Jilid 37
Tubuhnya raja bergemetar. "Apakah kau hendak bunuh rajamu?" dia tanya.
Seng Ong menoleh ke belakangnya, ia kedipi mata. Di belakang pangeran ini ada satu opsir dari Kim-ie Wie-kun, pasukan istimewa dari raja, dia ini cabut goloknya yang panjang, dengan suara nyaring, dia bilang: "Jikalau Raja sudah gelap pikiran dan bu-too, setiap orang dapat membinasakan dia!"
Artinya "bu-too" adalah "tidak adil" (tidak bijaksana). Sin Cie awasi opsir itu, karena ia ingat suara orang itu. Segera juga ia kenali, orang itu ada An Kiam Ceng, suami An Toa-nio, ayah dari An Siauw Hui.
A Kiu jadi sangat gusar, hingga ia menjerit dengan bentakannya. Ia sembat sebuah kursi, ia lompat ke depan ayahnya, untuk menghalangi opsir itu. Dan ketika An Kiam Ceng toh terusi membacok raja, ia menangkis, terus-terusan sampai tiga kali beruntun.
Sampai di situ, lain-lainnya sie-wie lantas maju, untuk turut kepung raja atau tuan puteri itu.
Dari tadi Sin Cie masih diam saja, akan tetapi setelah tampak A Kiu keteter, ia tidak bisa berdiri terus sebagai penonton, maka ia lompat maju, untuk ceburkan diri dalam pertempuran itu. Begitu lekas ia geraki tangan kirinya, dua sie-wie kena dibikin terpelanting, hingga ia bisa dekati A Kiu, untuk serahkan pedang Kim Coa Kiam kepada puteri itu, kemudian ia sendiri maju ke samping kaisar, akan lindungi raja ini yang menjadi musuhnya....
Belasan sie-wie menerjang raja, sesuatu dari mereka lantas dihajar ini anak muda, yang gunai kedua tangan dan kakinya, hingga bukan saja mereka tak dapat maju, mereka sendiri yang rubuh dengan urat putus atau tulang-tulang patah!
A Kiu sendiri, dengan pedang mustika Ular Emas di tangan, hingga ia tidak membutuhkan lagi kursinya, sudah lantas unjuk kegagahannya. Baru saja beberapa jurus, ia sudah tabas kutung golok besar dan panjang dari An Kiam Ceng.
Seng Ong terperanjat. Tidak ia sangka, kaisar bisa dapat bantuan tangguh di saat yang sangat terjepit itu.
"Orang-orang di luar, semua maju!" ia lantas berteriak-teriak.
Teriakan itu disambut dengan munculnya Ho Tiat Chiu, Ho Ang Yo dan Lu Jie Sianseng berikut empat jago tua anggauta Ngo Couw dari Cio Liang Pay. Tapi mereka ini tercengang kapan mereka saksikan Kaisar Cong Ceng dilindungi oleh Sin Cie, si anak muda yang liehay, yang sedang labrak beberapa sie-wie yang masih bandel.
Akhir-akhirnya Oen Beng Tat mendelik dengan matanya mengeluarkan sinar tajam bagaikan api menyala, dia terus menjerit: "Lebih dahulu bereskanlah binatang ini!"
Lalu, bersama tiga saudaranya, dia lompat maju.
A Kiu sendiri sudah lantas lompat ke samping ayahnya, dengan bersenjatakan pedang mustika, ia bisa pukul mundur setiap penyerang yang maju merangsek, sampai pahlawanpahlawannya Seng Ong jeri juga. Karena ini ia dapat kesempatan akan tampak Sin Cie sedang dikerubuti enam sie-wie, hingga ia merasa, dalam keadaan seperti itu, pemuda itu pasti sukar bantu ia. Mau atau tidak, ia berkuatir juga.
Selagi tuan puteri ini pasang mata sambil berpikir keras, mendadak ia lihat si orang perempuan tua, yang romannya sangat jelek, yang dandan sebagai pengemis, mata siapa bersinar sangat tajam, lompat ke arahannya sambil angkat kedua tangannya, untuk perlihatkan sepuluh jarinya yang tajam bagaikan kuku garuda. Si jelek dan begis ini berseru dengan suaranya yang menyeramkan: "Lekas kembalikan Kim Coa Kiam padaku!"
Pada waktu itu, Sin Cie sudah ambil keputusan. Sekarang ia hendak tolongi Kaisar Cong Ceng supaya gagallah usaha dorna-dorna mengundang masuk angkatan perang Boan-Ciu, supaya kerajaan Beng dapat dihindarkan dari kemusnaan. Ia pikir, baik ia tunggu sampai tentaranya Giam Ong masuk ke kota raja, baru ia wujudkan pembalasan sakit hatinya. Jadi, urusan negara dulu, baru kepentingan pribadi.
Sementara itu, ia sudah lantas dikepung oleh empat Ngo Couw dari Cio Liang Pay, siapa sudah liehay tetapi sekarang dibantu pula oleh Lu Jie Sianseng dan Ho Tiat Chiu, hingga tak sempat ia membantu A Kiu, siapa, dengan rambut riap-riapan, lagi putar pedangnya secara hebat akan layani penyerang-penyerangnya. Sebab anggauta-anggauta Kim-ie Wie-kun desak si nona dari tiga jurusan.
Dalam saat segenting itu, tiba-tiba saja pemuda ini dapat satu pikiran. Sambil berkelit disusul sama lompatan, ia loloskan diri dari huncwee yang liehay dari Lu Jie Sianseng dan sapuan berbahaya dari tongkat panjang Oen Beng San, lantas ia melejit ke depan Ho Tiat Chiu.
"Menyesal; kami terpaksa mengerubuti!" kata kauwcu dari Ngo Tok Kauw sambil tertawa seraya dengan gaetannya ia sambuti si anak muda.
Sin Cie berkelit.
"Apakah kau sudah tidak sayangi lagi jiwanya beberapa puluh anggautamu?" tegur Sin Cie.
Tercengang Ho Tiat Chiu kapan ia ingat orang-orangnya yang lagi terancam bahaya itu. Justru itu, Sin Cie gunai ketikanya untuk loncat keluar dari kepungan.
Oen-sie Su Loo, empat ketua Keluarga Oen, tidak mau lepaskan musuh lawas ini, mereka maju untuk mengepung pula. Oen Beng Tat dengan siang-kek, sepasang tumbak cagaknya, serang bebokongnya Sin Cie sebagai sasaran. Tapi ia ini egos tubuhnya.
"Kau gantikan aku menahan mereka!" tiba-tiba saja Sin Cie kata pada Ho Tiat Chiu.
"Apa?" tanya kauwcu dari Ngo Tok Kauw.
Si anak muda tidak lantas menjawab, ia kelit dulu dari serangannya Oen-sie Su Loo dan Lu Jie Sianseng.
"Aku nanti ajak kau pergi lihat adik Ceng she Hee!" kata dia kemudian.
Memang sejak melihat Ceng Ceng, kauwcu ini sudah runtuh hatinya, maka mendengar katanya Sin Cie, hatinya sekarang memukul keras. Hampir tidak berpikir lagi, ia angkat tangan kirinya, akan dengan itu gaet Oen Beng Go, orang yang berada paling dekat dengannya.
Ngo-yaya tidak pernah sangka kawan ini bakal berkhianat, dia kaget bukan main melihat datangnya serangan secara demikian tiba-tiba, tetapi ia masih bisa geraki cambuk kulitnya, untuk menangkis gaetan.
Akan tetapi Ho Tiat Chiu gesit dan telengas, setelah gagal bokongannya itu, ia mendesak dengan hebat sekali, sama sekali ia tidak hendak memberi ketika kepada Cio Liang Pay itu, tidak perduli orang liehay. Baru tiga desakan berulang-ulang, ujung gaetannya telah mampir di bahu kiri dari Beng Go, hingga bahu itu tergurat.
Oleh karena gaetan itu ada racunnya, dalam sesaat itu, mukanya Ngo-yaya menjadi pucat, bahunya membengkak dengan cepat, hingga di lain saat, tubuhnya menjadi limbung, tangan kanannya dipakai mengucak-ucak kedua matanya.
"Aku tak dapat melihat apa-apa! Aku.... Aku terkena racun!...." Ia berseru.
Oen-sie Sam Loo bingung melihat saudara muda itu, dengan tidak perdulikan lagi kepada musuh, mereka lompat menghampirkan, untuk menolongi. Lebih dahulu mereka pepayang saudara itu.
Sin Cie menjadi senggang karena berkurangnya desakan tiga jago Oen itu, di lain pihak, hatinya bercekat kapan ia ingat bagaimana telengasnya kauwcu dari Ngo Tok Kauw itu. Tapi juga ia tidak punya kesempatan akan berlengah, sebab tempo ia mencuri lihat kepada A Kiu, ia dapatkan puteri itu sedang terdesak hebat oleh Ho Ang Yo dan An Kiam Ceng, yang berlompatan gesit di kiri dan kanannya.
Justru itu waktu Ho Tiat Chiu sudah serang Lu Jie Sianseng, tanpa buang tempo lagi, Sin Cie berlompat dengan pesat ke arah Ho Ang Yo, dia sampai justru sedangnya si uwah seram membaliki belakang, dengan sebat sekali dia jambret bebokong orang, terus dia angkat tubuhnya nyonya itu, untuk segera dilemparkan!
An Kiam Ceng terkejut melihat kawannya kena dirobohkan secara demikian rupa, selagi begitu, ujung pedangnya A Kiu mampir di paha kirinya, tidak ampun lagi, ia rubuh terguling!
Di sana, pertempuran di antara Ho Tiat Chiu dan Lu Jie Sianseng berlanjut terus. Sianseng ini telah saksikan rubuhnya Oen Beng Go, dengan sendirinya, hatinya jeri, semangatnya lumer, maka setelah tiga percobaannya mendesak hebat gagal, dengan sekonyong-konyong dia berlompat keluar kalangan.
"Maaf, loohu tak dapat melayani lama-lama!" serunya. Dan terus ia angkat kaki.
Ho Tiat Chiu sambut seruan itu sambil tertawa.
"Lu Jie Sianseng, sampai ketemu pula! Sampai ketemu pula!"
Ketika itu Oen Beng Go telah tak sadar akan dirinya, karena bekerjanya racun.
Oen-sie Sam Loo, tiga saudara Oen, kaget bukan kepalang kapan mereka kenali lukanya saudara ini mirip dengan luka dulu dari tangan liehay Kim Coa Long-kun, hati mereka memukul keras. Sedetik saja, mereka saling memandang, untuk memberikan tanda rahasia, habis mana Beng Gie sambar tubuh Beng Go, untuk dipeluk dan diangkat, buat dibawa lari, sedang Beng Tat dan Beng San berlompat, yang satu untuk membuka jalan, yang lain guna memegat, melindungi di belakang.
Ho Tiat Chiu berlompat, untuk menyusul, tetapi bukannya buat menyerang, hanya guna melemparkan satu bungkusan.
"Inilah obat untuk luka itu! Sambutilah!" ia berseru.
Oen Beng San, Sam-yaya, berhenti berlari, ia putar tubuhnya, untuk sambuti obat itu, setelah mana, ia lari pula.
Ho Tiat Chiu tertawa, ia pun kembali.
Sampai itu waktu, pertempuran telah memberi rupa lain. Dengan tidak adanya jago-jago Co Liang Pay dan Lu Jie Sianseng, kawanan Kim-ie Sie-wie menjadi repot, dengan cepat mereka kena dihajar kalang-kabutan oleh A Kiu dan Sin Cie, akan akhirnya mereka lari bubaran!
Baru saja Kim-ie Sie-wie lari ke pintu, atau Thaykam Co Hoa Sun muncul di situ bersama sepasukan Gie-lim-kun.
Sin Cie lihat datangnya barisan itu, ia berseru: "A Kiu! Ho Kauwcu! Mari kita lindungi Sri Baginda keluar dari sini!"
A Kiu dan Tiat Chiu berikan jawaban mereka. Maka lantas mereka bertiga kurung Kaisar Cong Ceng. Di saat mereka ini hendak maju menerjang, terdengarlah seruannya Co Thaykam secara tiba-tiba: "Dorna bernyali besar! Kau berani ganggu Sri Baginda! Lekas bunuh dia!"
Itu waktu, tentara Gie-lim-kun telah bertempur sama Kim-ie Sie-wie. Yang belakangan ini hendak loloskan diri tetapi karena dipegat dan diserang, terpaksa mereka bikin perlawanan.
Seng Ong menjadi kaget, hingga ia melengak. "Co Kong-kong! Kau..... kau...... Bukankah kau dengan aku telah...." Setelah sadar, pangeran ini tegur thaykam serikatnya itu, akan tetapi belum habis dia bicara, ujung pedangnya Co Hoa Sun telah nancap di dadanya!
Semua Kim-ie Sie-wie kaget melihat perbuatannya thaykam ini, malah Sin Cie, Ho Tiat Chiu dan A Kiu juga tak kurang herannya. Cuma Kaisar Cong Ceng seorang yang puji orang kebiri itu sebagai hamba yang setia....
Co Hoa Sun tetap berdiam di tempatnya "sembunyi" selama pertempuran berlangsung, orang-orang kepercayaannya terus memasang mata dan setiap saat memberi laporan saling-susul, maka itu ia lantas dapat tahu ketika Ho Tiat Chiu tukar haluan, hingga Sin Cie dan A Kiu jadi dapat angin, hingga pertempuran jadi salin rupa untuk kerusakan pihaknya. Jadi gagallah usaha mereka akan mengusir atau membunuh kaisar. Dia sangat cerdik, di saat segenting itu, dia lantas saja tukar haluan, tanpa ayal, dia bawa pasukan Gie-lim-kun, katanya untuk tolongi Sri Baginda.
Semua Kim-ie Sie-wie lantas letaki senjata mereka. "Tawan! Tawan mereka!" Co Thaykam berikan perintahnya. Serdadu-serdadu Gie-lim-kun segera tangkap semua sie-wie itu. "Gusur mereka keluar! Hukum mati mereka semua!" Co Thaykam berikan titahnya terlebih jauh. Ia melancangi raja.
Titah ini pun telah dijalankan dengan lantas, maka di dalam tempo yang pendek, binasalah semua sie-wie itu, hingga musnah juga semua orang yang turut dalam komplotan itu. Itulah tindakan hebat untuk menutup mulut orang! Ho Tiat Chiu lihat pertempuran telah selesai, ia berpaling kepada Wan Sin Cie, dan tertawa.
"Wan Siangkong, besok aku tunggu kau di bawah pohon besar di tempat sepuluh lie di luar kota!" katanya, sehabis mana ia tarik tangannya Ho Ang Yo untuk diajak berlalu. Itu waktu, si uwah jelek, yang tidak terluka hebat, memang sudah dekati pemimpinnya itu. Selagi orang memutar tubuh, Kaisar Cong Ceng memanggil. "Kau....kau..."
Kaisar ini hendak memberi pujian dan hadiah kepada si juwita itu akan tetapi Tiat Chiu tidak memperdulikannya, terus saja ia ajak bibinya berlalu.
Ketika kaisar kemudian berpaling kepada puterinya, ia dapatkan, puteri itu asyik pandang Sin Cie dengan air muka berseri-seri. Barulah sekarang hatinya menjadi tenteram benar. Tertawanya sang puteri berarti bahaya benar-benar sudah lewat. Ia lantas jatuhkan diri di atas kursi.
"Siapakah dia ini?" tanya ia kepada puterinya. Ia tunjuk pemuda kita. "Jasanya tidak kecil. Tim akan beri hadiah padanya."
Raja ini anggap, setelah ia berikan janjinya itu, Sin Cie nanti berlutut di depannya, untuk haturkan terima kasih. Di luar sangkaannya, anak muda itu berdiri tetap dengan gagah dan agung.
A Kiu tarik ujung bajunya si anak muda.
"Lekas menghaturkan terima kasih," ia membisikkan.
Putera Wan Cong Hoan tidak tekuk lutut, sebaliknya ia awasi kaisar itu. Segera ia teringat kepada ayahnya, yang sudah bela negara dengan melupakan diri-sendiri, yang jasanya sangat besar, akan tetapi toh oleh kaisar ini, ayahnya itu telah dijatuhkan hukuman mati secara hebat. Maka juga, kemurkaan dan kesedihannya telah berkumpul jadi satu.
"Apakah namamu?" raja tanya, dengan suara lemah lembut. "Di mana kau pegang jabatanmu?"
Kaisar ini menanya demikian oleh karena ia lihat pemuda ini dandan sebagai seorang kebiri, ia menyangka orang ada salah satu thaykamnya.
Masih Sin Cie awasi kaisar itu.
"Aku ada orang she Wan," akhirnya ia jawab juga, sikapnya gagah, suaranya keren. "Aku ada putera Peng-pou Siang-sie Wan Cong Hoan yang dahulu telah membela negara di tanah Liauw!"
Kaisar Cong Ceng tercengang, sampai ia agaknya seperti tak mendengar nyata.
"Apa kau bilang?" ia menegasi.
"Ayahku telah berjasa besar sekali untuk negara tetapi oleh Raja dia telah dihukum mati!" Sin Cie kata pula, suaranya jadi lebih keras.
Kaisar itu terkejut. Sekarang tak lagi ia mendengar tak nyata. Ia pun lantas menjadi lesu.
"Sekarang baru aku menyesal, sesudah kasip..." ia akui. Ia berhenti sebentar. Kemudian ia tanya: "Hadiah apakah yang kau kehendaki?"
Bukan kepalang girangnya A Kiu akan dengar pertanyaan ayahnya itu. Kembali ia tarik ujung bajunya si anak muda. Ia ingin pemuda ini gunai ketika yang baik itu untuk minta menjadi Hu-ma, menantu raja.
Tapi jawabannya orang yang dipuja ini di luar dugaannya.
Dengan suara yang menyatakan kemurkaannya, Sin Cie jawab: "Aku tolongi kau melulu untuk keselamatannya negara; buat apakah hadiah? Hm! Sekarang Sri Baginda sudah menyesal, maka sekarang aku minta supaya Sri Baginda cuci bersih penasarannya ayahku almarhum!"
Biar bagaimana, raja tetap raja, ia ada punya keangkuhan. Maka itu, melihat sikapnya pemuda ini, mendengar kata-katanya Sin Cie, ia berdiam. Ia sudah menyatakan kemenyesalannya, itu sudah cukup, tapi untuk aku kesalahannya, inilah lain.
Selagi begitu, Thaykam Co Hoa Sun, yang tadi telah pergi bersama barisannya, sudah kembali bersama-sama barisannya itu. Ia memberi hormat pada raja, ia tanyakan kewarasannya junjungan ini. Habis itu ia melaporkan bahwa semua pemberontak sudah dihukum mati. Ia juga beritahu bahwa keluarganya Pangeran Seng Ong sudah ditawan semua. Ia menantikan keputusannya raja.
Kaisar Cong Ceng manggut-manggut.
"Bagus!" katanya. "Dasar kau setia!"
Hampir Sin Cie bongkar rahasianya orang kebiri ini apabila ia dengar laporan itu. Ia marasa sangat sebal untuk kelicinannya dorna ini. Tapi di saat sepenting itu, ia ingat suatu apa, lantas ia bisa sabarkan diri. Ialah ia ingat, pasukan perang Giam Ong bakal lekas sampai di kota raja, maka dengan adanya manusia rendah ini di damping raja, itu akan ada untungnya untuk pergerakannya.
Tanpa perdulikan lagi kaisar, Sin Cie manggut pada A Kiu.
"Mari kembalikan pedang itu padaku, aku hendak pergi!" katanya.
Tiang Peng Kiongcu terperanjat.
"Kapan kau akan tengok aku pula?" tanyanya. Ia sampai lupa bahwa di situ ia ada bersama kaisar dan Thaykam Co Hoa Sun.
"Harap Thianhee rawat diri saja baik-baik," kata Sin Cie seraya ia ulur tangannya, untuk sambuti pedangnya.
A Kiu tarik tangannya.
"Untuk sementara baiklah pedang ini dititipkan padaku di sini," katanya. "Lain kali, apabila kita bertemu pula, baru aku kembalikan padamu....."
Sin Cie ragu-ragu, apapula ia tampak roman heran dari kaisar dan Co Hoa Sun. Kemudian, lantas saja ia manggut pula kepada tuan puteri, lalu ia putar tubuhnya dan bertindak keluar.
A Kiu menyusul sampai di luar, di pintu keraton.
"Kau jangan kuatir, tidak nanti aku lupakan kau," katanya dengan pelahan.
Sin Cie niat menutur segala apa, akan tetapi ia lihat istana itu bukan tempatnya, ketika itu bukan saatnya juga, maka ia bilang: "Di dalam negeri bakal terbit perubahan besar, maka daripada berdiam menyendiri di dalam istana, lebih baik kau pergi jauh berkelana. Kau ingat baik-baik perkataanku ini."
Inilah nasihat supaya A Kiu berlalu dari istana, sebab Giam Ong segera bakal sampai di kota raja, waktu itu suasana ada sangat mengancam. Akan tetapi A Kiu tak dapat tangkap maksud itu, yang tersembunyi. Malah dia tertawa.
"Benar," katanya. "memang aku lebih suka ikuti kau pergi berkelana ke mana saja, itu jauh terlebih senang daripada kehidupan mewah di istana. Nanti saja, apabila kau telah datang pula, baru kita-orang bicara pula dengan jelas!"
Sin Cie menghela napas, tak bisa ia mengatakan apa-apa lebih jauh. Setelah ia geraki tangan, untuk pamitan, ia loncati tembok, untuk berlalu dari istana. Ia lihat obor terangterang di segala penjuru istana, rupanya masih saja dilakukan penggeledahan untuk cari sisa-sisa pemberontak....
Anak muda kita sangat kuatirkan keselamatan Ceng Ceng, maka itu ia lakukan perjalanan pulang dengan cepat sekali. Kapan ia sudah sampai di rumahnya di gang Ceng-tiauw-cu, baru hatinya lega. Di sana kedapatan Ceng Ceng bersama-sama Wan Jie dan Lip Jie dengan tidak kurang suatu apa.
Baru sekarang, setelah tak tidur satu malaman, dan habis keluarkan tenaga banyak, Sin Cie ingat keletihannya dan mengantuk, dari itu, setelah bicara sedikit, ia pergi ke kamarnya untuk tidur.
Waktu sudah siang, kira jam tujuh atau delapan pagi, baru Sin Cie mendusin. Ketika ia pergi keluar, di thia sudah menantikan Tong Hian Toojin bersama Bin Cu Hoa serta enam murid Bu Tong Pay lainnya.
Tong Hian beramai datang ke rumah Sin Cie sebab dapat kabar kaum Ngo Tok Kauw melakukan penyerangan, mereka niat memberikan bantuan, tidak tahunya, pertempuran sudah berhenti.
"Terima kasih," Sin Cie menghaturkan kepada tetamu-tetamunya itu.
Kemudian ia bilang, mungkin sekali Oey Bok Toojin masih belum mati.
Kabar ini, walaupun masih samar-samar, sangat menggirangkan orang-orang Bu Tong Pay itu. Karena Sin Cie sendiri belum dapat kepastian, mereka tidak menanyakan melit-melit, mereka cuma sampaikan harapan untuk si anak muda suka membantu lebih jauh.
Sekalian orang sudah datang, Sin Cie minta Tong Hian semua berdiam terus di rumahnya itu, untuk bantu melindungi andaikata bantuan mereka dibutuhkan, setelah itu seorang diri ia pergi ke luar kota sebelah barat, ia jalan terus sampai kira sepuluh lie, lalu di bawahnya sebuah pohon besar, ia tampak Ho Tiat Chiu asik menantikan dia.
Nona kepala Ngo Tok Kauw itu bersenyum berseri-seri, ia menyambut sambil tertawa, sikapnya manis dan hormat.
"Wan Siangkong!" katanya; tetap masih tertawa. "Tadi malam aku telah sempurnakan urusan baikmu! Kau lihat, cukup atau tidak perbuatanku sebagai sahabat kekal?"
"Keadaan tadi malam memang sangat berbahaya," Sin Cie jawab. "Beruntung sekali Ho Kauwcu telah beri bantuanmu secara tiba-tiba, hingga onar besar bisa dapat dicegah. Aku sangat bersukur kepada kau, Kauwcu."
Masih saja kauwcu itu tertawa.
"Wan Siangkong, kau beruntung bukan main!" katanya pula. "Kau telah dapatkan satu puteri raja yang cantik molek yang berikan cintanya kepadamu, maka jikalau kemudian kau menjadi Hu-ma, apa mungkin kau nanti melupakan orang-orang Kang-ouw semacam kami?"
Sin Cie heran. "Ah, jangan main-main, Ho Kauwcu!" katanya, dengan roman sungguh-sungguh.
Tapi kauwcu itu tetap tertawa. "Hai, kau masih menyangkal?" katanya. "Dia demikian menyinta padamu, mustahil kau tidak lihat itu? Laginya, jikalau kau tidak cintai dia, mengapa kau serahkan pedang Kim Coa Kiam kepadanya? Dan kenapa kau tolongi ayahanda rajanya secara demikian matimatian?"
"Itulah melulu untuk keselamatannya negara," Sin Cie jawab.
"Ya, untuk keselamatan negara!" kata si nona. Ia terus tertawa dengan manis. "Untuk keselamatan negara dengan cara mencuri kau tidur bersama dalam satu pembaringan dengan puteri orang! Haha-haha!"
Merah mukanya Sin Cie, bukan main sibuknya ia. "Apa....apa?....." tanya dia. "Kenapa kau....." "
Kau hendak tanya, kenapa aku ketahui itu, bukankah?" tertawa Ho Kauwcu. "Ketika aku turut Co Hoa Sun masuk dalam kamarnya tuan puteri, aku telah lantas dapat tahu, bersama ia di bawah selimutnya ada tersembunyi satu orang lain! Kita ada sesama kaum Kang-ouw, apa kau sangka mataku buta? Hihi-hihi! Mulanya aku berniat menyingkap selimut, akan tetapi ketika aku menoleh ke kursi dan lihat gambar lukisan kau, Wan Siangkong, aku dapat pikiran lain. Aku anggap baiklah aku ikat persahabatan denganmu...."
Bukan main malunya Sin Cie, tak ada tempat untuk ia sembunyikan mukanya. "Ya, A Kiu telah tidak sempat sembunyikan gambar lukisannya itu," pikirnya. Ho Tiat Chiu mengawasi pemuda ini, yang merah mukanya sampai ke kuping-kuping.
Baru setelah itu, ia ubah sikapnya. "Bukankah Hee Siangkong sudah kembali dengan tidak kurang suatu apa?" tanyanya.
Sin Cie manggut. "Sekarang aku datang untuk obati saudara-saudaramu yang terluka," katanya.
(Bersambung bab ke 23)
Bab 23
Ho Tiat Chiu manggut. "Mari!" ia mengajak, sambil ia jalan di muka, menuju ke arah barat.
Di sepanjang jalan, pemimpin Ngo Tok Kauw ini puji A Kiu, untuk kecantikannya, untuk kegagahannya juga. Tidak disangka ada puteri raja, demikian muda, demikian kosen juga. Sin Cie antap orang godai ia, ia lawan dengan membungkam saja. Mereka jalan jauhnya kira lima lie, sampailah mereka di sebuah kuil tua, yang bernama Hoa Giam Sie. Di luar kuil berkumpul beberapa orang Ngo Tok Kauw, sebagai penjaga, kapan mereka lihat pemuda kita, mereka memandang dengan tampang bermusuhan.
Sin Cie tidak gubris mereka itu, ia terus ikuti Ho Tiat Chiu masuk ke dalam kuil, sampai di ruang pendopo. Di muka pendopo Tay Hiong Poo-thian, di antara tikar tergelar, rebah anggauta-anggauta Ngo Tok Kauw, yang kemarin ini menjadi kurban-kurbannya.
Tanpa buang tempo lagi, Sin Cie hampirkan mereka satu demi satu, untuk ditotok, hingga di lain saat, sembuhlah mereka semua, dapat mereka bergerak pula dengan merdeka sebagai sediakala.
Lantas setelah itu, pemuda ini kata dengan nyaring: "Aku tidak bermusuhan dengan Saudara-Saudara beramai, cuma disebabkan salah mengerti yang kecil sekali, kejadian aku berbuat keliru terhadap Saudara-Saudara, maka itu, di sini aku haturkan maaf pada Saudara-Saudara!"
Pemuda ini tidak cuma mengucap kata-kata, ia pun menjura kepada semua orang Ngo Tok Kauw itu.
Rupanya masih panas hatinya orang-orang Ngo Tok Kauw itu, mereka tidak membalas hormat, mereka pelengoskan muka, tidak ada satu yang suka bicara.
Sin Cie tidak menjadi berkecil hati. Ia anggap ia sudah lakukan keharusannya, maka tanpa bilang suatu apa lagi, ia bertindak keluar. Cuma satu kali, ketika ia kebetulan menoleh ke samping pendopo, di situ ia tampak sepasang mata yang mencorong tajam menghadapi Ho Tiat Chiu, yang antar ia keluar. Ia tidak kenali mata siapa itu, tetapi menampak sinar mata orang, ia terkejut. Itulah sinar mata yang penuh dengan kebencian hebat.
Masih Sin Cie mencoba melihat pula tapi kali ini sepasang mata itu telah lenyap, kelihatan tubuhnya berkelebat, lantas hilang. Tapi karena ia lihat tubuh berkelebat, segera ia menduga kepada Ho Ang Yo, si uwah yang romannya menyeramkan.
Sesampainya di luar, selagi Sin Cie pandang Ho Tiat Chiu, ia pun heran. Lenyap cahaya terang dan riang-gembira dari pemimpin agama ini, tak suka ia bicara, romannya jadi pendiam dan keren. Hingga Ho Kauwcu jadi bukan seperti Ho Kauwcu yang ramah-tamah tadi.
Di luar pekarangan, kedua orang saling memberi hormat, untuk pamitan. Sin Cie berjalan pulang, ketika kemudian ia menoleh, Ho Tiat Chiu sudah masuk. Ia jadi curiga, timbul keinginannya untuk mendapat tahu sebab dari perubahan sikapnya kauwcu itu. Maka itu, sesudah jalan terus sekira satu lie, hingga ia percaya, tidak nanti orang intai ia, lekas-lekas ia kembali. Ia sangat kuatir orang mempunyai daya keji, untuk mengganggu ia atau pihaknya. Tidak perduli jalanan jadi lebih jauh dan ambil lebih banyak tempo, ia mutar ke selatan, dari sana ia menuju ke belakang Hoa Giam Sie, di mana tidak ada orang, maka dengan merdeka ia bisa hampirkan tembok, untuk lompat naik dan masuk ke pekarangan dalam. Segera ia dengar suitan istimewa dari Ngo Tok Kauw, tanda undangan berapat.
Untuk sementara Sin Cie umpeti diri di atas pohon, antara daun-daun yang lebat, kemudian setelah duga, orang tentunya sudah berkumpul, ia turun dari atas pohon, dengan hati-hati ia menuju ke belakang Tay Hiong Poo-thian. Ia bersukur ia tidak ketemui siapa juga, hingga ia bisa tempatkan diri tepat di belakang pendopo, untuk pasang kuping.
Dengan lantas ia dengar suara-suara keras, dari pertentangan. Ia masih dapat kenali suara orang. Ialah suara tajam dari Ho Ang Yo, suara nyaring dari Cee In Go. Mereka ini sedang serang Ho Tiat Chiu, yang dikatakan karena main cinta sudah melupakan musuh besar dari Ngo Tok Kauw, sehingga dia jadi berkhianat, bahwa dia telah bersekongkol sama musuh, hingga dia pun merusak usaha menjunjung satu raja baru, hingga itu pun berarti merusak harapan Ngo Tok Kauw untuk pentang sayap dan pengaruh.
Selama diserang pergi-datang, Ho Tiat Chiu sendiri cuma mendengari sambil perlihatkan senyum ewah. Adalah kemudian baru ia tertawa dingin, ia tanya: "Sekarang, habis kamu mau apa?"
Itulah pertanyaan yang sangat ringkas, yang segera membuat semua anggota menjadi bungkam.
Lama orang terbenam dalam kesunyian, baru terdengar Ho Ang Yo buka mulutnya.
"Kita mesti angkat satu kauwcu baru!" kata uwah ini.
Tiat Chiu tidak jadi gentar, dia bersikap tenang tapi keren.
"Selama beberapa ratus tahun adalah aturan Ngo Tok Kauw, kalau kauwcu menutup mata barulah diangkat kauwcu baru sebagai penggantinya!" katanya. "Habis, apakah kamu inginkan aku mati?"
Kembali orang bungkam. Inilah pertanyaan hebat.
Melihat orang semua berdiam, Tiat Chiu tanya: "Siapakah yang memikir suka menjadi kauwcu baru?"
Kembali satu pertanyaan ringkas tetapi tak kurang hebatnya.
"Siapa memikir untuk jadi kauwcu baru?" Tiat Chiu ulangi pertanyaannya.
Masih semua orang bungkam.
Sia-sia saja Ho Tiat Chiu ulangi pertanyaannya itu sampai tiga kali, maka akhirnya ia tertawa berkakakan.
"Sekarang hayolah kamu memikir dengan seksama!" katanya kemudian. "Coba kamu pikir, siapa di antara kamu yang mempunyai kepandaian untuk menangkan aku! Siapa yang memikir demikian, silakan maju! Silakan dia rampas kedudukan kauwcu kita! Siapa yang takut nanti antarkan jiwanya secara kecewa, dia mesti gunai ketikanya ini, untuk tutup bacot!"
Sin Cie dengar semua itu, lantas saja ia mengintip di sela-sela pintu. Ia lihat Ho Tiat Chiu sendirian duduk di sebuah kursi, jauh di sebelah depan ia, orang-orang Ngo Tok Kauw pada memandang sambil berdiri, nampaknya mereka semua berjeri hati.
Di dalam hatinya, Sin Cie kata: "Aku telah tempur semua orang Ngo Tok Kauw, tidak ada satu di antara mereka yang nempil sama kauwcu ini. Tapi sekarang dia menindih orang dengan kekerasan, aku percaya tak dapat dia menjadi kauwcu yang kekal-abadi."
Sampai di situ, pemuda ini dapat kenyataan orang Ngo Tok Kauw tidak kandung niat memusuhkan terus padanya atau pada Ceng Ceng, maka ia anggap baik ia pulang saja, tak ada perlunya ia mencampuri urusan dalam dari mereka itu. Benar selagi ia hendak memutar tubuh, ia tampak satu cahaya berkelebat. Itulah Ho Ang Yo yang bertindak maju dengan sebatang senjata yang aneh, yang pemuda kita belum pernah lihat.
Senjata itu yang besar, mirip dengan gunting. Dari gurunya, Sin Cie belum pernah dengar senjata semacam itu, maka bisa dimengerti, ia juga tak tahu cara menggunainya. Karena ini ia batal pergi, ia terus mengintai lagi.
"Aku sendiri, tidak memikir untuk jadi kauwcu!" berkata Ho Ang Yo secara menyindir.
"Dan aku juga tahu, aku bukannya tandingan kau! Tapi aku terpaksa bertindak, untuk Ngo Tok Kauw kita! Kita harus ingat kepada tujuh leluhur kita serta tiga puteranya, bagaimana susah-payah mereka, sesudah bergulat empat-puluh tahun lebih, baru mereka dapat berdirikan perkumpulan agama kita, hingga terutama sejak seratus tahun yang terakhir ini, baru kita dapat malang-melintang di Selatan. Maka itu, sekali-kali tidak boleh Ngo Tok Kauw mesti termusna-ludas di tanganmu, kacung hina!"
Ho Tiat Chiu tidak jawab itu bibi, hanya dia tanya semua orang.
"Apakah hukumannya untuk penghinaan terhadap kauwcu?"
"Sudah sedari siang-siang aku tidak anggap lagi kau sebagai kauwcu!" Ho Ang Yo sengapi. "Mari maju!"
Uwah ini geraki kedua tangannya, untuk buka senjata semacam gunting itu, hingga terdengar suara nyaring. Benar-benar senjata istimewa itu mirip gunting, mirip sepit untuk menjepit!
Ho Tiat Chiu bersenyum dingin, ia tidak bergeming dari kursinya.
Ho Ang Yo maju terus menghampirkan, hingga dua kali gunting itu menggunting. Rupanya ia jeri terhadap kauwcu itu, sebelumnya menyerang, ia coba dulu senjatanya, sekalian dipakai mengancam. Adalah setelah ketiga kalinya, sesudah datang dekat, baru ia menyerang betul-betul.
Tiat Chiu cuma berkelit dari serangan, ia tidak membalas.
Sin Cie heran, hingga ia mengawasi terus.
Orang-orang Ngo Tok Kauw maju dengan pelahan, sikap mereka mengurung.
Baru sekarang si anak muda mengerti, pemimpin agama itu mengambil sikap menjaga diri, "menutup pintu". Tadinya ia tidak menduga demikian, karena sempitnya sela-sela pintu, ia melainkan lihat ruang pendopo kecil, lurus panjang saja.
Sampai sekian lama, masih tidak ada satu anggauta juga yang berani mulai dengan penyerangannya, mereka cuma maju untuk mengancam, bersikap mengurung.
"Mahluk-mahluk tak berguna, takut apa?" teriak Ho Ang Yo. "Hayo, semua maju!"
Ia memberi tanda dengan guntingnya.
Baru sekali ini, semua orang maju sambil berseru-seru.
Tiat Chiu lompat, kedua tangannya bergerak, maka terdengarlah suara bentrokan, suara berisik, sebab kursi yang dia pakai sebagai alat penangkis, rusak terkena bacokan-bacokan. Di lain pihak, dua anggauta menjerit dan rubuh, karena mereka dihajar gaetan!
Segera setelah itu, terlihatlah bayangan putih berkelebat sana-sini, gesit sekali.
Sin Cie adalah satu ahli silat, walaupun pertempuran tampaknya sangat kalut, ia toh bisa lihat tegas sesuatu pukulan atau tendangan, apalagi itu waktu, gerakannya orang-orang liehay dari Ngo Tok Kauw masih rada ayal, sebab mereka itu baru saja ditotok sembuh olehnya, sedang mereka itu rebah sudah lama juga.
Ho Tiat Chiu tidak pikir untuk menyingkir dari kepungan puluhan anggauta-anggautanya itu. Jikalau ia inginkan itu, menurut Sin Cie ketikanya ada banyak. Maka terang sudah, kauwcu ini hendak tindih orang-orangnya itu dengan kegagahannya.
Pertempuran berjalan terus.
Sin Cie terus pasang mata, sampai perhatiannya ketarik oleh gerak-geriknya salah satu penyerang. Dia ini tidak merangsak seperti yang lainnya, walaupun dengan pelahan-lahan ia coba dekati Ho Tiat Chiu. Dalam genggaman tangannya, orang ini menyekal suatu apa, entah barang atau senjata apa itu. Adalah setelah mengawasi sekian lama, pemuda kita kenali Kim-ie Tok Kay Cee In Go, si pengemis tidak berbudi. Setelah datang cukup dekat, mendadak pengemis ini berseru dengan keras, kedua tangannya diangsurkan ke depan dengan cepat, cekalannya dilepaskan, maka terlihatlah suatu benda bersinar kuning emas mencelat ke arah Ho Tiat Chiu.
Kauwcu ini berkelit sambil lompat jumpalitan, akan tetapi "senjata rahasia" dari Cee In Go pun aneh, dia seperti bisa bergerak sendiri, dia dapat menyambar kepada Ho Tiat Chiu, selagi dia ini pun sibuk karena desakannya empat atau lima macam senjata lainnya disebabkan desakan penyerang-penyerang, maka akhirnya, dengan perdengarkan jeritan kaget dan menyeramkan, kauwcu itu terkena juga itu senjata rahasia.
Sekarang pun Sin Cie dapat lihat tegas senjata rahasia aneh itu, yang sebenarnya bukan semacam gegaman, hanya seekor ular hidup, ialah ular berbisa kuning emas yang ditangkap Cee In Go, ular yang dikatakan "nabi"!
Selagi menjerit, Ho Tiat Chiu rasai matanya gelap, akan tetapi dia masih sempat ulur tangannya, akan sambar ular yang menggigit pundaknya, sedang dengan gaetannya, ia masih bisa gaet mati dua penyerangnya yang terdekat.
Segera terdengar teriakannya Ho Ang Yo: "Si kacung hina sudah kena dipagut ular emas, hayo desak dia, supaya bisa ular dapat lantas bekerja!"
Ho Tiat Chiu tidak dapat lagi lakukan perlawanan, dengan tubuh sempoyongan, ia menyingkir ke arah belakang pendopo. Tapi hatinya masih kuat, ia bisa pertahankan diri untuk tidak rubuh. Dengan ancaman gaetannya yang liehay, ia juga membikin orang tidak berani melintang di depannya, untuk memegat.
Menampak orang tak dapat dirintangi, Ho Ang Yo berlompat maju, ia terus menyerang dengan gunting istimewanya, untuk gunting batok kepala orang.
Masih sempat Tiat Chiu berkelit sambil tunduki kepala, dan dengan gaetannya, ia coba balas menyerang.
Tapi karena ini, ia dihalangi oleh Phoa Siu Tat dan Thia Kie Su.
Dalam keadaan sangat berbahaya itu, Ho Tiat Chiu meraba dan menekan ke pinggangnya, maka menyusul itu menyambarlah senjata rahasia jarum berbisa!
Phoa Siu Tat tidak menyangka, dia tidak sempat berkelit, malah dia tidak dapat berteriak juga, sebatang jarum mengenai dia, terus dia rubuh dan binasa.
Tapi juga Tiat Chiu sendiri, racun ular sudah bekerja, walaupun ia masih bisa memberikan perlawanan, ilmu silatnya sudah kacau, tubuhnya tidak berdiri tegak lagi. Nampaknya, pikirannya pun sudah mulai was-was.
Tidak tega Sin Cie setelah ia menyaksikan sampai sebegitu jauh. Ia ingat, Ho Tiat Chiu jadi bentrok dengan kaum sendiri boleh dibilang disebabkan tipu-dayanya merenggangkan mereka. Maka ia anggap, ia bertanggung-jawab, pantas jikalau ia tolongi nona yang liehay itu. Ia pun tidak berayal-ayalan lagi.
"Semua berhenti!" mendadak dia berseru sambil ia pun lompat keluar dari belakang pendopo.
Semua orang Ngo Tok Kauw kaget, hingga tertunda sendirinya serangan mereka. Inilah hal yang mereka tidak sangka sama sekali.
Akan tetapi Tiat Chiu sudah kalap, dia tidak kenali Sin Cie, dia malah menggaet, menyerang ini anak muda.
Sin Cie berkelit ke samping, tangan kirinya diulur, untuk menyekal lengan orang.
Dalam keadaan seperti itu, masih ingat Tiat Chiu dengan jalannya ilmu silat, maka ketika ia merasa lengannya ada yang tangkap, ia kasi turun lengannya, membarengi mana, ia menyerang dengan gaetannya dengan "Oey-hong-cie" atau "Antupan Tawon Galuh".
"Aku hendak tolongi kau!" Sin Cie serukan sambil ia kelit dari gaetan itu.
Masih Tiat Chiu kalap, masih ia menyerang pula, malah dengan hebat sekali, maka mau atau tidak, Sin Cie mesti melayani. Setelah beberapa jurus, dia sambar kaki orang dengan kaki kanannya.
"Brak!" demikian tubuh si nona rubuh terbanting. Tapi berbareng dengan itu, dia pentang kedua matanya, melihat Sin Cie, dia berseru dengan kaget: "Wan Siangkong, apakah aku sudah mati?"
"Aku hendak tolongi kau!" Sin Cie jawab. Dan ia sambar kedua lengan orang, untuk diangkat, buat dibawa menyingkir ke arah pintu.
Selama Tiat Chiu terjang Sin Cie secara buta-tuli, orang-orang Ngo Tok Kauw berdiri menonton. Mereka pun baru saja sadar dari kaget dan herannya atas munculnya secara mendadak pemuda yang liehay. Tapi begitu lihat si anak muda itu hendak bawa lari kauwcu mereka itu, mereka merangsak sambil berseru-seru.
"Siapa berani maju!" bentak Sin Cie seraya ia berbalik.
Ancaman ini ada hebat, entah siapa yang mulai, ketika di bagian belakang ada orang menjerit, dan lari, yang lain-lain lantas memutar tubuh, untuk kabur juga, untuk mereka gabruki pintu di belakang mereka!
Sin Cie tertawa sendirinya akan menyaksikan orang demikian jeri terhadapnya. Maka itu ia tidak terus angkat kaki, ia malah dapat ketika akan periksa lukanya Tiat Chiu, pundak kiri siapa sudah bengkak, sedang muka dadu dari si nona sekarang mulai berubah menjadi hitam.
Pemuda kita tahu, Tiat Chiu telah terluka hebat, kalau toh ia dapat pertahankan diri sampai sebegitu jauh, ini ada akibatnya karena dulu-dulu dia selalu memain dengan bisa ular. Tapi si nona perlu ditolong, tidak leluasa, tidak selamat untuk ia berdiam lama-lama di kuil Hoa Giam Sie ini, sarang Ngo Tok Kauw itu, maka tanpa sangsi lagi, Sin Cie pondong tubuh kauwcu itu, untuk dibawa lari pulang.
Ceng Ceng semua heran ketika mereka lihat si anak muda pulang sambil pondong Ho Tiat Chiu, mereka juga kaget.
"Hai, kenapa kau pondong dia?" Ceng Ceng berseru. "Lekas turunkan!"
"Lekas! Lekas ambil kodok es!" Sin Cie berseru.
Selagi lain-lain orang masih berdiam, Wan Jie sudah maju akan bantui Sin Cie, untuk bawa Ho Tiat Chiu ke dalam untuk segera ditolongi.
Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa serta kawan-kawannya menjadi heran berbareng gusar akan saksikan kauwcu dari Ngo Tok Kauw itu, sebab kauwcu ini adalah musuh besar mereka.
Sin Cie keluar pula dengan cepat, dengan demikian dapat ia tenteramkan hati kawan-kawannya dan kepada mereka itu ia tuturkan apa yang terjadi di Hoa Giam Sie, sampai ia tolongi kauwcu dari Ngo Tok Kauw itu. Ia juga jelaskan, bantuan apa yang Tiat Chiu sudah berikan kepada pihaknya.
"Lagi satu hal," kemudian Sin Cie tambahkan, pada rombongannya Tong Hian Toojin, "hal gurumu, Oey Bok Toojin, sebentar dapat kita tanyakan kepadanya sesudah ia sadar."
Orang-orang Bu Tong Pay itu girang menerima keterangan anak muda ini, dengan lantas mereka haturkan terima kasih mereka.
Tidak antara lama, Wan Jie keluar.
"Bisanya sudah tersedot keluar dengan pelahan-lahan akan tetapi orangnya masih belum sadar," ia beri tahu.
"Kau kasi dia makan obat pelepas racun, lantas antapkan dia tidur, untuk dia beristirahat," Sin Cie bilang.
Wan Jie jawab, "Baiklah," akan tetapi selagi ia hendak masuk kembali, kelihatan Lip Jie datang masuk sambil berlari-lari, lalu dia berseru-seru: "Wan Siangkong, selamat, selamat!"
"Kaulah yang harus dikasi selamat!" menyambut Ceng Ceng sambil tertawa.
Mukanya Wan Jie menjadi merah, lekas-lekas ia berlalu.
Lo Lip Jie tidak layani godaannya Nona Hee, ia kata pula: "Pasukan besar dari Giam Ong sudah rampas Jie-lim dan Han-tiong!"
Warta ini benar-benar menggirangkan semua orang.
"Apa kabar ini sudah pasti?" tegaskan Sin Cie yang teliti.
"Warta ini aku dapatkan dari Saudara Thio yang ditugaskan pergi mencari ini.... Bin Jieya," jawab Lip Jie. "Menurut dia, ketika dia sampai di Siamsay, dia dapatkan tentaranya Giam Ong sedang menyerang kota, hingga suara meriam menggelegar tak henti-hentinya, karena itu, tidak dapat dia jalan lebih jauh. Begitulah dia telah lihat sendiri pasukan Beng Tiauw kena dilabrak hingga kalah besar dan cong-peng dari kota itu dapat dibinasakan."
"Bagus kalau begitu!" kata Sin Cie. "Dengan begitu bisa diharap kedatangannya sembarang waktu dari tentara rakyat itu ke kota raja ini, itu waktu kita nanti menyambut dari dalam."
Karena ini Sin Cie lantas ambil ketika untuk mengatur rencana penyambutan, supaya penyerangan bisa dilakukan berbareng, dari luar dan dalam. Ia tetapkan siapa mesti melepas api, siapa mesti rampas kota, siapa mesti bunuh jendral pembela ibu-kota. Karena ini ada urusan rahasia, ia tidak lantas umumkan itu pada kawan-kawannya.
Untuk beberapa hari, Sin Cie menjadi repot, ia perlu hubungkan kawan-kawan seperjuangan lainnya yang berada di dalam kota, untuk janjikan mereka turun tangan bersama begitu lekas angkatan perang Giam Ong sudah sampai. Ketika itu hari ia pulang habis bekerja, Wan Jie ketemui dia dengan wajah Nona Ciauw ini masgul sekali.
"Wan Siangkong, masih saja Ho Kauwcu tak sadar akan dirinya," kata dia.
Sin Cie menjadi heran.
"Sudah beberapa hari tetapi ia masih belum sadar juga!" katanya.
Lantas bersama Wan Jie, ia masuk ke dalam, untuk melongok.
Ho Tiat Chiu rebah dengan muka seperti tidak ada darahnya, napasnya jalan seperti tinggal satu tarikan demi satu tarikan.
Menyaksikan itu, pemuda ini menjadi sangat berduka, hingga ia berdiam saja. Tapi otaknya bekerja. Selang sesaat, mendadak ia berjingkrak sambil berseru: "Celaka!"
Wan Jie terkejut.
"Kenapa, Wan Siangkong?" tanya nona ini.
"Aku lupa satu hal," Sin Cie jawab. "Jikalau seorang biasa terkena racun, asal racunnya sudah dapat dikeluarkan, dia bisa lantas sembuh. Dengan Ho Kauwcu, keadaan ada lain. Sedari kecil dia bergaul dengan pelbagai binatang berbisa, mungkin juga ia telah makan entah obat apa yang mengandung bisa. Ya, binatang berbisa yang umum tidak dapat meracuni dia, tidak demikian apabila dia terkena bisa yang hebat, sekali terkena, dia bisa keracunan secara hebat sekali. Demikianlah kali ini. Selama beberapa hari ini, aku terlalu repot, sampai aku tidak ingat itu...."
"Habis sekarang, bagaimana?" Nona Ciauw tanya.
Sin Cie berpikir, ia ragu-ragu.
"Nampaknya tidak ada lain jalan kecuali kasi dia makan kodok es itu," sahut ia kemudian. "Meski begini, kita cuma mencoba saja. Kesangsianku disebabkan urusan lain lagi. Kalau kita kasi dia makan kodok es itu, lalu kita dapat gangguan pula dari orang-orang Ngo Tok Kauw, asal ada orang kita yang terluka dan keracunan, pasti dia mesti terima nasibnya, tidak ada pertolongan lagi...."
Wan Jie benar-benar berduka. Kekuatiran itu beralasan.
Sin Cie terus berpikir, sampai tiba-tiba ia tepuk pahanya.
"Marilah kita kasi dia makan obat itu!" katanya kemudian. "Dia bukannya sanak, bukannya kadang kita, akan tetapi tak tega aku untuk awasi dia mati tersiksa secara begini di depan kita...."
Wan Jie bersangsi, karena percobaan itu benar-benar berbahaya. Kalau Tiat Chiu ketolongan, kalau tidak, bukankah obat mujarab itu lenyap dan ancaman di belakang hari tak dapat dielakkan lagi? Akan tetapi ia toh serahkan kodok es itu, yang terus diaduki arak, untuk terus dicekoki kepada Ho Tiat Chiu.
Habis itu, orang duduk menantikan akibatnya.


Graton Casino Hotel - Mapyro
BalasHapusSearch 의왕 출장샵 for Graton Casino Hotel 남양주 출장마사지 in 메이피로출장마사지 San Pablo? Compare reviews, 경상남도 출장샵 see photos and find 익산 출장안마 the perfect spot for any occasion. (Mapyro)