Jilid 35
Co Hoa Sun tertawa.
"Ciu Tayciangkun itu bersama Hok Siangsie," katanya; "dengan sedikit tipu-dayaku, sudah aku singkirkan! Ho Kauw-cu, cobalah kau berikan penuturanmu...."
Ho Tiat Chiu tertawa.
"Siang-siang telah diketahui baik-baik oleh Co Kong-kong, apabila Seng Ong hendak ditunjang menaiki singgasana kerajaan, Ciu Tayciangkun dan Hok Siang-sie adalah rintangan-rintangan paling besar," berkata dia; "maka itu siauw-moay telah diberi tugas untuk melumpuhkan mereka. Begitulah selama beberapa hari, siauw-moay sudah perintah orang pergi curi uang negara yang menjadi tanggung-jawab mereka itu. Tentu saja itu adalah kejadian yang paling tidak disukai Sri Baginda. Kabarnya tadi Sri Baginda sudah keluarkan perintah memecat dan menangkap kedua menteri itu, untuk perkaranya diperiksa lebih jauh."
Orang banyak itu tertawa riuh, luar biasa kegirangan mereka.
Untuk Sin Cie, baru sekarang ia ketahui sepak-terjangnya si bocah-bocah serba merah, jadi mereka itu mencuri bukan karena kemaruk uang, pada itu ada rahasia di belakang layar. Itulah daya busuk untuk mencelakai negara. Tidak heran kalau Kaisar Cong Ceng kena dikelabui, sebab tindak-tanduk pengkhianat ada licin sekali.
"Nah, sekarang silakan Tuan-Tuan pergi beristirahat," kemudian kata Co Thaykam, "sebentar lagi aku nanti mengundang berkumpul pula."
Lu Jie Sianseng bersama empat jago Keluarga Oen dan lainnya lantas berbangkit, untuk undurkan diri.
Ho Tiat Chiu jalan paling belakang.
"Heran, kenapa Tiang Pek Sam Eng tidak hadir!" kata dia sesampainya di pintu. "Mungkinkah mereka pergi ke istana untuk membocorkan rahasia?"
"Ho Kauw-cu pandai berpikir," kata Co Thaykam. "Tapi mereka itu ada orang-orang kepercayaan Kiu Ong-ya, malah paling belakang ini mereka sudah mendirikan jasa besar sekali, untuk mereka berkhianat terhadap Kiu Ong-ya, rasanya tak mungkin...."
"Apakah jasa besarnya mereka itu?" Tiat Chiu tanya.
"Mereka telah berhasil mencuri pisau-pusaka dari seorang she Bin dari Bu Tong Pay," sahut Co Hoa Sun, "dengan gunai pisau-pusaka itu, mereka sudah pergi bunuh Ciauw Kong Lee, ketua dari Kim Liong Pang. Karena ini pastilah kaum Rimba Persilatan di Kanglam bakal saling bunuh sendirinya, hingga kalau di belakang hari kita menyingkir ke Kanglam, keselamatan kita jadi terlebih terjamin..."
Wan Jie telah percaya sembilan bahagian bahwa pembunuh ayahnya mesti ada Tiang Pek Sam Eng, maka sekarang, kepercayaannya itu jadi terpenuhi seluruhnya.
Sin Cie kuatir nona ini nanti tak dapat kendalikan diri, dengan lancang ia ulur tangannya, akan bekap mulutnya si nona. Pemuda ini kuatir beradanya mereka di dalam kamar itu nanti diketahui Ho Tiat Chiu, sebab ketua Ngo Tok Kauw ini ada sangat liehay, asal orang berkerisik sedikit saja, mungkin dia curiga.
Terdengarlah tawanya Ho Tiat Chiu.
"Kong-kong sangat cerdik," memuji pemimpin Ngo Tok Kauw itu kepada thaykam. "Kong-kong berdiam di dalam keraton tetapi mengenai sepak-terjang kaum Kang-ouw, Kong-kong ketahuinya dengan jelas."
Co Hoa Sun tertawa puas.
"Tentang segala apa di dalam istana, aku ketahui banyak sekali," katanya. "Di dalam istana, tidak ada satu orang yang tidak kemaruk sama harta dan pangkat, maka siapakah yang bicara tentang pri-kemanusiaan dan kehormatan? Lain adalah sahabat-sahabat kaum Kang-ouw! Mereka ini, satu dibilang satu, dua dibilang dua. Begitulah dalam usahaku yang besar ini, aku tidak berdamai sama menteri yang mana juga, aku hanya justru berurusan sama kamu semua, untuk mohon bantuan kamu...."
Begitulah mereka keluar sambil bicara.
Tegang sekali perasaannya Sin Cie. Urusan ada sangat penting. Ia tidak cuma menghadapi urusan golongan Kang-ouw saja, sekarang ia menghadapi ancaman untuk negara. Apa ia mesti perbuat? Dalam sesaat itu, tak dapat ia lantas memikir daya yang sempurna.
Wan Jie lihat orang sedang berpikir keras.
"Apa mesti diperbuat terhadap tiga jahanam ini?" tanyanya. "Ingin aku segera membinasakan mereka!"
Nona ini bicara pelahan sekali.
"Baiklah," sahut Sin Cie. "Tapi jangan keja mereka keluarkan darah, nanti kita kepergok."
Ia angkat kepalanya Su Peng Kong, akan tunjuki kedua pilingannya.
"Apakah kau mengerti tipu-pukulan Ciong-kouw-cee-beng?" tanyanya.
"Ciong-kouw-cee-beng" berarti "Lonceng dan tambur berbunyi dengan berbareng".
Ciauw Wan Jie manggut.
Meski demikian, Sin Cie toh petakan cara menyerangnya.
"Ya, begitu," katanya pula, setelah si nona beraksi.
Wan Jie lakukan serangannya hingga ia perdengarkan juga sedikit suara, dengan begitu, tanpa bersuara lagi, binasalah orang she Su itu. Maka sehabis itu, dengan tipu-pukulan yang serupa, Wan Jie bikin tamat lelakon hidupnya Su Peng Bun dan Lie Kong.
Puas hatinya nona ini karena telah berhasil mencari balas dengan tangannya sendiri, dengan tiba-tiba saja ia terharu, sehingga tanpa likat lagi, ia mendekam di pundaknya Sin Cie untuk menangis dengan menahan suara.
"Sekarang mari kita lekas keluar," Sin Cie mengajak. "Mari kita lihat ke mana perginya Ho Tiat Chiu."
Wan Jie angkat kepalanya, dan tangannya juga, dari pundaknya si pemuda, untuk susuti air matanya, lalu tanpa bilang suatu apa, ia ikut pemuda itu keluar dari kamar tulis itu. Masih mereka dapat lihat Co Thaykam dan ketua Ngo Tok Kauw lagi menikung di sebuah pengkolan yang bercabang dua di mana keduanya berpisah, sedang dua thaykam muda, yang membawa lentera, jalan terus di muka Ho Tiat Chiu beramai, menuju ke barat.
Sin Cie berdua Wan Jie terus mengikuti dari kejauhan. Mereka masih tetap dandan sebagai orang kebiri, hati mereka tenang, sebab mereka tidak kuatir nanti ada yang pergoki, tak takut mereka ada yang kenali andaikata mereka berpapasan dengan lain-lain orang kebiri.
