Home » » PEDANG ULAR MAS 32

PEDANG ULAR MAS 32


Jilid 32

Kedua orang Bu Tong Pay ini berkelahi menurut ilmu silat Liang Gie Kiam-hoat, Tong Hian mencekal pedang di tangan kiri, Bin Cu Hoa di tangan kanan, dengan itu, mereka bisa bergerak dengan leluasa. Sekarang dua-dua pedang berada di tangan kanan, perlawanan mereka menjadi kipa, gerakan mereka jadi kendor sendirinya.

Lagi beberapa saat, Tong Hian terluka pula dan Cu Hoa pun tak terluput, dalam keadaan seperti itu, mereka juga tidak sempat menyingkirkan diri, saking hebat dan rapatnya kepungan. Tidak semua musuh liehay tapi mereka nekat, mereka tak dapat dipandang ringan.

Sin Cie lihat kedua orang sudah dapat beberapa luka, ia anggap tak boleh ia menonton lebih lama pula. Ia juga beranggapan, satu jiwa mesti diganti dengan satu jiwa, cukuplah kalau Bin Cu Hoa sendiri yang dibikin binasa, tak usah Tong Hian Toojin kawani suteenya itu pergi menghadap Raja Akherat. Maka itu, di saat dua jago Bu Tong itu tinggal rubuh binasa, mendadak ia loncat ke antara mereka, pedang Kim Coa Kiam ia babatkan di tengah-tengah.

Sekejab saja, kedua pedangnya Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa sapat terkutung, begitu juga beberapa ujung pedangnya orang-orang Kim Liong Pang yang sedang mengepung hebat.

"Tahan!" Sin Cie berseru.

Gerakan ini membuat kedua pihak tercengang, tapi ia sendiri pun melengak sesaat, saking kagum sendirinya. Ini adalah untuk pertama kali ia gunai pedang Ular Emas itu, di luar dugaannya, pedang itu sangat tajam. Sebenarnja dia hendak halau semua senjata tidak tahunya, semua senjata yang bentur Kim Coa Kiam telah kutung sendirinya.

Bin Cu Hoa telah mandi darah, kaget ia menampak Sin Cie. Dalam saat itu juga, habislah pengharapannya. Melayani musuh-musuh Kim Liong Pang saja sudah berat, bagaimana dapat ia tempur jago muda itu, yang sekarang malah bersenjatakan pedang mustika?

Tong Hian Toojin juga putus asa, sehingga ia lantas lemparkan pedangnya yang sudah buntung tapi ia tertawa menyengir.

"Tak tahu aku, dalam hal apa kami dua saudara, telah berbuat salah terhadap kau, Tuan, maka kau telah desak kami begini rupa?" tanya imam itu.

Di mulutnya, Tong Hian mengucap demikian, diam-diam ia rogo keluar pisau belati di pinggangnya, pisau mana ia terus pakai menikam dadanya. Rupanya dalam berputus asa, ia jadi berpikiran pendek juga.

Sin Cie lihat kenekatan itu, ia ulur kedua tangannya, secara sangat sebat. Dengan tangan kiri ia menolak dada orang itu, dengan tangan kanan ia menyambar ke lengan si imam, maka di lain saat, ia telah dapat rampas pisau belati itu yang tajam berkilauan.

Malah dalam sekelebatan itu, Sin Cie bisa lihat huruf-huruf ukiran pada gagangnya belati yang berbunyi: "Tong Hian Toojin murid Bu Tong Pay golongan huruf Cu," Dan pisau belati itu mirip benar macamnya dengan pisau belati Bin Cu Hoa yang dipakai membunuh Ciauw Kong Lee.

Mukanya Tong Hian Toojin jadi merah-padam, lalu pucat-pias.

"Satu laki-laki boleh dibunuh tetapi tak dapat diperhina!" dia berseru. "Aku tahu ilmu silatku belum sempurna, aku bukannya tandingan kau. Maka biarlah aku binasa dengan kau tonton! Lekas kembalikan pisauku itu kepadaku!"

Imam ini nyata bernyali besar, keras hatinya.

Sin Cie kuatir orang bunuh diri, tidak saja ia tidak kembalikan pisau itu, ia malah selipkan di pinggangnya.

"Mari kita bicara dulu sampai terang, baru nanti aku kembalikan kepadamu." katanya, dengan sungguh-sungguh.

Tapi Tong Hian Toojin sedang gusar, dia jadi bertambah murka.

"Jikalau kau hendak bunuh aku, bunuhlah!" menjerit dia. "Tak dapat kau terlalu menghina!"

Jeritan ini disusul sama satu sampokan tangan ke muka si anak muda.

Sin Cie kelit dengan mundur satu tindak.

"Kapannya aku hinakan kau?" dia tanya. Benar-benar ia heran.

Tong Hian masih sengit, dia hunjuk roman bengis.

"Pisauku itu ada pisau hadiah dari Couwsu kami dari Bu Tong Pay!" kata dia dengan nyaring. "Maka pisau itu biarnya aku mesti hilang jiwa, tak dapat dibiarkan jatuh di tangan lain orang!"

Kembali Sin Cie heran hingga is tercengang. Berbareng dengan itu kecurigaannya jadi semakin besar.

"Kalau pisau ini dipandang begini suci, kenapa Bin Cu Hoa tinggalkan di tubuh Ciauw Kong Lee sehabis dia bokong ketua Kim Liong Pang itu?" demikian dia berpikir.

Ia keluarkan pisau itu, untuk dikasi pulang kepada pemiliknya.

"Tootiang, ada satu hal untuk mana aku mohon keterangan kau," kata ia, dengan sikapnya yang sabar.

Imam dari Bu Tong Pay itu sambuti pisaunya, karena ia dengar orang punya suara menghormat, ia pun tidak bersikap keras lagi.

"Silahkan," sahut dia dengan ringkas.

Sin Cie berpaling kepada Ciauw Wan Jie.

"Nona Ciauw, mari bungkusan kau, kasikan padaku!" dia minta

Wan Jie menghampirkan, akan serahkan bungkusannya yang berisikan pisau belati Bin Cu Hoa. Ia belum tahu tindakan Sin Cie.

Lebih jauh, ia pun tak hendak menanyakannya, akan tetapi ia cekal keras sepasang goloknya. Ia awasi dengan bengis pada Bin Cu Hoa, siapa sebaliknya berdiri diam di dampingnya Tong Hian Toojin.

Dengan sabar Sin Cie buka bungkusan itu, hingga kelihatanlah isinya, menampak mana, Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa perdengarkan seruan tertahan dari mereka, lebih-lebih Bin Cu Hoa sendiri yang kenali pisaunya itu.

Di pihak lain, orang-orang Kim Liong Pang yang melihat bukti senjata pembunuhan ketua mereka, lantas ingat kebinasaan hebat dan menyedihkan dari ketua mereka itu, berbareng sedih, kemurkaan mereka pun timbul pula secara tiba-tiba, hingga dengan roman sangat bengis, mereka bertindak maju.

"Ini... ini... adalah senjataku!" seru Bin Cu Hoa. "Dari mana kamu dapatkan ini?" tanya dia, sambil ulur tangannya, untuk ambil pulang pisau belati itu.

Sin Cie tarik pulang tangannya, tetapi di sebelah dia, Ciauw Wan Jie membacok dengan goloknya, kepada lengan orang, hingga Bin Cu Hoa mesti dengan sebat tarik pulang tangannya.

Panas Wan Jie, maka ia maju, untuk membacok pula.

"Sabar," kata Sin Cie, yang lintangi tangannya, untuk mencegah. "Mari kita tanya jelas dulu."

Karena tak dapat ia menyerang lebih jauh, Wan Jie menangis, air matanya bercucuran dengan deras.

Bin Cu Hoa agaknya tidak mengerti, dia berseru: "Ketika dulu kita bikin pertemuan di Lamkhia, urusan telah dibereskan, persengketaan kedua pihak telah didamaikan dan dibikin habis, kenapa orang-orang Kim Liong Pang tidak pegang kepercayaan dan kehormatannya? Kenapa kamu berulang-ulang kali dengan cara gelap hendak bikin celaka padaku? Sekarang kamu suruhlah Ciauw Kong Lee keluar, mari kita berpadu diri, untuk bicara biar jelas! Jikalau benar aku si orang she Bin yang bersalah, di hadapan kamu aku nanti bereskan diriku sendiri, tidak nanti aku menyangkal!"

Belum sempat Bin Cu Hoa tutup mulutnya, beberapa orang Kim Liong Pang telah bentak dia: "Ketua kami telah kau bunuh, sekarang kau masih berpura-pura, kau hendak mencoba bersihkan dirimu, manusia hina-dina dan busuk!"

Bin Cu Hoa, begitu juga Tong Hian Toojin, melengak. Mereka kaget dan heran bukan main.

"Apa?" tanya mereka. "Ciauw Kong Lee telah terbinasa?"

Sin Cie tampak wajah orang itu sungguh-sungguh, ia mau percaya mereka itu bukannya sedang bersandiwara.

"Ah, benar-benar mesti ada halnya dalam urusan ini," pikir ia. Maka ia lantas tegasi: "Apakah benar-benar kamu tidak ketahui bahwa ketua Kim Liong Pang telah terbinasa?"

"Tidak!" sahut Bin Cu Hoa. "Sejak itu hari aku kalah dan aku serahkan rumahku, aku tak punya muka lagi akan hidup dalam dunia Kang-ouw, aku lantas pergi ke Kayhong kepada toa-suhengku Cui In Tootiang yang mewariskan guru kami menjadi ketua, untuk memberi penjelasan kepadanya, untuk kami berdamai, sayang itu waktu aku tak dapat bertemu sama suhengku itu. Adalah sekembalinya dari Kayhong, dengan tak aku ketahui apa sebab musababnya di tengah jalan, dua kali aku dipegat orang-orang Kim Liong Pang hingga kita mesti bertempur hebat. Aku tidak mengerti kenapa Ciauw Kong Lee terbinasa?"

Ciauw Wan Jie ada seorang yang pintar, mendengar perkataannya orang she Bin ini, melihat wajah orang itu, dia mulai bercuriga. Tiba-tiba saja ia menangis pula, dengan sesenggukan.

"Ayahku.... ada....ada orang bunuh secara menggelap dengan pisau belati ini!" katanya dengan susah-payah. "Umpama kata benar bukannya kau yang lakukan pembunuhan itu, mestinya dia adalah sahabatmu!"

Bin Cu Hoa terkejut.

"Ah, ah, inilah..."

"Inilah apa?" bentak Ciauw Wan Jie.

Bin Cu Hoa bungkam, agaknya ia hendak bicara tetapi batal, nampaknya ia merasakan suatu kesulitan.

Orang-orang Kim Liong Pang menjadi panas pula, sedang tadinya mereka pun sudah melengak, mereka mau percaya, benar-benar musuh ini berdusta, maka lantas mereka maju pula.

Tong Hian Toojin ambil pedang buntung dari tangannya Bin Cu Hoa, dia lempar itu ke tanah sebagaimana pedangnya sendiri tadi, kemudian ia angkat dadanya.

"Jikalau Tuan-Tuan lebih suka sakit hatinya Ciauw Loopangcu tak terbalas untuk selamanya-lamanya dan kamu kehendaki supaya si penjahat diam-diam tertawai kamu dari samping, baiklah, kami berdua saudara suka serahkan jiwa kami! Sama sekali kami tidak takut mati!" demikian katanya.

"Menampak keberanian orang itu, orang-orang Kim Liong Pang merandek, sangsi mereka untuk serbu imam itu.

Sin Cie lantas berkata pula:

"Jikalau begini, kelihatannya Ciauw Loopangcu bukanlah kau yang bunuh, Saudara Bin?" tanya dia.

"Aku mengaku aku si orang she Bin tidak punyakan kepandaian cukup," jawab Bin Cu Hoa, "akan tetapi aku mengerti benar hidupnya seorang di dalam dunia mengandali kepercayaan, kehormatannya! Aku telah kalah di tangan kamu, selagi sekarang ada orang jahat yang mainkan perannya secara diam-diam, bagaimana aku bisa datang pula ke Lamkhia untuk melanjuti permusuhan?"

"Tetapi Ciauw Loopangcu bukannya terbunuh di Lamkhia," Sin Cie terangkan.

Bin Cu Hoa heran. "Di manakah itu terjadinya?" dia tanya.

"Di Cie-Ciu."

"Inilah terlebih aneh pula!" kata Tong Hian Toojin. "Kami dua saudara, sudah lebih
daripada sepuluh tahun belum pernah injak pula kota Cie-Ciu! Kecuali kami mempunyai pedang-terbang, tidak nanti kami bisa rampas jiwa orang di tempat jauhnya ribuan lie!"

"Apakah ini benar?" Sin Cie tegaskan.

Tong Hian tepuk batang lehernya. "Kepalaku ada di sini!" ia jawab.

"Habis, dari mana datangnya pisau belati ini?" tanya Wan Jie.

"Jikalau sekarang aku berikan keteranganku, aku kuatir kamu tidak dapat mempercayai aku!" sahut Tong Hian. "Sekarang mari aku ajak kamu beramai ke suatu tempat, di sana kamu nanti baru ketahui duduknya hal."

"Suheng, jangan!" mencegah Bin Cu Hoa, yang agaknya jadi sangat gelisah.

"Wan Siangkong dan Nona Ciauw ada sahabat-sahabat baik, sama sekali tidak ada halangannya," bilang Tong Hian. Bin Cu Hoa bungkam.

"Ke mana kita pergi?" Wan Jie tanya.

Tong Hian Toojin tidak segera menjawab, hanya ia kata, "Aku cuma hendak ajak Wan Siangkong berdua dengan kau saja, Nona Wan. Lebih banyak lagi, tak dapat!"

(Bersambung bab ke 20)


Bab 20

Orang-orang Kim Liong Pang lantas berseru-seru: "Dia hendak gunai tipu-daya keji, jangan percaya dia! Jaga supaya jangan sampai dia kabur!"

Wan Jie tidak mau lantas dengar orang-orangnya itu. "Bagaimana kau pikir, Wan Siangkong?" dia tanya Sin Cie. Dia lebih percaya anak muda ini. Sin Cie berpikir.

"Mestinya dua orang ini ada punya rahasia, baik kami ikut mereka, untuk mengetahui duduknya hal yang sebenarnya. Apa mungkin mereka hendak gunai tipu-daya? Bisakah mereka nanti loloskan diri dari tanganku?"

Lalu ia menjawab: "Mari kita pergi, untuk memperoleh penjelasan!"

Ciauw Wan Jie segera menoleh kepada semua kawannya, untuk kata: "Aku beserta Wan Siangkong, aku percaya mereka tidak nanti berani main gila!"

Sejak meninggalnya Ciauw Kong Lee, semua orang Kim Liong Pang telah pandang Nona Ciauw sebagai gantinya ketua mereka. Mereka percaya nona ini, yang mereka pun hormati, karena Wan Jie pintar dan bisa bawa diri. Mereka telah saksikan sendiri bagaimana pandai si nona pimpin mereka untuk kepung-kepung musuh ini. Mereka juga percaya Sin Cie, yang kegagahannya dan kemuliaan hatinya mereka sudah buktikan sendiri. Maka itu, mereka tidak bersangsi pula. "Baiklah," kata mereka.

"Mari kita pergi sekarang!" kata Tong Hian kemudian.

Dengan bertangan kosong, imam ini ajak suteenya jalan di sebelah depan, di belakang mereka, Sin Cie mengikuti bersama Ciauw Wan Jie. Mereka keluar dengan melompati tembok.

Lebih dahulu daripada itu, Sin Cie minta See Thian Kong berempat pulang lebih dahulu ke hotel mereka, sedang orangnya Kim Liong Pang undurkan diri di bawah pimpinannya Gouw Peng, murid kepala dari Ciauw Kong Lee.

Sin Cie dan Wan Jie ikuti Tong Hian dan Cu Hoa menuju ke arah utara, mereka jalan sambil berlari-lari, menghampirkan tembok kota. Di sini imam itu keluarkan bandringan gaetan, untuk membangkol tembok kota, dengan itu Wan Jie merayap naik paling dulu, baru Cu Hoa dan Sin Cie. Paling akhir adalah si imam sendiri. Dari atas tembok, mereka lompat turun ke lain sebelah, untuk melanjutkan perjalanan mereka ke utara.

Ketika itu sudah tengah malam, rembulan bersinar sedang terangnya, cahayanya putih­bersih dan permai.

Perjalanan di sini, makin jauh makin sukar. Setelah melalui empat-lima lie, Tong Hian dan Cu Hoa mulai menindak naik ke sebuah tanjakan.

Heran juga Sin Cie dan Wan Jie. Entah ke mana mereka hendak diajak pergi. Mereka pun pikir-pikir, sebenarnya mereka hendak diperlihatkan apa. Tapi mereka tak jeri, mereka mengikuti terus. Mereka mendaki tanjakan untuk dua-tiga lie. Di sini tidak ada jalanan, dan tanahnya penuh batu. Maka itu untuk bisa maju, mereka berlari-lari dengan ilmu entengi tubuh. Saban-saban mereka injak batu besar, untuk dari situ lompat ke lain batu besar lagi, demikian seterusnya.

Belum sampai di puncak tanjakan, Wan Jie sudah bernapas sengal-sengal. Inilah pengalaman hebat untuknya. Maka itu Sin Cie cekal lengan orang.

"Mari aku bantu padamu!" kata pemuda ini.

Wan Jie tidak malu-malu palsu, ia kasi dirinya dibantui. Seperti tanpa merasa, ia lantas bisa maju terlebih jauh. Kalau tadi mereka telah ketinggalan Tong Hian dan Cu Hoa, sebentar saja mereka mendahului sampai di puncak bukit.

Di sini keadaan tempat ada lebih berbahaya daripada di tengah jalan tadi dan suasana pun menyeramkan, sebab di sana-sini kelihatan batu-batu besar yang berdiri bagaikan hantu atau binatang buas, ada yang kecil-kurus mirip pedang atau tumbak...

Sebentar kemudian, Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa dapat menyusul mereka sampai di puncak, Tong Hian mendahului menuju ke belakang setumpukan batu besar. Di sini dia menjumput sepotong batu, yang ia ketoki ke sebuah batu besar sampai tiga kali. Ia berhenti sedetik, lalu ia menyambungi, dua kali. Habis ini, ia mengulang mengetok lagi tiga kali.

Setelah mengetok-ngetok tumpukan batu secara demikian, Tong Hian lantas bekerja, ialah dengan kedua tangannya, ia angkat sesuatu batu yang menjadikan tumpukan itu, ketika ia sudah singkirkan enam-tujuh potong, di bawah tumpukan itu tertampak sebuah peti mati yang besar.

Wan Jie terkejut akan menampak peti mati itu, inilah tidak pernah ia sangka-sangka. Suasana di situ memang sudah sangat menyeramkan.

Tong Hian bekerja lebih jauh, tanpa bantuan Bin Cu Hoa, yang berdiri diam saja mengawasi dia. Dengan kedua tangannya, ia pegang tutup peti, lalu ia kerahkan tenaganya, untuk angkat itu, hingga terdengarlah satu suara menjeblak yang keras.

Begitu lekas tutup peti terangkat ke belakang, menyusul suara menjeblak itu, di dalam peti bergerak satu tubuh, yang bangun untuk berduduk!

Wan Jie keluarkan seruan saking kagetnya.

"Hai, kamu ajak orang luar?" tiba-tiba si "mayat hidup" bertanya.

"Inilah dua sahabat baik," sahut Tong Hian dengan tenang. "Ini ada Wan Siangkong, muridnya Kim Coa Long-kun, dan ini ada Nona Ciauw, puterinya Suhu Ciauw Kong Lee."

"Mayat hidup" itu lantas awasi kedua orang yang diperkenalkan itu.

"Maaf, Jie-wie," katanya. "Pintoo sedang terluka, tak dapat aku berbangkit...." Ia memberi hormat.

Belum Sin Cie bilang suatu apa, Tong Hian sudah mendahului.

"Inilah Toasuheng kami Cui In Toojin, yang mewariskan kedudukan ketua Bu Tong Pay," demikian katanya. "Untuk menyingkir dari musuh, buat sekalian memelihara diri toasuheng sengaja berdiam di sini..."

Mengetahui orang bukannya "mayat hidup," Sin Cie dan Wan Jie membalas hormat. Imam itu manggut, untuk membalas.

Sin Cie dan Wan Jie dapatkan wajah Cui In Toojin pucat sekali, bagaikan kertas putih saja, tanda luka kedapatan dari batas jidatnya sampai ke batang hidungnya. Luka itu adalah luka belum terlalu lama. Tapak luka itu membuat romannya si imam jadi jelek dan menyeramkan.

Sambil mengawasi, dua anak muda ini pun pikiri, kenapa untuk merawat diri dan menyingkir dari musuh, imam ini sampai sembunyikan diri secara demikian macam.

Sekarang nampaknya imam itu berhati lega, bisa ia bersenyum.

"Di masa hidupnya guruku, Oey Bok Toojin," katanya, "dia bersahabat dengan Kim Coa Long-kun, gurumu itu, Wan Siangkong. Ketika Hee Loocianpwee datang ke Bu Tong San, untuk merundingkan ilmu silat pedang, aku dapat kesempatan untuk melayani dia. Apakah ada banyak baik loocianpwee itu?"

Sin Cie anggap tak usah ia sembunyikan apa-apa lagi.

"Guruku itu telah menutup mata," ia jawab.

Cui In Toojin lantas saja menghela napas, ia terus berdiam, air mukanya menjadi suram pula, tandanya ia berduka. Karena ini, semua orang turut berdiam.

"Ketika barusan Tong Hian Sutee menyebutkan Siangkong adalah murid dari Kim Coa Long-kun, aku girang bukan kepalang," kata pula si imam "mayat hidup" itu sesaat kemudian. "Aku telah memikir, asal Hee Loocianpwee suka turun tangan untuk membantu, pastilah sakit hatinya guruku akan dapat terbalas. Ah, siapa sangka, Hee Loocianpwee telah meninggal dunia... Benar-benar aku kuatir orang jahat itu nanti malang-melintang di dunia ini tanpa ada orang yang sanggup mencegahnya!"

Di dalam hatinya, Wan Jie kata: "Aku datang untuk urusan pembalasan sakit hati ayahku, siapa tahu di sini muncul urusan sakit hati guru..."

Sin Cie sebaliknya berpikir: "Siapa sih musuh mereka ini, yang agaknya demikian liehay, hingga sampai, tanpa Kim Coa Long-kun, tidak ada orang lainnya lagi yang sanggup mengendalikannya?"

Sampai di situ, Tong Hian Toojin lantas bicara sama suhengnya, kakak seperguruan itu. Dia tuturkan urusan pihak Kim Liong Pang menyeterukan Bin Cu Hoa.

"Aku minta Suheng suka menjelaskannya kepada Nona Ciauw ini," katanya kemudian.

"Hai!" mendadak Cui In Toojin berseru. Memangnya, selama memasang kuping, ia sudah panas hatinya, makin mendengar, ia jadi makin gusar. Di akhirnya, tiba-tiba saja ia ayun tangannya, ia hajar pinggiran peti mati.

"Prak!" demikian satu suara nyaring, dan peti itu sempal!

Sin Cie terkejut dalam hatinya.

"Teranglah kepandaiannya imam ini jauh lebih tinggi daripada kedua suteenya ini," pikirnya. "Dia berkepandaian begini liehay, kenapa dia sebaliknya sangat jeri terhadap musuhnya, hingga ia rela sembunyikan diri di dalam peti ini bagaikan mayat saja?"

"Nona Ciauw," Cui In kemudian kata kepada Wan Jie, "sukalah kau dengar keteranganku. Adalah aturan di dalam kalangan Bu Tong Pay kami, sesuatu murid yang telah lulus pelajarannya, hingga ia boleh turun gunung, ia selalu mesti dibekali sebilah pisau belati oleh guru kami. Pintoo telah diangkat sebagai ketua Bu Tong Pay, untuk menggantikan guru kami itu, benar kepandaianku tidak berharga, sampai pintoo mesti menelan malu, merawat diri dengan sembunyi di dalam peti mati secara begini, tetapi terhadap sahabat-sahabat tak dapat pintoo omong dusta. Nona, tahukah kau, apa keperluannya pisau belati kami itu?"

"Aku tidak tahu," Wan Jie menggeleng kepala.

Cui In Toojin dongak, akan memandang si Puteri Malam, lalu ia menghela napas.

"Couwsu kami dari tingkat keempat-belas ada Hie Hian Tootiang," berkata dia, melanjuti, "kepandaian ilmu silat pedangnya tidak ada tandingannya di kolong langit ini, maka sayang sekali, dia bertabeat keras dan jumawa juga, karenanya, tak sedikit sudah ia membunuh orang, hingga tak sedikit musuh-musuhnya. Maka kejadianlah dia diundang dalam satu rapat besar di atas gunung Heng San, di sini dia tempur jago-jago dari pelbagai kaum, yang lawan ia secara bergiliran, maka walaupun dia berhasil merubuhkan delapan­belas musuh, akhirnja ia sendiri kehabisan tenaga, dengan kesudahan ia mendapat luka-luka parah. Setelah itu, dia gunai pisau belati, untuk membunuh diri, karena tak sudi dia terbinasa di tangan musuh. Sejak kejadian itu, maka mulai Couwsu kami yang ke­limabelas, Bu Tong Pay telah mengadakan aturan setiap lulusan murid dihadiahkan sebilah pisau belati. Tong Hian Sutee, pergi kau ke sana!"

Cui In menunjuk.

Tong Hian bingung, tetapi ia toh bertindak, sampai beberapa ratus tindak, di waktu mana:

"Cukup!" sang suheng bilang.

Sutee itu hentikan tindakannya

Cui In lantas memandang kepada Bin Cu Hoa.

"Bin Sutee," katanya dengan pelahan, "ketika suhu hadiahkan pisau belati kepadamu, apakah pesanannya?"

"Pesan suhu adalah pantangan keras untuk membunuh karena urusan pribadi, bahwa pisau belati itu mesti dirawat dan disimpan hati-hati," sahut Bin Cu Hoa. "Suhu pesan, apabila di dalam satu pertempuran kita terang sudah tak dapat melawan lebih jauh, kita mesti bunuh diri dengan pisau itu."

Cui In Toojin manggut-manggut.

"Nah, pergilah kau ke sana," menitah dia seraya menunjuk ke lain jurusan dari Tong Hian Toojin.

Bin Cu Hoa menurut.

Ketua Bu Tong Pay itu kemudian panggil balik pada Tong Hian Toojin.

"Tong Hian Sutee," katanya, "ketika suhu hadiahkan kau pisau belati, apakah pesannya?"

Tong Hian unjuk sikapnya sungguh-sungguh.

"Itulah," sahutnya, "aku dilarang keras membunuh karena urusan pribadi, pisau mesti dirawat dan disimpan hati-hati, apabila kita tak berdaya dalam satu pertempuran, dengan pisau itu kita mesti bunuh diri!"

Suheng itu manggut, lantas ia panggil balik pada Bin Cu Hoa.

Setelah adik seperguruan itu sudah datang dekat, Cui In pandang Sin Cie dan Wan Jie.

"Sekarang tentu Jie-wie percaya bahwa Bu Tong Pay mempunyai pesan terakhir itu," katanya. " Maka juga orang-orang anggauta kita, tidak perduli bagaimana tersesatnya, tidak nanti mereka gunai kay-sat-too untuk bunuh orang."

"Jadi pisau belati itu dinamakan kay-sat-too?" Sin Cie tegaskan.

"Kay-sat-too" berarti "pisau yang dilarang dipakai membunuh orang lain".

"Benar," Cui In Toojin manggut. "Pisau belati adalah alat tajam untuk membunuh manusia, akan tetapi sejak contoh dari Hie Hian Su-Couw itu, mulai su-couw tingkat kelima-belas, kami telah mengadakan aturan keras ini. Semenjak itu, apabila ada murid yang hendak menyingkirkan orang jahat, dia baru boleh lakukan itu setelah peroleh ijin dari ketua, kecuali apabila dia kena dikepung dan terpaksa mesti membela diri. Apabila ada murid yang lancang membunuh, tidak perduli si kurban bagaimana besar kejahatannya, jikalau itu dilakukan tanpa perkenan atau setahu ketua, maka perkaranya itu mesti ditangguhi sampai rapat besar di Bu Tong San yang biasa diadakan setiap dua tahun sekali, di waktu itu perkara bakal diperiksa dan diputuskan, siapa bersalah, dia mesti bunuh dirinya dengan kay-sat-too itu. Ketika dahulu Bin Sutee hendak bunuh Ciauw Suhu, untuk pembalasan sakit hati bagi kakaknya, ia telah peroleh perkenanku, akan tetapi belakangan, setelah ketahuan dia telah dipermainkan oleh orang jahat, apabila setelah itu dia masih membunuh juga Ciauw Suhu, maka dia telah langgar aturan kami!"

Imam ini menghela napas.

"Kay-sat-too adalah alat untuk membunuh diri sendiri," ia menambahkan, menjelaskan, "Umpama ada murid Bu Tong Pay yang menghadapi musuh tangguh, hingga tak sanggup dia melawannya, dan musuh itu masih terus mendesak dia, sampai dia tak bisa loloskan diri lagi, maka dia mesti gunai pisau belati ini, untuk membunuh diri, supaya dengan begitu bisa dicegah rubuhnya nama baik dari Bu Tong Pay. Mengenai Bin Sutee ini, diumpamakan benar dia sudah langgar pesan, akan tetapi di kolong langit ini ada banyak macam senjata lain, mengapa dia demikian tolol hingga dia sudah menggunakan kay-sat-too? Dan kenapa, sesudah dia melakukan pembunuhan, dia masih tidak bawa kabur pisau belatinya itu?"

Mendengar ini, Sin Cie dan Wan Jie manggut-manggut.

"Nona Ciauw, aku akan kasikan kau sepucuk surat," kata Cui In Toojin.

Dari dalam peti, imam ini angkat satu bungkusan, yang ia terus buka, di situ ada sesusun surat-surat tapi ia hanya ambil satu di antaranya, yang ia terus angsurkan kepada si nona.

Wan Jie berpaling kepada Sin Cie. Anak muda kita manggut, maka ia lantas sambuti surat itu dari tangan si imam. Di antara cahaya rembulan, ia baca alamat dan alamat si pengirim. Itulah surat dari Bin Cu Hoa untuk Cui In Toojin, sang suheng. Ia lantas tarik keluar suratnya, yang kertasnya ada kertas-tulis dari hotel "Thong Siang" di Pang­pouw, ia beber itu, untuk dibaca.

Huruf-huruf tidak keruan, tata-bahasanya pun kalut. Ia terus baca:

"Cui In Toasuheng yth.,

Dalam perkara dengan Ciauw Kong Lee, baru sekarang siauwtee ketahui bahwa siauwtee telah dipermainkan orang. Sudah begitu, apa celaka tadi malam pun siauwtee punya kay­sat-too telah dicuri orang jahat. Siauwtee merasa malu sekali karena kecurian ini. Maka, kalau tak berhasil siauwtee mencari pulang pisau itu, tidak ada muka siauwtee akan menemui pula Toasuheng.

Harap Toasuheng mengetahui adanya.

Hormat dari siauwtee, Bin Cu Hoa."

Bergemetar kedua tangannya Wan Jie setelah ia membaca habis, lantas saja ia berbalik untuk menghadapi Bin Cu Hoa, buat memberi hormat sambil menjura.

"Bin Siok-hu," katanya, "aku telah keliru menyangka kepada kau, aku telah berbuat kurang ajar terhadapmu..."

Lantas ia pun memberi hormat pada Tong Hian Toojin.

Suheng dan sutee itu lekas-lekas balas kehormatan itu.

"Entah bangsat anjing yang mana sudah curi pisauku ini yang ia pakai membunuh Ciauw Suhu," kata Cu Hoa kemudian. "Dia telah tinggalkan pisau ini, terang maksudnya supaya ia bisa timpahkan kedosaan atas diriku."

"Ya, aku semberono sekali, tak sampai aku memikir ke situ," Wan Jie akui. "Aku tadinya kira, setelah Bin Siok-hu bunuh ayahku, kau sengaja tinggalkan pisau itu, untuk banggakan bahwa kau adalah satu laki-laki sejati."

"Sebenarnya bersama-sama Tong Hian Suheng, aku telah cari pisau itu ke mana-mana," menerangkan Bin Cu Hoa, "sampai sebegitu jauh belum pernah kami peroleh endusan.
Belakangan kami terima surat dari Toasuheng, yang memanggil kami datang ke kota raja, maka itu, kami lantas berangkat menuju kemari; adalah di luar sangkaanku, di sepanjang jalan, kami dipegat dan dirintangi oleh rombongan kau, Nona Ciauw, sampai tadi kamu telah kepung aku. Syukur ada Wan Siangkong, maka sekarang urusan telah menjadi terang."

Sin Cie merendahkan diri, tak mau ia menerima pujian.

"Sekarang tunggulah sampai aku sudah sembuh dan urusanku telah dapat dibereskan," kata Cui In Toojin kemudian, "selama itu, asal ada untung hingga jiwaku masih ada, aku nanti bantu kau, Nona Ciauw, untuk cari si pencuri kay-sat-too, yang telah bunuh ayahmu itu."

Kembali Wan Jie memberi hormat seraya haturkan terima kasih pada imam ketua dari Bu Tong Pay itu, kemudian ia pulangkan kay-sat-too pada Bin Cu Hoa.

Sin Cie bisa duga, suheng dan sutee itu bertiga tentu bakal berempuk, untuk mendamaikan urusan mereka; yang mestinya ada satu rahasia untuk pihak luar, hingga tak dapat ia mencampurinya, dari itu ia ajak Wan Jie untuk memberi hormat kepada mereka itu.

"Ijinkan kami undurkan diri!" kata pemuda kita, yang terus memutar tubuh, untuk berjalan pergi.

"Jie-wie, tunggu dulu!" tiba-tiba berseru Tong Hian Toojin, selagi dua orang itu baru jalani beberapa ratus tindak.

Sin Cie dan Wan Jie lantas merandak.

Tong Hian berlari-lari, untuk menghampirkan.

"Wan Siangkong, Nona Ciauw," kata imam ini, "ada satu hal untuk mana aku hendak memohon, tapi lebih dahulu aku harap kamu tidak buat kecil hati..."

"Bicaralah, Tootiang," Sin Cie jawab.

"Aku ingin bicara hal kami di sini," kata Tong Hian. "Kami mohon supaya Siangkong berdua tidak sampai membocorkannya. Tidak selayaknya aku banyak omong, akan tetapi urusan mengenai keselamatan jiwa suhengku, terpaksa aku majukan juga permohonan ini kepada Jie-wie..."

Tentu saja Sin Cie mengerti kebiasaan kaum Kang-ouw, untuk tidak banyak omong mengenai rahasia dari masing-masing partai, dan ia pun mengerti, urusan mesti sangat penting maka Tong Hian sampai berikan pesannya itu. Urusan mereka itu tidak mengenai urusannya sendiri, Sin Cie tidak berkeberatan untuk berikan janjinya. Tapi barusan ia saksikan ketangguhan tangan dari Cui In Toojin, ia jadi ketarik. Ia bersimpati kepada imam itu.

"Sebenarnya saudaramu itu sedang menghadapi urusan besar bagaimana?" ia tanya. "Aku tidak punya pengertian apa-apa akan tetapi suka aku memberikan bantuan sebelah lenganku."

To-ng Hian tahu pemuda ini liehay sekali, yang pasti melebihkan juga toasuhengnya, maka mendengar perkataan itu, ia girang sekali.

"Siangkong sudi membantu kami, ini adalah hal yang untuk memintanya pun kami tidak berani," ia lekas bilang. "Baik, aku nanti beritahukan dulu toasuheng."

Dengan lantas Tong Hian lari kepada Cui In, untuk menyampaikan tawaran Sin Cie, hal mana, Cui In Toojin segera damaikan bersama Cu Hoa juga. Agaknya urusan ada ruwet, sampai sekian lama masih belum ada keputusannya.

"Tentu ada keberatannya bagi mereka, tak suka mereka orang luar campur tahu urusan mereka, baiklah aku tidak memaksa," pikir Sin Cie. Maka ia lantas kata dengan nyaring: "Jie-wie Tootiang, Saudara Bin ijinkan aku berangkat lebih dulu! Sampai ketemu pula!"

Bersama Wan Jie, ia angkat tangan, untuk memberi hormat, setelah itu mereka memutar tubuh. Tapi, belum sampai mereka bertindak, Cui In Toojin sudah memanggil. "Wan Siangkong, mari sebentar, mari kita bicara!"

Sin Cie terima baik undangan itu, ia kembali kepada mereka.

"Wan Siangkong sudi membantu kami, kami bertiga sangat bersyukur," berkata ketua dari Bu Tong Pay itu. “Akan tetapi baiklah kami menjelaskannya. Urusan kami adalah urusan pribadi dan bahayanya pun sangat besar, karena mana dengan sesungguhnya, tak ingin kami bahwa Wan Siangkong, dengan tak ada sebab-musababnya, nanti kena kerembet­rembet dan mendapat kesukaran karenanya. Maka itu kami mohon supaya Siangkong jangan jadi kecil hati dan jangan mengatakan kami tidak tahu diri...."

Habis berkata, imam itu menjura dengan dalam.

Sin Cie percaya orang bicara dengan jujur, ia tidak berkecil hati, sebaliknya, ia puji imam ini.

"Jangan menyebut demikian, Tootiang," ia bilang. "Jikalau demikian Tootiang bilang, baik, ijinkan kami berlalu. Tapi ingin aku menerangkan, andaikata dibutuhkannya, umpama uang, baru jumlah sepuluh laksa tail saja, sanggup aku menyediakannya, sedang dalam hal tenaga, dapat aku mengumpulkan saudara-saudaraku dari enam atau tujuh propinsi. Apabila ada surat-surat, tolong Tootiang segera kirim itu kepada kami di gang Ceng-tiauw­cu."

Mendengar itu, Cui In Toojin berdiam, lalu ia menarik napas panjang.

"Wan Siangkong, sungguh mulia hatimu," kata dia kemudian. "Sebenarnya urusan kami sangat memalukan, akan tetapi, apabila tetap kami menutupinya, benar-benar kami jadi tidak menghargai sahabat-sahabat sejati. Jie-wie, silahkan duduk! Tong Hian Sutee, silahkan kau menjelaskannya."

Tong Hian tunggu sampai itu pemuda dan pemudi telah duduk di batu, ia pun cari sebuah batu lagi, untuk duduk di atasnya.

"Guru kami, Oey Bok Toojin tak betah berdiam saja, ia gemar sekali pesiar," lantas imam itu mulai dengan keterangannya, "maka itu kecuali satu kali setiap dua tahun, di waktu rapat besar di Bu Tong Sam, jarang sekali ia berada di gunung. Pada lima tahun yang lampau musim rontok ada saat untuk rapat besar dua tahun sekali itu, ketika itu suhu tidak pulang, dia juga tidak mengirimkan surat pemberian tahu. Hal itu adalah hal yang belum pernah terjadi. Semua murid menjadi heran dan berkuatir. Apa yang kau tahu, kali itu suhu pesiar ke Selatan untuk sekalian mencari bahan obat-obatan. Dengan segera kami memecah diri, untuk mencari, ke Inlam, Kwie-Ciu, Kwiesay dan Kwietang. Sampai lama, masih kami tidak peroleh kabar suatu apa. Kemudian adalah aku yang bersama Bin Sutee menerima kabar panggilan dari Twie-hong-kiam Ban Hong. Dia itu adalah dari partai Tiam Chong Pay di Tay-lie. Ketika pada suatu hari kami sampai di rumah Ban Toako, dia bilang ada urusan sangat penting. Berdua kami segera berangkat ke Tay-lie. Ketika pada suatu hari kami sampai di rumah Ban Toako, dia sedang rebah di pembaringan karena luka hebat. Baru setelah kami menanyakan sebabnya Ban Toako terluka, kami mendapat tahu bahwa itu disebabkan urusan guru kami."

Mendengar sampai di sini, Sin Cie segera ingat keterangannya Thia Ceng Tiok bahwa Oey Bok Toojin telah terbinasa di tangannya kaum Ngo Tok Kauw. Diam-diam dia manggut.

"Menurut Twie-hong-kiam Ban Toako itu," Tong Hian Toojin melanjuti, "ketika hari kejadian itu, dia pergi keluar kota untuk mengunjungi satu sahabatnya, di luar kota itu dengan kebetulan ia saksikan suhu sedang dikepung oleh sejumlah orang. Antara Tiam Chong Pay dan Bu Tong Pay terdapat hubungan yang erat sekali, dari itu Ban Toako tidak bersangsi akan segera hunus pedangnya akan bantui suhu. Di luar sangkaan, pihak musuh liehay sekali, walaupun berdua, tak dapat Ban Toako berbuat suatu apa, malah segera dialah yang terluka paling dulu, hingga dia rubuh pingsan. Belakangan barulah ada orang yang tolongi Ban Toako, buat dibawa pulang. Mengenai suhu, ketenangan rada gelap, tak ada yang tahu ia masih hidup atau sudah mati, tak tahu dia pergi atau dibawa ke mana. Ban Toako terluka di pundak dan iganya, bekas cengkeraman kuku-kuku besi, lukanya sangat hebat. Kami semua percaya dia terluka oleh orang-orang Ngo Tok Kauw. Syukur untuk Ban Toako, ia bertemu sama tabib yang liehay, hingga jiwanya ketolongan. Pihak kami, semua tiga-puluh-dua murid, lantas dikirim ke Inlam, untuk cari suhu, untuk sekalian cari Ngo Tok Kauw guna mencari balas. Sudah empat tahun kami mencari terus-terusan, tidak juga kami peroleh hasil, tetap tak ada kabar tentang suhu, tidak ada endusan mengenai Ngo Tok Kauw. Setelah lebih dari tiga tahun, kami meninggalkan wilayah Inlam. Barulah paling belakang ini, kami dengar selentingan dari Utara bahwa rombongan dari Ho Tiat Chiu, kauwcu dari Ngo Tok Kauw, telah datang berbondong ke Pakkhia...."

"Oh...." Sin Cie perdengarkan suara tertahan.

Tong Hian heran.

"Apakah Wan Siangkong kenal kauwcu itu?" tanyanya.

"Baru saja kemarin beberapa sahabatku menjadi kurbannya mereka punya tangan-tangan yang jahat," jawab Sin Cie. "Aku sendiri turut terlibat dalam pertempuran itu."

"Apakah tak berbahaya sahabat-sahabatmu itu?" Tong Hian tanya pula.

"Syukur, semua telah bebas dari ancaman malapetaka," sahut Sin Cie.

"Sungguh beruntung!" Tong Hian memuji. Lalu ia meneruskan penuturannya: "Begitu lekas kami dengar warta itu, toasuheng lantas keluarkan perintah untuk semua murid Bu Tong Pay kumpul di Pakkhia. Adalah karena ini, di tengah perjalanan, kami telah bertemu sama Nona Ciauw serta sekalian saudara-saudara dari Kim Liong Pang. Tentang ini, tak usah aku menceritakannya pula. Toasuheng sampai terlebih dahulu daripada kita, kebetulan sekali, dia lantas bertemu sama Ho Tiat Chiu. Selama pembicaraan, perempuan hina itu mencuci diri bersih sekali, katanya belum pernah dia bertemu sama suhu. Di mana pembicaraan tidak berjalan lancar, pertarungan menggantikannya. Perempuan hina itu benar-benar liehay. Karena kurang waspada, jidat toasuheng kena kegaruk gaetan besi tangan kiri dari musuh, lalu tubuhnya terserang lima potong senjata rahasia. Perempuan itu tahu baik, gaetannya, senjata rahasianya, ada racunnya, dia duga toasuheng bakal tidak hidup lebih lama, sambil tertawa menghina, ia ajak kawan-kawannya angkat kaki. Toasuheng mempunyai lweekang yang sempuma, dia juga bekal banyak macam obat untuk punahkan segala rupa racun, malah sebelumnya dia bertempur, dia sudah makan obat-obat pencegahan, maka itu, meskipun dia telah terluka, dia bisa obati dirinya sendiri, hingga karenanya tak usahlah dia nampak bahaya maut."

Cui In Toojin menghela napas.

"Pintoo kuatir dia mendapat tahu pintoo tidak mati," katanya, "pintoo kuatir dia nanti datang pula untuk ulangi serangannya, dari itu tak berani pintoo ambil rumah penginapan, dengan terpaksa pintoo cari tempat perlindungan ini, untuk sekalian merawat diri. Aku percaya, selang lagi tiga bulan, sisa racun dalam tubuhku akan sudah dapat dibikin bersih. Mengenai guru kami, pintoo percaya bahwa benar suhu telah terbinasa di tangannya perempuan busuk itu, hingga sakit hati itu tak dapat tidak dibalas. Sayang sekali musuh kami liehay luar biasa. Inilah sebabnya, Siangkong, mengapa kami segan merembet­rembet sahabat baik dalam urusan kami ini..."

"Wan Siangkong," Bin Cu Hoa menyela, "apa sebabnya maka pihakmu pun bentrok sama Ngo Tok Kauw?"

Sin Cie jawab pertanyaan ini dengan keterangan mulanya ia dan Ceng Ceng bertemu sama si pengemis tukang tangkap ular, Ceng Tiok dilukai oleh si pengemis wanita tua, sampai mereka dikepung di dalam balai istirahatnya Pangeran Seng Ong.

"Kalau begitu, Wan Siangkong, permusuhanmu dengan Ngo Tok Kauw tidak hebat," kata Cui In Toojin, "pun tidak apalah yang pihakmu nampak kerugian kecil. Kau ada sangat berharga, selanjutnya tidak ada perlunya untuk kamu berurusan lebih jauh dengan bangsa telengas itu yang bagaikan ular dan kelabang ganasnya."

Sin Cie anggap kata-katanya imam ini benar adanya. Bukankah ia sendiri sedang mengandung sakit hati ayahnya? Bukankah ia pun bertugas berat untuk membantu Giam Ong membela negara? Memang, urusan Kang-ouw itu boleh dikesampingkan dulu, urusan itu sukar menemui penyelesaiannya.

"Tootiang benar," kata ia sambil manggut. "Di sini aku mempunyai mustika, mari aku coba menolongi Tootiang membersihkan racun pada luka-lukamu itu."

Cui In Toojin suka terima pertolongan itu, maka Tong Hian dan Cu Hoa segera bantui ia, untuk keluar dari dalam peti-mati itu.

Sin Cie lantas keluarkan mustikanya, ia tempel itu pada luka-lukanya si imam. Baru saja satu kali sedot, si imam sudah merasa ringan sakitnya.

Di situ tidak ada arak, untuk dipakai merendam mustika, sebaliknya, Cui In membutuhkan mustika itu terlebih jauh, karena terpaksa, Sin Cie serahkan mustikanya pada Tong Hian seraya ajari bagaimana mustika itu mesti saban-saban direndam dalam arak, untuk bisa sedot bersih semua sisa racun.

"Kalau sudah dipakai, baru kau nanti antarkan itu kembali padaku," ia pesan.

Tong Hian terima itu sambil mengucap terima kasih, ia pun menjura berulang-ulang.

Sampai di situ, mereka berpisahan.

Sin Cie ajak Wan Jie jalan turun bukit dengan perlahan-lahan.

Baru jalan kira-kira setengah, tiba-tiba Wan Jie berhenti, akan duduk atas sebuah batu, terus ia nangis dengan perlahan.

"Kenapa, Nona?" tanya Sin Cie kaget. "Apakah kau kurang sehat?"

Wan Jie menggeleng kepala, ia susuti air matanya, lantas ia bangun untuk berdiri, akan jalan pula, seperti tidak ada terjadi suatu apa.

Sin Cie tidak menanya lebih jauh, akan tetapi ia sudah mengerti. Tentulah si nona bersedih karena musuhnya tak dapat dicari karena "musuh" Bu Tong Pay berubah menjadi sahabat, dia sangat cerdas, bisa sekali dia menguasakan diri. Maka ia jadi sangat kagum.

Terus mereka pulang, ketika mereka sampai di dalam kota, langit sudah mulai terang. Nona ini masih muda sekali, toh langsung Sin Cie antar si nona ke pondokannya, sesudah mana baru ia menuju pulang ke rumahnya di dalam gang Ceng-tiauw-cu. Ia gunai ilmu entengkan tubuh, karena ia berjalan di atas genteng dari banyak rumah orang, ia lompati pelbagai gang. Ia ingin lekas sampai. Dalam gembiranya, ia telah gunai Bhok Siang Toojin punya ilmu entengkan tubuh "Pek-pian-kwie-eng," hingga ia bisa bergerak dengan sangat gesit dan cepat.

"Sungguh suatu kepandaian luar biasa!" sekonyong-konyong Sin Cie dengar pujian selagi ia berlari-lari terus. Sekejab saja, ia berhenti berlari, menyusul mana, satu bayangan putih melesat lewat di sampingnya sebelah kiri.

"Apakah dapat kau kejar aku?" demikian ia dengar pula.

Itulah suara si bayangan, yang bicara sambil tertawa. Sedetik saja, bayangan itu sudah lewat tujuh atau delapan tumbak jauhnya. Itulah gerakan tubuh sebat luar biasa.

"Siapakah dia ini?", pikir pemuda kita, yang kaget dan heran dengan berbareng. "Kenapa ilmu entengkan tubuhnya begini sempurna?"

Karena ia ingin tahu, Sin Cie batal pulang, ia lantas lompat, untuk mengejar.

Bayangan di depan itu kabur terus, tanpa menoleh lagi.

Biar bagaimana, ilmu entengkan tubuh dari Sin Cie ada setingkat lebih tinggi, belum terlalu lama, ia dapat menyusul, maka ia melombai, sampai beberapa tumbak, baru ia berhenti, akan putar tubuh, untuk menunggu.

Bayangan itu pun berhenti berlari, ia tertawa haha-hihi.

"Wan Siangkong, kali ini baru aku takluk padamu!" katanya.

Sin Cie lihat seorang dengan tangan baju panjang, bajunya indah, tubuhnya langsing bagaikan cabang bunga. Dia itu adalah Ho Tiat Chiu, kauwcu dari Ngo Tok Kauw, yang dandan serba putih. Cuma sepatunya berwarna hitam mulus.

Adalah kebiasaan dalam kalangan Rimba Persilatan, orang keluar dengan pakaian serba hitam atau abu-abu, supaya pakaiannya samar-samar di tempat gelap, supaya kalau ada serangan senjata rahasia, tubuhnya bisa seperti menghilang. Tapi nona ini memakai serba putih, jikalau dia tidak liehay tidak nanti dia dandan secara begini menantang.

Sambil mengawasi, Sin Cie memberi hormat.

"Ho Kauwcu, ada pengajaran apakah darimu untuk aku?" tanyanya.

Kepala agama itu tertawa manis.

"Ketika kemarin ini Wan Siangkong berkunjung kepadaku, di sana ada banyak sekali orangku, yang seperti merintangi kita, yang memecah pemusatan pikiran kita, hingga karenanya, tak dapat kita berdua mendapatkan keputusan, siapa terlebih tinggi, siapa terlebih rendah," jawab dia, "maka itu sekarang ini sengaja siauwmoay datang kemari untuk memohon pengajaran beberapa jurus dari Siangkong..."

Kembali ia bahasakan dirinya "siauw moay", adik perempuan. Dan habis berkata-kata, ia bersenyum-senyum pula. Ia bicara dengan halus, gerak-gerik tubuhnya pun halus dan menarik hati.

"Orang dengan kepandaian tinggi sebagai Kauwcu di dalam kalangan pria pun jarang sekali ada," Sin Cie bilang. "Kagum sekali aku terhadap kepandaian Kauwcu itu."

Thanks for reading PEDANG ULAR MAS 32

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar