Jilid 36
Diam-diam Sin Cie manggut-manggut.
"Jadi inilah sebabnya bentrokan Ngo Tok Kauw dengan Bu Tong Pay," pikir dia. "Menurut dia ini, jadinya Oey Bok Toojin masih belum terbinasa, dia cuma masih ditahan."
Ho Ang Yo sengit ditegur kauwcunya itu. Maka dia kata pada pemimpinnya ini: "Binatang she Wan itu sudah kangkangi pedang Kim Coa Kiam kita, dengan Kim-coa-cui dia binasakan anjing kita, dia pun masih simpan peta kita - tiga-tiga pusaka kita berada di dalam tangannya! Kau sebagai kauwcu, kenapa kau tidak hendak berdaya untuk dapat pulang itu semua?"
Ho Tiat Chiu tertawa. "Cukup, Bibi!" kata dia. "Aku ketahui semua itu! Sekarang silakan kau keluar dulu, untuk beristirahat...."
Masih si bibi penasaran. "Aku telah bilang semua!" katanya. "Kau suka turut rencanaku atau tidak, kau suka tolong lampiaskan kemendongkolanku atau tidak, semua terserah pada kau!"
Kauwcu dari Ngo Tok Kauw lawan tertawa pada bibinya itu, ia tidak mengiakan atau menampik.
"Mari keluar, aku hendak bicara denganmu!" kata Ho Ang Yo.
"Bukankah di sini sama saja?" tanya si nona kauwcu.
"Tidak! Mari kita keluar!" Ang Yo desak.
Kalah juga Tiat Chiu, ia suka keluar.
Sin Cie lihat dua orang itu berlalu, ia tunggu sampai rasanya orang sudah pergi jauh, lantas ia merayap keluar dari kolong pembaringan.
"Adik Ceng, mari kita pergi!" katanya.
Ceng Ceng tidak lantas menjawab, hanya dengan muka perongosan ia awasi Wan Jie, rambut siapa kusut, muka siapa berlepotan debu.
"Hm!" katanya. "Untuk apa kamu berdua bersembunyi?"
Wan Jie tercengang, mukanya merah, sampai ia diam saja.
"Lekas bangun," Sin Cie bilang, tanpa menjawab pertanyaan itu. "Mereka itu kandung maksud tidak baik, mereka sedang memikir daya untuk celakai kau...."
"Lebih baik lagi jikalau mereka bikin aku mati! Aku tidak mau pergi!"
"Apa juga adanya urusan, di rumah nanti kita damaikan," Sin Cie membujuk. "Di waktu begini apa kau masih hendak mensia-siakan ketika? Kau hendak mengacau?"
"Aku justru hendak mengacau!" Sibuk juga Sin Cie. Ia ingat orang punya adat berandalan. Ia tahu, asal mereka berayalan, sulit untuk mereka keluar dari istana itu. Di lain pihak urusan raja ada penting sekali.
"Adik Ceng, kau kenapa?" ia tanya. Ia ulur tangannya, dengan niat tarik pemudi itu.
Ceng Ceng sedang sengit, ia sambuti tangan orang, untuk dibawa ke mulutnya, untuk digigit! Sin Cie tidak menyangka, hampir saja tangannya itu kena tergigit, baiknya ia dapat kesempatan untuk tarik pulang. Ia tapinya heran.
"Kau angot?" tanya dia.
"Habis?"
Ceng Ceng singkap selimut, untuk tungkrap kepalanya.
Sin Cie mendongkol berbareng bingung, hingga ia banting-banting kaki.
"Wan Siangkong," kata Wan Jie, "kau tunggu bersama Nona Hee, aku hendak keluar sebentar."
"Kau hendak pergi ke mana?"
Wan Jie tidak menjawab, ia tolak daun jendela, untuk loncat keluar. Sin Cie duduk di tepi pembaringan, ia masgul. Ceng Ceng membalik tubuh, akan madap ke dalam. Pemuda kita kuatir sekali Ho Tiat Chiu nanti kembali. Tiba-tiba ada terdengar suara tindakan di arah pintu, tidak tempo lagi, Sin Cie enjot tubuhnya, akan loncat naik ke penglari di mana ia lintangkan tubuhnya.
Itulah Ho Kauwcu, yang telah balik. Dia ini palang pintu, lantas dengan tindakan pelahan, dia dekati Ceng Ceng. Sin Cie siapkan dua batang bor, asal kauwcu itu turun tangan, ia hendak menyerang.
"Hee Siangkong," katanya dengan pelahan, sambil ia awasi tubuh orang. "Aku hendak bicara sama kau..." Ceng Ceng berpaling. "Bibiku sangat menyintai ayahmu, coba bilang, adalah dia seorang rendah?" tanya Tiat Chiu.
Ditanya begitu, Ceng Ceng menjadi heran. Inilah pertanyaan yang ia tidak sangka. Maka ia tercengang. "Itu berarti cinta yang sangat, bagaimana bisa dibilang rendah?" ia jawab. Lantas ia menambahkan dengan suara tinggi: "Siapa tidak berpribudi, dia barulah rendah!"
Tiat Chiu heran. Tak tahu ia, kata yang belakangan ini ditujukan kepada Sin Cie. Tapi ia girang. "Ayahmu itu tidak berjodo dengan bibiku, dia tak dapat dipersalahkan," kata kauwcu ini. "Dia pun rela mati daripada menyebutkan tempat kediaman ibumu, dia tetap melindunginya, sebenarnya dia ada seorang yang menyinta sangat, dia setia."
"Sayang jarang ada orang semacam ayah!" bilang Ceng Ceng.
"Umpama ada seorang semacam dia, yang tidak hiraukan jiwa sendiri untuk lindungi kau bisakah kau ingat dia untuk selamanya?" Ho Tiat Chiu tanya pula.
"Aku tidak punyakan itu macam rejeki!"
"Dulu tak mengerti aku mengapa bibi demikian tergila-gila terhadap seorang lelaki," kata pula Tiat Chiu. "Aku.... aku..... ya, sudahlah, aku tidak ingin kau bilang apa-apa lagi.... Sukur jikalau kau ingat aku, tidak ingat juga tidak apa...."
Ia balik tubuhnya, untuk pergi keluar pula. Ceng Ceng berbangkit, akan duduk dengan bengong. Tidak mengerti ia sikapnya kauwcu dari Ngo Tok Kauw itu.
Sin Cie melayang turun. "Nona tolol, dia menyintai kau!" katanya sambil tertawa.
"Apa?" tanya Ceng Ceng dengan heran.
Sin Cie tertawa. "Dia menyangka kau lelaki!" katanya. Perkataan pemuda ini membikin sang pemudi insaf. Pantas selama tertawan, sikapnya Ho Tiat Chiu terhadapnya ada baik, malah manis-budi. Untuk sementara ia telah melupakan dandanan penyamarannya itu. Maka akhirnya, ia tertawa sendirinya. Itulah lucu!
"Bagaimana sekarang?" ia tanya.
"Kau menikah dengan Ngo Tok Hujin itu!" Sin Cie bergurau. ("Ngo Tok Hujin" berarti "Nyonya dari Ngo Tok Kauw".)
Di saat Ceng Ceng hendak berkata pula, daun jendela terpentang dengan tiba-tiba dan Ciauw Wan Jie lompat masuk, di belakangnya turut Lo Lip Jie, yang bertangan satu.
Melihat nona itu, kembali air mukanya Nona Hee guram, lenyap senyumannya yang manis.
"Wan Siangkong," berkata Wan Jie dengan sikapnya sungguh-sungguh tetapi tenang. "Aku bersukur sangat yang kau telah berikan bantuanmu yang besar hingga berhasil aku mencari balas, maka sekarang ingin aku memberitahukan bahwa besok pagi aku berniat pulang ke Kimleng. Di masa hidupnya ayah, ia ada sangat kagumi kau, sedang Lo Suko ini sangat berterima kasih kepadamu yang sudah ajarkan dia ilmu silat golok bertangan satu, hingga kau mirip dengan gurunya...."
Sin Cie awasi nona itu, kata-kata siapa membuat ia heran.
"Sekarang, Siangkong," kata Wan Jie meneruskan, "kami berdua hendak memohon sesuatu kepadamu...."
"Jangan kesusu," berkata pemuda kita, walaupun ia belum mengerti maksud orang. "Mari kita berlalu dulu dari istana ini, baru kita bicara."
"Tidak, Wan Siangkong," Nona Ciauw mendesak. "Aku cuma mau minta supaya kau menjadi wakil kami, supaya kau ijinkan perjodoanku dengan Lo Suko ini!"
Dua-dua Ceng Ceng dan Sin Cie terperanjat mendengar perkataan nona itu, bukan terperanjat karena kaget tetapi saking heran. Malah Lo Lip Jie sendiri tidak menjadi kecuali.
"Su... sumoay!" kata ini kakak seperguruan, "Apakah kau bilang?"
"Apakah kau tidak suka aku?" Wan Jie tanya sambil ia awasi suheng itu.
Lip Jie kembali tercengang. "Aku.... aku....." katanya, tergandat.
Mendadak saja, Ceng Ceng menjadi sangat gembira. "Bagus!" seru dia. "Aku kasi selamat pada kamu berdua!"
Sin Cie cerdik, segera ia insaf maksudnya Nona Ciauw. Ialah Wan Jie hendak buktikan, dia tidak ada punya hubungan apa-apa sama ia, bahwa pergaulan dan persahabatan mereka berdua ada putih-bersih, maka itu tanpa likat lagi, nona ini kemukakan perjodoannya dengan Lo Lip Jie. Dengan cara ini, Wan Jie hendak singkirkan kecurigaan dan cemburunya Ceng Ceng, untuk sekalian juga membalas budinya. Maka itu, tak kepalang bersukurnya ia kepada nona yang cerdas ini.
Ceng Ceng juga cerdik, ia bisa menduga hatinya Nona Ciauw, walaupun ia memberi selamat, ia jengah sendirinya. Tapi ia polos, ia jujur, malah lantas ia jabat tangan Wan Jie. "Adik, aku berlaku tidak pantas terhadapmu," katanya, mengakui. "Aku minta kau tidak berkecil hati."
"Mana bisa aku berkecil hati terhadapmu, Enci," Wan Jie kata. Meski ia mengucapkan demikian, puteri almarhum Ciauw Kong Lee toh melinangkan air mata. Ia bersedih karena orang telah curigai ia, hingga sebagai satu nona, ia bertindak di luar garis. Sebenarnya tidak tepat ia yang meminta perkenan dari Sin Cie untuk perjodoannya dengan Lip Jie. Tetapi keadaan memaksa, ia terpaksa tebali muka. Ceng Ceng insaf kekeliruannya, ia turut berduka, hingga ia pun ikut menangis.
Ketenteraman mereka berempat segera terganggu oleh suara tindakannya tujuh atau delapan orang, yang lagi mendatangi ke arah mereka. Sin Cie segera geraki tangannya, selaku tanda. Sebat luar biasa, Lip Jie lompat ke jendela, untuk menolak daunnya. Berbareng dengan itu, di pintu terdengar suara membentak dari Ho Tiat Chiu:
"Sebenarnya siapa menjadi kauw-cu?"
Lalu terdengar suara Ho Ang Yo: "Kenapa kau tidak mau bertindak menuruti aturan kita? Baiklah kita bersembahyang kepada Couwsu, untuk angkat satu kauwcu baru!"
Segera terdengar suara seorang laki: "Binatang itu ada musuh besar dari Ngo Tok Kauw, kenapa Kauwcu terus-terusan hendak melindungi dia?"
Terdengarlah suara tertawa dari Ho Tiat Chiu, yang kata: "Aku larang kamu masuk ke dalam kamar ini! Siapa berani maju?"
Kauwcu ini tertawa tetapi dia menantang, suaranya keren.
"Mari kita bereskan dulu itu binatang!" kata seorang lelaki lain.
"Urusan kita, kita boleh bereskan belakangan!"
Suara tindakan kaki berat dan sebat terdengar maju ke arah pintu, menyusul itu terdengarlah satu jeritan hebat, disusul sama suara terbantingnya satu tubuh ke lantai. Rupanya orang itu telah jadi korbannya Ho Tiat Chiu.
Sin Cie lantas beri tanda pula kepada tiga kawannya.
Lo Lip Jie lompati jendela, disusul oleh Wan Jie, di belakang siapa, Ceng Ceng pun menyusul.
Itu waktu, di muka pintu terdengar bentrokan pelbagai senjata. Teranglah, perang saudara telah terjadi di dalam Ngo Tok Kauw - Ho Tiat Chiu telah tempur saudara-saudaranya separtai.
Setelah sedikit lama, Sin Cie dengar dupakan pada pintu kamar, hingga daun pintu menjeblak, tubuh seorang nerobos masuk.
Sin Cie lantas saja lompat ke jendela, untuk angkat kaki.
Orang yang baru masuk itu lihat satu bebokong berkelebat dan lenyap, hingga tak sempat ia untuk mengenalinya bebokong siapa.
"Lekas, lekas!" dia berteriak-teriak. "Binatang itu kabur!"
Ho Tiat Chiu terkejut, juga kawan-kawannya, hingga pertempuran berhenti seketika, semuanya lantas memburu ke dalam kamar, hingga mereka lihat kamar kosong dari manusia dan daun jendela menjeblak terpentang.
Tanpa ayal lagi, Ho Tiat Chiu lompat ke luar jendela. Ia bermata tajam, masih ia dapat lihat satu bayangan nyelusup masuk ke tempat banyak pepohonan, segera ia menyusul. Tapi menyusul dengan kandung maksud sendiri-diri. Dia kira bayangan itu ada dari Ceng Ceng, ingin dia lindungi "pemuda" itu, untuk cegah ia terjatuh ke dalam tangan kawan-kawannya.
Bayangan di depan itu berlari-lari terus, dia putari beberapa pekarangan, akhirnya dia melenyapkan diri di tembok merah dari keraton.
Sin Cie sengaja menyingkir paling belakang, ia pun ambil jurusan lain daripada yang diambil Ceng Ceng bertiga. Ia lihat bagaimana Ho Tiat Chiu terus susul padanya, ia sengaja lari untuk segera lenyap dari pandangan mata kauwcu itu. Adalah setelah menduga Ceng Ceng bertiga sudah keluar jauh dari istana, baru ia lenyapkan diri di belakang tembok keraton tadi.
Selagi menghampirkan sebuah pintu, Sin Cie lantas mencium bau harum berkesiur-siur halus. Ia tolak daun pintu, untuk sembunyikan diri di lain sebelah dari pintu itu, sembari sembunyi ia mengawasi ke sekitarnya. Kapan ia telah melihat nyata, ia jadi jengah sendirinya, kupingnya ia rasai panas tak keruan-ruan....
Nyatalah ia berada di dalam sebuah kamar yang indah dan lengkap perabotannya. Kelambu ada kelambu sulam, permai sepre dan selimutnya. Permadani kuning telur juga ada tersulam bunga mawar merah yang besar. Di meja dekat jendela ada terdapat pelbagai rupa alat berhias dari seorang perempuan. Perabotan lainnya adalah barang-barang kuno.
"Mungkin ini kamarnya satu selir...." Pikir anak muda ini. "Tidak seharusnya aku berdiam di sini....." Selagi ia hendak bertindak ke pintu, lantas kupingnya dengar pelbagai tindakan halus disusul sama orang-orang perempuan bicara sambil tertawa-tawa. Maka ia merandak.
"Jikalau aku paksa keluar, aku bakal bersomplokan dengan nona-nona keraton ini," ia pikir. "Satu kali aku kepergok, keraton bakal jadi kacau, mungkin aksinya Co Thaykam jadi terganggu dan tertunda. Maka lebih baik aku sembunyikan diri, untuk melihat selatan."
Karena ini ia lompat ke belakang sekosol yang bergambar seorang wanita cantik serta bunga bouw-tan. Sebentar saja, daun pintu telah ditolak terpentang, empat dayang bertindak masuk sambil iringi satu perempuan muda.
"Thianhee ingin beristirahat atau hendak membaca buku dulu?" tanya satu dayang.
Mendengar itu, Sin Cie terkejut. "Jadinya ini ada kamarnya puteri raja," pikirnya. "Ah, baiklah kau tidur saja, tak usah baca buku lagi....." ia harap-harap.
Si nona, atau kiongcu, puteri raja, tidak menyahuti tegas, ia hanya jatuhkan diri di atas pembaringan.
"Apakah perlu membakar dupa?" satu dayang tanya pula.
Kembali puteri itu perdengarkan jawaban tak nyata. "Ehm...." terdengarnya.
Selang tidak lama, Sin Cie dapat cium bau dupa yang wangi-halus, hingga tanpa merasa, ia jadi lesu dan ingin tidur....
"Bawa kemari aku punya pit dan gambar, habis kamu semua pergi keluar," kemudian berkata si puteri raja. (Pit adalah alat menulis.)
Sin Cie terperanjat. "Satu suara yang aku kenal baik...." pikirnya. Berbareng ia pun sibuk. Kalau puteri ini melukis gambar, pasti dia akan ambil banyak tempo. Bagaimana dapat ia berdiam lama-lama di dalam kamar ini? Dayang-dayang telah lantas siapkan perabot-tulis dan alat melukis lainnya, setelah itu, semuanya segera undurkan diri.
Kamar menjadi sunyi pula, cuma kadang-kadang saja terdengar suara meretak di dalam pendupaan, dari kayu cendana yang terbakar. Tidak berani Sin Cie berkutik.
Tidak lama terdengarlah elahan napas dari si puteri, yang terus menyanyikan sebuah syair dengan pelahan:
"Musim semi dari berlaksa lie membawa tetamu datang
Bunga dari sepuluh tahun membuat si cantik menjadi tua
Tahun yang lampau di masa bunga mekar, aku jatuh sakit
Tapi tahun ini, menghadapi sang bunga, masih terlalu pagi."
Itulah suara halus dan merdu akan tetapi sifatnya sedih. Sin Cie heran. Kenapa satu puteri raja mesti berduka? Ia pun heran, mengapa suara itu seperti ia kenal baik. Sementara itu, ia merasa lucu untuk kedudukannya ini.
"Aku ada seorang Kang-ouw, kecuali kali ini, belum pernah aku datang ke kota raja, maka di mana pernah aku bertemu sama puteri raja seperti dia ini? Tidak, aku tidak kenal dia..... Dia mungkin mirip dengan salah satu kenalanku...."
Si puteri telah bertindak ke dekat meja, lantas terdengar suara ia menggerak-geraki alat tulisnya, rupanya ia sudah mulai melukis. Sin Cie menantikan dengan pikiran terbenam. Itu waktu, pintu telah ditutup dan daun jendela pun sudah dirapatkan. Tanpa menggunai kekerasan, tak dapat ia keluar dari kamar ini....
Sang puteri masih terus melukis, sampai terdengar ia lempangkan pinggangnya, mungkin ia merasa letih. "Lagi dua-tiga hari, gambar ini akan selesai," kata dia seorang diri. "Setiap hari aku memikirkanmu, apakah kau juga setiap saat mengingat-ingat aku?"
Ia berbangkit, ia pindahkan gambarnya ke kursi, lalu kursi itu dipindahkan ke depan pembaringan. "Kau diam di sini, untuk temani aku...." katanya pula.
Kemudian ia buka baju luarnya, untuk naik ke pembaringan. Keheranan Sin Cie bertambah-tambah. Siapa itu yang dilukis puteri ini, yang dibuat ingat-ingatan?
Tak dapat pemuda ini menguasai dirinya, ia geraki kepalanya, untuk memandang ke depan pembaringan, ke arah kursi, guna lihat gambar buatannya si puteri. Apabila ia telah lihat gambar itu, keheranannya memuncak, hingga ia terperanjat.
Itulah gambarnya Wan Sin Cie! Gambar itu sudah berpeta jelas walaupun katanya belum sempurna. Di situ ia terlukiskan sedang bersenyum riang-gembira. Inilah tidak disangka si anak muda, tanpa merasa, ia perdengarkan suara herannya: "Ah!...."
Kuping si puteri terang luar biasa, ia dapat dengar suara sangat pelahan, tangannya mencabut tusuk konde, tanpa memutar tubuh lagi, tangannya itu dikasi melayang! Sin Cie terkejut, menyusul suara angin menyambar, ia angkat tangannya, akan tanggapi tusuk konde itu.
Menyusul serangannya itu, si puteri telah putar tubuhnya, maka sekarang kedua orang jadi saling mengawasi, dengan kesudahannya dua-duanya tergugu melongo! Sebab segera mereka saling mengenali.
Sin Cie kenali A Kiu, muridnya Thia Ceng Tiok. Memangnya ia curigai nona itu, yang dilindungi oleh sie-wie, ia menduga kepada seorang tak sembarangan, ia hanya tidak sangka, si nona adalah satu puteri raja.
Muka A Kiu pucat, lalu bersemu merah.
"Wan Siangkong, mengapa kau ada di sini?" akhirnya dia tanya. Dengan cepat ia dapat tenteramkan diri.
Sin Cie lantas memberi hormat. "Siauwjin bersalah," ia mengakui. "Dengan lancang aku telah menerobos masuk ke dalam kamar Kiongcu ini...."
Mukanya A Kiu bersemu merah. "Silakan duduk," ia mengundang. Puteri ini sadar yang baju luarnya telah dilolosi, dengan sebat ia sambar itu, untuk dipakai.
Di pintu lantas terdengar ketokan pintu yang pelahan. "Thian-hee memanggil?" tanya satu dayang.
"Tidak, aku lagi baca buku!" sahut sang puteri dengan cepat. "Pergilah kamu tidur, tidak usah kamu menunggui di sini."
"Baik, Thianhee. Silakan Thianhee beristirahat siang-siang."
A Kiu tidak jawab dayangnya itu, ia goyangi tangan kepada Sin Cie, lantas ia tertawa dengan pelahan. Tapi, kapan ia menoleh ke arah gambar lukisan, mukanya menjadi merah, ia jengah sendirinya. Lekas-lekas ia geser kursi itu ke pinggir. Kemudian, keduanya kembali berdiri berhadapan dengan diam saja. "Apakah kau kenal orang-orang Ngo Tok Kauw?" akhirnya Sin Cie tanya.
A Kiu manggut. "Co Kong-kong bilang Lie Giam telah kirim banyak pembunuh ke kota raja, untuk mengacau," jawabnya, "maka itu Co Kong-kong undang serombongan orang gagah masuk ke keraton, untuk melindungi Sri Baginda. Katanya kauwcu Ho Tiat Chiu dari Ngo Tok Kauw liehay sekali."
"Gurumu, Thia Loo-hoocu, telah dilukai mereka, apakah Thianhee ketahui?" tanya Sin Cie.
A Kiu kaget, hingga air mukanya berubah.
"Apa?" tanyanya. "Kenapa mereka lukai suhu? Apakah suhu terluka parah?"
"Tidak, tidak seberapa," sahut Sin Cie, yang terus berbangkit. "Sekarang sudah jauh malam, baik kita tidak bicara terlalu banyak. Kami tinggal di gang Ceng-tiauw-cu. Apa bisa besok Thianhee datang melongok gurumu itu?"
"Baik!" A Kiu jawab. "Dengan menerjang bahaya kau telah datang menyambangi aku, aku berterima kasih....." Ia bicara dengan pelahan sekali ketika ia menambahi: "Kau telah lihat bagaimana aku sudah lukiskan gambarmu, maka tentang hatiku, kau sudah ketahui jelas....."
"Inilah hebat," pikir Sin Cie. "Rupanya dia telah menyintai aku, kedatanganku sekarang membuat ia dapat kesan yang keliru. Ini perlu penjelasan..."
Tapi ia belum sempat bicara, atau A Kiu sudah kata pula: "Sejak pertemuan kita di Shoatang-too, di mana kau rintangi Tie Hong Liu melukai aku, aku senantiasa ingat saja budikebaikanmu..... Coba lihat lukisan ini mirip atau tidak?"
Sin Cie manggut.
"Thianhee," katanya, "aku datang kemari karena...."
Tapi A Kiu segera memotong.
"Jangan panggil aku thianhee," katanya. "Aku pun tidak akan panggil siangkong lagi kepadamu. Pada mula kalinya kita bertemu, kau kenal aku sebagai A Kiu, maka itu untuk selamanya, aku tetap ada A Kiu. Aku dengar Enci Ceng panggil kau toako, aku pikir, umpama itu hari aku pun bisa panggil toako padamu, itu barulah tepat. Di saat aku dilahirkan, menteri tukang tenung telah ramalkan aku bahwa apabila aku hidup tetap di dalam keraton, aku tidak bakal panjang usia, karena itu, Sri Baginda Ayah perkenankan aku pergi berkelana."
"Pantas kau belajar silat pada Thia Loo-hucu dan ikut dia berkelana," kata Sin Cie.
"Selama berada di luar, pengetahuan dan pengalamanku jadi tambah banyak," A Kiu bilang. "Aku tahu yang rakyat sangat menderita. Umpama kata aku pakai uang di istana akan tolong rakyat, masih tidak seberapa jumlahnya yang bisa ditolong."
Sin Cie kagum mendengar puteri ini bersimpati kepada rakyat.
"Karena itu wajiblah kau nasihati Sri Baginda dan minta Sri Baginda menjalankan pemerintahan secara bijaksana," ia kata. "Asal rakyat dapat makan dan pakai cukup, tidak kelaparan dan kedinginan, pasti negara aman-sentausa."
Puteri itu menghela napas.
"Jikalau Sri Baginda Ayah sudi dengar perkataan orang, itulah bagus," katanya. "Sekarang Sri Baginda Ayah dikitari segala dorna, yang kata-katanya sangat dipercayai benar."
"Kau berpengetahuan luas melebihi Sri Baginda," Sin Cie puji.
Tadinya pemuda ini pikir, baik atau tidak ia beber rahasia Thaykam Co Hoa Sun, akan tetapi sebelum ia ambil putusan, A Kiu sudah tanya dia: "Apakah Thia Loo-hucu pernah omong tentang diriku?"
"Tidak. Dia bilang dia pernah bersumpah, dari itu tak dapat dia omong tentang kau. Tadinya aku menyangka kau mempunyai dendaman yang hebat, yang mengenai kaum Kang-ouw, tidak tahunya kau ada puteri raja."
A Kiu bersenyum.
"Thia Suhu ada pahlawan Sri Baginda Ayah, dia sangat setia kepada junjungannya," ia beritahu.
"Oh, jadinya dia pun ada satu sie-wie?" kata Sin Cie dengan heran.
A Kiu manggut.
"Ketika dahulu Sri Baginda Ayah masih tinggal di istana Pangeran Sin Ong-hu, Thia Suhu menjadi kepala sie-wie," ia menerangkan lebih jauh. "Kemudian setelah Sri Baginda marhum wafat, Sri Baginda Ayah adalah yang menggantikan naik di tahta. Pada masa itu, semua orang di dalam istana ada orang-orang kepercayaan Gui Tiong Hian. Maka juga Thia Suhu bilang, waktu itu, keadaan ada sangat berbahaya, sampai Sri Baginda Ayah dan sekalian pahlawannya, siang dan malam tak bisa tidur dengan tenang. Semua barang makanan diantar dari istana Sin Ong-hu. Beberapa kali Gui Tiong Hian si dorna niat celakai Sri Baginda Ayah, saban-saban Thia Suhu serta Co Kong-kong dan lainnya yang menggagalkannya, hingga bahaya dapat dihindarkan. Itulah sebabnya kenapa sampai sekarang ini Sri Baginda Ayah tetap percaya Co Kong-kong."
"Meski begitu, tak dapat dia dipercayai sepenuhnya!" Sin Cie bilang.
"Itu benar. Di antara Thia Suhu dan Co Kong-kong tidak terdapat kecocokan."
"Jadi itulah sebabnya kenapa Thia Suhu jadi keluar dari istana?" Sin Cie tegaskan.
"Bukan. Katanya karena urusan Wan Cong Hoan."
Terperanjat juga Sin Cie mendengar disebutkan nama ayahnya.
"Bagaimana itu?" tanya dia.
"Di waktu kejadian, aku masih belum terlahir," jawab A Kiu, "Baru belakangan aku dengar hal itu dari suhu. Suhu bilang Wan Cong Hoan ada panglima perang besar di Kwan-gwa yang menolak serangan bangsa asing, dia telah dirikan banyak sekali jasa, hingga bangsa asing jeri bukan main akan lihat dia. Adalah belakangan, bangsa Boan sudah gunai tipu-daya merenggangkan, cerita-burung disiarkan bahwa Wan Cong Hoan berniat berontak. Sri Baginda Ayah percaya itu, tanpa pikir panjang lagi, Wan Cong Hoan dihukum mati. Thia Suhu tahu Wan Tayswee difitnah, dia pernah melindunginya, hingga karenanya, suhu jadi bentrok sama Sri Baginda Ayah. Sri Baginda Ayah sedang panas hati, dia lupa, dia telah gaplok suhu, maka saking gusar, suhu lantas meninggalkan istana, dia sumpah untuk selamanya tak sudi menemui pula Sri Baginda Ayah."
Sin Cie terharu berbareng bersukur, ia tahan keluarnya air mata, matanya menjadi merah.
"Thia Suhu bilang, Sri Baginda Ayah tak dapat membedakan orang setia dan dorna," A Kiu melanjuti. "Suhu kuatirkan, akhir-akhirnya negara bakal runtuh di tangan Sri Baginda Ayah. Beberapa tahun kemudian, Sri Baginda Ayah menyesal. Karena katanya tak dapat aku hidup di istana, aku lantas dikirim kepada suhu, untuk terus ikuti suhu. Aku tidak tahu, kenapa suhu bentrok sama Ngo Tok Kauw."
Hampir saja Sin Cie bilang: "Ngo Tok Kauw berniat bikin celaka ayahmu, sebab mereka tahu Thia Loo-hucu setia kepada Sri Baginda, jadi Thia Loo-hucu hendak dibinasakan." Tiba-tiba ia tampak lilin, yang tinggal sepotong pendek, hingga ia ingat: "Keadaan ada begini mendesak, kenapa aku mesti bicara begini banyak sama dia ini?"
Maka ia lantas berbangkit. "Masih banyak yang mesti dibicarakan, besok saja kita teruskan lebih jauh," katanya. Mukanya A Kiu merah, ia tunduk, terus dia manggut.
Hampir di waktu itu, pintu kamar diketok secara kesusu dan di luar kamar terdengar suaranya beberapa orang: "Thianhee, Thianhee, lekas buka pintu!"
A Kiu kaget. "Ada apa?" dia tanya.
"Oh, Thiangee tidak kurang suatu apa?" tanya satu dayang.
"Aku lagi tidur. Ada apakah?"
"Katanya ada orang lihat ada penjahat nyelusup masuk ke dalam keraton...."
"Ngaco-belo! Penjahat apa sih?"
"Thianhee," kata satu suara lain, "ijinkan kami masuk untuk melihat-lihat...."
Sin Cie segera bisiki sang puteri: "Itulah Ho Tiat Chiu!"
"Jikalau ada penjahat, cara bagaimana aku bisa tenang seperti ini?" kata A Kiu. "Lekas pergi, jangan bikin berisik di sini!"
Orang-orang di luar itu lantas diam, mereka tahu sang puteri gusar. Dengan berindap-indap, Sin Cie pergi ke jendela, niatnya untuk tolak jendela, buat nerobos pergi. Baru saja ia pegang kain alingan jendela dan menyingkapnya sedikit, ia lihat cahaya api terang-terang, hingga ia tampak juga belasan thaykam, ialah orang-orang yang menyekal obor.
"Jikalau aku nerobos, siapa bisa rintangi aku?" pikir pemuda ini. "Dengan aku berlalu dengan paksa, nama baiknya puteri bakal tercemar. Tidak dapat aku berbuat demikian...." Maka ia balik pada A Kiu, akan bisiki bahwa tak bisa ia berlalu dengan paksa atau sang puteri bakal dapat malu.
Puteri itu kerutkan alis. "Jangan takut," katanya kemudian. "Kau diam saja di sini untuk sekian lama lagi." Sin Cie terpaksa, ia menurut. Tidak terlalu lama, kembali ada suara mengetok pintu. "Siapa?" tanya A Kiu.
Kali ini datang penyahutan Thaykam Co Hoa Sun.
"Sri Baginda dengar ada orang jahat nyelusup ke istana, Sri Baginda berkuatir, dari itu kacung diperintah menanyakan keselamatan Thianhee," sahut thaykam itu, yang membahasakan diri "kacung".
"Tidak berani aku membikin Kong-kong banyak cape," kata A Kiu. "Silakan Kong-kong kembali, tolong sampaikan bahwa aku tidak kurang suatu apa."
"Thianhee ada orang penting, tak dapat Thianhee menjadi kaget," kata pula orang kebiri itu. "Baik ijinkanlah kacung masuk untuk memeriksa kamar."
A Kiu mendongkol kepada orang kebiri itu. Ia percaya, waktu Sin Cie datang, mesti ada orang lihat padanya, kalau tidak, thaykam itu tidak nanti berani demikian mendesak.
Dugaan ini benar separuhnya. Memang Co Hoa Sun dapat kisikan dari Ho Tiat Chiu bahwa ada orang nyelusup masuk ke keraton puteri, Tiang Peng Kiongcu. Sebab lainnya adalah Co Hoa Sun tahu puteri pandai silat, dia bercuriga, dia curiga puteri ini punya hubungan sama orang Kang-ouw sedang dia berniat celakai baginda Cong Ceng. Maka ingin dia mendapat kepastian. Dia berpengaruh, dari itu, dia berani memaksa. Puteri pun memang tak dapat terlalu rintangi orang kebiri itu.
Maka akhirnya, setelah berpikir, Tiang Peng Kiongcu gerak-geraki kedua tangannya kepada Sin Cie, untuk beri tanda agar si anak muda naik ke atas pembaringannya, untuk sesapkan diri di bawah selimut.
Dalam keadaan seperti itu, Sin Cie sangat terpaksa, maka ia pergi ke pembaringan, setelah lolosi sepatunya, ia naik, terus ia tutupi diri dengan selimut sulam, hingga ia dapat cium bau sangat harum. Ia kerebongi tubuh, dari ujung kaki sampai di kepala.
Kembali terdengar suaranya Co Hoa Sun, yang mendesak minta dibukai pintu.
"Baiklah," kata Tiang Peng Kiongcu akhirnya, "kau boleh periksa!"
Puteri ini loloskan baju luarnya, ia bertindak ke pintu, untuk angkat palangan, setelah mana, tanpa buka pintu lagi, ia lompat naik ke atas pembaringan, untuk segera kerebongi diri sebatas leher.
Hatinya Sin Cie memukul ketika A Kiu rebahkan diri berdampingan dengan dia, pakaian mereka nempel satu dengan lain, sedang hidungnya dapat cium bau lebih wangi lagi. Tapi ia berdiam terus, tidak berani dia berkutik, apalagi setelah ia merasa Co Hoa Sun dan Ho Tiat Chiu sudah masuk ke dalam kamar. Ia merasakan bagaimana tubuhnya sang puteri sedikit bergemetar.
Tiang Peng Kiongcu berpura-pura masih lungu-lungu, ia pun berlagak menguap, tetapi toh ia tertawa.
"Co Kong-kong, kau baik sekali. Terima kasih!" katanya.
Co Hoa Sun memandang ke sekelilingnya, ia tak lihat ada orang lain dalam kamar itu.
Ho Tiat Chiu turut memeriksa, ia berpura-pura bikin jatuh saputangannya, untuk pungut itu, ia membungkuk, dengan begitu ia jadi bisa melongok ke kolong pembaringan.
"Aku pun telah periksa kolong pembaringan, aku tidak sembunyikan orang jahat!" tertawa A Kiu.
"Harap Thianhee ketahui, Co Kong-kong kuatir Thianhee kaget," kata ketua Ngo Tok Kauw itu. Ketika kauwcu ini melihat ke kursi, di mana ada gambar Sin Cie, ia kaget sekali, sukur ia masih bisa tetapkan hati, maka ia lantas berpaling.
Co Thaykam kedipi mata, ia kata: "Mari kita periksa lain-lain bagian lagi." Tapi kepada empat dayang, ia pesan: "Kamu berempat temani thianhee di sini, jangan kamu tinggal pergi. Umpama kata thianhee titahkan kamu, masih kamu tidak boleh malas dan mencuri tempo dan keluar. Mengerti?"
"Kami akan dengar titah Kong-kong," jawab empat dayang itu.
Co Hoa Sun beramai minta perkenan dari puteri, lantas mereka keluar dari kamar. A Kiu pun segera perintah turunkan kelambu. "Aku hendak tidur," katanya. Dua dayang kasi turun kelambu dengan hati-hati, yang satu tambahkan kayu cendana, setelah buang ujung lilin, mereka pergi ke pojok tembok untuk numprah sambil menyender.
Lega hatinya A Kiu, akan tetapi ia bergirang berbareng malu. Di luar sangkaannya, di luar keinginannya, sekarang ia rebah berdampingan sama orang yang ia buat kenangan setiap saat. Pikirannya jadi terbenam, tidak berani ia buka suara, tidak berani ia geraki tubuhnya. Ia seperti sedang mimpi.
"Bagaimana?" Sin Cie berbisik, selang sekian lama. "Mesti dicari daya untuk aku keluar dari sini...."
"Oh...." Si nona bersuara, dengan pelahan sekali. Ia bergerak sedikit, lengan dan kaki digeser. Tiba-tiba saja ia terperanjat. Ia telah bentur barang dingin. Kapan ia meraba, ia kena pegang pedang, yang diletaki nyelang di antara mereka berdua.
"Apa ini?" ia tanya.
"Aku nanti terangi, tapi kau jangan kecil hati."
"Aku masuk kemari di luar keinginanku. Aku menyesal telah mesti rebah di sini bersamasama kau. Tapi ini karena sangat terpaksa. Aku bukan seorang ceriwis dan kurang ajar."
"Aku tidak persalahkan kau," A Kiu bilang. "Singkirkan pedangmu itu, nanti aku kena dilukai."
"Aku kenal adat sopan-santun, tetapi tetap aku ada seorang anak muda, aku sekarang rebah berdampingan sama kau, satu gadis rupawan dan cantik sekali, aku kuatir nanti tak dapat atasi diriku...."
A Kiu tertawa. "Jadi kau palangkan pedangmu? Ah, tolol, toako tolol!...."
Dua-dua mereka kuatir suara mereka nanti terdengar empat dayang, selain mereka bicara dengan pelahan, kepala mereka pun digeser dekat sekali satu dengan lain. Maka Sin Cie dapat cium harumnya hawa segar dari mulutnya si nona, hingga hatinya goncang. Sebisa-bisa ia tenangkan diri.
"Adik Ceng sangat menyintai kau, jangan kau tersesat!" demikian ia peringati dirinya sendiri.
"Seng Ong-ya itu siapa?" kemudian ia tanya. Ingin ia simpangkan perhatian.
"Dia adalah pamanku," jawab A Kiu.
"Tepat!" kata Sin Cie pula. "Mereka hendak tunjang dia menjadi kaisar, kau tahu tidak?"
A Kiu terkejut.
"Apa? Siapa mereka?"
"Co Hoa Sun telah bikin perhubungan rahasia sama Kiu Ong-ya dari Boan-Ciu, dia niat pinjam tentera Boan untuk tindas pemberontakan Giam Ong."
"Fui! Apakah artinya tentara Boan? Negara kita toh lebih kuat!"
"Benar! Sri Baginda tidak setujui usul pinjam tentara asing itu. Karena ini, Co Hoa Sun beramai niat tunjang Seng Ong-ya, untuk diangkat jadi kaisar pengganti...."
"Ini memang mungkin. Seng Ong-ya ada bangsa tolol, pasti dia suka pinjam tentara asing untuk tindas pemberontak."
"Yang aku kuatirkan mereka nanti bekerja malam ini...."
A Kiu kembali terkejut.
"Ah, kenapa kau tidak omong dari siang-siang? Kita mesti lekas tolongi Sri Baginda Ayah!"
Sin Cie rapatkan kedua matanya, ia ragu-ragu. Kaisar Cong Ceng justeru ada musuh besarnya, yang sudah hukum mati ayahnya! Selama belasan tahun, tidak ada satu hari dilewatkan tanpa ia tak ingat permusuhan itu, adalah keinginannya akan dengan tangan sendiri membunuh musuhnya. Sekarang timbul ini suasana genting. Sebenarnya ini ada ketika yang bagus sekali. Bukankah, tanpa berbuat sesuatu apa, ia bisa saksikan musuh besarnya itu terbunuh mati? Tidakkah itu akan memuaskan hatinya? Tapi di sebelah itu, jikalau Co Hoa Sun berhasil, dan dia pinjam tentara Boan, untuk tumpas gerakannya Giam Ong, tidakkah itu hebat? Bagaimana kalau Giam Ong gagal? Bagaimana kalau tentara Boan menduduki seluruh Tionggoan? Tidakkah negara menjadi musna dan cucu Oey Tee semua menjadi kacung?
A Kiu tidak tahu apa yang orang pikirkan, ia menyenggol dengan pundaknya pada pemuda itu.
"Kau pikirkan apa?" tanya dia. "Lekas bantui aku tolongi Sri Baginda Ayah!"
Sin Cie berdiam, masih ia bersangsi.
"Asal kau tidak melupakan aku, aku tetap ada kepunyaan kau," A Kiu bilang. Nona bangsawan ini menduga keliru. "Di belakang hari masih ada saat-saatnya untuk kita berkumpul seperti ini..."
Lagi-lagi Sin Cie terkejut.
"Ah, kiranya dia menyangka aku tak mau bangun karena terpengaruh oleh keadaan seperti ini...." pikirnya. "Baiklah, biar aku lihat keadaan...." Maka ia bisiki puteri raja itu: "Pergi kau totok semua dayang itu, habis kau tutupi mereka dengan selimut supaya mereka tak dapat melihat, supaya kita bisa keluar dari sini."
"Aku tidak mengerti tiam-hiat-hoat. Di bagian mana aku mesti totok mereka?" A Kiu tanya.
Menyesal Sin Cie. Ia tak tahu, puteri ini tidak mengerti tiam-hiat-hoat, ilmu menotok jalan darah. Terpaksa ia mesti mengajarinya dahulu. Maka terpaksa ia cekal tangannya puteri itu, untuk dibawa ke dadanya sendiri, ke ujungnya tulang iga yang ke sebelas. Ia telah pegang tangan yang halus dan lemas.
"Ini dia yang dinamai jalan darah ciang-bun-hiat," katanya. "Dengan jari tangan, kau totok ujung tulang mereka, mereka bakal lantas tidak mampu bergerak. Jangan totok terlalu keras, nanti mereka kehilangan jiwa mereka...."
A Kiu ingat letak anggauta yang ditunjuk itu. Untuk tolongi ayahnya, ia tidak bisa berpikir banyak lagi. Ia lantas turun dari pembaringan.
Melihat puteri itu bangun, keempat dayang itu berbangkit, untuk tanya: "Thianhee perlu apa?"
"Kemari kau!" ia panggil satu dayang sambil ia pergi ke samping pembaringan, hingga ketiga dayang lainnya tidak lihat ia berdua dayang yang pertama itu.
Menuruti ajaran Sin Cie, A Kiu totok dayangnya ini. Karena ia mengerti ilmu silat, ia bisa menotok dengan baik. Ketika dayang itu sudah rubuh dengan tidak bersuara, ia panggil yang kedua dan ketiga, untuk ditotok semua. Ketika ia totok yang keempat, kenanya kurang tepat, dayang itu menjerit, maka lekas-lekas ia bekap mulutnya, untuk ditotok buat kedua kalinya, baru orang pingsan.
Sin Cie sudah pakai sepatunya dan telah turun dari pembaringan ketika A Kiu telah selesai dengan tugasnya, sama-sama mereka hampirkan jendela, akan singkap sero. Begitu lekas dapati di luar tidak ada orang, keduanya menolak jendela, untuk lompat keluar.
"Mari ikut aku!" A Kiu mengajak.
Puteri ini ajak kawannya ke kamar Kaisar Cong Ceng, ayahandanya. Selagi mendekati kamar, dari jauh sudah kelihatan bayangan dari banyak orang, jumlah mereka itu mungkin beberapa ratus jiwa.
"Kawanan dorna sudah kurung Sri Baginda Ayah!" kata A Kiu. "Mari lekas!"
Keduanya berlari-lari.
Baru kira belasan tumbak, kedua orang ini berpapasan sama satu thaykam. Orang kebiri itu kaget kapan ia kenali Tiang Peng Kiongcu, tetapi karena puteri ini cuma bersama satu pengiring, ia tidak buat kuatir.
"Thianhee masih belum tidur?" tanyanya sambil menjura.
"Minggir!" membentak Tiang Peng Kiongcu. Bersama-sama Sin Cie, puteri ini telah melihat nyata, di depan dan belakang kamar ayahnya telah berkumpul thaykam-thaykam dan siewie-siewie, yang semua memegang senjata, suatu tanda keadaan sangat mengancam.
Dengan satu tolakan tangan yang keras, A Kiu bikin thaykam di depannya itu terpelanting, lantas ia maju terus.
Di muka pintu keraton menjaga beberapa siewie, akan tetapi mereka ini kena ditolak minggir oleh Sin Cie.
Semua orang kebiri tidak berani turun tangan apabila mereka tampak tuan puteri itu. Satu di antaranya sebaliknya lari kepada Co Thaykam untuk melaporkan hal kedatangannya puteri itu.
Co Hoa Sun ada satu dorna yang cerdik tetapi licik, nyalinya kurang cukup besar, walaupun sekarang ia yang kepalai gerakan menjunjung Seng Ong, ia tidak berani muncul sendiri, ia cuma berikan titah-titah saja. Kapan ia dengar laporan, ia tidak kuatir. Ia anggap, Tiang Peng Kiongcu sendirian saja, apa puteri itu bisa bikin.
"Tetap perkuat penjagaan!" ia ulangi titahnya.
A Kiu ajak Sin Cie maju terus, sampai ke kamar di mana biasanya Kaisar Cong Ceng memeriksa surat-surat negara. Di pintu kamar terdapat belasan thaykam dan siewie, di situ pun terdapat tujuh atau delapan mayat yang telah bermandikan darah. Rupa-rupanya korban-korban ini ada mereka yang setia kepada raja.
Semua siewie dan thaykam melongo kapan mereka lihat tuan puteri.
A Kiu tidak perdulikan mereka itu, ia tarik tangannya Sin Cie, untuk diajak menerobos masuk ke dalam kantor raja itu.
"Tahan!" berseru satu siewie sambil ia maju memegat, goloknya diangkat naik untuk dipakai membacok pemuda kita.
Sin Cie berkelit sambil tangannya terus menyambar dada, maka siewie itu terpelanting jatuh.
Begitu berada di dalam kantor, Sin Cie lihat api lilin terang sekali, di situ berdiri belasan orang.
"Hu-hong!" seru A Kiu sambil ia lari untuk tubruk satu orang dengan jubah kuning. (Hu-hong adalah panggilan untuk ayah yang menjadi raja.)
Sin Cie awasi orang itu, muka siapa putih bersih dan perok, akan tetapi dalam keadaan kaget dan gusar.
"Inilah dia kaisar Cong Ceng musuh ayahku...." pikir pemuda ini.
Belum sampai Tiang Peng Kiongcu dapat tubruk ayahnya, dua orang yang tubuhnya besar menghalang di depan raja, golok mereka dibalingkan.
Kaisar lihat puterinya itu.
"Perlu apa kau datang kemari?" tegurnya. "Lekas pergi!"
Dekat kaisar berdiri seorang umur kurang-lebih empat-puluh tahun, tubuhnya gemuk terokmok, mukanya penuh berewok. Dia kata dengan keren: "Pemberontak sudah pukul pecah Hun-Ciu dan Thaygoan, segera juga mereka bakal sampai ke kota raja ini! Kau tidak hendak minta bala-bantuan bangsa asing, apa maksudmu?"
Kata-kata kasar itu ditujukan kepada Kaisar.
"Siok-hu!" seru A Kiu kepada si terokmok itu, yang sikapnya keren. "Kau berani berlaku begini kurang ajar terhadap Junjunganmu?"
Mendengar si nona, Sin Cie tahu, dia itu adalah Pangeran Seng Ong. Pangeran ini lantas tertawa berkakakan. "Kurang ajar?" dia mengulangi. "Dia hendak bikin ludas negara indah warisan leluhur kita, maka kami, setiap anggauta keluarga Cu, tidak dapat antapkan dia!"
Kata-kata jumawa ini dibarengi sama terhunusnya pedang, yang cahayanya berkilauan, hingga semua orang di kiri-kanannya terkejut. Kemudian, dengan roman sangat bengis, pangeran ini bentak raja: "Lekas bilang, bagaimana putusanmu!"
Kaisar menghela napas. "Apa Tim kurang bijaksana hingga negara jadi kacau," kata dia, "sampai tentara pemberontak hendak menuju ke kota raja buat bikin terbalik pemerintah, akan tetapi meminjam tentara Boan juga bakal sama membahayakan untuk negara.... Jikalau Tim mesti mati untuk rakyat, itu tak usah dibuat menyesal, tetapi yang harus disesalkan adalah kalau nanti negara indah dari leluhur kita ini mesti diserahkan kepada lain bangsa...."
Dengan acungi pedangnya, yang panjang, Seng Ong maju satu tindak. "Jika begitu, lekas kau keluarkan maklumat untuk undurkan diri, untuk serahkan kedudukanmu kepada pengganti yang bijaksana!" dia berseru dengan sikapnya sangat mengancam


0 komentar:
Posting Komentar