Ho Tiat Chiu jalan terus melewati beberapa pekarangan, sampai ia masuk dalam sebuah rumah.
Dengan berani Sin Cie ajak Wan Jie turut masuk ke dalam rumah itu. Begitu lekas mereka menindak di pintu, mereka segera dengar cacian nyaring dari Ceng Ceng, yang keluar dari sebuah kamar sebelah timur. Nona itu asyik mencaci-maki Ngo Tok Kauw dan Ho Tiat Chiu.
Tanpa sangsi lagi, Sin Cie memburu ke kamar timur itu, langsung ia nerobos masuk, hingga ia tampak dua thaykam muda sedang layani Ceng Ceng masak obat, nona itu sendiri sedang rebah di pembaringan.
Dengan totokannya yang liehay, Sin Cie bikin kedua thaykam muda mati daya.
Segera Ceng Ceng kenali pemuda itu.
"Engko!" dia memanggil.

Sin Cie menghampirkan ke pembaringan.
"Bagaimana dengan lukamu?" ia tanya.
"Tidak seberapa," sahut si nona. "Oh, kau pun datang?" tanyanya, kapan ia lihat Wan Jie di belakang si anak muda.
Nona Ciauw manggut.
"Apakah lukamu tidak berbahaya, Nona Hee?" ia tanya.
"Hum!" bersuara Ceng Ceng, yang tidak menjawab. Tapi pada Sin Cie, ia bilang: "Engko, kalau sebentar Ho Tiat Chiu datang, kau hajar padanya!"
Sin Cie sendiri memikir lain.
"Mereka itu sedang bekerja, untuk sementara baik aku sembunyi dulu...." Maka ia lekas kata pada si nona: "Adik Ceng, sekarang tak dapat aku turun tangan terhadapnya. Baik kau pancing dia supaya dia jelaskan apa perlunya dia culik kau dan membawanya ke istana."
"Apa, istana?" Ceng Ceng tanya.
"Oh, jadinya kau masih belum tahu kau sekarang berada di dalam istana?" Sin Cie balik tanya.
Justru itu ada terdengar suara tindakan kaki di luar, karena di situ tidak ada tempat sembunyi, Sin Cie sambar kedua thaykam, untuk dibleseki ke dalam lemari, ia sendiri, dengan tarik tangannya Wan Jie, segera nyelusup masuk ke kolong pembaringan.
Selagi Ceng Ceng melengak, Ho Tiat Chiu kelihatan bertindak masuk, wajahnya ramai dengan senyuman. Di belakangnya ada si uwah jelek.
"Banyak baik, Hee Kongcu?" tanya dia sambil tertawa. "Eh, mana orang-orang yang layani kau? Pasti mereka malas!"
"Aku yang suruh mereka pergi!" jawab Ceng Ceng. "Siapa kesudian dirawati mereka?"
Tiat Chiu tak ambil mumat senggapan itu, ia masih tertawa.
"Adat bocah!" katanya, sambil ia bertindak menghampirkan obat. "Eh, obat sudah matang!"
Ia ambil sepotong kain kecil yang putih meletak seperti salju, ia pakai itu untuk alaskan cangkir perak, lalu ia tuangkan obatnya ke dalam cangkir itu. Habis itu, ia singkirkan saringan itu.
"Inilah obat paling manjur untuk luka-luka," kata dia sambil tertawa pula. "Jangan kau kuatir, umpama obat ini dicampuri racun, cangkirnya bakal berubah menjadi hitam."
Ceng Ceng awasi pemimpin Ngo Tok Kauw ini, hatinya bekerja keras. Ia girang pertama kali melihat Sin Cie, menyusul itu hatinya adem karena Wan Jie ada bersama si anak muda, apapula kapan ia tampak Sin Cie tarik tangan si nona, untuk diajak masuk ke bawah pembaringan. Sekarang ia hadapi Ho Tiat Chiu, ia dapat alasan untuk udal kemendongkolannya.
"Kamu main muslihat, apa kamu kira aku tidak tahu?" demikian katanya.
"Muslihat apa sih?" tanya Tiat Chiu sambil terus tertawa.
"Kamu permainkan aku!" kata Ceng Ceng. "Kamu sedang perhina aku yang bersengsara karena tidak punya ayah dan ibu! Kau tidak punya liangsim, setan...."
Sin Cie dengar itu. "Dia caci siapa itu?" ia menduga-duga. Wan Jie sebaliknya masgul. Ia merasa, Ceng Ceng sedang menyindir terhadapnya.
Karena masgul, ia sampai menggigil sendirinya. Sin Cie rasai gerakan tubuh si nona, tiba-tiba ia mengerti maksudnya Ceng Ceng. Karena ini, ia jadi menyesal untuk Nona Ciauw. Ia pun tak dapat bicara, untuk menghibur. Maka dengan pelahan-lahan, ia tepuk-tepuk pundak si nona.
"Ah, jangan kau bawa adat!" kata Tiat Chiu sambil tertawa. Ia masih tak tahu hatinya Ceng Ceng. "Sebentar lagi aku akan antar kau pulang."
"Siapa kesudian kau yang antarkan?" Ceng Ceng membentak. "Apa kau kira aku sendiri tak kenali jalanan?"
Tiat Chiu terus tertawa.
"Eh, bocah she Hee!" campur bicara Ho Ang Yo, dengan suaranya yang bengis, dengan romannya yang menyeramkan. "Kau telah terjatuh ke dalam tangan kami, apakah kau kira Ho Ang Yo bisa antap kau pulang secara baik-baik? Di mana adanya ayahmu? Di mana adanya itu perempuan hina yang melahirkanmu?"
Meluap kemurkaannya Ceng Ceng karena orang perhina ibunya, ia sambar cawan obat di atas meja kecil, dengan itu ia sambit wanita jelek itu. Ho Ang Yo berkelit, maka cawan itu, berikut obatnya, mengenai tembok, cawannya hancur, obatnya berhamburan. Masih ada sedikit air obat, yang muncrat ke mukanya ini uwah, hingga ia jadi gusar.
"Anak celaka, kau tak inginkan lagi jiwamu?" ia membentak.
Sin Cie di kolong pembaringan dengar semua pembicaraan itu, ia pun bisa lihat gerak-geriknya Ho Ang Yo, maka ia sudah pikir, asal wanita itu lompat kepada Ceng Ceng, ia hendak membarengi hajar kaki orang. Sebelum si wanita tua lompat, satu bayangan putih telah berkelebat mendahulukan ia, maka kesudahannya, Ho Tiat Chiu ada di antara ia dan pembaringan.
"Bibi," katanya nona ini, "aku telah janjikan si orang she Wan akan antarkan dia ini pulang, tak dapat aku membikin hilang kepercayaan kita."
Ho Ang Yo tertawa dingin. "Untuk apakah itu?" tanyanya.
"Banyak orang kita telah ditotok dia, tanpa dia datang sendiri, mereka tak dapat ditolong," Tiat Chiu terangkan.
Ang Yo berpikir.
"Baik!" katanya. "Kita tidak dapat bikin dia mampus, tapi kita mesti kasi dia merasai kesengsaraan! He, bocah she Hee, kau lihat aku, aku cantik atau tidak?"
Ceng Ceng perdengarkan suara kaget, di matanya, roman wanita ini jadi semakin jelek, sedang muka itu dibawa semakin dekat kepadanya, hingga ia bergidik.
"Bibi, buat apa takut-takuti dia?" kata Tiat Chiu. Suaranya pemimpin ini menyatakan hatinya tidak puas.
"Hm!" bersuara si jelek itu. "Ya, bocah ini cakap sekali, kau hendak lindungi dia!..."
"Apa kau bilang?" Mendadak Ho Tiat Chiu jadi gusar.
"Apakah kau sangka aku tak tahu hatinya satu pemudi?" Ho Ang Yo baliki. "Aku juga pernah muda! Kau lihat, inilah aku di masa dahulu!"
Ia merogo ke dalam sakunya di mana segera terdengar suara berkeresekan, entah barang apa itu yang dia rogo. Dua-dua Tiat Chiu dan Ceng Ceng kaget, keduanya berkuatir. "Kamu merasa aneh, bukankah?" kata Ho Ang Yo sambil tertawa, tertawa meringis. "Haha-ha! Ha-ha-ha! Aku pun dulu pernah cantik!"
Ia rogo keluar tangannya, ia lemparkan segulung kain kecil, yang ternyata ada gambar sulaman, gambar mana lantas terbeber sendirinya di atas lantai. Dari kolong pembaringan, Sin Cie bisa lihat sulaman itu, yang berpetakan satu nona umur kurang lebih dua-puluh tahun, kedua pipinya merah-dadu, tetapi dia dandan sebagai seorang suku-bangsa Ie, dan kepalanya pun digubat dengan pelangi, romannya sangat cantik, potongan mukanya mirip sama potongan mukanya si uwah jelek yang menyeramkan ini.
Segera terdengar pula suaranya Ho Ang Yo. "Kenapa sekarang aku jadi begini jelek? Kenapa? Kenapa?" tanyanya berulang-ulang. "Itulah disebabkan ayahmu yang tidak punyakan pri-kemanusiaan!"
"Ah......" Ceng Ceng bersuara tertahan. "Ada hubungan apa di antara ayahku dengan kau? Ayah ada seorang baik, tidak nanti dia perlakukan orang secara tak selayaknya....."
Ho Ang Yo jadi sangat gusar. "Hai, Hantu cilik, ketika itu kau masih belum terlahir!" serunya. "Kau tahu apa? Jikalau dia punya perasaan pri-kemanusiaan, tidak nanti dia berlaku tak pantas kepadaku! Bagaimana bisa aku jadi begini? Bagaimana kemudian bisa terlahir kau, Hantu cilik?"
"Makin lama kau bicara, kau makin aneh!" kata Ceng Ceng. "Kamu kaum Ngo Tok Kauw berada di Inlam, ayah dan ibuku menikah di Ciatkang - terpisahnya tempat ada ribuan lie, maka, ada apa hubungannya dengan kau?"
Ho Ang Yo jadi semakin gusar, hingga ia ayun tangannya ke arah mukanya Ceng Ceng. Dengan tangan kanannya, Ho Tiat Chiu mencegah.
"Jangan gusar, Bibi." Kata nona ini. "Bicaralah dengan sabar." Ang Yo menjadi sengit.
"Ayah kandungmu mati mendongkol karena Kim Coa Long-kun!" serunya. "Kau sekarang lindungi dia ini! Apakah kau tidak malu?"
"Siapakah yang lindungi dia?" seru Ho Tiat Chiu, yang pun menjadi murka. "Jikalau kau bikin celaka dia ini, itu artinya mencelakai juga jiwanya empat-puluh orang anggauta kita! Kau tahu tidak? Aku pandang kau sebagai orang dari tingkatan lebih tua, karena aku memandang kau, aku mengalah, jikalau kau langgar aturan kita, bisa aku tak memberi keringanan kepadamu!"
Melihat orang tonjolkan diri sebagai pemimpin, Ho Ang Yo jadi sangat mendongkol, akan tetapi ia toh kuncup, maka juga ia jatuhkan diri di kursi dengan roman lesu sekali, dengan kedua tangannya, ia pegangi kepalanya. Lama ia berdiam secara demikian, ketika kemudian ia bicara pula, ia bisa berlaku tenang.
"Ibumu?" tanyanya kepada Ceng Ceng. "Ibumu pasti elok dan manis luar biasa maka juga ia bisa bikin tergila-gila pada ayahmu, bukankah?" Ia lantas menghela napas. "Beberapa kali aku telah bermimpi, dalam impian aku telah lihat ibumu, akan tetapi mengenai roman mukanya, aku tidak dapat melihat jelas, cuma samar-samar..... Benar-benar ingin aku melihat dia...."
"Ibu telah menutup mata," Ceng Ceng kasi tahu.
"Apa, mati?" Ho Ang Yo terkejut.
"Ya," Ceng Ceng pastikan.
Lantas suaranya si uwah jelek jadi sedih, tetapi tajam.
"Aku telah desak dia untuk kasi tahu di mana adanya ibumu, biar bagaimana, tak mau dia menyebutkannya," katanya pula. "Kiranya ibumu itu sudah menutup mata. Baik, baik, sakit hatiku ini tak bakal terbalas untuk selama-lamanya..... Sekarang aku bebaskan kau, Binatang, tetapi mesti ada harinya yang kau bakal terjatuh pula ke dalam tanganku! Bukankah ibumu itu mirip dengan kau?"
Oleh karena orang berlaku kasar begitu, Ceng Ceng balikkan tubuh, untuk madap ke dalam. Tak mau ia meladeninya.
Ho Ang Yo lantas berpaling kepada pemimpinnya.
"Kauw-cu," katanya, "si orang she Wan itu mesti terlebih dahulu tolong orang-orang kita, baru bocah ini boleh dilepas pulang!"
"Itulah pasti!" Ho Tiat Chiu jawab.
Ho Ang Yo lantas membungkuk, hingga dua-dua Sin Cie dan Wan Jie jadi kaget sekali, tapi sukur dia tidak mendapat lihat, dia cuma gunai jeriji tangannya akan mencoret beberapa huruf di atas lantai.
Sin Cie lihat orang menulis enam buah huruf yang artinya: "Bisa kawa-kawa yang bekerjanya selang tiga tahun kemudian."
Heran pemuda ini.
"Apakah artinya ini?" tanya ia kepada dirinya sendiri, berulang-ulang. Kemudian: "Ah, aku mengerti sekarang!" Dan ia bergidik sendirinya. "Sebelum dia merdekakan Ceng Ceng, dia hendak racuni dulu dengan bisa kawa-kawa yang bekerjanya nanti sesudah lewat tiga tahun, tentu itu waktu, tidak ada obat untuk punahkan bisa itu, secara begitu, ia jadi telah bisa balas sakit hatinya. Ha, inilah hebat! Kenapa dia begini telengas? Sukur aku dapat tahu, jikalau tidak...."
Tanpa merasa, pemuda ini keluarkan keringat dingin.
Habis itu, Ho Ang Yo bertindak keluar, selagi melangkah di pintu, rupanya dia bersangsi, maka ia membaliki tubuh.
"Apakah kau benar-benar dengar perkataanku?" dia tegasi Ho Tiat Chiu.
"Tentu," sahut pemimpin itu. "Cuma... tak dapat kita hilangi kepercayaan kita terhadap orang lain...."
Suaranya Ho Ang Yo menunjuki kemurkaan ketika ia bilang: "Aku tahu, kau jatuh hati terhadapnya! Teranglah kau tidak kandung niatan akan membalaskan sakit hatinya ayahmu yang telah menutup mata!...."
Dia lantas kembali, untuk jatuhkan diri di kursi, mungkin untuk tenangkan diri, mungkin guna pikirkan daya-upaya lain akan bikin celaka Ceng Ceng.
Maka itu, kamar jadi sunyi sekali.
Sin Cie berdua Wan Jie menahan napas. Memang sejak tadi, mereka tidak berani berkutik sama sekali.
Dalam kesunyian itu, mendadak Ceng Ceng berseru: "Kamu tidak mau keluar, kamu hendak tunggu apa?" Ia pun tumbuk pembaringan.
Sin Cie kaget, ia menyangka jelek, hampir ia munculkan diri, sukur Wan Jie tarik dia.
Lalu terdengar suaranya Ho Tiat Chiu, dengan pelahan: "Sekarang kau boleh tenangi diri dan tidur, sebentar setelah terang tanah, aku nanti antar kau pulang...."
Ceng Ceng bersuara "Hm!" seraya kembali tumbuki pembaringan, hingga debu di kayu pembaringan itu meluruk ke kepala, ke leher dan tubuhnya dua orang yang lagi mendekam sembunyi. Hampir Sin Cie berbangkis, baiknya ia bisa cepat bernapas dengan beraturan.
Sebenarnya Ceng Ceng habis sabar, di dalam hatinya, ia kata: "Ho Tiat Chiu dan Ho Ang Yo bukan tandingan kau, kenapa kau masih sembunyi saja? Sebenarnya apa yang kamu berdua pikir?"
Ia jadi pikirkan Sin Cie dan Wan Jie. Ia tidak tahu, Sin Cie mempunyai pikiran lain. Tanggung jawab pemuda ini sekarang ditambah sama soal keselamatannya negara.
Kalau Ceng Ceng habis sabar, Ho Ang Yo adalah mendongkol sangat.
"Kau ada kauwcu!" katanya pada Tiat Chiu, "semua urusan Ngo Tok Kauw berada dalam kekuasaanmu, malah dengan gaetan emas Kim-kauw diwariskan kepadamu, kau berhak untuk menghukum mati atau menghidupkan orang! Namun walaupun demikian, ingin aku bicara padamu! Memang partai kita tidak melarang soal mengendalikan napsu-birahi, akan tetapi pengalamanku, apakah pengalamanku tidak cukup hebat untuk menyadarkan kepadamu?"
Ditegur begitu macam, Ho Tiat Chiu tertawa.
"Bibi menemui lelaki yang tidak ingat budi," katanya, "lantas Bibi samakan, semua lelaki di kolong langit tidak berbudi juga...."
"Pasti ada orang-orang lelaki yang baik hatinya," sahut Ho Ang Yo. "Tetapi kau tengoklah ini puteranya Kim Coa Long-kun! Lihat, dia beroman sangat mirip dengan ayahnya, tidak ada bedanya, maka siapa bisa bilang tabeatnya juga tidak akan sama dengan tabeat ayahnya?"
"Jadinya ayahnya sama cakapnya dengan puteranya ini?" kata Ho Tiat Chiu, "Pantaslah Bibi jadi demikian jatuh hati terhadap ayahnya itu!"
Sampai sebegitu jauh, Sin Cie dapat perasaan Ho Tiat Chiu pun ketarik hati terhadap Ceng Ceng. Ia anggap ini ada lucu, sebab sebagai seorang kosen dan cerdik, kenapa pemimpin Ngo Tok Kauw ini tidak dapat bedakan kelaminnya Nona Hee itu.
"Kau kukuh, kau tetap tak sadar akan dirimu," kata Ho Ang Yo kemudian sambil menghela napas. "Aku nanti tuturkan hal-ichwalku kepadamu, agar selanjutnya, kebaikan atau kecelakaan, semua terserah kepadamu sendiri...."
"Memang aku paling gemar dengar kau dongeng, Bibi," kata Tiat Chiu, "sekarang kau hendak bercerita di depan ini anak muda, apakah itu tidak ada halangannya untuk rahasiamu itu?"
"Aku sengaja hendak bercerita supaya dia tahu perbuatan busuk dari ayahnya, supaya kalau kemudian dia mati, dia akan mati puas!" si uwah jelek bilang.
Ceng Ceng berteriak bahna gusar.
"Kau karang cerita yang bukan-bukan!" dia berseru. "Ayahku ada satu enghiong terbesar, satu laki-laki sejati, mana sudi dia berbuat demikian busuk? Tidak, aku tidak sudi dengar, aku tidak sudi dengar!"
Ho Tiat Chiu tertawa, agaknya ia girang sekali.
"Nah, kau dengar, Bibi," katanya. "Dia tidak suka dengar ceritamu. Bagaimana?"
"Aku hendak bercerita untukmu," sahut sang bibi. "Dia suka dengar atau tidak, masa bodoh!"
Ceng Ceng tutupi kepalanya dengan selimut, akan tetapi kemudian, ia kalah dengan perasaannya ingin tahu, ia singkap juga sedikit ujung selimutnya, untuk mendengari Ho Ang Yo tuturkan lelakonnya dengan Kim Coa Long-kun.
"Inilah kejadian pada dua-puluh tahun dulu," demikian si uwah jelek dengan penuturannya. "Ketika itu, usiaku berimbang dengan usiamu sekarang. Dan ayahmu, dia baru saja menggantikan memangku kedudukan sebagai kauwcu baru. Dia telah angkat aku menjadi chungcu, ketua, dari dusun Ban Biauw San-chung, tugasku adalah menjaga kita-punya guha ular. Pada suatu hari selagi senggang, aku pergi ke bukit belakang, untuk berburu burung, untuk dibuat main....."
"Aneh, Bibi," Tiat Chiu memotong. "Kau menjadi chungcu tapi toh kau sempat menangkap burung...."
"Hum," bersuara sang bibi. "Seperti aku telah bilang, ketika itu usiaku masih muda, aku mirip dengan bocah saja. Aku berhasil menangkap dua ekor burung ikan-ikanan, bukan main girangku. Dalam perjalanan pulang, aku lewat di guha ular kita. Tiba-tiba saja aku dengar suara 'ser! ser!' yang datangnya dari arah pepohonan. Aku tahu itulah suara ular, mestinya ada ular yang minggat, maka aku lantas susul. Benar-benar aku dapati seekor ular belang. Aku heran! Biasanya semua ular kita jinak, maka tak mengerti aku, kenapa ini seekor bolehnya buron. Aku tidak lantas menangkap, diam-diam aku menguntit. Ular itu menggeleser ke belakang pepohonan lebat, ia menghampirkan ke arah satu orang. Kapan aku lihat orang itu, aku terkejut."
"Kenapa, Bibi?" Tiat Chiu tanya.
Ho Ang Yo kertak giginya.
"Itulah si manusia celaka!" katanya. "Dia ada satu hantu bagiku!"
"Bibi maksudkan Kim Coa Long-kun?" sang kauwcu tegaskan.
"Pada ketika itu, aku belum tahu siapa dia," sahut sang bibi. "Aku cuma lihat dia bermuka putih dan cakap, tubuhnya tinggi. Dia sedang pegangi sebatang hio wangi, yang ada apinya. Jadinya ular itu dapat cium bau wnagi itu dan dia pergi menghampirkannya. Anak muda itu lihat aku, ia pandang aku sambil bersenyum."
Ho Tiat Chiu tertawa.
"Ketika itu Bibi ada elok sekali, dia lihat Bibi, pasti dia jadi tersengsam!...."
"Fui!" sang bibi berludah. "Aku sedang cerita dari hal benar, siapa guyon-guyon denganmu?" Ia terus melanjuti: "Aku lihat dia seorang asing, aku kuatir dia nanti dipagut ular itu, maka aku lantas teriaki padanya: "Hai, awas! Ular itu berbisa, jangan kau ganggu dia! Nanti aku tangkap."
"Mendengar aku, orang itu tertawa. Dari bebokongnya, dia kasi turun sebuah peti kayu. Di ujung peti kayu itu dicangcang seekor kodok, kodok itu berloncatan tetapi tidak dapat loloskan diri. Tentu saja, menampak kodok itu, ular kita hendak menerkamnya, untuk dimakannya. Dengan merayap pelahan, dia dekati peti kayu itu, kemudian ia ulur kepalanya, untuk santok sang kodok. Tiba-tiba saja orang itu tarik tali yang melekat pada peti, dan peti itu lantas terbalik tutupnya. Ular itu mencoba berhenti merayap tapi sekarang sudah kasep. Orang muda itu ulur tangannya yang kiri, dua jarinya terus menjepit leher ular. Dia sangat sebat dan jitu tangkapannya. Aku lihat, gerakan tangannya itu beda dari gerakan tangan kita. Begitu lekas dijepit, ular belang itu lantas diam saja, agaknya dia jadi jinak sekali. Aku tahu, pemuda itu seorang ahli, aku tidak berkuatir lagi untuknya.
"Aneh, aneh!" tertawa Ho Tiat Chiu. "Bibi baru pernah lihat orang itu, lantas saja Bibi sangat memperhatikan dia!"
"Hai, jangan kau potong ceritanya!" Ceng Ceng nyeletuk, sedang tadi katanya tak suka ia mendengari cerita. "Kau dengari saja!"
Tiat Chiu kembali tertawa.
"Tadi kau sendiri yang bilang tak sudi mendengari?" dia baliki.
"Sekarang aku jadi suka mendengarnya!" Nona Hee akui. "Toh boleh, bukan?"
Untuk kesekian lamanya, Tiat Chiu tertawa.
"Baiklah, aku tidak akan memotong-motong lagi!" katanya.
Ho Ang Yo deliki kauwcu yang jail itu.
"Itu waktu aku mulai curiga," dia menyambungi. "Aku pikir-pikir, siapa dia? Kenapa dia bernyali demikian besar, berani datang ke tempat kita untuk menangkap ular berbisa? Mustahil dia tidak pernah dengar nama Ngo Tok Kauw? Aku terus awasi dia. Setelah itu tangan kanannya mengeluarkan sebatang besi kecil, mirip ruyung, ujung besi itu ia sodorkan ke muka ular. Sang ular lantas saja menyamber, akan santok ujung besi itu.
Aku mengawasi dengan teliti. Aku pun datang lebih dekat. Nyata ruyung itu kosong dalamnya, kapan bisa ular keluar, bisa itu mengalir masuk ke dalam bungbung besi itu. Sekarang baru aku mengerti! Hm! Nyata dia datang untuk curi bisa ular! Pantas selama beberapa hari ini, beberapa ularku sungkan dahar, tubuhnya kurus dan menjadi malasmalasan! Lantas aku teriaki dia, "Hai, lepas ular itu!" Berbareng dengan itu, aku keluarkan suitanku peranti menakluki ular, aku terus tiup. Rupanya dia tidak sangka, suitanku ada punya suara yang luar biasa, dia menoleh karenanya. Justru itu, si belang lepaskan catolannya pada pipa dan berbalik santok dia! Dia lekas-lekas lemparkan ular itu, dia hendak buka peti kayunya, mungkin untuk ambil obat pemunah bisa. Aku tidak kasi ketika padanya, aku berlompat dan serang mukanya. Di luar dugaan, liehay ilmu silatnya, cuma dengan satu kali tangkis, ia bikin aku terpelanting jatuh...."
"Pasti sekali, mana kau bisa jadi tandingannya!" Ceng Ceng bilang.
Ho Ang Yo mendelik.
"Walaupun aku tidak bisa menangi dia, aku toh bisa libat padanya!" katanya dengan sengit. "Aku ganggu dia hingga dia tak punyakan kesempatan akan keluarkan obatnya. Aku tunggu sampai dia rubuhkan aku yang ketiga kali, lantas bisa ular bekerja, tanpa ampun, dia rubuh dengan pingsan. Selagi aku hampirkan dia, tiba-tiba aku merasa tak tega, aku anggap sayang sekali kalau dia, dalam usianya begitu muda, binasa secara demikian kecewa. Ia pun ada punya ilmu silat yang bagus sekali...."
"Maka itu Bibi lantas tolongi dia!" kata Ho Tiat Chiu. "Bibi bawa dia pulang secara diam-diam, disembunyikan, dia diobati, setelah dia sembuh, lantas Bibi menyintai dia...."
Ho Ang Yo menghela napas.
"Tidak tunggu sampai ia sembuh, aku sudah menyintai dia," bibi ini aku. "Tatkala itu aku maish berusia muda, semua suheng dan sutee perlakukan aku baik sekali, entah kenapa, tidak ada satu di antara mereka yang memperoleh perhatianku, dan dia itu, di luar kekuasaanku, dia bikin aku jatuh hati. Selang tiga hari, dia telah mulai sembuh dari lukanya, barulah itu waktu aku tanya dia, apa perlunya dia datang ke wilayah kami. Dia jawab, karena aku telah tolong jiwanya, apa juga dia suka kasi tahu aku. Dia bilang dia orang she Hee, dia ada punya dendaman yang hebat, benar ilmu silatnya sudah sempurna, akan tetapi musuhnya tangguh dan besar jumlahnya, ia jadi sangsi akan berhasil dengan pembalasannya. Maka itu, ketika ia dengar kabar Ngo Tok Kauw ada utamakan bisa ular, ia sengaja datang ke Inlam untuk mendapatkan bisa itu...."
Mendengar sampai di sini, Sin Cie dan Ceng Ceng barulah mengerti apa hubungannya Kim Coa Long-kun dengan Ngo Tok Kauw.
Ho Ang Yo lanjuti penuturannya: "Setelah berselang sekian lama bekerja dengan diam-diam dia bilang, dia mulai mengerti dalam hal mengerjakan bisa, maka itu dia lantas datangi guha ular kita, untuk mencuri bisa. Dia kata dia hendak bikin semacam senjata rahasia guna nanti dipakai menghadapi musuh-musuhnya. Lewat lagi dua hari, sesudah merasa segar, dia menghaturkan terima kasih padaku, dia pamitan, untuk pulang. Berat bagiku untuk membiarkan dia pergi. Begitulah aku berikan dia dua botol bisa ular. Untuk balas budiku, dia lantas bikin ini gambarku, sebagai tanda peringatan. Aku telah tanya dia, apa lagi kesukarannya dalam hal mencari balasnya itu, apa dia membutuhkan aku, untuk membantu. Sambil tertawa dia bilang, ilmu kepandaianku masih jauh dari sempurna, bahwa aku tak dapat membantu dia. Aku lantas minta supaya dia kembali sehabisnya dia mencari balas. Dia manggut, dia berikan janjinya. Aku tanya dia, kapan kiranya dia bakal kembali, dia menjawab bahwa dia tak dapat menentukannya. Dia bilang juga, untuk mewujudkan pembalasannya itu, dia masih membutuhkan serupa senjata tajam. Katanya di Ngo Bie San ada sebuah pedang pusaka, maka lebih dahulu dia mau pergi ke gunung itu, akan coba curi pedang itu. Dia sangsi apa benar-benar ada pedang yang dimaksudkan itu. Umpama ada, dia bilang, masih belum bisa dipastikan ia bakal dapat curi itu atau tidak."
Mendengar sampai di situ, Sin Cie kata dalam hatinya: "Kim Coa Long-kun sungguh norek! Untuk mencari balas, dia tidak perdulikan apa juga, tanpa pikir panjang, dia lakukan apa jua!...."
Kembali Ho Ang Yo menghela napas ketika ia melanjuti pula: "Pada waktu itu, aku benar-benar telah sangat tersesat, disebabkan aku amat tergila-gila terhadapnya. Keinginanku satu-satunya adalah supaya ia suka tinggal lebih lama pula sama aku. Aku ada bagaikan gila, sampai apa juga, aku tak takuti, sampai pun hal yang aku tahu tak dapat aku lakukan, aku berani melakukannya. Aku merasa, untuk dia, semakin berbahayanya urusan, semakin itu menyenangkan hatiku. Hingga pun aku berpikir, rela aku mati, asal untuk dia. Ya, benar-benar waktu itu, aku seperti dipengaruhi iblis. Begitulah aku beritahukan dia bahwa aku tahu hal sebatang pedang mustika, yang tajam luar biasa, yang bisa dipakai membabat kutung senjata lainnya macam apa juga. Dia girang tidak kepalang mendengar hal pedang itu, sampai dia berjingkrakan. Lantas saja dia tanya aku, di mana adanya pedang itu. Tanpa pikir lagi, aku kasi dia tahu bahwa pedang itu adalah pedang Pek-hiat Kim-coa-kiam kepunyaan Ngo Tok Kauw!"
Terkejut Sin Cie akan dengar kata-kata terakhir ini, hingga tanpa merasa ia raba pedangnya.
"Jadi inilah pedang mustika Ngo Tok Kauw itu?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Masih Ho Ang Yo meneruskan penuturannya: "Aku telah beritahu dia, pedang itu ada satu di antara tiga mustika Ngo Tok Kauw, bahwa disimpannya di dalam Tok-liong-tong, guha Naga Beracun di Leng Coa San, Gunung Ular Sakti, di distrik Tay-lie, bahwa guha itu dijaga oleh delapan-belas murid Ngo Tok Kauw. Dia lantas saja desak aku, dia minta aku antar padanya, untuk dia curi pedang itu. Dia bilang, dia hendak pakai pedang itu untuk satu kali saja, sehabis dia berhasil menuntut balas, dia nanti kasi kembali. Ia sangat mendesak aku, sampai hatiku jadi lemah. Begitulah telah terjadi, aku curi leng-pay dari koko. Dengan bawa itu, aku ajak dia pergi ke Leng Coa San. Karena adanya leng-pay dan yang antar pun aku sendiri, penjaga-penjaga guha ijinkan kita masuk ke dalam guha."
"Bibi," tanya Tiat Chiu, "apa mungkin kau berani memasuki guha itu dengan berpakai pakaian?"
"Meski juga nyaliku besar, aturan kita itu tak berani aku langgar," jawab Ho Ang Yo. "Aku telah buka semua pakaianku, dengan telanjang bulat, sambil separuh merayap, aku masuk ke dalam guha. Dia turut masuk dengan menelad contohku. Pedang dan dua mustika lainnya ditaruh di atas naga-nagaan batu. Dia pandai berlompat tinggi, dengan gampang dia bisa naik ke atas naga-nagaan. Begitulah dia ambil pedang mustika itu. Aku tidak sangka, dia kandung hati yang kurang lurus, kecuali pedang Pek-hiat Kim Coa Kiam, sekalian dia ambil dua mustika lainnya, ialah dua-puluh empat batang bor ular emas Kim-coa-cui serta peta bumi kita."
(Bersambung bab ke 22)
Bab 22
Si uwah jelek berhenti sebentar, untuk menghela napas, guna entengi hatinya.
"Begitu aku dapat tahu dia ambil tiga-tiganya mustika, segera aku merasakan firasat jelek," dia melanjuti selang sesaat. "Maka aku lantas desak dia supaya dia tinggalkan Kim-coa-cui dan peta bumi itu...."
"Peta apakah itu?" Ceng Ceng memotong. "Ayahku cuma berniat keras mencari balas, mustahil dia kehendaki juga peta bumi kamu?"
"Aku sendiri tidak tahu, peta itu ada peta apa," sahut Ho Ang Yo. "Apa yang kami tahu itu adalah mustika yang telah diwariskan sejak beberapa puluh turunan. Hm! Dia benar-benar kandung maksud tidak baik! Dia tidak perdulikan permintaanku, dia cuma awasi aku sambil tertawa. Sudah disebutkan, adalah aturan Ngo Tok Kauw kita, siapa memasuki guha Tok-liong-tong, kita dilarang mengenakan pakaian meski cuma selembar, maka bisalah dimengerti keadaan kita berdua pada waktu itu. Demikian aku, tanpa aku sadar, aku telah lantas serahkan diri kepada dia. Sejak itu, aku tidak tanyakan suatu apa lagi terhadapnya.
Secara demikian, kita telah curi ketiga mustika. Dia sudah bilang padaku, setelah selesai mencari balas, dia bakal kembali, untuk kembalikan tiga mustika itu. Setelah dia pergi, setiap hari aku harap-harap kembalinya, tetapi, sampai dua tahun, dari dia tidak ada kabar-ceritanya. Baru belakangan aku dengar cerita antara kaum Kang-ouw bahwa di Kanglam telah muncul satu pendekar luar biasa yang bersenjatakan sebatang pedang aneh serta bor emas, karena mana, dia dijuluki Kim Coa Long-kun, Pendekar Ular Emas. Aku percaya betul, pendekar itu mesti dianya. Aku terus pikiri dia, aku menduga-duga, sudahkah dia menuntut balas atau belum. Lewat lagi sekian lama, kauwcu bercuriga, dia lantas periksa guha Tok-liong-tong, dengan kesudahannya pecahlah rahasia pencurian ketiga mustika. Atas itu, kauwcu wajibkan aku menghukum diriku sendiri. Dan sebagai kesudahan beginilah jadinya rupaku....."
"Kenapa kau jadi begini?" Ceng Ceng tegasi.
Ho Ang Yo ada sangat murka, tak sudi ia menjawabnya.
Tapi Ho Tiat Chiu, dengan pelahan dia kata kepada ahliwarisnya Kim Coa Long-kun: "Ketika itu yang menjadi kauw-cu ada ayahku. Ayah sangat berduka yang adiknya sendiri melakukan pelanggaran hebat itu, saking malu dan berduka, ia dapat sakit, terus dia menutup mata. Bibi telah jalankan aturan agama kita, ia hukum diri dengan masuk ke dalam guha ular, hingga ribuan ular gigiti dia. Begitulah, rusaknya muka bibi."
Ceng Ceng menggigil, dia jeri sendirinya, akan tetapi berbareng, terhadap si uwah dia tidak lagi membenci seperti tadinya.
"Setelah bibi obati diri dan sembuh," Ho Tiat Chiu terangkan lebih jauh, "ia lantas bikin perjalanan sebagai pengemis. Adalah aturan perkumpulan kita, siapa lakukan pelanggaran hebat, dia mesti hidup sebagai pengemis lamanya tiga-puluh tahun, selama mana dia dilarang mencuri uang baik satu bun atau mencuri nasi satu butir, malah dia dilarang juga menerima tunjangan dari sesama kaum Rimba Persilatan."
Ho Ang Yo perdengarkan suara di hidung.
"Mulanya masih saja aku ingat dia, maka itu sembari mengemis di sepanjang jalan, aku susul dia di Kanglam," cerita terus uwah ini. "Begitu lekas aku memasuki wilayah Ciatkang, aku lantas dengar kabar hal dia sudah bunuh orang di Kie-Ciu, untuk pembalasannya. Ingin aku menemui dia, maka aku cari padanya. Tapi ia tidak punyakan tempat kediaman yang tentu maka adalah sulit untuk cari ketemu padanya. Ketika akhirnya aku bertemu juga dengannya di Kim-hoa, waktu itu dia telah kena ditawan orang. Beberapa kali aku mencoba menolongi dia, selalu aku tidak berhasil. Musuh-musuhnya telah jaga dia kuat sekali hingga tak bisa aku turun tangan. Dia telah dibawa ke Utara. Aku merasa sangat heran, aku tidak tahu, kenapa dia ditangkap dan dibawa pergi. Baru kemudian aku dengar kabar, orang hendak paksa dia supaya dia serahkan peta yang dicurinya. Nyata peta itu ada peta lukisan dari suatu tempat simpan harta besar. Pada satu waktu, bisa juga aku dapatkan ketika akan bicara sama dia. Dia kasi tahu aku bahwa orang telah bikin putus semua urat-uratnya, hingga ia jadi seorang yang bercacat. Menurut dia, semua pengantarnya ada orang-orang liehay, maka sendirian saja, tidak nanti aku bisa tolongi dia. Dia bilang, dia punya cuma satu harapan untuk bisa hidup terus. Ialah kapan ia bisa pancing musuh-musuhnya pergi ke puncak gunung Hoa San. Dan itu waktu, dia sedang memancingnya."
"Bibi," tanya Ho Tiat Chiu, "kejadian selanjutnya lebih-lebih aku tidak tahu. Apa maksud sebenarnya memancing musuh ke gunung Hoa San itu?"
"Dia bilang di kolong langit ini cuma satu orang yang bisa tolong dia," sahut Ho Ang Yo. "Orang itu ada Pat-chiu Sian Wan Bok Jin Ceng si Lutung Sakti Tangan Delapan dari Hoa San Pay."
Gegetun Sin Cie akan dengari penuturan orang itu, sampai ia tak tahu, berhubung sama sepak-terjangnya Kim Coa Long-kun itu, ia mesti membencinya atau mengasihaninya. Di lain sebelah, ia jadi sangat ketarik akan dengar disebut-sebutnya nama gurunya.
Juga Ceng Ceng sangat ketarik mendengar namanya Bok Jin Ceng, gurunya pemuda pujaannya itu.
Demikian semua orang pasang kuping mendengari. Ho Ang Yo mulai pula dengan perlanjutan penuturannya: "Aku tanya dia, siapa itu Bok Jin Ceng. Dia bilang, orang she Bok itu ada ahli pedang yang di kolong langit ini tidak ada tandingannya. Menurut dia, sebenarnya dia tidak kenal Bok Jin Ceng, dia belum pernah menemuinya juga, dia melainkan dengar, orang she Bok itu ada satu orang jujur dan pembela keadilan. Dia percaya, asal Bok Jin Ceng dapat tahu bagaimana dia telah dipersakiti, pendekar itu pasti akan suka tolongi dia. Katanya Ngo Heng Tin dari lima persaudaraan Oen ada sangat liehay, sudah begitu, mereka dibantu oleh imam-imam dari Ngo Bie Pay, maka kecuali Bok Jin Ceng, lain orang tak dapat mengalahkan mereka. Maka itu dia suruh aku lekas-lekas pergi ke Hoa San, akan cari Bok Tayhiap, untuk minta bantuan. Ia anjurkan aku untuk memohon sambil menangis, supaya Bok Tayhiap suka menolong. Aku telah terima baik permintaannya itu, aku malah sudah lantas ambil putusan, umpama kata Bok Tayhiap tidak sudi meluluskan, akan membantu, aku hendak bunuh diri di depannya. Aku telah berkeputusan akan tolongi dia. Karena penjagaan kuat sekali, tidak berani aku bicara lama dengannya. Ketika aku hendak berlalu, aku rangkul dia. Dengan tiba-tiba aku dapat cium bau harum pada dadanya, bau dari wewangian orang perempuan, maka aku merogo ke dalam sakunya, hingga aku tarik keluar satu kantong sulam hiang-ho-pauw dalam mana ada termuat segumpal rambut wanita serta sebuah tusuk konde emas yang mungil. Tubuhku sampai menggigil saking ku gusar. Aku tanya, siapa yang berikan itu kepadanya, dia tidak mau memberitahukan. Aku telah ancam dia, apabila dia tetap tidak mau beritahu, aku tidak mau cari Bok Tay-hiap, tapi dia tetap tutup mulutnya. Dia telah perlihatkan sikapnya yang angkuh. Dan, lihat, lihat! Sikapnya bocah ini juga sama angkuhnya dengan dia!"
Dan si uwah jelek ini tuding Ceng Ceng. Ia bicara dengan suara keras, akan tetapi pada itu ada tercampur irama kedukaan hebat. Habis itu, ia melanjuti: "Tadinya aku hendak desak dia, untuk paksa dia memberitahukannya, apa mau orang Cio Liang Pay yang menjaga dia telah keburu balik, dengan terpaksa, aku tinggalkan dia. Bukan main masgulnya hatiku. Aku telah menderita untuk dia, siapa tahu, dia justru sia-siakan aku dan punyakan lain kekasih. Ketika kemudian dia telah sampai di Hoa San, aku tidak pergi cari Bok Tayhiap. Dengan bisaku sendiri, aku telah racuni dua imam yang jagai dia. Rupanya pihak Oen tidak menyangka bahwa diam-diam ada orang mencoba tolongi orang tawanannya itu. Begitulah, selagi mereka beralpa, aku bawa dia lari, aku sembunyikan dia di dalam sebuah guha. Ketika keluarga Oen mendapat tahu dia terhilang, mereka jadi heran dan sibuk, mereka mencari ubak-ubakan tanpa hasil, hingga kesudahannya mereka saling curigai orang sendiri, sampai mereka berselisih. Di akhirnya, mereka memencar diri, untuk geledah seluruh gunung Hoa San. Kesudahannya, mereka membangkitkan amarahnya Bok Tay-hiap, hingga Tay-hiap telah gunai akal, membikin mereka ketakutan sendiri dan lantas lari kabur. Pada malam itu, aku desak dia untuk beritahu aku she dan namanya kekasihnya itu. Dia tetap menolak, mungkin dia insaf, satu kali aku mendapat tahu, aku bisa pergi cari kekasihnya itu, untuk dibunuh. Dia sendiri sudah tidak punya guna, tidak nanti bisa susul aku, dia kuatir nanti tak dapat dia melindungi kekasihnya itu. Karena dia terus tutup mulut, aku jadi sangat murka, beruntun selama tiga hari, setiap pagi aku rangket dia dengan rotan, begitupun setiap tengah-hari dan sore...."
"Hai, perempuan jahat!" teriak Ceng Ceng. "Bagaimana kau tega menyiksa ayahku!..."
"Dia yang berbuat, dia mesti terima bagiannya!" kata Ho Ang Yo dengan sengit. "Makin lama aku hajar dia, makin aku sengit, akan tetapi dia, dia tertawai aku, dia tertawa makin besar. Dia bilang, sejak mulanya dia tidak menyukai aku, bahwa kekasihnya ada cantik sekali, manis dan lemah-lembut, orangnya jelita, lebih menang seratus kali daripada aku! Setiap patah kata dia ucapkan, setiap rotan aku berikan, tetapi setiap kali aku rangket dia, setiap kali juga dia banggai kekasihnya itu, si perempuan hina! Aku telah hajar dia sampai akhirnya tidak ada tubuhnya yang utuh, akan tetapi terus-terusan ia tertawa, terus saja ia masih puji dan banggai kekasihnya itu.... Sampai di hari ketiga, selagi dia jadi sangat lemah, aku sendiri pun jadi sangat lelah, lelah karena terlalu mendongkol, sebab habis tenaga. Kemudian aku pergi keluar, untuk cari bebuahan. Ketika aku pulang, dia tunggu aku di mulut guha, dia larang aku masuk. Dia mengancam, satu tindak berani aku melangkah, dia akan tikam aku. Aku tidak berani sembarang masuk. Aku kasi tahu padanya, asal dia beritahukan aku she, nama dan alamat kekasihnya, aku suka maafkan dia untuk tak berbudinya, tetapi dia tertawai aku, dia tertawa terbahak-bahak. Dia bilang, dia cintai kekasihnya melebihi jiwanya sendiri! Secara demikian, kami bentrok. Aku ada punya bebuahan untuk dimakan, dia sendiri, dia mesti menahan lapar. Aku dapat tahu, Bok Tay-hiap telah pergi turun gunung, mungkin dalam satu-dua tahun, dia tidak akan kembali, maka itu, tidak nanti ada orang yang tolongi dia...."
"Secara demikian, Bibi, kau bikin dia mati kelaparan?" tanya Ho Tiat Chiu.
"Hm, tidak secara demikian gampang aku membikin dia mati!" sahut sang bibi. "Lagi beberapa hari, setelah dia habis tenaganya, aku masuk ke dalam guha, aku bikin patah kedua kakinya..."
Ceng Ceng menjerit, dalam sakitnya, dia berlompat untuk bangun, akan serang uwah itu.
Ho Tiat Chiu tekan pundak orang, akan bikin anaknya Kim Coa Long-kun tak dapat bangun.
"Kau dengari sampai bibi berceritera habis," katanya.
"Puncak Hoa San ada sangat tinggi dan berbahaya, dengan kedua kakinya patah, tidak nanti dia bisa turun gunung lagi," demikian Ho Ang Yo meneruskan ceritanya. "Begitulah aku pergi turun gunung, akan cari kekasihnya itu. Adalah keputusanku, apabila aku berhasil mendapatkan kekasih itu, aku bakal bikin rusak mukanya hingga jadi jauh terlebih jelek daripada mukaku, setelah itu, aku nanti gusur dia ke Hoa San, untuk dipertemukan dengannya, aku ingin lihat, dia masih memuji-muji dan membanggai atau tidak! Setengah tahun sudah aku mencari, tidak pernah aku peroleh endusan. Aku niat kembali ke Hoa San, untuk tengok dia, aku kuatir, mungkin Bok Jin Ceng sudah pulang ke gunungnya, mungkin Bok Tay-hiap dapat menemukan dia dan menolongnya. Aku telah saksikan sendiri liehaynya Bok Tay-hiap ketika ia usir keluarga Oen, maka apabila Bok Tay-hiap nanti bantu dia, bisa celaka aku. Maka aku segera balik ke gua gunung. Di luar sangkaanku, aku tidak dapat ketemukan dia di dalam guha, aku cari dia di puncak, tidak juga aku menemukannya. Entah dia telah ditolongi Bok Tay-hiap atau oleh orang lain. Seterusnya, selama dua-puluh tahun, tidak pernah aku dengar pula tentang dia, percuma saja aku cari dia di segala penjuru, hingga tak tahu aku manusia tidak punya liangsim itu sudah mati atau masih hidup...."
Mendengar sampai di sini, tahulah sekarang Sin Cie sebabnya kenapa Kim Coa Long-kun keram diri di dalam guhanya yang istimewa itu, terang dia menyingkir dari orang Ngo Tok Kauw ini yang dia tidak sanggup lawan karena dia sudah tidak berdaya lagi, dia lebih suka terbinasa daripada mesti minta bantuannya lain orang.
Selagi pemuda ini berpikir, tiba-tiba ia dengar bentakannya Ho Ang Yo.
"Aku tidak sangka dia justru tinggalkan kau sebagai keturunan celaka!" demikian uwah itu, yang tuding Ceng Ceng, suaranya sangat bengis. "Mana ibumu? Aku tahu shenya she Oen tapi aku tidak tahu dia tinggal di mana! Hayo bilang, di mana adanya ibumu sekarang. Jika tidak, aku nanti korek biji matamu!"
Diancam begitu, Ceng Ceng justru tertawa besar.
"Kau jahat! Jahat!" jawabnya. "Benar apa yang ayahku bilang, ibuku ada jauh terlebih baik daripada kau, bukan cuma seratus kali, hanya seribu kali, selaksa kali!"
Tak kepalang murkanya Ho Ang Yo hingga ia ulur kedua tangannya, untuk dengan sepuluh jarinya cakar muka orang!
Ceng Ceng tarik kepalanya, sedang Ho Tiat Chiu tahan tangan bibinya itu.
"Kau mesti bikin dia kasi tahu tempat kediaman ibunya, baru aku suka kasi ampun padanya!" dia menjerit terhadap pemimpin dari Ngo Tok Kauw.
"Sabar, Bibi," kata ketua itu. "Bukankah kami sedang punya urusan besar? Kenapa untuk urusan pribadi kau ingin ciptakan onar? Bukankah urusan dengan Bu Tong Pay juga disebabkan gara-garamu?"
"Hm, itu disebabkan Oey Bok Toojin ngaco-belo sendiri!" kata si uwah jelek. "Kenapa dia sebut-sebut bahwa dia kenal Kim Coa Long-kun? Kenapa dia bikin aku dapat dengar ocehannya itu? Tentu saja karena ocehannya itu aku paksa dia mesti sebutkan tempat sembunyinya itu manusia tak berbudi!"
"Kau telah kurung dia begitu lama, dia tetap tidak hendak memberitahukannya," kata pula Ho Tiat Chiu, "Mungkin dengan sebenar-benarnya dia tidak tahu orang punya alamat. Sama sekali tidak ada faedahnya untuk kau menambah musuh...."


0 komentar:
Posting Komentar