Home » » PEDANG ULAR MAS 5

PEDANG ULAR MAS 5

Jilid 5

Sin Cie berkumpul baru beberapa hari dengan An Toa-nio dan Siauw Hui, akan tetapi perpisahan itu membuat ia merasa sangat berat. Ia senantiasa ingat itu bibi dan puterinya.

Si gagu tahu bocah ini telah keluarkan banyak darah karena luka-lukanya, dari itu, ia angkat tubuh orang untuk dipondong, sesudah mana, segeralah ia buka tindakannya yang lebar, ia jalan cepat sekali tak peduli jalanan ada jalanan pegunungan yang sukar. Ia lakukan perjalanan siang, setiap malam mereka mondok di tempat di mana mereka sampai sorenya, tetapi bukannya di hotel atau rumah orang, hanya di dalam gua-gua atau rumah berhala. Kalau toh mereka singgah di hotel, melulu untuk beristirahatnya si bocah, untuk beli barang makanan.

Dalam halnya sendiri, si gagu dahar secara sembarangan, melainkan sekali tangsel perut, sedikitnya mesti dua kati mie! Sering Sin Cie tanya, mereka telah sampai di tempat apa, jawabannya adalah menunjuk jari tangannya ke arah depan.

Lagi tiga hari telah dilewatkan, jalanan jadi bertambah sukar, makin sukar, hingga lebih benar disebut, sudah tidak ada jalanan lagi, untuk maju terus, si gagu gunai kedua tangannya, akan merayap naik atau merambat antara pepohonan oyot. Sebab mereka sedang mendaki gunung.

Selama itu, lukanya Sin Cie telah jadi sembuh, cuma di atasan alisnya ada ketinggalan tanda cacat kecil. Dia menggemblok di bebokongnya empeh gagu itu, kedua tangannya merangkul leher orang dengan keras. Ia jeri kapan ia lihat tempat yang curam. Kalau mereka terpeleset dan jatuh, habislah.......

Satu hari lamanya si gagu mesti manjat, sampailah ia di atas puncaknya gunung yang tinggi di mana tepinya ada sebidang tanah yang lebar di mana pun ada tumbuh banyak pohon cemara yang tinggi-tinggi, yang merupakan rimba saja. Di sini si gagu jalan melewati lima atau enam rumah batu, melihat mana, ia bersenyum sendirinya, hingga dia mirip seorang perantauan lama yang baru kembali ke kampung asalnya sendiri.

Di depan sebuah rumah batu, si gagu tuntun Sin Cie untuk masuk ke dalamnya, galagasi malang melintang, sebagai tanda rumah itu sudah lama tidak diisi, tetapi dengan bantuannya sesapu, si gagu bersihkan itu, malah ia terus sapui semua, dalam dan luar, sesudah mana, ia nyalakan api untuk masak air dan nasi.

Gunung ada demikian tinggi, entah bagaimana caranya si gagu sediakan beras dan lainnya itu.

Ada sulit untuk Sin Cie bicara sama empehnya ini, tetapi ia tidak banyak cerewet, ada selang tiga hari, ia sibuk juga. Dengan gerakan tangan, ia tanya si gagu, mana dia si loocianpwee yang katanya dia bakal angkat jadi gurunya.

Si gagu mengerti pertanyaan itu, dia menunjuk ke bawah gunung.

"Mari kita turun," Sin Cie mengajak. Ia memberi tanda-tanda pula.

Si gagu menggeleng-geleng kepala, ia tak mau meluluskannya.

Dengan terpaksa, Sin Cie diam saja. Ia jadi sangat masgul. Ia pun kesepian. Tidak dapat ia pasang omong dengan si empeh itu.

Pada suatu malam, selagi Sin Cie sedang tidur, ia mendusin dengan tiba-tiba. Di depan matanya berkelebat cahaya terang, yang membuat ia terperanjat. Ia geraki tubuhnya, untuk berbangkit, duduk di atas pembaringan, sebelah tangannya mencekal lilin yang apinya menyala. Orang tua itu perlihatkan roman berseri-seri, tandanya ia girang.

Dasar otaknya cerdas, Sin Cie lekas-lekas turun dari pembaringan, lantas saja ia paykui empat kali.

"Suhu!" berkata dia. "Akhirnya Suhu datang juga!"

Orang tua itu tertawa terbahak-bahak.

"Eh, Anak, siapa suruh kau panggil suhu padaku?" tanya dia. "Cara bagaimana kau ketahui bahwa pasti aku akan terima kau sebagai murid?"

Sin Cie girang bukan kepalang. Dari kata-katanya orang tua itu, benar-benar dia bakal diterima sebagai murid. Segeralah ia berikan jawabannya: "Inilah Encim An yang ajari aku!"

"Artinya itu dia telah menambah kesulitan untukku!" kata si orang tua, sambil bersenyum. "Baiklah, memandang kepada mendiang ayahmu, aku terima kau sebagai murid!"

Lantas saja Sin Cie hendak paykui pula, tetapi si orang tua cegah.

"Sudah cukup, sudah cukup!" katanya. "Sampai besok saja."

Besoknya pagi, sebelum terang tanah, Sin Cie sudah bangun dari tidurnya, lantas ia pergi pada si empeh gagu di luar, dia ini rupanya sudah dapat tahu juga yang orang tua itu suka terima bocah ini sebagai murid, dalam kegirangannya yang meluap-luap, dia angkat tubuhnya si bocah, dia lemparkan ke atas, lalu dia tanggapi dengan tangannya. Hingga empat-lima kali tubuh Sin Cie terapung-apung, sehingga bocah itu, yang pun girang sekali, tertawa dengan berisik.

Si orang tua di dalam kamarnya dengar suara riuh di luar, ia bertindak menghampirkan, hingga ia saksikan laga-lagunya si gagu dan bocah itu.

"Bagus!" berkata ia. "Kau masih begini muda, kau mengerti perbuatan-perbuatan mulia dan gagah, kau telah tolongi seorang perempuan. Hayo, kepandaian apa kau punyai, pertunjuki semua itu, kasi aku lihat!"

Sin Cie jengah, hingga wajahnya menjadi merah.

"Jikalau kau tidak perlihatkan semua kepandaianmu, cara bagaimana aku bisa ajarkan kau silat?" kata si orang tua sambil tertawa. Sekarang barulah si bocah tahu, orang tua itu tidak main-main dengannya.

"Baiklah, Suhu," kata ia kemudian, sesudah mana, ia mulai bersilat. Ia jalankan Hok-houw-ciang ajaran Cui Ciu San dari permulaan sampai di akhirnya.

Orang tua itu mengawasi dengan air muka berseri-seri, ia tunggu sampai si bocah selesaikan jurus terakhir, ia tertawa.

"Tak habisnya Ciu San puji kecerdasanmu, mulanya aku tidak percaya," kata dia. "Dia ajarkan kau ilmu silat ini baru beberapa hari saja, sekarang kau bisa jalankan itu begini rupa, dia benar."

Mendengar disebutnya nama gurunya, Sin Cie sangat tertarik, tergerak hatinya, akan tetapi orang tua itu masih bicara, ia tidak berani memutuskannya.

"Cui Siokhu di mana?" begitu ia tanya, begitu lekas si orang tua berhenti bicara. "Apa ia baik?"

Terang sudah ia sangat perhatikan keselamatan orang she Cui itu.

"Ia tak kurang suatu apa, ia sudah kembali kepada Lie Ciangkun," jawab si orang tua.

Sin Cie girang sekali, walaupun ia ada sedikit menyesal yang ia tak sampai bertemu pula dengan guru Hok-houw-ciang itu.

Si gagu sendiri sudah lantas siapkan meja sembahyang.

Si orang tua keluarkan selembar gambar di mana ada lukisannya satu sasterawan, yang romannya alim dan agung. Ia sulut lilin, ia pasang hio, lantas ia memberi hormat sambil menjura. Kemudian barulah ia kata pada Sin Cie: "Inilah gambarnya Cie Couw-suya, pendiri dari kaum kita Hoa San Pay. Hayo kau jalankan kehormatan!"

Sin Cie menurut, ia lantas paykui, tapi ia tak tahu, berapa kali ia mesti manggut-manggut, ia terus paykui tak hentinya, hingga si orang tua tertawai padanya.

"Sudah cukup!" kata si orang tua itu.

Masih saja orang tua itu ketawa ketika tahu-tahu si bocah paykui terhadapnya.

"Suhu!" memanggil murid cilik ini, yang sangat cerdik.

Sambil bersenyum orang tua itu terima pemberian hormat ini.

"Mulai hari ini, kau adalah murid yang sah dari Hoa San Pay kita," kata si orang tua kemudian. "Lebih dahulu daripada kau, aku telah punyakan dua murid, sejak itu, karena tidak ada orang yang berbakat, aku belum pernah terima murid lainnya lagi, belasan tahun telah lewat, baru sekarang kau datang. Kau ada murid yang ketiga, kau juga ada murid penutup, maka itu, kau mesti belajar dengan sungguh-sungguh, supaya tidak sampai kau menerbitkan malu untuk kaum kita!"

Sin Cie manggut berulang-ulang.

"Aku janji, Suhu," ia berikan perkataannya.

"Aku adalah orang she Bok," sang guru berkata pula. "Dalam kalangan Kang-ouw, sahabat-sahabatku panggil aku Pat Chiu Sian-wan. Kau harus ingat baik-baik, kau harus jaga supaya lain kali, apabila ada orang tanya kau tentang nama gurumu, nanti kau menyahuti, "Oh, oh, aku tak tahu....."

Mendengar itu, tak dapat ditahan lagi, Sin Cie tertawa. Tapi segera ia berhenti. Ia ingat pesannya An Toa-nio bahwa si orang tua bertabiat ku-koay; ingat itu, hatinya kecil, ia jeri, akan tetapi sekarang ternyata, guru ini bukannya seorang aneh, dia hanya satu tukang guyon! Pat Chiu Sian-wan Bok Jin Ceng, si Lutung Sakti Tangan Delapan, sudah malang-melintang dua-puluh tahun lebih dalam dunia Kang-ouw, belum pernah dia ketemukan tandingannya, karena ia tidak suka jual lagak, namanya tidak terlalu tersohor. Memang benar ia mempunyai sifat yang luar biasa, ialah suka menyendiri. Tapi terhadap Sin Cie, segera timbul perasaan kasihannya. Bocah ini, yang yatim-piatu, harus dikasihani, sedang di sebelah itu, Jin Ceng hargakan sangat Wan Cong Hoan sebagai panglima perang yang gagah, sebagai jenderal yang setia, terutama disayangi kebinasaannya secara menyedihkan. Sin Cie sendiri ada berbakat baik, cerdas, kelakuannya sangat menyukai orang. Maka itu, lenyap keanehannya, Jin Ceng suka terima bocah ini, malah ia telah berguyon dengannya.

"Kedua suhengmu ada jauh lebih tua daripadamu, dua atau tiga-puluh tahun lebih," berkata sang guru kepada muridnya. "Murid-murid mereka juga ada jauh terlebih tua daripada kau. Maka bisa kejadian, mereka akan sesalkan aku, yang aku telah terima kau, satu murid begini muda! Dan umpama kata kau belajar tidak berhasil, apabila nanti kau dipadu dengan murid-murid mereka dan kau kalah, ada alasan untuk mereka itu cela aku..."

"Pasti aku belajar sungguh-sungguh, Suhu," Sin Cie pastikan. Lalu ia tanya: "Cui Siokhu itu ada murid suhu juga?"

"Ia hendak turut Lie Ciangkun berperang, ia tidak punya tempo akan belajar dengan tetap padaku," sahut Bok Jin Ceng. "Aku cuma ajarkan ia ilmu pukulan Hok-houw-ciang, tak dapat ia dipandang sebagai muridku." Lalu ia tunjuk si gagu dan melanjuti: "Lihat ia! Setiap hari ia saksikan kita berlatih, dengan sendirinya ia dapatkan bukan sedikit kepandaian, akan tetapi apabila ia dipadu dengan dua muridku, bedanya bagaikan langit dan bumi saja!"

Sin Cie kagum, hingga ia melengak. Ia telah saksikan kekuatan dan liehaynya si empeh gagu, toh ia ini cuma satu pelajaran dari kepandaiannya didapat, katanya, "boleh mencuri lihat saja." Ciu San pun gagah sekali, toh ia cuma peroleh satu Hok-houw-ciang. Semua itu adalah bukti-bukti yang menunjuki liehaynya guru ini.

"Maka jikalau aku belajar sungguh-sungguh, walaupun aku tak dapat susul kedua suheng, tentu sedikitnya aku bisa dapat kepandaian sebagai si gagu ini." pikir ia. Dan pikiran ini membikin ia girang sekali.

"Kami kaum Hoa San Pay mempunyai beberapa aturan," Bok Jin Ceng berkata lebih jauh. "Itu mengenai pantangan berbuat cabul, melakukan pekerjaan sebagai piauwsu dan lain­lain, sekarang belum dapat aku jelaskan kepada kau, karena kau tentunya tidak mengerti. Melainkan kau hendak pesan dua rupa kepada kau, yaitu kau mesti dengar kata guru, kau mesti jangan lakukan apa-apa yang buruk! Kau mengerti?"

"Pasti aku akan dengar perkataan Suhu, tidak nanti aku berbuat buruk," jawab sang murid.

"Bagus!" berkata guru itu. "Sekarang mari kita mulai berlatih. Karena temponya sangat mendesak, Cui Siokhumu ajarkan kau Hok-houw-ciang secara sekelebatan saja. Sebenarnya, ilmu pukulan itu mempunyai kefaedahan yang utama, usiamu masih terlalu muda, apabila kau terus yakinkan itu, kau tak akan dapatkan kesempurnaan. Maka sekarang aku nanti mulai kau dengan Tiang-kun Sip-toan-kim."

"Dulu pernah Nie Siokhu ajarkan aku pukulan itu," Sin Cie terangkan.

"Ya, tetapi itu belum berarti!" kata sang guru. "Apa kau rasa kau sudah pandai gunai itu? Kau keliru jauh! Jikalau kau telah sempurnakan Tiang-kun Sip-toan-kim, di dalam kalangan Kang-ouw, tentulah tak banyak orang lagi yang sanggup kalahkan padamu!......."

Sin Cie melengak pula.

"Ya, ya, Suhu," kata ia, yang tak berani banyak omong lagi.

"Sekarang kau lihat, habis itu, kau turuti," kata sang guru.

Bok Jin Ceng lantas jalankan Tiang-kun Sip-toan-kim, muridnya mengawasi.

Sin Cie heran, ilmu silat yang guru ini jalankan, semua mirip dengan yang ia peroleh dari Nie Hoo. Ia jadi tidak mengerti, apakah kefaedahannya ilmu pukulan itu........

Sedang bocah ini berpikir keras, sang guru tegur padanya.

"Apakah kau sangka gurumu perdayakan kau? "tanya Bok Jin Ceng. "Mari, mari, kau coba serang aku, asal kau bisa jambret saja baju atau langgar ujung bajuku, anggaplah kau benar sudah pandai!"

Bocah itu tidak berani serang gurunya, ia cuma bersenyum saja, tak bergerak ia dari tempatnya berdiri.

"Hayo maju, aku sedang ajarkan kau ilmu silat!" guru itu mendesak.

Mendengar bahwa ia hendak diberi pelajaran, Sin Cie lantas maju, dengan satu lompatan, ia sambar baju gurunya, yang memakai tungsha, baju panjang. Ia rasa ia bakal berhasil menjambret, tidak tahunya, baru ia hampir mengenai atau ujung baju itu seperti mundur sendirinya. Ia maju pula, atau lantas, ia kehilangan gurunya itu.

"Aku di sini!" kata si guru sambil tertawa, dengan tangannya ia tekan pundak orang. Ia ada di belakang si murid.

Sin Cie berdiam, tetapi dia geraki tubuhnya dengan gerakan "Auw-cu-hoan-sin" atau “Burung Elang Jumpalitan". Ia bergerak dengan gesit sekali, kedua tangannya dipentang, untuk merangkul. Tapi ia merangkul tempat kosong, ia tak lihat gurunya. Apabila ia berpaling, ia tampak gurunya itu berdiri dari dia jauhnya kira-kira tiga tumbak! "Aku mesti bisa jambak padamu!" pikirnya, yang jadi sangat penasaran. Ia lompat pula, secara sangat gesit, tangannya diulur.

Tangan bajunya Bok Jin Ceng dikibaskan, tubuhnya ikut mencelat, dengan begitu, ia hindarkan dari terkaman, hingga kembali sang murid tangkap angin.

Sin Cie tidak jadi putus asa, dia malah tidak mendongkol, sebaliknya, ia tertawa hi-hi-hi, menandakan kegembiraannya. Ia mengejar, ia membiluk ke mana si guru putar tubuh. Tiba-tiba ia lihat si gagu gerak-gerakan tangannya sebagai tanda untuknya. Diam-diam ia menaruh perhatian, mendadakan hatinya tergerak.

"Benar-benar suhu gunakan Tiang-kun Sip-toan-kim," ia memikir. "Kenapa suhu ada begini gesit?" Ia masih mengubar terus, tapi sekarang dengan perhatikan gerak-gerik gurunya itu. Ia sudah paham benar sekali semua gerakannya. Ia terus menaruh perhatian, akan setelah itu, ia pun menelad gerakan gurunya, hingga lantaslah terlihat, dia pun jadi gesit beberapa lipat.

Bok Jin Ceng senantiasa awasi sang murid, diam-diam dia manggut-manggut. "Anak ini benar-benar bisa terima pelajaran," pikir dia. Sin Cie perhebat pengejarannya, karena ia bisa bergerak terlebih sebat pula, akan tetapi di depan dia, gurunya pun bertambah-tambah gesit, hingga sia-sia saja pengejarannya.

Hingga berdua mereka seperti merupakan bayangan saja. Lagi sekian lama, mendadakan Bok Jin Ceng berlompat, akan tubruk muridnya, tubuh siapa ia angkat tinggi-tinggi.

"Murid yang baik, anak yang manis!" berkata dia sambil tertawa berkakakan.

"Suhu!" kata sang murid, yang girang luar biasa, karena sekarang ia insaf kemujijatan Tiang-kun Sip-toan-kim. "Bagus, Anak, sebegini sudah cukup untuk latihanmu!" kata sang guru. Ia turunkan tubuh Sin Cie, ia lepaskan cekalannya. "Sekarang kau ulangilah sendiri!" Sin Cie menurut, ia lantas jalankan Tiang-kun Sip-toan-kim. Setelah mengawasi beberapa ulangan, Bok Jin Ceng masuk ke dalam. Sin Cie tidak turut gurunya beristirahat, ia masih berlatih terus, sampai belasan kali, hingga ia tambah mengerti kefaedahannya ilmu silat itu, yang berpokok pada kegesitan. Ia ada demikian kegirangan, hingga malam itu tak dapat ia tidur dengan nyenyak, terus ia bayangi itu ilmu pukulan, sampai mimpi pun ia masih berlatih....

Besoknya pagi, baru saja fajar, bocah ini sudah bangun, untuk berlatih, karena ia kuatir pengajarannya kemarin nanti terlupa. Ia belajar seorang diri, dengan sungguh-sungguh. Berselang belum lama, selagi bocah ini sangat bersemangat, ia dengar suara batuk-batuk di belakangnya, apabila ia berpaling, ia lihat gurunya.

Bok Jin Ceng berada di belakang muridnya, sambil tertawa.

"Suhu!" ia memanggil, terus ia berdiri diam, kedua tangannya dikasih turun.

"Kau telah mengerti dengan cepat, inilah bagus," berkata sang guru. "Tapi kau baru mengerti bagian atas, bagian bawahnya belum, di bagian bawah, kau masih kosong, apabila kau hadapi lawan liehay, kau bakal celaka. Kau mesti bersikap begini...." Guru itu lantas mengasi contoh. "Sekarang hayo kau turut!" Sin Cie menelad gurunya, ia mengerti dengan cepat, setelah mana, terus ia jakinkan ini ajaran baru, hingga ia kembali dapat tambah pengertian.

Selanjutnya, tidak pernah Sin Cie abaikan ajaran-ajaran gurunya. Sang tempo lewat dengan cepat, selang tiga tahun, bocah ini telah masuk usia dua-belas tahun. Ia berlatih dari kecil, sekarang tubuhnya jadi kuat sekali, pasek dan gesit.

Seperti biasanya, Bok Jin Ceng suka turun gunung, untuk pesiar, kalau ia pergi, ia pergi untuk dua atau tiga bulan. Setiap kali ia pergi, ia ajarkan muridnya pelbagai ilmu, apabila ia pulang, ia lantas menilik, untuk mengajarkan terlebih jauh. Ia puas mendapati muridnya belajar rajin sekali dan pesat kemajuannya.

Pada suatu harian Toan-ngo-ciat, sehabisnya minum arak Hiong-hong-ciu, dengan tiba-tiba saja Bok Jin Ceng keluarkan gambarnya Couwsu-ya, ia memberi hormat sambil paykui, ia perintah Sin Cie turut menghormatinya sebagai dia. Kemudian dia kata pada muridnya: "Sin Cie, tahukah kau, apa sebabnya hari ini aku suruh kau menghormati Couwsu-ya?"

Murid ini goyang kepala.

Bok Jin Ceng masuk ke dalam kamarnya, akan keluar pula dengan satu peti kayu kecil tetapi panjang, yang ia letaki di atas meja, apabila ia telah buka tutup peti itu, nyata di dalamnya terletak sebilah pedang yang sinarnya bergemirlapan menyilaukan mata. Pedang itu panjangnya tiga kaki.

Sin Cie terkaget! "Apa Suhu hendak ajarkan pedang padaku?" tanya dia.

Sang guru manggut, ia jumput keluar pedang tajam itu.

"Kau berlutut, dengar perkataanku," tiba-tiba kata dia, suaranya keras, sikapnya keren dengan mendadakan.

Tanpa banyak omong, murid itu tekuk kedua lututnya.

"Pedang adalah rajanya ratusan macam alat senjata," berkata Bok Jin Ceng, "pedang ada gegaman paling sukar untuk dipelajarkan. Tapi kau ada berotak terang, kau pun berhati keras, aku percaya kau akan sanggup mempelajarinya. Ilmu pedang kaum kita, Hoa San Pay, yang diwariskan berulang-ulang, mengandal kepada si ahliwaris, tetapi buktinya sampai sebegitu jauh, senantiasa tambah saja kemajuannya. Di kalangan lain, ada umum sang guru tinggalkan satu ilmu pukulan yang dirahasiakan, karena ini, satu angkatan dengan satu angkatan, murid-muridnya tambah kurang kepandaiannya, tetapi kita, kita tidak berbuat demikian. Benar kita memilih murid dengan keras, tetapi setelah dipilih, kita berikan dia semua pelajaran, malah di bagian ilmu pedang, setiap ahliwaris menambah kepandaiannya. Ilmu pedang kita sulit untuk dipelajarkan, hanya setelah mengerti, orang akan insaf itu dengan sempurna, dan asal orang bisa wariskan, dia sudah seperti tidak ada tandingannya. Sekarang aku hendak ajarkan kau ilmu pedang tapi kau mesti sumpah dahulu bahwa kau tidak nanti bunuh sekalipun satu orang yang tidak bersalah-dosa!"

Sin Cie jawab gurunya itu, ia kata: "Ini hari Suhu ajarkan teecu ilmu pedang, apabila di belakang hari aku binasakan seorang yang tidak bersalah, maka pasti aku pun bakal binasa terbunuh orang!"

"Bagus! Hayo bangun!"

Sin Cie berbangkit, untuk berdiri.

"Aku tahu kau berhati mulia, tidak nanti kau bunuh orang tanpa alasan," kata guru ini, "akan tetapi saat ada berlainan, ada saatnya untuk silat membedakan kebenaran dari kepalsuan, inilah yang harus dijaga. Asal kau senantiasa berpokok pada kejujuran dan belas-kasihan, aku percaya tidak nanti kau membunuh secara keliru. Maka hal ini mesti kau ingat baik-baik."

Sin Cie manggut, ia beri pula janjinya.

"Sekarang kau lihat," berkata sang guru akhirnya. Ia cekal pedang dengan tangan kanan, tangan kirinya diletaki di atas itu, habis itu ia mulai bersilat, hingga sinar pedang memain, menyambar-nyambar bagaikan naga dan ular, cahayanya seperti bianglala.

(Bersambung bab ke 4)


Bab 3

Sin Cie sudah ikuti Bok Jin Ceng tiga tahun, pandangan matanya telah jadi beda sekali, sekalipun demikian, sekarang tak bisa ia ikuti gerak tangan dan kakinya sang guru, sedangnya ia kagum, tiba-tiba guru itu berseru, pedangnya melesat ke depan, nancap di bongkotnya satu pohon besar.

Itulah tenaga yang besar luar biasa, karena mana, Sin Cie menjadi bengong dan nganga saja! "Bagus!" demikian satu suara pujian, yang datangnya dari arah belakang si bocah.

Selama tiga tahun berdiam di atas gunung, belum pernah Sin Cie dengar suara lain orang kecuali gurunya, atau hanya suara ah-ah-uh-uh dari si empeh gagu, sekarang mendadakan ia dengar satu suara asing - memangnya ia sedang tercengang - ia jadi heran sekali. Cepat luar biasa, ia menoleh ke belakang, hingga di depan matanya, ia tampak satu toojin atau imam yang bersenyum berseri-seri seraya usut-usut kumis dan jenggotnya.

Imam itu berjubah kuning, mukanya bersemu merah, rambutnya sudah putih semua. Habis memuji, ia berkata: "Sudah lebih dari sepuluh tahun aku tidak lihat kau gunai pedangmu, tidak disangka kau telah peroleh kemajuan begini rupa!"

Bok Jin Ceng telah menoleh pada tetamunya itu, ia tertawa berkakakan.

"Bhok Siang Tooyu, angin apa sudah tiup kau sampai di sini?" tanya dia. "Sin Cie, hayo kau kasi hormat pada tootiang!"

Sin Cie menurut, ia hampirkan itu imam akan berlutut dan manggut di depannya.

"Jangan, jangan!" tertawa si imam, seraya ia membungkuk, untuk angkat bangun bocah itu.

Sin Cie tidak mau diangkat, dan, sebagai biasanya orang yang mengerti silat, ia gunai tenaganya, maka itu, tidak gampang untuk si imam cegah pemberian hormat itu. Dia juga memang cuma mau mencoba saja.

"Lauw Bok!" berkata ia kemudian, "selama beberapa tahun ini, jarang sekali aku bertemu dengan kau, tidak tahunya kau keram diri di sini untuk mendidik muridmu ini. Sungguh, peruntunganmu tidak buruk, di saat-saat dari hari akhirmu, kau masih mendapatkan satu bahan yang baik sekali!"

Bok Jin Ceng girang atas pujian sahabat itu dengan siapa ia biasa berguyon.

"Aya!" Bhok Siang Toojin berseru sendirinya. "Hari ini aku tidak bawa uang, jadi dengan cuma-cuma saja aku terima hormatmu ini, Anak! Bagaimana sekarang?......."

Mendengar kata-katanya si imam, hatinya Bok Jin Ceng tergerak, mendadakan, ia ingat suatu apa. Ia berpikir: "Imam setan tua ini ada punya kepandaian luar biasa, karenanya, kaum Kang-ouw juluki ia Kwi-eng-cu si Bayangan Iblis. Coba dia suka wariskan salah satu pelajarannya kepada Sin Cie, alangkah baiknya! Hanya ia biasanya tak suka terima murid, maka perlu aku cari akal untuk ia keluarkan kepandaiannya itu...."

Segera juga guru ini kata pada muridnya: "Sin Cie, tootiang telah berikan janji hadiah bagimu, lekas kau memberi hormat dan haturkan terima kasihmu!"

Sin Cie benar-benar cerdik, dengan lantas ia dapat mengerti maksud gurunya, maka segera ia paykui pula, ia ucapkan terima kasihnya.

Bhok Siang Toojin tertawa terbahak-bahak.

"Ya, bagus, bagus, bagus!" kata ia.

"He, bocah cilik, kau dengar aku, untuk jadi manusia, orang mesti jujur dan polos, maka jangan kau telad gurumu ini yang kulit mukanya sangat tebal! Masa, begitu dengar orang hendak memberikan barang, dia lantas ketok besi panas! Mustahil aku si tua-bangka nanti perdayakan kau satu bocah? Mustahil, bukan? Nah, begini saja, justru sekarang aku si tua-bangka lagi bergembira, aku berikan kau ini saja!"

Dari bebokongnya, di mana ada tergendol satu kantong, imam ini rogoh keluar segumpal barang, apabila Sin Cie buka itu, itu adalah baju kaos hitam, melainkan ia tak tahu, bahannya terbuat daripada sutera atau kulit. Tentu saja, ia terima hadiah barang itu dengan tergugu.

"Eh, tooheng, jangan kau main-main!" Bok Jin Ceng kata pada sahabatnya itu, gangguan siapa tadi ia tak gubris. "Bagaimana kau dapat berikan dia mustika ini?"

Mendengar kata-kata gurunya itu, karena itu baju kaos katanya ada mustika, Sin Cie ulur kedua tangannya, akan angsurkan itu kepada si imam.

Tapi si imam menolak.

"Aku tak demikian kikir sebagai gurumu!" kata dia. "Tidak biasanya aku, sudah memberi barang, barang itu diminta pulang! Kau ambillah!"

Masih Sin Cie tidak berani menerima, ia awasi gurunya.

"Jikalau begitu, kau terimalah," kata sang guru. "Lekas kau bilang terima kasih."

Sin Cie menurut, ia mengucap terima kasih sambil paykui pula.

Lalu, dengan roman sungguh-sungguh, Bok Jin Ceng kata pada muridnya: "Ini adalah sepotong baju mustika! Untuk mendapatkan ini, dahulu tootiang sudah keluarkan banyak keringat-daki, ia telah membahayakan jiwanya sendiri! Nah, kau pakailah!"

Sin Cie turut perkataan gurunya, ia lantas pakai baju kaos itu.

Bok Jin Ceng bertindak ke pohon, untuk cabut pedangnya, ia cuma gunai dua jerijinya, nampaknya ia dapat menyabut dengan gampang sekali.

"Baju kaos ini terbuat dari sutera emas putih, rambut dan bulunya kera-kuning, yang disulam menjadi satu, senjata tajam bagaimana juga tak dapat merusaknya," menjelaskan ia, menyusul mana, ia bacok pundak muridnya.

Sin Cie kaget, ia hendak berkelit tapi sudah kasep, ia kalah sebat dengan gurunya itu, selagi ia berlompat, pundaknya sudah jadi sasaran. Akan tetapi, buat keheranannya, ia tidak terluka, bacokan terasa enteng sekali, pedang itu terpental balik. Ia jadi sangat girang, hingga lagi-lagi ia paykui di depan si imam! Bhok Siang Toojin tertawa; katanya pada si bocah: "Kau lihat barang ini hitam-legam, jelek dipandangnya. Ketika pertama kali kau paykui, mestinya kau belum punya kepercayaan, kau tidak puas, tetapi sekali ini kau paykui, tentu kau sudah puas benar!"

Mukanya Sin Cie jadi merah karena godaan itu, hingga ia diam saja.

Bhok Siang toojin tidak perdulikan orang jengah atau tidak, ia melanjutkan: "Dahulu pernah beberapa kali baju kaos ini tolong jiwaku," katanya, "tetapi sekarang, asal saja gurumu tidak ganggu aku, mungkin sekalipun tak memakai baju ini, di kolong langit tidak ada lagi orang yang mampu celakai aku!"

Habis mengucap demikian, imam itu tertawa berkakakan, nampaknya ia sangat puas dan jumawa.

Bok Jin Ceng pun tertawa, dan berkata: "Eh, imam bangkotan jangan campur-aduk, kau mengebul di depannya satu bocah! Dalam hal ilmu kepandaian, tak dapat aku lawan kau, tetapi di kolong langit ini, ada banyak sekali orang pandai!"

Bhok Siang Toojin tersenyum.

"Sudah, sudah, kita berdua tak boleh gunai golok dan pedang!" berkata dia. "Mari, mari, lebih baik kita......."

"Kita adu kepandaian di atas papan catur!" tertawa Bok Jin Ceng.

"Benar!" Bhok Siang Toojin pun tertawa. "Kau memangnya adalah cacing kamcekan dalam perutku!"

"Ya!" kembali tertawa Bok Jin Ceng, "kau juga, jikalau ketagihan main caturmu, tidak kumat, tidak nanti kau datang cari aku di atas gunung sebagai ini! Apakah kau bawa alat peranti makan nasi?"

Bhok Siang Toojin tertawa sembari tertawa ia meraba bebokongnya, akan kasih turun papan caturnya (tio-kie) beserta dua bungkus biji tio-kienya, sedang si gagu, tanpa diperintah lagi, sudah lantas gotong keluar meja dan kursi untuk dua orang itu adu otak.

Maka kedua orang tua itu lantas duduk di bawahnya sebuah pohon, akan mulai atur biji, untuk segera jalankan itu sambil saban-saban berpikir.

Wan Sin Cie berdiri di samping, ia tidak mengerti permainan itu, maka, sambil ia jalankan biji-bijinya, Bhok Siang Toojin ajari dia aturan bertindaknya sesuatu biji. Imam ini pun kebulkan tentang kepandaiannya main tio-kie itu, bahwa Bok Jin Ceng bukanlah tandingannya.

Bok Jin Ceng cuma bersenyum saja, ia terus pikirkan biji-bijinya sendiri ia antapkan orang sombongi diri.

Catur ada permainan yang gampang dipelajari tetapi sulit untuk menjadi ahli, tetapi lain dengan Sin Cie, dengan lekas ia mengerti aturan mainnya, malah berkat kecerdasannya, ia mulai mengerti tipu-tipunya.

Dalam babak pertama, Bhok Siang Toojin adalah yang mendapat kemenangan, demikian juga pada babak kedua, setelah itu, pertarungan dilanjutkan, terus sampai cuaca mulai gelap. Mereka mainkan tiga babak, di babak ketiga, Bok Jin Ceng menang.

"Mari kita main terus!" mengajak si imam, yang tidak kenal lelah.

"Aku tidak mempunyai kegembiraan untuk layani kau terus-menerus!" kata Bok Jin Ceng.

Karena ini, terpaksa Bhok Siang Toojin pergi beristirahat. Untuk ia, si gagu telah siapkan pembaringannya.

Sejak itu, beruntun tiga hari, tuan rumah dan tetamunya terus-terusan main catur, karena si tetamu tidak mau mengerti jikalau ia tidak dilayani. Maka di hari keempat, tuan rumah kata: "Hari ini kita mengasoh satu hari, aku mesti ajarkan ilmu pedang dulu kepada muridku."

Alasan itu ada kuat, Bhok Siang Toojin tidak menghalangi. Tapi sangat sulit untuk ia tungkuli diri hari itu, maka juga, begitu lekas Bok Jin Ceng sudah selesai mengajari muridnya, dia lantas tarik tangannya sahabat itu.

"Mari, mari, kita bertempur lagi sampai tiga jurus!" kata ia dengan bernapsu.

Bok Jin Ceng merasa lelah, karena setengah harian lamanya ia layani Sin Cie, tapi sahabatnya sedang ketagihan, apabila ia tidak tungkuli, satu malam itu tentu sahabat ini tidak bisa tidur, terpaksa ia duduk juga menghadapi papan catur berhadapan dengan tetamu yang sedang keranjingan itu. Sebab ia sedang lelah dan tidak bernapsu, hampir saja salah satu bijinya kena dirampas. Dengan susah payah ia perbaiki diri, tidak urung, ia masih kalah angin.

Sin Cie dampingi gurunya, ia tak sampai hati menampak guru itu terdesak.

"Suhu, menyerang kemari," kata ia akhirnya, hingga ia tak ingat bahwa ia telah mencampuri urusan orang tua-tua. "Habis itu, Suhu jalan di sini, tentu Suhu bisa lolos dari kepungan..."

Anak luar biasa ini dengan cepat telah mengerti baik tipu-tipunya permainan catur, penunjukannya itu memang ada jalan untuk hindarkan diri dari ancaman. Bok Jin Ceng juga tidak beradat mau menang melulu sebagai Bhok Siang Toojin, ia tidak keberatan akan turuti pengunjukkan muridnya itu. Benar saja, setelah ia jalankan biji-bijinya menuruti sang murid, segera ia terlepas dari pengurungan, malah di lain pihak, ia dapat makan satu biji hitam. Ia sendiri pegang biji putih. Habis itu, Bhok Siang Toojin berbalik kena terdesak, malah akhirnya, dia cuma bisa menangi tiga biji.

"Dia benar cerdik," kata Bhok Siang Toojin, yang puji bocah itu. "Coba biarkan dia lawan aku, ganda enam biji!"

Bok Jin Ceng lulusi permintaan itu, ia ijinkan muridnya lawan sang supeh.

Sin Cie belum pandai betul tapi kecerdasannya membantu banyak sekali. Ia masih muda sekali, tapi otaknya kuat.

Dalam kalangan tio-kie ada pepatah, "Di dalam usia dua-puluh tidak menjadi kampiun, hilanglah harapan". Ini menandakan, tio-kie mesti dipelajari sejak masih anak-anak. Souw Tong Po ada sasterawan termashur tetapi main tio-kie, melawan seorang biasa, ia tak peroleh kemenangan. Hal itu membuat ia menyesal, hingga dia tulis syairnya: "Menang girang, kalah pun gembira".

Bok Jin Ceng sabar dan sederhana, tidak demikian dengan Bhok Siang Toojin, yang gemar akan kemenangan. Ia tidak lihat mata pada si bocah cilik, tetapi, sesudah biji-biji dijalankan, ia lantas merasai satu tandingan bukan sembarangan. Dasar anak kecil, Sin Cie ingin menangkan supehnya itu, ia bermain dengan sungguh-sungguh. Di akhirnya, Bhok Siang Toojin menang tetapi bukan tak dengan susah-payah.

Besoknya, pagi-pagi, Bhok Siang Toojin telah cari Sin Cie, buat ditarik tangannya, untuk diajak bertanding pula, tanpa bocah ini bisa menampik. Kali ini, dua kali Sin Cie menang dengan beruntun, maka ganda diubah, dari enam biji, jadi lima.

Dapat ganti si bocah cilik, Bhok Siang abaikan tuan rumahnya, terus setiap hari, ia ajak Sin Cie "bertempur", hingga tahu-tahu, sudah hampir sepuluh hari mereka main terus, hingga selanjutnya, dari diganda, keduanya main seperti biasa. Sin Cie peroleh kemajuan sangat pesat, hingga dia berani melayani tanpa diganda lagi. Malah sekarang, sering mereka kalah dan menang bergantian! Begitu lekas Sin Cie utamakan tio-kie, ilmu silatnya kena diterlantarkan juga. Bok Jin Ceng ketahui ini, tapi dia antap saja. Baru belakangan, melihat si tua bangka dan si bocah seperti lupa tidur dan makan - mereka bertempur tanpa batas tempo - ia jadi kuatir juga. Diam-diam ia kisiki muridnya ini supaya selanjutnya dia ini layani supehnya satu hari satu kali saja, sebab dia tidak boleh alpai ilmu silatnya.

Atas kisikan itu, Sin Cie malu sendirinya. Memang benar, hampir sepuluh hari, ia sudah sia-siakan pelajarannya. Maka besoknya, waktu Bhok Siang Toojin ajaki dia main catur, dia menolak dengan manis, katanya ia mesti berlatih. Di hari kedua juga dia kembali menampik.

"Kau temani aku main, habis main, aku nanti ajarkan kau semacam ilmu silat, dengan itu, pasti gurumu girang," kata Bhok Siang membujuk.

"Nanti aku tanya suhu dulu," kata Sin Cie, yang tidak berani lancang.

"Baik, pergilah tanya!" si imam menganjurkan.

Sin Cie lari mencari gurunya. Ia beritahukan janjinya Bhok Siang.

Bok Jin Ceng girang. Ia memang tahu, imam itu liehay, melainkan adatnya aneh, dia tak suka menerima murid, tapi sekali ini dia kasih janjinya, itu tentu disebabkan pengaruh ketagihannya main catur.

Lantas ia tarik tangan muridnya untuk dibawa kepada si imam, kepada siapa lantas saja ia menjura: "Kau hendak sempurnakan muridku ini, di sini kuhaturkan terima kasih padamu!"

Lantas ia suruh muridnya paykui.

Sin Cie menurut, ia paykui dengan segera.

"Jangan, jangan!" ia menolak, tangannya digoyang berulang-ulang. "Aku tidak terima murid! Jikalau dia hendak minta pelajaran dari aku, dia mesti dapatkan itu dengan menangkan aku dengan kepandaiannya!"

"Apakah caranya itu?" tanya Bok Jin Ceng.

"Dalam hal ilmu pedang dan ilmu kepalan, Lo Bok, di kolong dunia ini kau tidak ada lawannya, aku si imam tua takluk kepadamu," berkata imam itu, "maka bocah ini, asal dia sanggup wariskan dua atau tiga bagian dari kepandaianmu, sukar dicari tandingannya dalam kalangan Kang-ouw. Tetapi bicara tentang senjata rahasia, aku kira aku si imam tua mempunyakan dua kemungkinan!"

"Memang siapa tak tahu kau si Bayangan Iblis mempunyai kepandaianmu yang istimewa itu, jangan kau coba mengebul!"

"Ya, kau memang utamakan kaummu, segala apa kau hendak main terus-terang, hingga segala senjata rahasia kau tidak hendak diyakinkan dengan sungguh-sungguh," kata si imam. "Mengenai Sin Cie, aku hendak atur begini. Kau antap dia layani aku main tio-kie, dua dalam satu hari, jikalau aku yang menang, kau mesti biarkan dia kawani aku melewatkan waktu yang senggang. Asal dia menangkan aku satu babak saja, aku nanti ajarkan dia semacam ilmu entengi tubuh, tapi kapan dia bisa menang beruntun dua kali, di sebelah ilmu entengi tubuh itu, aku ajarkan lagi serupa senjata rahasia. Coba timbang, pertaruhanku ini adil atau tidak?"

"Imam tua ini benar licik dan lucu," pikir Bok Jin Ceng. "Tapi dia ada satu laki-laki sejati, sekali dia berkata, dia tidak pernah tarik pulang lagi." Maka ia lantas jawab: "Baik, baiklah diatur begini. Aku memangnya kuatirkan Sin Cie sia-siakan waktunya yang berharga, sekarang ada ini ketika yang baik, aku terima baik permintaanmu. Sekarang kau boleh main, sesukanya, setiap hari delapan kali, sepuluh kali, masa bodo!"

Bhok Siang jadi sangat girang, demikian juga Sin Cie. Tidak tempo lagi, keduanya lantas duduk berhadapan, untuk mulai dengan pertempurannya.....

Hari itu juga mereka main dua kali juga. Habis main, dia menetapi janji, dia kata pada bocah she Wan itu: "Sekarang aku ajarkan kau satu jurus ilmu entengi tubuh. Ya, cuma satu jurus saja, tapi jikalau kau yakinkan dengan sungguh-sungguh, faedahnya kau akan dapatkan seumur hidupmu. Nah, kau lihatlah dengan waspada."

Baru habis dia mengucapkan, tak tertampak lagi gerakan kakinya, tahu-tahu tubuh imam itu sudah mencelat ke atas sebuah pohon di dekat mereka, ketika ia lompat dengan jumpalitan, tahu-tahu ia sudah kembali berada di depannya si bocah.

Sin Cie kagum hingga ia melengak, setelah sadar ia tepuk-tepuk tangan, ia bersorak.

"Sekarang hayo kau mulai pelajarkan," Bhok Siang kata. Dan ia terus ajarkan ilmu entengi tubuh itu yang dinamakan "Poan-in-seng-liong" atau "Naga Naik Merayap Di Mega". Untuk itu, Sin Cie mesti berlompatan dengan enjot tubuh.

Di hari kedua, Sin Cie kalah dua kali berturut-turut, maka pada hari itu seperti bunyinya perjanjian, ia tidak peroleh pengajaran apa juga. Tapi di hari ketiga, ia main bagus sekali. Ia lepaskan kedua sayap, ia menyerang di tengah dan ia menang dua-dua kalinya.

Tak puas Bhok Siang Toojin.

"Mari lagi!" ia mengajak.

Mereka main pula dua kali, dengan kesudahan seri, satu kalah, satu menang. Turut jumlah, si imam kalah tiga. Atas ini, imam itu ajarkan si bocah dua rupa ilmu entengi tubuh.

Sin Cie turut ajaran itu, ia terus berlatih, sampai ia pandai jalankan.

"Kau tahu, apabila aku menghadapi lawan, aku gunai senjata apa?" tiba-tiba tanya guru istimewa ini.

Sin Cie tidak tahu, ia menggeleng-gelengkan kepala.

Bhok Siang Toojin jumput papan caturnya, untuk diangkat.

"Inilah senjatanya! Menerangkan dia.

Anak itu heran, walaupun ia tahu, papan catur itu terbuat dari baja. Ia menyangka, karena sangat gemar main tio-kie, imam ini sengaja bikin papan catur luar biasa itu, dan papan catur ini terus dibawa-bawa, mungkin dikuatirkan rusak, dibuatnya dari logam kuat itu. Siapa sangka, itu adalah alat-senjata.

Bhok Siang jumput seraupan biji catur.

"Dan ini adalah senjata rahasiaku!" ia tunjuki si bocah. Ia tertawa.

Belum sempat Sin Cie menanya atau si imam telah lemparkan biji-biji catur itu, belasan biji, kemudian ia angkat papannya, untuk dipakai menanggapi.

Aneh sekali, dengan menerbitkan suara nyaring, semua biji catur itu jatuh ke dalam papan catur itu. Lebih aneh pula, jatuhnya tidak beruntun, hanya berbareng semua, tanpa meletik lagi.

Si imam tertawa, lalu ia kata: "Buat bisa menggunai senjata rahasia, paling dulu orang mesti melatih tenaga, lalu belajar menyerang dengan tepat, supaya penyerangan tentu cepat dan pelahannya, berat dan entengnya. Sekarang mari kau mulai!"

Bhok Siang benar-benar ajarkan Sin Cie bagaimana mesti menimpuk, bagaimana tenaga mesti dikumpul di tangan, bagaimana harus mengincar sasaran.

Bukan main girang Sin Cie, ia belajar dengan rajin.

Tanpa terasa, setengah tahun Bhok Siang Toojin menenamu di atas gunung - gunung Hoa San - selama itu setiap hari dia main tio-kie dengan Sin Cie, berbareng dia ajari bocah itu menggunai senjata rahasianya - biji-biji catur serta ilmu entengi tubuh. Ia seperti lupa pulang. Ia pun mengajari dengan sungguh-sungguh.

Selama Bhok Siang Toojin berdiam di Hoa San, kebetulan musim panas, maka itu telah diatur, pagi sampai siang, Sin Cie belajar silat, tengah-hari sampai lohor, mereka berdua bertempur atas papan tio-kie. Dan selama itu, permainan catur Sin Cie jadi liehay sekali, hingga ia telah melebihi gurunya ini. Tapi dasar si imam "suka menang", dia selalu suruh Sin Cie pegang biji putih dan jalan terlebih dahulu, tapi ini justru mengakibatkan, ia lebih banyak kalah daripada menang....

Sin Cie gunai biji jalan bukan untuk serang serampangan saja, hanya Bhok Siang Toojin didik ia untuk serang jalan darah, sekali timpuk, dengan belasan biji, dia mesti bisa mengenai sasaran dengan jitu. Ilmu senjata rahasia yang aneh itu dipanggil "Boan-thian-hoa-ie", atau "Hujan Bunga Di Seluruh Langit". Ini ada pelajaran sangat sulit. Ia mulai dari satu biji, lalu ditambah, ia sudah belajar empat bulan, baru ia bisa gunai tiga atau empat biji, dan yang kena, baru satu atau dua. Sebagai sasaran ada selembar papan di mana dilukiskan tubuh manusia dengan tanda-tanda jalan darah, di waktu diserang, papan itu tidak dipancar hanya dipegangi oleh si empeh gagu, untuk dilarikan, setiap sang guru serukan jalan darah mana yang musti diserang.

Pada suatu hari, sedang Sin Cie berlatih, si gagu berlari-larian dengan papannya, dan si guru sedang berseru dengan pengunjukan-pengunjukannya; ketika Sin Cie sudah menimpuk jitu tiga biji, dan hendak menimpuk terus, sekonyong-konyong ia terkejut, hingga ia serukan jeritan tertahan. Ia lari kepada si gagu, untuk tarik dia ini! Si gagu kaget, segera ia menoleh. Tidak tahunya, di belakangnya, tahu-tahu berdiri orang-hutan, yang bersikap hendak menerkam dia. Ia menjadi tidak senang, ia ayun papan yang dipegangnya, untuk dipakai menyerang.

Cepat luar biasa, Bhok Siang Toojin mencelat kepada si gagu ini, tubuh siapa ia tarik mundur, berbareng dengan mana, ia serukan muridnya: "Sin Cie, kau yang layani dia!"

Anak ini tahu, guru itu hendak uji dia, dia tidak menolak, malah segera dia lompat ke depan orang-hutan itu.

Entah kenapa, berhadapan dengan orang, orang-hutan itu putar tubuhnya, untuk ngeloyor pergi, maka melihat demikian, Sin Cie gerakan sebelah tangannya, akan tepuk bebokongnya, hingga saking kesakitan, binatang liar itu perdengarkan pekiknya berulang­ulang. Dia menjadi gusar, dia berbalik, lalu tangannya yang panjang dan berbulu, menyambar! Sin Cie berkelit, dengan lompat ke samping, dari mana ia berniat menyerang, tetapi mendadakan, di belakangnya ada menyambar angin. Ia tahu, tentu ada lain musuh yang bokong padanya. Tak keburu ia memutar tubuh, maka itu, ia menjejak tanah, untuk berlompat tinggi sambil jumpalitan, dengan begitu, apabila ia sudah berbalik, ia dapati si pembokong adalah satu orang-hutan lain, yang sama besarnya. Sebenarnya, sejak belajar silat, belum pernah ia berkelahi dengan lain orang, namun demikian, tak jeri ia menghadapi dua binatang buas itu. Segera ia menyerang, dengan mainkan tipu-tipu dari Hok-houw-ciang, Tangan Harimau.

Suara berisik membuat Bok Jin Ceng muncul. Ia saksikan pertempuran itu, ia lihat bagaimana beberapa kali orang-orang hutan itu kena dihajar, saban-saban keduanya perdengarkan pekikan-pekikan dari kesakitan.

"Bocah ini tidak menyia-nyiakan cape-lelahku," pikir guru ini, yang merasa puas.

Setelah berulang-ulang merasai pukulan-pukulan yang menyakiti tubuh, kedua orang-hutan itu tidak berani berkelahi rapat, keduanya main lompat-lompatan, kadang-kadang saja mereka menubruk.

Sesudah mengawasi sekian lama, Bok Jin Ceng dapat kenyataan, walaupun ilmu silatnya telah digunai dengan baik, tenaganya Sin Cie kurang sekali, semua pukulannya melainkan menerbitkan rasa sakit, tidak bisa melukai, maka itu, ia masuk ke dalam, untuk ambil pedang.

"Sambut ini!" kata ia ketika ia keluar pula, seraya lemparkan pedang kepada muridnya.

Sin Cie berlompat, akan papaki pedang, untuk disambar dengan tangannya, setelah mana, ia bisa berkelahi dengan terlebih gesit pula. Saban-saban ia membacok atau menikam, untuk mana, kedua binatang hutan itu pun berlaku gesit, senantiasa mereka lompat menyingkir.

"Jangan binasakan mereka!" Bhok Siang serukan anak muda itu.

Sin Cie menyahuti, lalu ia mendesak hebat. Kali ini, asal ia mau, ia bisa tikam sesuatu dari binatang itu, akan tetapi sekarang ia melainkan mengancam, cuma ia lukai sedikit lengan, pundak dan kepala orang hutan itu.

Kelihatannya kedua binatang itu mempunyai perasaan. Mereka mengerti orang tidak hendak binasakan mereka. Ini terbukti, kapan mereka lompat jauh, Sin Cie tidak mengejar, anak itu malah berhenti bersilat, dia mengawasi saja mereka. Mereka insyaf bahwa orang mengasihani kepada mereka, maka kemudian mereka berpekik, lalu keduanya rubuhkan diri, sepasang tangan mereka dipakai menutup kepala mereka masing-masing, cuma mata mereka mengawasi si anak muda, dengan sinar mohon diberi ampun....

Sin Cie berhenti menyerang, ia mengerti orang sudah menyerah.

Si gagu girang, ia lari ke dalam, untuk ambil dadung, buat belenggu kedua binatang itu.

Mulanya kedua orang-hutan coba berontak, mereka berpikir dan pertontonkan gigi mereka, tapi tenaganya si gagu kuat sekali, di akhirnya, mereka menyerah, mereka tidak berani melawan lebih jauh.

Dua-dua Bok Jin Ceng dan Bhok Siang Toojin puji Sin Cie, yang lantas dianjurkan untuk belajar lebih jauh dengan sungguh-sungguh.

Bukan kepalang girang Sin Cie. Ia pun merasakan bagaimana hasilnya latihan kerasnya. Di sebelah itu, girang ia mendapati dua orang hutan itu, ia sendiri mencarikan buah­buahan, untuk piara mereka.

Selang tujuh atau delapan hari, kedua orang-hutan itu jadi jinak sekali, keduanya mengerti kesayangan si anak muda terhadap mereka, maka itu, walaupun tidak lagi dicangcang, mereka tidak mau kabur.

Sin Cie lantas beri nama "Tay Wie" kepada yang lelaki dan "Siauw Koay" kepada yang perempuan, ia biasakan memanggil mereka hingga keduanya tahu namanya masing­masing.

Bok Jin Ceng dan Bhok Siang Toojin tertawa melihat kedua binatang itu jadi demikian jinak dan mengerti maksud orang.

Setelah binatang itu tahu rumah, jinak dan mendengar kata, Sin Cie lepaskan mereka hingga mereka merdeka untuk pergi cari makan sendiri, mencari bebuahan di atas gunung.

Pada suatu hari terjadilah suatu hal kebetulan.

Tay Wie dan Siauw Koay pergi mendaki gunung, untuk cari makanan. Dengan berani Siauw Koay merambat di tembok gunung, atau mendadakan kakinya terpeleset, tiada ampun lagi, pegangannya terlepas, dia jatuh.
Thanks for reading PEDANG ULAR MAS 5

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar