Home » » PEDANG ULAR MAS 34

PEDANG ULAR MAS 34

Jilid 34

"Ini jadinya berarti, kau tak sudi terima semacam murid sebagai aku ini?" tegaskan Ho Tiat Chiu.

"Pelajaranku masih belum sempurna," jawab Sin Cie dengan merendah. "Sebenarnya aku masih hendak mencari guru pula, maka bagaimana aku berani menerima murid? Kauwcu, mari kita omong dengan terbuka, mari kita menghabiskan urusan kita dengan baik, kita lupakan yang sudah lewat. Kau akur bukan?"

Kauwcu itu tertawa.

"Aku nanti antarkan sahabatmu itu, kau nanti tolongi orang-orangku!" katanya. "Urusan di belakang hari, kita nanti lihat saja!"

Menampak orang tetap tak sudi berdamai, Sin Cie mendongkol juga.

"Kamu dari Ngo Tok Kauw boleh malang-melintang di Selatan, tetapi aku orang-orang gagah dari tujuh propinsi, mustahil kami jeri terhadapmu!" demikian pikir ia.

Karena memikir demikian, pemuda ini cuma angkat kedua tangannya, ia tidak bilang suatu apa.

Ho Tiat Chiu berbangkit sambil tertawa manis.

"Aha, Wan Toa-bengcu kami gusar!" katanya. Lantas ia pun angkat kedua tangannya, untuk liam-jim, memberi hormat. Masih ia tertawa hihi-hihi ketika ia menambahkan: "Baik, baik, di sini aku menghaturkan maafku."

Sin Cie membalas hormat, tapi hatinya tetap tak senang. Ia sangat tak setuju tindak­tanduk lawan itu.

"Besok aku nanti antarkan sahabatmu she Hee itu," kata Tiat Chiu kemudian, "setelah itu aku nanti undang kau, Tuan, untuk kau tolongi orang-orangku."

"Aku beri janjiku," Sin Cie bilang.

Tiat Chiu menjura, lalu ia membaliki tubuh. Ia tidak mau loncat naik ke atas genteng, ia menindak ke pintu depan, maka Sin Cie mesti antar dia, untuk mana ia perintah kacungnya nyalakan lilin dan membukai pintu.

Wan Jie mengikuti di belakang mereka itu.

"Wanita ini sangat licin," pikirnya, "mungkin dia sembunyikan orang-orangnya di luar rumah, ia pancing Wan Siangkong untuk kemudian dibokong. Nanti aku periksa dulu!"

Karena memikir begini, ia antap orang jalan terus, ia kasi dirinya ketinggalan, lantas ia sembat tempuling Ngo-bie-cie, dengan bawa itu ia loncat naik ke atas genteng, akan hampirkan tembok di ujung mana ia sembunyikan diri, untuk memasang mata keluar.

Di muka pintu ada sebuah joli, tukang gotongnya empat orang, mereka ini sedang berdiri menantikan di muka joli. Kecuali mereka itu, tidak ada orang lain pula.

Dengan kelincahannya, dengan ati-ati, Wan Jie keluar dari tempat sembunyinya, akan dengan diam-diam hampirkan joli dari arah belakang, setelah datang dekat, ia pegang ujung gotongan, untuk angkat dengan pelahan-lahan. Ia merasai angkatan yang enteng sekali, itu artinya tidak ada orang lain di dalam joli, maka hatinya menjadi lega. Benar ketika ia hendak undurkan diri, pintu depan telah dipentang, kacung membawa obor yang terang sekaili. Sin Cie bertindak mengantar tetamunya yang istimewa itu.

Mendadak saja nona Ciauw mendapat satu pikiran.

"Dia tidak sudi berdamai, ini berarti, di belakang hari, kesulitan masih banyak sekali," demikian pikirnya. "Kenapa aku tidak mau kuntit dia, untuk ketahui di mana dia bersarang? Dengan ketahui tempat sembunyinya, apabila kemudian dia datang mengganggu pula, Wan Siangkong bisa satroni dia, untuk serbu padanya."

Setelah berpikir begini, tanpa bersangsi pula, Wan Jie batalkan niatnya undurkan diri, sebaliknja, ia nyelusup ke kolong joli, dengan berpegang kedua tangan dan kedua kaki dicantel, ia bergelayutan di kolong joli itu. Secara begini ia bertindak, untuk balas budinya Sin Cie.

Joli memakai tenda yang tebal, malam itu pun gelap, tidak ada orang yang lihat sepak­terjangnya nona Ciauw ini. Keempat tukang joli pun sedang mengawasi pemimpinnya, untuk disambut.

Sambil tertawa manis, Ho Tiat Chiu masuk ke dalam jolinya, atas mana empat tukang gotongnya segera panggul joli itu, buat dibawa pergi. Yang luar biasa adalah mereka ini menggotong sambil berlari-lari, umpama kata laksana terbang.

(Bersambung bab ke 21)


Bab 21

Heran Wan Jie karena orang gotong joli secara demikian rupa, dari heran, hatinya lantas kebat-kebit, ia berkuatir juga sedikit. Ia tidak menduga bahwa keempat tukang gotong itu adalah orang yang bertenaga besar dan berkepandaian silat. Pun dengan menangkel di kolong joli, ia merasakan hawa yang sangat dingin. Itu waktu ada di musim dingin, ada salju yang nempel di joli, sekarang salju itu jatuh ke mukanya, disebabkan hawa panas pada mukanya itu, salju lumer menjadi air. Tidaik berani ia susut mukanya, ia kuatir dengan geraki tangannya, ia akan menerbitkan goncangan hingga orang bisa timbul kecurigaannya.

Perjalanan baru dilakukan kira setengah jam, mendadak Wan Jie dengar suara bentakan keras, menyusul mana, joli dihentikan dengan tiba-tiba. Tentu saja keempat tukang joli dan nona di dalamnya dengar bentakan itu.

Segera menyusul bentakan lain, suaranya seorang lelaki: "Kacung she Ho yang hina-dina, lekas kau keluar untuk terima binasa!"

"Aneh!" pikir Wan Jie. "Aku rasa kenali suara ini.... Siapa dia?"

Habis itu, menyusul bentakan lain lagi: "Kamu kaum Ngo Tok Kauw malang-melintang di dunia, siapa tahu kamu toh ketemu harimu ini!"

"Itulah Bin Cu Hoa!" ingat si nona Ciauw. "Ya, suara yang pertama ada suara suhengnya, Tong Hian Toojin..."

Segera terdengar tindakan kaki berisik di sekitar joli, rupanya ada sejumlah orang yang datang mengurung.

Joli segera dikasi turun, keempat tukang gotongnya lantas hunus senjata.

Wan Jie singkap ujung tenda, untuk mengintai.

Di arah timur terlihat lima orang, semua memakai jubah suci, tangan mereka menyekal pedang. Yang berada di depan nampaknya ada Tong Hian Toojin.

"Di arah barat, utara dan selatan, tentu ada kawan-kawan mereka..." pikir pula nona Ciauw. "Rombongan Bu Tong Pay ini rupanya berniat mencari balas untuk guru mereka."

Selagi ia memikir demikian, Wan Jie rasai joli bergoyang.

Itulah gerakan disebabkan Ho Tiat Chiu telah berloncat keluar dari jolinya itu.

"Bukankah Cui In si imam telah mampus?" demikian bentakannya pemimpin Ngo Tok Kauw ini. "Sungguh besar nyali kamu semua? Apakah kamu mau?"

"Kasi tahu kami, sebenarnya di mana adanya guru kami, Oey Bok Too-tiang?" Tong Hian tanya. "Lekas bicara, supaya kau bisa bebas dari siksaan!"

Ho Tiat Chiu tertawa terbahak-bahak.

"Guru kamu bukannya bocah cilik umur tiga tahun," katanya, "Gurumu hilang, kenapa kamu menanyakannya kepadaku? Apa memangnya gurumu itu diserahkan di bawah penilikanku? Baiklah, kita sama-sama kaum Rimba Persilatan, aku nanti bantu kamu mencari dia! Kasihan kalau sampai dia terlantar di luaran, tidak ada yang urus!..."

"Hai, suaranya orang ini benar-benar halus dan merdu..." pikir Wan Jie. "Dia omong keras tetapi manis didengarnya... Tadinya aku sangka dia bicara sama Wan Siangkong dengan lagu-suara dibikin-bikin, untuk menarik hati orang..."

Lalu terdengar suara penuh kemurkaan dari Tong Hian Toojin.

"Kamu kaum Ngo Tok Kauw telah malang-melintang di mana-mana!" demikian suaranya imam ini. "Sekarang kami hendak bikin kamu insyaf, perbuatan jahat mesti terima pembalasan jahat juga!"

Tong Hian geraki pedangnya, tubuhnya juga, agaknya ia hendak lantas menyerang.

Masih Ho Tiat Chiu tertawa manis.

"Bu Tong Pay kesohor sebagai partai jantan," katanya, "tapi buktinya kamu tidak pernah secara terang-terangan mencari aku! Begitulah sekarang, selagi orang aku banyak yang terluka, diam-diam bagaikan hantu-hantu, kamu sembunyi di sini untuk memegat aku!..... Ha-ha-ha-ha!"

Beraneka warna suara tertawanya ketua Ngo Tok Kauw ini, lalu sebelum berhenti suara tertawanya itu, di arah barat utara terdengar satu suara jeritan hebat: "Aduh!"

Nyatalah nona ini sudah lantas mendahului turun-tangan, karena mana, ia menambah membangkitkan hawa-amarah musuh-musuhnya, maka tidak ampun lagi, orang lantas maju, untuk terjang padanya.

Pertempuran sudah lantas terjadi, Ho Tiat Chiu berlima segera kena dikurung. Sebab kali ini orang-orang Bu Tong Pay telah kumpul dalam jumlah besar, berikut semua anggautanya yang liehay.

Keempat tukang gotong telah terluka dan rubuh saling susul saking hebatnya kepungan, walaupun pertempuran berjalan belum seberapa lama.

Wan Jie mengintai terus, hingga ia bisa saksikan cara berkelahinya orang-orang Bu Tong Pay itu. Ilmu silat pedang mereka benar-benar liehay. Ia tetap berdiam di kolong joli, tak mau ia lantas keluar. Kalau ia muncul, ia kuatir ia nanti disangka ada orangnya Ngo Tok Kauw.

Berkilau-kilaulah kira-kira duapuluh batang pedang yang lagi kurung Ho Tiat Chiu, siapa benar-benar liehay. Dia benar tidak bisa lantas pecahkan kurungan, akan tetapi dia bisa berkelahi dengan baik.

Satu imam muda sangat bernapsu, dia lompat maju kepada si nona, untuk menyerang dengan hebat, tetapi pedangnya ditangkis dengan gaetan, gaetan mana terus mampir di pundaknya. Maka tidak ampun lagi, ia menjerit dan rubuh pingsan, hingga ia perlu digotong keluar kawan-kawannya.

Kembali lewat beberapa puluh jurus, setelah ini barulah kelihatan Ho Tiat Chiu kena terdesak.

Bin Ciu Hoa merangsak hebat, sampai mendadak pedangnya menyambar batang lehernya ketua Ngo Tok Kauw itu. Tiat Chiu berkelit, menyusul mana, dua pedang lain membarengi menikam dia. Maka sibuklah dia dengan tangkisannya.

Tiba-tiba Wan Jie dengar suara nyaring pelahan, lalu serupa barang jatuh menggelinding ke kolong joli, ke arah dia. Dia jumput itu, ialah sebuah anting-anting.

Menampak ini, Wan Jie girang berbareng kuatir. Ia girang karena ia percaya, kali ini Ho Tiat Chiu tidak bakal lolos dari kebinasaan, apabila dia mati, itu artinya Sin Cie jadi bebas dari gangguan nona liehay ini. Tapi ia berkuatir andaikata Tiat Chiu terbinasa, nanti nasibnya Ceng Ceng tak ketahuan. Ada kemungkinan sisa orang-orang Ngo Tok Kauw tidak sudi menyerahkannya.

Masih Ho Tiat Chiu melakukan perlawanan. Selang lagi dua-puluh jurus, barulah ia lelah benar-benar, rambutnya terlepas dan kusut, nampaknya tidak lagi ia mampu membalas menyerang.

Tong Hian Toojin rupanya bisa lihat nyata keadaannya lawan, sampai di situ, ia perdengarkan seruannya, maka beberapa puluh pedang segera perkeras kurungan mereka.

"Di mana adanya guru kami?" Tong Hian tanya. "Dia masih hidup atau sudah meninggal dunia? Lekas bilang!"

Ho Tiat Chiu kempit gaetan emasnya, ia pakai tangannya untuk singkap rambutnya yang riap-riapan, setelah itu, mendadak ia tertawa, gaetannya berkelebat, maka di pihak lawan, satu imam telah terluka pula!

Hal ini membikin semua imam jadi gusar sekali, kembali mereka menyerang, secara hebat.

Dalam saat sangat terancam dari Ho Tiat Chiu itu, dari kejauhan terdengar suara suitan istimewa, mendengar mana, ketua Ngo Tok Kauw itu tertawa pula.

"Dengar, itulah orang-orangku datang!" ia berseru. "Baik kamu lekas menyingkir, atau kamu nanti dapat susah!...."

Wan Jie dengar ancaman yang berupa nasihat itu.

"Jikalau ini bukannya saat mati atau hidup," pikirnya "mendengar suaranya ini, yang begini halus, orang pasti mengira ia sedang pasang omong dengan kekasihnya..."

Ia kagumi suara orang yang merdu itu.

Tong Hian tidak gubris nasihat itu.

"Baik bereskan dulu ini kacung hina!" katanya kepada kawan-kawannya.

Serangan diperkeras dengan kesudahan Tiat Chiu mendapat dua luka enteng pada kakinya. Meski begitu, ia masih melawan dengan tampangnya bersenyum-senyum.

"Jangan kau tertawa saja!" seru satu imam muda, yang hatinya tak tega kalau nona begini cantik-manis mesti terbinasa di ujungnya puluhan pedang yang tajam. "Kau menyerah atau tidak?"

"Eh, Tootiang, apa katamu?" tanja Tiat Chiu, menegasi. Masih ia tertawa.

Ditanya begitu, imam muda itu tercengang, selagi ia hendak menjawab, mendadak ada sinar berkelebat.

"Awas!" seru Bin Cu Hoa. Sia-sia saja pemberian ingat ini, gaetan emas dari Ho Tiat Chiu telah mampir di tubuh si imam.

Selagi kepungan diperkeras, Tong Hian pecah delapan orangnya, akan sambut bala­bantuannya pemimpin Ngo Tok Kauw itu. Maka tak jauh dari mereka, segera terdengar suara beradunya pelbagai alat-senjata, suatu tanda, pihak Bu Tong Pay sudah mulai bentrok sama bala-bantuannya Tiat Chiu.

Kembali Tong Hian memecah orangnya, guna bantu delapan kawannya itu.

Tiat Chiu dapat juga bernapas sedikit karena dipecahnya kekuatan yang mengepung dia, akan tetapi kendati demikian, ia tidak sanggup toblos kurungan, untuk persatukan diri dengan kawan-kawannya itu.

Selagi orang bertempur seru, mendadak terdengar suaranya satu imam: "Bagus, bagus! Tiang Pek Sam Eng, tiga dorna penjual negara, kamu juga datang?"

"Habis bagaimana?" jawab satu suara kasar dan bengis. "Kau tahu kami liehay, lekas kamu pergi semua!"

Heran Ciauw Wan Jie mendengar suara si imam, yang menyebut Tiang Pek Sam Eng, ialah tiga jago dari Tiang Pek San. Mereka bertiga adalah yang mengadu-biru dalam hal membikin celaka ayahnya, mereka sudah ditawan Sin Cie, oleh ayahnya mereka telah dikirim pada kantor negeri di Lamkhia, maka heran, kenapa mereka itu sekarang datang kemari.

"Apa mungkin mereka itu buron dari penjara? Atau apa mereka sudah sogok pembesar negeri, untuk kebebasan mereka?" pikir si nona, yang menduga-duga.

Selama itu, desakan Ngo Tok Kauw menjadi hebat, segera ternyata, pihak Bu Tong Pay kena terdesak. Maka tidak ayal lagi, Tong Hian Toojin beri tanda untuk pihaknya mundur. Dalam hal ini, mereka ini bisa bekerja dengan sempurna, mereka dapat mundur dengan teratur.

Ho Tiat Chiu tampak orang mundur dengan rapih, ia cegah pihaknya mengejar, sembari tertawa, ia ejek musuh-musuhnya itu, katanya: "Jikalau ada waktu yang senggang, lain kali kamu boleh datang pula untuk main-main lagi! Siauwmoay tak dapat antar padamu!..."

Ia menggunakan kata-kata "siauwmoay," - adik yang rendah.

Pihak Bu Tong Pay tidak perdulikan ejekan itu. Mereka muncul dengan mendadak, mundurnya pun secara cepat sekali. Maka di lain saat, kesunyian datang kembali, tak lagi ada suara bentrokan senjata, cuma ada siurannya angin malam yang membawa datangnya sang salju.

Wan Jie mengintai pula, ia lihat beberapa puluh orang, yang berkumpul bergunduk­gundukan.

Seorang perempuan tua, yang dandan sebagai pengemis, kata: "Pandai sekali mereka itu serep-serepi kabar! Mereka tahu orang-orang kita sedang terluka, mereka datang membokong!"

"Syukur Bibi telah dapat lekas mengumpul bala-bantuan," berkata Ho Tiat Chiu. "Lebih syukur keempat loopeh Keluarga Oen dan Tiang Pek Sam Eng pun kumpul bersama, coba tidak, rada sulit untuk memukul mundur mereka itu."

Seorang tua, yang kumis-jenggotnya putih, menanya: "Apakah pihak Bu Tong Pay itu berserikat sama Hoa San Pay?"

Seorang lain, yang suaranya kasar, menyahuti: "Kim Liong Pang berkonco sama si binatang she Wan! Kami bertiga saudara telah gunai akal merenggangkan, untuk membunuh orang sambil meminjam golok, maka orang she Wan itu pasti bakal hajar pihak Bu Tong Pay!"

Si orang tua lantas tertawa besar.

"Bagus! Biar mereka saling bunuh!" katanya.

Mendengar pembicaraan itu, Wan Jie di kolong joli mengeluarkan keringat dingin.

"Hm, jadi tiga jahanam inilah yang telah bunuh ayahku!" katanya di dalam hati.

Sampai di situ, terdengarlah suaranya Ho Tiat Chiu: "Sekarang mari kita pergi ke istana! Tak usah duduk joli lagi...."

Maka pergilah rombongan orang itu. Yang jalan di depan ada Ho Tiat Chiu bersama Tiang Pek Sam Eng dan empat orang tua.

Ciauw Wan Jie tunggu sampai orang sudah melalui beberapa puluh tindak, baru ia keluar dari kolong joli, kapan ia telah melihat ke sekitarnya, ia terperanjat sendirinya. Nyata ia telah berada di luar Kota Terlarang. Ia pun bisa lihat rombongan Ho Tiat Chiu memasuki istana.

Tidak berani Nona Ciauw berdiam lebih lama di tempat sunyi itu, dengan berlari-lari, ia berangkat pulang, langsung ke gang Ceng-tiauw-cu. Ia segera ketemui Sin Cie, akan tuturkan pengalamannya barusan.

Sin Cie awasi nona ini sekian lama, akhirnya ia tunjuki jempolnya.

"Nona Ciauw, besar nyalimu, dan kau cerdik sekali!" ia memuji.

Merah mukanya si nona, ia tidak bilang suatu apa, hanya ia beri hormatnya.

Tidak berani Sin Cie ulur kedua tangannya, akan angkat bangun si nona, ia malah bertindak ke pinggir, untuk tidak terima pemberian hormat itu. Tapi ia mengerti maksud Nona Ciauw, maka ia kata: "Tentang sakit hati ayahmu, Nona, kau letaki itu di bahuku, tetapi dengan menjalankan ini kehormatan besar, Nona seperti tidak memandang mata kepadaku...." Kemudian setelah berpikir sedetik, ia tambahkan: "Tak dapat kita berayal lagi, sekarang juga aku mesti pergi ke istana!"

"Entah bagaimana duduknya, kawanan jahanam itu bisa masuk dalam istana Kaisar." kata Wan Jie. "Istana ada terjaga kuat sekali, aku rasa kurang tepat untuk kau memasukinya, Wan Siangkong...."

"Jangan kuatir, tidak ada halangannya," Sin Cie bilang. "Aku mempunyai suatu barang berharga. Sebenarnya aku sudah mesti gunai itu sedari siang-siang, siapa tahu setibanya di kota raja ini, kejadian-kejadian saling-susul sampai aku tidak punya tempo senggang lagi..."

Ia rogo sakunya, akan tarik keluar sesampul surat.

Itulah suratnya To Jie Kun, pangeran Kiu Ong dari Boan-Ciu, yang dialamatkan kepada Su-lee Thaykam Cio Hoa Sun di dalam istana, yang tadinya dibawa oleh Ang Seng Hay tapi tak sempat Seng Hay menyerahkannya. Ia percaya, surat itu bakal ada faedahnya, maka Sin Cie simpan itu. Sekarang surat ini hendak digunakan.

"Bagus!" menyatakan si nona. "Aku akan turut kau, Wan Siangkong. Aku nanti menyamar sebagai kacungmu."

Sin Cie tahu orang hendak membalas sakit hati dengan tangan sendiri, itu artinya kebaktian, tak suka ia merintanginya.

"Baiklah," ia manggut.

Wan Jie lantas masuk ke dalam, untuk bersihkan tubuh dan tukar pakaiannya. Memangnya pakaiannya sudah kotor sebab tadi ia keluar-masuk di kolong joli. Ia dandan pantas sekali sebagai seorang kacung.

"Sekarang tak dapat aku panggil kau Nona Ciauw!" kata Sin Cie sambil tertawa.

"Panggil saja aku Wan-jie," kata si nona, yang pun tertawa. "Mungkin lain orang sangka aku pwee-jie atau wan-jie...."

Namanya si nona memang bersuara sama dengan "wan-jie" -"mangkok". Dan "pwee-jie" artinya "cawan."

Sin Cie bersenyum.

Selagi dua orang ini hendak keluar, mendadak Gouw Peng dan Lo Lip Jie datang masuk, agaknya mereka kesusu. Mereka bawa warta bahwa penjagaan di kantor ada keras sekali, hingga mereka mesti tunggu sampai datang giliran tukar orang, baru mereka bisa lemparkan tubuhnya Sian Tiat Seng.

"Bagus!" kata Sin Cie sambil manggut.

"Wan Siangkong, Su-moay, apa aku boleh turut kamu?" kemudian tanya Lip Jie setelah ia dapat tahu ke mana dua orang ini hendak pergi.

Wan Jie awasi Sin Cie, tak berani ia lancang mengajak.

Anak muda kita berpikir: "Memasuki istana ada tindakan berbahaya, penjagaan di sana kuat, di sana pun terdapat banyak orang liehay, untuk lindungi Wan Jie, aku repot, bagaimana lagi aku bisa ajak lain orang?"

Selagi Sin Cie berpikir, Gouw Peng tarik ujung bajunya Lip Jie, sambil mengedipi, ia bilang: "Lo Sutee, luka tanganmu baru sembuh, kesehatanmu belum kembali seluruhnya, maka biarlah Wan Siangkong ajak sumoay saja...."

Mendengar itu, Sin Cie lalu berpikir:

"Agaknya Gouw Peng ingin mengantapkan aku berada berdua dengan Wan Jie. Ketika kemarin malam aku pergi kepada Cui In Toojin, aku pun berdua saja sama Nona Ciauw, mungkin itu menyebabkan timbulnya kecurigaan mereka. Aku boleh tak usah kuatir, akan tetapi menyingkirkan curiga ada terlebih baik lagi."

Maka itu, ia lantas jawab Lip Jie: "Lo Toako suka turut, itu berarti tambahan pembantu untuk aku. Nah, pergilah kau lekas salin pakaian!"

Lip Jie jadi sangat girang, ia lari ke dalam, untuk mengenakan dandanan sebagai kacung.

Gouw Peng turut masuk.

"Lo Sutee, kali ini kau berlaku tolol!" katanya sambil tertawa.

"Apa Suheng bilang?" Lip Jie heran, ia sampai tercengang.

"Wan Siangkong telah melepas budi sangat besar terhadap Kim Liong Pang kita," kata Gouw Peng, "dan terhadap dia, agaknya su-moay ada menaruh hati..."

"Jadi kau maksudkan biar sumoay berjodoh dengan Wan Siangkong?" Lip Jie tegaskan.

"Roh suhu di dunia baka pasti sangat girang," kata pula Gouw Peng. "Kau hendak turut mereka, apa perlunya?"

Lip Jie sadar.

"Suheng benar!" katanya, "Ya, aku tak jadi pergi."

"Tapi sekarang, kalau kau batal pergi, kau bakal mendatangkan kecurigaan," Gouw Peng bilang. "Kau boleh pergi, asal kau bisa lihat selatan. Tidak ada urusan yang terlebih baik daripada terangkapnya jodoh mereka!"

Lip Jie manggut, walaupun hatinya tak keruan rasa.

Sebenarnya sudah sejak beberapa tahun Lip Jie menaruh hati pada Wan Jie, hanya sebegitu lama belum berani dia mengutarakannya, si nona elok dan manis, suka ia tertawa atau bersenyum, tetapi dalam semua tindakannya, ia bersungguh-sungguh, terutama selama ada urusan ayahnya, nona ini repot sekali, sikapnya keren. Sementara itu, Lip Jie pun dibikin bersangsi dengan tangannya, yang kutung sebelah, dia malu sendirinya, sampai omong pun ia tidak berani omong banyak sama si nona. Maka itu, mendengar perkataan Gouw Peng, dia jadi putus asa. Tapi ia bisa berpikir, "Wan Siangkong gagah, dengan sumoay dia sembabat sekali, dengan sumoay bisa pernahkan diri untuk hari kemudiannya, mesti aku bergirang untuknya!"

Karena ini, ia keluar dengan hati tetap dan tenang.

Dari dalam peti besi, Sin Cie keluarkan banyak rupa barang permata, ia membuat satu bungkusan besar, ia minta Lip Jie yang bawa, lalu bersama-sama Wan Jie, ia berangkat ke istana. Di muka pintu istana ia ucapkan tanda rahasia pada serdadu pengawal, kapan pengawal tahu, orang ada tetamunya Co Thaykam, ia menyambut dengan sangat hormat, ia pimpin tetamunya ke dalam, setelah mana, ia undurkan diri, sebab di sini ada satu thaykam muda yang gantikan ia antar Sin Cie ke dalam.

Sampai tiga kali Sin Cie dapatkan pergantian tiga thaykam, selama itu ia perhatikan jalanan atau bagian-bagian perdalaman istana yang ia lewati. Paling belakang ia diajak ke taman, di mana ada jalanan yang banyak tikungannya, terus sampai di sebuah kamar yang kecil tapi indah perlengkapannya. Di sini ia dipersilakan duduk dan disuguhkan teh wangi.

Kira-kira dua jam Sin Cie sudah duduk menantikan, Co Thaykam masih belum juga muncul. Selama itu, orang kebiri yang temani dia juga tidak omong suatu apa kecuali ia mengundang minum teh. Adalah selang lagi sekian lama, baru datang satu orang kebiri lain, umurnya kira-kira tiga-puluh tahun. Ia ini majukan beberapa pertanyaan, dalam kata-kata rahasia Sin Cie menyahuti menurut pengajaran Ang Seng Hay. Habis itu, thaykam manggut-manggut, lantas ia masuk pula ke dalam.

Selang tidak lama, thaykam itu balik lagi bersama satu orang kebiri yang usianya tinggi, tubuhnya gemuk, mukanya putih.

Sin Cie lantas menduga kepada Co Hoa Sun apabila ia lihat orang itu berpakaian mewah dan roman agung-agungan. Inilah orang kedua yang paling berpengaruh di dalam keraton di sampingnya kaisar.

"Inilah Co Kong-kong!" kata thaykam yang tadi

Sin Cie, bersama-sama Lip Jie dan Wan Jie, tekuk lutut untuk memberi hormat. Pemuda ini sedang membawa lelakon, ia mesti bawa sikap wajar.

"Jangan pakai banyak adat-peradatan!" kata Co Thaykam sambil tertawa. "Silakan duduk. Apakah Kiu Ong-ya banyak baik?"

"Ong-ya ada baik," sahut Sin Cie. "Ong-ya titahkan siauwjin menanyakan kewarasan Kong-kong."

Ketawa orang kebiri yang usianya tinggi itu.

"Beberapa potong tulang tua dari aku masih mendapat perhatiannya Ong-ya!" katanya sambil tertawa, tandanya ia puas sekali. "Ang Lauwko, kau datang dari tempat demikian jauh, entah kau bawa pesan apa dari Ong-ya?"

"Ong-ya hendak tanya Kong-kong kalau-kalau Kong-kong sudah mengatur sempurna rencana," kata Sin Cie, yang pakai namanya Ang Seng Hay.

"Junjungan kami bertabeat keras dan kukuh," jawab thaykam itu. "Beberapa kali telah aku kemukakan usul kepadanya tetapi ia bilang, meminjam angkatan perang untuk menindas pemberontak adalah pekerjaan yang banyak bahayanya kelak di belakang hari. Baginda cuma mengharapkan kedua negara bebaskan diri dari bahaya perang. Baginda bilang, kalau nanti kerajaan Beng sudah dapat tindas huru-hara, dia akan menghaturkan terima kasih pada Kiu Ong-ya."

Sebenarnya Sin Cie tidak tahu jelas hubungan di antara Kiu Ong-ya dari Boan-Ciu itu serta ini Thaykam Co Hoa Sun. Ang Seng Hay juga tidak tahu betul, sebab kedudukan Seng Hay rendah sekali, tetapi setelah ia bicara sama orang kebiri ini, ia meraba-raba, maka itu, goncanglah hatinya. Jadi orang bersekongkol dan Raja hendak dijerumuskan, untuk pinjam angkatan perang Boan, guna dipakai menindas huru-hara di dalam negeri. Terang sudah, Kiu Ong-ya itu, atau bangsa Boan, mengandung maksud tidak baik terhadap Tiong-goan, untuk itu, Co Thaykam yang dipakai sebagai pekakas. Itulah urusan penting sekali, yang bisa mencelakai negara.

Sin Cie tabah, ia bisa berpikir, akan tetapi karena urusan demikian besar, wajahnya berubah juga sedikit...!

Co Thaykam lihat air muka orang, akan tetapi ia menyangka lain. Ia menduga Ang Seng Hay tidak puas karena ia belum bekerja sempurna. Maka lekas-lekas ia kata: "Saudara Ang, jangan sibuk! Satu jalan tidak memberi hasil, masih ada lain jalan lagi!"

"Ya, ya, Kong-kong," Sin Cie bersandiwara. "Kong-kong cerdik, inilah Ong-ya ketahui, Ong-ya sangat mengaguminya."

Atas pujian itu, Co Thaykam tidak bilang suatu apa, ia cuma tertawa.

Kemudian Sin Cie bertkata: "Ong-ya menitahkan siauwjin membawa bingkisan yang tidak berharga, harap Kong-Kong suka terima." Ia lantas menunjuk ke bebokongnya Lip Jie, maka Wan Jie lantas turunkan bungkusan di belakang saudara seperguruan itu, untuk diletaki di atas meja untuk segera dibuka juga.

Matanya Co Hoa Sun bersinar, lantas ia berdiri diam. Ia biasa hidup di dalam keraton, ia pernah lihat banyak permata mulia, akan tetapi apa yang sekarang ia tampak di depan matanya, membikin ia kagum, karena ini terutama ada untuk ia sendiri. Serenceng dari seratus butir mutiara saja, yang besar, harganya sudah bukan main besarnya, belum batu pualam dan lainnya, yang banyak sekali. Yang aneh adalah singa-singaan dari batu huicui serta sebuah bola dari batu mirah merah.

Lantas orang kebiri ini periksa satu demi satu permata itu, ia seperti tidak hendak melepaskannya. Ia ingin kasi presen pada Sin Cie tapi ia sangsi akan memberikan yang mana, ia angkat yang satu, ia tukar dengan yang lainnya.

"Baik aku beri hadiah uang saja," akhirnya ia bilang.

"Kenapa Ong-ya menghadiahkan begini banyak barang?" katanya, berpura-pura.

Sin Cie pandai berpikir, tahu ia bagaimana harus mainkan peranan.

"Ong-ya juga tahu Baginda bijaksana dan urusan pinjam tentera ada sulit," katanya, "akan tetapi Ong-ya percaya betul pada Kong-kong dan mengharap Kong-kong berdaya sebisa-bisanya."

Bukan kepalang puasnya orang kebiri ini, ia tertawa girang.

"Pergi kamu beristirahat di luar," kemudian ia kata pada Lip Jie dan Wan Jie.

Sin Cie manggut, maka kedua kacung itu menurut ketika ada thaykam muda yang ajak mereka keluar.

Co Hoa Sun sendiri yang menutup pintu, setelah itu, ia cekal tangannya pemuda kita.

"Apakah kau tahu apa syaratnya untuk Ong-ya kerahkan angkatan perangnya?" ia tanya dengan pelahan.

"Aku hendak korek rahasia dari mulutnya, aku mesti buka rahasia padanya," pikir Sin Cie. "Kenapa aku tidak hendak ngaco-belo?"

Maka ia lantas jawab: "Kong-kong ada orang sendiri, tidak ada halangannya untuk aku beritahu, tetapi urusan ada sangat besar, maka urusan ini kecuali Ong-ya, cuma Kong-kong dan aku yang mengetahuinya."

Kedua matanya thaykam itu bersinar.

Sin Cie maju mendekati, ia kata dengan pelahan: "Aku pikir, walaupun Kiu Ong-ya hargakan aku, dia tetap ada orang asing, maka itu, biar bagaimana, aku mengharap bantuan Kong-kong juga, supaya kemudian aku bisa angkat kehormatan leluhurku..."

Co Hoa Sun bisa menduga hati orang.

"Tentu dia inginkan pangkat," pikirnya. Maka ia tertawa, ia kata: "Saudara Ang, kau percayakan saja urusanmu kepadaku!"

Sin Cie pikir, main sandiwara tidak boleh kepalang tanggung, maka terus ia berlutut, untuk haturkan terima kasihnya.

Melihat orang punya kelakuan itu, Co Hoa Sun pun pikir: "Ini orang sangat lincah, dia ada orang kepercayaan Kiu Ong-ya, aku mesti dapatkan dia sebagai orangku sendiri.

Maka ia lantas tanya: "Ang Lauwtee, kau ada asal mana?"

“Asal Kwie-tang," sahut Sin Cie.

"Jikalau nanti kita sudah berhasil, bagaimana jikalau aku angkat kau menjadi cong-peng dari Kwietang?" tanya dia.

"Kong-kong ada baik sekali," kata Sin Cie, yang kembali haturkan terima kasihnya. "Terhadap Kong-kong, tak dapat aku sembunyikan apa-apa. Pikirannya Kiu Ong-ya adalah..." Ia berhenti, akan celingukan ke kanan-kiri, baru ia melanjuti, dengan pelahan sekali: "Aku harap Kong-kong bisa pegang rahasia, jikalau tidak, jiwaku tidak bakal tertanggung pula..."

"Kau jangan takut, aku jamin padamu," kata thaykam itu.

Sin Cie unjuk roman berhati lega, tetapi ketika ia bicara lagi, ia tetap bicara dengan sangat pelahan. Ia kata: "Setelah angkatan perang Boan memasuki kota perbatasan, pasti sekali kaum pemberontak akan dapat ditindas. Syarat dari Kiu Ong-ya adalah supaya sri baginda kerajaan Beng hadiahkan dia semua daerah di Hoopak dan Shoatang ke arah utaranya, tapal batas negara adalah sungai Hong Hoo, agar selanjutnya kedua negara jadi negara-negara persaudaraan."

Pemuda kita sudah karang cerita akan tetapi Co Hoa Sun percaya, tidak ia sangsi sedikit juga, sebab kesatu ia terima suratnya To Jie Kun, kedua ia telah dibekali banyak barang permata. Ia tahu, bangsa Boan memangnya liehay.

Sekian lama orang kebiri ini berpikir, lalu ia manggut-manggut.

"Sekarang ini keamanan sedang sangat terganggu," katanya kemudian. "Turut kabar pagi ini, kota Tong-kwan sudah dipukul pecah pemberontak Lie Giam dan Peng-pou Siangsie Sun Toan Teng telah binasa berkorban, dengan kebinasaannya menteri perang itu, kerajaan Beng mempunyai panglima perang siapa lagi? Memang, kalau tidak sekarang Kiu Ong-ya bergerak, kota Pakkhia ini tentulah bakal diserbu pemberontak."

Diam-diam Sin Cie bergirang mendengar Tongkwan sudah jatuh dan Sun Toan Teng, kepala perang kesohor itu, telah terbinasa. Untuk sembunyikan wajahnya, yang bercahaya, ia lekas-lekas tunduk.

"Sebentar malam aku nanti majukan pula usulku kepada Sri Baginda," berkata Co Thaykam, "jikalau dia tetap berkukuh, maka untuk kebaikan negara aku nanti...."

Goncang hatinya Sin Cie mendengar perkataannya orang kebiri ini.

"Seharusnya Kong-kong menggunai segala daya dahulu barulah Kong-kong turun tangan," ia kata. Tapi keraslah sudah pikirannya Co Thaykam.

"Hum! Jikalau Sri Baginda tetap tidak berdaya menindas pemberontakan, terpaksa mesti diangkat satu raja baru!" kata dia. "Kerajaan Beng boleh musna, negara boleh terjatuh ke tangan lain orang, tidak apa, tetapi mustahil kita mesti antari jiwa karenanya?"

"Sebenarnya Kong-kong mempunyai daya apa?" Sin Cie tanya. "Tetap hatiku apabila aku bisa dapat mengetahui..."

"Sungai Hong Hoo menjadi tapal batas negara ada terlebih baik daripada kerajaan terjatuh ke dalam tangan pemberontak," kata thaykam itu, "Apabila dia tetap berkeras, apa mungkin..."

Tiba-tiba saja orang kebiri ini merandak. Ia dapat ingat: "Meskipun orang ini ada orang kepercayaannya Kiu Ong-ya, aku toh baru pertama kali ini bertemu padanya, apa boleh aku beber seluruh rahasia terhadapnya?"

Dengan tiba-tiba, ia tertawa.

"Ang Lauwtee," katanya, melanjuti, "dalam tempo tiga hari, aku nanti berikan kabar baik pada Kiu Ong-ya! Kau tunggu saja di sini..."

Thaykam ini lantas menepuk tangan, lantas muncul empat thaykam muda, mereka benahkan barang-barang permata, setelah mana dengan iringi thaykam tua itu, mereka kembali ke dalam.

Di lain pihak, empat thaykam kecil lainnya lantas pimpin Sin Cie serta dua kacungnya ke sebuah kamar di sebelah kiri di mana mereka lantas disuguhkan barang-barang santapan sore yang terpilih, karena cuaca pun sudah lantas mulai gelap.

Kemudian lagi, setelah memberi selamat malam, keempat thaykam kecil itu undurkan, diri.

"Co Thaykam ini sedang mengatur suatu rencana besar," Sin Cie beritahu kedua kawannya. "Urusan hebat sekali, sebab ini mengenai keselamatan negara. Kamu berdua tunggu di sini, aku hendak mencari rahasia sekalian untuk cari tahu apa Nona Hee ditahan di dalam istana atau bukan..."

"Aku turut kau, Wan Siangkong," Wan Jie meminta.

"Jangan, kau tunggu di sini bersama Lo Toako," Sin Cie bilang. "Ada kemungkinan Co Thaykam kurang percaya atau hatinya tak tenteram hingga ia bisa kirim orang akan melihat kita."

"Aku kira cukup aku berdiam sendiri di sini," menyatakan Lo Lip Jie. "Ada baiknya untuk Siangkong dapat tambahan satu tenaga."

Sin Cie lihat Wan Jie sangat bernapsu, ia merasa berat untuk menampik lebih jauh, maka ia manggut.

Setelah itu keduanya pergi ke kamar sebelah di mana berdiam empat thaykam muda yang tadi. Sebelum mereka tahu apa-apa, Sin Cie sudah totok yang dua hingga mereka jadi seperti gagu. Dua yang lain kaget, sampai mereka lompat turun dari pembaringan mereka, mereka mengawasi dengan buka mata lebar-lebar.

Wan Jie keluarkan tempuling ngo-bie-cie yang tajam-mengkilap, ia ancam itu di dada kedua thaykam ini.

"Asal kamu buka mulut, aku nanti kirim kamu menghadap Gui Tiong Hian." kata nona ini, suaranya pelahan tetapi berpengaruh. Ujung senjata itu mengenai baju sampai terus nempel di kulit dada.

Sin Cie bersenyum. Tak ia sangka, dalam keadaan seperti itu, si nona masih bisa guyon. Gui Tiong Hian adalah thaykam jahat di jaman Kaisar Hie Cong dan telah terbunuh mati.

Lantas Sin Cie buka bajunya kedua thaykam itu, untuk ia pakai berdua Wan Jie.

Untuk ia salin pakaian Wan Jie tiup lilin, hingga kamar jadi gelap.

Sin Cie totok thaykam yang satunya lagi, sedang yang keempat, ia cekal nadinya, lantas ia tuntun keluar.

"Jangan bicara!" ia ancam. "Kau bawa kami kepada Co Kong-kong."

Thaykam itu tidak berdaya, ia rasai separuh tubuhnya kaku, terpaksa ia tutup mulut, akan antar orang ke kamar thaykam kepala.

Mereka jalan lama juga, beberapa kali mereka nikung, baru mereka sampai di depan sebuah lauwteng besar.

"Co Kong-kong tinggal di sana," thaykam ini kasi tahu.

Sin Cie tidak tunggu orang bicara lebih jauh, segera ia menotok untuk bikin orang kebiri itu tak dapat berkutik, kemudian ia angkat tubuhnya thaykam itu, untuk diletaki di tempat lebat dengan pepohonan bunga. Kemudian bersama Wan Jie, dengan berindap-indap, ia maju ke lauwteng sekali.

Di tingkat kedua kelihatan api terang-benderang.

Selagi Sin Cie hendak tarik tangan Wan Jie, untuk diajak lompat naik ke atas lauwteng, ia dengar suara tindakan kaki di belakang mereka, lantas ia dengar suara orang menanya: "Apakah Co Kong-kong ada di atas lauwteng?"

"Aku pun baru sampai. Mungkin kong-kong ada di atas," ia jawab, seraya menoleh ke belakang, akan lihat lima orang lagi mendatangi, seorang yang jalan di depan menenteng sebuah lentera merah. Lima orang itu dandan sebagai orang-orang kebiri. Orang yang tadi menanya sedang mendumal. Mereka jalan dengan pelahan.

Sin Cie dan Wan Jie tunduk, supaya orang tak lihat muka mereka.

Di waktu melewati pintu, mukanya lima orang itu terkena sinar api berbalik dari daun pintu yang dicat mengkilap. Sin Cie yang awas dapat lihat muka mereka, ia terkejut. Lekas ia tarik ujung bajunya Wan Jie, untuk ayalkan tindakan.

"Itulah Tiang Pek Sam Eng," kemudian Sin Cie bisiki kawannya setelah lima orang itu mendaki tangga lauwteng.

Nona Ciauw kaget.

"Orang-orang jahat yang membunuh ayahku?" tanya dia. "Jadi mereka sudah jadi thaykam?"

"Sama sebagai kita, melainkan lagi menyamar," Sin Cie bilang. "Mari kita naik!"

Wan Jie ikuti kawannya ini.

Di lauwteng pertama ada thaykam yang menjaga tetapi mereka tidak merintangi, hingga Sin Cie berdua pun dapat lewat dengan merdeka.

Di lauwteng kedua, dua thaykam pengantar ajak Tiang Pek Sam Eng masuk dalam sebuah kamar.

Sin Cie ajak Wan Jie berhenti di luar sebuah pintu kamar itu, hingga mereka dengar orang kebiri yang bawa lentera kata: "Silakan tunggu di sini, Co Kong-kong akan lantas...." Selanjutnya, suara mereka tidak terdengar nyata. Habis itu, kedua thaykam itu turun dari lauwteng.

Lantas Sin Cie tarik tangan Nona Ciauw, untuk diajak masuk ke dalam kamar itu, ialah sebuah kamar tulis, karena di situ, sekitar tembok ada digantungi gambar-gambar dan pigura-pigura tulisan. Tiang Pek Sam Eng duduk di tengah ruangan. Dia orang ini lihat masuknya dua thaykam tetapi dia orang tidak menaruh perhatian.

Sin Cie dan Wan Jie sengaja jalan ke depan tiga jago dari Tiang Pek San itu, baru sekarang mereka angkat kepala, akan awasi kedua orang kebiri ini.

Wan Jie, sambil tertawa dingin, lantas menegur: "Su Siok-hu, Lie Siok-hu, ayahku undang kamu bertiga bersantap!..."

Tiga orang itu kaget apabila mereka kenali Nona Ciauw, malah Lie Kong mencelat berjingkrak.

"Bukan... bukankah ayahmu telah meninggal dunia?" tanyanya.

"Benar! Makanya ayah undang Siok-hu bertiga bersantap!" sahut Wan Jie.

Su Peng Bun kerutkan alis, dengan mendadak saja ia cabut goloknya hingga menerbitkan suara "Sret!"

Tetapi Sin Cie berlaku sangat gesit, begitu ia lompat, kedua tangannya telah cekuk masing-masing batang lehernya Peng Bun serta saudaranya, sedang kakinya mendupak bebokong dari Lie Kong, di betulan jalan darah hong-bwee-hiat.

Su Peng Kong mencoba memutar tubuh, ia jotos dadanya pemuda kita.

Sin Cie tidak perdulikan jotosan, ia hanya lebih perlukan rangkap kedua tangannya dengan kaget, hingga kepalanya dua saudara Su saling bentur dengan keras, hingga sekejab saja, keduanya tak sadar akan dirinya. Tubuhnya Lie Kong pun rubuh.

Wan Jie sangat kagum. Sebelum ia melihat tegas, Tiang Pek Sam Eng sudah kena dibikin tidak berdaya. Ia lantas keluarkan senjatanya, untuk tikam dadanya Su Peng Kong.

Sin Cie lekas tahan tangan orang.

"Lekas sembunyi, ada orang!" katanya berbisik.

Benar-benar di tangga terdengar tindakan kaki. Dengan sebat Sin Cie tengteng dua-dua Peng Bun dan Peng Kong, untuk letaki tubuhnya di belakang para-para buku, kemudian ia pondong tubuhnya Lie Kong, untuk bersama Wan Jie pun sembunyi di belakang para-para itu. Segera setelah itu, muncullah beberapa orang.

"Silakan Tuan-Tuan menanti di sini," kata satu orang. "Co Kong-kong akan segera keluar."

"Kau banyak cape!" terdengar satu suara wanita, satu suara yang merdu.

Dua-dua Sin Cie dan Wan Jie kenali suaranya Ho Tiat Chiu, pemimpin dari Ngo Tok Kauw. Berdua mereka saling memegang tangan dengan keras, tandanya mereka sama-sama kenali orang she Ho itu. Sebentar lagi datang pula beberapa orang, mereka ini lantas bicara sama pihak Ho Tiat Chiu.

Kembali Sin Cie terkejut. "Kiranya empat jago tua Keluarga Oen dari Cio Liang Pay dari Kie-Ciu pun datang kemari...." pikirnya. "Rupanya merekalah itu empat orang tua yang tadi malam Wan Jie lihat membantu pihak Ho Tiat Chiu, pantas Tong Hian beramai tak sanggup lawan mereka. Apa perlunya mereka datang kemari?"

Baru habis mereka itu bicara, untuk belajar kenal juga, lantas terdengar datangnya Co Hoa Sun bersama beberapa orang lainnya lagi - orang-orang Kang-ouw, sebagaimana Sin Cie ketahui ketika ia dengar Co Thaykam perkenalkan mereka dengan rombongannya Ho Tiat Chiu dan empat jago dari Cio Liang Pay, di antaranya ada Lu Jie Sianseng.

"Dengan anggauta keluarganya tidak lengkap," pikir Sin Cie, "Keluarga Oen tidak lagi bisa berkelahi dengan gunai Ngo Heng Tin. Akan tetapi di sini ada rombongannya Ho Tiat Chiu, seorang diri tidaklah sanggup aku melayani mereka...."

"Eh, mana Tiang Pek Sam Eng?" tiba-tiba pertanyaan Co Hoa Sun.

"Tuan Su bertiga sudah datang," sahut satu thaykam, "entah mereka pergi ke mana...."

"Coba cari," Co Thaykam menitah. Sin Cie lantas totok tiga jago dari Tiang Pek San, maka umpama kata mereka sadar, tak dapat mereka buka mulut mereka.

Beberapa thaykam, yang diperintah cari Tiang Pek Sam Eng, balik dengan sia-sia, katanya tak dapat mereka cari tiga orang itu. "Sudahlah, tak usah kita tunggui mereka," kata Co Thaykam. "Mereka sendiri yang sia-siakan ketika baik ini, tak dapat mereka sesalkan kita."

Lantas terdengar suara berisik dari digesernya kursi-kursi, tandanya orang mulai duduk berkumpul. Co Hoa Sun batuk-batuk dua kali, seperti ia hendak legakan tenggorokannya. Sin Cie pasang kuping. Ia menduga orang hendak bicarakan urusan rahasia.

"Pemberontak Lie Giam sudah pukul pecah kota Tong-kwan, Peng-pou Siang-sie Sun Toan Teng telah binasa di medan perang," demikian Co Thaykam mulai bicara.

Beberapa suara terdengar sebagai gerutuan, rupanya ada orang-orang yang kaget mendengar berita perang itu.

"Maka itu," Co Thaykam melanjuti, "jikalau kita tidak lekas bertindak, nanti keburu pemberontak merangsak ke Pakkhia ini. Aku telah pikir, apabila tetap Sri Baginda tidak sudi pinjam bantuan tentara asing, guna tindas huru-hara, baiklah kita angkat satu raja lain untuk melindungi Kerajaan Beng..."

"Jikalau begitu, Seng ong-ya yang harus diangkat!" kata Ho Tiat Chiu sambil tertawa.

"Betul!" Co Thaykam membenarkan. "Maka itu aku hendak andali bantuan Tuan-Tuan untuk tunjang raja yang baru. Mengenai ini, aku yang akan bertanggung jawab, akan tetapi hasilnya, kita beramai yang icipi bersama-sama!"

Nyata semua hadirin setuju sama pikirannya orang kebiri itu, maka tanpa ambil tempo lagi, mereka itu lantas rencanakan pembagian tugas.

"Lagi satu jam," kata kemudian Co Thaykam dengan titah-titahnya, "aku minta keempat Loosianseng dari Keluarga Oen nanti bawa saudara-saudara yang boleh dipercaya untuk pergi ke keraton, akan sembunyi di sekitar kamar raja, untuk cegah orang luar memasuki keraton. Aku minta Ho Kauw-cu beramai sembunyi di luar kamar tulis. Nanti Seng Ong sendiri yang menghadap Raja, untuk beri nasihatnya yang terakhir."

"Ciu Tayciangkun berkuasa atas tentara," tanya Lu Jie Sianseng; "dia setia kepada Raja; perlu atau tidak untuk lebih dulu singkirkan dia?"

Thanks for reading PEDANG ULAR MAS 34

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar