Jilid 38
Belum selang setengah jam, muka pucat dari Ho Kauwcu mulai berubah, kelihatan sinar semu dadu, dan napasnya pun tidak empas-empis lagi.
Sin Cie masih mengawasi sekian lama, lantas ia dapat kepercayaan nona itu bakal ketolongan, dari itu ia lantas tinggal pergi keluar, justru Ang Seng Hay sedang cari dia.
"Wan Siangkong, orang Ngo Tok Kauw datang mencari!" kata pengiring ini begitu lekas ia lihat majikannya. Ia nampaknya tergesa-gesa.
Hatinya Sin Cie bercekat, sepasang alisnya mengkerut.
"Berapa jumlah mereka?" ia tegasi.
"Baru satu orang sampai di luar, entah yang menyusul belakangan," Seng Hay jawab.
Sin Cie berpikir keras.
"Kecuali Ho Kauwcu, ilmu silatnya orang-orang Ngo Tok Kauw itu biasa saja," pikir ia. "Yang berbahaya adalah racun mereka. Mereka telah jeri terhadapku, perlu apa sekarang mereka datang pula? Mesti ada yang mereka buat andalan maka mereka berani cari aku! Mustika kodok sudah dimakan habis oleh Ho Tiat Chiu, andaikata ada orang dari pihakku yang terluka, habislah dia...."
Tapi ia tidak bisa buang tempo.
"Pergi wartakan semua orang," ia titahkan Seng Hay. "Semua mesti berkumpul di thia besar, tanpa titah atau tanda dari aku, aku larang siapa juga keluar akan hadapi orang-orang Ngo Tok Kauw! Pergi lekas!"
Ang Seng Hay menurut, maka dengan separuh lari, ia pergi untuk sampaikan titah itu kepada semua kaumnya.
Sin Cie sendiri lekas pergi keluar, begitu sampai di ambang pintu, ia sudah lantas dapat lihat satu orang Ngo Tok Kauw, yang separuh tubuhnya telanjang, celananya sudah rombeng, sedang berdiri di depan pintu, berdiri dengan kedua tangan, kepalanya di bawah, kedua kakinya di atas. Ia tidak merasa aneh, karena ia sudah kenal dengan lagalagunya orang-orang kaum "Lima Macam Bisa" itu. Ia juga lantas kenali, orang itu ada Kim-ie Tok Kay Cee In Go.
Hanya kali ini, "dandanan" orang she Cee ini ada lebih istimewa.
Di kedua pundak, di bebokongnya, juga di kedua bahu-tangannya, Cee In Go telah tancapkan sama sekali sembilan batang golok panjang yang tajam-mengkilap, ujung golok nancap dalam, darahnya yang masih segar masih mengalir keluar.
Sin Cie mengawasi dengan waspada, ia mesti siap sedia. Orang berlaku aneh, ia menduga-duga apa In Go lagi gunai ilmu siluman.
"Kau datang kemari, apakah kau mau?" ia tegur.
Cee In Go tidak menjawab, ia hanya mengoceh sebagai pembaca mantera: "Sembilan golok menembusi lobang, itulah pendekarnya Agama Iblis!"
"Kita berdua harus ambil jalan masing-masing, maka jangan kamu ganggu pula pihakku!" Sin Cie kata pula. "Aku janji bahwa aku pun tidak bakal ganggu kamu lebih jauh. Lekas pergi!"
Cee In Go tidak menyahuti, dia tetap mengoceh dengan manteranya itu, malah mulutnya berkemik semakin cepat mengucapkan "Sembilan golok menembusi lobang, itulah pendekarnya Agama Iblis!"
Sin Cie heran bukan main, ia terus mengawasi, dengan lebih teliti. Sekarang ia dapat lihat pada setiap batang golok diikatkan semacam mahluk berbisa, ada kalajengking, ada kelabang, semuanya masih bergerak berkutik-kutik.
Itu waktu Ang Seng Hay telah berhasil mengumpulkan semua kawan, tidak terkecuali Ceng Ceng, ia ajak mereka semua berkumpul di thia, dengan begitu, mereka ini jadi bisa turut saksikan tindak-tanduk luar biasa dari Kim-ie Tok Kay Cee In Go si Pengemis Berbisa Berbaju Sulam....
Sin Cie melirik kepada Ang Seng Hay, pengiring ini ada seorang cerdik, karena ia pun dapat dengar nyata ocehannya si orang she Cee, lekas-lekas ia masuk ke dalam, bersama-sama Ciauw Wan Jie, ia masuk ke kamarnya Ho Tiat Chiu.
"Ho Kauwcu, apakah artinya 'Sembilan golok menembusi lobang, itulah pendekarnya Agama Iblis'?" tanya ia kepada pemimpin Ngo Tok Kauw itu.
Tiat Chiu sudah mulai sadar, mendengar pertanyaan Seng Hay, ia geraki tubuhnya untuk bangun berduduk.
"Siapa yang telah datang?" dia baliki menanya.
"Satu pengemis yang tidak pakai baju," sahut Seng Hay.
"Baik," kata kauwcu itu. "Eh, Nona, tolong kau pegangi aku, antar aku keluar." Ia bicara kepada Wan Jie.
Nona Ciauw bersangsi. Ia tahu orang baru saja sadar, tubuhnya pasti masih sangat lelah. Selagi ia hendak mencegah, Tiat Chiu sudah goyangi tangan pada Seng Hay, untuk menyuruh orang lelaki ini undurkan diri, kemudian ia ambil bajunya, yang panjang, untuk dipakai. Semua gerakannya sangat lambat.
"Tak dapat kau keluar," Wan Jie bilang.
"Lekas tolong pegangi aku!" kata Kauwcu itu, yang tidak perduli cegahan.
Wan Jie jadi kewalahan, ia terpaksa menurut. Ia ulur tangannya, untuk membanguni pemimpin Ngo Tok Kauw itu.
Ho Tiat Chiu ulur tangan kanannya, akan cekal tangan Nona Ciauw kita.
Begitu ia kena dicekal, Wan Jie terperanjat. Tangannya kauwcu ini kuat dan keras sekali, ia merasa bagaikan tangannya kena dijepit, hingga seperti tidak berdaya, ia ikut nona itu bertindak keluar. Dengan sendirinya ia merasa jeri berbareng kagum terhadap ratu bisa ini.
Begitu lekas Ho Tiat Chiu sampai di muka pintu, ia berseru: "Kau lihat! Bukankah aku ini masih hidup?"
Parasnya Cee In Go memperlihatkan roman girang, ia kerahkan tenaga kedua tangannya, lantas ia berjumpalitan, sampai dua kali, tetap ia berdiri dengan kedua tangannya itu, kepalanya di bawah, kedua kakinya di atas.
"Kenapa kau datang untuk menghaturkan maaf?" tanya Ho Tiat Chiu. "Jikalau kau tidak mendapatkan ancaman malapetaka, tidak nanti kau mendapat kesadaranmu!"
Baru sekarang Kim-ie Tok Kay mau bicara.
"Oh, Kauwcu yang bijaksana!" demikian katanya, "aku yang rendah telah berdosa hingga mesti terbinasa berlaksa kali. Aku telah melukai tubuh yang suci dari Kauwcu. Bersukur kepada Cit-Couw Sam-cu, yang melindungi dan memberkahi, Kauwcu selamat, tidak kurang suatu apa!"
"Cit-Couw Sam-cu" ialah yang dimaksudkan "Tujuh leluhur, tiga putera".
Ho Tiat Chiu membentak: "Rupanya kau percaya, dengan pakai si ular emas untuk melukai aku, jiwaku pasti bakal melayang! Jikalau aku telah mati, maka dengan menuruti aturan kaum kita, dengan sendirinya kaulah yang menggantikan jadi kauwcu! Bukankah benar begitu?"
Cee In Go tekuk kedua tangannya, lantas ia lonjorkan itu kedua samping, dengan begitu dahinya jadi mengenai tanah, dengan dahi itu yang mengganjal tubuhnya, ia masih berdiri dengan kaki di atas. Dengan ini ia jalankan kehormatan.
"Aku tanya kau, kenapa kau datang untuk menghaturkan maaf kepadaku?" Ho Tiat Chiu tanya.
"Aku yang rendah tidak berani mendustai Kauwcu," Cee In Go menyahut. "Memang, menurut aturan kaum kita, adalah aku yang rendah yang mesti menjadi kauwcu pengganti. Tapi si uwa pengemis tidak setuju, dia bentrok sama aku, kesudahannya aku yang rendah tidak sanggup lawan dia..."
"Memang aku tahu hatimu tidak lurus!" Ho Tiat Chiu kata. "Sekarang kau insaf, kau hendak bersetia kepadaku, baik, aku suka kasi ampun pada satu jiwamu!"
Kauwcu ini hampirkan Kim-ie Tok Kay. Ia membungkuk, akan cabut sebatang golok di pundak.
Cee In Go jadi sangat girang, ia memberi hormat pula, lantas ia berjumpalitan lagi, untuk berdiri dengan kedua kakinya, habis mana, ia putar tubuhnya, terus ia ngeloyor pergi.
Dengan tetap dipepayang Wan Jie, Tiat Chiu bertindak ke thia, semua orang ikuti dia. Dan semua orang itu terbenam dalam keanehan berhubung sama "pertunjukan" barusan itu...
Ho Tiat Chiu tertawa.
"Dia telah didesak sampai di jalan buntu, maka itu dia datang untuk minta bantuanku," ia kata pada orang banyak.
"Apakah artinya semua golok itu?" Ceng Ceng tanya.
Tiat Chiu masih pegangi goloknya Cee In Go, ia loloskan seekor kalajengking yang diikat kepada golok itu, ia bungkus dengan saputangannya, dalam beberapa lepitan, lalu ia masuki ke dalam sakunya.
"Ini adalah ilmu siluman dari kita," kata Tiat Chiu sambil tertawa. "Aku harap Saudara-Saudara tidak mentertawakan kami. Semua sembilan golok itu ada binatang berbisanya masing-masing, bisa itu dapat dipakai mengobati, dengan cara bisa lawan bisa. Siapa keracunan bisanya semacam binatang, ia mesti diobati dengan bisanya semacam binatang juga, cuma dengan dicampuri obat lainnya, lukanya bisa disembuhkan. Mulai hari ini dan selanjutnya, setiap tahun di musim semi, apabila lukanya terkena bisa itu kambuh, aku lantas obati dengan sebungkus obat pemunah bisa."
Ceng Ceng manggut-manggut.
"Secara demikian untuk selamanya, setiap tahun dia menjadi seperti kacungmu," kata dia, "tidak nanti dia berani berkhianat pula."
"Tepat dugaan Hee Siangkong!" kata Tiat Chiu sambil tertawa.
"Apakah tidak boleh jikalau dia sendiri yang cabuti golok-golok di tubuhnya itu?" Ceng Ceng tanya pula.
"Golok-golok itu justru dia sendirilah yang tusuki di anggauta-anggauta tubuhnya itu," Tiat Chiu terangkan lebih jauh, "dengan dia datang kepadaku, untuk minta tolong dicabuti, itu adalah bukti pernyataannya bahwa ia takluk kepadaku. Dia telah lukai aku dengan ular emas itu, jikalau dia tidak pakai itu cara menusuk diri dengan sembilan golok, dia mengerti bahwa aku tidak bakal terima baik padanya."
"Jikalau begitu, kenapa kau tidak hendak cabut saja semua golok itu sekaligus?" lagi-lagi Ceng Ceng tanya. "Pada tubuhnya itu masih ada delapan golok yang nancap tajam, bagaimana sakitnya...."
Ho Kauwcu tertawa.
"Memang aku kehendaki dia menderita lebih banyak!" sahutnya. Ia berhenti sebentar, lalu ia menambahkan: "Jikalau Hee Siangkong juga suka memberi keampunan kepadanya, baik besok aku nanti cabut semua sekaligus!"
"Terserah kepadamu!" Ceng Ceng bilang. "Tak dapat aku mengasihani orang jahat sebangsa dia!"
Sampai di situ, Tong Hian Toojin anggap pembicaraan mengenai lelakon Cee In Go sudah sampai di akhirnya, maka ia berbangkit, akan hadapi pemimpin Ngo Tok Kauw itu.
"Ho Kauwcu," berkata dia, "aku ingin bicara perihal guru kami. Dengan memandang kepada Wan Siangkong, aku minta sudilah kau memberikan keterangan kepada kami."
Begitu sang imam bicara, semua murid Bu Tong Pay lainnya lantas pada berbangkit.
Ho Tiat Chiu pandang imam itu, ia tertawa dingin.
"Wan Siangkong telah melepas budi besar kepadaku, tetapi kamu dari Bu Tong Pay tidak ada sangkutannya dengan aku!" kata dia dengan tandes. "Kesehatan tubuhku masih belum pulih, apakah kamu hendak gunai kelemahan diriku ini untuk memaksa kepadaku? Jikalau itu benar, aku Ho Tiat Chiu, aku tidak takut!"
Adalah di luar dugaan umum yang nona ini bicara dengan sikap demikian keras.
Diam-diam Sin Cie kedipi Tong Hian Toojin, kepada siapa ia berpaling.
"Kesehatan Ho Kauwcu sedang terganggu, nanti saja pelahan-lahan kita bicarakan pula urusan ini," ia malang di tengah.
Belum sempat Tong Hian menyatakan sesuatu, sambil perdengarkan suara di hidung, Tiat Chiu pegang tangannya Wan Jie, untuk ajak Nona Ciauw masuk ke dalam. Dengan begitu saja ia tinggalkan orang-orang Bu Tong Pay itu, sedang yang lainnya pada melongo.
Orang-orang Bu Tong Pay perdengarkan gerutuan mereka, suatu tanda mereka merasa sangat tidak senang. Mereka merasa seperti dihinakan.
"Serahkan urusan ini padaku," Sin Cie kata pada sekalian tetamunya itu. "Aku bertanggung-jawab untuk cari tahu tempat di mana beradanya Oey Bok Toojin."
Baru setelah dengar janji ini, orang-orang Bu Tong Pay itu bisa tenangi hati.
Besoknya pagi, benar saja Cee In Go datang pula.
Ho Tiat Chiu cuma cabut sebatang golok.
Demikian seterusnya, setiap hari Kim-ie Tok Kay datang, untuk pemimpinnya cabuti goloknya itu. Di hari kesembilan, ketika ia datang pula - di waktu tengah hari - adalah Ang Seng Hay yang memberi warta pada Ho Tiat Chiu.
Ketika itu, Tiat Chiu telah pulih kesehatannya.
Juga Thia Ceng Tiok, See Thian Kong, si empe gagu A Pa, Thie-Lo-Han Gie Seng dan Ouw Kui Lam, sudah sembuh seluruhnya, mereka ingin saksikan, setelah Ho Kauwcu cabut golok yang terakhir itu, bagaimana sikapnya kauwcu ini terhadap Cee In Go. Maka itu, mereka semua turut pergi keluar.
Kim-ie Tok Kay sudah berdiri pula dengan kedua tangan menggantikan kakinya, ia unjuk air muka sangat terang, tanda kegirangannya.
Ho Tiat Chiu tidak lantas cabut golok di bebokong orang itu, ia menoleh pada Ceng Ceng, ia tertawa.
"Hee Siangkong," katanya, "orang ini punyakan sifat buruk, akan tetapi ilmu silatnya baik sekali, maka bagaimana kau pikir jikalau aku berikan dia kepadamu untuk dia jadi kacungmu? Dengan kau simpan obat pemunah racun dalam tanganmu, tidak nanti dia berani bantah setiap perkataanmu."
Ceng Ceng bersenyum.
"Aku ada seorang perempuan, untuk apa aku mempunyai seorang kacung lelaki buruk sebagai dia?" dia menjawab dengan pelahan.
Ho Tiat Chiu terperanjat, hingga ia melongo. Sejak ia lihat Ceng Ceng, seterusnya saban kali ia menemui pula, selamanya justru nona Hee sedang dandan sebagai satu pemuda, maka itu, makin lama ia melihat, makin tertarik hatinya, makin keras cintanya. Selama itu, tidak pernah ia curigai puterinya Kim Coa Long-kun ini. Oleh karena ini, jawaban si nona bikin ia heran bukan main.
"Apa?" tegasi dia.
"Aku tidak inginkan kacung itu," sahut Ceng Ceng.
"Kau membilang tentang seorang perempuan?...." Tiat Chiu tegasi pula.
Wan Jie tertawa, ia campur bicara.
"Ini adalah nona Hee," ia kasi tahu. "Sejak masih kecil dia gemar sekali dandan sebagai seorang pria. Tidak heran jikalau kau tidak dapat tahu, juga aku pada mulanya bertemu, aku tidak dapat mengenalinya."
Tiat Chiu merasai matanya berkunang-kunang, maka ia tercengang memandang "pemuda" di depannya itu. Sekarang ia lihat tegas satu kulit muka yang putih-halus, sepasang alis yang lentik melengkung! Ya, itulah kulit dan alisnya seorang wanita. Maka ia kaget, ia mendongkol, ia penasaran....
"Hai, mengapa aku jadi begini tolol!" dalam hatinya ia tegur dirinya sendiri, ia menyesalinya. "Kenapa untuk seorang perempuan, aku berontak terhadap agamaku, aku tentangi kawan-kawanku? Benar-benar tak pantas aku hidup lebih lama pula!...."
Kauwcu ini ada seorang luar biasa, walaupun dia berhati keras bagaikan baja, semakin dia gusar, semakin murah tertawanya, senyumannya. Juga kali ini, ia lantas tertawa, sujennya nampak nyata.
"Benar-benar aku tolol!" katanya. Ia bertindak ke tangga, akan hampirkan Cee In Go. Ia membungkuk, sikapnya hendak mencabut golok di bebokongnya Kim-ie Tok Kay, yang sekarang rebah tertelungkup. Ia ada seorang dengan hati kuat, akan tetapi perubahan kejadian ini telah sangat pengaruhi dia, maka itu, sesaat itu, hatinya gentar, ia bimbang, tanpa ia kehendakinya, kakinya lemas, hingga ia berdiri dengan limbung.
Ciauw Wan Jie berada dekat kauwcu ini, ia maju, untuk menolongi.
Itu waktu semua mata ditujukan kepada Cee In Go dan Ho Tiat Chiu, karena kauwcu ini limbung tubuhnya, perhatian dipindahkan kepada dia seorang diri. Maka orang tidak lihat ketika tahu-tahu, dari pinggir jalanan, tertampak orang berlari-lari dan berlompat kepada Kim-ie Tok Kay, setelah datang dekat, orang itu berseru dengan nyaring, sesudah membungkuk kepada In Go, dia lompat mundur pula. Tapi hampir berbareng sama lompatannya orang itu, In Go perdengarkan jeritan dari kesakitan yang hebat, dia rebah tertelungkup dengan golok yang panjang di bebokongnya, nancap dalam sekali.
Itulah kejadian sangat cepat, sedetik saja. Orang semua kaget. Walaupun di situ ada Sin Cie, ada Thia Ceng Tiok, See Thian Kong dan lain-lain orang liehay, masih mereka tak dapat cegah kejadian hebat itu. Adalah sesudah orang lompat mundur, baru orang kenali, si pembokong itu ada Ho Ang Yo, si uwa jelek.
Sekarang uwa ini, dengan semparkan pulang pergi tangan kirinya dengan mulut berteriak-teriak lompat berjingkrakan dengan kedua kakinya. Nyatalah seekor ular kuning emas telah menyantel di belakang telapakan tangannya, sia-sia ia berlaku kalap secara demikian, ular itu tak mau terlepas!
"Bagus! Bagus!" berseru Cee In Go sambil ia angkat kepalanya. Tapi setelah mengucap demikian, kepalanya lemas, tubuhnya berkelejat, terus dia diam saja. Karena rohnya telah melayang pergi.
Sekarang semua mata ditujukan kepada Ho Ang Yo.
Uwah yang romannya begis ini nampaknya jadi bertambah menyeramkan, suatu tanda ia berada dalam ketakutan yang sangat. Masih dia berjingkrakan, masih dia kibas-kibaskan tangannya, tetap sang ular tidak mau copot dari belakang telapakan tangannya itu. Beberapa kali ia coba ulur tangan kanannya, akan cekal ular itu, untuk ditarik, tetapi saban-saban dengan lekas ia tarik pulang tangannya itu, disebabkan dia takut nanti tangan kanannya juga disantok ular berbisa itu seperti tangan kirinya. Ia telah disantok tadi ketika ia pegang gagang golok, yang ia terus tuncapkan di bebokongnya Cee In Go. Si ular kuning emas adalah binatang berbisa dari gagang golok itu.
Ho Tiat Chiu telah dapat berdiri pula dengan tetap, ia turut tonton tingkahnya Ho Ang Yo, benar ia tertawa tetapi ia tidak kata apa-apa.
Akhir-akhirnya Ho Ang Yo ingat suatu apa, ia tidak lagi berjingkrakan, tangan kanannya dimasuki ke dalam sakunya, untuk tarik keluar sebuah golok, begitu lekas golok itu berkelebat, tangan kirinya telah ia babat kutung sebatas ugal-ugalan! Rupanya ia insaf, percuma ia binasakan atau singkirkan ular itu sesudah ia kena dipagut, ia toh bakal bercelaka karena bisanya. Setelah itu ia robek ujung bajunya, untuk dipakai membalut tangannya itu, kemudian ia lari kabur bagaikan orang kalap.
Semua penonton tercengang karena menghadapi pemandangan yang hebat itu.
Ho Tiat Chiu hampirkan tubuhnya Cee In Go, untuk ambil sebuah pipa besi, yang ia pakai menindih tubuhnya sang ular emas, kemudian dengan gaetan kirinya, ia gurat daging tangannya Ho Ang Yo, hingga daging itu terpotong, maka itu, bersama sisa daging, yang masih dipagut terus, ular itu dikasi masuk ke dalam pipa, yang terus ditutup rapat.
"Dari mana datangnya ular kuning ini?" Sin Cie tanya.
Tiat Chiu tertawa meringis.
"Orang she Cee itu minta pertolonganku, dia tetap masih tidak tenteram hatinya, dia kuatir aku nanti bikin dia celaka, maka itu ular ini ia simpan di dalam gagang goloknya yang kesembilan itu," ia kasi keterangan. "Umpama kata aku cabut goloknya itu, tidak ada soal lagi, itu artinya aku tidak ganggu dia, akan tetapi apabila aku niat bunuh dia, dia akan pakai ular itu untuk balas pagut tanganku. Hm! Bibi sebaliknya tidak suka mengasi ampun pada In Go, dia mencoba membinasakan kawan sendiri, untuk kekejamannya itu, ia peroleh pembalasannya, hingga sekarang tangannya pun mesti buntung sebelah. Coba dia berlambat sedikit saja, dia juga pasti tidak bakal ketolongan lagi...."
Sin Cie menghela napas.
"Apakah tangan kirimu pun dikutungi secara demikian?" Ceng Ceng tanya Tiat Chiu.
Ho Kauwcu deliki ini nona, dia tidak menjawabnya, hanya sambil tutupi mukanya, dia lari ke dalam.
"Sungguh orang aneh!" kata Nona Hee dengan sengit, karena ia "ketemu batunya!"
Ciauw Wan Jie diam saja, ia malah perlihatkan roman masgul.
"Nanti aku pergi temani dia, supaya tidak terbit onar lain," katanya, yang terus masuk ke dalam, untuk susul pemimpin Ngo Tok Kauw itu.
Akan tetapi ia pergi tidak lama, ia kembali dengan tergesa-gesa.
"Wan Siangkong, Ho Kauwcu kurung diri di dalam kamar, ia kunci pintu, aku panggil-panggil, dia tidak memperdulikannya," ia kasi tahu.
"Biarkan dia beristirahat sebentar," Sin Cie jawab.
"Bukan begitu, Siangkong. Aku kuatir...."
"Baik, mari kita lihat!" kata si anak muda.
Ia lantas bertindak ke dalam, Wan Jie dan Ceng Ceng turut dia.
Wan Jie lantas ketok pintu, tidak ada jawabannya; ia ulangi itu, tetap tidak ada jawabannya. Ia berkuatir, ia jadi bercuriga, maka ia lari ke jendela, untuk mengintip. Mendadak ia menjerit.
"Celaka! Wan Siangkong, lekas kemari!" ia berseru.
Akan tetapi, walaupun ia teriaki Sin Cie, ia toh tidak tunggu sampai pemuda itu lari menghampiri dia, dengan ayun kedua tangannya, dengan gerakan "Heng-teelan-to" atau "Lintangi gili-gili untuk mencegah ombak", ia hajar daun jendela menjeblak terpentang, menyusul mana, ia enjot tubuhnya untuk berloncat ke dalam.
Sin Cie dan Ceng Ceng jadi bercuriga, mereka lari ke jendela, dengan saling susul, mereka juga lompat ke dalam kamar. Bila si anak muda lihat Ho Tiat Chiu, mukanya menjadi merah.
Nona she Ho itu, pemimpin dari Ngo Tok Kauw, sudah buka bajunya, hingga kelihatanlah buah dadanya yang putih bagaikan salju, orangnya sendiri sedang tekuk lutut di depan sebuah boneka kayu yang mungil, tangan kanannya sedang pegangi si ular kuning emas, yang ia hendak bawa ke dadanya itu!
Tanpa ragu-ragu barang sedetik juga, Sin Cie ayun tangan kanannya, segera dua bitir biji caturnya menyambar kepada mulutnya ular kuning emas itu!
Ho Tiat Chiu kaget, ia sampai lepaskan cekalannya, tapi segera setelah itu, ia mendekam di atas meja, untuk menangis menggerung-gerung.
Ceng Ceng sambar pipa besi, untuk dikasi masuk ular itu ke dalamnya.
"Kenapa kau berlaku nekat begini?" ia terus tanya kauwcu itu, suaranya lembut. "Orang-orang kaummu tidak sukai lagi kepadamu, kau toh bisa turut kami. Bukankah itu bagus?"
Tiat Chiu nangis terus, ia tidak menjawab.
"Ho Kauwcu," Sin Cie turut bicara, "Ngo Tok Kauw ada satu perkumpulan agama yang sesat, dengan kau menukar haluan, dengan putuskan perhubunganmu dengan mereka, tidakkah itu bagus? Kenapa kau mesti berduka?"
Itu waktu Thia Ceng Tiok dan lainnya pun telah datang berkumpul kapan mereka telah ketahui duduknya hal, mereka lantas membujuki dan menghibur.
Penyesalan dan penasarannya Tiat Chiu rupanya terlalu hebat, hingga untuk sesaat itu, pikirannya jadi butek, hingga ia lupa segala apa, ia mau habisi jiwa sendiri, tetapi setelah orang tolongi dia dan sekarang mendengar bujukan dan hiburan, setelah nyata orang semua bersimpati kepadanya, kecerdasannya datang pula. Ia pun segera ingat suatu apa.
Maka ia angkat kepalanya, dengan matanya yang tajam, ia awasi semua orang di sekitarnya. Tiba-tiba saja ia tertawa. "Wan Siangkong," katanya, "asal kau suka terima baik satu permintaanku, aku tidak akan bunuh diri!"
Melihat tingkah nona itu, Ceng Ceng berpikir: "Ini orang sangat aneh! Baru saja dia nekat, dia menangis, atau sekarang dia sudah bisa tertawa pula! Untuk apa dia menangis? - Oh, inilah hebat! Mungkinkah dia jatuh hati kepada dia?...."
Dengan "dia", dia maksudkan Sin Cie. Maka mendadak saja, kumat pula hati cemburunya. Karena itu, segera dia dului si anak muda. "Apakah yang kau hendak minta dari dia?" dia tanya. Ho Tiat Chiu tidak jawab si nona, ia hanya pandang si anak muda.
"Wan Siangkong, kau bilang dulu, kau suka terima atau tidak?" dia mendesak.
"Sebenarnya aku tidak tahu, apakah yang Ho Kauwcu inginkan aku lakukan?" Sin Cie tanya.
Juga anak muda ini mulai curiga. Maka tak mau ia lantas berikan jawaban yang mengiakan. Ho Tiat Chiu awasi Ceng Ceng dan Wan Jie, tiba-tiba saja ia tertawa pula, kemudian dengan mendadak, ia berlutut di depan Sin Cie, ia manggut berulang-ulang.
Sin Cie terperanjat, ia heran, tetapi ia pun sibuk membalas hormat itu, hingga ia juga manggut berulang-ulang. "Sudah, sudah, jangan jalankan kehormatan." ia mencegah.
Sampai di situ, baru Tiat Chiu mau bicara. "Jikalau kau tidak terima aku sebagai muridmu, aku tidak hendak bangun!" katanya.
Ceng Ceng melongo, akan tetapi segera hatinya menjadi lega, hingga ia bisa tertawa.
"Kauwcu punya bugee sudah liehay sekali, siapa sanggup menjadi gurumu?" kata dia.
Kauwcu itu tertawa pula. "Suhu, jikalau tetap kau tidak terima aku sebagai murid, aku nanti berlutut di sini buat selama-lamanya!" kata dia pula.
Sin Cie berlega hati, ia pun merasa lucu, tetapi ia kewalahan. "Belum satu tahun sejak aku keluar dari rumah perguruan, mana dapat aku menjadi guru?" kata dia. "Jikalau Ho Kauwcu tidak cela kebisaanku yang masih cetek, baiklah kita saling menyakinkan saja, untuk memahamkan lebih jauh ilmu silat kita. Mungkin dengan cara itu kita sama-sama akan memperoleh faedah. Tentang soal angkat guru baik kita jangan sebut-sebut." Tiat Chiu tidak menjawab, tetap dia tekuk lutut, tidak mau dia berbangkit. "Mari bangun!" kata Sin Cie, lalu dengan terpaksa ia ulur kedua tangannya, untuk memegang dan memimpin bangun.
Kauwcu itu tarik tangannya.
"Awas! Tanganku ada bisanya!" kata dia. Dia tertawa. Ia pun kibaskan lengan kirinya, yang bercagak hitam dan mengkilap, untuk gaet tangannya Sin Cie itu, hingga cahayanya berkelebat!
Sin Cie tidak tarik pulang tangannya itu, malah ia majukan dua-duanya. Di saat seperti itu ia unjuk kesebatannya luar biasa. Ia sambar kedua bahu orang, ia kerahkan tenaganya, maka dalam sekejab saja, di luar kehendaknya Tiat Chiu, tubuhnya dia ini terangkat naik!
Akan tetapi pemimpin Ngo Tok Kauw benar-benar liehay, begitu lekas tubuhnya terangkat naik, ia tekuk pinggangnya ke dalam, ia angkat kedua kakinya, berbareng dengan mana, kedua bahunya pun dikibaskan!
Sin Cie tidak mau dada atau mukanya kena didupak, ia lepaskan cekalannya, kakinya mundur setindak menyusul mana Ho Tiat Chiu poksay, jumpalitan, hingga di lain saat, dia injak tanah dengan kedua kakinya, tidak ia rubuh, hanya dia terus berlutut pula!
Kagumlah semua penonton, tanpa merasa, mereka bertampik-sorak. Mereka telah saksikan kepandaian yang luar biasa sekali dari pemuda dan pemudi itu.
"Ho Kauwcu, silakan kau beristirahat sebentar, aku hendak keluar untuk menemui tetamu," kemudian Sin Cie bilang. Diam-diam ia pun kagumi kauwcu ini. Ia terus bertindak keluar.
Tiat Chiu menjadi sibuk, dia berteriak: "Wan Siangkong, apa benar-benar kau tidak sudi terima aku sebagai murid?"
"Menyesal aku tidak sanggup," jawab Sin Cie.
"Baiklah kalau begitu!" kata kauwcu itu dengan nyaring. "Nona Hee, mari! Mari aku gunai tempo setengah malaman ini untuk kasi dengar kau, dongeng tentang gambar lukisan ditaruh di muka pembaringan!"
Ceng Ceng melongo. Ia tidak mengerti.
Muka Sin Cie sebaliknya, menjadi merah. Ia merandek, ia berbalik.
"Hebat orang she Ho ini," pikir dia. "Dia pasti berani lakukan apa yang dia pikir. Mana bisa dibiarkan dia beber rahasianya A Kiu dan aku..."
Kalau sampai teruwar bagaimana ia rebah berdampingan sama satu nona bukan sanak bukan kadangnya, bagaimana ia dan A Kiu tak bakal dapat malu? Bukan saja Ceng Ceng bakal jadi murka, ia pun akan malu sekali. Karena itu, ia goyang-goyang tangannya.
Tiat Chiu tertawa pula.
"Suhu, terima baiklah permintaanku!" katanya pula.
Sin Cie kasi dengar suara tidak nyata: "Oh, oh...."
Tapi Tiat Chiu lantas saja jadi sangat girang.
"Bagus, Suhu telah meluluskan!" serunya. Ia geraki kedua dengkul, begitu berdiri, dia lompat ke depan si anak muda, untuk paykui, untuk jalankan kehormatan besar!
Sin Cie jadi sangat terdesak, terpaksa ia balas separuh dari itu pemberian hormat. Atas itu, orang banyak lantas kasi selamat, pada itu murid dan guru. Tinggallah Ceng Ceng menjadi sangat heran, ia bingung. "Kau hendak berdongeng cerita apa" ia tanya Tiat Chiu.
Ho Kauwcu tertawa, tetapi ia lantas menyahuti. "Di dalam kalangan agamaku ada semacam ilmu gaib," katanya, "asal kita lukiskan gambarnya satu orang, lalu gambar itu kita taruh di depan pembaringan, terus kita kasi hormat dengan manggut-manggut kepadanya sambil membaca mantera, pasti itu orang akan sakit jantung dan kepalanya, beruntun selama tiga bulan, dia tidak akan sembuh-sembuh."
Ceng Ceng mendengari dengan perhatian, ia separuh percaya dan separuh tidak. Tetapi Sin Cie menjadi lega hatinya. Meski demikian, ia kata dalam hatinya: "Di kolong langit tidak ada orang yang angkat guru dengan cara ancaman sebagai ini! Dia masih belum bisa ubah hatinya, pasti tak dapat aku ajari ia ilmu silat." Maka ia kata dengan sungguh-sungguh: "Sebenarnya aku tidak punyakan ilmu silat yang bisa diajari kepadamu, akan tetapi kau begini bersungguh hati, baiklah untuk sementara aku namanya saja menjadi guru, kita akan tunggu sampai aku sudah memberi keterangan kepada guruku. Apabila guruku itu telah memberi perkenannya, baru aku nanti ajari kau ilmu silat Hoa San Pay."
Alasan ini kuat. Ho Tiat Chiu tidak bisa mendesak lebih jauh. "Baik, baik," ia terima janji Sin Cie itu. Ia girang sekali.
"Ho Kauwcu...." kata Ceng Ceng.
Tetapi kauwcu itu memotong: "Tidak dapat kau menyebut aku kauwcu lagi!" katanya. "Suhu, silakan kau berikan satu nama untukku."
Sin Cie berpikir. "Baiklah, kau pakai saja nama Tek Siu," kata dia kemudian. "Tek ialah jeri untuk segala kekeliruan yang sudah-sudah, dan Siu untuk menjaga dan menjalankan prilaku baik."
"Bagus, bagus!" kata Tiat Chiu dengan girang. "Hee Susiok, kau panggilah aku Tek Siu!"
"Kau berusia lebih tua daripada aku, bugeemu juga terlebih tinggi, cara bagaimana kau memanggil susiok padaku?" kata Ceng Ceng ("Susiok" ialah "paman guru").
Tiat Chiu dekati Nona Hee itu, ia berbisik: "Sekarang aku panggil kau susiok, lain kali aku akan panggil kau subo!" Kedua pipinya Ceng Ceng menjadi merah. "Subo" itu berarti "nyonya guru". Akan tetapi, diam-diam ia toh girang bukan main. Sekarang ia jadi dapat anggapan baik terhadap kauwcu ini. Tadinya ia masih hendak menegur, tetapi segera ia batalkan niatnya itu, sebab itu waktu kelihatan Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa bertindak masuk.
Melihat dua orang Bu Tong Pay itu, Sin Cie lantas kata pada Tiat Chiu: "Sekarang kita sudah jadi orang sendiri, coba kau beritahu kepada tootiang ini berdua, Oey Bok Toojin itu sebenarnya masih hidup atau sudah mati...."
Ho Tek Siu bersenyum. "Dia ada di Inlam, di Tay...." Ia baru mengucap sampai di situ, sekonyong-konyong mendengung suara nyaring dan hebat, sampai meja dan tehkoan bergerak, sampai cawan-cawan pada bergoyang.
Semua orang terjaga. Baru saja hati mereka mulai "tetap", atau suara hebat itu terdengar pula, kali ini terus, berulang-ulang. "Itulah dentuman meriam!" kata Thia Ceng Tiok. Segera semua orang lari ke depan. Justru itu Ang Seng Hay datang sambil berlari-lari. "Balatentara Giam Ong sudah sampai!" katanya. Dentuman meriam masih terus terdengar, dari arah luar kota kelihatan cahaya api menyambar-nyambar berkelebatan dibarengi sama riuhnya suara pertempuran. Jadi terang sudah pasukan perang Giam Ong sudah sampai di luar kota raja.
"Tootiang," berkata Sin Cie pada Tong Hian Toojin, "dia sekarang telah angkat aku menjadi guru, maka tentang guru kamu, baik kita tunda dulu membicarakannya...."
Akan tetapi Ho Tiat Chiu segera menyambungi: "Oey Bok Toojin itu kena dikurung bibiku di dalam guha Tok Liong Tong di Tay-ke, Inlam. Pergi kamu bawa ini, untuk memerdekakannya!"
Sembari berkata begitu, ia serahkan sebuah suitan besi hitam-legam yang beroman ularularan. Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa girang tak kepalang mendengar guru mereka masih hidup, berulang-ulang mereka menghaturkan terima kasih mereka. Tong Hian lantas sambuti suitan itu.
"Inilah aku punya leng-hu." Ho Tiat Chiu kasi keterangan. "Kamu mesti berangkat dengan segera, supaya kamu bisa mendahului sampai di sana. Anggauta-anggauta Ngo Tok Kauw di Inlam masih belum tahu aku sudah undurkan diri dari kalangan mereka, asal mereka lihat leng-hu ini, sudah pasti mereka akan merdekakan gurumu."
Kembali Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa mengucap terima kasih, dengan tergesa-gesa mereka pamitan dari Sin Cie beramai, lantas mereka berlalu. Sin Cie juga sudah lantas kirim orang, untuk serep-serepi kabar pasti, supaya ia bisa berikan pertandaannya untuk semua kawan seperjuangannya di dalam kota bergerak serentak menuruti rencana yang ia sudah atur, ialah melepas api berbareng mengadakan serangan secara mendadak, untuk sambuti serangan dari luar.
Belum terlalu lama, satu tauwbak telah datang bersama sepucuk surat, katanya surat dari Tie-Ciangkun Lie Gam, jenderalnya Giam Ong, yang sengaja kirim itu dengan utus satu penyelundup.
"Bagus!" Sin Cie memuji. Lantas dia bertindak, mengirim orang-orang ke empat penjuru kota. Maka di waktu magrib, di mana-mana tersiarlah ko-yauw atau cerita-cerita burung yang merupakan nyanyian, yang dinyanyikan ramai oleh anak-anak kecil dan orang pengangguran.
Umpama ko-yauw di kota Barat oleh anak-anak berbunyi: "Pagi mencari satu SENG, Sore mencari satu HAP, Selama ini, orang melarat sukar hidup, Maka lekas-lekas buka pintu, Menyambut Giam Ong. Pasti semua, tua dan muda, Akan jadi girang-senang!" Sedang di kota Timur, kaum pengangguran bernyanyi: "Makan dari ibunya, Berpakai dari ibunya, Makan dan berpakai tak habis. Sebab adanya Giam Ong! Tidak usah bekerja, Tidak usah bayar cuke!"
Di dalam kota telah terbit kekacauan, tentara Beng Tiauw sudah sibuk sendirinya, tak sempat mereka mengurus "ocehan" rakyat itu, maka tidak ada yang melarang ko-yauw itu.
Sin Cie punya barang-barang permata sepuluh peti besar, dengan diam-diam telah dijual dijadikan uang kontan, uang itu telah dipecah di antara banyak kawan yang dapat dipercaya, untuk disebar di antara tentara dan opsir-opsir yang bertanggung-jawab atas penjagaan atau pembelaan kota, dengan begitu, sepak-terjang mereka jadi semakin leluasa.
Besoknya, Sha-gwee Cap-pwee, yaitu bulan tiga tanggal delapan-belas, Sin Cie bersama Ceng Ceng, Ho Tek Siu, Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong beramai, dengan menyamar sebagai serdadu-serdadu Beng Tiauw, telah pergi ke tembok kota, untuk memandang keluar, hingga mereka bisa pandang tentara sukarela yang semua mengenakan seragam warna kuning, jumlahnya semua mungkin beberapa ratus ribu jiwa, nampaknya bagaikan awan kuning saja....
Dentuman meriam masih senantiasa terdengar, karena kota asik diserang terus. Di pihak lain, pembelaan tentara pemerintah sudah kacau sekali, tak dapat mereka bertahan lama, sedang mereka, yang sudah makan sogokan, memanah secara sembarangan saja. Maka bisa diharap jatuhnya kota akan terjadi di sembarang waktu.
Sin Cie semua menjadi girang, lekas-lekas mereka undurkan diri, untuk beri titah supaya orang mulai melepas api di empat penjuru pintu kota, supaya penyerangan segera dimulai. Malah rakyat melarat turut sambut aksi itu.
Begitulah, kota menjadi kacau.
Selagi orang bertempur seru dan berteriak-teriak, Sin Cie lihat sepasukan serdadu asik iringi satu thaykam yang mengenakan pakaian sulam, mereka itu berseru-seru untuk membuka jalan. Di antara cahaya api terang-terang, pemuda kita segera kenali Co Hoa Sun.
"Semua ikut aku!" ia berteriak. "Mari kita bekuk dorna itu!"
Ho Tek Siu dan Thie Lo Han segera mendahului membuka jalan, semua lantas memburu, untuk menyerbu. Tentu saja pasukan serdadu pengiring itu tak dapat bertahan terhadap rombongan orang gagah ini.
Co Hoa Sun tampak gelagat buruk, dia putar kudanya, untuk kabur.
Akan tetapi Sin Cie sudah datang dekat, dengan satu lompatan pesat, anak muda ini sambar thaykam itu, untuk digusur turun dari kudanya.
Co Thaykam kenali ini anak muda, dia kaget dan ketakutan.
"Kau hendak pergi ke mana?" Sin Cie membentak.
"Sri Baginda titahkan siauwjin pimpin perlawanan di Ciang-gie-mui!" sahut thaykam itu dengan suara tak tegas.
Thaykam ini segera diiringi sampai di atas pintu kota yang disebutkan itu, mereka naik ke atas tembok, hingga, memandang ke luar kota, mereka bisa tampak pasukan perang sukarela.
Dengan senantiasa diiringi sebuah bendera besar, satu orang yang memakai tudung yang lebar, yang duduk atas seekor kuda hitam, mundar-mandir dengan kuda tunggangannya itu, memimpin penyerangan. Dia adalah Giam-Ong Lie Cu Seng!
"Lekas buka pintu kota, sambut Giam Ong!" Sin Cie berseru sambil ia cekal keras Co Thaykam, hingga dia ini kesakitan hampir pingsan.
Co Hoa Sun insaf, ia telah berada di tangan orang, tidak berani ia melakukan perlawanan. Ia juga lihat buruknya suasana, yang tidak dapat ditolong lagi, maka sebagai seorang licik, segera ia dapat pikiran, kalau sekarang ia tukar haluan, dengan menyambut junjungan yang baru, mungkin ia nanti dapat hadiah. Maka itu, tidak ayal lagi, ia lantas berikan titahnya untuk pentang pintu kota!
Sambil bersorak-ramai, tentara Giam Ong meluruk ke pintu kota, untuk menerjang ke dalam.
Sin Cie gunai ketikanya itu akan ikut tentara Beng Tiauw yang kalah lari masuk ke kota-dalam, di mana pasukan pembela kota ada berjumlah besar, hingga dengan datangnya pasukan dari luar ini, kota-dalam menjadi seperti penuh-sesak.
Ketika itu, cuaca sudah mulai gelap.
Di luar kota, tentara sukarela telah bunyikan gembreng, untuk tunda penyerangan, buat mereka beristirahat.
Dalam waktu kalut itu, Sin Cie beramai dengan diam-diam nyeplos pulang ke rumah mereka, tidak ada opsir atau tentara Beng Tiauw yang perhatikan mereka, sebab mereka itu masih terlalu sibuk sendiri.
Sesampainya di rumah, Sin Cie beramai salin pakaian mereka yang berlepotan darah, mereka lantas duduk bersantap, habis itu mereka naik ke genteng, untuk memandang ke sekeliling tempat. Di segala penjuru kelihatan api terang-terang.
"Besok pagi pastilah kota-dalam bakal terpukul pecah, maka sebentar malam ada saatnya untuk aku mencari balas dengan tanganku sendiri!" kata Sin Cie.
Orang tahu pemuda ini hendak membunuh kaisar Cong Ceng.
"Kita hendak turut!" kata kawan-kawan itu.
"Saudara-Saudara sudah bercape-lelah satu harian, malam ini pantas kamu beristirahat," Sin Cie bilang. "Besok pun masih banyak kerjaan penting yang mesti dilakukan. Dalam waktu kacau sebagai ini, penjagaan di istana tentunya longgar, untuk membunuh raja ada pekerjaan segebrak saja, dari itu, cukup aku bekerja sendiri!"
Orang anggap dugaan pemimpin ini beralasan, mereka tidak memaksa hendak mengikut.
Sin Cie lantas minta Ceng Ceng pasang lilin dan hio, ia masuk, lengpay dengan huruf-huruf "Sian-kun Peng-pou Siang-sie Cie Liauw Tok-swee Wan", yang berarti "Almarhum ayahanda Wan Cong Hoan, Peng-pou Siang-sie merangkap jenderal yang berperang di tanah Liauw". ("Peng-pou Siang-sie" berarti "menteri peperangan”).
Pemuda ini hendak siapkan meja abu, untuk sebentar, setelah mengutungi batang leher kaisar Cong Ceng, ia hendak bawa kepala musuh itu untuk dipakai bersembahyang, terhadap roh ayahnya almarhum itu. Ia pun sudah rencanakan, habis sembahyang ia hendak bawa kepala raja itu akan ditunjuki kepada tentara kerajaan, supaya mereka itu jadi kaget, takut dan buyar.
Apabila temponya sudah sampai, dengan bekal sebuah kantong kulit, dengan bekal sepotong golok panjang, seorang diri Sin Cie pergi ke arah istana kaisar.
Api terang di mana-mana, dalam saat kacau-balau itu, opsir-opsir dan tentara Beng, yang kabur dari hadapan musuh, menggunai ketika untuk menggarong rakyat.
Sin Cie tidak sempat perhatikan kekacauan itu, ia menuju langsung ke istana. Kapan akhirnya ia sampai, ia menjadi heran. Istana sepi dan kosong, tidak ada serdadu penjaganya, tidak tertampak orang-orang kebiri. Mungkin semua mereka itu sudah angkat kaki.
"Jikalau kaisar buron atau sembunyi, sia-sia usahaku ini...." pikir pemuda kita, yang hatinya terasa seperti mencelos. Tapi ia lari ke arah keraton. Baru ia sampai di muka pintu, ia sudah dengar suara nyaring dari seorang perempuan, yang sedang menegur hebat. Ia hampirkan pintu, untuk mengintai ke dalam. Begitu ia mendapat lihat, ia jadi girang luar biasa.
Kaisar Cong Ceng sedang duduk di atas sebuah kursi, di depannya ada seorang wanita dengan dandanan sebagai permaisuri sedang menuding-nuding seraya perdengarkan suaranya yang nyaring dan keras itu.
"Sudah semenjak belasan tahun, asal kau suka dengar sedikit beberapa kata-kataku, tidak nanti kejadian seperti hari ini! Kau telah bikin kuil leluhur dan negara terjatuh ke dalam tangan pemberontak, mana kau punya muka akan menemui leluhurmu?"
Demikian permaisuri itu. Raja tunduk, dia berdiam saja. Habis itu, sambil menangis dengan menutupi muka, permaisuri lari ke dalam. Baru Sin Cie hendak tolak pintu, untuk menerjang masuk, ia lihat munculnya satu bayangan dari arah samping, bayangan mana merupakan satu nona rupawan yang menyekal pedang. "Hu-hong, keadaan sudah mendesak, mari lekas pergi dari istana!" demikian nona itu sesampainya ia di depan raja.
Sin Cie segera kenali Tiang Peng Kiongcu atau A Kiu hingga hatinya jadi bercekat.
"Ong Kong-kong, tolong kau layani Sri Baginda," kemudian kata si nona, pada satu thaykam yang berada di damping raja.
Thaykam itu, Ong Sin In namanya, lantas mengucurkan air mata. "Baik, Kiongcu Thianhee," sahutnya. "Silakan, Thianhee pergi bersama-sama..."
"Tidak," sahut A Kiu. "Aku masih hendak berdiam di sini buat sekian waktu."
"Kota Terlarang segera bakal pecah, dengan berdiam di dalam keraton ini, nanti Thianhee terancam bahaya," membujuk orang kebiri itu.
"Aku hendak tunggu satu orang," tuan puteri bilang.
Wajahnya kaisar berubah. "Kau hendak tunggu puteranya Wan Cong Hoan?" tanya dia.
Mukanya A Kiu menjadi merah. "Tidak salah!" jawabnya. "Hari ini sin-jie hendak berpisah dari hu-hong..." "Sin-jie" berarti "aku" untuk anak raja terhadap ayahnya.
"Mau apa kau menantikan dia?" Cong Ceng tanya pula.
"Dia telah janjikan aku, sebentar dia bakal datang."
"Coba kasikan pedang itu padaku," kata raja pula.
A Kiu angsurkan pedangnya.
Raja sambuti pedang itu, pedang Kim Coa Kiam, mendadak saja sinarnya, yang hitam, berkelebat, lantas ujung pedang menyambar kepada A Kiu.
Tiang Peng Kiongcu menjerit kaget, tubuhnya limbung.

Sin Cie kaget. Tidak ia sangka kaisar berlaku demikian kejam terhadap puterinya sendiri. Ia teraling dengan pintu, jarak di antara mereka pun masih cukup jauh, tidak bisa ia lompat untuk mencegah atau menolongi tuan puteri itu. Ia baru sampai di tengah jalan, A Kiu sudah rubuh!
Masih kaisar hendak ulangi bacokannya, akan tetapi sekarang si anak muda sempat berlompat kepadanya, sebelum bacokan pedang turun, tangan kirinya Sin Cie sudah menotok tangan kanan raja yang memegang pedang itu, hingga pedang lantas terlepas. Dengan kesebatannya, dengan tangan kiri masih menyekal lengannya kaisar, dengan tangan kanannya, Sin Cie sambar Kim Coa Kiam.
Kapan ini anak muda ambil kesempatan, akan menoleh kepada A Kiu, tuan puteri itu rebah dengan mandi darah, bahu kirinya telah terbacok putus, maka itu, ia gusar bukan main.


0 komentar:
Posting Komentar