Home » » PEDANG ULAR MAS 33

PEDANG ULAR MAS 33


Jilid 33

Masih si nona tertawa.

"Kemarin ini Siangkong perlihatkan kepandaianmu dengan tangan kosong," katanya, "pukulan-pukulanmu itu telah membawa angin yang menyambar-nyambar, sampai siauw­moay, yang tenaganya tidak cukup, tidak berani menyambutnya. Bagaimana kalau sekarang kita main-main dengan senjata tajam?"

Dan tak tunggu jawaban lagi, nona ini meraba ke pinggangnya, begitu lekas ia menarik kembali tangannya, bersama itu tertarik keluar sebatang joan-pian, ruyung lemas seperti tungkat panjang, yang sebagian batangnya mempunyai gaetan-gaetan halus, maka siapa tak beruntung terkena ruyung itu, mesti - sedikitnya - dagingnya bakal terbetot sepotong demi sepotong.

"Wan Siangkong, inilah yang disebut Kat-bwee-pian," kata si nona, yang perkenalkan ruyungnya sebagai ruyung Ekor Kala. "Di ujung semua duri ini ada racunnya, maka itu, harus Siangkong berlaku waspada sekali. Sudah siapkah?"

Mau atau tidak, dalam hatinya, Sin Cie bergidik.

Begitu merdu suara si nona, begitu manis lagunya, demikian cantik-molek orangnya, siapa sangka, sikapnya sebaliknya sangat ganas. Itulah suatu hal yang sangat bertentangan satu dengan lain!

Tentu saja tak sudi Sin Cie melayani ular cantik ini. Maka ia segera rangkap kedua tangannya, untuk memberi hormat.

"Maaf!" katanya seraya ia hendak memutar tubuh, untuk undurkan diri.

Ho Tiat Chiu tidak tunggu orang pergi, dengan sebat ia menyabet dengan joan-pian istimewanya itu, berbareng mana, sambaran anginnya sampai terdengar nyata.

Rupanya Sin Cie telah bisa menduga, maka atas datangnya serangan, kepada dadanya, ia segera mengelak sambil bersenyum, hingga serangan melewati sasarannya, menyusul mana, ia berlompat mundur, untuk lompat terus, hingga sekejab saja, ia sudah jauhkan diri beberapa tumbak.

Ho Tiat Chiu pasti merasa ia tidak bakal sanggup susul si anak muda, dari itu ia perdengarkan suaranya yang nyaring: "Begini saja muridnya Kim Coa Long-kun? Sungguh dia membikin merosot derajat gurunya, yang namanya sangat kesohor! Ha-ha­-ha!"

Diperhina secara demikian, Sin Cie melengak

"Senantiasa aku mengalah saja, dia rupanya jadi kepala besar?" demikian ia pikir. "Kaum Ngo Tok Kauw ini jumawa sekali! Apakah mungkin aku jeri terhadapnya?"

Karena memikir demikian, Sin Cie berdiri diam, ketika ini digunai si nona, untuk berlompatan menyusul dia, malah segera, berbareng sama berkelebatnya cahaya putih, nona itu menyambar dengan ruyungnya.

Sin Cie kerutkan alis.

"Kenapa dia menggunai senjata terkutuk ini?" pikir dia. "Dia begini eilok, kenapa dia tersesat?"

Ia lantas saja berkelit, untuk menyingkir dari serangan itu.

Oleh karena lawan menggunai senjata yang banyak durinya dan beracun juga, Sin Cie tidak berani melayani sebagaimana biasanya ia melawan musuh bersenjata dengan tangan kosong, tapi juga ia tidak mau lekas-lekas gunai senjatanya, dari itu, ia berkelahi dengan kedua kepalannya dikasi masuk dalam ujung tangan bajunya. Ia berkelahi dengan senantiasa berkelit dari sesuatu serangan, untuk ini ia andalkan kelincahannya.

Ho Tiat Chiu gesit sekali, cepat sesuatu serangannya, akan tetapi kemplangannya, sabetannya, ataupun sodokannya, tidak pernah mengenai sasarannya, malah melanggar ujung baju pun tidak bisa.

Dua-puluh jurus telah dikasi lewat dengan cepat, tidak pernah Ho Tiat Chiu peroleh hasil, akhirnya ia jadi sengit nampaknya, hingga ia menegur: "Kau main berkelit saja, apakah kau masih terhitung satu hoohan?"

Sin Cie tertawa.

"Bukankah kau hendak bikin panas hatiku, supaya aku rampas senjatamu?" ia tegaskan. "Itulah tak sukar!"

Pemuda ini segera jumput dua potong genteng, yang ia pegang dengan masing-masing sebelah tangannya. Ia masih berkelit saja, tapi kali ini ia memasang mata kepada joan-pian orang itu.

"Lepas ruyungmu!" tiba-tiba ia berseru membarengi ia punya dua potong genteng yang dipakai menyambut ujung ruyung yang dipakai menyerang kepadanya, sambil terus ia membetot, sementara kaki kanannya diangkat, untuk dupak kakinya si nona.

Kaget Ho Tiat Chiu. Tidak ia sangka, musuhnya demikian liehay.

Tentu saja ia menjadi repot. Mana ia hendak tarik pulang ruyungnya, mana ia hendak lindungi kakinya. Ia lantas lepaskan ruyungnya sambil mundur. Tapi ia telah berdiri di pinggiran genteng, inilah ia tidak ketahui, tidak ampun lagi ia kejeblos, tubuhnya turut melayang jatuh ke bawah!

Sin Cie cekal ruyung orang, ia tertawa, "Bagaimana kau lihat muridnya Kim Coa Long-kun?" tanyanya.

"Bagus!" seru si nona selagi tubuhnya jatuh. Benar-benar dia gesit luar biasa, sebab begitu mengenai tanah - ia tidak rubuh, hanya dapat menaruh kaki - tubuhnya sudah mencelat pula naik ke atas genteng!

Menampak ini, meski juga ia sendiri sangat liehay, Sin Cie kagum tidak kepalang.

"Sekarang aku hendak belajar kenal sama senjata rahasiamu, Wan Siangkong," kata pula si nona, yang sangat bandel. "Kami dari kaum Ngo Tok Kauw ada punya pasir Tok-siam­see...."

Itulah "Pasir Kodok Beracun"...

Sin Cie dengar suara orang yang nyaring tetapi empuk, ia tidak dapat lihat orang mengayun tangan, tapi tahu-tahu di hadapannya ada berkelebat sinar-sinar kuning emas, hingga ia jadi sangat kaget. Ia insyaf, itulah senjata rahasia si nona. Dalam keadaan terhimpit seperti itu, ia lantas apungi tubuhnya, akan berlompat tinggi!

Segeralah terdengar suara merotok pelahan di atas genteng, itulah senjata rahasianya Ho Tiat Chiu, dia punya "pasir-pasir" yang beracun, sedikitnya belasan biji. Sebenarnya itu bukannya pasir tulen, itu adalah jarum baja halus, yang digunainya bukan dengan disambitkan. Jarum-jarum itu termuat dalam satu pipa atau bungbung, yang dia cantel di dadanya. Untuk kasi kerja itu, cukup asal dengan tangan kanannya dia tepuk pinggangnya di mana ada dipasang alat rahasianya. Untuk melepaskan jarum ini, ia pun tak usah main mengincar lagi, cukup asal dia berdiri menghadapi sasarannya. Jadi senjata ini beda dengan senjata rahasia lainnya yang memerlukan ayunan tangan. Maka tidak heran kalau Sin Cie terkejut. Memangnya hampir tak ada orang yang ketahui, kauwcu dari Ngo Tok Kauw ini mempunyai semacam senjata rahasia.

Akan tetapi pemuda kita juga tidak diam saja, selagi dia berlompat, belum sampai tubuhnya turun pula, tangannya telah diayun, tiga biji caturnya dikasi menyambar ke arah jalan darah yang lemah dari si nona. Dan ia pun sambil membentak: "Aku tidak bermusuh denganmu, kenapa kau berlaku begini telengas?"

Ho Tiat Chiu berkelit untuk dua biji catur, sedang yang ketiga ia sambut dengan tangannya.

"Ayo, sungguh liehay!" dia menjerit. "Sakit tanganku!...."

Lalu, dengan melihat turunnya tubuh, ia balas menyerang dengan biji catur itu.

Sin Cie lihat serangan itu, tangannya si nona toh diayun. Ia bisa duga, serangan pasti tak kena. Tadinya ia niat sambuti biji caturnya itu, tetapi sekicapan mata ia ingat, mungkin tangannya si nona ada racunnya, maka ia lantas gunai tangan bajunya, untuk menyampok, hingga biji catur terlempar ke samping.

Habis menyerang dengan biji catur itu, Ho Tiat Chiu tidak berhenti untuk beristirahat, dia hanya masuki sebelah tangannya ke dalam sakunya. Ketika ia sudah tarik itu keluar, ia terus ayun itu. Maka lantas, belasan tali yang bukan tali sutera atau tali air emas, menyambar ke arah kepalanya si anak muda, yang hendak ditungkrap!

"Hebat!" pikir Sin Cie, yang terus waspada untuk orang punya pelbagai alat yang ada racunnya. Karena ia tidak mau menyingkir, ia ayun joan-pian lawannya, untuk dipakai menangkis serangan tali-tali istimewa itu.

Sebat luar biasa, Ho Tiat Chiu tarik pulang tali-talinya itu. Ia pun tertawa.

"Kat-bwee-pian itu ada kepunyaanku!" katanya. "Kau pakai senjataku itu, kau malu atau tidak?"

Teranglah nona ini mengejek. Pun terang juga ia punya lagu-suara orang Inlam asli.

Sin Cie lemparkan joan-pian ke atas wuwungan.

"Jikalau aku bisa rampas beberapa lembar talimu itu, maukah kau berjanji yang kau bersama semua orang Ngo Tok Kauw tidak akan grembengi aku pula?" tanya dia.

"Inilah bukannya tali," sahut si nona. "Inilah tali yang terlalai dari galagasi si kawa-kawa. Jikalau kau menghendaki untuk merampas, silakan, kau boleh coba!"

Nona itu menantang, dengan talinya itu ia segera menyambar, ke arah pinggang si anak muda.

Sin Cie segera berkelit, ia niat menyambar benang itu tapi ia batalkan niatnya dengan tiba-tiba. Sebab tiba-tiba saja ia ingat pada racun!

Ho Tiat Ciu melanjuti serangannya, berulang-ulang, atas mana, si anak muda melayani terus dengan unjuk kegesitannya, yaitu ia senantiasa main berkelit, ke samping atau mundur, secara begini ia bisa berbareng perhatikan gerak-gerik orang. Nona itu hebat menyerangnya, pandai juga pembelaannya.

Selang sepuluh jurus, Sin Cie berpikir: "Ngo Tok Kauw gemar memelihara binatang­binatang beracun, antaranya kawa-kawa, sekarang permainan silat tali si nona ini mirip dengan terkaman-terkamannya sang kawa-kawa itu. Bisa sekali ia menelad kawa-kawa, untuk menciptakan ilmu silat ini."

Lantas pemuda ini menunggu ketika lowongan, untuk turun tangan.

Segera datang saatnya Ho Kauwcu menyerang secara hebat, apabila si anak muda berkelit ke samping, serangannya gagal, tangannya terlonjor ke depan. Inilah ketikanya Sin Cie, sebelum orang sempat perbaiki diri, ia maju, untuk merangsak, guna totok iga si nona. Ho Tiat Chiu tampak ia terancam bahaya, tidak sempat ia menarik pulang senjatanya, maka untuk tolong diri, ia egos tubuhnya ke samping.

Dengan tiba-tiba saja muka Sin Cie merah sendirinya, ia tidak sangka serangannya ini bakal memberikan hasil, hingga ia pikir, bagaimana ia dapat meletaki tangannya di tubuh satu wanita. Kesangsiannya ini membuat gerakannya menjadi ayal.

Ho Tiat Chiu mendapat ketika karena kesangsiannya lawan, yang ia tak tahu disebabkan apa, ia lantas gunai ketika ini, akan memutar tubuh, akan terus menyambar dengan tangan kirinya, dengan gaetannya.

Sin Cie terperanjat, lekas-lekas ia tarik pulang tangannya. Ia batal menyerang terus.

"Bret!" demikian satu suara nyaring.

Gaetannya si nona menyambar baju si anak muda, baju itu robek!

"Ayo!" berseru Ho Kauw-cu." Celaka betul! Bajumu pecah, Wan Siangkong! Mari buka bajumu itu, nanti aku bawa pulang untuk dijahiti!...."

Mendongkol juga Sin Cie menampak orang demikian licik, karena ini, sedang si nona goda ia, dengan cepat ia menyerang dengan tangan kanannya, ujung bajunya dipakai menyampok, tatkala si nona berkelit, ia merangsek, ia ulangi serangannya secara beruntun.

Dalam keadaan terdesak itu, Ho Tiat Chiu lompat mundur, lalu ia menyabet dengan talinya, tapi Sin Cie papaki dengan tangan bajunya yang robek tadi, yang sekarang bergeliwiran, hingga ujung baju itu terlibat tali, setelah itu, ia membetot dengan kaget.

Ho Kauw-cu tarik pulang talinya, ia terlambat, malah cekalannya terlepas, talinya jatuh ke tanah, berbareng sama ujung baju, yang pun robek lebih jauh, terputus dari bajunya.

"Bagaimana sekarang?" tanya Sin Cie.

Nona itu tidak menjawab, hanya tangan kanannya dipakai meraba ke bebokongnya hingga di lain saat, ia sudah tarik keluar sebatang Kim-kauw ialah gaetan terbuat atau tercampur emas, hingga kelihatannya bercahaya berkilau-kilau.

Heran juga Sin Cie menyaksikan alat-senjata orang yang seperti tak habis-habisnya, banyak macamnya. Ia juga tak mengerti maksud si nona.

"Aku telah rampas talimu, kau tak boleh ganggu aku lebih lama!" katanya, untuk memperingati janji.

"Kau bicara sendiri! Kapan aku telah berjanji?" balik tanya si nona.

Sin Cie bungkam. Memang juga, si nona belum pernah terima baik perjanjian yang ia kemukakan tadi, hanya si nona malah menantang ia untuk coba rampas senjatanya dia itu. Ia jadi masgul. Kalau terus-terusan ia melayani, sampai kapan gangguan ini bisa dibikin tamat.

"Hm!" akhirnya ia bersuara. "Aku mau lihat, berapa banyak macamnya gegamanmu!"

Ia memikir untuk rampas sesuatu senjatanya si nona, supaya dia tahu rasa dan akan mundur sendirinya.

"Ini dia yang dinamakan Kim-gia-kauw!" kata Ho Kauw-cu. "Kim-gia-kauw" berarti "Gaetan Kelabang Emas". Lantas ia tonjolkan tangan kirinya, yang merupakan gaetan hitam. "Dan ini Tiat-gia-kauw!" ia menambahkan. "Tiat-gia-kauw" berarti "Gaetan Kelabang Besi". Dan ia menambahkan terlebih jauh: "Untuk meyakinkan ini macam gaetan, ayahku telah kutungi tanganku yang kiri ini. Ayah bilang, daripada memegang senjata, lebih baik senjata dipasang tetap di tangan. Aku telah yakinkan gaetan ini untuk tigabelas tahun, masih juga belum sempurna. Wan Siangkong, gaetan ini ada racunnya, awas, jangan kau merampasnya dengan tanganmu!"

Sin Cie lihat orang bicara sambil tertawa, sambil bersenyum berseri-seri. Tabah sekali nona ini.

Lalu si nona maju menghampirkan, dengan tindakannya pelahan-lahan.

Kuatir orang nanti menggunai tipu-daya, Sin Cie memasang mata, ia berlaku waspada.

Mendadak saja di kejauhan terdengar suara suitan, suara yang sayup-sayup. Mendadak Sin Cie, ingat suatu apa, hingga ia berseru dalam hatinya: "Celaka! Apa mungkin dia ini sengaja tahan aku di sini sedang konco-konconya dia perintah pergi serbu Ceng Ceng!"

Tidak ayal lagi, pemuda kita putar tubuhnya, untuk lari pulang.

Ho Tiat Chiu tertawa berkakakan.

"Baru sekarang kau pulang, kau terlambat!" katanya.

Walaupun dia mengucap demikian, nona ini pun berlompat, untuk sambar si anak muda, bebokong siapa ia hajar dengan gaetan besinya.

Masih Sin Cie lihat gerakan si nona, ia berlompat, berkelit ke samping, sembari membaliki tubuh, sebelah kakinya menyapu.

Ho Kauw-cu lompat, akan hindarkan diri dari sapuan itu, tetapi hampir berbareng dengan itu, ia barengi menyerang dengan dua-dua gaetannya.


Itu waktu ada di waktu fajar, sinar matahari pertama baru saja mulai muncul, maka di antara sorotannya sinar sang Batara Surya itu, kedua gaetan berkilauan hitam dan kuning emas, memain di depan mukanya si anak muda.

Bercekat hatinya Sin Cie. Segera ia dapat kenyataan, ilmu silat dari kepala agama Ngo Tok Kauw ini tidak saja berada di atas dari Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa, malah masih di atasannya Ngo-Couw dari Cio Liang Pay. Maka itu, melayani si nona, ia sibuk juga, sebab pikirannya terpecah dua. Di sana ada Ceng Ceng yang keselamatannya ia kuatirkan, meskipun masih belum tentu Nona Hee berada dalam bahaya. Beberapa kali pemuda ini berniat rampas Kim-gia-kauw, senantiasa ia gagal, sebab sambil menarik pulang gaetannya itu, Ho Tiat Chiu berbareng melindungi dengan Tiat-gia-kauw, gaetannya yang lain yang dipasang di tangan. Yang lebih menyulitkan dia, dia kuatirkan racun di kedua ujungnya gaetan yang liehay itu.

Sampai di jurus yang ketiga-puluh, masih Sin Cie belum berhasil dengan pelbagai dayanya untuk merampas gaetan orang itu, untuk memunahkan Tiat-gia-kauw. Itu berarti ia mensia-siakan ketika. Itu pun mungkin membahayakan Ceng Ceng andaikata benar puterinya Kim Coa Long-kun diserbu orang-orang Ngo Tok Kauw

Akhir-akhirnya, dalam sibuknya itu, pemuda ini menjadi putus asa, maka terpaksa ia lantas raba Kim Coa Kiam, untuk hunus itu pedang mustika, yang sejak turun gunung, belum pernah ia pakai secara sungguh-sungguh. Baru saja tadi ia pakai itu untuk memapas senjatanya Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa serta beberapa anggauta Kim Liong Pang.

Kapan Ho Tiat Chiu tampak senjata ular-ularan itu, dia kaget hingga mukanya pias.

"Bagus!" serunya. "Kiranya Kim Coa Kiam terjatuh dalam tanganmu!"

"Ya, habis apakah kau mau?" menantang si pemuda, yang terus saja maju menyerang, beberapa kali ia menabas pulang-pergi.

Ho Tiat Chiu sibuk dalam sekejab. Terpaksa ia main mundur saja, tak sempat ia membalas menggaet, sedang tadi, ia ada leluasa merangsak lawannya ini.

Sin Cie tidak mau mengasi ketika, maka akhirnya datanglah saatnya ia tabas kutung ujungnya Kim-gia-kauw, hingga si nona kaget tak terkira.

Lantas si anak muda mengancam:

"Jikalau tetap kau ganggu aku, aku nanti tabas juga Tiat-gia-kauw!" demikian serunya.

Benar-benar Ho Tiat Chiu tidak berani maju pula, ia cuma bisa mengawasi dengan mendelong.

Sin Cie masuki pedangnya ke dalam sarung, ia putar tubuhnya, terus ia lari pulang. Ia lari dengan keras sekali, hingga sebentar kemudian, ia telah sampai di mulut gang. Justru ia sampai di situ, lantas ia saksikan hal yang mengejutkan dia.

Di situ Ang Seng Hay rebah di antara kobakan darah! Lekas-lekas ia mengangkat bangun. Syukur sekali, pengiring itu masih bernapas, tapi karena dia terluka pada lehernya, dia tidak dapat bicara, sebagai gantinya omongan, dia lantas menunjuk berulang-ulang ke dalam rumah.

Sin Cie pondong tubuh orangnya itu, untuk dibawa masuk. Kapan ia sampai di dalam, rumahnya menjadi kacau tidak keruan-macam. Kursi dan meja terbalik-balik, rusak, rusak juga daun-daun pintu dan jendela, begitupun perabotan lainnya. Itulah bukti dari bekas pertempuran hebat, bekas serbuan membabi-buta.

Dengan hati berkuatir, Sin Cie robek tangan bajunya, untuk balut lukanya Seng Hay, untuk mencegah darah keluar terus, habis itu ia lari ke sebelah dalam. Pemandangan di sini tak kurang hebatnya, kerusakan terdapat pada segala bagian. Paling hebat adalah ketika ia tampak Ouw Kui Lam dan Thia Ceng Tiok pun rebah di lantai dengan masing-masing sedang merintih.

"Apakah sudah terjadi?" tanya Sin Cie.

"Nona Ceng Ceng, Nona Ceng Ceng..." kata Kui Lam dengan susah. "Dia dibawa lari orang-orang Ngo Tok-Kauw!..."

Inilah puncaknya kehebatan.

"Mana See Thian Kong dan yang lain-lain?"

Masih pemuda itu dapat tetapkan hati, untuk menanyakan lain-lain kawannya itu.

Ouw Kui Lam tidak menyahut, dia cuma menunjuk ke atas, ke wuwungan rumah.

Sin Cie tidak menanya lagi, ia lari ke cimchee, untuk lompat naik ke atas genteng, maka di sana, yang paling pertama, ia tampak Tay Wie dan Siauw Koay sedang peluki A Pa, si empeh gagu, kedua binatang itu memekik-mekik tak hentinya, terang mereka lagi tidak berdaya. Akan tetapi, kapan mereka lihat majikannya, mereka lompat untuk menubruk, suaranya dibuka lebih besar, agaknya mereka hendak mengadu. Sayang mereka tidak mampu bicara.

See Thian Kong juga berada di atas genteng, mukanya bersemu hitam, suatu tanda dia pun telah terluka, malah terluka hebat. A Pa sendiri terluka pada tubuhnya.

Menampak semua itu, Sin Cie kertak gigi. Meluaplah hawa-amarahnya.

"Kenapa aku jadi tolol sekali!" dia sesalkan diri sendiri. "Kenapa aku kasi diriku dicantel oleh itu perempuan hina?"

Ketika itu, sang pagi sudah datang, maka semua bujang, yang tadinya lari kalang-kabutan, akan singkirkan diri, mulai pada pulang.

Sin Cie pondong A Pa dan See Thian Kong, untuk dibawa turun dengan bergantian, kemudian lekas-lekas ia tulis surat untuk Ciauw Wan Jie, buat minta si nona lekas minta pulang mustika kodok es, guna ia tolongi See Thian Kong semua. Satu bujang diperintah lekas sampaikan surat itu di tempat penginapan si nona. Kemudian ia mulai tolongi See Thian Kong dan yang lain-lain, untuk balut luka mereka. Sembari menolongi, ia tanyakan duduknya kejadian.

Thie Lo Han belum sembuh dari lukanya, ia belum bisa bangun dari pembaringannya, karena ini, ia tidak terlibat dalam pertempuran hebat ini, ia jadi luput dari bahaya, maka cuma ia yang bisa lantas bicara.

"Pada kira-kira jam tiga, Tay Wie dan Siauw Koay adalah yang mulai sadar akan ancaman bahaya," kata tauwto ini. "Mereka itu bersuara tidak sudahnya, mereka tarik-tarik A Pa untuk naik ke atas genteng. Begitu A Pa naik, ia segera dikepung belasan musuh. A Pa tidak bisa bicara, dari itu, dia tendangi genteng, sebagai tanda untuk kita pun naik untuk sambut musuh. Aku berada di mulut jendela, aku bisa menyaksikan dengan tegas. Karena aku tidak berdaya, aku cuma bisa sibuk sendiri. Aku lihat A Pa bersama saudara-saudara See dan Thia bisa rubuhkan beberapa musuh, akan tetapi jumlah musuh ada terlalu besar, pihak kita akhirnya kena terdesak mundur. Pertempuran pun dilanjuti di bawah, di dalam rumah, di setiap kamar. Di akhirnya, semua orang telah kena dilukai dan rubuh, adalah sesudah itu Ceng Ceng kena ditawan dan dibawa pergi. Wan Siangkong, kami menyesal sekali buat kejadian ini...."

"Semua ini disebabkan aku telah kena dipancing musuh," kata Sin Cie, untuk menghibur. "Mereka menggunai tipu memancing harimau meninggalkan gunung. Sekarang ini menolong ada paling penting."

Lantas ini anak muda lari ke luar, ke istal, untuk tuntun keluar seekor kuda, kapan ia sudah lompat naik ke bebokong kuda itu, ia kabur ke luar kota. Ia menuju langsung ke itu rumah luar biasa, balai istirahat dari Pangeran Seng Ong. Begitu ia sampai, ia lompat turun dari kudanya, setelah tambat binatang itu di sebuah pohon, ia lari ke depan rumah, untuk terus lompat naik ke tembok, akan lompat turun ke dalamnya. Dia masih tetap murka dan sibuk.

"Ho Kauwcu!" dia berteriak. "Ho Kauwcu, silakan keluar! Aku hendak bicara denganmu!"

Jawaban tidak ada, kecuali dari kumandang yang nyaring, ketika toh datang juga jawaban, adalah terpentangnya pintu rahasia dari mana lantas merubul keluar belasan ekor anjing yang bengis-bengis, di belakang semua binatang galak itu mengikuti beberapa belas orang.

"Sekarang ini tak dapat aku berlaku sungkan-sungkan lagi," pikir Sin Cie, yang tidak kenal takut. "Aku mesti bikin ambruk dulu semangat mereka!"

Segera juga pemuda ini ayun tangan kirinya, berulang kali, maka sebagai kesudahan dari itu, belasan potong Kim-coa-cui, bor-bor Ular Emas, menyambar-nyambar ke arah rombongan anjing galak itu.

Beberapa ekor lantas saja rubuh binasa begitu lekas mereka keluarkan jeritan, lalu menyusul yang lainnya, sebab semua bor tidak ada yang lolos. Kemudian dengan sebat, ia lompat kepada bangkai anjing itu, untuk dengan kedua tangannya lekas cabuti semua bornya itu.

Orang-orang Ngo Tok Kauw pada melongo, mereka kaget dan kagum.

Tadinya mereka ini sudah merencanakan, selagi si anak muda bergulat dengan anjing mereka, mereka hendak menyemprot dengan racun mereka di dalam bungbung, mereka tidak nyana, semua anjing mereka bisa dibikin mati dalam tempo demikian pendek. Apabila kemudian mereka sadar, perasaan mereka yang pertama adalah takut, hingga batal mereka hendak menyerang dengan semprotan, mereka putar tubuh, lantas lari. Orang yang pertama telah lari sambil menjerit-jerit.

Sin Cie lompat, untuk nerobos masuk ke dalam pintu rahasia itu. Beberapa orang telah membalik tubuh, dengan niatan menutup pintu tapi mereka kalah sebat.

Pintu merah terpentang, rupanya bekas tadi dipakai keluar oleh rombongan Ngo Tok Kauw itu, Sin Cie lihat ini, dengan satu lompatan luar biasa, ia lombai semua musuh, maka ia telah mendahului masuk di pintu rahasia itu. Itu berarti ia sudah masuk semakin dalam di sarang musuh, di tempat yang berbahaya, akan tetapi justru karena ini, hatinya jadi semakin tenang.

"Ho Kauw-cu, apabila kau tetap tidak hendak keluar, maka jangan kau nanti katakan aku keterlaluan!" dia berseru pula dengan ancamannya.

Sebagai jawaban, Sin Cie dengar suara suitan, sebagai kesudahan dari itu, segera tertampak munculnya orang-orang Ngo Tok Kauw, yang terus berbaris di kiri-kanan, habis itu dari sebelah dalam, berlerot keluar belasan orang, yang bertindak di muka adalah Ho Ang Yo, wanita tua yang jelek itu, di belakangnya mengapit Phoa Siu Tat dan Thia Kie Su berikut Kim-ie Tok Kay Cee In Go. Di belakang si pengemis tukang tangkap ular ini barulah lain-lain orang liehay dari kawanan Ngo Tok Kauw itu.

Sin Cie mendahului membuka mulut. Ia berkata:

"Aku tidak kenal Tuan-Tuan, kita orang tidak punya dendaman lama, tidak punya permusuhan baru, maka itu, kenapa Tuan-Tuan sudah datangi rumahku di mana kamu telah lukai sahabatku serta culik adikku? Apakah sebabnya semua itu? Aku minta supaya sukalah Ho Kauwcu memberikan penjelasannya!"

"Orang-orang di rumahmu tidak bermusuhan dengan kami, itulah tidak salah," menyahut Ho Ang Yo, "itu pun sebabnya kenapa kami sudah berlaku murah hati, yaitu tidak ada satu di antaranya yang kami lantas bikin mati! Bukankah kau mempunyai obat mustika? Dengan itu dengan gampang kau bisa sembuhkan mereka. Tapi mengenai itu bocah she Hee? Hm! Dengan cara pelahan-lahan, kami hendak beri pengajaran kepadanya!"

"Dia masih sangat muda, apakah dia telah berbuat terhadap kamu yang membikin kamu mendendam?" tanya Sin Cie. Ia masih belum tahu hubungannya kawanan ini dengan Ceng Ceng.

Ho Ang Yo tertawa dingin.

"Siapa suruh dia terlahir sebagai puteranya Kim Coa Long-kun?" jawabnya. "Hm! Siapa suruh dia bolehnya dilahirkan oleh itu perempuan hina she Oen?"

Sin Cie terperanjat. Heran dia kenapa wanita tua ini ketahui ibunya Ceng Ceng ada seorang she Oen. Karenanya, ia jadi berdiam.

Ho Ang Yo tampak orang diam saja, ia menegur, suaranya seram: "Apa kau mau maka kau datang mengacau di sini?"

"Jikalau kamu ada punya sangkutan sama Kim Coa Long-kun," jawab Sin Cie, "kenapa kau tidak mau cari dia sendiri untuk balas lakukan pembalasan sakit hatimu?"

"Bapaknya hendak aku bunuh, anaknya juga hendak aku binasakan!" bentak Ho Ang Yo. "Kau ada punya sangkutan dengan dia itu, kau juga hendak aku bunuh!"

Bukan main bengisnya pengemis wanita ini, akan tetapi Sin Cie tak gentar terhadapnya, malah tak sudi dia berurusan dengannya terlebih lama pula.

"Ho Kauw-cu!" segera ia teriaki pula Tiat Chiu. "Sebenarnya kau hendak keluar atau tidak? Mau kau lepaskan orang tawananmu atau tidak?"

Dari dalam tetap tidak ada jawaban, hanya ada juga jawaban ialah suara kumandang.

Habis sabarnya ini anak muda, tiba-tiba saja ia lompat maju, akan lewati Ho Ang Yo. Ia berlompat di sampingnya wanita tua yang romannya menyeramkan itu. Di depan ia ada sebuah pintu.

Dua orang Ngo Tok Kauw di belakang si nyonya tua lompat maju, untuk merintangi, tetaipi Sin Cie sambut mereka dengan gerakan kedua tangannya ke kiri dan kanan, atas mana dua orang itu terpental rubuh terbanting. Setelah itu, pemuda ini lompat lebih jauh masuk ke dalam pintu.

Nyata kamar yang baru dimasuki ini kosong. Karena ini Sin Cie lari ke kamar sebelah timur, di situ ia mendupak pintu hingga daunnya menjeblak. Di dalam sini ada dua anggauta Ngo Tok Kauw sedang rebah, ialah dua orang yang kemarin ini kena dilukai dan sekarang sedang beristirahat. Melihat si anak muda, mereka kaget hingga mereka lompat berjingkrak.

Sin Cie tidak perdulikan orang ini, ia pergi ke lain kamar, tidak juga ia ketemukan Ho Tiat Chiu atau Ceng Ceng, maka ia cari terus di lain-lain kamar atau ruangan. Ada orang-orang Ngo Tok Kauw yang mencoba merintangi tetapi mereka tidak berani menyerang. Dalam tempo yang pendek, Sin Cie sudah periksa semua kamar, tetap tidak ada Ceng Ceng, tidak ada Ho Tiat Chiu, dalam sengitnya, ia ubrak-abrik semua jambangan, guci dan peti, hingga banyak macam binatang beracun, yang dikurung atau dipiara di situ, pada terlepas, lari merayap ke segala penjuru.

Orang-orang Ngo Tok Kauw menjadi kaget, di satu pihak mereka coba menyerang, di pihak lain ada yang menangkap-nangkapi pula rupa-rupa binatang piaraan mereka itu.

Di dalam pertempuran kalut seperti itu, pihak Ngo Tok Kauw tidak berani gunai semprotan racun mereka, rupanya mereka takut nanti mencelakai orang sendiri.

"Jikalau benar kau satu laki-laki, mari kita pergi keluar, untuk pertempuran yang memutuskan!" Phoa Siu Tat akhirnya menantang.

Sin Cie tahu orang ini mempunyai kedudukan penting, maka ia pikir, baik ia bekuk orang ini, untuk nanti ia korek keterangan dari mulut dia itu.

"Baik!" ia menyambut. "Baik, aku nanti coba belajar kenal dengan Tuan punya Tok-see­ciang!"

Dengan satu loncatan dari Pek-pian Kwie-eng, Sin Cie sudah melesat ke depan pahlawan Ngo Tok Kauw ini.

Phoa Siu Tat terkejut, inilah ia tidak sangka, tetapi ia sudah lantas memapaki, dengan serangan kedua tangannya saling susul.

"Lain orang takuti tanganmu yang beracun, aku tidak!" seru Sin Cie, yang menghalau diri dari dua sambutan musuh itu.

"Baiik, kau cobalah!" seru Siu Tat juga, sambil ia menyerang pula.

Sin Cie angkat tangan kanannya, untuk menangkis.

Girang sekali Siu Tat melihat tangkisan orang, di dalam hatinya, ia kata: "Jikalau kita saling serang, mungkin aku sukar menangi kau, akan tetapi sekarang kau berani bentrok tangan dengan tangan, kau seperti cari mampusmu sendiri, maka janganlah kau sesalkan aku!"

Lalu dua-dua tangannya dimajukan dengan tenaga penuh, sepuluh jarinya terbuka, untuk dipakai mencengkeram tangan musuh.

Di saat kedua tangan hampir bentrok satu dengan lain, girangnya Siu Tat sudah bukan alang-kepalang, karena ia merasa, segera ia akan bikin terluka musuhnya itu. Akan tetapi justru di saat itu, mendadak ia dapatkan musuh tarik pulang kepalannya, belum sempat ia melihat nyata, ia tampak bayangan berkelebat ke sampingnya, hingga ia menjadi kaget, sehingga ia niat berkelit, untuk menyingkirkan diri, kedua tangannya sendiri mendahului ditarik pulang juga. Tapi ia telah terlambat, ia menjadi kaget ketika tahu-tahu, batang lehernya tercekal keras, dan belum ia sempat berdaya, tubuhnya sudah kena diangkat tinggi!

Orang-orang Ngo Tok Kauw pun kaget, sampai mereka berseru, lantas mereka merangsak, akan tolongi pahlawan mereka, akan tetapi mereka disambut Sin Cie dengan si anak muda putarkan diri sambil tubuhnya Siu Tat diputarkan juga, dipakai sebagai alat untuk menangkis serangan!

Semua orang Ngo Tok Kauw merandak, tidak ada satu juga yang berani maju akan serang si anak muda, sebab mereka kuatir nanti mereka melukai "hu-hoat" mereka atau pelindung agamanya.

Sin Cie lantas saja berseru: "Di mana adanya orang yang kau culik? Lekas bilang!"

Phoa Siu Tat meramkan mata, tak sudi ia memberikan jawaban.

Sin Cie gunai jeriji tangannya, akan menotok jalan darah di tulang bebokongnya orang tawanannya itu.

"Aduh, aduh!" Siu Tat menjerit-jerit. Tak tahan ia akan sakitnya totokan itu, hingga ia mencoba berontak-rontak.

Sin Cie membarengi, akan lepaskan cekalannya, akan banting tubuhnya pahlawan musuh itu.

Siu Tat benar-benar seorang berani dan beradat keras, walaupun ia mesti rebah bergulingan berulang-ulang, tak mau ia memberi jawaban, hingga pemuda kita jadi kewalahan.

"Baik!" pikir Sin Cie. "Kau tidak sudi bicara, mustahil lain orang tidak?" Ia segera ingat kepada ilmu totokan jalan darahnya yang liehay, asal dia gunai itu, siapa juga tak akan dapat menyadarkan korbannya.

"Aku mau lihat, kalau mereka sudah ditotok semua, Ho Tiat Chiu masih berani ganggu Ceng Ceng atau tidak?" demikian pikirnya akhirnya.

Orang-orang Ngo Tok Kauw segera maju pula begitu lekas mereka lihat pahlawannya sudah dilepaskan, tetapi justru mereka merangsak, musuh pun menerjang mereka. Tapi Sin Cie maju untuk perlihatkan kelincahannya, ia berlompat ke sana-sini, untuk kelit sesuatu serangan, di lain pihak, saban ia menyerang, ia membuat sesuatu sasarannya rubuh tak berdaya.

Beberapa orang Ngo Tok Kauw yang cukup liehay masih bisa berkelahi dua-tiga jurus, baru mereka rubuh, tidak demikian dengan yang kebanyakan, maka dalam tempo yang cepat, sudah kira-kira tiga-puluh orang pada rebah bagaikan mayat.

Ho Ang Yo kaget tidak terkira, ia lantas berseru, ia terus lompat ke pintu, untuk menyingkirkan diri, perbuatannya ini dicontoh oleh sisa kawan-kawannya. Maka sekejab saja, ruangan yang lebar itu kosong dari anggauta-anggauta Ngo Tok Kauw itu kecuali mereka yang bergeletakan di lantai, yang pada keluarkan rintihan, cuma mata mereka, dengan sorot membenci, mengawasi ke arah musuh mereka.

"Adik Ceng! Adik Ceng!" Sin Cie memanggil-manggil. "Adik Ceng, kau di mana?"

Kecuali sambutan kumandang, tidak ada jawaban.

Dalam penasaran, Sin Cie masuk sesuatu kamar pula, akan mencari, hasilnya sia-sia saja. Ia coba desak tanya beberapa orang Ngo Tok Kauw, mereka ini diam saja bagaikan gagu, mata mereka mereka rapatkan.

Ketika itu, gedung itu telah kosong dari orang-orang Ngo Tok Kauw kecuali mereka ini yang rebah semua.

Saking kewalahan, Sin Cie keluar dari gedung, akan naik pula atas kudanya, buat kabur pulang. Ketika ia sampai di rumah di gang Ceng-tiauw-cu, ia dapatkan Ciauw Wan Jie sudah datang bersama beberapa murid kepala dari Kim Liong Pang, nona itu sudah tolongi See Thian Kong semua, malah lukanya mereka ini pun sudah dibalut rapi.

Sin Cie periksa sesuatu dari sahabatnya itu, apabila ia dapati mereka sudah bebas dari ancaman malaikat elmaut, baru hatinya lega, sehingga sekarang ia pikirkan Ceng Ceng saja, juwitanya.

Wan Jie coba hiburkan ini anak muda, di lain pihak, ia kirim beberapa anggotanya untuk pergi keempat penjuru kota, guna menyerep-nyerepi kabar.

Selama itu, rumah menjadi sunyi. Tidak ada orang yang bicara. Berselang kira-kira setengah jam, mendadak ada suara menggabruk di atas genteng di betulan cimchee, lantas satu bungkusan besar menggelinding jatuh.

Semua orang menjadi kaget, malah Sin Cie sangat bergelisah. Ia lompat pada bungkusan itu, dengan kedua tangannya, ia putuskan tambang ikatannya. Belum sampai ia buka bungkusan itu, hidungnya sudah diserang bau bacin, bau darah yang amis, hingga hatinya memukul keras, kedua tangannya mengeluarkan keringat dingin.

Begitu lekas bungkusan telah dibuka, di situ tertampak satu tubuh mayat seperti tercincang, karena telah menjadi delapan potong. Kepala mayat kelihatan hitam mukanya, tetapi rambutnya, kumis dan jenggotnya, tetap putih. Maka dengan mengawasi sedikit lama saja, Sin Cie segera kenali Tok-gan Sin-liong Sian Tiat Seng si Naga Sakti Mata Satu!

Bukan main kagetnya anak muda ini, berbareng pun ia jadi sangat gusar karena pemandangan yang menyayatkan itu, tanpa bilang suatu apa, ia loncat naik ke atas genteng, ke wuwungan, akan memandang ke sekitarnya. Ia masih lihat satu tubuh bagaikan bayangan yang lagi berlari-lari di arah selatan-barat. Ia menduga pada orang Ngo Tok Kauw yang barusan membawa mayatnya Sian Tiat Seng, tidak ayal lagi, ia lompat turun ke tanah, untuk mengejar. Kali ini ia telah keluarkan kepandaiannya, untuk bisa menyandak orang yang telah lari jauh itu.

Pengejaran dilakukan sampai di suatu tempat di mana ada banyak pepohonan lebat, ke dalam situ bayangan tadi lari masuk.

Ada pantangan di dalam kalangan kaum Kang-ouw, apabila kita menemui rimba, kita dilarang memasukinya, akan tetapi Sin Cie langgar pantangan ini, karena keras sangat tekadnya untuk cari Ceng Ceng, untuk tolongi Nona Hee itu. Demikian ia lompat masuk ke tempat lebat itu, akan susul orang yang dikejarnya itu. Tidak ada rintangan untuk anak muda ini, sampai setelah masuk sedikit jauh, ia lihat beberapa puluh orang asik berkumpul merubungi segundukan api tabunan, kelihatannya mereka sedang pasang omong dengan asik sekali, rupanya mereka tidak menyangka bahwa ada orang telah susul kawannya tadi dan sekarang lagi terus mencari mereka.

Seorang kebetulan menoleh ke belakang, kaget ia kapan ia lihat Sin Cie lagi mendatangi, dalam kagetnya itu, ia lantas berteriak, terus ia bangun berdiri, untuk lari. Perbuatan ini diturut oleh kawannya, yang pun kaget bukan main, semua lari serabutan.

Sin Cie menyerbu, ia hajar sesuatu orang yang dapat ia susul, ia menoyor, ia menendang, ia totok mereka, hingga siapa menjadi kurban sasaran, tentulah dia rubuh tak berdaya. Malah siapa lari sedikit jauh, ia rubuhkan dengan biji-biji caturnya. Ia bisa berkelahi dengan leluasa, karena hampir tidak ada perlawanan.

Semua musuh itu perdengarkan suara berisik, tapi sedetik saja rimba menjadi sirap, tidak ada lagi satu musuh jua di situ. Maka Sin Cie kebuti pakaiannya, ia bertindak keluar.

Di antara korban-korban itu kedapatan Thia Kie Su, Cee In Go dan beberapa lagi orang liehay dari Ngo Tok Kauw, yang tidak ada adalah Ho Tiat Chiu dan Ho Ang Yo.

"Mungkin Ceng Ceng belum terganggu," pikir pemuda ini, yang hatinya mulai tenteraman. "Aku percaya selanjutnya dia tidak bakal diganggu..."

Lantas setelah itu, pemuda ini berjalan pulang.

Sampai magrib itu hari, orang-orangnya Wan Jie masih belum berhasil memperoleh endusan apa juga.

Atas permintaannya Sin Cie, Gouw Peng dan Lo Lip Jie antar mayatnya Sian Tiat Seng ke kantor pembesar yang menjadi seatasannya Tok-gan Sin-liong. Di sini orang tidak berdaya kapan mereka saksikan keadaan mayat, karena bukti terang kepala oppas ini telah menjadi korbannya Ngo-Tok Kauw. Cuma orang tidak mengerti, bagaimana hebatnya pekerjaannya kawanan orang dari Inlam itu.

Malam, itu Ciauw Wan Jie tidak pulang, bersama beberapa anggauta Kim Liong Pang ia wajibkan diri untuk merawat dan menjagai orang-orang yang terluka, sebab benar dia orang ini sudah bebas dari ancaman kematian, tetapi dia orang masih lelah, perlu rawatan dan istirahat.

Sin Cie sangat masgul, sampai ia tak dapat tidur. Ia duduk di atas pembaringannya, memikirkan daya bagaimana untuk cari Ceng Ceng.

Sudah satu jam Sin Cie duduk diam, pikirannya masih terbenam dalam kepepatan, meski begitu, karena rumah dan sekitarnya sunyi-senyap, ia dapat dengar suara anjing menggonggong dua kali sedikit jauh di dalam gang. Ia juga dengar suara kentongan, yang suaranya datang semakin dekat, tandanya orang ronda lagi mendatangi.

"Benar-benar kali ini aku terpedaya," pikir ini anak muda. Ia ingat bagaimana ia telah makan pancingannya Ho Tiat Chiu. Ia anggap itu adalah kekalahannya yang pertama, yang paling besar.

Tiba-tiba saja, dalam kesunyian itu, ia dengar suara ketokan pelahan pada tembok.

"Inilah bukannya Gouw Peng dan Lip Jie yang kembali," ia menduga-duga. "Ilmu entengkan tubuh dari mereka tidak begini sempurna. Mestinya telah datang musuh..."

Kendati juga ia telah menerka kepada musuh, Sin Cie tidak bergerak dari tempatnya bercokol, ia duduk terus dengan tenang, melainkan kali ini, ia memasang mata, ia waspada luar biasa.

Segera terdengar suara enteng di luar jendela, seperti suara jatuhnya daun rontok, suara mana disusul sama tertawa pelahan tetapi tedas sekali di malam yang sunyi itu. Itulah tertawa manis yang diikuti dengan kata-kata yang halus:

"Wan Siangkong, ada tetamu!..."

"Oh, Ho Kauw-cu yang datang!" sahut Sin Cie. "Silakan masuk!"

Baru sekarang pemuda ini berbangkit, untuk nyalakan lilin, sesudah mana ia bertindak ke pintu, untuk membukai, akan sambut tetamunya itu yang cantik-manis, yang nyalinya besar.

Ho Tiat Chiu muncul tetap dengan dandanannya serba putih, ia pun bertindak masuk dengan tindakan tenang, air mukanya bersenyum-senyum. Sekelebatan saja ia telah lihat orang punya seluruh kamar di mana, kecuali pembaringan dan kursi-meja, tidak ada lainnya perabotan lagi.

"Sungguh, Wan Siangkong hidup sangat sederhana!" katanya sambil tertawa.

Sin Cie bersenyum, ia tidak menjawab.

"Kali ini aku datang ke mari, Wan Siangkong tentulah telah ketahui maksudnya," kata pula si nona, yang tak ketinggalan tertawanya yang manis.

"Dalam hal itu aku ingin Ho Kauw-cu menjelaskannya," sahut pemuda kita.

"Kau kehendaki suatu apa dari aku, aku juga hendak memohon apa-apa dari kau," berkata kepala agama dari Ngo Tok Kauw. "Dalam satu jurus ini, pertempuran kita menghasilkan tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah...."

Sin Cie tertawa.

"Aku pikir tak usah kita lanjuti pertempuran kita ini," ia bilang. "Ho Kauw-cu sangat cerdik dan kosen, aku sangat mengaguminya."

Kepala agama itu tertawa. "Ini adalah babak yang pertama," ia menetapinya. "Kecuali kau musnahkan semua anggauta Ngo Tok Kauw kami, Wan Siangkong, maka di belakang hari masih ada saja kejadian-kejadian yang akan membuat kau sakit kepala."

Kaget juga Sin Cie. Ia anggap hebat benar kauwcu ini. Dialah satu wanita yang tak dapat dipandang ringan. Berani dan bandel!

"Ho Kauw-cu," katanya kemudian, "karena kau bermusuh dengan ayahnya sahabatku itu, baiklah kau cari saja ayahnya itu. Kenapa sih kau hendak bikin susah pada seorang anak muda yang belum tahu apa-apa? Laginya ada pribahasa yang berkata, permusuhan itu lebih baik didamaikan tetapi jangan tambah diperhebat..."

Nona Ho itu tertawa geli hihi-hihi. "Hal itu baiklah kita bicarakan belakangan," katanya. "Sekarang aku ingin minum arak!"

"Sungguh aneh orang ini," pikir Sin Cie yang toh teriaki kacungnya untuk lekas sediakan arak dan sayurannya.

Wan Jie berkuatir, untuk penjagaan, ia lekas dandan untuk menyamar sebagai kacung, kemudian ialah yang keluar membawa nenampan arak serta beberapa rupa sayurannya.

Ho Tiat Chiu tertawa apabila ia lihat kacung itu. "Benarlah, di bawah perintahnya satu jenderal jempolan tidak ada serdadu yang lemah!" katanya. "Kacung Wan Siangkong saja begini hebat tampangnya!"

Sin Cie tidak meladeni, ia hanya isikan dua cawan. "Silakan!" ia mengundang. Ho Tiat Chiu angkat cawannya, ia tenggak isinya, lalu ia minum pula, hingga ia keringkan dua cawan beruntun.

"Wan Siangkong tidak memberi muka kepadaku dengan tak sudi minum arakku," kata dia sambil bersenyum, "siauwmoay sendiri sebaliknya sangat lancang dan bernyali besar..."

"Arak kami tidak ada racunnya," kata Wan Jie, yang tak dapat mengendalikan diri untuk tidak turut bicara.

"Bagus, bagus!" Ho Kauwcu tertawa pula. "Sungguh satu pengurus rumah muda yang cerdik! Mari keringi!" Ia minum pula araknya. Sin Cie minum, untuk menemani.

Di antara terangnya sinar lilin, pemuda kita lihat sepasang mata yang tajam dari kepala agama Ngo Tok Kauw itu, satu wajah yang eilok, sepasang sujen yang manis sekali, hingga ia berpikir: "Di antara nona-nona yang aku kenal, mengenai kecantikan A Kiu adalah yang nomor satu, Siauw Hui ada manis dan polos, Wan Jie terbuka dan cerdas. Ceng Ceng benar berandalan, akan tetapi terhadap aku, ia tulus dan lemah-lembut. Maka sungguh aku tidak sangka, di sebelah mereka semua, masih ada ini satu kauwcu yang elok bagaikan bunga-bunga toh dan lie yang indah-permai tetapi yang hatinya berbisa bagaikan ular dan kala! Benar-benar, di kolong langit yang luas ini, orang aneh, orang luar biasa ada di mana-mana!"

Ho Tiat Chiu lihat orang awasi dia, ia diam saja, ia melainkan bersenyum. Adalah selang sekian lama, baru ia buka mulut pula.

"Wan Siangkong," katanya, "dengan sesungguhnya siauwmoay takluk sekali untuk Siangkong punya kepandaian ilmu silat. Turut apa yang aku dengar, gurumu itu, Kim Coa Long-kun, tidak punyakan ilmu menotok jalan darah tiam-hiat-hoat seliehay kau ini. Apa mungkin Siangkong ada punya lain guru lagi?"

"Kau benar. Aku masih punyakan dua guru lainnya," Sin Cie jawab dengan jujur.

"Ehm! Siangkong telah gabung kepandaiannya tiga guru, pantas kau jadi liehay begini!" memuji nona itu. "Siangkong, malam ini aku datang mengunjungi kau, maksudku yang utama adalah untuk minta berguru kepadamu..."

Sin Cie benar-benar heran.

"Aku tidak mengerti, Kauwcu," sahutnya. "Aku mohon Kauwcu memberi penjelasan kepadaku."

Ho Tiat Chiu tertawa.

"Wan Siangkong," katanya, "apabila kau tidak cela siauwmoay punya bakat tolol, aku minta sukalah kau terima aku sebagai muridmu."

Sin Cie tertawa bergelak-gelak.

"Ho Kauwcu ada ketua dari satu perkumpulan besar, kepandaian Kauwcu sudah sangat liehay, cara bagaimana kau boleh berguyon denganku?" tanyanya.

"Jikalau kau tidak ajarkan aku ilmu menotok jalan darah," kata kepala agama itu, "habis apa itu beberapa puluh orangku yang sekarang sedang rebah tidak berdaya mesti diantapkan saja jiwa mereka melayang?"

Baru sekarang kauwcu ini omong dengan jelas.

"Asal kau antarkan pulang sahabatku itu dan kau suka berjanji untuk selama-lamanya tidak mengganggu pula pada pihakku, tentu sekali aku suka menolong mereka," sahut Sin Cie, yang pun omong terus-terang.

Thanks for reading PEDANG ULAR MAS 33

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar