Home » » PEDANG ULAR MAS 39

PEDANG ULAR MAS 39

Jilid 39

"Hun-kun!" berteriak dia. "Kau telah aniaya ayahku, sekarang aku ambil jiwamu!"

"Hun-kun" ada cacian: "raja yang gelap pikiran".

Cong Ceng kenali Sin Cie, ia lantas menghela napas.

"Kau benar," katanya. "Aku telah rusaki negara, sekarang aku menyesal, sudah kasip..... Kau turunilah tanganmu!"

Raja ini lantas tutup rapat kedua matanya.

Dua thaykam lompat, untuk tarik Sin Cie, tetapi mereka disambut dengan dua tendangan saling-susul, hingga mereka rubuh terbanting.

Sin Cie ayun tangan kanannya, justru itu A Kiu membuka matanya, kapan nona ini lihat keadaan mengancam itu, ia lompat bangun, segera ia tubruk ayahnya, untuk dipeluki.

"Jikalau kau hendak bunuh hu-hong, bunuh aku lebih dahulu!" katanya. Dengan mata guram dan roman lesu, nona ini awasi anak muda di depannya itu. Tapi tak lama ia bisa peluki ayahnya, ia pingsan dan rubuh.

Tidak tega Sin Cie akan lihat puteri itu bermandikan darah. Dia tolak tubuh kaisar sampai Cong Ceng terjengkang dari kursinya dan rubuh, lantas ia membungkuk, untuk peluk A Kiu, untuk terus totok pundak kirinya, seluruh bebokongnya juga, guna cegah darah mengalir terus. Dan selagi darah keluar hanya dengan pelahan, ia keluarkan obat luka yang ia bekal, untuk diborehkan di tempat yang terluka, sesudah mana, dengan robekan ujung baju, ia balut luka itu.

Dengan pelahan-lahan, A Kiu sadar akan dirinya.

Ong Sin In, dengan dibantu beberapa thaykam, lekas-lekas pimpin bangun junjungan mereka, tidak tempo lagi, mereka ajak raja itu lari ke pintu.

"Ke mana kau hendak kabur?" membentak Sin Cie, kapan ia lihat orang mencoba lari. Ia lantas rebahkan tubuh A Kiu, untuk dilepaskan, buat ia memburu. Akan tetapi tuan puteri, dengan sebelah tangannya, memeluk dengan keras, sambil menangis, dia ini kata: "Jangan bunuh dia...... Jangan bunuh dia......"

"Baik!" jawab ini anak muda, yang pikir, raja itu toh tidak bakal mampu buron, sebab kota-dalam segera akan pecah. Ia pun sangat terharu terhadap puteri ini.

Hati A Kiu lega, kendorlah pelukannya, kembali ia pingsan. Melihat kekacauan dan keraton boleh dibilang sudah kosong, hingga di situ A Kiu tidak bakal dapat rawatan, Sin Cie pikir baik ia bawa puteri ini pulang ke rumahnya. Ia ambil putusan dengan lantas, terus ia pondong puteri itu, buat dibawa pulang.

Sudah kira-kira jam tiga ketika anak muda ini keluar dari keraton. Ia lihat cahaya terang di pelbagai jurusan, ia dengar teriakan riuh dan tangisan menyedihkan dari sana-sini. Teranglah, selagi kalah perang dan kabur, tentara Beng terus menggarong rakyat, penduduk kota.

Kapan Sin Cie sampai di Ceng-tiauw-cu, di rumahnya, orang asik duduk menunggui dia. Orang terperanjat dan heran, akan lihat ia pulang sambil pondong seorang perempuan yang bermandikan darah, malah Ceng Ceng lantas unjuk roman tidak puas. Akan tetapi ia segera kenali A Kiu.

"Mana kepala raja?" ia tanya.

"Aku tidak bunuh dia." Sin Cie jawab. "Nona Ciauw, tolong kau capekan hati lagi untuk merawat dia ini."

Wan Jie bersiap-sedia, ia lantas gantikan pondong A Kiu, untuk dibawa ke dalam.

"Kenapa kau tidak bunuh raja?" Ceng Ceng tanya Sin Cie.

Si anak muda menunjuk ke dalam. "Dia minta aku jangan membunuhnya," ia menyahut.

"Dia? Dia siapa?" tanya Ceng Ceng, yang menjadi gusar. "Kenapa kau dengari perkataan dia?"

Belum Sin Cie sempat menjawab, Ho Tek Siu sudah menyela. "Nona demikian cantik, mengapa dia kutung sebelah tangannya?" kata Nona Ho ini sambil tertawa. "Suhu, mana lukisan gambar? Apakah kau tidak bawa sekali?"

Sin Cie kedipi mata kepada muridnya yang nakal itu. Sebenarnya Tek Siu masih hendak mengganggu, tetapi melihat roman sang guru, dan menampak sikapnya Ceng Ceng, ia batal, ia ulur lidahnya, terus ia tutup mulut.

"Gambar apa itu?" Ceng Ceng tanya Tek Siu.

"Nona tadi pandai menggambar," nona Ho jawab. "Aku pernah lihat dia melukis gambar dirinya sendiri, bagus sekali."

"Apakah benar itu?" tegasi Ceng Ceng, matanya melotot. Tapi tanpa tunggu jawaban, ia ngeloyor ke dalam. Tek Siu menoleh kepada Sin Cie, ia leletkan lidahnya pula....

Anak muda kita lantas pergi ke kamarnya, untuk beristirahat. Ia merasa sangat pusing. Kapan sang fajar datang, Ang Seng Hay lari masuk.

"Wan Siangkong, See Ceecu telah dapat tawan thaykam Ong Siauw Giauw," ia melaporkan. "Tentara telah dipimpin untuk buka pintu Soan-bu-mui!"

Sin Cie lompat bangun. "Apakah pasukan sukarela sudah memasuki kota-dalam?" dia tanya.

"Pasukan Ciangkun Lauw Cong Bin sudah masuk," jawab Seng Hay.

"Bagus! Mari kita menyambut!" Setelah berkata begitu, pemuda ini pergi ke thia.

"Suhu jangan kuatir," Tek Siu bilang pada gurunya. "Aku nanti urus mereka itu."

Sin Cie manggut. Murid ini maksudkan Ceng Ceng semua.

Thia Ceng Tiok ada bekas sie-wie, malah dia ada pemimpin pahlawan dari kaisar Cong Ceng, karenanya, ia tidak mau campur tahu dalam sepak-terjangnya Sin Cie menyambut datangnya Giam Ong. Malah paling belakang ini, ia keram diri di dalam kamar, ia tidak mau tanya segala apa, ia tidak mau dengar apa-apa juga. Sin Cie tahu jago itu masih ingat bekas junjungannya, ia tidak bilang suatu apa, ia membiarkan saja ketua dari Ceng Tiok Pay itu.

Sampai itu waktu, See Thian Kong dan Thie Lo Han masih belum kembali, anak muda ini lantas ajak A Pa, Ouw Kui Lam dan Seng Hay pergi ke pintu Tay-beng-mui. Di jalanan ia lihat awan mendung berkumpul, salju putih beterbangan turun. Serdadu-serdadu masih saja lari serabutan, sedang di antara rakyat ada yang berseru: "Pintu Ceng-yang-mui, Cee-hoa-mui, Tong-tit-mui, semua sudah dipukul pecah!"

Semakin jauh Sin Cie jalan, makin berkurang serdadu yang merat. Sekarang Sin Cie lihat orang pada berdiri di muka pintu rumahnya masing-masing, di atas pintunya, mereka tempelkan kertas kuning dengan huruf-huruf memujikan selamat kepada pemerintah yang baru. Semua penduduk itu berseru-seru kegirangan, malah ada yang sajikan barang makanan di depan pintu, untuk jamu tentara sukarela. "Rakyat ada begini bersimpati, bagaimana Giam Ong tidak akan berhasil!" kata Sin Cie pada tiga kawannya.


Mereka jalan terus, sampai mereka dengar suara trompet ramai, lantas tampak mendatangi sebarisan dari beberapa ribu orang, di muka barisan kelihatan See Thian Kong bersama Thie Lo Han. Mereka inilah yang pimpin pasukan pejuang di dalam kota, untuk labrak sesuatu barisan Beng, sampai musuh terpukul hancur dan buyar.

Kapan pasukan tentara itu lihat si anak muda, mereka bertampik-sorak. "Giam Ong segera akan datang!" Thie Lo Han berseru. Hampir menyusul seruan imam ini, dari arah depan kelihatan mendatangi sambil berlari-lari beberapa penunggang kuda, satu di antaranya membawa sebuah bendera besar dengan huruf-huruf "Cie-Ciangkun Lie" yang berarti "Lie, pejabat Jenderal". Dan selagi beberapa penunggang kuda itu mendatangi lebih dekat, Sin Cie lihat Lie Gam, pejabat jenderal itu, dengan jubah kuningnya, kudanya dikaburkan.

"Toako!" ia berseru memanggil, sambil ia berlompat ke depan kuda, untuk memapaki.

Lie Gam tercengang, tetapi sekejab saja, ia pun sudah lantas loncat turun dari kudanya. "Jie-tee!" seru dia sambil tertawa. "Kaulah yang berjasa nomor satu atas pecahnya kota!"

"Jasa apa yang siauwtee punyakan?" Sin Cie bilang. "Begitu lekas sampai pasukan besar dari Giam Ong, tentara Beng bubar sendirinya."

Dua sahabat ini saling jabat tangan. Pertemuan yang menggirangkan juga dilakukan dengan beberapa penunggang kuda lain, yang datang bersama Cie-ciangkun Lie Gam ini, karena mereka ada Lauw It Houw dari Lauw Ya San, Cui Ciu San, Cui Hie Bin, juga An Toa Nio dan An Siauw Hui, jadi semua ada sahabat-sahabat kekal, apapula Ciu San, guru pertama dari Sin Cie.

Selagi mereka bergembira sekali, mereka dengar suara terompet, yang disusul sama seruannya pasukan tentara. "Tay-ong sampai! Tay-ong sampai!"

Dengan "Tay-ong" yaitu "Raja besar" dimaksudkan Giam Ong. Sin Cie semua menyingkir ke tepi jalanan, dari situ mereka lihat datangnya sebarisan dari seratus lebih penunggang kuda, di sebelah depan, dengan menunggang kuda bulu hitam, ada Lie Cu Seng yang memakai tudung lebar dan jubah hijau muda, yang mendatangi dari pintu Tek-seng-mui.

Lie Gam maju, untuk papaki pemimpinnya itu, dengan siapa ia ucapkan beberapa patah kata. "Bagus! Silakan undang Saudara Wan kemari!" berkata pemimpin besar itu.

Lie Gam melambaikan Sin Cie, ini anak muda bertindak maju menghampirkan. "Saudara Wan, kau telah dirikan jasa besar!" kata pemimpin itu sambil tertawa. "Apakah kau tidak punya kuda?"

Lie Cu Seng terus lompat turun, akan serahkan kudanya sendiri pada orang yang dianggap berjasa besar itu. Sin Cie menjura menghaturkan terima kasihnya.

Semua orang gembira sekali, mereka berseru: "Ban-swee!" Lie Cu Seng menukar kuda lain, lantas ia ajak semua orang mulai jalan lagi, menuju ke pintu Sin-thian-mui. Selagi jalan, ia menoleh pada Sin Cie, sembari tertawa, dia kata: "Kau menyambungi semangat ayahmu, aku menyambungi karunia Thian!"

Namanya Sin Cie dapat diartikan: "Sin" = "menyambungi/menerima" dan "Cie" = "Semangat/angan-angan". Dan "menyambungi karunia Thian" adalah "Sin Thian". ("Thian" dimaksudkan "Tuhan").

Setelah berkata demikian, Giam Ong tarik busurnya, membidik ke atas, maka melesatlah sebatang gandewanya, menyambar tepat huruf "Thian" dari nama pintu kota "Sin-thian­mui" di tembok kota!

Orang menjadi kagum , sebab kecuali gapah dan jitu, tenaga Giam Ong pun besar, anak panah itu dapat nancap dalam sekali di tembok. Maka lagi sekali orang bertampik-sorak riuh.

Sesampai mereka di muka pintu kota, di situ Thaykam Ong Tek Hoa menyambut bersama tiga-ratus thaykam lainnya.

Giam Ong tertawa, ia lempar cambuknya.

"Saudara Wan," katanya pada Sin Cie terhadap siapa ia berpaling, "ketika dahulu kau pergi ke Siamsay di mana kau menemui aku, apa pernah kau pikir bakal terjadi seperti hari ini?"

"Tay-ong bakal berhasil dengan usaha yang besar, semua orang pandai di kolong langit sudah mengetahuinya sejak siang-siang," jawab Sin Cie, "akan tetapi sekali-kali tidak ada orang dapat pikir kejadiannya ada begini lekas!"

Lie Cu Seng bertepuk tangan, ia tertawa pula.

Itu waktu ada orang berlari-lari ke depan Giam Ong, untuk segera melaporkan: "Tay-ong, ada satu thaykam memberitahukan bahwa dia lihat Kaisar Cong Ceng lari ke bukit Bwee San!"

Giam Ong memandang Sin Cie.

"Saudara Wan, pergi lekas bawa orang untuk tawan dia!" ia titahkan.

Sin Cie terima titah itu sambil menyahuti: "Ya," lalu dengan ulapkan tangan, ia ajak Ouw Kui Lam beramai pergi memburu ke Bwee San.

Bwee San ada satu bukit kecil, kapan rombongannya Sin Cie sampai di atas bukit itu, semua mereka terperanjat. Di situ, pada sebuah pohon besar, tergantung tubuhnya dua orang, satu di antaranya riap-riapan rambutnya, bajunya baju biru pendek dengan garis putih, rompinya dari sutera putih, celananya putih juga, kaki kirinya telanjang, kaki kanannya pakai sepatu merah berikut kaosnya.

Setelah Sin Cie datang dekat, ia kenali yang rambutnya riap-riapan itu ada Cong Ceng, kaisar terakhir dari Kerajaan Beng. Pada bajunya kaisar ini ada tulisan memakai darah sebagai berikut:

"Sejak tim naik atas tahta-kerajaan, tujuh-belas tahun telah lampau, selama itu, empat kali musuh telah menyerbu masuk ke dalam perbatasan, hingga sekarang ini pemberontak mendesak sampai di kota raja. Walaupun tim tidak bijaksana akan tetapi sebenarnya adalah menteri-menteri yang telah menyesatkan tim. Sekarang ini, meskipun tim mati, tim tidak punya muka untuk bertemu sama leluhurku di dunia baka, maka itu tim singkirkan kopiaku, tim tutupi muka dengan rambutku. Biarlah kaum pemberontak cincang mayat tim tetapi janganlah bikin celaka kendati satu saja rakyat negeri."

Membaca firman wasiat itu, Sin Cie jadi sangat terharu, ia berduka sekali. Dua puluh tahun ia mendendam sakit hati, sekarang ia dapat membalasnya, itu adalah hal yang menggirangkan, siapa nyanya, ia mesti saksikan akhir yang menyedihkan ini dari musuh besarnya. Ia menghela napas.

"Sekaranglah kau bisa menulis begini macam," kata dia. "Kau memesan untuk kami jangan bikin celaka sekalipun jiwanya seorang rakyat jelata. Coba sejak dahulu kau menyayangi rakyat, coba kau tidak tindas rakyat sampai mereka kelaparan dan tak berdaya, mana mungkin bisa terjadi seperti hari ini?"

"Wan Siangkong, orang yang satunya lagi ada satu thaykam," Ang Seng Hay kasi tahu.

"Satu raja mati cuma dengan ditemani satu thaykam, ini dia yang dibilang, tanah ambruk, genteng hancur, semua orang berbalik, memisahkan dirinya," berkata Sin Cie. "Sekarang, Seng Hay, pergi kau singkirkan semua mayat ini, supaya tidak sampai diganggu orang."

Seng Hay menyahuti ia akan urus mayat itu, maka setelah itu, Sin Cie ajak rombongannya balik untuk memberi laporan pada Giam Ong.

Lie Cu Seng sendiri sudah menuju ke istana, di sana ada serdadu-serdadu pihaknya, yang menjaga, mereka menyambut, untuk mengantari masuk ke dalam.

Kapan kemudian Sin Cie masuk ke istana, ia dapatkan Giam Ong sedang duduk di kursi dengan seorang anak muda yang pakaiannya tidak rapi berdiri di sampingnya.

"Bagus, Saudara Wan!" kata pemimpin itu apabila ia lihat si anak muda. "Mana raja? Bawa dia menghadap!"

"Cong Ceng telah mati gantung diri," Sin Cie kasi tahu. "Inilah surat wasiatnya."

Lie Cu Seng tercengang, tapi kemudian, ia sambuti surat wasiat itu, untuk dibaca.

Mendengar hal raja mati, si anak muda dengan pakaian kusut itu menangis menggerung­gerung, hampir saja ia pingsan.

"Inilah thaycu!" kata Giam Ong pada Sin Cie.

"Oh," kata si anak muda, yang lantas mengasih bangun pada thaycu - putera mahkota itu.

"Kenapa kau kehilangan negaramu? Kau tahu tidak sebabnya?" Giam Ong tanya putera raja itu.

"Sebab hu-hong keliru mempercayai dorna Ciu Yan Jie dan lainnya," jawab thaycu.

"Aku juga ketahui itu," kata Giam Ong sambil tertawa. Tapi ketika ia menambahkan, ia hunjuk roman keren: "Aku kasih tahu padamu, ayahanda-rajamu tolol dan kejam, dia sudah membuat rakyat hidup bersengsara! Memang harus dibuat sedih yang ayahandamu hari ini telah mati gantung diri, akan tetapi selama tujuh-belas tahun pemerintahannya, setahu sudah berapa ribu, beberapa laksa anak negeri yang dia paksa mati menggantung diri, nasib mereka itu lebih-lebih hebat dan menyedihkan."

Thaycu tunduk, ia tidak bilang suatu apa. Akan tetapi, selang sedikit lama, ia kata: "Sekarang baik kau bunuhlah aku!"

Sin Cie tidak nyana putera ini berhati keras, ia jadi kuatirkan keselamatan dirinya.

Tetapi Giam Ong bilang: "Kau masih anak-anak, kau tidak punya dosa, mana bisa aku sembarang bunuh orang?"

"Kalau begitu, aku hendak majukan beberapa permohonan," kata putera raja itu.

 "Coba sebutkan, aku ingin dengar," Giam Ong jawab.

"Aku minta kau jangan ganggu kuburannya leluhurku, supaya kau juga kubur baik-baik jenazah hu-hong dan bu-houw," minta thaycu. Ia masih ingat kepada ayahnya dan ibunda-raja.

"Itulah pasti. Tentang itu tak usah kau minta."

"Di sebelah itu, aku minta kau jangan bunuh-bunuhi rakyat."

Giam Ong tertawa berkakakan. "Bocah tak tahu apa-apa! Aku justru ada si rakyat jelata! Adalah kami rakyat jelata yang pukul pecah kota-rajamu ini! Kau mengerti tidak?"

"Jadinya kamu tidak membunuh rakyat?" thaycu tegasi.

Giam Ong lantas buka bajunya, akan perlihatkan dada dan pundaknya yang penuh tanda­tanda bekas hujan cambukan. Melihat tanda-tanda bekas siksaan itu, orang semua gegetun. Lie Cu Seng lantas kata: "Aku juga ada rakyat jelata yang taat terhadap undang-undang, akan tetapi pembesar jahat sudah siksa aku, aku pernah dipukuli, hingga saking habis daya, terpaksa aku berontak. Ayahmu itu, - hm!- dan juga kau sendiri, kamu berpura-pura saja menyayangi rakyat, buktinya tentara kita, dari yang berpangkat tinggi sampai serdadu biasa, tidak ada satu yang tidak pernah merasai siksaanmu!"

Thaycu tunduk pula, ia berdiam. Lie Cu Seng pakai pula bajunya. "Sekarang pergi kau mundur," ia menitahkan. "Mengingat kau adalah putera mahkota aku angkat kau menjadi pangeran. Dengan begini aku hendak hunjuk kepadamu, kami rakyat jelata, kami tidak mendendam sakit hati! Pangeran apa aku hendak angkat kau? Karena ayahmu persembahkan negaranya kepada kami, sekarang aku angkat kau jadi pangeran Song-ong."

Huruf "Song" dari Song-ong itu sama suara-bacanya dengan huruf "song" = "mengantar". Bersama thaycu itu ada Thaykam Co Hoa Sun. "Lekas kau haturkan terima kasih kepada Sri Baginda," ia ajari putera mahkota. Thaycu menoleh, ia memandang dengan bengis pada orang kebiri itu. Dengan mendadak saja sebelah tangannya melayang, ke mukanya thaykam she Co itu.

"Plok!" demikian suara nyaring, yang menyusuli gaplokan itu. Lalu di pipinya sang thaykam menggalang tapak lima jari tangannya si putera mahkota. Giam Ong tertawa terbahak-bahak. "Bagus!" serunya. "Dia ada orang tidak setia dan tidak berbudi, bagus dia dihajar! Mana orang? Gusur dia keluar, penggal batang lehernya!"

Co Hoa Sun kaget tidak terkira, mukanya pucat dengan mendadakan, terus ia rubuhkan diri, akan berlutut di depan pemimpin rakyat itu. Ia manggut berulang-ulang, sampai jidatnya mengenai lantai dan boboran darah. Dengan sangat ia mohon dikasihani.

Giam Ong tak gubris orang itu; ia tendang orang kebiri itu, sampai dia terguling kemudian ia titahkan orangnya hukum mati thaykam jahat itu.

Thaycu sendiri, dengan sikap agung, bertindak keluar.

"Ini anak berhati keras, aku suka orang yang bersifat sebagai dia," kata Giam Ong sambil tertawa pada Sin Cie. Terus ia menoleh ke samping, pada Kunsu Song Hian Cek, ahli pemikirannya yang tubuhnya kate. Ia kata: "Kabarnya Kaisar Cong Ceng ada punya seorang puteri, entah ada di mana puteri itu."

"Kaisar Cong Ceng telah bacok kutung sebelah lengannya puteri itu, aku bawa dia pulang untuk dirawat," Sin Cie wakilkan sang ahli pemikir menjawab. "Kalau nanti dia sudah sembuh, aku nanti bawa ia menghadap Tay-ong."

"Bagus, bagus!" Giam Ong tertawa. "Jasamu tidak kecil, aku justru lagi pikiri dengan apa aku mesti hadiahkan kau. Nah, kau ambillah puteri raja itu untukmu!"

Sin Cie terkejut.

"Tidak, tidak, itulah....." katanya.

"Saudara Wan, malu apa?” kata Song Hian Cek, yang potong kata-katanya anak muda ini. "Memang benar, satu enghiong mestilah satu orang muda! Lauw Ciangkun dan lainnya juga berjasa besar akan tetapi Tay-ong cuma hadiahkan mereka beberapa dayang."

Ahli pemikir ini bicara sambil tertawa, bagi Sin Cie, sikap dan perkataannya, ada mengandung sindiran, maka itu, ia mengawasinya dengan melengak. Ia lihat orang bertubuh tinggi tidak tiga kaki, malah kaki kanannya lebih pendek dari kaki kirinya, hingga tubuhnya dia itu menjadi dengdek, miring sebelah.... Untuk tunjang diri, kunsu ini pegangi sebatang tongkat. Dia pun mempunyai muka gepeng dan panjang, romannya sangat licin, suatu tanda dari kecerdikannya. Dia masih bersenyum-senyum waktu dia terus awasi padanya.

Justeru itu waktu, Lie Gam datang dengan cara kesusu sekali.

"Tay-ong!" katanya begitu ia sudah datang dekat, "Lauw Ciangkun beramai sedang mengacau tak keruan!"

"Ada kejadian apakah?" tanya Lie Cu Seng.

"Mereka telah tangkap-tangkapi sejumlah pembesar dan hartawan, mereka siksa orang-orang itu, untuk peras uangnya," sahut Lie Gam. "Katanya sudah tidak sedikit orang yang mereka bunuh."

Mendengar ini, Kunsu Song Hian Cek tertawa. Ia mendahului tay-ongnya bicara. Ia bilang: "Mereka itu telah berperang mati-matian, mereka rampas negara sesudah mengadu-jiwa, sekarang mereka lagi membikin uang, itulah tidak apa...."

Lie Gam tidak puas dengan kata-kata ini, ia gusar.

"Tidak demikian!" katanya. "Kanglam masih belum dapat dibikin tetap, Gouw Sam Kui di San-hay-kwan masih belum menakluk, selagi hati umum masih belum tenang, bagaimana orang-orang yang mengepalai tentara bisa memikir untuk mengumpul uang? Apakah artinya itu?"

"Kenapa sih kalau orang mengumpul uang?" kata pula Song Hian Cek dengan tawar. "Yang dikuatirkan adalah kalau orang terkena bujukan orang lain, lantas dia kandung maksud jelek terhadap Tay-ong - itu barulah jelek...."

Otot-otot di mukanya Lie Cu Seng bergerak-gerak sedikit, tanpa diingini, ia melirik kepada Lie Gam.

Masih Lie Gam murka.

"Kami telah berhasil dengan usaha besar kami ini, bukankah itu disebabkan kami tahu hati rakyat, hingga rakyat tunjang kita?" kata pula dia dengan keras.

Tidak enak hatinya Sin Cie akan lihat orang berselisih. Ia bukannya orang lama dari Giam Ong, tidak mau ia campur perselisihan itu. Maka ia lantas memberi hormat pada Giam Ong, terus ia undurkan diri dari istana. Tidak lagi ia sempat bicarakan urusan hadiah puteri raja itu. Ketika ia baru keluar dari pintu istana, di depan ada seorang berlari-lari kepadanya.

"Siauw-susiok, aku cari kau di mana-mana!"

(Bersambung bab ke 24)


Bab 24

Orang itu memakai pakaian kasar dan sepatunya sepatu rumput, di bebokongnya ada golok panjang, Sin Cie lantas kenali, dia adalah Cui Hie Bin, keponakannya Cui Ciu San.

"Ada apakah?" ia tanya pemuda itu.

Hie Bin tidak lantas menyahuti, ia hanya keluarkan sesampul surat dari sakunya, ia haturkan itu kepada ini "paman cilik" (siauw susiok).

Sin Cie awasi surat itu, ia baca alamatnya, "Kepada murid-muridku!" ia kenali surat gurunya, maka ia lantas menjura, habis itu ia menyambuti dengan kedua tangannya. Kemudian ia buka sampul itu, akan keluarkan suratnya untuk dibaca.

Guru itu menulis ringkas saja.

"Kami kaum Hoa San Pay mempunyai pesan turun menurun ialah sesuatu murid tak dapat pangku pangkat di dalam pemerintahan. Karena sekarang Giam Ong sudah berhasil dengan pergerakannya yang besar, murid-murid kita pun sudah lakukan tugasnya, maka sesuatu murid mesti lantas undurkan diri. Nanti di malaman bulan purnama dari bulan keempat kamu mesti berkumpul di puncak Hoa San.

Surat itu dibubuhkan tanda tangan dua huruf "Jin Ceng".

Sin Cie kaget.

"Kalau begitu temponya rapat tidak ada satu bulan lagi kita mesti berangkat sekarang!" kata dia.

"Memang, pamanku juga hendak lantas berangkat," Hie Bin kasih tahu.

"Mari kita pulang!" Sin Cie mengajak. Maka mereka berjalan dengan cepat. Begitu lekas Sin Cie memasuki gang di mana terletak rumahnya, ia dengar ramai suara beradunya pelbagai alat senjata, ia juga dengar suara cacian, ia jadi kaget maka ia lantas lari.

Beberapa serdadu Beng kelihatan lari serabutan. Tentara Beng Tiauw sudah buyar kenapa di sini masih ada lagi?" pemuda ini pikir.

Ia lari semakin keras, hingga tibalah ia di depan rumahnya. Di ambang pintu, Ho Tek Siu sedang labrak belasan serdadu Beng, yang berada di dalam rumah yang nampaknya hendak nerobos keluar. Untung untuk mereka ini mereka hanya diancam saja, untuk dicegah lolos. Kapan Tek Siu lihat gurunya datang, ia bersenyum ia lantas lompat minggir. Maka serentak belasan serdadu Beng itu lari keluar, saling tabrak hingga ada yang ngusruk jatuh, sebentar saja tidak kelihatan bayangan mereka juga.

Selagi gurunya pandang dia, Tek Siu tertawa, "Serdadu-serdadu Beng itu lihat rumah kita besar, mereka menyerang masuk untuk menggarong!" katanya.

Sin Cie bersenyum, "Syukur aku keburu pulang, kalau tidak celakalah mereka!" bilangnya.

Bertiga mereka masuk ke dalam, justru mereka berpapasan dengan Ang Seng Hay, yang mendatangi sambil berlari keras, mukanya pucat sekali romannya sangat tegang, "Celaka! Celaka!" demikian teriakannya berulang-ulang.

"Ada apakah?" tanya Sin Cie yang menjadi kaget.

“Thia.... Thia... Thia Lo hucu...!" kata Seng Hay yang tak dapat bicara jelas.

Melihat demikian, Sin Cie serta yang lainnya segera memburu ke kamarnya Thia Ceng Tiok, ketua dari Ceng Tiok Pay. Begitu sampai di dalam kamar, semua orang kaget tidak terkira, Thia Ceng Tiok berlutut dengan tubuh sudah menjadi mayat, golok tajam mengkilap nancap di dadanya.

“Tangkap si pembunuh!" berteriak See Thian Kong yang menjadi gusar bukan kepalang. Malah ia segera mendahului lompat keluar jendela, Ouw Kui Lam Ho Tek Siu dan beberapa yang lain turut lompat keluar untuk susul si pembunuh.

Sin Cie cari tahu napasnya Ceng Tiok, hidungnya benar-benar napasnya ketua Ceng Tok Pay itu sudah berhenti, malah tubuhnya pun sudah jadi dingin. Jadi dia telah menutup mata sejak sekian lama, jadi kematiannya diketahui sesudah terlambat. Kemudian anak muda itu perhatikan golok yang nancap di dada kawan itu. Di gagang golok terikat selembar kertas yang ada tulisannya, terdiri hanya dari delapan huruf yang artinya, "Hamba yang rendah mati bersama-sama Sri Baginda."

Surat peninggalan itu membuktikan Thia Ceng Tiok bukan mati dibunuh, dia hanya bunuh diri berkorban untuk junjungannya. Rupanya bekas pahlawan raja ini telah lantas dengar kematian dari Kaisar Cong Ceng dan segera korbankan diri karenanya, untuk unjuki kesetiaannya terhadap raja itu yang dia tetap cintai.

Tanpa merasa, saking terharu, Sin Cie meneteskan air mata. Ia kagumi ketua dari Ceng Tiok Pay ini yang tidak melupakan junjungannya walaupun dia telah diperlakukan tak selayaknya oleh junjungan itu.

Lantas anak muda itu perintah orang susul See Thian Kong semua sambil berbareng perintah orang lekas beli peti mati dan lainnya barang keperluan untuk urusan jenazahnya Ceng Tiok.

Sebagai ketua dari Ceng Tiok Pay, jenazah Thian Ceng Tiok tidak dapat dirawat sembarangan saja, akan tetapi suasana sedang kacau, terpaksa segala apa dilakukan secara sederhana. Semua anggota Ceng Tiok Pay juga tidak dapat diberi kabar lagi. Di itu hari juga, jenazah dikubur dengan semua orang unjuk hormat mereka yang terakhir.

Selama kerepotan mengurus jenazah itu, Ceng Ceng seorang saja yang tidak kelihatan muncul. Mulanya Sin Cie tidak menaruh perhatian, adalah kemudian ia tanyakan Wan Jie. "Mana Nona Hee?"

"Sudah sekian lama aku tidak lihat, nanti aku panggil dia," kata nona Ciauw yang lincah, ia lantas pergi ke kamar Ceng Ceng, akan terus mengetok pintu dengan perlahan, "Adik Ceng, Adik Ceng!" ia memanggil.

Tidak ada jawaban.

Wan Jie ulangi ketokan pada pintu, ia pun memanggil berulang-ulang tetapi tetap tidak ada jawaban, sampai Sin Cie datang sendiri. Karena heran, anak muda ini tolak pintu yang terus terbuka. Nyata kamar itu kosong, malah pakaian, pedang, dan abu ibunya si nona telah bawa semua!

Setelah melengak sekian lama, Sin Cie coba memeriksa kamar itu, sampai di bawah bantal ia dapatkan sepotong kertas yang ada tulisannya ringkas saja bunyinya.

"Karena sudah ada kim-kie giok-yap, buat apa ada aku si orang rakyat jelata."

Kembali Sin Cie melongo sebab pikirannya kusut sekali, ia mengerti kenapa Ceng Ceng kabur, sebab dia bercemburu terhadap A Kiu alias Tiang Peng Kong-cu. Kata "kim-kie giok-yap" itu - "cabang emas dan daun kumala" - berarti putri raja. ia menyesal untuk sifat cupat dari nona itu yang masih tidak bisa mengatasi diri.

"Adik Ceng, kelihatannya tetap kau belum mengerti aku," ia mengeluh di dalam hati, ia pun berkhawatir sekali ia ingat, "Dulu dia buron, hampir dia celaka di tangan orang asing, sekarang dia kabur pula, selagi suasana begini keruh. Kemudian dia pergi?"

Duduk di atas pembaringan, Sin Cie berdiam saja.

Wan Jie heran, ia pergi keluar, untuk memberitahu kawan-kawannya, maka orang lantas pada masuk, antaranya ada yang menghiburkan, ada yang memberi pikiran, Wan Jie masih muda tetapi cerdas sekali. "Wan Siangkong," katanya "Sekarang ini tidak ada faedahnya akan kau berkhawatir atau berduka saja, Nona Hee gagah, siapa berani main gila terhadapnya? Aku pikir baik urusan jatuh begini, waktunya rapat di gunung Hoa San sudah sangat mendesak, baik Siangkong segera berangkat bersama Paman A Pa, Enci Ho serta lainnya. Biar aku sendiri berdiam di sini untuk rawat Enci A Kiu, See Siok-hu bersama Thie Losu, Ouw Siok-hu dan semua orang Kim Liong Pang pun akan tetap berdiam di sini untuk berikhtiar membantu cari Nona Hee. Kita nanti kirim pemberitahuan ke seluruh tujuh propinsi supaya semua saudara nanti tolong mencari juga serta memperhatikan Nona Hee itu."

Sin Cie manggut-manggut mendengari Nona Ciauw itu.


"Bagus pikiran kau, Nona Ciauw," katanya. "Baik, aku nanti bekerja menuruti kau. Hanya mengenai Tek Siu, aku pikir baik ia tidak usah turut, ia boleh berdiam saja sama kau di sini. Sekarang ini ia belum resmi menjadi anggota partai kami, Hoa San Pay."

Kedua matanya Tek Siu bersinar kapan ia dengar perkataannya guru ini. Tadinya ia hendak bicara, tetapi mendadakan ia batalkan itu. Tiba-tiba saja ia ingat Ceng Ceng juga agaknya cemburui ia, jadi kalau ia ikut anak muda itu, si anak muda akan jadi kurang merdeka. Akhirnya terus tutup mulut, ia melainkan bersenyum. Tetapi, di dalam hatinya ia kata. "Kau tidak suka ajak aku pergi ke Hoa San, aku toh bisa pergi sendiri!"

Nona Ho ada bekas pemimpin Ngo Tok Kauw, ia sudah biasa ambil putusan sendiri, sudah biasa ia bertindak sendirian, walaupun ia telah ubah haluan, masih ada sisa-sisa adatnya ilu. Maka itu, setelah ambil putusan akan pergi seorang diri ke Hoa San, ia terus pikirkan dayanya bagaimana agar ia bisa bertemu sama Couwsoe, pemimpin dari Hoa San Pay.

Setelah bersiap, Sin Cie menghadap Tiong Ong untuk beritahukan maksud kepergian berapat di Hoa San, untuk pamitan, ia juga ambil selamat berpisah dari Lie Gam.

Tiong Ong memberi persen banyak barang permata. Tempo Sin Cie hendak menampik, Lie Gam kedipi mata padanya, maka ia lantas terima sambil menghaturkan terima kasih.

Ketika Lie Gam antar saudara ini keluar dari istana, ia menghela napas dan kata, "Saudara kau telah berhasil, lantas sekarang kau undurkan diri, inilah tindakan paling tepat. Di sini aku merasai gencetannya manusia rendah, akan tetapi tak dapat aku meletaki jabatanku, maka aku ingin pertaruhan jiwaku untuk membalas budinya Tiong 0ng...."

Wajahnya jenderal ini menjadi guram.

"Toako, jaga saja dirimu hati-hati," Sin Cie pesan, "Umpama kata kau menghadapi sesuatu bahaya, meski juga aku berada jauh selaksa lie, pasti aku akan datang untuk menyusulmu!"

Sambil linangkan air mata, dua saudara angkat ini berpisahan.

Besoknya Sin Cie berangkat dengan menunggang kuda hitam hadiah dari Giam Ong, bersama ia turut A Pa si empe gagu, Cui Ciu San, Cui Hie Bin, An Toa Nio, An Siauw Hui dan Ang Seng Hay enam orang, berikut Thay Wie dan Siauw Koay, kedua binatang piaraannya. Mereka ambil tujuan Barat, menuju ke Hoa San. Mereka menunggang kuda pilihan, maka itu dengan lekas mereka telah sampai di Wan-peng di mana mereka singgah di hotel, untuk beristirahat. Besoknya pagi habis bersantap dengan matanya yang awas, Seng Hay lihat seekor kalajengking dan seekor kelabang di pojok tembok, dipantek dengan paku, ia bercekat hati, segera ia tarik ujung baju Sin Cie untuk kisiki majikan ini.

 Kapan si anak muda saksikan dua ekor binatang berbisa itu diam-diam ia manggut. Ia mengerti, dua binatang itu mesti ada hubungannya sama Ngo Tok Kauw, maka ia sayangi Ho Tek Siu tidak turut bersama, kalau tidak tentulah murid itu bisa memberi penjelasan

Seng Hay cerdik, ia dekati jongos untuk diajak bicara hal yang tidak ada kepentingannya, setelah mana, ia tunjuk kala dan kelabang itu sambil kata, "Dua binatang berbisa di tembok itu tentulah dipantek oleh beberapa orang yang berbicara dengan lidah Selatan?"

Sang jongos tidak curiga, malah ketika ia menjawab, ia tertawa, "Jikalau tidak karena telah dapat uang ingin aku buang saja dua makhluk jahat itu. Sunggun menyebalkan." demikian jawabnya, ia tekuk-tekuk jarinya, "Belum sampai dua hari, orang-orang yang menanyakan itu seperti kau, Tuan, ada belasan banyaknya!"

"Siapa sebenarnya yang telah pantek binatang itu?"

"Seorang pengemis wanita tua!" Seng Hay segera lirik Sin Cie.

"Siapa saja yang telah menanyakannya?" tanya dia sambil dia sesapkan sepotong perak hancur di tangannya si jongos.

"Kalau bukan segala tukang minta-minta tentu segala orang tidak karuan!" sahut jongos itu sambil tertawa, "Aku tidak sangka, Tuan, kau pun menanyakannya! Ah, kau upahi aku...."

"Ketika si uwa pantek paku itu, siapa saja yang melihat dia?" Sin Cie turut menanya.

"ltu hari sungguh kebetulan!" berkata si jongos. "Mulanya satu siangkong muda dan cakap, yang minum arak sendirian saja."

"Beberapa usianya siangkong itu? Bagaimana dandanannya?"

"Nampaknya dia lebih muda sedikit daripada kau, Siangkong. Dia demikian cakap hingga tadinya aku menyangka kepada anak wayang. Setelah dilihat pedang di pinggangnya, baru aku ubah dugaanku itu. Dia seperti lagi kematian sanaknya, mukanya lesu, sepasang alisnya mengkerut. Dia minum arak akan tetapi kedua matanya merah. Melihat dia, orang bisa merasa kasihan...."

Orang segera menduga pada Ceng Ceng.

"Eh, kau jangan omong sembarangan!" Hie Bin menegur ia anggap sial akan sebut Ceng Ceng kematian orang di rumahnya...."

Kaget jongos itu tapi ia terus susuti meja. "Apakah Tuan-Tuan hendak berangkat sekarang?" dia tanya.

"Habis bagaimana?" Sin Cie masih tanya.

Jongos itu masih melirik pada Hie Bin, baru ia menyahut, "Selagi siangkong itu minum, aku dengar tindakan kaki di tangga lauwteng, lantas aku lihat datangnya seorang tua. Rambutdan kumis jenggotnya putih semua, akan tetapi roman dan tubuhnya masih kekar sekali. Dia membawa sepotong tongkat yang ia taruhnya sambil diketruki keras di lantai sampai cawan-cawan di atas meja turut menggetar.”

Sin Cie terkejut.

"ltulah Oen Beng San," pikirnya. "Ceng Ceng bertemu sama Sam-yayanya, cara bagaimana dia dapat loloskan diri...?"

"Orang tua itu duduk di meja di samping mejanya siangkong itu," jongos melanjuti. Dia lantas minta arak dan sayurannya. Dia baru duduk, lantas datang seorang tua lain. Anehnya beruntun telah datang semuanya empat orang tua, semua rambut dan kumisnya putih, mukanya merah segar. Senjata mereka ini ada yang tombak cagak pendek, ada yang runcing kulit. Mereka tidak melihat satu pada lain akan tetapi mereka duduk masing­masing di satu meja yang aneh ialah mereka kitari si siangkong. Hal itu membuat aku sangat heran. Habis itu tidak lama datanglah si pengemis wanita tua. Mulanya majikan hendak usir pengemis ini, siapa tahu, "Trang!" ia membuat satu suara nyaring, hingga aku terkejut. Tuan sangka apa sudah terjadi?"

"Apakah itu?" Hie Bin balik tanya.

"lni dia yang dibilang: Malaikat Uang berkeredong kulit anjing, orang tidak dapat dilihat dari wajahnya saja." jawab si jongos yang tegas kekagumannya, "Suara nyaring itu adalah sepotong besar perak, yang dilemparkan di meja kuasa. Kemudian, sambil memandang dan menuding kepada empat orang tua itu ia bilang, "Uang mukanya semua tuan-tuan itu masuki dalam perhitunganku. Tuan, pernahkan Tuan bertemu dengan pengemis wanita itu?"

Sin Cie menjadi sibuk, dia gelisah.

"Empat jago dari Cio Liang Pay sudah tak dapat dilawan Ceng Ceng, sekarang muncul Ho Ang Yo! itulah hebat – pikirnya.

Gembira sangat si jongos dengan penuturannya, tanpa tunggu jawaban si anak muda, ia sudah meneruskan, "Walaupun uang arak mereka telah dibayarkan, empat orang tua itu tidak memperdulikannya, mereka terus repot dengan arak mereka sendiri. Maka si uwa jadi mendongkol dengan tiba-tiba ia berseru, sebelah tangannya diayun, lantas satu benda putih mengkilap menyambar orang tua yang membawa tongkat."

"Jangan ngeberahol!" Hie Bin tertegun. "Mungkinkah pengemis wanita itu punya pedang wasiat?"

"Untung apa aku mendusta?" balik tanya si jongos, "Memang itu bukannya pedang wasiat akan tetapi bedanya tak banyak! Si orang tua angkat sumpitnya, akan tanggapi serangan. Segera terdengar suara nyaring, suara bentrokan di antara senjata dan sumpit itu. Habis itu aku tampak sumpit merupakan gagang rencengan. Ketika aku mulanya melihat aku kaget bukan main! Tahukah kau apa adanya benda yang dipakai menyerang itu?"

"Apakah itu?" Hie Bin tanya.

"ltu adalah serenceng sarung kuku! Dan semuanya kena tercantol di antara sumpit! Saking kagum, aku berseru dengan pujianku. Selagi aku memuji, aku dengar satu suara nyaring. Apakah suara itu kau tahu?"

"Apakah itu?"

"Kau lihat ini."

"Jongos itu tarik tangan Hie Bin untuk bawa dia kepada buah meja, untuk unjuki pinggiran meja itu.

Di atas meja itu ada satu lubang yang kecil, ketika jongos ambil sebatang sumpit dan memasukinya ke dalam lubang itu, tepat busurnya.

"lnilah sumpitnya si orang tua, yang ditancapkan ke meja ini," jongos itu menjelaskan "Tidakkah itu ada kepandaian yang luar biasa? Mungkin si pengemis wanita melihat dia tidak punya kesanggupan melawan dia lantas lari keluar. Kemudian, setelah itu si siangkong berlalu bersama-sama empat orang tua itu. Rupanya mereka ada dari satu rombongan, yang mengatur diri demikian rupa untuk layani si pengemis wanita tua itu...."

"Ke arah mana perginya mereka itu?" tanya Sin Cie di akhirnya,

"Mereka menuju ke Liang-hiang, dusun di barat selatan sana," sahut sang jongos, "Tidak lama seberangkatnya mereka itu si pengemis wanita tua datang pula, kali ini dia tinggalkan kala dan kelabangnya itu. Dia lelah berikan sepotong perak kepadaku dengan pesan agar aku jagai itu kedua binatang berbisa supaya jangan ada yang ganggu. Selama ini keamanan ada sangat terganggu, majikan lelaki ingin tutup perusahaannya ini, nyonya majikan tidak mengijinkannya maka perusahaan dilanjutinya...."

Sin Cie tidak tunggu sampai orang ngoceh habis, ia lantas lari keluar.

"Mari kita susul!" serunya pada kawan-kawannya. Maka semua memburu keluar untuk naik atas kuda mereka dan kabur.

Pada hari itu ia minggat, Ceng Ceng sedang mendongkol dan berduka. Setelah itu ambil putusan akan bawa abu ibunya ke Hoa San, untuk dikubur jadi satu dengan jenazah ayahnya. Malah ia telah ambil keputusan sesudah penguburan ayah dan ibunya itu ia akan habiskan jiwanya dengan bunuh diri di samping kuburan ayah dan bundanya itu.... Ia merasa sangat tidak beruntung, sebab dapati bakal suami yang tidak mencinta....

Ceng Ceng mampir di Wan-peng dengan niatan menghibur diri. Ia tidak sangka di situ ia bertemu sama keempat yayanya yang segera kurung padanya, kemudian datang Ho Ang Yo yang sudah adu kepandaian, hingga Oen Beng San pertunjuki kelihayannya akan bikin kuncup nyalinya pahlawan Ngo Tok Kauw itu hingga nyonya itu mundur sendirinya,

Tahu bahwa dia tidak punya harapan akan lolos lagi dari tangannya keempat yaya itu, Ceng Ceng dapat mengatasi diri, hingga selanjutnya ia tidak jeri lagi. Ia hanya khawatir ia nanti lantas dibikin mati di situ juga sedang niatnya adalah supaya ia bisa lebih dahulu mempersatukan dan mengubur abu ibunya dengan tulang-tulang ayahnya. Ia ada cerdik, dalam saat berbahaya itu, ia masih dapat akal.

“Toa-yaya," ia mendengar Oen Beng Tat sambil ia hampirkan yaya yang terus itu, untuk beri hormatnya, sesudah mana ia juga kasih hormat kepada ketiga yaya lainnya,

Empat yaya itu heran menampak orang tak jeri sedikit juga terhadap mereka hingga mereka mengawasi saja.

"Suwie-yaya hendak pergi ke mana?" kemudian Ceng ceng tanya sambil ia tertawa.

"Kau sendiri hendak pergi ke mana?" Beng San tanya.

"Aku sedang tunggu sahabatku she Wan karena kita telah berjanji akan bertemu di sini." Ceng Ceng jawab dengan karangannya belaka, "la masih belum sampai...."

Kelihatannya keempat yaya itu terkejut mendengar disebutnya nama Sin Cie, malah Oen Beng Gie, si Jie-yaya segera berbangkit.

"Lekas ikut kami!" katanya.

"Aku lagi tunggu kawan...." Ceng Ceng berpura-pura.

Beng Gie ulur sebelah tangannya bagaikan berkelebatnya kilat, sampai tahu-tahu Ceng Ceng merasai lengannya tercekal keras nadinya kena dipencet, hingga tanpa berdaya, ia mesti ikut bertindak keluar rumah makan, ia terus diajak naik bersama ke atas seekor kuda yang segera dilarikan keras ke luar kota, terus sampai di suatu tempat yang sepi sekali. Di sini mereka berhenti dan turun di bawah sebuah pohon besar. Tapi si nona dijoroki hingga dia jatuh terjungkal.

"Anak hina dina, anak tidak tahu malu!" begitu ia segera didamprat, "Hari ini Thian adalah yang membikin kau bertemu kami!"

Ceng Ceng lantas menangis, "Yaya, aku salah apa?" dia tanya, "Aku minta Yaya beri ampun padaku. Lain kali aku nanti dengar kata...."

"Hm, kau masih mengharap hidup?" bentak Oen Beng Gie, Jie-yaya itu. Malah dia segera hunus pisau belatinya yang tajam.

"Jie yaya, kau hendak bunuh aku?" tanya Ceng Ceng sambil menangis.

"Kau berdosa, pantas kau terima kematianmu!" kata Oen Beng Gie, si Ngo-yaya.

"Sam-yaya," kata Ceng Ceng tanpa perdulikan Ngo-yaya itu, "lbuku adalah anak perempuan kandung dari kau maka kepadamu aku minta tolong dalam satu hal...."

"Tetapi buat minta dikasih tinggal hidup itulah kau jangan harap!" kata engkong luar itu.

Ceng Ceng menangis pula, "Kalau nanti aku telah mati," katanya, "Aku minta kau tolong sampaikan sepucuk suratku kepada itu sahabat she Wan, kau pesan supaya dia sendiri saja yang pergi cari mustika, tidak usah dia tunggu aku lagi."

Tergerak hatinya keempat yaya itu mendengar kata-kata "cari mustika".

"Apakah itu yang hendak dicari?" tanya mereka hampir berbareng.

"Aku bakal mati, tak dapat aku buka rahasia," jawab Ceng Ceng, "Aku cuma minta supaya suratku tolong disampaikan...."

Nona ini robek ujung bajunya, ia ambil sepotong jarum dari sakunya, dengan itu dia tusuk jari tangannya, akan keluarkan darahnya itu, ia menulis di atas itu robekan baju. Masih keempat yaya itu tanya mustika apa itu yang hendak dicari, tetapi Ceng Ceng menulis terus, ia tidak berikan jawabannya. Ketika telah selesai ia menulis ia serahkan surat darah itu pada engkongnya.

"Untuk sampaikan surat ini, sama yaya tidak usah kau menemukan sendiri orang she Wan itu," ia bilang, "Cukup jikalau kau kirim orang ke Wang-peng ke rumah makan di mana kita lelah bertemu itu."

Meskipun ia sedang bersandiwara, tapi kapan ia ingat Sin Cie, yang dikatakan "tidak setia", Ceng Ceng toh bersedih, hingga ia menangis pula dengan sedih, air matanya mengucur tak hentinya.

Keempat yaya itu tidak tahu orang sedang permainkan mereka, mereka tidak tahu apa sebabnya cucu ini menangis demikian sedih.

Ketiga yaya dekati Beng San, untuk baca surat darah itu.

Ceng Ceng menulis begini:

Toako Sin Cie!

Dalam penghidupan kita ini, tidak dapat kita bertemu pula satu dengan lain. Maka itu mustika kepunyaan ayahku, semuanya aku hadiahkan kepadamu. Pergilah kau yang gali sendiri, tidak usah kau tunggu aku pula.

Hormatnya adikmu si Ceng.

"Mustika apakah itu!" Beng Go bentak. "Mungkinkah kau ketahui tempat simpannya itu?"

Ceng Ceng cuma manggut dengan perlahan.
Thanks for reading PEDANG ULAR MAS 39

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar