Home » » PEDANG ULAR MAS 6

PEDANG ULAR MAS 6

Jilid 6

Tembok gunung itu adalah jurang dalamnya empat puluh tumbak lebih.

Tay Wie kaget, tapi kapan dia mengawasi lebih jauh, dia lihat kawannya tidak jatuh terus ke jurang hanya nyangkut pada suatu cabang pohon di mana kebetulan ada sebuah gua kosong, yang mulut guanya sudah lumutan. Di sini Siauw Koay berpegangan pada mulut gua, naik tidak bisa, turun juga tidak bisa.

Dalam sibuknya, Tay Wie lari pulang, untuk cari Sin Cie, buat beri kabar. Ketika itu, sang majikan lagi berlatih dengan pedang. Binatang ini tidak bisa bicara, maka juga ia berpekik tak hentinya.

Sin Cie heran, apabila ia lihat tubuhnya orang-hutan itu lecet di sana-sini, berdarah bekas kena tusukan duri pepohonan, sedang romannya seperti ketakutan. Tidak tempo lagi, ia cari A Pa, si gagu, untuk diajak bersama, mengikuti binatang piaraan itu pergi ke jurang.

Sesampainya di tepi jurang, Tay Wie menunjuk-nunjuk ke arah Siauw Koay, ia berpekik tak sudahnya, kaki tangannya digeraki berulang-ulang. Karena ini, Sin Cie dan A Pa segera dapat lihat si orang-hutan betina dalam bahaya itu. Tidak tempo lagi, Sin Cie lari pulang untuk ambil dadung, yang ia lemparkan ke arah binatang piaraannya itu, ia sendiri lalu memegangi ujungnya bersama A Pa.

Siauw Koay sudah lelah sangat, ketika ia lihat dadung, ia jambret, ia pegangi dengan keras, dengan begitu, sebentar kemudian ia dapat ditarik naik. Ia terluka di beberapa tempat, syukur tidak hebat. Kemudian, dengan perdengarkan pekikan berulang-ulang, ia tunjuki tangannya kepada Sin Cie.

Sin Cie heran apabila ia dapati di telapakan tangan kedua orang-hutan itu nancap dua rupa benda luar biasa, ketika ia coba cabut, benda itu nancap keras, Siauw Koay sendiri menjerit-jerit keras, rupanya sangat kesakitan. Benda itu susah dicabut.

"Apa mungkin ada musuh di sini?" Sin Cie tanya dirinya sendiri. Ia menjadi curiga dengan tiba-tiba. Lalu, dengan tanda-tanda tangan, ia tanya Siauw Koay, siapa yang sudah serang padanya.

Dengan menggerak-gerakkan kedua tangannya, Siauw Koay beritahu bahwa ketika ia ulur tangannya ke arah dalam gua, ia kena sambar atau tertusuk benda itu.

Bukan main herannya ini anak muda. Bagaimana dalam gua itu ada senjata rahasia? Sebab benda luar biasa itu tak lain tak bukan, mesti senjata rahasia adanya. Tidakkah gua itu jauh dari sana-sini? Dengan masih terus merasa aneh, Sin Cie ajak A Pa dan dua binatang piaraannya itu untuk cabut benda aneh itu, yang pun ia kasih lihat.

Dua-dua Bok Jin Ceng dan Bhok Siang turut merasa aneh.

"Aku gemari senjata rahasia, pernah aku lihat pelbagai bentuk senjata rahasia dari lain-lain orang, tetapi yang seperti ini, mirip ular, inilah yang pertama kali," menyatakan Bhok Siang. "Lao Bok, kali ini runtuhlah aku dari ujian..."

"Coba keluarkan dulu," usulkan Bok Jin Ceng.

Bhok Siang masuk ke kamarnya, untuk ambil pisau kecil, dengan itu ia potong daging telapakan tangannya Siauw Koay, untuk keluarkan benda aneh itu.

Siauw Koay tahu orang hendak tolong dia, dia tidak berontak. Setelah benda dicabut, lukanya diobati dan dibungkus. Ia nampaknya merasa puas, sedang Tay Wie lantas usap­usap dia dan carikan dia kutu.....

Dua potong senjata rahasia itu panjangnya masing-masing dua cun delapan hun, berbentuk kepala ular dengan lidah diulur keluar, lidahnya bercagak tiga, setiap cagaknya tajam. Seluruh tubuh ular berwarna hitam gelap, kotor dengan lumut, tapi kapan Bhok Siang telah keriki lumutnya, tertampaklah sepotong benda mengkilap - emas! "Pantas timbangannya berat, kiranya terbuat dari emas," kata imam ini. "Sungguh berbahagia orang yang menjadi pemilik senjata rahasia ini! Sekali menggunai, dia buang emas beberapa tail..."

Sekonyong-konyong Bok Jin Ceng terperanjat sendirinya, lalu ia berseru: "Inilah senjata rahasia Kim Coa Long-kun!"

"Kim Coa Long-kun?" menegaskan Bhok Siang sambil melengak. Ia berdiam sebentar, akan melanjuti sesaat kemudian: "Kau maksudkan Hee Soat Gie? Bukankah, kabarnya, dia telah meninggal dunia sejak belasan tahun yang lampau?" Dia baru mengucap demikian, atau dengan roman kaget, dia berseru: "Tidak salah, benar dia!"

Imam ini lantas bulak-balik senjata rahasia model ular itu, lalu di bagian perutnya ia tampak satu ukiran huruf "Soat". Huruf ini kedapatan pada senjata rahasia yang kedua.

"Suhu, siapa itu Kim Coa Long-kun?" tanya Sin Cie pada gurunya, yang masih tercengang, hingga sejak tadi, guru ini diam saja.

"Nanti saja aku beri keterangan kepadamu," sahut sang guru kemudian. "Tootiang, coba bilang, kenapa senjata rahasianya bisa berada dalam gua itu?"

Bhok Siang Toojin tidak menjawab, dia hanya berdiam berpikir.

Di sebelahnya merasa aneh, dua sahabat itu nampaknya jadi tegang sendirinya. Karena ini, Sin Cie tidak berani menanyakan terlebih jauh.

Malam itu, habis bersantap, Bok Jin Ceng dan Bhok Siang duduk pasang omong. Sin Cie mendengari dengan diam saja, karena ia tak mengerti apa yang diomongi itu. Ia melainkan perhatikan kata-kata "pembunuhan karena permusuhan" dan "pembalasan dendaman". Pun ada kata-kata rahasia lainnya, yang gelap untuknya.

"Jadinya," kemudian kata si imam tiba-tiba, "Kim Coa Long-kun telah datang kemari untuk menyingkir dari musuh-musuhnya?"

Jawaban Bok Jin Ceng ada menyimpang. "Melihat kepandaiannya, sebenarnya tak ada perlunya dia jauh-jauh dari Kanglam menyingkir dan sembunyikan diri ke tempat sunyi ini."

"Apa mungkin dia masih belum mati?" Bhok Siang tanya pula.

"Dia adalah seorang luar biasa," sahut Bok Jin Ceng. "Selama ini kita cuma dengar namanya belum pernah kita menemui sendiri kepadanya. Orang bilang dia telah meninggal dunia tetapi siapa juga tidak tahu kenapa dan cara bagaimana dia meninggalnya."

"Dia memang aneh sepak terjangnya...." Sang imam menghela napas. "Adakalanya dia telengas sekali, adakalanya dia mulia dan berbudi, sehingga apa dia jahat, apa dia baik, orang melainkan bisa menduga-duga saja. Beberapa kali pernah aku mencoba cari dia, tetapi senantiasa gagal..."

"Sudah, tak perlu kita main duga-duga saja," memutus Bok Jin Ceng. "Besok kita pergi ke guanya untuk melihat-lihat!"

Dan besok paginya Bok Jin Ceng ajak Bhok Siang Toojin, Sin Cie dan A Pa, dengan membekal senjata dan dadung, pergi ke jurang yang kemarin. Sin Cie hunjuki di mana letaknya gua.

"Hati-hati," pesan Bok Jin Ceng, ketika Bhok Siang nyatakan dia suka turun untuk memasuki gua itu. Kemudian si imam libat pinggangnya dengan dadung dan kawannya, bersama si gagu, kerek dia turun secara pelahan-lahan.

Di depan mulut gua, Bhok Siang berhenti, segera ia mengawasi ke dalamnya. Ia tampak kabut, hingga sekalipun tanah tak terlihat tegas. Diam-diam hatinya bercekat walaupun dia ada satu jago, yang telah luas pengalamannya. Ia mengawasi terus. Biasanya, di tempat gelap, lamaan mata orang menjadi biasa, tetapi di sini, imam itu rasai malah semakin guram. Ia hanya merasa, gua ini mestinya dalam sekali. Ia pun menduga-duga apa tubuhnya muat apabila ia coba memasuki gua itu....

Bhok Siang tak mau mundur dengan begitu saja. Ia lantas bungkus sebelah tangannya, lalu ia ulur itu ke dalam gua. Ia memasukinya dengan pelahan-lahan. Segera ia merasakan tangannya membentur suatu benda tajam di mulut gua - benda yang nancap di mulut gua itu. Ia duga itu adalah Kim-coa-cui - "bor ular emas". Ia mencabut semuanya, yang berjumlah empat belas biji. Ia ulur tangannya lebih jauh, sampai pipinya mengenai mulut gua, ia tidak meraba lain benda. Sampai di situ barulah ia kuatir, orang-orang di atas, yang menahani tubuhnya, nanti lelah.

"Tarik aku!" ia perdengarkan suara seraya ia mengedut.

Bok Jin Ceng dengar suara itu, ia menarik dengan pelahan-lahan.

Lagi kira dua tumbak sampai di atas, setelah kakinya dapat injak batu di lamping jurang itu, Bhok Siang menjejak, dengan begitu, cepat sekali ia telah sampai di antara kawan-kawannya.

"Lihat ini!" berseru ia kepada Bok Jin Ceng, sambil ia perlihatkan tangannya dalam mana tergenggam empat-belas benda tajam, dan aneh yang seperti didapati Siauw Koay. "Lauw Bok, kita dapat harta karun! Emas begini banyak!..." ia tertawa.

Sebaliknya dari sahabat itu, Bok Jin Ceng perlihatkan wajah sungguh-sungguh.

"Ini hantu simpan bendanya di dalam gua, apakah maksudnya?" kata dia kemudian. "Ada benda apa lagi di dalam gua itu? Nanti aku pergi lihat...."

"Percuma kau pergi melihat," kata Bhok Siang. "Mulut gua ada terlalu kecil, tubuhmu tak muat dalam itu!"

Bok Jin Ceng berpikir, ia diam saja. Ia tunduk.

"Supeh, apakah bisa aku yang pergi?" tiba-tiba Sin Cie tanya.

"Mungkin kau bisa," sahut Bhok Siang sambil tertawa. "Jurang ada begini dalam, apa kau berani?"

"Aku berani, Supeh," jawab bocah itu. "Suhu, aku yang pergi boleh tidak?"

Bok Jin Ceng masih asyik berpikir dalam hatinya ia bilang: "Orang Kang-ouw gaib itu simpan senjata rahasianya di dalam gua sini, mesti ada maksudnya, maka jikalau gua itu tidak dicari tahu terlebih jauh, sungguh sayang... Akan tetapi siapa tahu, ada tersembunyi ancaman bencana apa di dalamnya? Kalau bocah ini diantap pergi seorang diri, tidakkah itu ada menguatirkan?...." Kemudian ia jawab muridnya: "Aku kuatirkan bencana dalam gua..."

"Aku bisa waspada, Suhu," sang murid mendesak.

Melihat murid itu demikian berani dan bernapsu, akhirnya sang guru manggut.

"Baiklah," ia beri ijin akhirnya. "Tapi kau mesti coba dulu. Kau nyalakan api, umpama api itu mati, jangan kau paksa masuk!"

"Aku mengerti, Suhu," kata sang murid, yang segera persiapkan sebatang obor, sedang pedangnya ia tidak lupakan. Ia cekal pedang di tangan kanan dan obor di tangan kiri. Lebih dahulu daripada itu, ia ikat pinggangnya dengan dadung.

Kapan dadung telah diulur turun, cepat sekali Sin Cie telah sampai di mulut gua. Ia turut pesan gurunya, paling dulu ia sodorkan obor ke dalam gua. Ia dapatkan obornya tidak padam, hal ini membuat ia girang. Maka lantas, dengan hati-hati, ia merayap masuk ke dalam gua itu. Dadung di pinggangnya ia tidak loloskan. Ia mesti jalan sambil merayap, setelah kira sepuluh tumbak lebih, terowongan mulai mendaki. Ia maju terus, kira setumbak lebih, baru ia sampai di tempat terbuka di mana ia bisa bangkit berdiri. Ia tidak takut, ia maju terus.

Sebentar saja, anak ini lihat jalan menikung. Ia semakin waspada, ia maju sambil cekal keras pedangnya. Ketika ia telah lalui tiga tumbak, ia menghadapi sebuah kamar batu. Ia hampirkan mulut pintu, ia menyuluhi dengan obornya.

Tiba-tiba ia terperanjat, sampai ia keluarkan keringat dingin.

Duduk di atas batu, di tengah-tengah kamar, ada satu rerongkong manusia, lengkap dengan kepala dan tangannya, dan kedua tangannya rebah di atas pangkuan.

Dengan hati memukul, Sin Cie awasi tulang-ulang manusia itu, setelah itu baru ia memandang ke sekitar kamar. Syukur untuk ia, di situ tidak ada lagi lain pemandangan yang mengerikan.

Malang-melintang di tanah di depan rerongkong itu ada belasan kim-coa-cui. Di samping rerongkong ada terletak sebuah pedang. Di tembok kamar ada sederetan gambar ukiran dari tubuh manusia lengkap, cuma sikapnya berlainan, kakinya dipakai menendang, mirip dengan orang yang lagi berlatih silat. Ia awasi semua gambar itu, ia perhatikan, tak mengertilah ia. Entah apa maksudnya gambar-gambar itu.


Di ujung dari gambar ukiran yang penghabisan, dengan diukir juga, ada beberapa baris dari enam-belas huruf.

Sin Cie dekati, lalu ia membaca. Begini bunyinya: "Mustika berharga, ilmu rahasia, diberikan kepada yang berjodoh. Siapa masuk dalam pintuku, menemui bencana jangan penasaran."

Sin Cie masih hendak perhatikan kamar itu ketika ia dengar samar-samar suara orang memanggil, lantas ia bertindak keluar, tempo ia sampai di tikungan, ia kenali suaranya Bhok Siang Toojin, yang masih memanggil-manggil namanya. Lantas ia menyahuti, terus ia merayap keluar.

Bok Jin Ceng dan Bhok Siang, di atas jurang, menantikan sekian lama, selama itu, mereka pun ulur dadung makin lama makin panjang, karena itu, setelah menantikan pula sekian lama, sang murid masih belum kembali, keduanya berkuatir.

"Nanti aku lihat," kata Bhok Siang, yang lantas saja merayap turun. Ia tidak bisa masuki terowongan, maka dari mulut itu, ia teriaki muridnya berulang-ulang. Ia merasa hatinya lega kapan ia dengar jawaban muridnya, yang pun lantas keluar.

Dengan satu tanda, Bok Jin Ceng dan A Pa tarik dadung, maka di lain saat, dua-dua Bhok Siang dan Sin Cie kembali di antara mereka, tetapi Sin Cie dengan pakaiannya kotor dan mukanya berlepotan debu dan lumut. Bocah ini pun perlihatkan roman tegang.

Dua-dua Bok Jin Ceng dan Bhok Siang duga anak ini menghadapi suatu apa yang luar biasa, dari itu mereka antap orang tetapkan hati.

Lagi sesaat Barulah Sin Cie bisa tuturkan apa yang ia tampak dalam kamar batu gua itu.

"Tidak salah lagi, rerongkong itu mesti ada rerongkong Hee Soat Gie," berkata Bok Jin Ceng. "Aku tidak sangka, seorang kosen luar biasa bisa akhirkan penghidupannya di tempat ini. Sungguh sayang...."

"Apakah artinya pesanannya enam-belas huruf itu?" tanya Bhok Siang.

Bok Jin Ceng berdiam sesaat, baru ia menjawab.

"Kelihatannya Kim Coa Long-kun mesti simpan benda berharga, entah mustika apa," berkata dia. "Dia mempunyai ilmu silat yang liehay sekali, mestinya ia tinggalkan itu dalam guanya, setahu dengan cara apa. Mungkin dia nantikan orang yang berjodoh dengannya untuk hadiahkan warisannya itu. Dia ada seorang dengan tabiat kukoay sekali, rupanya dia anggap, siapa nanti peroleh warisannya itu, ialah yang dianggap sebagai muridnya. Dengan kata 'pintuku', tentu dia maksudkan golongannya. Tapi mungkin juga, di dalam kamarnya itu ada suatu ancaman malapetaka...."

"Melihat bunyinya pesan, itu mungkin benar," kata Bhok Siang. "Hanya entah keanehan apa adanya itu..."

Bok Jin Ceng menghela napas, lalu ia kata: "Kita tak harap warisan ilmu silat dan mustikanya itu, tetapi, Sin Cie, besok pergilah kau memasuki pula gua ini, kau mesti galikan lobang, untuk kubur rerongkong Kim Coa Long-kun, yang kita hormati sebagai cianpwee, orang yang tertua. Kau mesti nyalakan lilin dan pasang hio dan hunjuk hormatmu sambil berlutut. Secara begini kita jadi hormati dia."

Sin Cie manggut, ia suka dengar perkataan gurunya itu.

Bhok Siang Toojin pun setuju pikiran sahabatnya itu.

Besoknya pagi Sin Cie pergi pula ke jurang dengan bekal juga pacul. Ia pergi berdua saja sama A Pa, si gagu. Bok Jin Ceng dan Bhok Siang tidak turut, karena mereka anggap, gua itu tidak ada bahayanya. Sin Cie bekal tiga batang obor, karena ia tahu ia bakal berdiam lama di dalam gua.

A Pa kerek turun anak ini.

Dengan cepat Sin Cie dapat merayap ke tikungan di mana ia bisa bangun untuk berdiri, terus saja ia hampirkan kamar. Paling dulu ia gali lobang di dekat pintu, untuk pendam obornya, supaya ia tak usah pegangi terus obornya itu, dengan begitu, ia bisa bergerak dengan leluasa. Habis itu barulah ia hadapi rerongkong Kim Coa Long-kun.

"Suhu bilang dia ada seorang kosen luar biasa, entah kenapa dia menutup mata di sini," ia berpikir. "Setelah dia meninggal dunia, tak ada orang kubur mayatnya, sungguh kasihan...."

Bocah ini lantas jatuhkan diri di depan rerongkong itu, untuk paykui.

"Teecu ada Wan Sin Cie," berkata ia dalam hatinya, setelah ia manggut beberapa kali, "dengan kebetulan saja, teecu dapat menemui jenasah Tayhiap ini. Hari ini ingin teecu kubur jenasah Tayhiap, harap Tayhiap nanti beristirahat dengan tenang dan kekal di sini..."

Baru habis Sin Cie hunjuk hormat itu, dari arah luar gua telah mengembus angin dingin, yang rupanya meniup dari dalam jurang, sampai hawa dinginnya membuat ia bergidik, bulu romanya pada bangun berdiri.

Habis itu, Sin Cie lantas mulai menggali lobang. Ia tadinya duga, tanah di dalam kamar itu mestinya keras, siapa tahu, begitu ujung pacul mengenai tanah, hatinya menjadi lega. Tanah itu empuk. Karena ini, ia bisa bekerja dengan cepat.

Tiba-tiba terdengar satu kali suara membeletuk. Itulah tanda ujung pacul mengenai barang keras, mungkin besi. Untuk dapat kepastian, Sin Cie ambil obor, untuk dipakai menyuluhi dekat-dekat. Segera ia dapatkan selembar papan besi. Ia memacul terus tanah di sekitar besi lembaran itu, kemudian ia angkat besinya.

Di bawah lembaran besi itu ada sebuah peti besar dua kaki persegi.

Dengan dorongan perasaan ingin tahu, Sin Cie angkat peti besi itu, yang tingginya kira-kira satu kaki. Beratnya peti itu tidak luar biasa, maka itu bisa diduga, isinya mesti tak banyak.

Oleh karena tutup peti tidak dikunci, dengan gampang Sin Cie dapat buka itu. Peti itu cetek sekali, hingga Sin Cie menjadi heran.

"Heran," pikir si anak muda. "Peti besar dan tinggi, kenapa dalamnya cetek?"

Di dalam peti terletak selembar sampul di atas mana ada tulisan delapan huruf besar, yang berbunyi: "Siapa dapati petiku, boleh buka surat ini."

Melihat demikian, Sin Cie jumput sampul itu, untuk dibuka dan keluarkan suratnya, yang warnanya sudah berubah menjadi kuning-dekil. Ia beber surat itu, lantas ia baca: "Barang dalam peti ini, diwariskan kepada yang berjodoh. Hanya siapa dapatkan peti, mesti lebih dahulu kubur tulang-tulangku."

Bersama surat itu, di dalam sampul, ada dua sampul lain, sampul-sampul yang lebih kecil. Di atas sampul yang satu tertulis: "Aturan membuka peti". Di atas sampul yang kedua ada tulisan: "Cara-cara mengubur tulang-tulangku".

Setelah membaca ini baru Sin Cie tahu, peti itu ada lapisannya. Lantas ia angkat peti itu untuk digoyang-goyang. Sekali ini, ia dengar suara apa-apa dari dalam peti.

Di dalam hatinya, bocah ini kata: "Aku melainkan berkasihan rerongkongnya terlantar, maka aku kubur padanya, sama sekali aku tidak ingin temahai barang-barangnya."

Lantas Sin Cie buka sampul yang bertulisan "Cara-cara mengubur tulang-tulangku". Di dalam situ ada selembar kertas putih dengan tulisannya: "Jikalau kamu bersungguh­sungguh hati hendak mengubur tulang-tulangku, setelah menggali lobang, tolong gali lebih jauh tiga kaki dalamnya, di situ barulah pendam aku. Dengan aku berdiam lebih dalam di tanah, dapatlah aku bebas dari gangguannya segala kutu dan semut."

Setelah membaca, Sin Cie berkata dalam hatinya: "Aku hendak jadi orang baik, tak boleh aku kepalang tanggung, baik aku turuti pesannya."

Dan ia angkat pula paculnya, untuk menggali lebih jauh.

Kali ini tanah itu kecampuran batu, tidak gampang untuk memacul leluasa seperti tadi, maka tak perduli dia telah berlatih, bocah ini toh mandi keringat. Ketika ia menggali dalam hampir tiga kaki, mendadakan ujung paculnya membentur pula suatu benda keras, hingga terdengarlah suara nyaring.

Karena tadi telah dapati pengalaman, walaupun ia merasa heran, Sin Cie gali terus tanah itu. Kembali ia dapati sebuah peti besi, yang terlebih kecil, cuma satu kaki persegi.

"Orang gagah luar biasa ini benar-benar kukoay," pikir dia. "Entah apa lagi dia simpan dalam peti ini."

Ia angkat peti, yang ia bisa buka dengan gampang. Kembali ia lihat selembar kertas yang ada tulisannya. Apabila ia sudah baca bunyinya, ia kaget hingga ia mandi keringat dingin.

Surat dari peti yang kecilan berbunyi sebagai berikut: "Kau benar-benar ada seorang baik hati dan jujur. Karena kau urus penguburanku, sudah selayaknya aku balas kebaikanmu dengan barang mustika dan ilmu kepandaian rahasia.

Jikalau peti yang besar dibuka, dari dalamnya bakal menyambar keluar anak-anak panah beracun. Surat dan peta yang berada di dalam peti itu pun palsu semuanya, malah ada racunnya juga. Itu semua ialah untuk ajar adat kepada orang-orang jahat.

Barang yang tulen berada dalam peti kecil ini."

Sin Cie insyaf, ia tidak mau sia-siakan tempo lagi. Ia letaki kedua peti di pinggiran, ia rapikan lobang galiannya itu, lalu dengan sikap menghormat, ia pindahkan tulang­tulangnya Kim Coa Long-kun, akan diletaki dengan hati-hati, sesudah mana, ia uruki dengan tanah, atasnya ia bikin rata, setelah ini, ia kembali soja-kui beberapa kali.

Sampai di situ, selesailah sudah ia dengan kewajibannya sebagai "ahli waris", maka dengan pondong kedua peti, Sin Cie bertindak keluar kamar, terus sampai di tikungan. Di sini sekarang ia bisa lihat segala apa dengan nyata, karena hatinya lega bukan main. Ia dapatkan mulut gua tersusun batu, rupanya sengaja Kim Coa Long-kun atur demikian, untuk mencegah orang masuk ke dalam guanya ini. Ia lantas singkirkan semua batu itu, hingga di situ jadi terbuka satu terowongan yang cukup lega. Ia buka gua ini supaya besok lusa ia bisa ajak kedua gurunya masuk ke situ untuk memeriksa.

Sesampainya di mulut terowongan, Sin Cie memanggil A Pa sambil tarik dadung, maka di lain saat ia sudah dikerek naik oleh si gagu. Lekas-lekas ia lari pulang, untuk menemui kedua gurunya.

Ketika itu Bok Jin Ceng dan Bhok Siang Toojin sedang main catur, mereka tunda permainannya, akan dengari penuturannya murid mereka. Sin Cie menuturkan segala apa dengan jelas.

Bhok Siang lihat surat-surat itu, diam-diam dia terperanjat dalam hatinya. Bok Jin Ceng pun dapat perasaan sebagai dia. Kemudian ia buka sampul yang bertuliskan "Aturan membuka peti", ia ambil suratnya, untuk dibaca, begini: "Di kiri dan kanan peti ini ada pesawat rahasianya, maka itu, untuk membukanya, peti mesti dipegang dengan kedua tangan dan dibukanya dengan keras dan berbareng, baru tutupnya akan terbuka."

Bhok Siang Toojin dan Bok Jin Ceng mengulurkan lidah mereka saking kagum. Itulah hebat.

"Jiwanya Sin Cie seperti telah dihidupkan pula!" berkata imam itu. "Coba dia temaha sedikit saja, dia tidak kubur dulu jenasah dan lantas mendahului membuka peti, tentu anak-anak panah beracun tidak akan beri dia ampun!...."

Ia lantas suruh si gagu ambil sebuah tong besar, di kiri dan kanan itu, kira sebatas peti besi, dia bikin dua lobang, kemudian peti itu diletaki dalam tong itu, terus atasnya tong ditutup dengan papan tutupannya.

"Mari," Bhok Siang mengajak Sin Cie.

Berdua mereka masuki sebelah tangan mereka masing-masing ke dalam lobang tong, untuk pegangi peti di bagian pentolannya, lalu dengan beri tanda, keduanya menarik dengan berbareng, dengan dikageti. Menyusul itu terdengarlah satu suara menjeblak. Itulah rupanya, ada tanda dari terbukanya lapisan yang kedua. Lalu menyusul itu terdengar dua rupa suara beruntun, berbunyi seperti barang nancap dan nyaring "dung, dung", hingga tong itu sedikit menggetar.

Sin Cie tunggu sampai suara sudah berhenti, ia hendak buka tutup tong itu.

"Tunggu!" Bok Jin Ceng mencegah sambil tarik lengan muridnya.

Baru guru ini tutup mulutnya atau segera terdengar suara susulan seperti barusan.

Masih Bok Jin Ceng menunggu sekian lama, baru ia buka tutup tong, untuk dibalik, maka untuk keheranan mereka, mereka dapati tutup tong itu tertancap banyak anak panah, sampai beberapa puluh batang.

Pat Chiu Sian-wan Bok Jin Ceng ambil jepitan, untuk jepit dan cabut bergantian semua gandewa itu, yang ia letaki di pinggiran. Ia takut untuk cekal semua senjata itu.

Melihat semua itu, Bhok Siang Toojin menghela napas.

"Ini orang pandai memikir dalam sekali," memuji dia. "Rupanya dia kuatir, dengan penyerangan pertama saja, penyerangannya itu nanti gagal, maka ia atur serangan susulannya yang kedua kali...."

Lantas imam ini, Kwie-Eng-Cu si Bayangan Iblis, jumput keluar peti besi dari dalam tong itu, maka dapatlah mereka lihat, setelah lapis yang kedua terbuka, di dalam situ ada kawat-kawat malang-melintang. Terang itu ada kawat-kawat yang merupakan pesawat, yang membikin anak-anak panah bisa melesat menyambar sendirinya sebagai kesudahan dari ditariknya per rahasia.

Dengan gunai jepitan, Kwie-Eng-Cu Bhok Siang Toojin singkirkan semua kawat itu, di sebelah bawah itu ia tampak sejilid buku dengan kalimatnya "Kim Coa Pit Kip", atau "Kitab Rahasia Kim Coa". Dengan "Kim Coa", Ular Emas, pasti dimaksudkan Kim Coa Long-kun.

Dengan terus gunai jepitan itu, Bhok Siang balik beberapa halaman dari kitab rahasia itu, di dalamnya kedapatan tulisan huruf-huruf kecil berikut rupa-rupa gambar atau peta, juga peta bumi. Sejumlah gambar orang memperlihatkan pelbagai sikap latihan silat. Gambar-gambar lainnya adalah contoh rupa-rupa alat senjata.

Semua orang tonton kitab itu dengan kekaguman.

Habis itu, Bhok Siang buka peti besi yang kecil, yang tidak pakai pesawat rahasia lagi, isinya adalah sebuah kitab serupa seperti kitab yang pertama itu, sama ukuran dan romannya, sama kalimatnya, akan tetapi kapan telah dibalik-balik lembarannya, isinya beda dari kitab yang pertama itu: beda tulisannya, gambarnya, petanya. Yang belakangan ini adalah kitab yang sejati.

"Benar-benar Kim Coa Long-kun sangat luar biasa," memuji Bok Jin Ceng, si Lutung Sakti Tangan Delapan. "Untuk menghadapi orang yang tak sudi kubur rerongkongnya, dia telah asah otaknya membuat ini kitab palsu serta panah rahasianya yang beracun. Bukankah ia telah menutup mata? Kenapa ia bersiaga begini rupa terhadap orang yang masih belum diketahui bermaksud buruk atau baik?"

"Dia adalah seorang, yang bisa dianggap cupat pandangannya," menyatakan Bhok Siang Toojin, "maka juga ia telah dapatkan hari akhirnya begini rupa."

Bok Jin Ceng manggut-manggut, ia menghela napas pula.

"Sin Cie, pergi simpan kedua peti besi ini berikut semua isinya," kemudian kata sang guru kepada muridnya. "Kim Coa Long-kun berpemandangan sempit, kitabnya ini tidak ada faedahnya untuk dibaca."

Sin Cie turut kata gurunya, ia benakan kedua buku, ia tutup kedua peti, lalu ia bawa pergi untuk disimpan.

Sejak itu bocah ini lanjuti latihan silatnya dengan bertambah-tambah rajin, Bhok Siang sangat sayangi dia hingga dia diwariskan kepandaian ilmu entengkan tubuh dan senjata rahasia, tak ada yang guru kedua ini sembunyikan. Karena habis itu, selang beberapa bulan, imam ini pamitan untuk turun gunung, buat kembali hidup berkelana.

Sin Cie merasa berat untuk berpisahan tapi tak dapat ia mencegah guru ini. Maka selanjutnya, ia belajar terus di bawah pimpinan tunggal dari gurunya. Bok Jin Ceng juga telah wariskan kepandaiannya kepada muridnya ini yang berbakat dan rajin dan ulet, hingga beberapa tahun telah lewat seperti tanpa dirasai. Maka akhirnya, ketika sampai di tahun keenam-belas dari Kaisar Cong Ceng dari ahala Beng, Sin Cie telah masuk usia dua-puluh tahun.

Setelah sepuluh tahun lebih terlatih, sekarang Sin Cie telah punyakan kepandaian yang berarti. Dari Bok Jin Ceng ia peroleh terutama ilmu silat pedang Hoa San Pay, sedang dari Bhok Siang Toojin, ia dapatkan ilmu entengkan tubuh dan senjata rahasia biji catur (wie-kie-cu). Ia jadi telah gabung warisan ilmu kedua kaum. Tapi sementara itu, sudah belasan tahun ia tak pernah turun gunung, maka mengenai urusan dunia, ia ada gelap sekali, kecuali yang ia dapat dari penuturan-penuturan kedua gurunya, sedang sebaliknya, dunia Kang-ouw juga tak tahu yang kaum Hoa San Pay telah punyakan satu murid-penutup seperti anak muda ini.

Pada suatu pagi dari permulaan musim semi, selagi Sin Cie berlatih silat dengan Tay Wie dan Siauw Koay temani dia, tiba-tiba A Pa muncul dari dalam seraya terus gerak-gerakkan tangannya. Ia mengerti, tentulah gurunya panggil padanya, tidak ayal lagi, ia berhenti berlatih, dengan cepat ia bertindak masuk ke dalam kamar gurunya. Untuk keheranannya, ia dapati dua orang asing, yang tubuhnya besar, berdiri di samping gurunya itu. Ia heran karena ia tahu, kecuali Bhok Siang Toojin, lain orang belum pernah mendaki puncak tertinggi dari gunung Hoa San ini. Ia pun tidak kenal dua orang itu.

"Sin Cie, inilah Ong Toako dan ini Kho Toako," berkata sang guru begitu ia tampak munculnya murid itu. "Mari kamu bikin pertemuan."

Karena disebutnya panggilan "toako", Sin Cie duga dua orang itu adalah sahabat-sahabat gurunya, ia lantas maju mendekati untuk memberi hormat sambil bersoja-kui seraya memanggil: "susiok!"

Tapi dua orang itu lekas-lekas paykui, untuk balas kehormatan itu, seraya berulang­ulang mereka kata: "Tak berani aku terima hormat ini, Wan Susiok, silakan bangun!"

Sin Cie melengak. Dia panggil mereka susiok (paman guru), sekarang mereka panggil dia susiok juga! Tidakkah itu aneh? Bok Jin Ceng tertawa berkakakan.

"Kamu semua bangun!" berkata dia.

Anak muda itu lantas berbangkit, untuk pandang dua tetamu itu, hingga sekarang ia bisa melihat lebih tegas: Mereka dandan sebagai orang tani, nampaknya mereka gesit, melainkan wajahnya tegang atau likat.

Pat Chiu Sian-wan tertawa pula, tapi sekarang sambil terus berkata kepada muridnya itu: "Belum pernah kau turut aku turun gunung, karena itu kau tidak tahu berapa tinggi tingkat­ derajatmu. Kamu bertiga tak usah seejie dan main soja-kui terhadap satu dengan lain, tak usah juga kamu saling memanggil susiok. Baiklah kamu memanggil saudara satu sama lain menuruti usia kamu masing-masing."

Nyata kedua orang she Ong dan she Kho itu ada saudara-saudara seperguruan, Bok Jin Ceng itu ada susiok, paman guru mereka, meski benar mereka terlebih tua sedikit daripada Sin Cie; dalam hal derajat, Sin Cie ada lebih tinggi setingkat.

"Kedua toakomu ini datang dari Shoasay atas titahnya Ciangkun Lie Cu Seng," sang guru menerangkan pula. "Di Shoasay ada urusan penting yang mesti dirundingkan, maka itu besok aku mesti turun gunung."

Sin Cie heran tapi ia tidak mencegah.

"Suhu, aku toh boleh turut, supaya aku bisa lihat Cui Siokhu?" mohon dia, yang tidak bisa lupai paman-angkat itu. Pernah beberapa kali ia minta turun gunung akan sambangi sang paman, saban-saban gurunya ini mencegah.

Mendengar permintaan muridnya itu, Bok Jin Ceng tertawa.

Kedua pemuda she Ong dan Kho itu duga guru dan murid itu hendak bicara, mereka minta perkenan, lantas mereka pergi keluar.

Segera juga sang guru berkata pada muridnya: "Sekarang ini tentara rakyat sedang maju, kedua propinsi Siamsay dan Shoasay bakal lekas dirampas pihak kita, maka itu sekarang ada ketikanya untuk kau turun gunung, buat sekalian menuntut balas kepada musuh ayahmu. Kau telah minta perkenan buat kau pergi bunuh kaisar Cong Ceng, aku selalu menolaknya, kau tahu apa sebabnya?"

"Mungkin, karena kepandaianku belum cukup," sahut sang murid.

"Itu ada salah satu sebab," jawab sang guru. "Masih ada satu sebab lain, yang terlebih penting. Kau duduk, mari kita bicara pelahan-lahan."

Sin Cie menurut, ia duduk di depan gurunya.

"Selama beberapa tahun ini, suasana di tapal batas ada tegang sekali," menerangkan Bok Jin Ceng. "Bangsa Boan kandung maksud yang tak dapat kita duga-duga, tidak ada satu hari yang mereka lewatkan tanpa niat menerjang masuk ke Tionggoan. Kaisar Cong Ceng memang senantiasa bersangsi, akan tetapi dibanding dengan kaisar-kaisar yang telah marhum, Kee Ceng atau Thian Kee, dia masih terlebih baik. Umpama karena dendaman pribadi, kau nerobos ke dalam istana, kau bunuh dia, maka penggantinya tentu puteranya yang belum dewasa. Dengan putera mahkota belum tahu apa-apa, pemerintahan pasti bakal terjatuh ke dalam tangannya menteri kebiri. Apabila ini sampai terjadi, aku kuatir negara kita bakal terampas lain bangsa. Dengan begitu, tidakkah kau bakal jadi rakyat yang paling berdosa? Marhum ayahmu berkorban selagi menangkis serangan bangsa Boan, cita-citanya adalah merampas Liauw-tong, sekarang di dunia baka, apabila dia ketahui perbuatanmu, pasti dia akan murka dan akan kutuk kau sebagai anak put-tiong put-hauw!" (tak setia dan tak berbakti).

Sin Cie terkejut, hingga ia mandi keringat dingin.

"Urusan negara adalah urusan besar, urusan pribadi adalah urusan kecil," menjelaskan pula sang guru. "inilah sebabnya kenapa aku cegah kau pergi bunuh kaisar Cong Ceng. Akan tetapi keadaan sekarang ada lain. Giam Ong bakal segera rampas Siamsay dan Shoasay, mungkin dalam satu atau dua tahun dia akan duduki ibukota Pakkhia. Apabila cita-cita ini tercapai, Giam Ong yang bakal pegang pimpinan. Setelah rakyat semua bersatu-padu, kenapa kita mesti kuatirkan lagi bangsa Boan di Liauw Tong nanti terjang kita?"

Bergolak darah Sin Cie mendengar kata-kata yang bersemangat dari gurunya itu.

"Sekarang ilmu silatmu telah ada dasarnya," berkata pula sang guru. "Memang ilmu silat tidak ada batasnya, akan tetapi semua kepandaianku, aku telah wariskan kepadamu, maka mengandal kepada dirimu sendiri, aku percaya kau akan bisa berbuat banyak. Kau tinggal membutuhkan latihan lebih jauh dan pengalaman, kau sudah boleh turun gunung. Besok aku akan berangkat, tak dapat kau turut langsung bersama, kau harus tunggu sampai satu bulan, lantas kau boleh berangkat sendiri, kau menuju langsung ke dalam angkatan perang Giam Ong di Shoasay untuk cari aku."

Sin Cie girang, ia terima baik pesan guru itu.

"Baik Suhu, aku menurut," kata dia.

Bok Jin Ceng telah beritahu banyak kepada muridnya ini tentang segala-galanya kaum Kang-ouw, tapi sekarang, ia telah ulangi itu agar murid ini ingat poma-poma, kemudian ia tambahkan: "Kau jujur dan berhati-hati, aku percaya kepadamu, tetapi kau masih muda, semangatmu sedang berkobar-kobar, maka pesanku sekarang adalah mengenai paras eilok, kau mesti waspada luar biasa. Sudah banyak buktinya bagaimana orang gagah­perkasa rubuh di tangan orang perempuan, hingga tubuhnya bercelaka dan namanya rusak! Kau ingat ini baik-baik!"

Sin Cie terima pesan penting dari gurunya ini.

Besoknya pagi, belum terang tanah, Sin Cie sudah bangun dari tidurnya, ia minta A Pa nyalakan api dan masak nasi, sesudah barang makanan siap, ia pergi ke kamar gurunya, untuk undang guru itu dahar, akan tetapi kapan ia sampai di dalam kamar, ia dapatkan sebuah kamar kosong. Di luar tahunya, tadi tengah malam, guru itu sudah berangkat bersama-sama si Ong dan Kho, kedua suheng itu. Bengong ia mengawasi pembaringan tak ada isinya dari gurunya. Tapi kapan ia ingat, segera juga ia bakal turun gunung, ia lari ke dapur, untuk beritahukan itu kepada A Pa, si empeh gagu. Ia ada sangat gembira, siapa tahu, A Pa sebaliknya berduka, dia putar tubuhnya dan ngeloyor keluar, meninggalkan kawan ini.

Menampak demikian, Sin Cie jadi terharu. Si gagu ini ada kawannya sepuluh tahun lebih, mereka hidup rukun bagaikan saudara kandung, sekarang tiba-tiba mereka bakal berpisah, tidak heran A Pa lesu dan berduka. Ia pun, dengan memikir sekelebatan saja, tak ingin berpisah dari kawan ini....

Dengan cepat, delapan hari telah berselang, selama itu tetap Sin Cie berlatih dengan rajin, hanya sekarang, kapan ia memandang sekitarnya, ia merasa berat akan tinggalkan gunungnya itu.

Malam itu, habis bersantap, ia duduk seorang diri menghadapi api. Ia pilih sejilid kitab gurunya, ia baca itu. Kira-kira satu jam kemudian, selagi ia hendak padamkan api, untuk tidur, A Pa bertindak masuk ke dalam kamarnya, terus si gagu bicara dengan gerakan tangan kaki. Itu artinya, ada orang asing yang telah datangi tempat mereka.

"Nanti aku lihat," kata Sin Cie yang berniat keluar, tetapi A Pa cegah ia seraya beri tanda bahwa dia sudah memeriksa tapi orang asing itu tidak kelihatan bekas-bekasnya. Ia masih kuatir, ia keluar juga dengan ajak dua orang-hutannya. Ia meronda tanpa hasil, sekembalinya, ia lantas masuk tidur.

Kira tengah malam, anak muda ini mendusin dengan kaget. Ia dengar suara berpekiknya Tay Wie dan Siauw Koay. Ia lantas berbangkit, akan duduk untuk pasang kuping. Mendadakan ia cium bau hio wangi, hingga ia terkejut dan dalam hatinya, berteriak: "Celaka." Segera ia menahan napas, ia berloncat turun. Apamau, kedua kakinya hilang tenaganya, ia injak tanah dengan tubuh terhuyung-huyung, hampir saja ia rubuh.

Berbareng dengan itu, pintu kamar tertembrak dari luar, terpentang karena satu dupakan keras, lalu satu bayangan lompat masuk, menyusul mana, sebuah golok menyambar ke arah si anak muda.

Sin Cie rasai kepalanya pusing sekali, akan tetapi ia masih sadar, ia mencoba kuati diri, maka itu, ia dapat berkelit, akan egos bacokan, berbareng dengan mana, ia balas menyerang dengan tangan kanannya.

Bayangan itu putar tangannya, untuk balik babat lengan lawan.

Menghadapi musuh gesit itu, Sin Cie tidak mau memberi ketika, ia nyamping dan menyerang pula dengan tangan kiri, hingga mengenai pundak orang itu. Dia telah gunai tenaga besar.

Penyerang itu merasa kesakitan, tubuhnya limbung. Nampaknya ia heran, musuh yang telah terkena asap hio pulas, masih demikian gagah. Ia tentu telah rubuh jikalau tidak satu kawannya, yang menyusul masuk, tahan tubuhnya.

"Dia gagah?" kawan ini tanya.

Sin Cie tidak perdulikan musuh ada berdua, ia hendak menyerang terus, tetapi sekonyong-konyong kepalanya jadi sangat pusing, tidak ampun lagi, ia rubuh pingsan. Entah berapa waktu telah lewat, waktu ia mendusin, ia rasai seluruh tubuhnya lemas dan ngilu, ketika ia coba geraki tangan dan kakinya, ia kaget tidak terkira. Ia telah terbelenggu seluruh tubuhnya? Api dalam kamarnya terang, ia lihat dua musuhnya asyik geledah kamarnya, peti pakaiannya dibongkar.

"Celaka," pikir ia, yang jadi mendongkol, berbareng masgul dan menyesal. Ia sesalkan diri tidak punya guna. Baru beberapa hari gurunya meninggalkan dia, dia sudah kena orang serbu, dia kena dirubuhkan.... Bagaimana nanti dia mampu menuntut balas untuk ayahnya? Tapi ia sadar, maka ia lantas tutup kedua matanya, untuk berpura-pura belum mendusin dari gangguan hio pulas, untuk mengawasi gerak-gerik orang, ia buka sedikit matanya.

Orang yang satu kurus kering, usianya lima-puluh lebih, kulit mukanya kering. Orang yang kedua ada satu pendeta yang tubuhnya besar dan gemuk. Melihat potongan tubuh dia ini, ia percaya dia adalah yang barusan bertempur dengannya.

"Di gunungku ini ada barang berharga apa maka mereka datangi untuk dirampok?" pikir dia. "Ada juga uang lima-puluh perak peninggalan suhu, buat bekal aku di jalan? Jangan-jangan mereka bukannya penjahat biasa.... Pendeta ini kosen, si kurus juga tidak lemah, mungkin mereka hendak mencari balas, tetapi kenapa mereka tak lantas binasakan aku? Apa perlunya mereka menggeledah?"

Sembari berpikir, Sin Cie coba kerahkan tenaganya, untuk bikin putus pengikat tubuhnya. Ia tahu, dalam keadaan biasa, dadung itu tidak bisa rampas kemerdekaannya untuk selamanya. Baru ia mencoba atau ia mundur sendirinya, hatinya mendongkol dan kecewa.

Dua orang tidak dikenal itu ada bangsa ahli, mereka tahu lawan liehay, di waktu membelenggu, mereka seling itu dengan sepotong bambu di antara kedua tangan, jikalau si korban berontak, sebelum dadung putus, bambu itu akan pecah terlebih dahulu, suaranya pasti meletak dan berisik, hingga orang akan ketahui percobaannya itu. Maka ia lantas berdiam, untuk cari daya lain.

Sekonyong-konyong si hweeshio jadi kegirangan. "Di sini!" ia berseru. Sin Cie lihat, dari kolong pembaringan, pendeta itu seret keluar peti besi yang besar, peti besi warisan Kim Coa Long-kun. Si kurus-kering menoleh, ia pun nampaknya jadi sangat girang. Berdua mereka lantas duduk di samping meja, mereka buka tutup peti, untuk keluarkan isinya, itu jilid kitab yang berkalimat "Kim Coa Pit Kip".

Membaca kalimat itu, si gundul tertawa terbahak-bahak: "Benar-benar di sini!" kata dia dengan nyaring. "Suko, tak kecewalah usaha kita selama lima-belas tahun mencari ini!" Lantas dia balik lembarannya kitab itu, dia dapati banyak gambar lukisan serta huruf-huruf halus yang merupakan keterangannya, saking girang, kepalanya digoyang-goyang, dia garuk-garuk belakang kupingnya. Mendadak si kurus berseru: "Eh, dia mau lari?" Dia menunjuk kepada Sin Cie. Anak muda ini terkejut, ia menduga orang pergoki ia telah sadar.

Si hweeshio agaknya kaget, ia menoleh dengan segera. Sekonyong-konyong si kurus geraki sebelah tangannya, lalu sejenak saja, bebokongnya si kepala gundul tertuncap pisau belati, yang masuk dalam sampai di batas gagangnya, sesudah mana, dia loncat minggir, untuk segera hunus pedangnya. Ia bersikap untuk bela diri, terutama mukanya, yang dialingi pedangnya itu.

Si pendeta kaget, dia menoleh, dia tertawa meringis.

"Kita berdua saudara telah mencari lamanya lima-belas tahun, sekarang kita berhasil, lantas kau hendak kangkangi sendiri, kau turunkan tangan jahat.... Ha-ha-ha-ha! Ha-ha-ha!" Itulah suara tertawa hebat dan seram sekali, sampai pun Sin Cie bergidik. Hweeshio itu ulur tangannya ke belakang, dia berniat mencabut pisau belati itu, akan tetapi tangannya itu tak dapat menyampaikannya. Mendadak dia menjerit, lantas dia rubuh terguling, dia berkelejatan, lalu seluruh tubuhnya diam....

Si kurus kuatir kepada gundul ini belum mati, ia maju untuk menikam dua kali. Sin Cie kaget, hatinya mencelos, menampak orang demikian telengas terhadap saudara seperguruan sendiri.

"Jikalau aku tidak bunuh kau, apa mungkin kau tak nanti bunuh aku? Hm!" demikian si kurus perdengarkan suaranya. Rupanya ia curigai kawan itu, makanya ia turun tangan lebih dulu. Habis itu ia dupak dua kali tubuh gemuk dari si hweeshio...

(Bersambung bab ke 5)


Bab 5

Si kurus ini tidak lihat Sin Cie sudah sadar, dua kali dia perdengarkan tertawanya yang seram, lantas dia sentil sumbu lilin, untuk dibuang ujungnya, hingga apinya menjadi menyala terang sekali. Dia hampirkan meja, untuk balik lembarannya kitab "Kim Coa Pit Kip", lantas ia membaca. Suara bacaannya menyatakan ia ada sangat gembira dan puas, tubuhnya pun bergerak-gerak sedikit.

Beberapa lembaran pula dibalik, antaranya ada halaman yang seperti nempel, lantas ia tempelkan jari tangannya di lidahnya, untuk dengan jari yang basah, bisa ia buka lembaran itu. Ia menyolet ludah di lidahnya sampai beberapa kali.

Sin Cie tetap mengintai, sampai tiba-tiba ia ingat, kitab itu ada racunnya. Dia duga, si kurus ini tentu bakal keracunan. Tanpa merasa, saking kaget, ia perdengarkan seruan tertahan.

Si kurus dengar suara orang, ia menoleh dengan segera justru Sin Cie sedang buka kedua matanya, maka dapatlah ia lihat sinar mata yang seperti ketakutan dari si anak muda. Ia lantas berbangkit, dengan tindakan pelahan, ia hampirkan tubuhnya si kepala gundul, untuk cabut pisau belati dari bebokongnya korban itu. Habis ini, dia dekati dua tindak pada Sin Cie.

"Kita berdua tidak bermusuhan akan tetapi hari ini tak dapat aku beri ampun padamu!" kata dia dengan suara bengis, kedua matanya pun bersinar mengancam, kemudian sembari angkat pisau belatinya, ia tertawa secara iblis, sampai dua kali.

"Jikalau aku lantas bunuh kepadamu, sampai di akhirat, kau nanti belum tahu sebab­musababnya," berkata dia, yang sikapnya sangat mengancam. "Aku ada Thio Cun Kiu dari Cio Liang Pay dari Kie-Ciu, Ciatkang. Pihak kami Cio Liang Pay dengan Kim Coa Long-kun ada musuh mati-hidup. Dia telah perkosa satu adik perguruan kita yang perempuan, dia kabur kemari, untuk belasan tahun kami cari dia ubak-ubakan, siapa tahu, warisannya telah terjatuh ke dalam tanganmu, Bocah! Entah ada hubungan apa kau dengan Kim Coa Long-kun, yang terang kau pasti bukan orang baik-baik, maka itu, jikalau aku binasakan kau, tak nanti kau penasaran, tapi umpama kau hendak menuntut balas setelah kau jadi hantu, kau boleh cari aku di Kie-Ciu! Ha-ha-ha-ha!..."

Si kurus ini belum tutup mulutnya atau sekonyong-konyong dia limbung, tubuhnya sempoyongan ke arah si anak muda.

Sin Cie kaget, ia tahu ini adalah saat mati atau hidupnya, dalam saat bahaya itu, ia kerahkan tenaganya, ia berontak, hingga belengguannya pada putus, bambunya menerbitkan suara nyaring, setelah mana dia berlompat maju, untuk mendahului menyerang.

Tiba-tiba orang itu terjengkang, terus tubuhnya rubuh sendirinya.

Sin Cie heran, walaupun ia batal menyerang, ia toh lantas bersiap. Ia cekal sisa tambang, untuk digunakan sebagai senjata. Ia bertindak mendekati, untuk melihat tegas.

Si kurus-kering itu kejutkan dua kakinya, lantas seluruh tubuhnya diam, tak berkutik lagi, menyusul mana dari kedua matanya, dari hidungnya, dan kupingnya, terutama dari mulutnya, lantas mengalir keluar darah hidup yang hitam. Maka sekarang teranglah dia telah mati keracunan, racun yang berbisa dari halaman-halaman kitab Kim Coa Long-kun, yang tadi dikenakan jari tangannya si kurus sendiri.

Segera Sin Cie loloskan semua libatan tambangnya, lantas ia lari keluar kamarnya, ke kamar luar di mana ia dapatkan A Pa sedang terbelenggu, kedua matanya terbuka lebar, tubuhnya tak bergeming. Maka ia lantas tolong si gagu itu.

Juga di situ Tay Wie dan Siauw Koay pada menggeletak, melihat mana, Sin Cie berkuatir sekali, ia kuatir kedua binatang piaraannya itu telah terbinasa karena tangan jahat musuh. Ia lantas cari air, dengan itu ia banjur dua orang hutan itu.

Tidak antara lama, kedua binatang itu mulai berkutik kaki tangannya, tandanya keduanya sudah sadar, hingga hati majikannya jadi lega.

"Apa yang telah terjadi?" tanya Sin Cie kepada A Pa.

Si empeh gagu, dengan tanda-tanda tangannya, tuturkan bahwa ia kena dibokong hingga ia jadi tertawan tanpa berdaya.

Sin Cie mengerti, ia tidak bilang suatu apa.

Besoknya, setelah terang tanah, kedua mayat dibawa keluar, untuk dikubur, sesudah mana, Sin Cie pun lempar peti besi yang besar itu ke dalam lobang kuburan itu. Ia anggap itu adalah peti pembawa bencana.

Malamnya, sedang beristirahat, Sin Cie bergidik sendirinya apabila ia bayangi pengalamannya yang sangat berbahaya itu.

Tatkala peti besi didapatkan, bocah ini baru berumur dua-belas tahun, berselang delapan tahun, hingga sekarang ia jadi satu pemuda, ia telah lupakan peti besi itu, akan tetapi sekarang, melihat si pendeta dan si kurus demikian inginkan peti besi itu, hatinya jadi bercekat.

"Mestinya Kim Coa Pit Kip ada berharga sekali," ia menduga-duga. "Kenapa mereka mencari terus-terusan sampai lima-belas tahun? Kenapa mereka jadi adu jiwa karenanya? Apakah itu yang tertulis dalam kitab tersebut?"

Lama Sin Cie terganggu oleh semua itu, akhirnya ia seret keluar peti besi yang kecil, yang ia letaki di kolong pembaringan, di sebelah dalaman peti yang besar. Sebab ditaruh di sebelah dalaman, peti ini kealingan dan jadi tak terlihat si pendeta, perhatian siapa sebaliknya telah ditumplak semua kepada peti yang besar itu terutama isinya. Peti ini telah bergalagasi dan berdebu. Dari dalam peti ini, ia keluarkan kitab yang tulen. Ia balik-balik halamannya, untuk memperhatikan semuanya dengan sungguh-sungguh. Dalam hal ilmu pukulan dan mainkan senjata rahasia, buku itu beda dari pelajarannya Bok Jin Ceng dan Bhok Siang Toojin, beda dalam hal "kelicinannya".

"Hampir saja aku bercelaka di tangan manusia jahat," pikir dia sambil terus perhatikan isi kitab itu. "Kalau nanti aku berkelana, bagaimana aku mesti layani orang-orang semacam si kurus dan si gundul ini? Kenapa aku tak mau yakinkan ini, sedikitnya untuk pembelaan diri? Sebagai tambahan pengetahuan, ini pun pasti ada berharga sekali?..."

Karena memikir begini, Sin Cie segera membaca dengan teliti, ia perhatikan gerak geriknya peta. Tiga hari ia membaca terus-menerus, ia dapat kenyataan bagaimana bedanya itu dengan pengajaran gurunya, malah tak pernah ia dengar gurunya menuturkan tentang ini macam ilmu silat yang asing baginya. Tapi ia cerdik, otaknya cerdas, walaupun tanpa guru dengan membaca saja, kemudian ia dapat jalankan pelbagai ilmu pukulan menurut kitab tersebut. Hanya ketika ia menyakini sampai di hari kelima, ia hadapi kesukaran, ialah di bagian pelajaran tanpa peta.

"Baik aku menunda dulu," pikir Sin Cie. Dan ia baca bagian ilmu silat pedang "Kim Coa Kiam-hoat", terus ia melatih diri. Mulanya ia dapatkan jalan dengan baik, hanya lama-lama, ia tidak ketemu jalan. Mendadakan ia ingat ukiran gambar-gambar di tembok kamar Kim Coa Long Kun, si Ular Emas. Tidakkah semua gambar itu ada hubungannya sama ini? Ingat ini, tak peduli waktu lagi, Sin Cie cari A Pa. Ia bekal tambang dan obor, ia ajak kawan itu pergi ke jurang, hingga di lain saat, ia sudah berada di dalam gua Kim Coa Long-kun. Karena mulut terowongan telah dibesarkan, dengan gampang ia bisa masuki tubuhnya.
Thanks for reading PEDANG ULAR MAS 6

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar