan lagi hatinya. Ia pun rupanya kuatir musuh nanti lolos pula. Maka ia lantas perdengarkan suara suitannya. Suara itu pelahan, akan tetapi menyambut itu, di empat penjuru rumah, di pojok tembok, segera muncul pelbagai kepala orang - ialah orangnya yang mengurung rumah itu.
Habis itu, Wan Jie perdengarkan suaranya yang keren: "Orang she Bin, lekas kau keluar! Kau lihat, siapa telah datang kemari!" Sunyi rumah itu, tidak ada suara jawaban.
"Nyalakan api!" Wan Jie berseru. "Semua nyerbu ke dalam!"
Orang-orang Kim Liong Pang, dan sahabat-sahabat mereka, yang datang membantu, taati seruan itu. Mereka memang telah siapkan obor. Maka sebentar saja, teranglah cahaya api.
Empat anggauta, yang memegang obor, maju di depan, golok mereka dipakai melindungi diri.
Dengan tiba-tiba saja terdengar beberapa kali suara beruntun, menyusul itu, tiga batang obor padam apinya, hingga tinggal yang satu, kemudian menyusul itu, dua bayangan kelihatan lompat mencelat lari arah rumah itu.
Dengan serentak, orang-orang Kim Liong Pang lompat menerjang, hingga selanjutnya, riuhlah suara pelbagai senjata beradu satu pada lain.
Kembali terdengar suara suitan, kali ini itu disusul sama merangsaknya orang-orang di empat penjuru, sedang api obor pun jadi bertambah, sehingga pekarangan di situ jadi terang sekali, bagaikan siang saja.
Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa telah lakukan perlawanan dengan membaliki belakang satu sama lain, dengan jalan ini mereka hendak cegah mereka nanti terbokong. Mereka perlihatkan ilmu pedang mereka, sebab rupanya mereka insyaf, saat ini adalah saat mati atau hidup mereka. Tidak heran, karena cara berkelahi mereka, sebentar saja sudah ada tujuh atau delapan orang Kim Liong Pang yang kena dilukai. Akan tetapi, delapan orang mundur, serombongan yang lain maju menggantikannya, sebab dia orang ini sangat gusar, mereka setia kepada kawan, sehingga mereka tak takut mati.
Repot juga Bin Cu Hoa dan suhengnya itu menghadapi demikian banyak musuh, yang nekat semua. Benar mereka bisa lukai beberapa orang lagi, tetapi mereka sendiri pun tak bebas dari serangan-serangan musuh-musuh yang seperti kalap itu. Begitulah Tong Hian terluka pada bahu kirinya, sehingga ia mesti geser pedangnya ke tangan kanan.


0 komentar:
Posting Komentar